Showing posts with label Cerpen Cinta Romantis. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta Romantis. Show all posts
Love Street (Part 3)

Love Street (Part 3)

Judul Cerpen Love Street (Part 3)

Di dalam mobil.
“Kita ke mana?” tanyaku.
“Banyak nanya.” ucapnya datar masih fokus menyetir mobilnya. Aku mengeluarkan hpku.
“Sekarang tutup mana lo.” ucapnya sambil mengulurkan selembar kain.
“Gak mau.” jawabku.
“Cepat aja lah.” ucapnya, memberhentikan mobil dan mengikat kain itu menutupi mataku.
“Entah apa yang kurasakan? apa aku harus senang? bisa saja? kenapa dia begitu baik? virus apa yang telah mengubahnya?” begitu banyak pertanyaan yang berputar di otakku dan kejadian kejadian yang kulewat bersamanya.

Tak lama kemudian
“Yuk turun.” ajak ko devin.
“Lo lupa ya mataku lo tutup.” ucapku.
“Iya sorry, janganlah marah.” ucapnya sambil turun duluan. Dia membukakanku pintu dan menggengam tanganku menuntunku turun.
“Sekarang bisa dibuka penutup matanya?” tanyaku. Dia tak menjawab hanya menuntunku berjalan.
“Sekarang lo boleh buka penutup matanya.” ucap ko devin. Aku langsung membuka penutup mataku.
“This is very nice, where do you know I like a place like this?” ucapku sambil tersenyum dan menatapnya.
“No need do you know I know from which important do you like the place of this?” ucapnya sambil membalas senyumku.
“I really like this place.” ucapku, Aku kembali menatap pemandangan yang begitu indah.

Angin kencang memghembus dengan cepat membuat badanku terasa menggigil.
“Kamu kedinginan ya?” tanya ko devin.
“Enggak kok.” jawabku.
“Kamu bohong kan?!” ucap ko devin, sambil berlalu kearah mobilnya dan tak lama kemudian kembali lagi.
“Nih pake scarf ku.” ucapnya sambil menyodorkan scarfnya kearahku.
“Gak usah koko ada yang pake.” ucapku lembut sambil menahan dinginnya terpaan angin. Tampa mengucap sepatah kata pun ko devin langsung memakaikan scarfnya dileherku.
“Terimakasih scarfnya.” ucapku sambil tersenyum menatapnya.
“Sama sama.” dia membalas dengan senyum termanis yang pernah dia aku lihat.

“Sejak kapan kamu belajar panggil kau dengan sebutan koko? biasanya lo gue? kenak virus apa?” ucap ko devin sambil masih menatapku. Aku mengalihkan pandanganku.
“Hei..?!” panggilnya. Aku masih diam saja.
“Hei..?! ada yang salah dengan pertanyaanku tadi?” tanyanya.
“Aku aja yang salah nilai ko devin waktu awal.” ucapku pelan sambil menundukan kepalaku karena malu.
“Biasa aja.” ucapny lembut sambil menepuk bahuku. Aku masih saja menundukan kepalaku.
“Hei.?! angkat kepala kamu.” ucap ko devin.
Aku masih tak bergerak sedikit pun.
“Hei..?!” ucapnya lagi sambil mengangkat kepalaku dengan memengang daguku. Dia tersenyum mematapku, Aku hanya tersipu malu melihat caranya menatapku.
“Kenapa hatiku berdebar cepat? apa aku jatuh cinta padanya?” gumamku.
“Kamu tadi bilang ada?” tanya ko devin.
“Dia bisa mendengarnya.” pikirku.
“Hei..?!” ucapnya lagi.
“Apa?” tanyaku sedikit terkejut.
“Kamu melamun ya?” tanyanya.
“Enggak kok.” ucapku pelan.
“Kamu tunggu sini bentar aku mau beli sesuatu.” ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkanku.
“Ke mana?” tanyaku.
“Bentar aja kok, aku kan pake mobil.” jawabnya.
“Kenapa dia baik banget ya hari ini?” pikirku. Aku hanya duduk di rumput sambil memandang pemandangan.

Sekitar 20 menit kemudian.
“Hei..?! sudah lama nunggu ya? nih buat kamu..” ucapnya sambil jongkok disampingku.
“Es creem?” tanyaku binggung.
“Ya ambil kesukaan kamu kan corrneto matcha.” ucapnya.
“Thx.” ucapku sambil mengambil es cream dari tangannya.
“Senyum dong.” ucapnya sambil duduk disampingku. Aku pun tersenyum menatapnya.
“Gitu dong baru cantik.” ucapnya.
“Siap makan es cream aku mau ngajak kamu kesuatu tempat even nice than this place.” ucapnya.
“Is it true?” tanyaku sambil menatapnya.
Dia hanya tersenyum tanda iya.
Setelah siap makan es cream kami menuju tempat yang dia bilang lebih bagus dari tempat sebelumnya.

“Ko devin pencinta alam?” tanyaku mencoba membuka bicara.
“Maybe.” ucapnya.
“Kujamin kamu pasti lebih suka tempat ini. karena ini juga merupakan tempat favoritku.” ucapnya.
“Maybe.” ucapku.
“Kamu mengikuti kata kataku.” ucapnya.
“Maybe.” ucapku lagi.
“Yuk turun, Udah nyampe.” ucapnya. Kami pun turun.

“Gimana pemandangannya?” tanya ko devin.
“It’s so beautifull.” jawabku.
“Gimana kalau kita berkeliling, pasti kamu akan tambah terkagum kagum dengan tempat ini.” ucapnya sambil melangkah aku hanya mengikutinya dari belakang.
“Menarikkan tempatnya.” ucap ko devin.
“Lebih bagus dari tempat yang tadi.” ucapku.
“Ada taman bunga.” ucapku.

Tiba tiba ko devin memarik tanganku dan kami berlari bersama sama ke taman bunga.
“Kamu pasti belum pernah lihat bunga sebanyak ini.” ucap ko devin sambil memetik setangkai bunga mawar dan memberikannya padaku.
“Nih ambil.” ucapnya.
“Thanks.” ucapku mengambil setangkai bunga mawar dari tangannya.
“Kamu suka kan sama bunga lily putih?” tanya ko devin.
“Suka banget.” ucap ku sambil tersenyum.
“Gimana mau beli bunga lili putih gak? sekaligus juga ada tanaman yang mau aku cari.” tanya ko devin.
“Mau mau.” jawabku.
“Bersemangat kali.” ucap ko devin sambil mengosok kepalaku dengan tangannya, daia sangat mudah melakukan itu karena tinggiku hanya sedagunya.
“Ayuk..” ucapku sambil menarik tangannya.
“Ya yuk.” ucapnya.
“Sekarang kok jadi berbalik kondisi, tadi perasaan kamukan yang genggam tanganku tadi sekarang kok jadi aku yang genggam tangan kamu.” ucap ko devin.
“Tapi aku sekarang kelihatan seperti anak anak yang harus dijaga di tempat wisata.” ucapku.
“Hampir mirip tapi bukan karena nakal.” ucapnya.
“Lalu karena?” tanyaku.
Dia tak menjawab hanya terus mengenggam tanganku lalu terus berjalan ke mobil.
“karena?” tanyaku lagi.
“Supaya lo gak kabur lagi.” jawabnya.
“Kabur ke mana?” tanyaku.
“Kepo!!” ucap ko devin.
“Huhhh…” ucapku pelan.
“Cepat naik.” ucap ko devin sambil membukakan pintu untukku. Lalu aku naik dan ko devin pun juga naik.
“Setelah cari bunga nanti kita makan siang ya?” ucap ko devin.
“Makan siang?” ucapku bingung.
“Ya… nanti kamu pingsan aku juga yang repot.” ucapnya.
“Huhhh..” ucapku.
“Mau gak, atau tak gak jadi kita cari bunga langsung pulang aja lagi.” ucap ko devin.
“Eeee… janganlah.” ucapku.
“Ya udah berarti nanti siap cari bunga kita makan siang janji?!” ucap ko devin.
“Janji.” balasku.
“Gitu dong.” ucap ko devin sambil menggosok kepalaku dengan tangannya. Lalu kembali menyetir dengan dua tangan. Tapi aku suka dia menggosok kepalaku dengan tangannya.
“Oke.. kita cari bunganya di sini.” ucap ko devin sambil memakirkan mobilnya.
“Yuk turun.” ucapnya, Kami pun turun.

Kami pun langsung disambut oleh penjual.
“Cari tanaman apa dek?” tanya pejual bunga.
“Cari bunga lili putih, Ada?” ucapku.
“Ada bentar biar saya ambilkan bentar.” ucapa penjual sambil pergi, Aku sibuk melihat lihat bunga yang ada.
“Tunggu. Di mana ko devin?” gumamku.
“Dek, bunganya.” ucap penjual.
“Ini berapa harganya pak?” tanyaku.
“25.000” jawab penjual itu. Aku membayar dengan uang pas.
“Makasih pak.” ucapku.
“Perlu pake plastik dek?” tanyanya.
“Boleh.” ucapku sambil penjual itu memasukkan tanaman ku ke dalam kantong pelastik. Lalu perjalan meninggalkan penjual itu.
“Udah dapat bunganya?” tanya ko devin sambil tegak menyilang kaki kanan di depan kaki kirinya sambil tegak di depan mobilnya.
“Udah, nih bunganya.” jawabku sambil menunjukan bungaku.
“Ko devin gak cari bunga?” tanyaku lagi.
“Udah dapat. letak aja bunganya dibelakan.” jawabnya sambil mengambil kantong diri tanganku dan meletakkannya di bagasi mobilnya.
“Yuk naik, kita makan siang lagi.” ucap ko devin. Lalu kami naik.
“Makan di mana?” tanyaku.
“Yang pasti di restoran.” jawabnya.
“Aku tau lah di situ tapi nama restorannya apa?” tanyaku lagi.
“Jam berapa?” tanya ko devin.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” ucapku kesal.
“Marah lagi.” ucap ko devin.
“Terserah ko devin lah, turunkan aku di sini!!” bentakku.
“Enggak!!” jawabnya.
“Cepat!! atau aku akan loncat dari mobil ini!!” ucapku.
“Ya ya…” ucap ko devin sambil menepikan mobilnya. Aku pun langsung turun dan menutup pintu mobil dengan keras. Dia langsung pergi meninggalkanku.
Aku pergi mencari taksi…

35 menit kemudian…
“Ma tere pulang.” ucapku.
“Anak mama udah pulang, Devin mana?” ucap mamaku.
“Gak tau.” jawabku, Langsung pergi ke kamar.
“Sejak kapan ada kado?” ucapku pelan sambil jalan mendekati kado yang terletak di atas kasurku.
“Siapa yang kirim?” gumamku.
di atas kotak itu tetera

To: Teresia Putri.
“Gak ada nama penggirim.” ucapku pelan.
“Aku buka saja lah.” pikirku sambil membuka kado itu.
“Green long dress.” ucapku bingung sambil megeluarkan dress itu dari kotak.
“Secarik kertas?” ucapku sambil meletakkan dress itu di atas kasur dan memgambil kertas itu.
‘Sorry sering bikin kamu marah, sorry sering bikin kamu kesal, Sebenarnya waktu di mall itu aku cuma shellya bantu carikan dress buat kamu…
JANGAN LUPA BESOK DIPAKE!!
WAJIB!!
Sorry…
From: Devin
To: Cewek aneh (jangan lupa lihat ke teras kamar kamu)’
“Maksudnya?” ucapku ku sambil berjalan keteras.

“Lili putih.” ucapku. Dan aku berjalan mendekati bunga lili itu.
“Secarik kertas.” ucapku sambil membuka kertas itu. ‘Sorry…’.
“Cowok lemot.” ucapku sambil tersenyum malu malu.

Sabtu pagi…
“Dressnya pas.” ucapku sendari tadi berdiri di depan kaca melihat long dress hasil pilihan ko devin. Aku menggerai rambut dan menggunakan high heels silver dan membawa sling bag yang hanya berisi hpku dan sebuah buku novel.
Lalu aku turun setelah bersiap siap.

“Ma tere berangkat.” ucapku.
“Wah cantik kali anak mama. katanya dressnya belum beli lalu ini?” puji mamaku.
“Ko devin kasih kemarin.” ucapku.
“Ooo yang kado itu.” ucap mamaku.
“Mama tau?” tanyaku.
“Tau lah ko devin yang letak.” ucap mamaku.
“Berangkat sama siapa?” tanya mamaku.
“Naik taksi.” jawabku.
‘Tittitiiit…’ Tiba tiba ada sebuah mobil hitam pakir di depan rumahku. Dan seorang laki laki turun mengunakan jas hijau.
“Ko devin?!” ucapku bingung.
“Good morning tante, Permisi mau jemput anak tante, Tere.” ucap ko devin.
“Iy hati hati di jalan.” ucap mamaku. Ko devin langsung menarik tangaku.
“Ma tere pergi dulu, bye…” ucapku.
Kami pun naik ke mobil dan berangkat ke lokasi ultah sekolah.

“Kamu cantik.” ucap ko devin. Aku hanya diam saja sibuk memainkan hpku.
“Hei..?!” panggilnya sambil menarik hpku den memasukkannya ke dalam kantong jasnya.
“Eehh.. ko devin!! kembalikan hpku.” rengekku sambil menarik tangannya.
“Enggak akan ku kembalikan.” ucap ko devin.
“Jahat!!” ucapku sambil mengeluarkan novel.
“Baca novel lagi.” ucap ko dengan nada tinggi.
“Suka hati lah.” ucapku.

“Gimana dressnya bagus gak?” tanya ko devin.
“Bagus.” jawabku singkat.
“Hei..?! cuek kali sih asal ketemu sama novel dan hp orang yang lebih tua pun tak dianggap.” ucap ko devin.
“Lalu?” tanyaku.
“Ya jangan dibaca.” jawab ko devin.
“Enggak!!” jawabku. Dia langsung sung mengambil novelku dan melemparnya ke kursi belakang.
“Ko devin!!” bentakku.
“Tambah cantik kalau gambek.” ucap ko devin.
“Gombal..” balasku.
“Koko gak gombal ya, itu kenyataan.” balas ko devin.
“Biasa aja.” ucapku. Dia langsung menggosok kepalaku dengan tangannya.

“KO devin kok bisa dekat sama mamaku?” tanyaku.
“karena mama kamu sama mamaku saling kenal. Emang kenapa?” jawab ko devin.
“Gak ada.” jawabku.
“Kepo ya?” ucapnya.
“Mana ada.” balasku.
“Bohong..” balas ko devin.
“Terserah Ko Devin aja.” ucapku Lalu memandang ke arah jendela mobil.
“Ngambek..” ucap ko devin. Aku tidak memperdulikan ucap ko devin.
“Ngambek ya?” ucap ko devin lagi.
“Enggak.” jawabku.
“Eh tunggu dulu. Rasanya hotelnya arah jalannya gak ke sini deh.” ucapku
“Memang.” jawab ko devin.
“Lalu mau ke mana?” tanyaku.
Ko devin hanya diam saja dan fokus dengan menyetirnya.
“Mau ke mana?!” tanyaku lagi.
“Ke hatimu.” jawab ko devin.
“Kenapa aku jadi salting gini?” pikirku.
“Hei..?! kok diam?” tanya ko devin.
“E-Eng-enggak ada.” jawabku.
“Santai aja.” ucap ko devin.
“Sebenarnya acaranya mulai jam 09.00 tapi sekarang masih jam 07.45.” ucapnya sambil melipat lengan jasnya.
“Jadi ini mau ke mana?” tanyaku.
“Kita ke…” ucap ko devin.
“Ke mana?” tanyaku lagi.
“Jalan cinta.” jawab ko devin.
“Emang ada?” tanyaku.
“Ada.” jawabnya.
“Di mana?” tanyaku.
“Jalan untuk mendapatkan hatimu.” ucap ko devin.
“Maksudnya?” tanyaku. Dia tak menjawab hanya fokus menepikan mobilnya lalu berhenti.

