Showing posts with label Cerpen Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Pendidikan. Show all posts
Karena Ranginang Unyil

Karena Ranginang Unyil

Judul Cerpen Karena Ranginang Unyil

Hening dan juga sepi.. tak ada suara musik ataupun suara dari televisi. Hanya ada suara Minyak panas dan kompor yang menyala. Hari itu aku sedang menggoreng ranginang buatanku. Ranginang yang berbeda dari ranginan biasanya, ukurannya lebih kecil. Berbicara soal ranginang, makanan yang satu itulah yang membuat aku bisa bertahan hidup di kota kembang Bandung tanpa bantuan dari orangtua di majalengka.

Setiap hari, aku menjual ranginang di kampus atau menitipkannya di kantin kampus dan juga menitipkannya di warung-warung dekat tempat kostku. Aku memberi nama ranginang itu dengan nama “Ranginang unyil” karena bulat kecil-kecil. Tidak seperti ranginang biasanya yang lebih besar. Ranginang unyil ini mempunyai beberapa varian rasa diantaranya, original, pedas balado, pedas, balado, jagung bakar dan juga rasa keju. Namun yang banyak digemari anak-anak kampus, adalah rasa pedas. Awal usahaku tak mudah, mulai dari gagal membuat dan juga jarangnya pembeli yang awalnya tak tahu kalau “ranginang unyil” itu enak, gurih dan renyah.

Karena waktu dan pengalaman, berkat kerja kerasku dalam mengembangkan ranginang unyil, usaha kecilku itu bisa berkembang di kalangan mahasiswa di universitas tempat aku kuliah. Dan alhamdulillah, berkat sukses mengembangkan usaha ranginang, aku bisa lulus kuliah di salah satu universitas di kota kembang Bandung. Aku masuk jurusan fisika pendidikan.

Aku ingat sekali, Hari-hari kulalui dengan sulit, kadang telat masuk kuliah karena harus menggoreng ranginang. Namun, usahaku tidak sia-sia. 3,5 tahun kuliah, akhirnya aku lulus. Bahkan aku ingat masa-masa sulit tiga setengah tahun, saat aku tak punya uang, hanya sedikit uang untuk beberapa hari dan modal pun menipis. jadi karena itu aku menjual handphoneku yang jadul. Kujual ke konter dekat tempat kostku, dengan laku seharga 170 ribu. aku mengatur sedemikian rupa agar uang 170 ribu itu bisa menambah modalku dalam usaha kecilku. Namun alhamdulillah, dengan menjual handphone, bisa menambah modal dengan menambah bahan yang berkualitas.

Karena aku menjual handphone, aku jadi tak bisa menghubungi ibu di majalengka. Sebelumnya, aku mencatat no ibu di buku kecil milikku. Namun dengan kebetulan buku itu hilang. masa-masa tersulit karena tak bisa menghubungi ibu, mau pulang ke majalengka pun uang tak ada. Hanya doa yang mengiringi hidupku di kota kembang yang penuh tantangan dan rintangan hidup seorang diri. Juga rangkaian doa selalu menggema di tempat aku shalat untuk ibu. jujur saja rasa khawatir setiap hati menyelimuti diriku, khawatir ibu sakit, atau khawatir hal-hal buruk terjadi pada ibu yang hanya tinggal berdua di Majalengka dengan adikku. Andaikan saja bapak masih ada, mungkin aku tak akan ada di posisi sesulit ini, kuliah di kota kembang bandung, dengan mencari uang sendiri untuk keperluan sehari-hari. Adapun beasiswa hanya untuk biaya kuliah, memang selama kuliah tak pernah sedikitpun aku mengeluarkan biaya kuliah karena beasiswa selalu kudapatkan setiap saat karena prestasiku.

Tiga tahun setengah masa sulitku, terbayar dengan satu hari terbaik dalam hidupku. Hari dimana aku diwisuda. Waktu itu keadaanku sudah lebih baik, mendapatkan kembali buku kecil miliku yang di dalamnya terdapat nomor ibuku tercinta juga dapat membeli handphone dari hasil usaha ranginang unyil. Ibu dan juga keluarga dari majalengka datang ke bandung, untuk melihat aku diwisuda. Walupun hanya ibu yang bisa masuk ke gedung melihat aku diwisuda secara resmi.

Wisuda berjalan lancar, bahkan sangat lancar. Tak kusangka ketika aku “Renita Melviany” yang menjadi lulusan terbaik dengan nilai cumlaude. Seorang gadis dari kota Majalengka yang berjualan ranginang setiap harinya menjadi lulusan terbaik dan nilai cumlaude. Senyuman tergores di wajah ibu, ketika anak cikalnya dipanggil ke depan menerima bunga penghargaan. Bukan hanya senyuman tangisan senang pun mengalir mulus di wajah tuanya.

Tak ada yang tidak mungkin, lulus kuliah tanpa membayar biaya juga memenuhi kebutuhan hidup tanpa membebankan ibu di majalengka. Dengan menjual ranginang yang aku beri nama “rangiang unyil” aku dapat menyelesaikan kuliah. Walau masa-masa sulit menghiasi hari-hari selama tiga tahun setengah namun terbayar sudah ketika bunga penghargaan berada di tangaku.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Go follow ig: renitamelviany_17
Harapan yang Terkubur

Harapan yang Terkubur

Judul Cerpen Harapan yang Terkubur

Kupakai seragam sekolah dengan nametag Azizah, gesper, dasi, topi, dengan kaos kaki putih serta sepatu hitam. Tak lupa untuk menguncir rambut, aku pun bergegas pergi ke sekolah. Kuhentakkan kaki dengan tegasnya untuk melangkah ke sekolah. Sepanjang jalan, kulihat langit biru menyapa dengan ramah, burung-burung juga berkicau sangat indah serta matahari yang mulai menampakkan dirinya. Oh, sungguh indah duniaku.

Setiba di halte bus, aku menunggu angkutan umum, dengan penuh harap angkot yang kutunggu datang. Badanku yang gemuk membuat diriku sulit menaiki angkot tersebut. Tetapi aku tetap bersyukur memiliki badan sehat seperti yang kumiliki saat ini. Di perjalanan, angkot yang kunaiki menginjak kubangan air, hal tersebut membuat rok abu-abuku basah sebagian.

Sesampai di sekolah, aku bersikap biasa saja seperti tidak ada masalah. Ya.. Hari ini aku biasa saja, tak ada satupun yang membuatku cemas, dulu aku mencemaskan hari seperti ini. Hari dimana rapor dibagikan serta orangtua datang ke sekolah untuk menerima hasil belajar selama 6 bulan kemarin dan orangtua mendengarkan penjelasan dari wali kelas. Kemudian murid akan dipanggil oleh wali kelas dan diberitahu apa saja yang harus diperbaiki. Agak menyeramkan jika dibayangkan.

Tetapi sejak bulan Juni tahun lalu, perasaan cemasku akan pembagian rapor sempurna sudah hilang. Aku persis sekali mengetahui mengapa demikian. Kekecewaanku yang sangat besar saat melihat pengumuman di papan tulis tidak tertuliskan namaku di sana. Seketika hati menjadi kelabu, langit juga kelabu, mulut juga tak bisa berkata apa-apa. Sungguh kecewa hatiku saat melihatnya. Harapanku bagai pecah berkeping-keping, retak di semua bagian, ia terbang dengan kosongnya meninggalkanku pergi jauh. Hatiku semakin kelabu ketika temanku bertanya.
“Zah, bagaimana rapornya?” tegas Zidna.
“Biasa saja Na” seruku.
“Ah, kamu bercanda ya” gurau Zidna tidak percaya. Saat itu Zidna memang belum melihat tulisan yang ada di papan tulis.
“Enggak Na, aku serius”
“Bohong ah bohong”
“Serius Na” kataku sambil melengkungkan bibir ke atas.

Aku memang senang bergurau, tapi untuk masalah ini, aku sedang tidak ingin bergurau. Selepas berbicara dengan Zidna, aku segera pulang ke rumah bersama Ayah. Di perjalanan Ayahku tidak marah kepadaku, ia tetap menyemangatiku agar aku selalu berusaha berikan yang terbaik. Walaupun untuk rapor kali ini, nilaiku turun.

Setiba di rumah, aku hanya mengurung diri di kamar, menatap layar gadget, kemudian aku bercerita hal ini kepada teman SMP ku dulu.

“Ah, sudah tidak apa-apa Zah, nilai bukan segalanya. Nilai di rapor memang penting tetapi nilai kejujuran dalam kau mengukir rapor, itu jauh lebih penting Na. Orang pintar di Indonesia sudah banyak Na, namun hanya sedikit yang memiliki kejujuran. Dari ceritamu, aku paham betul usahamu sudah maksimal, dan kamu tidak usah bersedih seperti ini.” sahut Zulfa, sahabatku.
“Iya, kamu betul Fa. Tetapi aku kecewa mengapa aku tidak bisa mempertahankan apa yang aku dapatkan kemarin.” kataku
“Aku mengerti apa yang kamu rasakan Zah, kau sejak kecil selalu juara kelas, namun untuk pembagian rapor kali ini kau bukanlah bintangnya. Jika aku berada di posisimu, aku pasti merasakan pedih sepertimu. Tapi sudahlah Na, tidak baik kau sedih berkepanjangan. Lebih baik kita membahas hal lain saja, mungkin lebih menyenangkan dan tidak membuatmu sedih lagi.”
“Oke, aku tidak akan bersedih lagi. Janji. Mari kita bermain” seruku dengan tersenyum.

Benar kata Zulfa, bahwa nilai bukan segalanya namun nilai kejujuranlah yang sangat terpenting. Lagipula, aku sudah bekerja keras untuk raporku itu. Jadi aku tidak usah merasa sangat kecewa seperti ini. Kuputuskan untuk mengubur harapanku dalam-dalam.

