Showing posts with label Cerpen Fabel (Hewan). Show all posts
Showing posts with label Cerpen Fabel (Hewan). Show all posts
Saudaraku

Saudaraku

Judul Cerpen Saudaraku

Pada zaman dahulu di bawah laut hiduplah keluarga ikan. Keluarga Pak Lionfish. Pak Lionfish memiliki 2 anak. Anak Pak Lionfish bernama Lino dan Loni. Anak kembar Pak Lionfish tidak pernah bisa rukun, mereka selalu saja bertengkar.

“Ini milikku Lino! Ibu yang membelikan untukku!” teriak Loni, sembari merampas mainan yang dibawa Lino.
“Hei! Aku kan sudah bilang, aku pinjam mainanmu.” balas Lino.
“Tetapi aku kan tidak mengizinkanmu.”
“Ah kau ini! Sungguh pelit! Aku tidak mau berbagi apapun denganmu! Aku lelah dan menyesal menjadi kakakmu!” marah Lino sembari berenang pergi ke luar.

“Loni, di mana kakakmu? Mengapa menjelang senja belum di rumah?” tanya Ibu.
“Entahlah bu. Sebentar lagi juga dia pasti kembali.” ucap Loni cuek.

Sang Ibu sangat khawatir, tetapi Pak Lionfish dan Loni menenangkan, akhirnya Ibu pun menjadi sedikit lebih tenang. Mereka sekeluarga pun makan malam bersama tanpa Lino.

Setelah makan malam…
“Mengapa Lino belum balik juga? Kemana dia? Kalau marah, gak pernah sampai kaya gini juga.” ucap Loni di dalam hati dengan perasaan khawatir.
“Ah sudahlah. Buat apa aku mikirin dia. Kan enak aku hidup tanpa dia.” ucap Loni. Loni pun akhirnya tidur.

“Loni bangun nak! Ayo cepat bangun!” teriak sang Ayah dengan wajah khawatir dan ketakutan.
“Ada apa Ayah? Apa yang terjadi?” tanya Loni.
“Kemana saudaramu? Mengapa sampai sekarang belum pulang? Kita harus cari dia. Sampai ketemu.” ucap sang Ayah.
“Mengapa aku juga harus ikut mencari dia?”
“Karena dia saudaramu. Kita butuh dia. Kamu butuh dia. Ayah akan mencari di rumah teman-teman dan saudara-saudara yang ada di luar kota. Kamu cari di sekitar sini.” ucap Ayah.
Mendengar ucapan sang Ayah, Loni pun terenyuh. Seketika pula Loni langsung berenang secepat kilat ke luar rumah. Loni mencari sang Kakak mengelilingi kota. Bertanya kepada teman-temannya.

Loni pun kelelahan mencari sang kakak. Hingga…
“Permisi Tuan, apakah anda melihat seekor ikan mirip saya lewat sini?” tanya Loni kepada Gurita sembari beristirahat sejenak.
“Oh, iya nak. Saya melihatnya kemarin lewat sini. Dia sepertinya menuju Ladang Nelayan. Kemarin saya sempat mencegahnya, tetapi sepertinya dia tidak mendengarkanku.” ucap Gurita.
“Apa? Ladang Nelayan?! Tempat itu berbahaya sekali. Em.. Ya sudah tuan. Terima kasih atas bantuannya.” ucap Loni.

Loni pun berenang menuju Ladang Nelayan, hati Loni berdebar dengan kencang dan takut, ia berfikir jika Lino akan terkena jaring Nelayan. Tetapi, Lino terus berusaha berfikir positif.
“Aku akan mencari Lino hingga ketemu.” ucap Loni yakin.

Loni pun akhirnya memasuki Ladang Nelayan. Ia melihat sekeliling dengan hati-hati. Sampai akhirnya…
“Tolong!! Loni! Ayah! Ibu! Siapapun! Tolong aku! Aku terejerat jaring! Tolooong!!!” teriak Lino ketakutan.
“Tunggu Lino, aku datang!” teriak Loni sembari berenang mencari Lino.
“Tolong cepat! Keluarkan aku dari sini Loni. Cepatlah. Huhuhuhu.” tangis Lino.
Loni kebingungan bagaimana caranya mengeluarkan kakaknya.

“Kak! Gigit rumput laut ini! Gigit yang rapat, aku akan menariknya. Kakak tidak apa kan, kalau menahan sakit sedikit?” ucap Loni sembari melemparkan rumput laut ke arah Lino. Lino pun mengangguk setuju.
“Siap yaa… Satu.. Dua.. Tiga!” tarik dan teriak Loni. Akhirnya Lino pun terbebas dari jaring nelayan.

“Terima kasih Loni, kau telah menyelamatkan aku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kamu. Maafkan aku juga kalau aku jahat padamu.” tangis Lino meminta maaf kepada Loni.
“Kamu itu selalu saja bikin aku susah. Tapi aku juga minta maaf kalau aku sering kasar padamu.” ucap Loni. Mereka pun saling meminta maaf dan memaafkan. Akhirnya mereka kembali ke rumah.

Setelah kejaadian itu, keluarga Pak Lionfish hidup tentram, rukun, damai dan bahagia.

Cerpen Karangan: Moza Ardyanti Putri
Facebook: Moza Radyanty Yuko
Singa Dan Bison

Singa Dan Bison

Judul Cerpen Singa Dan Bison

Pada suatu hutan, hiduplah Bison yang bernama Sison yang sangat baik hati, jujur dan suka menolong.
Tapi pada suatu hari saat Sison jalan-jalan di hutan dia bertemu dengan seekor Rusa yang lari dengan terburu-buru.

“Hai, Rusa kenapa kau lari degan terburu-buru?” tanya Sison
“Aku tadi dikejar oleh singa” jawab Rusa
“Apa? kau tadi dikejar oleh singa, apakah singa yang mengejarmu tadi Si Bising” ujar Sison
“Iya bagaimana kau tahu, apakah kau juga pernah dikejar olehnya” tanya Rusa
“Tidak, tetapi aku pernah melihatnya sedang memangsa kerbau” pernyataan Sison
“Sudahlah begini saja, akan kucoba untuk melawannya” kata Sison
“Baiklah tapi jika sudah tidak sanggup untuk melawannya segeralah meminta bantuan” sahut rusa

Sison pun langsung berlari menemui Si Bising. Setelah lama kemudian akhirnya Sison pun menemukan Si Bising yang sedan tertidur di huan.

“Bangunlah Bising aku sudah datang” bentak Sison
Dengan mata yang masih mengantuk Bising pun bangun dari tidurnya.
“Siapa yang berani membangunkanku?” tanya Bising dengan sombong nya
“Aku Sison” jawab Sison
“Mau apa kau membangunkanku?” tanya Sison
“Aku mau kau berhenti memangsa binatang yang ada di hutan ini” ujar Sison
“Mengapa aku harus berhenti memakan binatang yang ada di hutan ini” tanya Bising
“karena binatang di hutan ini merasa takut untuk keluar” jawab Sison
“baiklah begini saja bagaimana kalau kita bertarung kalau aku yang menang aku akan terus memangsa hewan di hutan ini dan kalau aku kalah aku akan meninggalkan hutan ini” tantang Bising
“Baiklah aku terima tantanganmu” ujar Sison

Pertarungan pun berlangsung dengan sengit dan akhirnya Sison menang dan sesuai dengan janjinya Bising meninggalkan hutan itu untuk selamanya.
Akhirnya para penghuni hutan hidup dengan damai dan tanpa gangguan.

Cerpen Karangan: Alrizal Raffly Bachtiar
Facebook: Alrizal Raffly Bachtiar
Rubah Yang Sombong

Rubah Yang Sombong

Judul Cerpen Rubah Yang Sombong

Pada Suatu hari di hutan yang lebat hiduplah seekor rubah. Rubah tersebut sangatlah sombong, serakah dan dia selalu iri kepada hewan yang bisa melebihi dirinya dalam hal apapun. Awalnya para penghuni hutan tidak menghiraukannya tetapi, lama kelamaan para penghuni hutan mulai kesal dengan perbuatannya tersebut.

Keesokan harinya sang singa menghampiri para penduduk hutan “Wahai penduduk hutan, besok aku akan melantik satu dari para wanita di hutan ini untuk menjadi ratu. Dan aku akan memilih wanita yang jujur, baik dan dapat menjaga hutan ini.” Ujar sang singa. Saat rubah mengetahui hal itu rubah langsung pergi menemui sang singa “wahai singa yang agung aku adalah wanita yang cocok untuk menjadi ratu di hutan ini, karena aku adalah wanita yang baik, cantik dan tidak sombong di hutan ini”, tuturnya sambil tersipu, para penghuni hutan yang mendengarkan sempat kesal dengan kalimat yang diucapkan sang rubah itu “Huu…” kata penghuni hutan sambil tercibir, lalu sang singa pun menyutujianya “baiklah aku akan memberikan jabatan menjadi ratu kepadamu, tetapi kau harus berjanji untuk menjalankan tugasmu yaitu menjaga hutan dengan baik.” jawab sang singa sambil menghela nafas.

Siang itu sang rubah sedang membagikan undangan kepada seluruh penghuni hutan untuk menghadiri pesta dilantiknya sang rubah menjadi ratu semua penghuni hutan sudah menerimanya. Rubah menunggu para penghuni hutan datang dengan memakai pakaian yang sangat mewah, waktu terus berlalu hingga waktu menunjukan sudah jam 4 sore tetapi kenyatanya tidak ada seekor pun penduduk hutan yang mau datang. “Dimana semua undanganku? Kenapa tidak kunjung datang juga? Ah… mungkin mereka tidak punya hadiah untuk diberikan kepadaku secara, aku kan tinggal di rumah mewah!, ha ha ha ha ha…” gumam sang rubah sambil tertawa terbahak bahak.

Di hari pertama sang rubah dinobatkan menjadi ratu hutan dia sudah berulah yaitu membuat peratuaran baru yakni setiap ada orang yang berani dengannya akan dipenjara seumur hidupnya. Kelinci salah satu warga yang mengetahui hal tesebut pun semakin kesal jadi si kelinci melaporkan hal tersebut kepada sang rusa “wahai rusa apakah kamu sudah tahu berita baru?” Tanya sang kelinci “apakah peraturan baru itu saudaraku?” Tanya si rusa “wah wah wah ternyata si rusa ini belum tau ya?, itu lho sang ratu baru, memberikan peraturan yang sangat menjengkelkan” jawab sang kelinci “kamu jangan membuatku semakin penasaran dong, apa isinya?” Tanya rusa “sang ratu memberikan peraturan bahwa setiap hewan yang berani dengannya akan dipenjara seumur hidupnya” akhirnya seluruh penduduk hutan berkumpul dan memikirkan bagaimana cara untuk memberi pelajaran kepada sang rubah yang congkak itu.

Malamnya para penghuni hutan berkumpul di rumah sang kancil, “kancil bagaimana ini?” Tanya kelinci, anjing, kerbau dan gajah secara bersamaan “sabar, kita pikirkan dulu pelajaran yang setimpal untuk sang rubah tanpa menyakitiya!” sahut sang kancil, “jangan seperti itu, bagai mana kalau kita suruh kucing untuk meluluhkan hati sang rubah tersebut?, SETUJU…!??” ususl si burung merak, akhirnya mareka semua setuju. Mereka pun segera bergegas ke rumah kucing, sesampainya di sana para penghuni hutan melihat kucing dan rubah sedang berbincang bincang dengan asyiknya, tidak lama kemudian sang rubah pulang ke rumahnya, para penghuni hutan pun segera pergi menemui sang kucing “Hei kucing mengapa kamu bergaul dengan sang rubah itu eh, maksutku sang ratu?” Tanya sang gajah, “Dia adalah sahabatku dia sering kesini untuk berbicara tentangnya kepadaku” jawab si kucing, “Kebetulan sekali kami membutuhkanmu untuk melakukan rencana ini” sahut burung merak sambil berbisik bisik ke kucing, “Oh… jadi begitu baiklah aku akan bantu kalian, besok kancil pergi ke rumah sang singa untuk memberitahu hal ini sedangkan aku dan lainnya akan pergi ke rumah sang rubah, aku akan meluluhkan hatinya.”

Keesokan harinya sang kancil bergegas ke rumah sang singa untuk memberitahukan hal itu, “yang mulia apakah anda ada di dalam?” Tanya sang kancil “Ah… Kancil ada kabar apa sampai kamu datang ke rumah aku?” jawab sang singa lalu kancil mengatakan semua kelakuan sang rubah kepada masyarakat hutan ke singa, “Sombong sekali dia aku akan ke rumahnya untuk menurunkan jabatannya tersebut” geram sang singa sambil marah. lalu sang kucing pergi menemui sang ratu “wahai sahabatku mengapa semua penghuni hutan menjauhiku? Apakah aku terlalu kaya untuk mereka atau aku terlalu cantik untuk mereka” Tanya sang rubah “mengapa kamu seperti itu kepada mereka pedahal kan mereka sudah baik kepadamu kamu tidak pantas untuk melakukan itu!” jawab sang kucing. Saat sang rubah merenungkan hal itu sang rubah menyadari kesalahannya sambil meneteskan air mata “aku sudah salah menilai mereka aku memang tidak pantas menjadi sang ratu!” sahut sang rubah sambil meneteskan air mata tiba tiba, sang singa datang dengan marahnya sang singa berkata “kamu itu bagaimana sih aku kan menyuruhmu untuk menjaga hutan dalam arti bukan hanya alamnya terjaga tetapi masyarakatnya aman dan tentran karena ulahmu banyak hewan mati di penjara karena melanggar aturan yang telah engkau buat itu!, mulai sekarang kau bukanlah seorang ratu!” sambil menundukan kepala sang rubah berkata “maaf kan aku yang mulia aku telah lalai dalam menjalankan tugas, beri aku kesempatan untuk merubah sikap saya raja, saya mohon satu kali saja” disaat itu semua penghuni hutan tersentuh dengan kalimat yang dilantunkan oleh sang rubah, dengan lembut sang kucing memohon “yang mulia tolonglah maafkan sahabat saya ini tolong berikan dia kesempatan satu kali lagi, saya mohon.” Denag pelan sang raja menjawab “baiklah aku beri kamu kesempatan tan terakhir, tetapi tepati juga janjimu itu!” dengan wajah sedih dan gembira sang rubah menjawaab “baiklah yang mulia terimakasih…”

Pada saat itu sang rubah menjadi rubah yang baik hati, penyayang penolong,suka membantu, dia mulai bergaul dengan penghuni hutan. Sang rubah pun mulai berfikir bahwa kebahagian tidak hanya bisa didapat dengan jabatan, sombong dan merendahkan orang lain tetapi kebahagianan dapat diambil dari kita berbagi, saling membantu, saling menghargai dan saling menghormati. Itulah kebahagiaan yang abadi

THE END

Cerpen Karangan: Rosydah Nur Fadhilah
Facebook: Rosydah Nur Fadhilah
Siput Yang Lamban

Siput Yang Lamban

Judul Cerpen Siput Yang Lamban

Pada suatu hari di sebuah hutan, hiduplah seekor siput dan juga kawan kawannya. Siput itu bernama Tatam. Tatam adalah binatang yang suka bergaul dan pantang menyerah. Walaupun Tatam berjalan sangat pelan sehingga diejek kawan kawannya lambat, ia akan terus berusaha untuk membuktikan bahwa ia tidaklah lambat.