“Sebenarnya koko suka sama kamu, dari gaya bicara kamu sikap. Kamu mau gak jadi pacar koko?” ucap ko devin sambil megeluarkan setangkai mawar merah dari punggungnya.
“A-a-aku mau.” jawabku sambil mengambil mawar dari tangannya.
“Cie… cie… yang jadian.” ejek seseorang dari belakang.
“Ya tuhan terimakasih telah membukakan pintu hati sahabatku ini hingga dia tidak jomblo lagi.” ucap seseorang menyusul.
“Renita… steven..” ucapku.
“Sejak kapan kalian di sini?” tanya ko devin.
“Sejak kalian berdua.” jawab renita.
“Dan sebelum kalian pacaran.” sambung steven.
“Kapan kalian masuk?” tanya ko devin.
“Ceritanya panjang ko.” jawab steven.
“Yang pasti nanti kalau kita jalan bareng gak ada nyamuk lagi.” ucap renita.
“Jadi selama ini aku nyamuk ya… huhh…” ucapku. Lalu kami tertawa.

“Satu kenyatan lagi… Menurut kalian jalan cinta ada gak?” tanya ko devin.
“Enggak.” jawab renita.
“Enggak tau.” sambung steven.
“Sebenarnya kita lagi ada di jalan cinta, baca itu.” ucap ko devin sambil menunjuknya.
“Jalan cinta…” ucap renita.
“Cocok.” sambung steven.
“Jalan cinta… Love street…” ucap ku pelan.

The End

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia
Love Street (Part 2)

Love Street (Part 2)

Judul Cerpen Love Street (Part 2)

Di kelas
Lalu aku duduk dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Tak beberapa lama kemudian bel istirahat berbunyi, Aku mengeluarkan novel dari dalam tas dan membacanya.
“Hei… lo kenapa?” tanya renita mengejutkanku.
“Apanya kenapa?” tanyaku bingung.
“Tadi kok lo pergi?” tanya renita.
“Gak ada, cuma jelek aja moodku nengok mukanya.” jawabku.
“Yakin?” tanya steven.
“Apa sih?” tanyaku.
“Gak ada.” jawab steven.
“Ya udah.” balasku kembali baca novel.
“Pantas aja ko dev sifatnya gitu ke lo.” sambung steven.
“Apanya sifat?” tanyaku.
“Kan ko dev udah sebutin tipe cewek yang dia taksir dan itu semua mengarah ke lo.” jawab steven.
“Eh tunggu dulu, kan waktu ko dev ditanya alasan kenapa dia telambat dia bilang apa?” tanya renita.
“Tadi aku tersesat di jalan bernama cinta.” jawab steven.
“Itu persis dengan alasan waktu lo masih sd gue tunggu lo, lo telat 1 jam.” sambung
“Lalu apa hubungannya sama aku?” tanyaku.
“Ya banyak lah.” jawab renita.
“Apanya?” tanyaku lagi.
“Berarti dia mirip sama lo.” jawab renita.
“Dahlah malas aku bahas.” sambungku sambil membaca kembali novelku.
“Ahh malas aku bicara sama lo.” balas renita.
Aku hanya diam saja.

Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi.
“Gimana kalau kita ke kantin aja.” ajak steven.
“Yuk.” jawab renita.
“Tere lo gak ikut?” tanya steven.
“Malas, Kalian aja pergi.” jawabku.
“Lo yakin, masa aku pergi berdua sama dia.” sambung renita.
“Kalian itu cocok dari pada nanti aku jadi nyamuk di antara kalian memding aku di kelas.” jawabku.
“Apa sih tere, kami tuh gada apa apa.” sambung steven.
“Sekarang gak ada apa apa besok atau nanti pasti ada apa apa.” jawabku.
“Ya udah, kami pergi dulu.” sambung steven.
“Bye…” ucapku renita, lalu pergi ke kantin bersama steven.

Tak lama setelah mereka pergi.
“Woi ngapain tadi lo pergi?!” panggil seseorang, ko devin.
“Ooo… lo lagi ya aku gak mau kelamaan di sana, bosan.” jawabku.
“Bosan kenapa?” tanya ko devin.
“Bisa gak sih lo itu diam aja sebentar, hilang dari pandangan aku.” sambungku.
“Kenapa?” tanya ko devin.
“karena gue mau mengundurkan diri jadi anggota osis, nih ambil kembali jaket osisnya.” jawabku sambil mengembalikan jaket osis.
“Enggak lo gak bisa mengundurkan diri gitu aja.” balas ko devin.
“Please gue mohon gue gak mau.” ucapku.
“Tapi.. kena..” ucapnya terpotong.
“Ko please gue mohon, ambil jaketnya, gue gak mau jadi anggota osis lagi.” ucapku.
“Ya udah terserah lo.” ucap ko devin sambil memgambil jeket dari tanganku, lalu pergi meninggalkanku.
“Ko!! koko tau kenapa gue gak mau jadi anggota osis, karena gue takut jatuh cinta ke lo.. karena semejak jadi anggota osis gue merasa ada perubahan di hati gue, maafkan gue ya ko devin.” gumamku sambil menutup novel dan memandang ke luar jendela.

Tak lama setelah kejadian itu.
“Tere, lo mengundurkan diri jadi anggota osis?” tanya seseorang.
“Iya.” jawabku (tidak melihat orang yang bertanya itu.)
“Kenapa?” tanya orang itu lagi.
“karena gue gak mau jadi anggota osis lagi.” jawabku.
“Lihat gue.” panggilnya. Aku menatapnya.
“Renita, steven?” ucapku pelan.
“Kenapa lo gak mau jadi anggota osis?” tanya steven.
“Kenapa lo selalu bilang bosan?” tanya renita.
“Kenapa lo se..” ucap steven terpotong.
“Stop… cukup pertanyaannya. aku gak mau jadi anggota osis karena bosan kenapa bosan karena aku.. aku..” ucapku.
“Kenapa lo berhenti?” tanya steven.
“karena gak ada yang perlu aku jelaskan.” jawabku.
“Ada banyak.” sambung renita.
“Apa sebutkan.” ucapku mulai marah.
“Lo kenapa gak mau jadi anggota osis? lalu kenapa lo selalu jawab bosan? apa lo suka sama ko devin? apa.. lo” tanya renuta terputus.
“Cukup..!!” bentakku. lalu pergi keluar kelas.
“Tere… gue tau lo suka kan sama dia.” teriak renita dari dalam kelas.
“Dari mata lo gue udah tau lo suka sama dia.” teriak renita lagi. Aku hanya diam saja

Setelah satu hari aku melepaskan jabatanku sebagai aggota osis aku jarang melihat ko devin semejak kejadian hari itu. Dan hari ini aku janjian sama steven dan renita mau ke mall cari long dress.
Setelah bersiap siap hanya membawa tas kecil favoritku, aku berangkat ke mall naik taksi.

Sesampainya aku di mall.
“Wah!! sekarang ini jam berapa?” tanya renita.
“Ke mana saja lo?” tanya steven.
“Jam 11.54 menit dari rumah.” jawabku.
“Gue tau itu.” jawab steven datar.
“Sekarang kita bisa langsung carikan?” tanyaku.
“Kita masih nunggu dua orang lagi.” jawab renita.
“Siapa?” tanyaku.
“Yang pasti orang.” jawab steven ketus.
“Gue tau.” jawabku datar.
“Entar lo pasti tau. Tuh orangnya udah datang.” jawab renita. Aku membalikkan badan.
“Ko devin sama kak shellya.” ucapku pelan. Berjalan sambil bergandengan tangan. Saat aku berbalikkan badan dan melihat ke arah renita stevn juga bergandengan tangan.
“Ceritanya ini double date gitu?” ucapku bingung.
“Menurut lo gimana?” tanya renita.
“Sorry kami telat.” ucap ko devin.
“Lama benget.” keluh renita.
“Tadi aku tersesat di jalan namanya cinta.” jawab ko devin masih bergandengan tangan dengan kak shellya.
“Oke kalau gitu gue jalan dulu dari pada jadi nyamuk.” ucapku berjalan meninggalkan dua pasang yang lagi bergandengan tangan.
“Hei… lo mau ke mana?” panggil kak shellya.
“Cari dress.” jawabku singkat sambil mempercepat langkahku.

“Mereka telah berpacaran tinggal aku yang masih jomblo.” ucapku sambil mengambil earphone dan memutar lagu. Aku berjalan ke toko baju.
“Saat hati ini terbuka untuk seseorang pasti langsung tersakiti. Kenapa? apa aku harus menjadi seorang cewek dengan kepribadian alay tapi itu bukan tipeku.” ucapku sambil berjalan mengelilingi seisi toko baju.
“Mereka bersama dan pasti mencari dress code yang couple.” pikirku sambil melintas di depan mereka.
“Eh… ada cewek aneh… udah ketemu dressnya?” ejek ko devin. Aku mendengarnya karena aku hanya memasang sebelah earphone saja.
“Menurut lo gimana?” tanyaku sambil berjalan ke luar dari toko baju.
“Mereka sangat cocok.” gumamku pelan sambil berjalan ke toko buku.
Aku sibuk memilih milih novel hingga lupa waktu.

“Hei…” panggil seseorang sambil menepuk bahuku.
“Eh andre.” ucapku.
“Kukira lo bakal lupa sama gue.” ucapk andre.
“Ya engak lah.” ucapku.
“Lo masih gemar baca novel?” tanya andre sambil menatapku.
“Iya.” jawabku.
“Udah nemu berapa novel?” tanyanya.
“Ya baru 3 sih.” jawabku sambil menunjukan buku novel yang baru saja kupilih.
“Gimana kalau kita beli es cream corrneto matcha-kan itu kesukaan lo banget.” sambung andre sambil tersenyum.
“Lo masih ingat aja, yuk tapi aku bayar ini dulu oke.” ucapku.
“Sip.” balas andre. Aku berjalan kekasir dan membayar semua novelku.
“Yuk.” ucapku lalu berjalan bersama andre ke hypermat.

“Gimana masih sama gak rasanya? sama yang waktu aku belikan waktu sd gak?” tanya andre sambil menatapku.
“Masih.” jawabku.
“Lo masih dingin aja.” ucap andre.
“Ya aku tau itu dan aku tak mau berubah.” jawabku hanya terfokus dengan es creamku.
“Kenapa?” tanya andre.
“karena gue gak mau.” jawabku.
“Lo betul betul gak berubah. Gimana kalau kita ke jco aja. sama waktu sd dulu tapi cuma kurang renita sama marvell.” sambungnya.
“Yuk.” jawabku. Lalu kami berjalan ke jco. Lalu memesan beberapa makan dan minuman.
“Eh gimana kabar marcell?” tanyaku.
“Ya masih begitu, masih keren kece masih jadi cogan di setiap kelas.” jawab andre.
“Dia itu biasa saja, lo berlebihan.” balasku datar.
“Idih sok nolak, gitu gitu dia ganteng ya di mata renita.” sambung andre.
“Wah..!! gua cariin lo di mana mana rupanya lo di sini lagi ngedate juga rupanya.” ucap seseorang dari belakang. Aku dan andre membalikkan badan.
“Renita.” ucap andre. Aku hanya melihat renita masih bergandengan tangan dengan steven dan ko devin dengan kak shellya.
“Eh lo dre, lama gak jumpa ke mana aja lo, marvell mana?” ucap renita panjang lebar.
“Sejak kapan aku ngedate sama andre.” ucapku kasar.
“Gak usah nolak, buktinya aja kalian masih ingat tempat nongkrong kita dulu waktu sd tapi gak lengkap gak ada marvell.” balas renita.
“Ngapain masih diri duduk sini, gak enak bicara.” ucap andre. Lalu mereka duduk dengan kami satu meja.
“Dre dia masih ganteng gak?” tanya renita.
“Masih dia masih jadi cogan kok, lo masih like sama dia kan.” balas andre.
“Eh… dre gimana kalau kita selfi bareng.” tawar renita.
“Kita? siapa saja?” tanya andre.
“Ya gue lo sama si dingin kita.” jawab renita, aku hanya melihat sebentar lalu memalingkan wajahku kembali.
“Iya gue lupa panggil akrab kita, dan lo memiliki julukkan si dingin dan marvell si cuek sedangkan kita si ribut dan si rempong.” ucap andre.
“Iya.. jadi ingat waktu sd dulu.” balas renita.
“Ehemmm… kami dikemanakan?” tanya steven.
“Ya lo di situ aja gak usah ke mana mana.” jawab renita.
“Dia itu pacar lo ya ren?” tanya andre.
“Iya, kenalkan dia steven ini kak shellya dan yang ini ko devin.” jawab renita sambil menunjuk satu persatu.
“Ooo..” balas andre.
“Tapi jangan panggil pake ko devin dan lain lain panggil aja cowok lemot.” ucapku ketus.
“Apa lo bilang?” tanya ko devin dengan nada tinggi sambil menatapku.
“Cowok lemot.” balasku.
“Kan lain mulai lagi kelahinya, tapi cocok juga sih.” sambung kak shellya.
“Maksudnya apa sih kok cocok? jadi sebenarnya mereka pacaran gak sih?” pikirku.
“Eh tunggu dulu.” ucap renita.
“Apa?” tanyaku datar.
“Lo udah nemu dress-nya?” tanya renita.
“Menurut lo?” tanyaku balik.
“Belum.” jawab renita.
“Ya udah.” balasku.
“Lo kena lagi sama si dingin.” ucap andre.
“Wah sama nih sama sih devin gak nemu jasnya.” sambung kak shellya.
“Cocok nih buat cari bareng.” sambung renita.
“Iya juga ya. Biar baju nya jadi couple.” sambung kak shellya.
“Ooo ceritanya mereka gak pacaran?” pikirku.
“Gak mau.” balasku.
“Siapa juga yang mau sama lo.” balas ko devin.
“Jadi gak selfinya?” tanya andre.
“Yuk.” jawab renita sambil menarikku.
“Iya iya.” balasku.
“Ini ceritanya gue di tengah gitu?!” ucap andre.
“Gak usah banyak protes, lo tau ini buang buang waktu gue, gue mau cari sesuatu lagi.” ucapku.
“Iya iya.” lalu kami mengambil beberapa foto.
“Eh gimana kalau kita semua berfoto.” ucap andre.
“Wah gue setuju.” sambung renita.
“Aku gak.” jawabku sambil berdiri meninggalkan mereka.
“Woi..!! gue ikut.” ucap seseorang, ko devin.
“Gak usah.” ucapku.
“Gak usah nolak.” ucap ko devin sambil mengenggam tanganku dan menarikku.
“Ke mana?” tanyaku.
“Entar lo tau juga.” jawabnya masih nenarik tanganku.

“Toko buku?” ucapku pelan.
“Iya gue tau lo suka baca novel jadi makanya gue ajak lo ke sini.” jawabnya.
“Kok lo baik sama gue?” tanyaku.
“karena ada beribu ribu hal yang belum kusadari sebelumnya.” ucapnya.
“Tapi tadi aku udah cari novel.” ucapku.
“Cari aja lagi atau mau lihat lihat yang lain.” ucapnya.
“Kok dia bisa baik? tapi kenapa? ada apa dengannya? apa dia juga suka sama sama aku juga?” pikirku
“Hei..?! lo menung?” ucapnya sambil melambaikan tangan disepang muka ku.
“Eh apa?” tanyaku.
“Jadi gak?” tanyanya balik.
“Jadi jadi.” jawabku grogi. Aku berjalan mencari novel satu persatu.
“Eh lo sama andre pacaran ya?” tanya ko devin membuatku tercengah.
“Sejak kapan?” tanya ku terkejut.
“Tadi renita bilang.” jawab ko devin.
“Impossibel.” balasku.

Tiba tiba pesan masuk dari hpku.
‘Tere cepat pulang.’ rupanya pesan dari mamaku.
‘Iya ma.’ balasku.

