Dua Mahkluk Tuhan

Baca Juga :
    Judul Cerpen Dua Mahkluk Tuhan

    Asap tipis yang mengepul indah dari sebatang rok*k berlogo ‘A’, pada front old English text. Yang kuhimpit di sela jari tengah dan telunjuk yang merunduk. Kuhisap gulungan tembakau itu, pembakaran terjadi hingga abu rok*k yang tercipta terjatuh layu terbawa angin. Lalu kubuang pelan asap beraroma nikmat, dari sepasang bibir yang telah menghitam. Asap yang tersisa kuhembuskan lewat dua gua penghirup oksigen bagi kehidupanku.

    Headset yang menggantung di kuping setia menemaniku dengan nada-nada berbait lagu percintaan. Entah itu lagu kasmaran, janji sehidup semati atau perpisahan, acapkali terekam sekilas liriknya di awang-awang pikiran. Dan handphone touch screen pabrikan korea, sponsor klub ‘the blues’ chelsea dipeluk erat lima jari kanan yang menanti bbm tone berbunyi.

    “yoda!!” aku terkejut, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Seseorang tua berdiri di hadapanku dengan tampang bengis bak iblis yang menggengam tongkat neraka. Matanya tajam menatapku berapi-api.
    “Sudah berapa kali saya bilang, jangan merok*k di kampus ini” ucap nona gaek berkerudung merah.
    “Tapi kan saya hisap di luar ruang kelas bu!” Ucapku membela diri
    “Sudah gak ada cerita cepat ke luar sana” hardik nona itu.
    Aku menurutinya. Aku berdiri dari dudukku, Pergi meninggalkan orang tua itu. rok*k yang masih di sela jari kuhisap untuk yang terakhir kali, dengan kesal kucampakan.
    “Yoda!!!” kembali si nyonya tua itu memekik.

    Alhasil beberapa mahasiswi melirik ke arahku, menyaksikan aksi slengeanku di lorong kampus. Oh tidak, dua gadis yang kutaksir ternyata hadir di antara beberapa pasang mata yang menonton kekonyolanku. Cepat saja aku berjalan sambil merundukan kepala. menyembunyikan wajah layaknya tukang copet yang tertangkap aparat.

    Di kantin yang tak jauh dari kampus mini tempatku menimba ilmu, aku kembali menghisap rok*k berlogo ‘A’. Merasa sepi meski kantin pengap dengan pembeli. Hanya menatap kosong dan mendengar ocehan-ocehan yang ke luar dari mulut mahasiswa yang kelaparan.

    Membayangkan kejadian tadi, membuatku mendapatkan seribu rasa yang berkecamuk. Seperti hujan yang turun kala sinar sang surya masih menampakan diri. Betapa tidak. Gara-gara kejadian tadi, dua makhluk tuhan gebetan masa lalu, menampakan diri dan tak sengaja ku mendapati mereka menatapku.

    Ini bermula ketika pertengahan semester pertama, aku menyukai seniorku. Namanya Dira, tingginya tak sepantaran denganku, namun bila berjilbab dia sangat manis. Aku mendekati ia melalu bbm, awalnya kami saling kenalan, dilanjutkan dengan saling menggali informasi masing-masing dan yang penting gombal enggak boleh hilang.
    Aku menyukai Dira entah karena apa? Tidak ada kajian ilmiah yang bisa menjelaskan rasa ini. Rasa yang sulit untuk diungkapkan.

    Aku pernah mengalami dag dig dug, salting pun juga, hingga cari perhatian pernah pula kulakukan. Semua itu terjadi begitu saja, entah karena senyumnya atau mungkin karena wajah imutnya, ahh.. entahlah pokoknya aku ada rasa kepadanya.

    Sang Waktu pun pernah memberi beberapa detiknya untuk ada di dekat makhluk tuhan yang satu ini. Di bangku panjang, di dalam kampus. Kebetulan ada selembar foto kelas, yang di dalamya terlukis gambar tubuh lengkap, dira bersama kawan-kawanya. Tergeletak dan nyaris kuhimpit dengan pinggul ini. Selembar foto ukuran 10R itu kuambil. Dira yang saat itu ada 10 cm dari tempatku terduduk, membuat Si Grogi merasuki raga ini, namun sebisa mungkin aku kendalikan diri sehingga laju logika tak sempat keluar kendali.

    “Kamu kenal sama orang di foto ini” kutunjuk satu wajah yang dilingkari jilbab ungu, yaitu Dira sendiri, disini aku berusaha mengodanya.
    Ia tersenyum, lekuk lesung pipinya tergambar jelas. Membuat Si Grogi menggetarkan kaki dan urat nadi.
    “Gak tau” ia mulai berkata “gak kenal. Siapa sih dia?” Ucapnya, sengaja mengikuti permainanku.
    “Masa sih” jawabku dengan tampang heran
    “Iya… aku gak tau” senyumnya tertahan, mungkin ia didekap Si Grogi pula.
    “Kalau jumpa sama orang yang kutunjuk ini, titipkan salamku padanya ya”
    “Baiklah..” ucapnya diakhiri menutup mulut dengan lima jari, kukira ia tersipu malu.

