Showing posts with label Cerpen Cinta Pertama. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta Pertama. Show all posts
Tidak Sekalem Yang Aku Pikirkan

Tidak Sekalem Yang Aku Pikirkan

Judul Cerpen Tidak Sekalem Yang Aku Pikirkan

Siang itu aku sedang memainkan instagram. di Beranda, aku melihat akun temanku si Ayu mengupload foto, terlihat beberapa orang terdapat di dalam fotonya, mungkin dia bersama teman-teman sekelasnya. kemudian aku melihat siapa saja yang ditag dalam foto tersebut, dan aku menemukan akun bernama “Nadanyasiapa”, karena penasaran kemudian aku lihat, ah ternyata akunnya privacy, sekilas aku dapat melihat foto profilnya, wah ternyata benar, ini Nada anak kelas A yang cantik itu. Aku sering melihatnya di sekolah, tapi mungkin dia tidak mengenaliku. Dengan perasaan galau akhirnya aku follow akun instagramnya, yah dikonfirmasi saja tanpa difollback juga aku udah sangat senang. Aku memang sering melihat Nada, dia cantik dan terlihat kalem. aku suka wanita yang kalem hehe.

Malam harinya saat aku membuka instagram, aku terkejut setengah mati. Nada tidak hanya mengkonfirmasi instagram aku, tetapi dia juga follback. Sejenak aku terbawa perasaan.

Menjelang Uas aku diajak belajar bareng oleh si Ayu, aku langsung menyetujui karena aku juga bingung tidak mempunyai bahan untuk belajar, belajar kelompok sama anak anak kelas tempatnya kejauhan. Ayu adalah teman sekelasku saat smp, jadi aku sangat mengenalnya.

Saat tiba di rumah Ayu aku dipersilahkan masuk oleh pembantu rumahnya, dan alangkah kagetnya saat aku melihat di sana ternyata juga ada Nada, Nada yang membuatku baper setengah mati hanya karena masalah instagram. kemudian aku duduk menghampirinya.

“Ayu nya mana?”, tanyaku memulai.
“si Ayu katanya lagi jajan dulu”, jawabnya sambil memainkan sebuah tab, ada sedikit kejanggalan pada nada bicaranya.
“oh iya”, kemudian suasana menjadi hening, Nada fokus pada tab nya, dan aku fokus memandangi Nada hehe.

“btw katanya anak anak kelas D ngadain belajar bareng”, Nada kemudian bicara.
hah? dia tau aku kelas d, atau dia bicara pada orang lain. aku hanya diam dan pura-pura membaca buku.
“yah dia diem aja”, ucap Nada. kemudian aku perlahan melihat ke arahnya
“kamu nanya siapa?”, tanyaku gugup.
“duh, emang di sini ada siapa lagi selain kita?”, dia balik bertanya.
“oh hehe iya katanya”, jawabku konyol.

Suara motor terdengar dari luar, rupanya Ayu sudah datang.
“eh Ay ternyata udah di sini”, sapa Ayu padaku. aku tersenyum.
“lu lama banget sih yu, dia udah beku tuh nungguin lu”, ucap Nada.
“hehe maaf”, jawab Ayu.
Aku dibuat spechless, ternyata Nada yang selama ini aku anggap kalem bisa bicara sekasar dan sekeras itu, malahan lebih kalem Ayu daripada Nada. Aku melongo.

“Ay lu mau gak?”, tanya Nada ke Ayu menawarkan makanan.
“buset dari tadi gue dikacangin terus sama ni orang”, lanjutnya.
“oh iya iya nanti kalau mau juga ngambil sendiri”, jawabku, ternyata Nada bertanya padaku. aku benar-benar belum percaya dengan apa yang terjadi.

Saat sedang belajar dan membahas soal-soal, Nada memang terlihat sangat pintar, sudah kuduga. yang tidak kuduga sama sekali adalah gaya bicaranya yang kasar dan nyeplos, tidak sekalem yang aku pikirkan selama ini. aku benar-benar dibuat kaget.

Belajar selesai saat waktu menunjukkan pukul 11 malam, “nad, kamu pulangnya sama Ay aja, kan sejalur”, ucap Ayu.
“lah bilang aja lu males nganterin”, balas Nada. aku hanya terdiam dan memasukkan buku pelajaran ke dalam tas.
“say gimana? lu mau gak nganterin gue?”, tanya Nada. sumpah aku tidak salah dengar, dia manggil Say. (aku memang rada baperan).
“gak bakalan kotor dan harus dibersihin pake air tujuh ember ini kok motornya”, lanjutnya.
“oh i i iya ayo, ayo kalau mau bareng”, responku.

Kemudian aku pulang dengan membonceng Nada di motorku. dia memeluk sangat erat, tangannya melingkar di perutku. entah sudah berapa kali aku dibuat baper olehnya, meskipun aku sudah tau dia tidak sekalem yang aku kira sebelumnya.

“cieee pegangannya erat banget Nad”, goda Ayu.
“berisik lu ah, gue takut”, balas Nada.
“lagian kamu gak apa-apa kan Ay aku peluk seperti ini?”, goda Nada padaku, ternyata bisa juga dia bicara selembut itu, ucapku dalam hati.
“iya gak papa”, jawabku.

Setelah pamitan pada Ayu, aku menjalankan motorku. di perjalanan, Nada banyak bercerita tentang teman-teman di kelasnya padaku, termasuk Ayu. Ternyata Nada benar-benar gampang ramah terhadap orang. Saat aku tanya kok dia tau aku dari kelas D, dia jawab “karena kamu terkenal”, tentunya itu hanya jawaban candaan. Lama-lama aku mulai terbiasa dan aku juga banyak bercerita padanya.

Sesampainya di depan rumah Nada, “Ay maaf ya, bicara gue emang kayak gini, nyeplos, tapi aslinya gue kayak cewek biasanya kok hehe”, ucap Nada.
“iya gak papa kok, santai aja”, jawabku.
“aku masuk dulu ya Ay, kamu hati-hati di jalannya, supaya nanti bisa ketemu aku lagi hehehe”, ucap Nada lagi.
“manis banget”, ucapku.
“besok kita ketemu lagi ya Ay, yang lancar Uas nya”,
“iya Nada, kamu juga yang lancar ya”.

Kemudian aku melanjutkan perjalanan, di jalan aku senyum-senyum sendiri. Aku benar-benar senang bisa akrab dengan Nada. Semoga besok dan kapan-kapan kita bisa melewati waktu bersama lagi hihi.. meskipun aku tau kamu tidak sekalem yang aku pikirkan.

Cerpen Karangan: Ay Rahmat
Blog / Facebook: Rahmat Illahi Ai
Jatuh Cinta Atau Jatuh Hati?

Jatuh Cinta Atau Jatuh Hati?

Judul Cerpen Jatuh Cinta Atau Jatuh Hati?

Saat-saat yang mendebarkan, apakah mungkin aku akan berada di Sekolah favoritku? Ternyata Tuhan berkehendak lain, aku gagal putus asa dalam nyatanya aku tidak bisa menorehkan perasaanku untuk sekolah favoritku.

Namaku Fatimah, yang baru saja kehilangan harapan, karena sekolah yang kuidam-idamkan bukan rezekiku, tak lama berselang temanku Maimun menegurku “Sudah lah Fatimah, jangan kau pikirkan, mungkin Alloh berkehendak lain, coba buka matamu masih banyak sekolah lain yang mau menerimamu”, “Bukan itu Mai, aku ingin sekali membanggakan orangtuaku, kau tau kan aku yang jadi kebanggaan mereka” sahutku pahit, “Iyah Fatimah aku tau tapi mungkin ada rencana Alloh yang lebih indah” balas Maimun sembari menenangkanku, “Kau benar Mai, lantas aku harus bagaimana, sekolah mana Mai?”, “tak usah resah Fatimah, kau bisa bersekolah di sekolahku” jawab Maimun,
Aku pun membalas dengan senyum masam.

Tertutupnya PPDB, terbukannya awal jalan baru bagiku di SMP ku yang baru yang tak pernah kuharapkan, ruang kelas yang dipenuhi coretan-coretan, kamar mandi yang usang menemaniku selama 3 tahun yang akan datang.
“Harusnya aku bisa belajar lebih keras lagi, tapi nasi sudah menjadi bubur. Walaupun begitu tetap harus aku jalani” gumamku

Hari-hari pun berlalu, sudah tidak terbayangkan hal-hal mengerikan sekolah ini, tergantikan dengan teman-teman yang sangat menyenangkan, guru-guru yang care, ditambah lagi baru-baru ini aku akan memulai ujian semester pertamaku, kebahagiaan serasa menyelimutiku, aku pun masih berteman akrab dengan Maimun serta teman-teman sekelasnya, dia lebih tua setahun di atasku.

Ujian semesterku dilaksanakan 1 pekan, dan tempat duduknya diacak tak terbayangkan aku harus sebangku dengan kakak kelasku yang sangat jail, setiap hari selama ujian semesterpun tak pernah terlewatkan 1 hari tanpa dijailinnya diriku..
Hingga hari terakhir ujian semester pertamaku dia Putra menyatakan perasaannya bahwa ia telah terlena olehku. Sontak terkejutku, seperti pohon yang tiba-tiba tergugur daun-daunnya. Aku tak membalas apapun karena aku tak ingin menyakiti hatinya dan hatiku. Terpikir bahwa dia hanya main-main saja, ternyata salah.

Hari senin kami bertemu di dekat kamar mandi, dia memandangku dengan sejuta pertanyaan menunggu satu pernyataan dariku, karena saat itu aku hanya ingin memuaskan senyumnya aku pun menjawab “Ya Putra” dia pun berlari ke kelas dengan bahagianya. Setiap hari tak pernah terlewati tanpa senyuman saat berpapasan dengannya, kejailan Putra selalu dapat membuatku tertawa lebih kencang dari biasanya, perlahan perasaanku mulai berubah menyanyanginya.

Lambat laun kami pun menjalani status rumit ini, tapi yang membuatku bertahan karena sikapnya yang sopan terhadapku. Hingga akhirnya bunda dan ayah mengetahui bahwa aku menjalin hubungan dengannya, dan mereka pun mengutukku sejadi-jadinya. Karena mengetahui bahwa Putra bukanlah orang jawa, dan bukan lelaki yang sekeyakinan dengan keluargaku

Aku pun memutuskan kebahagianku dengannya, mudah saja kuucap “Putra maaf bunda sudah mengetahuinya, kita tak dapat lagi bersama” menyiksa sekali mengucapkannya dengan nafas terhela Putra pun menjawab “tak apa-apa Fatimah, mungkin suatu saat nanti jika Tuhan menakdirkan kita bersama” seraya menutupi keluh dimatanya dengan senyum, aku pun hanya mengangguk.
Airmata terus menembus melembabkan lesung pipiku, dan dia pun begitu, semuanya berjalan menyakitkan.

Periode berlalu begitu cepat hingga kelulusan pun menyertainya, tersisa aku sendiri dan kenanganku yang masih melengkapi rasaku yang Jatuh Cinta bersamanya hingga Jatuh Hatiku sendirian.

Cerpen Karangan: Sonya
Blog / Facebook: Siti Sonyaa S
Kisah Cinta Pertamaku

Kisah Cinta Pertamaku

Judul Cerpen Kisah Cinta Pertamaku

Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi.
Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian orang menyatakan bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah dan mengukir cerita cerita yang akan dijalani bersama teman baru. Pada waktu itu usiaku masih 15 tahun. Kurasa aku belum siap untuk merasakan apa itu cinta.

Seiring berjalannya waktu, ada seseorang yang hadir di hidupku. Awalnya aku sama sekali tak mengenalnya. Dia bernama Khasan Munawir, walau dia alumni smp yang sama sepertiku. Tapi aku mengenalnya saat sudah lulus. Menurutku dia orangnya kurus, agak tinggi, item tapi manis. Ya jujur aku suka orang yang item manis. Kita menjadi akrab karena sering chatingan via bbm. Namun kita tak bersekolah di tempat yang sama. Awalnya aku bingung dengan sikapnya yang perhatian padaku.
Aku takut dia cuma ingin mempermainkanku seperti halnya orang bilang banyak cowok yang cuma bisanya mainin perasaan cewek. Ya kata kata itu membuatku takut untuk mengenalnya lebih jauh.

Waktu kurasa sangat singkat, sekitar 1 bulan aku mengenalnya. Entah perasaan apa itu? apa mungkin itu cinta? aku terus bertanya-tanya.
Tepat tanggal 26 Agustus 2016 dia menembakku, tapi sayangnya via bbm. waktu itu aku sangat bingung, harus menerima atau tidak. Ya mungkin karena aku takut pacaran. Tapi aku telah jatuh cinta padanya, jadi aku mencoba untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dia cinta pertamaku, dan aku cinta pertamanya juga.

Berbulan-bulan sudah sejak hadirnya dia di hidupku, aku merasa bahagia, merasa ada yang beda dari hidupku. Hidupku jadi lebih berwarna. Waktu itu aku memiliki sosok penyemangat dalam hidupku. Walau kita jarang bertemu, tapi aku bahagia bisa memilikinya.

Pada saat itu kita bertemu di smp untuk mengambil SKHUN. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi entah kenapa aku merasa malu dengannya. Pada waktu bertemu dia memanggilku “sayang”. Jantungku berdebar-debar. Tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ya kita sering memanggil sayang tetapi tidak secara langsung, tapi hari itu dia memanggiku sayang. Namanya juga baru pacaran pertama kali jadi ya masih malu-malu.
Kita berdua duduk di depan sekolah, ya hanya beberapa kali bercakap. Lebih seringnya tersenyum satu sama lain.

Waktu terus berputar maju, hubunganku dengannya masih manis, dan kita juga sering bertemu. Rasanya pun tak canggung lagi. Ya walaupun banyak masalah datang, entah itu PHO dan yang lain. Tapi kita bisa menghadapinya.

Menyedihkan pada waktu itu dia menghilang seminggu lebih, aku tak tau mengapa dia hilang. Padahal waktu itu aku sedang membutuhkannya untuk memberiku semangat, karena aku lagi UKK. Menghilangnya dia membuatku tak fokus belajar, pikiranku kacau karenanya. Dan pada saat aku ultah, dia pun msih menghilang. Padahal aku berharap dia ngucapin atau ngasih surprise. ehh ternyata nggak. Hatiku terus bertanya-tanya ke manakah dia? Mengapa dia menghindar dariku? Aku salah ap? Pikiranku dipenuhi dengan semua pertanyaan itu.

Liburan semester 1 tiba, dan aku berharap banyak waktu untuk bisa bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak. Saat itu dia akan pindah sekolah dan mondok di Banyuwangi. Saat kita bertemu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“kamu sebenernya mau ke mana sih?, kok status facebook kamu gitu.” tanyaku
“aku mau pindah yang, aku mau mondok.” balasnya
“mondok di mana?”
“di Banyuwangi”
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa diam. Dan pikiranku mulai kacau, “mengapa dia harus pergi meninggalkan?” batinku.
aku menangis setiap harinya. ya kita bakal jarang ketemu atau bahkan tak bisa lagi ketemu.

Disaat mendekat hari dia akan pergi. Aku memintanya bertemu, tapi dia selalu tak mau, alasannya karena sedang sibuk.
Tapi sehari sebelum dia pergi, kita sempat bertemu. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.
Kita bertemu di stasiun, ya aku hanya diam dan merasa sebal dengannya. Aku tak berani berbicara, entah kenapa. Mungkin dia marah denganku, karena aku meminta untuk bertemu. Tak ada obrolan yang serius, padahal aku ingin bertemu untuk bicara soal dia pindah. Tapi aku tak berani.