“Sepertinya aku harus balik dulu mama udah nyari.” ucapku sambil berjalan kekasir.
“Gue antarin ya.” ucap ko devin.
“Gak usah nanti kak shellya pulang sama siapa? aku bisa pupang sendiri kok.” ucapku berjalan lebih cepat dari ko devin. Kami pertama tapi ke jco dulu.
“Gue balik dulu.” ucapku lalu berlalu dari jco.
“Hei!!! gue antarin lo pulang ya.” ucap andre sambil menyusulku.
“Gak usah.” jawabku sambil terus berjalan.
“Gak usah nolak.” ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Aku bukan nolak tapi gak mau ngerepotin.” ucapku sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“Sekali aja gue antarin lo pulang.” ucapnya memelas.
“Gue bilang gak usah ya gak usah.” ucapku dengan nada yang tinggi. Lalu aku berlari keluar memcari taksi lalu langsung pulang.
“Sorry ya dre aku gak bisa mainin perasaanku sendiri, aku tu tertariknya sama ko devin bukan lo.” gumamku.

“Ma tere pulang.” ucapku.
“Lama banget di mallnya. dress-nya dapat?” tanya mamaku.
“Engak, tapi dapat novel.” ucapku sambil menunjukkan 3 novel yang baru saja ku beli tadi.
“Beli novel lagi, tapikan udah punya banyak novel bahkan satu lemari lagi.” ucap mamaku. Aku hanya tersenyum malu. Mamaku hanya menggeleng gelengkan kepala melihatku.

Pagi harinya lagi.
“Tere…re… ada kawan kamu tuh datang.” panggil mamaku dari bawah.
“Iya ma bentar.” jawabku memeng sebenarnya aku sudah bangun dari tadi pagi.
“Siapa ma?” tanyaku.
“Mama masuk dulu.” ucap mamaku.
“Lo?!” ucapku kaget.
“Dari mana lo tau rumah gue? kenapa lo datang? Aku ada buat masalah lagi ya? Atau lo mau cari masalah lagi ya?” tanyaku panjang lebar.
“Udah pertanyaannya, dan biar gue jawab satu satu, gak penting gue tau rumah lo dari mana, untuk ngajak lo jalan, engak ada, engak.” jawab ko devin.
“Jalan?” ucapku bingung.
“Tante pinjam anaknya mau ajak jalan sebentar.” teriak ko devin dari luar rumah langsung menarik tanganku.
“Iya hati hati, jangan kesorean pulangnya.” jawab mamaku.

“Mau ke mana sih?!” tanyaku marah.
“Entar lo tau sendiri.” jawabnya.
“Tapi gak usah pake tarik tarik tangan gue segala!!” bentakku.
“Kalau gue gak tarik lo gak akan ikut.” ucapnya.
“Cepat masuk.” ucapnya sambil sedikit mendorongku masuk ke dalam mobilnya.
“Mau ke mana?!” tanyaku lagi.
“Nanti lo tau, cepat aja-lah masuk!!” bentaknya, Aku nurut aja.

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia
Love Street (Part 1)

Love Street (Part 1)

Judul Cerpen Love Street (Part 1)

Kenalkan nama gue Teresia putri, Pagi ini aku baru saja masuk smp. Pagi ini aku segaja berangkat cepat supaya tidak telambat.
“Ma tere berangkat sekolah dulu ya?” ucapku.
“Iya hati hati.” jawab mamaku.

Aku berjalan keluar dari pintu pagar, Di tengah perjalanan aku mengambil novel dari tasku. Memang aku gemar membaca novel, Aku berjalan sambil membaca novel. Karena jalan kesmpku memang sama dengan ke-sd ku dulu, jadi sudah hafal jalan.

Setelah cukup jauh aku berjalan akhirnya aku sampai di smp. Aku terus melangkah tampa memperhatikan jalan.
Tiba tiba ‘Brukk’ aku bertabrakan dengan seseorang hingga terjatuh.
“Sorry.” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Aku menggapai tangannya dan dia menarik tanganku hingga aku berdiri.
“Nih novel kamu.” ucapnya sambil memberikan novelku. Aku hanya mengambilnya dengan kepalaku yang menunduk.
“Kok diam?” tanyanya. Aku masih tak menjawab hanya menundukkan kepala.
“Heyy..” panggilnya sambil memegang daguku, supaya aku memandangnya. Dan sekarang aku sedang menatapnya, dia mengunakan rompi dengan tulisan osis.
“Sorry ta-ta-tadi aku tidak melihat jalan Sorry.” Ucapku sambil berlari meninggalkannya.
“Hey nama kamu siapa?” tanyanya. Aku hanya menghiraukannya dan terus berlari menuju kelas.

Sesampainya di kelas.
“Yeyy… tere kita sekelas rupanya. Awalnya kukira aku bakal gak ada kawan.” ucap renita.
“Benarkah?” tanyaku.
“Rasanya lo gak pernah berubah deh.” ucapnya.
“Benarkah?” ucapku lagi.
“Iya hanya sifat dingin dan novel terus.” ucapnya. Aku tak membalasnya aku berjalan menuju kursi duduk terletak di sebelah renita dan meletakkan tas dan buku novelku di laci.
“Keluar yuk.” ajak renita.
“Ya.” jawabku. Dia menggandeng tanganku.
“Kamu pun gak berubah, hobi banget gandeng tangan aku.” ucapku sambil menatapnya, dia hanya tersenyum melihatku. Lalu kami tegak di luar kelas.

Tak lama kemudian bel pun berbunyi kami langsung berbaris di lapangan.
Setelah semua siswa berbaris semua tiba tiba seorang laki laki maju kedepan dan mengambil mikrofon dan…
“Saya ucapkan selamat datang kepada siswa dan siswi yang baru masuk, Sebentar lagi osis akan mengadakan penggantian anggota setiap kelas mengusulkan maksimal 3 orang, saya selaku ketua osis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya sebentar.” ucapnya sambil menyerahkan mikrofon kepada guru di sebelahnya. Aku menatapnya sebentar.
“Sepertinya dia cowok yang tadi aku tabrak.” pikirku.

Setelah dari lapangan kami masuk kelas. Tak beberapa lama kemudian seorang guru wanita masuk.
“Selamat pagi anak anak.” sapa ibu itu.
“Pagi buk.” balas semua siswa dan siswi.
“Pekenalkan nama ibu, Ratnawati. kalian bisa panggil ibu, ibu ratna atau ibu wati. dan pagi ini kita akan adakan pemilihan ketua kelas, wakil dan sekretaris.” ucap ibu ratna.
“Baik buk.” jawab semua siswa/i.
“Di sini siapa yang pernah menjadi ketua kelas?” tanya ibu ratna. Hanya ada dua orang laki laki yang mengangkat tangan.
“Oke kalian maju ke depan. dan yang pernah jadi wakil angkat tangan.” ucap ibu ratna.
“Tere lo kan pernah jadi wakil, angkatlah tangan.” bujuk renita. Aku tak berkomentar hanya diam saja. Akhirnya renita mengangkat tanganku.
“Renitaku sayang ngapain angkat tangan?” ucapku marah.
“Supaya lo jadi wakil.” jawabnya santai.
“Tapi kamu musti jadi sekretaris ya.” ucapku.
“Iya iya.” jawabnya. Dan aku mengangkat tangan.

“Hanya satu? maju ke depan.” tanya ibu ratna, Aku berjalan ke depan.
“Jadi siapa yang mau jadi sekretaris?” tanya ibu ratna. Lalu renita pun angkat tangan.
“Gak ada yang minat cuma satu?” tanya ibu ratna bingung.
“Ya udah kamu maju ke depan.” sambung ibu ratna, Lalu renita maju ke depan dan tegak di sampingku.
“Oke setelah ibu lihat lihat ketuanya kita lakukan secara voting. yang di kanan namanya siapa?” tanya ibu ratna.
“Rahman bu.” jawabnya.
“Kamu?” tanya ibu ratna sambil menunjuk yang disebelah kiri.
“Steven.” jawabnya.
“Jadi siapa yang milih rahman jadi ketua kelas angkat tangan?” ucap ibu ratna. Cuma ada 10 orang yang angkat tangan tidak termasuk aku dan renita.
“Jadi sudah pasti yang jadi ketua kelas kita adalah steven dan karena yang mau jadi wakil dan sekretaris masing masing satu jadi langsung ibu angkat aja, nama kamu siapa?” tanya ibu kepala sekolah sambil menunjukku.
“Teresia.” jawabku datar.
“Kamu?” sambil menunjuk renita.
“Renita bu.” jawab renita lembut.
“Dan kalian juga akan ikut anggota osis. kalian dipersilakan kembali duduk.” ucap ibu ratna. Lalu kami kembali duduk.

“Cie yang jadi wakil.” ejek renita.
“Ini kan juga kemauan lo.” jawabku sambil mengambil novel yang ada dilaci.
“Pasti mau baca novel lagi.” ucap renita.
“Menurut lo apa?” tanyaku datar.
“Ya lo mau baca novel.” jawabnya.
“Ya udah.” jawabku datar sambil membaca novel.

Tak beberapa lama kemudian.
“Yang dipilih jadi anggota osis sekarang maju ke depan.” ucap seseorang.
“Hei… tere ayo maju.” panggil renita sambil menarik tanganku.
“Kamu aja yang daftarkan namaku.” jawabku malas.
“Ayuk.” panggilnya sambil menarik tanganku dengan paksa.
“Iya iya..” jawabku sambil berdiri sambil memegang novel ditangan kiri sedangkan tangan kananku ditarik.
“Kalau bukan lo yang paksa pasti gue gak akan mau maju kedepan melakukan hal yang gak penting.” jawabku sambil masih membaca novel.
“Nanti kalian ikut saya ke ruang osis.” ucapnya.
“Bukannya ini suara cowok yang tadi pagi kutabrak.” pikirku lalu mengangkat kepalaku dan merapikan rambutku yang menutupi muka.
“Ehh.. lo kan yang tadi..” ucapnya sambil menatapku. Aku hanya tersenyum, lalu kembali menunduk untuk menulis identitas untuk anggota osis.
“Oke sekarang kalian ikut saya.” ucapnya sambil mengambil buku identitas osis dan berjalan duluan. Tanganku kembali ditarik renita aku hanya ikut dan terus membaca novel.
“Eh tunggu dulu nama koko siapa?” tanya renita.
“Devin. Panggil ko dev atau ko devin atau lo gue juga boleh.” jawabnya santai. Aku masih terfokus dengan novelku.
“Hei.. kawan lo itu kok diam saja?” tanya ko devin sambil menunjukku.
“Orangnya memang kayak gitu cuek plus dingin.” jawab renita, Aku hanya menatapnya sebentar lalu kembali membaca buku.
“Ko devin, kan jadi ketua osis pasti banyak cewek yang gejar ngejar kan?” tanya steven.
“Alayy..” ucapku.
“Hei..!!!” ucap renita sambil memukul bahuku, Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali membaca.
“Itu hal yang wajar siapa cewek yang gak mau punya pacar seorang pemimpin.” jawabnya santai sambil menepuk bahu steven.
“Tapi ko dev gak pernah naksir gitu?” tanya steven lagi.
“Belum pernah, tapi baru saja koko naksir seseorang.” jawabnya sambil tersenyum.
“Emang tipe koko kayak mana?” tanya renita.
“Yang pasti, ceweknya gak ribet, gak manja, cuek atau dingin dan pintar.” jawabnya Dan semuanya pada menatap ke arahku.
“Apa?” tanyaku bingung.
“Gak ada.” jawab renita.
“Ya udah.” jawabku sambil kembali fokus ke novelku.
“Tapi satu hal yang aku mau tanya, kenapa lo memberitau tipe cewek yang lo suka?” tanyaku sambil melepaskan tanganku dari gandengan tangan renita.
“karena gue ditanya pasti gue jawab.” balasnya sambil tersenyum padaku.
“Tadi katanya mau ke mana? iya tadi mau ke ruang osis, kalau gitu aku jalan dulu kutunggu di depan ruang osis. Bye..” ucapku sambil berjalan lebih cepat dan membaca novelku.
“Cewek aneh.” ucap ko devin namun aku hanya menghiraukannya dan terus berjalan ke ruang osis.

Setelah sampai di depan ruang osis aku tegak di sebelah pintu sambil menyilangkan kaki kanan di depan sambil membaca novel dan memasukkan tangan kanan kedalam kantong rok ku.
Setelah 15 menit kemudian mereka datang dengan peserta yang lain.
“Dasar ketua osis lemot.” ucapku kesal sambil menutup buku novelku.
“Cewek aneh.” balas ko devin kesal sambil membuka pintu ruangan osis, Lalu kami masuk.
“Anggota osis yang baru silakan duduk. perkenalkan nama gue devin boleh dipanggil ko dev atau ko devin atau lo gue pun juga gak papah da..”
“Langsung aja ke inti gak usah berbelit belit.” uacapku memotong pembicaran ko devin.
“Iya sabar neng nih baru mau masuk inti…” balasnya.
“Oke perkenalkan ini shellya wakil ketua osis, kalian bisa panggil kak shellya…” sambungnya sambil menunjuk seorang cewek yang baru masuk.
“Hai…” sapanya sambil melambaikan tangan.
“Hai…” jawab semua anggota osis. Aku hanya diam saja dan sambung membaca novelku.
“Jadi sabtu ini adalah hari ulang tahun smp kita jadi setiap kelas harus memilih dress codenya lalu beri laporan kepada osis, makanya kami meminta 3 orang dari setiap kelas.” ucap ko devin.
“Jadi harus long dress tapi warnanya tentuin satu kelas, oke?” sambung kak shellya.
“Oke kak.” jawab seluruh anggota osis sedangkan aku sibuk membaca novelku.

“Hei… kamu yang lagi baca novel dengar apa yang koko jelaskan?!” tanya ko devin sambil menatapku.
“Dengar.” jawabku datar sambil menatapnya.
“Apa yang koko jelaskan tadi?” tanya lagi.
“Sabtu ini hari ulang tahun smp kita jadi setiap kelas harus memilih dress code tapi musti long dress. lalu melaporkannya ke osis makanya koko minta 3 orang dari setiap kelas. Udah kan.” ucapku lalu kembali membaca novel.
“Bisa perhatikan sebentar.” ucapnya lagi.
“Udah..!!” jawabku sambil menaikan nada suara dan berdiri.
“Sekarang kamu keluar dari ruangan osis!!” bentaknya sambil menunjuk ke arah pintu.
“Oke, emang lo kira gue mau ikut ini!!” bentakku balik sambil berjalan keluar.
“Cowok lemot sok kecakepan.” ucapku marah.
“Apa tadi lo bilang?!” tanyanya dari dalam ruang osis.
“Cowok lemot sok kecakepan.” jawabku kasar lalu berjalan kembali kekelas.
“Cewek aneh.” balasnya dengan suara yang keras hingga aku dapat mendengarnya.

Sesampainya di kelas aku langsung duduk.
“Ternyata gak ada guru, berarti free time.” ucapku pelan lalu kembali membaca novel.

Tak lama kemudian.
“Hei… lo itu gimana sih?!” bentak seseorang.
“Seperti suara cowok.” pikirku.
“Apa? lo mau jadi sama seperti si ketos itu.” bentakku kepada steven yang di sebelahnya ada renita.
“Ayo lah jadi cewek jangan garang garang nanti gak laku lo.” sambung renita.
“Renita ku sayang kamukan tau aku itu kayak mana orangnya, jadi gak usah bilang gitu lagi bosan dengarnya.” balasku.
“Nih tadi ketos itu nitip kekita suruh lo keruang osis sekarang.” ucap steven.
“Malas.!!” jawabku.
“Cepat aja.” sambung renita.
“Iya iya…” jawabku sambil berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke ruang osis.

