Showing posts with label Cerpen Perpisahan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Perpisahan. Show all posts
Takdir yang Baik

Takdir yang Baik

“Ambu dan Uwa, sayang pada kau, Leh.” ucap Ambu memulai percakapan. Aku bergeming, mendengar penuh bakti dan merasakan begitu tulusnya mereka menyayangiku. Tak dapat dipungkiri, Uwa memang sangat perhatian padaku. Terlebih, sepeninggal Abah yang merantau ke kota beberapa tahun yang lalu.

Hari ini pesawat Garuda akan membawaku terbang menuju tempat dimana aku harus mengeksplorasikan mimpiku. Oh, aku sudah tidak sabar lagi; duduk di kursi empuk sambil memandangi daratan dan lautan di atas awan. Tapi rasanya, jika tanpa Ambu.. semua terasa kebas. Awak juga sayang pada Ambu dan Uwa.. batinku dalam hati.

Ambu menepuk bahuku pelan, menatapku hangat, kemudian menasihatiku untuk yang kesekian kalinya, “Saleh, kau adalah satu-satunya anak Ambu. Buatlah Ambu ini bahagia tanpa merasa kecewa. Teruslah arungi waktu, jelajahilah pijakan yang kau suka. Ambu akan merestui asal kau belajar dengan getol dan sungguh-sungguh.”
“Awak pasti akan berusaha membahagiakan Ambu..” jawabku lirih dengan mencium tangan Ambu lama.
Tiba-tiba, dari arah belakang, Uwa mengelukan namaku. “Saleh.. pesan Uwa, jangan berbuat macam-macam di negeri orang. Apalagi di Arab. Hukum Islam masih kental ditegakkan,”
Kudapati wajah yang teduh itu sedang tersenyum. Seulas senyum dari laki-laki paling bijak yang pernah kutemui. Sejenak, aku merasakan aliran semangat dari Uwa yang mendekapku bak sahabat karib. Setelah itu, Uwa melontarkan pertanyaan sebelum sempat aku merespon nasihatnya barusan.
“Sareng saha, Leh?”
“Sendirian, Wa.”
“Uwa doakan semoga mimpimu untuk jadi mubaligh muda terwujud.”
“Insya Allah, syukran, Wa. Jazakallah.” balasku dengan menggunakan kosa kata Bahasa Arab yang masih sedikit kuingat saat belajar di Pondok Pesantren. Uwa tergelak mendengar gelagatku yang sedikit berbeda ketika menuturkan kalimat tersebut.

Saat kulihat salah seorang pramugari hendak menginformasikan bahwa Pesawat akan segera take off, Ambu berkata padaku—lagi. “Jadi orang yang pinter. Kalau sudah pinter, balik lagi ke negerimu sendiri. Kau dengar kan, Leh? Jangan lupa, baca istighfar terus di pesawat. Jika ada apa-apa, jangan panik. Malaikat akan menjaga orang-orang yang pergi mencari ilmu.”
“Baik, Mbu, Saleh mengerti. Uwa..” aku menoleh menyejajari Uwa. Ia melihatku, lalu kubisikkan sesuatu di telinganya. “Tolong jaga Ambu. Saleh mohon.” pintaku memelas. Uwa mengerlingkan mata sambil memberikan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
“Assalamualaikum!” ujarku mengakhiri percakapan di hari Jumat bersama orang-orang yang berarti dalam hidupku. Cepat-cepat kulangkahkan kakiku menuju anak tangga pesawat beriringan dengan lambaian tangan mereka yang kubalas dengan tulus.
Mereka masih tersenyum merelakan kepergianku. Walau kutahu, dadanya masih kembang kempis menahan sesak kekhawatiran.

“Are you okay? Make today is your, Sir.”
“Am okay. Thank you.”
“Well—enjoy with this flight.”
Seorang pramugari berjalan menjauhiku setelah bercakap singkat. Oh, apakah diriku terlihat begitu menyedihkan hari ini? Biar. Aku tak peduli. Aku memang seorang laki-laki yang hebat, tapi akan rapuh juga ketika Ambu meninggalkanku sendiri di tanah asing.

Ketika kudengar seorang pilot berkata, “Cabin crew, take off position,” hatiku berdebar. Mulutku berkomat-kamit membaca tasbih, tahmid, tahlil serta takbir. Berharap semoga pesawat yang aku tumpangi mengangkasa dengan sempurna.
Kutata lagi hatiku yang terus bergemuruh hebat. Kualihkan pandangan menuju jendela. Pesawat berhasil mengudara. Di luar, awan terlihat begitu putih memancarkan pesona. Ya, inilah kali pertama aku naik pesawat. Tanpa Ambu dan Uwa.
Aku mencoba melihat ke bawah. Oh, Tuhan. Maha besar sekali. Sejauh mata memandang, tak kutemukan manusia. Hanya bangunan pencakar langit yang terlihat menantang. Ternyata, seperti inilah terbang. Dibawa arus kehidupan yang selalu berputar.

Sejak dulu, aku selalu yakin bahwa orang-orang yang berjalan angkuh dengan membusungkan dada tanpa rasa rendah hati adalah manusia paling merugi. Karena sampai kapan pun, manusia akan mengalami sebuah revolusi. Dimana setiap individu akan mengalami bagaimana rasanya bahagia dan sedih. Tak penting karena apa, yang jelas takdir baik tak akan selamanya baik, begitu pula sebaliknya.

Sedetik setelah mataku berhasil terpejam, tiba-tiba kurasakan bumi bergetar. Memporak porandakan penumpang pesawat yang sedang terlelap tidur. Bergoyang kesana-kemari mengikuti guncangan alami dari dalam bumi. Mataku terpicing, melihat semua orang dengan wajah pucat pasi. Aya naon? tanyaku prihatin dalam hati.
Kulirik jendela —Awan mulai tampak tak bersahabat. Begitu pekat membuat para penumpang jejeritan histeris. Di awak kabin, beberapa pramugari mencoba untuk menenangkan para penumpang dengan kalimat-kalimat panjang yang sulit dimengerti.

Ketika semua orang kalang kabut sibuk mencari perlindungan, tiba-tiba, bau asap menguar di antara hidung kami. Menambah suasana dalam kabin bertambah gaduh. Situasi tak menentu seperti ini terjadi sekitar lima belas menit. Hatiku semakin tak karuan. Antara rasa takut, sedih, dan kecewa, bercampur menjadi satu.

Lama-lama, suara pramugari itu lebih terdengar seperti dengungan lebah. Tak jelas tertelan suara petir yang menyambar beriringan dengan kilatan halilintar. “Ambu!! Uwa!!” jeritku dalam tangisan yang sungguh tak dapat kubendung lagi. Tanganku gemetar. Tubuhku panas dingin. Ya Allah.. jika memang hidup adalah yang terbaik bagiku maka hidupkanlah aku, tapi jika mati adalah yang terbaik bagiku maka matikanlah aku. La ilaaha illallah..
Pesawat tiba-tiba landing. Kupikir Tuhan telah menjawab permohonan doaku. Tapi ternyata..

“Ditemukan tiga puluh dua orang terluka dan satu orang tewas di tempat. Kami masih menunggu hasil evakuasi dari polisi yang ikut memecahkan masalah ini. Tapi kami yakin, kejadian ini karena faktor alam, bukan mutlak kesalahan pilot dalam mengemudi.” terang Ir. Soraya, kepala dirut PT Garuda Indonesia.

Cerpen Karangan: Maladewi
Endorfin

Endorfin

Judul Cerpen Endorfin

“Sebenarnya Kebahagiaan yang indah itu berasal dari kesedihan yang tulus”

Malam ini aku tengah bersandar di atas kursi berwarna biru susu. Pemandangan ingar bingar kota terlihat jelas dari balik kaca transparan. Aku menatapnya dengan tatapan sedih, uh bukan. Sepetinya bukan rasa sedih yang sedang kurasakan saat ini. Bahagia? Tentu saja bukan. Tidak!! Aku tak merasakan apapun!! Hufft, maksudku aku bisa merasakan namun sulit tuk dijelaskan. Ini sungguh membingungkan, sampai-sampai wajahku memucat, bibirku memutih. Anak-anak rambut bergelantungan dengan bebasnya menutupi keningku. Aku begitu kacau, terlebih orang-orang di sekitarku tak sedikitpun mereka melirikku walau sedetik. Mereka terlalu sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Seharian lelah beraktifitas menikmati makan malam jauh lebih baik dibandingkan melihat kesedihanku yang kurang bermanfaat. Aku termenung, sampai beberapa butir air mata terjun bebas dari kelopak mataku. Ia menguap dan muncul cahaya putih yang cukup menyilaukan mata.

“Malam Kuggy?” sapa pria yang muncul dari pancaran cahaya putih. Ia muncul tepat di depan kursiku, membawa tubuhnya yang sempurna. Tanpa dosa.
Aku tidak melirik. Tatapanku masih tepaku akan hiruk piruk kota hujan saat malam hari. ribuan mobil padat merayap, Trotoar jalan yang disesaki commuter semua terlihat tenang dari sini. Bak menonton tayangan tv monoton, membosankan.
“kenapa lama sekali sih? Apakah Nathan terlalu sibuk berkencan dengan bidadari lain di dunia sana dan lupa ini hari apa?” aku melotot, sekarang aku memicingkan wajah tepat di hadapan wajah nathan yang Tampan. Lesung pipit, hidung mancung dan kornea mata berwarna biru. Terlihat sempurna bagi seorang Nathan.
“maafkan aku” jawabnya singkat. Nathan membetulkan posisi duduknya. agar jubah putih yang ia kenakan tidak merusak sayapnya. Sayap? Ya kau bisa menebak siapa Nathan.

“Nathan?” Ujarku, mukaku merah padam. Sejujurnya aku ingin sekali memeluk Nathan. Namun aku terlalu gengsi tuk melakukannya.
“Baiklah Kuggy cantik, ada masalah apa?” Nathan mengangkat kedua alisnya yang simetris.

Ngomong-ngomong, sebenarnya namaku adalah Alya. Nama Kuggy dan Nathan terinspirasi saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku pernah bermimpi kalau kami saling melihat satu sama lain di tengah taman yang cukup luas. Di sana terdapat pohon yang bernama Nathan dan buah bernama Kuggy.

“Kuggy cantik, ada masalah apa sayang?” Nathan mengulangi pertanyaannya. Dan kali ini berhasil membuat jantungku berdegup kencang.
“Nathan, hari ini!! Sudah tiba saatnya Nath. Harusnya Kuggy sadar kalau cepat atau lambat, Nath pasti akan pergi. Sekarang aja entah kenapa kepalaku selalu pusing tatkala ingin menulis. Sehingga cerita-ceritamu yang ingin kuabadikan di atas secarik kertas tidak pernah sampai selesai” jelasku. Linangan air mata sudah membanjiri pipi. Saat ini aku tidak berani menatap mata indah Nathan. Karena itu akan semakin menyakitkan.

“udah kuggy jangan nangis. Bagus dong kamu kan bisa menikmati kehidupan yang realistis. Bahkan itu sudah ada di genggaman kamu kuggy”
“Bagus apanya. Aku akan kesepian. Waktu saat masa-masa bersamamu pun aku merasa kesepian. Enggak Nath, Kuggy gak mau kehilangan Nathan, Kuggy sayang Nathan!!” rengekku. Tak peduli aku menjadi viral perhatian. Nathan jauh lebih penting.

Tiba-tiba Nathan berdiri. Tubuh tegapnya masih terbentuk jelas walaupun ia memakai jubah. Ia menghampiriku dan tangannya melingkar di sekitar pundak. Aku tenggelam dalam dekapannya. Begitu hangat dan semakin hangat karena Hormon Dopamine dan endorfin berkalaborasi menjadi satu. Kenangan mengemas itu semua dengan rapi tanpa ada yang terlewat ataupun tertinggal.
Orang-orang menyebutnya sebagai kenangan terakhir.

“Kuggy yang sabar ya, kuggy harus kuat. Nathan yakin cepat atau lambat Kuggy pasti bisa ngelupain Nathan. inget Gy. Kuggy masih punya yang maha penyayang. Yang maha penyayang bisa kok ngirim jutaan Malaikat seperti Nathan ke hidup Kuggy. Kuncinya sederhana. Berdo’a, melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Nathan yakin Kuggy bisa!!” Ucap Nathan yang sekaligus menjadi ucapan terakhirnya. Hormon dopamine dan endorfin mereda, selaras dengan kehangatan yang seperti debu ditiup angin. Hilang menyisakan jejak. jejak yang indah.

Nathan, aku sayang kamu aku berjanji kepada diriku sendiri. Nathan akan menjadi malaikatku lagi. I’m, Promise

Cerpen Karangan: Imam Nur Hidayat
Blog: inurhidayat123.blogspot.com
Wattpad.com: https://www.wattpad.com/user/ImamHidayat5
Cinta Dalam Novel

Cinta Dalam Novel

Judul Cerpen Cinta Dalam Novel

Aku Kirana, kerap disapa Nana. Aku siswi kelas 12 IPA di salah satu SMA favorit di Bali. Aku baru setahun di sekolah ini. Iya.. aku pindahan dari SMAN 7 Jakarta. Mengingat di Jakarta tidak ada keluarga lagi semenjak ayahku meninggal setelah 1 tahun mengidap penyakit jantung. Keputusan yang memang berat harus pindah ke Bali bersama pamanku dan harus meninggalkan banyak kenangan di kota metropolitan itu. Tapi kini aku sangat mencintai sekolah baruku. Banyak sekali program-program unggulan di sekolahku ini. Seperti program Gerakan Literasi Sekolah yang kini menjadi trending topic. Di sekolah ini juga aku merasa seperti anak SMA kebanyakan. Aku mengerti apa itu cinta.

Aku menggaruk kepalaku yang sebenarmya tidak gatal. Pemandangan yang tidak biasa pagi ini membuat aku bingung. Seseorang yang kucoba hindari malah menghancurkan moodku di pagi ini. Entah mengapa, program sekolah yang biasa dipegang osis kini malah dipandu orang itu. Kesal memang melihatnya, tapi rasa kesal itu tertimbun manisnya kata-kata bijak yang ia lontarkan. Ia selalu berkata “have a nice day” di setiap ia mengakhiri kata-kata bijaknya. Aku selalu menggumam “gimana gak “have a nice day” kalau setiap pagi kata-katamu itu selalu menyemangati”

Aku memang plin plan. Aku tidak bisa sejalan dengan pikiranku yang mencoba menghindarinya. Aku tidak bisa sepenuhnya membenci ataupun menghindarinya. Menghindari? Sebenarnya antara aku dan dia tidak ada sesuaatu yang spesial. Ini karena kekonyolanku yang berani mengutarakan perasaanku langsung kepadanya tanpa peduli akibat dan perasaannya. Semenjak itu ia membenciku. Aku tidak menyangka orang yang seharusnya bisa lebih dewasa, malah menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Rasanya ingin sekali aku berteriak di depannya, aku memang suka, tapi aku tidak pernah memaksamu untuk membalasnya.