Ehh tiba-tiba ada polisi datangin kita.
“dek, lagi ngapain di sini? Pacaran kok di sini. Sana pulang” kata polisi.
“iya pak,” aku dan khasan pun pulang.

Menyebalkan sekali belum bicara apa-apa udah disuruh pulang aja. Untung saja hp dia ketinggal di aku, aku bingung harus mengembalikan atau membiarkan dia menemuiku. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi tidak sendiri, aku minta temenin temenku. Ya waktu itu aku belum tau tepat rumahnya, tapi aku tau daerah dan arahnya.

Di rumah dia, aku disuruh masuk. Tapi aku tidak mau. Aku cuma di samping rumahnya. Ya itu menjadi terakhir kali kita bertemu. Sedih sih, tapi aku tak berani menunjukkan kesedihanku. Ya untuk kenangan aku memberinya jam tangan, couple sama aku. Berbicang-bicanglah aku dengannya.

“Sayang, I love You,” ucap khasan sambil menciup tanganku.
Aku hanya diam dan tersenyum.
Baru pertama dia bilang i love you secara langsung, dan mungkin juga yang terakhir kalinya. Dia juga berkata padaku “Sayang, jika kita memang berjodoh, pasti kita dipertemukan kembali.”
“Amin yang.”

Hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pulang.
“Hati-hati di jalan yah sayang,” kata khasan.
“Iya,” balasku.

Hari itu takkan bisa kulupakan. Hari dimana kita bertemu untuk terakhir kalinya. Dan hari hari berikutnya kita berpisah. Bukan berpisah hubungan, tapi terpisah oleh jarak dan waktu. Membiasakan Hari-hariku tanpa adanya Khasan di sampingku. Menjalin kisah LDR, bagiku berat untuk kujalani. Tapi dengan komitmen dan saling setia, juga saling percaya satu sama lain mungkin kita bisa njalanin hubungan ini. Ya aku tak tau apa hubungan kita akan berjalan mulus atau tidak. Aku hanya bisa berdoa kelak kita berjodoh dan dipertemukan kembali.

Cerpen Karangan: Dwi Rahmawati
Blog / Facebook: dwirahma05.wordpress.com / Dwi Rahma X-com
Catatan Sang Engineer

Catatan Sang Engineer

Seorang Pemuda berparas biasa dan penampilan rapi dengan raut muka serius menatap langit pada sore hari itu. “Sepertinya sudah jam 3.30 sore!”, ucap pemuda itu di dalam hatinya. Dia pun meluruskan pandangan ke depan sembari melangkahkan kaki ke sebuah Mushola yang ada di sekitar situ untuk menunaikan sholat Ashar.

Namanya adalah Alzi, seorang pemuda Jenius yang memiliki Kemampuan Intellektual type Logikal-Matematikal, Naturalis, Intra Personal dan Inter Personal diatas rata-rata. Dia juga memiliki kecerdasan Spiritual yang bagus. Dengan kata lain dia pemuda yang jenius dalam bidang eksak/Ilmu Pasti, bisa membaca alam sekitarnya, sensitif terhadap perasaan yang dirasakan orang lain, pandai membawa diri, rajin sholat dan mengaji.

Umurnya baru 17 tahun, namun dia sudah kuliah tingkat akhir di sebuah Universitas ternama di negeri ini. Karena bakatnya yang luar biasa, pada umur 15 tahun dia sudah lulus SMA dengan sistem akselerasi. Dan beberapa bulan lagi akan lulus dari Universitas dengan predikat Cum Laude dan Sarjana termuda yang pernah ada di Universitas tersebut.

Dari segala macam kelebihan yang dia miliki, hanya satu kekurangan dirinya. Yaitu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Dari sekian banyak gadis cantik yang ada di Kampus tersebut, tidak satu pun yang bisa membuatnya jatuh hati ataupun membuatnya merasakan pengalaman jatuh cinta.
Baginya jatuh cinta adalah perbuatan sia-sia, tidak produktif dan buang-buang waktu. Definisi jatuh cinta menurut Alzi hanyalah reaksi biologis yang dipicu oleh hormon testosteron dan feromon. Bukan hal hiperbola yang populer digambarkan dan ditulis dalam buku Shakespeare atau Novel-novel percintaan Tere Liye dan Komik Tatang S. yang digandrungi banyak orang.
Malah baginya Jatuh cinta adalah hal yang berbahaya karena dapat memicu jantung bekerja lebih cepat dan bila hubungannya tidak berjalan lancar, dapat mengakibatkan sakit hati hingga kematian.

Sakit hati disini bukan hanya kata kiasan, namun sakit hati dalam arti literal sesungguhnya. Karena dalam Ilmu Biologi, otot tendon jantung bisa putus setelah mengalami Trauma Emosional yang akut, sehingga jantung tidak bisa memompa darah dengan efektif. Jadi, manusia benar-benar bisa mati karena patah hati.

Hari mulai malam, Alzi berjalan menyusuri trotoar yang kusam tertutup debu. Dia berniat untuk mencari penjual nasi goreng untuk mengisi perutnya yang yang sudah terasa lapar. Beberapa langkah berjalan, suasana nampak sepi sekali, tidak ada seorangpun terlihat. Tiba-tiba Alzi melihat sesosok gadis berpakaian serba putih, berdiri di samping jembatan.

Bila orang pada umumnya akan lari karena takut mengira gadis tersebut adalah hantu, namun tidak demikian halnya dengan Alzi. Baginya hantu hanyalah proyeksi spontan pikiran manusia yang sedang ketakutan sehingga sekelebat bayangan saja bisa nampak seperti sosok hantu mengerikan.

Setelah proses pemikiran dan logika yang panjang, Alzi menyimpulkan bahwa sosok gadis tersebut bukanlah hantu, melainkan objek solid yang bisa dipastikan adalah manusia biasa, karena dia terlihat sedang melahap roti isi. Alzi pun melangkah mendekati gadis tersebut dan berkata.
“Maaf mba, boleh saya minta roti isinya?”. Pinta Alzi dengan nada datar. Rupanya rasa lapar di perutnya bisa mengalahkan rasa takut bahkan rasa malu yang ada dalam diri Alzi.
Gadis tersebut menoleh ke arah Alzi dan memasang raut muka terkejut sekaligus geli mendengar perkataan Alzi yang spontan dan lucu. Tak lama kemudian gadis itu berkata.
“Boleh, tapi kamu harus perkenalkan namamu dulu!”, ucapnya pendek.
“Nama saya Alzi, panggil saja Al, seorang Mahasiswa tingkat akhir di Universitas!”. Alzi terdiam sejenak, tak lama kemudian dia kembali berkata “Jadi, boleh saya minta roti isinya?”.
Gadis tersebut tertawa geli mendengar ucapan Alzi. Baru kali ini dia bertemu seorang lelaki yang belum dia kenal sebelumnya tapi berani meminta sesuatu kepadanya. Mengingatkan dia dengan seniman terkenal Jackson Pollock, seorang pelukis dengan gaya abstrak ekspressionis. Gayanya mirip dengan pria bernama Alzi ini, bisa mengekspresikan dirinya meskipun terlihat abstrak dan membuat semua orang penasaran.

“Ambillah, ini untukmu!”, ucap Gadis tersebut sembari mengulurkan tangannya yang memegang sepotong roti kepada Alzi. “Namaku Avina, panggil saja Avi!”.
“Jadi, kamu Avina?”, Alzi kaget seolah tak percaya. “Gadis dari fakultas sastra yang kaya, cantik dan paling digandrungi semua pria di kampus?”.
Alzi terkejut karena bertemu Avi di malam yang sepi dan dalam kondisi tak terduga seperti ini. Penampilan Avi juga jauh dari kata glamor yang biasa melekat pada seorang gadis putri jutawan yang digembar-gemborkan semua orang di kampus.

Avi tersenyum. “Itu semua hanya rumor, jangan terlalu berlebihan!”, sergahnya kepada Alzi. Seolah memberitahukan bahwa dirinya tidak seperti yang dirumorkan.
“Jadi, kamu Alzi, Mahasiswa yang Jenius itu ya?”. Air muka Avina berubah penasaran. “Apa benar kamu sejenius yang dirumorkan?”, tanya Avina.

Dari beberapa pertemuannya dengan gadis lainnya. Entah kenapa pertemuan ini seperti memiliki sensasi berbeda untuk Alzi. Seolah ada gaya gravitasi dari Avi yang menarik Alzi untuk mengorbit mendekatinya. Dia seperti tertantang untuk menjawab pertanyaan Avi untuk menunjukkan kejeniusannya.
“Namamu Avina, Lahir di Kota B, 1 April 1993. Ayah bernama X, Ibu bernama Y. Alamatmu di Kota C, bla, bla, bla”, tukas Alzi dengan nada antusias mengucapkan data diri Avina dengan lengkap.

Avina hanya bisa memasang raut muka terkejut sekaligus kagum. Bagaimana mungkin dia bisa menghafal semua itu, yang bahkan Avina sendiri tidak bisa menghafalnya diluar kepala.
“Wow, luar biasa, Al! Bagaimana kamu bisa menghafal semua itu?”. Tanya Avina dengan raut muka penasaran.
“Mmm, aku cuma tidak sengaja, melihat data diri kamu waktu berada di ruang Fakultas!”, ucapnya dengan nada datar menjawab pertanyaan Avina. “Jadi, aku boleh makan roti isi ini? Perutku sudah lapar!”. Raut mukanya berubah memelas memandang ke arah Avina.
Avina tersenyum simpul mendengar perkataannya. Melihat tingkah laku dan perkataan Alzi, membuatnya bisa tertawa dan sejenak terhibur dari penatnya kehidupan. Bagi Avina, Alzi mungkin adalah salah satu Karya Seni ciptaan Tuhan yang jarang sekali, atau mungkin satu-satunya yang bisa menghibur dirinya hanya dari percakapan biasa dan melalui pertemuan konyol yang tak disangka-sangka.
“Kamu pria yang lucu, Al!. Makanlah dulu, sebelum nanti kamu pingsan”. Tukasnya seraya mempersilahkan Alzi menghabiskan roti isi pemberiannya.

Avi dengan seksama memperhatikan Alzi yang lahap menyantap roti isi pemberiannya. Tidak ada yang menarik sedikitpun dari pria ini, wajah biasa, penampilan biasa, bahkan dilihat dari tingkah lakunya cenderung spontan dan ceroboh. Tidak sedikitpun terpancar aura yang dapat memikat hati seorang wanita. Tapi, ada sisi lain dari dirinya. Sisi lain yang membuat Avi nyaman berada di dekatnya. Dia tidak merasa canggung sedikitpun mengobrol di pinggir jalan sambil memberikan roti isi miliknya. Dia juga tidak segan tertawa terpingkal-pingkal melihat dan mendengar tingkah laku dan perkataannya yang lucu.

Selesai menghabiskan roti isi dari Avi, Alzi lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus coklat dan memberikannya kepada Avi.
“Ini untuk kamu, sebagai pengganti roti isi yang saya habiskan”. tukasnya pendek. Sejurus kemudian, dengan rasa penasaran Alzi berkata, “Jadi, usia kamu diatas saya? apa saya perlu memanggil kamu Kak Avi?”.
Dengan refleks, Avi mencubit kedua pipi Alzi dengan gemas. “Tidak sopan bicara tentang usia seorang gadis di hadapannya, Al!. Kamu boleh panggil namaku saja, tidak perlu pakai “KAK”, mengerti?”. Ujarnya dengan nada kesal seraya melepaskan cubitannya.

Alzi mengelus kedua pipinya yang memerah karena dicubit Avi. Kendati begitu, tidak sedikitpun dia merasa sakit atau kesal diperlakukan seperti itu. Entah kenapa, seperti ada gaya gravitasi khusus berasal dari gadis bertubuh kecil dan rapuh bernama Avi. Menarik dirinya sedemikian hebat ke arah Avi, lebih besar dari gaya gravitasi bumi, bahkan gaya gravitasi Matahari sekalipun, yang menarik semua planet tata surya mengorbit mengitarinya. Membuatnya ingin bertemu kembali dengan Avi dan selalu berada di dekatnya.

“Apa aku boleh, bertemu denganmu lagi nanti?”. Tubuh Alzi bergetar hebat sehabis mengucapkan itu. Seperti beban berat melebihi energi kalori yang lepas dari tubuhnya terlepas.
Avi tersentak mendengar permintaan Alzi. Dia merasa seperti tokoh dalam salah satu novel roman picisan karya Paolo Coelhoe. Seorang sastrawan terkenal di bidang literatur. Hatinya bagai tertusuk panah dewa cinta yang dilesakkan seorang pemuda biasa, yang lebih muda darinya. Sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan dari seorang pemuda tampan dan jutawan bintang kampus sekalipun yang dulu pernah menggodanya. Dia mencoba tenang dan menjawab permintaan Alzi.
“Tentu, aku akan senang sekali bertemu denganmu lagi!”, ucapnya lembut seraya tersenyum manis memandang wajah Alzi.

Alzi tertegun kaku, baru kali ini ia merasakan hal seperti itu. Sensasi unik yang dia rasakan akibat reaksi biologis yang dipicu oleh hormon testosteron dan feromon. Perasaan bercampur aduk antara gembira, cemas, senang, jantung berdegup lebih kencang dan pandangan mata sejenak terasa lebih tajam. Perasaan apakah itu? mungkinkah cinta?. Ucap Alzi didalam hatinya. Dia lalu mencoba membalas senyuman Avi dengan menyeringai kaku. Seperti robot beta yang baru diuji coba.

Mereka berdua pun membalikkan badannya masing-masing. Beranjak melangkah menjauhi tempat mereka berdiam. Dalam hati, mereka tidak sabar menanti momen ketika mereka bertemu kembali. Pertemuan unik antara seorang Pria Engineer dengan seorang Gadis Sastrawan.

Cerpen Karangan: Algi Azhari
Facebook: www.facebook.com/algi.azhari
Blog: algigemini.blogspot.com
Qurban Perasaan

Qurban Perasaan

Judul Cerpen Qurban Perasaan

Tepat hari ini adalah hari raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha. Aku sudah tidak dapat lagi menahan perasaanku yang selama ini aku pendam kepada seorang wanita. Dia adalah Shinta, menurutku Shinta adalah wanita paling cantik di kelasku, dia juga siswi paling pintar di kelas, terbukti dia selalu menjadi juara pertama. Dan aku adalah Andi, aku adalah seorang anak laki-laki bertubuh kecil, berkulit tidak terang, sedikit kurus dan tidak terlalu keren, tapi tetap manis kalau lagi senyum. Aku adalah pribadi yang humoris, sehingga siapa saja yang berteman denganku pasti sering tertawa melihat tingkah lakuku. Dan aku adalah siswa paling pintar kedua di kelas, terbukti aku selalu menjadi juara kedua setelah Shinta.

Aku dan Shinta memang sangat akrab, kami sering belajar bersama, bercanda bersama, dan SMS-an bersama juga. Kami sering jadi bahan ejek-ejekan dan dijodoh-jodohkan oleh teman-teman yang lain karena kedekatan kami ini. Karena kedekatan kami inilah membuat aku menjadi suka dengan Shinta, dan juga melihat respon Shinta yang selalu positif kepadaku. Mungkin dia juga menyukai ku. “Aaah… Entah aku yang ke GR-an atau apapun itu, yang jelas aku harus mengungkapkan perasaanku ini padanya.” Dalam hati aku berkata.
Jujur ini adalah kali pertama aku jatuh cinta kepada seorang wanita, entah bagaimana cara mengungkapkanya aku pun tak tahu, mungkin aku bisa meniru gaya-gaya di film sinetron romantis atau apalah itu.