Namun hari ini, harapan kosong yang kupendam itu seakan hadir lagi, menyapaku dengan ramah, memeluk kembali sangat erat. Ketika aku membuat nomor urut, dari arah berlawanan Zidna teriak-teriak memanggil namaku.
“Zizaaah… Zizahhh”
“Ada apa sih Na?” sambil membuat nomor urut
“Coba sekarang liat papan tulis zizahh”
“Iya nanti aku lihat setelah membuat nomor urut”

Betapa mengejutkannya ketika membaca tulisan di papan tulis. Melihat namaku tertera di papan tulis, aku kembali menjadi bintangnya lagi, dan aku juga membuat senyum di bibir kedua orangtuaku. Mataku berkaca-kaca, hari ini bagai sebuah keajaiban. Benih-benih harapan itu muncul lagi secara tanpa aku sadari, rambutku yang panjang, sedang dibelai-belai oleh temanku. Lantas saat aku tersadar, ia mengucapkan selamat kepadaku, tertegun ku mendengarnya. Sungguh luar biasa, hal yang tidak kubayangkan lagi, hal yang sudah kukubur dalam-dalam, kini ia kembali menggenggamku erat-erat, mencoba memberikan amanahnya kepadaku serta menjadi tamparan bagiku yang merasa pesimis dan putus asa. Memang benar, bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasilnya. Ikuti prosesnya, nikmati hasilnya. Jika prosesnya benar maka hasilnya juga benar.

Cerpen Karangan: Afifah
Facebook: facebook.com/affh18
instagram: affh18
Ibu Atau Sekolah?

Ibu Atau Sekolah?

Judul Cerpen Ibu Atau Sekolah?

Di sebuah gubug kecil dan reyot, tinggallah Nita bersama ibunya yang sakit-sakitan. Nita adalah anak yang rajin dan cerdas. Namun karena ketiadaan biaya, terpaksa ia hanya bersekolah di sebuah sekolah dasar kecil dan terpencil. Nita sebenarnya sangat ingin bersekolah di sekolah swasta ternama yang ada di tengah kota. Namun itu hanya sebatas angan. Seperti kata pepatah, “Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”. Tapi di hati kecil Nita, niat itu tidak pernah padam, ia yakin suatu saat Allah pasti akan memberi jalan orang yang pantang putus asa.

“Nita, ayo masuk rumah, nak! Dingin lho, di luar!” Panggil ibu dari dalam rumah. “Iya, bu…” Nita menurut. Dia masuk rumah dan duduk di sebelah ibunya. Oya, sebelumnya Nita sudah mengambil obat milik ibunya di atas meja makan. “Terimakasih, ya nak…” Ucap ibu sambil mencium Nita. Nita hanya tersenyum. “Sama-sama, bu. Ibu, Nita masuk kamar dulu ya! Nita ngantuk. Hoahmm…” Nita menutup mulutnya yang terbuka. Lalu Nita mencium punggung tangan ibunya. “Iya nak. Besok bangun pagi ya nak… Nanti terlambat sekolah, lho!” Ibu tertawa kecil. Nita hanya tersenyum simpul. Nita hanya sedang memikirkan sesuatu. Dapatkah ibu terus bersamanya? Ia tahu, ibunya menyembunyikan sesuatu darinya. Menurutnya, mungkin ibu terkena penyakit yang berbahaya. Makannya, ibu menyembunyikan hal itu darinya. Pasti agar ia tidak khawatir.

“Selamat siang anak-anak. Sampai bertemu besok.Assalammu’alaikum.” Salam Bu Dina, wali kelas Nita. Nita segera mengemasi peralatan sekolahnya, memasukkan ke dalam tasnya yang tetap terlihat bersih meski sudah pudar warnanya. “Wa’alaikumussalam. Selamat siang Bu.” Murid-murid SDN 3 Kadipiro berlarian ke luar kelas.

Di tengah perjalanan, Mira, sahabat Nita memanggil Nita. “Nita! Ini ada pengumuman beasiswa di SD MIPA 1 Surakarta. Sekolah idaman kamu itu, lho, Nit!” Mira tersenyum sambil menunjuk sebuah pengumuman yang terpasang di tiang listrik. Segera dilepasnya pengumuman itu dari tiang listrik dan diberikannya kepada Nita. Nita mengamati surat pengumuman itu dengan dahi berkerut. ‘Sepertinya ini asli. Persyaratannya mudah lagi! Wah.. ibu pasti senang sekali!’ Pikir Nita di dalam hati. Sesaat kemudian, Nita tersadar dari lamunannya.
“Terimakasih ya, Mir! Matamu jeli sekali!” Puji Nita kepada Mira. Mira yang mendengarnya hanya tersenyum malu dengan pipi yang bersemu merah. Lucu! Nita dan Mira kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

“Assalammu’alaikum! Ibu..? Nita punya kabar gembira, nih!” Nita berteriak. “Wah… anak ibu kok ceria banget? Ada apa nih?” Ibu tertawa kecil dan tersenyum. “Ini lho bu… cita-citaku sudah dibuka pintunya.” Nita tertawa sambil menyerahkan pengumuman yang tadi dilihatnya. Ibu tersenyum senang. Bagaimana tidak senang? Cita-cita anak semata wayangnya sudah hampir tercapai. Sebentar…lagi! “Tunggu apa lagi, Nit? Ayo langsung siapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, sana gih!” Ibu mendorong Nita yang meringis sampai di depan kamar Nita.

“Ibu, Nita sudah siap, nih! Ibu sudah siap?” Tanya Nita setengah berteriak. “Tunggu sebentar! Ibu mengunci pagar dulu.” Ibu mengunci pagar kemudian menyetop angkot. Sesampainya di SD MIPA 1 Surakarta, ibu dan Nita turun dan membayar ongkos.
“Bu, apa benar ini SD-nya? Kok besar sekali, seperti hotel saja!” Nita tercengang. “Iya. Kalau menurut alamat, sih, ini tempatnya.” Ibu menanggapi. Mereka pun masuk dan mengantre dengan rapi. Tak lama kemudian nama Nita pun dipanggil. “Nomor urut 20, Anita As-Syifa, silahkan masuk ke ruangan.” Seorang perempuan memanggil Nita. Nita dan ibu segera berdiri dan masuk menuju ruangan yang di atasnya tertulis ‘R. Bimbingan Konseling’.

Kreek… Kreek… Kreek… “Anita dan ibu ya? Anita silahkan duduk di sini. Ibu di sebelahnya Anita.” Kata seorang perempuan cantik yang memakai kemeja, rok 4 per-4 biru, dan jilbab biru. Setelah menyerahkan berkas dan ditanyai sedikit oleh perempuan tadi yang ternyata bernama Bu Aini, Nita dan ibu segera pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah…
“Uhuk… uhuk… uhuk…” Suara batuk ibu yang lama tidak terdengar kini terdengar kembali. Bahkan malah terdengar lebih parah dari yang dulu.
“Ibu, ibu tidak apa-apa kan? Ibu baik-baik saja, kan?” Tanya Nita khawatir.
“Nita… Ibu baik-baik saja, kok! Kamu istirahat dulu saja sana!” Suruh ibu lembut.
“Iya, bu. Kalau begitu Nita masuk kamar dulu ya..?” Nita menurut. Ia berjalan pelan ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, Nita mengecek kotak surat di depan rumah. Ternyata ada isinya, dan dari SD MIPA 1 Surakarta. Nita berharap, ia diterima di sana. “Ibu! Ibu! Ada surat dari SD MIPA 1! Kita lihat bersama, yuk!” Panggil Nita. “Iya, iya, nak! Semoga kamu diterima ya…” Kata ibu lirih. Setelah dibuka ternyata benar kalau Nita diterima di SD MIPA 1 Surakarta. Nita senaaang sekali. “Terimakasih ya, bu… Besok kita ke sana bersama ya…?” Tanya Nita dengan haru. “Iya, nak. Akhirnya pintu gerbang masa depan indahmu terbuka juga! “Tapi, besok ibu tidak bisa mengantarmu daftar ulang. Tidak apa-apa, kan?” Tanya ibu.

“Mbak… saya Anita As-Syifa. Saya mendapatkan beasiswa di sini. Kalau boleh tahu, kapan saya bisa mulai masuk sekolah di sini mbak?” Tanya Nita sopan. “Hmm, kalau begitu, coba saya lihat berkas-berkas kelengkapannya lebih dahulu.” Ujar petugas di sana. “Ini berkas-berkas kelengkapannya.” Nita menyerahkan sebuah map. Lalu perempuan itu mengambil sebuah amplop berlogo SD MIPA 1 yang di di dalamnya terdapat surat. “Ini untuk kamu. Berikan orangtuamu, ya… Kamu mulai masuk besok Senin pekan depan. Terimakasih, Selamat siang…” Perempuan itu tersenyum manis. “Iya, mbak… terimakasih kembali.” Nita langsung keluar dan menyetop bus umum.

Sekarang sudah 1 bulan Nita bersekolah di SD MIPA 1 . Ya, memang ada… saja yang usil dan nakal di kelas Nita. Tapi, Nita tetap semangat bersekolah. Karena, Nita sendiri yang berjanji akan belajar dengan giat di SD MIPA 1.