Di suatu pagi yang sangat cerah, terlihat Tatam sedang mencari makan di hutan. Ketika ia menemukan makanan dan ingin mengambilnya, selalu saja ada yang mendahuluinya mengambil makanan tersebut. Begitupun seterusnya, karena si Tatam berjalan lambat. Sampai akhirnya Tatam bisa mengambil makanan itu tetapi ada seekor kancil yang masih saja mengambil makanan itu darinya. “Hei itu adalah makananku kancil.” Kata Tatam. Kancil pun menjawab “Siapa cepat dia dapat. Lamban” Tatam pun merasa kesal kepada kancil itu. Kancil lansung pergi meninggalkan si Tatam.

Tatam berencana ingin membalas perbuatan kancil padanya. Keesokan harinya Tatam pergi menemui kancil dan ingin mengajaknya lomba lari. Kancil pun tertawa terbahak bahak karena seekor siput yang lambat ingin mengajaknya untuk lomba lari. “Hahaha, apa kau bercanda Tatam. Kau yang lambat seperti ini ingin mengajakku berlomba? Yang benar saja? Hahaha” kata kancil. “Aku tidak bercanda kancil, aku bersungguh sungguh ingin mengajakmu berlomba. Apakah kau takut?” sahut Tatam. “Hahaha aku tidak akan takut denganmu. Kalu begitu besok kita berlomba disini! Siapkan dirimu Tatam.” Tatam sudah berncana mengajak para siput untuk bekerja sama mengalahkan kancil. Agar para siput tidak dianggap lamban oleh penghuni hutan lainnya. Rencana Tatam adalah, para siput harus berjejer di sepanjang jalan perlombaan tetapi harus tetap waspada agar tidak ketahuan kancil.

Keesokan harinya saat perlombaan akan di mulai semua penghuni hutan yakin bahwa kancil yang akan memenangkan lomba. Tetapi Tatam tetap percaya diri bahwa ia akan menang dengan rencananya kemarin. Saat perlombaan dimulai, siput berlari sekuat tenaga meskipun sudah tertinggal jauh oleh kancil. Saat kancil sudah setengah perjalanan, ia merasa lelah dan mulai berlari perlahan lahan. Tetapi saat kancil terkejut karena siput sudah sampai di sebelahnya. Kemudian kancil menambah kecepatan larinya tetapi tetap saja siput bisa membalapnya karena rencananya tersebut.

Saat sudah mencapai garis finish ternyata siputlah yang menang. Siput pun sangat gembira dan semua penghuni hutan merasa terheran heran. Kancil pun merasa kesal kepada siput dan juga merasa curiga padanya. Saat para penghuni hutan ingin memberikan hadiah kepada siput, kancil melarangnya. “Tunggu dulu!” kata kancil. “Kenapa kancil? Apakah kau masih merasa kesal karena kau kalah lomba denganku?” jawab siput. “Tidak siput, bukannya aku kesal denganmu, tapi kurasa bukan kau yang mengajakku berlomba waktu itu. Yang mengajakku berlomba adalah siput yang memiliki lubang di cangkangnya. Kau berbohong!” Siput pun merasa gelisah.

Kemudian siput pun mengaku bahwa ia telah berencana dengan Tatam untuk mengalahkan kancil. Setelah itu Tatam dan para siput datang menghampiri si kancil da menceritakan semua rencana yang telah ia perbuat. “Maafkan aku kancil, aku melakukan semua ini agar aku dan para siput lainnya tidak dianggap lambat oleh penghuni hutan yang lain.” kata Tatam. “Seharusnya kau tidak perlu berbuat curang seperti itu Tatam. Bicaralah padaku, aku tidak akan mengejekmu lambat lagi.” sahut kancil. “Baiklah aku ingin meminta maaf kepada kalian semua, dan tolong jangan mengejekku lambat lagi” ujar siput.

Akhirnya Tatam dan para siput lainnya berteman baik dengan Kancil dan para penghuni hutan lainnya. Tatam pun tidak diejek lagi oleh teman temannya. Dan mereka pun hidup bahagia di hutan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Tarisa Febi Mutiasari
Facebook: Rissa Veby Mutiasari
Curahan Hati Si Pucuk Muda

Curahan Hati Si Pucuk Muda

Judul Cerpen Curahan Hati Si Pucuk Muda

Di siang hari yang terik, dengan sengatan matahari yang membuat suhu udara terasa semakin panas. Di hamparan sebuah bukit yang gundul, dulunya bukit ini sangat hijau mempunyai banyak pepohonan dan rumput hijau yang terbentang sangat luas. Tetapi kini pemandangan itu tergantikan dengan hamparan batang-batang pohon yang ditebang dan sisa-sisa pembakaran menghasilkan asap yang dapat membuat paru-paru mengeluh.

Di sudut hamparan yang gersang itu terdapat beberapa makhluk hidup yang sedang berbincang-bincang “sungguh serakah para manusia itu mereka telah mendapatkan tempat untuk hidup nyaman tetapi masih saja mengincar tepat tinggal makhluk hidup lain untuk di kuasai” ujar seekor siput. “Ya, mereka memang makhluk Tuhan yang sangat serakah, apa salah kita kepada mereka sehingga mereka menghancurkan hutan kita tercinta ini. Tidakkah mereka sadar bahwa tempat yang mereka bantai habis-habisan ini juga terdapat makhluk hidup yang mempunyai hak untuk hidup?” ujar sang belalang. “Sudahlah semua sudah terjadi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatakan kepada mereka jangan menghancurkan tempat tinggal kita” ujar serumpun semak yang masih bertahan di daerah yang gersang itu dengan pasrah. “Ya semak benar kita tidak bisa berbuat apa-apa tetapi setidaknya kita bisa menyelamatkan diri dari kekejaman para manusia itu, sungguh malang nasibmu semak kau hanya bisa menunggu maut untuk menjemputmu di sini, sebentar lagi mereka pasti akan memusnahkan dirimu seperti pohon-pohon itu” ujar seekor burung pipit sambil melihat ke sekililing daerah yang gersang itu.

Serumpun semak itu pun tertunduk lesu, meskipun manusia tidak memusnahkan aku, pasti aku juga tidak mampu bertahan di daerah yang gersang dan panas seperti ini, batin si semak. “Apa yang sedang kau pikirakan?” tanya si belalang, “dia pasti sedang memikirkan nasib hidupnya yang tinggal sebentar lagi” ujar si burung sombong. “Apa yang kau katakan burung kau tidak boleh begitu semak juga sama nasibnya dengan kita, kita ini makhluk hidup yang terkena dampak kekejaman manusia” ujar siput, “Ya tapi setidaknya kita bisa mencari tepat tinggal baru benar kan?, tidak seperti si semak ini”. “Sudahlah jangan berdebat disaat yang seperti ini, semak dengarkan aku, meskipun kau akan segera pergi tapi yakinlah suatu saat nanti akan ada pucuk-pucuk muda yang akan menggantikanmu dan mereka akan tumbuh lebih tinggi daripada dirimu” ujar si belalang memberi semangat. Kata-kata itu ibarat sebuah mantra bagi semak dan memuat sebuah senyuman di wajahnya.

Keesokan harinya sinar matahari telah menyapa di pagi hari, menerangi bekas tempat para mekhluk hidup itu berbincang kemarin. Termasuk bekas jejak si semak yang kini hanya meninggalkan tanah yang gersang, si semak tidak terlihat lagi setelah kedatangan manusia yang menebas habis seluruh tempat tersebut kemarin sore. Tampak seekor burung yang sedang melayang-layang di udara, yang tidak lain adalah si burung pipit. Dan terdapat seekor belalang yang melompat-lompat di sepanjang tanah yang gersang sendirian, si siput telah berimigrasi bersama kelompoknya ke tempat yang jauh sejak kemarin sore. Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan debu-debu di sekitar bukit sehingga membuata keadaan seperti terasa berada di gurun. Perbuatan manusia yang membuat lingkungan bukit yang dulu indah kini menjadi sebuah padang gurun yang sangat menyesakkan.

Seminggu kemudian tempat itu sangatlah sepi dan gersang tidak ada satu pun makhluk hidup yang terlihat. Seketika kemudian turunlah hujan dan menguyur bukit yang gersang itu mengembalikan kehidupan yang hilang di sana dan memberikan kehidupan baru bagi benih-benih makhluk hidup yang baru. Setelah peristiwa hujan yang menghapus debu di bukit yang gersang tersebut terapat sebuah kehidupan baru yang tumbuh dari benih-benih sisa pepohonan si sudut bukit, hari demi hari benih itu tumbuh dan semakin lama semakin besar hingga tumbuhlah sebuah pohon kecil di sana. Namun selang beberapa hari setelah tumbuh pohon kecil itu tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sehingga sedikit demi sedikit pohon itu layu, namun dari pohon itu muncul sebuah pucuk muda yang sedang termenung dan memandangi lingkungan di sekitarnya yang gersang. Apakah aku dapat bertahan di lingkungan hidup yang bahkan tidak ada satu makhluk hidup yang tinggal batin si pucuk muda.

Tiba-tiba lewatlah di depannya seekor belalang yang sedang melompat-lompat, “hai!!” sapanya, “siapa kau, kau begitu muda tetapi kau tinggal di lingkungan seperti ini” ucap si belalang ketus. Si pucuk muda pun tertunduk lesu sambil berkata “aku baru tumbuh dari benih pohon yang ditebang itu” ujar si pucuk. “Kau tidak akan bertahan terlalu lama wahai pucuk, kau tidak akan sanggup hidup di lingkungan seperti ini, lihat saja batangmu saja sudah hampir mati” ujar si belalang, “tolong jangan bekata seperti itu belalang, aku akan merasa sangat sedih, aku juga ingin melanjutkan kehidupanku dan menjadi besar seperti pohonn-pohon yang ada di seberang sana”. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih, tetapi itulah kenyataannya lihatlah sekelilingmu apakah masih ada makhluk hidup yang terlihat, tidak” “itu benar tapi aku sangat ingin hidup belalang, akankah aku tidak berhak untuk hidup?” “aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya seekor belalang yang hanya bisa mencari makanan untukku bertahan hidup” “apakah kau tidak bisa membantuku atau memberi saran apa yang harus aku lakukan?” “saranku adalah sebaiknya kau berdoa pada Tuhan agar memberikanmu kesempatan untuk hidup dan tumbuh besar, berharaplah akan ada seseorang yang datang untuk menyelamatkanmu, hanya itu yang bisa kau lakukan menurutku” “oh benarakah? Jika itu memang bisa memberikanku kehidupan aku pasti akan melakukannya” ujar si pucuk muda girang, si belalang hanya terkesiap mendengar semangat dari si pucuk, lalu ia berlalu pergi, “sampai jumpa!!” ujar si pucuk sedangkan si belalang sudah berada jauh sekali.

Setelah belalang pergi si pucuk muda bersegera memanjatkan do’a kepada Sang Kuasa, “oh Tuhan lihatlah diriku yang malang ini, akankah aku dapat bertahan di lingkungan hidup yang seperti ini? jika tidak, jika aku harus mati untuk apa Engkau meberiku kehidupan Tuhan, seharusnya engkau tidak membiarkan aku tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Oh Tuhan aku hanya ingiin hidup dan tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar kasihanilah aku Tuhan, kasihanilah sebuah pucuk seperti diriku ini tuhan jika aku mati aku tidak tahu akankah aku dapat kesempatan untuk menjadi sebuah pucuk baru lagi, oh Tuhan berikanlah kejaibanMu kepada diriku yang malang ini aku mohon kabulkanlah keinginanku Tuhan” si pucuk muda terus berdoa hingga pagi hari.