    Lain Dira lain pula dengan haiza. Haiza tipikal cewek yang sederhana, namun mempesona. Dengan tinggi semampai, ia sangat kukagumi. Dan sialnya dia satu kelas denganku. Kenapa sial? Ya bila saja ia mengetahui aku suka padanya, sudah jelas akan ada ketidaknyamanan antara aku dengannya.

    Aku mendekatinya pertama kali lewat bbm, sama dengan yang pernah kulakukan dengan Dira dan responya juga hampir sama. Yang jelas, seminggu pertama aku mengenalnya kami merasa akrab. Ia rajin membalas bbmku yang tidak penting meskipun secara terpaksa. Itu terlihat dari caranya membalas “ya” atau “0h” dan “haha”.

    Kuliah siang hari memang membawa hawa panas, sekalipun dalam kelas yang berAC ditemani kipas angin. Baru kualami Perkuliahan sepi, banyak yang tidak hadir di kelas lantaran malas karena cuaca panas. Tapi, terima kasih layak aku beri pada sang cuaca. Berkatnya, aku berdekatan dengan manusia bernama Haiza. Tadinya ia menjarak satu bangku di sebelah tempat duduku. Beberapa menit kemudian, bangku yang menganggur itu terisi tubuh lengkap manusia. Oh my god, sumpah ini gila, pikirku. Ternyata Haiza secara suka rela dan tanpa paksaan duduk tepat di sampingku. Why? Pikirku lagi.

    Kesempatan ini tidak kusia-siaka. Tanpa pikir panjang, aku memulai pembicaraan.
    “Atagfirlah” ucapku pura-pura kaget atas kehadirannya.
    “Ihh.. biasa aja kali!” jawabnya. Ia menampakan muka ketus yang jelas dibuat-buat. Setelah itu kami sama-sama tersenyum.

    Suasana monoton sepertinya sudah tradisi di kampus ini. Dosen sibuk berceramah teori di depan kelas, menghias whiteboard dengan coretan abstrak dan kurang jelas. Kadang si dosen binggung, melihat mahasiswanya sibuk melihat ke bawah, bukan ke arahnya.

    Saat Si Dosen ngajar, yang diajar malah enggak dengar. Kesempatan inilah yang kuincar. Untuk memperhatikan Haiza hingga perkuliahan kelar. Namun tanpa diduga, dalam tenang Haiza bersuara lagi. Its Perfect day, anugerah banget bagiku ucap hati kecil ini.

    “Aku pernah naik motor malam hari, dibonceng orang gak pake lampu depan motor” ucapnya ke arahku “kamu pernah?” tambahnya. aku terperangah tak tau ingin berkata apa? Tiba-tiba saja ia mengajakku bercerita. Aku gugup, berusaha mengendalikan Si Grogi yang tiba kembali.
    “Oh ya, kapan tuh?” Jawabku dengan tampang kebingungan
    “Waktu itu aku ke luar sama temen, tiba-tiba aja lampu motor gak hidup lagi”
    “Oh.. kalo aku sih pernah, waktu itu aku mau pulang ke rumah kira-kira jam 11an. Lampu motor putus, pas banget di jalan mati lampu. Jadi, terpaksa melambatkan gas motor, terus ya… bayanginlah naik motor, lampu motor putus, mati lampu pula”
    “Oh gitu ya.. bahaya juga” ucapnya padaku. Huh gila, aku gugup sekali menghadapi dia. Beda rasanya kalau hanya bercakap melalui bbm.

    Harus diakui, gugup itu muncul bila berdekatan dengan si Doi. Aku pernah berpikiran, mungkin gugup yang kurasakan adalah bawaan sejak lahir. Tapi mana mungkin, setiap orang pasti pernah gugup.

    Hari demi hari terasa mimpi bisa berkomunikasi dengan dua bidadari. Hari demi hari kulalui dengan sejuta rayuan, beribu pujian serta sedikit gombalan. Dan hari demi hari kulalui dengan bbm yang tak sepi.

    Semua kulalui begitu saja, tanpa kusadari hari itu akan datang. Hari dimana aku menyadari, bahwa Dira ada yang punya. Andai saja ia tau, aku benar-benar jatuh hati. Akhh.. entah ingin kuhempaskan kemana kepalan tinju ini. Dalam diam, aku mencoba menahan diri, bahkan menyemangati agar hubungannya sejati.

    Hubungan pertemanan dengan Dira masih baik, meski sebatas di bbm. Malahan aku menganggap itu semua tak terjadi.