“Chand.. salah aku sama dia apa sih?” tanyaku pada Chandra, sahabatku sejak SMP.
Ia sama sekali tidak menggubris, malah asyik menjejali mulutnya dengan bakso yang tadi kami pesan. Hampir 3 kali aku mengulang pertanyaanku dengan hasil yang sama. Chandra tetap asyik dengan bakso itu. Kupukul meja di depan sembari berteriak “Salaaaahhh aku apaaa???”.
Sontak seantero jagat kantin terkejut. Begitu pula Chandra yang baru menyadari keberadaanku.
“Ehhh loo kira ini hutan.. teriak-teriak gak jelas.. Lo kira gua tuli??” bentak Chandra.
“siapa suruh ngacangin…”
Jujur, aku masih tertarik dan terus memerhatikannya. Aku yakin dia tahu itu, hanya dia berpura-pura cuek. Sempat terlintas perasaan menyesal pernah mengungkapan perasaan itu hingga keadaan kacau balau seperti ini.

“Selamat pagiii semua… Abaikan orang yang mengatakan Anda sok tahu, jika hidupnya tidak lebih baik dari Anda. Woles aja! 99.99 % orang yang bilang Anda sok tahu, adalah orang yang tidak tahu tapi tidak tahu dirinya tidak tahu. Have a nice day” aku selalu membayangkan kata-kata yang selalu ia ucapkan ditujukan kepadaku. Bagaimana aku tidak semangat menjalani program sekolah yang hanya membaca buku selama 30 menit sebelum berkutat dengan pelajaran di kelas, setelah itu diakhiri dengan sesi kata-kata manisnya itu. Cukup memotivasiku untuk gemar membaca. Membaca dengan cinta.

“Na.. aku mau ngomong sama kamu.” Kata Rehan mengejutkanku. Dia cowok yang aku suka sekaligus kubenci. Entah angin apa yang membawa dia menghampiriku di pagi ini. Rasa bahagia tidak bisa kusembunyikan bisa menatap ia sedekat ini.
“Apaan?” jawabku sok cuek.
“Aku tahu kamu masih suka sama aku, tapi tolong jangan terlalu memerhatikanku seperti itu, aku merasa terganggu saat aku berbicara di depan dan kau memandangku tanpa berkedip. Aku mohon jangan seperti itu.” Tuturnya
Aku terkejut mendapati penjelasan yang menurutku sama sekali tidak penting itu. Kutinggalkan dia tanpa berbicara sepatah kata pun. Sakit sekali. Kini aku benar-benar dibuat benci. Perasaanku ini memang tidak dihargai. Andai saja aku bisa memutar waktu, aku akan berpikir dua kali untuk menaruh hati pada Rehan.
Mungkin hal itu begitu penting, hingga ia rela mengejarku untuk mengatakan hal yang sama. Saat ini ia benar-benar muak dan ingin membuatku tidak mencintainya lagi.
“Naa.. mengertilah, aku gak bisa suka sama kamu, aku harap kamu buang rasa sayang kamu itu.”
Kulangkahkan kakiku menjauhi orang sialan itu. Sakit sekali mendengar kata-kata yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“Aku akan coba Han. Ini hanya masalah waktu saja, lambat laun kau akan enyah dari pikiranku” tuturku dalam hati.

Seperti biasa program di pagi itu berjalan layaknya hari-hari kemarin. Juga dengan sesi kata-kata motivasi dari Rehan. Kini aku menuruti permintaannya dulu. Aku tidak lagi memerhatikan layaknya kambing congek yang tetap asyik membaca buku mesikpun waktu membaca sudah habis.

“Na.. kuliah nanti lo mau ke mana?” tanya Chandra.
“Entah.. aku masih memikirkannya.” Jawabku singkat.

Ujian Nasional memang tinggal menghitung hari saja. Kami kelas 12 semakin disibukkan dengan jadwal-jadwal les yang cukup padat. Fokus kami hanya pada UN. Tidak lagi mengurusi kegiatan organisasi ataupun program-program sekolah khususnya gerakan literasi sekolah itu. Di satu sisi aku senang waktuku semakin banyak untuk belajar, namun di sisi lain aku tidak pernah bisa mendengar kata-kata yang selalu memotivasiku di setiap paginya. Rehan kini seperti menghilang. Ia semakin jarang kulihat. Mengingat kelas kita beda, Setahuku kelas Rehan berada di lantai 3. Semakin membuatku sulit untuk bisa mencuri-curi kesempatan untuk bisa menatapnya.

Tidak terasa kami kelas 12 sudah menghadapi ujian itu dengan hasil yang tidak mengecewakan. Kini kami disibukkan dengan hal yang berbeda. kami sibuk dengan universitas kami masing-masing. Aku sendiri akan melanjutkan kuliah dengan jurusan ilmu politik. Aku dengar Rehan akan melanjutkan studynya di UI.
“Rehan bakal lanjut di UI, katanya sih mau ngambil ilmu politik juga. Sama kaya kamu.” papar Avin sahabat Rehan.
Aku sempat bertemu dia beberapa kali di sekolah saat kami disibukkan mengurus ijazah kami. Kami seperti tidak saling kenal. Mungkin ia memang muak kepadaku.

“Naa.. ini aku Rehan.. bisa ketemu di seklolah gak?”
Pesan yang mengejutkanku. Aku sama sekali tidak pernah bermimpi mendapat pesan dari orang ini. Kebetulan saat itu aku akan menuju ke sekolah untuk menyelesaikan urusanku. Langsung saja aku mengiyakan ajakan Rehan itu. Aku tidak ingin mati penasaran dibuatnya.

“Hai Han.. kenapa?” tegurku sok dekat.
“Naa.. aku mau lanjut ke UI, seminggu lagi aku berangkat. Maafin semua kesalahanku ya.”
Sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi siang itu. Mengapa Rehan yang juteknya bukan main bisa berbicara halus seperti itu. Terdiam dan terdiam. Aku masih berpikir apa ini hanya mimpi. Memang tidak ada yang spesial. Tapi ini kali pertamaku mendengar suara lembutnya berbicara kepaaku.
“Iya iya.. good luck ya.. maafin gue juga.”

Dia merogoh tas yang dibawanya sedari tadi. Sebuah novel ia berikan kepadaku. Sungguh keadaan yang membingungkan.
“Mak-sud k-a-mu?” bicaraku terbata
“anggap saja ini kenangan dariku. Aku harap kamu tetap rajin membaca meskipun tidak lagi mendengar kata-kata bijakku” katanya sedikit menggoda

Sebuah novel bersampul biru dengan judul “Bila Esok Kau Tiada” itu kuterima. Tak lupa kuucapkan terimakasih padanya. Saat aku ingin beranjak meninggalkannya, Rehan menarik tanganku dan mencium keningku.
“ini novel pertama. Aku akan mengirimkan novel setiap bulannya untukmu Na. dan di setiap novel itu akan ada kata-kata bijak. Anggap saja setelah kau membaca novel itu dan kau akan mendengar kata-kata penyemaangat dariku, layaknya yang kulakukan dulu. Dulu kata-kata itu kulontarkan untuk semua orang yang mendengarkanku, tapi ini hanya untuk kamu Na” jelasnya.
Tanpa aku sadari air mataku menetes. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada Rehan.
“aku sayang kamu” kataku sambil memeluknya.
Aku tidak tahu apa rencana Tuhan. Mengapa Rehan bisa seperti ini.
“Dulu aku seperti itu karena aku tidak ingin kamu terlalu sayang. Aku juga menyayangimu, tapi aku tidak ingin larut dalam kasih sayang itu. Karena aku tahu, setelah SMA nanti aku melanjutkan studyku di UI. Keluargaku pindah ke Jakarta karena rumah yang kami tempati di Bali milik tanteku. Aku tahu kita saling mencintai tapi aku ingin tidak ada hubungan yang spesial di antara kita. Aku tidak ingin jika kita tidak kuat dengan keadaan jarak jauh ini dan kita saling membenci. Aku ingin kita tetap seperti ini. Kau mengerti maksudku Na?” paparnya panjang.
Aku hanya menggangguk sebagai tanda jawaban. Kini aku mengerti mengapa dulu Rehan seperti itu.

Hari demi hari berlalu. Aku tetap menjalankan rutinitas membaca novel yang selalu dikirim Rehan setiap bulannya disela-sela kesibukanku. Kulakukan hal itu dengan sepenuh hati. Aku selalu semangat menghabiskan tiap novelnya dengan kata-kata manis di setiap cover novel itu.
“Terkadang, kamu berusaha menghindari sesuatu, bukan berarti kamu membencinya. Kamu menginginkannya tapi kamu tahu bahwa itu salah.” Sepenggal kata manis Rehan yang ada di cover novel ke tujuh dengan judul “You and Me” itu kian membuatku merindukannya. Aku mencintai rutinitas membacaku saat ini karena kamu, Rehan..

Cerpen Karangan: Trisna Widhi Yanti
Facebook: Putu Trisna Widhi Yanti
Kisah Mizel

Kisah Mizel

Judul Cerpen Kisah Mizel

Namanya Mizel. Lengkapnya, Mizelha Ruhina. Mizel adalah anak yang cantik, baik, rajin, dan pintar. Tapi, sayangnya, kedua orangtuanya sudah meninggal. Karena itu, ia harus tinggal di panti asuhan. Panti asuhan High Girl namanya. Di panti asuhan, Mizel sekamar dengan Kheyl, Alzvia dan Glade. Kheylhenshia adalah anak yang pandai berpuisi. Lalu, Alzvia Viegechra, ia anak yang pintar matematika. Sedangkan Gladern Xivela, adalah anak yang suuupeeer tomboy. Nah, sudah dulu ya… perkenalannya, sekarang, kita ke cerita.

Suatu hari di sekolahan panti…
“Eh, semua, tau, nggak? Nanti, itu, sekolahan kita akan ada tamu istimewa lho…” Seru Glade.
“Kira-kira, siapa ya…” Gumam Kheyl.
“Tamu itu mau ngapain di sekolah kita?” Tanya Alzvia.

Tiba-tiba. “Kriiiiing.” Bell sekolah berbunyi. Tak lama kemudian, Bu Letta pun datang bersama seorang wanita. Wanita itu terlihat belum terlalu tua. “Assalammu’alaikum anak-anak.” Sapa Bu Letta.
“Nah, hari ini, kita kedatangan tamu istimewa. Ibu harap, kalian semua jangan berisik yaa…” Ujar Bu Letta.
“Baik Bu.” Jawab semua murid.
“Ayo Bu Ana perkenalkan diri anda.” Ucap Bu Letta. Wanita yang bernama Bu Ana itu pun mengangguk.
“Selamat pagi anak-anak. Nama Ibu, Anabila Ratiana. Kalian bisa memanggil Ibu, Bu Ana. Ibu datang ke sini untuk menyumbangkan sejumlah uang dan beberapa barang untuk kalian. Kalian mau kan…?” Jelas Wanita yang bernama Bu Ana tersebut.
“Mau!!!” seru seluruh murid.
“Okay, yang mau dapat sumbangan, berbaris yang rapih yaa…” Pinta Bu Letta.
“Baik Bu…” Jawab semua murid kemudian berbaris yang rapih. Lalu, Bu Ana membagikan uang sebesar 100 ribu rupiah, dan beberapa barang kepada masing-masing anak. Semua anak nampak senang. Begitu juga dengan Mizel, Glade, Kheyl dan Alzvia. Mereka juga sangat senang.

Keesokkan harinya…
“Zel, kamu dipanggil sama Bu Vanie.” Ucap Kheyl nyaring.
“Iya sebentar.” Jawab Mizel. Lalu berlari ke ruang utama. Di sana ada Bu Vanie, Bu Ghia, dan… apakah itu Bu Ana. Mizel mendapati Bu Ana ada di sana. “Kenapa Bu Ana ada di sini ya?” Begitu pikir Mizel.
“Mizel. Ibu memanggilmu ke sini, karena… Bu Ana akan… mengadopsi kamu. Ibu harap kamu bersedia?” Ujar Bu Vanie tiba-tiba.
“Apa Bu? Saya akan diadopsi. Lalu, bagaimana dengan Bu Letta, Bu Ghia, Bu Vanie sendiri, serta teman-teman saya Bu. Tapi, jika itu memang harus kulakukan, aku bersedia Bu.” Ucap Mizel dengan sedikit air mata.
“Ya sudah, karena kamu bersedia, pergilah ke kamarmu, lalu rapihkan barang-barangmu.” Pinta Bu Ghia.
“Baik Bu.” Jawab Mizel. Lalu segera berlari ke kamarnya.

Sesampainya di kamar, Mizel langsung menceritakan bahwa dirinya akan diadopsi. Kemudian segera merapihkan barang-barangnya. Setelah itu, ia dan kawan-kawannya segera pergi ke ruang utama bersama-sama. Di ruang utama Mizel berpelukan dengan guru-guru dan kawan-kawannya. 15 menit kemudian Mizel dan Ibu barunya melesat pergi ke tempat tinggalnya yang baru. Mizel pergi diiringi dengan tangis haru. Dalam hati Mizel berjanji, “aku akan mengingatmu selalu teman-teman.”

THE END

Cerpen Karangan: Salwa Al-huwayna
Kursi Pojok

Kursi Pojok

Judul Cerpen Kursi Pojok

Gadis itu. Ia memperhatikan guru dengan serius di pojok belakang. Ia berbeda dari gadis pada umumnya. Tak suka bergosip maupun bergurau. Buku yang sering ia baca, aku bisa memperkirakan tebalnya dua ratus lembar bisa lebih atau kurang, hebatnya, ia bisa menghabiskannya dalam setengah jam, menurut pengamatanku. Tak terlalu cantik, tapi begitu menarik. Jarang tersenyum, atau tidak sama sekali.

Fisika, mata pelajaran kami hari ini. Cukup memusingkan. Namun ia maju ke depan dan menuliskan jawabannya. Dan ia benar, selalu benar walau ia baru mempelajarinya. Ada banyak pertanyaan di benakku, berapa tingkat intelegensinya? Setarakah dengan Enstein? Atau melampaui?

Pelajaran demi pelajaran telah dilalui. Gadis itu selalu bisa. Sekarang jam pulang. Aku berhenti di pohon biasa di mana aku bisa menyendiri dengan alat musikku, gitar.
Nada-nada mulai kupetik. Sampai pertengahan lagu aku mendengar suara.
“Aku tahu lagu itu, nadanya kurang tinggi.” Ucapnya.
Aku mendongak. Gadis itu!
“Kau tahu lagu ini?” tanyaku.
“Bukankah aku sudah bilang aku tahu? Pertanyaan bodoh macam apa itu?” ucapnya sedikit tersinggung.
Aku terdiam, kemudian aku melanjutkan, “seberapa banyak yang kau tahu tentang gitar?”
“Tidak ada.” Sebuah jawaban mengejutkan terlontar dari bibirnya.
Aku masih terkejut, lalu tetap kulanjutkan, “apa itu nada?”
“Aku tidak tahu.” Jawabnya lebih mengejutkan.
“Kau tahu tinggi rendahnya? Bagaimana bisa?” tanyaku.
“Aku tidak tahu, hanya saja kurang tinggi.” Jawabnya.
Gadis gila. Aku makin penasaran saja.

