Showing posts with label Cerpen Cinta Sejati. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta Sejati. Show all posts
Hei, Berbahagialah!

Hei, Berbahagialah!

Judul Cerpen Hei, Berbahagialah!

Ingatan terakhirku adalah senyumanmu, tawamu, kata-katamu, dan semua tentangmu. Mungkin terkesan melarikan diri, namun aku tidak ingin mengingat bagaimana aku bisa mati dan menjadi hantu begini. Aku tidak bisa lepas dari bayanganmu. Karena aku sangat mencintaimu. Aku selalu mengikutimu, karena aku mengkhawatirkanmu. Aku selalu menjagamu, karena kau adalah segalanya bagiku.

Ketika pemakamanku, aku melihatmu menangis menggenggam erat fotoku dan kamu. Aku hancur mengetahui kalau aku tidak lagi bisa bersamamu. Hanya bisa melihatmu, tanpa menyentuh ataupun berbicara denganmu. Aku tidak lagi bisa menggodamu ataupun membuatmu tertawa. Aku tidak lagi bisa memakan masakanmu yang enak. Kau tahu, sejak aku menjadi hantu aku bahkan tidak membutuhkan makanan. Aku sangat merindukanmu, kau tahu itu?

Sejak kematianku, kau selalu berduka, bahkan kau sempat menutup diri pada teman-teman dan keluargamu. Aku tahu kau gadis yang kuat, tapi kau terlalu mamaksakan dirimu. Kau tahu, aku semakin mengkhawatirkanmu. Maafkan aku yang telah membuatmu sedih, padahal aku berjanji untuk tidak pernah membuatmu menangis. Dan sekarang alasan utama kau menangis adalah karena aku. Kumohon maafkan aku.

Aku senang ketika seseorang datang menawarkan pundaknya sebagai tempatmu bersandar, dan aku lega kalau seseorang itu adalah sahabat baikku. Namun, di satu sisi aku merasa cemburu. Aku masihlah mencintaimu. Kali ini dan untuk seterusnya, aku harus menyadari tempatku. Hei, sahabat baikku, jangan biarkan orang yang kucintai terus bersedih. Tetaplah berada di sampingnya dan hibur dia.

Hari demi hari, perlahan tapi pasti, senyumanmu kembali dan bahkan sekarang kau sudah bisa tertawa lepas. Ini pertama kalinya sejak kematianku kau bisa tertawa lepas begitu. Aku sangat menyukai tawamu, kau ribuan kali lebih cantik jika tertawa seperti itu. Andai aku bisa mengatakannya padamu. Apa kau tahu alasan kenapa aku selalu bertingkah konyol jika aku ada di dekatmu? Agar kau tidak pernah kehilangan senyumanmu, agar duniamu lebih ceria dan penuh warna. Walaupun saat ini bukan aku alasan atas tawamu itu, aku senang karena aku bisa melihat senyuman dan tawamu lagi.

Ketika hari itu tiba, hari dimana sahabat baikku menembakmu, entah mengapa aku tidak terkejut sama sekali. Walaupun sakit di hati ini, aku mencoba merelakanmu karena aku tahu aku tidak bisa menjagamu lagi. Namun, kenapa kau malah meminta waktu atas jawaban atas perasaaan sahabatku, kekasih? Apakah kau masih terbayang akan diriku? Kumohon padamu, jangan terlalu memikirkanku. Kau harus merelakanku dan buatlah aku sebagai kenangan yang tak akan kau lupakan. Untukku yang sudah tak bernyawa ini, itu sudah cukup.

Walau kau sempat menghindarinya dan tak memberinya jawaban atas pengakuan perasaannya, akhirnya kau menjawab ‘YA’. Aku merasa lega namun disaat bersamaan aku merasa sesak. Apakah ini yang kau rasakan ketika kau kehilanganku? Karena aku baru saja merasakan kehilangan akan dirimu. Bukankah seharusnya aku merasa bahagia akan hubungan kalian? Ya, seharusnya begitu.

Sudah beberapa lama sejak kalian jadian, dan lagi-lagi kalian kencan di taman hiburan. Aku ingat dulu kita juga sering kencan di taman hiburan. Makan es krim, main tembak-tembakan, naik bianglala, dan lainnya. Saat itu, benar-benar menyenangkan. Aku merindukan saat-saat itu. Aku ingin naik bianglala bersamamu lagi. Lalu tiba-tiba kau meminta pada sahabatku untuk naik bianglala bersama. Aku bertanya-tanya ‘Apa kau bisa membaca pikiranku? Atau Apa kau merasakan keinginanku?’. Kau membuatku terkejut, kau tahu itu. Saat di puncak bianglala, kau lagi-lagi mengejutkanku dan mengatakan “Dia selalu mengatakan padaku untuk tetap berbahagia, seakan dia bisa hilang kapan saja.” Aku memang mengatakan itu, dan aku memang ingin kau bahagia.

Aku sangat tidak menyangka kalau sahabatku akan melamarmu esoknya. Ya ampun, mungkin bukan kalian saja yang deg-degan, mungkin aku juga. Aku bahkan gugup akan jawabanmu. Namun, kali ini kau yakin dan tegas menjawab lamaran itu dengan jawaban ‘YA’. Kemudian kalian sibuk menyiapkan pernikahan kalian. Aku tidak tahu harus merasa apa saat ini, senang karena akhirnya kau mendapat kebahagiaanmu ataukah sedih karena bukan aku yang akan menjadi pasangan hidup matimu?

Saat hari pernikahanmu, aku menyadari sesuatu yang lagi-lagi aku lupakan. Aku tersadar saat aku melihatmu mengenakan gaun pengantin dan kau terlihat sangat cantik mengenakan gaun itu. Seharusnya aku tidak melupakan keinginanku yang penting, bahwa aku ingin kau bahagia bahkan setelah aku mati. Karenanya aku akan mengatakan ini padamu “Hei berbahagialah, karena kau sudah mendapatkan cinta sejatimu, kekasih. Hei berbahagialah walaupun aku tidak ada di sampingmu, kekasih. Dan hei berbahagialah karena akhirnya kau mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Cerpen Karangan: Mitha Herliana Putri
Facebook: Kanbara
Sesak

Sesak

Judul Cerpen Sesak

“Aku si wanita kaku itu. Aku mencintaimu jauh sebelum kau mengenalku. Aku menyimpan perasaan ini di lubuk hatiku. Ku berusaha mengubur semua perasaan ini, tetapi hasilnya? Aku merasa sesak. Sesak yang amat mendalam. Mungkin, ketika secarik goresan tanganku ini diberikan kepadamu, aku sudah tiada di sampingmu seperti biasa. Aku sudah pergi. Maaf aku memutuskan persahabatan kita kala itu. Aku tak tahan Joy. Aku tak tahan mendengar semua curhatanmu tentang Nadya si pacar pertamamu itu. Mungkin, aku bukanlah sahabat yang baik. Aku selalu berharap kau putus dengan Nadya. Aku jahat ya Joy? Iya memang.

Aku merasakan sesak itu hampir setiap hari bersamaan dengan sakit di kepalaku. Tapi, sesak karena cintamu itu lebih memfokus di tubuhku sehingga tubuh mungil ini selalu saja lemas.
“Nadya tak pantas bersamamu Joy. Aku yang pantas. Aku yang mencintaimu tulus. Nadya hanya memanfaatkan kekayaan dan kepintaranmu semata.” Ah Joy, kata-kata itu yang selalu ingin kukatakan padamu. Tapi, aku tahu kau akan berfikir bahwa aku egois dan aku gila. Kau pasti akan pergi meninggalkanku.
Joy, jangan menangis. Aku tak pantas ditangisi. Aku bukanlah sahabat yang baik bagimu. Aku tak pantas menjadi sahabatmu. Tak seharusnya seorang sahabat menyimpan perasaan seperti ini untuk sahabatnya. Sekarang, aku sedikit lega Joy. Kau telah berpisah dengan Nadya dan aku juga sudah mengeluarkan semua yang menjadi sesak dalam hati ini. Rasanya lega Joy. Meskipun hanya melewati goresan-goreasan di kertas.
Joy, Sekali lagi, AKU MENCINTAIMU. Kubawa cinta ini ke surga Joy. Semoga kita bertemu lagi suatu saat nanti di keabadian.

Salam hangat
Rena si wanita yang mencintaimu”

Joy terkulai lemas setelah membaca surat itu. Tak disangkanya kemarin adalah kali terakhirnya ia berjumpa dengan sahabatnya itu. Sesak itu (lagi) datang menyerbu hatinya. Bahkan ia tidak tahu bahwa selama ini Rena mengidap penyakit mematikan.

“Aku mencintaimu Re. Sesungguhnya, aku selalu menahan sesak juga Re. Ku berusaha untuk mencintai Nadya supaya aku bisa lepas dari bayanganmu. Aku tak ingin persahabatan kita hancur. Seandainya aku memiliki magic yang bisa membaca semua isi hatimu, mungkin sekarang kita bahagia. Kita akan berjuang bersama-sama untuk menyembuhkanmu dari penyakit itu. Dan hidup bahagia selamanya. Re, aku juga mencintaimu. Lepaskanlah sesak di hatimu sekarang dan tenanglah disana. Kita akan berjumpa.” Ucap Joy di makam Rena saat itu.
Ia menghapus tangisnya dan berusaha tersenyum. Mengikhlaskan semua yang terjadi padanya. Menyusun rapi kenangan indah bersama Rena. Wanita yang ia puja hanya di lubuk hatinya.

13 tahun kemudian

“Ayah?”
“Iya sayang?”
“Rena, mau cerita sama ayah.”
“kamu kenapa?” tanya Joy pada anak semata wayangnya itu.
“Yah, kok nama aku Rena? Terus kok nama aku sama seperti wanita yang terus ayah sebut kalau ayah sedang mimpi? Aku sering denger ayah bilang kalau nanti ayah dan wanita itu akan bertemu di surga. Rena gak ngerti deh yah” ucap putrinya itu dengan polos.
Joy tertegun. “Ayah sering mengigau ya sayang? Hmm, kalau ayah menceritakannya padamu, apakah kau akan mengerti?” ucap Joy sambil mengelus rambut putrinya. Putrinya Rena sangat mirip dengan Rena-nya yang hingga sekarang selalu ada di hati Joy.
Rena mengangguk setuju.

Joy membawa putrinya ke sebuah makam seseorang yang hingga sekarang masih terawat bersih.
“13 tahun telah berlalu Re. Aku kesini lagi untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku membawa putri mungilku. Ia sangat mirip denganmu. Kau ingatkan aku dulu pernah meminta izin padamu untuk memberi nama putriku dengan namamu? Meskipun kau tak menjawab, tapi aku yakin kau setuju.” ucap Joy dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Yah, ayah kenapa? Ini kuburan siapa?” tanya putrinya seraya melihat tulisan di batu nisan itu.
“Ini sayang. Wanita yang namanya serupa dengan namamu. Ia wanita yang sangat papa sayangi. Selain mamamu. Hanya saja mamamu tak seperti dia. Mamamu rela meninggalkan kita berdua Re. Mungkin kau tak kan mengerti tapi nanti akan ada waktunya kamu mengerti. Kamu sangat mirip dengannya sayang.” terang Joy pada putrinya yang ia tak yakin bahwa Rena akan mengerti yang ia katakan.

Rena mengerti bahwa ayahnya sangat merindukan wanita itu. Ia juga tahu bahwa wanita itu mencintai ayahnya. Ia tahu bahwa ia sangat mirip dengan wanita yang sedang tidur di kuburan itu. Rena selalu bersama wanita itu hingga saat ini. Wanita itu selalu ada di samping Rena saat ia terpuruk atau ayahnya dalam masalah.
Hanya saja Joy tak peka akan kemampuan anaknya. Rena bahkan mengganggap arwah wanita itu sebagai ibunya. Rena memeluk ayahnya dan mereka meninggalkan makam bersama dengan arwah wanita itu.

20 tahun kemudian..
“Ayah yang tenang ya disana. Ayah akan bertemu dengannya yah. Akhirnya ayah bahagia. Rena ikhlas yah. Karena Rena tahu kalau ayah sangat merindukan dia. Lepaskan sesak di dada ayah. Rena disini baik-baik aja yah. Sekarang Rena punya Robi yang akan menjaga Rena. Kita akan segera berkumpul di keabadian yah. Aku, Ayah, dan Rena.”
“Miss Rena, kamu sekarang bisa ke surga bersama ayah. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu menyayangi ayahku. Kalian harus bersama disana. Lepaskanlah semua sesak yang kalian pendam dulu. Aku menyayangi kalian” Lanjut Rena tersenyum ikhlas.

Akan ada bahagia setelah kesedihan. Akan ada hidup setelah kematian

Cerpen Karangan: Amara Nindya
Facebook: Amara Nindya Achmad Putri
Takdir

Takdir

Judul Cerpen Takdir

Sore ini hujan kembali jatuh membasahi bumi, kupandangi tetes demi tetes butiran hujan dan sesekali kuulurkan tanganku untuk merasakan dinginnya hujan sore ini dari jendela kamarku. Angin bertiup seakan berbisik kepadaku, mengingatkanku akan kenangan yang pernah kulalui bersama Fajrul.

Hujan sore ini berhasil membuat air mataku mengalir. Sampai sekarang aku masih tidak menyangka bahwa aku dan Fajrul sudah tidak punya hubungan apa apa lagi. Setahun menjalin kasih dengannya bukan waktu yang singkat bagiku, disaat semua terasa begitu indah bahkan kami telah membahas rencana untuk masa depan dan aku begitu yakin bahwa Fajrul diciptakan untukku. Namun semua itu telah sirna karena ayah menentang hubunganku denganya, hal yang membuat ayahku tidak setuju adalah tentang perbedaan keyakinan antara aku dan Fajrul. Oh Tuhan jika Engkau hanya satu mengapa ada begitu banyak agama di dunia ini. Untuk kesekian kalinya aku mengucapkan pertanyaan ini, pertanyaan yang sampai kapanpun tidak akan dapat kujawab, dan agama sebuah hal sakral yang tidak boleh dipermainkan.

Sebenarnya ayah sudah menentang hubunganku dan Fajrul saat hubungan kami baru lima bulan, namun aku bertahan sampai pada akhirnya aku memilih untuk mengakhiri semuanya. Mungkin dengan begitu aku bisa membahagiakan orangtuaku yang tinggal satu satunya ini, kehilangan ibu sudah cukup menyiksaku dan yang paling membuatku sedih adalah aku belum sempat membahagiakan ibuku semasa hidupnya.

Kuingat malam sebelum hari perpisahan kelas XII tiba aku menyempatkan diri menulis surat untuk Fajrul dan surat itu yang menjadi saksi bahwa hubunganku dengan Fajrul harus berakhir.

