Showing posts with label Cerpen Bahasa Jawa. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Bahasa Jawa. Show all posts
Senja, Antara Suka dan Duka

Senja, Antara Suka dan Duka

Judul Cerpen Senja, Antara Suka dan Duka

Kala itu, jarum di dinding tak bosannya memutarkan masa, ya masa dimana manusia kian dikejar waktu. Ada seorang pria, -ia baru berkepala dua- lihat jarum jam itu sembari menyandarkan bahu di atas permukaan dipan usang, ia pandanginya sekali-kali pandangan mata ini mengarah pada Pesona –elok nan rupawan- di luar sana. Pesona keindahan yang telah membuyarkan pandangannya terhadap jarum itu. Lantas, ia dengar getaran dari ponsel –yang semula ia taruh di atas toples- kecil. Seketika itu ia buka ponsel, ia dapati pesan, pesan yang mengisyaratkan hendak membawanya ke peraduan Pesona Elok itu. Ya, ternyata dugaannya tak bertepuk sebelah tangan. Ia ambil Kuda Merahnya, terbang menuju ke suatu tempat. Tempat dimana ia dapat dari pesan tempo kala itu. Sempat ia berpikir agak gila, barangkali pesan itu –yang ia tangkap dari lemparan seorang Teman- dikirim Malaikat dari-Nya. Setelah beberapa menit Kuda Merahnya menerbangkannya, tak selang beberapa lama, mereka pun mendarat dengan mulus. Ia pun meletakkannya sekejap, guna bersua dengan temannya –beserta temannya- di sudut keramaian kota kecil nan suci. Memang benar adanya, sebuah pitutur dari seorang Piyantun Mulia (red; Kiai), “bahwasanya silaturahmi itu akan mendatangkan sebuah rezeki.” Rezeki itu pun muncul tak terduga-duga sebelumnya.

Kembali ke perjumpaan tadi, disela-sela percakapan teman-teman dengan seorang Ibu Muda, seketika itu pun pandangannya memutarkan pada arah jauh nan tak berujung. Barangkali peristiwa elok itu yang ia dapati dengan keberuntungan. Bisa dibayangkan elok nan indahnya, pandangan yang sekejap menyita perhatian sang pemuda kala itu, berada di balik Rumah-Nya yang tampak penuh ramai dari orang bersembahyang. “Subhanallah, ayune nda, koyok widodari,” batinnya berkelakar dalam Bahasa Jawa. Pandangan mata pria berbadan tinggi itu pun beralih ke kiri tatkala ibu muda tadi bertanya padanya sembari menawarkan, “Badhe mileh nopo, Mas?,” tanyanya. Sontak ia pun menimpalinya dengan kaget, “Oh gih, niku mawon, Bu. Sate usus, Sate Bakso kaleh Bakwan,” sahutnya sembari menunjuki ke nampan-nampan tersebut.

Lantas, percakapan yang semula terputus mereka sambung sedikit, diselingi dengan pertunjukan penampakan fenomena bak lukisan alam dari Sang Pencipta. Rasa-rasanya seketika itu, batinnya bergejolak meningkahi keindahan lukisan-Nya. Ya bergejolak, “antara suka dan duka”.
Sang Ibu Muda yang sejak tadi telah menyiapkan kudapan yang ia pilih tadi, menawarinya kembali, “Mas, niki pedes nopo mboten?,” tawarnya. “Kedik mawon gih, Bu,” pintanya. Lalu, tawar-menawarpun berhenti sekejap. Setelah pesanan jadi, mereka berempat pun hendak melepaskan dudukan dari atas dipan kayu panjang. Perjumpaan –singkat nan berkesan- ini mungkin akan jadi kenangan kedepannya. Sembari mereka berpamitan dengan Ibu Muda serta Suami yang sejak tadi membantu di samping kanannya, mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu lantaran waktu itu sang Cakrawala telah memadamkan Pancaran kemerah-meronanya. Dengan saling berpisah satu sama lain, ia yang sedari perpisahan perjumpaaan tadi, terus setia menunggangi Kuda Merahnya kembali.

Dalam perjalanan pulang, ia dalam batin pun kembali bergejolak menafsirkan tiap-tiap peristiwa tadi, utamanya “Pesona Elok” yang sinarnya memancar dari ufuk barat. Ya menafsirkan, antara dua tafsiran. Pertama, dirinya gembira telah jadi saksi akan dahsyat nan luar biasa elok Lukisan-Nya. Kegembiraan yang cukup mengobati perasaan getir yang ia alami akhir-akhir ini. Kedua, dimana kontrak tinggalnya di dunia ini yang penuh dengan coretan hitam, telah berkurang. Serta ia pun semakin menua dengan tanpa ia sadari sendiri.

