Showing posts with label Cerpen Islami (Religi). Show all posts
Showing posts with label Cerpen Islami (Religi). Show all posts
Emas Berharga

Emas Berharga

Judul Cerpen Emas Berharga

Dia tak kunjung sembuh. Sudah bertahun-tahun dia mengidap penyakit itu. Bagaimana bisa, aku pun tak percaya. Tapi aku baru mengenalnya selama sebulan. Karena aku baru pindah ke rumah ini sebulan yang lalu. Dan walaupun aku baru sebulan mengenalnya, aku tahu seluk beluknya. Banyak cerita yang sedikit demi sedikit mengalir dari mulut ke mulut. Sehingga cerita itu sampai padaku. Cerita itu sungguhan, bukan rekaan. Dan hal ini membuatku merasa kasihan padanya.

Kesehariannya hanya di kamar, tidak bekerja, hanya makan, tidur, dan jalan-jalan di sekitar rumah. Setiap sebulan sekali dia periksa ke dokter. Dan tepat satu bulan obatnya habis dicerna oleh perutnya. Sungguh kasihan. Aku saja tidak tega melihatnya. Kamarnya saja sudah berbau obat dan apek. Selimut-selimut berteteran tidak jelas di kamarnya. Pertanda dia selalu tertidur sebagian besar hari dengan selimutnya.

Air putih bertumpahan di lantai kamarnya, karena dia selalu meminum air sambil tiduran. Jika bangun sebentar, dia selalu pusing. Kecuali kalau bangun lama. Kalau mau bangun lama dan jalan-jalan, ia selalu bangun pelan-pelan. Itu justru membuatnya tidak pusing. Kalau makan, sama saja. Dia selalu makan di kamar sambil tiduran. Kadang disuapi oleh ibu.

Umurnya kira kira 24 tahun. Tetapi wajah dan sekujur tubuhnya sudah keriput dimakan penyakit yang dideritanya. Giginya sudah keropos, hitam, berlubang, pokoknya sudah tidak pantas. Rambutnya tidak karuan, selalu teracak-acak karena rontok sehingga menjadi tidak rapi. Matanya lebam, pucat, memiliki kantung mata yang sangat dalam, seperti orang baru bangun tidur. Sudah tidak ada lagi kemungkinannya untuk bekerja dengan kondisi fisik dan kesehatannya yang memprihatinkan seperti itu. Apalagi menikah.

Padahal pada usia-usia itu, sedang subur-suburnya seorang pria. Sedang produktif-produktifnya seorang pria. Dan sedang manis-manisnya masa-masa seorang pria. Namun sayang, semua itu tidak bisa dirasakan oleh dia. Kakak tiriku.
Benar. Kakak tiriku. Jadi ceritanya begini.

Ibuku meninggal sebulan yang lalu, ketika itu beliau terkena penyakit gagal ginjal. Sehingga dia harus pergi ke alam lain. Aku ditinggal sendiri bersama ayah. Sehingga ayah harus menikah lagi untuk mendapatkan pendamping hidup. Begitu pula aku yang masih harus mendapatkan kasih sayang dari orangtua. Tidak apa-apa bagiku, walaupun awalnya berat untuk memiliki ibu tiri, tapi ini yang terbaik untukku.

Tepat sebulan lalu, aku pindah ke rumah ini bersama ayahku. Memang pada dasarnya ayahku adalah orang yang tidak punya. Sehingga ayah terpaksa selalu hidup menumpang di rumah istrinya. Oh ya, ibu tiriku ini adalah seorang janda. Sama seperti ayah, ibu tiriku juga ditinggal suaminya karena memiliki penyakit. Sungguh malangnya mereka berdua.
Tetapi sekarang, mereka dipersatukan dan telah menjadi insan yang berbahagia. Bersama aku, dan anak darinya, yang tadi aku ceritakan.