Pada hari Sabtu pekan depan, akan ada lomba cerdas cermat di SD MIPA 1. Keysha, Nita, dan Vera, sahabat Nita, ditunjuk mewakili kelas IV-D. Tetapi tiba-tiba, penyakit batuk ibu menjadi lebih parah. Terpaksa Nita berencana minta ijin tidak masuk sekolah kepada Bu Ima, wali kelasnya. Nita ingin menunggu dan merawat ibunya, tetapi rupanya ibu tidak mengizinkannya. “Nita, Kamu tetap masuk sekolah, ya..? Ibu di rumah sendiri saja tidak apa-apa, kok! Yang penting, Nita sekolah, ya? Ibu mohon, Nita…” Ibu memohon pada Nita. “Ibu, bukannya Nita menolak. Tapi Nita khawatir kesehatan ibu…” Nita menjawab dengan sedikit tangisan. Namun ibu tetap memohon dengan sangat kepada Nita. “Baiklah bu, Nita mau sekolah, deh, kalau begitu…” Nita akhirnya luluh hatinya. Sesaat setelah Nita pergi sekolah, tiba-tiba ibu menjadi sesak nafas. Ditambah dengan batuk yang tak henti-hentinya.
“Asy..hadu al.. laa ilaa.. ha il.. lal.. lah, wa asy.. hadu an.. na Muham.. madar.. rasuul.. ullah… Allaahu akbar!!!” Ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Tanpa ada, Nita…

Sepulang dari sekolah, Nita begitu terkejut. ‘Mengapa ada banyak orang di rumah? Ada apa ini?’ Tanya Nita di dalam hati. Nita melangkah ke dalam rumah.
“Sabar ya, nak…” Kata Tante Lisa, kata salah satu tetangga Nita.
“Tante Lisa, memangnya ada apa, tante?” Tanya Nita setengah terkejut.
“Ibu kamu me…ni…mening…gal. Sabar ya…” Tante Lisa mengelus punggung Nita. Nita seperti kehilangan ruh. Ia tercekat. Nita tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Esok harinya jenazah ibu Nita dikuburkan. Nita menangis tersedu-sedu di samping kuburan ibunya. Akhirnya Nita diangkat menjadi anak tiri Tante Lisa dan Om Dahlan. Nita sudah tidak masuk sekolah selama 4 hari, hatinya masih pilu ditinggal pergi ibu yang sangat menyayanginya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. ‘Apa aku akan membukakan pintu atau tidak? Sementara tante dan om sedang pergi… Sebaiknya kubukakan saja!’ Pikirku. Kreeek… Kreeek… “Assalammu’alaikum. Nita, sebaiknya kau masuk sekolah lagi saja, deh!” Kata Vera to the point. Bu Ima terlihat menyikut Vera. Nita terkejut karena sahabatnya, Vera, dan Bu Ima selaku wali kelas IV-D datang menjenguknya.

“Nita, bagaimana keadaan kamu sekarang?” Tanya Bu Ima.
“Baik, bu. Kalau Bu Ima sendiri bagaimana? Oya, Bagaimana keadaan kelas?” Tanya Nita “Baik. Kelas juga baik, kok! Kan ada Zeta, wakil ketua.” Jawab Bu Ima.
“Nit, aku dan teman-teman mohon kamu sekolah lagi…” Vera memohon.
“Tapi, Ver, aku masih trauma atas…” Nita sengaja menghentikan ucapannya.
“Trauma kan bisa dihapus dengan tertawa bersama dan sejenisnya…?” Desak Vera.
“Hmmm, ya sudah deh! mulai besok aku akan masuk sekolah lagi..!” Nita menjawab dengan senyuman manisnya. Bu Ima dan Vera pun merasa gembira karena Nita mau pergi ke sekolah lagi.

Cerpen Karangan: Hafshah Mufidah
Facebook: Hafshah Fida
Bu Rahma

Bu Rahma

Judul Cerpen Bu Rahma

“Anak-anak, apa cita-cita kalian setelah dewasa nanti?” “Aku mau jadi dokter Bu.” “Aku polisi.” “Aku ingin jadi pilot.” “Bagus anak-anak. Sekarang Ibu ingin tanya, siapa di antara kalian yang ingin menjadi guru?” Dan kelas pun hening.

Kenangan itu masih jelas kuingat hingga sekarang. Setidaknya, hanya itu kenangan yang aku ingat saat aku TK dulu. Kenangan sekolah masa kecilku bersama Bu Rahma, guru kelas di TK tempat aku bersekolah, 14 tahun yang lalu.
Ya, 14 tahun yang lalu…

Kini, aku adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan pengembang perumahan di Jakarta. Dan di sela-sela kesibukanku, aku menyempatkan diri menjadi seorang relawan pendidikan.
Aku menjadi relawan pendidikan tanpa paksaan dari siapapun. Semua bermula dari seorang anak jalanan yang masih menyempatkan diri untuk belajar di sela-sela kegiatannya menjadi pengemis lampu merah. Kulihat dari kaca mobilku, dia sangat serius dalam belajar, hingga suatu hari aku mencoba menyepi dan sedikit bercengkrama dengannya.

“Kamu baca buku apa?” Tanyaku. “Aku baca buku matematika, Kak.” Jawabnya “Kamu sekolah? Sekolah di mana?” Tanyaku bingung. Anak jalanan sepertinya biasanya tidak sekolah. Bagaimana ia bisa sekolah sedangkan ia dari pagi hingga malam ada di jalanan?
“Aku sekolah tiap Sabtu dan Minggu Kak.” Jawabnya “Di Rumah Singgah.” “Rumah Singgah? Dimana?” Tanyaku. “Boleh gak Kakak ikut kamu ke sekolah Sabtu-Minggu nanti?” Aku sangat ingin tahu. Apa yang dilakukan mereka di rumah singgah dan bagaimana mereka belajar disana. Kami pun setuju untuk bertemu di persimpangan jalan ini lagi Sabtu pagi nanti.

Hari yang aku nantikan itu tiba. Aku pun datang ke persimpangan itu. Anak itu sudah menungguku dengan membawa buku dan alat tulis seadanya. Kami pergi ke rumah singgah dengan mobilku.
Setelah sampai disana, kulihat pemandangan yang menakjubkan. Banyak anak-anak berpakaian lusuh membawa alat tulis dan buku di tangannya. Kulihat raut wajah mereka yang sangat bersemangat untuk bersekolah. Aku berjalan-jalan di rumah singgah itu, namun…
Kulihat seseorang yang sangat familiar. Seorang guru yang sedang mengajar matematika di suatu kelas di rumah singgah itu. Tidak salah lagi, beliau adalah Ibu Rahma. Aku menunggu beliau menyelesaikan kelasnya. Saat kelas selesai dan anak-anak jalanan itu beranjak pulang, aku pun menghampiri Ibu Rahma.
“Maaf, apa Ibu ini Ibu Rahma? Yang 14 tahun lalu mengajar di TK Mulia Asri?” Tanyaku. “Iya, benar. Maaf, Non ini siapa ya?” Tanyanya. Aku pun memperkenalkan diriku padanya. Kemudian Ibu Rahma mengajakku ke ruangannya.

“Tidak terasas sudah 14 tahun berlalu. Saya bahkan tidak mengenalimu.” Ibu Rahma membuka pembicaraan. “Saya tidak menyangka kamu masih mengenali saya, Anita.” Lanjutnya. “Saya selalu mengingat Ibu. Bahkan tentang apa yang Ibu tanyakan saat aku masih kecil dulu.” Jawabku “Tentang siapa yang ingin menjadi guru di kelasku, namun tidak ada satu pun yang menjawabnya.”
Bu Rahma tertawa kecil. “Setiap cita-cita bagus, Anita. Cita-cita haruslah menjadi motivasi dan tujuan bagi anak-anak dan berguna bagi kehidupan manusia.” Jawabnya “Namun, anak-anak ini, mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Saya sangat sedih dengan nasib mereka.”
“Saya juga sedih dengan kehidupan anak-anak di jaman sekarang ini.” Lanjutnya “Mereka yang mendapat kesempatan untuk bersekolah, justru menggunakannya dengan cara yang salah; mereka tawuran, memakai narkotika, bolos sekolah, bahkan tak jarang orangtua mereka tak peduli dengan perkembangan pendidikan anak-anaknya. Ini sangat menyedihkan. Inilah tugas kita bersama -orang tua dan guru- untuk menyadarkan mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar”
“Saya sudah mengabdikan diri untuk pendidikan Indonesia hampir selama 30 tahun. Sungguh, menjadi guru tidaklah gampang. Tanggung jawab seorang guru adalah mendidik anak muridnya agar menjadi anak yang berguna untuk orang banyak dan berbakti pada Bangsa dan Negaranya. Agar sang anak mengetahui yang benar dan salah, dan dapat bertoleransi dengan perbedaan di sekitarnya. Inilah tugas pokok seorang guru, bukan hanya mengajarkan, tapi juga mendidik.”
Aku tertegun mendengar curahan hatinya. Saat inilah yang membuatku menyadari misi kehidupanku sebenarnya; untuk menjadi guru yang mendidik anak muridku agar berguna untuk Bangsa dan Negaranya.

Cerpen Karangan: Keykalian
Blog: keykalian.blogspot.com
Mimpi Kami Anak Bangsa

Mimpi Kami Anak Bangsa

Judul Cerpen Mimpi Kami Anak Bangsa

Berjalan menyusuri jalanan saat dimana orang lain melakukan aktivitas mereka dan juga anak seusiaku tentunya mereka bergegas ke sekolah. Tidak sepertiku hanya melihat megahnya gedung sekolah tanpa pernah merasakan nyamannya duduk di bangku sekolah menerima pelajaran untuk mengenal dunia. Atau memang sudah menjadi takdir untuk kami orang pinggiran selalu tersisih terutama anak-anak bangsa seperti kami yang tidak layak mengenyam pendidikan. Yang aku lakukan hanya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk aku bawa pulang. Entah mengapa aku tak pernah lelah menanyakan mengapa ibu tak menyekolahkanku seperti anak-anak yang lain meski jawaban yang ibu berikan tetap saja tak pernah berubah.

“Bu, apa memang anak-anak sepertiku tidak berhak bersekolah?” Tanyaku.
“Kita itu tak butuh sekolah yang penting kamu itu bisa cari uang.” Jawab Ibu.