Tepat hari ini adalah momen yang pas dan mudah diingat, dimana semua orang bergembira, yang galau jadi senang dan yang senang makin senang. Yaitu hari raya Qurban atau Idul Adha. Aku harus bicara dengan Shinta tentang perasaanku ini.
“Oke, hari ini aku harus mengungkapkan perasaan ini kepada Shinta.”

Aku pun mengirim sebuah pesan ke Shinta lewat SMS.
“Hay Shin, aku boleh ke rumah kamu gak sekalian mau silaturrahmi, mumpung lagi momen Idul Adha.”
Tak lama kemudian Shinta membalas SMS dariku.
“Oh iya Andi silahkan, kebetulan ada teman-teman yang lain yang juga datang ke rumahku.”
Padahal aku berharap hanya ada aku dan Shinta saat itu, tapi mau bagaimana lagi, ya sudahlah.
Aku pun segera berangkat menuju rumah Shinta yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

Akhirnya aku tiba di rumahnya, aku pun mengetuk-ngetuk rumahnya sambil memanggil-manggil namanya.
“Tok.. Tok tok.. Shinta..!” Tak ada jawaban.
Aku kembali mengetuk pintunya.
“Tok tok to..”. Tiba-tiba pintu terbuka, muncul seorang bapak-bapak berkumis tebal dan berbadan gemuk, dan aku masih mengetuk, tapi yang aku ketuk adalah jidad si bapak itu.
“Ada apa ini dek, berisik di depan rumah orang”. Sambil matanya melotot kepadaku.
“Anu pak, saya maaamaauuu caarrii sshhiin shiin taa..” Sambil gemetar, tapi tidak sampai ngompol.
“Di sini gak ada yang namanya Shinta.” Braaakkk… Pintu ditutup dengan keras.
Huh sepertinya tak salah lagi, aku salah rumah, sialan. Sudah jatuh ketiban tangga. Sudah salah rumah eh juga kena marah-marah bapak berkumis, tapi untung saja… Aku pun memeriksa celanaku. Ya aman aku gak ngompol.

Tiba-tiba ada yang memanggilku di seberang rumah bapak tadi. Ternyata itu adalah Shinta.
“Andi, ke sini!”
Aku pun menghampirinya.
“Hay Shinta!” aku menyapanya.
“Hay juga, oh ya ngapain tadi kamu ke rumah pak Tono?”
“Haha iya, tadi aku silaturrahmi gitu sama beliau.” Sambil senyum-senyum terpaksa.
“Oh ya, wah kamu berani yah, padahal Pak Tono itu terkenal galak lo di daerah sini.”
“Ah masa, beliau baik kok.” Dalam hatiku, iya betul galak banget Shin. Untung saja Shinta gak tau yang sebenarnya, bisa-bisa aku beneran ngompol karena malu.
“Andi masuk dulu yuk!”
“Iya Shin. Oh ya Shin, teman-teman yang lain pada kemana ya, katanya juga mampir ke sini.”
“Mereka sudah pulang dari tadi, katanya sih mau ke rumah yang lain lagi.”
Dalam hatiku, yes yes yes, ini memang momen yang pas untuk aku mengungkapkan perasaanku selama ini kepada Shinta. Tapi yang jadi masalah sekarang bagaimana caranya, sebelumnya aku tak pernah nembak cewek, aku hanya pernah melihat cara nembak cewek di film-film sinetron saja, mungkin aku bisa menirukannya dalam kehidupanku sekarang. Tapi entah kenapa aku menjadi gugup, tiba-tiba tubuhku jadi gemetar lagi, wajahku memucat, aku jadi susah bicara, rambutku menghitam (sudah dari lahir), sepertinya aku salting karena baper yang berlebihan, tapi gak sampai ngompol. Dan akhirnya aku
“Shin, aku mau ijin ke toilet dulu, di sebelah mana ya?”
“Oh iya Andi, ada di sebalah sana.”
“Iya makasih.”
“Andi, jangan lupa disiram yah!” Sambil tertawa kepadaku.

Kurang lebih 15 menit aku di dalam toilet, di situ aku melakukan ritual untuk mencari inspirasi agar dapat merangkai kata-kata yang tepat untuk aku sampaikan pada Shinta. Dan akhirnya aku siap.

Aku pun kembali ke ruang tamu menghampiri Shinta.
“Shin aku mau bicara serius sama kamu.”
“Bicara apa Andi? Eiitsss, lama banget sih tadi di toilet, ngapain aja, disiram gak tadi, haha.”
“Iya, tadi aku pingsan kaya gitu dulu, haha yaiyalah aku siram, kalau gak nanti ada yang ngapung gitu.” aku tersenyum kepadanya.
Aku pun kembali blank, bingung mau bicara apa karena keasikkan bercanda dengan Shinta. Aku jadi diema antara mengungkapkan perasaan ini atau tidak.
Dan kurasa sepertinya ini bukan momen yang tepat untuk aku bicara.

Hingga hari sudah sore, aku pun berpamitan untuk pulang.
“Shin sudah sore nih, aku mau pulang dulu ya, terima kasih atas waktunya.”
“Iya Andi sama-sama, kamu hati-hati ya di jalan!”
Aku pun membalikkan tubuhku dan melangkah ke luar rumah Shinta. Tiba-tiba dia memanggilku.
“Andi, aku lupa, aku jadi penasaran kamu tadi mau bicara serius apa ya?”
Aku terdiam saat dia bertanya seperti itu. Aduh aku harus bagaimana, apakah aku katakan sekarang atau bagaimana?. Aku pun membalikkan tubuhku ke arahnya dan secara refleks tanganku memegang kedua belah tangannya dan mulutku juga secara reflek dan spontan berkata.
“SHIN, SEJUJURNYA AKU SUDAH LAMA MENYUKAIMU, AKU MENYAYANGIMU, AKU TAK BISA BICARA BANYAK LAGI, APA KAMU MAU JADI PACARKU?.” Persis seperti dialog di film sinetron romantis yang aku tonton apa yang aku katakan itu.
“Hah, apa kamu serius Andi?.”
Tiba-tiba Shinta dipanggil oleh ibunya untuk segera masuk. Dia pun melepas tanganya dariku dan masuk ke rumahnya.

Oke, sekarang aku telah digantung olehnya. Aku belum diberi jawaban atas perasaanku itu. Namun aku sedikit merasa tenang karena aku sudah berani mengungkapkan perasaanku selama ini kepada Shinta. Aku hanya bisa berdo’a, berharap dia menerima cintaku, dan aku harap di momen Hari Raya Qurban ini, aku justru tidak berQurban perasaan.

Aku pun pulang ke rumahku untuk menenangkan diri sambil menunggu kepastian jawaban dari Shinta yang tak kunjung datang.
Hingga tiba malam hari, dan aku pun masih belum bisa tidur, dan aku lihat ke arah jam dinding, ternyata masih jam 8 malam.

Aku bolak-balik di dalam kamar sempitku, aku naik-turun ke atas ranjangku hingga akhirnya handphoneku berbunyi menandakan adanya SMS masuk. Aku segara mengambil handphoneku dan membuka SMS itu. Pikirku pasti dari Shinta. Dan ternyata
“Selamat Anda mendapatkan sebuah mobil Av*anz* dari Ind*s*t, nomor Anda baru diundi tadi sore…”
Belum selesai aku membaca SMS tipu daya itu, langsung aku delete karena saking keselnya.

Tak lama kemudian ada SMS lagi yang masuk. Aku tak menghiraukannya, paling SMS tak karuan lagi, pikirku.
Semakin lama, handphoneku terus berbunyi, sepertinya banyak SMS yang masuk. Karena penasaran aku pun membukanya.
Ternyata dari Shinta.
“Andi, ya aku mau jadi pacar kamu, aku juga menyukai kamu Andi.” Salah satu SMS yang masuk dari Shinta.
Aku pun histeris sendirian di dalam kamar, aku jingkrak-jingkrak di atas ranjang saking senangnya.
“Andi kamu ngapain?” tanya ibuku dari luar kamar.
“Nggak ada ngapa-ngapain bu.”
Aku masih belum percaya, apakah ini mimpi? Aku jadian dengan cewek tercantik dan terpintar di kelasku. Tapi ini nyata.
“Apakah kamu benar-benar menerimaku?”
“Iya Andi, aku benar benar menerimamu.”
Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku punya pacar. Dan Shinta adalah cinta pertamaku. Dan do’aku terkabul, hari ini aku tak harus berQurban perasaan seperti yang aku takuti.

Kini hari-hariku diisi dengan kebersamaan bersama orang yang kusayang. Layaknya orang pacaran, kami pun punya panggilan sayang sendiri, yaitu: Si laly (panggilanku kepada Shinta karena dia sering lupa hal-hal kecil) dan Si Kodok (panggilan Shinta kepadaku, entah alasannya apa dia memanggilku seperti itu, mungkin karena suaraku seperti kodok, atau wajahku yang seperti kodok, ah aku tak peduli itu).

Malam Minggu pertama kami aman, tak ada kendala apapun, kami dinner di sebuah restoran di dekat rumah Shinta. Suasana romantis pun tercipta, lilin-lilin kecil menyala menghiasi meja makan kami, dan bunga mawar putih menjadi saksi kisah cinta kami malam itu.
Dan saat selesai makan malam, saat pelayan memberikan nota pembayaran, Shinta bilang aku saja yang bayar.
“Eiitssss… aku aja.” Kataku.
Saat aku meraba sakuku, belakang samping kanan kiri, kenapa gak ada. Aduh, aku baru ingat dompetku ketinggalan di ranselku dan ranselku ada di kamar. Mampus aku.
“Kenapa ya Andi?” tanya Shinta.
“Anu, anu Shin, dompetku ketinggalan.” Dengan malunya aku bicara.
“Ya udah aku aja yang bayar, ini mas.” Sambil memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan.
Kulihat si pelayan itu tersenyum-senyum seperti mentertawakan aku. Sialan.
Sungguh malam ini adalah malam yang sangat romantis bagiku sekaligus yang paling memalukan, karena yang bayar makanannya Shinta, aku gengsi.

Hari demi hari kami lewati bersama. Kami termasuk pasangan yang jarang bertengkar, dan makin hari aku makin menyayangi Shinta. Seperti biasa, setiap malam minggu kami jalan berdua, dan yang pasti aku akan selalu ingat bawa dompet, itu yang penting.
Hingga tepat di minggu keempat di dua puluh hari kami jadian, Shinta mengajak aku untuk bertemu.
Dan kami pun bertemu, seperti biasanya kami saling ngobrol membahas berbagai macam topik, dan saling bercanda. Hingga ditengah-tengah perbincangan kami, Shinta mulai menunjukkan wajah seriusnya dan berkata

“Andi, aku mau bicara sesuatu kepada kamu.”
“Iya bicara apa ya, Si laly ku.” Sambil tersenyum kepadanya.”
“Aku jujur, sebenarnya aku masih belum bisa melupakan mantanku.”
“Hah, mantan yang mana, kamu gak pernah cerita kepadaku sebelumnya.”
“Dia adalah Amir, aku masih belum bisa move on darinya. Dari pada terlalu lama, aku ingin kita temenan saja ya Andi.”
“Aa eee oo ppaa.. Shin tapi aku masih sayang kepada kamu.” Aku berbicara terbata-bata.
“Iya sebelum kamu terlalu dalam mencintaiku, aku harus akhiri sekarang.”
Aku hanya terdiam menatap ke arahnya dengan tatapan tak percaya. Aku ingin rasanya menangis tapi aku tak bisa. Aku ingin rasanya berteriak TIDAK sekencang-kencangnya tapi tak bisa. Aku ingin rasanya marah kepadanya, dan lagi aku tak bisa aku hanya bisa terdiam.

“Andi sudah malam, kita pulang yu!”
“Ayo.” Aku antar dia pulang, tanpa ada sedikit kata-katapun yang keluar dari mulutku hingga sampai ke rumahnya.
“Makasih ya Andi atas waktunya, selamat malam kamu hati-hati di jalan ya!”
Aku segera pergi dari rumahnya. Dan saat sudah sampai di rumahku aku segera mengurung diriku di kamar. Aku masih belum percaya hubungan kami harus berakhir di dua puluh hari kebersamaan kami, di malam minggu yang indah ini. Mantan, sebelumnya dia tak pernah cerita tentang mantannya padaku, apakah ini semua hanya caranya untuk mendapatkan alasan meninggalkanku, atau selama ini aku hanya menjadi pelampiasannya saja, entahlah. Dan aku harus rela berQurban perasaan.

Semua sekarang menjadi berubah 180 derajat, aku yang dulu punya pribadi yang humoris dan ceria, sekarang sering menyendiri sering melamun sendirian. Hingga banyak teman-teman yang lain yang mengatakan aku sudah gila. Dan kedekatanku dengan Shinta pun sudah tak kelihatan lagi, kami yang biasanya terlihat selalu bersama sekarang justru saling menjauh, dan saat ada Shinta pun aku coba menghindar darinya. Semuanya terus berlangsung seperti ini hingga aku lulus dari sekolahku dan Shinta pun juga. Kami melanjutkan pendidikan kami ke perguruan yang berbeda.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan wanita lain, namanya Maya. Sejak aku mengenal Maya, aku mulai perlahan-lahan bisa melupakan Shinta. Keceriaan yang pernah hilang kini kembali lagi. Dan aku sadar suatu hal, tak perlu harus berQurban perasaan hanya karena satu wanita, karena wanita tak hanya cuma satu, masih ada banyak di luar sana.

Cerpen Karangan: Normadani
Facebook: Dhanisna
Permen Yang Pahit

Permen Yang Pahit

Judul Cerpen Permen Yang Pahit

“Semua orang pernah berumur lima tahun. Menjadi anak kecil dimana bermain, berlari dan berpetualang adalah hal yang sangat menyenangkan. Namun, semakin bertembah dewasa kenanangan itu perlahan mulai hilang. Sudah ratusan kali kucoba untuk mengingat semuanya. Tapi, hanyalah samar dan sangat buram.”

Namaku Evalia Natasha. Seorang gadis biasa dengan tinggi 163 cm dan berat badan 48 kg. Minggu lalu, sebuah surat tiba di rumahku. Itu adalah surat hasil tes transfer pelajar yang diadakan tiga bulan yang lalu. Surat itu memberitahukan bahwa aku ditransfer ke SMA Violeta Hapsari Burhan Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan SMA Visarhan. Kebanyakan murid disana adalah murid-murid terbaik dari berbagai bidang. Tentunya sekolah itu hanya bisa dimasuki oleh murid-murid berprestasi dan anak-anak dari golongan kelas atas. Seperti anak dari pejabat terkenal.
Tentu saja aku senang sekali bisa berkesempatan belajar disana. Tetapi, yang paling membuatku senang adalah akhirnya aku bisa kembali ke kota kelahiranku, Yogyakarta. Sepuluh tahun yang lalu, karena pekerjaan Papa, aku terpaksa meninggalkan teman-temanku di Yogyakarta dan tumbuh besar di Jakarta. Aku penasaran. Apa dengan kembali ke Yogyakarta aku akan mengingat masa kecilku?