Kesehariannya sangat berbeda denganku. Ketika aku bangun pagi-pagi untuk persiapan sholat subuh ke masjid, dia masih tidur. Bukannya memohon kepada Tuhan agar penyakitnya disembuhkan, tetapi dia tidak peduli. Ini juga menjadi penghambatnya mungkin. Kasihan sekali, bahkan ayah dan ibu sudah mencoba mengatakan soal ibadah padanya. Namun dia selalu menghiraukan itu dan tidak peduli. Apalagi dia seorang pria! Paling tidak dia berusaha untuk ibadah saja sudah cukup menurutku.

Lanjut. Ketika pukul setengah tujuh pagi, waktu dimana aku akan berangkat sekolah, dia masih tidur. Benar-benar tidak memikirkan soal ibadah. Aku yakin dia akan mendapatkan pencerahan kalau dia sholat. Kalau dia semangat dan mendekatkan diri pada Tuhan. Dia bangun biasanya jam delapan. Itu pun masih malas-malasan di kasur. Maklum saja, karena dia kan punya penyakit ganas. Tapi kalau soal ibadah, cobalah dipikir lagi.

Waktu aku pulang, belum pasti. Biasanya dia sedang tertidur atau sedang di depan rumah menikmati indahnya dunia sebelum terlambat. Iya! Aku berani mengatakan seperti itu! Karena saking ganasnya penyakit yang dideritanya, membuat ia hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi untuk hidup. Penyakit ini sudah dideritanya setahun yang lalu. Ia divonis oleh dokter bahwa beberapa bulan lagi ia akan pergi ke alam lain.

Aku tidak tahu bagaimana kejadian ketika dokter memvonis akan jangka waktu hidupnya karena aku belum di sini. Yang jelas aku mendengar semua ini dari mulut ke mulut. Kan tadi aku sudah bilang. Kasihan. Orang-orang sini pun juga sering khawatir akan keberadaannya.

Bagaimana dengan rumah sakit? Mengapa tidak suruh opname di rumah sakit saja? Oh. Pertanyaan yang bagus. Asal kalian tahu. Kami tidak memiliki cukup uang untuk menginapkannya di rumah sakit. Kami hanya memiliki uang untuk berobat ke dokter biasa saja. Dan hanya diberikan obat yang satu bulan habis. Belum pasti sembuh, hanya perelaksasi dan penenang saja. Juga ada penghilang rasa sakit.

Komplikasi, dengan stadium yang berbahaya. Terutama jantung, dan pankreas.
Oh! Tidakkah kalian kaget?
Dia lahir tanggal 23 April 1989. Ketika itu, dia masih sehat-sehat saja. Ya iyalah. Namanya saja baru lahir.
Bukan, maksudku bukan itu. Masa-masa sekolahnya dulu sangat membahagiakan. Masa SD, SMP, dan SMK, karena dia masuk ke SMK bukan SMA. Jurusannya teknik mesin. Namun sekarang semua ilmu itu tidak bisa bermanfaat karena, yah baru saja aku ceritakan.

Setelah lulus SMK, dia bingung karena untuk memulai sebuah pekerjaan adalah suatu hal yang sulit baginya. Sehingga dia mencari peluang lain untuk bekerja. Salah satu temannya, yang berusia dua tahun lebih tua memberikan kabar bahwa ada suatu proyek pembuatan beberapa unit mobil di luar pulau. Hal ini tentu sesuai dengan keahliannya sebagai seorang teknik mesin. Langsung tancap gas, dia langsung menyetujui permintaan itu. Habis mau gimana lagi, tidak ada pekerjaan lain selain ini. Tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi.

Simulasi kejadian 5 Februari 2008, hari dimana dia berangkat untuk bekerja di luar pulau.


Awalnya ibu tidak memperbolehkannya bekerja di luar pulau karena terlalu pemula baginya untuk merawat diri sendiri. Dari dulu kaka tidak pernah mandiri. Untuk mencari makan sendiri saja mungkin susah. Apalagi kalau bekerja di luar pulau. Ibu tidak tega dan pada akhirnya ibu melarang.

Tapi kakak berusaha meyakinkan ibu akan pentingnya hal ini. Kakak juga meyakinkan ibu bahwa di sana ia akan baik-baik saja. Akhirnya ibu pun percaya ketika kakak sudah memaksa membeli tiket bus untuk ke bandara sebelum dia mengatakan hal itu.