14 mei 2016
Hari perpisahan kelas XII. Waktu itu tidak ada siapapun di dalam kelas Fajrul, aku memasukkan surat yang kutulis ke dalam tas miliknya dan menyelipkannya ke dalam buku. Lalu aku bergegas pergi, pergi ke sebuah danau yang sering aku dan Fajrul kunjungi. Aku tidak kuat bila harus melihat wajahnya. Setelah hari itu aku dan Fajrul tidak pernah berkomunikasi lagi.

Jumat 13 mei 2016
Besok adalah hari perpisahan kelas XII, sebulan sudah aku tidak berjumpa dengannya rasa rindu menyiksa batinku. Namun entah mengapa akhir akhir ini dia berubah, dia sudah jarang menjawab telepon dariku, dan pesan singkatku pun jarang dibalas seakan akan dia menjauhiku, entah apalah itu aku harus tetap berpikir positif mungkin dia sibuk.

14 mei 2016
Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Cristy, mataku memandangi seisi sekolah berharap kudapati sosok Cristy, sampai bel tanda berkumpul berbunyi aku masih belum melihatnya. Semua siswa berkumpul di satu ruangan tempat penyelenggaraan acara perpisahan, aku masih saja sibuk mencari Cristy “eh Na kamu ada lihat cristy gak?” tanyaku kepada Ana teman sekelas cristy “aku dari tadi gak ada lihat Cristy” jawabnya “oh gitu, makasih ya”. Sampai acara selesai pun Cristy tak kunjung datang, entah apa gerangan.

Aku mencoba menghubungi Cristy namun tidak ada jawaban dari seberang sana nomor ponselnya tidak aktif, aku jadi gelisah sebenarnya ada apa dengannya, ingin sekali aku ke rumahnya tapi sekarang sudah malam dan aku baru ingat bahwa masih ada pr bahasa inggris yang harus aku selesaikan. Saat membuka lembaran buku bahasa inggris, sepucuk surat terjatuh segera aku mengambilnya dan membuka amplop surat tersebut

13 Mei 2016
Untuk kamu
Semenjak hadirnya kamu aku gak pernah tertarik untuk menyukai siapa siapa lagi, hati ini udah pasnya di kamu. Hati kecilku berteriak ingin selamanya dengan kamu, namun suara hati kecilku kalah dengan besarnya keinginanku untuk membahagiakan orangtuaku yang tinggal satu satunya yaitu ayahku. aku pernah cerita ke kamu kalau ayah tidak setuju aku berhubungan denganmu, karena kita berbeda, lebih tepatnya karena kita berbeda agama, beberapa waktu lalu aku memilih bertahan, berharap suatu saat ayahku bisa menyetujui hubunganku dengan kamu. Sekarang aku bukan menyerah, tapi aku mengalah, mungkin dengan cara ini aku bisa membahagikannya di usinya yang sudah tak lagi muda, aku sudah dijodohkan dengan pria pilihan ayahku dan mungkin setelah lulus nanti aku akan menikah dengannya. Maaf atas keputusanku ini, maafkan aku yang tidak bisa menepati janji kita dulu, maafkan aku atas semuanya. Satu yang perlu kamu tau sampai kapanpun rasa cinta aku hanya untuk kamu, hanya kamu yang bisa mengisi ruang kosong yang ada di hati aku. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang pernah kau hadirkan dalam hidupku, maafkan aku bila aku membalas semua kebahagiaan itu dengan menyakiti hatimu. Aku yakin kamu akan dapat pengganti yang jauh lebih baik dari aku. Sekali lagi aku tegaskan sampai kapan pun rasa cintaku ini hanya untuk kamu FAJRUL.
Dari wanita bodoh yang udah nyakitin hati kamu: Cristy

Aku tersadar dari lamunanku, ahh entah mengapa aku masih saja mengingat kejadian itu, kejadian enam tahun yang lalu. seperti biasa selama dua tahun terakhir ini aku merawat ayahku yang terbaring lemah di pembaringan dengan tubuhnya yang kini sudah sangat kurus, penyakit yang disebabkan oleh ribuan, ratusan, mungkin jutaan batang rok*k yang selalu dihisap ayah dari ayah muda dulu, kanker paru paru dan sudah stadium akhir, berbagai pengobatan telah dilakukan demi kesembuhan ayah tapi dokter mengatakan bahwa umur ayah tidak lebih dari dua tahun, dan kusadar bahwa ini sudah 2 tahun lamanya setelah dokter memvonis usia ayahku yang tak lebih dari dua tahun tersebut. Hampir setiap hari aku menangis, aku tak sanggup bila harus ditinggal orangtuaku yang hanya tinggal satu satunya ini, dan jika ayah pergi dengan siapa nanti aku akan tinggal.

Aku masuk ke kamar ayah membawa semangkuk bubur kulihat ayah sedang tidur, aku pun membangunkan ayah tetapi ayah tidak kunjung membuka matanya, hatiku mulai gelisah butiran kristal bening mulai keluar dari sela sela mataku, apa mungkin ayah? Ah tidak mungkin, aku belum siap kehilangan ayah, beberapa saat aku masih merasakan detak jantung ayah. Segera aku meminta bantuan tetangga membawa ayahku ke rumah sakit.

“suster, suster tolong ayah saya suster”
“ibu tunggu di luar biar nanti pasien ditangani dokter”.

Aku menunggu, duduk di bangku dan mencoba menghubungi bibiku namun tidak ada jawaban di seberang sana, air mataku terus mengalir aku berharap masih ada keajaiban untuk ayah. “Cristy” suara itu, aku pernah dengar suara itu, suara yang sama dengan seorang pria yang enam tahun lalu bersamaku “Fajrul” apa aku sedang bermimpi, Fajrul dengan pakaian serba putihnya yang sekarang sedang berdiri tepat di depanku “Cristy ayahmu, ayahmu” “kenapa ayahku? ayahku baik baik saja kan?” “kenapa diam Fajrul, jawab, jawab pertanyaanku” tiba tiba Fajrul memelukku dengan erat “ayahmu sudah tiada Cristy” aku menangis sejadi jadinya

“mengapa ayah tega pergi ninggalin Cristy sendirian? Cristy sayang ayah, Cristy pengen hidup lebih lama lagi sama ayah, hanya ayah satu satunya harta yang Cristy punya, maafkan Cristy yang belum bisa bahagiain ayah” air mataku tidak berhenti mengalir, di sini, di gundukan tanah yang masih baru ini tempat peristirahatan terakhir ayah. “kamu harus sabar cristy, sejak kapan kamu jadi lemah seperti ini? Cristy yang dulu kukenal begitu tegar” “Fajrul” Fajrul mengusap air mataku “segala sesuatu yang pernah ada pasti suatu saat akan kembali ke asalnya, kita sebagai makhluk ciptaanNya harus tabah menerima musibah yang menimpa. Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua” Fajrul mencoba menyemangatiku

“kenapa kamu sendiri disini? Dimana suamimu? Dari kemarin aku tak melihatnya di sampingmu” pertanyaan Fajrul seakan menusuk jantungku “aku belum menikah” “lantas dulu? Suratmu?” fajrul bingung “hari dimana kami akan menikah calon suamiku mengalami kecelakan, almarhum meninggal di tempat, dan pastinya aku tidak jadi menikah dan…” ucapanku terhenti “dan apa Cristy” Tanya Fajrul “dan semenjak kejadian itu aku tidak punya pikiran untuk menikah lagi, dan kalaupun aku mau” belum selesai aku berbicara Fajrul memelukku air matanya mengalir “dari dulu aku begitu yakin kalau aku dan kamu diciptakan untuk bersama. Jujur sakit memang saat membaca surat darimu enam tahun yang lalu, tapi rasa sakit itu yang perlahan menguatkanku, memberiku motivasi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan yang harus kau tau hanya kau satu satunya wanita yang bisa mengisi ruang kosong yang ada di hatiku” jantungku terasa berhenti “sebelum ayahmu meninggal almarhum menitipkan kamu kepadaku almarhum ingin aku menjagamu, waktu itu aku tidak mengerti perkataannya, tapi sekarang aku sudah mengerti” Fajrul menatapku “dan kalaupun aku mau, aku maunya nikah cuma sama kamu. Begitu banyak pria yang mencoba mendekatiku, tapi aku tidak bisa menerima mereka karena tidak ada yang seperti kamu. Aku pikir kamu sudah bahagia dengan wanita lain, tetapi apa yang aku pikirkan itu salah” aku melanjutkan ucapanku yang terhenti “di hadapan jasad ayahmu yang terbaring di dalam sana, aku melamarmu. CristY kamu mau kan menjadi istriku? Kamu mau kan jadi pendamping hidupku? Aku tidak mau lagi kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya” aku mengangguk menandakan aku mau.

Karena tidak ada satu pun makhluk yang bisa menentang takdirNya, semua yang berasal dariNya akan kembali pula kepadaNya. Sama halnya dengan tulang rusuk seorang jodoh yang tidak mungkin akan tertukar.

Cerpen Karangan: Yumita Phang
Facebook: YumitaPhang
Ketulusan Cinta Putra

Ketulusan Cinta Putra

Judul Cerpen Ketulusan Cinta Putra

Irenia dan saPutra adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, mereka bersahabat sejak kecil sampai usia dewasa.

Kini saPutra yang sudah berusia 20 tahun sedangkan Irenia berusia 18 tahun. Meskipun masih muda namun cinta mereka tak terpisahkan, tapi sayang hubungan mereka tak begitu disukai kedua orangtua Irenia.

Pada suatu hari sebelum berangkat sekolah tiba-tiba Iren dipanggil kedua orangtuanya, setelah terlibat perbincangan yang cukup lama dan serius Iren akhirnya berangkat ke sekolah dengan wajah cemberut.

Sesampainya di depan sekolah ia dicegat oleh Putra “Hai manisku! Kenapa cemberut, nanti cepat keriput lho” goda pemuda tampan itu. Masih dengan wajah tanpa ekspresi Iren meninggalkan Putra yang bengong dan tidak tau apa-apa.

Siang itu pulang kuliah Putra menunggu Iren di luar pagar sekolah pujaan hatinya itu, maklum kampusnya Putra dan gedung sekolahnya Iren hanya dipisahkan oleh jalan raya saja.

Setelah cukup lama menunggu akhirnya lonceng tanda pulang pun terdengar, dicari carinya kekasihnya itu tiba tiba senyumnya pun merekah saat dilihatnya wajah yang sudah dikenal itu menghampirinya.
“Seharusnya kak Putra duluan aja, gak usah nunggu Iren” katanya ketus. “Maaf ren, sebenarnya ada apa sih kok kamu kayak gak suka kalau ketemu saya?” tanya Putra kemudian. Tiba tiba Iren menangis dan berlari ke arah jalan dan dengan sekejap sebuah truk kontainer menyambar tubuhnya hingga terpental jauh, Putra yang berada tidak jauh dari tempat kejadian segera berlari memeluk tubuh yang lunglai tak berdaya itu.

Sebulan kemudian Iren terbangun dari komanya, ia terbangun dengan keadaan yang lebih baik, menurut perawat yang menjaganya saat dibawa ke rumah sakit keadaannya begitu mengenaskan, matanya tertusuk potongan kayu dan membutuhkan donor mata, untung ada seseorang yang mau mendonorkan matanya.

7 tahun kemudian
Irenia maharani seorang penulis yang baru saja pulang dari negara paman sam setelah menerima penghargaan karena terpilih menjadi mahasiswa berprestasi dan penulis buku-buku yang begitu menarik dan disukai seluruh dunia akhirnya pulang ke indonesia dan kembali menghirup udara setelah 7 tahun merantau dan meninggalkan kenangan di negaranya.

Saat berjalan-jalan di sekitar taman kota ia terkenang masa-masa yang pernah ia lalui bersama seseorang yang sangat tidak ingin diingat lagi.
Saat tengah berjalan tiba-tiba matanya terpaku pada serentetan lukisan yang tengah diobral ditengah-tengah taman itu, ia pun beranjak ke tempat itu.

Ia terkesan dengan lukisan-lukisan itu, di setiap lukisan mengandung makna ketika ia menanyakan apa makna lukisan itu remaja 17 tahun yang menjaga stand itu menjelaskan artinya
“Ada sepasang muda-mudi saling jatuh cinta, tak direstui orangtua mengalami musibah tak diizinkan menemui sang kekasih, mengorbankan indranya demi cinta sejatinya, itulah artinya. Ketika melukis ini semuanya tentang kehidupannya, apa yang ia alami dan rasakan”.
Entah kenapa Iren merasakan perasaan yang aneh tentang lukisan itu, ia pun minta diantar ke pelukisnya.

Begitu sampai ke tenpat pelukis itu, ternyata dia adalah saPutra dan yang lebih mengejutkan lagi dia buta karena matanya ia donorkan untuk Iren. Iren begitu kecewa pada kedua orangtuanya, akhirnya ia memutuskan tinggal bersama Putra, mereka menikah dan dikaruniai 2 orang anak dan otangtua akhirnya merestui hubungan mereka.

Tamat

Cerpen Karangan: Jumi Novica
Facebook: Jumi Ayuna
Barangkali

Barangkali

Judul Cerpen Barangkali

Kehidupan barangkali hanya berutar-putar dalam pusaran sebab-akibat, begitupun sebaliknya. Seperti … Aku diciptakan Tuhan dalam rahim Ibuku karena cinta. Ibu merawat dan menjagaku dalam kandungannya karena cinta. Aku dilahirkan dan disusui karena cinta. Aku tumbuh sebesar ini karena cinta, cinta dari orang-orang yang juga mendapatkan cinta. Bahkan aku beristri seorang pecinta. Seseorang bisa merasakan dan memberikan cinta ketika ia sadar bahwa ia hidup karena cinta. Bahwa segala sesuatu yang menghidupkan adalah cinta.

“Lantas jika Tuhan mematikan kita apakah itu bukan cinta?” Sebuah suara mengagetkanku dari lamunan pagi itu. Seakan membaca pikiranku, dia bertanya sesuatu yang baru aku pikirkan tadi.

Aku tersenyum. Berdiri menghampirinya, memapahnya menuju ranjang, merebahkannya, menaruh bantal di kepalanya, lalu berakhir dengan aku duduk memandangnya. “Aku tak tahu, Entah itu rahasia Tuhan atau memang pikiran manusia yang terbatas,”

Dia tersenyum, menatap wajahku dengan penuh cinta, kurasa. Barangkali dia hanya kasihan melihat wajahku yang penuh keriput. “Kau masih seperti waktu muda. Seorang yang segar dan bersemangat,” katanya. Barangkali cinta bisa membutakan, dan hidup ini penuh dengan barangkali dan andai-andai.

