I Love You Lily

Baca Juga :
    Judul Cerpen I Love You Lily

    Kau eratkan genggamanmu di tanganku. Detak jantungmu kudengar beradu dengan nafasmu. Kutatap dalam wajahmu, air mata menggenang dalam kedua matamu. Cemas.

    “Semua akan baik-baik saja, Bram” ucapmu setenang mungkin, dengan suara bergetar.
    Aku tersenyum kecut mendengar kebohonganmu berulang kali. Entah ini yang ke berapa, aku sudah lupa.
    “Kamu dingin?” kau bertanya padaku lembut. Kau usap kasar rambutku. Aku menggeleng.
    “Ingat, jangan sekali-kali kamu menyusahkan orang lain” ucapmu lagi, ini sudah kedua kalinya kau mengatakan hal itu.
    “Jangan…”
    “Aku tahu, Bu. Jangan sampai merepotkan paman dan bibi” ucapku memotong perkataanmu.
    “Iya, Bram. Hati-hati disana yah”
    “Hm”
    “…”

    Hening menyelimuti, dingin di pagi hari ini tak sedingin perasaanku. Kupandangi wajah ibu, lagi. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali. Rasanya berat sekali melihat ibu seperti ini tapi, apa mau dikata keputusan sudah bulat. Aku harus berangkat ke Laimu, kabupaten Maluku Tengah, salah satu desa kecil terletak di provinsi Maluku, Indonesia. Aku harus kembali ke negara kelahiran ayah. Sebuah negara di kawasan Asia Tenggara beriklim tropis, yang berarti hanya terdapat dua musim yaitu musim panas dan hujan.

    Peluit panjang kereta membuyarkan lamunanku. Ibu memelukku, erat.
    “Berhati-hatilah, Bram”
    “Ibu juga”

    Kuangkat koper beserta satu tas besar menaruh keduanya tepat diatas tempat aku duduk, bangku nomor 28. Tas ranselku masih setia bertengger di punggung. Ibu masih berdiri menatap ke dalam jendela kereta tepat ke wajahku. Perempuan yang sangat kusayangi itu tersenyum lebar, sedang air matanya menyeruak keluar, jatuh membanjiri kedua pipinya yang tirus. Rasanya aku ingin berlari ke luar dan menghapus air matanya yang berharga.

    Peluit terakhir berbunyi, aku melepas ranselku menaruhnya di atas pangkuanku. Ibu masih terpaku di tempatnya. Sengaja kukeluarkan kepala lewat jendela untuk melihatnya. Dia melambaikan tangannya kepadaku. Sesekali menghapus air matanya. Aku masih terus melihatnya sampai dia menghilang ketika kereta memasuki tikungan jalan.

    Aku menarik nafas panjang hingga udara di sekitarku serasa kusedot habis barulah kuhembuskan nafas keras.

    “You okay?”
    Mataku yang tadinya tertutup perlahan kubuka demi mendengar pertanyaan itu. Otakku menyimpulkan bahwa pertanyaan itu berasal dari seorang gadis, terdengar dari warna suaranya yang halus. Benar sekali, dia adalah seorang gadis bermata bulat dengan alis tebal menghiasinya. Rambut ikal sebahu dengan warna senada matanya, cokelat. Hidungnya sedang, tidak mancung. Dari bentuk wajah yang agak bulat dan ukuran tubuhnya dapat aku simpulkan bahwa gadis ini berasal dari benua Asia. Hal terakhir yang paling mendukung yaitu cara pengucapannya dalam berbahasa inggris begitu fasih terdengar.
    “Ya. I’m fine!” ucapku.
    “Oh, I’m Lily and you are?”
    “Bramviz Arman. Mm.. you can call me Bram.”
    “I see. I’m from Indonesia”
    Aku terkesima mendengar penuturan gadis ini, Indonesia. Sesuai tebakanku.
    “Kamu bisa berbahasa indonesia?” tanyaku spontan. Kini gadis bermata cokelat itu yang terkesima.
    “Yes, of course! Maksudku, tentu itu adalah bahasaku you know that!” jelas gadis itu bersemangat. Dia tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.
    “But.. Bagaimana kamu melakukannya. Bagaimana kamu bisa berbahasa indonesia, padahal wajahmu lebih mirip orang kulit putih?” gadis itu bertanya antusias.
    Kutatap wajahnya, iris coklatnya mengkilat terkena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela. Aku tersenyum.
    “Ayahku Indonesia, ibu Groningen. Jadi beginilah aku. Heehee…” ujarku basa-basi.
    “Keren!” serunya.
    “Dan.. Kamu?”
    “Oh, yap! Ayahku Indonesia dan ibuku juga Indonesia. Aku datang ke Groningen untuk menjenguk nenekku” jawabnya.
    “No.. No. Nenekku juga Indo, tapi suka Belanda. Haahaa..” ucapnya melihat wajah bingungku.
    “Oh.. Kakekmu?”
    “Sudah tiada dua tahun lalu”
    “Maaf, aku turut berduka”
    “Tidak apa-apa”

    Hening. Sekiranya itulah percakapan singkatku dengan seorang gadis yang bernama Lily. Dia duduk di bangku nomor 30 tepat di depanku. Dua bangku tersisa tidak terisi, hanya kami berdua. Gadis ini sangat ceria, dia terus berbicara sampai kereta memasuki kota Groningen. Kini aku benar-benar telah meninggalkan desaku. Ibuku.

    Setelah kereta telah berhenti, kami melangkah bersama menuju taksi masing-masing.
    “Kamu mau kemana?” tanya Lily.
    “Rotterdam”
    “Hm.. Hati-hati!”
    Aku mengangguk. Aku menyetop sebuah taksi menuju bandara, seraya memasukkan barang-barangku. Lily masih memerhatikan aku.
    “Bramviz Arman!” seru Lily ketika pintu taksi nyaris ku tutup.
    “Apa kita akan bertemu lagi?”
    “Entahlah” ucapku, mengangkat bahu. Kulihat cahaya matanya seolah akan redup.
    “Kita pasti bertemu lagi” ucapnya tegas.
    Aku menutup pintu taksi dan melambai padanya. Dia masih berdiri tak mempedulikan tawaran taksi-taksi yang lewat. Tangannya mengudara, melambai kepadaku.
    “Kita pasti akan bertemu lagi” kudengar teriakan Lily, meski samar-samar beradu dengan bunyi kendaraan.

    Cerpen Karangan: ALis W

    Artikel Terkait

    I Love You Lily
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email