Gitarku kusandarkan di pohon. Ia duduk di depanku. Aku melanjutkan, “bagaimana bisa?”
“Aku pernah mendengarnya, dan dari nada yang kau petik, itu kurang tinggi, aku tidak tahu, aku tidak bisa menjelaskannya.” Jawabnya.
Obrolan bodoh ini semakin menarik, aku melanjutkan, “semacam bakat?”
“Begitulah.” Jawabnya.
Aku sedikit mencondongkan tubuhku, ia tak mengubah posisi. Setahuku, itu tanda bahwa ia tak merasa terusik, alias nyaman.
Kami terdiam cukup lama. Angin semilir mulai datang. Rambutnya yang tidak terlalu panjang tersibak indah. Wajahnya cantik jika dari dekat. Keindahan misterius.

Aku memulai, “siapa namamu?”
Ia mengerutkan alisnya, “kau tidak tahu?”
Aku menggeleng.
Ia menarik napas panjang, “aku juga tidak tahu namamu.”
Tawaku meledak seketika. Betul-betul susah ditebak gadis ini. Ia semakin mengerut. Ia bertanya, “apa yang lucu?”
“Jawabanmu itu.” Jawabku.
“Secara logis, kalimat yang tadi itu tidak lucu.” Jawabnya semakin nyeleneh.
Karena jawaban itu aku semakin tertawa dan mulai memegangi perutku yang sakit. Saking lucunya aku sampai menitikkan air mata.
Plak! Ia memukulkan buku di kepalaku. Aku memegangi kepalaku sedangkan ia mulai tertawa lepas. Benar-benar orang gila.
“Kenapa kau tertawa di atas penderitaanku sih?!” seruku protes.
“Kau malah tertawa di atas kebingunganku.” Jawabnya dengan mengejutkan.
Kami terdiam. Kemudian tawa kami meledak. Aku bisa memperkirakan bahwa setiap orang yang lewat akan menganggap kami gila.

Kami berhenti sejenak karena lelah tertawa. Wajahnya yang semula kaku, sekarang jauh lebih rileks.
“Oh ya. Bagaimana rasanya duduk di depan?” tanyanya.
“Maksudmu?” tanyaku bingung.
“Apa enaknya?”
“Kau bisa melihat tulisan lebih jelas, dan bisa mendengarkan guru lebih baik.”
Ia mengangguk.
Aku bertanya, “lalu apa enaknya di belakang.”
“Aku bisa tidur nyenyak.”
“Tidur?”
“Itu kebiasaanku, saat pelajaran, aku muak dengan segala keramaian, daripada aku mengganggu, lebih baik tidur.”
Aku membetulkan posisi dudukku, “bagaimana kau tidur di tengah keributan?”
“Yah, terjadi begitu saja, aku hanya bangun saat guru memanggil.”
“Dan jawabanmu selalu benar, itu aneh.”
“Aku les privat di rumah.”
“Menarik dan aneh.”
“Tidak aneh, guruku selalu mengajari hal-hal yang belum diajarkan di sekolah.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pernah terlihat bergaul?” tanyaku.
“Aku tidak bisa bergurau, aku punya usaha keluarga, dan aku dituntut untuk serius, untuk itulah aku selalu terlihat kaku.”
“Maksudku, kita remaja, kita harus bergaul, oh ya, apa usaha keluargamu?”
“Sebuah perusahaan.”
“Jadi kau ini konglomerat?”
“Lebih dari itu, perusahaanku menghasilkan sesuatu yang lebih dari konglomerat.”
Aku berdiri, lalu kuambil gitarku. Aku menawarkan tanganku, ia memegangnya untuk berdiri.
“Kita ngobrol sambil jalan saja.”
“Oke.” Ia setuju.

Kami mulai langkah demi langkah.
Ia memulai, “pendapatmu itu sama artinya dengan Aristoteles yang mengatakan zoon politicon, manusia adalah mahkluk sosial.”
“Apa ia yang pernah mengatakan Eurika! Sambil berlari?” tanyaku.
Ia tertawa geli, “itu Archimides.”
“Ups.”
Tolol sekali aku.
“Kau pernah pacaran?” tanyanya.
Kata terlarang untuk seorang yang tidak punya pacar, atau jomblo sepertiku. Aku menggeleng.
“Aku pernah.”
“Berapa kali?” tanyaku penasaran.
“Sekali, pertama dan yang terakhir, aku diputuskan karena terlalu kaku.”
Aku menjawab jahil, “militer adalah dunia paling kaku, tidak pernah mencoba pacaran dengan seorang jendral?”
Ia memukul kepalaku. Lagi-lagi aku mengaduh sakit. Ini yang kedua.
Ia berhenti, kemudian ia memandang langit. Mendung.
“Sebaiknya kita berteduh.” Ucapnya.

Kami berjalan menuju pos kamling. Sepanjang perjalanan ia hanya diam. Jika orang lain, pasti ia akan bosan jika berjalan dengan gadis ini. Tapi tidak denganku. Bagiku itu menarik.
“Kau tidak bosan?” tanyanya setelah sampai.
“Bosan bagaimana?”
Ia bersendekap sambil bersandar, lalu menjawab, “maksudku, aku jarang bicara, tidakkah kau bosan?”
Aku memandangnya, “tidak, justru aku akan mudah bosan jika terlalu sering bergurau, menurutku semua kalimatmu itu berbobot, tidak ada unsur gosipnya.”
“Semua gadis suka bergosip, aku tidak, dan menurutmu itu aneh atau tidak?”
“Tidak. Dan bagaimana menurutmu aku ini?”
“Wartawan dadakan.”
Tawaku meledak. Sepertinya aku banyak tanya. Seperti wartawan, wartawan dadakan. Aku berhenti untuk mengambil napas, lalu aku melanjutkan, “sudah kubilang, kalimatmu selalu berbobot.”
Ia mengambil ponselnya dan memainkannya. Aku melirik, ia sedang melihat waktu.
“Sudah jam tiga.” Katanya.
“Tiga?” tanyaku memastikan.
“Iya.” Jawabnya.

Hujan makin lebat saja. Udara semakin dingin. Jam terakhir kami adalah olahraga. Aku heran, bagaimana bisa jam ini dilakukan di siang terik tadi. Kami masih memakai celana olahraga. Dan itu cukup menghangatkan kaki kami, namun lengan pendek yang kami gunakan tidak mampu menahan suhu dingin.
“Dingin?” tanyaku memulai.
“Kalau kau bisa merasakannya, kenapa harus tanya?” ia menjawab pedas sekali.
Aku berpikir beberapa saat untuk menjawabnya, kemudian aku menjawab, “aku hanya ingin tahu bagaimana yang kau rasakan.”
“Ya, dingin.” Jawabnya.

Kami terdiam cukup lama. Hujan semakin lebat. Tetesan air hujan mulai memasuki teritori kami. Kami makin tersungkur ke dalam. Di sini hanya kami berdua. Berdua saja. Maksudku ini aneh, ya, aku tidak pernah berdua dengan lawan jenisku, apalagi di tempat seperti ini.
Aku teringat akan coklat yang aku beli di kantin siang tadi dan belum sempat masuk ke perut. Aku membuka bungkusnya dan membagi dua batangnya.

“Apa ini?” tanyanya.
“Coklat, belum sempat kumakan.”
Bibirnya terangkat sedikit, sedikit sekali, “terimakasih.”
Aku mengangguk. Rasa laparku berkurang, cacing-cacing perutku menghentikan konsernya sejenak. Aku melihat caranya makan, betul-betul seperti konglomerat. Alisnya bertautan, kerutan di dahinya menandakan ia berpikir keras.

“Siapa namaku? Kau tanya begitu kan?” ia memulai.
Pertanyaan yang belum terjawab. Aku mengiyakan.
“Sukma Dewi.” Jawabnya.
“Pertanyaan itu, kenapa baru menjawabnya sekarang?” tanyaku.
“Entahlah.” Jawabnya sambil memandang tetesan hujan.
“Jadi kau setuju kupanggil Sukma atau Dewi?”
“Made.” Jawabnya.
“Ha?!” aku terkejut, lalu kulanjutkan, “dari mana asal namamu yang satu itu?”
“Aku selalu berpikir, Made itu nama unik, dan itu adalah singkatan namaku, Ma adalah suku kata sukMa, dan De adalah suku kata Dewi.” Jelasnya panjang lebar.
Suasana makin rileks saja. Gadis yang aneh. Aku masih tidak percaya aku bisa tertarik dengannya. Hujan hampir reda.

“Bagaimana jika kita pergi saja dari tempat ini?” ia menawarkan.
“Gerimis, nekat nih?” tanyaku memastikan.
“Ayo!”
“Tidak!”
Ia menarikku dengan kasar. Dan kami, seperti di film-film India, kami berlari di bawah hujan gerimis. Suatu rasa tersendiri, romansa super bodoh dengan gadis yang baru aku tahu namanya lima menit lalu. Entah bagaimana nasib gitarku yang kutinggal di pos kamling.

“Bagaimana? Seru?” tanyanya.
“Seharusnya kita balapan tadi!” seruku lebih bodoh.
“Ayo kita ulang! Siapa yang lebih dulu sampai di jembatan ya..”
Aku berlari duluan. Dari belakang aku mendengar teriakannya, “curaangg!!”
Ia berlari mengikutiku. Romansa film India terulang lagi. Aku sampai duluan. Ia sampai setelahku.

“Aku belum selesai bicara.” Ujarnya.
“Ya sudah, lanjutkan.” Jawabku.
“Siapa yang sampai duluan harus push up lima kali!” serunya.
“Hei! Apa-apaan itu?”
“Kau curang, dan dengan ini kita impas.”
Skak mat! Aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Sekali lagi ia menang. Aku menurutinya. Dan setelah selesai, kami memandang sungai.

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan temanku sebelum pindah sekolah besok.” Ujarnya memulai.
Aku menoleh dengan ekspresi terkejut. Maksudnya ini pembicaraan pertama dan terakhir kami?
“Jadi kita berteman?” tanyanya.
“Teman? Kenapa tidak sahabat saja?”
Raut wajahnya terlihat bahagia sekali, lalu ia menjawab, “sungguh? Aku punya sahabat?”
“Kau tidak memiliki sahabat?” tanyaku.
Ia menggeleng. Padahal ia asyik sekali, kenapa ia sendirian?
“Dari pertama masuk sekolah, semua gadis nampak biasa saja, tapi tidak denganmu, kau berbeda, tidak, tapi istimewa.” Aku nyaris tidak percaya yang aku katakan.
“Istimewa? Yang kutahu, itu sesuatu yang tidak dimiliki orang lain kan?”
“Ya, dan sesuatu itu adalah dirimu sendiri.”
“Apa istimewanya aku?”
“Kau istimewa dari sisi manapun, kau mungkin tidak cantik, tapi kau lebih dari cantik, sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”
Kami terdiam. Sekali lagi aku tak percaya apa yang kukatakan.
“Kau juga istimewa.” Ucapnya.
“Aku?” tanyaku terkejut.
“Kita semua istimewa, manusia itu unik, mereka tidak berbeda tapi istimewa satu sama lain.”
“Sudah kubilang, kalimatmu itu selalu berbobot.”
Kami melihat sungai dari atas jembatan sambil sesekali bercanda. Dan pembicaraan ini, aku, sepertinya aku tidak bisa memberi kesan pertama yang baik. Kami ngobrol sehari lalu tidak lagi. Ini hanya sekali.

“Kesan seperti apa yang kau inginkan?” tanyaku.
“Kesan bahagia, dan aku mendapatkannya.”
“Lalu, kenapa kau memilihku untuk menciptakan kesan itu?”
“Aku.. aku hanya, yah, melihatmu menciptakan kesan bahagia pada semua orang, menurutku itu cukup.”
Ia mengulurkan tangan mungilnya, “aku Made, siapa namamu?”
“Namaku Jagad Meru Sigit, biasa dipanggil JAMES.” Jawabku.
“James? Dari mana tuh?” tanyanya.
“JA dari Jagat, ME dari Meru, dan S dari Sigit, hehehehe, aku menirumu Made.” Ucapku jahil.
“Terlalu luar negeri.”
“Yang penting keren.”
“Namaku Made, Made itu selalu keliling dunia, lihatlah, ada Made in U.S.A., Made in China, Made in Indonesia, kan keliling dunia, dan Made ada dimana-mana.”
Tawa kami lagi-lagi meledak seketika. Sungguh menarik.
“Oh ya James, selalu rindukan aku, sahabat barumu ini.” Ujarnya.
“Oke Made.” Jawabku sambil tersenyum.
James? Nama yang bagus. Made? Nama yang unik.
Kami tertawa cukup lama. Kemudian berhentilah mobil sedan di samping kami. Lalu Made mandekat ke mobil itu. Dari dalam keluarlah seorang pria, air mukanya sama dengan Made.
“Sukma! Dari mana saja kau? Ayah lelah mencarimu, ayah sampai melapor polisi, tak tahunya kamu di sini?” ia langsung marah. Kemudian ia melihatku, “siapa dia?”
“Dia James, sahabat baruku.” Jawab Made.
“I.iya pak, maaf saya telah mengajaknya main tanpa seijin anda.” Jawabku agak takut.
Kemudian ayahnya tersenyum, “boleh main, asal jangan kesorean, dan jangan jauh-jauh.”
“Iya Ayah.” Jawab Made.
“Tapi, James? Terlalu keren untuk orang Indonesia.” Ujar ayah Made.
“Emmm.. nama pemberian orangtua saya.” Jawabku sedikit ngibul.
Ayah Made memandang langit, “waktunya pulang.” Kemudian ia masuk mobil bersama Made.
“Sampai jumpa James.” Ujarnya.
“Sampai jumpa.” Jawabku.

Kemudian mobil melaju dengan pelan. Sampai jumpa, bukan selamat tinggal. Berarti ia percaya dapat berjumpa lagi denganku, suatu hari nanti. Percakapan ini, walau sebentar aku mengenalnya, aku merasa dekat dengannya. Made, sahabat baruku.

Senin pagi. Aku duduk di tempat biasa. Aku memandang kursi pojok itu, tidak ada Made di sana. Kosong. Kosong seperti hatiku. Gadis itu, Made. Dan aku, James. Aku merasa ini seperti akhir dunia.

“Kita kedatangan murid baru, ayo perkenalkan dirimu.” Ujar Bu Ani.
Ia seorang pemuda jangkung dan berkulit agak gelap. Ia memperkenalkan diri, “perkenalkan, nama saya Made Kusuma, saya campuran Jawa-Bali, makanya nama saya begitu, saya harap teman-teman senang dengan kehadiran saya.”

Made! Made yang lain. Ia duduk di tempat biasa ia duduk. Kursi pojok itu. Tempat itu adalah milik Made. Dan sekarang ada Made yang lain. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Benar kata Made, Made ada dimana-mana. Mungkinkah suatu hari nanti aku bertemu gadis itu? Apa ia juga bertemu orang yang bernama James di tempat lain? James yang lain. Tak sabar kubercerita padanya, bahwa aku bertemu seseorang yang bernama sama sepertinya, Made.