Sesampainya di ruang osis.
“Ngapain lo panggil gue?!” tanyaku hanya menatap punggungnya.
“Ngapain?!” tanyaku mulai marah.
“Ahh sudahlah aku balik kelas aja… bosan menghadapi cowok aneh kayak lo.” sambungku sambil melangkah keluar dari ruang osis.
“Tunggu..” ucapnya. Aku menghentikan langkahku.
“Gue panggil lo ke sini buat.. nih ambil.” ucapnya sambil memberikan sebuah jaket.
“Buat apa?” tanyaku.
“Ini jaket osis. Cepat ambil.” ucapnya sambil melemparnya ke arahku.
“Santai ajalah kasihnya. cuma buat ini? buang buang waktu gue banget.” ucapku sambil berjalan meninggalkan ruang osis.

Aku kembali ke kelas.
“Tere kami udah putuskan bakal pake long dress warna green yang cowok pake jas warna hijau kemeja dalam putih pake dasi juga keren pokoknya, warna kesukaan lo jugakan.” ucap renita.
“Aku setuju, cuma aku gak ada yang long dress.” ucapku.
“Tenang kita nanti ke mall gue pun juga gak ada, kita bareng bareng aja cari.” Sambung renita.
“Kapan?” tanyaku.
“Kalau tadi gak salah dengar waktu lo gak ada kamis sama jumat libur karena persiapan ultah sekolahnya di hotel.” jawab renita.
“Ya udah.” sambungku sambil berjalan kekursi duduk.
“Tapi kita belum lapor ketua osis.” sambung renita.
“Nanti suruh aja steven yang lapor.” jawabku sambil duduk dan kembali membaca novel.
“Iya pintar juga lo.” sambung renita.
“Aku kan memang pintar.” jawabku. Lalu renita pergi suruh steven kasih laporan dress code kelas kami.


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.
“Tere kantin yuk.” ajak renita.
“Malas.” jawabku masih fokus ke novelku.
“Ayuk.” ucapnya sambil menarik tanganku, aku hanya ikut pada tarikkannya dan meninggalkan buku novelku di meja.
“Eh rasanya sebelum gue pergi suruh steven kasih laporan lo kan ada bilang sesuatu. apa?” tanya renita.
“yang mana?” tanyaku balik (bingung).
“Yang tadi itu.” sambungnya.
“Ooo itu Aku kan memang pintar.” jawabku.
“Aku tau lo pintar dipelajaran tapi tidak pintar dalam hal cowok.” sambung renita.
“Itu lo tau.” sambungku.
“Gue itu sedang dalam hal pelajaran tapi pintar dalam hal cowok.” ucapnya.
“Ya aku tau itu.” jawabku.
“Eh ada yang memperhatikanmu lo.” ucap renita.
“Biar aja.” sambungku malas.
“Eh tunggu dulu dia kan ko devin. dia lihatin kamu terus lo, jangan jangan dia suka sama kamu kali.” goda renita.
“Jadi gak ke kantin? kalau gak aku balik ke kelas lagi nih.” sambungku.
“Iya jadi.” jawabnya, lalu kami mempercepat langkah ke kantin.

Di kantin.
“Tere lo mau pesan apa? biar gue pesankan.” tanyanya.
“Gak ah aku gak lapar.” jawabku.
“Ya udah kalau gitu kamu duduk dulu aja.” sambung renita sambil berjalan ke kerumbunan orang untuk memesan makanan. Aku mencari tempat duduk.
“Ih mimpi apa aku kemarin kok aku bisa ketemu cowok kayak gitu.” pikirku.
“Apa jangan jangan dia betulan suka sama aku.” pikirku.
“Tapi kan gak mungkin. tapi dia keren juga.” pikirku.
“Duh kok jadi mikirin dia.” ucapku.
“Ayo pikirin siapa?” tanya renita yang ternyata sudah siapa memesan.
“Gak ada.” jawabku.
“Gak ada apanya. tadi kamu bilang duh kok jadi mikirin dia? dia siapa? jangan jangan ko devin.” terka renita.
“Engak ada.” jawabku.
“Yakin?” tanyanya lagi.
“Udah lah.” ucapku. Lalu renita menghabiskan makanan yang telah dia pesan.
setelah itu kami kembali ke kelas.

Pagi hari datang lagi waktu aku berangkat sekolah 06.30
“Ma tere berangkat ya.” ucapku.
“Kok pagi kali?” tanya mamaku.
“Pagi ini ada rapat osis jadi musti berangkat pagi.” jelasku.
“Ya udah hati hati.” sambung mamaku.
“Iya jaket?!” ucapku dengan sedikit keras.
“Jaket? bikin mama terkejut aja.” balas mamaku. Aku berlari ke kamar memgambil jaket.
“Aku berangkat.” ucapku lagi sambil berlari keluar rumah.

Sesampainya di sekolah 07.05
“Mati aku telat 5 menit.” ucapku sambil berlari ke ruang osis.
“Sorry aku telambat.” ucapku dari depan pintu dengan nafas yang tidak teratur.
“Anggota baru masa terlambat, kenapa bisa terlambat?” tanya kak shellya. Tiba tiba.
“Sorry koko telat.” ucap seseorang.
“Eh ketos juga telat.” ejek kak shellya.
“Emang siapa lagi yang telat selain gue?” tanya dengan nafas yang tidak teratur.
“Tengok di samping lo.” ucap kak shellya.
“Hhh? cewek aneh telat?!” ucapku ko devin.
“Masa ketos telat.” ejekku balik.
“Kalau dilihat lihat kalian cocok juga.” ucap kak shellya.
“Masa aku sama dia.” ucapku serentak sama ko devin.
“Tu kan gomong aja bisa serentak.” ucap kak shellya.
“Cie… cie…” ejek anggota osis yang lain.
“Kita tengok alasan ketos kenapa telambat”,
“Devin kenapa lo telambat?” tanya kak shellya.
“Tadi aku tersesat di jalan bernama jalan cinta.” jelasnya.
“Emang ada jalan cinta?” tanyaku sambil menatapnya.
“Jalan cinta ke hatimu. Ha.. ha. ha.” ucapnya lalu diakhiri dengan tawa yang keras.
“Gila lo.” ucapku sambil memdorongnya dan pergi meninggalkan ruang osis.
“Woi!! mau ke mana?” teriaknya.
“Bukan urusan lo!!” jawabku sambil berlari ke kelas.

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia
Kebahagiaan di Akhir Cerita

Kebahagiaan di Akhir Cerita

Judul Cerpen Kebahagiaan di Akhir Cerita

Dengan langkah malas aku berjalan ke koridor sekolah, melihat nilai ujian sekolah yang sudah tertera di papan informasi. Sebenarnya aku tak perlu melihat ini, toh nilaiku juga rendah.
Yaps! Tak meleset perkiraanku, nilai 55 tercantum di situ.
Kulihat nama Reyhan, pria yang kusukai, ia memperoleh nilai 100. Tak kisadari senyum terlukis di wajahku, bukannya sedih dengan nilaiku, aku malah senang jika Reyhan memperoleh nilai tinggi.

“Eh, senyum-senyum sendiri. Nilai lo 55, bahagia lo?” Tanya Killa temanku.
Aku menanggukan kepala, mungkin ia benar-benar anggap aku gila.
“minggu lalu 50, sekarang 55. Meningkat kan?” Kataku.
Aku langsung pergi menuju kelas, ada Reyhan.
Keringat dingin mengalir di wajahku.
“Hay Reyhan. Selamat, nilai kamu 100” kataku pelan
“Udah biasa dan makasih” Jawabannya cuek dan pergi begitu saja.
Cuek banget, pikirku!!

Jam pulang.
Aku menuju parkiran, ada Reyhan di sana. Senyum ini kembali mengembang. Aku pun menghampirinya.
“Reyhan, pulang bareng yok. Kita nonton dulu yuk, ada film enak loh hari ini” kataku semangat.
“Kia! Gue gak suka nonton” katanya
“Ah, anak sepertimu emang tidak suka seperti itu. Kalau begitu bagaimana jika ke toko buku”
“Kia! Apa lo gak sadar? Tindakan lo ini benar-benar bodoh tau gak? Oh ya, gue baru ingat, lo bodoh kan? Sana pergi lo ke toko buku sendiri, gue gak suka jalan sama orang bodoh kaya elo”
Aku benar-benar sakit. Aku ingin menangis, tapi aku tau aku kuat.

“Kak rey, gimana udah lama nunggui Mika? Maaf ya kak, Mika tadi ke ruang guru sebentar”
Gadis itu, siapa dia? Dia cantik, lesung pipinya dalam, hidung mancung, dan matanya besar, tinggi.

“Enggak kok Mik, kakak baru aja nunggu, kalau gitu ayo kita pergi” kata Reyhan sambil sinis denganku.

Aku benar-benar benci hal ini. Mereka meninggalkanku sendiri di parkiran ini. Kaki ini tak sanggup lagi berdiri, aku terjatuh. Tapi tidak pingsan seperti di sinetron. Tapi tangisan ini nyata!

Hujan turun aku masih di sini. Menikmati basahan air. Jam pukul 15:30. Aku masih di sekolah, toh kalau aku tetap di sini sampai malam tak mengapa, karena ku yatim piatu. Tante akan mengunjungiku 3 hari sekali.

Jam 18:25 aku, pulang dengan basah kuyup.
Rumah mewah ini sangat sepi. Karena aku sendiri, pembantu kusuruh berhenti karena aku malas bersama orang.
Badanku demam, ditambah kepikiran Reyhan. Kenapa aku harus mikirin orang yang membenciku?

Keesokan harinya aku tidak sekolah! Aku benar-benar sakit, tapi aku tetap belajar di rumah, walaupun aku tak mengerti tapi aku harus tetap belajar, aku mengikuti bimbel di mana mana. Sampai sampai aku berubah menjadi pendiam, gak care sama teman, yang kupentingkan aku harus berubah!!

Sampai pada akhirnya ulangan dimulai, dengan mudah kupelajari. Aku bahagia, nilaiku tertinggi, dan Reyhan nilainya 99.
Aku sedih, tentu saja. Yang kumau aku dan dia nilai 100.

“Kia! Si gadis bodoh ini berubh menjadi anak pintar” kata Reyhan di belakangku.
Aku memutar badanku, jantungku berdetak tidak normal. Aku bingung, yang biasanya aku caper, kini aku salting di depannya!

“Hanya kebetulan” kataku pelan.
“Ha? Kebetulan? Mana mungkin! Kecuali lo nyontek sama orang pintar. Tapi kan lo di kelas low, itu artinya isi kelas lo bodoh semua. Lo mau nyontek siapa? Gue yakin. Lo jadikan peristiwa di parkiran itu sebagai motivasi lo kan? Lo marah gue bilang bodoh, dan pada akhirnya lo berubah! Kia. Liat gue, lo gak perlu harus benar benar bersikap bodoh untuk nunjukin diri lo yang sebenarnya. Lo berubah karena gue kan? Lo suka kan sama gue?” Kata Reyhan panjang lebar. Aku benar benar grogi.
“Aku gak suka” aku benar benar gugup
Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku berpikir ini seperti dram Korea. Aku gugup.
Kini pikiranku gak meleset lagi, bibir kami bertemu. Ini tempat sepi, namun bisa menjadi ramai.
Reyhan mengangkat kepalanya.
“Lo gak suka sama gue?” Tanyanya lagi.

Aku langsung memeluknya dan menangis.
“Reyhan! Aku benci sama kamu. Aku bencii! Kamu selalu buat aku terus memikirknmu, kamu selalu ngasi soal tanpa jawaban yang kutau! Kamu selalu bersikap cuek sama aku, kamu selalu bikin jantungku berdetak lebih kuat. Aku benci sama kamu. Pelukan ini kueratkan, dan Reyhan membalas pelukanku.
“Maaf kia, aku cinta sama kamu, dari dulu. Aku gengsi”
Reyhan kembali melakukan adegan kiss padaku. Sungguh hari ini, aku bahagia.

“Jadi siapa gadis di parkiran itu?” Tanyaku saat kami pergi jalan.
“Dia sepupuku!”
Aku terkejut, kupikir dia sudah punya pacar. Tapi aku bahagia.

Cerpen Karangan: Ellya Syafriani
Blog / Facebook: Ellya Syafriani / Ellya Syafriani
Sejuta Rasa Untuknya

Sejuta Rasa Untuknya

Judul Cerpen Sejuta Rasa Untuknya

Semua siswa di sekolahnya mengenal baik gadis pemilik nama Aliya Zaneefa, paras wajahnya yang sangat cantik siapa yang tak jatuh hati pada gadis ini.
Langkah kakinya berjalan menelusuri koridor sekolah yang menghubungkan dirinya menuju kelasnya, rambut panjang yang tergerai seakan-akan melambai sesaat angin berhembus menerpa tubuhnya yang mungil. Balutan seragam putih abu-abunya pun terlihat rapi seperti biasanya.

“pagi cantik!” Sapa Dewa teman sekelasnya dengan ramah diselipi tatapan nakalnya. Aliya yang melihat Dewa membalasnya hanya dengan senyuman kecil lalu duduk tak menghiraukan Dewa yang sudah menunggu dirinya di depan pintu kelas.
“Sabar ya broo!!” Ucap kedua teman Dewa.

Aliya langsung disibukkan dengan pekerjaan rumah yang belum dia selesaikan kemarin, seraya menunggu bel masuk berbunyi.

“Aliya pagi tadi berangkat sama siapa?” Sepertinya Dewa belum menyerah setelah apa yang dia dapatkan dari perlakuan Aliya kepadanya.
“Mau sama siapa kek bukan urusan lo kan?”
“Ya siapa tahu besok pagi kita bisa berangkat sekolah bareng gitu!” ucap Dewa dengan gayanya yang sok cool, memang Dewa memiliki wajah tampan dibanding kedua temannya itu. Aliya tak menghiraukan Dewa lagi, dia fokus dengan pekerjaannya sekarang.

“Pulang sekolah nonton yuk! Ada film baru lho… cocok buat kita berdua”
“Dewa! Lo bisa gak sih jangan ganggu gue dengan basa basi lo itu, nyebelin banget! Aliya pergi dari hadapan Dewa dan beralih ke tempat duduk lain, menjauh dari Dewa.

Tatapan Aliya kini beralih pada Gian yang baru datang dan duduk di hadapannya. Gian siswa tampan dan pandai ini baru dua minggu masuk sebagai siswa baru di sekolah, sejak pertama kehadirannya Aliya jatuh hati dan saat kini bahwa perasaanya mengatakan dia jatuh cinta padanya.
Aliya melontarkan senyuman manis pada Gian, dia pun membalasnya juga membuatnya tersipu.

“Ekhemm!” Elis datang mengejutkan Aliya disampingnya.
“Pagi-pagi udah mengkhayal aja!” Bisiknya pada Aliya “Apaan sih! Rese banget” Seru-nya sebelum akhirnya pak Ramdan datang ke dalam kelas untuk mengajar mapel Bahasa Indonesia.

Bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu, suasana kelas terlihat sepi dan hanya ada Aliya, Gian dan beberapa anak lainnya.
Dia merasa sedikit canggung dan lebih banyak diam saat di hadapannya, keduanya memang belum akrab namun entah kenapa Aliya merasa bahwa hatinya tepat untuk memiliki perasaan lebih kepadanya.

“Aliya, kamu di sini? Gak ke kantin?” tanya Gian, dan mengejutkan Aliya yang tengah terdiam menatap punggung Gian di sana
“Enggak! Gue diet iyah…” Aliya sedikit salah tingkah di hadapannya, Gian tertawa kecil di hadapan Aliya.
“Oke, aku duluan yah!” Gian melangkah pergi dari hadapan Aliya.

Aliya masih terheran-heran dengannya sen-diri, dia merasa konyol di hadapan Gian tadi.
Elis menghampirinya lalu mencubit hidung Aliya dengan keras membuat Aliya menjerit kesakitan “Lama-lama hidung lo ini panjang kaya pinokio karena lo gak jujur sama perasaan lo sendiri!” ucap Elis.
“Maksud lo apa sih?” Tanya Aliya ditengah kesakitannya
“Masih pura-pura lagi! Jujur lo suka kan sama Gian? Gue udah tahu kali jadi lo gak bisa ngelak lagi dari gue!”
“hmmm… sekarang temen gue udah jadi detektif cinta nih! Gemes deh sama lo!” Aliya membalasnya dengan mencubit kedua pipi Elis.

