Showing posts with label Cerpen Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Inspiratif. Show all posts
Pahlawan Wanita Sejatiku

Pahlawan Wanita Sejatiku

Judul Cerpen Pahlawan Wanita Sejatiku

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Lagu nasional ini menggema indah di antara dinding-dinding ruangan gedung tua nan megah ini. Menyisakanku padaku satu pertanyaan yang sama pada setiap lariknya, siapa itu pahlawan bangsa, siapa itu mereka, apakah mereka saja yang telah mengorbankan darah mereka untuk tanah air ini ataukah mereka yang kini terdengar sebagai pahlawan di buku-buku sekolah yang pernah diajarkan guruku? Lalu apa yang harus kutulis dalam bukuku?

Aku menenggak habis segelas susu di sebelah kananku laptopku dengan mata memerah dan wajah yang lusuh. Ini sudah gelas ke 10 dalam waktu 2 hari ini aku lembur dikejar dateline membuat novel. Mungkin aku tidak perlu bersusah-susah seperti ini jika aku tidak menerima tantangan dari queen drama itu. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan inilah resiko yang harus kuhadapi. Berulang kali aku mencoba mengetik beberapa kata dan mencari pilihan kata yang tepat, tapi tidak ada yang berubah, tetap saja page di Ms Word-ku masih kosong karena terus kuhapus.

AAAARRRRRGGG.
Teriakku kesal sambil menggaruk-garuk kepalaku. Aku kini beralih dari laptop ke kertas yang hasilnya tetap saja hanya coretan-coretan tidak berguna yang kudapat. Rasa kantuk kembali mendatangiku, tidak… tidak… Aku harus dapat 20 lembar malam ini, aku tidak boleh tertidur.

“Oh, lihatlah penulis muda kebanggaan semua orang, katanya sudah terkenal, bukunya best seller tapi ditantang nulis novel aja tidak bisa, payah!” Wajah sombong penuh keangkuhan itu tertawa penuh kemenangan di hadapanku.
“Huuuuuu!” Olok-olokkan dari wajah satu persatu orang yang pernah memujiku menggerumuniku sambil mengolok-olok penuh kekecewaan padaku.
“Tidak… tidak… tidak…” aku semakin khawatir, kali ini aku benar-benar sudah malu, sangat malu pada diriku sendiri, tidak ada lagi pujian itu, tidak ada lagi orang yang akan menyanjung karya-karyaku lagi. Kini hanya ada aku yang tersisa sebagai pengecut.

“Andin! Andin sayang, bangun!”
Aku membuka mataku, kurasakan seluruh keringat membasahi tubuhku. Hanya mimpi. Mimpi burukku karena terlalu banyak berfikir tentang hal yang kutakutkan.
“Kamu nggak papa kan, sayang?” Tanya mamaku yang terlihat cemas melihat kondisiku. Aku mendongakkan kepalaku sedikit acuh, lalu kutatap laptop di sebelahku. Kelihatannya ke sleep dan tentu saja halaman Ms Word itu masih kosong, sama dengan otakku sekarang. Kembali aku menoleh pada mama lalu menggelengkan kepalaku sebagai kode bahwa aku baik-baik saja. Hari ini aku bangun tepat pada waktunya, segera kusambar handukku, mandi lalu berangkat ke kedung mutiara, ada louncing buku “The Best Heroes” karya penulis terkenal siang ini, semoga saja aku dapat inspirasi setelah pergi ke acara ini.

Sialnya, aku terjebak macet di tengah jalan karena demo penolakan kenaikan BBM, yang membuatku terlambat dua puluh menit dari waktu yang tertera pada poster acara. Ketika sampai di Gedung Mutiara, acara louncing itu sudah berlangsung, dan pintu masuk tepat berada di samping si bintang utama. Karena malu aku pun menunggu acara itu selesai di tempat sepi belakang gedung itu sambil menunggu acaranya selesai. Lebih dari tiga puluh menit aku duduk sendiri, dan tiba-tiba saja lagu gugur bunga karya Ismail Marzuki dikumandangkan begitu keras.

Lagu nasional ini menggema indah di antara dinding-dinding ruangan gedung tua nan megah ini. Menyisakanku padaku satu pertanyaan yang sama pada setiap lariknya, siapa itu pahlawan bangsa, siapa itu mereka, apakah mereka saja yang telah mengorbankan darah mereka untuk tanah air ini ataukah mereka yang kini terdengar sebagai pahlawan di buku-buku sekolah yang pernah diajarkan guruku? Lalu apa yang harus kutulis dalam bukuku?

“Sedang apa dek, kok sendirian di sini?” Sebuah suara menanyaiku dari belakang.
“Enggak. Nggak papa” jawabku sambil mencoba tersenyum ramah.
“Atau lagi nunggu pacar barangkali?”
“Pacar? Enggak kok, cuma lagi nyari jawaban siapa itu pahlawan bangsa sejati…” Ucapku keceplosan karena masih terbawa syair lagu yang baru kudengar.

Wanita muda yang kira-kira berumur 30 tahunan itu tersenyum ke arahku lalu duduk di sebelahku, kukira kata-kataku telah membuatnya begitu tertarik.
“Lalu siapa pahlawan bangsa sejati menurutmu?” Ia balik bertanya lalu kembali tersenyum ke arahku.
“Entahlah, mungkin yang pernah berperang untuk bangsa ini, atau yang sudah berkorban banyak untuk bangsa ini, Kartini, Jendral Soederman, Soekarno, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Dewi Sartika, Kapten Pattimurra dan entahlah.”
“Kamu benar, kukira nilai sejarahmu pasti bagus di sekolah.” Pujinya yang membuatku serasa mendapat sindiran mengingat bahwa aku sangat benci dengan pelajaran sejarah.
“Ya, mereka memang pahlawan, pahlawan yang rela mempertaruhkan apapun untuk bangsa ini, kamu sudah tahu, kenapa masih bertanya?” Lanjutnya kembali.
Aku terdiam sejenak. Rasanya masih ada yang janggal dan aku sendiri belum puas.
“Maksudku di jaman modern ini, kayaknya nggak ada.”
“Pahlawan sejati itu orang yang mau berkorban untuk kemajuan bangsa ini, orang yang ikhlas, sabar dan tabah serta mempunyai tekad, semangat yang tinggi untuk bangsa, mereka tidak pernah ingin terlihat, dinilai dan dipuji orang lain, karena yang mereka lakukan itu kerja nyata bukan hanya omong kosong semata.”
“Oh,” responku singkat, tapi aku tidak bermaksud sedikitpun menyindir ibu ini, melainkan fikiranku sedikit demi sedikit mulai terbuka mendengar ucapannya.

“Dan siapa itu mereka?”
“Mereka ada di dekat kita, para pemadam kebakaran, guru, bahkan kalau kamu tahu tukang bersih-bersih itu pun pahlawan bagi bangsa ini.”
Aku menganggukkan kepalaku, memang aku pernah mendengar pernyataan ini tapi kukira ini memang benar. orang yang rela berkorban demi bangsa ini.

“Oh, ya dek, kenapa yang kamu sebutkan sebagai pahlawan sejati pertama itu Kartini?”
“Tentu saja Kartini” jawabku dengan senyum yang mengembang di bibir” aku ini wanita tentu ingat dengan emansipasi wanita yang dilakukannya.”
Ia terdiam sejenak, menganggukkan kepalanya sambil berkata “aku tahu kartini itu telah berjasa banyak untuk wanita negeri ini, tanpa melupakan jasa-jasanya, tapi benarkah emansipasi wanita itu datang hanya dari kartini saja?”
“Ya tentu.”
“Ya, kartini telah membuat banyak perubahan untuk bangsa ini terutama untuk wanita yang membuat kita bebas bersekolah setinggi mungkin dan berkarir, tapi kita juga tidak boleh melupakan jasa pahlawan wanita yang lain, bahkan jauh sebelum kartini mengirim surat-suratnya kepada orang belanda, emansipasi wanita pun sudah dilakukan, buktinya perjuangan Cut Nyak dien, ia wanita tapi juga berperang, membuktikan bahwa wanita juga dapat menjadi pemimpin pada masanya. Selain itu kita ada Dewi sartika, Rohana Kudus, Cut Nyak Meutia, Hj R. Rasuna Said. Dan masih banyak lagi, tentu kita harus tetap mengenangnya bukan. Terlebih wanita yang selalu ada di dekat kita.”
Aku menganggukkan kepala. Kulirik jam tanganku, ternyata sudah jam 11.00 siang waktunya pulang sesuai yang kujanjikan pada ibuku. Kuucapkan terimakasih telah menjawab pertanyaanku dan memberikan inspirasi padaku. Walaupun baru beberapa menit berkenalan dengan orang ini dan kebetulan aku tidak tahu siapa namanya namun wanita ini sangatlah baik dan pandai. Aku pun tanpa sungkan meminta alamat e-mailnya untuk dapat berkomunikasi dengannya kembali.

Sesampainya aku di rumah masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab dari ucapan wanita itu, siapa wanita yang ada di dekat kita? Kufikir-fikir sejenak, mungkinkah? Aku melangkahkan kakiku menuju dapur, wanita dengan tubuh gemuk dengan kulit sawo matang itu kupeluk erat-erat. MAMA, KAULAH PAHLAWAN SEJATIKU.

Aku memandang wajah Emma, si Queen drama itu yang kini tertunduk malu di hadapanku. Ia memegang novel karyaku sambil mengucapkan ucapan selamat di hadapanku sambil memuji novelku. Aku pun membalasnya dengan senyum, “berkat kamu dan satu orang lagi aku tahu apa itu makna pahlawan sejati. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, harusnya aku yang berterimakasih padamu, karena kamulah novel ini bisa terbit.” Aku kembali tersenyum ke arahnya, kata-kataku ini benar-benar tulus, namun wajah sinis itu kembali muncul dan langsung meninggalkanku.

Aku tersenyum kembali, berusaha mengingatnya sebagai pengalaman. kulihat-lihat beberapa komentar yang muncul di cover bukuku ini. kubaca salah satu komentar dari penulis “The Best Heroes”, karena penasaran aku pun mencoba browsing siapa dan bagaimana orang itu. Ternyata orang itu adalah wanita yang duduk di sebelahku dan memberikan inspirasi untuk novelku. Aku pun segera mengirimkan sebuah pesan lewat alamat E-mailnya. Mengucapkan banyak terimakasih kutambahkan ungkapanku siapa itu pahlawan wanita sejati yang ada di dekat kita.

Dialah ibu, orang yang selalu ada di saat kita susah dan selalu tersembunyi di antara kebahagiaan kita. dialah ibu, yang melahirkan dan mendidik anak-anaknya hingga menjadi calon-calon pahlawan bagi bangsa ini, yang juga menciptakan ribuan pahlawan untuk bangsa ini. dialah ibu, yang selalu mendoakan dan berusaha melakukan apapun untuk anaknya. Wanita yang kadang terlupakan ini adalah pahlawan terbaik yang tidak boleh dilupakan oleh setiap manusia yang ada di muka bumi ini.

Cerpen Karangan: Isti Komah
Karena Ranginang Unyil

Karena Ranginang Unyil

Judul Cerpen Karena Ranginang Unyil

Hening dan juga sepi.. tak ada suara musik ataupun suara dari televisi. Hanya ada suara Minyak panas dan kompor yang menyala. Hari itu aku sedang menggoreng ranginang buatanku. Ranginang yang berbeda dari ranginan biasanya, ukurannya lebih kecil. Berbicara soal ranginang, makanan yang satu itulah yang membuat aku bisa bertahan hidup di kota kembang Bandung tanpa bantuan dari orangtua di majalengka.

Setiap hari, aku menjual ranginang di kampus atau menitipkannya di kantin kampus dan juga menitipkannya di warung-warung dekat tempat kostku. Aku memberi nama ranginang itu dengan nama “Ranginang unyil” karena bulat kecil-kecil. Tidak seperti ranginang biasanya yang lebih besar. Ranginang unyil ini mempunyai beberapa varian rasa diantaranya, original, pedas balado, pedas, balado, jagung bakar dan juga rasa keju. Namun yang banyak digemari anak-anak kampus, adalah rasa pedas. Awal usahaku tak mudah, mulai dari gagal membuat dan juga jarangnya pembeli yang awalnya tak tahu kalau “ranginang unyil” itu enak, gurih dan renyah.

Karena waktu dan pengalaman, berkat kerja kerasku dalam mengembangkan ranginang unyil, usaha kecilku itu bisa berkembang di kalangan mahasiswa di universitas tempat aku kuliah. Dan alhamdulillah, berkat sukses mengembangkan usaha ranginang, aku bisa lulus kuliah di salah satu universitas di kota kembang Bandung. Aku masuk jurusan fisika pendidikan.

Aku ingat sekali, Hari-hari kulalui dengan sulit, kadang telat masuk kuliah karena harus menggoreng ranginang. Namun, usahaku tidak sia-sia. 3,5 tahun kuliah, akhirnya aku lulus. Bahkan aku ingat masa-masa sulit tiga setengah tahun, saat aku tak punya uang, hanya sedikit uang untuk beberapa hari dan modal pun menipis. jadi karena itu aku menjual handphoneku yang jadul. Kujual ke konter dekat tempat kostku, dengan laku seharga 170 ribu. aku mengatur sedemikian rupa agar uang 170 ribu itu bisa menambah modalku dalam usaha kecilku. Namun alhamdulillah, dengan menjual handphone, bisa menambah modal dengan menambah bahan yang berkualitas.

Karena aku menjual handphone, aku jadi tak bisa menghubungi ibu di majalengka. Sebelumnya, aku mencatat no ibu di buku kecil milikku. Namun dengan kebetulan buku itu hilang. masa-masa tersulit karena tak bisa menghubungi ibu, mau pulang ke majalengka pun uang tak ada. Hanya doa yang mengiringi hidupku di kota kembang yang penuh tantangan dan rintangan hidup seorang diri. Juga rangkaian doa selalu menggema di tempat aku shalat untuk ibu. jujur saja rasa khawatir setiap hati menyelimuti diriku, khawatir ibu sakit, atau khawatir hal-hal buruk terjadi pada ibu yang hanya tinggal berdua di Majalengka dengan adikku. Andaikan saja bapak masih ada, mungkin aku tak akan ada di posisi sesulit ini, kuliah di kota kembang bandung, dengan mencari uang sendiri untuk keperluan sehari-hari. Adapun beasiswa hanya untuk biaya kuliah, memang selama kuliah tak pernah sedikitpun aku mengeluarkan biaya kuliah karena beasiswa selalu kudapatkan setiap saat karena prestasiku.

Tiga tahun setengah masa sulitku, terbayar dengan satu hari terbaik dalam hidupku. Hari dimana aku diwisuda. Waktu itu keadaanku sudah lebih baik, mendapatkan kembali buku kecil miliku yang di dalamnya terdapat nomor ibuku tercinta juga dapat membeli handphone dari hasil usaha ranginang unyil. Ibu dan juga keluarga dari majalengka datang ke bandung, untuk melihat aku diwisuda. Walupun hanya ibu yang bisa masuk ke gedung melihat aku diwisuda secara resmi.

Wisuda berjalan lancar, bahkan sangat lancar. Tak kusangka ketika aku “Renita Melviany” yang menjadi lulusan terbaik dengan nilai cumlaude. Seorang gadis dari kota Majalengka yang berjualan ranginang setiap harinya menjadi lulusan terbaik dan nilai cumlaude. Senyuman tergores di wajah ibu, ketika anak cikalnya dipanggil ke depan menerima bunga penghargaan. Bukan hanya senyuman tangisan senang pun mengalir mulus di wajah tuanya.