Di pagi harinya si pucuk muda melihat matahari terbit di ufuk timur dan kembali berdoa pada Sang kuasa. Setelah beberapa lama matahari terbit muncul beberapa manusia yang kembali ke bukit itu untuk melanjutkan beberapa pekerjaan, di sebuah ranting pohon nun jauh dari bukit itu si belalang mengamati pucuk muda yang sedang menangis, “aku tidak tahu akankah keajaiban Tuhan akan muncul untuk menyelamatkan si pucuk muda itu, aku merasa kasihan sekali padanya”. Di seberang pohon tepatnya di bukit si pucuk muda menangis ketakutan melihat beberapa manusia yang membawa berbagai senjata tajam. Tentu saja manusia yang lalu lalang tersebut tidak dapat mendengar. Si pucuk kembali berdoa “oh Tuhan selamatkanlah aku”, si pucuk berteriak minta tolong ketika senjata-senjata tajam itu ingin menyentuhnya, tiba-tiba terjadi keributan yang membuat orang-orang yang memegang senjata tajam itu ditangkap oleh beberapa orang yang berseragam. Tiba-tiba seorang gadis menhampiri si pucuk muda itu dan berkata “oh, coba lihat ini ada sebuah benih pohon muda yang sedang berjuang untuk tumbuh, untung saja mereka tidak sempat menyakitinya”, lalu seornag gadis lain menyahut “oh, benarkah ya Tuhan kasihan sekali, akan kuambil gambarnya lalu kusebarakan di media masa agar orang-orang tahu bahwa tumbuhan-tumbuhan ada yang berjuang untuk hiudp juga” lalu sekejap cahaya yang menyilaukan muncul, “hei, kau kan menyakitinya!, oh kasihan sekali ihatlah batangnya yang mulai layu”. Sang pucuk merasa sangat aneh dikasihani seperti itu.
“apakah mereka manusia yang berbeda?” ujar si pucuk muda. “Akan kita apakan pohon dengan pucuk muda ini?” kata seorang gadis bertanya dengan gadis lainnya. “kita bawa saja pulang, ini pindahhkan ke dalam pot ini” “apa kau sudah gila, kita akan membuat bukit ini ditumbuhi pohon lagi bukannya memusnahkannya”, “oh ayolah lihat dia, dia tidak kan bertahan di lingkungan seperti ini, dia aka segera mati” ujar sang gadis. Mendengar itu si pucuk muda merasa sangat khawatir aku mohon tolong bawa aku pulang bersama kalian batin si pucuk, kali ini dia bukan ingin agar manusia pergi tetapi dia malah ingin mausia-manusia ini membawanya pergi. “oh kau benar kita bisa menanam pohon yang baru lagi di sini, yang lebih kuat dan tahan akan kondisi lingkungan disini, kita kan membawanya pulang dan membuatnya tumbuh besar setelah besar baru kita bawa dia kembali ke sini” ujar si gadis “aku sangat setuju dengan caramu itu, sekarang pindahkan dia ke dalam pot ini agar mudah membawanya”. Mendengar itu di pucuk muda sangat kegirangan rasanya ia sangat ingin melompat, dan ia sangat bersyukur pada Sang Kausa karena telah mengabulkan keinginannya.

Gadis itu menggali akar pohon si pucuk dan ini membuat tubuh si pucuk muda itu sangat lemah ketika sudah berada di dalam pot dan diberi air, tubuh si pucuk kembali kuat.

Setelah kejadian hari itu di bukit yang dulunya gersang dan berdebu kini sudah terdapat beberapa pohon yang mulai tumbuh tinggi, dan terlihat beberapa burung dan binatang yang berkumpul di sana. Perlahan-lahan bukit itu kembali hijau dan subur, membuat para makhluk hidup di sana merasa sangat gembira, burung-burung terbang dengan riang, belalang melompat kesana-sini dan masih banyak makhluk hidup lainnya.

Setelah beberapa bulan berlalu pohon-pohon di bukit itu menjadi tinggi dan ada beberapa yang sudah besar, tetapi masih ada yang kurang disana si pucuk muda belum kembali untuk bergabung bersama pohon-pohon di sana.

Tiba-tiba sebuah mobil di jalanan menuju bukit berhenti, lalu turun dua orang gadis yang salah satunya membawa sebuah pot berisi pohon muda, semua makhluk hidup di sana terkejut karena berita si pucuk yang hebat telah tersebar di seluruh penjuru bukit, mereka bertanya-tanya apakah itu adalah si pucuk muda yang dulu sangat gigih untuk bertahan hidup. “hei semua coba lihat siapa yang datang, apakah itu si pucuk muda yang dulu sangat gigih berjuang untuk hidup?” ujar si belalang, “kelihatannya itu dia” ujar si burung. Kedua gadis itu berbincang-bincang seperti sedang merundingkan sesuatu. “kita akan tanam dimana pohon kecil ini, dia seharusnya tidak berada di sini, seharusnya dia ada di forum penghargaan untuk mendapat penghargaan sebagai pohon terhebat” ujar sang gadis bercanda. “ha ha, kau ini bercanda saja, ayo cepat kita harus segera membawa pohon kecil ini utntuk bergabung bersama teman-temannya” “bagaimana kalau di sebelah sana saja?” tanya si gadis. “ow, tempat yang hebat ayo!!” ujar si gadis satunya lagi.

Mereka langsung bergegas menuju tempat yang telah ditetapkan dan langsung menanam pohon kecil itu, setelah menanam pohon kecil kedua gadis itu mengucapkan selamat tinggal. Setelah kedua gadis itu pergi beberapa makhluk hidup di sana berkumpul di dekat si pucuk muda tersebut, “hai apakah kau pucuk muda yang sama beberapa bulan lalu, yang dibawa oleh kedua gadis itu” ujar si belalang, “hai belalang, benar kau si pucuk muda yang sama tetapi sekarang aku telah tumbu menjadi sebuah pohon kecil dan sebentar lagi aku kan tumbuh menjadi pohon yang besar, oh terimakasih belalang aku tidak akan pernah melupakan jasamu itu berkat saranmu aku jadi seperti sekarang” ujar si pucuk muda. “ya sama-sama itu juga berkat Sang Kuasa yang telah mengabulkan doamu”. “Waah, lihat bukit ini, ini bukan bukit yang sama ketika aku lahir” ujar si pucuk muda “benar, tetapi inilah bukit tempa di mana kau dilahirkan hai pucuk muda” ujar si belalang.

Matahari terbenam seiring pembicaran mereka, para makhluk hidup di sana merasa sangat gembira dengan kembalinya lingkungan hijau yang sangat mereka cintai dulu, dan mereka berharap tidak ada lagi tangan-tangan manusia yang jahat menjamah dan menghancurkan lingkungan tercinta mereka.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Bella Cintya
Facebook: Bella Cintya
Tikus dan Ular

Tikus dan Ular

Judul Cerpen Tikus dan Ular

Pada suatu hari, hiduplah seekor tikus di sebuah hutan rimba. Tikus itu memiliki sifat yang baik hati dan suka tolong menolong. Bahkan penghuni hutan lainnya sangat menyukai tikus itu.

Pada suatu ketika tikus itu hendak memcari makan di sebuah pohon yang terdapat banyak buah apel. Tetapi ketika si tikus hendak mengambil sebuah apel, tiba tiba terdengar suatu suara. Dan tikus pun ingin melihat ada apa yang terjadi sehingga menimbulkan suara tersebut.

Ternyata suara tersebut berasal dari semak semak yang bergerak. Dan tikus pun mendekati semak tersebut. Tiba tiba ada seekor ular yang tak sadarkan diri. Tikus pun mendekati ular tersebut karena ia penasaran kenapa ular tersebut ada di sini. Semakin dekat tikus pun marasakan ada sesuatu yang tidak beres, ternyata ular itu tidak benar benar pingsan, ular itu ternyata ingin memakan tikus. Tetapi saat tikus tau ular itu berbohong tikus itu langsung melarikan diri menjauhi ular.

“Untung saja aku bisa selamat dari ular pembohong itu”. Tikus pun melanjutkan mencari makan di tempat lain dan bertemu dengan kelinci. “Hai, kelinci mau kemana?”, tikus bertanya kepada kelinci. “Aku ingin mencari makan, kau juga mau kemana tikus?”. “Aku juga ingin mencari makan juga, apakah kau mau mencari makan bersamaku?”. “Boleh juga ide yang bagus tikus kita mencari makan di hutan sebelah timur saja”. “Baiklah ayo”. Tikus dan kelinci pun mencari makan bersama.

Hari pun semakin gelap tikus pun akan kembali ke rumahnya. Tetapi di tengah tengah perjalanan tikus bertemu dengan ular lagi. Tetapi ular itu terjebak di jaring pemburu. Sebanarnya tikus ingin menolong ular, tetapi ia takut jika nanti akan dimakan oleh ular. “Tolong, tolong”, teriak ular. Ia pun berusaha untuk melepaskan jaring yang melilitnya, tetapi tidak bisa dan ia melihat tikus yang akan lewat. “Tolong aku tikus aku mohon”, pinta ular kepada tikus agar mau membantu ular untuk melepaskan diri dari jaring tersebut. Tapi tikus malah semakin menjauh dan ia takut ditipu lagi oleh ular. Tetapi ular terus meminta bantuan tikus, “tolong tikus tolonglah aku, aku tidak sedang berbohong seperti kemarin”, kata ular agar tikus mau menolongnya. “Benarkah ular kau tidak bohong, tapi aku tidak akan termakan tipuanmu lagi”, tikus hendak pergi meninggalkan ular, tetapi ular berkata “tolonglah aku tikus, aku berjanji akan memenuhi segala permintaanmu!”. Tikus pun memikirkan pesetujuan yang diberikan ular dan ia berkata “Baiklah aku akan membantumu, tetapi engkau tidak boleh menggangu hewan lain di hutan ini termasuk aku!”. “Baiklah aku akan menuruti semua janjimu!”.

Lalu tikus pun membantu ular untuk bebas dari jaring pemburu. “Terima kasih tikus, aku akan selalu mengingat jasamu dan jika kau ada masalah aku akan siap membantumu!”. “Terima kasih juga atas penawaranmu ular”.
Lalu ular pun meninggalkan hutan. Akhirnya hutan pun menjadi aman, tentram dan damai setelah ular pergi dan tidak pernah terlihat lagi bahkan tidak pernah berkunjung ke hutan itu lagi.

Cerpen Karangan: Regita Pramesti Sudarmono
Facebook: Rere Sudarmono
Kelelawar, Bunglon dan Belalang

Kelelawar, Bunglon dan Belalang

Judul Cerpen Kelelawar, Bunglon dan Belalang

Di tengah hutan, hiduplah sekelompok kelelawar yang selalu berburu di malam hari. Setiap malam, para kelelawar selalu kelaparan. Para kelelawar sangat ganas dan rakus. Semua buah di pohon yang baru berbuah dihabisi oleh para kelelawar itu. Bahkan, terkadang mereka mencuri buah milik binatang lain yang sedang tidur. Selain buah, mereka juga memangsa serangga. Semua serangga baik bangun maupun tidur dilahapnya.

Berita itu terdengar hingga ke sarang bunglon di suatu pohon di pinggir hutan. Para bunglon langsung mempunyai strategi menghadapi para kelelawar jahat itu. Para bunglon memanggil teman-teman di dekat mereka, salah satunya si Belalang penakut ini. Belalang pun rupanya juga menjadi salah satu sasaran Kelelawar.

“Hai Belalang, kamu tahu tidak sekarang para kelelawar sudah tidak tahu diri? Mereka sepertinya mau menghabisi semua penduduk hutan ini.” kata Bunglon.
“Iya, mereka sangat menyeramkan. Kemarin, beberapa dari kami mati dimakan kelelawar. Aduh, bagaimana ini?” keluh Belalang.
“Oh, aku mempunyai ide! Bagaimana kalau kamu berkamuflase sepertiku? Kalau aku hinggap di batang pohon, kulitku coklat menyerupai batang pohon tersebut. Jika aku hinggap di atas daun, kulitku hijau menyerupai daun-daun itu.” usul Bunglon.
“Berkamuflase? Bagaimana bisa? Cara itu hanya kamu yang bisa melakukan.” jawab Belalang.
“Berkamuflase adalah caraku untuk melindungi diri dari mangsa. Aku rasa kamu juga bisa karena kamu hijau seperti daun. Jadi pada saat malam hari, kamu hinggap saja di atas daun dan bergayalah menyerupai tulang-tulang daun yang menyirip. Kelelawar tidak memiliki penglihatan yang bagus. Mereka tidak akan melihatmu.” jelas Bunglon.
“Kamu betul, Bunglon! Itu ide yang sangat bagus! Aku akan memberitahukan itu pada teman-temanku nanti. Terima kasih banyak, ya.” kata Belalang dengan hati senang.

Malam itu, ketika Kelelawar keluar dari sarangnya, para belalang langsung cepat-cepat hinggap di daun pohon. Mereka tidak lagi berdempet-dempetan di batang pohon yang coklat. Saat kelelawar terbang mendekati pohon mereka, mereka sudah lakukan apa yang Bunglon usulkan. Akhirnya, para kelelawar tidak melihat serangga apapun di pohon itu dan pergi saja melewatinya. Belalang berterimakasih pada Bunglon sekali lagi dan berjanji akan menolong Bunglon sewaktu-waktu.

Cerpen Karangan: Feliza Beverly
Blog: felizabeverly.blogspot.com
Kumohon Jangan Bicara Soal Keadilan

Kumohon Jangan Bicara Soal Keadilan

Judul Cerpen Kumohon Jangan Bicara Soal Keadilan

Sejak 10 bulan yang lalu aku tinggal di rumah ini. Kalau ditanya betah atau tidak, aku paling hanya bisa mengangguk. Tanda aku memang nyaman disini. Tapi, tidak juga. Cuma memang tidak ada pilihan lain.

Mereka sangat memperhatikanku. Tetapi kadang aku sedikit tidak suka dengan sifat-sifat mereka, tingkah laku mereka, attitude sepertinya mereka sisihkan jauh-jauh. Sangat mereka sepelekan. Apakah manusia memang seperti ini?

Disini, sekarang, Tuhan kuyakin ada sedang memandangku. Tuhan begitu baik. Menciptakanku, memoles dan mencetak tubuhku serta menghembuskan ruh ke dalam dadaku. Aku tersipu dan seakan-akan melambung ke langit-langit rumah ini saat Doris menyanjung rupa dan tubuhku. Ah, itu membuatku malu. Tapi jujur aku senang mendengarnya.

Makanan selalu tersedia khusus untukku. Ya Tuhan! aku bak raja disini. Sekali lagi, Tuhan sangat baik padaku.
Tubuh ini selalu dibelai, dimanja dan selalu dibubuhi wewangian. Laksana sang putri di kerajaan. Putih tubuhku tampak begitu bersinar, kala lampu rumah ini dihidupkan.

