Showing posts with label Cerpen Nasionalisme. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Nasionalisme. Show all posts
Hanya Satu Kali Setahun

Hanya Satu Kali Setahun

Judul Cerpen Hanya Satu Kali Setahun

“Lo kenapa, Fel? Muka ditekuk kayak lepet begitu?,” tanya Riska saat melihat sahabatnya makan dengan lahap, namun seakan ia hendak memakan piringnya pula.
“Tahu lu! Ada apaan, sih?!,” tanya Bram.
“Kalo ada masalah cerita, Fel. Jangan lu pendem sendiri, terus keluar-keluarnya api dah dari mulut lu! Naga aja kalah panasnya,” ejek Billy dengan gurauan ringannya.
“Tahu ah! Pusing gue!,” decah Felly dengan mengunyah kasar makanannya.
“Masalah?,” tanya Bram.
“Acara HUT. Lo tahu, anak-anak setuju semua kan dan berjanji sanggup buat ngurusin ini, tapi buktinya apa, hah?! H-3, mereka nggak ada semua. Mereka pikir gue robot apa? Gue juga kewalahan masalah ini!,” kata Felly dengan seluruh nada kekesalan di setiap katanya.
“Kenapa nggak lu kumpulin aja ketua dari setiap kelas? Kan dari situ, kita bisa tahu kinerja mereka masing-masing. Kalau lo kayak begini terus, gimana lo bisa mantau mereka?,” ucap Riska santai.
“Eh! Lu bener juga ya. Tapi, gimana caranya?,” tanya Felly.
“Duh, Fel! Lu tuh kelas excellent, tapi begonya nggak ketulungan! Ya tinggal pengumuman di TU, kenapa?!,” kata Billy menyahuti dengan gemas.
“Lagipula, nggak ada yang namanya pemimpin nggak punya hak untuk mengumpulkan rakyatnya hanya untuk sekedar melihat kinerja mereka atau hanya sekedar menampung seluruh pemikiran mereka,” ujar Bram.
“Iya juga, sih!”
“Lu nggak sadar kalau lu punya wakil, gue?,” tanya Riska dengan melebarkan matanya.
“Hehehehe, ya maaf atu!,” kata Felly nyengir.
Mereka bertiga hanya menanggapi Felly dengan melanjutkan makannya. Karena merasa dicuekin, Felly pun ikut makan bersama mereka. Tapi kali ini, ia makan dengan begitu tenang. Seakan, seluruh permasalahannya selesai setelah sedikit perbincangan mereka tadi.

Felly memasuki aula setelah ia mengumumkan pengumpulan para ketua kelas untuk membahas perkembangan kinerja serta persiapan menuju HUT. Wajahnya yang damai kembali terasa terbakar saat ia mendapatkan laporan mereka. Bagaimana tidak? Hari perayaan hanya kurang tiga hari. Sedangkan, persiapan masih tersedia nol koma lima persen.
Seketika Felly naik darah. Mulut naganya seakan hendak menyembur. Begitu juga dengan tatapan tajam singanya yang hendak menyantab mangsanya. Namun, semuanya terhenti saat Riska menghentikan Felly hanya dengan sorotan matanya yang memperingatkan. Billy dan Bram yang ikut menjadi anggota, hanya bisa tertawa melihat hidung Felly yang kembang kempis karena menahan amarah.
“Ok, di sini saya akan membagi tugas kalian,” ucap Felly dengan seluruuh ketegasannya.
“Udah lah, Kak. Kita terima aja apa adanya yang diberikan sekolah. Toh, tugas kita kan belajar. Bukan membuat acara-acara seperti ini. Ditambah lagi, nggak semua dari kita yang menginginkan cita-cita sebagai pengisi acara,” kata salah satu anak dari kelas sebelas.
“Apa kamu pikir hanya belajar saja cara kita mengisi kemerdekaan? Apa kamu pikir negara kita sudah merdeka sepenuhnya? Enggak!!! Negara kita masih terjajah. Kalian nggak pernah sadar bagaimana bangsa lain menjajah kalian. Mereka menjajah kita dengan teknologi yang dapat merubah kebiasaan aktivitas kalian serta budaya kalian. Begitu juga dengan moral kalian. Jika kalian masih memiliki moral, kalian akan berpikir bagaimana caranya menjadikan negara kalian negara yang berbeda dengan seluruh persatuan berdasarkan pancasila. Kenapa saya bilang seperti ini? Kalian tidak dapat mengerjakan tugas secara kelompok, karena kalian mementingkan urusan kalian sendiri di dalam gadget kalian ketimbang, berbaur bersama yang lain, dan meninggalkan gadget sejenak,” ucap Felly panjang lebar.
“Guys! Kalau negara kita merdeka, nggak akan ada kemiskinan. Undang-undang bilang, kalau kemiskinan akan ditanggung oleh pemerintah. Tapi, apakah pengemis pantas mendapatkan hal itu? Sedangkan, mereka masih mampu mengasah kemampuan mereka? Jika bukan kalian yang memberantas, lalu siapa lagi? Apa kalian nggak miris, mendengar presentase bagian tambang emas yang hanya diberikan kepada Indonesia sebesar nol koma satu persen. Sedangkan, sisanya dikuasi oleh negara baian eropa? Ayolah coba kita berpikir kritis,” kata Riska menambahi.
Suasana musyawarah yang awalnya sangat ramai, seketika hening. Seakan, suara yang ada di sana tertelan oleh api ucapan Felly.

“Kalian itu maunya apa sih? Kita cukup berjuang kecil tanpa harus mengeluarkan darah dan sakit di medan perang. Kita cukup mengisinya dengan partisipasi. Ayolah, kita gotong royong dalam menangani masalah ini. Di sana juga, kita bisa membuat kenangan indah yang termasuk dalam perjuangan hidup kita untuk mencapai suatu tujuan,” tambah Felly.
“Ayolah, guys! Apa susahnya sih berpartisipasi? Kita bisa sekalian seneng-seneng loh dengan macam-macam lomba yang bisa kita tentukan. Kita juga bisa belajar hal baru dari solidaritas kita semua,” kata Bram yang ada di pojok belakang.
“Toh, dana juga udah tersedia. Kita tinggal melaksanakan tugasnya doang. Apa susahnya nyusun acara dan laksanakan,” lanjut Billy yang duduk di samping Bram.