“Ibu, aku berangkat dulu ya. Mohon doa dan restunya.”
“Pasti nak, kamu hati-hati di sana. Ingat janji kamu.”
“Iya bu, satu tahun lagi aku pulang kok. Udah bawa uang yang banyak untuk ibu.”

Cerita dari ibu membuatku membayangkan bagaimana kondisi ketika kakakku akan berangkat. Kurang lebih seperti itulah. Pada saat itu dia masih segar bugar tanpa penyakit apapun. Tapi darimana asal penyakit yang tadi aku ceritakan?
Sebentar. Aku belum ingin menceritakannya.

Pada masa ini, aku belum di sini. Ibu kandungku masih hidup sehingga aku masih bersama ibu kandungku, dan ayahku di sana. Aku datang ke sini pada saat dia sudah pulang dari pekerjaannya. Begitu aku datang, keadaanya sudah seperti yang tadi aku ceritakan. Aku tidak berani bertanya, hanya mendengar cerita yang mengalir dari mulut ke mulut saja. Dan pada akhirnya aku pun tahu.

Kau siap?

Sebenarnya di sana dia memang bekerja. Tetapi, dia tidak ingat Tuhan yang selalu mengawasinya. Sudah kelihatan dari gerak-geriknya di rumah setelah pulang. Ketika sudah disuruh orangtuanya untuk sholat saja tidak mau, apalagi di sana, keadaannya sendirian. Ibupun tidak tahu apa-apa akan apa yang terjadi di sana. Pokoknya ketika kakak pulang, ibu langsung pergi ke rumah sakit.

Loh, memang apa!

Jantung, dan kanker pankreas yang menyerangnya.
Ratusan pil narkoba yang telah membenih di lambungnya.
Jutaan mili alkohol yang telah mengalir melalui kerongkongannya.
Beribu-ribu asap rokok yang telah mewarnai mulut dan giginya.
“Astaghfirullah nak! Apa yang telah kau lakukan?!”

Kasus yang sudah biasa. Ketika seorang anak meninggalkan orangtuanya ke perantauan yang kebudayaannya jauh berbeda dari kampung halamannya. Saking tidak ingatnya dia pada Tuhan. Aku pun tidak menyangka dia melakukan itu, demi kesenangan belaka. Hingga pada akhirnya dia merasakan akibatnya yang sangat pedih.
Semua yang dia miliki hilang begitu saja ditelan penyakit. Alat-alat tubuhnya, alat indranya, sistem tubuhnya, semuanya hilang. Dia hanya bisa terbaring di kasur rumah sakit dan menikmati bau infus serta birunya atap rumah sakit pada saat itu. Ditambah jarum-jarum yang menusuk kulitnya. Sungguh kasihan.

Pada saat itu ibu hanya bisa menikmati kesedihan yang melanda hatinya, serta memohon doa pada Tuhan. Yang dia inginkan adalah anaknya sembuh. Yah bagaimana lagi, itulah hukuman bagi orang yang lupa pada Tuhannya. Tapi kita tetaplah harus berusaha dulu.
Kakak juga sadar akan apa yang telah ia lakukan, ia tidak akan mengulanginya lagi. Ya iyalah, namanya saja sudah dihukum dengan penyakit. Dia hanya bisa pasrah dan menikmati sisa-sisa dunia.

Karena keterbatasan biaya untuk opname di rumah sakit, kakak terpaksa harus dibawa pulang ke rumah. Walaupun penyakit masih ada di tubuhnya. Hingga pada akhirnya, kakak hanya bisa periksa kesehatannya ke dokter biasa, bukan ke rumah sakit. Itu pun hanya diberi obat penenang dan penghilang rasa sakit saja, belum pasti sembuh.