Semua siswa berhamburan keluar kelas seketika bel pulang berbunyi, Aliya masih sibuk merapikan beberapa bukunya yang masih berserakan di meja.
Bugh!! Salah satu dari bukunya terjatuh dengan sigap Gian mengambilkannya untuk Aliya.
“Makasih!” Ucap Aliya
“Sama-sama” Seketika dia melangkah keluar dari dalam kelasnya meninggalkan Aliya sendiri disana.

Gerimis mengiringi langkah Aliya menu ju halte didepan sekolah menunggu angkot seperti biasanya. Namun, Aliya justru terjebak dalam hujan deras yang turun seketika. Cipratan airnya membasahi Aliya di bawah atap halte yang sedikit berlubang

“Hufft!” Gumam Aliya kesal.
“Aliya!” Gian turun dari motornya lalu menghampiri Aliya. Gian berdiri dengan keadaan basah kuyup dibalut dengan jaket hitamnya “Belum pulang?” Tanya Aliya pada Gian yang berdiri di sampingnya.
“Tadi ada urusan, kamu sendiri belum pulang juga?”

Aliya terdiam, tangannya dengan erat men-dekap tubuhnya yang menggigil dan kedinginan.
“Pakai ini, lumayan masih kering di dalamnya!” Gian menyelimuti tubuh Aliya dengan jaketnya. Aliya tersenyum manis padanya merasa hari ini adalah hari bahagianya.
“Makasih, lo itu emang beneran baik!” Ucap Aliya padanya.
“Jadi selama ini kamu pikir aku ini jahat iya?” tanya Gian
“Enggak! Maksud gue itu…”
“tenang aja lagi, aku tahu kamu gak mungkin punya prasangka buruk sama orang lain!”
“Lo muji gue berlebihan deh Yan!”

Kedua saling tersenyum di tengah dinginnya udara dan hujan yang belum berhenti keduanya terjebak lama di bawah atap halte dan membuat mereka berbincang lama di sana kini keduanya terlihat sudah sangat dekat raut wajah Aliya terlihat bahagia dengan Gian.

“kamu lucu juga yah kalau lagi malu kaya gini!”
“Apaan sih lo! Rese” Aliya mencubit lengannya dengan keras.

Gian menghentikan laju motornya dan berhenti di sebuah tempat yang indah, bahkan ini kali pertama Aliya mendatangi telaga yang tersembunyi di tengah kota seperti ini.
Aroma basah masih tercium dan pemandangan di sana tak kalah indah meski cuaca sedikit mendung dan dingin.

“Ini tempat apa? Gue baru tahu ada peman-dangan indah di tengah kota seperti ini!”
“Telaga ini seperti cinta, tak terduga!”
“Kok lo jadi puitis gini sih!” Ucap Aliya Gian tertawa lalu menatap Aliya tajam “Seperti kita tak terduga!” Ucapannya mem buat Aliya terdiam seribu bahasa, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Serius amat sih?” Ucap Gian lalu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Aliya.
“Isshh… rese banget sih lo!” Aliya mendo rong tubuh Gian, dan wajahnya berubah menjadi murung.
“Pulang yuk! udah sore nih” Aliya menarik tangan Gian agar melangkah cepat karena hari sudah beranjak sore.

Keesokan harinya keduanya memutuskan untuk pergi ke telaga seperti kemarin sore. Kali ini Aliya yang memaksa Gian untuk mengantarnya, seragam putih abu-abu yang mereka kenakan masih melekat rapi dan Aliya nampak bahagia lalu berbaring di atas dermaga menatap langit yang mendung.
Kedua kaki Aliya masuk ke dalam dinginnya air telaga dan bunyi dari airnya menyejukkan suasana.

“Rasanya ini seperti mimpi!” Ucap Aliya
Gian hanya terdiam menahan rasa sakit yang mendera dirinya, darah segar yang mengalir dari hidungnya mengalir tanpa sepengetahuan Aliya. Gian enggan membuat Aliya gelisah di tengah kebahagiaannya.

“Gian lo gak papa kan? Diem aja dari tadi gue rasanya kaya orang gila yang ngomong sendirian!” Ucapan Aliya membuat Gian terkejut lalu dia menyembunyikan sapu tangan yang dia gunakan untuk mengusap darahnya.
“Lo emang gila kan?”
“Gian!!” Aliya mencubit lengan Gian dengan keras.
“Aliya, sakit!” Seru Gian lalu Aliya me-nyadari ada sesuatu di hidung Gian, jarinya mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
“Gian? Lo kenapa? Sakit?” Tanya Aliya penuh dengan keheranan.
“Nggak kok, kalau cuaca dingin kaya gini gue sering mimisan. Tenang aja ini hanya darah kotor aja kok!” Jawab Gian.
Aliya terdiam dan menaruh curiga pada Gian
“Pulang yuk, mau hujan nih!” Gian segera menarik Aliya agar menghampiri motornya.



“Jadi Gian sakit?” Ucap Elis ditengah-tengah makan siang mereka di kantin.
“Gue juga gak tahu pasti, kemarin dia mimisan dan sepertinya dia menyembunyikan sesuatu deh dari gue!”
“Jangan negatif thinking gitu donk! Gue yakin dia baik” Elis kembali melanjutkan melahap santapan makan siangnya dengan lahap, Aliya tak seperti biasanya merasa se gelisah ini memikirkan Gian sejak melihat kondisi kemarin sore.

Gian tak tampak di kelas, bel pulang sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu namun Gian tak kembali dan tasnya pun masih berada di bangku kelasnya.

“Gian?” Aliya mencarinya disetiap sudut sekolah, terlihat Gian bersama seseorang perempuan yang tengah memeluknya di sana. Aliya hancur lalu berlari sekencang mung-kin menjauh dari hadapan Gian, dia menangis dan merasa dikhianati oleh Gian.

“Gue benci sama lo!” Ucapnya seraya melempar batu-batu kecil ke dalam telaga itu. Gian datang dan segera duduk di samping Aliya, namun Aliya tak menghiraukan kedatangan Gian.
“Lo kenapa?” Tanya Gian.
Plak! Aliya menampar Gian lalu pergi meninggalkan Gian disana “Aliya!!” Seru Gian namun tetap saja tak dihiraukan oleh Aliya.

Sudah beberapa hari Aliya menjauh dari Gian tanpa kejelasan. Gian berusaha mendekatinya namun tak ada hasil, yang dia lihat Aliya sangat dekat dengan Dewa.

“Iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu semua yang kamu minta aku kasih!” Ucap Dewa pada Aliya. Gian yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan pasrah dengan keadaannya.



“Dia marah sama lo, Aliya lihat lo itu lagi pelukan dengan cewek lain di halaman belakang. Dia rasa kalau lo itu udah khianati dia, gue juga marah sama lo awalnya tapi gue pikir itu salah dan gue yakin itu cuma salah faham.
Rasanya gue marah kalau lihat kalian berdua kaya gini, ditambah lagi sekarang Aliya pacaran sama Dewa!” Jelas Elis.

“Jadi mereka pacaran?” Tanya Gian terkejut.
Elis mengangguk “Gue yakin Dewa itu cuma pelampiasannya. Lo harus perjuangin Aliya lagi Yan!”
Usai itu Elis meninggalkan Gian sendiri di kantin.

Gian menghampiri motornya yang terparkir di lahan parkir siswa dan melihat Aliya tengah bertengkar hebat dengan Dewa, Gian langsung menghampiri mereka dan berhasil menghentikan Dewa yang akan menampar Aliya.

“Maksud lo apa berlaku keras sama pacar lo sendiri? Gue rasa lo gak cocok buat dia men!” ucap Gian pada Dewa.
“Lo gak usah ikut campur!”
Bugh! Dewa memukul perut Gian hingga dia terjatuh dan lemas “Dewa stop! Pergi sekarang dan jangan ganggu gue lagi” ucap Aliya lalu menuntun Gian yang terjatuh lemas di sana.
“Aliya, lo masih marah sama gue?” Tanya Gian.
“Makasih yah lo udah nolongin gue!” Aliya melangkahkan kakinya, namun Gian menahannya dengan mencengkram erat tangannya.
“Gue rasa lo salah faham!” Ucap Gian
“Gue gak perduli, urusan kita udah selesai dan lo jangan ganggu gue lagi!”
Aliya melepas genggaman Gian lalu pergi meninggalkan dia sendiri.

Dua hari berlalu Gian tak masuk sekolah dan tidak ada kabar. Aliya menaruh kekhawatirannya pada Gian, mengingat kejadian kemarin saat Dewa memukulnya.
Elis menghampiri Aliya yang tengah menik-mati santapannya namun tangannya hanya mengaduk-aduk makanannya.

“Kok gak dimakan?” Tanya Elis
“Gue gak nafsu makan!” Jawabnya lalu me-ngalihkan makan siangnya dari hadapannya.
“Gian bilang malam nanti lo harus datang ke telaga! Ada sesuatu yang mau dia omongin sama kamu, please kali ini lo jangan mikirin ego lo sendiri. Gian lagi berjuang melawan kanker otak yang sudah tiga tahun hinggap di kepalanya”
“Serius lo lis? Lo gak bercanda kan?” Elis memanggut dengan raut wajahnya yang sedih. Aliya menangis tersedu-sedu dengan rasa bersalahnya.

Malam, pukul 08.00 WIB
Aliya nampak cantik dengan balutan dress berwarna putih dihiasi oleh bunga-bunga sebagai hi asan rambutnya.

“Aliya, kamu cantik!” ucap Gian padanya.

Aliya tak bisa menahan air matanya dan ki ni dia menangis di hadapan Gian melihat kondisinya, kepalanya dibalut dengan kupluk berwarna coklat karena semua rambutnya habis, Wajah Gian nampak agak berbeda malam ini, dia terlihat pucat dan kedua matanya sayu.

“Kenapa kamu gak bilang kalau kondisi kamu seperti ini? Aku khawatir sama kamu!” Ucap Aliya
“Aku baik, itu semua karena ada kamu di sini jangan khawatir aku kuat kok!” Gian mulai memeluk lembut Aliya dan mereka nampak terlihat serasi. Ditambah musik yang mengalun indah menambah suasana menjadi romantis.

“Sejuta rasa itu tidak bisa aku sebutkan Satu persatu, semenjak kau ada dan mengisi hari-hariku rasanya hidupku lebih berarti dengan adanya kamu Aliya. Perasaanku mengatakan hanya kaulah yang dapat mengisi sisa waktu dalam hidupku!”
Bisiknya di telinga Aliya.

“Gian, perasaanku juga mengatakan seperti itu!” Tangan Aliya mulai melingkar di tubuhnya lalu memeluk Gian dengan hangat di tengah musik yang masih mengalun.

“Aku mencintaimu!” Aliya mengatakan itu berkali-kali masih dalam pelukannya. Lalu menangis tersedu-sedu dalam pelukannya
“Maaf Gian, aku udah egois! Seharusnya aku bisa bersikap dewasa saat itu!” tak ada jawaban dari Gian, namun Gian masih memeluknya erat hingga Gian jatuh tak sadarkan diri di pelukan Aliya.



“Terimakasih untuk sejuta rasa yang kamu beri untukku, kau malaikat tanpa sayap yang pernah mengisi sisa hidupku meski itu tidak lama. Meski ragamu tiada jiwamu masih bersamaku, Gian”

Aliya memejamkan matanya seraya memeluk potret Gian dalam dekapannya, Gian tersenyum manis menatap Aliya yang duduk di samping raganya.

the end

Cerpen Karangan: Dhea Zakia
Blog / Facebook: dheaale
Jatuh Hati

Jatuh Hati

Aku rebeca, siswi menengah atas yang telah mematikan saklar cintaku.Tapi apalah daya, jika aku malah jatuh hati pada muridku sendiri.

‘ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh..
Aku bukan jatuh cinta, namun aku jatuh hati..
Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu..
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwaku terinspirasi hatimu..
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkahku slalu.. Di dekatmu..’

“Ahh.. Lagunya habis!” rutukku kesal karena lagu di radio ku habis. Kenapa di radio? Karena aku tak diperbolehkan memegang handphone oleh mama. Jika kutanyakan hal ini pada mama alasannya pasti karena takut aku salah pergaulan atau apalah, yang jelas aku tersiksa dengan semua ini.
“Ish.. Penyiar radionya ngoceh mulu lagi, gue kan masih pengen denger lagu raisa!!” teriakku sembari berguling guling di kasur. Ya, aku sangat suka lagu raisa yang satu ini. Tapi kau tahu? Walau begitu aku ini gadis yang telah memutuskan saklar cintaku. Sejak pacar pertamaku mengkhianatiku, aku memutuskan untuk tak membuka hatiku lagi.

Kulihat jam berbentuk love imut yang terpasang di dinding kamar bernuansa pink ini, sudah jam 12 malam. Aku langsung mematikan radio dan lampu kamar, terlihatlah bintang bintang glow in the dark di langit langit kamar. Setelahnya aku langsung terjun ke dunia mimpi yang sangat indah.

Kakiku melangkah cepat di sepanjang koridor, sangat cepat! Jika kalian bertanya jawabannya adalah karena aku takut. Koridor SMA ini sangatlah seram, pagi maupun malam suasananya sama saja. “Rebecca!! Oh my good cepet banget sih jalannya” teriak seseorang membuatku menoleh. Dari kejauhan kulihat sahabat alay lebayku, dinar, sedang berlari ke arahku. Aku menggelangkan kepala kecil lalu kembali berjalan sembari menyenandungkan sebuah lagu. Tapi jalanku kali ini lebih santai agar dinar bisa menyusulku.

“Heh, lo jahat banget sih! Main tinggalin aja” protesnya membuatku terkekeh pelan.
“Kelasnya jauh sih, jadi pengen sampai” kataku pura pura cuek.
“Ah itumah alasan lo doang, pelanggaran! Sebagai penalti lo harus cariin gue pacar” perintahnya bak nenek sihir.
“Sembrono lo, ogah banget gue nyariin pacar buat playgirl” kataku membuatnya manyun.

Tak lama kami sudah memasuki kelas dan aku langsung menghempaskan tas dan bokongku. “Bec, minjem tugas donkk.. Hehe..” kata dinar. “Dasar pemales lo! Nih, beruntung lo punya sahabat yang baik hati dan tidak sombong kayak gue” cerocosku. “Halah, bodo ah!” katanya kalah telak membuatku tertawa kecil.

“Rebecca! Kamu rebecca kan?” panggil seorang cowok membuatku menengok, ternyata leo, teman sekelasku yang tak pernah mengobrol ataupun berurusan denganku. “Ya?” tanyaku datar. “Lo dipanggil ke ruang guru, bareng gue!” katanya membuatku beranjak dari kursi. Aku berjalan mendahuluinya karena aku memang tak suka dengannya, walaupun tanpa alasan yang jelas. Ok sebut saja aku si aneh karena membenci orang yang tak kukenal dekat.

“Permisi, pak hari nya ada?” kataku sopan membuat semua guru yang ada menengok. “Oh, rebecca, leo! Sini masuk” kata pak hari di mejanya membuat aku maupun leo masuk dan menduduki kursi di depan pak hari. Pak harianto atau disebut pak hari ini adalah guru sekaligus om ku. Wajahnya tampan walau sudah berkepala dua, dan itulah yang membuatnya populer di kalangan siswi SMA ini.