“Benarkah? Kau juga cantik. Matamu cantik. Hidungmu cantik. Bibirmu cantik. Bahkan rebahanmu cantik,” Candaku.
Pipinya yang tak lagi kencang itu kuusap perlahan. Aku sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Bersamanya untuk waktu yang panjang.

“mungkin kita akan berpisah dalam waktu dekat. Aku sungguh ingin beristirahat. Boleh ya?”
Dia tersenyum ketika bicara begitu. Aku jadi agak kesal. Melenceng banyak dari rayuanku sekejap lalu.

“Tidak. kita tak akan berpisah. Kau akan sembuh. Kita akan pindah ke jayapura. Menetap disana. Menghabiskan masa tua kita bersama,” Ucapku.

“Barangkali Tuhan ingin bertemu denganku,” Ujarnya dengan pandangan menerawang.

“Apanya yang bertemu? Kita bersama Tuhan sepanjang waktu,”

“Tidak, maksudku bukan itu. Aku merasa sudah saatnya aku pergi,”

Aku terdiam bersama lamunanku. Benarkah dia akan meninggalkanku? Meninggalkan lima puluh tahun pernikahan kita? Dia sungguh tak punya perasaan!

“Jika Tuhan mengambilmu dariku, berarti Tuhan tak cinta padaku.” Tanganku menggengam tangannya dan mengelus rambutnya yang beruban. Sungguh kali ini aku marah. Marah pada keadaan. “Kau datang untuku, menetap, lalu pergi? Tidak. Kau akan tetap menetap. Lalu kita akan pergi bersama-sama.” Aku berkata Jujur dari dalam hatiku. Sungguh.

“Hei, kamu yang datang dulu. Akulah yang menetap.”

“Tapi kau yang ingin pergi duluan.”

“Tidak.”

“ya.”

“Hei. Jangan begitu.”

“kenapa? Dari dulu aku selalu begini. Selalu mencintaimu.”

“baiklah. Baiklah. Sudah minum obat?”

” … ”

Seperti itulah. Pagi yang mendung itu. Di kamar rumah sakit yang pucat. Aku bernostalgia. Berdebat dengan istriku yang cantik. Debat ala-ala orang tua. Debat antara kakek nenek. Debat antara pasangan yang sudah lima puluh tahun menikah, tetapi tak malu mengaku seperti pengantin baru. Tak peduli masalah kami sangat berat, kami hanya mencoba meringankan dengan memikulnya bersama-sama.

“Cinta memang seperti itu. Tua jadi muda, dan yang muda malah mengaku tua.” Begitulah kiranya yang dia katakan dulu. Seorang pecinta yang ingin mendapatkan cinta. Gadis jayapura yang eksotis, cantik, dan istimewa, dan cerewet.

“Aku tidak cerewet. Aku hanya mengutarakan apa yang aku pikirkan. Freedom speech, right?” Begitulah caranya mengelak. Cerewet ya tetap cerewet.

Tapi Aida, aku benar-benar merindukan cerewet itu sekarang. Hanya sepi yang kudapat. Cinta memang berujung sepi. Tapi aku yakin jika kau masih di sampingku, kau akan marah bila aku menyalahkan cinta. Tapi kenyataanya kau tak ada disini.

Istriku Aida, benarkah yang aku lakukan ini adalah cinta?. Menghamburkan tanah ke tubuhmu, Memusarakanmu di antara anak-anak kita yang tak terlahir seperti yang lain, apakah itu cinta?. Jika itu cinta, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati, mengantarkanmu untuk yang terakhir kalinya ke hadapan Sang pencipta.

Lalu aku tidur sendiri, di bawah bintang-bintang menyebut namamu dan anak-anak kita. Jika aku bisa bangkit dari keterpurukan ini, apakah itu termasuk Cinta?. Jika itu cinta, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati.
Dan, barangkali Tuhan meminta kau kembali agar aku lebih kuat dalam menjalani apa yang sebenarnya disebut cinta.
“Cinta suci adalah cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.” Aku tersenyum ketika kau bilang begitu, Tersenyum sambil mengerutkan mata.

Pemalang, 27 Mei 2016

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indah Cho
Bukan Juliet

Bukan Juliet

Judul Cerpen Bukan Juliet

Untuk kesekian kalinya perselisihan sengit antara sepasang kekasih yang berbeda sekolah. Arga di SMA Khatulistiwa yang merupakan sekolah menengah atas keempat baginya sedang Naya masih di SMA Mentari yang merupakan sekolah menengah atas Arga yang pertama. Arga sudah tiga kali pindah sekolah karena permasalahan hampir serupa. Bolos, perkelahian, serta turut dalam geng remaja bernama Violent yang sangat Naya dan Amira -Ibu Arga- benci. Arga tahu dia banyak membuat was-was kedua wanita yang dia sayang itu tapi dia tetap tak mengubah pendiriannya.
Terakhir mereka bertengkar tentang seorang perempuan yang merupakan pertama kali dalam sejarah. Naya dan Arga sering mempermasalahkan hal sepele seperti peringkat di sekolah atau tentang geng tapi jarang membahas ‘orang ketiga’.

Naya mempertahankan langkah ringkihnya diiringi deru angin melewati lehernya. Terbesit Arga yang akan berceloteh kesal karena membiarkan tubuhnya yang hanya dibalut seragam sekolah dicabik angin malam. Tidak. Arga bahkan tidak menahannya setelah perdebatan super mereka di depan kedai es krim kemarin. Dia lebih memilih mengantar gadis dengan rambut coklat gelap itu dengan motornya. Naya menggertakkan giginya kesal.

Seharian dia mencari tempat untuk bernaung agar pria yang setengah mati mencarinya itu tidak menemukannya. Naya baru dikabari ibunya kalau Arga mendatangi rumahnya tadi siang. Arga tidak akan berhenti mencari sebelum mendapatkan Naya. Naya hanya ingin satu tempat yang Arga tidak berpikir akan mengunjunginya tapi dia tidak bisa berpikir. Arga pasti berhasil menemukannya hanya menunggu waktu.

Drrrttt drrrttt
Akhirnya Naya mengalah dan menerima panggilan Arga yang kesekian.
“Halo..”
“Kau dimana?” Suara Arga parau yang bisa dibayangkan ekspresi paniknya. “Naya, jawab aku! Katakan kau dimana!” Teriak Arga. Naya masih melihat sekeliling. Lampu sorot kuning, trotoar sepi, toko yang sudah tutup. Dia tidak tahu ada dimana.
“Aku tidak tahu ini dimana.” Jawab Naya yang memang benar tapi membuat Arga makin geram.
“Bagaimana bisa.. Tenangkan pikiranmu dan ingat-ingat oke?” Arga masih menunggu kekasihnya mengingat. Naya pandai dalam akademik tapi kemampuannya mengingat jalan dan arah mata angin sangat buruk. “Bagaimana?”
“Aku berjalan lurus dari sekolah. Kemungkinan ini sudah di luar Jakarta. Tangerang mungkin.” Arga memejamkan matanya sejenak. Mendengar penuturan Naya yang membuat iba sekaligus kesal. Sejauh itu dia pergi?
“Nyalakan GPS, aku akan melacakmu.” Kenapa tidak dari tadi? Karena Arga pikir dia masih bisa mengandalkan sedikit ingatan Naya. Ternyata nol besar.
“Tidak bisa. Bateraiku tidak cukup untuk menyalakan paket data.”
“Powerbank?” Arga mengingatkan siapa tahu Naya membawa tapi lupa. Biasanya begitu.
“Rusak. Aku melemparnya ke arahmu saat kita bertengkar di taman sekolahku, kau lupa?” Jelas Arga ingat betapa mengamuknya Naya saat ketahuan ikut tawuran padahal dia sudah berjanji di kelas 3 akan fokus pada sekolah.
“Naik taksi saja.” Saran Arga.
Naya menoleh ke sepanjang jalan aspal di depannya. Hanya segelintir kendaraan yang lewat. “Disini sepi. Aku tidak bisa menemukan taksi atau bus. Bahkan tidak ada halte disini.”
“Baiklah. Kirim lewat pesan ciri-ciri tempatmu sekarang, aku akan mencarimu. Jangan bergerak seinchi pun.” Klik. Arga memutus panggilannya. Rasanya Naya mulai cemas saat tak mendengar suara Arga yang mengomel lagi.

Naya mulai mengetik hingga dia merasa ada dua pria paruh baya berjalan ke arahnya. Berpakaian serba hitam dan bertampang bengis. Naya mempercepat gerak jari lentiknya lalu berjalan cepat berbalik arah. Mengingkari janjinya pada Arga untuk tidak bergerak sedikitpun.
Kedua pria tadi mengikuti Naya. Menyadari itu Naya mempercepat langkahnya hingga berlari. Mereka juga berlari. Naya menatap ponselnya dan mengklik ‘kirim’.
“Arga, aku mohon cepat. Aku takut.” Gumamnya lirih.

Karena merasa hampir tertangkap Naya memutuskan mengambil jalan seberang. Lampu sen kuning terang menyorotnya, suara klakson yang memekakan telinga dan rasa sakit yang besar menghantam tubuhnya.



Arga seperti orang tak waras memasuki daerah rumah sakit. Matanya menangkap Tuan dan Nyonya Graha di depan pintu rawat di ujung lorong. Tepat di depannya. Wanita yang seusia dengan ibunya sedang menunduk kaku dengan air mata yang terus menetesi rok hitam selututnya. Apa keadaan gadis di dalam sana sangat parah?
Ibu Naya yang pertama masuk ke ruangan dengan banyak selang dan perban menempel di sembarang tubuh Naya. Arga mengekor di belakangnya. Tubuhnya hampir ambruk karena energinya seolah terkuras. Kenapa wajah Naya yang biasanya menyebalkan bisa semenyedihkan ini? Dia hampir tak kuat menahan harga diri sebagai pria tidak cengeng.

Ini hari ketiga gadis yang dengan tersenyum saja bisa membuat kemarahannya luluh masih terbaring koma. Benturan di kepalanya dikatakan dokter yang paling parah. Arga mengangkat tangannya mengusap tangan pasi Naya. Dia sudah meneguhkan keputusan tidak akan melepaskan tangan itu jika Naya bersedia sadar. Walau dia bimbang haruskah meninggalkan geng disaat dia baru dipilih menjadi ketua Violent. Tepat di hari kecelakaan Naya.

Arga menatap tumpukan buku yang ia yakini dikeluarkan dari tas sekolah Naya. Gadis yang prestasinya selalu mengekor di bawahnya sejak menengah pertama tapi tidak lagi. Naya jauh lebih banyak meningkat ketimbang dirinya. Dia mengambil salah satu buku paling tebal. Mungkin 500 halaman. Arga hampir terisak baru membaca covernya. Itu buku untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Naya memilih fakultas kedokteran seperti mimpinya sejak kecil. Arga ingat gadis yang terpejam di hadapannya itu sering merengek padanya belakangan agar Arga kembali menjadi siswa teladan.

“Kau tidak takut aku tertarik pada calon dokter yang lebih tampan dan lebih kaya darimu?” Arga tetap fokus dengan PSP di tangannya tanpa menghiraukan bualan Naya. Naya mengerucutkan bibirnya. “Kita putus saja kalau kau tidak mau kuliah bersamaku.” Seperti biasa Naya mengancam hal yang jelas tidak akan dia lakukan.
“Aku sudah kehilangan banyak materi pelajaran. Kau mau aku jadi gila karena belajar seperti robot?”
“Ayolah. Dulu kau selalu lebih baik dariku. Otak encermu dipanaskan sedikit pasti bisa bekerja lagi.” Naya memasang tatapan memohonnya. Menarik-narik lengan Arga yang terbalut kemeja putih SMA Flamboyan.

Arga membuka halaman pertama buku bersampul biru tua itu. Ada nama pemiliknya dan namanya sendiri disana seolah Arga ikut memiliki buku itu. Naya suka menulis namanya dan Arga di buku apapun bahkan di kertas ulangan. Dia menutupnya kembali dan meletakkan di tempat semula.

Kalimat terakhir Bintang -sahabat Naya- sebelum menyelesaikan masa jengukannya masih terngiang di kepala Arga. Naya akan kehilangan banyak waktu belajar jika tidak segera sadar. Rasa bersalah kembali menggenangi dirinya.
Arga mengganti bunga tulip merah di dalam vas dengan yang baru. Tak pernah ia lupa betapa gadis dengan kemeja rumah sakit berwarna biru muda kebesaran itu menggilai bunga yang menggambarkan ketulusan dan kesetiaan. Dia duduk di kursi sebelah Naya. Kembali memandang buku tebal yang sama sekali tak tersentuh siapapun. Sudah dua minggu tapi Naya masih betah membuat orang-orang di sekelilingnya susah bernafas.
“Naya, aku janji akan menjadi Arga-mu kembali jika kau mau membuka matamu.” Arga menunduk seolah memohon di atas tangan Naya yang ditusuk jarum infus.

2 bulan kemudian
Arga masuk ke ruang dimana Naya dirawat. Dia mencium tangan Ibu Naya lalu meletakkan tasnya. Kebiasaan yang tak pernah berubah semenjak Naya hanya berbaring di atas kasur rumah sakit. Rumah sakit seperti rumah kedua Arga dan kamar ini adalah kamar keduanya.
Setelah Arga mengecup puncak kepala Naya dan mengganti tulip, Ibu Naya pergi. Mereka bergantian menjaga Naya setiap hari.

Arga memulai aktivitas barunya. Menggantikan Naya membaca buku-buku yang sudah lama hanya menjadi pajangan. Jangankan belajar, di sekolah saja Arga jarang memperhatikan dan sering membolos. Sekarang dia melakukan ini bukan untuk dirinya sendiri. Naya bisa membaca rangkumannya setelah siuman nanti. Harap Arga.

3 bulan kemudian
Arga membaca cukup keras di samping ranjang Naya. Berharap meski tidak membuka matanya tapi gadis ini bisa mendengarnya. Arga menatap Naya yang tetap terpejam. Dia menutup bukunya dan beralih memperhatikan Naya. Tangannya mengusap rambut Naya yang setiap hari dia rapikan. Meski wajahnya pucat tapi tetap manis di matanya. Arga merasakan nyeri di hatinya setiap menyaksikan pemandangan yang lima bulan lebih dia tonton.

“Naya, kau tidak mau bangun?” Arga selalu mengajaknya bicara walau tahu tidak akan ada jawaban. “Kau tidak lelah terus tidur? Aku saja berbaring seharian membuat tubuhku pegal.” Arga mulai menitikkan air matanya. Pertama kali dia menangis sejak Naya koma. Dia berusaha tetap memasang topeng tegarnya namun dia tidak mampu lagi. “Aku hampir gila membaca buku ini, tidak mau membantuku?”
Beberapa detik Arga menanti suara terdengar atau setidaknya bibir Naya bisa sedikit bergerak tapi lagi-lagi Arga harus menelan pil pahit.