Kudus, 8 Agustus 2016

Cerpen Karangan: Muhammad Khoirul Faizin
Facebook: Muhammad Khoirul Faizin
Sinar Di Ujung Jalan

Sinar Di Ujung Jalan

Judul Cerpen Sinar Di Ujung Jalan

“Diandra?” Sapa seorang lelaki kepadaku, sembari menepuk pundakku dari samping. Sejenak aku mengamatinya, berusaha mengingat siapa dia.
“Mmm… Willi..am?” Tebakku.
“Yes… Lupa ya?” Tanyanya.
“Iya… Pangling, wong kamu jadi beda gini.”
“Ngobrol di situ yuk!” william menunjuk sebuah meja di kedai itu (tempatku dan william berdiri saat ini). Aku mengangguk tanda setuju.
“Oh ya, udah lama banget ya kita nggak ketemu.” Katanya membuka obrolan.
“Iya, 5 tahun.” Sahutku.

Oh ya, perkenalkan namaku Diandra safitri. Ini sedikit pengalamanku tentang sebuah perjalanan cintaku bersama pujaan hatiku semasa sma. Namanya William dias Syahputra. Singkat cerita, di masa sma kami nggak pernah membicarakan masalah perasaan kami ini, hingga pada suatu hari…

“Will, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan karo kamu.” Kataku malu-malu.
“Apa to Di?”
“Ndak bisa bicara di sini, banyak orang. Nanti malam tak tunggu di tempat biasa.”
Sejauh ini, aku sama william memang nggak pacaran, tapi aku sama dia udah deket banget. Udah seperti sahabat.
Malam itu pun, aku dan william bertemu di sebuah ujung jalan tempat biasa kita ketemu.
“Kamu mau ngomong apa to Di? Kok sepertine serius gitu.”
“Sebentar lagi, aku bakal ikut budeku Will.”
“Bude? Budemu yang di Jerman itu?”
“Iya. Sebelum aku pergi aku pengen kamu tau sesuatu.”
“Apa?”
“Aku suka sama kamu. Udah dari dulu, dari awal kita masuk sma.”
William melotot, sampai matanya yang sipit itu kebuka lebar lebar. “Hahahaha…”
“Kok malah ketawa iki piye to?”
“Kamu bercanda.”
“Kamu anggap aku bercanda to wil. Aku serius.”
“Di, kamu wes tak anggap seperti adekku, sahabatku. Kenapa kamu jadi ada perasaan sama aku?”
“Aku juga ndak ngerti will, tak kira ini cuma perasaan sesaatku. kenyataannya aku beneran sayang karo kamu.”
“Di, aku ndak pengen ada yang berubah di antara kita. Aku juga sayang karo kamu, tapi sayangku cuma sebatas adek.”
Nggak terasa mataku sudah berkaca-kaca. Aku pun pergi meninggalkan William dan dia tidak mengejarku, hingga mulai kejadian itu aku nggak pernah lagi berhubungan dengan william dan baru bertemu lagi saat ini…