Suasana masih hening. Bahkan suara jangkrik dan cicak, mungkin akan mengisi sunyinya ruangan itu jika mereka berdua ada di siang bolong bersama kembang kempis hidung Felly yang terus menanti jawaban dari setiap anggotanya. Karena merasa kesal, Felly turun dari kursi kekuasaannya dan mendekat ke peserta forum siang itu.

“Saya akan memberikan kalian keputusan. Saya nggak mau tahu, hari ini saya butuh tiga tim dari setiap kelas dengan anggota sepuluh orang. Sisanya, ikut Riska untuk menangani tugas lain. Saya akan membagikan absen setiap kelas, tulis di balik kertas ini mengenai tiga tim tersebut. Saya kasih waktu lima menit!,” kata Felly dengan mulai berjalan mengelilingi meja untuk membagikan absensi tersebut.
“Emang wajib, ya?!,” tanya seseorang saat Felly tengah ada di bangkunya dan memberikan kertas absensi.
Felly tidak menjawab. Melainkan, ia menggebrak meja dan menuding laki-laki itu dengan kobaran api yang ada di matanya. Billy dan Bram yang terduduk, seketika berdiri untuk melihat keadaan. Begitu pula Riska yang fokus dengan pengumpulan data, mengalihkan perhatiannya kepada Felly.
“Biasa aja kali, Mbak.”
“Seharusnya gue yang bilang kayak begitu. Lo ketua kelas!!! Tapi lo nggak pernah tahu moral serta aturan! Lo bukan makhluk individu yang bisa melakukan semau lo!!! Bapak Ibu lo mati-matian kerja buat bayar sekolah agar lo mendapatkan pendidikan dengan pribadi yang baik!!! Bukan kayak begini!!!,” bentak Felly.
“Fel-Fel! Udah!,” kata Bram dan Billy.
Felly tidak menjawab. Melainkan, ia ke luar kelas dengan meletakkan kertas di meja kehormatannya. Bram dan Billy mengejarnya. Sedangkan Riska mengendalikan ruangan dengan kepemimpinannya. Riska tahu, selama ini Felly berjuang sendiri menyelesaikan tugas sebanyak itu tanpa anggotanya.
Padahal, dia sudah berusaha mengajak, membaur serta bekerjasama dengan mereka. Felly bahkan berjuang demi ini semua sampai dia rela tidur di luar karena kadua orangtuanya mengunci pintu rumah Felly. Karena, Felly pulang sangat larut tanpa memberikan kabar setelah ponselnya lowbat. Memang, ada saatnya kita bergurau dengan pemimpin, ada saatnya pula kita menghormati dan juga mematuhi perintahnya. Karena sesungguhnya, tanpa ada pemimpin, maka negara tak akan dapat berjalan. Oleh karena itu, sejelek-jelek apapun pemimpin, menghormati dan menghargai sangatlah penting. Sesuai dengan apa yang sudah di katakan oleh Al-Qur’an.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook : Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Jangan Biarkan Indonesia Pecah

Jangan Biarkan Indonesia Pecah

Judul Cerpen Jangan Biarkan Indonesia Pecah

“Lihat deh teman-teman aku baru saja membeli tas. Langsung dari London lo.” Pamer Sisylia.
Yup, dia paling senang pamer segala barang-barangnya. Mulai dari pensil lah, buku lah, penghapus lah, sampai sendal pun dia pameri kepada kami. Kami memang sudah terbiasa dengan sikap Sisylia seperti itu. Tidak banyak yang menyukai Sisylia. Dia memang sangat suka pamer dan sombong, hanya gengnya saja yang suka dengan dia nama gengnya adalah Girl’s Beatiful.

“Eh, Sisy sudah deh kamu pamer barang-barangmu. Kalau mau pamer sana pamer saja pameran. Sesuka hatimu mau pamer apa. Asal yang penting jangan di sini ini itu sekolah bukan tempat pamer barang,” Nelly angkat bicara.
“Kenapa? Kamu iri ya aku bisa kesana kemari tidak sepertimu hanya berkeliling di kebun binatang saja. Tidak sepertiku yang bisa ke luar negeri. Sudah kalau kamu iri sana kembali ke kursimu tidak usah mengurusiku!” Marah Sisy kepada Nelly. “Sudahlah yang penting aku sudah menasehatimu.” Ujar Nelly.
“Aku tidak perlu nasehatmu mengerti!” Bentak Sisy.
“Dasar anak sombong,” Gumam Nelly. Untungnya Sisy tidak mendengar sampai dia mendengar wah gawat dia bisa-bisa marah.

Teng, Teng, Teng, Bel masuk berbunyi nyaring memekakkan telinga.
“Selamat pagi anak-anak,” Sapa Miss Gloria ceria dan semangat.
“Selamat pagi juga Miss Gloria,” Sahut semua anak-anak.
“Baiklah kita mulai pelajaran PPKN kita bla bla bla.

Akhirnya, bel istirahat pun berbunyi anak-anak berebut ke luar kelas. Terutama Sisy dia memaksa untuk ke luar ruangan. Sisy menuju ke perpustakaan dia tertarik untuk membaca buku sejarah Indonesia.
Sisy mengambil buku itu. Sisy menitikkan air mata ketika membaca halaman pertama. Nelly melihat kejadian itu.
“Sisy kamu kenapa?” Tanya Nelly lembut. Sisy terkejut ketika Nelly menepuk pundaknya.
“Ah itu, aku terharu ketika membaca buku Sejarah Indonesia ini. Aku baru tahu pahlawan Indonesia berjuang melawan penjajah. Maafkan aku selalu mengejek Indonesia maafkan aku ya Nelly tadi aku membentak kamu di kelas. Maafkan aku sungguh aku menyesal,” Tangis Sisy semakin keras. Sampai mengundang perhatian anak-anak.
“Iya tidak apa-apa kok. Sekarang kita sahabatan oke,” Kata Nelly.
“Hidup Indonesia!” Seru Nelly dan Sisy.