Dia hendak beranjak untuk mengambil tisu tapi dia mendengar lenguhan lirih seorang gadis. Naya. Jelas itu suaranya mengingat tidak ada orang lain di ruangan serba putih itu. Arga kembali duduk dan melihat mata Naya mengeriyip, tangannya bergerak pelan.
“Arga?” Arga tersenyum lebar. Mungkin senyuman terindahnya. Kata pertama yang Naya ucapkan, nama pertama yang dia panggil adalah miliknya.
“Akhirnya.. Terimakasih Tuhan.” Arga segera menekan tombol di dekat dashboard ranjang untuk memanggil dokter.



Naya mengaduk bubur dan supnya asal. Ibunya baru saja kembali ke kantor. Katanya Arga akan segera tiba tapi sampai buburnya hampir dingin pria itu tak juga muncul. Naya baru akan menekan tombol merah di dekatnya namun ia urungkan melihat seorang pria memakai setelan seragam putih abu-abu membuka pintu dengan senyum renyah. Naya berusaha mempertahankan ekspresi kesalnya. Seperti biasa.

“Maaf aku terlambat.” Arga mengecup dahi Naya. Kebiasaan yang entah sejak kapan Arga lakukan tapi Naya menyukainya.
“Aku hampir melewatkan makan siang jika kau tidak datang.” Arga berbalik sambil tersenyum lalu melanjutkan mengganti bunga tulip oranye dengan warna putih. Dia suka membeli bunga berbeda warna setiap tiga hari sekali.
“Aku ini seorang pelajar bukan pelayanmu.” Arga tak henti mengumbar senyum seraya duduk di depan Naya lalu meraih sendok dari tangannya. Menyodorkan satu sendokan bubur ke mulut Naya tapi gadis itu hanya menatapnya heran. “Buka mulutmu. Kau tidak akan kenyang hanya dengan melihatku.” Naya menurut.
“Apa yang kau lakukan saat aku koma?” Naya tak melepas tatapannya dari mata pria yang hampir enam bulan tidak dia lihat.
“Membacakan buku itu untukmu.” Arga menunjuk dengan dagunya. Naya mengikuti arah pandangannya lalu tertawa.
“Kau pasti kesal tapi.. terimakasih.” Naya mengelus tangan Arga. Lalu menunduk. Dia tersipu sendiri dengan tingkahnya.
“Tidak. Aku yang berterimakasih.” Naya mendongak. “Terimakasih sudah kembali. Aku sangat bosan tidak punya teman untuk diajak bertengkar. Bahkan rasanya aku tidak ingin bicara dengan siapapun jika itu bukan kau.” Naya tersenyum sendu. Matanya berair. “Sekarang aku akan menepati janjiku.” Lanjut Arga.
“Janji?” Arga hanya tersenyum sambil mengeluarkan buku tebal bersampul coklat dari tasnya.
“Kita belajar bersama untuk tes masuk universitas.”
“Kau bercanda? Mana ada dokter yang merangkap menjadi anggota geng murahan.” Kalimat pedas Naya kembali. Merusak suasana harmonis mereka.
“Aku sudah keluar.” Naya membelalak. Jelas sulit dipercaya mengingat dulu Naya sempat mengancam untuk berpisah tapi Arga tetap kukuh bergabung di Violent.
“Benarkah?” Hanya dijawab deheman oleh Arga. Jika seperti ini, Naya yakin Arga tidak berbohong. “Apa lagi yang kulewatkan?” Tanya Naya antusias. Rasanya Arganya perlahan kembali.
“Kau melewatkan belajarmu hampir setengah tahun. Jadi bisa dipastikan kau tertinggal jauh olehku.” Ejek Arga.
“Tidak masalah. Aku bisa mencontek darimu saat tes.” Jawab Naya enteng sambil melanjutkan makan sendiri. Arga mendorong dahinya dengan jari telunjuk.
“Bermimpilah, Nona.”
“Baiklah, mulai hari ini aku akan mengejarmu. Aku tidak mungkin kalah dari murid drop out sepertimu.” Tawa mengejeknya yang menyebalkan tapi tetap menarik di mata Arga.

Arga menaruh telapak tangannya di kepala Naya. Gadis itu merasa tenang walau sedikit keberatan. “Aku senang kau masih hidup. Aku mungkin akan ikut mati jika kau pergi.”
“Kau bukan Juliet, Arga.” Naya menatap sekilas wajah Arga yang serius lalu kembali fokus pada makanannya.
“Kalau aku mati duluan apa yang akan kau lakukan?” Arga penasaran.
“Aku akan bunuh diri dengan pedang.” Jawab Naya asal.
“Terdengar seperti romeo dan juliet.” Arga mengernyit.
“Hmm.. Tadi kan kubilang kau bukan Juliet. Kau Romeo. Kau bunuh diri meminum racun hanya karena kau pikir aku sungguhan mati. Padahal tidak. Jadi jangan pernah terburu-buru menganggapku meninggalkanmu.. atau kisah kita akan berakhir seperti mereka.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Ennofira
Blog: https://ceritanologi.wordpress.com
Aku Akan Tetap Setia

Aku Akan Tetap Setia

Judul Cerpen Aku Akan Tetap Setia

Hari ini cuaca sangat mendukung untuk berlibur. Sang surya menampakan diri membuat hangat semua makhluk hidup di muka bumi. Pagi ini aku dan davit berencana untuk berlibur ke kampung halaman Ibu, di Bandung. Aku sangat merindukan nenek dan kakek disana. Aku dan Davit sudah pacaran selama 4 tahun dan kami berencana untuk tunangan setelah pulang berlibur. Semuanya sudah kami persiapkan mulai dari tanggal, dekorasi, baju bahkan tema acaranya. Aku sangat mencintai Davit, begitu juga Davit sangat mencintaiku. Selama 4 tahun kami menjalin hubungan tidak pernah ada satu kata putus pun terucap dari mulut kami walau sehebat apapun kami bertengkar karena kami punya satu janji yaitu “Sehebat apapun kita bertengkar jangan pernah ada kata putus di antara kita dan kita harus selalu bersama”.

Usiaku dan davit kurang lebih selisih 5 tahun lebih tua Davit. Makanya dialah yang selalu mengajariku tentang kedewasaan, tentang bagaimana menjalani hidup. Dia telah merubahku menjadi pribadi yang penyabar dalam menjalani hidup. Davit Santoso itu nama aslinya dia terlahir dari keluarga yang kaya tapi meskipun begitu dia tidak pernah sombong dan selalu rendah hati terhadap orang lain. Yang aku kagumi darinya meskipun dia anak orang kaya tapi dia tidak pernah memanfaatkan kekayaan orangtuanya, dia lelaki yang pekerja keras dan hingga akhirnya dia membuka perusahaan sendiri tanpa bantuan orangtuanya. Pokoknya Davit itu cowok yang paling sempurna yang pernah aku kenal.

“Bersama kamu ku jadi tahu artinya waktu lebih berharga dari harta di dunia” suara dering hpku berbunyi bukti bahwa ada yang menelepon maka segera kulihat layar hpku dan ternyata itu Davit orang yang sangat kusayang “Hallo Assallamualiakum” sapaku “Waalikumsallam sayang kamu sudah siap” sahutnya “sudah sayang ini aku mau turun ke bawah, aku tunggu di halaman depan rumah ya Sayang” sahutku kembali “Iya sayang ini aku mau berangkat ke rumah kamu” “okeh sayang hati-hati ya”.

Tidak lama setelah itu Davit pun datang. Kamipun berpamitan sama ibu dan ayah. “Bu, Yah saya minta izin ya bawa anak kalian berlibur” kata davit kepada ibu dan ayah “Iya nak hati-hati ya jangan ngebut-ngebut” sahut ibu “Jagain anak ayah ya dav” sambung ayah “okeh yah pasti saya jagain” sahut davit sambil mengelus-elus kepalaku.

Menuju kampung halaman aepanjang perjalanan aku dan davit sangat menikmati keindahan dunia yang dianugerahi Tuhan. Aku terhipnotis dengan keindahannya. Davit pun tersenyum melihat tingkahku yang melambaikan di sepanjang perjalanan.

Tidak lama setelah itu tiba-tiba ada sesuatu yang mengejutkan aku dan davit mengalami mengalami kecelakaan motor yang kami kendarai ditabrak mobil truk pengangkut sayur. Tubuhku melayang ke tepi jalan sedangkan davit tubuhnya terkapar di tengah jalan. Tubuhku bercucuran darah, mataku seolah-olah sulit untuk dibuka hanya suara kerumunan orang dan sura sirine Ambulan orang yang aku bisa rasakan. Tubuhku terasa kaku dan sangat sulit digerakan sedangkan keadaan davit entah bagaimana dia aku berharap dia baik- baik saja..

Aku pun sadarkan diri dan yang membuat aku terkejut aku berada di kamar yang asing bagiku dan berbau khas rumah sakit ibu dan ayah di sampingku “Sabar nak” kata ibu, Aku pun tersenyum mendengar itu “Bagaimana keadaanmu sayang” sambung ayah “Alin baik-baik saja yah” sahutku “syukurlah kalau begitu” sahut ayah kembali “Davit mana yah, bu kok aku nggak lihat dari tadi” ibu pun langsung menangis histeris sambil berkata “Davit sudah nggak ada nak” “Hah apa bu ini nggak mungkin aku tidak percaya” aku terkejut dan menangis histeris sampai mengamuk berusaha melepaskan jarum infus yang ada di tanganku, ibu pun memanggil dokter “Dok, dokter tolong anak saya” dokter pun menghampiriku dan langsung memberikan aku suntikan penenang, setelah disuntik aku pun langsung tertidur.

Aku bermimpi davit memakai baju putih dan dia berjalan ke arah pintu. Aku memanggil namanya tapi dia hanya membalas dengan senyuman, aku pun berlari menghampirinya “Davit jangan tinggalkan aku disini aku tidak bisa hodup tanpamu” “kamu harus tetap hidup walau tanpa aku di sisimu kamu harus bahagiain ayah dan ibu aku akan setia kepadamu dan aku akan tetap menyayangimu sampai kita dipertemukan lagi” sahutnya “aku ingin ikut denganmu dan aku sayang kamu bukannya kita sudah janji untuk selalu bersama” sahutku “aku akan tetap ada di sampingmu tapi bukan ragaku hatiku akan selalu ada untukmu, davit sayang alin” sahutnya sambil melambaikan tangan. Aku pun terbangun dan berteriak “Tidak davit jangan tinggalkan Alin sendiri”.

Sudah 2 minggu aku dirawat di rumah sakit Jelita ini akupun akhirnya diperbolehkan pulang hari ini, ayah dan ibu segera membereskan pakaianku dan ayah membayar biaya selama aku menginap.

“Bu aku mau kita ke pemakaman davit dulu sebelum pulang aku sangat merindukannya” “Iya nak nanti kita mampir ke pemakaman davit dulu” sahut ibu. Di perjalanan pulang aku melihat toko bunga dan aku mampir sebentar untuk membeli bunga. Setelah membeli bunga aku dah ayah, ibu langsung menuju ke pemakaman. setelah sampai di pemakaman aku langsung menuju tempat davit dikebumikan

“Davit seharusnya hari ini kita udah tunangan dan kita pasti sudah bahagia bersama teman-teman, kenapa davit meninggalkan alin secepat ini. Alin sayang davit, alin selalu datang kepemakaman davit”

Setiap hari jum’at alin pergi ke pemakaman dan membawa bunga. Hingga tepat pada hari anniversarynya dia dan teman-temannya merayakan Anniv davit dan alin di pemakaman. “Davit ini aku dan teman-teman merayakan hari jadian kita sekarang kita udah 5 tahun kita pacaran, ALin sangat senang dan bersyukur telah mengenal davit makasih untuk semuanya sayang”.

Cinta sejati bukan mereka yang selalu bersama tapi mereka yang selalu mencintai walau raga tak bersama

Cerpen Karangan: Lisda Karlina
Facebook: Lisda Karlina
Ig: Lisda_karlina
Cinta Sepeda Ontel

Cinta Sepeda Ontel

Judul Cerpen Cinta Sepeda Ontel

Dahulu kakek pernah bercerita mengenai sejarah sepeda ontel miliknya kepadaku. Tentang bagaimana beliau menggapai impiannya dengan mengayuh sepeda setiap hari menuju sekolah yang jaraknya berkilo-kilo meter, tetapi walau demikian semangatnya tidak pernah pudar akan apa yang harus dia tuju.

“sepeda ontel itu adalah jiwa kakek, tidak ada bandinganya dengan apa yang telah kakek miliki hingga saat ini, jasa yang telah dia berikan begitu besar”. Kakek berkata dengan nada yang terdengar bangga.

Disaat renta usianya beliau tidak pernah terlihat ataupun terdengar menjengkelkan, dengan sejuta semangat yang dimiliki olehnya. Sisa-sisa kekuatan masa muda yang masih tersimpan. Walau tubuhnya yang kini telah menjadi kurus itu terbaring lemah di atas ranjang putih milik rumah sakit, beserta setiap peralatan yang terpasang pada tubuh kakek. Senyum semangat yang dia miliki selalu terukir indah terpancar tanpa adanya tanda-tanda untuk memudar. Matanya yang sudah nampak lelah itu menatapi langit-langit kamar: membosankan tapi itulah hal yang kakek lakukan.
Dia menarik nafas panjang lalu walau tidak jelas kakek kembali bercerita perihal jasa dari sepeda ontelnya yang antik.

“Dia juga yang mempertemukan kakek dengan cinta pertama, tuhan mengirimkan wanita terindah melalui sepeda yang kakek miliki. Walau kami tak sampai dapat bersama, tapi menurut kakek dialah cinta sejati”

Aku membungkuk dengan tujuan untuk mempermudah kakek bercerita kepadaku, merendahkan letak posisi duduk dan mendekatkan telinga ini karena suara parau kakek mulai terdengar dengan samar. Dengan gerakan pelan, pandangan mata kakek beralih kepadaku.
Tangan ini tak kuasa untuk menggenggam tangan kakek yang terasa hanya tulang berbungkus kulit itu, hatiku mencelos. Sedih dan miris itulah hal yang kurasakan, akan tetapi tatapan mata kakek tidak memiliki raut kesedihan untuk minta dikasihani. Dia memintaku untuk tegar dan memperlakukannya seperti biasa adanya.