Tak ada yang tidak mungkin, lulus kuliah tanpa membayar biaya juga memenuhi kebutuhan hidup tanpa membebankan ibu di majalengka. Dengan menjual ranginang yang aku beri nama “rangiang unyil” aku dapat menyelesaikan kuliah. Walau masa-masa sulit menghiasi hari-hari selama tiga tahun setengah namun terbayar sudah ketika bunga penghargaan berada di tangaku.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Go follow ig: renitamelviany_17
Aku Pasti Mendapatkan Cintamu

Aku Pasti Mendapatkan Cintamu

Judul Cerpen Aku Pasti Mendapatkan Cintamu

Hai, nama gue Rudy Iswanto, lo bisa panggil gue Rudy. Gue adalah siswa kelas 12 pindahan dari salah satu SMA di Bandung. Dan ini cerita sepanjang gue di sekolah baru!

Hari pertama masuk sekolah gue dianterin sama orangtua ke ruang guru. Setelah sampai ruang guru, orangtua gue ngobrol sama guru-guru yang ada di TU, sekian lama ngobrol akhirnya orang ua gue balik sambil titip pesan,
“Rudy, belajar yang rajin ya, jangan malas-malasan.” kata nyokap gue.
“Iya mahh, rudy bakal belajar yang rajin, asal ada ujan mah.” Bales dari gue sambil ketawa kecil

Setelah dikasih uang jajan, akhirnya nyokap dan bokap gue pergi pulang ke rumah. Pas orangtua gue dah balik, guru gue manggil nama gue.
“Rudy, sini” Panggil bu guru
Gue terdiam, karena malu dan badan gue gemeteran
“Rudy, kesini jangan malu sama ibu” Panggilnya yang kedua kali
Setelah gue pikir, akhirnya gue ngeberaniin diri dan gue pergi ke tempat guru duduk
“Rudy, kamu nanti masuk kelas 12 MIPA 1 ya, kamu tunggu disini sebentar nanti ada ketua kelas kamu yang nganterin kamu ke kelas.” kata bu guru itu
Gue pun hanya mengangguk-ngangguk saja.

Sambil menunggu, gue mengeluarkan Smartphone gue sambil bermain game, tak lama kemudian ketua murid kelas baru gue pun dateng ke kantor guru.

“Halo bu, mana anak baru yang harus saya antar?” kata ketua kelasku itu
“Itu sebelah kamu yang lagi main HP.” Kata guru itu sambil menunjuk ke arah gue
Pas gue lagi asik-asiknya main game, ketua kelas itu nyamperin gue.
“Hai, nama kamu siapa?” tanyanya kepada gue
Gue gak mendengar dia berbicara karena gue memakai earphone dengan volume full.
Karena tidak respon oleh gue, dia pun menginjak kaki gue.
“woy jawabbb!” kesalnya sambil menginjak kaki gue.
Karena sakit dan kaget gue pun respon sambil melihat wajah ketua kelas gue itu. Gue terdiam sambil memandangi wajahnya.
“Dia imut sekali, wajahnya sangat cantik, menurut gue dia pasti pintar, idamannn banget lah.” Gue ngomong dalam hati.
“Hellowww, kamu kenapa sih? bengong aja dari tadi?” tanyanya kebingungan
“Enggak kok gak papa, soalnya kaget lagi seru eh diinjek kaki gue, hehe. Btw, nama gue Rudy Iswanto, lo bisa panggil gue Rudy, kalo pengen simpel panggil sayang juga boleh.” jawab gue sambil ngegombal.
“Nama aku Anita Putri, panggil aja Anita. Ngomong-ngomong kamu pinter gombal juga yah haha” jawabnya sambil ketawa.
“Ya udah yuk kita ke kelas.” ajak si Anita
“Let’s GO.” Jawab gue.

Menuju jalan ke kelas, gue dan Anita sambil ngobrol karena bosen diem mulu apalagi kelasnya jauh sama ruang guru. Karena gue laki, akhirnya gue yang mulai percakapan.
“Eh Nit, gue boleh panggil lo Nta gak?” Tanya gue
“Terserah dirimu saja Di.” jawabnya simpel
“Eh Nta, murid angkatan kita banyak yang pinter gak? Terus kalo cowoknya banyak yang ganteng gak?” tanya gue kepo.
“Yang pinter? Ya segitulah sama kayak di sekolah lain. Kalo cowok sih belum ada yang ganteng menurut aku.” jawabnya
“Berarti dengan adanya gue, pasti cuman ada 1 cowok ganteng di sekolah ini yaitu gue, ya kan? Gue bakal megang predikat cowok terganteng ya kan?” Jawab gue kegirangan.
“Eh udah deket tuh sama kelas kita, yuk kesana.” mengelak pertanyaan gue sambil mengajak gue ke kelas.
Dia pun tidak menjawab pertanyaan gue, dan lanjut ke kelas bersama.

Sesampainya di kelas gue dikenalin sama anita ke teman-temannya.
“Temen-temen, minta perhatiannya, kita kedatangan temen baru nih.” Kata Anita kepada teman-temannya.
“Wohoooo, Kenalan dong di depan kelas.” Sorak semua murid kepada gue.

Akhirnya gue maju ke depan kelas dan menghadap ke teman teman gue.
“Hai, nama gue Rudy Iswanto, biasa dipanggil Rudy. Gue lahir pada tanggal 27 Desember 1999. Gue tinggal di perumahan Merkurius. Gue pindahan dari salah satu SMA di bandung. Hobi gue adalah bermain game, belajar ilmu komputer. Hal yang gue sedikit gak suka adalah gue sering dideketin banyak cewek. Makasih.” perkenalan gue

“Sok gaya layyy, rude” Ucap Fredrick, salah satu sahabat gue waktu SD
Mendengar suara itu, rasanya kayak pernah denger itu suara, cuman lebih berat.
“Mana itu orang?” Tanya gue dalam hati sambil mencari orang itu.
“Oyy, gue disini di.” sahut Fredrick.
Lalu gue mendekati si Fredrick.
“Lahh? Lu sekolah disini fred? Kenapa gak bilang? Sekelas sama si kampret lagi dah gue.” Tanya gue sambil bercanda.
Tiba-tiba anita datang ke tempat gue dan Fredrick ngobrol.
“Eh, kalian kok udah kenal dekat sih?” Tanya Anita
“Jadi gini Nit, si Rudy itu temen gue SD dulu.” Jawab Fredrick
“Oh begitu…” jawab Anita simpel

Baru saja anita menjawab, bel masuk pun berbunyi. Karena gue anak baru, gue pun bingung mau duduk dimana. Pas gue lihat, yang kosong adalah kursi samping si Fredrick. Dengan terpaksa gue duduk sama dia.

“Fred, gue terpaksa duduk sama lo.” Ucapnya sedih bercanda
“Setan lo Rud!” jawabnya bercanda

Setelah gue duduk samping si Fred, guru pun masuk ke kelas gue, dan kelas belajar seperti biasa sampai pelajaran selesai.

Sekian lama belajar, akhirnya bel pulang berbunyi. Gue pun menelepon nyokap gue agar jemput gue pake mobil aja. 11 menit menunggu akhirnya nyokap gue dateng dan gue langsung masuk ke dalam mobil. Saat menutup pintu gue melihat Anita lagi kebingungan di depan gerbang, seperti menunggu dijemput oleh orangtuanya. Karena kasihan, akhirnya gue bilang ke nyokap agar berhenti, dan mundur ke tempat dia berdiri. Setelah itu gue turun dan mengajak Anita pulang bareng gue.

“Nta, lo lagi nungguin siapa?” tanya gue
“Aku lagi nunggu ibuku, katanya mau jemput.” jawabnya kebingungan
“Emang rumah lo dimana?” tanya gue lagi
“Di perumahan Merkurius, emang kenapa?” jawabnya sambil nanya kembali
“Kenapa lo gak bilang kalo lo seperumahan sama gue? Kan lo tau kalo gue di Merkurius juga. Ya udah ikut gue aja baliknya biar cepet, daripada nunggu lama.” jawab gue sambil menarik tangannya.

Akhirnya kita berdua masuk ke mobil gue, pas di mobil gue ngobrol-ngobrol tentang kegiatan sehari-hari lah, tukar pin BBM, Line, Nomor HP sama Instagram.

Singkat cerita gue dan Anita semakin dekat. Kita selalu jalan bareng, pulang bareng dan sebagainya.
Karena sudah dekat gue memutuskan untuk menjadi pacarnya Anita.

Sabtu, 20 Maret 2013. Hari itu adalah hari dimana gue akan nembak dia, sebelum acara penembakkan, gue ajak anita untuk lari pagi bareng gue. Saat lari pagi gue diajak dia untuk makan ketoprak di kaki lima, dan ketopraknya enak banget. Selesai makan kita lanjut lari pagi dan tunggu momen yang pas. Akhirnya Anita capek dan kita istirahat sebentar.

“Nta, gue boleh jujur gak?” Tanya gue
“Silahkan, emang mau ngomong apa?” Anita mempersilahkan
“Sebenernya gue sayang sama lo, lo mau gak jadi pacar gue? Dari awal gue bertemu dengan lo di kantor guru, gue udah merasa ada rasa cinta tumbuh sama lo” ucap Rudy jujur.

Anita pun kebingungan ingin menerima atau menolak cinta gue.

“Nta, jawab dong. Please” gue memohon
“Di, sorry gue bukannya mau menolak lo atau apa. Gue gak mau pacaran dulu, takut terganggu konsentrasi belajar gue. To be honest, lo emang ganteng menurut gue, tapi gue punya alasan kenapa gue nolak lo. Sorry ya di, gue balik duluan, dahh.” Anita menolak sambil meninggalkan gue pergi

Gue bicara dalam hari sambil menahan rasa sakit ini.

“Sh*t, gue ditolak sama Nta. Why nta?! why?! Kenapa gue ditolak sama dia? Apa mulai sekarang dia akan menjauh dari kehidupan gue? Why God Why?! Orang yang gue sayang bakal menjauh dari gue.” ucapnya sedih.

1 jam berlalu di taman sendirian sambil memikirkan Anita, akhirnya gue pun balik ke rumah. Gue mandi terus gue kunci kamar gue sambil membayangi anita, melihat foto anita dan lain-lain. Karena bosen akhirnya gue ajak Fredrick untuk nongkrong di Starbucks jam 8 malem buat curhat masalah cewek.

Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam tapi Fredrick belum dateng, akhirnya gue sabar dan nunggu 3 menit akhirnya si Fredrick dateng ke Starbucks.

“Oy Di, mau curhat apaan?” tanya Fredrick
“Gini Fred, gue tadi habis ditolak Anita, dia menjauh dari kehidupan gue gimana dong?” tanya gue ke Fredrick.
“Gini bro Di, kalo emang lo yakin kalo Anita itu jodoh lo ya lo perjuangin, tapi kalo lo yakin kalo cewek yang lebih dari dia banyak ya lo lepasin, Keep it simple men Di.” jawab Fredrick.

Gue dan Fred mengabiskan waktu di starbucks sekitar 1 jam, dan kita balik ke rumah masing-masing. Setelah sampai rumah gue pun Tidur karena besok adalah hari minggu dimana hari untuk tidur.

Waktu terus berjalan, sekarang sudah hari senin. Gue terbangun dengan alarm gue yang menunjukkan jam 5 pagi, gue bergegas untuk Ibadah lalu mandi dan makan. Selesai makan gue panasin motor gue dulu sekitar 3 menit. Gue langsung cabut ke sekolah lewat rumah Anita. Gue melihat dia sedang pakai sepatu di luar rumah, gue pun melihat mukanya lalu dia membalikkan mukanya seperti ia tidak ingin melihat muka gue lagi.

Di sekolah dia tidak pernah sekelompok denganku lagi, jalan bareng, belajar bareng, ke kantin bareng, pulang bareng, bahkan gak pernah ngobrol lagi di kelas. Makanya nilai gue selalu turun semenjak ditolak sama dia.

Singkat cerita 2 hari lagi adalah hari Ujian Nasional, gue harus bersiap agar masuk kampus idaman gue yaitu ITB, tidak ada kata main, ngobrol, main sosial media, pokoknya tidak ada. Gue harus siap!

Waktu UN sudah mulai, Hari pertama, kedua, ketiga, dam hari sampai UN selesai sudah terlewati. Gue hanya menunggu hasil UN nanti. Gue yakin kalo UN gue bakalan dapet nilai bagus karena gue sudah belajar materi yang di UN kan.

Beberapa hari berlalu, hari ini adalah hari dimana hasil UN dibagikan, ketika gue lihat hasil UN, gue seneng banget karena gue lulus UN tetapi pas gue lihat nilainya, nilai UN gue tidak memuaskan dibanding dengan angkatan gue, emang 1 angkatan lulus cuman nilai gue adalah nilai terendah dan gak mungkin masuk kampus idaman semua orang. Gue bersedih di pojokkan, tiba-tiba Anita dateng sambil menepuk pundak gue.

“Rud, hasil UNmu adalah alasan kenapa aku menolakmu waktu itu, kamu kalo belajar gak pernah serius, kalo belajar kalo mau ulangan, setiap di kelas kamu main terus, tidur terus, itu yang bikin aku nolak kamu. Ngomong-ngomong do’ain aku ya biar masuk jurusan kedokteran di UNPAD” ucap Anita

Gue pun hanya mengangguk-angguk saja.

Karena hidup di Jakarta sangat mahal, dan gue gak punya keluarga disana. Akhirnya gue pun balik lagi ke Bandung ke tempat rumah gue dulu disana, karena nilai gue jelek, sekarang gue bantu ibu gue jualan kue, karena di Jakarta ibu gue juga jualan kue, dan bokap gue pensiun. Akhirnya gue balik ke bandung untuk bantuin ibu gue jualan kue.

Sedikit demi sedikit, uang tabungan gue makin lama makin terkikis, nganggur di rumah, gak punya pekerjaan tetap, paling kerja balik. Kadang jadi tukang parkir, tukang cuci piring, kasir di toko swalayan. Gak sengaja pas selesai pulang dari kerja gue nonton tv di rumah melihat orang sukses dengan berjualan makanan yang beda dari yang lain. Gue mulai termotivasi dari situ.

Pada 27 Desember 2014, gue mulai merintis salah satu kue buatan gue yaitu kue Bika Ambon Rainbow. Gue jual door to door di sekitar komplek rumah gue. Alhamdulillah sehari gue bisa untung 300 Ribu. Uang yang gue hasilkan dari jualan gue kasih ke nyokap gue. Nyokap gue seneng dan nyuruh gue untuk jualan lagi.

“Rudy, kue kamu emang enak, mamah seneng deh punya anak kayak kamu, walaupun nilai UN kamu rendah, mamah yakin kamu bakal jadi pengusaha sukses rudy” do’a mama kepada Rudy
“Iya mah, Rudy janji bakal jadi pengusaha kue sukses demi ngebahagiain mamah.” ucap Rudy

Beberapa minggu merintis kue Bika Ambon Rainbow atau disingkat BAR, gue jualan ke salah satu toko kue besar, dan dia meminta 50 Kue BAR. Dari situ gue bisa untung sekitar 5 Juta. Makin lama dana terkumpul.