Tamat

Cerpen Karangan: Nurul Eka Putri
Facebook: Nurul Eka Putri
Good Bye My Best Friend

Good Bye My Best Friend

Judul Cerpen Good Bye My Best Friend

Anggi, Feby dan Kurnia ya itu sahabatku, kami 3 tahun bersama. kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama, karena jika kami bersama waktu terasa sangat cepat sekali. Kami selalu bermain, bergurau dan melakukan hal-hal yang lainnya.

Di suatu hari Feby nampak kurang bersemangat, Aku, Anggi dan Kurnia sangat bingung kenapa Feby bertingkah yang sangat aneh dan tidak biasanya Feby tidak kebanyakkan tingkah, banyak bicara, dan selalu jajan banyak. Sudah satu minggu Feby bertingkah aneh seprti itu, “kamu kenapa Feb? tidak biasanya kamu beringkah seperti ini?” ujar Anggi. Feby pun tidak menjawab pertanyaan anggi, akhir-akhir ini pun Feby jarang berbicara kepada kami. Aku, Anggi dan Kurnia mencoba berbagai cara untuk mengubah tingkahnya yang tidak seperti biasanya itu, tapi hasilnya Feby tidak berubah seperti yang dulu lagi.

Di pagi hari yang cerah kami bertiga tanpa Feby berjalan menuju sekolah, kami tau jika mungkin Feby telat bangun lagi. pada jam 06:45 pelajaran dimulai Feby bangku Feby masih kosong. Tidak lama lagi Pak Muslikun akan datang “duhh.. mana ini Feby udah jam segini kok belum berangkat sih, bentar lagikan waktu nya pembelajaran” ujar Kurnia.
Kami bertiga sempat berfikir apa mungkin Feby sakit, tetapi jika Feby sakit ia pasti mengirimkan SMS kepada kami.

Pak Muslikun datang dan pembelajaran pun dimulai, tepat jam 07:10 Feby dan Ibunya mengetuk pintu kelas dengan perlahan “tok tok tok!!!” Pak muslikun pun berjalan ke depan pintu kelas ke arah Ibu Feby dan membicarakan sesuatu. Kami bertiga sangat penasaran mengapa Feby telat hingga seperti ini. Bel istirahat dimulai kami bertiga bertanya kepada Feby “Feby kenapa kamu telat tadi?, tidak biasanya kamu telat hingga seperti ini, tingkahmu juga sudah seminggu aneh seperti ini. kamu ada masalah Feb? kita udah 3 tahun Feb sahabatan masa kamu gak mau cerita sama kita-kita ini?”. “maaf ya kalo sekarang aku belum bisa cerita sama kalian, maaf ya kalo aku udah buat kalian khawatir juga. aku bakalan cerita ke kalian kok tapi masih belum waktunya” ujar Feby. Jelas kami bertiga kesal dengan pekataan Feby tadi.

Hari minggu yang cerah, kami berempat setiap hari minggu selalu bermain sepeda di taman. Aku, Anggi dan Kurnia menyusul ke rumah Feby “Feby! Feby!” Feby pun keluar dari rumahnya dan mengambil sepedanya. Kita pun besepeda bersama-sama Feby pun bertingkah bersemangat lagi tidak seperti tingkahnya yang aneh pada akhir-akhir seminggu ini.

Ketika kita sedang asik meminum es kelapa muda di taman dan asik bergurau bersama-sama, tiba-tiba handphone Feby berdering “kring! kring!” Feby langsung mengangkat teleponnya dan berjalan agak menjauh dari kami bertiga. “maaf ya aku pulang duluan!” ujar Feby. Tanpa Feby mendengarkan kami berbicara Feby langsung mengayuh sepedanya dengan cepat untuk segera pulang ke rumahnya. Kami bertiga pun tidak sempat bertanya kepada Feby mengapa dia terburu-buru untuk pulang padahal kami ber-empat baru saja seperti dahulu lagi. Padahal aku sangat rindu dengan Feby “ah sudahlah mungkin dia sakit perut atau tidak Feby mau ke rumah saudaranya” batinku.

Pada saat hari kamis Feby tidak masuk sekolah lagi, yaapp lagi. Sudah empat hari Feby tidak masuk sekolah. Pada saat pulang sekolah kami bertiga pun mencoba ke rumah Feby, dan ternyata rumah Feby tertutup rapat. Kami sudah memanggil-memanggilnya tapi tidak ada jawaban, kami bertiga pulang dengan rasa penasaran.

Pada malam sabtu minggu Feby menyuruh kami untuk datang ke taman. aku menemuinya duduk sendirian di ayun-ayun berwarna merah. Tiba-tiba Feby memeluk kami bertiga dan menangis. Feby bilang dia harus pindah ke malang, jelas kami bertiga terkejut dan bersedih kami sudah 3 tahun bersama, tapi sekarang mau berpisah. “kalian gak usah sedih, Aku bakal main ke kalian pada waktu liburan” Ujar Feby. Feby memberikanku kotak musik untuk kenang-kenangan

Cerpen Karangan: Dhinda Lintang
Facebook: Dhinda Lintang
Sahabat Yang Telah Pergi

Sahabat Yang Telah Pergi

Judul Cerpen Sahabat Yang Telah Pergi

Hari itu aku berangkat ke sekolah dan menjumpai tiga orang sahabatku, yang bernama salsa, laila dan lela. Mereka sahabatku dari kelas satu tapi berbeda kelas, aku menyapa ketiga sahabatku itu
“Hai, lagi apa nih” sapaku
“Hai juga, shif” Jawab lela
“Salsa laila kenapa kalian diam saja, apa kalian tidak sehat?” Tanyaku kepada kedua sahabatku
“Tidak, aku tidak apa-apa” Jawab salsa

Setelah beberapa hari mereka masih terdiam.
“Salsa laila kenapa beberapa hari ini kalian diam saja, apa aku punya salah?” Tanyaku sambil heran
Mereka menjawab “Minggu depan kami akan pindah sekolah”
“Apa ke sd mana?” Jawabku sambil terkejut
“Aku pindah ke sd rawamerta” Jawab salsa
“Aku pindah ke jawa” Jawab laila
“Tapi kenapa kalian mau pindah?” Tanyaku

Tak lama kemudian lela datang.
“Hey, apa yang kalian bicarakan, sepertinya serius banget” Tanya lela
Aku menjawab “salsa dan laila akan pindah sekolah” Jawabku sambil meneteskan air mata
“Apa…!” Sambil terkejut lela menangis
“Iya kami akan pergi minggu depan” Jawab mereka sambil meneteskan air mata

Bel sekolah akhirnya berbunyi. Di kelas aku cuman bisa meneteskan air mata.
Dewi bertanya padaku “Shif kenapa kamu menangis?”
“Ak…Aku sedih karna salsa dan laila akan pergi” Aku menjawab dengan isak tangis
“Apa?, salsa dan laila akan pergi?, pergi kemana?” Tanya dewi terkejut
“Salsa akan pindah ke rawamerta dan laila ke jawa tengah” Aku menjawab sambil menagis
“Sabar shif, mereka tidak akan melupakanmu” Dewi berkata sambil mengelus pundakku

Minggu depan kemudian hanya aku dan lela yang ada di kantin sekolah, sambil melamun memikirkan sahabat dari kelas satu walaupun berbeda kelas rasanya sepi tidak ada mereka berdua, semoga mereka menemukan sahabat baru.

Cerpen Karangan: Shifa
Facebook: Shifa
I Love You Lily

I Love You Lily

Judul Cerpen I Love You Lily

Kau eratkan genggamanmu di tanganku. Detak jantungmu kudengar beradu dengan nafasmu. Kutatap dalam wajahmu, air mata menggenang dalam kedua matamu. Cemas.

“Semua akan baik-baik saja, Bram” ucapmu setenang mungkin, dengan suara bergetar.
Aku tersenyum kecut mendengar kebohonganmu berulang kali. Entah ini yang ke berapa, aku sudah lupa.
“Kamu dingin?” kau bertanya padaku lembut. Kau usap kasar rambutku. Aku menggeleng.
“Ingat, jangan sekali-kali kamu menyusahkan orang lain” ucapmu lagi, ini sudah kedua kalinya kau mengatakan hal itu.
“Jangan…”
“Aku tahu, Bu. Jangan sampai merepotkan paman dan bibi” ucapku memotong perkataanmu.
“Iya, Bram. Hati-hati disana yah”
“Hm”
“…”

Hening menyelimuti, dingin di pagi hari ini tak sedingin perasaanku. Kupandangi wajah ibu, lagi. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali. Rasanya berat sekali melihat ibu seperti ini tapi, apa mau dikata keputusan sudah bulat. Aku harus berangkat ke Laimu, kabupaten Maluku Tengah, salah satu desa kecil terletak di provinsi Maluku, Indonesia. Aku harus kembali ke negara kelahiran ayah. Sebuah negara di kawasan Asia Tenggara beriklim tropis, yang berarti hanya terdapat dua musim yaitu musim panas dan hujan.

Peluit panjang kereta membuyarkan lamunanku. Ibu memelukku, erat.
“Berhati-hatilah, Bram”
“Ibu juga”

Kuangkat koper beserta satu tas besar menaruh keduanya tepat diatas tempat aku duduk, bangku nomor 28. Tas ranselku masih setia bertengger di punggung. Ibu masih berdiri menatap ke dalam jendela kereta tepat ke wajahku. Perempuan yang sangat kusayangi itu tersenyum lebar, sedang air matanya menyeruak keluar, jatuh membanjiri kedua pipinya yang tirus. Rasanya aku ingin berlari ke luar dan menghapus air matanya yang berharga.

Peluit terakhir berbunyi, aku melepas ranselku menaruhnya di atas pangkuanku. Ibu masih terpaku di tempatnya. Sengaja kukeluarkan kepala lewat jendela untuk melihatnya. Dia melambaikan tangannya kepadaku. Sesekali menghapus air matanya. Aku masih terus melihatnya sampai dia menghilang ketika kereta memasuki tikungan jalan.

Aku menarik nafas panjang hingga udara di sekitarku serasa kusedot habis barulah kuhembuskan nafas keras.

“You okay?”
Mataku yang tadinya tertutup perlahan kubuka demi mendengar pertanyaan itu. Otakku menyimpulkan bahwa pertanyaan itu berasal dari seorang gadis, terdengar dari warna suaranya yang halus. Benar sekali, dia adalah seorang gadis bermata bulat dengan alis tebal menghiasinya. Rambut ikal sebahu dengan warna senada matanya, cokelat. Hidungnya sedang, tidak mancung. Dari bentuk wajah yang agak bulat dan ukuran tubuhnya dapat aku simpulkan bahwa gadis ini berasal dari benua Asia. Hal terakhir yang paling mendukung yaitu cara pengucapannya dalam berbahasa inggris begitu fasih terdengar.
“Ya. I’m fine!” ucapku.
“Oh, I’m Lily and you are?”
“Bramviz Arman. Mm.. you can call me Bram.”
“I see. I’m from Indonesia”
Aku terkesima mendengar penuturan gadis ini, Indonesia. Sesuai tebakanku.
“Kamu bisa berbahasa indonesia?” tanyaku spontan. Kini gadis bermata cokelat itu yang terkesima.
“Yes, of course! Maksudku, tentu itu adalah bahasaku you know that!” jelas gadis itu bersemangat. Dia tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.
“But.. Bagaimana kamu melakukannya. Bagaimana kamu bisa berbahasa indonesia, padahal wajahmu lebih mirip orang kulit putih?” gadis itu bertanya antusias.
Kutatap wajahnya, iris coklatnya mengkilat terkena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela. Aku tersenyum.
“Ayahku Indonesia, ibu Groningen. Jadi beginilah aku. Heehee…” ujarku basa-basi.
“Keren!” serunya.
“Dan.. Kamu?”
“Oh, yap! Ayahku Indonesia dan ibuku juga Indonesia. Aku datang ke Groningen untuk menjenguk nenekku” jawabnya.
“No.. No. Nenekku juga Indo, tapi suka Belanda. Haahaa..” ucapnya melihat wajah bingungku.
“Oh.. Kakekmu?”
“Sudah tiada dua tahun lalu”
“Maaf, aku turut berduka”
“Tidak apa-apa”

Hening. Sekiranya itulah percakapan singkatku dengan seorang gadis yang bernama Lily. Dia duduk di bangku nomor 30 tepat di depanku. Dua bangku tersisa tidak terisi, hanya kami berdua. Gadis ini sangat ceria, dia terus berbicara sampai kereta memasuki kota Groningen. Kini aku benar-benar telah meninggalkan desaku. Ibuku.

Setelah kereta telah berhenti, kami melangkah bersama menuju taksi masing-masing.
“Kamu mau kemana?” tanya Lily.
“Rotterdam”
“Hm.. Hati-hati!”
Aku mengangguk. Aku menyetop sebuah taksi menuju bandara, seraya memasukkan barang-barangku. Lily masih memerhatikan aku.
“Bramviz Arman!” seru Lily ketika pintu taksi nyaris ku tutup.
“Apa kita akan bertemu lagi?”
“Entahlah” ucapku, mengangkat bahu. Kulihat cahaya matanya seolah akan redup.
“Kita pasti bertemu lagi” ucapnya tegas.
Aku menutup pintu taksi dan melambai padanya. Dia masih berdiri tak mempedulikan tawaran taksi-taksi yang lewat. Tangannya mengudara, melambai kepadaku.
“Kita pasti akan bertemu lagi” kudengar teriakan Lily, meski samar-samar beradu dengan bunyi kendaraan.

Cerpen Karangan: ALis W
Kepergian Pertama

Kepergian Pertama

Judul Cerpen Kepergian Pertama

Air sisa hujan semalam masih tersisa di jalan membuat kolam-kolam kecil, menimbulkan percikan air ketika sepeda motor dan mobil melintas mengenai pejalan kaki di pinggir trotoar. Riana masih setia berjalan di trotoar ke arah sekolahnya yang dekat dari rumahnya sesekali ia menatap sepatunya yang sedikit kotor karena kena percikan genangan air di jalan akibat pengendara motor itu, dengan muka sedikit sebal ia terus berjalan dan hati-hati untuk tidak berjalan terlalu dekat dengan jalan menghindari percikan air lagi. Gerbang sekolah mulai terlihat beberapa murid mulai masuk ke dalamnya termasuk Riana yang berjalan santai di koridor kelasnya.

“Riana” teriak seseorang.
“ada apa? Biasa aja gak usah lari kehabisan nafas kan” Riani menatap ilham teman akrabnya
“kehabisan nafas gak kenapa-kenapa asal kamu yang kasih nafas buatan untuk ilham hehehe”
“gak usah gombal” Riani kembali berjalan meninggalkan ilham
“aku mau lihat tugas mtk dong belum kerjain nih susah”
“susah atau kamu sibuk jalan-jalan terus hunting”
“ayolah nanti aku traktir deh di kantin” rayu Ilham “gak mau kerjain sendiri gampang”
“menurut kamu gampang riani kamu pinter aku? Ayolah” Ilham terus merayu sampai mereka tiba di kelas dengan sedikit kesal riani meminjamkan buku tugasnya kepada sang kekasihnya.