“Kau tahu, kau mirip denganya”. Kakek kembali berbicara “Kau cantik, kau pintar, kau keras kepala”. Kakek tersenyum ketika dia mengatakan hal itu kepadaku, cucunya sendiri.
“Betapa aku mencintainya, hingga saat ini. Bahkan aku masih sangat ingat bagaimana aroma tubuhnya, dan masih sangat ingat bagaimana tangan rampingnya merangkul pinggang kurus ini dari balik boncengan. Aku membawanya ke danau, di sana luas dan indah. Tempat cinta kami bersemi”
Matanya itu kini berbinar, dia masih sehat dalam akalnya. Ingatanya masih begitu tajam akan cinta pertamanya bahkan beliau masih begitu hafal akan aroma tubuh dari wanita di masa mudanya dulu. Mungkinkah, nenek?
“Nenek pasti akan sangat bahagia dicintai begitu besar oleh kakek”
“Nenekmu?”. Dia tampak terkejut. “Bukankah aku telah berbicara jika cinta sejati itu tidak dapat bersama. Aku dan gadis itu mungkin tidak berjodoh di dunia ini”

Aku tertegun sendiri. Ternyata beliau yang dicintai kakek bukanlah nenek, tapi bukankah pasangan suami istri itu tampak begitu harmonis seperti yang diperlihatkan selama ini sebelum pada akhirnya mereka memang memutuskan untuk berpisah. Tapi apa yang kudengar dari ayah ataupun ibu, nenek dan kakek adalah pasangan harmonis yang patut diteladani olehku kelak. Maka mengapa sekarang kakek malah bercerita mengenai orang lain? jujur, disaat umurnya yang renta begini aku justru tidak mengerti.

“Aku tidak pernah mencintai nenekmu seumur hidupku, itulah penyesalan terbesarku. Walau begitu besar cinta yang dia berikan kepadaku, hati ini masih saja sekeras batu”. Kakek diam sejenak. “Hanya satu yang dapat membuat kamu bertahan, ketulusan hatinya”. Lanjut kakek.

Diam.
Begitu seksama dan sabar aku menunggu kakek untuk melanjutkan ceritanya. Terdapat jeda yang begitu lama ketika dia ingin kembali mengeluarkan suara. Aku terdiam dan tersenyum, sunggingan berwujud begitu tulus di bibir mungil ini. Semua ini demi kakek, dan aku tidak boleh terlihat tampak bosan atau jenuh untuk mendengarkan lanjutan ceritanya kemudian.

“Tak sampai hati aku menceraikanya, namun titik puncak dimana dia merasa telah benar-benar lelah menjawab semuanya. Kami berpisah disaat anak-anak telah dewasa dan berumah tangga”

Yah, itulah yang kuceritakan tadi. Kakek dan nenek memang telah lama berpisah kini. Disaat masa kritisnya nenek yang berbeda 10 tahun dari kakek tidak nampak untuk menemani masa kritis kakek, jadi begitu alasanya. Keluarga harmonis itu hanyalah topeng yang pasti menyakitkan hati seorang wanita, siapapun itu. Kakek kini telah menjadi pria tua kesepian, seorang pesakitan yang terbaring lemah di atas tempat tidur, selama kakek di rumah sakit sekalipun nenek tidak pernah datang untuk sekedar menjenguknya.
Hanya kedua orangtuaku, bersama tante luna serta suaminya om rio, dan tentu saja aku, cucu pertama kakek.

Setelah perpisahan yang terjadi di antara keduanya kakek memilih untuk meninggalkan harta yang dia miliki kepada nenek dan kedua anaknya. Beliau kemudian memutuskan untuk hidup di perkampungan dipenuhi sawah dengan rumah berupa layaknya gubuk hanya untuk satu orang. Tidak ada yang dapat menyangka jika kakek adalah mantan direktur sebuah perusahaan matrial terkenal di kota ini.
Di kampung itu kakek hanya seorang petani yang setiap pagi berangkat ke sawah menggunakan sepeda ontel tua miliknya.

“Kenapa kek?”. Aku bertanya dengan sangat hati-hati ketika kakek kembali memandangku. Dia tersenyum damai sekali dan entah mengapa senyuman itu membuat hati ini teriris, aku ingin menangis. Firasatku mengatakan bahwa itu akan menjadi senyuman terakhir yang kakek berikan.
“Kakek ingin beristirahat, tapi sebelum itu kakek ingin menitipkan sepeda ontel milik kakek kepadamu anisa, kakek harap kamu dapat menemukan pasanganya”
Dengan perlahan mata kakek terpejam, walau tenggorokan ini tercekat aku terus berusaha untuk membisikan dua kalimat syahadat di telinga kakek. Tangis ini tak terbendung, tapi aku berusaha untuk tidak mengganggunya, mengganggu waktu istirahat kakek. Tiada yang tahu kapan kakek akan benar-benar pergi.

Awan kelabu menemani sore hariku. ketika aku tengah fokus menatap nisan yang ditancap kokoh di atas gundukan tanah merah yang telah rata dengan bumi. Langit membelah kemudian, rintik demi rintik air jatuh pertanda rasa duka cita.
Hampir 1 bulan lamanya kakek meninggalkan dunia ini. Laki-laki tua renta yang penuh semangat kini telah sampai pada titik kehidupan awalnya. Dia hanya tinggal menunggu pintu kemana kemudian kaki itu harus melangkah. Namun aku berharap dan selalu berdoa jika penantian panjangnya di kehidupan awal tidak, di kehidupan kubur sebelum itu dia tidak berakhir dalam siksa yang pedih.

Aku berdoa untukmu kakek, walau sampai sekarang nenek belum menemuimu. Walau ibu dan ayahku terlalu sibuk untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhirmu disini. Pada akhirnya hanya tuhan yang dapat membuka pintu hati mereka, mengetuknya untuk menemuimu. Tante luna menitip salam kepadamu, katanya dia rindu. Sebentar lagi aku akan memiliki adik sepupu, tante luna dinyatakan telah mengandung bayi berusia 3 bulan hingga sekarang.
Betapa senangnya hati ini kakek, menjadi cucu satu-satunya tentu saja membuatku kesepian.

“Aku janji, dalam setiap kesempatan waktu luang yang aku miliki aku akan sering mengunjungi kakek. Dalam setiap salatku aku mendoakanmu”. Aku mengusap gundukan tanah kakek yang telah basah karena hujan rintik yang ditumpahkan secara alami dari langit.
Lalu aku bangkit dan berjalan menuju pohon rindang di samping makam kakek. Disana ada sepeda ontel milik almarhum yang kokoh sedang berteduh.
Itulah harta peninggalan terindah dan terbaik yang diberikan oleh kakek kepadaku. Untuk beberapa waktu aku memutuskan untuk berteduh bersamanya. Ketika begini aku menjadi teringat akan surat yang kakek berikan. Surat untuk gadis itu. Kebetulan aku membawanya, surat yang beralaskan dengan amplop lusuh berwarna krem. Di depannya terdapat tulisan yang belum berbentuk EYD dengan gaya tegak bersambung milik kakek.

14 Februari 1970
“Teruntuk Raden Ayu Lestari, kekasihku tercinta. Bagaimana keadaanmu hari ini, terakhir kita bertemu kau tampak murung dengan para penjaga yang dikirimkan oleh ayahmu. Karena mereka aku tak dapat menemuimu layaknya dahulu. Betapa aku rindu dan betapa aku tersiksa.
Ayu… melalui surat ini aku harap kau dapat mengerti permintaanku; menikahlah denganku. Walau orangtuamu itu tak suka denganku karena aku hanyalah orang yang memiliki sepeda ontel, tidak lebih dari itu.
Tapi bersamanya aku ingin berjanji untuk berusaha menjadi orang yang memiliki nilai lebih, memiliki harta secara lahiriah maupun ukhrawi aku mampu. Aku percaya itu, disaat aku akan terus berusaha bersama sepeda ontel ini, sepeda yang telah membawa cinta kita bersama. Dengan cara itulah tuhan mempertemukan kita.
Bersabarlah untuku, tunggulah aku. Namun jika kemungkinan terburuk itu datang, apabila tuhan kelak tak menakdirkan kita bersama simpanlah sepeda ontelmu dan berikanlah kepada generasi berikutnya. Biarkan cinta kita mengalir melalui generasi dan waktu yang berbeda. Menyatu dalam kisah cinta yang akan kita beri judul; Cinta sepeda Ontel”.
Salam Terkasih
Abdullah Al Fauzi

Begitulah isi surat kakek, surat yang tidak pernah sampai kepada seseorang yang ingin kakek tuju.
Hujan turun dengan begitu derasnya, segera aku melipat surat milik kakek dan kumasukan ke dalam saku seragamku. Aku hendak menuntun sepeda ontel untuk meninggalkan TPU namun tiba-tiba saja langkah kaki ini terhenti.
Dalam pandangan yang tidak lagi jelas aku melihat dari arah berseberangan datang seorang pemuda. Dia menuntun sepeda ontel yang hampir sama, mirip sekali dengan punya kakek. Aku terdiam ketika dia terus berjalan menyusuri makam demi makam. Hingga dia berhenti di suatu makam yang membuatku terkejut. Memarkirkan sepeda ontelnya di bawah pohon rindang tempatku berdiri tadi, di samping makam kakek.
Dia berjongkok, walau di tengah hujan yang deras pemuda itu tetap fokus. Menengadahkan kedua tangannya menuju langit lalu mengusap wajahnya dengan lembut. Untuk beberapa saat dia menciumi nisan makam itu lalu dia bangkit untuk kembali menuntun sepeda ontel miliknya.

Rasa penasaran menyeruak di lubuk terdalam hati ini, lalu aku berlari kecil meninggalkan sepeda ontel kakek, menerobos hujan deras menuju makam seseorang yang berada di samping makam kakek. Aku berjongkok untuk melihat jelas nama yang tertulis di dalam nisan kayu itu: Raden Ayu Lestari?
Jadi pemuda itu, sepeda ontel itu: pasangan dari kedua sepeda ontel cinta milik raden ayu lestari.
Aku tersadar dan segera berlari untuk mencarinya menuju jalanan besar setelah menerobos makam demi makam. Begitu cepat dia menghilang hingga aku tidak dapat menemukanya. Aku menangis, menyesal. Mengapa aku tak langsung menemuinya ketika perasaan itu muncul.
Aku telah menemukan pasangan sepeda ontel milik kakek. Dia tepat berada di depan kedua mataku tetapi hanya berselang beberapa menit saja aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Amanah kakek, aku belum bisa menjalankanya dengan baik.

Berbulan bulan aku sering mengunjungi makam kakek untuk mendoakanya juga menunggu pemuda itu datang lagi. Namun penantianku sia-sia, sekalipun aku tidak pernah dapat menemukanya kembali.
Aku sedih tentu saja, namun di saat yang bersamaan perasaanku begitu terharu melihat makam kakek dan Raden Ayu Lestari berdampingan. Seperti kata kakek mereka memang tidak pernah dapat ditakdirkan bersama di dunia ini, namun siapa yang menduga jika mereka akan kembali dipertemukan di tempat peristirahatan terakhir keduanya. Mungkinkah di alam yang berbeda sana keduanya akan saling menyadari, atau mungkin mereka berdua sedang menunggu timbangan amal perbuatan untuk bergandengan tangan menuju pintu berikutnya.
Ahh, betapa indahnya cinta sejati itu. Walau raga terpisah jauh namun hati akan selalu terlihat bersama cinta yang abadi.
Lalu mungkinkah aku dan pemuda itu juga demikian?. Aku berharap kelak dia yang memiliki pasangan sepeda ontel kakek yang akan menjadi pasangan hidup ini jika tuhan mengizinkanya. Aku tulus bukan karena kakek tetapi alasan ini murni karena keinginan hatiku. siapapun orangnya, bagaimanapun keadaanya tentu aku akan menerima kurang dan lebihnya pemuda itu.
Pertemuan kami dikala hujan deras tentu saja membuatku tidak dapat mengenali bagaimana keadaan dan wajahnya dengan jelas.

BRUKKKK!!!
Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara yang mengkhawatirkan di kantin sekolah. Disusul dengan suara tawa keras yang terdengar menjengkelkan di telingaku. Dia lagi ternyata, seorang pemuda aneh bermata kodok, maksudku dengan kacamata kodok serta rambut ala mangkok, rangga namanya. Dia adalah siswa yang sering menjadi korban bullying anak-anak yang suka bertindak dengan semena-mena di SMA swasta tempatku bersekolah kali ini.
Dan mereka, anak-anak yang sering mengerjainya adalah anak-anak yang menganggap bahwa mereka dapat melakukan apa saja dengan harta yang dimiliki oleh orangtua mereka. Biasanya aku diam, tetapi kali ini tindakan anak yang bernama rafa dan genk terhadap rangga membuatku geram.
Cukup sudah, aku tidak tahan lagi melihat penindasan di depan mataku sendiri. Cukup sudah aku menjadi pecundang dengan mendiamkan perlakuan kasar mereka, cukup sudah aku takut untuk ikut ditertawakan. Ini semua demi kebenaran aku tidak perlu takut ataupun malu.

Aku beranjak dari tempat duduk, membantu membersihkan mie yang berserakan di lantai, serta mangkuk dan gelas yang telah berubah menjadi pecahan.
“Kamu baik baik saja?”. Aku melirik ke arahnya. Tanganku bergerak lincah merapihkan pecahan kaca, sementara itu semua anak di kantin bersorak untuk aku dan rangga, namun aku memilih untuk tidak menghiraukanya.
“Cie yang pacaran, anak aneh plus gadis udik yang sukanya nuntun sepeda ontel. Emang klop beneran deh”. Ledek rafa yang spontan mengundang tawa banyak orang, namun rasa malu itu telah kebal. Aku tak peduli dan memilih untuk bersikap diam.
Dengan segera kuselesaikan pekerjaan itu dan cepat-cepat aku berlalu dari kantin. Aku fikir kejadian itu akan mudah dilupakan namun hingga bel pelajaran terakhir berbunyi mereka masih tetap saja terus menjengkelkan.

Aku berjalan lunglai menuju tempat parkir sekolah, sepeda ontelku ada disana. Kulihat anak anak di sekitar memberiku tatapan mengejek. Mereka fikir aku udik begitu, lagi pula apa salahnya jika aku menggunakan sepeda ontel. Seharusnya mereka mengurus kehidupan pribadi mereka.

Aku berjalan perlahan, dan tunggu sebentar. sepeda ontel miliku kenapa ada dua? ini?. aku terkejut ketika ada dua buah sepeda ontel yang sama terparkir di halaman sekolah. Tatapanku memutar ke segala arah namun tidak ada siapapun disini yang mengambil sepeda ontel yang satunya lagi.
Aku putuskan untuk menunggu selama kurang lebih satu jam namun seseorang tidak ada yang nampak untuk membawa pasangan sepeda ontel ini.