Senin, 22 Desember 2016
Hari ini aku sudah berada di Yogyakarta, bersiap untuk berangkat ke sekolah baruku. Disini aku memutuskan untuk hidup mandiri, tanpa Mama dan Papa. Aku menetap di sebuah Apartement yang disediakan sekolah ini. Namanya adalah Apartement Visarhan, lokasinya pun tidak jauh dari sekolah.

Sesampainya di sekolah, aku langsung menemui wali kelasku Bu Shifa di kantor guru. “Sekarang kamu bisa mulai mengikuti pelajaran. Kamu masuk di kelas 2-C.” kata Bu Shifa kepadaku. Aku hanya mengangguk dan langsung pergi menuju kelas 2-C. Saat akan keluar dari ruang guru, tiba-tiba seseorang menabrakku sampai aku terjatuh. “Maaf ya, aku nggak sengaja.” Kata siswa itu sambil membantu mengambil buku-bukuku yang jatuh dan kemudian langsung berlari pergi. Aku pun langsung segera menuju ke kelas 2-C.

Sesampainya di kelas 2-C
“Selamat pagi teman-teman, perkenalkan namaku Evalia Natasha. Pindahan dari SMA Negeri 42 Jakarta.” Ucapku memperkenalkan diri. Tiba-tiba pintu kelas terbuka. BRAK! “Maaf bu, saya terlambat.” Ucap seorang siswa yang baru saja masuk kelas. Ternyata dia adalah siswa yang menabrakku tadi. “Loh? Kamu yang tadi kan?” herannya setelah melihatku “I-iya. Murid baru. Panggil aja Evalia.” Kataku sambil mengulurkan tangan. Siswa itu menjabat tanganku, “Namaku Adelio Reynand. Ketua kelas sekaligus Ketua OSIS di sekolah ini. Panggil saja aku Rey.” Katanya sambil tersenyum. Entah kenapa jantungku tiba-tiba jadi berdegup kencang. “Dia tampan” rambutnya sangat rapi, serta postur tubuh yang tinggi sekitar 172 cm. Bu Shifa pun langsung menyuruhku duduk di bangku paling barat sebelah jendela. Rey pun juga duduk di bangkunya.

Jam istirahat, pukul 10:30
“Hai Evalia. Sudah lama ya kita tidak pernah bertemu.” Kata seorang gadis berambut pendek. “Apa kamu masih mengingatku?” tanyanya “Mm.. aku tidak ingat. Maaf ya.” Jawabku “Bagaimana denganku?” Tanya gadis lainnya. Gadis ini sangat imut, rambutnya yang terurai dan memakai bando bunga. “Aku juga tidak ingat. Apa kalian teman masa kecilku?” Jawabku sambil kembali bertanya. “Iya val. Wajar juga kalau kamu lupa. Namaku Christy dan dia ini Cindy.” Jawab gadis berambut pendek itu.
Kami bertiga pun mengobrol dan pergi ke kantin sekolah. Disana aku membeli segelas lemon tea dan langsung duduk di meja dekat pintu. “Jadi menurutmu, Rey itu orangnya gimana?” Tanya Christy tiba-tiba. Aku terbelalak kaget, “Kenapa tiba-tiba kamu tanya begitu?” “Kamu juga, kenapa sekaget itu? Aku kan cuman bertanya.” Balas Christy sambil memakan roti pesanannya. “Pasti kamu langsung jatuh cinta kan saat melihat Rey. Semua orang di sekolah ini begitu kok” Kata Cindy “Nggak mungkin lah sekali lihat aku langsung jatuh cinta.” Balasku “Yah, lebih baik kalo kamu suka beneran sama Rey, kamu langsung kirim surat cinta aja. Keburu Rey diambil orang lain loh.” Ucap Cindy. “Hah!? Jadi Rey itu GGS?” kagetku “Apa maksudnya GGS?” bingung Christy “Ganteng Ganteng Single.” Suasana pun menjadi hening.

Di apartement aku asyik membaca buku. Aku pun teringat saran Christy dan Cindy untuk membuat surat cinta. “Mungkin nggak masalah kalau aku coba buat.” Pikirku. Aku pun langsung menulis surat cintaku untuk Rey, meskipun isinya adalah salinan dari internet.

Keesokan harinya, aku langsung menaruhnya di loker sepatu milik Rey. “Jadi kamu beneran ngasih Rey surat cinta?” Kaget Christy “Kamu yakin kan taruh itu di loker Rey?” Tanya Cindy ikut-ikutan. “Yakin dong. Awalnya aku memang nggak yakin itu lokernya Rey. Tapi setelah aku cek, bener kok itu nomor 17.” Jawabku gembira. “APA!? NOMOR 17!?” terika Christy dan Cindy bebarengan “I-iya” jawabku gagap “Aduh val, itu bukan lokernya rey! Loker rey itu nomor 16. Gimana sih kamu!” Resah Christy “Mendingan sekarang kamu ambil surat itu, jangan sampai surat itu dibaca sama yang punya loker.” Perintah Cindy.

Aku pun langsung berlari menuju tempat loker. Aku membuka loker nomor 17 dan mengambil surat cintaku lagi. Tapi, tiba-tiba seseorang menarik pundakku dan mendobrakkan tubuhku di jejeran loker. “Hei! Siapa kamu yang berani membuka lokerku seenaknya!?” Teriak orang itu marah. Aku sangat takut melihat wajahya. Dia murid sekolah ini, laki-laki dengan rambut berwarna pirang dan bola mata biru. “Ma-Maaf.” Kataku dan langsung berlari ketakutan.

“Sudahlah val, nggak usah frustasi begitu. Salah kamu juga teledor” Ucap Christy. “Bukan itu masalahnya Chris, tapi surat cintaku hilang” ucapku. “Hilang? Udah diambil sama yang punya loker?” Tanya Christy “Tadi aku sempat pegang surat itu. Tapi yang punya loker datang, aku langsung lari ketakutan. Gimana kalau surat itu sampai tersebar?” ucapku sedih. “Val, pemilik loker nomor 17 itu namanya Sebastian Oscara. Dari yang aku dengar, hari ini dia memang udah balik ke Indonesia. Dia itu bule, asli dari Canada dan sekaligus anak pemilik sekolah ini” kata Cindy memberitahu. “Aku nggak peduli siapa dia. Aku lebih khawatir dengan suratku. Apa jangan-jangan jatuh ya waktu aku kabur?” pikirku. “Ya udah, coba aja kamu tanya ke Bastian, mungkin dia yang bawa” saran Cindy kepadaku.

Sepulang sekolah aku menunggu Bastian di pintu gerbang. Setelah beberapa menit akhirnya Bastian pun muncul. “Hei, lagi mencari sesuatu?” Tanya Bastian sambil menunjukkan sebuah surat. “Jadi benar ada di kamu? Makasih ya” ucapku bahagia. “Tunggu, mana mungkin aku memberikan ini secara gratis.” Kata Bastian “Mulai detik ini jadilah pesuruhku” Katanya lagi. “Pesuruh? Leluconmu sangat nggak bermutu.” Jawabku kesal. “Kamu benar-benar bodoh ya? Coba bayangkan jika aku menyalin isi surat ini dan menempelkannya di mading sekolah” Ancam Bastian. Akhirnya mau tak mau aku terpaksa menjadi pesuruhya.

Sudah berhari-hari berlalu, aku pun masih menjadi pesuruh Bastian. Dia menyuruhku membeli makanan, mengerjakan PR, membawakan barang-barangnya, dan sebagainya. Sekarang aku benar-benar lelah. Aku nggak mau lagi menjadi pesuruhnya.
“Bastian, mulai sekarang, jangan lagi menjadikan aku pesuruhmu!” Ucapku kesal “Oh. Kamu mau surat ini aku tempel di mading?” Kata Bastian mengancamku. “Aku nggak peduli dengan omongan orang sepertimu, yang bisanya cuman mempermainkan orang lain. Yah wajar, itu karena kamu nggak pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh.” Bentakku padanya dan langsung pergi.

Sesampainya di apartement, aku langsung mandi untuk mrnghilangkan kekesalanku pada Bastian. Setelah mandi, handphoneku tiba-tiba berbunyi. Ternyata Mama menelfonku.
“Halo ma?”
“Halo nak, gimana kabarmu?”
“Baik kok ma. Jangan khawatir.”
“Apa kamu sudah bertemu teman-teman lamamu? Khususnya Bastian.”
“Bastian? Bastian anak pemilik sekolah itu? Dia temanku!?”
“Kamu lupa ya? Dari kecil kamu kan sangat dekat dengan Bastian. Bahkan kalian sempat berkata akan menikah ketika dewasa nanti. Benar-benar lucu.”

Aku sangat kaget dan tidak percaya dengan ucapan mama. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Saat aku kecil, aku menolong seorang anak laki-laki yang dibully oleh anak-anak yang lain. Anak itu di bully karena berasal dari Negara lain. Dia adalah Bastian. Karena tidak mempunyai teman, Bastian pun hanya bermain denganku. Sering sekali dia memberiku permen, katanya aku ini manis seperti permen. Kita berdua juga saling menyukai dan berjanji akan bersama selamanya dan menikah.
Tapi, karena harus pindah ke Jakarta, aku pun meninggalkan Bastian. Bagaimana mungkin aku melupakan kenangan yang sangat berharga itu? Bahkan aku telah mengucapkan kata-kata yang sangat jahat pada Bastian.

Aku langsung bergegas menuju dimana Bastian berada. Sesuai dugaanku, dia masih ada di sekolah. Kulihat tatapannya begitu sedih. Aku langsung menghampirinya. “Bastian” ucapku pelan. Dia menoleh kepadaku, “Balik lagi?” herannya. “Maaf. Maafkan aku sudah melupakan kamu dan berkata jahat padamu.” Ucapku sambil berlinangan air mata. “Bodoh sekali, kenapa baru ingat sekarang?” ucapnya sambil berjalan kepadaku dan memelukku. “Syukurlah, aku kira kamu akan selamanya menjadi permen yang pahit.”

Aku senang sekali kembali ke Yogyakarta. Akhirnya aku bisa bertemu teman-teman lamaku dan mengingat kenangan indahku yang selalu gagal kucoba ratusan kali. Tentunya yang paling aku syukuri adalah bisa mengingat tentang Bastian, lelaki yang benar-benar aku cintai.

Cerpen Karangan: Sahanaya Widya Pitaloka
Blog: sahanay-on.blogspot.com
Cinta di Ujung Senja

Cinta di Ujung Senja

Judul Cerpen Cinta di Ujung Senja

Sinar matahari yang mulai redup ditemani semilir angin kencang menciptakan ombak menabrak batu karang. Terlihat seorang gadis mengenakan gamis polos berwarna abu-abu muda dengan kerudung biru mudanya yang tertiup angin, tengah duduk tenang di atas batu karang yang besar sambil memandangi matahari senja.
Dari sisi lain, seorang lelaki berjalan gontai dengan raut wajah yang dipenuhi rasa kesal. Matanya tertuju pada hamparan pasir putih. Untuk meluapkan kekesalannya, ia menendang kaleng kosong yang ada di depannya.
“Dug!!!”

“Aw! Sakit. Siapa yang tega ngelempar aku?!” Gerutunya sambil memegang kepalanya. Gadis itu pun mencari–cari, melihat ke sekelilingnya untuk menemukan siapa pelaku yang tega melemparnya dengan kaleng bekas.
“Waduh! Kena orang.” Dengan panik, lalaki itu berlari menghampiri gadis tersebut.
“Mba, a..aku minta maaf ya? Aku nggak sengaja.” Pintanya dengan penuh rasa bersalah.
Gadis itu hanya tersenyum dan duduk kembali di atas batu karang. Lelaki itu merasa heran, lalu, ia pun ikut duduk menemani gadis tersebut untuk menyaksikan matahari senja.

“Mmm mbak, kalau boleh tahu, mbak ngapain disini? Udah sore kan? Sendirian lagi.”
Gadis itu tersenyum.
“Aku hanya ingin merasakan ketenangan sesaat, dan meyakinkan diriku bahwa dunia itu tidak kejam.” Terdiam sesaat “Kalau kamu, ngapain nendang-nendang kaleng nggak jelas kayak tadi?” Tanyanya sambil melirik lelaki tersebut.
“Oh, mmm maaf tadi saya nggak sengaja. Saya lagi ada masalah.”
“mmm kalau boleh tahu, masalah apa?”
“Saya lagi kesel, barusan saya ribut sama pacar saya, dan dia mutusin saya.” Ujarnya dengan rasa kesal.
“Yang sabar ya, mungkin dia bukan yang terbaik untuk kamu. Cinta itu tak harus memiliki. Saat kamu harus melepasnya agar dia bahagia, kamu harus rela melepasnya. Cinta yang tulus itu cukup melihat dia merasa bahagia meski dengan yang lain.”
Lelaki itu terdiam.
“Oh ya, nama kamu siapa?”
“Namaku Agus, kalau nama mbak, siapa?”
“Aku Nayla. Udah gelap, kita harus pulang.”
“Makasih ya, kamu udah nasehatin saya.”
“Iya sama-sama.”
Gadis itu beranjak pergi meninggalkan Agus yang masih menatap kepergiannya.

Setelah saling mengenal, mereka sering menghabiskan waktu bersama, di tempat yang sama. Tempat dimana mereka pertama kali bertemu. Dipagi hari, dan senja. Selain waktu tersebut, mereka tak pernah bertemu. Nayla lebih suka menghabiskan hari-harinya di dalam rumah dan hanya keluar di pagi dan sore hari. Sedangkan Agus sibuk dengan sekolahnya.
Terkadang Agus ingin menemui Nayla selain pagi dan sore, namun Nayla selalu menolak permintaan sahabat barunya itu. Alamat rumahnya pun tak pernah mau Nayla sebutkan.
Sudah tiga bulan ini mereka bersahabat, namun Agus merasakan ada perasaan yang berbeda terhadap Nayla. Agus merasa, Nayla adalah satu-satunya orang yang selalu mampu menenteramkan hatinya. Nayla adalah gadis yang dewasa, sabar dan selalu tersenyum. Ia adalah wanita yang spesial bagi Agus.
“Mungkin hari ini sudah saatnya untuk bilang ke Nayla kalau aku suka sama dia.” Gumam Agus di dalam hatinya.

Senja mulai tiba. Agus pun segera pergi menuju pantai dimana ia bisa bertemu dengan Nayla seperti biasanya. Dari kejauhan, terlihat seorang gadis bepakaian serba hitam tengah memandang matahari senja. Agus pun menghampirinya.
“Nayla,” Sahut Agus.
Gadis itu pun menoleh, namun ternyata dia bukan Nayla.
“Oh, maaf saya kira kamu Nayla sahabat saya.”
“Kamu benar, harusnya Nayla yang sedang berdiri disini untuk menemuimu.” Tutur gadis tersebut dengan bercucuran air mata. Lalu gadis tersebut menyodorkan surat kepada Agus.
“Mbak kenapa nangis, dan… surat ini dari siapa?”
“Itu dari Nayla, kamu baca saja nanti kamu akan mengerti.” Jawabnya sambil menyeka airmata di pipinya.
Perlahan Agus membuka surat itu kemudian membacanya.