Ibu bingung apa yang harus dilakukannya ketika sudah terjadi seperti ini. Yang jelas ibu bingung. Tetangga samping rumah pun juga bingung. Lah siapa yang tidak bingung kalau keadaanya seperti ini. Semua ini karena ulahnya yang macam-macam di sana. Ingkar janji pada ibunya. Yang katanya akan bekerja dan membawa pulang uang yang banyak, tapi nyatanya. Memang sih ia bekerja, tapi ternyata pekerjaan sampingannya adalah mabuk-mabukan.

Beberapa tahun kemudian, aku dan ayahku datang ke kehidupan ini. Kehidupan dimana aku hidup bersama ibu tiri dan kakak tiri, iya, dia maksudnya. Pertama aku datang ke sini aku bingung, Yang aku tahu dia hanyalah kakakku. Sudah itu saja. Aku pertama kali melihatnya seperti terkena penyakit biasa saja. Seperti panas, atau lainnya.
Tapi semua itu terungkap ketika banyak cerita yang mengalir dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai pada telingaku. Mendengarnya saja kaget. Ketika aku mendengar itu, ceritanya sama persis ketika kalian membaca paragraf sebelumnya. Aku pun tidak menyangka, dan akhirnya aku tanya lebih dalam tentang dia ke ibuku.
Aku tidak berani mengatakan sesuatu dengannya, karena dia selalu berada di dalam kamar. Kadang jalan-jalan, seperti yang tadi aku ceritakan. Hanya aku yang hawanya takut mengatakan sesuatu padanya. Entah apa yang aku takuti selama ini. Yang jelas, aku takut mengganggunya saja.

Aku juga sering menemui keadaan dimana dia periksa ke dokter. Dia jalan menuju depan rumah, kemudian dituntun membonceng sepeda motor bersama tetanggaku yang kebetulan adalah saudaraku juga. Sungguh pahit untuk dilihat. Aku tidak tega!

Hal itu dilakukan selama beberapa bulan. Siklusnya tidak pernah berhenti. Setiap awal bulan, dia selalu periksa ke dokter, diberi obat penenang dan penghilang rasa sakit, kemudian pulang. Setelah satu bulan obat itu habis, dia kembali periksa ke dokter yang sama, diberi obat, pulang, dan menghabiskan obatnya selama sebulan. Begitu-begitu terus. Kalau aku jadi dia, aku bosan. Harus berhadapan dengan pil-pil obat yang harus menembus kerongkongannya setiap hari.

Tapi itu semua berubah ketika kakakku tiba-tiba pingsan di rumah. Kami semua panik, iya kami semua, ibu, ayah, dan aku. Tetangga lainnya juga panik. Dengan sigap, tetangga kami langsung menyiapkan sepeda motornya untuk membawa kakak ke dokter. Yah kakak naik sepeda motor dalam kondisi pingsan. Tapi ini semua bisa dikendalikan. Karena mau bagaimana lagi. Pakai mobil? Boro-boro. Ingat kan kita siapa?

Sesampainya di dokter, iya dokter yang biasa memeriksa kakak.
“Saya tidak bisa menangani ini. Ini darurat. Bawa dia ke rumah sakit.”
Aduh. Kami semua makin panik.
Demi keselamatannya, kami semua membawanya ke rumah sakit. Rumah sakit yang waktu itu lho. Aku, ayah, ibu, dan tetangga kami yang lainnya.
Langsung para asisten dokter yang berada di depan pintu mengambil kursi roda yang ada. Kakak langsung ditangani di ruang gawat darurat. Berikan keselamatan untuknya.

Dua jam kami menunggu, alhasil, kami mendapatkan untaian kata dari dokter.
“Dengan berat hati saya katakan. Jika bukan karena narkoba yang membenih di perutnya. Tidak akan jadi seperti ini.”
“Yang benar saja!”
“Tenang. Sabar dulu.”
“Bagaimana bisa sabar!”
“Begini. Anak ibu masih selamat. Tetapi beberapa bulan lagi dia akan pergi.”
“Ke alam lain?”
“Tepat.”
“Dokter, jangan beritahukan ini kepadanya ya.”