Gue inget, bokap gue punya toko yang gak kepake pengen dijual, gue minta kepada bokap gue.
“Pah, tokonya buat aku yah? Buat jualan kue BAR” Pinta gue kepada papa
Bokap gue hanya mengangguk-angguk saja, berarti itu tandanya boleh.

Saat gue memiliki toko baru dan tempat itu sangat strategis, gue pun ingin memiliki karyawan tetapi dimana mencarinya, akhirnya gue pun kepikiran untuk menjadikan saudara-saudara gue yang butuh uang untuk jadi karyawan gue.

Karena BAR mulai kurang peminat akhirnya gue membuat makanan baru yaitu Nastar Rainbow, Sus Rainbow, dan Risol Rainbow. 3 Hari setelah rilis akhirnya toko kue gue laku pengunjung.

1 Tahun setelah merintis kue, keuntungan gue mencapai 5-20 Juta perhari. Gak mau ngurus banyak uang akhirnya gue membuat banyak cabang di kota besar yang ada di Indonesia.

Tahun 2016, Gue diliput oleh banyak stasiun TV, sampai suatu ketika Anita, orang yang dulu pernah nolak gue melihat gue di TV menjadi orang sukses. Mungkin dia pikir dengan kebodohan gue dalam belajar tidak akan membuat gue sukses. Dia pun mencari tahu ke beberapa sumber dimana pusat toko itu berada. Aku yang sedang santai makan kue dikejutkan oleh kedantangan Anita.

“Hai Rud, cie yang sukses.” sahut Anita
“Eh Nta, hehe, gimana sukses gak di Unpad? Banyak yang ganteng? Btw, lo nambah cantik sih.” tanya gue ngejek.
“Enggak ada yang ganteng!” jawabnya kesal
“Berarti masih ada dong peluang buat gue?” tanya gue
“Hmmh, menurut kamu gimana?” tanya Anita balik

Tanpa basa-basi menunggu lama lagi, terus dekat nanti ujung-ujungnya ditolak, gue memberanikan diri untuk mengajaknya langsung sekarang. Gue pun langsung memegang tangannya.

“Nit, lo mau gak.. ehh..?” tanya gue ragu
“Mau apa Rud?” tanya Anita lugu
“Lo mau gak jadi istri gue?” tanya gue keceplosan
Anita pun hanya mengangguk kan kepala saja yang berarti tandanya dia mau jadi istri gue.

Singkat cerita, gue dan Anita pun hidup bahagia bersama selamanya.

Romy Adiputra adalah Remaja berumur 16 Tahun yang duduk di bangku kelas 11.

Cerpen Karangan: Romy Adiputra
Blog: rzct99.blogspot.co.id
Bu Rahma

Bu Rahma

Judul Cerpen Bu Rahma

“Anak-anak, apa cita-cita kalian setelah dewasa nanti?” “Aku mau jadi dokter Bu.” “Aku polisi.” “Aku ingin jadi pilot.” “Bagus anak-anak. Sekarang Ibu ingin tanya, siapa di antara kalian yang ingin menjadi guru?” Dan kelas pun hening.

Kenangan itu masih jelas kuingat hingga sekarang. Setidaknya, hanya itu kenangan yang aku ingat saat aku TK dulu. Kenangan sekolah masa kecilku bersama Bu Rahma, guru kelas di TK tempat aku bersekolah, 14 tahun yang lalu.
Ya, 14 tahun yang lalu…

Kini, aku adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan pengembang perumahan di Jakarta. Dan di sela-sela kesibukanku, aku menyempatkan diri menjadi seorang relawan pendidikan.
Aku menjadi relawan pendidikan tanpa paksaan dari siapapun. Semua bermula dari seorang anak jalanan yang masih menyempatkan diri untuk belajar di sela-sela kegiatannya menjadi pengemis lampu merah. Kulihat dari kaca mobilku, dia sangat serius dalam belajar, hingga suatu hari aku mencoba menyepi dan sedikit bercengkrama dengannya.

“Kamu baca buku apa?” Tanyaku. “Aku baca buku matematika, Kak.” Jawabnya “Kamu sekolah? Sekolah di mana?” Tanyaku bingung. Anak jalanan sepertinya biasanya tidak sekolah. Bagaimana ia bisa sekolah sedangkan ia dari pagi hingga malam ada di jalanan?
“Aku sekolah tiap Sabtu dan Minggu Kak.” Jawabnya “Di Rumah Singgah.” “Rumah Singgah? Dimana?” Tanyaku. “Boleh gak Kakak ikut kamu ke sekolah Sabtu-Minggu nanti?” Aku sangat ingin tahu. Apa yang dilakukan mereka di rumah singgah dan bagaimana mereka belajar disana. Kami pun setuju untuk bertemu di persimpangan jalan ini lagi Sabtu pagi nanti.

Hari yang aku nantikan itu tiba. Aku pun datang ke persimpangan itu. Anak itu sudah menungguku dengan membawa buku dan alat tulis seadanya. Kami pergi ke rumah singgah dengan mobilku.
Setelah sampai disana, kulihat pemandangan yang menakjubkan. Banyak anak-anak berpakaian lusuh membawa alat tulis dan buku di tangannya. Kulihat raut wajah mereka yang sangat bersemangat untuk bersekolah. Aku berjalan-jalan di rumah singgah itu, namun…
Kulihat seseorang yang sangat familiar. Seorang guru yang sedang mengajar matematika di suatu kelas di rumah singgah itu. Tidak salah lagi, beliau adalah Ibu Rahma. Aku menunggu beliau menyelesaikan kelasnya. Saat kelas selesai dan anak-anak jalanan itu beranjak pulang, aku pun menghampiri Ibu Rahma.
“Maaf, apa Ibu ini Ibu Rahma? Yang 14 tahun lalu mengajar di TK Mulia Asri?” Tanyaku. “Iya, benar. Maaf, Non ini siapa ya?” Tanyanya. Aku pun memperkenalkan diriku padanya. Kemudian Ibu Rahma mengajakku ke ruangannya.

“Tidak terasas sudah 14 tahun berlalu. Saya bahkan tidak mengenalimu.” Ibu Rahma membuka pembicaraan. “Saya tidak menyangka kamu masih mengenali saya, Anita.” Lanjutnya. “Saya selalu mengingat Ibu. Bahkan tentang apa yang Ibu tanyakan saat aku masih kecil dulu.” Jawabku “Tentang siapa yang ingin menjadi guru di kelasku, namun tidak ada satu pun yang menjawabnya.”
Bu Rahma tertawa kecil. “Setiap cita-cita bagus, Anita. Cita-cita haruslah menjadi motivasi dan tujuan bagi anak-anak dan berguna bagi kehidupan manusia.” Jawabnya “Namun, anak-anak ini, mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Saya sangat sedih dengan nasib mereka.”
“Saya juga sedih dengan kehidupan anak-anak di jaman sekarang ini.” Lanjutnya “Mereka yang mendapat kesempatan untuk bersekolah, justru menggunakannya dengan cara yang salah; mereka tawuran, memakai narkotika, bolos sekolah, bahkan tak jarang orangtua mereka tak peduli dengan perkembangan pendidikan anak-anaknya. Ini sangat menyedihkan. Inilah tugas kita bersama -orang tua dan guru- untuk menyadarkan mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar”
“Saya sudah mengabdikan diri untuk pendidikan Indonesia hampir selama 30 tahun. Sungguh, menjadi guru tidaklah gampang. Tanggung jawab seorang guru adalah mendidik anak muridnya agar menjadi anak yang berguna untuk orang banyak dan berbakti pada Bangsa dan Negaranya. Agar sang anak mengetahui yang benar dan salah, dan dapat bertoleransi dengan perbedaan di sekitarnya. Inilah tugas pokok seorang guru, bukan hanya mengajarkan, tapi juga mendidik.”
Aku tertegun mendengar curahan hatinya. Saat inilah yang membuatku menyadari misi kehidupanku sebenarnya; untuk menjadi guru yang mendidik anak muridku agar berguna untuk Bangsa dan Negaranya.

Cerpen Karangan: Keykalian
Blog: keykalian.blogspot.com
Keyakinan Adalah Kekuatan

Keyakinan Adalah Kekuatan

Judul Cerpen Keyakinan Adalah Kekuatan

Di sebuah rumah makan di pinggir jalan. Aku melangkahkan kakiku sambil membawa amplop berwarna coklat di tanganku. Amplop itu berisi surat lamaran kerja. Yah! Waktu itu usiaku baru 15 tahun. Seharusnya aku berada di sebuah ruang kelas. Belajar. Tapi, itu hanya mimpi. Karena saat itu aku harus berjuang keras untuk bisa melanjutkan hidup.

Sejak ibu memutuskan untuk menjadi TKW di Negeri Jiran, sejak saat itulah aku dan kedua saudaraku harus belajar hidup mandiri. Dalam hal ini bukan hanya sekedar mandi sendiri saja. Tapi juga mencari makan sendiri. Bisa dibayangkan anak seusiaku harus mencari makan sendiri. Lalu kemana sang ayah? Hm… Ayahku masih ada. Tapi beliau sama sekali tidak bisa diandalkan. Entah karena beliau tidak bekerja sehingga tak mempedulikan kami, atau karena memang sebenarnya beliau sudah tidak peduli. Yang jelas kami sama sekali tidak pernah mengharapkan apa-apa dari beliau. Tapi, biar begitu beliau tetap ayah kami. Orang yang harus kami hormati.

Selama ini kakakku yang pertama, sebut saja Alya, yang membiayai hidup kami. Namun sekarang dia telah menikah dan harus berhenti kerja sejak melahirkan. Sedangkan Amel, kakakku yang kedua, sudah 1 tahun sejak dia dinyatakan lulus dari sekolahnya, dia belum juga bekerja. Bukan karena tidak mau bekerja. Tapi belum ada biaya untuk menebus ijazahnya. So, mau melamar kerja pakai apa?

Beda denganku. Dengan memakai slogan Bonek. Bondo Nekat, aku memalsukan ijazah temanku. Aku pakai namanya untuk melamar kerja di salah satu rumah makan cepat saji tak jauh dari rumahku.
“Kebetulan kami membutuhkan pramusaji di sini. Jadi, adik saya terima kerja di sini”, begitulah kira-kira yang dikatakan kepala toko rumah makan itu padaku.
“Alhamdulillah… Jadi kapan saya bisa mulai kerja, Pak?”, tanyaku.
“Kalau adik siap, adik bisa mulai kerja hari ini”, kata kepala toko rumah makan HC yang ternyata bernama Heru.
“Baik, Pak! Saya siap bekerja hari ini”, kataku penuh semangat. Terbayang sudah di mataku, aku bisa melanjutkan sekolah. Tak apa kalau aku harus berhenti dulu selama setahun. Toh tak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Aku yakin tahun depan aku bisa melanjutkan sekolah. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

Aku segera menelepon kakakku Alya. Dia menangis ketika tahu aku benar-benar memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja di HC dengan penghasilan 400 ribu perbulan.
“Maafin kakak ya… Harusnya ini menjadi tanggung jawab kakak. Karena kakak sebagai pengganti orangtua kamu. Tapi kakak janji! Hanya setahun kamu berhenti sekolah. Tahun depan kamu pasti bisa sekolah lagi. Kakak janji. Tahun depan kamu akan kembali mendapatkan kehidupan kamu”, kata Kak Alya.
Aku berlinang air mata mendengar janji Kak Alya. Bagiku, dia adalah sosok malaikat yang dikirim Tuhan untuk menggantikan posisi ibu. “Iya, Kak! Nggak papa. Makasih!”.
Sejak saat itu aku yakin. Aku pasti bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Meski rasanya berat, mengingat tempat kerjaku sangat dekat dengan sekolah dimana teman-temanku belajar. Tapi aku yakin aku bisa menjalani ini semua.
“Bismillahirrahmanirrahiim… Beri aku kekuatan ya Rabb…”

Tak terasa satu bulan sudah aku bekerja di rumah makan HC. Saatnya menerima gaji. Hm… Ini adalah gaji pertamaku. Hasil dari keringatku. Bekerja dari pagi hingga malam. Meski jumlahnya tak banyak. Tapi aku tetap bersyukur. Karena setidaknya dengan uang ini aku bisa membantu Dhe Ya. Orang yang merawatku sejak ibu pergi.
Aku belikan kebutuhan dapur. Karena aku tahu gaji Dhe Ya yang hanya tukang cuci tidaklah seberapa. Apalagi dia harus memberi makan seluruh penghuni rumah. Aku, kak Amel, ayahku, dan anaknya yang bernama Silvi.
Belum lagi untuk biaya sekolah anaknya. Setidaknya dengan aku bekerja akan sedikit mengurangi bebannya. Tak lupa kusisihkan sebagian untuk menabung. Aku tahu meski biaya sekolah sangat mahal, dan tidak akan mungkin bisa aku dapatkan hanya dengan menyisihkan 50 ribu sebulan. Tapi aku yakin, Tuhan tidak akan menutup mata dengan semua usahaku.

Sudah hampir 10 bulan aku bekerja. Banyak hal yang terjadi selama aku bekerja. Bertemu dengan teman SMP saat aku menjadi kasir. Hampir saja rahasiaku terbongkar.
“Jadi, kamu pakai ijazah orang lain buat kerja disini?”, tanya Dewi. Customer sekaligus teman baikku waktu SMP.
Aku mengangguk. “Lain kali kalau mampir kesini jangan panggil aku Isa. Tapi, Rina”, kataku sambil menunjuk name tag yang menempel di dadaku.
Dewi tersenyum. “Kamu bener-bener gila. Tapi seru! Hidup kamu penuh warna, Sa! Eh, Rin! Hehehe…”, katanya di sela-sela obrolan kami. “Aku yakin kelak kamu akan jadi orang yang sukses!”
“Aamiin…”, jawabku seraya menyerahkan struk pembayaran kepadanya.

Tahun ajaran baru dimulai. Aku begitu semangat menyambutnya. Aku mulai mencari informasi dimana kira-kira sekolah yang cocok untukku. Cocok di sini maksudnya yang sesuai dengan kantong. Maklum tabunganku hanya terkumpul 700 ribu. Karena sudah mondar-mandir kesana kemari akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan ke sekolah eks Kak Amel dulu. Selain karena sudah kenal dengan beberapa gurunya, biayanya lebih murah dari sekolah swasta lainnya.