Suasana kantin terlihat ramai semua bangku terisi, untung saja Riani dan ilham dapat tempat biarpun di pojok kantin yang lumayan sempit.
“mau pesen apa princess?” tawar ilham “gak usah manggil princess tempat umum ini” Riani sedikit kesal
“iya maaf mau nasi goreng atau roti bakar?” “roti bakar aja deh rasa coklat ya ham”
“okelah tunggu ya sayang” Ilham pergi dengan cepat di antara antrian kantin yang terlihat sumpek.
Sementara Riani menatap ponselnya asik sibuk bermain game yang baru ia download dari handphonenya.
“ri ini rotinya rasa coklat dan coklatnya yang banyak” Riani menatap roti itu dengan tatapan maut yang menandakan ia segara menghabiskan roti itu
“makasih ya ilham” “sama-sama ri, oh ya nanti pas pulang kita gak bareng ya aku mau urusin kuliah di ruangan BP”
“oke aku bisa pulang sendiri” mereka berdua hanyut dalam obrolan sibuk menghabiskan makanan dan bertukar pikiran satu sama lain sesekali ilham mengelurkan gombalnya membuat riani sedikit kesal tapi senang.

Jam pulang sekolah sudah hampir setengah jam lalu, Riani masih berdiri di koridor sekolah menatap lapangan yang dibahasi hujan kali ini dia tak mau nekat pulang saat hujan takut sakit karena besok ada ujian matematika beberapa temannya memilih untuk hujan-hujanan dari pada pulang terlalu malam. Dari kejauhan di depan gerbang sekolah ia melihat seseorang mengendarai motor mendekati dirinya motor itu tak asing seperti motor kakaknya.
“riani untung masih di sekolah” bisma menghampiri dirinya
“iya kak ujan gak mau nekat pulang” “pakai jas hujannya nih” riani mengambil tas kecil itu yang berisi jas ujan
“ilham kemana gak pulang bareng?” “dia lagi di ruang BP konsultasi kali”
“oh ya sudah yuk pulang mama pasti nungguin” motor matic itu meninggalkan gedung sekolah dengan cepat menghilang di persimpangan jalan sekolah.

Ilham menatap brosur di tangannya ia terus memperhatikan dengan detail nama universitas swasta itu perlahan ia pahami, tempat universitas itu jauh berbeda pulau ia sekali lagi menatap alamat kampus itu Palu Sulawesi tengah.
“gimana ilham kamu yakin disini?” tanya pak rahmat
“saya pasti ambil di daerah sulawesi pak”
“kamu tunggu SNMPTN aja terus kalau dapat di ambil kalau gak ikut SBMPTN”
“saya kalau gak dapat SNMPTN saya langsung ambil swasta pak kata ayah saya begitu”
“kenapa memangnya? Negeri murah loh”
“ayah saya udah berangkat kesana sama ibu saya tinggal saya sendiri disini sama bibi saya jadi ya harus pindah kesana cari tempat kuliah yang pasti” jelas ilham
“oh ya sudah keputusan ada di tangan kamu pikirin baik-baik jangan sampai salah ambil keputusan”
“iya pak terima kasih ya saya pamit pulang pak”
“iya hati-hati ya masih hujan di luar”
“baik pak” ilham meninggalkan ruang BP ada yang ia sembunyikan dari Riani. Rahasia yang cukup besar untuk kelanjutan hubungan mereka berdua.

Rumah besar itu tampak terlihat sepi hanya pak imam berdiri di depan pos satpam yang selalu menatap ke depan gerbang rumah, Ilham semakin dekat dengan rumahnya ia menatap mobil berwarna silver terparkir di bawah guyuran hujan pak imam membuka pintu membukakan pintu untuknya.

“ada bapak sama ibu den baru sampai sejam yang lalu” ilham hanya menatap dan pergi setelah mendengar informasi dari penjaga rumahnya.
“Assalamualikum” ilham melangkah masuk kerumahnya
“Walaikumsalam”
“ibu mendadak banget ke sini gak bilang-bilang” ilham memeluk ibunya
“ayahmu cuti dua minggu nanti abis kamu ujian negara kita kesana bareng ya”
“ke palu? Terus sekolah aku gimana?”
“nanti kan bisa minta tolong kalau ada informasi minta kasih tau temanmu” jelas ayah
“tapi kan yah saya belum bilang ke riani”
“cuma seminggu kamu di palu nanti balik lagi kesini, kamu kan harus cari tempat kuliah swasta cari informasi saja abis itu balik nanti pas pengumuman SNMPTN kalau keterima kamu balik urusin berkas kalau gak cari tempat swasta” jelas ayah
“ya sudah baiklah” ilham melangkah kan kakinya memasuki kamarnya menjatuhkan badanya ke kasur menatap langit kamar berwarna putih perlahan matanya mulai tertutup hari ini ia lewati cukup lelah.

4 hari menuju ujian nasional siswa kelas tiga disibukan dengan setumpuk buku pelajaran tak ada lagi jam kosong untuk bermain semuanya serius menentukan masa depan. Riani terus menatap buku tebal itu dengan tatapan kosong biologi membuat dirinya pusing nama-nama latin hewan dan tumbuhan memenuhi kepalanya, tak sadar hidungnya berdarah Ilham yang baru sampai kelas langsung menutup hidung kekasihnya dengan sapu tangan.
“hidungmu berdarah, kamu terlalu diporsir belajarnya” ilham membantu riani membersihkan darah itu
“terima kasih ya”
“sama-sama jangan terlalu dipaksakan nanti kamu sakit kamu harus sehat sebentar lagi ujian besar”
“iya aku tau terima kasih lagi ya kamu sudah ingatkan aku lagi”
“itu tugas aku jangan sungkan ya, gimana kalau sekarang kita makan dulu di kantin bu rena gak masuk kita cuman dikasih soal-soal”
“boleh aku juga lapar” mereka berdua meninggalkan kelas berjalan beriringan sambil berbincang hal-hal yang membuat perut riani dikocok.
“kamu cantik deh kalau senyum kayak gitu” “gak usah puji gitu nanti aku terbang hehehe”
“beneran tau semoga aku tetap bisa lihat senyum kamu ya”
“tiap hari juga bisa lihat kok” mereka menatap satu lama lain dan melanjutkan perjalanan mereka ke kantin.

Jam menunjukan pukul tiga sore, bel pulang sekolah baru saja berbunyi semua murid sudah meninggalkan kelas termasuk riani dan ilham mereka sudah di parkiran.
“gimana kalau kita jalan-jalan dulu ri?” tanya ilham
“kemana emangnya? Aku cape mau istirahat” riani memasang wajah lelah
“yah gimana kalau abis ujian aja kita jalan-jalan ke anyer?”
“boleh deh sekarang pulang yuk” ilham melajukan motornya meninggalkan gedung sekolah yang berdiri kokoh. Di sepanjang perjalanan pulang riani dan ilham tak berbicara sama sekali riani bersandar ke pundak ilham sesekali ia melihat sekilas wajah ilham ia baru sadar ada darah di jaket kekasihnya riani memegang tangannya hidungnya kembali mimisan dengan cepat ia membersihkannya.
“sudah sampai di rumah kamu ri”
“terima kasih ya ilham hati-hati di jalan”
“iya kamu istirahat ya aku pamit bye”
“bye ilham” riani memasuki rumahnya langkahnya terlalu kecil kali ini ia jatuh sakit perlahan ia mendekati kakaknya yang duduk di sofa depan tv. Riani menjatuhkan badannya tepat di samping kakaknya.
“ri bikin kaget aja si”
“kak mama mana? Aku gak kuat nih” dimas menatap riani wajahnya pucat
“sebentar ya kakak panggil mama kita ke dokter ya” dimas meninggalkan riani.

Cahaya matahari mulai muncul dengan berani, Riani sudah siap dengan seragam sekolahnya keadaanya sedikit membaik ia harus pergi sekolah hari ini karena hari terakhir kegiatan belajar untuk kelas tiga, langkah kakinya semakin mendekat ke meja makan sudah ada kakak dan mama yang sedang memasak.
“loh kamu gak istirahat aja ri?” tanya dimas
“aku mau sekolah kak ini terakhir kumpul di kelas”
“kondisi kamu gimana? Baru baikan nanti pas ujian takut makin parah”
“riani kamu janji sama ibu besok kamu istirahat full tanpa belajar ya” mama menghampiri mereka berdua
“iya ma besok riani tidur deh seharian”
“dimas anterin adik kamu pakai mobil ya gak mungkin pakai motor kena angin takut tambah parah”
“baik ma” sarapan pagi itu terlewati dengan lancar.

Gerbang sekolah mulai ramai oleh siswa beberapa dari mereka membawa kendaraan sendiri atau naik kendaraan umum yang melewati sekolah. Riani menatap ke luar jendela setelah ia menaruh tasnya di kursi sesekali ia memperhatikan wajah teman-teman seangkatannya yang terlihat pucat dan lesu mungkin mereka belajar siang malam untuk hari senin esok yang amat sangkat dinantikan setelah tiga tahun belajar.

“riani” tiba-tiba saja ilham muncul di hadapannya
“kaget tau” riani menekuk wajahnya
“aku masuk ya, aku bawa sesuatu buat kamu” ilham dengan cepat masuk ke kelas dan duduk di samping riani
“bawa apa? Makanan? Aku udah sarapan tadi di rumah”
“siapa bilang sarapan ini kado buat kamu” ilham menyerahkan kotak kecil berwarna merah maruun itu
“terima kasih ilham, tapi aku lagi gak ulang tahun loh”
“aku mau kasih aja tapi dibukannya nanti ya tunggu perintah dari aku” ilham menatap riani
“kok gitu si?” “biar jadi kejutan sayang”
“okelah kalau begitu jangan lama-lama tapi”
“sabar dong penasaran banget ya” riani mengangguk

Sepulang sekolah riani dan ilham mampir ke toko bunga yang jaraknya lumayan jauh seperti biasa ilham membelikan riani setangkai mawar merah dan satu buket bunga krisan untuk di ruang tamu rumah riani.
“mba semuanya berapa?” ilham menanyakan harga ke kasir
“tujuhpuluh ribu mas” ilham menyerahkan uang seratusribuan
“ini kembaliannya mas terima kasih telah datang ke toko kami” ilham hanya memberikan senyumnya ke penjaga kasir itu
“mel kamu tau gak? Cowok yang tadi itu setiap minggu kesini tau rajin banget beliin mawar sama krisan buat pacarnya” teman penjaga kasir itu sedikit memberitahu teman barunya yang menjadi karyawan
“romatis banget kalau kayak gitu ya mau dong aku dikasih bunga juga”
“makanya cari pacar” mereka berdua menatap ilham dan riani yang menghilang di persimpangan dekat toko bunga itu

Hari pertama ujian nasional
Ilham menatap kartu ujiannya dengan serius memperhatikannya dengan tatapan yang kosong seperti ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang pagi ini.
“waktunya semakin dekat riani bersabarlah dengan waktu sayang” batin ilham
Sekali lagi ia menatap kartu ujiannya sebelum di masukan ke dalam tas. Ilham berlari menuruni anak tangga menatap ayah dan ibunya yang sudah siap untuk sarapan bersama.
“kamu kapan bilang sama riani kamu kepalu?”
“belum bu saya takut dia kecewa”
“gimana kalau kamu bilang ke palu mau berkunjung ke rumah nenek” saran ayah
“betul kata ayah tiga tahun kamu belum kesana kan nanti balik lagi kesini”
“saya coba semoga dia paham” sarapan itu berlangsung cepat ilham sudah meninggalkan rumahnya dengan motor sportnya berwarna merah.

Parkiran terlihat ramai siswa kelas tiga memenuhi koridor sekolah beberapa ada yang membawa buku dan berbicang dengan temannya agar rasa gelisah sedikit berkurang karena efek ujian nasional ini. Riani baru sampai sekolah pandanganya tertuju pada motor sport merah di parkiran pikirnya mungkin ilham sudah datang lebih awal.
“hey tumben udah datang pagi-pagi gini” riani menepuk pundak kekasihnya
“iya dong gak mau kesiangan ini kan hari yang spesial”
“baguslah kalau gitu”
“udah bel masuk ruangan yuk aku anterin ke ruangan kamu”
“gak usah kita kan sebelah doang gak bakalan nyasar”
“ya sudah semangat ya berdoa” “iya kamu juga berdoa ya” riani tersenyum simpul saat ilham memberinya kedipan mata.

Tiga hari berlalu dengan cepat ujian nasional terlah berlalu semua murid kelas duabelas menyambutnya dengan gembira wajah mereka bersinar seperti tak ada beban lagi yang menghampirin mereka. Riani menatap kado dari ilham yang belum ia buka sama sekali masih menunggu perintah dari kekasihnya. Hari ini ilham pamit untuk berangkat ke palu dari pesan singkat ia hanya pergi dua minggu saja semoga tak lebih dari perkiraan.
“aku mau take off, kamu sudah boleh buka kadonya” riani menatap ponselnya pesan singkat dari kekasihnya tanpa membalasnya riani membuka bungkus kado itu. Jam tangan bertali warna merah dan cincin itu membuat dirinya sedikit terkegut.
“hai sayang, saat kamu buka kotak ini aku dalam perjalanan pulang ke tanah kelahiran aku. Aku titip jam ini ya agar kamu ingat terus tentang waktu yang membawa aku pergi sebentar jaga baik-baik ya dan cincin itu kamu pakai jangan pernah dilepas ya. Coba kamu pakai, bagus pasti keliatan indah di tanganmu itu jaga keduanya baik-baik ya aku pergi sebentar nanti aku balik love you” surat itu membuat sedikit hatinya tidak tenang baru kali ini ilham meninggalkannya dalam jangka waktu yang cukup lama.

Cerpen Karangan: Daswara Bumi Ayu
Facebook: Daswara Bumi Ayu
Lepaskan Dengan Senyuman

Lepaskan Dengan Senyuman

Judul Cerpen Lepaskan Dengan Senyuman

“Apa? Kamu akan pindah sekolah ke New Zealand? Keren!” teriakku pada Mia. “Haha.. iya sih.. dan ini juga pertamakalinya aku sekolah di luar negeri.” jawab Mia. “Gak papa kok, aku yakin kamu pasti bisa laaah!” kataku menyemangati mia. “Haha.. itu dia Linda-ku!”

KRIIIIIIIING!
“Wah, udah bel. Masuk kelas yuk!” “Ayuk laaah”
“Jam pelajaran kelima adalah Bahasa Inggris. Mia pasti akan menang kuis hari ini, gimana gak menang, mau sekolah di luar negeri itu Bahasa Inggrisnya harus bagus! Jadi bisa dibilang kalau Bahasa Inggris, Mia jagonya deh!” gumamku dalam hati

Eh tapi.. hari ini Mia pindah.. apa yang harus kulakukan? Apa harus memberikannya hadiah? Makanan kesukaannya? Mentraktir? Atau apa? Aku bingung.. yang pasti.. aku gak tahu harus bagaimana kalau Mia tidak ada.. apakah aku akan dikucilkan? Atau aku akan kesepian? Atau malah menemukan sahabat baru? Kini pikiranku penuh dengan semua pikiran itu. Tak terasa.. kini sudah waktunya pulang.

Setelah mengemasi barang-barangku, aku langsung pergi ke toko pernak-pernik dekat sekolahku. Aku membeli gantungan kunci yang polos lalu kuhias dengan manik-manik dan gliter. Tak lupa aku juga menaruhnya di kotak hadiah.