“Ada apa pak? Langsung ke intinya saja ya!” kataku tegas. “Kamu ini tegas sekali bec, ok langsung ke inti ya! Kamu tahu kan nak leo ini nilainya jeblok semua?” tanyanya membuatku menoleh sekilas ke arah leo dan mengangguk. “Om mau kamunjadi guru privatenya sampai dia jadi pintar” jelasnya membuatku terkejut. “Apa! Gak mau” teriakku dan leo berbarengan. “Ciee.. Barengan! Sudah ya, bel masuk sudah berbunyi jadi langsung masuk kelas” katanya santai lalu bangkit dari kursinya. “Ini semua gara gara lo! Kenapasih harus gue yang kena, aaargh!” kata leo terlihat frustasi. “Bukannya gue yang harusnya bilang gitu ya? Jangan nyusahin deh lo” kataku sinis lalu meninggalkan ruangan itu aku mendengar gumaman nya. “Pedes banget kata katanya” gumamnya. Jadilah kebencianku meningkat 1 kali lagi padanya.

“Lo kenapa dipanggil ke ruang guru bec? Ada masalah apa? Kok bareng leo” tanya dinar bertubi tubi sesampainya di kelas. “Gue males ngebahas itu” kataku ketus lalu duduk di kursi. Tampaknya ia mengerti lalu memilih mengobrol dengan temannya, hufft…

Gara gara leo aku jadi tak bisa shoping lagi. Seperti saat ini, aku sedang di ruang tamu rumah leo dan dia seenaknya saja meninggalkanku ke kamar. “Eh ada tamu, leo nya mana?” tanya seorang paruh baya yang baru masuk. Aku menyaliminya karena dia mama-nya leo. “Perkenalkan saya rebecca, saya temen sekaligus guru private leo” kataku sopan. “Ooh, iya tante juga sudah dikasih tahu! Kamu cantik ya” pujinya membuatku tersipu. “Tante bisa aja! Tapi maaf tant sepertinya leo tidak mau belajar dengan saya” kataku dengan nada disedih sedihkan. “Betulkah? Haduh dasar leo, tunggu ya tante panggilin dulu” katanya lalu menaiki tangga hendak ke kamar leo. Tak lama leo datang dengan wajah kusut.

“Apaan sih lo pake manggil mama gue segala” kata leo kesal. “Lo pikir gue mau jadi guru private lo? Nggak kali, gue juga ogah!” ketusku dengan mengkeraskan kata ‘ogah’. “Ya udah pulang sono!” usirnya membuatku kesal, kesal banget. Aku meredamkan amarah-ku dengan memejamkan mata dan menghela nafas panjang. “Mending lo jadi pinter dulu deh, baru gue keluar dari hidup lo” kataku agak tenang lalu menarik tangannya untuk duduk di kursi seberangku. Aku membuka buku pelajaranku dan disodorkan padanya.
“Nih cepet isi! Gue udah kumpulin soal soal” kataku ketus.
“Gak perlu, gue udah pinter” tolaknya datar.
“Halah.. Pinter pala lo! Cepetan isi!” kataku tak sabar.
Dia mengambil bukuku dan mengisinya dengan cepat.

“Nih” katanya menyodorkan bukuku. “Ck, asal asalan ya lo?” tanyaku dan mendapat jawaban angkat bahu darinya. Hiiih!! Aku langsung memeriksa semuanya dan merasa terkejut setengah mati. “Kok bisa bener semua sih? Kalau di sekolah kok lo bodoh sih?” tanyaku tak percaya. “Aestivasi” jawabnya membuatku mengkerutkan kening, apa maksudnya coba? “Gue punya penyakit aestivasi, yang artinya kalau siang hari gue suka ngantuk parah dan tidur” katanya. Aku terdiam, sedikit merasa bersalah sebenarnya. “Oh” kataku singkat lalu membereskan barang barangku. Sebelum aku beranjak pergi dia langsung memegang tanganku. “Eits.. Besok gue tunggu di parkiran ya” katanya. Aku langsung mengangguk dan berlari dengan muka merah padam.

Seperti yang leo bilang kemarin, dia benar benar menungguku di parkiran. Kayaknya dia sudah menunggu lama sekali, karena hari ini aku ikut les tambahan. Aku mendengus sebal, padahal rencananya aku dan dinar ingin ke mal hari ini. “Nar, ke mal nya gak jadi ya” kataku memelas. “Iya deh, yang udah ditungguin sama pacarnya mah..” sindirnya membuat moodku tambah menurun. “Tau ah lu mah, gue juga terpaksa kali” kataku manyun. “Haha.. Iya gue ngerti! Duluan ya beibs, bye” pamitnya lalu ngerti. Aku menghela nafas kasar dan menghampiri leo. “Beneran ngejemput lo?” kataku ketus. “Iyalah, ngapain dulu lo? Lama amat” protesnya. “Oh ya, hari ini kita belajar di cafe” lanjutnya lalu masuk ke mobil. Aku juga mengikutinya dengan memasuki tempat sampingnya. “Gue kira lo mau duduk di depan” katanya dengan seringaian menyebalkan. “Serah lo deh” jawabku lalu memakai sabuk pengaman. “Cafe mana sih emangnya?” tanyaku melapaskan keheningan. “Cafe yang gue suka” jawabnya singkat padat jelas. Akhirnya kami diserang hening lagi. Membosankan! Karena tak nyaman aku memilih mengotak atik radio mobil.

‘ada ruang hatiku, yang kau temukan..’

“Lo suka lagu itu?” tanya leo tiba tiba. “Iyalah, emang kenaa?” tanyaku balik. “Gue juga suka” jawabnya riang. “Dih.. Inikan lagu cewek” ejekku. “Yee.. Ini kan lagu umum jadi siapapun bisa suka” katanya tak mau kalah. Aku hanya mengangkat bahu tanda menyerah. “See, gue menang” katanya dengan nada datar. “Lo gak menang, tapi gue nyerah” protesku. Hening lagi…

‘kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu..
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia..
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu.. Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu..’

Tanpa sadar aku dan leo malah nyanyi barengan. “Ciee kita barengan, pas lagi waktu lagunya berhenti kita langsung nyampe” katanya girang lalu turun dari mobil. Aku langsung menyusulnya masuk ke cafe. “Mau mesen apa lo?” tanyanya setelah melihat lihat menu. “Gue steak daging sama cappucino” pesanku. Tanpa diduga dia malah memesan menu yang sama denganku. “Kenapa nyamain?” protesku. “Gue kira lo yang nyamain, soalnya setiap ke sini gue suka mesen itu” ujarnya membuatku bungkam. Aku memberikan kumpulan soal soal (lagi) untuk leo dan dia langsung mengerjakannya.

“Leo, lo ngerasa nggak sih kalau usaha kita belajar tuh sia sia aja” kataku membuatnya mengangkat satu alis. “Sia sia gimana?” tanyanya sembari mengisi soal. “Ya.. Kemarin lo bilang punya penyakit aestivasi, percuma aja dong lo belajar terus menerus tapi tidur juga” cerocosku lalu bertopang dagu. Dia malah menatapku tak percaya. “Lo percaya tentang aestivasi itu? Gue bohongan lho, gue cuman males aja ngerjain soal dari guru guru itu” katanya santai membuatku marah besar. “Jahat lo! Jahat! Lo nipu gue, buat apa gue ngajarin lo kalau lo-nya yang pemales! Aargh..” rutukku sambil memukul mukul keras lengannya.

“Ampun ampun.. Sakit tahu!” katanya setelah aku puas memukulnya. “Salah siapa lo ngebohongin gue, terus kenapa nilai lo anjlok semua? Kenapa males?” tanyaku kesal. Pesanan datang memutuskan jawaban leo. Leo langsung membayar membuatku melongo. “Lho, kok lo yang bayar?” tanyaku bingung. “Emang kenapa? Kqn gue yang ngajak” katanya cuek lalu kembali mengerjakan soal dariku. “Hufft.. Terus apa alasan lo males?” tanyaku lagi. Bukannya menjawab dia malah menatapku dalam, seolah sedang membicarakan banyak hal tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. “Nanti gue kasih tahu” katanya kembali menulis. Aku terdiam.

Kriiiiiing…!!! (bel istirahat)
“Bec, hari ini gue izin yah! Gue pusing banget” kata dinar. Memang hari ini wajahnya pucat dan dia terlihat lemas. “Yaudah, lo hati hati ya” kataku perhatian. “Yo’I, bilangin ke guru ya bye!” pamitnya lalu pergi. Aku menghela nafas panjang lalu pergi ke taman. Bila tak ada dinar aku malas ke kantin. Aku membuka buku novelku yang berjudul ‘jadian 6 bulan’. “Nih!” seseorang menyodorkan somay (sorry kalau tulisannya salah) yang terbungkus padaku membuatku mendongak. “Apaan?” tanyaku tak mengerti. “Ini buat lo! Gue liat lo kesepian gitu yaudah gue beli 2 somay” ujarnya yang tak lain adalah leo. Dia duduk di kursi yang sama denganku. Aku mengambil 1 bungkus somay di tangannya membuatnya mendengus. “Dasar” ejeknya.

“Hee.. Tapi tumben lo baik banget, gak ada maksud tertentu kan?” tanyaku. Dia menggeleng pelan. “Gak, gue lagi kesepian aja” katanya sambil bersandar dengan mata yang terpejam. Seperti air di danau yang tak tersentuh, dia terlihat tenang dan damai. “Lo tahu, lo itu ganteng tapi nyebelin” kataku ikut ikutan bersender ke kursi. “Iya gue tahu kalau gue ganteng, tapi gue gak tahu kalau gue nyebelin” katanya santai. “Itu salah satu jawaban nyebelin dari lo” ujarku ketus. “Bec, gue mau nanya satu hal deh” katanya tiba tiba membuatku menoleh. “Ya?” tanyaku singkat. “Lo kenapa sih ketus banget sama gue dan cowok?” tanyanya serius. Aku menelan ludah yang terasa gurih karena memakan somay. “Oh itu.. Jadi.. Gue itu.. Benci cowok” kataku sedikit gagap. “Oh ya? Kenapa?” tanyanya lagi. “Lo bilang cuman nanya satu hal kan?!” protesku. “Iya deh, ngalah gue” cemberutnya membuatku tertawa kecil.

Kriiiing…!!
“Yaah, bel masuk! Padahal gue masing pengen ngobrol sama lo” katanya. “Nanti bisa kali, besok juga bisa” kataku lalu bangkit dari kursi. “Gak bisa” jawabnya membuatku mengalihkan pandangan padanya. “Maksud lo?” tanyaku heran namun tak dibalas apa apa olehnya. “Ck.. Yaudah gue duluan” pamitku lalu berjalan menuju kelas.

4 minggu kemudian
Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas panjang. Ya, sudah 4 minggu leo tak datang ke sekolah. Tapi menurut info yang beredar, leo memang sudah keluar dari sekolah. Jujur… Aku kangen padanya. Kangen tawanya, candanya, kangen semua ulah dan tingkahnya. “Rebecca oh my good! Liat deh berita yang gue temuin, salah satu murid dari sma kita jadi direktur di perusahaan penerbitan ternama!! Keren banget kan” ujar dinar heboh. “Gak sama sekali” kataku lalu berpangku tangan ke meja. “Yeeh.. Napa sih lo? Tumben loyo gitu” tanyanya. “Gue lagi sakit nih..” kataku lemah. “Yaudah nanti istirahat lo pulang aja” katanya penuh perhatian lalu kembali mencatat pelajaran yang ada di papan tulis. Oh good, berarti tadi dinar bermain handphone saat pelajaran tengah dimulai?! Biarkan sajalah. Tiba tiba ingatan leo dan aku saat di cafe waktu itu terngiang ngiang di kepalaku.

Flashback on
“Nanti gue kasih tahu” jawab leo sembari kembali menulis, aku terdiam. Apakah alasannya itu sangat penting sampai sampai dirahasiakannya? “Tapi kalau boleh tahu cita cita lo itu apa sih leo?” tanyaku penasaran. “Aah.. Akhirnya selesai juga soal soal dari lo! Cita cita gue.. Pengen jadi direktur penerbitan terkenal! Gue ngerasa kasian sama para penulis yang kemampuan mereka tertimbun di dalam tanah” katanya sungguh sungguh. “Iya? Kalau gitu gue dukung deh, soalnya dari dulu gue pengen banget punya buku novel sendiri” ujarku dengan mata berbinar. “Umm.. Kalau gitu gue mau bantu lo” katanya yakin. “Hahaha.. Ngaco lo! Baru kelas 1 SMA juga” ejekku. Lagi lagi dia menatapku dalam, seperti yang ia lakukan tadi. “Lo tahu? Seorang pria pasti akan berusaha untuk membuat gadis yang dicintainya bahagia” katanya. Aku hanya terbungkam, tak tahu apa maksud dari perkataannya. “Udahlah, kita pulang yuk!” ajaknya dan dibalas anggukan olehku. Dia menggenggam tanganku dan menariknya lembut, menebas hujan gerimis yang menghalangi langkah kami.
Flashback off

Menyadari hal itu aku langsung bangkit dan bertanya pada dinar. “Nar, siapa direktur sukses dari penerbitan itu?” tanyaku menggebu gebu. “Lo bener bener gak tahu ya? Si leo itu lho, yang jadi murid lo!” katanya sembari tertawa kecil. “Nar, telephone gue!” kataku cepat. “Lah, lo kan gak dibolehin pake hp” katanya bingung. “Iya ya? Kalau gitu gue minjem hp lo!” pintaku. Dengan bingung dia memberikan handphone nya padaku. Aku langsung menyalakan nada dering membuat seisi kelas riuh. “Rebeca, itu handphone kau?” tanya bu guru yang bergenre orang batak dan papua itu. “Maaf buk, papa saya nyuruh saya pulang duluan.. Ada urusan penting katanya, boleh kan bu?” tanyaku sopan. “Oh, kau boleh pulang sekarang.. Nanti beta bilang pada kepsek” katanya.

Aku langsung beres beres barangku termasuk mengembalikan handphone pada dinar. “Bec, lo..” “Thanks bantuannya” kataku tersenyum dan dia juga balas tersenyum. Dengan bergegas aku salim ke bu guru dan keluar kelas. Sembari berlari aku memikirkan semua perlakuan dan perkataan leo yang terasa janggal untukku. Leo yang menungguku dengan lamanya di parkiran, leo yang ternyata mengikutiku bernyanyi di mobil, perkataan girangnya saat kita nyanyi bersama, leo yang baru gue sadar kalau pesanannya disamakan denganku, leo yang berbohong padaku tentang aestivasi, leo yang menemaniku di taman, sampai perkataannya yang ingin membahagiakan wanita yang dicintainya, leo..! Leo..! Leo..! Mungkinkah aku jatuh hati padanya?

Langkahku terhenti begitu melihat sosoknya tengah merenung di halte depan cafe. Aku berjalan mendekatinya dengan beruraian air mata. Setelah berada di dekatnya aku merasa tenang, saat menghirup kembali aroma parfumnya aku merasa dia hanya milikku, dan setelah bertemu lagi dengannya aku ingin memeluknya, tapi aku tak bisa. Dengan tenaga yang tersisa aku menamparnya, menguapkan rasa kesal dan rindu yang ada pada diriku.

“Apaan… Rebeca! Rebeca kamu nangis?” leo langsung bangkit dan menghapus air mataku. Aku langsung menepisnya. “Jangan pegang pegang!” teriakku. Kulihat dia terkejut. “Kemana aja kamu selama ini? Kenapa seenaknya aja hilang dari pandangan aku? Satu bulan lqgi! Kenapa kamu ngebuat aku ngerasain kangen? Kenapa?! Jahaaat!!” aku memukul mukulnya, tapi dia memegang kedua tanganku dan mengecupnya membuat rasa tenang timbul di hatiku.