Formulir sudah di tangan. Tinggal melengkapi persyaratannya. Namun tiba-tiba Tuhan mengujiku lagi.
“Kontrakan rumah berakhir bulan ini?”, kataku histeris.
“Iya, Nduk… Kalau kita ndak bayar, kita bisa diusir. Bapakmu juga ndak bisa diharapkan. Padahal Bu Dhe udah ngasih tahu jauh-jauh hari”

Aku bingung. Lagi-lagi aku dihadapkan pada keputusan yang sulit. Membayar kontrakan rumah, atau membayar biaya pendaftaran sekolah? Oh Tuhan… Kenapa begitu berat cobaan yang harus aku hadapi di usia sedini ini? Tidak adakah jalan keluar yang lebih baik selain aku harus mengorbankan salah satu dari masalah ini?
Kak Alya mendengar kabar ini. Lagi-lagi dia yang harus berpikir bagaimana caranya agar aku bisa tetap sekolah dan kontrakan rumah bisa segera dibayar.
“Aku nggak mungkin menutup mata, melihat saudara-saudaraku terlantar di luar sana. Aku nggak mungkin menutup telinga, mendengar mereka menangisi nasib malang mereka. Izinkan aku kerja pa…”, ucapnya pada Kak Wisnu, suaminya.
“Baiklah! Aku mengijinkan kamu kerja. Asalkan kamu bisa membagi waktu”
Sungguh! Tuhan telah menjawab doa-doaku. Dia kirimkan lagi malaikat untukku. Dan lagi-lagi Kak Alya adalah malaikat itu. Dia diterima kerja sebagai Staff Accounting di salah satu perusahaan swasta. Dia menjanjikan aku bisa sekolah lagi tahun ini.
“Uang yang ada sekarang kamu pakai untuk biaya daftar ulang. Sisanya akan kakak lunasi setelah kakak gajian. Kalau soal rumah biar nanti kakak yang bilang ke pemilik rumahnya untuk bisa kasih tempo sampai gajian berikutnya”
Itulah yang dilakukan malaikat bernama Alya padaku. Dalam sekali hentakan dia bisa merobohkan dua pohon yang menghalangi langkahnya. Sesuai rencana, aku melanjutkan sekolah di eks sekolah Kak Amel. Kak Alya menemui pemilik rumah kontrakan untuk meminta tambahan waktu.
Semua ini adalah rencana Tuhan. Rencana yang tidak akan bisa ditebak oleh siapapun. Dan yakinlah bahwa janji Tuhan itu pasti.

Kini aku duduk di bangku kelas XI. Selain sekolah kegiatanku yang lain adalah bekerja part time. Sepulang sekolah aku langsung bekerja. Menjaga sebuah stand makanan dengan upah Rp. 250.000,-/bulan. Setidaknya itu cukup lumayan untuk menambah uang sakuku. Sekolah sambil bekerja memang tidak mudah. Alhasil aku jadi tidak begitu berprestasi di sekolah.

Tak apa! Bukankah kebanyakan orang-orang yang sukses di luar sana adalah orang yang tidak memiliki prestasi akademik? Besar nilai rapor bukan jaminan besar gaji kan? Bahkan Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group, salah satu pengusaha finansial dan real estate di Indonesia hanya lulusan SD. Tapi sekarang dia masuk dalam urutan orang terkaya No. 3 dari 10 orang kaya di Indonesia. Hebat kan!

Begitupun aku! Suatu saat aku akan tunjukkan pada dunia bahwa aku pasti bisa sukses! Aku yakin aku bisa. Karena hanya dengan keyakinan aku bisa ada di sini dan menuliskan kisahku.

Semoga kisahku ini menjadi inspirasi buat teman-temanku agar lebih menghargai waktu. Karena waktu yang terlewat tidak akan pernah kembali. Jangan pernah menyesali waktu kemarin, karena kita masih bisa berbuat lebih baik di waktu esok! Semangat!

Cerpen Karangan: Septi Aya MU
Facebook: Septi Aya Moment
Lumpur Sawah Tidak Selamanya Kotor

Lumpur Sawah Tidak Selamanya Kotor

Judul Cerpen Lumpur Sawah Tidak Selamanya Kotor

Panas terik matahari menerawan setiap langkahku melewati pematang sawah menuju ke habitatku tercinta. Ya inilah diriku seorang petani kecil yang tumbuh bersama hangatnya lumpur sawah. Namaku Irwan, lebih lengkapnya Muh. Irwan Ashadi. Tapi nama lengkap itu hanya sedikit orang yang mengetahui. aku tidak bisa mengenal dunia pendidikan lebih lama karena keterbatasan biaya hidup keluargaku. Sudah tamat SMP pun sudah terasa cukup bagiku walaupun sebenarnya aku ingin lanjut ke dunia pendidikan yang lebih tinggi.

Aku anak sulung dari 4 bersaudara, lahir dari keluarga petani dari dusun kecil di daerah salah satu kabupaten di sulawesi selatan. Terlebih lagi aku adalah anak satu-satunya laki-laki dalam keluargaku yang berarti aku adalah tumpuan kedua setelah bapakku untuk membantu biaya hidup keluarga sederhanaku ini. Namun hal yang paling aku syukuri sampai saat ini adalah aku masih diberi kesempatan dari yang kuasa untuk berbakti kepada kedua orangtuaku dan menyayangi adik-adikku. Walau aku harus hidup kekurangan tapi aku merasa lengkap dan sempurna bersama mereka di sekelilingku.

“kakak mau ke sawah lagi yah”, tanya adikku yang paling bungsu. “iya sayang, kakak mau bantu bapak di sawah dulu yah, kamu jangan nakal dan jangan bikin ibu susah yah” jawabku menasehati. “kakak tidak bosan ke sawah melulu, tuh kulit kakak kayak sudah terbakar begitu”, tanyanya polos. “hahaha, adikku kecil yang bawel, kapan memang kulit kakak putih,” jawabku sambil merangkulnya. “kalau nanti kakak-kakakmu udah pulang sekolah, kasih tahu supaya bantu ibu ambil sayuran di kebun yah,” kataku mengingatkan. “aku juga mau bantu ibu kok kak,” jawabnya. Aku mencubit pipinya Kami pun tertawa.

Pagi itu aku berangkat ke sawah pagi-pagi supaya aku bisa mengerjakan banyak hal sebelum matahari belum tinggi betul. Bapakku sudah berangkat lebih dulu sebelum matahari terbit sesudah sholat subuh. Membetulkan pematang sawah, menyiangi tanaman padi dari rumput liar. Itulah sebagian pekerjaan yang biasa aku lakukan apabila aku kesini. Di Sawah kecil yang jadi tumpuan hidup keluarga kami. Bapak pun merasa kasian denganku yang harus rela putus sekolah karena keterbatasan biaya. Tapi dalam hatiku aku tak pernah merasa menderita dengan hidupku yang seperti ini. Aku selalu percaya kalau tuhan selalu punya rencana baik untuk setiap hambanya yang bertakwa dan mau berusaha.

Sore harinya aku pulang ke rumah setelah seharian menghabiskan waktu dengan tanaman padiku tercinta. Bapak sudah kusuruh pulang duluan. Aku menaiki sepeda bututku. Mengayuh dengan semangat menuju rumah dan berkumpul lagi bersama para kesayanganku. Melewati jalan setapak demi setapak hingga tiba di jalan raya yang agak padat. Aku harus melewati jalan sepinggir mungkin agar menghalangi pengguna jalan yang lain.

Tiba-tiba brukk, aku menabrak seorang pengendara motor karean dia mengerem tiba-tiba di depanku. Yang kutahu pengendara motornya cewek boncengan sama cewek juga. Untung mereka tidak apa-apa tapi kulihat plat motor bagian belakangnya agak penyok. Kuparkir sepedaku dan menghampiri mereka. “mbak tidak apa-apa, aku minta maaf sekali karena telah menabrak motor mbak hingga platnya penyok,” pintaku tulus. “enak aja Cuma bisa bilang maaf, kalau rusak begini harus diganti, kamu punya mata nggak sihhh” jawab cewek itu dengan kesal. “iya, dasar petani miskin yang tidak tahu aturan, ngapain lewat jalan ini”, timpal cewek yang satunya.
“maaf mbak, aku benar-benar tidak sengaja, lagian aku juga tidak bawa uang sekarang buat ganti kerusakan motor mbak, jawabku. Padahal yang kutahu hanya sedikit bagian motornya yang tergores. “ah, banyak alasan kamu, bilang aja kamu tidak punya uang untuk mengganti kerusakan motorku,” ledeknya. “kalau mbak berkenan, silahkan mbak ikut saya ke rumah, nanti saya ganti” kataku memberi saran. “what? ikut dengan kamu, haloo. Kamu tuh siapa. Bisa–bisa saya kamu apa-apain soalnya tampang kamu tuh kayak penjahat di tv itu loh”, jawab cewek yang satunya dengan kasar. “astagfirullah, mbak ini jangan salah paham dulu, niatku tulus mengganti setiap kerugian di motor mbak”.

Sejujurnya aku tidak ingin lama beradu mulut dengan mereka hingga harus dilihati orang yang lewat. Aku pun menawarkan satu solusi yang mungkin membuat mereka tertawa nantinya. “oke, gini aja mbak, aku punya sebuah barang yang kubawa setiap hari kemana pun aku pergi biar ke sawah sekalipun”, kataku meraba saku celanaku. “ini adalah syal pemberian ibuku yang dia berikan waktu aku masih kecil. Bagiku ini adalah barang yang sangat berharga, Katanya aku bisa menggunakan untuk mengelap keringat atau sebagai masker kalau aku lagi memegang racun rumput, mbak boleh mengambilnya sebagai jaminan sampai aku mendapatkan uang untuk mengganti kerusakan motor kalian.” Jelasku. “apa??? Syal begini buat apaan??” Katanya sinis. “mbak dengar dulu, aku memang tidak bisa mengganti kerugian anda sekarang jadi ambillah syal ini sebagai jaminan, anggap saja aku berhutang, kalian ingat baik-baik wajahku ini, dan ingat namaku irwan. Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, insya allah akan kulunasi utangku dan mengambil syal itu kembali, jadi jaga baik-baik jangan sampai hilang.” terangku.
Mereka pun sepakat dengan usulku lalu pergi begitu saja meninggalkan aku yang hanya bisa menggelengkan kepalaku. Dalam hati aku hanya berharap bisa bertemu mereka demi mendapatkan syal itu kembali sebelum mereka buang.

Aku bergegas pulang ke rumah karena dari tadi aku terhambat disini. Tiba di rumah, aku disambut oleh para kesayanganku hingga membuat aku serasa di surga. “assalamu alaikum,” kataku. “waalaikum salam”, sahut mereka hampir bersamaan. “kakak udah pulang, pasti capek banget yah,” tanya adikku yang nomor dua namanya indri. “iya, kasian kakak pasti capek banget bantu bapak di sawah terus”, tambah adikku yang no satu namanya isna. “hahaha, kalian ini kenapa? Kakak kan sudah biasa seperti ini dik, jadi tidak usah terlalu sedih seperti itu, duniaku akan terasa sepi jika kalian muram seperti itu, ayo semangat dong”, jawabku mengusap kepala mereka berdua. “kakak kita kan paling hebat sedunia”, timpal adikku yang paling bungsu namanya ica. “kamu tahu apa tentang hebat adik mungilku”, ledekku seraya merangkulnya. “tahu dong, orang yang paling hebat itu ya bapak sama kakak lah”, jawabnya polos. Kami pun tertawa. Bapak sama ibu yang mendengar percakapan anak-anaknya ikut tertawa.

Waktu terus berlalu dan aku pun masih menjalani kehidupanku seperti ini. Hingga suatu hari, semuanya harus berubah drastis. Bapakku tercinta harus pergi menghadap sang pencipta setelah sakit beberapa hari. Sungguh sebuah pukulan telak untukku dan juga keluargaku yang masih dalam perjuangan meniti hidup yang lebih baik. Aku hanya bisa bersabar dan berusaha menyakinkan ibu dan adik-adikku untuk tegar dalam menghadapi cobaan ini. Setelah segala sesuatu yang menyangkut beliau mulai dikebumikan, tahlilan dan seterusnya selesai aku mulai berfikir lagi bagaimana selanjutnya. Sungguh segalanya sekarang berada dalam tanggung jawabku sebagai laki-laki dalam keluarga ini. Aku harus membiayai sekolah ketiga adikku dan juga biaya sehari-hari keluargaku.

Adik-adikku yang masih kelas 1 sma, 2 smp, dan 6 SD sudah berharap tidak melanjutkan sekolah lagi tapi aku melarangnya. Aku berjanji pada mereka, apapun yang terjadi aku tak akan membiarkan mereka putus sekolah dan berakhir seperti mana diriku dulu. Demi memenuhi segala kebutuhan mereka, akhirnya kuputuskan untuk mencari bisnis sampingan selain bertani. Memanfaatkan sertiffikat tanah sawah bapak meskipun Cuma satu, aku mengambil uang dari bank dengan bunga yang bisa saja membuatku pusing nantinya. Dengan modal itu, aku putuskan untuk coba berjual beli gabah di musim panen sawah di sekitar sawahku. Ketika musim panen tiba, aku mendirikan timbangan di pinggir jalan sawah supaya jika ada petani yang ingin menjual gabahnya barang satu atau setengah karung bisa aku beli. Dan nantinya gabah yang kubeli akan kujual lagi di pabrik penggilingan gabah dengan harga yang sedikit lebih baik. Begitulah seterusnya pekerjaanku, bertani kalau musim tanam padi kemudian jadi tengkulak kalau musim panen tiba. Dan alhamdulillah aku dengan berkah dari Allah swt. Aku bisa menghidupi keluargaku, menyekolahkan adik-adikku dan juga sudah melunasi uang bank yang dulunya aku pinjam sebagai modal.

Berkat rahmat tuhan Dari tahun ke tahun usahaku semakin meningkat, aku pun membeli sebuah mobil truk sebagai pengangkut gabahku ke pabrik. Dan mulai berbisnis ke daerah persawahan tetangga. Dengan modal pengetahuanku yang Cuma sampai SMP, aku terus berusaha berbisnis dengan baik bersama para petani agar bisa saling menguntungkan dalam mendapatkan hasil panen. Setelah menjalani kehidupan seperti itu selama 6 tahun, aku memutuskan untuk lebih menambah bisnisku di bidang jual beli gabah. Dengan modal yang sudah kuanggap cukup, aku mendirikan pabrik penggilingan padi di tanah yang agak jauh dari pemukiman agar tidak menyebarkan polusi. Dengan begitu, aku bisa langsung membeli gabah dan menggilingnya sendiri di pabrikku dan akhirnya kujual sebagai beras.

Alhamdullillah selalu kuucap rasa syukur pada yang kuasa karena bisnisku bisa berjalan lancar dan menghasilkan cukup uang untuk membiaya hidupku dan juga keluargaku. Dari hari ke hari Usahaku terus membuahkan hasil sebagai balasan dari jerih payah bapak dan juga diriku selama ini. dengan penghasilan itu, alhamdulillah ibu sudah bisa naik tanah suci, dan bapak pun mungkin seandainya tidak dipanggil terlalu cepat. Isna susah selesai kuliah dan jadi bidan di desaku, indri Cuma selesai sampai SMA dan menikah dengan anak seorang rekan bisnisku. Dan yang paling bungsu ica baru semester awal di Universitas Hasanuddin makassar, mengambil jurusan pertanian karena ingin jadi ahli pertanian di desaku katanya. Aku jadi tertawa sendiri mendengarnya. “Cewek suka bertani mirip banget ya sama kakaknya”, pikirku fikirku sambil tersenyum.

Pagi yang cerah aku mengendarai mobilku menuju pabrik, karena rencana hari ini ada rekanan yang minta digilingkan gabah. Katanya dia butuh sekitar 20 ton beras jadi para pekerjaku harus ekstra lembur. Sebagai pemilik pabrik aku tidak ingin hanya duduk di balik meja tanpa melihat kinerja anak buahku. Di sebuah jalan yang biasa kulewati selama ini. tiba-tiba brukkkk, aku ditabrak oleh seorang pengendara motor dari belakang. Aku memarkir mobil dan pergi melihat ke belakang. Ternyata seroang gadis yang habis jatuh berusaha membersihkan badannya. “mbak tidak apa-apa??” tanyaku. “tidak apa-apa kamu bilang, ini sudah lecet begini masih bilang tidak apa-apa”. Jawabnya kesal. “tapi setahu saya, mbak yang menabrak saya dari belakang jadi bukan saya yang salah dong” tegasku. “enak aja, mau saya laporkan polisi yah, main lepas tanggung jawab aja,” ancamnya. “sudah mbak jangan emosi, biar bukan saya yang salah pasti saya ganti kok,” jawabku rendah.