Tamat

Cerpen Karangan: Elsa Puspita Ronald
Blog: kampungmarindu.KM.blgspot.com
Untukmu Tanah Airku

Untukmu Tanah Airku

Judul Cerpen Untukmu Tanah Airku

Sudah beberapa tahun saya mengenyam pendidikan akademi militer. Dan hari ini adalah hari pertama saya bekerja sebagai TNI. Sejak dahulu saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjadi seorang TNI, sejak kecil saya ingin menjadi pemain sepakbola, toh sepakbola juga bisa membuat bangsa Indonesia bangga. Namun kedua orangtua saya sama sekali tidak setuju jika saya berkarir di sepakbola. Saya sangat kesal sekali ketika orangtua menyuruh saya untuk berhenti bermain sepakbola sebelum terlambat, karena menurut mereka sepakbola tidak menjamin masa depan saya nantinya. Karena kakek saya adalah seorang pejuang kemerdekaan, orangtua saya menyarankan saya untuk masuk sekolah kemiliteran. Apalagi ayah sangat ngotot untuk memasukkan saya ke sekolah kemiliteran walaupun ia sendiri adalah seorang pengusaha tekstil.

Awalnya saya tidak mau menuruti apa kata mereka, karena saya berhak menentukan masa depan saya sendiri bukan mereka. Tetapi lambat laun saya berpikir jika menjadi seorang TNI tampaknya akan membuat tantangan tersendiri bagi saya, apalagi jika saya nanti ikut berperang melawan musuh yang mencoba untuk memasuki wilayah Indonesia, dan semua bangsa Indonesia pun akan bangga dengan saya. Dan sejak saat itu pula saya memutuskan untuk menuruti apa kata orangtua saya.

Hari ini saya bertugas di Papua, saya ditugaskan oleh komandan untuk menjaga keutuhan NKRI karena di wilayah Indonesia belahan timur ini diduga ada teroris yang bersembunyi ditambah adanya konflik antara warga Timika, Papua yang semakin membuat wilayah Indonesia bagian timur ini sangat tidak aman. Saya harus meninggalkan istri dan satu anak saya di Jakarta selama beberapa bulan ke depan demi tugas dari negara. Saya dan beberapa rekan saya terus memantau wilayah Papua ini. Saya selalu bersemangat jika dalam tugas ini Boni rekan terbaik saya asal Maluku selalu diikutsertakan bersama saya, ia adalah rekan saya yang murah senyum dan selera humornya sangat tinggi. Boni selalu bisa membuat saya dan rekan yang lainnya tertawa dengan candaannya itu walaupun di kondisi yang sangat genting sekalipun.

Tak terasa, suara adzan pun berkumandang walaupun di tempat yang cukup terpencil ini. Saya dan rekan lain yang beragama islam langsung mengambil air wudhu dan solat maghrib di rumah warga. Saya sendiri dipercaya sebagai imamnya. Ketika selesai rakaat terakhir, terdengarlah suara tembakan dari arah belakang, suaranya sangat jelas sekali. Apa yang terjadi? Apakah para teroris itu datang untuk menyerang pasukan kami ketika kami sedang khusyuk beribadah? Saya sangat khawatir sekali dengan Boni yang sedang ada di belakang karena ia tidak ikut solat bersama saya karena Boni adalah seorang kristiani. Saya berharap jika Boni bisa menjaga dirinya. Saya dan rekan-rekan yang selesai solat langsung menuju ke arah tembakan, saya melihat salah satu dari kami yang terkapar dengan darah yang mengalir, syukurlah lukanya bisa ditangani dengan cepat. Kami pun menyusul Boni yang mengejar para tawanan yang diduga teroris itu ke hutan, nekat sekali mereka menyerang kami dengan gegabah. Kami yakin malam ini juga kami bisa menangkap mereka hidup-hidup atau mati. Nampaknya perang akan segera dimulai.

Selama pengejaran ke hutan yang sangat kurang penerangan, saya selalu ingat istri dan kedua anak saya yang ada di rumah. Saya rela mati demi mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia dan membuat rakyat Papua kembali hidup dengan tenteram tanpa adanya teror dari para manusia biadab. Kami terus berlari sambil menenteng senjata yang ukurannya cukup panjang dan berat. Kami kembali mendengar suara tembakan dari arah yang cukup dekat, kami pun mencoba untuk mempertahankan diri dan bersembunyi di semak-semak sambil melihat-lihat apabila ada musuh. Berani sekali mereka menantang kami, apa mereka tidak tahu jika kami dilatih selama bertahun-tahun untuk menangkapnya atau bahkan membunuhnya jika mereka terus-menerus meneror manusia yang tak bersalah? Saya melihat sekelebat bayangan berlari dengan baju serba hitam, dan jelas sekali itu adalah musuh kami, dan saya langsung menembak ke arah bayangan itu dan saya berhasil melumpuhkannya, kakinya terkena tembakan hasil bidikan saya. Ternyata ia bodoh sekali mencoba untuk berlari. Kami segera menangkap orang itu dan kembali mengejar mereka yang lolos.

Sekitar jam sepuluh malam kami berhasil melumpuhkan sekitar 4 terduga teroris itu dan berusaha untuk melumpuhkan sisa-sisanya yang masih berkeliaran di tempat ini. Di bawah pohon pinus itu saya melihat ada seseorang yang terkapar, dan jelas itu adalah pasukan dari kami. Orang itu adalah Boni rekan baik saya yang berselera humor tinggi, ia mengerang kesakitan dengan luka di perutnya, gawat sekali lukanya sangat parah sementara perlengkapan medis terletak sangat jauh sekali. Ketika akan saya gendong, ia malah menolaknya dan berkata kepada saya “Habisi nyawa mereka Boy, jangan sampai mereka lolos, selamatkan tanah Papua ini, tugasku berakhir di sini, ucapkan salam kepada mereka dariku Boy, selamat jalan..”, dan tak lama dari itu Boni memang benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya. Saya kehilangan kawan terbaik selama di akademi militer, Boni si pembuat tawa para TNI terutama saya. Saya tidak boleh bersedih, saya harus terus melanjutkan tugas ini dan menangkap semua manusia biadab itu.

Sembilan jam perang berlangsung, kami berhasil melumpuhkan mereka terduga teroris itu, sebagain dari mereka ada yang selamat dan sebagian lagi ada juga yang tewas. Boni dan kedua kawan saya yang lain gugur di medan perang. Saya sendiri menderita luka dibagian kaki sehingga saya harus segera dilarikan ke rumah sakit bersama rekan-rekan yang lain yang juga menderita luka untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Saya puas berhasil menuntaskan tugas saya dengan baik, tugas dari negara untuk menangkap mereka hidup ataupun mati. Dan saya pun berhasil mengabulkan permintaan terakhir Boni. Semoga Boni tersenyum melihat keberhasilan kami.