Beberapa bulan lagi…
Aku tak bisa membayangkan kapan itu. Karena tidak pasti. Hanya “beberapa” yang menjadi kunci kapan dia akan pergi untuk pulang. Ibu menangis tak karuan. Aku tidak tega.
Kakak pun dibawa pulang beberapa jam setelah itu. Tidak dirawat di rumah sakit tadi. Benar. Karena kami tidak punya uang. Bukannya tadi sudah aku ceritakan. Inilah halangan bagi kami. Ketika kami dihadang masalah dan hanya uang yang bisa menyelamatkannya. Mengapa mereka tidak memiliki rasa kasihan sama sekali.

Di rumah.
Kurang lebih seperti itu ceritanya. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan ini semua pada kalian. Aku hanya ingin dia bahagia sebelum hari kematiannya beberapa bulan lagi. Satu hal penting yang harus dipersiapkannya sebelum hari kematiannya. Namun sayang, ini akan sangat sulit baginya. Ibadah.

Berapa tahun dia tidak beribadah. Jika dia dipaksa harus memulai ibadah dari sekarang, tentu akan sangat sulit. Tapi ini harus! Siapa yang berani bilang padanya.
Aku tidak berani. Aku pun juga sudah bilang pada ibu dan ayah untuk mengatakan akan ini padanya. Namun hasilnya nol. Ibarat diriku mendorong sebuah tembok. Walaupun orangtua sudah mengatakan soal ibadah, dia tetap tidak peduli. Mengingat ini, kami semua sedih. Bagaimana dia bisa tenang di alam sana nanti. Kita tidak tahu kapan hari kematiannya. Yang jelas beberapa bulan lagi.
Tetapi dia tidak tahu bahwa kematian akan menjemputnya beberapa bulan lagi. Ingat. Beberapa bulan itu sudah dihitung dari kejadian di rumah sakit yang tadi baru saja aku ceritakan. Tentunya ini semakin dekat dengan hari kematiannya. Sungguh menyedihkan. Padahal dia seorang pria.

Melihat keadaan yang seperti ini, ini membuat aku ingin turun tangan langsung. Aku kasihan. Apa yang akan dia persembahkan untuk Tuhan nanti selain hasil ibadahnya di dunia. Tapi, seperti yang kubilang tadi. Aku tidak berani mengatakan sesuatu padanya. Apapun itu. Selalu tidak ada kesempatan.

Sebentar. Ada jalan lain.
Aku akan memberikan sajadah, dan Al Quran padanya.
Caranya tinggal aku taruh saja di kamarnya ketika dia sedang tidur. Mau dipakai atau tidak, itu terserah dia. Tapi kuharap dia memakainya dan sadar akan ini semua. Sadar apa yang telah dilakukannya adalah hal yang buruk. Mabuk, judi, oh tidak.
Akan kusediakan besok setelah pulang sekolah. Aku mampir ke toko sebentar untuk membelinya. Tentu saja hal ini tidak kukatakan pada ibu. Semuga berhasil.

Esok hari, pulang sekolah.
Ingat aku akan melakukan apa hari ini? Oke, langsung tancap gas.
Aku pilihkan sajadah dan Al Quran yang paling menarik untuknya. Aku yakin ini lebih berharga daripada jutaan pil yang telah membenih di lambungnya. Aku juga yakin ini lebih berharga dari emas berkarat-karat.

“Assalamualaikum.”
Loh, tidak ada orang di rumah.
“Assalamualaikum.” aku masuk rumah saja. Karena pintunya tidak dikunci.
“Ibu, ayah, di mana kalian.”

Suara tangisan yang tidak enak didengar. Suara tangisan yang menusuk telinga kanan dan kiriku. Terdengar langkah kaki tetangga yang berbondong-bondong menuju rumah.
Sebuah gorden dengan sandal di depannya. Suara ucapan syahadat dari ayah yang terdengar dari ruangan itu. Oh tidak, ini tidak mungkin terjadi!

Ternyata benar. Dokter mengatakan beberapa bulan. Dan itu jatuh pada hari ini.
Aku telah terlambat. Baru saja tadi aku membelinya. Tapi Tuhan berkata lain. Aku tidak berhasil melakukannya. Aku terlambat!!