“Waah, tak terasa sudah besar rupanya sayangku.”
Kata yang telontar dari bibir tipis Doris berhambur ketika membelai tubuhku. Kami sangat akrab. Aku sayang kepadanya. Walaupun banyak tetangga di luar sana menggunjingnya. Anak perempuan di keluarga ini yang baru saja tamat dari Sekolah Menengah Atas. Badan sedikit gempal dengan rambut pendek sebahu. Aku takut dia akan bertambah terus berat badannya begitu dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.

Dia sesekali menyanyikan beberapa lagu yang membuat kupingku ingin protes mendengarnya. Aku berpura-pura tertidur di pangkuannya dengan mata yang terpejam. Berharap dia senang.

“Apa ini?! Gawat! Baju ini kan pemberian Papih dari Singapura! Aduh, bangun! Bangun, kataku!”
Melempar tubuhku begitu saja ke lantai. Sedikit aneh memang. Tapi inilah Doris. Kadang membelaiku dengan lembut kadang mencampakkanku seperti lap kotor tak berguna. Tapi, aku tak bisa bebuat apa-apa. Hanya membisu.

Dia beranjak pergi dengan muka masam. Aku menyipitkan sebelah mataku, seraya melihatnya pergi. Kalau saja aku mampu, aku ingin sekali menjambak rambutnya. Tapi… kuurungkan niatku. Karena, hanya dia yang selalu mebelaiku. Aku menghela nafas dan kembali mencoba tidur.

Sebentar, selain Doris ada juga yang selalu membelaiku, namanya Carla, keponakan Doris yang masih berusia 5 tahun. Aku sangat senang karena dia akan berkunjung ke rumah ini akhir pekan besok. Dia sangat polos seperti anak-anak pada umumnya. Cerdas dan tulus menyayangiku. Berbeda dengan keluarga ini, sepertinya Doris dan keluarganya mengangapku hanya sebagai pajangan. Membersihkan dari debu-debu, mengagumiku namun menganggapku tak punya perasaan.

Hari ini aku merasa aneh dengan badanku. Menggigil dan lunglai tak bertenaga. Aku mencoba duduk di bawah jendela, seperti biasanya. Tentu saja dengan naik di atas meja yang diletakkan di pinggir jendela itu. Jendela yang berembun tiap kali aku menatap ke luar. Jendela yang juga merupakan tempat favoritku di sudut rumah ini.

Hari ini, seisi rumah kosong. Doris dan keluarganya pergi untuk berbelanja ke swalayan. Aku tidak bisa ikut pergi dengan mereka. Tentu saja karena sesuatu hal.

Kulihat ke luar jendela. Mukaku agak sedikit panas dan jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Kaget. Ah, siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Sekilas dia berlalu, berjalan seperti sedang limbung. Mataku tak berkedip mengikuti langkahnya. Wajahku kudekatkan di balik jendela ini. Aku ingin mengikutinya. Kuperintahkan badanku berputar mengikutinya. Tentu saja hanya di balik jendela. Kuberjalan dan lari ke jendela berikutnya di ruang samping. Kulanjutkan mengejarnya ke jendela belakang, seolah ingin mengejarnya, namun dia sudah berlalu. Kalau saja bisa mendekatinya, Tapi bagaimana mungkin. Mustahil. Rumah ini istana sekaligus penjara bagiku.
Tuhan, entah mengapa aku ingin melihatnya kembali. Besok dan besok..

“Papih! Mamih! Ada apa dengan Bertis?! Badannya lemas dan matanya terus terpejam?! Dia akan matikah?! Aduh, aku takut! Tolong cepat, pih! Kita bawa Bertis ke dokter!”
Hentikan Doris. Aku tidak akan mati seperti katamu. Aku hanya lelah saja. Lelah mendengar teriakanmu. Terlebih hatiku seperti kau ombang-ambing. Aku hanya masih memikirkannya. Mengingat dia yang berlalu kemarin siang.
Aku sangat sangat tidak mengerti dengan keluarga ini, terlebih Doris. Pernah suatu waktu ibunya mendapati dapurnya kotor, sebuah piring pecah dan peralatan dapur berantakan. Bisa tebak apa yang dia katakan pada ibunya? Ya, dia bilang akulah yang telah melakukannya. Ingin rasanya kucekik saja lehernya.
“Sudahlah, Doris. Dia tidak akan apa-apa. Kau lihat dia hanya butuh istirahat. Kau ini jangan membuat kacau rumahlah. Sebentar lagi Paman dan Bibi serta ponakanmu akan kemari. Jangan membuat papihmu ini pusing. Bantu kami beres-beres. Jangan malah berteriak-teriak tak karuan saja kau.”
“Apakah Papih tidak kasihan pada Bertis, Pih?!”
“Tutup mulut kau dan biarkan dia tidur!”
“Ah, benar rupanya, Papih tidak sayang.. kau lihat itu, Bertis, tidak ada yang sayang kepadamu selain aku!”
Terserah apa katamu.

Puji Tuhan hari yang kutunggu-tunggu datang. Carla datang ke rumah ini. Aku sangat senang melihat tawanya. Sangat tidak dibuat-buat.
“Bertiiis! Ya Ampun aku sangat rindu!”
Dia menciumiku, membelaiku, meninabobokanku dan yang paling kusuka dia mengajakku berkejar-kejaran di halaman depan. Thanks God, aku bisa ke luar rumah. Menghirup udara yang ternyata sewangi ini. Udara yang begitu lama aku rindu wanginya. Cahaya matahari yang juga ternyata seindah ini. Terima kasih, Carla. Keluarga ini selalu mengurungku. Mengurungku…

Carla tertidur. Tertidur di rumput di halaman depan. Ibunya langsung menggendongnya. Aku pun mengikutinya. Wanita cantik itu menidurkannya di kasur depan ruang keluarga. Carla terlihat sangat kelelahan. Aku kasihan kepadanya. Kami berkejar-kejaran terlalu lama. Aku mencoba tidur di sampingnya. Tapi… hah? Pintu depan masih terbuka! Ini kesempatan!
Aku menyelinap ke luar. Dan beruntung tidak ada yang tahu. Terima kasih sekali lagi Carla…

Aku terengah-engah. Berlari. Cukup jauh juga rupanya. Aku berhenti di sebuah gubuk kecil dekat sebuah pabrik gula yang tidak terpakai. Langit sudah mulai gelap. Ya, aku rindu melihat langit secara langsung. Selama ini aku hanya lewat jendela melihatnya.
Tampak gelap, gelap dan semakin gelap.
Saat beberapa lama kucoba buka mata.
Dan…

Ah, aku tertidur rupanya. Aku menggeliat, mencoba merentangkan tubuhku yang sangat sangat lelah. Aku ingat aku semalam kabur dari rumah Doris. Sedikit lelah, takut dan gemetar. Ini pertama kali aku kabur. Wajar kalau aku shock dan bingung, pikirku. Tapi ini sungguh amazing! Seperti berhasil melepas semua ikatan yang selama ini menjerat tubuh dan membelenggu hatiku. Tak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Kakiku seperti menyentuh sesuatu. Kuhentakkan tubuhku dan langsung berdiri. Alangkah terkejut dan sekaligus terpana. Di hadapanku sedang tertidur sesosok yang aku rindukan beberapa hari ini. Perlahan-lahan berputar dan kucoba amati dia. Wangi tubuhnya memang tak sewangi diriku. Badannya kumal seperti tak terawat. Kakinya seperti telah berjalan di atas tanah berlumpur seharian. Tapi, sepertinya aku suka…



“Oh my God, Bertis! Kemana saja kau?! Angin apa yang membuat kau keluar dari rumah ini?!”
“Sudahlah, kau mandikan saja dia! Hmm.. baunya sangat menjijikkan!”
“Baiklah, Bu. Aku harap dia tidak bertemu apalagi bergaul dengan kucing kampung! Aku sudah susah payah membesarkannya. Membayar mahal untuk memilikinya. Aku takut kalau dia akan mempermalukanku di hadapan teman-temanku dengan melahirkan anak dari hasil hubungannya dengan kucing kampung! Uh, menjijikkan.”
Mataku menatap kosong. Dalam hati aku menyesal, mengapa aku kembali ke penjara ini? Berhari-hari hingga berbulan-bulan aku seperti kehilangan gairah. Memikirkan kebodohanku. Hingga…
“Pih, Bertis aneh! Dia sudah 3 hari ini tidak mau makan!”
“Pantas saja dia tidak mau makan, dia sudah gemuk begitu. Lihatlah perutnya!”

Doris selangkah demi selangkah hendak menghampiriku. Mataku menatap langkahnya tajam. Apakah dia akan menyikap bulu lebatku dan memegang perutku? Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak bisa membayangkan dia akan menghabisi anakku ketika dia tahu kalau ini adalah hasil hubunganku dengan kucing kampung itu. Kucing kampung si merah tembaga itu…
Kukenal Doris adalah gadis yang bisa melakukan apa saja sesuai kehendaknya.

Tanpa pikir panjang sebelum dia sampai dan memegang perutku, aku berbalik ke arah pintu dan berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Tak kuhiraukan teriakan Doris. Ku lari semakin kencang. Kencang dan kencang. Sampai aku lupa aku belum makan selama 3 hari. Lupa sampai tidak menghiraukan duri-duri yang menancap di kakiku selama aku lari. Hingga sampai di sebuah gubuk tua di sebelah pabrik gula yang tidak terpakai ini lagi.

Aku sudah tidak tahan. Sakit sekali. Sakit di badanku. Sakit di kakiku. Sakit di perutku. Ku meringkuk dengan menahan sakit malam ini sendirian. Sayup-sayup aku mendengar seperti ada yang datang. Ini pasti malaikat, pikirku. Aku keberatan malaikat akan mencabut nyawaku sekarang. Setidaknya tunggu beberapa saat lagi sampai aku melahirkan anakku. Setelah itu, aku pasti tidak keberatan.

Mataku tidak bisa kubuka. Aku mencium bau anyir darah sekarang. Dekat sekali. Menyengat sekali. Apakah darahku? Perasaan aku belum melahirkan sekarang. Lalu darah siapa?
Sesuatu jatuh tepat di sampingku. Kucoba membuka mata, walau sedikit.
Hah? Ternyata dia si kucing kampung merah tembaga itu. Kenapa dia? Gemetar tubuhku, kutelan ludah dengan susah payah. Kucoba meraihnya. Kujulurkan lidahku. Kucoba menjilat darah di tubuhnya. Tapi tidak bisa, ini terlalu banyak. Terlalu banyak darah di tubuhnya. Apakah ini perbuatan manusia? Sungguh, ini tidak adil baginya. Dia harus bertaruh nyawa hanya untuk sedikit merasakan makanan masuk ke tenggorokannya.

Tubuhnya kurasakan mulai dingin dan kaku. Manusia memang kejam!

Ku merasa sedikit demi sedikit tubuhku mulai ringan. Ringan dan melayang. Tinggi dan semakin tinggi. Kulihat ke bawah ada dua sosok putih dan merah tembaga diam tak bergerak. Dua sosok yang seolah sedang berpelukan. Ah, bukan dua, tapi tiga! Tiga sosok! Tapi sosok yang ketiga ini berbeda. Sosok berwarna putih kemerah-merahan ini memang berbeda. Dan mulai bergerak!

Jatibarang, 2016

Cerpen Karangan: Wastianingsih
Blog: ceritawastia.wordpress.com
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

Judul Cerpen Sahabat Sejati

Pada zaman dahulu kala hiduplah 3 ekor kucing yang hidup bersama sejak kecil. Walaupun mereka tidak bersaudara, tetapi mereka sudah seperti saudara karena setiap hari mereka selalu hidup bersama-sama dengan aman, tentram, dan rukun. Mereka adalah Puput, Bibi, dan Tintin. Puput adalah kucing yang paling cantik di antara Bibi dan Tintin, tetapi Puput tidak berhati sombong dan keras kepala justru Puput adalah kucing yang baik. Walaupun Bibi dan Tintin tau bila Puput lebih cantik dari mereka tetapi mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Puput, Bibi dan Tintin selalu menjalani hidup bersama maupun senang ataupun duka. Mereka bertiga hidup dengan berprinsip perbedaan tidak menjadi masalah dan halangan untuk mereka selalu bersama dalam ikatan persahabatan.

Pada suatu hari Puput, Bibi dan Tintin sedang berjalan-jalan bersama mengelilingi hutan, tiba-tiba mereka bertemu dengan seekor harimau yang sedang lapar dan terkenal ganas. Seketika Puput, Bibi, dan Tintin melihat harimau itu mereka langsung melarikan diri dan kabur dengan berlari. “Lari.. Bibi, Tintin cepat lari!!” desah khawatir Si Puput pada sahabat-sahabatnya. Harimau yang mengetahui keberadaan Puput, Bibi, dan Tintin langsung mengejar ke arah mereka berlari dengan cepat sambil mengaum agar tidak kehilangan mangsanya. “Garrghhhh! Mau lari kemana kalian kucing-kucing bodoh! Ha ha ha!”. Pada saat Puput, Bibi, dan Tintin berlari, tiba-tiba Bibi terperosok ke dalam lubang yang tidak terlalu dalam.
“Tolong! Tolong! Puput!! Tintin!! Tolong aku!”. Puput da Tintin yang mendengar suara Bibi meminta tolong itu langsung berhenti berlari dan menolong Bibi. “Bibi!!”. Ujar Puput dan Tintin. Kemudian Bibi berkata “Puput! Tintin! tolong aku! Aku takut berada di sini! Aku takut menjadi mangsa harimau itu”.
Kemudian Tintin berkata “Tenang saja Bibi, kami berjanji akan membantumu! Aku akan mencari tali untuk menarik Bibi dari lubang itu. Puput! Jaga dan temani Bibi dan tetap berada di sini!”. “Baik! Aku berjanji akan menjaga dan menemani Bibi di sini sampai kau datang Tintin! jangan khawatir Bibi!”.