Satu minggu kemudian kami disambut bak pahlawan oleh pemerintah, saya hadir untuk menerima penghargaan dari presiden dengan tubuh terduduk di kursi roda. Istriku yang mendorong kursi roda itu. Di pojok sana, kedua anak saya tersenyum senang melihat ayahnya diberi penghargaan oleh presiden. Saya dan semua rekan yang lain yang bertugas di Papua diberikan kehormatan yang cukup tinggi dengan diberinya penghargaan ini atas berhasilnya menumpaskan para kawanan teroris yang beberapa tahun terakhir ini banyak sekali mengganggu rakyat. Yang hidup maupun yang tewas diberikan sebuah penghargaan dan kehormatan termasuk Boni si periang itu. Saya bangga dengan pencapaian ini, namun ini semua belum seberapa. Saya masih ingin menjaga kedaulatan NKRI ini dengan segenap jiwa saya sampai akhir hayat saya. Selepas terlepas dari kursi roda ini, saya akan kembali berlatih untuk menangkal ancaman yang mengganggu kedaulatan negara saya tercinta ini, Indonesia.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
Sampai Akhir Menutup Mata

Sampai Akhir Menutup Mata

Judul Cerpen Sampai Akhir Menutup Mata

“Ben, kamu udah bersyukur belum hari ini?”, pertanyaan yang sering dilontarkan kawanku Andi setiap harinya yang membuatku tersadar betapa pentingnya bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Alasan Andi bertanya seperti itu kepadaku tak lain ia hanya ingin membuatku ingat akan perjuangan para pahlawan yang rela mati demi mengibarkan bendera merah putih yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sikap ramahnya membuatku semakin beruntung memiliki sahabat seperti Andi, mungkin tak banyak orang yang seperti Andi di dunia ini.

“Andi, kamu gak latihan hari ini?”, tanyaku kepada Andi yang sedang memainkan game di ponselnya. “Kayaknya hari ini aku gak bisa latihan, soalnya badanku kurang fit, Ben”, jawab Andi sambil menoleh ke arahku. Tidak biasanya Andi seperti itu, mungkin ia terlalu lelah karena kemarin telah berlatih renang dengan keras. Aku pun terpaksa harus berlatih renang tanpa Andi hari ini.

Aku dan Andi adalah atlet renang nasional yang tahun lalu ikut kejuaraan renang di Thailand, namun hasilnya kurang memuaskan. Kami gagal mempersembahkan medali emas bagi Indonesia. Dan tahun ini kami berharap bisa mengumandangkan lagu Indonesia Raya di negeri orang. Bulan depan aku dan Andi akan melewati masa karantina, maka dari itu kami harus mempersiapkannya dari sekarang untuk mengikuti kejuaraan renang di Singapura.

Masa karantina pun telah dimulai, semua atlet renang termasuk aku dan Andi sangat berlatih keras demi menampilkan yang terbaik di Singapura nanti. Semangat begitu terpancar di wajah Andi yang selalu melontarkan pertanyaan sakral kepadaku setiap harinya itu. “Ben, tahun ini kita harus bisa kibarkan bendera Indonesia dan kumandangkan Indonesia Raya di Singapura, bawa medali emas!”, ucap Andi kepadaku ketika sedang latihan.

Tak terasa, kami pun sudah berada di Singapura dengan semangat 45 yang berkobar. Kebetulan kejuaraan ini bertepatan dengan bulan Agustus, bulan dimmana Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Andi sangat berantusias untuk memberikan kado terindah bagi ulang tahun Indonesia yang hanya beberapa hari lagi.

Dua hari lagi aku akan bertanding melawan negara-negara lainnya yang akan memperebutkan medali lewat cabang renang gaya punggung putra. Sementara sehari setelahnya Andi akan berlaga di gaya bebas putra. Meskipun Andi adalah seorang kristiani, tetapi ia sering menngingatkanku akan berdoa atau solat terlebih dahulu sebelum bertanding.

Hari ini aku gagal mengumandangkan Indonesia Raya di Singapura walaupun pencapaianku hari ini lebih baik ketimbang tahun lalu karena di kejuaraan tahun ini aku berhasil mempersembahkan medali perak bagi Indonesia.

Keesokan harinya giliran Andi sahabat terbaikku yang akan berjuang di medan perang. Ketika bertanding Andi selalu menganggap semua lawannya seperti para penjajah di masa lampau yang banyak menyengsarakan rakyat Indonesia. Dengan begitu, Andi bisa lebih bersemangat dalam bertanding. Tahun lalu Andi hanya mendapatkan medali perak dan tahun ini ia menargetkan emas untuk dibawa pulang ke Indonesia.

Semalam sebelum bertanding, Andi menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan sangat lantang. Katanya, ia harus berlatih mengumandangkan lagu Indonesia Raya untuk besok karena ia sangat yakin besok bisa menjadi juara pertama di renang gaya bebas putra sehingga bisa mengumandangkan lagu ciptaan W.R Soepratman itu.

Hari yang ditunggu Andi pun telah tiba, ia sudah mempersiapkan segala-galanya. Dan tak lupa Andi kembali mengingatkanku lagi dengan pertanyaan sakralnya. Semua perlengkapan telah melekat di badan atletisnya itu. Tak lama setelah bel berbunyi tanda dimulainya lomba, Andi pun meluncur deras ke dalam kolam bak laut biru itu dan menyerahkan semua hasilnya pada Sang Maha Kuasa.

Andi harus menyelesaikan lomba ini dengan dua putaran. Pada putaran pertama Andi berhasil memimpin, namun ketika berputar balik kecepatannya terlihat menurun dan setelah itu tubuh Andi sekan tak terlihat lagi. Andi tak berhasil menyelesaikan perjuangannya, ia tak sadarkan diri ketika akan mendekati garis finish.

Andi telah berpulang di Singapura, semua rombongan timnas renang Indonesia termasuk aku sangat terpukul dengan kepergiannya terlebih Andi adalah sahabat terbaikku selama ini. Namun perjuangannya tidaklah sia-sia, impiannya untuk mengumandangkan lagu Indonesia Raya tidaklah sepenuhnya gagal. Untuk menghormati dan memberikan selamat jalan kepada Andi, lagu Indonesia Raya pun berkumandang di Singapura. Dan aku yakin, Andi pun pasti ikut bernyanyi bersama kami.