Cerpen Karangan: Muhammad Hafidz Agraprana
Facebook: facebook.com/muhammad.agrapranaii
Takdir yang Baik

Takdir yang Baik

“Ambu dan Uwa, sayang pada kau, Leh.” ucap Ambu memulai percakapan. Aku bergeming, mendengar penuh bakti dan merasakan begitu tulusnya mereka menyayangiku. Tak dapat dipungkiri, Uwa memang sangat perhatian padaku. Terlebih, sepeninggal Abah yang merantau ke kota beberapa tahun yang lalu.

Hari ini pesawat Garuda akan membawaku terbang menuju tempat dimana aku harus mengeksplorasikan mimpiku. Oh, aku sudah tidak sabar lagi; duduk di kursi empuk sambil memandangi daratan dan lautan di atas awan. Tapi rasanya, jika tanpa Ambu.. semua terasa kebas. Awak juga sayang pada Ambu dan Uwa.. batinku dalam hati.

Ambu menepuk bahuku pelan, menatapku hangat, kemudian menasihatiku untuk yang kesekian kalinya, “Saleh, kau adalah satu-satunya anak Ambu. Buatlah Ambu ini bahagia tanpa merasa kecewa. Teruslah arungi waktu, jelajahilah pijakan yang kau suka. Ambu akan merestui asal kau belajar dengan getol dan sungguh-sungguh.”
“Awak pasti akan berusaha membahagiakan Ambu..” jawabku lirih dengan mencium tangan Ambu lama.
Tiba-tiba, dari arah belakang, Uwa mengelukan namaku. “Saleh.. pesan Uwa, jangan berbuat macam-macam di negeri orang. Apalagi di Arab. Hukum Islam masih kental ditegakkan,”
Kudapati wajah yang teduh itu sedang tersenyum. Seulas senyum dari laki-laki paling bijak yang pernah kutemui. Sejenak, aku merasakan aliran semangat dari Uwa yang mendekapku bak sahabat karib. Setelah itu, Uwa melontarkan pertanyaan sebelum sempat aku merespon nasihatnya barusan.
“Sareng saha, Leh?”
“Sendirian, Wa.”
“Uwa doakan semoga mimpimu untuk jadi mubaligh muda terwujud.”
“Insya Allah, syukran, Wa. Jazakallah.” balasku dengan menggunakan kosa kata Bahasa Arab yang masih sedikit kuingat saat belajar di Pondok Pesantren. Uwa tergelak mendengar gelagatku yang sedikit berbeda ketika menuturkan kalimat tersebut.

Saat kulihat salah seorang pramugari hendak menginformasikan bahwa Pesawat akan segera take off, Ambu berkata padaku—lagi. “Jadi orang yang pinter. Kalau sudah pinter, balik lagi ke negerimu sendiri. Kau dengar kan, Leh? Jangan lupa, baca istighfar terus di pesawat. Jika ada apa-apa, jangan panik. Malaikat akan menjaga orang-orang yang pergi mencari ilmu.”
“Baik, Mbu, Saleh mengerti. Uwa..” aku menoleh menyejajari Uwa. Ia melihatku, lalu kubisikkan sesuatu di telinganya. “Tolong jaga Ambu. Saleh mohon.” pintaku memelas. Uwa mengerlingkan mata sambil memberikan isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
“Assalamualaikum!” ujarku mengakhiri percakapan di hari Jumat bersama orang-orang yang berarti dalam hidupku. Cepat-cepat kulangkahkan kakiku menuju anak tangga pesawat beriringan dengan lambaian tangan mereka yang kubalas dengan tulus.
Mereka masih tersenyum merelakan kepergianku. Walau kutahu, dadanya masih kembang kempis menahan sesak kekhawatiran.

“Are you okay? Make today is your, Sir.”
“Am okay. Thank you.”
“Well—enjoy with this flight.”
Seorang pramugari berjalan menjauhiku setelah bercakap singkat. Oh, apakah diriku terlihat begitu menyedihkan hari ini? Biar. Aku tak peduli. Aku memang seorang laki-laki yang hebat, tapi akan rapuh juga ketika Ambu meninggalkanku sendiri di tanah asing.