Setelah selesai aku langsung berlari menuju tempat Mia duduk di belakang gedung sekolah. “Hosh… hosh…” kataku ngos-ngosan. “Ya Allah.. selow aja kali akunya kan gak akan kemana-mana ini! Nanti kasian kamunya malah yang capek!” kata Mia tersenyum ke arahku. “Jih, tumben perhatian! Udah yuk pulang sekarang aja!” kataku sambil memegang tangan Mia.

Mia tak mengeluarkan sepatah kata pun di jalan. Tapi tiba-tiba.. “Haah.. sepertinya ini akan jadi momen terakhir kita jalan berdua ya?” tanya Mia padaku. “Semoga saja tidak.” balasku. “Oh iya, ini untukmu.” kataku sambil memberikan hadiah itu kepada Mia. “Aku harap.. kita masih bisa bersama, dengan gantungan kunci ini. Aku juga punya lho!” aku menunjukkan gantungan kunciku ke Mia. “Dan aku harap.. momen ini akan terus berlangsung.. selama.. lama… nya….” kataku sambil menangis.

“Aku tak tahu harus apa, awalnya aku sangat senang karena impianmu untuk sekolah di luar negeri tercapai. Namun.. aku juga sedih kamu meninggalkanku.” kataku sayup-sayup. “Aku tak meninggalkanmu, aku akan selalu ada disini untukmu, di lubuk hatimu yang paling dalam.” kata Mia sambil memelukku.

“Hei Linda, boleh aku minta satu permintaan?” tanya Mia. “Apa itu?” “Tolong lepaskan kepergianku dengan senyum hangatmu yang selalu kau pasang saat bertemu denganku, aku tak ingin sahabatku sedih. Apalagi kau memiliki senyum yang sangat hangat. Dan aku tak ingin kepergianku ini malah membuatmu menjadi pemurung. Tetap menjadi Linda yang ceria seperti sekarang oke?” kata Mia tersenyum kepadaku.

“Iya!”. Akhirnya aku melepaskannya dengan senyuman hangatku. Meski air mataku terus bercucuran.. aku tahu.. kalau sahabatku tidak pergi jauh. Ia berada di dalam lubuk hatiku yang terdalam.

END

Cerpen Karangan: Nirmala Savitri
Blog: ourcerphen.blogspot.co.id
Perbedaan Pembatas Cinta

Perbedaan Pembatas Cinta

Judul Cerpen Perbedaan Pembatas Cinta

Fajar pagi sudah menampakan diri dan aku mulai terbangun dari tidurku. Lagi dan lagi aku memimpikan seorang pangeran. Pangeran idaman semua cewek, tetapi setiap aku memimpikan pangeran itu wajahnya samar-samar. Entah sudah berapa kali aku memimpikan dia. Sudah lupakan hal ini dan aku pun segera mandi dan bersiap untuk bersekolah.

Ujian Nasional kurang lebih lima bulan lagi. Aku akan mencoba mengikuti Simulasi Ujian Nasional atau Try Out di salah satu sekolah menengah atas di kotaku. Aku mengikuti dengan semangat. Sesampai aku di sekolah tersebut mataku tertuju ke arah sesosok pria berkacamata, entah ada perasaan aneh dengan senior cowok itu. Try Out pun selesai dan ketika aku mau pulang ada seorang cowok menghampiri aku dan ternyata cowok tersebut adalah cowok yang tadi.

“helo adik, belum pulang juga” sapanya dengan senyum manis
“belum kak.” Jawabku dengan cuek
“Leonardi Ryan Andika, panggil saja Leon. Boleh aku antar pulang?” tawarnya
“Tantri kak, maaf tidak usah repot-repot.” Tolakku
Tetapi kak Leon tetap memaksa aku dan apa boleh buat aku pulang bersamanya padahal aku tidak pernah mengenalnya.

Sesampai di rumah, kak Leon pun meminta nomorku dan pin BBMku, ya sudah aku berikan dan kami pun berpisah. Aku baru mengetahui bahwa rumah kita searah

Setelah seminggu mengenalnya lebih dekat, dengan rasa beraninya kak Leon menyatakan perasaannya padaku. Dengan membawa mawar putih dan sebatang cokelat putih. Entah apa yang ada di pikiranku dengan spontan aku menerimanya. Aku tahu memang kita berbeda tetapi perbedaan itu yang menguatkan cinta kita. Perasaan tidak bisa ditebak oleh siapapun. Mulai hari inilah kita menjalin hubungan dan jalan sama-sama. Sungguh ku tak percaya aku bukan siapa-siapa hanya cewek biasa bisa menjalin hubungan dengan cowok tampan, cerdas dan aktif di sekolahnya. Curhat sedikit ya tentang pacar baru aku.

Tepat hari ini aku menjalankan Ujian Nasional dengan perasaan khawatir dan cemas aku menjalaninya. Satu kata dari kak Leon yang memotivasiku “Kesuksesan bukan hanya karena percaya diri serta keyakinan melainkan kerja keras dan kemampuan”.

Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan telah kulewati bersama “Koko Cadel” (nama panggilan kesayanganku dengan kak Leon). Nah aku baru ingat tentang semua mimpiku, yaps ternyata pengeran itu adalah Koko Cadelku yang sekarang menjadi pacarku, mungkin ini bertanda bahwa dia adalah cinta sejatiku. Dan sekarang aku telah menjadi seorang siswi SMA, tetapi aku tidak satu sekolah dengannya karena dia bersekolah di sekolah khusus cowok. Mana mungkin aku masuk disana.

Satu tahun sudah aku berpacaran dengan Leon. Tepat hari jadi satu tahun, Leon mengajakku makan malam bersama mama dan papanya. Ya memang aku sudah kenal baik dengan mamanya karena aku sering main ke rumahnya. Beliau memang cantik dan masih terlihat muda, jadi aku juga sering curhat dengan beliau tentang masalahku dengan Leon (biasalah suatu hubungan pasti ada masalah). Acara makan malam pun berjalan dengan mulus. Sebelum pulang tiba-tiba Leo naik ke sebuah panggung kecil di restaoran tersebut. Dengan membawa gitar dia mulai bernyanyi

“Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi” nyanyinya dengan penuh penghayatan.

Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Antara perasaan senang dan sedih saat mendengarkan lagu itu. Akhirnya Leon turun panggung dan mengusap air mataku. Mama Leon pun memelukku dengan penuh perasaan. Mama Leon memang sudah tahu dari awal kalau aku dengan Leon memang berbeda tetapi beliau tetap mendukung karena ini adalah keputusan Leon dan Leon sudah besar.

Bagaikan petir di siang bolong, seusai Leon pergi dari rumahku Ibuku memarahiku dan menentang hubunganku dengan Leon. Ibuku ternyata sudah tahu bahwa Leon adalah seorang non muslim. Beliau tahu karena tidak sengaja melihat Leon sedang memegang erat rosario. Saat itu juga ibuku menyuruhku untuk memutuskan Leon. Aku menolaknya karena aku benar-benar sayang dia, dan sebaliknya. Dia juga yang paling memotivasi aku dalam segala hal. Baru kali ini aku tidak menuruti kemauan ibuku. Dengan derasnya air mata ini jatuh.

Setelah ibuku tahu semuanya suasana menjadi sedikit berubah. Ibuku sering melarangku untuk pergi apa lagi pergi bersama Leon. Terkadang aku terus meyakinkan ibuku. Sampai kapan pun aku dan Leon terus memperjuangkan hubungan kita. Dan kita tidak akan bisa dipisahkan.

Suatu ketika ibuku sudah kesal hampir beliau akan mengusirku dari rumah aku sendiri yang aku tempati sejak aku lahir. Tempat curhatku yang pertama adalah mama Leon, dengan kata-kata bijak dan kasih sayang beliau menenangkan hatiku. Tapi terkadang ada perasaan sedih ketika aku tidak menuruti kemauan ibuku.

Dengan tekat yang kuat aku berusaha membuktikan bahwa Leon memberikan banyak hal posif, agar aku bisa membuktikan perbedaan bisa mengubah segalanya. Aku berusaha kerja keras agar nilai-nilaiku semakin meningkat. Leon membantuku belajar.

“AD MAIOREM DEI GLORIAM” kata Leo dengan penuh harap. Entah apa itu artinya, aku pun tidak tahu. Hingga pada akhirnya ibuku sudah mulai mengalah dan capek menentangku.
“Kekuatan cinta kamu dengan Leo sangat kuat” kata ibuku sambil memelukku.
“Terima kasih bu.” Membalas pelukannya dan meneteskan air mata.

Tidak terasa hubunganku sudah cukup lama dan tak terasa Leon yang kelas XII SMA akan menghadapi Ujian Nasional. Aku yakin bahwa Leon bisa dan menakhlukan soal-soal tersebut dan aku terus mendukung dia.
Di cuaca yang tidak terlalu panas aku duduk di bangku taman sekolah SMA KOLESE KANISIUS. Ini adalah sekolah Leon, salah satu sekolah swasta favorit memang. Tujuanku disini ingin menunggu Leon yang sedang menjalani ujian, daripada aku tidak ada kerjaan di rumah ya sudah aku memutuskan untuk kesini. Terlihat dari kejauhan lapangan sepak bola dengan rumput hijau dan segar, di belakang lapangan tersebut terdapat tulisan “BE HONEST” yang artinya jujur. Katanya sekolah ini ketat akan peraturan kejujurannya. Sekolah ini tidak mentolerir jika siswanya melanggar peraturan tersebut.

Sesosok bayangan datang menghampiriku dan aku melihat siapa itu, ternyata Leon.
“Ko sudah selesai? Nyontek nggak” candaku membuka omongan
“Kalau aku nyontek jelas lah aku sudah dikeluarin di sekolah ini” jawabnya ketus
Tanpa kusadari aku dilihati oleh seluruh siswa yang ada disini, aku mulai tidak nyaman dan memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dengan menarik tangan Leon tanpa sepatah katapun. Sampai akhirnya aku dan Leon berada di tempat favorit kita.

Seminggu kemudian kami saling menyibukkan diri masing-masing. Aku sibuk dengan urusan tugasku karena sebentar lagi sudah Ujian Kenaikkan Kelas dan Leon sibuk belajar untuk mengikuti test SBMPTN.
Mimpi apa aku semalam, pada saat aku membuka handphone aku tidak menemukan kontak BBM Leon. Apa artinya, tanda penuh tanda tanya. Aku memutuskan setelah pulang sekolah untuk mampir ke rumah Leon.

Sontak dengan perasaan cemas dan kebingungan setelah berada di depan rumah Leon. Rumahnya sepi sekali dan tampak tidak ada orang sama sekali di rumah tersebut. Tiba-tiba ada seseorang memanggilku
“Tantri” panggil orang tersebut
“Kok, kok rumahmu sepi” dengan spontan aku tanya seperti aku mengira itu Leon, ternyata itu bukan Leon tetapi Arthur salah satu sahabat Leon.
“Aku Arthur tan. Kamu belum tahu ya?”
“Eh sorry kak, belum tahu apa? Leon kemana?” tanyaku.
“Leon dan keluarganya pindah ke luar negeri. Sebenarnya sudah cita-cita dia untuk kuliah di luar negeri, doanya terkabul dia mendapatkan beasiswa 80 persen alhasil orangtuanya ikut kesana tau sendiri kan mamanya seperti apa. Sebelum Leon pergi dia nitipin surat ini untuk kamu” cerita kak Arthur panjang lebar dan memberikan suratnya.
Reflek aku meneteskan air mata. Lalu aku mengusap air mataku agar kak Arthur tidak melihatku menangis.
“Terima kasih ya kak, aku pulang dulu” pamitku dengan wajah sayu.

Sampai di rumah aku langsung menuju ke kamar dan mengunci pintu kamar. Mulailah aku membaca surat Leon.
Mungkin kamu membaca surat ini aku sudah berada di negara tujuanku. Maaf aku tidak pernah menceritakan ini semua padamu. Aku tidak ingin kamu bersedih karena perpisahan kita.
Yang tersayang aku sudah menjadi anak kuliahan, aku mendapatkan beasiswa di Waseda University, Jepang. Memang aku ingin membuktikan kesuksesanku. Seperti apa yang kamu tahu aku selalu berprinsip “Right is right even if no one is doing it, wrong is wrong even if everybody’s doing it’ ”
Cinta yang hakiki adalah cinta yang tidak mengenal batas (usia, status, ras, suku, agama) begitu pun dengan cinta kita. Sebenarnya Tuhan memang satu, cuma kita berbeda memanggilnya. Bukan salah Tuhan kita terjebak dalam suasana cinta seperti ini, bukan juga salah kita. Maaf sudah membuat kamu menangis selama ini. I always love you. Kekuatan cinta kita yang akan mempertemukan kita kembali.
Love Leo

Antara perasaan sedih dan bangga setelah membaca surat ini. Kenapa teganya meninggalkanku dengan cara seperti ini.
Masih terlintas di pikiranku kenangan-kenangan manis itu, bubur ayam favorit di depan Gereja St. Anna, taman favorit ketika jogging, cafe tongkrongan, aku yang menemani Leon untuk membeli kado Natal, Leno yang menemaniku ngabuburit, dan masih banyak lagi. Entah sampai kapan aku memikirkan Leon.

“Tan jalan yuk” ajak Shilla membuyarkan lamuanku
“Males banget ah, jalan sendiri aja shil” tolakku
“Masih galau ya miirin si Leon? Sadar shil Leon disana kuliah gak macem-macem. Sudah jangan terus-terusan mikirin dia” mencoba memotivasi aku.
“Gimana gak mikirin aku sama sekali tidak berkomunikasi dengannya” wajahku mulai sedih lagi
“Sudah ayo cari hiburan, biar gak galau terus” ajak Shilla
“Baiklah” dengan sedikit terpaksa

Shilla adalah sahabatku dari SD, aku sudah mengenalnya sudah lama tentunya ketika aku masih kecil dan polosnya.
Ini yang namanya benar-benar cinta aku tidak bisa melupakannya. Sampai kapan pun aku tetap cinta Leon. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya tetapi tidak bisa, beberapa sosial medianya sudah tidak aktif lagi. Aku benar-benar hilang kontak dengannya. Leon bagaikan ditelan bumi. Satu kata dari Leon sampai sekarang selalu ku ingat “Jangan pernah bermain-main dengan masa depan”.

Perbedaan bukan untuk disatukan tetapi untuk saling melengkapi. Gelap tidak akan bisa menjadi terang. Cinta itu indah. Agama dan kasih Tuhan juga indah. Keindahan hanya akan bersatu dengan sesamanya. Kenapa harus ada perpisahan karena agama? Yang aku yakini, Tuhan yang disebut dengan berbagai nama, Tuhan seluruh umat manusia, telah memberikan potensi cinta pada siapa saja tanpa memandang agamanya apa. Kita hanya perlu menjaga pijarnya, agar jadi terang bagi sesama.