Aku bangga memiliki sahabat seperti Andi yang berjuang habis-habisan di medan perang walaupun kondisinya tidak begitu baik hanya untuk bisa kibarkan merah putih dan kumandangkan Indonesia Raya sampai akhir hayatnya, sampai matanya benar-benar takkan pernah terbuka lagi.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
Hiduplah Indonesia Raya

Hiduplah Indonesia Raya

Judul Cerpen Hiduplah Indonesia Raya

“Hiduplah Indonesia Raya..”, begitu lagu itu berakhir aku langsung menurunkan tanganku kembali yang tadinya kudekatkan di alis kananku. Ingin rasanya aku berada di gedung itu bersama dengan anak-anak lainnya yang bisa mengikuti upacara bendera menggunakan seragam yang menurutku bagus, lebih bagus daripada pakaian yang aku kenakan sekarang ini. Walaupun aku hanyalah seorang anak jalanan, tetapi aku masih mempunyai rasa semangat yang tinggi untuk menempuh pendidikan. Namun apa daya, aku tak bisa mewujudkan angan-angan itu karena tak ada yang peduli dengan orang semacam aku ini.

Setiap Senin pagi aku selalu kabur dari kakakku yang sedang mencari barang-barang rongsokan, karena aku ingin sekali mengikuti kegiatan upacara bendera walaupun hanya di luar gedung sekolah SMP. Jika aku masih sekolah, aku seumuran dengan mereka, dan sepertinya aku saat ini sedang duduk di bangku kelas 8. Betapa bangganya aku jika bisa merasakan seperti apa yang mereka rasakan.

“Hani, ngapain kamu berdiri di situ, ayo bantu kakak cari plastik!!”, tegur kakakku pelan takut orang-orang di sekolah mendengarnya. Aku yakin, kakakku juga pasti ingin sekolah sepertiku, namun ia tak pernah memperlihatkan keinginannya kepadaku. “Iya kak sebentar lagi, benderanya belum naik ke atas”, jawabku dengan tidak merubah posisi hormatku kepada bendera. Tak lama setelah itu, bendera pun telah sampai di atas, dan pemimpin upacara kembali menyiapkan. Tanganku ditarik kakak sampai ke pinggir sekolah, dan hampir saja motor yang ada di depan menabrak kami, untugnya kami cepat menghindar.

“Kamu itu ya, sudah dibilangin sama kakak berkali-kali masih aja ngeyel, mulai minggu depan kamu gak boleh kesini lagi!”, kakaku memarahiku. Aku pun hanya menggangguk dengan muka yang kecut. Di dunia ini aku hanya memiliki Tuhan dan kakakku saja, aku tak tahu sedang ada dimana kedua orangtuaku saat ini, mungkin mereka sudah meninggal, tapi entahlah aku tidak terlalu memikirkannya. Aku dan kakakku tidak mempunyai tempat tinggal tetap, terkadang kami tidur di pinggir jalan, di pinggiran toko (itu pun kalau tidak diusir), atau sesekali di kolong jembatan. Untuk bertahan hidup, kami sering mengumpulkan barang bekas yang nantinya akan dijual ke tukang pengumpul barang bekas, dan hasilnya akan kami belikan untuk makan, itu pun kadang belum cukup.

Dua hari lagi adalah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71, dan semua sekolah pasti akan mengadakan upacara kemerdekaan memperingati hari jadi Indonesia. Aku ingin sekali mengikuti upacara itu, tapi aku bingung bagaimana caranya. Jika aku menyelonong masuk ke dalam barisan, yang ada aku akan diusir oleh penjaga. Meminta bantuan kakak hanya mencari mati saja, aku harus mencari cara sendiri untuk bisa mengikuti upacara kemerdekaan di lapang yang pastinya tidak dengan pakaian yang aku kenakan seperti saat ini.

Aku mempunyai ide untuk memakai baju seragam SMP dan berpura-pura menjadi siswi yang mengikuti upacara kemerdekaan agar bisa bergabung bersama mereka. Aku tak peduli bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan seragam itu. Kalau melihat tabunganku, mana bisa membeli baju seragam SMP. Kalau aku mencuri, aku tak mau menanggung akibatnya nanti, terlebih Tuhan akan menghukumku nanti di akhirat. Tiba-tiba kakakku menegurku yang sedang melamun, sontak aku pun terkejut.

“Hei, kenapa kamu melamun siang-siang bolong gini?”, tanya kakakku penasaran. Apa aku harus jujur kepadanya, ah jangan pasti kakak akan memarahiku. “Begini kak, kemarin aku melihat boneka bagusss sekali, aku mau membelinya tapi tabunganku gak cukup, aku boleh gak pinjem uang kakak, nanti aku ganti..”, pintaku dengan penuh harap. Kakakku berpikir sejenak tidak bersuara, dan tak lama kemudian kakak pun memberikan uang pinjaman kepadaku. Syukurlah, aku sudah menemukan jalan keluarnya. Siang ini aku akan ke pasar membeli baju bekas untuk lusa. Setelah membeli baju SMP bekas, aku pun harus cepat-cepat untuk menyembunyikannya takut kakakku tahu. Kalau tahu, urusannya bisa lebih panjang.

“Katanya mau beli boneka, mana bonekanya?”, tanya kakakku penasaran. Aku bingung menjawab pertanyaan horror itu, terpaksa aku harus berbohong kali ini. Aku pun mengaku bahwa boneka itu sedang dipinjam oleh teman baruku di jalanan. Kakak sebenarnya sempat tidak percaya, namun ketika aku meyakinkannya akhirnya ia pun percaya. Maafkan aku kak harus berbohong, karena aku ingin sekali mengikuti upacara itu.

Keesokan harinya aku pun mencoba untuk membersihkan baju bekas itu untuk dipakai besok di lapangan. Namun aku sangat terkejut ketika baju baruku itu sudah tidak ada di tempat persembunyian kemarin yang aku simpan di bawah gerobak yang selalu aku dan kakakku bawa. Siapa yang berani mencuri bajuku? Kakakku tidak mungkin melakukan hal itu, karena kakakku tidak pernah memeriksa gerobak. Aku menangis sejadi-jadinya, kucari kemana-mana baju itu tetap tidak ketemu. Impianku untuk menghadiri upacara sambil memakai seragam putih biru sudah kandas. Aku tidak mempunyai uang lagi untuk membeli baju itu. Aku pun hanya bisa pasrah menerima keadaan.