Dari sepintas lalu kulihat wajahnya tidak asing bagiku. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi aku lupa kapan dan dimana. Pas aku menatapnya dia juga menatapku. Kemudian bersamaan kami berkata dengan heran, “kau???”. “kau kan yang waktu itu pakai sepeda butut nabrak aku dari belakang??”, katanya penuh tanya. “iya ini aku, pantesan wajahmu juga tidak asing bagiku”, jawabku mengiyakan. “wahh udah sukses kayaknya kamu, udah pakai mobil sekarang nabrak aku”, ejeknya. “alhamdulillah mbak, atas rahmat tuhan, sudah punya seperti ini”, jawabku tersenyum. “oh iya, kamu masih menyimpan syal yang kuberikan dulu sebagai jaminan??”, tanyaku. ‘oh yang itu, masih ada kok, itu ada saya simpan di rumah sebagai kain cuci piring”, jawabnya enteng.
“mbak bisa bawakan ke alamat ini, nanti saya ganti kerugian motor kamu dan juga kerugian kamu yang dulu”, pintaku berharap. “iya, nanti saya bawakan lagian saya juga mau pergi ketemu suamiku di pabrik bosnya,” jawabnya mengiyakan. “jadi mbak sudah bersuami, dan suami mbak kerja di pabrik”, tanyaku lagi. “hahaha, iya dong, biar kata suamiku hanya orang suruhan di pabrik bosnya, tapi sudah seperti bos juga disitu, dia tangan kanan disitu dan dibelikan mobil nissan juke sama bosnya, kau tahu kan mobil nissan juke, itulah loh mobil keren yang harganya pastinya lebih mahal dari mobil pick up kamu ini”, ejeknya seraya tertawa. “alhamdulillah kalau begitu mbak, pastinya suami anda orang yang sangat baik dan pekerja keras sehingga mendapat kepercayaan yang begitu besar dari bosnya”. kataku sambil tersenyum.
“oh iya, aku pergi dulu, aku sudah terlambat, nanti saya tunggu di alamat yang sudah saya berikan itu”, kataku seraya pamit. Dia mengiyakan terus melajukan motornya lebih dulu dan yang kulihat rusak bagian kap depannya.

Sampai di pabrik aku langsung ke rumh sekaligus kantor pribadiku. Yah lebih mirip rumah sihh karena bangunanya Cuma rumah batu bersusun dua pada umunnya. Asisten kepercayaanku mendatangiku. ‘pagi bos, kenapa barusan terlambat ini”, katanya tersenyum. “hahaha, lagi ada sedikit persoalan tadi di jalan”, jawabku tersenyum. “oh, iya bos, penggilingan sudah berjalan, dan sudah 5 ton gabah berhasil digiling, kemungkinan malam nanti bisa selesai semuanya”, terangya. “iya, semuanya kuserahkan padamu karena aku percaya padamu”, kataku lagi.

Siang harinya, cewek itu datang ke pabrikku. Sampai di sana dia heran karena melihat sesuatu yang aneh. Pabrik besar, rumah besar, mobil truk, mobil mewah. Ditanya di pos satpam, dia bilang ingin bertemu sama pak irwan. Langsung petugas satpam membawanya ke ruanganku. Sampai disana dia masuk dengan tingkah aneh. “eh, mbak silahkan masuk” sapaku mempersilakan. “Kamu kerja disini atau ini pabrik kamu”, tanyanya terbata-bata. “iya mbak, inilah surga kecil yang dititipkan allah padaku” jawabku ramah. “semua yang disini milikmu pribadi,” tanyanya lagi. “ya seperti itulah kira-kira mbak”, jawabku sambil tersenyum. Tiba-tiba asisten datang, dan sejurus kemudian dia pun heran, “kenapa kamu ada disini??” tanyanya pada cewek itu. “eh, anu mas, saya…” Jawabnya terpotong. “sudah tidak usah ribut, saya yang menyuruhnya kesini karena ingin memberinya ganti rugi atas persoalan tadi pagi di jalan, kan sudah saya bilang tadi padamu”, kataku tersenyum.
“maaf bos, kenalkan ini istriku, jadi dia yang jadi masalah di perjalanan anda, saya benar-benar minta maaf,” kata asistenku menyesal. Istrinya hanya tertunduk tak mampu menatap wajahku. “sudah, sudah, tidak usah merasa bersalah begitu, dan masalahnya jangan diperpanjang. Oh iya, kamu bawa syal itu?” tanyaku. “iya pak, ini saya membawanya, sudah saya cuci tapi tidak sempat saya setrika”. Jawabnya pelan seraya memberikan syal itu padaku. “alhamdulillah, sudah lama aku mencarimu untuk menebus syal itu, karena itu adalah benda paling berharga melebihi apa yang aku punya sekarang,” jelasku. “syal apa???” kata asistenku menyela. “tidak usah takut apalagi marah, ini hanya hal yang menyangkut masa lalu waktu kami bertemu di pinggir sawah, istri kamu orang baik-baik kok. Jadi nanti kamu boleh tanya dia bagaimana ini terjadi”, jawabku tersenyum. Dia pun hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
“sebagai gantinya karena kamu telah menjaga syal ini untukku, ini ada rejeki dari allah untuk kit nikmati bersama”, kataku sambil menyerahkan sebuah amplop yang agak besar. “itu uang kalau tidak salah ada 30 juta, bisa kamu pakai beli motor baru sebagai ganti motormu yang dulu”, jelasku. “bapak apa-apaan, tidak boleh seperti itu pak” pinta asistenku. Istrinya hanya diam saja. “dan kamu, aku minta dengan sangat, apapun yang telah terjadi jangan marahi istri kamu karena semua ini terjadi karena takdir dan kuasa Allah. kalau tidak kamu akan saya pecat”, jawabku setengah mengancam. Mereka mengiyakan dan pamit ke luar dari ruanganku. Dari sudut jendela saya lihat mereka sempat beradu mulut kemudian istrinya pergi naik motor dan suaminya pergi masuk ke pabrik. Aku pun hanya tersenyum dan mengambil syal itu kemudian memeluknya.

Setahun kemudian aku pun menikah dan beroleh seorang istri yang bukan dari kalangan berpendidikan tinggi atau memiliki pekerjaan. Seorang gadis tamatan SMA dan sudah yatim piatu menjadi pilihanku untuk menjalani sisa hidupku. Aku tak butuh istri yang harus mencari uang, aku hanya butuh seorang pendamping hidup yang bisa menasehatiku dikala aku khilaf dan membimbing anak-anak kami dengan benar. tanpa harus kekurangan kasih kasih sayang karena kesibukan Sesungguhnya tidak ada kata bodoh dan pintar dalam kamusku. Yang membedakan pada diri setiap manusia adalah keinginannya untuk berkembang dan berusaha. Dan satu hal yang terpenting yang adalah bagaimana kita bangkit setelah terjatuh dan tidak mengenal kata putus asa.

Sungguh diriku pun masih bingung sampai sekarang karena dalam fikiranku aku tidak pernah berfikir jauh kesini kehidupanku yang sekarang. Yang kutahu dulu aku berusaha karena semata-mata aku punya mereka yang menjadi tanggung jawabku. Alhamdulillah dengan nikmat Allah yang sekarang, aku benar-benar bersyukur dengan hidupku dan keluargaku. Terima kasih ya Allah.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Irham Suryansyah
Facebook: ancha suryansyah
Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Judul Cerpen Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Terik matahari menyambar wajahku. Hari sudah semakin siang, pikirku. Aku terbangun dari tidurku. Kulihat arlojiku. Sudah pukul 6 pagi rupanya. Segera aku menuju kamar mandi untuk mandi. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum aku berangkat kerja. Kusambar roti tawar yang ada di meja kosanku dan kulahap dengan rakus meskipun tidak memakai selai maupun kismis. Lumayan untuk mengganjal perutku. Kutenggak secangkir teh sembari mengecek sms dari kolega maupun mitra kerja. Ada 1 sms. Ternyata dari temanku, Bowo. Bowo ini merupakan TKI yang dikirim ke Arab Saudi. Awalnya aku sudah membantu Bowo untuk bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Namun, kentalnya Nepotisme dan rendahnya daya saing Bowo yang lulusan SMA membuat Bowo tersingkir. Sebuah pilihan berat untuk menjadi TKI terpaksa ia ambil lantaran beban hidup yang sudah menumpuk. Sudah 6 bulan lamanya Bowo bekerja sebagai TKI. Aku juga tidak tahu mengenai pekerjaannya sebagai TKI di sana hingga aku mendapat kabar dari temannya yang juga berprofesi sebagai TKI. Menurut penuturan temannya, Bowo bekerja sebagai buruh di perusahaaan minyak terkemuka di Arab Saudi. Kubuka sms dari Bowo. Isi pesannya cukup sederhana. Yaitu, “Tolong kamu hubungi saya sehabis pulang dari kerja. Saya tidak punya cukup pulsa untuk menelepon. Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan.” Aku segera membalas sms tersebut, “Ok, sehabis kerja saya call lagi. Kira-kira jam 4 sore.” Aku kemudian memanaskan motorku dan bersiap untu pergi ke kantor tempatku bekerja. aku takut terlambat masuk kerja, maklum, Surabaya memang kota besar, sehingga macet merupakan suatu hal yang biasa. Setelah mengunci pintu kosan, aku segera pergi ke kantorku.

Di kantor, aku masih penasaran dengan sms dari Bowo. Apa gerangan hal yang ingin disampaikan Bowo? Aku menjadi tidak sabar untuk menunggu jam kerjaku selesai. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya shift kerjaku selesai. Saatnya bertukar shift dan aku segera menelepon Bowo. Aneh, ternyata hp-nya tidak aktif. Aku menelepon lagi dan akhirnya tersambung juga. “Halo, ini Irfan, apakah ini benar nomornya Pak Bowo?”, tanyaku. “Ya, dengan saya sendiri.”, jawabnya. “Kawanku, sudah lama kita tidak bicara. Bagaimana kabar kau di sana? Dan apa gerangan yang ingin kau sampaikan padaku?”, tanyaku. “Baik, tetapi saya masih merasa sedikit pusing lantaran sudah 2 bulan ini gaji saya belum dibayar pihak pabrik. Saya terpaksa bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Alhamdulillah, meskipun hidup pas-pasan, tetapi saya masih bisa menabung. Setiap real berhasil saya sisihkan. Rencananya saya akan pulang kembali ke Indonesia untuk membuka usaha.”, katanya. “Sungguh naas nasib kau, kawan. Semoga saja pihak pabrik segera mencairkan gajimu. Kalau kau butuh uang, pakailah dulu uangku. Terserah kau mau menggantinya kapan. Mengapa kau mau membuka usaha di Indonesia? Bukankah Arab memiliki peluang usaha yang lebih terjamin dibandingkan Indonesia?”, jawabku. “Kau benar, kawan. Peluang usaha di sini lebih terjamin. Permodalan mudah, pasar juga luas, bahkan fasilitas transportasi juga memadai, namun, apalah artinya bila tidak dapat berkontribusi untuk Indonesia. Saya tidak bisa mengabaikan tanah airku yang tercinta, Indonesia. Angka entrepreneur di Indonesia sangat rendah, tidak sampai 2 persen dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang mencapai angkai lebih dari 250 juta. Lagipula keluargaku juga masih membutuhkanku.”, ungkapnya. Sungguh, penjelasan yang sangat hebat, pikirku. Meskipun ia tidak berada di Indonesia, tetapi masih ada rasa nasionalisme yang kuat di dalamnya. “Sayangnya, pemerintah kita kurang menyadari pentingnya wirausaha bagi kemajuan Indonesia. Padahal, banyak sekali manfaat dari entrepreneur. Mulai dari mengurangi pengangguran, menambah devisa negara, dan memajukan perindustrian Indonesia.”, ungkapku. “Kau benar, kawan. Makanya lebih baik menjadi wirausaha kecil-kecilan daripada menjadi seorang buruh di perusahaan terkemuka walaupun gajinya sama. Sudah dulu, ya kawan. Sebentar lagi saya akan berangkat ke Gurun Sahara. Perusahaanku rencananya akan membuka daerah pengeboran minyak di sana. Dan saya bersama beberapa orang buruh lainnnya disuruh untuk melakukan sweeping lokasi ke sana. Terimakasih kau sudah mau mendengar ocehanku.”, ungkapnya. Telepon pun ditutup. Aku segera pulang ke kosanku untuk beristirahat.

Sudah 2 bulan lamanya aku tidak mendapat kabar dari Bowo. Hp-nya juga tidak aktif. Aku termenung membayangkan nasib Bowo di sana. Berat pasti meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar negeri. Apalagi bekerja dengan keterbatasan yang ada. Lamunanku terganggu ketika pintu kosanku diketok oleh seseorang. Kubuka pintu kosku. “Maaf, pak. Apakah ini benar alamat rumahnya pak Irfan? Saya sudah ke alamat Bapak yang sebelumnya di jalan Kali Gendol No. 32 dan pemilik rumahnya bilang kalau babak sudah pindah ke sini.”, tanya orang tersebut. “Ya, saya memang sebelumnya indekos di sana, dan sekarang saya pindah ke sini. Ada gerangan apa?”, tanyaku. “Saya ini temannya Bowo, pak. Sekarang saya bekerja sebagai kurir surat. Ini ada sepucuk surat dari Bowo untuk Bapak.”, jawabnya sembari menyerahkan 1 buah amplop surat dari tasnya. “Oh, begitu. Bagaimana kabar Bowo? Apakah dia sehat-sehat saja? Sudah 2 bulan lebih saya tidak mendengar kabarnya.”, kataku. “Saya juga tidak tahu, pak. Mungkin saja beliau ingin memberitahukannya lewat surat ini. Sudah dulu, ya, pak. Saya masih banyak surat lagi untuk diantar.”, ucapnya. Aku melihat kurir surat itu berlalu dari pandanganku. Kuamati surat dari Bowo. Rupanya Bowo masih belum tahu mengenai alamat kosanku yang baru sehingga ia menuliskan alamat kosan lamaku. Kubuka amplop surat tersebut. Ternyata selain surat, ada 1 lembar cek dan pas foto Bowo memakai jas dan dasi yang rapi. Di belakang fotonya ditulis “Calon Entrepreneur Masa Depan”. Kubaca surat dari Bowo. “Sahabatku, Irfan. Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku mengirim surat kepadamu. Aku berhasil melobi perusahaanku untuk membayar tunggakan gajiku. Bersama surat ini, kutitipkan cek gajiku kepadamu. Tolong kau berikan kepada keluargaku di Desa Waringin sana. Mereka pasti lebih membutuhkannya dibandingkan aku. Maaf kalau aku merepotkanmu, kawan. Desa Waringin tidak memiliki fasilitas kantor pos maupun wesel. Jadi, kutitipkan padamu secuil harapan untuk keluargaku dan desaku. Dan akhirnya tabunganku sudah cukup untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Aku sudah membooking tiket pulangku. Sudah kuserahkan surat pensiunku ke perusahaanku. Dan diterima, meskipun pesangonnya baru cari 2 bulan mendatang. Aku berencana membuka usaha kuliner di Indonesia. Banyak sekali variasi kuliner Arab yang lezat dan dapat dijadikan sebagai suatu usaha kuliner. Aku berharap kau mau mengikuti jejakku sebagai wirausahawan. Wirausaha itu bebas. Bebas dari tekanan perbudakan. Bayangkan mereka yang bekerja di pertambangan sebagai buruh. Hanya diupah seadanya namun, hasil tambangnya diambil oleh perusahaan asing. Sudah di negeri sendiri dijajah, di negeri orang juga dijajah. Miris, kawan. Ayo, kita bangun negeri Indonesia menuju kesejahteraan dan bebas korupsi. Sudah dulu dari suratku. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terimakasih. Sahabatmu, Bowo.” Aku tertegun membaca suratnya. Tekad Bowo benar-benar kuat. Ia memiliki semangat wirausaha untuk membangun negeri. Aku yang bekerja sebagai karyawan di pabrik swasta saja merasa malu. Segera kukemasi barangku dan kubawa cek beserta surat dan foto Bowo ke dalam tas ranselku. Aku akan berangkat ke Desa Waringin untuk menyampaikan surat Bowo kepada keluarganya.