Aku menghembuskan nafas panjang, rasanya aku putus asa. Lagi pula Anisa apakah dengan menemukan pemuda yang notabenya cucu Raden Ayu Lestari, cinta sejati kakek, jika bertemu apakah dia mau denganmu. Apakah dia tidak memiliki kekasih, lalu apakah dia tertarik untuk melanjutkan perjodohan tidak resmi itu?. Segala macam pemikiran berkecamuk menghampiriku.
Mungkin buku yang tuhan tulis dalam akhir kisah cinta dari sepeda ontel ini tetaplah sama kakek, mereka tidak akan pernah bisa bersatu. Selanjutnya sebuah sekuel hanyalah mitos belaka.

Kuambil surat kakek dari dalam saku seragamku, cukup sudah. Surat ini bahkan tidak dapat tersampaikan kepada orang yang seharusnya dituju untuk kali kedua. Tangan ini melakukan gerakan hendak merobek kertas kumel berwarna krem, namun cengkraman di pergelangan tangan kananku menghentikan semuanya.
Aku mendongak, betapa aku terkejut melihat seseorang yang berdiri di hadapanku sekarang.
“Rangga?”. Aku memekik.
Pemuda itu tersenyum, dia kini telah berdiri di hadapanku dengan jarak yang amat dekat. Tidak ada lagi mata kodok, kaca mata itu telah dilepas dan menampakan mata kecil rangga dengan kornea mata berwarna hitam, mata itu tersenyum saat rangga tersenyum, mata bulan sabit: eyes smile.
Tulang pipinya terangkat, rangga memiliki pipi bakpau atau chubby, rambut mangkoknya berkibas di mainkan oleh angin. Tinggi badan kami yang nyaris sama membuat kami dapat berhadapan tanpa harus membuatku mendongak terlalu tinggi.
Jantungku berdetak dengan kencang, apa ini. Pemuda aneh itu..

“Anisa, sudah terlalu putus asa ternyata dirimu menantikan sang pemilik sepeda ontel itu?”
Mata besarku membulat, dengan segera aku melepaskan tangan kami yang tidak sengaja menyatu saat rangga mencengkram pergelangan tangan kananku tadi. Aku menatapnya tajam. “Kau membuatku menunggu terlalu lama”.
Rangga masih tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangan kanannya. Aku menatapnya sebentar, aku tau artinya.
“Hallo anisa, aku rangga, aku adalah cucu dari sang pemilik sepeda ontel ini. Aku telah mencarimu begitu lama, aku tahu kau juga mencariku, maaf membuatmu menunggu begitu lama”
Aku terkikik, rangga terdengar seperti anak kecil. Dengan tulus aku menerima uluran tangan pertanda jika aku menerima salam perkenalan dari pemuda aneh itu.
Dia begitu dekat, selama ini aku bahkan tidak menyadarinya, siapa yang menyangka jika pemuda itu adalah rangga.

Angin berhembus pelan, entahlah kakek, apakah bagian baru dari cerita cinta sepeda ontel baru akan dimulai. Siapa yang tahu, dan namaku anisa, bersama sepeda ontel cerita kami baru dimulai dari halaman berikutnya.
Apakah rangga jodohku, biarlah waktu dan takdir tuhan yang menjawabnya.

End.

Cerpen Karangan: Siti Suci Nurjanah
Facebook: Uchie0795[-at-]yahoo.co.id / Siti Suci Nurjanah
Lentera Usai Senja

Lentera Usai Senja

Judul Cerpen Lentera Usai Senja

2012
Langit kota Jogja memerah. Matahari perlahan ditelan oleh batas laut. Aktivitas beberapa remaja begitu asik. Memotret keelokan senja yang menghias pantai. Aku masih duduk dengan anggun. Anggun, mungkin karena aku memang tengah terdiam. Memasuki detik berikutnya, mataku memerah, mengikuti merahnya senja hari ini. Senja. Bagian hari yang teramat aku cintai. Menatapnya memang tiada bosan, apalagi jenuh. Aku mencintai senja. Melebihi cintaku pada lelaki di sampingku kini.

Hari ini, beberapa jam usai acara perpisahan sekolah. Usai semua canda tawa yang membalut rasa duka akan perpisahan. Usai ketidakpahamanku tentang makna perpisahan yang sesungguhnya. Ia masih diam, menahan sesak yang tiba-tiba merajuk. Pun denganku yang masih menahan rasa tak mengerti percakapan beberapa jam yang lalu. Hembusan angin seakan membangnukan kami.

“Bukankah lebih baik Aku meninggalkanmu dengan kejujuran dari pada tetap bersamamu namun dengan kepalsuan?”
Hening, tak ada suara lain selain hembusan napas laki-laki itu.
“Bukankah perpisahan ini menjadi hal yang teramat menyakitkan untukmu? Kau kini masih muda, masih memiliki segala kelebihan yang tak kulihat pada yang lain. Aku melepaskanmu karena Aku sangat menghargaimu. Jika Aku tak mampu memberimu senyuman, setidaknya Aku tak lagi memberikanmu tangisan. Aku pergi, bukan Aku membencimu. Tapi Aku tak ingin melukaimu lebih dalam. Kau masih punya banyak waktu untuk menyembuhkan luka itu. Tak sepertiku yang entah membutuhkan waktu berapa lama untuk menyembuhkan luka dibatinku. Luka, karena telah melukaimu.”
Aku menunduk. Tak ada ekspresi apapun. Ia melanjutkan ucapannya.
“Kau senantiasa lebih baik dari pada Aku. Kau yang mengajarkanku tentang kesetiaan, perjuangan, kejujuran, dan kegigihan. Aku berterima kasih atas semua itu. Kau yang telah mempersembahkan semua itu untukku. Lantas Aku mematahkan semuanya tanpa peduli bagaimana lukamu. Tapi percayalah, lukaku lebih dalam dan menyakitkan. Karena Aku telah menggoreskan luka pada diri kita.”

Aku pergi. Tanpa ekspresi. Meninggalkannya, dengan penjelasan yang masih menggantung. Tak peduli. Senja kali ini beriringan dengan mendung. Menutup keindahan yang telah dinanti. Senja kali ini berhiaskan kesedihan. Menutup kebahagiaan dengan perpisahan. Aku pergi meninggalkannya yang hanya ditemani deburan ombak dan penyesalan.

Satu minggu telah berlalu. Tak ada kabar satu sama lain. Aku bahkan tak lagi peduli dengan kejadian satu minggu yang lalu itu. Foto yang menggantung di dinding kamarku tak memberi efek apapun untukku. Aku serasa menghilang dari duniaku. Entah, sekarang Aku menetap dimana.

Pagi, tepat satu minggu acara perpisahan sekolah. Pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku masih diam, memperhatikan cover buku kenang-kenangan sekolah. Ada satu wajah yang menghias disana. Ketukan di pintu tetap tak kuhiraukan. Samar-samar, suara terdengar.
“Yuli, Aku ingin bertemu denganmu. Sebentar saja.” Suara nan lembut. Aku masih mengenalnya.
Bibirku masih terkunci. Ah, betapa bodohnya Aku, hari itu. Tak kuhiraukan yang dengan sabar menantiku di depan kamar. Tisca. Sahabatku sedari kecil yang selalu memberi kabar akurat. Sayangnya, hari itu Aku tak mempedulikannya. Bahkan Aku bertingkah bodoh, mengabaikannya untuk pertama kali.

Malam pun menyapa. Formasi bintang di angkasa begitu indah. Kenangan itu kembali terkuak. Aku mematung. Duduk dengan terus memperhatikan langit yang terhias indah. Tisca menghampiriku. Ia duduk tepat di samping kananku. Memelukku erat, menitihkan air mata.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku, pelan.
Tisca masih terdiam. Air matanya tertahan. Beberapa detik berlalu begitu saja. Perlahan, Tisca melepaskan pelukannya. Menatapku lamat-lamat. Menunduk, seakan menahan beban yang teramat berat. Detik ke 59 usai pertanyaanku kulontarkan padanya.
“Semua sudah berakhir. Kenapa semua harus seperti ini? Kenapa satu minggu ini waktu tiada guna untukmu? Tak adakah hal bermanfaat yang bisa kau lakukan? Tak adakah upaya dan daya yang mampu menguatkanmu. Dia telah pergi, Yul. Pergi untuk waktu yang tak bisa ditentukan.” Ia terisak. Aku penuh tanda tanya.
“Apa maksudmu?” Aku masih datar. Tak mengerti dengan ucapan Tisca.
“Yusuf. Dia menantimu 24 jam kali sekian hari. Menantimu mengubunginya, sebagai bukti kau telah memaafkannya. Aku tahu apa yang terjadi, Yul. Aku tahu. Yusuf telah bercerita semuanya padaku. 24 jam dalam sehari. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk memikirkanmu. Tadi pagi Aku mencarimu karena pesannya. Dia ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali.” Tisca menunduk. Mungkin hatinya perih karena Ia tahu apa yang akan terjadi padaku.
Hening. Hanya terdengar isak tangis Tisca, hembusan angin, dan hembusan napasku yang pelan. Formasi bintang. Entah mengapa, wajahnya tersirat disana.

“Kenapa dia tidak mencariku?” Mataku memerah.
“Menemuimu tanpa kehendakmu, sama saja memasukkan diri pada jurang paling dalam sekalipun. Kau lupa, dia pernah masuk rumah sakit karena menunggumu di gerbang sekolah hampir 24 jam dengan hujan yang begitu lebat? Bukankah waktu itu Ia datang untuk meminta maaf padamu? Tapi sayang, dia datang tanpa kehendakmu. Dia tidak mampu melakukannya lagi. Dia harus mengurusi banyak hal sebelum kepergiannya. Termasuk memikirkan, bagaimana Ia harus meminta maaf padamu.” Penjelasan Tisca terhenti. Air mataku bercucuran. Memoriku kembali terbuka.

Satu minggu yang lalu. Di acara perpisahan sekolah. Yusuf menghampiriku. Mengajakku foto berdua. Walaupun sebelumnya, kami sudah foto berkali-kali. Namun dengan sahabat-sahabat kami, termasuk Tisca. Kala itu, hatiku bercampur aduk. Senang, karena kami resmi lulus SMA. Semua cita-cita kami telah menunggu untuk digapai. Sedih, karena banyak tujuan yang kami rencanakan. Namun, tak ada satu pun tempat yang sama, yang hendak kami tuju.

“Kau bahagia, hari ini?” Ia bertanya, dengan tetap asik memainkan kamera SLRnya. Memperhatikan beberapa foto kami.
“Ehm. Aku bahagia, sekaligus sedih.” Aku masih memperhatikan wajahnya. Melihat matanya dengan seksama. Bagian tubuhnya yang sangat Aku suka.
“Kenapa melihatku seperti itu?” Ia memotret beberapa sudut. Aku tak peduli apa yang sedang Ia lakukan.
“Mungkin, ini hari terakhir Aku bisa melihat matamu, tanpa penghalang. Mungkin saja, besok Aku hanya bisa melihat dari foto-foto yang kita ambil hari ini.” Aku tersenyum. Senang rasanya bisa melihat matanya yang begitu indah.
Aktivitasnya terhenti. Ia balik menatapku dengan tatapan matanya nan tajam. Mengahanyutkanku.
“Bagaimana jika hari ini kita putus?” Ia begitu serius mengucapkannya.
“Putus? Apa kita pernah pacaran. Aku rasa tidak. Kita tidak akan pernah bisa putus.” Aku tertawa. Semua hanya kuanggap lelucon.
“Hari ini, kau bahagia karena kita semua lulus. Namun, hari ini kau pun sedih karena perpisahan. Dan Aku, justru melengkapi kesedihanmu. Bukan kebahagiaanmu.”
Aku terdiam. Tak mengerti apapun yang dia katakan barusan. Aku membuang muka. Masih penuh tanda tanya.

Tisca, Aldo, Ria, Fani, dan Radit, menghampiri kami. Memecah kebekuan beberapa detik yang lalu. Mereka mengajak kami berfoto bersama. Mereka pun mengajak melengkapai kebahagiaan dan perpisahan hari ini dengan menikmati kesejukan pantai. Hal yang sangat Aku suka. Ia pun tahu akan hal itu.
Dan percakapan senja itu, usai. Ketika Aku memutuskan untuk pergi tanpa alasan. Malam ini, Tisca menceritakan semuanya.
“Kepergianmu waktu itu memang tak kami sadari. Tapi, kami tahu apa yang terjadi. Kau tahu? Baru kali pertama, saat senja itu, kami melihat Yusuf menangis. Iya, Dia benar-benar menangis. Hingga Dia tidak bisa mengejarmu.” Tisca mengusap matanya. Menghela napas sejenak. Aku. Terdiam, menunggu Tisca menjelaskan kembali.
“Dia tak bisa menentukan pilihannya, Yul. Dia harus pergi. Dan Dia tidak ingin melukaimu. Yang kami tahu, Dia sangat mencintaimu.”
Air mataku bercucuran. 3 tahun kami bersama. 3 tahun kami tahu perasaan masing-masing. Tapi semua serasa berakhir duka. Aku mengabaikannya. Aku terlalu yakin Dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aku menyakitinya, tanpa mampu kuhitung berapa kali Aku melakukannya. Air mataku kian deras. Lantas, apa yang sekarang bisa Aku lakukan?
“Dia tidak berpesan apapun saat itu. Dia hanya menangis di hadapan kami. Dia tidak bisa memilih. Maafkan Aku Yul. Aku menjaga semua ini, karena ini pun permintaan Yusuf. Dia tak ingin melukaimu.” Jeda. Tisca terdiam beberapa detik, hingga Ia pun melanjutkan ceritanya.
“Tadi pagi. Secepat kilat Aku mendatangimu. 5 menit setelah Aku membaca pesan singkat dari Yusuf. Dia ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali. Dia ingin sekali bertemu denganmu, sekedar mengucapkan kata perpisahan. Tapi, waktu begitu terhimpit. Tak ada jeda sedikitpun dalam 24 jamnya selama satu minggu ini. Banyak hal yang harus Dia urus. Termasuk merencanakan pertemuan terakhirnya denganmu. Tapi, kau tahu kan bagaimana orangtua Yusuf? Mereka sangat disiplin. 10 jam dari 24 jam yang dimiliki oleh Yusuf, Ia gunakan untuk les Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris. Kau tahu, selama satu minggu. 5 jam yang tersisa, Ia gunakan untuk belajar Ilmu Fisika. Itu pun selama satu minggu. 5 jam lainnya, Ia gunakan untuk mengikuti berbagai kegiatan untuk melengkapi persyaratan kuliahnya di Paris. Kamu tahu kan dengan semua rencanaya itu? dan 4 jam tersisa, Ia gunakan untuk memikirkanmu. Bahkan mungkin dalam setiap detiknya, Kamu yang ada dalam pikirannya. Bukan lagi tentang Paris. Apa arti mimpinya Ia gapai, jika cita-cita terbesarnya justru Ia lepaskan.” Penjelasan Tisca, sungguh menusuk hatiku. Hembusan napas Tisca, terdengar jelas.
“Apa yang bisa Aku lakukan?” Aku terdiam. Pun dengan Tisca. Hingga detik ke 49.
Tisca mencoba membongkar semua ingatannya. Hingga akhirnya, puzzle itu Ia temukan.
“Ia akan mengirimkan email padamu. Setelah Dia sampai di Paris.”
Mataku tertuju pada Tisca. Aku segera masuk kamar. Mengechek semua email masuk. Jaringan sepertinya tak bersahabat. 120 detik, masih tertahan pada sesi login email. Dan, tepat. Email yang paling atas, Yusufyu@gmail.com. Pesan masuk yang langsung kubuka tanpa berpikir apapun, selain membaca pesan itu.