17 Agustus pun telah tiba, aku terbangun di pagi-pagi buta siapa tahu Tuhan memberikan aku kejutan sebuah baju bekas itu. Namun khayalan itu benar-benar tidak terjadi. Aku sangat sedih dan aku pun menangis kembali. Ketika aku bangun, kakakku sudah tidak ada, sepertinya ia sudah mencari plastik, namun tak seperti biasanya ia mencari barang rongsokan pagi-pagi begini.

Satu jam kemudian aku pun memutuskan untuk kembali bekerja mengumpulkan barang rongsokan sambil menunggu upacara kemerdekaan dimulai, tak apalah kalau harus menyaksikannya di luar lapangan. Ketika aku hendak pergi, tiba-tiba suara kakakku terdengar dari belakang. Ketika aku menoleh ke belakang, kakakku berucap “Ini yang kamu inginkan?”, kakakku berkata seperti itu sambil memperlihatkan baju putih biru yang berbeda dari yang aku beli. Apakah ini kejutan dari Tuhan yang tertunda tadi pagi? Aku sama sekali tidak menyangka kakakku bisa memberikanku kejutan yang membuatku terharu.

“Kemarin kamu bodoh sekali, sudah tahu itu tempatnya tidak aman, ya kakak ambil ternyata satu setel baju SMP, dan baju itu kotor sekali, kakak pun berniat untuk membelikanmu yang lebih bagus hasil penjualan plastik kemarin sore”, kakakku menjelaskan itu semua. Aku pun tersipu malu dan meminta maaf kepada kakak sekaligus berterimakasih karena telah perhatian kepadaku. Aku pun menjelaskan untuk apa aku beli baju itu. Dan setelah aku menjelaskan semuanya, kakakku langsung menyuruhku segera memakai baju baru itu dan segera menyuruhku lari karena acara akan segera dimulai.

Aku berlari sekencang-kencangnya sambil mengumandangkan lagu Indonesia Raya walaupun suaraku tidak begitu bagus, namun aku sangat puas. Setelah sampai di lapangan, aku pun masuk ke dalam barisan anak kelas 8, orang-orang di sekelilingku pun menatapku aneh. Aku pun hanya membalas mereka dengan ucapan “Aku adalah anak baru..”, sambil tersenyum dengan rasa malu. Lalu mereka pun kembali ke posisi semula seakan-akan mereka telah mempercayaiku.

Aku berhasil, aku berhasil mengikuti upacara bendera yang sangat spesial ini. Aku tidak akan pernah melupakan momen bersejerah ini sepanjang hidupku. “Hiduplah Indonesia Raya…”, kami pun menurunkan tangan kami tanda bendera telah berada di puncaknya.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia

Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia

Judul Cerpen Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia

Indonesia, kala penatnya Negara, kesibukan makin merajalela, dengan banyaknya pertikaian yang sampai sekarang belum terselesaikan. Terik matahari membakar tubuh, keringat membasahi badan, dan asap yang menyelimuti mata, tak membuat mereka berhenti untuk menjadikan hidup lebih baik, tetapi belum rampung untuk sebuah masalah yang membakar Indonesia.

Para wakil Indonesia yang mementingkan dirinya sendiri, seakan tak peduli dengan masyarakat yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan, seakan tak punya belas kasih untuk anak-anak yang pendidikannya tak berkualitas. Sungguh miris.

Hari ini, pagi ini, pada tanggal 17 Agustus 2016, di sebuah tempat yang tak mewah, yang hanya ditemani papan tulis dengan kapurnya, meja dan kursi berwarna coklat berbahan kayu, juga dinding bercat yang terkelupas. Samar-samar terdengar sebuah lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan mereka, anak-anak sekolah.

“Anak-anak, Bapak ingin bertanya, apakah kamu bangga menjadi anak Indonesia?”
“Saya bangga menjadi anak Indonesia.” Berna menjawab dengan semangat saat guru laki-laki berkaca mata itu mengajukan pertanyaannya. Pak Suryantoro, nama guru laki-laki itu.
“Kalau kamu bangga, apa yang akan kamu bangun untuk Indonesiamu?” Pak Suryantoro bertanya lagi.
“Belajar, karena kalau belajar bisa pintar, dan kalau pintar pasti bisa membangun Indonesia menjadi Negara yang merdeka.”
“Pintar, Masayu.” Guru laki-laki itu mengacungkan kedua jari jempolnya di hadapan siswi perempuan itu.
“Anak-anak, kamu memang harus bangga menjadi anak Indonesia. Jangan takut untuk bermimpi, karena orang yang pintar adalah orang yang selalu belajar, belajar dan belajar.” Pak Suryantoro.

SELESAI

Cerpen Karangan: Sasti Raya
Instagram: @sastiraya
Wattpad: @sastiraya
E-mail: @twentyfourraya{-at-]yahoo.com
Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Judul Cerpen Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Terik matahari menyambar wajahku. Hari sudah semakin siang, pikirku. Aku terbangun dari tidurku. Kulihat arlojiku. Sudah pukul 6 pagi rupanya. Segera aku menuju kamar mandi untuk mandi. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum aku berangkat kerja. Kusambar roti tawar yang ada di meja kosanku dan kulahap dengan rakus meskipun tidak memakai selai maupun kismis. Lumayan untuk mengganjal perutku. Kutenggak secangkir teh sembari mengecek sms dari kolega maupun mitra kerja. Ada 1 sms. Ternyata dari temanku, Bowo. Bowo ini merupakan TKI yang dikirim ke Arab Saudi. Awalnya aku sudah membantu Bowo untuk bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Namun, kentalnya Nepotisme dan rendahnya daya saing Bowo yang lulusan SMA membuat Bowo tersingkir. Sebuah pilihan berat untuk menjadi TKI terpaksa ia ambil lantaran beban hidup yang sudah menumpuk. Sudah 6 bulan lamanya Bowo bekerja sebagai TKI. Aku juga tidak tahu mengenai pekerjaannya sebagai TKI di sana hingga aku mendapat kabar dari temannya yang juga berprofesi sebagai TKI. Menurut penuturan temannya, Bowo bekerja sebagai buruh di perusahaaan minyak terkemuka di Arab Saudi. Kubuka sms dari Bowo. Isi pesannya cukup sederhana. Yaitu, “Tolong kamu hubungi saya sehabis pulang dari kerja. Saya tidak punya cukup pulsa untuk menelepon. Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan.” Aku segera membalas sms tersebut, “Ok, sehabis kerja saya call lagi. Kira-kira jam 4 sore.” Aku kemudian memanaskan motorku dan bersiap untu pergi ke kantor tempatku bekerja. aku takut terlambat masuk kerja, maklum, Surabaya memang kota besar, sehingga macet merupakan suatu hal yang biasa. Setelah mengunci pintu kosan, aku segera pergi ke kantorku.