Tidak sampai setengah jam perjalanan darat menggunakan motor, akhirnya aku sampai di Desa Waringin. Tidak sulit untuk menemukan rumah keluarga Bowo. Rumah yang sederhana dihiasi dengan tanaman rambat dan pohon mangga yang belum berbuah. Dulu aku pernah ke sini saat mengantar Bowo mencari pekerjaan. Kuketok pintu rumahnya. Seorang wanita paruh baya yang membukakan. Dia adalah Hana, istrinya Bowo. “Pak Irfan, ada gerangan apa Bapak kemari? Suami saya belum pulang. Beliau rencananya pulang minggu depan, pak.”, kata Hana. “Ehmm, begitu. Ini ada sepucuk surat dan cek dari beliau. Tolong diterima.”, kataku sambil menyerahkan surat dan cek kepada Hana. “Waduh, untuk apa suamiku memberi cek ini? Bukankah dia yang memerlukan uang ini untuk pulang kampung?”, kata Hana dengan perasaan bimbang. “Kamu tidak perlu khawatir. Bowo adalah seorang pria yang tangguh. Dia pasti masih bisa pulang. Ini ada sedikit uang untuk merayakan kepulangan Bowo. Tolong kamu segera belanja agar suamimu melihat betapa cantik dan menawannya dirimu saat Bowo datang.”, kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Sambil tersipu malu, Hana menjawab, “Aduh, tidak usah repot-repot, pak. Saya pasti akan berdandan yang terbaik untuk suamiku tercinta.” “Baguslah, kalau begitu saya permisi dulu, ya. Terimakasih.”, ucapku pada Hana. “Iya, pak. Terimakasih, ya, sudah jauh-jauh datang kemari.”, kata Hana. Aku berlalu meninggalkan Hana. Semoga saja Bowo benar-benar menepati janjinya untuk pulang ke Indonesia.

Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya aku memuji akan tekad kuat dari Bowo untuk menjadi seorang entrepreneur. Sesampainya di kosan, aku kaget melihat selembar pas foto tergeletak di atas meja makan. Ya, itu adalah foto Bowo dan tulisan “Calon Entrepreneur Masa Depan” di belakangnya. Rencananya besok aku akan datang lagi ke Desa Waringin untuk memberikan foto ini. Kunyalakan televisi. Sudah lama aku tidak menonton berita. Dulu aku hanya menonton acara talkshow saja dan kadang-kadang nonton bola bareng dengan teman kosanku. Sekilas berita hanya menampilkan masalah banjir dan kasus korupsi. Bosan aku menyimaknya. Seakan sudah tidak ada topik lain yang lebih menarik untuk dibahas. Namun, aku terkejut ketika ada breaking news yang muncul. Beritanya, “Segerombolan teroris berhasil menduduki kilang minyak di Gurun Sahara, Arab Saudi. 4 orang TKI yang bekerja di sana ditemukan tewas. Diduga mereka dieksekusi oleh teroris tersebut.” Jantungku seakan mau copot. Benarkah Bowo merupakan salah seorang korban tewas akibat teroris itu? Jika iya, mengapa Bowo harus mengalami nasib seperti ini? Kucoba menghubungi Bowo. Sayangnya masih tidak aktif. Dan ketika aku melihat sekilas mengenai data-data korban, aku terkejut. Nama Bowo ternyata ada di daftar korban. Praditya Bowo Darjo. Sekujur badanku lesu. Mulutku kaku. Seakan tak percaya mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Bowo hanyalah korban. Korban dari ketidakadilan. Menurut penjelasan reporter, jenazah korban sudah dikirimkan ke kampung halamannya oleh pihak Arab Saudi 3 hari yang lalu. Ternyata, Bowo sudah meninggal 3 hari yang lalu. Maklum, aku juga jarang menonton televisi dan di Desa Waringin jarang warganya yang memiliki televisi. Segera kupanaskan motorku. Lelah sehabis perjalanan tidak kuhiraukan. Kukenakan lagi tas ranselku. Dan aku sudah bersiap kembali lagi ke Desa Waringin. Ini adalah bentuk penghormatanku terakhir kepada si “Calon Entrepreneur”.

Sudah sebulan lamanya semenjak Bowo pergi meninggalkan kami. Namun, tekad kuatnya masih saya warisi hingga saat ini. Desa Waringin sekarang sudah banyak yang menjadi wirausahawan. Sekarang, hampir tidak ada warga Desa Waringin yang pengangguran. Kini, Bowo hanya tinggallah kenangan, tetapi, tekad kuatnya untuk membangun negeri akan aku wariskan ke generasi yang akan datang. Selamat jalan, Bowo. Terimakasih atas pengorbananmu selama ini. Tekadmu akan selalu berkobar di hati kami, calon entrepreneur masa depan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Muhammad Dimasyqi
Facebook: Muhammad Dimasyqi
Gerobak Untuk Ayah

Gerobak Untuk Ayah

Judul Cerpen Gerobak Untuk Ayah

Ayahku seorang pemulung. Dia sering memulung di sekitar kompleks perumahan yang berada tak jauh dari pemukiman ruli kami. Ayah seorang yang pekerja keras. Dia tidak malu dengan pekerjaannya. Dia berkata kalau apapun jenis pekerjaan itu jika itu halal, maka rezeki akan ditambahkan kepada kita. Aku sendiri sering bingung, kenapa Ayah bisa berbicara seperti itu dikeadaan keluarga kami yang serba kekurangan ini. Padahal para tetanggaku yang juga seorang pemulung, selalu mengeluh dengan keadaan mereka sekarang ini.

“Arya, kamu sudah siap, nak?” tanya Ayah dengan suaranya yang sangat lembut dan selalu membuatku tersenyum.
“Sudah, Yah.” Ucapku sambil membersihkan baju putih-biruku yang agak kotor dan usang.

Aku segera berjalan ke pintu depan menghampiri Ayah. Aku tersenyum ke arahnya yang dibalas dengan senyumnya juga. Ayah mengelus rambutku lembut lalu mencium keningku. Kehangatan yang selalu kudapatkan dari seorang Ayah sejati.

“Sudah hampir jam 7, kamu harus berangkat ke sekolah sebelum telat.” Ujar Ayah. Aku mengangguk lalu menyalam tangannya. Lalu Ayah menyandang karung goninya di pundak dan mengambil alat pengait untuk membantu kegiatan memulungnya. Terkadang aku kasihan melihat Ayah yang seperti ini. Ayah masih memulung dengan karung goni. Hasilnya pun seadanya. Dulu, Ayah punya gerobak. Tapi gerobak itu sudah rusak karena ditabrak truk.

“Ayah, aku gak usah sekolah ya, aku bantu Ayah mulung aja. Hasilnya ‘kan lumayan buat makan besok.” Aku mengambil karung goni dan alat pengait.
“Jangan, Arya. Kamu sekolah aja. Kamu harus jadi anak yang berpendidikan, jangan seperti Ayah.” Ayah melepaskan karung goni dan alat pengait itu, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.
“Arya, kamu harus janji sama Ayah, kamu harus jadi orang hebat. Kamu harus bisa banggain Ayah. Kamu harus jadi orang yang berguna. Jangan seperti Ayah. Beli gerobak saja, Ayah tidak mampu. Bahkan, untuk makan saja terkadang ada terkadang tidak.” Ayah menatapku lekat-lekat. Membuatku semakin ingin menjadi orang sukses dan belajar lebih giat lagi. Aku juga harus membuat Ibu yang ada di surga senang melihatku.
“Kalau gitu, aku berangkat sekolah dulu ya, Yah.” Aku kembali menyalam punggung tangan Ayah yang sudah tak mulus lagi. Aku menatap wajahnya yang sudah agak keriput dan ubanan.
“Aku sayang Ayah.” Aku memeluk Ayah erat-erat. Bau sampah dari baju kumuh Ayah dapat kucium. Tapi bagiku itu bukanlah bau sampah, melainkan bau hasil kerja keras yang halal.
“Ayo cepetan kamu pergi sekolah. Nanti telat lho.” Kata Ayah setelah melepas pelukan kami. Aku mengangguk.

Sekolahku bukannlah sekolah yang bagus. Bukan sekolah bagi orang-orang berada. Ya, hanya sekolah biasa. Tapi derajatku sebagai “anak seorang pemulung” sering diolok-olok oleh beberapa teman-temanku. Tapi aku tidak marah pada mereka. Mereka mengatakan hal yang benar. Dan aku bangga punya seorang Ayah pemulung namun pekerja keras dan mendapatkan uang yang halal.

“Arya!” seseorang memanggilku dari arah kantin. Bu Halimah, salah satu pedagang di kantin sekolah terlihat sedang melambai-lambai ke arahku. Aku segera menghampiri wanita paruh baya itu.
“Ada apa, Bu?” tanyaku pada Bu Halimah. Bu Halimah tampak sedang sibuk dengan kerupuk yang dia masukkan ke dalam plastik.
“Kamu bisa bantu Ibu lagi gak? Ibu lagi sibuk banget ini. Tolong bantu ibu masukin kerupuk-kerupuk ini ke dalam plastik ya, nanti upahnya Ibu kasih, sama upah-upah yang kemarin.” Ujar Bu Halimah. Aku senang sekali mendengarnya. Dengan cepat aku mengangguk dan membantu Bu Halimah.

Aku memang sering membantu Bu Halimah di kantin. Entah itu membantu mencuci piring, memasukkan kerupuk-kerupuk ke plastik, membantu melayani pembeli, apapun itu aku lakukan. Kegiatan ini sudah kutekuni lebih dari 5 bulan belakangan. Cukup lama memang, tapi upahnya belum aku ambil. Nantinya upah itu akan aku belikan gerobak untuk Ayah. Supaya Ayah bisa memulung lebih banyak barang dan tidak capek karena harus memikul karung.

Setelah 10 menit kemudian,
Kriiiing…
Bel tanda masuk berbunyi bersamaan dengan selesainya kerupuk yang kumasukkan ke dalam plastik.
“Bu, sudah bel masuk. Kerupuknya juga sudah dimasukkan semua. Saya ke kelas ya.” Pamitku.
“Tunggu sebentar nak Arya.” Bu Halimah menahan langkahku. Lalu beliau kembali dengan 5 lembar uang 50.000an.
“Ini buat kamu. Semoga berguna ya. Kamu mau pakai uangnya untuk beli gerobak Ayah kamu kan?” Bu Halimah memberi uang tersebut kepadaku. Aku memegangnya. Tanganku rasanya gemetar ketika memegang uang tersebut. Tidak pernah aku memegang uang sebanyak itu. Ini baru yang pertama kalinya.

Pulang sekolah aku langsung pergi ke tempat Pak Man, seorang tukang kayu. Aku harap Pak Man bisa membuat gerobak. Setelah berbincang-bincang pada Pak Man, akhirnya Pak Man setuju akan membuatkan gerobak dan diupahi sebesar 250.000,-

5 hari sudah berlalu. Pak Man janji gerobaknya akan selesai dalam waktu 5 hari. Sepulang sekolah, aku langsung ke tempat Pak Man. Dan aku melihat sebuah gerobak yang terpampang di teras rumah Pak Man.
“Ini gerobak untuk Ayah kamu, Arya.” Pak Man merangkul pundakku. Aku berdecak kagum melihat hasil akhir gerobaknya. Jauh lebih bagus daripada perkiraanku.
“Terimakasih, Pak Man.” Aku memeluk Pak Man erat. Pak Man membalas pelukanku.

“Ayah” panggilku dari depan rumah. Aku membawa gerobak tersebut di belakangku. Setelah beberapa detik, aku mendengar Ayah menyahut dari dalam rumahku yang kumuh dan beliau tampak terkejut melihat aku yang membawa gerobak.
“Ayah, ini gerobak untuk Ayah. Semoga berguna dan dapat membantu Ayah kalau mulung nanti.” Ucapku. Ayah terdiam di tempat. Dia tampak tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sudah lebih dari 2 tahun Ayah ingin sekali membeli gerobak. Tapi selalu saja dihalangi oleh krisis ekonomi. Dan sekarang, aku berhasil mengambulkan permintaan Ayah.
Mata Ayah nampak berkaca-kaca. Aku takut. Aku takut kalau Ayah tidak suka dengan gerobak ini.

“Ayah kenapa nangis? Ayah gak suka ya dengan gerobaknya? Maaf ya, Ayah.” Aku langsung memeluk Ayah. Tangis Ayah pecah. Aku semakin takut.
“Terimakasih, nak. Kamu memang anak yang baik.” Ayah mengelus rambutku. Aku lega karena Ayah suka dengan gerobak baru itu. Aku tahu tangis Ayah adalah tangis bahagia.

TAMAT

Cerpen Karangan: Lisa Elisabeth
Facebook: Lisa Elizabeth
IG: @lisaelisabeth6003
Ask.fm: @lisaelisabethh
Gak Bakat

Gak Bakat

Judul Cerpen Gak Bakat

“Gak ngerti Bahasa Indonesia, ya?”, kata Cia marah kepada Riko yang dari tadi terus saja memaksanya untuk menyolder timah pada papan kerja elektronika mereka.
“Ayo dong. Kamu kan pinter. Gampang kok. Gak bakal kena tangan deh. Aku deh pegel nih.”, kata Riko memohon yang dari tadi memegang PCB dan timah.
“Aku tuh gak bakat yang kayak gituan. Tapi kalo kamu suruh aku gambar PCB nya, aku bisa deh.”, kata Cia melipat tangannya di depan dada.
“Yah… Tapi, kan sekarang gak disuruh gambar PCB, Cia.”, suara Riko mulai meninggi.
“Ya, bodo amat lah.”, kata Cia tetap cuek.

Jadilah Riko mengerjakan tugas elektronika tersebut sendirian. Harusnya setiap kelompok beranggotakan 3 orang. Akan tetapi, ketidakhadiran Tiara, membuat Cia dan Riko harus bekerja sama dalam melaksanakan tugas tersebut. Adanya aturan dan tugas bahwa, tugas tersebut harus dikerjakan di jam pelajaran itu juga, menyebabkan Riko bersikukuh untuk menyelesaikan tugas tersebut apapun yang terjadi.

Selesailah tugas tersebut dalam waktu terhitung 15 menit. Selama 15 menit itu pula, Cia mendengar erangan kesakitan Riko, akibat tangannya yang terkena panasnya solder. Tak main-main, panasnya solder tersebut, menimbulkan bekas luka di tangan Riko.