Ketika kudengar seorang pilot berkata, “Cabin crew, take off position,” hatiku berdebar. Mulutku berkomat-kamit membaca tasbih, tahmid, tahlil serta takbir. Berharap semoga pesawat yang aku tumpangi mengangkasa dengan sempurna.
Kutata lagi hatiku yang terus bergemuruh hebat. Kualihkan pandangan menuju jendela. Pesawat berhasil mengudara. Di luar, awan terlihat begitu putih memancarkan pesona. Ya, inilah kali pertama aku naik pesawat. Tanpa Ambu dan Uwa.
Aku mencoba melihat ke bawah. Oh, Tuhan. Maha besar sekali. Sejauh mata memandang, tak kutemukan manusia. Hanya bangunan pencakar langit yang terlihat menantang. Ternyata, seperti inilah terbang. Dibawa arus kehidupan yang selalu berputar.

Sejak dulu, aku selalu yakin bahwa orang-orang yang berjalan angkuh dengan membusungkan dada tanpa rasa rendah hati adalah manusia paling merugi. Karena sampai kapan pun, manusia akan mengalami sebuah revolusi. Dimana setiap individu akan mengalami bagaimana rasanya bahagia dan sedih. Tak penting karena apa, yang jelas takdir baik tak akan selamanya baik, begitu pula sebaliknya.

Sedetik setelah mataku berhasil terpejam, tiba-tiba kurasakan bumi bergetar. Memporak porandakan penumpang pesawat yang sedang terlelap tidur. Bergoyang kesana-kemari mengikuti guncangan alami dari dalam bumi. Mataku terpicing, melihat semua orang dengan wajah pucat pasi. Aya naon? tanyaku prihatin dalam hati.
Kulirik jendela —Awan mulai tampak tak bersahabat. Begitu pekat membuat para penumpang jejeritan histeris. Di awak kabin, beberapa pramugari mencoba untuk menenangkan para penumpang dengan kalimat-kalimat panjang yang sulit dimengerti.

Ketika semua orang kalang kabut sibuk mencari perlindungan, tiba-tiba, bau asap menguar di antara hidung kami. Menambah suasana dalam kabin bertambah gaduh. Situasi tak menentu seperti ini terjadi sekitar lima belas menit. Hatiku semakin tak karuan. Antara rasa takut, sedih, dan kecewa, bercampur menjadi satu.

Lama-lama, suara pramugari itu lebih terdengar seperti dengungan lebah. Tak jelas tertelan suara petir yang menyambar beriringan dengan kilatan halilintar. “Ambu!! Uwa!!” jeritku dalam tangisan yang sungguh tak dapat kubendung lagi. Tanganku gemetar. Tubuhku panas dingin. Ya Allah.. jika memang hidup adalah yang terbaik bagiku maka hidupkanlah aku, tapi jika mati adalah yang terbaik bagiku maka matikanlah aku. La ilaaha illallah..
Pesawat tiba-tiba landing. Kupikir Tuhan telah menjawab permohonan doaku. Tapi ternyata..

“Ditemukan tiga puluh dua orang terluka dan satu orang tewas di tempat. Kami masih menunggu hasil evakuasi dari polisi yang ikut memecahkan masalah ini. Tapi kami yakin, kejadian ini karena faktor alam, bukan mutlak kesalahan pilot dalam mengemudi.” terang Ir. Soraya, kepala dirut PT Garuda Indonesia.

Cerpen Karangan: Maladewi
Berkah Jadi Santri

Berkah Jadi Santri

Judul Cerpen Berkah Jadi Santri

Nama gue Sofi, gue siswa di salah satu Mts swasta di Kediri. Gue siswa yang lumayan bandel tapi juga lumayan pinter. Eitzh… bukan bermaksud sombong. Gue hidup serba kecukupan makan cukup, tidur cukup, istirahat cukup, mandi cukup, pokoknya serba cukup Dech…!. Tapi semua itu berubah saat gue berada di sini, di sebuah pesantren yang gue anggep seperti penjara. Maksud gue penjara suci.