Assalaamu’alaikum…wr.wb.
Agus sahabatku, apa kabarmu untuk hari ini? Semoga baik-baik saja ya…
Sebelumnya aku minta maaf. Mungkin aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku tak pernah menginginkan ini. Tapi aku percaya jika semua yang terjadi padaku adalah yang terbaik untukku. Sejak kecil aku mengidap penyakit gagal jantung. Sangat sulit untuk aku terima. Tapi aku sadar bahwa semua ini pasti ada hikmahnya dan aku harus menerimanya.
Semua ini membuatku mengerti, hidup ini sangat berharga karena hidup adalah anugerah. Meskipun aku hidup hanya untuk menanti kematianku. Memang masih bisa disembuhkan, tapi aku harus cangkok jantung. Itu pun kalau jantungnya cocok, jika tidak, aku akan mati. Jika surat ini sampai padamu, itu artinya aku gagal mempertahankan hidupku. Mungkin Allah mendengarkan tangisanku dan rengekanku bahwa aku sudah lelah. Yaah…s etidaknya aku sudah berjuang untuk tetap hidup.
Jujur, aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Yah, mungkin kamu adalah cinta pertamaku. Terimakasih sudah mau menemaniku disaat-saat terakhir aku merasakan kehidupan. Aku sangat bahagia meskipun aku tidak bisa bersamamu selamanya. Selamat tinggal sahabatku.
Wassalaamu’alaikum…wr.wb.

TTD
Nayla

Setelah Agus membaca surat tersebut, ia tak sanggup menahan kesedihannya. Agus menitikkan airmatanya.
“Bersabarlah, aku pun sedih atas kepergiannya. Nayla adalah gadis yang kuat. Dia tak pernah menunjukkan kesedihan dan sakitnya kepada siapa pun. Dia adalah sahabatku yang paling baik.” Ujarnya sambil terisak.
“Nayla… aku juga mencintaimu…!” Teriaknya sambil memandang matahari terbenam.

The end

Cerpen Karangan: Syahla Soraya
Blog / Facebook: www.syahlasoraya.com / syahla hurairoh
Andrew Falling In Love With Nerd Girl (Part 2)

Andrew Falling In Love With Nerd Girl (Part 2)

Judul Cerpen Andrew Falling In Love With Nerd Girl (Part 2)

Tiba tiba lamunan Andrew terbuyarkan saat mendengar lenguhan dari bibir manis paulin. Dia terbangun. Dan dia sangat terkejut saat mendapati wajah Andrew yang sangat dekat dengan wajahnya. “ma.. mau apa kau..?” suaranya terdengar gugup. Andrew tersenyum dan berkata “mendengarkan semua ocehanmu. kau mengigau sampai menangis. Sudah tidak usah sungkan. Anggap saja aku orang yang dapat mendengar semua curahan hatimu dan akan kusimpan baik baik. Ok.. ini sudah larut malam. Sebaiknya aku antar kau pulang. Mungkin orangtuamu sedang mencemaskanmu karena belum pulang ke rumah padahal sudah larut malam.” Kata Andrew sambil menggamit lengan paulin. Namun paulin tidak mau bergerak dan hanya duduk di kasur Andrew. Dengan tatapan kosong memandang ke arah Andrew. “haha.. mencemaskan katamu? Hey.. dengarkan aku. Aku tidak pulang sampai besok juga tidak akan ada yang peduli. Dan apa tadi kau bilang? Orangtua? hahhk.. tidak mungkin. Dan kalaupun hal itu terjadi pasti menara Eiffel akan kunikahi sekarang juga. Mereka berdua tidak pernah peduli padaku. Hanya mementingkan uang, uang dan uang. Dan mungkin saja jika aku mati sekarang mereka tidak akan perduli.” Setelah mengatakannya air mata paulin mengalir di kedua pipinya. Dia tersenyum kecut mengingat semua kenyataan tentang orangtuanya. Andrew yang melihatnya menghela nafas dan dengan lembut menarik paulin ke dalam pelukannya. “tidak usah terlalu sedih ada aku disini. Kita kan teman. Aku akan menjagamu.” Lexa hanya terdiam sambil menatap lekat ke arah Andrew dan hanya memasang wajah datar. Andrew yang melihatnya tau bahwa walaupun gadis ini terlalu polos dalam hal cinta namun keadan membuatnya membenci orangtuanya.

“emm… jadi kau akan pulang kan? walaupun orangtuamu tidak di sini kau tetap akan pulang bukan? Tidak mungkin kau pergi ke penginapan. Oh atau kau boleh menginap di rumahku malam ini. Aku akan tidur di kamar sebelah dan kau akan disini.” “kenapa kau baik padaku? padahal kita baru tadi siang menjadi teman.” Tanya paulin sambil membenarkan kacamatanya. “entahlah. Aku juga tidak tahu. Setiap aku melihatmu rasanya dadaku berdesir aneh, sepertinya aku mulai menyukaimu” kata Andrew sambil berjalan ke arah paulin yang masih dalam keadaan duduk. Paulin hanya mengangguk sambil “ohh..”. dia kembali seperti semula, menyebalkan. Baatin Andrew gemas. Dia berpikir mungkin menjahilinya akan menyenangkan. Andrew kemudian mengulurkan tangannya dan mengacak acak rambut paulin dan dengan gerakan cepat mengambil kacamata paulin. “iihh… apa yang kau lakukan? aku tidak bisa melihat tanpa kacamata itu” “ahh.. omong kosong” kata Andrew dan mulai mengenakan kacamata paulin. Tidak ada yang berubah. Ini bukan kacamata minus. Ternyata dia sudah membohongi satu sekolah. Dia kemudian melirik ke arah paulin dengan tatapan tidak percaya. Paulin, dia sangat cantik tanpa kacamatanya. Andrew lalu berdehem dan berkata. “kau hebat telah membohongi satu sekolah. Matamu kan tidak ada masalah. Kenapa harus memakai kacamata?” “aku hanya merasa nyaman menggunakan kacamataku. Aku merasa seperti seorang nerd sejati. Lagi pula aku terlihat hebat di dalamnya. Seperti orang yang sangat jenius bukan?” kata paulin sambil tersenyum licik. “ahahaha… itu memang benar. Walaupun aku tahu kau memang pandai, namun kacamata ini membat penampilanmu semakin terlihat meyakinkan. Ya sudah kenakan saja sesukamu. Tapi… tapi sebenarnya kau terlihat cantik tanpa kacamata itu.” Kata Andrew tulus. “oh..” dan paulin hanya ber ohria.

“oh iya jadi bagaimana? Kau akan menginap atau pulang?” “emm… aku pulang saja. Tapi kau harus mengantarku. Tidak ada penolakan. Ini perintah dari teman!” Katanya memaksa. “ok ok.”
Kemudian Andrew mengantar paulin pulang.

Mulai dari hari itu mereka jadi teman dekat bahkan sahabat. Banyak yang menganggap mereka berpacaran. Namun mereka berdua seolah tidak peduli. Dan dalam setiap kebersamaan mereka, Andrew selalu membuat hal konyol hingga paulin akan tertawa terpingkal pingkal sampai memegangi perutnya. Dan semakin lama, entah mengapa paulin merasa nyaman. Dia merasa ada hal aneh setiap kali beradu pandang dengan Andrew. Dadanya berdebar dengan keras. Apakah dia mulai menyukai Andrew? entahlah dia tidak mengetahuinya.

Sampai pada akhrnya dia bertanya pada sahabat satu satunya. Ya lisa. Dia bertanya pada lisa. Dan satu fakta yang membuatnya sangat terkejut. Dia tidak menyukai Andrew. Melainkan jatuh hati padanya. Dia merasa senang dapat merasakan jatuh cinta. Apakah ini akan berjalan dengan lancar? batinnya.
Entah kenapa rasa ini semakin membuatnya sesak. Hingga akhirnya dia tidak mampu menahan gejolak dalam hatinya. Hingga siang ini di taman…
“an.. Andrew.. ada yang ingin kusampaikan padamu.” Kata paulin gugup. Andrew melihat kegugupan paulin dan berkata. “katakan saja.” Paulin menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan kegugupannya. “a..aku.. entahlah, aku merasa ada hal aneh setiap aku dekat denganmu. Hatiku berdesir aneh. Aku.. aku menyayangimu.” Dia mengatakannya dengan terbata bata. Andrew terkejut atas pengakuannya, namun tersenyum lembut pada akhirnya. “aku juga menyayangimu. Aku mencintaimu. Dan aku harap kau mau jadi pacarku.?” “ak..aku..ma.. mau..”
Andrew bersorak kegirangan dan memeluk paulin dengan erat.
Dan mulai saat itu merka menjadi sepasang kekasih. Dan Andrew masih sering membuat paulin tertawa dengan kebanyolan yang dibuat oleh Andrew.

Semuanya berjalan lancar hingga…
“paulin tolong temani aku ke mall yah. Aku ingin membelikan hadiah untuk pacarku.” Pinta lisa dengan wajah memelas dan memperlihatkan puppy eyesnya. Mau tidak mau akhirnya paulin pun mau ikut.
Sesampainya di mall lisa langsung sibuk memilih milih hadiahnya sedangkan paulin hanya melihatnya. Dia sudah bosan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal. Sosok yang mengatakan cintanya di taman dan memeluknya dengan erat. Dia Andrew dengan seorang wanita yang berpakaian sangat terbuka sedang bergelayut manja di lengan kanan Andrew. Dia wanita yang genit selalu mencoba merayu Andrew. Hingga paulin membelalakkan mata saat melihat wanita itu mengecup bibir Andrew sekilas. Andrew diam saja, tidak merespon dan tidak marah. Paulin marah namun dia tidak tahu harus berbuat apa. Dengan kekuatan yang tinggal sedikit akhirnya dia berjalan menghampiri Andrew dengan airmata yang meggenang di pelupuk mata. “hai Andrew..” sapanya begitu dia tiba di depan andrew dan wanita itu. Andrew sangat terkejut dengan kehadiran paulin. Dia segera melepaskan tangan wanita itu dari lengannya. “emm.. pa..paulin.. sedang apa disini? sudah lama?” paulin mendengus melihat andrew yang salah tingkah. “hem.. sudak cukup lama. Hingga aku bisa melihat kalian berciuman.” “pa..paulin..?” kata andrew gugup. “em.. ini sudah sore aku pulang lebih dulu. Oh iya ada yang ingin kukatakan padamu. Aku kecewa padamu. SEKARANG KITA BERAKHIR.” Setelah mengatakannya paulin berbalik dan berlari ke arah pintu keluar mall. Andrew yang melihatnya segera berlari mengejar paulin namun tangannya di tahan oleh wanita itu “Andrew jangan tinggalkan aku disini. Kau tega?” Tanya dengan manja. Andrew geram dan berkata “aku tidak peduli padamu. Kau bukan siapa siapa bagiku. Kau hanya pengganggu. Aku tidak pernah menyukaimu. Kau hanya memaksa dan mengancam akan bunuh diri. Sekarang kau mau bunuh diri aku tidak peduli. Lepaskan aku. Wanita gila.” Kata Andrew sambil menghempaskan tangan wanita itu.
Dia kemudian berlari dan mencegat paulin di depan taksi yang akan dinaikinya. Dan tanpa aba aba dia langsung menarik tangan paulin ke arah taman yang kelihatannya sepi. “lepaskan aku!” bentak paulin. Akhirnya Andrew melepaskan tangan paulin. “Aku mohon paulin.. aku akan jelaskan semuanya.” “tidak ada yang perlu dijelaskan Andrew. Aku sudah muak. Ternyata ajaranmu dulu benar. Cinta itu seperti mawar. Indah namun menyakitkan. Terima kasih kau sudah mengajarkanku banyak hal. Dan Andrew mulai saat ini aku tidak ingin melihatmu.
Setelah mengatakan hal itu paulin menghentikan taksi dan langsung pulang. Andrew hanya bisa diam mematung. Dia sangat mencintai paulin.

Sementara paulin begitu sampai di rumah dia langsung belarimenuju kamarnya. Membanting pintu dengan kuat dan menghempaskan tubuhnya yang lelah di kasurnya. Dia menangis sesunggukan. “hanya kali ini aku akan menangis. Setelah hari ini aku janji tidak akan menangis.” Katanya entah kepada siapa ditujukan.

5 tahun kemudian…
Paulin sedang menikmati coklat hangatnya di sebuah café di kota paris. Ya. Akhirnya setelah lulus dari SMA dia melanjutkan studinya di paris, perancis. Dia pergi untuk belajar sambil melupakan andrew. Namun entah mengapa cinta pertamanya itu sangat sulit untuk dia lupakan. Dan besok adalah kepulangannya kembali ke Indonesia. Dia sudah terlalu lama di paris. Dia harus pulang untuk meneruskan bisnis orangtuanya. Akhirnya setelah menyesap tetesan terakhir dalam mugnya paulin berdiri dan berjalan ke pintu keluar dan meletakkan uangnya di mejanya tadi. Saat ini sedang musim salju di paris dan dia sangat menyukai saat krital Kristal putih itu jatuh ke rambutnya. Dia tersenyum dan melanjutkan perajalanannya ke apartemennya.

Meanwhile in Indonesia.
Andrew kembali meneguk wine yang ada dalam genggamannya. Sudah 5 tahun dia mengawasi paulin dengan orang suruhannya di paris. Dan besok adalah kepulangannya ke Indonesia. Dia sudah sangat rindu bahkan hampir gila karena tidak melihat wajah itu selama 5 tahun. Selama 5 tahun ini Andrew hanya menghabiskan waktunya dengan bekerja tanpa henti. Tubuhnya seperti kehilangan jiwa. Dia tidak mempedulikan keadaannya lagi. Sekarang dia sudah menjadi lelaki dewasa yang tampan. Mapan dan menjadi lelaki yang dingin sejak kepergian paulin.

Paulin telah sampai di bandara dan langsung menyetop taksi ke arah tempat tinggalnya. Dia tidak mau tinggal dengan orangtuanya dan dengan omong kosong mereka berdua. Sesampainya di apartemen dia segera membereskan barang barangnya. Sesudah itu dia mandi dan makan malam, sepi, batinnya. karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dia segera merebahkan tubuhnya di kasur dan mencoba untuk tidur. Dia membolak balikan badannya namun tidak juga membuatnya dapat tertidur. Dia melirik jam di nakas dan sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Akhirnya dia hanya diam dan memandang ke langit langit kamarnya. Entah apa yang pikirkannya sekarang. Sampai suara dari pintu membuatnya terbangun. Pintu digedor gedor dengan cukup keras. “siapa sih orang gila yang bertamu selarut ini?” katanya geram. Dia tidak ingin membukakan pintu namun suara gedoran yang semakin keras membuatnya harus beranjak dan membukakan pintu. Dia takut tetangganya akan bangun. Dia terkejut saat membuka pintu. Sosok yang sudah 5 tahun ini dia lupakan berdiri di depannya. Dia sudah berubah dan dewasa. Aku semakin sulit melupakannya, batin paulin. Begitu juga dengan Andrew yang terkejut menatap sosok cantik di depannya dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai bebas. Kacamata itu tidak bertengger lagi di hidung mancungnya juga gaun tidur yang membuatnya semakin terlihat semakin dewasa. Dia segera mendorong paulin masuk ke dalam apartemennya dan mendorong pintu dengan kakinya. Paulin berontak. Dia takut Andrew akan berbuat aneh kepadanya. Terlebih dia mencium bau wine dari tubuh Andrew. Belum sempat dia lari Andrew sudah menariknya kedalam pelukannya “aku merindukanmu” kata Andrew lirih. Paulin meneteskan air mata mendengar perkataan aandrew. Tidak dapat dipungkiri dia juga merindukan cinta pertamanya tersebut. Dia dapat merasakan air mata Andrew menetes di pucuk kepalanya. Paulin menjauhkan tubuhnya dan mendongak melihat wajah Andrew. Dia mengusap air mata Andrew. Dan Andrew sendiri mengusap air mata yang mengalir di pipi paulin. “kau harus pergi. Aku sudah melupakanmu.” Kata paulin berusaha tegar. Andrew semakin sakit mendengarnya. Dia meninju tembok yang ada di belakang paulin hingga tangannya berdarah. Paulin yang melihatnya segera menarik tangan Andrew ke kamarnya dan membalut lukanya dengan perban. “tidurlah disini untuk malam ini” dan pergi ke ruang tamu untuk tidur di sofa.