Aku pernah mendengar di radio “Bahwa anak-anak bangsa harus menerima pendidikan yang layak karena kelak merekalah yang membangun bangsa ini.” Tapi anak-anak seusiaku banyak yang tak menerima pendidikan yang layak bagi mereka bisa makan sehari-hari saja sudah cukup.

“Ayo ngapain ngelamun aja.” ujar temanku.
“Mau kemana?” jawabku.
“Ya mulunglah emang kalau melamun bisa dapat uang.” sahutnya.
“Iya.”

Dion adalah temanku sama sepertiku tak pernah megenal bangku sekolah di pikirannya hanya uang. Baginya tidak perlu pendidikan tinggi atau keahlian khusus untuk memulung hanya butuh karung besar untuk menampung barang-barang bekas.

“Dion apa kamu pernah berpikir kalau kita bisa bersekolah.” tanyaku
“Apa sekolah, mimpi kamu.” jawab Dion.

Walau dia berkata seperti itu sebenarnya Dion punya mimpi yang besar untuk bersekolah namun karena keadaan dia harus mengubur mimpinya. Dan dia pernah berkata kalau sekolah itu hanya untuk orang-orang kaya saja.

Jalanan begitu ramai seorang laki-laki terlihat begitu terburu-buru dengan penampilan sangat rapi dia berusaha menerobos keramaian namun tanpa sengaja dompetnya terjatuh dari saku celana, dan aku tepat berada di belakangnya tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dompet itu dan langsung mengembalikannya.

“Pak ini dompetnya jatuh.” ujarku.
“Oh ya.” jawabnya yang langsung pergi dengan terburu-buru.
“Siapa itu Ben?” tanya Dion.
“Tadi dompet bapak itu terjatuh.” jawabku.
“Kenapa gak kamu ambil aja kan lumayan.” sahut Doni.
“Hmmm dasar.”

Tak lama berselang saat aku dan Dion melepas dahaga di pedagang kaki lima aku kembali melihat bapak yang tadi dompetnya terjatuh, dari kejauhan dia seakan menuju ke arah tempat aku dan Dion.

“Kamu tadi yang mengembalikan dompet saya kan?” tanya bapak itu.
“Iya pak.” jawabku.
“Maaf ya tadi saya belum mengucapkan terima kasih karena terburu-buru.” ujarnya.
“Iya pak tidak apa-apa.” sahutku.

Cukup lama kami berbincang namun ada satu pertanyaan yang membuatku sedikit merasa sedih dan sejenak aku terdiam. Yang sebelumnya pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan oleh seorang yang berpenampilan rapi dengan tutur bahasa yang santun.

“Apa kalian berdua ingin bersekolah seperti anak lainnya.” tanya Bapak itu.
“Mungkin tidak ada anak yang tak ingin bersekolah Pak termasuk kami berdua dan teman-teman kami lainnya tapi bagi kami duduk di bangku sekolah dan menerima pendidikan yang layak itu hanya sebatas mimpi.” jawabku.
“Tidak ada yang tidak mungkin” kata yang diucapkan Bapak itu dan kata-kata yang membuatku sedikit tidak percaya bahwa dia menerima kami anak-anak di perumahan kumuh untuk bersekolah dengan layak yang tidak harus memikirkan biaya apapun di sebuah yayasan yang didirikannya.
Aku dan Dion seakan membisu merasa tidak percaya, yang dulu bersekolah adalah mimpi sekarang menjadi kenyataan.

Cerpen Karangan: Feny Sahara
Facebook: FY
Perjuangan Nisa

Perjuangan Nisa

Judul Cerpen Perjuangan Nisa

Pagi yang cerah. Nisa terbangun lalu bersiap membantu ibunya. “bu nanti waktu masuk smp aku sekolah di mana bu?” Nisa begitu semangat bercerita kalau dia ingin sekali masuk smp. ibunya tak tega menghilangkan wajah gembira anak tunggalnya. ya Nisa adalah anak satu satunya dan bapak Nisa sudah meninggal waktu dia kelas 4. Ibunya ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa memasukkan Nisa ke smp.

Nisa lalu mengantar ibunya bekerja. Ibu Nisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Jadi wajar saja ibunya hanya bisa menyekolahkan Nisa sampai SD.
Saat ibu Nisa pulang Nisa sudah tertidur di kamarnya. Ibu Nisa berusaha menabung untuk menyekolahkan Nisa.

Liburan tinggal 2 minggu lagi namun tabungan ibu Nisa belum cukup. “ibu kapan kita beli barang barang sekolahku?” tanya Nisa pada ibunya. Ibunya lalu membawanya ke kamar. “Nisa, maaf ya ibu nggak bisa masukkan kamu ke smp” ucap ibu Nisa sambil memeluk putrinya. Nisa hanya bisa diam mendengar jawaban ibunya.

Dikemudian hari Nisa bertemu kak viko. kak viko melihat Nisa yang sedang menulis sesuatu, kak viko lalu menghampiri Nisa dan bercakap-cakap denganya. Setelah kak viko selesai mendengar cerita tentang kesulitannya masuk smp kak viko berkata “Nisa, kakak bisa bantu kamu masuk smp lhoo..” “beneran kak?, gimana caranya?” tanya Nisa. Kak viko lalu mengeluarkan kertas. “kamu ikut aja lomba ini” kak viko lalu menjelaskan jika ikut lomba Nisa bisa masuk smp karena hadiahnya beasiswa. “ya kak, aku mau!” “ya, kalau gitu kamu kakak daftarin dulu. lombanya itu besok jam 08.00 besok kakak jemput ya. tempatnya ada di kampusnya kakak”.

Keesokan harinya setelah Nisa mengikuti lomba menulis cerita, Nisa sangat berharap kalau dia bisa menjadi juara. Nisa memang sudah memiliki hobi menulis sejak kecil dia pernah membuat bermacam macam karya tulis. Dan saat pengunguman pemenang mc maju “inilah saat yang ditunggu tunggu pemenang. juara 3 mendapatkan beasiswa 3 tahun SD dan uang 2.000.000 rupiah. juara 2 mendapatkan beasiswa 3 tahun smp dan uang 5.000.000 rupiah. dan juara satu mendapatkan beasiswa 3 tahun smp, ipad mini dan uang 7.000.000 rupiah…”

Mc lalu mengungumkan pemenang 1, 2 dan 3
“Juara 3 dimenangkan oleh Prita lestari… dengan cerpen berjudul ibuku pahlawanku.. dan nilai 856” tampak gadis mungil berkuncir dua maju ke depan dan pastinya dia Prita lestari.
Nisa dan ibunya saling berpegangan tangan berharap nisa mendapat juara.
“Juara dua dimenankan oleh m. ramadion… dengan cerpen berjudul perjuangan anak jalanan dan nilai 973 silakan berdiri di samping juara ke 3” tampak seorang laki laki melonjak kegirangan dan menaiki panggung.
Nisa tampak sedih sepertinya dia sudah kehilangan harapan.
“Dan juara 1 di menangkan oleh… Fidelia Arumnisa… dengan cerpen berjudul perjuangan sekolah Nisa. dan nilai sejumlah 1145…” Nisa hanya tertegun mendengarnya ia serasa bermimpi. Kak viko lalu menghampirinya “Nisa ayo ke depan, kamu juara satu” Kak viko lalu mengantar Nisa ke panggung.

Silakan hadiahnya diberikan. Setelah selesai Nisa menuruni panggung dengan piala yang besar. Ibunya sangat bangga kepadanya dan langsung memeluknya. Nisa sekarang bercita cita menjadi penulis dia terus mengikuti lomba menulis dan sangat giat belajar.

Cerpen Karangan: Adiba Ghafira Aininda
Secercah Asa

Secercah Asa

Judul Cerpen Secercah Asa

Saat itu, aku masih berusia 9 tahun. Ayahku sudah meninggal, beliau hanya mewariskan malaikat tanpa sayap padaku, Ibuku. Aku sudah merasakan kerasnya hidup dimana anak-anak seusiaku hanya menikmati harta yang mengalir dari orangtuanya, tanpa harus bersusah payah. Aku iri! Mereka dengan mudahnya menempuh pendidikan, sedangkan aku? Untuk pergi ke sekolah saja, aku harus berjuang. Apa ini yang dinamakan dengan adil? Namun, dibalik getirnya kehidupan ini, selalu ada kata-kata yang terangkai dari bibir mungil Ibuku.

“Ibu hanya ingin, kamu rajin belajar. Ibu yakin, kunci kesuksesan ada di genggamanmu.”

Usiaku semakin bertambah, dan keluhan-keluhan akan kehidupan semakin redup. Aku masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Prestasiku di sekolah semakin gemilang, saat aku meraih juara cerdas cermat tingkat kabupaten. Aku merasa, bukan hanya orang terpandang yang bisa meraih mimpi.

Malam itu, hujan deras mengguyur bumi. Aku hanya diselimuti oleh rasa khawatir, karena Ibuku belum pulang. Tak seperti biasanya, ia pulang semalam ini. Rasa khawatirku semakin memuncak, ketika seseorang datang ke rumahku dan ia berkata, “Ibumu masuk Rumah Sakit karena kecelakaan tadi sore.”
Runtuh semua hasratku. Harta paling berharga yang kumiliki, kini berada dalam masa sulitnya.

Di rumah sakit, aku melihat seseorang yang baru saja ke luar dari ruang Ibuku. Aku mengabaikannya. Aku masuk ke dalam ruangan, lalu memandang wajah Ibuku dan menangis di atas tangannya yang lembut. Rasa khawatirku semakin mereda, saat Ibuku mulai menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Aku tersenyum. Beliau berkata, “Jangan khawatirkan Ibu, Dika. Jaga diri kamu baik-baik, ya.” Namun, itu semua hanyalah kebahagiaan yang semu. Ibuku kembali terlelap. Terlelap dalam tidur panjangnya tanpa bernafas. Hatiku menjerit kesakitan. Hartaku, telah lenyap bersama angan.