Di kantor, aku masih penasaran dengan sms dari Bowo. Apa gerangan hal yang ingin disampaikan Bowo? Aku menjadi tidak sabar untuk menunggu jam kerjaku selesai. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya shift kerjaku selesai. Saatnya bertukar shift dan aku segera menelepon Bowo. Aneh, ternyata hp-nya tidak aktif. Aku menelepon lagi dan akhirnya tersambung juga. “Halo, ini Irfan, apakah ini benar nomornya Pak Bowo?”, tanyaku. “Ya, dengan saya sendiri.”, jawabnya. “Kawanku, sudah lama kita tidak bicara. Bagaimana kabar kau di sana? Dan apa gerangan yang ingin kau sampaikan padaku?”, tanyaku. “Baik, tetapi saya masih merasa sedikit pusing lantaran sudah 2 bulan ini gaji saya belum dibayar pihak pabrik. Saya terpaksa bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Alhamdulillah, meskipun hidup pas-pasan, tetapi saya masih bisa menabung. Setiap real berhasil saya sisihkan. Rencananya saya akan pulang kembali ke Indonesia untuk membuka usaha.”, katanya. “Sungguh naas nasib kau, kawan. Semoga saja pihak pabrik segera mencairkan gajimu. Kalau kau butuh uang, pakailah dulu uangku. Terserah kau mau menggantinya kapan. Mengapa kau mau membuka usaha di Indonesia? Bukankah Arab memiliki peluang usaha yang lebih terjamin dibandingkan Indonesia?”, jawabku. “Kau benar, kawan. Peluang usaha di sini lebih terjamin. Permodalan mudah, pasar juga luas, bahkan fasilitas transportasi juga memadai, namun, apalah artinya bila tidak dapat berkontribusi untuk Indonesia. Saya tidak bisa mengabaikan tanah airku yang tercinta, Indonesia. Angka entrepreneur di Indonesia sangat rendah, tidak sampai 2 persen dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang mencapai angkai lebih dari 250 juta. Lagipula keluargaku juga masih membutuhkanku.”, ungkapnya. Sungguh, penjelasan yang sangat hebat, pikirku. Meskipun ia tidak berada di Indonesia, tetapi masih ada rasa nasionalisme yang kuat di dalamnya. “Sayangnya, pemerintah kita kurang menyadari pentingnya wirausaha bagi kemajuan Indonesia. Padahal, banyak sekali manfaat dari entrepreneur. Mulai dari mengurangi pengangguran, menambah devisa negara, dan memajukan perindustrian Indonesia.”, ungkapku. “Kau benar, kawan. Makanya lebih baik menjadi wirausaha kecil-kecilan daripada menjadi seorang buruh di perusahaan terkemuka walaupun gajinya sama. Sudah dulu, ya kawan. Sebentar lagi saya akan berangkat ke Gurun Sahara. Perusahaanku rencananya akan membuka daerah pengeboran minyak di sana. Dan saya bersama beberapa orang buruh lainnnya disuruh untuk melakukan sweeping lokasi ke sana. Terimakasih kau sudah mau mendengar ocehanku.”, ungkapnya. Telepon pun ditutup. Aku segera pulang ke kosanku untuk beristirahat.

Sudah 2 bulan lamanya aku tidak mendapat kabar dari Bowo. Hp-nya juga tidak aktif. Aku termenung membayangkan nasib Bowo di sana. Berat pasti meninggalkan keluarga untuk bekerja ke luar negeri. Apalagi bekerja dengan keterbatasan yang ada. Lamunanku terganggu ketika pintu kosanku diketok oleh seseorang. Kubuka pintu kosku. “Maaf, pak. Apakah ini benar alamat rumahnya pak Irfan? Saya sudah ke alamat Bapak yang sebelumnya di jalan Kali Gendol No. 32 dan pemilik rumahnya bilang kalau babak sudah pindah ke sini.”, tanya orang tersebut. “Ya, saya memang sebelumnya indekos di sana, dan sekarang saya pindah ke sini. Ada gerangan apa?”, tanyaku. “Saya ini temannya Bowo, pak. Sekarang saya bekerja sebagai kurir surat. Ini ada sepucuk surat dari Bowo untuk Bapak.”, jawabnya sembari menyerahkan 1 buah amplop surat dari tasnya. “Oh, begitu. Bagaimana kabar Bowo? Apakah dia sehat-sehat saja? Sudah 2 bulan lebih saya tidak mendengar kabarnya.”, kataku. “Saya juga tidak tahu, pak. Mungkin saja beliau ingin memberitahukannya lewat surat ini. Sudah dulu, ya, pak. Saya masih banyak surat lagi untuk diantar.”, ucapnya. Aku melihat kurir surat itu berlalu dari pandanganku. Kuamati surat dari Bowo. Rupanya Bowo masih belum tahu mengenai alamat kosanku yang baru sehingga ia menuliskan alamat kosan lamaku. Kubuka amplop surat tersebut. Ternyata selain surat, ada 1 lembar cek dan pas foto Bowo memakai jas dan dasi yang rapi. Di belakang fotonya ditulis “Calon Entrepreneur Masa Depan”. Kubaca surat dari Bowo. “Sahabatku, Irfan. Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku mengirim surat kepadamu. Aku berhasil melobi perusahaanku untuk membayar tunggakan gajiku. Bersama surat ini, kutitipkan cek gajiku kepadamu. Tolong kau berikan kepada keluargaku di Desa Waringin sana. Mereka pasti lebih membutuhkannya dibandingkan aku. Maaf kalau aku merepotkanmu, kawan. Desa Waringin tidak memiliki fasilitas kantor pos maupun wesel. Jadi, kutitipkan padamu secuil harapan untuk keluargaku dan desaku. Dan akhirnya tabunganku sudah cukup untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Aku sudah membooking tiket pulangku. Sudah kuserahkan surat pensiunku ke perusahaanku. Dan diterima, meskipun pesangonnya baru cari 2 bulan mendatang. Aku berencana membuka usaha kuliner di Indonesia. Banyak sekali variasi kuliner Arab yang lezat dan dapat dijadikan sebagai suatu usaha kuliner. Aku berharap kau mau mengikuti jejakku sebagai wirausahawan. Wirausaha itu bebas. Bebas dari tekanan perbudakan. Bayangkan mereka yang bekerja di pertambangan sebagai buruh. Hanya diupah seadanya namun, hasil tambangnya diambil oleh perusahaan asing. Sudah di negeri sendiri dijajah, di negeri orang juga dijajah. Miris, kawan. Ayo, kita bangun negeri Indonesia menuju kesejahteraan dan bebas korupsi. Sudah dulu dari suratku. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terimakasih. Sahabatmu, Bowo.” Aku tertegun membaca suratnya. Tekad Bowo benar-benar kuat. Ia memiliki semangat wirausaha untuk membangun negeri. Aku yang bekerja sebagai karyawan di pabrik swasta saja merasa malu. Segera kukemasi barangku dan kubawa cek beserta surat dan foto Bowo ke dalam tas ranselku. Aku akan berangkat ke Desa Waringin untuk menyampaikan surat Bowo kepada keluarganya.