Cerpen Karangan: Suci W
Blog: icedofvanillalatte.blogspot.com
Facebook: facebook.com/suciwl02
Twitter: twitter.com/Icus02_
Senja di Tepian Pantai

Senja di Tepian Pantai

Judul Cerpen Senja di Tepian Pantai

Ari dan Adit duduk di sana, bertolak dengan datangnya ombak pasang yang bergulung-gulung menyentuh kaki-kaki mereka, menjebak pasir di sela jari-jarinya. Keduanya menatap bena dalam kebisuan, tercekik kecanggungan dan terjebak sejumput pertanyaan.

Mereka lihat perahu-perahu yang mengambang serupa siluet, terus menjauh dan menyisakan titik semu. Kekosongan mata itu juga tertuju pada nelayan yang mendorong pinisi lalu naik ke atas perahu kayu yang hilang keseimbangan sedetik. Bunyi motor tempel di punca mendesing, merobohkan keindahan suara pantai. Para nelayan bersarung yang urung melaut pilih kembali, agak sangsi dengan cuaca sore itu. Adapun nelayan lainnya yang memasang sirap dan dek, juga membuat pasa pada perahu-perahu setengah jadi. Ari dan Adit ingat masa lalu, saat tak sengaja tidur di atas geladak dengan satu nahkoda bertubuh sintal, tiba di tengah laut dalam kondisi terombang-ambing ditubruk ombak. Saat itu Adit tak kuat, dia muntah kuning setelah rasa mual menjalajahi perut sampai tenggorokan. Demi mengurangi kesengsaraan itu, Ari memberinya hati ikan kaci-kaci.

“Jadi, kau tidak membual akan berangkat ke sana? melewati laut ini?” wajah Ari menunjuk luasnya lautan yang tanpa ujung. Seperti garis semu di mana matahari mulai merangkak untuk sembunyi.
Adit mengangguk. “Esok, aku akan mengarungi langit dan melihat samudera dari atas sana.”
“Dulu kau pernah mabuk laut, kau tahu jarak teluk ke tengah hanya sepelemparan batu? lalu bagaimana kau akan tenang duduk di dalam burung besi selama 17 jam?”
Senyum Adit terkulum gugup. “Nanti, setelah aku mencobanya, akan kuberitahu jawabannya.”

Mereka kembali membisu, menatapi biasan larik cahaya matahari yang oranye, menjalar di permukaan air laut dengan riaknya yang tak henti-henti. Bau amis menguap di udara, membelai lubang hidung lalu membungkus beberapa aroma. Sekelompok rajungan mulai mengungsi, undur-undur mencari teritori teraman lalu tubuhnya melempas ke dalam pasir, kepiting merah merayap di batang-batang pohon kelapa yang sedang menari-nari. Di angkasa, Trinil sedang membentangkan sayap mereka, sama besarnya dengan bentuk pesawat nun jauh di sana. Segala pemandangan di sana memang anugerah, tapi entah mengapa Ari merasa sadah.

Apa pun yang dilihat mereka saat dewasa akan sangat berbeda dengan segala sudut pandang sewaktu kecil dulu. Saat senja, duduk di tepian pantai sambil membakar belacak di atas serabut kelapa adalah hal yang membuat masa kecil mereka bahagia. Lalu sambil menatapi keelokan sore hari, mereka bakal bercerita, menebak-nebak bagaimana Sir. Thomas Stamford Raffles bisa terpesona akan keeksotisan pulau jawa. Mereka juga kerap membacakan puisi Jalaludin Rumi. Kala matahari mulai menerungkup dan langit pekat membentang, Ari akan membaurkan pasir ke atas arang sisa pembakaran, sementara Adit memanggul ikan-ikan sebesar kelingking. Lalu mereka akan meninggalkan satu jejak di sana: sebuah kebersamaan.

Dua lengan Ari menopang tubuhnya yang baru bergeming setelah beberapa saat membatu. “Kenapa harus Belanda, kau tidak tahu kalau negara ini pernah dijajah olehnya? memalukan saja.”
Senyum sungging Adit menggelap di hari yang mulai pekat. “Kau pernah merasa malu, belajar pada seseorang yang pernah kau musuhi?”
Sedetik pandangan mereka beradu. “Harus kupertimbangkan dulu, siapa musuhku itu. Kalaupun hubungan kami tak harmonis, apabila dia lebih unggul dan punya wawasan jauh di atasku, maka mau tak mau aku perlu menghilangankan ego sedikit untuk belajar ilmunya.”
Bibir Adit mengulas senyum tak biasa. “Kau sudah tahu jawabannya kalau begitu.”
Mereka diam lagi. Gemuruh ombak seolah menghantam perasaan masing-masing, lantas menenggelamkan kenangan-kenangan masa lalu.

Adit menggenggam pasir pantai, lalu membaurkannya, menggenggam lagi, sampai akhirnya menepuk-nepuk tangan, kemudian ia tumpukan di kedua lutut.
“Kelak, saat aku sampai di sana, kau juga akan termotivasi supaya bisa mencoba melihat pantai ini di balik gumpalan awan.”
Sekali lagi Ari menunduk, tak kuasa memandangi apapun di hadapannya. Dia terlalu takut, bahkan untuk sekadar bermimpi.
“Mimpiku tak seperti mimpimu, Dit. Kau itu bermimpi sambil berusaha merealisasikannya. Sementara aku, bisa bermimpi saja sudah bersyukur.”
“Ada yang tak kau ketahui Ri, kalau Tuhan tak pernah membatasi mimpi-mimpi hamba-Nya.”
Mata bulat Ari menatap air yang sekali lagi menyentuh kaki, lalu kembali surut dalam sekejap. Sinar oranye matahari memantul di manik hitamnya.
“Tapi aku itu hidup dalam serba keterbatasan. Ekonomi yang terbatas. Kemampuan yang terbatas. Dan dukungan yang juga terbatas. Kau tahu sebatu apa Bapa’ dan secemas apa Ama’? kedua orangtuaku bahkan tidak akan pernah mendukungku.”
“Ada satu hal yang kau lupa, kau harus merendahkan diri meminta dukungan Tuhan. Setelah itu hambatanmu mudah-mudahan bisa kau lewati.”
Keduanya saling tenggelam dalam desau angin, menyapu nyiur yang melambai.

Sebentar lagi Adit akan bertolak meninggalkan daerah pesisir yang bau amis menuju kawasan kota penuh ingar bingar. Bukan di Indonesia, melainkan ia akan melintasi samudera ke negeri Belanda. Seorang anak pesisir yang punya mimpi besar dan berhasil mewujudkannya.
Ari ingat bagaimana perjuangan mereka setelah menangkap ikan, kerang dan beberapa rajungan, lalu menghitungnya di atas birai batu. Dia juga ingat saat memakan ransum bersama di bawah atap rumbia kala hujan mengguyur pantai.
Sungguh, Ari merasa bahagia melihat sahabatnya mampu meraih keinginan yang telah lama diimpikan. Adit bahkan belum mengangkat kakinya dari desa, namun pikiran maupun perasaan Ari didera seribu kekosongan. Mereka pernah melangkah bersama, bermimpi bersama, dan tumbuh bersama. Tapi nyatanya, nasib mereka berbeda. Bukan, bukan karena Adit berasal dari keluarga kaya dan Ari hanya dilahirkan dari keluarga biasa. Ini semua karena usaha dan tekad serta dukungan dari orangtua yang belum berhasil ia rengkuh. Selain kesempatan yang telah digariskan Tuhan.
Benar kata Adit kalau Tuhan tak akan pernah membatasi mimpi ia sebagai seorang hamba. Semua di dunia tak ada yang tak mungkin.

“Besok, kau berangkat jam berapa?” tanya Ari yang kini mulai merebahkan diri usai melemparkan cangkang kosong, meluruskan kakinya, lalu menatap ke warna yang membias di langit senja.
“Jam sepuluh. Kau berniat mengantarku, Ri?” Adit berceloteh sambil menyenggol pinggangnya.
“Tidak. Aku cuma ingin memastikan. Sepertinya kau juga sudah hapal betul jalan dari sini menuju bandara,” Ari berdalih.
“Semoga kau tidak menyesal, karena aku akan pulang tiga atau empat tahun lagi.”
Ari cuma tersenyum. Waktu yang sangat lama, dan entah Adit masih mengingatnya atau tidak. Karena saat itu datang, mungkin saja mereka berada dalam status yang jauh berbeda.
“Tenang saja! Tak usah selama itu, aku pasti akan segera menyusulmu ke sana.”
“Baiklah, akan kupegang kata-katamu. Nanti biarkan aku berkelana mencari universitas unggulan di Belanda maupun Eropa.”
Keduanya saling tertawa. Ari memang hanya menganggapnya sebagai gurauan, tapi tidak dengan Adit. Dia amat berharap kalau itu akan menjadi kenyataan. Menikmati waktu berdua di negara orang pasti akan membuat jalinan persahabatan mereka terasa istimewa. Sekaligus menciptakan sejarah baru sebagai anak pesisir.

Sesaat sunyi mengekang jiwa mereka. Rongga dada keduanya menegang didera rasa rindu meski masih berada di ruang yang sama. Dua linang air mengisi rongga mata, jatuh menimpa buliran pasir yang berubah jingga. Bayangan-bayangan itu membuat sudut-sudut mata keduanya jadi tiras. Duduk di atas dek kayu berbagi sekepal nasi asin, menyusup ke dalam lambung perahu, memanggang tubuh di atas birai batu, atau bergantian menuang air dari perigi, berburu rajungan, dan menghitung jumlah migrasi burung di musim penghujung. Seketika pikiran keduanya melepuh, bahkan ingat masa lalu membuat mereka semakin terbelenggu. Suara isak keduanya tenggelam dalam bunyi gulungan ombak yang samar menghantam keras bagian terdalam, yang entah di mana.

“Kau pasti kembali ‘kan Dit?” wajah Ari yang mengilat berubah merah dan mengeras. Ketakutannya melebihi ketakutan saat gulungan ombak membalikkan perahu mereka kala menyusup untuk ikut melaut.
Adit mengulum bibir —menahan tangis. “Aku pasti kembali, ke desa ini, ke tempat ini. Kau tak perlu cemas.”
Keduanya saling melepaskan pelukan. Rasa haru mendera sampai ke puncak kepala. Air mata mereka meleleh, turun membasahi puncak pundak masing-masing. Beberapa menit tenggelam dalam regukan perasaan yang menyesakkan, keduanya saling melepas pelukan. Adit mengeringkan wajah basah Ari dengan dua telapak tangannya.
Keduanya tersenyum.

Kini, garis cakrawala membentang di ujung samudera. Warna kemerahan senja mengusik waktu yang semakin menua. Mereka duduk tergelak di sana, memandang ke arah ufuk barat tempat sinar matahari senja semakin menyusut. Alunan sepoi angin pantai melunakkan hitam putih memori. Ari dan Adit tahu, di sana bukan untuk duduk semata, karena saat senja datang, hari esok akan tiba menjelang. Kenangan hari ini terlewat, malam naik ke peraduan menyulap suasana jadi memilukan. Tapi sungguh, setidaknya di tepian pantai mereka dapat melihat kebesaran Illahi dalam memutarbalikkan bumi. Keajaiban yang tak terperi. Dan mereka wajib mensyukuri.
“Ketika tiba saat perpisahan, janganlah kau berduka, sebab apa yang paling kau kasihi darinya akan nampak lebih nyata dari kejauhan. Seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan daratan.”

Tangerang, 31 Mei 2016

Cerpen Karangan: Serlin
Facebook: Serlin Nur Hidayati
Janji Pada Hembusan Angin

Janji Pada Hembusan Angin

Judul Cerpen Janji Pada Hembusan Angin

“HAHAHA..!!” tawa terdengar dari dalam ruangan kelas itu. Suasana akrab antara sesama insan itu sedang terjalin. Selalu. Setiap saat. Tak pernah absen. Karena persahabatan itu abadi hingga nanti. Saat-saat yang paling dinanti. Menghapus penat yang menyesakkan hati. Masing-masing dari mereka saling merindu. Saling mencinta. Mencinta karena Allah. Meski tak satu pun dari mereka yang mengutarakan itu. Namun fakta telah membuktikannya. Suasana yang hurmonis dan saling membahagiakan senantiasa menghiasi diri mereka. Mereka belum beranjak dari tempat duduknya. Mungkin takut. Mungkin cemas. Mungkin ragu. Jika mereka beranjak, mereka selamanya tak bisa bersama..

“Mikum..” ucap seorang gadis bermata coklat berjilbab itu. “Mikum” itu merupakan singkatan dari Assalamu’alaikum. Haha, setelah sadar, dia membetulkan ucapannya.
“Assalamu’alaikum..” ujarnya. Nah, itu baru benar!
“Wa’alaikumsalam. Eh, siapa yah? Anak baru yah? Namanya siapah? Dari sekolah manah? Umurnya berapah? Tempat tinggalnya dimanah? Kesini naik apah? Sama siapah? Udah sarapan? Belum ya? Pasti belum. Di kantin ada nasi, bubur juga ada, terus omelet, burger, bakso. Tapi saran saya sih beli jangan makan bakso pagi-pagi. Ada bawa tas? Baju lengkap? Terus alat tulis adah? Kalau nggak ada, beli aja di kantin. Lengkap kok. Dijamin deh! Okey, silahkan masuk” jelas seorang gadis berkaca mata dan berkulit putih.

Yang dicandai hanya berdiri mematung didepan pintu. Yang mencandai kabur karena takut kepada sang gadis bermata coklat itu akan memukulnya. Dan benar saja, aksi kejar-kejaran pun tercipta. Suara riuh menghiasi kelas itu. Suasana kelas yang sepi sangat mendukung mereka karena belum ramai murid berseragam putih biru itu memenuhi kelas. Karena waktu masih menunjukkan pukul 06.40. bel berdentang jika sudah pukul 07.00. ketika mereka sedang asyik berkejaran, teman-teman mereka yang lain mulai berdatangan. Diantaranya ialah Tya, Alysa, Putri, Salsa, Lizzy, Phia, Icha, Ray, Auja, Heny dan Dhara. Gadis-gadis cantik yang selalu membalut kepalanya dengan jilbab itu mengisi bangku dan menyaksikan aksi kejar-kejaran yang tak kunjung usai itu.

“Heh.. jangan kejar-kejaran di kelas, dong. Jangan buat malu kami keles” Phia mulai membuka suara.
“Iya bener tuh kata Phia. Urusan rumah tangga jangan dibawa ke sekolah juga. Selesaikan di kamar nanti” Alysa mulai menggoda mereka. Seperti biasa.

Sadar bahwa mereka tengah diserang lautan komentar sahabatnya, mereka sepakat untuk balik mengerjai. Sang gadis bermata coklat itu bernama Citra. Nama yang cantik, secantik orangnya. Sedangkan yang satu lagi bernama Asya. Wajahnya imut dan jahil namun baik. Beberapa saat kemudian, mereka semua larut dalam sebuah keceriaan pagi yang sederhana. Memang benar kata orang, tak perlu mencari orang yang sempurna untuk bahagia, cukup cari orang yang mampu membuat kita mengerti bahwa bahagia itu sederhana.

Waktu menunjukkan pukul 07.00. dan bersamaan dengan itu, dering bel mulai bergema. Kebehagiaan membuat mereka tak merasakan apa-apa. Senyum dan tawa kebahagiaan selalu tersungging dalam bibir mereka. Menambah anggun wajah mereka. Masya Allah..