Satu tahun berlalu, kehidupanku semakin cerah. Aku meraih nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolahku. Aku semakin yakin, kesuksesanku ada di genggamanku. Aku melanjutkan sekolah ke tingkat SMP melalui jalur beasiswa. Meskipun, banyak cibiran dan ejekan yang keluar dari mulut teman-temanku. “Ah, kamu orang miskin, ya. Sekolah aja dikasih gratisan.” Namun, ada sosok Bu Dewi (wali kelasku) yang selalu membangkitkanku. Itulah mengapa aku selalu merindukan sosok Ibuku saat aku bersama Bu Dewi. Kini, cibiran dari teman-temanku berangsur-angsur larut menjadi sebuah kebanggaan. Aku yang semakin menonjolkan prestasiku, membuat mereka ingin berteman denganku. Tanpa melihat status keluarga.

Aku bersyukur, Ibu mewariskan kepadaku bakat yang membuat aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri. Hingga bakat itu mampu mengantarku sampai jenjang Sekolah Menengah Atas. Usiaku kini sudah 16 tahun. Dika cilik yang polos, kini telah berubah menjadi Dika yang dewasa. Aku bahagia. Meskipun, aku masih tinggal di gubug kecil tanpa siapapun.

Suatu hari, aku sedang berjualan di stasiun. Aku melihat seseorang yang sepertinya kukenal. Aku ingat! Dia adalah orang yang dahulu keluar dari ruangan Ibuku setelah kecelakaan itu berlangsung. Aku menghampiri dan menyapanya. Namun, ia menatap wajahku seolah-olah mengingat kembali.
“Apa Ibu ingat kejadian lima tahun lalu?” aku mencoba mengingatkannya.
Sontak ia terdiam. Air matanya menetes di pipinya. Sedangkan aku, apakah aku berdosa membuat orangtua menangis karena ucapanku? Ia memelukku dan berkata.
“Kamu anak dari wanita itu? Kamu sudah besar? Maafkan saya, Nak. Saya telah menabrak Ibumu. Saya benar-benar bersalah, maafkan saya, Nak. Saya akan bertanggung jawab untuk merawatmu. Saya akan mengangkat kamu sebagai anak. Kamu mau ya?” air matanya kembali mengalir dengan deras.
“Tak apa, Bu. Dika sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup Dika sendiri. Untuk masalah Ibu Dika, Dika sudah memaafkannya.”
Ia tetap memaksaku untuk menjadikan aku sebagai anak angkatnya. Mungkin, ia ingin menebus kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Ibuku. Aku menerimanya sebagai Ibu angkatku.

Kini, kehidupanku semakin gemilang. Setelah lulus SMA, aku didaftarkan oleh Ibu angkatku untuk kuliah di salah satu Universitas ternama di kotaku. Di Universitas itu, aku mendapatkan banyak hal. Mulai dari kunci masa depan sampai calon pendamping hidup pun aku dapatkan di sana. Tak terasa, aku akan diwisuda. Suatu hari, pelaksanaan wisuda itu berlangsung. Ibu angkatku yang datang untuk melihatku, kembali mengeluarkan air matanya.

“Ibu dan Ayahmu pasti bangga padamu, Nak. Kamu sudah memberikan hadiah terbaik untuk mereka. Seandainya, orangtuamu masih ada disini. Mereka pasti bahagia menyaksikan buah hatinya yang sudah menggenggam masa depannya.”

Perjuanganku tak hanya sampai di sini. Kini, aku sudah menjadi seorang pengusaha ternama di Kota ini. Sudah waktunya untuk memikirkan pendamping hidup. Salmah, kekasihku saat aku masih kuliah. Rencananya, aku akan menikahinya dalam waktu dekat ini.

Semua orang-orang terdekat, sudah menyetujui pernikahan kami. Kami pun menikah. Kini, hidupku semakin terang benderang. Ditemani oleh seorang istri yang cerdas dan anak yang lucu. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan merawat anakku dengan baik. Yang terpenting, ia dapat menempuh pendidikan dengan layak.

Cerpen Karangan: Nesa Tikasari
Facebook: facebook.com/nesatikasari
Email: nesatikasari14[-at-]gmail.com
Perjuangan Anak Tukang Gula Mendulang Juara

Perjuangan Anak Tukang Gula Mendulang Juara

Judul Cerpen Perjuangan Anak Tukang Gula Mendulang Juara

Jilbab putih menutupi wajah bundar, berkulit hitam manis, bertengger tahi lalat menghiasi pipinya yang lesung. Dengan kepolosan dan keluguannya mewarnai keayuan Siti Saodah. Ia rajin serta disayang kawannya. Terlahir dari seorang pedagang gula aren sebagai mata pencaharian pokok. Dari sanalah orangtuanya bisa membiayai hidupnya yang kembang kempis. Mereka hidup dibawah garis kemiskinan, hanya sesekali bisa mengais rezekinya.

Cidugaleun, kampung kelahirannya. Berada di bukit terjal di bawah kaki Galunggung, yang konon pernah memuntahkan lahar bebatuan di tahun 1982. Konon pula butiran-butiran debunya sampai ke Benua Kanguru.

Di sekitar gubuknya dikelilingi pepohonan aren nan menjulang ke angkasa.

Kokokan ayam membangunkan dia beserta keluarganya yang terlelap dari tidurnya. Dia bergegas ke “Pancuran” di belakang rumah untuk berwudhu dan mendekatkan diri kepada Alloh SWT, serta berdo’a semoga diberikan kemudahan dan kelancaran karena akan menghadapi Ujian Nasional. Tak lupa, dia selalu membuka buku-buku pelajaran karena dikenal juga dia “Si kutu buku”.

Siti pun menyiapkan sarapan pagi untuk mutiara yang paling ia kagumi, yaitu kedua orangtuanya. Sementara, mereka mencetak gula aren untuk dijualnya.

Setelah sarapan pagi selesai, Siti berkata kepada kedua orangtuanya:
“Ibu… Bapak… Alhamdulilah ya kita masih diberi rezeki oleh Alloh SWT.”
“Ia Nak, kita harus bersyukur kepada Alloh! karena Dia-Lah yang telah memberi rezeki kepada keluarga kecil kami ini.” Ujar Bapaknya
“Kita harus berterima kasih kepada-Nya. Berdo’a dan beribadah itu harus. Walaupun kita orang miskin, tetapi kita tidak boleh lupa yang namanya bersyukur dan beribadah.” Lanjut Ibunya
“Iya, Bu… Pak… Siti tidak akan lupa untuk beribadah kok.” Ujar Siti

Raja siang memancarkan sinarnya dari ufuk timur, diiringi gemuruh Curug Jajaway serta gemericik air yang turun dan menetes dari sela sela jemari akar pohon beringin yang sudah berjenggot. Kicauan burung dan kelelawar sahut menyahut bergelantungan menambah semangat langkah Siti Saodah besama kawannya menuju lautan ilmu.

Suatu hari yang mendung, mereka menatap ke langit sembari berdo’a karena turun hujan tak henti-henti bagaikan diteng-tengkan dari langit, disertai angin kencang, kilatan petir menyilaukan mata. Itu terjadi semalam suntuk.

Menjelang subuh, suasana sepi orang-orang enggan keluar. Awan, kabut, memutih tak tembus pandang, suasana dingin mencekam, pori-pori kulit berdiri merinding. Hati Siti Saodah mulai gundah gulana karena hari ini Ujian Nasional akan berlangsung. Ayahnya pun ikut cemas, dua mengurungkan niat untuk mengais rezeki demi anaknya.

Suasana alam tak bersahabat, dari kejauhan air bah terlihat melimpah, meninggi sepinggang orang dewasa, ternyata jembatan Cekdam yang akan dilalui terendam.

Bongkahan-bongkahan kayu yang muncul tenggelam, beriring berjalan sekali-kali terantuk bebatuan, suara air deras membuat merinding orang yang melihat.

Tapi tidak!!! Bagi Siti Saodah dan bapaknya, air bah harus dilawan dengan hati yang tenang. Waktu terus berjalan, jantung semakin berdetak Ujian Nasional pertama membayang-bayangi wajahnya. Dengan semangat pantang menyerah digendongnyalah anaknya, Siti Saodah. Selangkah demi selangkah kakinya bergetar terseok-seok air deras.
Bapaknya berkata “Nak! Pegang erat-erat pundak Bapak!”
Siti “Iya, Pak. Siti berdo’a semoga kita diselamatkan.”

Kaki Siti pun tidak tinggal diam, sekali-kai diterjangnyalah bongkahan-bongkahan kayu yang menghalanginya. Seraya mulut Siti terus tak henti-hentinya bergumam membacakan asma Alloh.

Perjuangan berat terasa ringan, itulah keluhan yang keluar dari mulut Bapaknya ketika sudah mendekati bibir sungai.

Siti pun bergegas berjalan dengan setengah berlari menuju “angdes” disana sudah banyak penumpang berjubel. Bahkan, anak laki-laki bergelayutan. Siti duduk dengan tidak nyaman, digeser-gesernyalah pantatnya ke badan ibu-ibu gemuk yang akan berbelanja ke pasar. Sementara mata Siti Saodah terus menatap jarum jam yang terus berputar. Hati kecilnya berbicara:
“Ah… Jangan-jangan aku kesiangan.”

Hati gelisah, jantungnya semakin berdebar-debar. Pikirannya seolah olah sudah duduk di kursi menghadap soal Bahasa Indonesia yang diUjiankan.
“Neng… SMP Neng?” Pak sopir menegur Siti Saodah

Dia terperanjat dari pelamunan, dia lari terbahat-bahat. Ternyata, Pak Satpam begitu ramah menyapa dan pengawas pun mempersilahkan masuk.