“Kamu mau tahu kenapa aku malas jadi orang yang pinter? Jawabannya karena jika aku pintar, kamu gak akan bisa jadi guru private aku lagi” jelasnya membuatku terharu. Ditengah tengah romansa, lagu raisa – jatuh hati dinyanyikan di cafe belakang dan itu membuatku tambah menangis. “Aku pergi, karena aku ingin mendirikan bangunan penerbitan, menuliskan kisah kita dan menjadikannya sebuah buku” ujarnya lagi. Kali ini dia membungkuk dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon polos. Saat dibuka, isinya adalah 2 cincin yang sangat indah. “Aku tahu kamu benci sama cowok, dan aku ngerti kamu gak mau jatuh cinta.. Tapi izinkanlah aku untuk membuatmu jatuh hati padaku. Jadi, rebeca.. Maukah kamu jadi tunanganku?” tanyanya namun tak segera kujawab. “Please?” mohonnya. “Kamu pernah bilang kalau kamu ingin membahagiakan wanita yang kau cintai, jadi.. Buatlah aku bahagia dari sekarang sampai selamanya” kataku tegas. Dia tertawa kecil lalu memasang cincin itu padaku, begitupun aku. Kami pun berpelukan. Sungguh, kau telah membuatku jatuh hati padamu.

‘ada ruang hatiku yang kau temukan..
Sempat aku lupakan kini kau sentuh..
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati..’

Happy ending

Cerpen Karangan: Indah
Sekeping Memori

Sekeping Memori

Judul Cerpen Sekeping Memori

Senja lenyap tergantikan malam. Rembulan hadir membawa sebilah rasa syahdu. Mengusir keriangan hingar bingar terangnya hari. Meninggalkan kesan. Menyambut sang mimpi.
Hany terpaku menatap wajah kekasihnya. Wajahnya merona seperti biasa. Tak sedikitpun terlihat gurat kesedihan di mata kucingnya. Ferly. Iya dia sumber segala kebahagiaan bagi Hany.

“Kenapa kok senyum-senyum terus? kangen?” Ferly membelai lembut rambut kepala gadisnya.
“Kalo iya emang kenapa?” Hany menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Menikmati keheningan malam bersama belahan jiwanya.
“Aku beruntung bisa setiap hari seperti ini. Sama kamu. Wanita yang mampu mengubah cara pandangku terhadap dunia. Kamu satu-satunya alasan untukku bertahan dalam keadaan apapun.” Ucap lirih Ferly.
Malam kian larut. Kesyahduan kian terasa di sana.

“Tadi aku lihat Ferly di cafe bareng cewek. Cantik banget.” Suara Anton teman kantornya.
Bukan pertama kalinya Anton “mengoceh” seperti itu. Memang dia sampai sekarang masih tergila-gila dengan kelembutan sang gadis pujaan, Hany. Namun hati Hany tak tergoyahkan. Tak sedikitpun Hany merespon gosip yang keluar dari mulut Anton. Rasa sayang dan percaya yang membuatnya bertahan. Sampai Anton memberikan sebuah foto.
“Ada lagi yang mau kamu kasih tahu ke aku, Anton?” Hany berdiri dari kursinya. Berlalu. Keluar dari ruang kafetaria kantornya dengan raut yang dibuat setenang mungkin.
Ferly. Apakah aku harus percaya kata-kata anton kali ini?

Seakan waktu 3 tahun pupus. Harapan masa mendatang terlihat makin memudar. Tertutup asap tebal. Lalu menghilang.
Hany menghempaskan tubuhnya di sofa hitam miliknya. Sakit. Merasa dikecewakan meski hati kecilnya masih memaksa untuk percaya. Tapi kenyataan yang dilihatnya tadi siang kembali meraung raung.

Hari-hari berikutnya terasa lain. Entah apa yang terjadi sehingga Ferly saat ini hampir jarang meneleponnya. Hany pun demikian, dia sengaja tidak menghubungi kekasihnya. Semenjak kejadian itu, Hany masih meredam amarah. Namun yang terjadi intensitas hubungan keduanya sedikit merenggang.

“Kenapa akhir-akhir ini nggak pernah ngajak jalan? Udah bosen?” Hany menampar Ferly dengan kata-katanya di telepon.
“Hany? Kalo aku bosen beneran gimana?” Ferly sedikit gemas.
“Ya nggak gimana-gimana.” Hany menjawab santai.
“Aku lagi sibuk akhir-akhir ini. Sibuk banget.” Ferly mencoba menjelaskan.
“Sesibuk-sibuknya kamu dulu pasti nyempetin buat ketemu aku. Tapi sekarang kamu berubah. Perubahan kamu itu telah membuat kadar kepercayaanku berkurang. Dan wanita di kafe itu sudah cukup menjelaskan semuanya.”
Hany membanting ponselnya di kasur. Rasa kecewa makin ditelannya.

“Kamu Hany, kan?” Tanya seorang wanita cantik yang sepertinya pernah dilihat oleh Hany. Iya, dia wanita yang ada di foto itu.
“Iya betul” jawab Hany singkat.
“Aku Niken. Sepupunya Ferly.” Wanita itu mengulurkan tangannya. Hany menyambutnya dengan senyum hangat.

Pertemuannya dengan Niken di toko buku sore tadi, membuatnya dijungkir balikkan pada keadaan yang membuat hatinya dipenuhi penyesalan.
“Kamu pasti salah mengira kalo aku ini selingkuhan pacar kamu.” Wanita itu menjelaskan semuanya.
“Terus sekarang Ferly di mana?” Tanya Hany dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Kamu akan tahu setelah kamu melihat video di kaset ini.” Niken menyerahkan sekeping kaset film.

Sesampai di rumah, Hany langsung menyalakan film itu. Dan itu ternyata video rekaman dari Ferly.
“Ku ingin dia yang sempurna untuk diriku yang biasa. Ku ingin hatinya. Ku ingin cintanya. Ku ingin menjadi seorang yang sempurna. Untuk dia” lagu berjudul Dia dinyanyikan dengan merdu oleh Ferly dengan petikan gitarnya.
“Hai Hany kekasihku. Kamu tau, ini pertama kalinya aku merasakan kerinduan yang begitu menyiksa. Berminggu-minggu harus jauh dari kamu. Eh jangan senyum-senyum aja dong. Aku tau senyum kamu emang manis tapi jangan keterusan. Ntar aku makin sayang loh.” Ferly menyeringai lebar.
“Oh iya. Aku juga mau minta maaf sudah menggoda kamu. Sengaja cuek sama kamu. Niken yang punya ide ini. Dan say thanks to Anton. Dia fans terberat kita kayaknya. Hmm… jangan bosan dengan sikap aku yang kadang sok cuek. Sok romantis. Sok kegantengan tapi emang ganteng sih. Sok kekanak-kanakan. Aku percaya kamu wanita terhebat kedua setelah ibuku yang mampu memahami suasana hatiku. Hany, aku mencintaimu seperti sang waktu yang tak pernah berhenti sedetikpun. Selalu dekap tubuh ini, sebab tanpamu tubuh ini hampa tanpa rasa. Selamanya aku akan mencintaimu. Oh iya, kamu masih ingat halte busway 3 tahun lalu kan? Aku akan menunggumu di sana besok sore. Tepat jam dimana dulu kamu menerimaku untuk jadi pacar kamu. Dan semoga esok kamu juga menerimaku untuk jadi lelaki yang akan mendampingi hidupmu kelak”

Butiran hangat mengalir dari sudut mata Hany setelah melihat video itu. Rasa haru, bahagia, juga sesal bersatu memenuhi hatinya.

Esok Ferly akan melamarnya. Menjadikannya bagian terpenting di hari-hari berikutnya.
Membangunkan suami di pagi hari. Menyiapkan sarapan. Mencium lembut tangan suami dan di balas dengan kecupan hangat di keningnya. Menanti sang suami pulang kerja di depan rumah saat senja datang. Mendengarkan semua keluh kesah suaminya selama seharian bekerja. Tersenyum lembut saat berhadapan wajah sebelum tidur. Mengatakan good night dan akhirnya salah satu tidak ada yang berniat memejamkan mata lebih dulu.

Ah… manisnya menonton sebuah tayangan seklise film yang tak mungkin terwujud. Yang menyisakan rasa nyeri hingga hati wanita bermata indah itu berdarah-darah. Bahkan sampai saat ini. Menjelang 3 tahun kepergian kekasihnya, Ferly.
Iya, kecelakaan sebelum pertemuan senja itu telah merenggut nyawa kekasih dan kebahagiaannya. Semuanya benar-benar menghilang. Hanya ada hening dan dingin yang setiap malam setia menemaninya.

Hany kembali menonton video itu. Dia merindukan semuanya. Semua tentang Ferly. Hanya rindu. satu-satunya rasa yang lebih menakutkan dari kematiannya sekalipun.

Cerpen Karangan: Lilik Suryani
Facebook: Lilik Suryani
Edelweiss

Edelweiss

Judul Cerpen Edelweiss

Langit sore yang mendung. Cuaca yang damai, terasa sejuk menyelimuti ragaku. Dengan seuntai senyum, dan semangat yang menggelora di dalam diriku, bersama sepeda motor yang kukendarai, aku kembali menuju ke sekolah, untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Bahasa seperti biasanya. Namun, seketika diriku akan memarkirkan sepeda motorku, tiba-tiba saja, ponselku berdering, dan benar saja, Eiriana, teman akrabku di Organisasi OSIS sekolahku, telah menghubungiku berulang-ulang kali.

“Assalamualaiku Eiriana?, ada apa?”, aku bertanya kepadanya.
“Alya, sore ini, tepatnya jam 16.00, kita akan menyelenggarakan rapat osis yang sangat penting. Ini adalah amanat dari Ketua Osis kita. Akan ada rapat mengenai acara persiapan festival bahasa yang akan kita selenggarakan 2 minggu lagi, jadi kita semua wajib datang”, tukasnya dengan nada terburu-buru.
“Tetapi, sore ini, aku akan latihan bersama Kak Vany untuk persiapan lomba cerpen FL2SN. Dan perlombaan itu, akan diselenggarakan 1 minggu lagi. Tolong izinkan aku ya”, aku berusaha membujuk Eiriana, tetapi tetap saja, Eiriana bersikeras menyuruhku untuk langsung menyampaikan perizinanku kepada Kak Fadli. Sungguh, jika aku harus bertemu kembali dengan kak Fadli dan berbicara berdua dengannya, maka hal ini tentunya akan menyulitkan untukku.
“Baiklah, aku akan datang rapatnya”, kemudian aku menutup telepon dari Eirina, dan segera menuju ke Ruang rapat Osis.

Sesampai di ruangan rapat, sudah terlihat olehku beberapa rekanku yang saling berdiskusi bersama mengenai persiapan festival bahasa 2 minggu lagi. Namun, tiba-tiba saja, mataku berusaha untuk mencari sesuatu yang hilang dari pandanganku, sesuatu itu adalah Kak Fadli. Seseorang yang diam-diam telah kusukai sejak aku terpilih menjadi Quen of MOS, 1 tahun yang lalu.
“Maaf tadi saya harus menemui ibu Kepala Sekolah. Baiklah kita lanjutkan rapat kita sore ini. Untuk persiapan acara festival bahasa kita, saya akan menunjuk Alya sebagai ketua koordinatornya. Bagaimana?, apakah Alya siap?”, tiba-tiba Kak Fadli memberikan sebuah pertanyaan kepadaku yang sangat sulit untuk kujawab. Aku melihat beberapa rekan-rekan OSIS, dan tampak sekali mereka begitu menyetujuinya.

Dengan demikian, disore itu juga, tanpa berunding terlebih dahulu denganku, aku terpilih menjadi ketua koordinator di acara festival bahasa di sekolahku.

1 MINGGU KEMUDIAN
“Alya?”. Tiba-tiba Claudia meberhentikan langkah kakiku, ketika aku hendak menuju ke parkiran sepeda motor untuk pulang ke rumah.
“Ada apa Claudia?”, tanyaku kepada Claudia.
“Al, tadi Kak Fadli menitip pesan kepadaku, jika kamu harus menemuinya siang ini juga di Aula. Dikarenakan, ada beberapa proker yang harus diselesaikan untuk persiapan acara festival bahasa kita”.
“Tapi Claud, aku telah memberikan proker itu kepada kak Fadli, saat kita rapat hari minggu kemarin, proker mana lagi yang harus aku berikan?”.
“Aku tidak tahu. Sudahlah, aku harus pergi dulu ya, mamaku telah menjemputku. Lihat, itu kak Fadli dia telah menunggumuu sejak 1 jam yang lalu”, dan Claudia pun meninggalkanku.

Apa sebenarnya yang kak Fadli inginkan?, apakah dia tidak jera juga, setelah apa yang terjadi di antara aku dan Kiki selama 1 bulan ini?. Kiki selalu saja salah paham kepadaku, aku selalu berusaha meyakinkankannya bahwa aku dan kak Fadli, tidak memiliki hubungan apa-apa, seperti yang selama ini dia fikirkan. Tetapi, mengapa kak Fadli tidak mau menurutiku untuk menjauhiku?, kenapa dia selalu mencoba ingin bertemu denganku disetiap hari?, aku semakin kesal, dimana aku harus mengingat tentang kedekatan yang terjadi di antara aku dan kak Fadli. Benar-benar alur cinta yang rumit dan sulit untuk diterka. Sudah 1 tahun ini terjadi, namun berjalan tanpa sebuah pernyataan cinta, apa dayaku, ini semakin sulit untuk ku lalui, dimana disaat aku telah mengetahui, suatu pernyataan nyata, jika kak Fadli telah menjalin kasih dengan Kiki, temanku sendiri.

“Akhirnya kamu mau menemui kakak Alya, apakah kamu tahu, mengajakmu untuk berbincang seperti ini sangatlah sulit, dan bukan hanya itu juga, mengapa setiap kakak menghubungimu, kamu tidak pernah mengangkatnya?”, tiba-tiba kak Fadli melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku, ketika aku sedang berdiri di depannya untuk menemuinya yang sedang duduk di sofa sembari memainkan laptopnya dengan santai.

Aku memandangnya, dan hanya memandangnya tanpa seucap kata. Entah mengapa, terbesit di ingatanku secara tiba-tiba, memori indah yang terjadi dengannya ketika masa MOS dahulu. Dia selalu menggangguku dengan gayanya yang cool tanpa senyum. Bukan hanya itu juga, jikalau aku sendiri menunggu bus di halte, dengan nada dinginnya, dia mengajakku untuk bercengkrama, dan sesekali aku dan dirinya berdebat mengenai berbagai masalah kependidikan dan masalah politik negara. Sungguh, aku sangat merindukan kebersamaan itu. Namun, sesuatu terjadi begitu saja, dimana ketika aku kembali menjalin hubungan bersama mantan kekasihku, yang juga merupakan kakak seniorku di Pramuka. Dan, aku tidak mengiranya, ketika aku menyadari, jika ketika itu, kak Fadli akan jauh dari hidupku. Apa dayaku, seraya dia menjauh dariku, disaat itu juga aku merasakan, jikalau ada sesuatu yang hilang dalam langkah waktuku. Tiada senyum kak Fadli yang aku lihat, serta tidak ada kembali sapaan dan candaan yang dia berikan untukku lewat pesan massangernya.

Dan, tiba saat dimana ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMA, secara tiba-tiba aku mendengar kabar, jikalau kak Fadli telah berpacaran bersama Kiki selama 3 bulan. Bukan mainnya, aku sangatlah terkejut dan aku hanya mampu diam, dan tidak mampu berkata apapun. Walaupun disaat itu, bersamaan adalah hari, dimana kak Ari yang merupakan mantan kekasihku, kembali mengkhianatiku dengan berpacaran bersama Kirana, yang juga merupakan temanku di Pramuka.