Aku masi ndak percaya hari itu ketemu william lagi.
“Kamu kapan balik ke indo, Di?” Tanyanya.
“Udah 1 bulan yang lalu will.”
“Oh ya? Kok ndak ngabari aku to, Di?”
“Bagaimana aku mau ngabari kamu kalau kamu wes punya calon istri. Aku ndak mau ganggu hubungan kalian.”
“Calon istri? Hahaha…”
“Kok malah ketawa to? Bukane kamu mau menikah tahun ini?”
“Kamu dapet kabar dari sopo, Di?”
“Nency, katanya kamu pacaran sama temen dia dan bakal nikah sama perempuan itu.”
“Pacaran bukan berarti nikah to, Di? Sek sek bentar, dari tadi kita ngobrol ndak pesan makanan, nanti diusir kita. Mas..” William memanggil salah satu pelayan kedai itu.
“Minta menunya.” Pelayan itu pun memberikan kami sebuah daftar menu.
“Kamu mau apa, Di?”
“Aku mau wedang ronde aja will.”
“wedang ronde 2, tape bakar 1 yo mas.”
“Baik mas, silahkan ditunggu.” Jawab pelayan itu.
“Jadi kamu ndak bakal nikah sama perempuan itu will?” Selidikku.
“Kalo aku belum mapan, mau nikahin anak orang, yang ada aku digantung sama bapaknya.” Jawab William sambil cengar cengir.
“Kamu piye? Wes move on to dari kisah masa lalu kita?” Goda William sambil mencolek pinggangku dan mengedipkan sebelah matanya.
“Ngomong apa to? Bahkan aku wes lupain kejadian kuwi, sekarang aku sadar. Jadi sahabatmu wes lebih dari cukup.”
“Yang bener? Yakin?” Godanya lagi.
“Wes lah will, kamu juga mau nikah. Nanti perempuan itu sakit hati.”
Pelayan tadi pun kembali ke meja kami dengan membawa menu pesanan kami.
“Silahkan mas, mbak.”
“Makasih mas.” Jawabku sambil tersenyum.
“Yowes ndang dimakan will, terus kita pulang.”
“Baru juga ketemu, Di. Wes mau pulang aja. Kamu ndak kangen to sama aku?”
“Besok kan masi ada waktu will.”
“Berarti kamu masi mau ketemu aku lagi, tak kira wes ndak mau. Yowes, besok tak jemput jam 8 pagi. Kita keliling Solo. Kamu pasti kangen to, wes lama ndak nikmatin indahnya Solo.”
“Loh, nanti pacarmu…” Belum selesai aku bicara, dia sudah menutup bibirku pake jari telunjuknya.
“Wes makan, terus kamu tak anter pulang.”
“Aku bawa mobil, Will. Besok saja kalau pengen nganter aku pulang.”
“Oke deh.”

Malam itu pun berlalu, aku dan William pulang ke rumah masing-masing. Dan besoknya jam 8 tepat, Willi sudah menjemputku dengan mobil putih kesayangannya. Masih William yang sama, selalu tepat waktu.
“Buk, Diandra keluar dulu sama William njih.”
“Iya ndok, kamu hati-hati. Jangan pulang malam. Will, bulek nitip Diandra yo. Jaga baik-baik.”
“Injih bulek.”
Aku dan William pun mulai beranjak meninggalkan pekarangan rumahku.
“Will, buka aja yo kaca mobilnya, biar aku lebih iso nikmatin pemandangan Solo.”
Willi pun membuka kaca mobilnya.
“Masi tetep indah yo Will. Seperti 5 tahun lalu.”
“Iyo, masi tetep sama. Cuma lebih akeh aja bangunannya.”
Willi seperti mengarahkan mobilnya ke suatu tempat dan dia memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang banyak lampunya, dan di ujung rangkaian lampu-lampu yang disusun indah itu ada sebuah bangunan kecil yang terlihat sangat bagus.
“Tempat opo iki wil? Apik tenan.”
“Ini tempat yang menjadi jawaban sebenarnya atas pertanyaanmu 5 tahun yang lalu Di. Ini jawabanku yang sebenarnya.”
“Maksudmu?”
“Iyo, aku cinta karo kamu. Selama 5 tahun aku ndak pernah ngabarin kamu, aku biarin nency cerita segala macam sama kamu. Bahkan tentang teman dia yang dia ceritakan ke kamu. Semua itu ndak benar, itu sudah menjadi skenarioku. Biar aku fokus bangun rumah ini, di ujung jalan ini, seperti yang kamu inginkan. Siang aku kuliah dan malam kerja buat nyiapin ini semua. Aku harap perasaanmu masi sama dan ndak berubah, Di.”
“Ibuk karo bapak tau soal ini?”
“Mereka sangat tau, Di. Semua juga berkat saran dari bapak.”
Aku lemas terduduk di antara rerumputan yang mengelilingi bangunan itu, menangis, karena aku udah ndak bisa lagi ngungkapin bahagiaku.
“Will, matur suwun. Ternyata perjuanganmu sebesar ini. Aku ndak nyangka sekali. Perasaanku masi sama Will. Cintaku masi ada di ujung jalan ini. Ujung jalan yang sekarang sudah bersinar seindah ini. Ujung jalan yang dulu sering kita jadiin buat ngobrol bareng.” Kami pun berpelukan.

Dan selang selang beberapa bulan dari hari itu, William melamarku dan kami pun menikah pada pertengahan bulan mei 2014. Dan sekarang aku dan William sudah dikaruniai seorang putri yang bernama Stevi Alexi Wildra.

The End

Cerpen Karangan: Keyko Dera Vellina Letha
Facebook: Keyko De Vellina Letha
Follow Ig: Ve_vevellina
E-mail: Avaasyifa[-at-]yahoo.co.id