Siti pun memasuki ruangan dan siap melaksanakan Ujian Nasional. Dia mulai mengerjakan soal dengan baik dan memperhatikan apa yang salah dari jawabannya. Dia tak menyangka bahwa soal-soal yang diujiankan sudah ia pelajari sebelumnya.

Seperti biasanya, sepulang sekolah Siti selalu membantu kedua orangtuanya berjualan. Siti pun bergegas untuk berjualan, langkah demi langkah ia menitihkan kaku, bersuarakan merdu. Bertedukan matahari yang begitu terik, aspal sebagai pijakan pun begitu panas. Soalnya dua berjualan tepat pada pukul 13.30, tentu cuaca sangat panas. Badannya bercucuran keringat dan ia pun mulai bersuara lantang.
“Bu… Gula… Gula, Bu… Gula… Bu…”

Waktu pun semakin sore, gula habis semua. Dengan hati yang amat senang dia pun bergegas untuk pulang dan memberikan semua hasil jualannya hari ini kepada ibunya.

Disetiap hari-harinya dia selalu berdo’a agar dia lulus dengan nilai yang memuaskan dan dapat melanjutkan sekolahnya ke SMA, itu impiannya.

Tak lupa, Siti selalu mendo’akan orangtuanya agar mereka senantiasa dalam keadaan sehat.

Waktu bergulir sangat cepat, tak terasa pengumuman kelulusan tiba. Siti merasa tegang, deg-degan, keringat dingin di badannya, gemeteran sekujur tubuhnya, karena dia menunggu hasil kelulusan. Ketika ia melihat hasilnya, Subhanalloh… nilainya menjulang diatas bintang. Di samping itu, Siti dinobatkan sebagai siswi terbaik di SMP-Nya.

Siti segera pulang membawa kabar bahagia itu untuk kedua orangtuannya. Siti sangat senang, dia telah berhasil menghadapi ujiannya dengan lancar. Walau kadang ujian dari Alloh terus menghadang, tetapi dia sabar dan ikhlas.
Sesampainya di rumah Siti berteriak
“Ibu… Bapak… Siti lulusss.” sambil keluar air mata yang mengalir membanjir

Siti langsung menghampiri Ibu dan Bapaknya ke dapur. Kedua orangtuanya kaget melihat Siti menangis. Dia pun langsung merangkul kedua orangtuanya dengan penuh air mata kebahagiaan.
“Ibu… Bapak… Alhamdulilah aku lulus.” Ujar Siti
“Iya, Ibu dan Bapakmu senang mendengarnya.” Jawab Ibunya
“Iya, usahaku selama ini tidak sia-sia.” Ujar Siti
“Iya Nak, kamu bangun setiap pagi, puasa, pasti kamu mempunyai maksud. Alloh mendengarkan do’amu Nak.” Ujar Bapaknya
“Iya Bu… Pak, aky sangat bersyukur dan senang sekali.” Ujar Siti

Setelah lulus, kini Siti tinggal melangkah ke SMA. Berkat ketekunan, keuletan dan semangat yang diperjuangkan. Akhirnya Siti melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan hati yang senang Siti diterima di SMA N 1 Sariwangi.
Memang Perjuangan bukan hanya persoalan berkorban jiwa dan raga untuk impian visi yang hendak dicapai. Dan yakinlah Alloh SWT pasti menjaga hamba-hambanya yang memiliki kemauan keras untuk hidup.

Cerpen Karangan: Rani Nuraeni
Facebook: Rani Nur’aeni
Balada Skripsi

Balada Skripsi

Judul Cerpen Balada Skripsi

Aku tak mau berlarut-larut dalam penyelesaian skripsi ini. Semenjak keluar daftar dosen pembimbing di akhir bulan April 2015 kemarin sangat banyak cobaan silih berganti menerpa jalan hidupku. Mulai dari dosen yang memberikan tugasnya kepadaku. Sampai teman-teman di sekitarku selalu ingin meminta duit pinjaman untukku. Padahal sudah berulangkali ku sampaikan ke mereka bahwa aku itu bukan tukang rentenir atau mungkin karena saya bukan rentenir makanya mereka masih ingin meminjam uang ke aku yah? Yang pasti aku tak tahu. Aku tak tahu yang pasti. Pastinya aku tak mau tahu dan pengen tahu, eh tahu-tahunya udah tahu. Dan teman-teman yang membaca sekarang makin tak tahu. Memang tulisan ini untuk membuat orang yang tahu menjadi tidak tahu. mohon maaf telah membuat kalian anemia. eh amnesia.

Saya kuliah di STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Indonesia, Asia Tenggara, Asia, Dunia. Saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra INDONESIA.

“wakwakawkakw…”
“kenapa ketawa?”
“bahasa Indonesia kok dijurusi, orang mah sudah belajar bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Jerman, Lo masih aja belajar bahasa Indonesia.”
“K*u …!!! Ganti!!! terlalu keliatan bahasa Medannya. Anda yang sedang menggeluti bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Belanda pasti mempelajari bahasa indonesia. Kita putar kembali ke masa-masa dimana Anda mengharapkan jawaban dari pertanyaan bahasa Indonesia pada saat UN SMP dan SMA. Hargailah gurumu agar berkah ilmumu”. cieeee pembelaan yang melibatkan guru segala.

Okeh. lanjut. Anda sekarang kita contohkan sedang menggeluti bahasa Jerman. Tanpa bantuan bahasa Indonesia 100 persen anda tidak akan berhasil mempelajarinya tanpa bantuan bahasa Indonesia. Karena kamus yang anda gunakan dan bahasa penghantar pembelajarannya pasti menggunakan bahasa Indonesia. Kalau memang anda tidak suka dengan bahasa Indonesia silahkan anda cari dan gunakan bahasa daerah dan kamus bahasa daerah-Jerman. Hakkul yakin saya yakin tidak bakalan ada.

Okehh…! kita kembali ke skripsi
Judul penelitian yang sudah diterima oleh dosen pembimbing I dan II adalah “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Rais Salsabiela dan Rangga Al Mahendra”. Keren gak judul skripsiku?

Tapi saya lupa kalau buku referensi yang harus kudapatkan di daerah terpencil di Sumatera Utara ini sangatlah susah. Sesusah mencari butiran debu dalam lirik lagu Rumor – Butiran Debu.

Di sini toko buku hanya hitungan jari. Dan untuk mendapatkan buku yang sesuai dengan referensi… Alamak susah sekali. sesusah mencari bini di kalangan b*nci. Makanya sampai saat ini saya masih berkutat dalam proposal skripsi. Padahal sudah 5 bulan aku jalani. Tak satupun toko buku yang memberikan sumber referensi. Telah Kucoba mencari kesana kemari. Padahal tidak ada sedikitpun niatku mencuri. Saya berniat membeli eh malah dituduh pencuri. Maksudnya pencuri hati penjaga toko buku yang bernama Siti Sumarni.

Indikator yang disetujui oleh dosen pembimbing I dan II adalah Agama, Sosial, dan Tanggungjawab. wah!!! ini susah sekali. Pertama agama. sedikit banyak saya paham dengan agama, kebetulan saya lulusan pesantren. Tetapi satu hal yang membuatku bingung. Sangat tidak mungkin kitab arab gundul yang pernah kupelajari kubuat menjadi sumber referensi, seperti kitab tafsir al-jalalen, Addusuki, Fathul Mu’in, Kailani, dan Ilmu Tafsir. Yang ada malah dosen pembimbingnya mengatakan begini.
“Nak, seharusnya anda tau kalau anda itu kuliah di STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan. bukan di Kairo Mesir”

Okeh…!!!

Sosial. Secara garis besar manusia adalah makhluk sosial. Tetapi lagi-lagi buku referensi harus sesuai dengan yang ditetapkan oleh ahli sosial (sosiolog) dalam berteori. Tetapi tau sendirilah saudaraku sekalian bahwa di sini sangat susah mendapatkan buku. Jangankan buku pendidikan, koran saja hanya beberapa koran lokal. Itu pun 1 terbit harian, yang lain terbit mingguan. dan satu hal yang perlu diketahui bahwa di daerah ini jika ingin membeli koran, harus rela menunggu besok agar bisa membaca koran yang terbit hari ini. Pantas lah orang di sini tertinggal dari orang kota.

Indikator yang terakhir yang disetujui adalah Tanggungjawab.
okeh.. aku tahu yang ada di dalam hati pembaca sekalian bahwa orang medan bisanya cuma bisa “Jawab” tanpa mau menanggung. Yah.. saya kurang tau apakah itu benar. Yang benar saja aku belum tau apa perbedaannya dengan yang salah. Yang penting kalau masalah jawaban minta saja sama orang Medan. Pasti jawabannya selalu ada. istilahnya nih, tanpa pertanyaan seribu jawaban. Bagaiamana kalau ada pertanyaan pasti berjuta jawaban.

Untuk itu menutup tulisan mengenai skripsi ini saya ingin menulis sebuah puisi yang menandakan bahwa saya mahasiswa bahasa indonesia sejati.

Skripsi

Skripsi…
Dalam aku tertidur kau hadir dalam mimpi
Pacar berlari karena aku dituduh selingkuh dengan skripsi
Padahal skripsi ku jejali untuk kehidupan engkau dan si buah hati di esok hari nanti

Apakah engkau mau hanya makan ikan teri setiap hari
Maka bantulah aku menemukan sumber referensi
Agar skripsi tidak menjadi momok yang menakutkan lagi.

Pembimbing I dan II serasa menuntutku dalam mimpi
Di dunia nyata mereka baik sekali
Hingga ingin sekali aku menciumnya walau sekali
Tetapi apa daya satu wanita dan satu lelaki
Kucium satu yang satu meresa iri dan yang satunya lagi merasa jijik

Oh Skripsi apakah salah diri
Hingga aku terpencil di kota kecil ini
Merenung meratapi diri
Hingga terbersit dalam hati
Ingin melakukan bunuh diri
Namun aku sadari bahwa itu dimurkai Ilahi Robbi

Moga saja beberapa bulan lagi
Skripsi ku dapat terselesaikan secepat tiki
Agar aku tak menggoda Siti Sumarni
Jika berkenan kan kujadikan istri
Dan skripsi ku buat menjadi saksi cinta sejati.