Tak berapa lama kemudian si harimau ganas itu menemukan Puput dan Bibi yang sedang berada di dalam lubang itu. Dan harimau pun berkata “Garghhhhh! Mau lari kemana kamu kucing-kucing bodoh! Aku sudah tidak sabar menahan lapar di siang hari yang amat panas dan terik ini! Ha ha ha! Sekarang aku mendapat dua ekor kucing siang ini! Pasti sampai nanti malam aku akan merasa kenyang!” Puput yang terkejut melihat kehadiran si harimau ganas itu langsung pergi meninggalkan Bibi yang sedang berada dalam lubang itu. “Maafkan aku Bibi! Aku harus pergi untuk menyelamatkan diriku dari harimu ganas itu!” desah suara Puput dalam hati dan langsung berlari meninggalkan Bibi. Bibi pun langsung berkata “Puput jangan tinggalkan aku sendiri di sini! Teganya kau menyelamatkan dirimu sendiri daripada saahabatmu dari kecil ini!

Harimau yang tahu Puput berlari meninggalkan Bibi sedikit merasa kecewa karena hanya tinggal seekor kucing santapannya siang hari ini!. “Dasar kucing Bodoh! Tapi tak apa masih ada kau kucing malang! Siap-siap kau menjadi santapan makan siangku! Ha ha ha! Arghgghhhh!”. “Tidak!!!! Aku tidak mau menjadi santapanmu harimau licik! Ujar Bibi dengan suara melasnya.

Kemudian, datanglah Tintin yang mengetahui kejadian itu sambil membawa tali langsung mengikat kaki harimau itu dan mencoba menariknya, namun Tintin tidak kuat untuk menarik kaki harimau itu untuk menjauh dari arah Bibi. Harimau yang merasa kakinya terikat oleh Tintin langsung menghempaskan Tintin ke belakang dan mencoba menghampiri Tintin sambil berkata “Hey Kucing Jelek! Mau apa kau menarikku kau tidak akan kuat menarikku! Apa kau? Teman dari kucing malang itu? Ha ha ha! Jika kau memang teman kucing malang itu, aku akan memangsamu juga Kucing yang malang!!”.
Tintin yang tahu bahwa dirinya akan dimangsa harimau itu pun langsung berlari untuk melarikan diri dan mencoba untuk memancing amarah Harimau ganas itu. Harimau ganas itu segera melepas tali Tintin di tengah jalan dan berlari mengejar Tintin.

Tibalah Tintin di sebuah jurang yang di bawahnya adalah sungai yang mengalir sangat deras. Tiba-tiba harimau berkata “Ha ha ha! Mau coba-coba kabur dariku ya kucing bodoh! Jangan harap kau bisa lepas dariku! Arghhgg!” Tintin pun berkata “Seharusnya kau yang jangan harap bisa memakanku Harimau Bodoh!.” “Arghhh, tidak usah banyak bicara kamu kucing malang, aku akan segera memakanmu! Harggggh…!” lanjut harimau, dan langsung menyergap tubuh Tintin. “Jangan Harap harimau!!!” ujar Tintin sambil mengelak dari Harimau itu. Harimau itu justru tercebur ke dalam sungai di bawah jurang itu. Tintin yang berhasil mengalahkan Harimau pun tersenyum dan berkata “Dasar harimau bodoh! Kasihan kamu tidak bisa seberuntung aku! Dasar Harimau yang Malang!

Setelah Tintin berhasil mengalahkan Harimau itu, Tintin langsung pergi berbalik arah untuk menuju ke arah Bibi dan menolongnya. Di tengah perjalanan menuju Bibi, Tintin teringat pada tali yang dilepas harimau itu, Tintin langsung berlari mencari tali tersebut, hingga akhirnya ketemu.

Setelah tali itu ketemu, Tintin langsung menghampiri Bibi dan berusaha menolongnya. “Bibi, ambil tali ini dan aku akan menarikmu dari sini”. Ujar Tintin. Bibi pun langsung menjawab “Baik Tintin, Terima kasih kau telah menolongku”. “Sama-sama Bibi, kau kan temanku. Jadi wajar aku menolongmu. Oh ya dimana Puput?” Tanya Tintin pada Bibi. “Puput melarikan diri dan meninggalkan aku sendir di sini!” Jawab Bibi dengan jujur. “Apa?!! Puput meninggalkan kamu, padahal aku kira dia teman yang baik, tapi dia lebih memilih dirinya sendiri dari pada sahabatnya?” Ujar Tintin kesal sambil menatap ke arah Bibi. Bibi pun menjawab “Sudahlah Tintin, ini semua sudah terjadi. Mungkin Puput merasa takut saat itu. Wajar dia meninggalkanku”. “Ah! sudahlah Bibi, tak usah kita pikirkan Puput, lebih baik kita pulang sekarang!” ujar Tintin pada Bibi.

Sampailah Bibi dan Tintin di rumah, mereka melihat Puput yang sedang sedih. Bibi dan Tintin menghampirinya. “Hey, Puput teganya kau tinggalkan Bibi dalam keadaan yang seperti itu! apa kau tidak kasihan bila Bibi menjadi santapan harimau saat itu?” tanya Tintin pada Puput dengan keadaan marah.Puput pun berkata “maafkan aku Bibi, aku tak sengaja meninggalkanmu sendiri. Aku terkejut dan langung lari, padahal aku ingin menolongmu, tapi aku tiak bisa. Maafkan aku Bibi, Tintin!”. “Tidak apa-apa Puput, kami mengerti keadaanmu uga saat itu, maafkan aku juga saat itu, karena aku merepotkanmu.” Ujar Bibi dengan melas. “Tidak, itu salahku Bibi!” Lanjut Puput. “Sudah-sudah, ini semua tidak usah dijadikan masalah bagi kita, biarlah yang lalu berlalu. Kita ini kan sahabat, suka dan duka kita lalui bersama” Ujar Tintin kepada Kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga lalu berpelukan dan Puput berjanji tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi. Mereka pun bahagia dan tersenyum bersama.

TAMAT.

Cerpen Karangan: Ithing Imatus Sholiha
Facebook: Imatus Sholiha
Salah Paham

Salah Paham

Judul Cerpen Salah Paham

Pada suatu hari, hiduplah seekor Kelinci di suatu taman. Ia hidup bersama-sama dengan Kucing, Kucing adalah sahabatnya yang sangat setia.

“Mengapa aku sering terkena penyakit seperti ini?” Ucap si kelinci sambil menyelimuti dirinya di kamarnya, “Kucing!” Panggil Kelinci melompat ke arah Kucing. “Apa kita akan bermain lagi?” Tanya Kelinci “Tentu saja, sebaiknya kita segera bermain!” Ajak Kucing, Mereka dengan senang kembali bermain bersama-sama. “Hai, Kucing! Mengapa kau tidak mengejarku lagi?” Tanya si Kelinci “Aku sangat lelah, Kelinci. Maafkan aku! Mungkin lain kali saja,” Kata Kucing. Kelinci yang sedih segera meninggalkan Kucing sendiri, Kelinci memakan wortel yang sudah tersedia untuk dirinya.

Tak lama, si Kelinci mendengar tawa bahagia dari beberapa binatang. Kelinci yang penasaran segera menghampiri arah suara itu, “Wah seru sekali!” Seru Kucing berlompat-lompat dengan binatang yang lainnya. “Kucing! Mengapa kau bermain dengan yang lain?” Tanya Kelinci menghampiri Kucing, sang Kucing pun memberhentikan permainannya.

“Aku ingin bermain dengan mereka, Kelinci.” Ujar Kucing “Mulai sekarang aku tidak akan bermain denganmu lagi,” Kelinci berucap dan segera meninggalkan taman, ia terus bersedih dan marah atas perbuatan Kucing.

Keesokan harinya, Kelinci yang masih sakit terus menerus batuk dan bersin. “Seandainya, Kucing di sini, ia tentu akan membantuku,” Kata Kelinci. “Tapi, aku yakin aku dapat melakukannya sendiri,” Dengan penuh semangat Kelinci merasa dirinya dapat menyelesaikan semua masalah sendiri. Ketukan pintu terdengar di telinga Kelinci, dengan cepat Kelinci membukakan pintu untuk tamunya. “Hei, Kelinci! Kau harus mencari kayu di tebing, kau tidak bisa terus bersantai dalam pekerjaanmu” Ucap sang Kupu-kupu “Baiklah, Kupu-kupu,” Kata si Kelinci bergegas menuju tebing.

“Apakah aku dapat melompat sejauh itu? Jika Kucing disini dia akan membantuku,” Ujar Kelinci, lagi-lagi Kelinci berpendapat semua dapat ia lakukan sendiri “Aku akan melakukannya sendiri!” Ucap sang Kelinci, ia melompat menuju tebing yang lebih rendah dari sebelumnya. Namun, ia tidak bisa sehingga ia memejamkan matanya ketakutan.

Saat ia membuka matanya ia mendapati dirinya masih di tebing, “Hai, Kelinci! Peganglah erat tanganku dan menaiklah ke tebing lagi!” Ujar Kucing memegang Kelinci. Kelinci pun menuruti ucapan Kucing, akhirnya Kelinci pun berhasil menaik. “Sedang apa kau disana, Temanku?” tanya Kucing “Aku yakin aku dapat bekerja sendiri,” Kata Kelinci “Oh, Kelinci! Aku bersedia membantumu kapanpun,” Ujar Kucing “Aku rasa tidak! kau bermain dengan yang lain sedangkan jika bersamaku kau selalu mengatakan jika kau lelah,” Kata Kelinci tidak memandang Kucing “Temanku! aku mengatakan lelah karena kau sedang sakit, aku ingin kau beristirahat. Jika aku tidak mengatakan aku lelah, kau tidak akan berhenti bermain.” Kata Kucing “Benarkah?” Tanya Kelinci “Ya, temanku!” Kata Kucing “Maafkan aku atas kesalahpahamanku, Kucing!” Ujar Kelinci memeluk Kucing.

“Lain kali kau harus berfikir positif tentang seseorang, dan kau tidak boleh berbohong pada dirimu jika kau tidak bisa melakukan sesuatu,” Ucap Kucing “Terima kasih banyak, Kucing!” Ujar Kelinci, Mereka pun kembali bermain bersama.

Cerpen Karangan: Sabilla
Facebook: Siti Sabilla Nursofa
Kisah Monyet Menjadi Raja

Kisah Monyet Menjadi Raja

Judul Cerpen Kisah Monyet Menjadi Raja

Pada hari itu, penghuni hutan sedang bersedih. Karena mereka telah kehilangan sang pemimpin raja Singa. Sang raja Singa mati karena dibunuh oleh pemburu, Mereka pun segera bermusyawarah tentang siapakah yang berhak menggantikan sang raja singa.

“Bagaimana ini, raja singa telah terbunuh, sekarang tidak ada lagi yang memimpin kita” keluh tikus.
“tenang tikus, kita pilih saja di antara kita yang paling kuat, paling berani dan mampu menghadapi pemburu” kata kancil menenangkan tikus, Para penghuni hutan pun mencalonkan masing masing diri mereka sebagai binatang yang lebih pantas untuk menjadi raja, tiba tiba…

“Diam… sebaiknya aku saja yang menjadi raja, tubuhku memang kecil, tapi aku punya cara untuk menghadapi pemburu, jadi siapa yang mendukungku menjadi raja?” kata monyet mencalonkan diri.
Segera saja semua penghuni hutan setuju dan mengangkat monyet sebagai raja, berita pun tersebar luas hingga seluruh hutan.

Waktu pun berlalu, tapi sang “Raja Monyet” bukannya membawa kedamaian, justru membawa malapetaka bagi seluruh penghuni hutan, karena mereka sudah tidak tahan lagi akan perilaku monyet yang semena mena itu, mereka segera melaporkannya kepada kancil.

Ketika kancil mengetahui semua yang terjadi, maka segeralah kancil untuk menyusun rencana guna menjebak monyet guna menyadarkannya, yaitu monyet disuruh datang ke depan pintu goa. Sebelumnya, telah dikatakan kepada monyet, bahwa pesta besar telah dimulai, di sana (di depan pintu goa) telah disediakan bertandan-tandan pisang khas untuk monyet.

Pada hari yang telah ditentukan, datanglah sang “Raja Monyet” ke depan pintu goa, benarlah apa yang dikatakan kancil. Segeralah monyet ke tumpukan pisang, namun apa yang terjadi? monyet terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam, monyet pun berteriak meminta tolong.
“Tolong… tolong aku…!” jerit monyet, tetapi para penghuni hutan mengabaikannya dan meninggalkannya sendirian di dalam lubang, akhirnya monyet pun sadar dan berjanji bahwa dia tidak akan lagi bersikap sombong dan semena mena.

Cerpen Karangan: Adetya Fadlur Rahman
Facebook: Adetya Fadlul Rahman
Kisah Semut Dan Belalang

Kisah Semut Dan Belalang

Judul Cerpen Kisah Semut Dan Belalang

Pada suatu pagi, terdapat segerombolan semut yang sedang bekerja mencari makanan di dalam hutan. Mereka sangat bersemangat dalam bekerja karena musim kemarau akan segera tiba. Pada saat sedang bekerja, sang raja semut bertemu dengan belalang. ketika itu, si Belalang sedang asyik bermain musik.

Raja semut pun bertanya kepada belalang. “Wahai belalang, mengapa kamu justru bermain musik? apakah kamu tidak mengetahui bahwa musim kemarau akan segera tiba?”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya belalang.
“Kamu harus mencari makanan dan minuman, karena bila musim kemarau telah tiba, semua tanaman akan mati, kamu juga tidak akan bisa mencari air. karena semua air akan akan mengering, jadi, kamu harus mempersiapkannya mulai sekarang, agar nanti kamu tidak menyesal.” kata sang raja semut mengingatkan.
“Buat apa aku harus melakukannya, musim kemarau kan masih lama, hanya saja kau yang terlalu bersemangat semut, sudahlah, percuma saja aku berbicara denganmu” Si belalang pun akhirnya pergi meninggalkan raja semut.