Keesokan paginya…
Paulin menggeliat dan bangun dari tidurnya. Dia bingung kenapa dia di kamar. Bukannya semalam Andrew yang.. andrew ..
Dia segera berlari ke luar kamar. Dia tidak mendapati Andrew di ruang tamu. Rasa terkejutnya kemudian hilang saat melihat andrew baru saja ke luar dari kamar mandi.
Paulin hanya mematung melihatnya. Andrew dengan langkah lebarnya mendekati paulin dan memeluknya dengan erat kemudian berkata “dengarkan penjelasanku dan jangan menyela sampai aku selesai berbicara. Ok?” katanya. Paulin hanya mengangguk. “aku merindukanmu. Aku masih mencintaimu paulin. Dan selama 5 tahun ini aku hidup bagai tak berjiwa semenjak kau pergi. Kejadian 5 tahun lalu di mall itu bukan kemauanku. Wanita itu. Dia bernama meysatry. Dia adalah gadis pilihan orangtuaku. Aku tidak pernah menyukainya. Saat orangtuaku kuberitahu bahwa dia memiliki laki laki lain orangtuaku segera menyuruhku menjauhinya. Dan kau tahu? dia mengancam akan bunuh diri. Aku tahu itu hanya ancaman namun orangtuaku tidak ingin hal itu terjadi. Sehingga aku harus menemaninya. Dan di mall saat itu aku berusaha lari darinya tapi kau tahu? Dia selalu mengancamku akan memberitahukan kepada orangtuaku. Saat kau melihatnya kau salah sangka paulin. Dia yang menciumku. Aku tidak pernah menyukainya. Hanya kau yang aku cintai. Sangat sulit menggantikanmu disini. Di hatiku” katanya sambil menunjuk dadanya. “aku harap kau mau kembali kepadaku. Sangat sulit menjalani hidup tanpamu. Aku mohon paulin” kata Andrew sambil menggenggam kedua tangan paulin. “Kau sudah selesai?” Andrew mengangguk “baik. Aku memang mencintamu. Aku juga sulit melupakanmu. Dan akhirnya aku ingin kembali padamu.” Katanya dengan senyum lebar dan memeluk Andrew. “terimakasih paulin. Aku mencintaimu.” “aku juga.”

“emm.. kau jadi sangat cantik sekarang paulin.” “oh.. kau baru tahu..? aku sudah cantik dari dulu tahu..?” “jadi selama 5 tahun di paris kau belajar untuk membanggakan diri. Oh I see.. kau sudah banyak berubah.” “ahahah.. aku tahu. Dan kau juga semakin tampan Andrew. Kau semakin dewasa. Dan yah. Kau semakin tinggi. Dan kau juga harus tahu bahwa 5 tahun disana aku juga belajar untuk menggombal. Hahaha..” Andrew tertawa melihat sikap konyol yang masih melekat dalam diri paulin. Mereka berdua sadar mereka saling membutuhkan, mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia.

EPILOG
“eh.. tunggu dulu..” kata paulin. “Aku ingat ajaranmu soal ciuman. Katamu ciuman di leher artinya nafsu bukan. Berarti saat di taman pertama kali kita bertemu kau bernafsu kepadaku yah?” Tanya paulin menyelidik. Andrew tergagap. “eh.. ahahah.. ti.. tidak.. hahaha..” katanya tertawa keras untuk menutupi kegugupannya. “oh..” dalam hati paulin tertawa melihat Andrew yang salah tingkah.

Dan satu hal yang mereka sadari cinta bukan seperti mawar, melainkan coklat. Karena coklat kelihatan manis kemudian saat coklat menghampiri lidah rasa yang pertama kali hadir adalah pahit dan setelah sampai ketenggorokan menjadi manis. Begitu juga dengan cinta. Cinta indah pada awalnya namun menjadi pahit saat mengalami masalah dan menjadi manis di akhir saat semua masalah teratasi.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: derisma Paulina Haloho
Andrew Falling In Love With Nerd Girl (Part 1)

Andrew Falling In Love With Nerd Girl (Part 1)

Judul Cerpen Andrew Falling In Love With Nerd Girl (Part 1)

Andrew adalah seorang laki laki yang cukup terkenal di sekolahnya. Selain karena dia anak orang kaya namun wajah tampannya membuatnya terkenal di kalangan wanita. Rambutnya yang berwarna hitam pekat, hidung yang mancung, mata yang berwarna abu abu yang tajam disertai alis yang tebal, bibir yang merah dan penuh disertai postur tubuh yang tegap. Sungguh sangat menjadi idaman semua perempuan di sekolahnya. Sehingga banyak yang menyebutnya lady killer. Kenapa? ya dia disebut lady killer karena sesudah dia mendapatkan wanita yang diinginkannya dalam beberapa minggu saja dia sudah menghempaskan hati wanita itu. Sehingga tidak sedikit lagi wanita yang menangis darah dibuatnya. Dia melakukan hal itu kepada semua wanita kecuali sahabatnya yaitu lexa. Lexa sulit dirayu. Dia pernah mencoba merayu lexa sekali. Alhasil bukan senyuman manis yang didapatnya melainkan sebuah pukulan telak di perutnya dan di pipinya sehingga membuat pipinya lebam. Dia hanya nyengir kuda mengngingat hal itu. Sehingga dia tidak ingin menggnggu lexa. Namun yang membuatnya penasaran adalah seorang perempuan bernama paulin. Paulin adalah perempuan yang tidak terkenal di sekolahnya. Paulin seorang nerd atau kutu buku. Yang menghabiskan waktunya di perpus dan di kelas. Dia cukup cantik. Kulitnya putih dan bersih, hidungnya mungil namun mancung. Tingginya rata rata memang. Rambutnya hitam dan panjang sepunggung pipinya tirus badannya langsing dan bibirnya mungil namun berwarna merah merekah. Namun semua kecantikannya harus dikacaukan oleh kacamatanya. Entahlah itu minus atau hanya untuk gaya. Tidak ada yang tahu.
Andrew penasaran kepada sosok perempuan itu. Dia seolah tidak peduli saat Andrew lewat. Padahal semua wanita akan berteriak histeris dan bersuara manja untuk menggoda Andrew. Namun tidak dengan wanita itu. Paulin merupakan manusia yang sangat polos dalam hal jatuh cinta. Dia tidak mengerti dengan hal seperti itu. Sehingga sahabatnya satu satunya-lisa-sering gemas melihatnya.

Siang ini di kelas…
“paulin… paulin…” teriak lisa dari depan kelas mencari sahabatnya itu. Paulin tidak menyahut dan hanya fokus pada novel yang dibacanya. Lisa yang sudah menemukan keberadaan sahabatnya di sudut kelas langsung menghampirinya “lin.. paulin.. tadi aku melihat Andrew lewat di depanku.. ah ya tuhan..” katanya dengan mata berbinar. Namun paulin hanya menggeleng dan menghela nafas. Di sudah terlalu bosan mendengar pembicaraan lisa. Semua yang dibicarakan oleh lisa selalu mengenai Andrew dan cinta untuk masalah Andrew dia sudah terlalu bosan dan untuk masalah cinta dia sangat tidak mengerti. Dia pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke luar kelas meninggalkan lisa. Dia tidak peduli lisa memanggilnya sampai berteriak.

Akhirnya paulin berhenti di taman belakang perpustakaan. Taman ini selalu sepi tidak ada orang yang mengunjunginya. Hanya berlalu lalang. Kemudian dia pun duduk di bangku taman itu. Dia selalu heran mengapa semua orang melewatkan untuk menghirup udara segar di taman ini, hanya demi beberapa makanan di kantin dan untuk memperhatikan pangeran mereka lewat. Dia hanya menghela nafas menyadari bahwa hanya dia yang polos di sekolah ini. Hanya dia yang tidak tahu cinta dan hanya dia juga yang tidak pernah pacaran. Kemudian dia memejamkan matanya dan menghirup udara segar dari hidungnya untuk kemudian dia keluarkan dari mulutnya.
Kebetulan pula Andrew lewat dan tanpa pikir panjang langsung menghampiri paulin. Paulin sendiri tidak menyadari bahwa Andrew ada di sampingnya sekarang. Dan sedikit informasi tentang paulin, dia itu adalah anak dari seorang pengusaha terkenal di Negara ini. Ayahnya bernama Samuel matio. Namun paulin tidak pernah menunjukkan kekayaannya di depan siapapun. Kecuali Andrew. Dia mengetahuinya karena dari umur yang masih muda ini dia selalu dipaksa oleh ayahnya yaitu Fernando green. Sehingga dia banyak mengetahui pebisnis handal di Negara ini.

Paulin yang belum menyadari keberadaan Andrew tetap memejamkan matanya sedangkan Andrew terus memperhatikan wajah paulin. Cantik. Batinnya. Kemudian Andrew berdehem barulah paulin sadar bahwa sedari tadi ada yang memperhatikannya. Andrew tersenyum tipis ke arahnya dengan mata yang menatapnya tajam. Paulin hanya menatapnya dengan tatapan polos sambil memiringkan kepalanya. “apa?” kata paulin dengan polosnya. Andrew sampai mengkerutkan kening melihatnya. Baru kali ini ada perempuan yang tidak memberikan pandangan memuja saat melihatnya. “kau siapa?” Tanya paulin lagi. Andrew melongo mendengar perkataan paulin. Semua orang mengenal Andrew kecuali paulin. Dia memang sering mendengar lisa membicarakan Andrew. Namun dia tidak mengetahui Andrew itu yang mana. Andrew berdehem untuk menutupi rasa terkejutnya. “hai kenalkan. Aku Andrew.” katanya mengulurkan tangan “oh. Aku paulin” balas paulin sambil membalas uluran tangan Andrew. Andrew sungguh bingung melihat perempuan ini. Dia sama sekali tidak terkejut atapun bahagia berjabat tangan dengan Andrew. Laki laki paling populer di sekolahnya. Kemudian saat akan melepaskan tangannya dari tangan Andrew tiba tiba dia teringat. Oh ini yang bernama Andrew. Batinnya. biasa saja. Andrew tidak mau melepaskan tangan paulin dan menggenggamnya dengan erat sehingga membuat paulin meringis. “aissh.. sakit. lepaskan” katanya kepada Andrew. Andrew tidak mendengarkan paulin dan hanya menatap paulin. Tiba tiba paulin berbalik dan akan berlari. siapa tahu saat dia berlari dengan kencang tangannya akan terlepas. Batin paulin. Tapi hal lain terjadi. Andrew malah memelintir tangan paulin dan menguncinya di belakang punggung paulin. Andrew mendekat dan merapatkan tubuhnya dengan punggung paulin. Dia kemudian menyingkirkan rambut paulin yang tergerai kebahu kirinya dan mengecup leher jenjang paulin. Dan meletakkan dagunya di bahu kanan paulin. Paulin merinding. Apa yang dilakukan Andrew barusan. Batinnya. Kemudian Andrew mengangkat dagunya dan bebisik lembut di telinga paulin “beberapa waktu kedepan kau akan sering mengalami hal seperti ini saat berjumpa denganku. Mungkin tidak hanya di leher. Bibirmu yang manis itu pun akan mendapat bagian. “katanya lembut namun penuh penekanan. Paulin mengernyit. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan andrew barusan. Kemudian dia bertanya “maksudmu apa? mendapat apa? aku sama sekali tidak mengerti.” Andrew hampir saja menjitak kepala Paulin jika dia tidak menahan diri. Kenapa anak ini begitu polos. Batinnya geram. “Kenapa kau begitu polos paulin. Katakan padaku apakah kau belum pernah berciuman.” “belum” jawabnya santai. “bagaimana dengan kekasih?” “belum.” “kalau begitu cinta. Kau tau artinya cinta?” “tidak. Aku sama sekali tahu apa arti cinta. Eh.. kenapa kau bertanya hal seperti itu.? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti.” Teriaknya kesal. Andrew lebih kesal lagi melihat kepolosan paulin. sehingga dia hanya menghela nafas dan melepaskan kuncian tangannya pada tangan paulin. Paulin bingung melihat kelakuan Andrew yang menghela nafas dengan kasar. Dia tidak ambil pusing dan pergi dari taman itu. Namun suara Andrew menahannya “paulin, katakan padaku kau belum tau rasanya berciuman, jatuh cinta dan patah hati?” tanyanya bertubi tubi. Paulin dengan entengnya menjawab “belum, belum dan belum.” “paulin…” geram Andrew. Ternyata di zaman sekarang ini masih ada manusia yang belum pernah merasakan hal semacam itu.
“jadilah temanku paulin, dan akan kuajarkan semua hal itu padamu.” “hal apa?” Tanya paulin. Andrew sangat kesal melihat gadis satu ini. Ingin rasanya dia menjitak keras kepala anak inin, namun ditahannya. “nanti akan kuberitahu sekarang maukah kau menjadi temanku?” paulin Nampak berpikir lalu berkata “baiklah. Teman.” Kemudian dia pun pergi meninggalkan Andrew. Andrew mendengus. Teman macam apa yang meninggalkan temannya sendiri di taman. Padahal baru saja mereka resmi berteman. Dasar gadis aneh, batin Andrew.

Pagi ini Andrew sampai ke sekolah dan duduk di bangku lexa. Sesaat kemudian lexa datang dengan kaki pincang, lutut dan lengan yang berdarah. Andrew menyerbunya dengan banyak pertanyaan, namun malah dikatai dungu. Akhirnya Andrew meminta maaf dan bergegas ke uks untuk mengambil alkhohol dan yang lainnya untuk mengobati luka lexa. Setelah mengambil beberapa keperluan dia bertemu dengan paulin di uks “hai..” sapa adrew “emmm…” paulin hanya bergumam. Dia tidak kehabisan akal dan berkata “nanti waktu jam istirahat jumpai aku di taman kemarin. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” “baiklah” kemudian Andrew berlari meninggalkan uks dan menghampiri lexa. Dia kemudian membersihkan luka yang ada pada lengan dan lutut lexa dengan alkhohol. Dan dihadiahi sebuah pukulan di bahunya. Dia hanya bisa pasrah terhadap kelakuan lexa padanya.

Bel pun berbunyi. Andrew segera kembali ke bangkunya. Hari ini mereka mendapat teman baru. Laki laki itu bernama alex. Tampan yang menurut Andrew setara dengan ketampanannya. Dan beruntungnya laki laki itu duduk bersebelahan dengan lexa.

TET… TET… TET…
Akhirnya bel istirahat berbunyi. Dia pun segera lari ketaman untuk menjumpai paulin, dia meninggalkan lexa dengan alex di kelas. Sesampainya di taman dia mendapati paulin duduk dengan tenang sambil menghirup udara segar di bangku tama, dia pun menghampiri paulin dan duduk di sampingnya. “apa yang ingin kau bicarakan denganku.?” “aku akan mengajarkanmu banyak hal tentang cinta dan sebagainya. Mulai hari ini kau bisa belajar denganku. Nanti datanglah ke rumahku. Akan kuberitahu alamatku. Namun terlebih dahulu sini nomor penselmu. Agar aku dapat memberitahu alamatku padamu.” Paulin pun menyerahkan smartphonenya kepada alex. Lalu alex memiscall nomornya sendiri. “sudah. Aku akan mengirimnya lewat sms nanti. Sekarang lebih baik kita kembali ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi.” Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan taman.