    Beralih ke Haiza, Chat dengan gadis sederhana itu mebuatku nyaman. Lama menjomblo, membuatku sepi. Sebagai cowok normal aku patut move on, dan kuputuskan menembak Haiza.
    Sebelum perkuliahan masuk, apalagi kampus masih sepi aku menembaknya walau dengan cara sederhana.
    “Aku ingin jadi pacar kamu za” ucapku
    “Maaf aku gak bisa yoda, aku udah bernazar untuk fokus kuliah” jawabnya
    “Jadi aku ditolak?” Aku mencoba meyakinkan.
    “…” hanya meanggukkan kepala. Serta senyum yang menenangkan berusaha ia beri. Huft… pupus sudah, harapan melayang, semangat hilang.



    Aku terjaga dari lamunan, ketika api rok*k mulai melukai kulit tipis jari yang menghimpit si pembuat candu. Lantas kata-kata sampah kuhujatkan pada rok*k yang menyisakan puntungnya saja.

    Huh.. entah mengapa, kepalaku berat terasa. Banyak pikiran yang silih berganti menghantam sel-sel pada bongkahan lunak yang bernama otak. Padatnya masalah yang ingin kuungkapkan susah kucairkan. Aku bingung, sepeluh jari bersembunyi di ratus ribu helai rambut, menjambak layaknya depresi berat.

    Bangkit dari duduk, aku tegap berdiri memandang diri pada cermin berbingkai merah. Tampang kusut lusuh, awut-awutan, tergambat jelas dari ujung rambut hingga kumis tipis bernodakan kopi hitam, yang kuminum sebelum api rok*k menyadarkanku dari lamunan dua makhluk tuhan yang kudekati.

    Mengapa aku bisa begini? Tanyaku pada penampakan diri di cermin. Salah apa aku? Tadi pagi ku memberi senyum terbaikku untuk wanita spesial bernama Dira di kampus, namun yang kudapat hanyalah tampang datar penuh acuh, seakan-akan jijik dan menaruh dendam ke arahku. What wrong? Dua kata ini terbenam jauh di pusat ubun-ubun.

    Haiza pun bertingkah sama, meski dihari yang berbeda. sewaktu kududuk di bangku panjang kampus. Ia melangkah mendekatiku, memandang persis sama seperti yang Dira lakukan, ia melewatiku saja tanpa sapaan hangat yang biasa diberikan. menuju kelas dengan tanda ‘A’ menempel di pintu berkaca. Alhasil selama perkuliahan berlangsung, aku jauh dari konsentrasi belajar. ganjil benar sikap dua makhluk tuhan itu.

    Huft.. inginku berteriak keras, namun tak ingin pula dikira tak waras. Lebay, kata itu terngiang, seakan ada setan duduk di pundakku, membawa tongkat trisula merah dan berkata “ayolah bung!, ini cuma cewek. Sudah lupakan saja dan cari yang baru!!!”. Segenap kutinggalkan pikiran tadi. Lalu ambil sebatang rok*k lagi, dan pikiran itu datang kembali.

    Esoknya.
    Aktivitas kuliah kumulai pagi hari, tas kusandang di bahu kiri, berjalan menuju kampus menantang sinar matahari.

    Duduk di bangku panjang diluar kelas, di dalam kampus mini yang kusinggahi. Berselancar ria di dunia maya, sambil menunggu dosen tiba. Headset menggantung di daun telinga memutar lagu bernada kencang. Seperti biasa menunjukkan sikap cool and calm, berharap cewek-cewek menatapku keren. layaknya adegan film remaja, dimana banyak cewek yang menatap cowok yang bersikap sesuai dengan yang kuperagakan.

    Ada langkah empat kaki datang dari pintu masuk kampus. Dua makhluk tuhan berhijab hijau polkadot dan cokelat pudar memakai baju dan celana longgar putih melangkah ke arah tubuh yang terduduk sendiri.

    Unbelivebel, mereka tidak lain ialah dua makhluk tuhan yang kukagumi. Ska’k, mati kutu terasa di seluruh raga yang menggantungkan haedset di telinga. Mereka melangkah layaknya pemenang pertempuran perang yang dibumbui slow effect.

    Dari situ aku menyadari, aku menyukai dua gadis manis yang ternyata sulit kupercayai bahwa mereka akrab. Rasanya seperti masuk ke lubang neraka melewati kandang singa. Ini sulit dipercaya, namun inilah jawaban dari kata “what wrong” di ujung ubun-ubunku.

    Mereka berpisah saat Dira masuk menuju kelas bertanda ‘B’. Lalu, Haiza melewatiku saja tanpa menampakkan muka pada pria yang terduduk sepi ini. Yang baru menyadari betapa payahnya diri ini.

    Argggg… damn!!. Kumatikan browser, headset kucabut, karena sudah tak jelas nada yang bernyanyi di telingaku. Kulangkahkan kaki, menjauh dari tempat sial ini. Singgah ke kantin, merok*k lagi, mencari solusi dan mengevaluasi diri dalam sepi.

    Cerpen Karangan: Yonanda Darmawilya
    Facebook: Nand Darmawilya

    Artikel Terkait

    Dua Mahkluk Tuhan
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email