Waktu pun berlalu, tak terasa musim kemarau telah tiba. si belalang bingung hendak mencari makanan kemana lagi, karena tidak ada satu pun tanaman yang ia temukan melainkan semuanya telah mati.

Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya semut, ketika ia telah sampai di rumahnya semut, ia telah pingsan karena saking lapar dan hausnya. Untunglah saat itu, ada salah satu semut yang menemukannya dan dibawalah si belalang ke dalam rumahnya, setelah si belalang sadar, ia dijamu dengan berbagai macam buah-buahan dan minuman oleh sang raja semut dan seluruh rakyatnya.

Akhirnya, si belalang pun sadar dan berjanji, bahwa mulai saat ini ia akan lebih giat dalam bekerja dan tak akan bermalas malasan.

Cerpen Karangan: Hengky Fairuz Bustomy
Facebook: Hengky Fairuz Bustomy
Gajah dan Buaya

Gajah dan Buaya

Judul Cerpen Gajah dan Buaya

Pada suatu hiduplah seekor gajah dan kawanannya di sebuah hutan yang sangat besar dan lebat. Ketika hari menjelang siang, gajah itu pergi mencari makanan dan minuman. Sang gajah merasa sangat haus, lalu gajah itu menuju sungai di hutan itu untuk minum.

Ketika gajah sedang minum air di sungai itu, datanglah seekor buaya, buaya itu ingin menggigit belalai gajah. Gajah tidak menyadari hal tersebut sedangkan buaya semakin mendekat dan “AAAA” gajah berteriak merasa kesakitan, Buaya menggigit belalai gajah. “Tolong lepaskan aku, aku janji jika kau melepaskan aku maka aku akan membalas budimu” kata gajah memohon. Lalu buaya itu menjawab “Baiklah aku akan melepaskanmu, tapi ingat jangan pernah datang kesini dan minum air disini karena ini adalah kawasanku, kau mengerti, dan aku tidak percaya bahwa kau bisa membalas budi.. pergilah!!! Sebelum aku berubah pikiran” setelah mendengar ucapan buaya, gajah itu segera pergi meninggalkan buaya.

Beberapa hari kemudian, ketika gajah sedang mencari makan, ia mendengar suara. “Sepertinya aku mengenal suara itu” kata gajah di dalam hati. Kemudian gajah mengingat bahwa itu adalah suara buaya. Lalu gajah mencari dari mana suara itu berasal, tak lama kemudian, akhirnya gajah menemui dari mana suara buaya berasal. Ia melihat buaya sedang dalam bahaya. “Buaya sedang menghadapi pemburu, apakah aku harus membantunya. Jika aku membantunya maka nyawaku juga bisa terancam, lebih baik aku tidak usah membantunya” kata sang gajah.

Ketika gajah ingin pulang ia mengingat kejadian waktu ia bertemu buaya dan ia mengingat janjinya dan juga ia mengingat bahwa buaya tidak percaya gajah akan membalas budi, “aku sudah berjanji pada buaya, tapi buaya tidak mempercayaiku, tapi aku harus menolongnya dan membuktikan bahwa aku bisa melakukan apa yang baginya tidak mungkin aku lakukan. Tapi bagaimana caranya?” Kata gajah di dalam hati

Gajah memikirkan suatu ide, kemudian dia pulang ke tempat dia dan sekawanannya tinggal. Gajah meminta kawannya untuk membantunya, sebelum itu gajah menceritakan pertemuan awalnya dengan buaya, setelah mendengarkan cerita gajah, ada seekor gajah berkata “mengapa kau ingin membantunya dia sudah jahat padamu”. “iya itu betul” kata gajah yang lain. Lalu sang gajah menjawab, tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan bukan? Lagi pula waktu itu dia sudah melepaskan aku. Setelah mendengar itu semua gajah berkata “ya, kami akan membantumu”

Lalu semua gajah itu datang ke tempat buaya. lalu gajah itu melawan pemburu, sampai akhirnya pemburu itu pergi. Akhirnya sang buaya berhasil diselamatkan. “Terima kasih gajah kau sudah menyelamatkan aku” kata buaya.”ya sama-sama” jawab buaya

Sejak kejadian itu buaya dan gajah hidup rukun dan saling tolong menolong, dan mereka menjadi sahabat dekat.

TAMAT

Cerpen Karangan: Cindy C
Lani

Lani

Judul Cerpen Lani

Dikisahkan ada seekor kucing bernama Lani, ia tinggal bersama majikannya di daerah perkotaan padat penduduk. Lani kucing yang manja dan disayang oleh Rani sang majikan. Pada suatu hari Rani harus pergi dan meninggalkan Lani. Lani sedang memandang ke luar jendela, kendaraan berjajar jajar, orang orang berlalu lalang mengerjakan pekerjaan masing masing. Disanalah Lani juga melihat kucing seperti dirinya, namun lebih bebas pergi kemanapun yang ia suka dan ia mau. Sejenak Lani berpikir ingin seperti kucing itu, namun lamunanya terbuyarkan atas bayang bayang Rani “Yeah, aku harus tetap disini demi Rani”

Hari demi hari sikap Rani berubah, ia lebih sering ke luar rumah dan mulai mengabaikan Lani. Dan hari itu tiba, disaat Rani membawa Clauni, kucing kecil yang lucu itu untuk tinggal bersama denganya. Perhatian Rani selalu pada Clauni dan itu membuat Lani… IRI. Lani membulatkan tekat untuk pergi dari rumah “Toh, aku pergi atau tidak tak masalah. Sekarang ada Clauni dan aku tak perlu mengkhawatirkan Rani” gumamnya

Kesempatan itu tak disia-siakan Lani, Rani pergi untuk membawa Clauini cek ke Dokter sementara Lani pergi meninggalkan rumah. “Ternyata begini ya rasanya hidup bebas, kalau tau seperti ini rasanya aku akan pergi dari dulu” gumam Lani

Tiba tiba Lani merasa perutnya lapar, ia melihat se ekor kucing kucing mengais sampah untuk mendapat makanan. Di tikungan jalan selanjutnya Lani mempraktekan apa yang telah ia lihat tadi.
“Halo manis, sedang apa kau disana?”
“Oh, hey. Aku sedang kelaparan dan aku sedang mencari makan”
“Kalau begitu pergilah!! Ini daerah kekuasaan kami, kau tidak boleh seenaknya mencari makan disin!!”
“Tapi….”
“PERGI!!”

Lani berjalan gontai meninggalkan tempat itu, ia tak ingin terlibat dalam semua kegilaan ini. Ia begitu lemas hingga menabrak kucing lain
“Oh maafkan aku”
“Mari menepi”
“Ada apa?”
“Kau sudah makan? Apa kau sakit? Dari mana kau berasal?”
“Aku memang belum makan, mungkin sedikit lemas dan aku berasal dari rumah sebelah toko roti di seberang jalan”
“Ya sudah ini makanlah, tadi aku sudah makan”
“Terimakasih”

Lani begitu berterimakasih pada kucing jantan ini, ia begitu baik padanya “Hey tunggu…”
“Ada apa? Kau masih kurang sehat?”
“Bukan. Siapa namamu?”
“Aku tak punya nama, karena aku bukan kucing rumah sepertimu.”
“Oh, ayolah apa temanmu tak pernah memanggilmu?”
“Aku tak pernah punya teman!!!”
“Ayolah jangan tersinggung seperti itu…”
“Mau… Jadi temanku?” kata Lani melanjutkan
“Kenapa? Maksudku, kenapa kau ingin menjadi temanku?”
“Karena aku tak punya teman, dan kau kucing yang baik”
“Kau tak tau masa laluku…”
“Hey… Biar masa lalumu jadi milikmu dan masa laluku akan menjadi milikku. Sekarang yang terpenting kita harus memulai semua dari awal. Oke!!”
“Hmmm…. Baiklah”
“Panggil aku Lani dan kau… Blacki”
Pertemanan mereka dimulai dari sini dan entah berakhir dimana, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Blacki selalu mengajari Lani tentang segalanya, tentang semua yang harus diketahui untuk hidup di dunia yang luas ini dan tentang semua kemungkinan yang akan terjadi.

Hingga suatu hari… Blacki tak sanggup, tak sanggup… Melakukan ini… Lagi…
“Lani… Ini salah”
“Maksudmu?”
“Ya, ini salah semuanya salah pertemanan kita, dunia ini. Ini semua salah”
“BLACKI…!!!”
“Kau harus kembali Lani, dunia ini… Semuanya… Ini terlalu sulit untuk kucing cantik sepertimu”
“Oh, ayolah. Jangan mulai lagi”
“Kau harus kembali Lani”
“Tidak, aku tak ingin meninggalkanmu”
“Kalau kau tak ingin pulang, aku yang pergi!!”
“Yayaya, kali ini aku menyerah. Ok, aku akan pulang”
“Kapan?”
“Tapi…”
“Tapi apa?”

Pagi ini akan menjadi hari yang panjang bagi Blacki “Yeah, Ini demi Lani” tekadnya

“Hey, Balcki… Kita akan kemana?”
“Ke tempat yang indah”
“Ya aku tau, tapi apa? Air terjun, pegunungan, taman, pantai atau apa?”
“Sudahlah, mari kita pergi”
Sejujurnya Blacki tak tau harus kemana. Namun ia terus tersnyum, menandakan bahwa semua akan baik baik saja.

Hari mulai petang dan mereka terus berjalan, berjalan dan hanya berjalan. Hingga sesuatu menghentikan mereka.
“Blacki… Mungkinkah ini yang kau maksud ‘TEMPAT INDAH’ itu?”
Blacki menatap sekeliling, mengedarkan pandangan ke segala arah “ya” jawabnya

“Lani… Kau pulang sekarang?”
“Entahlah”
“Kau akan pulang esok, malam ini kita akan menginap di sini”

Yeah, besok Lani akan pergi. Pergi dari dunia yang keras ini, kembali pada dunianya, pada… Rani “Semoga Rani… Baik baik saja”

Dan sekarang, telah 7 hari dari kejadian itu… Kejadian yang merenggut nyawa Blacki. Rani sendiri, berjalan tak tentu arah dihantui kata kata terakhir Blacki
“Rani pulanglah dunia ini terlalu keras untukmu. Sekarang… Tak ada lagi… Yaaaa…ng menjagamu. Pulanglah!!! Pulanglah!!!”

“Apa salahnya menuruti temanku untuk yang terakhir kalinya”

Di dalam perjalanan pulang ia memikirkan segalanya, memikirkan Blacki Rani dan semua yang telah ia lalui selama ini. “Apa keputusanku waktu itu salah?”

Lani bingung apa yang akan ia lakukan sekarang, berdiri di rumah Rani tanpa tau apa yang akan ia lakukan. Mengintip dari jendela… Ya itu ide yang bagus.

“Tunggu… Di mana Rani? Apa yang terjadi hingga orangtuanya datang ke mari? Ada apa ini? Apa semua baik baik saja?” batin Lani

“Halo manis”
“Kau…? Kucing yang itu…”
“Memang, dari mana saja kau? Banyak kejadian setelah kepergianmu”
“A… apa yang terjadi?”
“Majikanmu, Rani… Setelah pulang ke rumah ia sibuk mencarimu, ia pulang membawa boneka persis seperti yang kau suka. Dan setelah tau kau hilang…”
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi…?”
“Ia menyuruh seseorang mencarimu, seharian ia menangis memeluk boneka itu sampai sampai Clauni yang malang tak dihiraukan oleh Rani. Dan esok hari ia mencarimu, memanggil namamu membawa bonekamu dan lonceng kecil kesayanganmu. Lalu…”
“Lalu?”
“Mungkin ia tampak sedih dan tak menghiraukan apapun… Ia tertabrak mobil saat ia menyeberang”
“Kau bohong… PEMBOHONG!!!”
“Baiklah coba periksa tong sampah itu”
“Tidak dia pasti berbohong, aku yakin itu… Rani katakan dia berbohong”

Deg
“Ini tak mungkin…” teriaknya
“Ini salahku, semuanya karenaku, andai aku tak egois seperti ini, aku pasti tak kan kehilangan Rani, tak kehilangan Blacki dan semua akan baik baik saja. Aku penjahatnya AKU…!!”

Tiiin…..!! Tiiin….!! Ciiit…!!! BRUAK…!!!!

“Oh… Kucing yang malang….!!!”

Cerpen Karangan: Daffa Zerlina Alda
Penyesalan Ibu Gajah

Penyesalan Ibu Gajah

Judul Cerpen Penyesalan Ibu Gajah

Pada suatu hari, Di hutan Afrika, ada sebuah keluarga gajah. Keluarga tersebut terdiri dari Ibu Gajah, Ayah Gajah, Dan seekor anak gajah yang bernama Olive.

Esoknya, ibu gajah melahirkan seekor anak gajah lagi yang diberi nama Oline. 1 Minggu sejak kelahiran Oline, ayah gajah meninggal dunia. Semua hewan turut bersedih.

1 bulan sejak Ayah gajah meniggal, sekarang ibu gajah tidak pernah memerhatikan Olive. Ia selalu sibuk mengurus Oline. Ibu gajah juga tidak mengurus Olive. Ia sama sekali tidak memperhatikan dan mengurus Olive.

Olive pun kesal pada ibunya. Ia lalu ke luar rumah, dan meminum air di danau. Olive tidak tahu kalau danau itu penuh buaya yang ganas-ganas. Ditengah Olive Meneguk air danau tersebut, TIBA-TIBA… Keluarlah buaya ganas. Ia ingin memangsa Olive. Olive pun berusaha menyelamatkan diri. Malang, Olive hanya tinggal kerangka tubuhnya. Kejadian tersebut dilihat oleh Zebby, anak zebra.