Tidak sampai setengah jam perjalanan darat menggunakan motor, akhirnya aku sampai di Desa Waringin. Tidak sulit untuk menemukan rumah keluarga Bowo. Rumah yang sederhana dihiasi dengan tanaman rambat dan pohon mangga yang belum berbuah. Dulu aku pernah ke sini saat mengantar Bowo mencari pekerjaan. Kuketok pintu rumahnya. Seorang wanita paruh baya yang membukakan. Dia adalah Hana, istrinya Bowo. “Pak Irfan, ada gerangan apa Bapak kemari? Suami saya belum pulang. Beliau rencananya pulang minggu depan, pak.”, kata Hana. “Ehmm, begitu. Ini ada sepucuk surat dan cek dari beliau. Tolong diterima.”, kataku sambil menyerahkan surat dan cek kepada Hana. “Waduh, untuk apa suamiku memberi cek ini? Bukankah dia yang memerlukan uang ini untuk pulang kampung?”, kata Hana dengan perasaan bimbang. “Kamu tidak perlu khawatir. Bowo adalah seorang pria yang tangguh. Dia pasti masih bisa pulang. Ini ada sedikit uang untuk merayakan kepulangan Bowo. Tolong kamu segera belanja agar suamimu melihat betapa cantik dan menawannya dirimu saat Bowo datang.”, kataku sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Sambil tersipu malu, Hana menjawab, “Aduh, tidak usah repot-repot, pak. Saya pasti akan berdandan yang terbaik untuk suamiku tercinta.” “Baguslah, kalau begitu saya permisi dulu, ya. Terimakasih.”, ucapku pada Hana. “Iya, pak. Terimakasih, ya, sudah jauh-jauh datang kemari.”, kata Hana. Aku berlalu meninggalkan Hana. Semoga saja Bowo benar-benar menepati janjinya untuk pulang ke Indonesia.

Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya aku memuji akan tekad kuat dari Bowo untuk menjadi seorang entrepreneur. Sesampainya di kosan, aku kaget melihat selembar pas foto tergeletak di atas meja makan. Ya, itu adalah foto Bowo dan tulisan “Calon Entrepreneur Masa Depan” di belakangnya. Rencananya besok aku akan datang lagi ke Desa Waringin untuk memberikan foto ini. Kunyalakan televisi. Sudah lama aku tidak menonton berita. Dulu aku hanya menonton acara talkshow saja dan kadang-kadang nonton bola bareng dengan teman kosanku. Sekilas berita hanya menampilkan masalah banjir dan kasus korupsi. Bosan aku menyimaknya. Seakan sudah tidak ada topik lain yang lebih menarik untuk dibahas. Namun, aku terkejut ketika ada breaking news yang muncul. Beritanya, “Segerombolan teroris berhasil menduduki kilang minyak di Gurun Sahara, Arab Saudi. 4 orang TKI yang bekerja di sana ditemukan tewas. Diduga mereka dieksekusi oleh teroris tersebut.” Jantungku seakan mau copot. Benarkah Bowo merupakan salah seorang korban tewas akibat teroris itu? Jika iya, mengapa Bowo harus mengalami nasib seperti ini? Kucoba menghubungi Bowo. Sayangnya masih tidak aktif. Dan ketika aku melihat sekilas mengenai data-data korban, aku terkejut. Nama Bowo ternyata ada di daftar korban. Praditya Bowo Darjo. Sekujur badanku lesu. Mulutku kaku. Seakan tak percaya mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Bowo hanyalah korban. Korban dari ketidakadilan. Menurut penjelasan reporter, jenazah korban sudah dikirimkan ke kampung halamannya oleh pihak Arab Saudi 3 hari yang lalu. Ternyata, Bowo sudah meninggal 3 hari yang lalu. Maklum, aku juga jarang menonton televisi dan di Desa Waringin jarang warganya yang memiliki televisi. Segera kupanaskan motorku. Lelah sehabis perjalanan tidak kuhiraukan. Kukenakan lagi tas ranselku. Dan aku sudah bersiap kembali lagi ke Desa Waringin. Ini adalah bentuk penghormatanku terakhir kepada si “Calon Entrepreneur”.

Sudah sebulan lamanya semenjak Bowo pergi meninggalkan kami. Namun, tekad kuatnya masih saya warisi hingga saat ini. Desa Waringin sekarang sudah banyak yang menjadi wirausahawan. Sekarang, hampir tidak ada warga Desa Waringin yang pengangguran. Kini, Bowo hanya tinggallah kenangan, tetapi, tekad kuatnya untuk membangun negeri akan aku wariskan ke generasi yang akan datang. Selamat jalan, Bowo. Terimakasih atas pengorbananmu selama ini. Tekadmu akan selalu berkobar di hati kami, calon entrepreneur masa depan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Muhammad Dimasyqi
Facebook: Muhammad Dimasyqi