“Riko, nanti laporan kerjanya siapa yang ngerjain?”, tanya Cia.
“Yah kamu lah. Enak banget kamu dapat nilai gratisan. Dari tadi kan kamu cuman ngeliatin aku kerja doang. Apa, mau bilang gak bakat lagi?”, kata Riko judes sambil menahan rasa sakitnya.
Cia diam. Tak berani menjawab. Takut membuat Riko semakin marah. Cia mengerti itu memang seharusnya menjadi tugasnya. Cia menyesal bertanya pada Riko.

Tak perlu waktu lama bagi Cia untuk menyesal. Sebab, Cia harus segera mengganti seragamnya menjadi pakaian olahraga, ketika bel pergantian pelajaran berbunyi. Sebenarnya, Cia sama sekali tidak memiliki semangat dalam hatinya untuk mengikuti pelajaran olahraga. Aku gak bakat, begitu pikirnya. Cia takut harus dihadapkan pada serangkaian kegiatan seperti lari, lempar lembing, renang, sepak takraw dan voli, yang terbukti mengakibatkan nilai merah di rapornya semeseter yang lalu, dan berakibat gagalnya Cia masuk 3 besar. Satu lagi yang mengerikan dari pelajaran olahraga, kata Cia, gurunya adalah wali kelasnya sendiri. Padahal Cia terbilang jenius dalam menggambar, berhitung dan membuat laporan.

Cukuplah waktu bagi Cia untuk merenungi serangakaian nasibnya itu. Ia harus cepat-cepat sampai di lapangan. Terlambat sampai, bisa semakin memperburuk nilai olahraganya.
Benar saja, Cia datang terlambat, yang mengundang tatapan tajam dari Bu Ester, sang wali kelas. Cia segera masuk ke barisan.
“Oke… Sudah ada di lapangan semuanya?” Bu Ester tetap mengunci pandangannya pada Cia.
“Sudah bu..” jawab semua murid termasuk Cia yang mengalihkan matanya dari pandangan Bu Ester.
“Baiklah hari ini kita belajar memanah ke titik hitam pada sasaran di sana.” Bu Ester berkata sambil mengambil busur dan anak panahnya, setelah sebelumnya menunjuk ke arah titik sasaran berjarak 10 meter di kejauhan.
“Hari ini kita akan latihan untuk pengambilan nilai ujian praktek minggu depan..” kata Bu Ester lagi.
“Bu kalo ada orang yang gak bakat?” kata Riko mengangkat tangan kanannya untuk menyindir Cia.
“Siapapun yang gak berhasil memanah di ujian minggu depan, selamat!! gak hanya nilai merah di rapor.. Melainkan juga tidak akan naik kelas..” kata Bu Ester balik menyindir Cia.
Semua murid menelan ludah. Memanah bukan perkara mudah. Sedikit saja meleset dari sasar tembak, akan berpengaruh besar pada nilai mereka. Adapun Cia yang mungkin menelan ludah paling banyak, meyakinkan dirinya bahwa ia bisa. Sebenarnya sih kalo gak bakat ya gak bisa, mau digimanain juga, ya hasilnya sama aja, begitu katanya dalam hati.

Latihan memanah dimulai. Sesuai dugaan, Cia lah satu-satunya yang tak bisa berhasil. Cia juga lah yang satu-satunya memulai panahan dengan memegang busurnya miring. Bahkan di kesempatan terakhir, panahnya hanya melesat tipis dari kepala temannya.

Bu Ester menutup latihan memanah..
“Ini adalah laihan memanah pertama dan terakhir yang ibu berikan. Hari ini, sebenarnya ibu hanya ingin mengenalkan kalian, apa itu seni memanah dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Semoga kalian bisa berhasil melaksanakan tantangan yang ibu berikan di minggu depan. Nah untuk PR minggu lalu yang di LKS, bisa kalian berikan sekarang pada Cia.”

Semua murid satu-persatu mengumpulkan LKS nya pada Cia. Ada 39 LKS yang yang terkumpul. Harusnya 40. Hingga Cia tahu seorang murid dan sebuah nama yang belum mengumpul. R I K O.
“LKS kamu mana?” tanya Cia
Riko hanya diam.
“Lho kamu bakat ngumpulin LKS?”
“Kok diem. Sadar kan semua gak tergantung bakat?” kata Riko
“Yah tapi nyolder kayak tadi itu aku emang gak bakat. Kamu biasa aja dong ngomongnya.” Volume suara Cia mulai meninggi.
“Yah terus kalau kamu di pojok jalan, dikelilingi ular besar, kamu mau apa? Berusaha? Emangnya kamu punya bakat ngejinakin ular? Kapan mau berubah?” Riko memberikan bukunya dengan kasar pada Cia, lalu pergi.

Suasana lapangan sejenak sunyi. Cia pun lalu pergi pulang, setelah memberikan semua kumpulan buku pada Bu Ester. Di depan gerbang sekolah, Cia tak sengaja berpapasan dengan Riko yang juga ingin pulang. Cia memberikan senyuman terbaiknya, yang dibalas dengan tatapan muka masam dari Riko. Jelas hati dan pikirannya masih panas. Sepanas solderan timah yang mengenai tangannya akibat “ketidakbakatan” Cia tadi.
Lalu Cia pulang ke rumah dengan muka semasam yang tadi juga diberikan Riko, hingga semua berlalu tanpa arti. Hingga hari ke empat, Cia tak sedikit pun melirik busur, anak panah dan kertas yang akan menjadi sasaran, yang waktu itu diberikan Bu Ester agar setiap anak bisa berlatih sendiri di rumah

Cia makan malam seperti biasa dengan keluarganya. Diawali dengan doa, canda, ya semua berjalan seperti biasanya. Tapi malam ini ada sesuatu yang tak seperti biasanya. “Mamil”, panggilan Cia untuk ibunya, menyuruh Cia mencuci piring. Jreeenggg… Jreeennggg… Jreeennnggg…
“Mamil… Cia itu gak bakat yang kayak gituan.” kata Cia berusaha menolak
“Apaan sih.. Kayak gituan? Emangnya kamu mamil suruh ngapain? Kan cuman MENCUCI PIRING.”
Deeerrrr… Karena memang diniati untuk “Tidak Bakat”, dan tidak meniati dirinya untuk melakukan segala sesuatunya, dari 7 piring, 3 gelas, yang dicuci, hanya tinggal 1 piring yang lolos dari kepecahan setelah 5 menit berlalu. 1 piring yang tepatnya belum disentuhnya. Endingnya bisa diduga. Cia mendapat sepatah dua patah dan patahan-patahan kata dari mamil.

Ke luar dari dapur sudah cukup menyebabkan telinga kanan dan kiri Cia panas. Ternyata tak sampai di situ. Setelahnya, Kak Ray, meminta Cia membantunya untuk menulis laporan berdasarkan bahan dan inti pokok yang telah diberikan oleh Kak Ray. Tak perlu waktu dan debatan yang cukup lama, sebab Cia merasa dirinya cukup “Bakat” membuat laporan. Hal itu juga yang membuatnya tak menolak “Perintah” Riko waktu itu.

Cia, kembali ke halaman belakang. Sebuah pohon besar sudah ditempeli kertas sasaran sebenarnya. Sudah sejak hari pertama diberikan tugas tersebut. Halaman belakang cukup luas. Sangat memungkinkan sebenarnya melakukan panahan dengan jarak 6 meter, seperti yang ditentukan. Apalagi, sejak 4 hari yang lalu, cuaca cerah, bintang terlihat begitu terang berserakan di langit biru yang gelap. Dan jam tangan Cia masih menunjukkan pukul 19.30. Sangat meyakinkan untuk memulai latihan itu sekarang.

Cia mengangkat anak panah dan busurnya ogah-ogahan. Sekali tarikan, malah menancap di batang pohon yang lain. Sekali lagi, malah menancap ke udara, alias nyasar. Semakin lama memang semakin dekat ke arah titik tengah. Hingga di percobaan ke-10, anak panah Cia menempatkan ujungnya tepat di titik hitam berwarna tengah. Cia merasa angin yang menggesernya. Hanya sebuah kebetulan. Lagipula di hari ujian dilangsungkan, hanya diberi 3 kali percobaan, bukan 10 kali. Ketika akan membuat percobaan ke-11, Cia mendengar nada dari piano di ruang tengah. Paling juga ayah, pikir Cia. Tapi semakin lama didengar jelas bukan ayah. Nada piano dimainkan satu-satu, dan terkesan berantakan.

Cia segera menaruh anak panah dan busurnya, berlari ke ruang tengah. Sampainya di ruang musik, Cia melihat Kevin belajar piano.
“Eh Kak Cia. Ada apa kak?” tanya Kevin melihat kedatangan Cia
“Kamu ngapain? Dah izin sama ayah?” tanya Cia balik
“Ini kak. Dari sekolah ditugasin harus bisa mainin satu alat musik dan satu lagu dengan alat musik tersebut.” Jelas Kevin tanpa menjelaskan apakah ayah sudah mengizinkannya atau belum.
“Tugasnya dikasih kapan? Untuk kapan?” tanya Cia lagi
“Dikasihnya tadi untuk minggu depan.” Jawab Kevin.
“Kok latihan sekarang? Kan masih lama lagi.” Cia semakin penasaran.
“Kak ada peribahasa mengatakan, Don’t wait until tomorrow, what you can do now.” Jelas Kevin lagi
“Satu lagi mau kakak tanya. Kenapa milih piano? Kenapa gak pianika aja? Kamu main pianika aja ribetnya luar biasa. Emang mau bawa lagu apa?” tanya Cia bertubi-tubi
“Ih kakak udah kepo, kata-katanya menyakitkan jiwa lagi. Aku milih piano karena pianika itu udah terlalu “MAINSTREAM”. Aku kan “EKSTREM”. Aku bukan mau bawa lagu tapi alunan musik “Leau Vive”. Kak, segala sesuatunya kan harus dicoba. Emang kayak Kak Cia, pake istilah “Bakat-Bakatan”?” jawab Kevin
“Udahlah pasti kamu gak bisa..” kata Cia
“Belum dicoba mana tahu..” kata Kevin balik

Cia kembali ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya tidur. Selain itu, hatinya juga sedikit tersenggol dikritik Kevin seperti itu.

1 jam berlalu, Cia tersentak bangun, mendengarkan bunyi alunan piano begitu indah. Cia mendengarkan hingga selesai. Sungguh membuat tenang. Lalu pintunya diketok kasar oleh Kevin.

“Kak bangun. Liat aku main piano. Aku udah bisa.” Kata Kevin dari luar kamar Cia
“Iya-iya besok kakak lihat. Kakak udah ngantuk nih.” Jawab Cia dari dalam

Cia sebenarnya berbohong. Cia memang mengantuk. Tapi bukan itu alasan Cia tidak melihat Kevin bermain piano. Cia malu pada dirinya sendiri dan pada Kevin.

Setengah jam berlalu, Cia benar-benar ke luar dari kamar. Bukan untuk melihat Kevin latihan. Sebab Kevin juga sudah tidur. Cia kembali ke halaman belakang.

Suasana sudah semakin gelap menandakan hari sudah semakin larut malam.
Cia mengangkat busur dan panahannya dan mulai menarik. Panahannya mengenai titik hitam kertas panahannya. Kali ini Cia yakin bukan sebuah kebetulan. Sekarang Cia tahu tak perlu bakat untuk memanah. Semua berasal dari keinginan terdalam dirinya. Hatinya.
Wah… Besok Cia harus bereterimakasih pada Kevin. Pada Riko juga.

Cerpen Karangan: Fanny Yolan Tamba
Facebook: Fanny Yolan Tamba
Anak Pisang

Anak Pisang

Judul Cerpen Anak Pisang

Tiada hari tanpa aroma pisang goreng di dapur emak. Itu yang Ana rasakan ketika terbangun dari tidurnya. Dan aroma teh panas menyapa pagi Ana dengan kehangatan. Ia mengunyah pisang sembari sesekali meneguk teh hangat buatan emak. Ana hanya tinggal berdua dengan ibunya yang biasa ia sebut dengan sebutan emak sebab tahun lalu ayahnya meninggal dunia karena sakit. Untuk itu Ana harus menjual pisang goreng buatan emak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolahnya.

Seperti biasa Ana harus menitipkan sebagian barang dagangannya di kantin dan sebagiannya lagi ia jual kepada teman-teman kelasnya. Ana adalah murid yang pandai di sekolah, predikat juara umum masih ada pada genggamannya. Tidak hanya prestasi akademiknya yang menonjol prestasi non akademik pun ikut muncul berdampingan mengiringi harinya. Ia sangat pandai membuat puisi dan cerpen karena itu menulis adalah hobinya sejak kecil. Tiap tahunnya ia selalu mewakili sekolah mengikuti ajang lomba cipta puisi hingga ke tingkat Nasional.

Tetapi walau begitu tidak ada yang ingin berteman dengannya. Mereka semua malu berteman dengan Ana hanya karena Ana seorang penjual pisang goreng keliling. Tiap hari cacian dan cibiran datang menghampiri tetapi semangatnya mengalahkan emosinya. Kini Ana menyadari ia sudah duduk di bangku kelas XII SMA karena itu Ana tidak terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan tentangnya. Sikapnya memang cuek.. tetapi sebenarnya dia memiliki hati nan lembut. Ibunya selalu mengajarkan untuk bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain.

“dasar anak tukang jual pisang!! Pergi lo.. dari kelas ini.. lo enggak pantes berada di sekolah ini. Sekolah ini hanya untuk orang-orang high class kaya kita.” Cibir tasya. Walau begitu Ana tetap tidak peduli ia tetap membaca bukunya walau ribuan mulut memcaci. “heh.. anak pisang!! Lo denger enggak sih? Enggak punya telinga?” bentak Tasya sembari melempar buku tebal ke arah muka Ana. Yap!! Hampir saja buku itu mengenai muka Ana, untung saja seorang pria bertubuh tinggi menangkap buku yang hampir mengenai muka Ana. “Apakah hanya orang-orang high class yang boleh berada di sini?” matanya menatap tajam mata Tasya dengan penuh emosi. Mulut tasya mulai bergumam sembari memainkan pulpen. “jawab!! Setidaknya dia berada di sekolah ini karena otaknya bukan uangnya.” Ujar pria jangkung dengan sinis.
Tasya hanya terdiam saat mendengar perkataan pria itu. “terimakasih” ucap Ana singkat sembari memegang buku dan meninggalkan ruang kelas. Ia berjalan menuju kantin untuk mengambil hasil penjualan pisang hari ini.
“pisangmu laku terjual dan kalau bisa besok bawa yang lebih banyak lagi Ana, ini uang penjualan pisang hari ini.” Ujar ibu kantin “terima kasih banyak, bu.” Ucap Ana.

Sepulang sekolah Ana di rumahnya sudah ada selembar surat yang menyatakan bahwa pihak penerbit tertarik dengan naskah yang ia kirim tahun lalu. Dan akan menerbitkan novel Ana berjudul “Tawa Mentari Pagi” esok lusa.

Beberapa hari setelah penerbitan bukunya ia mendapat kabar bahwa novel ciptaannya laku terjual hingga ribuan. Sore ini ia pergi ke kantor pos untuk mengambil uang hasil penjualan novelnya sebesar Rp. 35.000.000. “emak… emak.. lihat ini mak.” Teriak Ana dari ruang tamu. “iya ada apa Ana? Uang sebanyak ini milik siapa Ana?” tanya emak dengan muka terkejut. “ini hasil dari novel yang diterbitkan minggu lalu, Mak. Uangnya Ana akan gunain untuk modal dagangan emak.” Emak merasa sangat bahagia dan memeluk Ana dengan erat. Ana adalah anak semata wayang hal itu tidak membuatnya menjadi anak yang manja. Ia juga pandai memanfaatkan kesempatan luang yang ada.