“Alya, kamu tidak menjawab pertanyaan kakak?”, tiba-tiba kak Fadli menegurku dan membuyarkan lamunanku akan dirinya dan kenangan tentangnya.
“Tidak, kita tidak bisa seperti dulu lagi kak. Akan terjadi kesalahpahaman pada hubungan kakak bersama Kiki jika kita bertemu seperti ini dan berkomunkasi kembali”, kataku dengan mencoba menahan air mata.
“Apakah dengan kakak berpacaran bersama Kiki, maka itu berarti menjadi sebuah penghalang untuk kakak dapat dekat dengan kamu?. Al, sampai kapanpun, kakak tidak mau jauh dari kamu. Dan tidak akan ada yang bisa memisahkan pertemanan kita”.
Aku memberanikan diri untuk melihatnya dan memandang wajahnya. Aku tidak tahu, dan tidak mengerti, harus kata-kata apa lagi yang ingin kukatakan kepada dirinya, agar dia mengerti dengan perasaanku. Menjauh dari kakak, adalah suatu hal yang sulit untuk Alya, tapi, tetap saja, Alya harus mengerti di posisi Kiki?, dia sangat cemburu dengan kedekatan kita. Dan juga, Alya tidak ingin, jika kita terus dekat seperti ini, maka, kakak akan mengetahui, bagaimana perasaan Alya terhadap kakak yang sebenarnya. Alya menyukai kakak, tapi kakak hanya menyukai Kiki, kata hatiku

“Kenapa kamu seperti ini?, jawab Alya?. Al, bulan Desember adalah hari terakhir kakak di SMA ini. Dan bulan Januari, adalah hari perpisahan kakak. Setelah hari perpisahan itu, kakak akan melanjutkan studi kakak ke Yogya. Oleh karena itu, kakak ingin menjadikan kamu sebagai kenangan yang indah. Kakak mohon, bisakah kita kembali berteman seperti dulu?”, tampak jelas kak Fadli mencoba membujukku untuk kembali kepadanya, namun, aku tetap pada pendirianku, yaitu, menjauh dari dirinya.
“Tidak kak. Sudahlah, Alya harus pergi bertemu dengan kak Vany”, kataku dengan ketus, dan kemudian tanpa berfikir panjang, segera bergegas aku untuk pergi meninggalkan dirinya. Namun, seketika dimana aku hendak meninggalkannya, tampak dia kembali memanggil namaku dan kembali menanyakan suatu pertanyaan yang sama.
“Alya, kenapa kita tidak bisa seperti dulu lagi?”
“Alya, suka dengan kakak”, kataku kepada dirinya, sembari aku menatap dirinya dan kemudian berlari keluar aula untuk menenangkan diriku yang dengan jujur mengungkapkan perasaanku kepada dirinya.
Sementara itu, setelah mendengar pernyataan rasa suka yang dengan berani aku ungkapkan kepadanya, dia hanya diam dan terduduk sembari memaknai arti dari pernyataan rasa sukaku kepadanya.
Alya menyukaiku?, kenapa ini terjadi?, tanya dirinya kepada hatinya.

TIBA DI BULAN DESEMBER…
Aku benar-benar merindukan kak Fadli. Satu minggu tidak bertemu dengannya, serasa untukku satu tahun aku tidak bertemu dengannya. Namun apa yang harus aku perbuat, genap setelah satu minggu selesai Ujian Nasional, maka di bulan Januari, kak Fadli akan pergi ke Yogya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, dan ini sebagai tanda bahwa aku tidak akan bertemu dengannya kembali. Hem, apalagi, Claudia telah bercerita kepadaku, jika hubungan kak Fadli dan Kiki telah membaik dan mereka telah merayakan anniversary 1 tahun mereka dihari Rabu kemarin. Seperti inilah yang harus aku rasakan, tidak terlalu berharap kepada kepastian cinta yang semu. Dan suatu kemustahilan, jika kak Fadli akan membalas cintaku, tapi tidak masalah untukku, menyukainya dalam diam, dan menjadi motivasi bagiku untuk meraih mimpiku, aku berkata kepada hatiku, seketika aku sedang beristirahat sejenak di trotoar sembari melepas kelelahanku setelah berlari pagi mengitari taman dekat rumahku.

Namun, disaat aku hendak melanjutkan kembali lariku, kak Fadli datang dari arah depan menuju kepadaku. Dia melepas senyum manisnya, dan menyapaku dengan ramah, seraya mengatakan, jika dia merindukan diriku. Namun aku hanya melepas senyum tipis malu-malu. Aku tertunduk diam sembari memberikan sebotol air mineral untuknya, aku mengetahui jika dipagi ini, dia juga telah berlari pagi mengitari taman. Sembari melepas rinduku yang mendalam, aku kemudian mencoba mengajaknya untuk berbincang bersama.

“Bagaimana ujian akhir kakak?, apakah berjalan lancar?”, tanyaku kepadanya. Namun, dia hanya memberikanku seuntai senyum dan aku melihatnya, jika senyum yang dia berikan begitu tulus, seraya sebagai pertanda, jika dia telah berhasil melakukannya dengan baik dan sempurna.
“Bagaimana jika kita sejenak mampir ke warung roti bakar itu untuk mengisi perut yang kosong?”, tiba-tiba dia menawariku untuk pergi sarapan berdua dengannya di sebuah warung roti bakar dekat taman. Sungguh, Aku tidak pernah menduga, ini adalah untuk pertama kalinya, dia mengajakku untuk makan bersamanya seraya berbincang dengan akrab. Dengan lahap dan penuh rasa kelaparan, aku segera menyantap roti bakar dengan selai keju yang aku pesan.

Mimpi apakah aku tadi malam?, bertemu kembali dengan kak Fadli, dan kemudian sarapan bersama dengan saling bertatapan seperti ini?, aku terus bertanya kepada hatiku, sembari melihat sepotong roti yang berada di tanganku.
“Alya?”, kak Fadli memanggilku dengan ramah.
“Iya kak?”, jawabku dengan nada lugu.
“Bunga apakah yang kamu sukai Alya?”. Dengan wajah tampannya, dia bertanya kepadaku dengan ramah dan penuh keanggunan, sungguh berada di dekatnya semakin membuatku gugup dan salah tingkah.
“Edelweiss”, jawabku dengan tungkas.
“Edelweiss?, apa alasannya?. Hem, bukankah setiap wanita selalu menyukai mawar merah?, dan kenapa kamu menyukai Edelweiss?”, terlihat jelas kak Fadli memandangku dengan penuh keheranan.
Namun, seraya aku memandangnya, aku secara berani dan juga percaya diri menjelaskan kepadanya, mengapa aku sangat menyukai bunga Edelweiss. “Alya menyukai Edelweiss, karena Edelweiss adalah bunga yang melambangkan tentang keabadian. Bentuknya yang lucu dan simpel, memberikan sebuah pernyataan, jika disaat kita mencintai seseorang, maka tunjukkan dalam bentuk cinta yang sederhana namun tetap tulus. Dan, Edelweiss juga melambangkan kesetiaan, yaitu dia tidak pernah mati, walau dalam keadaan yang kering. Dia tetap terlihat cantik. Dan, keabadian yang dimilikinya juga mengajarkan kepada kita, jika cinta yang saat ini kita miliki, biarkanlah tetap abadi di dalam diri kita, walaupun kita tidak bisa memilikinya. Dan cinta bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan, jika memang bukan yang kita kehendaki”.
Aku mengerti, jika dalam tatapan semu yang ditunjukkan oleh kak Fadli, ketika dengan seriusnya memandangiku yang sekilas cerita tentang Edelweiss, maka secara bersamaan dia telah memahami tentang perasaanku yang telah aku ungkapkan kepada dirinya satu bulan yang lalu.
“Alya?, apaaakkaaah… “, ketika kak Fadli akan melanjutkan pertanyaannya kepadaku, tiba-tiba, Kiki datang tepat dimana aku dan kak Fadli sedang duduk bersama di sebuah warung roti bakar. Aku benar-benar tidak percaya, dia datang kepadaku, sembari melontarkan seuntai kata yang cukup menyakitkan untuk kudengar.
“Dengar Alya, kak Fadli tidak akan mungkin menyukaimu, karena dia adalah selamanya kekasihku, dan kamu jangan terlalu berharap”, dia mengeluarkan kata-kata ketus tersebut, dan sembari menahan air mataku aku kemudian pergi meninggalkan kak Fadli dan Kiki begitu saja.

2 TAHUN KEMUDIAN…
Aku bahagia, keinginanku didalam mengejar mimpiku telah mampu kucapai dengan prestasi yang gemilang. Aku bahagia, dikarenakan di usiaku yang ke-20 tahun ini, aku telah berhasil melanjutkan studi magisterku di Kota Bandung, yaitu tepatnya di jurusan Pendidikan Kesejarahan.
Aku bahagia, hanya menunggu waktu selama 2 tahun, maka aku akan kembali mengambil gelarku menjadi Magister Pendidikan, dan kemudian melangkahkan kakiku menjadi seorang doesen kesejarahan. Tentu ini semua adalah berkat kasih sayang dan doa dari mama dan papaku.
“Al, mama ada kabar gembira untuk kamu”, tiba-tiba mama menemuiku di dapur yang hendak memasak untuk sarapan pagi dengan wajah yang penuh kegirangan.
“Ada apa ma?, sepertinya itu kabar yang membahagiakan”, aku mencoba menggoda mamaku.
“Al, memangnya kamu gak bosan, liburan semester selama 3 bulan, hanya kamu habiskan dirumah seperti ini?, apakah kamu tidak ingin refresing?”, mama bertanya kepadaku. Aku melihat mama, dan seraya menguntai senyum tipis,
“Ma, Alya tidak akan pernah bosan menghabiskan liburan semester Alya yang 3 bulan ini di rumah, jika menghabiskannya bersama mama dan papa dan Najwa”, kataku dan kemudian mengecup pipi mama.
“Maka dari itu Al, mama dan papa, berencana mengajak kamu untuk liburan dipuncak, kita akan berlibur di rumah tante kamu. Bukankah kamu merindukan mbak Sulis kan?, tante tadi mengirim pesan kepada mama, jika mbak Sulis, pagi ini akan pulang dari Colorado, dan dia akan menghabiskan waktu liburan musim dinginnya di puncak. Jadi bagaimana, kamu mau ikut?”. Dengan wajah penuh bahagi, aku tersenyum kepada mama dan sembari memeluk mamaku.
“Tentu dong ma. Mama kan tahu, jika aku sudah 2 tahun tidak bertemu dengan mbak Sulis. Jadi aku sangat merindukannya. Bagaimana dia sekarang ya ma?, apakah dia telah berubah setelah tinggal dengan lamanya di Colorado?”, aku bertanya kepada mamaku sembari tertawa kecil.

DAN PADA AKHIRNYA…
Tidak terasa sudah berjalan 2 hari, aku menghabiskan liburan semesterku bersama mbak Sulis, keponakanku. Aku sangat bahagia, apalagi, ketika aku dengan seriusnya membuka sebuah album foto kenangan mbak Sulis selama tinggal di Colorado. Terlihat olehku, beberapa foto selfie mbak Sulis yang sedang bahagianya, berdiri di puncak gunung bersama para rekannya yang sedang menghabiskan liburan musim semi, sungguh ini sedikit membuatku merasa ingin sepertinya. “Mbak, sepertinya, menjadi seorang backpacker seperti mbak sangat menyenangkan”, kataku dengan nada mengejek kepadanya.
“Iya Al, kita bisa mengenal alam lebih dekat. Tapi, kamu kan bukannya anggota pramuka kan?, kamu juga pastinya pernah naik gunung juga kan seperti mbak?”.
“Iya sih mbak, aku pernah naik gunung, tapi itu ketika aku masih SMA, namun setelah kuliah, aku jarang bergabung untuk naik gunung lagi, dikarenakan, aku fokus dengan organisasi BEM, dan program beasiswaku mbak. Jadi aku rindu ingin seperti mbak lagi”.
“Hem, kamu masih ada waktu 3 minggu lagi kan liburan di sini?, bagaimana jika hari minggu kita mendaki ke Bromo. Kamu mau kan?”. Dengan perasaan bahagia, aku menerima ajakan mbakku Sulis.

TIBA DI HARI MINGGU…
“Wowwww mbak, ini adalah untuk pertama kalinya Alya ke Bromo, dan ternyata pemandangan dari puncaknya sangat indah sekali”, kataku kepada mbak Sulis, seraya berteriak dari atas puncak Bromo mengekspresikan kebahagiannku.
“Iya Alya. Apalagi jika kamu bersama seseorang yang spesial kemari, wah, pati akan seru banget. Dan kamu lihat Alya, ini adalah bunga Edelweiss, bunga yang melambangkan tentang keabadian”, mbak Sulis mengajakku untuk menemui rangkaian bunga Edelweiss yang tertanam dengan indahnya di atas puncak bromo tersebut. Namun, seketika aku melihat bunga Edelweiss tersebut, maka seketika itu pula, aku teringat akan sosok kak Fadli yang berjanji untukku di 2 tahun yang lalu, tepat seketika dia akan berangkat ke Yogya.

FLASHBACK
Di Bandara, Tepat jam 13.00 WIB, aku memandang wajah kak Fadli dengan pandangan yang semu. Aku menahan deraian air mataku, agar tidak membasahi pipiku. Hari ini, adalah hari dimana kak Fadli akan pergi ke Yogya untuk melanjutkan studinya.
“Alya, jika memang kita ditakdirkan untuk berjodoh, maka kakak akan datang menemui kamu dengan sebucket Edelweiss yang indah”, katanya dengan seraya tersenyum.
“Kak Fadli, yang terpenting bagi Alya, adlaah Alya dapat bertemu kembali dengan kakak”, jawabku kepadanya. Dan, sembari menguntai senyum indah untukku, dengan langkah kakinya yang semakin terasa jauh aku rasakan, dia telah pergi dariku dan menuju ke pesawat yang akan membawanya ke Yogya.
“Kenapa Alya?”, mbak Sulis bertanya kembali kepadaku, namun aku hanya menguntai senyum tipis, dan kemudian setelah megambil beberapa foto Edelweiss tersebut, segera aku pergi dari puncak bromo tersebut dan hendak pulang ke Puncak. Namun, disaat aku akan turun dari puncak bromo, tiba-tiba saja, aku dari belakang punggungku, mendengar sebuah suara yang sangat aku kenali. Suara yang sangat tidak asing olehku. Aku mencoba memberhentikan langkah kakiku, dan sejenak ingin melihat ke arah belakang, siapakah gerangan suara itu. Dan benar saja, seketika aku berbalik ke arah belakang, didekat rangakain Edelweiss yang indah, terdapat kerumunan para pria yang sedang berselfie menikmati keindahan puncak bromo bersama Edelweiss tersebut. Huh, ternyata hanya ilusi. Aku mengira, jika tadi, aku benar-benar mendengar suara kak Fadli, namun ternyata bukan, kataku dengan nada menyesal.
Namun, tiba-tiba…
“Fadli, kemari, lihatlah, bukankah ini Edelweiss yang ingin kamu petik jika kita telah sampai di puncak bromo ini?. Edelweiss ini sangat indah sekali”. Bukan girangnya aku, seketika aku melihat sekali lagi ke arah belakang, ternyata, dengan tatapan yang sama, aku dan kak Fadli saling memandang. Aku bertemu kembali dengannya, dengan rentang waktu 2 tahun yang sangat lama. Dengan rasa bahagia, aku berlari kepadanya, dan kemudian berdiri tepat di hadapannya. Aku melepas senyum untuknya begitu juga dirinya.
“Alya rindu kakak”, kataku dengan mata berbinar.
“Kakak telah berakhir dengan Kiki. Sekitar satu tahun yang lalu”. Deg, dia memulai pembicaraan dengan sebuah kabar yang membahagiakan untukku. Tiba-tiba dengan sembari melepas senyumnya yang manis, dia dengan pesonanya memberikanku sebucket Edelweiss, sebagaimana dia telah berjanji kepadaku di 2 tahun yang lalu.
“Kakak juga merindukan Alya. Maaf, telah membuat Alya menunggu terlalu lama”.
Hanya senyumku yang bisa kuberikan kepadanya di sore itu. Dengan perasaan bahagia, dan wajahku yang berbinar-binar kasmaran, aku menerima bucket Edelweiss darinya. Diiringi dengan nyanyian burung yang merdu dari atas puncak bromo. Sungguh, penantian cintaku berakhir dengan indah, dan semoga akan tetap abadi seperti Edelweiss yang dia persembahkan untukku.
“Alya cinta kakak, dan selamanya akan selalu cinta kakak”, bisikku.

SELESAI

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Facebook: Aisyah Nur Hanifah (Nur)