“Udah, ah. Capek tau. Kerasa nggak?” tanya Lizzy.
“Iya. Ih, gila! Capek banget” Salsa menyahut.
“Eh, Sya. Nggak capek apa? Keringet udah segede jagung gini” Putri yang paling kencang berlari mulai mengeluarkan suaranya.
“Halah.. jangan Tanya deh, sama Asya, dia mana kerasa, orang badannya aja kebenyakan lemak. Pasti nggak kerasa” Ray yang terkenal paling jahil di antara mereka mulai menggoda Asya yang terkenal paling memerhatikan kesehatan tubuhnya.
“Hah?! Lemak?! Berarti gendut dong?? Duh.. gimana nih? Eh, bantuin ngapa? Jangan ngehina aja kerjaannya. Eh, Dhara, gendut ya? Banget?” pas seperti keinginan Ray untuk membuat wajah khawatir Asya. Benar-benar usil!
“Iya” ujar Dhara pendek. Ia memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tak terlalu berkomentar atas suatu masalah. Namun sebenarnya ia sangat peduli.
“Ih, Dhara! Komen apa gitu. Jangan cuma bilang iya aja” sahut Auja
“Bener tuh kata Auja, Dhar. Jadi orang tuh jangan kalem gitu. Sok kalem yang ada” Heny membenarkan kalimat Auja sambil menepuk pundak Dhara pelan.
“Kalau aku cerewet, nanti ngalahin Asya. Males, ah bersaing gitu” jawab Dhara dengan wajah polosnya.

Begitulah mereka. Saling membahagiakan. Bercanda. Membuat burung-burung cemburu. Membuat embun pagi itu tak ingin gugur. Membuat daun-daun muda itu makin melekat erat pada sang dahan pohon. Ingin menyaksikan para insan itu bercanda dengan balutan cinta dan kasih.

Pada hari itu, pelajaran dimulai seperti biasa mereka lakukan. Mereka menghabiskan seluruh harinya dengan suatu kebahagiaan yang sulit diartikan dengan kata-kata. Bahagia yang sederhana. Karena mereka yakin bahagia yang berlebihan dapat membutakan hati. Membuat lupa bahwa yang manis itu sementara. Maka dari itu mereka tetap belajar dengan tekunnya. Diiringi oleh tawa tanda cinta kepada sahabat karena-Nya.

Dan kini, kebersamaan semu itu menghantarkan mereka pada saat dimana raga harus terpisah oleh jarak dan waktu. Sebuah perpisahan. Yang membuat tangis haru ketika pakaian toga mulai melekat dalam tubuh mereka dan tali pada topi itu bergeser ke kanan. Itu tangis yang sesungguhnya. Tangis haru. Karena waktu yang singkat dan kebersamaan secara nyata itu harus diakhiri demi menaiki tangga yang lebih tinggi menuju bintang di langit.

“Baiklah, tiba saat yang ditunggu-tunggu. Yaitu penyerahan sertifikat hafalan tahfidz dan penggeseran tali pada topi toga yang mereka kenakan. Kita panggilkan para putri-putri harapan bangsa, yang pertama adalah Putri Salbila! Kepada putri kami persilahkan.” ujar MC memanggil nama putri diiringi sorakan penonton dan tangis haru para sahabat. Yang lain pun menanti gilirannya.

“Yang kedua, Lizzy Az-Zahra!”

“Yang ketiga, Geubrina Ray!”

“Selanjutnya adalah, Asya Humaira!”

“Lalu mari kita panggil, Henyanti!”

“Mari kita panggil, Rauza Shara Salsabila!”

“Selanjutnya, Zahratul Dhara!”

“Alysa Sintia!”

“Phia Delvina!”

“Risa Nurul Hasna!”

“Tya Alicia!”

“Silahkan naik ke atas panggung, Citra Andini!”

“Dan yang terakhir, Syifa Shara Salsa! Dengan berakhirnya pemanggilan para putri SMP Islam Al-Hikmah pada hari ini…”

Acara wisuda telah lama berlalu. Namun 13 wanita itu masih enggan beranjak dari gedung itu. Mengabadikan berbagai foto lalu menatap langit. Mata mereka mulai menghangat. Perlahan meneteskan air mata. Semua orang pasti terhenyuh atas situasi mereka. Hening namun menghanyutkan. Memang pada nyatanya, setiap kepingan kisah itu pasti memiliki ujung.

“Kini tiba saatnya, bukan? Kita akan pergi menuju cita-cita kita masing-masing. Semoga suatu saat nanti, sebuah kisah berujung ini akan mempertemukan kita lagi. Berjanjilah..” lirih Citra.
“Ya, kita semua berjanji” ucap mereka bersama. Sambil merekatkan janji kelingking. Itulah janji mereka. Yang setiap hembusan angin menyaksikannya..

Banda Aceh, 21 September 2015 (R)

Cerpen Karangan: Raihana
Facebook: Raihana
Angan Dalam Diam

Angan Dalam Diam

Judul Cerpen Angan Dalam Diam

Tak semua yang kita inginkan harus tercapai. Ambisi dan tekad mungkin boleh ada. Tapi bolehkah jika ambisi dan tekad itu berada dalam diam?.

Lagu was live mengalun keras di kamar serba pink itu. Menandakan bahwa waktu telah pagi. Alarm ponsel itu tak mau diam sebelum pemiliknya mematikannya.
Gadis cantik yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA itu pun segera bangkit dari tempat tidur. Ia terkejut melihat layar HPnya yang sudah melengkingkan alarm 9 kali. Itu berarti ia telat bangun 45 menit.

Ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat. Langkah cepat serta tangan yang cekatan menghantarkan gadis cantik dengan nama lengkap Nirina Salsa putri Anggraini untuk segera menuruni tangga untuk berangkat ke sekolah kalau ingin tidak terlambat.

Kakinya mendadak berhenti di anak tangga paling bawah mendengar suara itu. Yah, seperti biasa, itu suara kedua orangtuanya yang sedang bertengkar. Rina berusaha menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tak mendengar pertengkaran itu. Ia bosan. Ia telah lelah menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar setiap hari.
Rina buru-buru melangkahkan kakinya ke depan rumah. Namun, ia tak sengaja menabrak bi ijah yang sedang membawa pot tanaman.
“ma.. ma.. maaf bi, saya nggak sengaja” kata rina sambil mengambil pot plastik yang terjatuh tadi.
“iya non, nggak papa”.
“kalau gitu saya berangkat ke sekolah dulu ya bi” kata rina berpamitan.
“non nggak pamit sama tuan dan nyonya?” Tanya bi ijah.
Namun Rina tak menghiraukan pertanyaan itu. Kakinya terus melangkah. Ia ingin secepatnya sampai di sekolah. Agar tidak mendengar suara pertengkaran itu lagi.
Bi ijah yang memperhatikan kepergian nonnya itu Cuma bisa geleng-geleng kepala. Sikap anak majikannya itu memang telah berubah. Tidak seperti non Rina yang periang seperti dulu lagi. Ia bukan Rina yang selalu berceloteh meramaikan suasana rumah ini lagi. Nonnya itu seperti orang yang berbeda. Sejak tuan dan nyonyanya selalu berdebat setiap hari.

Rina memasuki gerbang sekolah dengan kepala tertunduk. Jilbab putihnya berkibar-kibar tertiup angin.
Kakinya terus melangkah menuju kelas. Tapi ketika di koridor, ia bertemu dengan Lita.
“hair in.”
“hai juga lit”. jawab rina singkat.
“kamu tadi dicari bu Sam” kata Lita.
“oh ya, makasih ya atas informasinya. Nanti aku akan menemui bu Sam” jawab rina.
Kedua gadis itu pun berpisah jalan. Rina yang berjalan menuju ke dalam gedung sekolah, dan lita yang berjalan ke parkiran untuk mengambil bekalnya yang tertinggal di sepeda.

Rencana Rinna untuk langsung menuju kelas bubar setelah mendengar informasi dari Lita. Ia bergegas menuju ke lorong yang menuju ke ruang guru. Ia sudah menyangka bahwa keperluan bu Sam mencarinya untuk membahas soal beasiswa itu. Tapi, ia belum berbicara kepada kedua orangtuanya.
Mengingat kedua orangtuanya hati Rina kembali digelayuti oleh mendung. Ia segera menepiskan perasaan itu. Karena jika tidak, maka ia tak akan bisa konsentrasi belajar nanti.

Ia mengetuk pintu ruang guru perlahan sambil mengucapkan salam dan masuk ke dalamnya.
“rina, sini nak” panggil bu Sam yang melihat kehadiran Rina di ruangan itu.
“kamu sudah bilang ke orangtuamu bahwa kamu dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahmu ke australi?” Tanya guru berambut panjang itu.
“belum bu. Tapi ibu nggak perlu hawatir. Saya yakin mereka pasti setuju” jawab Rina mantap.
Ia tau, bahwa orangtuanya nggak akan peduli. Selama 2 tahun ini mereka hanya sibuk bertengkar dan memikirkan ego dan hati mereka masing-masing. Mereka tak sadar, bahwa ada anak yang butuh perhatian mereka. Bahkan, ketika Rina masuk SMA, mereka tak mendaftarkan Rina ke sekolah. Bi ijahlah yang mendaftarkan rina ke sekolah ini. Jadi rina yakin, bahwa orangtuanya tak akan peduli dimanapun ia akan sekolah. Karena yang mereka tau, mereka telah memberi dan membungkam anak mereka dengan uang. Mereka tak mengerti, bahwa seorang anak tak hanya menginginkan uang, mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang. Orangtuanya kini memang telah berubah. Jika dulu mereka selalu bangga dengan prestasi yang diraih Rina, sekarang tak lagi. Mereka seakan menutup mata dengan kehadiran rina. Mereka hanya sibuk menyalahkan satu sama lain.
“ya sudah kalau gitu, ibu akan mengurus semuanya” suara bu Sam membuyarkan lamunan Rina.
“terima kasih bu” kata rina sambil berdiri dan melangkahkan kaki ke luar dari ruangan itu.

3 bulan kemudian, semuanya telah siap. Surat-surat yang akan mengantarkan Rina untuk menuntut ilmu di negeri kangguru telah selesai. Rina melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia melihat mamanya sedang menyaksikan tayangan TV.
“ma, seluruh surat untuk kepindahanku telah siap” kata rina sambil mendudukan diri di sofa sebelah mamanya.
“kamu yakin sayang akan sekolah di sana?” Tanya mamanya sambil memperhatikan putri semata wayangnya.
“yakin ma, ini memang impian Rina sejak kecil untuk bisa sekolah di luar negeri” jawabnya.
“sayang, mama mau ngomong sesuatu sama kamu. Mama dan papa akan pisah” kata wanita yang telah melahirkan rina itu.
Hati rina bagai disayat-sayat mendengar kabar itu. Tapi ia berusaha tegar. Ia tak ingin terlihat lemah. Karena ia yakin, mamanya juga lebih hancur dari pada dirinya.
“kalau itu memang yang terbaik untuk mama dan papa, rina bisa berbuat apa lagi selain menyetujui” jawab rina sambil menahan perih di hati.
“makasih ya sayang” kata mama rina sambil memeluk putrinya yang sekarang telah beranjak remaja itu.

Suasana di ruang persidangan itu sungguh tak mengenakkan bagi rina. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Berusaha menangkap segala pembicaraan yang disampaikan oleh hakim yang ada di depan.
Dan hakim itu memutuskan bahwa mama dan papanya resmi bercerai. Air mata itu rupanya tak bisa diajak kompromi lagi. Air mata itu keluar sangat deras bak anak sungai yang mengalir. Ia sedih. Ia terluka menyaksikan kehancuran keluarganya.
Apa lagi ia sadar sekarang, bahwa setelah ini tak aka nada perhatian yang benar-benar utuh dari kedua orangtuanya. Hak asuh atas dirinya jatuh ketangan mama. Itu berarti ia harus berpisah dengan papa tercintanya. Papa yang bagaikan superman dalam hidupnya. Yang selalu melindunginya ketika ada anak yang usil padanya. Setelah ini, siapakah yang akan menjadi pelindungnya?. Haruskah superman itu jauh darinya?. Rina semakin menangis tersedu-sedu.
Papa memeluknya dengan hangat.
“bunga papa jangan nangis. Bunga papa harus kuat. Ingat, rina itu putri kebanggan papa sampai kapanpun. Kamu itu ibarat bunga mawar. Bunga yang dilihat indah, tapi ketika ia didekati ia akan mengeluarkan duri untuk melindungi dirinya. Papa ingin kamu menjadi seperti bunga mawar. Yakin, tanpa papa kamu juga bisa melindungi dirimu” bisik papa rina di telinga rina.

Hari keberangkatan rina ke negeri kanghuru itu pun tiba. Mama, bi ijah, dan papa ikut mengantarkannya ke bandara.
“jaga dirimu di sana ya sayang, jangan lupa kabari mama” pesan mama sambil memeluk rina.
Rina tak bisa berkata-kata. Ia hanya mampu mengangguk.
“ingat satu hal, kamu adalah bunga mawar papa. Jaga dirimu di sana, lindungi dirimu dengan kekuatanmu. Jangan jadi anak perempuan yang cengeng lagi ya” pesan papa sambil memeluk rina.
Seperti dengan mamanya, ia juga tak bisa berkata apa-apa terhadap papa. Ia hanya menangis.
Papa yang telah menjadi supermannya selama 16 tahun ini menghapus air mata Rina dan menepuk bahu rina agar segera masuk ke ruang tunggu pesawat.
Dengan lambaian tangan dari mama, papa dan orang-orang yang ikut mengantarkannya ke bandara siluet rina itu pun berlalu.

Di dalam pesawat, Rina memikirkan semua. Semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Menyangkut pendidikannya, keluarganya, dan masa depannya. Dulu, ia bermimpi dan berkhayal untuk bisa sekolah di luar negeri. Makanya itu ia selalu belajar dan berambisi harus jadi juara 1 di kelas setiap tahun. Dan tuhan mendengarkan keinginan rina itu. Ia sekarang bisa sekolah dan melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Tapi tuhan tak mengabulkan keinginan rina yang selalu muncul dalam diam dalam 2 tahun terakhir ini. Angan yang selalu ia ucapkan dalam hati. Angan yang tak ada satu orang pun yang tau. Yaitu angan dan impian agar keluarganya kembali seperti dulu lagi. Kembali dengan kehangatan keluarga yang selalu ia rindukan setiap pulang sekolah.
Tapi sepertinya tuhan berkehendak lain. Untuk keinginannya yang satu ini tuhan tidak mengabulkan. Karena mama dan papanya kini telah berpisah. Menciptakan jarak yang tak dapat tersentuh lagi.

Setelah ini, ia berjanji, jika ia menginginkan sesuatu ia tak akan berangan dalam diam. Ia akan berusaha. Agar keinginannya itu dapat terpenuhi. Cukup sekali saja angan dalam diam yang ia lakukan tanpa usaha dalam hidupnya. Ia akan berubah, demi masa depannya.

Cerpen Karangan: Tutik Muliani
Blog: Tutikmuliani.mywapblog.com