Cerpen Karangan: Suki Malo
Blog: http://alitlugu.blogspot.co.id
Anak Pisang

Anak Pisang

Judul Cerpen Anak Pisang

Tiada hari tanpa aroma pisang goreng di dapur emak. Itu yang Ana rasakan ketika terbangun dari tidurnya. Dan aroma teh panas menyapa pagi Ana dengan kehangatan. Ia mengunyah pisang sembari sesekali meneguk teh hangat buatan emak. Ana hanya tinggal berdua dengan ibunya yang biasa ia sebut dengan sebutan emak sebab tahun lalu ayahnya meninggal dunia karena sakit. Untuk itu Ana harus menjual pisang goreng buatan emak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolahnya.

Seperti biasa Ana harus menitipkan sebagian barang dagangannya di kantin dan sebagiannya lagi ia jual kepada teman-teman kelasnya. Ana adalah murid yang pandai di sekolah, predikat juara umum masih ada pada genggamannya. Tidak hanya prestasi akademiknya yang menonjol prestasi non akademik pun ikut muncul berdampingan mengiringi harinya. Ia sangat pandai membuat puisi dan cerpen karena itu menulis adalah hobinya sejak kecil. Tiap tahunnya ia selalu mewakili sekolah mengikuti ajang lomba cipta puisi hingga ke tingkat Nasional.

Tetapi walau begitu tidak ada yang ingin berteman dengannya. Mereka semua malu berteman dengan Ana hanya karena Ana seorang penjual pisang goreng keliling. Tiap hari cacian dan cibiran datang menghampiri tetapi semangatnya mengalahkan emosinya. Kini Ana menyadari ia sudah duduk di bangku kelas XII SMA karena itu Ana tidak terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan tentangnya. Sikapnya memang cuek.. tetapi sebenarnya dia memiliki hati nan lembut. Ibunya selalu mengajarkan untuk bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain.

“dasar anak tukang jual pisang!! Pergi lo.. dari kelas ini.. lo enggak pantes berada di sekolah ini. Sekolah ini hanya untuk orang-orang high class kaya kita.” Cibir tasya. Walau begitu Ana tetap tidak peduli ia tetap membaca bukunya walau ribuan mulut memcaci. “heh.. anak pisang!! Lo denger enggak sih? Enggak punya telinga?” bentak Tasya sembari melempar buku tebal ke arah muka Ana. Yap!! Hampir saja buku itu mengenai muka Ana, untung saja seorang pria bertubuh tinggi menangkap buku yang hampir mengenai muka Ana. “Apakah hanya orang-orang high class yang boleh berada di sini?” matanya menatap tajam mata Tasya dengan penuh emosi. Mulut tasya mulai bergumam sembari memainkan pulpen. “jawab!! Setidaknya dia berada di sekolah ini karena otaknya bukan uangnya.” Ujar pria jangkung dengan sinis.
Tasya hanya terdiam saat mendengar perkataan pria itu. “terimakasih” ucap Ana singkat sembari memegang buku dan meninggalkan ruang kelas. Ia berjalan menuju kantin untuk mengambil hasil penjualan pisang hari ini.
“pisangmu laku terjual dan kalau bisa besok bawa yang lebih banyak lagi Ana, ini uang penjualan pisang hari ini.” Ujar ibu kantin “terima kasih banyak, bu.” Ucap Ana.

Sepulang sekolah Ana di rumahnya sudah ada selembar surat yang menyatakan bahwa pihak penerbit tertarik dengan naskah yang ia kirim tahun lalu. Dan akan menerbitkan novel Ana berjudul “Tawa Mentari Pagi” esok lusa.

Beberapa hari setelah penerbitan bukunya ia mendapat kabar bahwa novel ciptaannya laku terjual hingga ribuan. Sore ini ia pergi ke kantor pos untuk mengambil uang hasil penjualan novelnya sebesar Rp. 35.000.000. “emak… emak.. lihat ini mak.” Teriak Ana dari ruang tamu. “iya ada apa Ana? Uang sebanyak ini milik siapa Ana?” tanya emak dengan muka terkejut. “ini hasil dari novel yang diterbitkan minggu lalu, Mak. Uangnya Ana akan gunain untuk modal dagangan emak.” Emak merasa sangat bahagia dan memeluk Ana dengan erat. Ana adalah anak semata wayang hal itu tidak membuatnya menjadi anak yang manja. Ia juga pandai memanfaatkan kesempatan luang yang ada.

Keesokan paginya di sekolah anak-anak ramai membicarakan novel terbitan terbaru. Mereka terkejut ternyata penulis novel tersebut adalah Ana. Berbeda dengan Tasya ia tetap saja berlagak sombong. “apaan sih.. baru juga jadi penulis novel. Nih ya kalian liat nanti seorang Tasya akan menjadi artis besar. Dan kalian pasti akan mohon-mohon minta foto. Kalo penulis doang sih.. ya lama-lama juga meredup.” Ujar Tasya dengan nada sinisnya. Mendengar ucapan Tasya, Ana hanya tersenyum. Rupanya buku tidak dapat terlepas dari tangannya. Bahkan ketika teman-temannya makan di kantin ia lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Bagi Ana pisang yang emak buat pagi hari itu sudah cukup mengisi perutnya yang kosong. Uang sakunya ia tabung untuk kebutuhan lainnya.

“Ana selamat ya kamu sudah berhasil menerbitkan novelmu, ibu suka sama karya satramu itu. Terus berkarya Ana, tetapi ingat lusa sudah mulai UN jadi kamu harus terus belajar.” Kata Bu Berta dengan penuh motivasi. “siap bu!!” berlari ke ruang kelas. “nih ya guys.. papah aku udah siapin guru privat terbaik di kota ini. Jadi kemungkinan juara umum UN tahun ini akan Tasya genggam.” sembari tertawa kegirangan. “wah papah kamu hebat juga ya, Sya.” Puji Lina dan teman-teman yang lainnya. “heh anak pisang!! Jangan harap predikat juara umum akan jatuh ke tangan lo. Urusin aja tuh pisang lo.. biar gak basi.” Ujar tasya, “mau lo apa sih, Sya?” ujar Raka. “udah Raka enggak ada gunanya ngeladenin orang kaya Tasya. Mending abaikan udah biasa juga kan dia ngomong gitu. Dan itu enggak berpengaruh sama sekali.” Jelas Ana

Di rumah ibunya membuka warung aneka pisang. Dan siang ini Ana menggantikan ibunya berjualan di warung karena ibunya mendadak sakit. Sesibuk apapun Ana ia masih menyempatkan diri untuk belajar sambil berjualan. Tidak ada rasa malu dalam dirinya karena ia tahu apa yang ia lakukan itu sangat bermanfaat. Malam harinya ia tetap belajar karena Ujian Nasional akan berlangsung lusa. Ia tidak ingin mendapatkan nilai merah pada mata pelajaran yang diujikan.

Saat ujian berlangsung Ana mengerjakan semua soal dengan tenang. Yang ada di pikirannya hanya lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan penidikannya. Ternyata mimpi tidak hanya sekedar mimpi ketika kita berusaha mendapatkan dengan diiringi do’a apapun bisa terjadi. Seperti yang terjadi pada Ana pada saat kelulusan semua terjadi lebih dari mimpinya. Ia lulus dengan nilai tertinggi dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di London. Semua terbukti ketika kita mampu melawan rasa gengsi dalam diri. dan logika yang berhasil mengalahkan emosi mampu membantu mewujudkan.

Cerpen Karangan: Ratih Rusmiyati
Kado Terindah Dari Sahabat

Kado Terindah Dari Sahabat

Judul Cerpen Kado Terindah Dari Sahabat

Namaku Luma seorang siswi SMA yang baru saja naik kelas XII. Hari ini aku pulang ke desaku setelah sekian lama tidak pulang karena ngekos di kota tempat aku sekolah. hari ini begitu indah ketika senja menemaniku menyusuri jalan setapak di desaku.

“hey luma…” kata seorang yang memanggilku dari belakang. aku menoleh dan tertegun, sejenak aku berpikir “siapa dia?” batinku bertanya-tanya… dia seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan rambut yang sama sekali tak tertata. Sekarang aku ingat dia “May” temanku waktu aku di bangku sekolah dasar. “ya ampun May” sergahku segera menghampiri dan memeluknya. “apa kabar?” tanyaku kemudian “yah seperti yang kamu lihat, aku sekarang susah…” keluhnya seraya duduk di kursi pinggir jalan, aku pun ikut duduk. Aku diam saja namun tetap menyoroti wajahnya yang tampak letih. “kamu harus sekolah sampai tuntas, harus jadi sarjana, biar gak seperti aku..” keluhnya lagi, aku masih diam dengan fikiran bertanya-tanya.

tak lama kemudian seorang anak kecil laki-laki sekita berumur 5 tahun, dengan ingus blepotan menghampirinya. “ibu, aku ingin beli mainan itu” katanya, menunjuk sebuah warung yang menjual mainan tersebut. May menghela nafas kemudian menjawab “ya, nanti kalau ibu sudah punya uang, ibu belikan” putusnya. Anak itu hanya mengangguk dengan wajah muram. “ya beginilah Luma, kalau sekolah ndak sampai tuntas, cari kerjaan susah, suami pengangguran, aku mau ngelamar kerja apa? orang cuma tamatan SD. Setiap hari aku harus mencari sampah di pekarangan rumah orang yang mungkin masih bisa diual, cibiran orang sudah jadi makananku setiap hari” terangnya, aku miris mendengarnya, dia salah satu teman aku yang dinikahkan saat baru lulus SD oleh orangtuanya, ya bisa dibilang pernikahan dini. Waktu itu dia hanya bisa menuruti kemauan bapaknya melawanpun ia tak akan bisa.