Sore harinya…
Paulin akhirnya sampai di depan rumah Andrew. Dia tidak terlalu terkejut dengan rumah Andrew yang sangat megah. Karena dia memang sudah terlalu bosan tinggal di rumah yang megah seperti itu. Dia pun akhirnya menekan bel dan pintunya dibukakan oleh seorang asisten rumah tangga. Dia bertanya. “emm.. maaf apakah andrew ada di rumah sekarang?” tanyanya dengan sopan. “ada. Silakan masuk. Tuan muda Andrew sedang bermain piano di ruang keluarga. Akan saya antar nona kepada tuan Andrew.” “emm.. te.. terimakasih.” jawabnya gugup.

Sesampainya di ruang keluarga dia melihat Andrew sedang serius memainkan piano hitamnya. Dia kemudian diantar sang asisten ke tempat duduk yang ada di dekat Andrew. Andrew menghentikan permainan pianonya sebentar kemudian menoleh ke arah paulin.
“hi… kau sudah datang?” “emm..”

Kemudian Andrew melanjutkan permainan pianonya. Paulin hanya memperhatikan dari sofa tempatnya duduk. Kemudian Andrew mwnyudahi permainan pianonya dan menghampiri paulin. “maaf membuatmu menunggu.” “emm…” paulin hanya bergumam. Andrew tersenyum menghadapinya. Padahal dalam hatinya dia sangat ingin menjitak kepala perempuan satu ini. Setelah itu Andrew berdiri dan menghampiri paulin. Paulin mengernyit saat dia melihat Andrew terus memperhatikannya. “ada apa? kenapa kau melihatku seperti itu?” “tidak ada. aku baru saja menyadari bahwa kau memiliki tahi lalat kecil di bawah matamu. Itu terlihat manis. Dan aku menyukainya” Andrew berupaya menggoda paulin. Namun paulin tidak peka dan hanya berkata “oh.” Huft… Andrew mendesah. “ayo kita pergi ke taman belakang. Akan aku ajarkan semua hal padamu.” Paulin belum sempat membalas karena tangan Andrew sudah menggamit lengannya.

Sesampainya di taman, paulin begitu terpana melihat keindahan taman bunga mawar di depannya sekarang. Dia sangat menyukai bunga mawar terlebih mawar merah. Itu sangat indah. “ok. Kita mulai dari hal cinta, apakah kau tahu arti cinta?” Tanya Andrew membuyarkan lamunan paulin. Paulin hanya menggeleng. “cinta itu adalah hal wajar yang dimiliki manusia. Cinta adalah rasa sakit yang berbentuk manis. Yang dapat mengelabui manusia dengan indah dan manisnya kata kata cinta.. Atau dengan kata lain, cinta itu seperti mawar. Indah namun durinya dapat membuat seseorang atau lebih terluka.. apa kau sudah mengerti?” “sudah. Itu bukan hal yang sulit untuk kumengerti.” “ok. Sekarang ciuman.” “apa kita harus membicarakan itu sekarang?” “tentu saja sudah jangan protes lagi, ciuman itu mempunyai arti tersendiri. Ciuman di kening artinya menjaga, di punggung tangan artinya menghormati, di pipi artinya menyayangi, di leher artinya nafsu, di hidung artinya cinta, dan…” Andrew menjeda sedikit ucapannya dan mendekatkan wajahnya ke arah paulin kemudian berkata “dan di bibir artinya you are mine.” Hampir saja bibir mereka bersentuhan namun dengan polosnya paulin mendorong kepala Andrew. Andrew memasang wajah masam. Belum pernah ada perempuan yang menolak saat akan diciumnya. Namun karena terlalu polosnya perempuan hingga dia mendorong wajah Andrew.

“ok. Aku sudah mengerti sekarang. Namun aku masih penasaran tentang sesuatu.” “penasaran tentang apa?” Tanya Andrew ketus. “mengapa kau menyuruhku datang ke rumahmu? ““kenapa kau mau datang?” Andrew sangat kesal sekarang. “kau memberiku alamatmu dan menyuruhku datang. Jadi aku datang saja.” Ya tuhan … gadis ini sangat menyebalkan. Terlalu polos. Batin Andrew sambil menggeram. “ah.. ya sudahlah. Ini sudah terlalu sore. Sebaiknya aku pulang.” Dia akan berbalik namun ditahan oleh Andrew. “mengapa kau pulang secepat itu. Ini masih sore dan besok adalah hari libur. Sebaiknya kau pulang nanti saja, aku ingin meminta bantuanmu.” “bantuan apa?” “jawab dulu kalau kau ingin membantuku. Aku harus mendengar jawaban iya. “bodoh kau. Mengapa kau bertanya tentang jawabanku. Sekarang saja kau sudah memaksa. Ya sudahlah. Bantuan macam apa yang kau butuhkan?” Andrew tersenyum licik dan menarik tangan paulin ke lantai dua. Ke arah kamarnya.
“bantu aku membereskan kamarku.” Paulin melongo dengan mulut menganga. Laki laki ini sungguh gila, batinnya. kamar Andrew sangat berantakan. Sepertinya sengaja diberantaki. Selimut jatuh ke lantai. Bantal berhamburan di mana mana. Joy stick playstation tergeletak di lantai. Dvd cassete berserakan. Buku, komik dan novel berantakan di rak bukunya, tasnya di tempat tidur dan pakain yang sepertinya memang sengaja dihamburkan dari lemari. Setelah menghela nafas panjang akhirnya paulin mulai membereskan kamar Andrew. Dan Andrew sendiri hanya bersandar di pintu kamarnya yang dia tutup dan memperhatikan paulin tanpa niat membantu paulin.

Setelah hampir kira kira satu setengah jam akhirnya pekerjaan paulin telah selesai. Dan kamar Andrew terlihat lebih rapi dari sebelumnya. Dia melihat arloji yang bertengger manis di lengan kirinya. Ternyata sudah jam 7 malam. Sebenarnya dia tidak terlalu khawatir dimarahi orangtuanya jika pulang terlalu larut malam. Toh orangtuanya tidak pernah memperhatikannya. Mereka berdua hanya sibuk dengn pekerjaannya ke luar kota atau bahkan ke luar negeri berminggu minggu tanpa ada niat memperhatikan paulin. Dia sudah biasa akan hal itu atau bahkan dapat dikatakan tidak peduli lagi dengan orangtuanya.

Dia akan segera ke luar dari kamar Andrew. Namun pintunya dikunci dari luar oleh Andrew. Paulin mendecak kesal dasar laki laki gila. Batinnya. Berhubung karena ia sudah lelah dia akhirnya menyerah menggedor gedor pintu dan memilih duduk di kasur Andrew. Dia merasa kantuk mulai menyerangnya dan akhirnya dia tertidur di kamar Andrew. Andrew yang merasa janggal tidak mendengar suara paulin akhirnya membuka pintu dan mendapati paulin sudah tertidur di kasurnya, dia mendekat ke arah paulin dan berjongkok. Paulin yang tidurnya menyamping wajahnya tepat berada di depan wajah Andrew. Andrew memperhatikan wajah paulin lekat lekat. Cantik, bisiknya. dia sedikit merasa bersalah kepada paulin. Dia memang sengaja memberantaki kamarnya sendiri dan menyuruh paulin membereskannya dengan niat mengerjainya. Dia tidak menyangka ternyata hal itu membuat paulin lelah hingga akhirnya tertidur di ranjang Andrew. Andrew mengelus lembut pipi paulin dengan jari jari panjangnya. Dia tidak ingin membangunkan paulin. Dia mendengar paulin menggumam “ayah.. ibu.. kalian jahat.. kalian tidak pernah memperhatikanku… kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri. Aku ingin pergi dari kalian berdua… aku bagaikan anak tiri… aku membenci kalian berdua…” gumamnya dan air mata menetes dari sudut matanya. Andrew yang mendengar itu merasa prihatin. Entah mengapa melihat paulin menangis membuat hatinya bergetar tidak karuan. Apakah dia mulai menyukai gadis ini dengan kepolosanya. Padahal baru tadi siang mereka bersama. Entahlah. Dia sendiri juga bingung. Dan gumaman paulin lebih membuatnya merasa sedih. Ternyata orangtuanya tidak pernah memperhatikannya. Padahal orangtuanya walaupun sangat sibuk selalu meluangkan waktu untuk melihatnya. Entah mengapa dadanya berdesir aneh ketika melihat gadis ini dari jarak sedekat ini. Padahal dari dulu tidak pernah ada satu gadis pun yang dapat membuat jantungnya bergetar. Dan niatnya hanya untuk menghancurkan gadis polos ini. Namun sepertinya rencananya gagal.

Cerpen Karangan: Derisma Paulina
Facebook: derisma Paulina Haloho
Terpendam

Terpendam

Judul Cerpen Terpendam

Ini adalah kisah sahabatku, panggil saja dia eman.
Kisah cinta pertama ini dimulai dari bangku sekolah dasar kelas 5, berawal dari eman yang tak sengaja menatap mata seorang gadis yang lebih muda darinya, sebut saja namanya ana. Ana pun tak sengaja menatap mata eman mereka berdua pun saling bertatapan dan disitulah awal kisah cinta pertama eman timbul sewaktu upacara bendera.

Eman yang sudah jatuh hati kepada ana hanya bisa memandangi ana tanpa berkata apa apa karena eman sadar bahwa cinta pertamanya saat itu adalah cinta monyet seperti sebuah judul lagu pada masa itu.

Naik ke kelas 6 eman memilih duduk di belakang ana karena ingin lebih dekat dengan cinta pertamanya, namun suatu hari eman dan ana harus duduk berdua dalam satu meja dua kursi karena akan diadakan ulangan harian yang mengharuskan duduk secara acak, jantung eman terasa berdetak lebih kencang dari biasanya karena duduk bersama ana yang merupakan cinta pertamanya. Terlebih lagi ana tersenyum sambil melihat ke arah eman yang membuat eman semakin gugup tanpa berkata apa apa…

Masa sekolah dasar pun berakhir, eman dan ana masuk ke jenjang smp yang sama. Eman pun berencana meminta nomer hp kepada ana agar bisa lebih dekat dengannya namun suatu kecelakaan membuat rasa percaya diri eman hilang akibat bekas luka yang tak kunjung hilang namun malah membekas di wajahnya, saat itulah eman mengurungkan niatnya tersebut karena merasa malu.

Rasa suka emanpun mulai hilang karena karena dua sebab: malu karena bekas luka yang disebabkan kecelakaan dan karena eman dan ana jarang bertemu, walau satu sekolah eman dan ana hanya bertemu sewaktu istirahat tiba.

Ketika kelas tiga eman dan ana akhirnya satu kelas lagi namun eman yang sudah tak terlalu suka seperti ketika sd dulu mencoba untuk bersikap biasa. Hingga suatu kejadian yang dulu terulang lagi eman dan ana duduk bersebelahan kembali, eman yang sudah tak terlalu suka mencoba biasa namun hal itu tak bisa didipungkiri bahwa jantung eman mulai berdetak lebih keras seperti dulu terlebih lagi eman melihat wajah ana sedang tersenyum manis sendiri yang membuat eman berpikir “apakah ana juga menyukai saya?”.
Rasa suka terhadap cinta pertamanya mulai timbul dengan cepat namun eman tak berani mengucapkan sepatah kata kepada ana…

Eman dan ana akhirnya lulus namun eman lebih memilih untuk bersekolah di jurusan teknik ketimbang memilih bersama ana yang bersekolah di jenjang sma, eman dan ana sesekali bertemu saat pergi ataupun pulang sekolah karena sekolah mereka satu jalur. Namun saat eman bertemu ana malah membuat hati eman risau karena ketika eman bertemu ana, ana malah memalingkan wajahnya menjauhi pandangan eman.
Terkadang eman berpikir bahwa “apakah aku membuatnya marah dengan tak pernah mengatakan apapun kepadanya”.

Setelah eman dan ana lulus eman tak pernah bertemu cinta pertamanya yang terpendam itu. Untukmu ana, eman masih menyukaimu walau eman tak pernah mengungkapkan perasaannya…

Cerpen Karangan: Herman
Facebook: Herman Css
Memories

Memories

Judul Cerpen Memories

PULANG. Tidakkah terdengar sangat indah? kata sederhana yang mampu mengubah siapapun. Seorang pemalas jadi super rajin. Seorang penggerutu berubah ceria. Seorang pendiam jadi sibuk mengoceh. Semua orang selalu punya rumah, bukan? Tepat dimana mereka lahir, tumbuh menjadi kanak-kanak, dan dewasa. Ada yang sanggup bertahan di rumah asal, ada juga yang merantau jauh.
Pada akhirnya akan selalu sama. kita harus pulang. Banyak alasan mendasar bagiku untuk kembali. Meskipun cuma sementara, tak masalah.

Bertahun-tahun lalu, aku melangkah maju ke depan. Meninggalkan semua tempat yang penuh masa kecil. Impian. Harapan. Cita-cita, adalah hal yang kuperjuangkan hingga detik ini.
“Saya masih penasaran.” kataku nyaris tak bersuara. “ada di mana dia sekarang?”
Widy mengerutkan kening tak paham. “siapa?”
“Khaleev. Saya penasaran seperti apa dia sekarang.” jawabku menerawang. sekilas, wajah anak itu terlukis dalam ingatanku. samar-samar, namun masih dapat dibayangkan.
“oh.. manusia itu hilang kabar. Terakhir, dia jadi pekerja bangunan.”
“semoga dia masih hidup..” sahutku lemah. widy tertawa kecil mendengar lelucon ringan dariku. Gadis itu adalah saksi hidup dan perjalananku. sahabat sejak kecil. sejak pindah meneruskan SMP ke luar Makassar. kami masih menjalin hubungan dengan baik. Kadang kalau sempat, saling mengirim surat. maklum, jaman dulu handphone barang langka.

Rasanya waktu bergulir begitu cepat. Padahal baru kemarin, kami bermain di tengah sawah. Bermain sepeda hingga medekati Adzhan Maghrib. Makan jambu di rumah orang. Berangkat mengaji bersama-sama. Masa-masa indah penuh kepolosan.
Terkadang aku merindukan semua itu. Berharap salah satu dari kegiatan tersebut dapat terulang.

Dulu, aku percaya tentang persahabatan kami. Seakan hanya maut yang dapat memisahkan. Tetapi lihat sekarang. Masing-masing dari kami telah menemukan jalan tersendiri. Saling memisahkan diri untuk waktu yang cukup lama.
Ada yang masih di kampung, dan sebagian di tempat lain. Hm, aku merindukan mereka. kata Widy, kita harus membuat sebuah acara reuni khusus angkatanku. Ide bagus. Masalahnya cuma satu: cara mewujudkan keinginan mulia sahabatku.
“KAK FREYA!” panggil Nanda, adik sepupuku. “Anterin Nanda ngaji, sekarang!” kata gadis kecil itu. Dia sudah siap, berpakaian muslim yang kontras berwarna merah muda-putih. Satu lagi, ada gambar Frozen.
“Lho, Kok, malah kak freya, sih? Suruh aja Puput yang antar Nanda.” sahutku malas. Nanda menggerutkan wajah imutnya.
Bagaikan burung berbaju gamis, dia terbang bergelantungan padaku. Artinya, tak ada opsi lain.
“NGGAK MAU!! PUPUT GALAK!” tolak adikku sambil menghentak-entak kaki tak karuan. Widy nyengir mendengar celotehan Nanda. Aku mendesah panjang plus berat. Setelah berpamitan, kami segera menaiki motor.
Nada menunjukkan arah tempat mengajinya. Tak seperti diriku sewaktu kecil. Aku mengaji di Rumah Nek Salma, dekat sekolah. sementara adik-adikku mengaji di Nek Fatimah. Lokasinya berada di gang kecil samping puskesmas. Aku ingat dulu sering diajak mandi ke kali di ujung gang tersebut.