“Assalamu’alaikum. Selamat malam, Yuli. Aku menulis ini, ketika langit Jogja sudah gelap. Berbeda dengan tempatku duduk saat ini. Belum ada satu pun bintang yang terlihat. Apalagi Jupiter dan Saturnus. Tak mampu kulihat dengan mata telanjang. Tak seperti di tempatmu duduk saat ini. Kau hanya perlu membuka tirai jendela kamarmu, maka Jupiter, Saturnus, bahkan gugusan bintang lainnya sudah menyapamu dengan anggun.
Yuli, maafkan Aku. Itu kalimat pertama yang ingin Aku ucapkan padamu. Yuli, Maafkan Aku, aku pergi tanpa ada penjelasan. Aku tahu ini sangat menyakitkan untukmu. Satu minggu yang lalu, Aku memutuskan hubungan kita, tanpa penjelasan apapun. Satu minggu yang lalu. Kau pun pergi tanpa mau menungguku menjelaskan. Yuli, maafkan Aku. Aku tak pernah ada niatan untuk meninggalkanmu, apalagi melukaimu. Aku harus pergi Yul. Keputusan yang teramat berat, bagiku. Satu minggu, sebelum Aku memutuskan semua itu. Aku tak henti meminta petujuk dari-Nya. Aku pun tak henti menimbang segala keputusan yang membuatku semakin dilema. Yuli, maafkan Aku. 3 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Aku bahkan tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Aku pengecut. Datang menyapamu, mempersilahkan kau memasuki pekarangan hatiku, membiarkanmu tinggal dan menetap, hingga akhirnya Aku mengusirmu begitu saja. Tanpa penjelasan, tanpa alasan yang jelas. Yuli, maafkan Aku. Tak ada apapun yang bisa Aku berikan saat ini. Tak ada janji masa depan yang bisa kau harapkan dariku. Yuli, maafkan Aku. Isi email ini mungkin sangat mengecewakanmu. Mungkin tak seperti yang kau bayangkan, atau kau harapkan. Yuli, maafkan Aku. Tapi, kau harus tahu ini sejak awal. Kau harus melanjutkan hidupmu. Ingat tujuan dan cita-citamu. Raihlah sepertiku saat ini. Aku telah meraih kursi yang selalu kuincar dari kecil. Paris. Kota ini yang selalu ada dalam mimpiku. Aku memang berharap, kau menjadi bagian dari Paris. Namun apa daya, sepertinya Tuhan telah membelokkan skenario yang telah kurancang. Aku tak punya energi apapun untuk melawannya. Yuli, maafakn Aku. Lupakanlah semua tentang kita. Lanjutkan hidupmu. Aku tak memintamu untuk menungguku. Pun denganku. Aku tak memesan hatimu untukku. Aku tak mau melukaimu untuk kesekian kali. Yuli, maafkan Aku. Kau tak boleh menungguku. Aku takut kau akan lebih kecewa dari ini. Biarkanlah Tuhan yang mengatur segalanya. Jadilah pemain yang baik atas sekenario-Nya. Jangan berharap apapun atas sekenario yang telah kau rencanakan. Bertahanlah Yul. Kau adalah insan yang luar biasa. Aku memang selalu mengagumimu. Namun, hari ini mari kita patahkan hati kita. Percayalah, Tuhan akan menyambung hati kita dengan sempurna, melalui sekenario yang mampu kita bayangkan. Terima kasih untuk 3 tahunnya. Kau tetaplah sahabat terbaikku. Yuli, maafkan Aku.
Paris, 24 Mei 2012.
Yusuf”

Aku diam. Tak ada komentar. Bahkan Aku tak membalas email itu. aku segera memutus koneksi internet di kamarku. Kembali, Aku mematung. Tisca pun demikian. Ia turut membaca email itu denganku. Beberapa menit telah berlalu. Tisca memelukku. Malam yang begitu kelabu. Formasi bintang itu, hilang.

2013
Satu tahun sudah Aku kuliah. Sastra Indonesia. Entah kenapa, Aku memutuskan untuk mengambil jurusan itu. Bahkan, Aku tak pernah berpikir untuk menjadi sastrawan. Aku lebih suka menjadi dokter. Satu tahun memang telah berlalu. Yusuf, tak pernah lagi mengubungiku. Kecuali, ketika kami bercengkrama di grup sosial media. Aku hanya sesekali melihatnya membalas komentar teman-teman. Tapi, tidak denganku. Satu tahun belum sebanding dengan tiga tahun yang telah terlewatkan.

Kami memang kuliah di jurusan yang berbeda. Pun dengan kampus yang berbeda. Hanya Aku dan Tisca yang memutuskan kuliah di kampus yang sama. Hanya saja, kami beda jurusan. Tisca mengambil konsentrasi Psikologi. Sesuai cita-citanya sedari awal. Ya, diantara kami bertujuh, hanya Aku yang tidak sesuai. Yusuf, dengan Fisikanya. Aldo, dengan teknik sipil, Ria dengan Perawat, Fani dengan Seni rupa, dan Radit dengan Ilmu Hukum. Semua memang tak menyangka dengan keputusanku. Jauh sekali. Dokter, yang berbelok menjadi satrawan. Namun, Yusuf turut berperan disini. Sejak email satu tahun yang lalu, Aku memang lebih sering murung di kamar. Tanpa tahu apa yang sebenarnya Aku pikirkan. Email itu membawa hikmah bagiku. Aku pun lebih sering mencurahkan kegundahanku dengan menulis. Hingga aku memutuskan membuat sebuah blog, dengan username “Yustory”. Hampir semua tulisanku memang tentang Yusuf, tentang kesedihanku yang mendalam, tentang pengharapan yang tak berujung, tentang hati yang patah, tentang cinta yang salah. 2 bulan mengisi masa liburan, tulisanku telah menjamur. Hingga akhirnya Aku memutuskan untuk masuk jurusan sastra Indonesia. Tak sia-sia. Satu tahun terakhir ini, banyak karya yang sudah Aku terbitkan. Royalti yang kudapatkan pun kutabung. Aku juga termasuk mahasiswa berprestasi. Duniaku telah berubah. Dan Yusuf, Ia tak pernah berubah di hatiku.

2014
2 tahun tak terasa. Aku tak pernah bertemu lagi dengan Yusuf. Bahkan Aku pun sudah tak mengenal rasaku terhadapnya. Banyak yang datang dan menghampiriku. Banyak. Hingga Tisca sering mendapat teror untuk membantu mereka mendekatiku. Tak ada niatan atau entah apa yang Aku rasakan. Mereka kutepis satu per satu. Alasanku sederhana. Aku hanya ingin konsentrasi dengan duniaku kini. Aku tak mau patah untuk kedua kalinya. Patah yang dulu pun belum kusambung. Bagaimana aku bisa mematahkannya lebih parah?

Malam betabur bintang. Aku meghabiskan waktuku di kamar. Menulis. Angin berhembus pelan. Tirai jendelaku begerak perlahan. Kursorku berkedip. Kuhentikan aktivitasku. Jupiter, Saturnus, dan gugusan bintang. Mereka tertata rapi di angkasa. Yusuf. Hatiku berucap akan namanya. Pesan di email, dua tahun lalu kembali mengusik batinku. Apakah Aku boleh merindukannmu? Aku menghujat dalam hati. Betapa bodohnya Aku. Bukankah Yusuf melarangku mengingatnya, bahkan sekedar merindukannya. Ya, email itu memang tak pernah kubalas. Bahkan sejak kejadian dua tahun lalu itu, Aku mulai menghapus emailku. Aku membuat yang baru. Berharap, tak ada niatan untuk membuka email itu lagi. formasi bintang di angkasa, menjadi saksi kegundahanku malam ini. Reruntuhan waktu telah mengubur semua kenangan. Tak ada lagi rindu yang boleh tertuang dalam hati. Kepada siapa lagi rasa rindu harus mencari yang dirindukan? Sedangkan waktu tak lagi berpihak padanya. Denting jam tak lagi sekuat degupan rindu dalam hati. Namun apa daya, ketika rindu adalah lawan yang telah kalah. Tak ada lagi, tak ada lagi rindu yang tersimpan. Tak ada lagi kenangan. Tak ada lagi tentangmu.
Dua tahun, nyatanya memang masih kurang untuk melupakan semua kenangan itu. Yusuf. Entah kenapa, Aku tak mampu menerka semua imajimu, ataupun imajiku sendiri. Lantas, bagaimana jika waktu tak lagi berpihak? Sedangkan aku masih ingin disini? Menanti fajar hingga senja membawamu kembali. Menatap ufuk timur dengan keyakinan dan pengharapan yang pasti, atau menghujat senja yang tak kunjung membawa berita. Lantas apa yang bisa aku lakukan? Selain menetap, menanti, dan mengharap dalam ketidakpastian. Ah, ketidakpastian hanyalah perkara keyakinan. Maka, ketika aku yakin maka itu pasti. Ketika ketidakyakinan merajai hati, maka ketidakpastianlah yang memenangkan pertarungan ini. Malam kian larut. Aku belum selesai mengerjakan proyekku. Yusuf. Ia selalu saja menggangguku. Sama dengan halnya 5 tahun yang lalu.

2015
Entah apa yang terjadi. Tepat 3 tahun email itu masuk. Aku membuka emailku. yulisant@gmail.com. Email yusufyu@gmail.com berada paling atas. 3 pesan yang belum terbuka. Awalnya, keraguan merasuk dengan dalam. Sangat dalam. Namun kubulatkan tekad. Membuka email itu dengan ketenangan. 3 email yang sama. Terkirim pada tanggal yang sama. 30 juni. Air mataku hendak pecah. Email pertama pun ku buka. 30 Juni, 2013.

“Assalamu’alaikum. Selamat malam, Yuli. Selamat memasuki usia ke 19 tahun. Doaku hanya satu, semoga Allah senantiasa mengabulkan doamu. Aku minta maaf, tidak bisa memberikan apapun untukmu. Aku juga minta maaf, ulang tahunmu ke-18 kemarin tidak sempat Aku ucapkan. Aku tak perlu mengucapkan alasanku bukan? Semoga kau makin dewasa, makin bahagia, dan makin sukses.
Paris, 30 Juni 2013.
Yusuf.”

Singkat. Yusuf memang bukan tipe orang yang pandai berkata-kata. Aku bungkam sesaat. Email kedua pun Aku buka. Pendahuluan yang sama, ucapan yang sama. Hanya saja, ada beberapa perbedaan.

“Yuli, apakah tradisi semasa kita SMA masih berlaku dengan sahabat-sahabat kita? Aku merindukan masa-masa itu. Selamat menapaki usiamu yang ke-20 Yul. Semoga Tuhan segera mendekatkanmu dengan Jodoh.”

Air mataku masih mengalir. Tak ada siapapun di kamar. Tak ada Tisca yang menemaniku membuka email dari Yusuf, seperti halnya 3 tahun yang lalu. Jantungku masih berdebar. Hatiku masih perih. Email ketiga, kembali kubuka. Kali ini dengan intro yang sedikit berbeda.

“Assalamu’alaikum. Apa kabar Yuli? Ini email ke-4 ku setelah kepergianku. Kau masih mengingatku kan? Sahabatmu kala SMA. Yuli, masih kah kau mencintai senja? Seperti yang selama ini kuketahui tentangmu. Kali ini, aku memberikanmu kado spesial. Foto-foto senja terindah yang kunikmati selama tiga tahun di Perancis. Tidak hanya di Paris, tapi di beberapa kota lainnya yang ada di Perancis. Semua Aku siapkan untuk hari ini. 30 Juni ke-21 tahun. Yul, tak terasa, Aku telah meninggalkanmu selama tiga tahun. Sudah tepat tiga tahun kebersamaan kita bukan? Yul, Aku ingin sedikit bercerita padamu. Walau entah kapan Kamu akan membaca emailku ini. Aku hampir menyelesaikan pendidikanku di Paris. Itu artinya, Aku akan segera pulang ke Indonesia. Memang, impianku untuk pergi ke luar angkasa belum tercapai. Aku bahkan belum mampu menginjakkan kaki di planet Saturnus ataupun Jupiter. Tapi, kamu tahu? Ada yang lebih indah buatku saat ini. Menapaki belahan bumi yang lain. Indonesia. Aku ingin segera pulang. Aku merindukan segalanya. Termasuk, kamu. Maafkan Aku yang lancang, Yul. Aku memang tak pernah tahu bagaimana kabarmu. Aku tak tahu, apakah kau sekarang sudah menjadi dokter atau bahkan menjadi istri dari seorang dokter. Yang Aku tahu, Aku memikirkanmu detik ini, dan mungkin detik-detik berikutnya. Aku memang tak memintamu menungguku. Karena Aku lebih menginginkan menunggu indahnya kehendak Tuhan. Maafkan atas ceritaku ini. Semoga kau makin baik Yul.
Paris, 30 Juni 2015.
Yusuf”

Pudar. Pandanganku tak lagi pada layar laptop 14″ itu. mataku banjir oleh air mata. Isak tangsiku kian tak terbendung. Sepahit ini kah? Mengapa Yusuf begitu tega padaku? Pertanyaan yang pernah kusampaikan padanya. Hingga hari pun tak memberi jawaban padaku.

Mataku masih perih, menatap layar monior. Hpku berdering. Tepat pukul 06.00 WIB. Aku meraih HP yang tergeletak di meja samping tempat tidurku.
Private number. Aku mengangkatnya. Mengucap salam, dan suara di ujung telepon itu, jelas sekali.
“Bolehkah Aku menjadi Jupiter yang mengucapkan selamat pagi untukmu?”
Aku segera beranjak. Hanya satu orang yang tahu dengan kode rahasia itu. aku lelah menebak. Aku segera ke luar kamar. Melihat segala kemungkinan yang terjadi. 22 September 2015. Wajah ramah, mata sayu, kulit putih, badan yang sedikit berisi itu, nyata adanya. Aku seperti bermimpi. Namun Aku tak ingin bangun. Aku ingin tetap seperti ini. Langkahnya perlahan, berjalan dengan tenang padaku.
“Kamu tidak sedang bermimpi, Yul.” Ia terseyum dengan khasnya padaku.
Aku masih diam. Mendengarkan hembusan napasnya yang sangat Aku rindukan. Oh Tuhan, jangan bangunkan Aku terlebih dahulu. Tak banyak yang kami lakukan. Ia baru sampai di Indonesia. Hanya 10 menit Ia menemuiku. Ia harus segera pulang ke rumahnya. Keluarganya sudah menanti. Aku melepaskannya. Dan aku seperti bangun dari mipiku. Yusuf. Dia nyata adanya.