Zebby langsung menuju rumah Olive.
“Ibu gajah” panggil Zebby.
Ibu gajah ke luar rumah.
“Iya, oh Zebby. Ada apa?” tanya ibu gajah Ramah.
“Tadi Zebby lihat, Olive minum air di danau CRODILE, tiba-tiba Olive dimakan oleh Buaya ganas namanya Bhaya. Tubuh Olive sudah habis ia makan hanya tersisa Tulang saja. Kalau tak percaya, ayo ikut Zebby” jelas Panjang lebar Zebby sambil mengajak ke danau Crodile.

SESAMPAI DI DANAU CRODILE…
“OLIVE…” teriak ibu gajah sangat kencang.
Ibu gajah mendekat ke tulang anak sulungnya itu.
“Zebby, apa benar ini jasad Olive?” tanya Ibu gajah sambil menangis sangat deras.
Zebby mengangguk sambil menunjukkan mimik wajah sedih. Zebby juga sedih karena kehilangan Sahabatnya. Memang Zebby dan Olive berteman sejak lama.

Tiba-tiba, ibu gajah dan Zebby melihat cahaya yang seperti Olive.
“Hallo bu, Zebby. Ibu, maafkan Olive yang selalu merepotkan ibu. Ibu sekarang tidak pusing lagi, kan harus mengurus Oline Atau Olive. Untuk Zebby, maaf aku meninggalkanmu. Meskipun kita beda alam, persahabatan kita tidak akan Luntur, ya.. aku akan menyusul ayah disana. Jaga baik-baik, ya bu Oline-nya. Dadah” kata Olive. Setelah berkata seperti itu, Olive menghilang entah kemana.
“OLIVE!!!” teriak ibu gajah dan Zebby.
“Maafkan ibu karena tidak merawatmu semenjak ada Oline. Ibu berjanji akan merawat Oline. I LOVE YOU, OLIVE” ujar ibu gajah sambil menangis deras sekali.

TAMAT

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: alya Aniza
Backyard’s Trapped (Part 1)

Backyard’s Trapped (Part 1)

Judul Cerpen Backyard’s Trapped (Part 1)

Rio mengejarku. Aku lebih senang bermain kejar-kejaran daripada bermain gulat dengannya. Aku selalu berhasil mencapai finish duluan. Meski umur kami sudah 5 bulan, tapi kami tak pernah sekalipun terpikirkan untuk berpisah. Ibu selalu berkata, “Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Dunia sudah semakin kejam”.

Hingga suatu hari ibu datang dengan ikan pindang di mulutnya dan tubuh penuh luka. Ini pasti ulah manusia jahat. Kata ibu manusia ada yang baik dan jahat. Manusia jahat lebih buruk daripada domba-domba jahat yang kabur dari tuannya, begitu yang aku dengar dari ibu. Aku tak mengerti maksudnya. Ada pula di antara mereka yang alergi dengan kami. Ada-ada saja.

Kembali ke topik. Makanan datang tapi ibu pergi. Pergi untuk selamanya. Ibu pergi saat aku dan Rio belum pernah mencari makan sendiri. Kalau aku boleh berdoa, aku lebih menginginkan ibu daripada ikan pindang di mulutnya!

Sejak saat itu, aku dan Rio sepakat untuk bermain-main hanya di atas atap rumah-rumah saja. Kami takut nasib kami berakhir seperti nasib ibu. Hanya sesekali turun ke daratan untuk mencari makan di tempat sampah atau di jalan yang penuh dengan sampah berserakan. Beruntung sekali kami ketika manusia penyapu jalan tidak segera membersihkan sampah-sampah jalanan itu. Tapi harus kuakui manusia kini semakin pelit. Tempat sampah saja ditutup dengan benda berat di atasnya. Mereka bilang itu tutup-tempat-sampah or whatever. Kucing-kucing liar seperti kami sering menyerah dengan tempat sampah semacam ini. Di antara kami ada yang bersikeras mengenyahkan penutup menyebalkan itu dengan menyeruduk tampat sampah. Itu pun dilakukan tengah malam. Tentunya kami tak ingin berakhir lapar dan penuh luka akibat pukulan sapu manusia.

Namun aku dan Rio sering melupakan rasa lapar dengan bermain kejar-kejaran. Tentunya tetap di atas atap. Beberapa atap sudah kulompati. Rio masih mengejar di belakangku. Satu dua genteng terkadang bergeser dari tempatnya. Menghasilkan suara keretak yang kusukai. Manusia di dalam rumah marah-marah. Aku tidak peduli. Hap. Aku melompat sekuat tenagaku. Kurasa kali ini aku salah perhitungan.

Aku terjatuh di daratan beralaskan keramik kasar. Sepertinya keramik ini berumur tua karena terdapat banyak bintik-bintik hitam di sudut maupun bagian tengahnya. Kalian dapat membayangkannya? Kuhaturkan rasa syukur kepada Maha Pencipta karena aku terlahir sebagai kucing. Lihatlah! Aku terjatuh tapi aku masih sempat memikirkan tentang keramik-keramik tak penting itu. Aku tak terluka meski terjatuh dari atap yang tinggi! Kalian bertanya tentang tulang-tulangku? Tetap berada pada posisi mereka. Itu semua karena jenis kami punya posisi siap-sedia otomatis sebelum mendarat.

“Vio! Kau tak apa?”
“I’m okay Bro. Tapi aku tak bisa naik ke atas lagi. Semuanya dikelilingi dinding dan tak ada pohon disini”.
Rio terdiam. Aku melihatnya sedang duduk di pojokan atap. Diam tak bergeming.
“Hai Rio! Sedang apa kau? Lekas bantu aku!”
“Hush. Aku ya sedang berfikir ini”.
Dia mengangkat kakinya sebelah. Sepertinya aku mengenal posisinya ini. Dia menyemprotkan air seninya ke arah dinding rumah sebelah. Sudah kuduga.
“Hehe. Aku sedang berfikir apakah kutandai daerah ini sebagai wilayahku atau tidak. Habis enak sih disini. Pemandangannya lumayan bagus” Rio mengatakannya sambil nyengar-nyengir sendiri. Mendadak aku menjadi jijik melihatnya. Dasar jantan. Mau seberapa banyak lagi wilayah yang akan dia tandai sebagai wilayahnya.
“Cepat cari cara agar aku bisa ke luar dari tempat ini!”
“Apa kau tak lihat? Di belakangmu sepertinya ada jalan”.
“Iyakah?”

Terdengar pintu terbuka. Suara sandal mengarah ke arahku tepat ketika aku baru sempat melihat jalan yang dimaksud Rio. Badanku menggigil. Manusia! Aku harus waspada.
“Di sebelah kirimu! Ada lubang. Masuklah kesana!”
Aku segera menuruti perkataan Rio, yang mungkin saja terdengar seperti meongan tak jelas di telinga manusia.

Untung saja. Sekarang aku sudah berada di dalam sebuah ruangan sempit. Aku berada di jalan buntu! Aku mulai panik. Bagaimana jika manusia itu menemukanku. Ah, mereka pasti bisa menemukanku. Manusia kan punya otak pintar.

Suara langkah sandal itu mendekat. Aku semakin menggigil di belakang pintu yang bagian atas dan bawahnya berlubang. Di ruangan ini tak ada tempat yang dapat digunakan untuk bersembunyi. Benar-benar kosong dan sempit dengan langit-langit atap yang tinggi. Kuintip manusia bersandal dari kolong bawah pintu –lubang yang aku bilang tadi.
“Puss”.
Ya Tuhan. Dia memanggilku. Manusia itu memanggilku! Namaku Vio bukan Puss. Tapi aku suka dengan bunyi kata itu. Waspada Vio! Dia hanya mencoba menggodamu. Aku semakin beringsut. Mundur sampai menempel pada dinding di belakangku. Oh Tuhan, nasibku sebentar lagi akan sama dengan ibuku.

“Puss”.
Ada sesuatu yang manusia itu lempar masuk ke kolongan bawah pintu. Benda itu menggelinding ke arahku. Apakah itu bom? Sepertinya aku terlalu parno dengan apa yang mereka sebut bom, benda yang katanya dapat meledak seketika. Gara-gara sering mendengar berita-berita bom dari benda kotak keras milik manusia. Apakah itu bom?

To be continued

Cerpen Karangan: Asny RR
Facebook: https://www.facebook.com/ariny.sabilarrusyda
Tiga Burung Yang Pintar

Tiga Burung Yang Pintar

Judul Cerpen Tiga Burung Yang Pintar

Dikisahkan pada suatu hutan, hiduplah burung Beo, Cucakrawa dan Perkutut, mereka hidup dengan damai, aman dan bahagia. Namun pada suatu hari, pada saat mereka terbang menjelajahi hutan tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara tembakan, lalu mereka pun turun ke pohon.

Ternyata suara tembakan tersebut berasal dari suara senapan pemburu yang sedang mengincar kancil, Perkutut berkata “Wah, di hutan kita ada pemburu”
Cucakrawa pun berkata “Iya benar, apa yang harus kita lakukan”
Tidak lama kemudian Beo pun berkata “Bagaimana kalau kita buat perangkap untuk membuat pemburu itu jera”,
“Iya, tapi bagaimana caranya” ujar si Perkutut
“Bagaimana kalau kita membuat tali dari akar pohon yang menggantung yang ujungnya kita beri batu yang cukup besar dan kita juga membuat burung tiruan dari daun” kata si Beo
Cucakrawa pun berkata ‘Wah, pintar juga kamu ya…”
“Baiklah ayo kita lakukan” ujar perkutut dan beo.

Tak lama kemudian perangkap pun siap dan pemburu pun sudah datang
“Wah, ada burung kebetulan aku dari pagi belum makan” kata si pemburu.

Tanpa pikir panjang pun pemburu pun langsung menembak burung tiruan itu, mendengar suara tembakan tersebut beo, cucakrawa dan perkutut pun langsung memotong tali dengan paruhnya, pemburu pun terikat. Dan keesokan harinya pemburu pun tidak terlihat lagi di hutan tersebut, hutan pun kembali aman.

Cerpen Karangan: Alrizal Raffly Bachtiar
Facebook: Alrizal Raffly Bachtiar
Lelaki Tua dan Hewan Peliharaannya

Lelaki Tua dan Hewan Peliharaannya

Judul Cerpen Lelaki Tua dan Hewan Peliharaannya

Di sebuah perkampungan terpencil, di sebuah rumah bata model Victoria, beribu-ribu meter jaraknya dari Jam Besar yang berdiri di alun-alun pusat kota, hiduplah seekor kucing jantan yang gemar menikmati masa muda dengan bermain bola di pelataran rumah. Sebenarnya dia masih keturunan Persia. Itu terlihat dari bulu-bulunya yang panjang, hidungnya yang pesek, tulang pipi yang menonjol, matanya yang lebar dan bulat. Dikombinasikan dengan tubuh berwarna abu-abu polos, kucing itu terlihat sangat imut serta menggemaskan.

Majikannya adalah seorang lelaki tua berusia lima puluh tahun yang hidup sebatang kara. Untuk mengisi masa tuanya, setelah kematian istrinya setahun yang lalu, dia lebih senang menghabiskan waktunya itu dengan berpetualang di hutan. Bagi orang awam, mata pria itu terlihat sudah rapuh, tetapi sebenarnya masih sangat tajam untuk mengamati.

Sebelum dia berangkat ke hutan, seperti biasa, dia mematut diri di depan cermin terlebih dahulu, sambil mempelintir kumis tebalnya, dia mengenakan kemeja flanel lusuh lengan panjang yang dilipat selengan, topi hitam yang ditekuk ujungnya, dan sepatu boots yang terbuat dari kulit buaya. Senapan laras panjang tercantel di bahunya, tak ketinggalan juga sebuah pancing panjang sudah berada di genggaman tangan kirinya. Di kampungnya, memburu hewan di hutan bukanlah hal yang dilarang -kecuali memperjualbelikan elang langka, ah itu sangat dikecam oleh warga.

Kucing itu bernama Toby. Lelaki tua selalu mengelus badannya sebelum dia pergi meninggalkannya, kali ini sambil menyelipkan beberapa patah kata, “Jaga rumah, Toby, Akan kubawakan ikan yang besar kau nanti.”

Toby selalu bahagia melihat kepulangan majikannya, itu diungkapkannya dengan berlari ke taman depan begitu dia mendengar langkah kaki-kaki si tua. Bahkan ketika pria itu pulang dengan tidak membawa ikan pun, Toby tetap bahagia. Tetapi, lama-kelamaan, ada satu hal yang mulai melanda perasaan kucing itu: Kesepian. Sejak dilanda kesepian, dia jadi enggan untuk bermain bola di taman depan; dia berharap majikannya mengerti perasaannya, maka untuk mengungkapkannya dia memilih berdiam diri di dalam rumah sepanjang hari.

Seminggu kemudian, si majikan mulai dapat memahami apa yang dirasakan Toby. Berhari-hari dia pergi ke luar desa untuk mengunjungi sejumlah rumah temannya yang barangkali menjual seekor kucing. Seorang lelaki seumuran dengannya, Jim tua, yang dulu telah menjual Toby kepadanya, sudah tidak memiliki seeokor kucing lagi. Hasilnya pun sia-sia. Lelaki tua itu pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan hari, pada petang hari, Pak Morrison tua singgah ke rumahnya, setelah melakukan perjalanan panjang mencari anjingnya yang kabur. Kini anjingnya sudah berada di dekatnya lagi. Lelaki tua itu mengizinkan Morrison masuk ke rumah. Segera setelah selesai mempersiapkan sebuah kamar untuk Pak Morisson di lantai atas, dia mengizinkan tamunya untuk istirahat terlebih dahulu, lalu cepat-cepat dia turun ke bawah, mengambil Toby, dan membawanya serta ke hadapan anjing Golden Retriever yang diikat pada tiang di samping pintu halaman belakang. Tak ada sesuatu yang paling mengejutkan bagi lelaki itu selain mengetahui bahwa anjing itu tidak menyalak sama sekali.
Anjing itu tetap berebahan, dengan dagu menyentuh tanah. Suatu hal yang membuat Toby berani untuk duduk di sampingnya, dalam jarak aman, dan bukannya malah lari terbirit-birit.
Melihat Toby senang berada di dekatnya, kemudian lelaki tua meninggalkan mereka dan berjalan ke kamarnya di lantai bawah untuk berangkat tidur.