“kamu harus tamatkan sekolah kamu setuntas-tuntasnya, biar nggak seperti aku, menyesal kemudian, bapak selalu bilang “andai saja ndok, bapak dulu ndak menikahkan kamu usia dini mungkin kamu tidak akan susah seperti ini” apalah daya nasi sudah menjadi bubur, hidupku sudah seperti ini, kamu harus berjuang dalam belajar, pendiddikan memang bukan segalanya tapi dengan pendidikan kamu bisa meraih segalanya” tuturnya seketika membuka hatiku, bagiku kata-katanya barusan adalah kado terindah yang pernah kuterima dari sahabatku.

Aku jadi teringat program GenRe yang diadakan di sekolahku kemarin, suatu program pemerintah yang merencanakan pernikahan sesuai dengan ketentuan negara dan agama, program tersebut harus disosialisasaikan di seluruh Indonrsia, agar tak ada lagi korban nikah dini seperti temanku May, agar tak ada lagi yang merasakan pedihnya kehidupan tanpa perencanaan sebelumnya, agar indonesia tidak hanya menjadi negara dengan penduduk kuantitas terbanyak tapi juga berkualitas.

Cerpen Karangan: Lumatul Aisah
Facebook: Aiysh Looma
Rapor Merah Cambuk Si Toni

Rapor Merah Cambuk Si Toni

Judul Cerpen Rapor Merah Cambuk Si Toni

Toni namanya duduk di kelas IV SD dan hari itu Toni menerima rapor semester pertama, parasaannya penuh bimbang, takut, cemas dan bercampur aduk hal itu karena nilai rapor yang di tangannya itu ada warna dengan tinta merah sehingga dia merasa takut untuk menyerahkan dan memperlihatkan hasil ujiannya kepada kedua orangtua karena si Toni tidak ingin orangtuanya kecewa dengan nilai rapor yang jelek, sementera kedua saudara si Toni berhasil dengan nilai yang bagus oleh karena hal itu si Toni memikirkan bagaimana cara mengelabui ayah dan ibu di rumah dengan diam-diam pulang ke rumah dan menyembunyikan rapornya sehingga ayahnya lupa karena kesibukan dengan pekerjaan dan ibunya sibuk mengurus rumah tangga.

Selang beberapa minggu kemudian pihak sekolah meminta murid untuk mengupulkan kembali rapor, dan si Toni pun harus memutar kepala mencari ide lagi bagaimana cara menandatangani rapor, mencontoh tanda tangan ayahnya, singkat punya pikiran sitoni dengan beraninya menanda tangani rapor dengan pena merah.. merintih di hatinya “hore aku sudah selamat… tidak kena hukuman di rumah”.

Dan sampailah pada hari penerimaan rapor kenaikan kelas, kali ini si toni kegirangan karena dia naik kelas dan nilai rapornya tidak berwarna merah… Sungguh sanking girangnya tanpa berpikir panjang dengan spontan pulang dan menyerahkan rapornya pada ayahnya, sungguh sontak sang ayah saat melihat rapor sitoni “Apa ini…? siapa yang menada tangani rapor ini? Siapa yang mengajari kamu berbuat seperti ini?” Bertubi-tubi pertanyaan terlontar pada si toni sehingga rotan pun meluncur kepadanya, si toni kalut tapi dia dengan sigap kabur dengan langkah seribu berteriak-teriak “ampun…. ampun… ampun…”

Sejak kejadian itu si toni berjanji pada diri sendiri akan belajar dengan benar dan tekun dan akan bersekolah dengan yakin dan hingga pada akhirnya melanjutkan kuliah serjananya dengan mendapatkan beasiswa juga sampai pada menyelesaikan gelar Masternya dengan beasiswa sehingga dapat membuat sang ayah dan ibu si Toni merasa bangga.

Cerpen Karangan: Ita Khairani
BFacebook: Ita Khairani
Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat

Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat

Judul Cerpen Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat

Bogor, 29 Mei 2007
Hari itu Adalah Hari Yang tak Mungkin Aku dan Keluargaku Lupakan, hari dimana Perusahaan Ayahku Bangkrut, semua Aset Perusahaan tergadaikan, Rumah, Villa, Mobil, Semua Habis dijual untuk Membayar Hutang Ayahku kepada Bank, Ibuku terus Menangis Merenungi Nasib Kami Kedepan, Aku coba Menenangkannya, tapi aku juga memikirkan Entah bagaimana caraku melanjut kan Pendidikan

Sekarang aku duduk di Bangku kelas 3 SMA, dan Sebentar Lagi Akan Kuliah, Semua teman Sebayaku Akan Melanjutkan Kuliah di Universitas ternama baik di Indonesia maupun Luar Negeri. Aku Hanya Bisa terdiam Ketika Temanku Riana Menanyakan Universitas tujuanku,
“Lin kamu mau kuliah di mana?” tanyanya
“gak tau belum kepikiran ri, aku gak mau ngebebani keluarga” jawabku
Temanku riana berkeinginan Melanjutkan Study di Salah satu Universitas terbaik di indonesia, Riana tahu keadaan Ekonomiku yang Sekarang, dia Menawarkanku untuk Meminjam Uang padanya, tapi aku Menolaknya, Alasannya Cukup sederhana Aku ingin Kuliah dengan Biaya dan kemampuanku sendiri.

Sebelum kuliah, Sehabis pulang sekolah Aku bekerja di sebuah Supermarket, Gajinya Lumayan Untuk Membantuh Ayah dan ibuku Supaya Mereka tidak terlalu terbebani dan jika ada sisanya Uang hasil kerjaku, kutabung, tak dapat kupungkiri Niatku Untuk kuliah Semakin Besar, aku Berkeinginan Menjadi Orang Sukses. Agar dapat meraih Cita-Cita kelak.

Hari Kelulusan SMA pun telah tiba, Hari itu Semua temanku datang dengan Mengendarai Mobil bersama Orangtuanya, Sedangkan aku bersama Orangtuaku pergi ke SMA hanya Menaiki kendaraan Umum walau begitu aku tidak iri sedikit pun, dengan mereka. Ketika hasil kelulusan dibacakan, Betapa terkejutnya aku ketika kepala Sekolah Mengatakan Bahwa Nilai tertinggi diraih Oleh siswa yang Bernama Elina Putri, Siswa kelas XII IPA, senang bukan kepalang ketika Aku dipersilakan naik ke atas Panggung dan Mendapatkan Penghargaan Atas Prestasi Yang kuraih, Selain itu Aku juga Berkesempatan meraih Beasiswa kuliah Di Belanda, sebuah negera indah di benua eropa, Sebelum menghadapi tes, aku Sudah mempersiapkannya dengan baik, Aku selalu Belajar mengenai Materi yang disampaikan guru dari kelas X sampai kelas XII, tak lupa Aku Berdoa dan Berserah diri kepada Allah Swt.

Hari tes seleksi Mahasiswa Baru Pun telah tiba Sebelum aku pergi untuk Melaksanakan tes, aku Meminta Doa restu dari kedua Orangtuaku.
Tes Berlangsung Cukup lama yakni kurang lebih 3 jam, Dengan Percaya diri dan Berdoa aku berhasil Menyelesaikan Soalnya tepat waktu, pengumuman bagi Siswa yang diterima akan dilakukan pada hari ke Tujuh setelah tes.

Hari silih berganti Waktu Pengumuman Pun telah tiba dengan percaya diri aku pergi ke tempat diadakannya Beasiswa Study ke Belanda tersebut, semua orang dari berbagai daerah Berdatangan untuk melihat pengumuman tersebut, nama-nama siswa yang lulus tes sudah ditempel, dengan berdesak-desakan aku melihat hasil pengumuman tersebut, betapa bahagianya aku, ketika aku melihat dari Ratusan Siswa yang ikut tes tersebut, hanya diambil 25 siswa Indonesia pilihan yang mendapat Beasiswa belajar di belanda dan namaku ada di Urutan ketiga sebagai siswa yang dinyatakan diterima di salah satu Universitas ternama di Negeri Bunga Tulip itu.
Ketika aku pulang ke rumah tangisku tak bisa lagi terbendung, aku menangis di pelukan ayah dan ibuku, sembari bersyukur kepada Allah Swt.

Hari keberangkatanku ke belanda pun tiba, ayah dan ibuku Mengantar ku Ke Bandara, sambil menangis kedua orangtuaku itu Memelukku, dan Melepasku, mereka berpesan padaku agar selalu giat belajar, dan jangan tinggalkan Sholat, setelah kurang lebih 8 jam dalam pesawat Akhirnya pesawat Mendarat dan aku sampai di Negeri Kincir Angin, negeri yang tidak pernah terlintas sedikit pun pada benakku bahwa aku akan menghabiskan 5 tahun ku disini Meraih Gelar Kedokteran.

5 tahun pun berlalu aku mendapatkan pendidikan gratis dan Uang saku ditanggung pemerintah suka duka kulalui disini kini Hari Wisuda pun telah tiba, aku berhasil meraih Gelar seorang Dokter dgn S2, bahagia haru bercampur jadi satu ketika orangtuaku datang mendampingiku ketika aku akan mengakhiri pendidikanku di Belanda, setelah Wisuda telah selesai, aku dan Orangtuaku kembali Negara yang sangat kucinta, negeri kelahiranku, negeri dimana aku dibesarkan yakni Indonesia, aku berjanji akan mengabdikan hidupku untukmu tanah airku.

Selesai

Amanah jangan pernah menyerah, jika kita berusaha dengan sungguh2 maka allah akan mempermudahkan kita, dan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Cerpen Karangan: Laurent Descham Anelka
Facebook: Laurent Descham Anelka