Angin berhembus pelan, menyejukkan. Malam itu semua terasa indah. Menenangkan. Aku membuka pembicaraan. Memecah keheningan sesaat.
“Bagaimana jika Aku pergi?” Aktivitasnya terhenti. Menatapku lamat-lamat. Tersenyum. Senyuman yang begitu menentramkan.
“Aku tak kan mencegahmu. Aku laksana pintu sebuah rumah. Jika penghuninya tak lagi berkenan di dalam rumah, tak apa. Ia hanya butuh kesejukan, atau sekedar hiburan supaya tak bosan di dalam rumah. Akulah pintu itu. Kapanpun kamu mau membukanya, buka saja. Aku tak kan menahanmu. Tak akan.” Aku diam. Mematung, seperti disihir kata-katanya. Lantas Aku bertanya kembali.
“Kau tak takut Aku pergi? Bagaimana jika Aku tak kan pernah kembali?”
Senyumnya, tatapanya, menghilangkan segala keraguan dalam benakku.
“Aku adalah rumahmu. Sejauh apapun kau pergi, kau pasti akan kembali. Selama apapun kau pergi, kau akan merindukan rumahmu. Senyaman apapun tempat barumu, rumahmu senantiasa menyimpan cerita yang membuatmu lebih nyaman. Apakah kau akan tetap pergi?” Kaca itu hendak pecah. Tak mampu membendung air mata yang telah tertahan.
“Lantas bagaimana jika Aku harus pergi untuk selamanya?”
Suaraku hilang, bersamaan hembusan angin yang tengah menghampiri.
“Aku akan tetap bertahan hidup untukmu. Mendoakanmu akan menjadi rutinitasku, mengenangmu akan menjadi rentetan ceritaku, memikirkanmu akan menjadi penghias setiap detik waktuku, mencintaimu akan menjadi penyejuk jiwaku. Apa yang masih kau takutkan?” Aku terisak. Lantas setega itu kah Aku harus pergi meninggalkannya?

3 tahun kepergiannya, 3 tahun pula Aku tahu sebuah kenyataan pahit. Aku mengidap sebuah penyakit. Usiaku tak terbatas, tak ada yang tahu. Aku memberinya sebuah kabar duka usai perpisahan kami nan panjang. Yusuf. Ia masih tak percaya dengan semua penjelasanku. Sama halnya ketika Aku bercerita tentang kuliahku. Aku bukan dokter, dan mungkin tak kan menjadi bagian dari kehidupan dokter. Aku lebih memilih menjadi bagian hidup dari seorang fisikawan.

2016
Ada serangkaian kata yang masih terkunci dengan kokoh. Menata dengan pelan, dalam kotak penyimpanan. Terkadang, hanya kutengok. Sesekali, hanya melihat tanpa hendak menyapa. Tak ada daya untuk meraih kunci. Biarkan Ia tersimpan rapi, aman, dan penuh kedamaian. Ya, damai. Karena disanalah tempatnya harus menetap. Jika kelak Ia mengalun lembut, hingga tiada kau sadari, maka anggaplah Ia telah menemukan kuncinya. Bukan perkara mudah, memang. Bersembunyi dalam kebersamaan. Diam dalam candaan. Tak mengerti arah dalam perjalanan. Ah, biarkan rangkaian kata yang telah tersimpan rapi itu tetap tersimpan hingga kini. Tak perlu resah, atau takut dengan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Tak ada jaminan akan kepastian. Tengadahkanlah tangan dengan anggun. Dan biarkan, rangkaian katamu dan kataku menemukan kita.

30 juni 2016, usai gelar S1 telah kuraih, Yusuf membuktikan janjinya. Ia mendatangiku beserta keluarga besarnya. Kami resmi menikah, 1 minggu sebelum bulan puasa. Aku memang belum sembuh dari penyakitku. Tapi Yusuf selalu meyakinkanku, jodoh tak selalu berhubungan dnegan kematian. Hingga detik ini, fisikawan muda itu masih setia menemaniku. Ia memang tak memintaku menunggu, tapi Tuhan membuatku menunggu. Demikian inilah sekenario yang begitu indah, yang pernah Yusuf ceritakan padaku. Tak ada yang lebih indah dari skenario Tuhan. Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi, selama hidup dan matiku bergantung pada Tuhan, Aku percaya sekenarionya akan selalu indah. Yusuf. Aku belajar banyak hal darinya. Termasuk alasannya melepaskanku. Karena ternyata, Ia sangat mencintaiku. Ia tak ingin membuatku terluka di dunia dan akhirat. Adakah yang lebih romantis dari percakapan seorang insan yang mencinta dan menyampaikan pengharapannya terhadapmu melalui Sang Maha romantis?

Boleh jadi apa yang dia sampaikan memang tak kau tahu. Namun Sang Maha romantis menyampaikannya dengan cara yang lebih romantis. Tanpa kau tahu, sedemikianlah itu pengharapannya. Dan hari ini, Tuhan menyampaikan pesannya dengan amat romantis.

Cerpen Karangan: Laili Ni’amah
IG: @Laili_Niam
FB: Laili Ni’amah
Twitter: @LailiNiam
Path: Laili Ni’amah
Blog: http://blog.uad.ac.id/members/laili1300001034/
line: @lailiniam
Sebuah Hati Untuk Logika

Sebuah Hati Untuk Logika

Judul Cerpen Sebuah Hati Untuk Logika

Ketika sepasang mata bertemu dengan sepasang mata lainnya dari kepala yang berbeda jenis kelamin akankah selalu lahir sebuah perasaan; cinta setelahnya. Apakah bila kita teringat kepada seseorang setelah pertemuan yang tidak disengaja itu bisa disebut; rindu. Lalu apabila kita merasa ada yang istimewa dari diri seseorang apa itu namanya; kagum. Dan ketika kita disentuh rasa gundah tatkala melihat seseorang dekat dengan seseorang itukah apa yang dikatakan; cemburu. Lantas saat saya merasa rindu, kagum, dan cemburu kepada seseorang apakah saya sedang; jatuh cinta.

“Kalau berbicara logika jatuh itu sakit, tapi kenapa orang-orang begitu suka jatuh cinta?” pertanyaan itu meluncur dari salah satu penonton kepada sang motivator cinta di atas panggung.
“Logika tidak pernah mengerti dengan perasaan, tapi perasaan dipaksa untuk mengerti dengan logika,” jawabnya.
Saya yang juga menjadi penonton memalingkan pandangan kepada seorang gadis di samping saya. Ingatan saya menjadi tertinggal di dua jam yang lalu ketika saya berpapasan dengan gadis itu di pintu masuk. Saat saya hampir berhasil melihat seluruh wajahnya dia keburu menutup pipi kanannya dengan ujung jilbab, mungkin dia malu, padahal saya sudah tahu kalau di pipi kanannya terdapat bekas luka yang cukup besar; saya tidak sengaja melihatnya.
“Berarti logika itu egois!” dengus seorang pria yang duduk di depan saya.
“Logika, perasaan? Saya tidak percaya keduanya,” ujar gadis yang menutup pipi kanannya dengan ujung jilbab, setengah kesal.
“Apa yang membuat seseorang bisa menduakan cintanya, logika atau perasaan?” tanya seorang perempuan di bangku paling kiri.
“Logika!” batin saya berteriak.
Perempuan itu adalah sang mantan, dulu dia mengkhianati cinta saya dan lebih memilih pria berdasi yang sedang duduk di sampingnya. Itu semua karena logikanya; pria itu adalah seorang direktur sedangkan saya hanyalah seorang anak muda yang baru lulus dari Sma. Sebelum dia meninggalkan saya, sempat terucap dari mulutnya; aku masih cinta tapi aku ingin hidup senang. Benar kata motivator tadi logika tidak pernah mengerti dengan perasaan, dan perasaan dipaksa untuk mengerti dengan logika.
“Seseorang yang yakin dengan perasaannya, tidak akan pernah menduakan cintanya, walau apapun yang terjadi,” jawabnya.
“Logika itu jahat, perasaan itu lebay.” kali ini gadis yang ada di sampingku semakin kesal.
“Terus kalau seseorang yang suka membohongi pasangannya, apa itu tidak punya logika atau tidak punya perasaan?”
“Tidak punya kedua-duanya!” lagi-lagi batin saya berteriak.

Dua tahun perempuan itu membohongi saya. Selama kami berhubungan dia selalu mengingatkan saya; jangan ada dusta di antara kita. Tapi dia sendiri yang menelan bulat-bulat ucapan yang sudah dimuntahkannya. Meskipun perempuan itu tidak menjelaskannya, saya cukup mengerti mengapa dia harus menyembunyikan rahasia bahwa Ayah dan Ibunya sudah menyiapkan jodoh. Banyak ucapan itu ini yang pernah diikatnya bersama janji-janji, mungkin dulu yang ada dalam hatinya hanya ingin hidup dengan saya, sampai-sampai memperlakukan saya seperti raja, tanpa disadarinya segala perhatian yang diberikan telah menciptakan perasaan yang dalam di hati saya. Sial, ternyata dia lebih menyukai kesenangan, hidup berselimut kemewahan daripada harus memulai semuanya dari nol bersama saya, tanpa memikirkan perasaan saya bagaimana, dan tanpa mengingat perasaannya sendiri yang masih mencintai saya. Entah perempuan itu bodoh atau apa, dia tidak sadar telah membuat saya berharap setinggi langit dan akhirnya dia pula yang menyebabkan saya jatuh hingga terpatah-patah tidak berdaya.

Setelah acara selesai semua penonton bubar menuju lorong pintu ke luar. Saya memperhatikan gadis yang mempunyai bekas luka di pipi kanan dan sekali-sekali memperhatikan sang mantan yang bergandengan tangan dengan suaminya, tidak ada rasa cemburu sedikitpun, yang ada malah merasa jijik melihat anak remaja bermesraan dengan Aki-aki. Itu memang hak dia tapi saya juga punya hak untuk merasa jijik. Saya jadi mikir; kalau uang bisa membuat Aki-aki menikah dengan anak gadis, dan uang bisa membuat mata seorang anak gadis menjadi katarak sehingga Aki-aki kelihatan seperti bujangan. Meski tidak semuanya begitu. Saya hampir kehilangan gadis itu dari penglihatan tapi untung mata saya masih jeli menemukan dia di antara kerumunan orang-orang yang sedang berjalan, saya langsung bergerak menghampirinya. Entah kenapa dia malah lari ketika saya coba dekati, tapi karena saya juga punya kaki, saya mengejarnya sampai dia menyerah dan berhenti di pinggir jalan.

“Kenapa kamu mengejar saya?” tanyanya bergelagat ketakutan.
“Tenang! Saya tidak ada maksud jahat sama kamu.”
“Terus kenapa kamu mengganggu saya?”
“Dan saya juga tidak ada maksud untuk mengganggu kamu.”

Sebuah sedan merah berhenti, membuat dialog yang sedang berjalan juga ikut berhenti, seorang pria setengah abad ke luar dari sedan itu bersama istrinya. Saya tidak mengerti apa maksudnya, pamer kemesraan kah, sekali lagi saya tidak merasa iri apalagi cemburu dan sekali lagi saya malah jijik. Bibir yang sudah peot itu mencium kening anaknya, maksud saya mencium kening istrinya yang lebih pantas menjadi anaknya. Seketika saya merasa mual mendengar kalimat rayuan dari Aki-aki itu; de apapun yang de mau abang pasti beri. Dia benar-benar sudah lupa usia, umur segitu masih ingin dipanggil abang, itu memang haknya tapi lagi-lagi saya juga punya hak untuk muak dengan hal itu. Mending jika niatnya karena Tuhan semata namun si tua itu karena nafsu, bukan suudzon tapi kalau bukan karena nafsu lalu mengapa dia merebut kekasih saya dan kemudian dijadikan istri yang ke tiga belas. Sial, gara-gara terlalu memperhatikan mereka, tahu-tahu gadis berjilbab yang tadi sedang mengobrol dengan saya lari lagi, saya kembali mengejarnya dan meninggalkan dua orang itu tanpa tatakrama.

“Tunggu!” pinta saya ketika berhasil menghadangnya.
“Mau apa lagi?”
“Saya mau mengatakan sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Saya jatuh cinta sama kamu.”
Dia tertawa kemudian bicara. “Dasar lelaki, kamu pikir saya bodoh? Saya tahu kriteria perempuan yang bisa membuat lelaki jatuh cinta pada pandangan pertama, dan saya tidak punya kriteria itu, apalagi kamu belum mengenal saya.”
Agar dia percaya, saya mengaku; bahwa hari ini bukan pertama kalinya saya melihat dia, namun memang benar jika untuk bertemu secara langsung baru kali ini. Saya suka memperhatikan dia sedang duduk di taman, dan saya merasa rindu bila tidak melihatnya, saya juga kagum kepadanya karena selama duduk di taman dia menggunakan waktunya untuk menghafal Al-quran. Pernah juga pada suatu hari saya merasa cemburu karena dia ditemani seorang lelaki yang ternyata adalah Kakaknya.

“Kepada kamu saya merasakan rindu, kagum, dan cemburu, saya jatuh cinta sama kamu.”
“Tapi kamu tidak tahu, kalau..”
“Di pipi kanan kamu ada bekas luka kan? Itu tidak masalah. Terkadang cinta memang tidak memerlukan sepasang mata, karena cinta memang buta, justru kamu yang perlu tahu kalau saya..”
“Hanya anak yang baru lulus dari Sma, di bagi ijazah pun belum, dan kamu suka membantu Ibumu mengantarkan pesanan kue kepada pelanggan, Ibu saya adalah salah satu pelanggannya. Saya siap memulai semuanya dari nol bersama kamu.”
Dia menurunkan ujung jilbab yang sedari tadi menutup pipi. Bibirnya menciptakan lekuk senyum yang indah, membuang jauh-jauh logika; malu punya pendamping yang jelek. Bagi saya kecantikan tidak menjamin kebahagiaan dalam menjalin sebuah hubungan. Yang terpenting orang yang saya cintai bisa menjamin perasaan hingga waktu berhenti.

Tasikmalaya 27-06-2016

Cerpen Karangan: Hari N. Muhamad
Blog: harinoer.blogspot.com