Keesokan harinya, ketika Morrison hendak berpamitan pulang, pemilik rumah cepat-cepat melontarkan pertanyaan. Dia bertanya apakah Pak Morrison menjual anjingnya. Mula-mula sang tamu dengan tegas menjawab tidak, tetapi setelah mendengar alasan-alasan yang diutarakan lelaki itu tentang keakraban sesaat Toby dan si anjing, dan bahwa kucing itu sangat membutuhkan seekor teman lantaran didera kesepian, si pemilik anjing segera mengiyakan dengan antusias karena heran mendengar keakraban mereka, mengingat banyaknya anjing-anjing yang dimilikinya. Maka, setelah terjadi transaksi jual-beli, dia lalu minta diri, mengayunkan kaki bersamaan dengan tongkatnya, meninggalkan rumah sahabatnya, dengan senang hati.

Anjing itu jantan, berwarna keemasan. Warnanya semakin tampak mengilap saat tubuhnya ditempa cahaya matahari—saat Toby dan anjing itu bermain bola bersama sang majikan di taman rerumputan halaman depan. Suatu ketika bola yang mereka mainkan jatuh di sungai kecil di samping halaman belakang; waktu itu bola yang dilemparkan oleh sang majikan jatuh dekat sungai, lalu, seperti lomba saja, mereka cepat-cepat berlari untuk mengambilnya. Tepat ketika si anjing berlari hendak mengginggit bola itu, tiba-tiba Toby makin menambah kecepatan larinya, dan secara tak sadar ia berhasil melewati musuhnya dari samping lalu, secara tak sadar pula, menendang bola itu hingga jatuh terbawa air. Laju sungai yang deras membuat bola terus meluncur. Sejak kejadian itu, si anjing jadi marah besar kepada Toby. Meski si lelaki tua telah membelikan bola baru untuk mereka, si anjing tetap marah pada Toby. Majikan itu hampir hafal aktivitas hewan peliharaan barunya, setiap hari anjing itu menghabiskan waktu sendirian di kandang belakang, ia tidur, lalu makan, berjalan mondar-mandir melihat sungai, dan mendekam kembali di kandang. Berbeda dengan rekannya, Toby justru menikmati hari-harinya dengan ceria; setiap pagi, setelah menghabiskan sarapan, ia bermain bola di halaman depan, sambil menjemur diri di bawah matahari. Ia lalu akan masuk rumah kembali tepat ketika matahari naik setinggi tombak. Dalam perjalanannya menuju kandang, kadang-kadang Toby sempat berhenti ketika tiba di depan sebuah pintu dapur yang berada di sudut. Seandainya seseorang berada di situ dan membuka pintu dapur itu, dia akan melihat keluasan taman belakang yang menghijau, berlatarkan sungai yang bergemericik airnya, juga sebuah jembatan kecil yang dibuat oleh pemilik rumah. Menyadari bahwa tak ada orang yang melakukan hal itu untuknya, maka ia segera meloncat ke meja dapur, lalu secepat kilat ia meloncat lagi ke atas sebuah almari. Ia menengok rekannya melalui kerangka angin-angin yang terpasang di dinding atas. Sebenarnya, jika dia ingin menengok anjing itu, dia bisa melakukannya secara langsung lewat samping kanan rumah, dengan memutar melewati jalan setapak di samping kanan rumah itu, lalu ia harus berhenti saat tiba di depan rerimbunan semak-semak. Tetapi, lantaran takut kepergok oleh si anjing, hal itu benar-benar tak pernah dilakukannya. Suatu ketika si majikan membawa pulang ikan banyak. Namun demikian, lantaran mengetahui anjing itu tetap marah kepadanya, maka dia lebih senang untuk memberikan kepada Toby, kemudian ikan yang tersisa diberikan untuk si anjing.

Di suatu senja yang cerah, saat burung-burung mulai pulang ke sarangnya, Toby duduk merenung di bawah sebuah pohon yang teduh di taman depan. Ia merenungkan masa depannya mengenai pertemanannya dengan si anjing; apakah ia akan terus-terusan seperti ini, tanpa komunikasi. Ketika ia hendak berjalan pergi ke dalam rumah, dari belakangnya, tiba-tiba muncul seekor ular berbisa yang panjangnya lebih dari satu meter. Mendengar suara gemerisik dari belakang, ia menengok dan, begitu mengetahui kehadiran seekor ular yang hendak memangsanya, berteriaklah kucing itu sekeras-kerasnya, hingga teriakan itu membuat si anjing yang sedang tidur seketika terbangun. Bingung, kaget, dan tak terbiasa menghadapi peristiwa seperti itu, kucing itu berlari tak keruan arah, ke sana ke mari, ke belakang mengelilingi kolam, lalu ke depan mengelilingi pohon, dan tetap diikuti oleh musuhnya -yang tak lain dan tak bukan merupakan seekor ular hitam mengilap yang semakin gesit mengejarnya. Si anjing tiba-tiba datang dan berlari lewat jalan setapak, lalu ia berhenti mendadak, seperti seekor kuda yang dikendalikan oleh koboi. Mengetahui bahwa ular tersebut tidak menyadari kehadirannya, dengan cepat si anjing berlari ke arah ular dan menerkam hewan melata tersebut tepat di kepalanya. Ia mencabik-cabik kepala ular itu hingga mati.

Ketika itulah lelaki tua pulang, sambil menenteng tas kresek hitam yang berisi banyak sekali ikan. Cepat-cepat dia bergegas ke belakang rumah, dan tak lama kemudian, dia sudah kembali lagi dengan menenteng sebuah jerigen kecil berisi minyak tanah. Dia lalu membuka tutupnya, menuangkannya ke tubuh si ular, dan segera menuntup kembali jerigen itu. Tangan kanannya yang kasar meraba saku celana, lalu mengeluarkan sebuah korek api. Dia mengambil satu batang, menggeretnya, dan menjatuhkannnya ke tubuh si ular. Mereka bertiga mundur sambil melihat api berkobar. Sejak kejadian itu, kedua hewan peliharaannya mulai terlihat rukun kembali. Keesokan harinya, juga di hari-hari berikutnya, lelaki tua dan hewan peliharaanya senantiasa terlihat bersemangat -lebih bersemangat- saat bermain bola kembali. Seandainya seseorang berada di situ, di halaman belakang, atau berdiri di jembatan kecil, niscaya, teman-teman, dia akan benar-benar melihat kebahagiaan itu.

Pesan Moral:
1. Tentang Keberuntungan: Kita harus membuang segala bentuk dendam, seperti Toby; belajarlah untuk mengembuskannya jauh-jauh lewat napasmu sebelum engkau tidur malam. Terkadang keberuntungan menghampiri mereka yang hidup dengan kelapangan, seperti Toby, ketika sang majikan membawa banyak sekali ikan, dia memilih untuk memberikan mereka kepada Toby, dan yang tersisa untuk si anjing yang tetap marah.

2. Tentang Persaudaraan: Lantaran beberapa alasan tertentu, atau kesalahan yang tak termaafkan, mungkin kita jadi sangat membenci saudara dekat kita. Tetapi ketika hidup mereka sedang dalam bahaya, seperti yang telah dialami Toby, kita harus segera menolong mereka, secepatnya, sebagaimana perilaku anjing tersebut.

Cerpen Karangan: Arif Syahertian
Blog / Facebook: www.syahertian.wordpress.com / Arif Syahertian
Cerita Hutan Singa Vs Harimau

Cerita Hutan Singa Vs Harimau

Judul Cerpen Cerita Hutan Singa Vs Harimau

Pada suatu hari hiduplah seorang harimau, harimau itu sangat sombong karena dia mengira kalau dialah yang paling kuat di hutan sehingga ia merasa ia adalah raja rimba, tapi pada suatu hari ada seekor tupai yang bertemu dengan si singa, tupai itu berkata kepada singa “kamu ini siapa dan dari mana kamu berasal?”
Kata singa “aku singa, aku berasal dari hutan selatan”

Tiba tiba ada seekor buaya dan singa itu melawan buaya tersebut dalam sekejap buaya itu langsung berkata “ampun singa aku menyerah aku berjanji tidak akan menggangumu” lalu tupai itu bertanya kepada singa “singa apa kamu suka makan daging hewan?”
Kata singa “suka” mendengar hal itu tupai langsung kaget dan kakinya bergetar “tapi daging ikan aja” kata singa sambil tertawa, lalu tupai bertanya lagi kepada singa “singa apa kamu bisa melawan harimau” kata singa berkata “harimau itu siapa” kata tupai “harimau itu hewan yang sombong maukah kau membatu kami, kami kesal dengan sifat harimau yang sombong aku ingin kau mengalakannya agar dia tidak sombong” kata singa “okelah kalau begitu sekarang tunjukan aku jalannya untuk bertemu dengan harimau

Lalu singa bertemu dengan harimau, kata singa “perkenalkan aku singa harimau tolonglah jangan menyusahkan penghuni hutan ini” kata harimau “memang kenapa aku kan raja rimba” kata singa “iya tapi kalau ada yang lebih kuat dari kamu gimana?” Kata harimau “hah siapa hah siapa yang berani dengan harimau!!!” Kata singa “akulah” mendengar hal itu harimau langsung mengaung kata singa “mengaung saja aku juga bisa” lalu singa mengaung, gajah yang melihat singa mengaung langsung berkata “wow kerasnya aungan singa”

Akhirnya terjadi pertarungan sengit dan akirnya yang memenangkan pertarungngan itu adalah si singa, seluruh hewan yang melihat harimau dikalahkan sama singa mereka langsung tertawa “tahu rasa kamu harimau” kata si kelinci sambil tertawa, sejak hari itu harimau tidak bersifat sombong dan akhirnya singa jadi raja rimba yang baru.

Cerpen Karangan: Tegar Diar Rohman
Perjuangan Semut

Perjuangan Semut

Judul Cerpen Perjuangan Semut

Namaku Joe si semut pemberani. Semut semut membuat sebuah kelompok dan mereka akan berperang dengan kelompok lain untuk membuat suatu daerah kekuasaan. Mungkin kelompok kami bisa dibilang kelompok terlemah, karena kami tidak memiliki satu pun daerah kekuasaan.

Saat itu kami sedang tidur karena sudah larut malam, namun tiba tiba ketua kami berteriak dan meyuruh kami untuk merebut daerah kekuasaan dari kelompok Azza. “Mungkin jika kita merebut pada malam hari kita bisa menang” ucap ketua kami dengan penuh semangat. Nama kelompok kami adalah kelompok Sin. Nama ketua kami adalah Dr Garko.

Semua semut sudah bersiap untuk berperang, kami pun mulai menyerang. Perang pun selesai, seperti biasa kelompok kami kalah. Namun yang lebih menyedihkan adalah ketua kami yaitu Dr Garko meninggal dunia. Kami pun beberapa hari tanpa ketua namun akhirnya kami mencari ketua baru. Awalnya anak Dr Garko yaitu Lars akan menjadi ketua namun dia menolak karena dia rasa dia tidak cocok menjadi ketua. Lalu Kami menunjuk Gora si semut cerdik untuk menjadi ketua namun tidak jadi karena Gora sudah terlalu tua. Akhirnya aku pun ditunjuk menjadi ketua dengan penuh percaya dari aku berkata “Baik mulai dari sekarang aku ketua dari kelompok ini”.

Hari pun mulai gelap seperti biasa semua semut berkumpul untuk tidur. Sebelum tidur aku mencari kubangan untuk minum namun tiba tiba aku bertemu dua semut yang sudah sangaat tua. “Dunia semut butuh perdamaian” ucap semut ke satu. “Kami percaya kau bisa membuat semua damai” ucap semut kedua. Aku bingung dan hendak bertanya, namun sebelum aku mengeluarkan suara mereka berdua batuk keras dan meninggal dunia. Akhirnya aku memiliki tekad untuk membuat dunia semut menjadi damai.

Keesokan harinya aku berpidato dan membicarakan sebuah kedamaian. Semua semut menolak, aku pun dikeluarkan dari kelompok. Namun ternyata beberapa semut setuju denganku dan membantuku untuk mendamaikan dunia semut.

Kami berjalan sangat jauh dan tiba tiba seekor belalang menyerang kami. Karena sudah biasa berperang sang belalang pun kami lumpuhkan. Sang belalang berkata “sebenernya aku tidak ingin menyerang kalian, namun aku kesal kepada semut yang selalu berperang. Aku sangat ingin kedamaian”. Akhirnya dia menjadi pengikutku dan kami dibawa terbang oleh sang belalang. Namun bukannya pergi untuk mendamaikan dunia semut dia malah membawa kami ke sarangnya yang penuh dengan belalang lainnya. Kami sudah pasrah dengan semua ini, tiba tiba banyak sekali semut yang datang. Mereka akhirnya menangkap semua belalang. Ternyata mereka adalah kelompokku dulu yaitu kelompok Sin.

“Kami salah telah mengeluarkanmu. Ternyata kau benar dunia semut butuh perdamaian”. Akhirnya kami bersama sama mencari perdamaian.

Ternyata semua semut dalam kelompok lain berpikiran sama dengan pikiranku. Namun mereka takut untuk berkata “perdamaian” jadi mereka tidak pernah mencari perdamaian. Akhirnya semua semut berdamai. Dan sejak saat itulah aku dibuatkan patung lengkap dengan tulisan PERJUANGAN SEMUT dalam mencari perdamaian.

Tamat

Cerpen Karangan: Aleanzah
Facebook: Ridoka aleanzah