Rumah-rumah panggung mulai tergusur oleh rumah batu. Menyisakan sebagian pemandangan masa lalu. Jalan masuk gang tak begitu mulus. Masih berupa tanah merah, bukan aspal seperti di luar. Alhasil, kami melonjak-lonjak melewati jalanan yang tak rata.
Nada berlari masuk melewati pagar besi berwarna perunggu. Sebuah rumah bercat kuning adalah tujuan utamanya. Beberapa pasang sandal anak-anak berjejer rapi di depan pintu garasi mobil. Dengan agak terpaksa, sekali lagi. Aku harus menunggu anak itu sampai pulang.

Aku bersenandung pelan, mengawasi jalan setapak di hadapanku. Beberapa tahun lalu, aku pernah melihat anak itu di sini. Ketika sehabis mandi di sungai. Kami semua satu rombongan menaiki mobil pick-up. Entah muncul dari mana, Khaleev mengenjot sepeda penuh semangat. Aku terdiam, menahan godaan untuk melihatnya. Beberapa hari kemudian, barulah aku tau, Khaleev tinggal di sekitar situ.

Kami tak punya hubungan spesial. Hanya sebatas kakak-adik kelas sewaktu SD. Khaleev senang menganggu ketentramanku, setiap hari. Terkadang sudah stand-by depan kelas, menunggu kedatanganku. Padahal kami beda kelas, beda angkatan, dan beda usia.
Ujung-ujungnya aku dijodohkan, oleh teman-teman kelasku. Memangnya aku bisa apa? menentang keputusan sakral mereka? Jadi, aku hanya menjawab ya, ya, ya saja. Waktu berbicara menjelaskan semua. Aku menyukai anak itu, apa adanya.
Tak peduli Khaleev berpakaian acak-kadul. Berseragam baju putih-kekuningan, dipadukan sandal jepit hijau merek Swallow. Mengintipku bermain petak umpet dari balik jendela kelasnya. Aku suka semua itu. Tetapi setiap kisah selalu ada akhir.
Mama memanggilku pindah. Meninggalkan setiap kenangan indah di desaku. Yang kuingat, Khaleev ada di sana. Sabar menanti di depan kelas, sementara aku cuma bisa melihat dari kaca mobil.
Mungkinkah aku masih bisa menemukan bocah berkepala plontos itu? Entahlah, aku sendiri ragu. Mataku menangkap sosok pemuda di atas rumah panggung. Ia sibuk menguap lebar, sembari merentangkan kedua tangan ke atas. Ia menggaruk kepala malas. Aku memperhatikan dengan datar.
Tatapan kami saling bertemu. Aku memalingkan wajah, lalu merasakan sesuatu. Ada yang lain. Ia masih di sana, menatap ke arahku tanpa berkedip. Berkali-kali aku memaksa untuk menjauh dari tatapan asing itu. Berkali-kali pula aku menyerah. Aku kenal cara tatapan khas itu.
Pemuda itu melangkah maju, membiarkan cahaya pagi menerangi bayang-bayang wajahnya. Nafasku tertahan sejenak. Mengapa wajah Khaleev ada di sana? Mungkinkah itu dia? Masihkah dia mengingat wajahku? Berbagai pertanyaan menusuk batinku.
Aku tak mau berharap lebih. Jangan sampai, aku salah menebak orang. Samar-samar wajah Khaleev kecil tergiang di kepalaku. Tentu saja, Khaleev pasti sudah dewasa. Karena dia lebih tua satu atau dua tahun. Tuhan, kumohon, semoga bukan Khaleev.

Mungkin beginilah cinta monyet. Sebelumnya berharap untuk dipertemukan. Ketika berjumpa malah saling bungkam mulut. Aku takut, menerima kenyataan lain. Khaleev yang menikah.. Khaleev yang kuliah.. Khaleev yang…
“Kak.. Kakak kenapa?” Tanya Nanda mengagetkanku.
“Nggak. Nanda sudah selesai?”
“Udah. ayo, pulang.” ajak Nanda naik ke jok belakang.

Aku menelan ludah susah payah. Tatapan orang itu membuatku serba salah. Aku mengangkat kepala perlahan, menatap ke arah pemuda itu. Dia masih di sana. Diam. Seolah ingin mengajakku bicara. Sulit menebak ekspresinya.
Nanda menepuk punggung ku, “Ayo! kok malah bengong, sih! Nanda lapar…” rengek Nanda merontah tak tenang. Aku memutar motor jauh lebih lambat. Tanpa perlu diminta, aku memutar kepala.
Pemuda itu mengangkat sebelah tangan. Aku tak tau harus memberikan respon apa. Dengan cepat aku membawa motor pergi. Memang inilah keinginanku, bertemu Khaleev. Aku selalu mencari kabar tentangnya. Sebaliknya, begitu aku tak mencari dirinya. Kami malah dipertemukan kembali.

Menjelang kepulangan kembali ke Bandung. Aku berdiri di dermaga pare-pare. Di sana, aku mencoba mengingat semua yang telah terlewat. Perlahan namun pasti. Wajah Khaleev menghilang dalam ingatanku. Menyisakan memori lain yang tak kupahami.

THE END

Cerpen Karangan: Nurliah Apryanti
Facebook: nurliah apryanti
Kisah Masa Kecil

Kisah Masa Kecil

Judul Cerpen Kisah Masa Kecil

Sebut saja aku Vita, dan tiga teman perempuanku yang bernama Saras, Heni, Arina.
Rian, dia adalah sosok laki-laki yang tampan pintar baik, wajarlah kalau dia diperebutkan bantak cewek begitu juga aku, tanpa pikir panjang kenapa aku bisa sedeket ini sama Rian. Kata emak-emak tukang gosip rumah Rian banyak hantunya, ya begitulah emak-emak kiranya karena ya memang rumahnya Rian di pinggir sungai sepi lagi huu… huu… mrinding. Disitupun Rian mulai ngurung diri di rumah karena tidak ada satu pun anak yang mau ia ajak bermain.

Rian usianya 3 tahun lebih tua daripada aku. Aku yang dulu ngeyel banget pengen main sama dia, tapi ibuku yang melarang aku ke rumah dia, waktu makan pun aku ke rumahnya tetap aja aku dilarang sama ibu. Pada esok hari waktunya sekolah di SDN Sidomukti 0, aku satu sekolahan sama Rian, Rian kelas 5 aku baru kelas 1. Saat bel sekolah berbunyi waktunya pulang, horeee dan aku pun menghampiri Rian yang dari tadi jalan sambil nunduk. Hari itu hari dimana aku tidak dijemput oleh ibu karena ia sedang ada urusan ya aku jalan bareng deh sama Rian, betapa bahagianya diriku.

Setelah sampai di rumah aku pun cepat-cepat ganti baju dan bawa roti untuk aku makan bersama Rian. Aku pun tidak mempedulikan apa kata emak-emak yang cerewet itu yang selalu berusaha melarang, Rian orangnya baik kok ramah lagi ya kan yang berteman aku bukan situ kan mak.

Setiap hari saat pulang sekolah aku selalu ke rumahnya dan bermain bersama, lama kelamaan orangtuaku mengizinkan aku untuk bermain dan tak lama lagi teman-temanku juga ikut bermain bersama aku dan Rian. Di belakang rumah Rian terdapat tempat yang sejuk begitu juga dengan pemandangan sawah yang juga berda di belakang rumahku. Setiap hari selesai Shalat Dzuhur kami bermain dan membersihkan tempat itu dengan bergotong royong, dan nantinya tempat itu ingin kami jadikan tempat yang paling tak terlupakan. Lain halnya bermain di situ kami pun bermain di dalam rumah Rian, permainan yang paling sering kita mainkan yaitu Ingklek, tetek Boto, peta umpet, Betengan, rambatan, bersepeda, jamuran, maling-malingan, dan Sodoran itu bahasa kita bahasa Jawa Tengah Kota Pati.

Saat kita bermain sodoran betapa Lebaynya Arina yang tiba-tiba menangis entah kenapa, merusak suasana banget kan! Dan esok hari juga begitu saat enak-enakan main tiba-tiba ia nangis, emang ya cengeng anak Mami tuh orang. Di esok hari saat aku di rumah Rian aku melihat Rian bersama kucingnya naik sepeda dan aku dipanggil Rian “Ta, sini peganggin kucingnya kamu aku boncengin” aku langsung terdiam diri sambil menatapnya aku diboncengi yang pertama kali, segera aku melangkah menuju Rian dan berkata “Oke” saat kukira aku diajak berkeliling di luar rumah eh ternyata keliling di dalam rumah saja.
Pikiranku sempat buyar saat Rian menabrakkan ban sepeda depan di dinding, yaah kucingnya lari tuh, tapi aku masih aja ada di atas sepeda itu, dia tetap boncengin aku sambil bercerita-cerita.

Esok hari pukul 9 pagi waktu itu hari Minggu, aku dan teman-teman sepakat untuk balap sepeda di belakang rumah Rian. Saat sudah kumpul tuh balap sepeda dimulai pesertanya Didik sama aku walaupun tidak ada hadiahnya. Apalah daya cowok sama cewek balapan, aku disaat itu hanya berfikir tapi saat si Riannya datang gayaku berubah menjadi sok pembalap padahal hati aku sama pikiran aku kemana-mana mikirin gimana kalau aku nanti jatuh, nabrak itu, ketendang atau gimana.

Saat aba-aba mulai menurunkan tangan aku tanpa berfikir panjang langsung mangayuh sepedaku yang waktu itu sepedaku masih kecil ada ranjangnya di depan apa mungkin bisa menang? Tapi saat mau sampai ke finish Didik terjatuh dan dengan gayaku yang melewatinya dengan santai sambil bicara “makanya hati-hati seperti aku yang tak jatuh-jatuh hahaha” sambil gayanya aku mengangkat daguku, tak lama kemudian ban sepedaku terkena batu yang lumayan gede sampai-sampai akunya yang tak bisa kendalikan dan aku hanya berteriak karena aku takut dan tak lama aku terjatuh dan kembali ditertawakan oleh Didik, dalam hati aku berkata bodohnya aku tak melihat jalan dengan benar ah payah lu.

Saat itu sepedaku lumayan rusak, selain balapan kita juga bermain di situ saat semua pulang dengan masing-masing dan cukup panas untuk berjalan kaki, aku melihat dari kejauhan kalau Heni sama Arina pengen nebeng di sepedanya Rian, ya udah aku biarkan mereka mendekati Rian akunya yang sekarang sibuk mikirin luka ini dan tak lama aku lewat di depan Rian, Rian memanggilku dan menghampiriku, Heni dan Arina tak mau kalah dia langsung membututi Rian, “Hey Vita, ayo aku boncengin, kaki kamu kan lagi sakit susah kan buat jalan panas pula” kata Rian tak lama Arina langsung berbicara “ah Rian aku boncengin dong capek tau, rumahku kan lebih jauh dari pada Vita”. “Iya bener tuh ya, Aku boncengin juga dong Yan, rumahku juga jauh” kata si Heni. Aku hanya terdiam dan melanjutkan perjalanan karena aku tak peduli. Rian selalu memanggilku dan menarik tanganku lalu memyuruh aku duduk. Waktu itu sepeda yang Rian gunakan sepeda gunug jadi, yah aku duduknya di depan. Si Heni dan Arina pun marah lalu dia berjalan berdua. Setelah sampai di depan rumahku, teman-temanku dari tadi sudah menunggu kita. “Wihh Vita diboncengin Rian” kata Saras lalu aku hanya rersenyum malu karena aku berada pas di depan Rian.

Sore harinya aku duduk di depan teras rumahku dari kejauhan terdengar langkah kaki, seseorang dan itu Rian. Rian langsung duduk di dekatku, saat kita berbincang-bincang, keluarlah Heni yang berada di dalam rumahnya lalu duduk di teras rumahnya, rumah Heni tepat berada di depan rumahku, tak lama kemudian Arina dan Saras muncul lalu duduk di dekat Heni. Sekejap aku memperhatikan mereka, mereka lalu berbisik bisik sambil melirik tajam kepadaku. Aku pun langsung mengerti, apa mungkin mereka tidak suka denganku karena aku selelu dekat sama Rian, tak lama aku pun berbicara pada Rian “Rian jangan deket-deket sama aku ada yang tidak suka!”. “hem.. kenapa? Siapa yang tidak suka? ” Kata Rian, Rian pun lalu mengangguk-anggukkan kepalanya “oh aku mengerti” kata Rian. Aku hanya terdiam, dan aku bergeser ke kanan agar tidak berdekatan sama Rian, eh Rian malah mepet sama gua sambil bicara gitu, “aku lihat si Three bau ikan Teri ini” lalu melotot dan amarahnya mulai keluar lalu Arina dan Saras langsung masuk ke dalam rumah itu, tanpa disadari si Heni yang badannya Bulat, lalu terjatuh karena dia duduk di paling pucuk kursi panjang. Tak lama aku tertawa melihat ekspresi Heni saat jatuh kesakitan.

Tak lama kemudian aku dipanggil ayahku untuk memberi makan si imut kelinciku, dan ayahku menyuruh aku mengajak Rian untuk memberi makan kelinci juga, kami pun bercanda, sekitar 15 menit Si Three bau ikan teri ini nyamperin kita, kukira dia mau marah, tapi ternyata mereka mau meminta maaf pada kita atas apa yang mereka perbuat. Dan uluran tangan mereka bertiga menunjukkan bukti bahwa mereka benar-benar ingin minta maaf, tanpa basa basi aku memaafkan mereka bertiga.

Saat lulus dari SD Rian melanjutkan sekolah di SMP, saat aku ke rumahnya dia sering tidak ada di rumah atau pergi. Jarak antara aku dan Rian semakin jauh dan akhirnya kita menemukan kekasih masing-masing. Aku yang dulu belum pernah mengungkapkan perasaan dan begitu juga dengan dia. Tapi kini kita sudah terlanjur jauh dan akhirnya kita memendam rasa yang waktu kecil sungguh indah.

Kini aku berada di kelas 9 dan dia sudah lulus SMK, dia sekarang bukan Rian yang dulu, Rian yang sekarang playboy, ngerok*k, sering ke luar malam, dan pergaulannya yang bebas itu makin membuat aku sudah tak lagi bisa mencintainya lagi, walaupun dia Cinta Pertamaku.

Maafkan aku jika suatu saat nanti aku lupa dengan kenangan kita yang lebih indah dari ini, walaupun kau tak pernah bercerita betapa indahnya kenangan kita saat kecil tapi aku akan tetap mengingat karena kau yang pertama membuat aku mengerti apa itu cinta, dan apa itu sebuah pertemanan.

Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca kisah waktu kecil, dan janganlah engkau melupakan kenangan yang indah walaupun dia sudah melupakannya!!
Siapa yang tak ingat Cinta Pertamanya yang kini tergantikan oleh Kekasih kita sekarang.

Sekian dan Terimakasih.

Cerpen Karangan: Yuliana Novitasari
Facebook: Yuliana Novitasari