Keesokan paginya di sekolah anak-anak ramai membicarakan novel terbitan terbaru. Mereka terkejut ternyata penulis novel tersebut adalah Ana. Berbeda dengan Tasya ia tetap saja berlagak sombong. “apaan sih.. baru juga jadi penulis novel. Nih ya kalian liat nanti seorang Tasya akan menjadi artis besar. Dan kalian pasti akan mohon-mohon minta foto. Kalo penulis doang sih.. ya lama-lama juga meredup.” Ujar Tasya dengan nada sinisnya. Mendengar ucapan Tasya, Ana hanya tersenyum. Rupanya buku tidak dapat terlepas dari tangannya. Bahkan ketika teman-temannya makan di kantin ia lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Bagi Ana pisang yang emak buat pagi hari itu sudah cukup mengisi perutnya yang kosong. Uang sakunya ia tabung untuk kebutuhan lainnya.

“Ana selamat ya kamu sudah berhasil menerbitkan novelmu, ibu suka sama karya satramu itu. Terus berkarya Ana, tetapi ingat lusa sudah mulai UN jadi kamu harus terus belajar.” Kata Bu Berta dengan penuh motivasi. “siap bu!!” berlari ke ruang kelas. “nih ya guys.. papah aku udah siapin guru privat terbaik di kota ini. Jadi kemungkinan juara umum UN tahun ini akan Tasya genggam.” sembari tertawa kegirangan. “wah papah kamu hebat juga ya, Sya.” Puji Lina dan teman-teman yang lainnya. “heh anak pisang!! Jangan harap predikat juara umum akan jatuh ke tangan lo. Urusin aja tuh pisang lo.. biar gak basi.” Ujar tasya, “mau lo apa sih, Sya?” ujar Raka. “udah Raka enggak ada gunanya ngeladenin orang kaya Tasya. Mending abaikan udah biasa juga kan dia ngomong gitu. Dan itu enggak berpengaruh sama sekali.” Jelas Ana

Di rumah ibunya membuka warung aneka pisang. Dan siang ini Ana menggantikan ibunya berjualan di warung karena ibunya mendadak sakit. Sesibuk apapun Ana ia masih menyempatkan diri untuk belajar sambil berjualan. Tidak ada rasa malu dalam dirinya karena ia tahu apa yang ia lakukan itu sangat bermanfaat. Malam harinya ia tetap belajar karena Ujian Nasional akan berlangsung lusa. Ia tidak ingin mendapatkan nilai merah pada mata pelajaran yang diujikan.

Saat ujian berlangsung Ana mengerjakan semua soal dengan tenang. Yang ada di pikirannya hanya lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan penidikannya. Ternyata mimpi tidak hanya sekedar mimpi ketika kita berusaha mendapatkan dengan diiringi do’a apapun bisa terjadi. Seperti yang terjadi pada Ana pada saat kelulusan semua terjadi lebih dari mimpinya. Ia lulus dengan nilai tertinggi dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di London. Semua terbukti ketika kita mampu melawan rasa gengsi dalam diri. dan logika yang berhasil mengalahkan emosi mampu membantu mewujudkan.

Cerpen Karangan: Ratih Rusmiyati
Surga Di Balik Awan Kelabu

Surga Di Balik Awan Kelabu

Judul Cerpen Surga Di Balik Awan Kelabu

Surya yang terbenam di ufuk barat rupanya hendak bersembunyi di balik awan karena hari sudah mulai senja. Kini saatnya bagi Toto untuk berkemas pulang membereskan peralatan kesayangannya itu. Cangkul di kanan dan jerigen air di kiri tangannya yang mungil. Toto yang setiap harinya bergelut di antara padang sawah yang luas membentang, bertahan di bawah teriknya mentari yang menyengat kulit. Namun tak mampu menyurutkan semangatnya begitu saja. Mungkin baginya sekarang hanya cangkul sebagai sahabatnya, karena hampir hari-harinya hanya bertemankan cangkul usang peninggalan ayahnya itu.

Nasib Toto berubah drastis ketika ayahnya meninggal dunia. Dahulu ayahnya adalah seorang juragan yang termasyhur di desa Tunggulpayung, paling selatan dari Indramayu. Ayahnya seseorang yang dikenal baik kepada orang lain. Namun beliau menderita sakit kanker yang cukup parah. Hartanya semakin hari semakin terkuras untuk biaya pengobatan penyakitnya tersebut. Segala hal telah ditempuh untuk upaya penyembuhan Pak Dani. Namun, rupanya Allah berkehendak lain. Pak Dani tutup usia di usianya yang ke-50 tahun. Kala itu Toto masih berusia 12 tahun, Toto masih duduk di bangku SMP. Kepergian Pak Dani rupanya meninggalkan luka yang mendalam bagi Toto dan keluarganya. Semuanya terpuruk, bagaimana tidak Pak Dani adalah sosok yang dermawan dan murah belas kasih. Bahkan, bukan hanya keluarganya yang merasakan kehilangan, tetangga-tetangga di kampung juga turut merasakan duka lekat yang dalam.

Awan kelabu menghiasi hidup Toto setelah kejadian itu, padahal Ujian Nasional akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Belajarnya pun mulai terganggu, guru-guru di sekolah Toto juga mulai menyadarinya. Toto adalah anak yang pintar, ia aktif di kelas dan juga cakap dalam bergaul dengan teman-temannya. Tetapi akhir-akhir ini seperti ada yang janggal dari diri Toto, dia sekarang lebih sering murung dan berdiam diri di kelas.
“To, kenapa kamu dari tadi diam terus. Lagi ngelamunin apa sih?” ujar salah satu temannya. Toto tersadar dari lamunannya.
“Tidak, saya tidak sedang melamun” jawabnya seolah-olah biasa saja.
“Udah jujur aja, kalau ada masalah cerita dong jangan dikubur sendiri. Nanti basi! hehe” sambil tertawa kecil. Toto memang orang yang tidak suka menceritakan hal-hal yang dialaminya kepada orang lain. Pikirnya cukup dia saja yang tahu dan merasakannya, apalagi yang dialaminya sekarang bukanlah sebuah kebahagiaan yang patut dibagi kepada orang lain.

Besok adalah hari yang paling menentukan bagi seluruh murid kelas 9, karena Ujian Nasional akan segera dilaksanakan. Sementara itu, Toto tidak terpikir untuk mempersiapkannya sama sekali. Pikirannya sudah kacau! batinnya juga dalam kondisi yang tidak stabil. Toto hanya berdiam diri di dalam kamar.
“Tok.. Tok.. Tok..!! buka pintu nak!” terdengar suara bu Darmi dari balik pintu kamar.
“Iya bu, ada apa?” jawab Toto sambil membukakan pintu kamarnya.
“Kamu sedang apa dari tadi di kamar terus?” tanya ibunya.
“Oh, saya sedang belajar bu” jawabnya berpura-pura.
“Ya sudah, belajar yang rajin ya!”. “Iya bu”. Bu Darmi pun pergi dari kamar Toto.

Pagi ini mentari terasa begitu cerah, sinarnya menyelinap dari celah-celah jendela yang tak rapat itu. Namun suasana hati Toto masih tetap mendung dan pekat. Burung-burung bernyanyi dan menyapa Toto, bertengger di atas pepohonan mangga di sekitar rumah. Namun Toto tak sedikitpun memalingkan wajahnya. Dia berjalan ke sekolah seperti tanpa jiwa, kaku seperti robot.

“Kring!” Bel masuk rupanya sudah berbunyi. Anak-anak yang lain berlarian masuk, rupanya Toto sudah sejak tadi duduk di kursinya. “Anak-anak hari ini adalah Ujian Naional, ibu berharap kalian mengerjakan soal dengan baik agar mendapatkan hasil yang memuaskan” ucap Ibu guru. “Siap! bu” jawab serentak seisi kelas itu. Semuanya sibuk mengerjakan soal yang telah diberikan, tapi masih ada saja yang saling contek-mencontek.

Hari telah lewat, rupanya besok adalah pengumuman hasil Ujian Nasional kemarin. Rasa penasaran dan gelisah yang bercampur aduk menjadi satu tengah menyelimuti semua murid kelas 9. Di pojok kelas rupanya sudah terpampang deretan nilai, semuanya berkumpul dan bergantian untuk melihat nilai mereka di papan pengumuman. Wajah mereka terlihat bahagia, dengan pipi yang merah merona. Toto pun ikut melihatnya, astaga! Toto berada di urutan paling bawah nilainya hancur! Toto sangat terkejut, dia seperti bangkit dari lamunan panjangnya itu. Dia terkejut bukan main, seperti mendapat cambukan di tengah lelap tidurnya. Toto merasa menyesal selama ini dia tidak mempedulikan semuanya. Dia hanya meratapi kesedihannya dan menyelam jauh di dalamnya. Kalau saja kemarin dia belajar, mungkin hasil yang ia dapat tidak sepahit itu. Tapi semuanya terlambat, nasi sudah terlanjur basi. Andaikan waktu bisa terulang kembali untuk beberapa hari yang lalu mungkin Toto akan belajar dengan keras.

Akhirnya, Toto tidak lulus dan memutuskan untuk berhenti sekolah saja. Alasannnya bukan hanya 1 melainkan 2, yang pertama karena memang dia tidak lulus ujian dan yang kedua semenjak kepergian ayahnya keluarganya jatuh miskin. Semua harta yang dimiliki telah habis untuk pengobatan pak Dani. Kini Toto pasrah akan semua yang telah menimpanya tersebut. Dia menjalani hari-harinya sudah bukan dengan lamunan lagi, melainkan dengan semangat yang penuh untuk menata masa depan yang lebih baik lagi. Toto tidak mau hal yang serupa akan dirasakannya kembali di masa datang. Walaupun sekarang Toto hanya menjadi anak sawah tetapi dia tetap bersyukur dan tidak putus asa.

Semilir angin membelai pepohonan perdu dengan manja, padi di sawah juga ikut bergoyang ria. Terlihat dari kejauhan seorang anak lelaki sedang mencangkul di sawah seberang, sesekali tangannya mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Raut wajah yang lelah terlihat jelas, tangannya yang mungil terus menggerakkan cangkul itu.
“To, sudah kelar belum?” terdengar suara lelaki yang datang menghampirinya. Rupanya pak Haji sang pemilik sawah sedang menengok para pekerjanya.
“Sebentar lagi juga selesai pak” jawab Toto sambil menghela nafas sejenak dan mengusap keringatnya yang bercucuran.
“To, kamu ingin melanjutkan sekolah tidak?” ujar pak Haji. Sontak Toto kaget dengan pertanyaan itu, dengan polos dia menjawab “sebenarnya sih saya pengen melanjutkan sekolah saya pak, tapi saya tidak memiliki biaya” ujarnya dengan suara lirih.
“Kalau urusan biaya gampang, nanti bapak yang biayain sekolah kamu. Asalkan kamu sekolah yang rajin dan mau membantu bapak di sawah” ucap pak Haji tangannya sambil merangkul pundak Toto.
“Ah, yang bener pak?” tanya Toto lagi, tampaknya Toto sangat senang mendengarnya.
“Iya bener, nanti kalau pulang sekolah kamu bantuin bapak di sawah” ucap pak Haji. “Oh, siap pak!” Tegas Toto kegirangan.

Esoknya, Toto dan pak Haji mendatangi sekolah Toto yang dulu. Setelah pak Haji dan Kepala Sekolah berbincang-bincang, akhirnya Toto pun dapat melanjutkan sekolahnya kembali di SMP NEGERI 2 LELEA. Toto mengulang kembali ke kelas 9, karena tahun lalu Toto gagal untuk lulus karena nilai-nilainya buruk. Perasaan bahagia dirasakan oleh Toto saat ini, dia tidak menyangka akan melanjutkan sekolah kembali. Toto pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang sudah didapatnya, dia belajar dengan sungguh-sungguh. Dua semester telah dilaluinya, sebentar lagi saatnya Toto kembali menghadapi Ujian Nasional. Rasa trauma memang masih tersimpan di hati Toto luka lama yang tergores masih menyisakan bekas, namun tekadnya mampu mengubur rasa traumanya tersebut.

Hari telah berganti, di bawah naungan pohon mangga di sekitar persawahan yang teduh terlihat Toto sedang asyik bercumbu dengan buku-buku sekolahnya. Dia tidak mau hasil Ujian Nasionalnya sepahit tahun lalu, dia bertekad nilainya harus memuaskan. Pagi, siang dan malam Toto Tak henti-hentinya belajar. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tepat tanggal 4 Mei 2015 adalah Ujian Nasional hari pertama. Toto berangkat sekolah dengan tekad dan harapan yang penuh. Di sepanjang perjalanan mulut kecilnya itu tak henti-hentinya berdoa, derap langkahnya diawali dengan “bismillahirohmanirohim”.

“Kring!” Bel masuk berbunyi. Toto mempercepat langkahnya, dia tidak mau datang terlambat untuk sebuah awal perjuangannya. Toto masuk ke kelas tepat waktu, nafasnya masih tersengal-sengal. “Tok.. Tok.. Tok!” rupanya pengawas sudah tiba. “Anak-anak hari ini kalian akan melaksanakan Ujian Nasional, tolong dikerjakan dengan jujur ya!” ucap sang pengawas tadi. Toto mengerjakannya dengan sangat hati-hati, rupanya yang telah dipelajarinya kemarin keluar dalam soal-soal tersebut. Toto tidak mau ceroboh, dia memeriksa jawabannya berulang-ulang. Sampai semuanya selesai, Toto kemudian menyerahkan jawabannya ke pengawas. Toto pulang dengan napas lega, dia berharap hasil yang ia dapat tidak mengecewakan.

Di setiap malam Toto selalu bermunajat agar hasil Ujian Nasionalnya memuaskan. Besok adalah pengumuman nilai UN kemarin, Toto merasa sangat gelisah. Hari sudah terbit fajar, mentari sudah terbangun dari tidurnya. Toto bergegas untuk menuju ke sekolah, dengan langkah yang cepat dia menyusuri jalan setapak untuk sampai ke sekolahnya. Anak yang lain sudah berkumpul di papan pengumuman, melihat nilai mereka bergantian. Air mata menetes membasahi pipi Toto, luar biasa! Nilainya sempurna! Toto sangat terkejut melihat hasil UN kemarin, rata-rata nilainya 100! Berbalik 360 derajat dengan hasil ujian tahun lalu. Dengan nilai yang sempurna, Toto lulus menjadi lulusan terbaik se-Nasional. Toto mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar kota. Pak Haji pun ikut bangga dengan prestasi yang Toto raih, namun Pak Haji dan Keluarga Toto harus rela melepaskan Toto untuk melanjutkan pendidikannya di negeri orang. Kini Toto berhasil menjadi seseorang yang sukses, namun kesuksesannya itu bukanlah sesuatu yang mudah didapatnya. Toto mendapatkan cahaya kebahagiaan di balik penderitaan yang hitam. Kini Toto adalah lelaki yang mendapatkan surga di balik awan kelabu.

Cerpen Karangan: Harry Handika
Blog: harryhandika8.blogspot.com
No Hp: O89668149646
Email Aktif: Harryhandika8[-at-]gmail.com