“Ma…! Sofi gak mau di sini, Sofi pengen pulang!”, kataku sambil merengek seperti anak kecil kehilangan permennya.
“Sofi…! mama itu pengen kami jadi anak yang bener gak urakan kayak gini”, kata mamaku gak mau kalah.

Dan disinilah kehidupan baru gue dimulai, kehidupan yang penuh dengan aturan menyebalkan. Gak boleh keluar malem, gak boleh pacaran, gak boleh Hp an dan blablabla. Gue bisa gila kalo terus di sini. Ditambah wajah-wajah pengurusnya yang galak kayak harimau kelaperan.

Tiap hari kerjaan gue diomelin pengurus, soalnya gue selalu telat berangkat ngaji, telat berangkat sekolah, telat bangun, telat Ro’an, Eitzh… tapi gue gak pernah telat makan. Selama di sini gue merasa waktu berjalan kayak siput pincang lama… banget (bukannya siput gak punya kaki?). Dua minggu di sini serasa dua tahun lamanya. Dan selama itu pula gue membuat kericuhan di sini mulai dari rebutan makan, rebutan antrian mandi, rebutan tempat tidur sampai rebutan toilet. Al hasil gue gak punya banyak temen di sini. Tapi gue punya satu sahabat baik namanya Yasmin. Entah apa yang membuat dia mau temenan sama gue yang jelas dia yang selalu nasehati gue saat gue lagi di puncak bandel.

Pernah juga sutu hari gue berencana ketemuan sama gebetan gue. Rian.
“Lebih baik jangan dech fi, kamu tahu sendiri kan banyak mata-mata di sini”, kata Yasmin menyarankan.
“Kan kita beraksinya malem gak bakalan tahu, alah… bilang aja lo gak mau kan nganterin gue?”, Sergahku.
“Kalo masalah ini aku gak mau ikutan fi, aku takut ditakzir. Yang penting aku sudah mengingatkanmu”, kata Yasmin sambil berlalu meninggalkanku.
“oke gue bakalan berangkat sendiri, gue kira lo temen baik gue”. Kataku setengah teriak.

Dan akhirnya pada waktu yang telah ditentukan gue benar-benar menjalankan aksi gue. Diam-diam gue buka pintu kamar, sejauh ini suasana aman. Gue terus berjalan bak seorang maling yang akan menjalankan aksinya, hingga akhirnya gue sampai di tempat tujuan dengan selamat.
“Eh… lo udah nunggu lama ya…? sorry-sorry”, kataku setengah berbisik.
“oke oke no problem, nunggu lo di sini sampai pagi pun gue rela asalkan bisa ketemu lo”, jawab Rian dengan gaya lebainya.
“Dasar gombal…!”, umpatku.
Tiba-tiba ekspresi Rian berubah menjadi seperti ketakutan.
“Eh… muka lo kenapa kusut gitu? Kayak nglihat setan aja, mana setannya sini kalo berani sama gue”, kataku sok berani.
“Hm… itu”, jawabnya dengan ekspresi yang masih sama.
Gue perlahan berbalik melihat siapa gerangan yang ada di belakang gue. Sontak mata gue terbelalak, jantung gue serasa berhenti berdetak saat gue tahu sosok di belakang gue adalah dua pengurus pesantren yang tengah berdiri dengan wajah garangnya.
“Sofi…! pergi ke kantor pengurus sekarang!”, teriak mereka berdua serentak.
Dan kini gue harus nyiapin mental gue buat ngadepin semua ini.

Di kantor pengurus, gue kenyang oleh omelan omelan para pengurus yang kejam, dan tak jarang sebuah tongkat besar mendarat mulus di tangan gue.
“Saudari Sofi sampai kapan anda akan terus melanggar aturan seperti ini?”,
Bukkkk!
“Auhw…”, pekikku kesakitan.
“Apakah pentakziran yang selama ini kami berikan pada anda tidak cukup untuk membuat anda jera?”,
Bukkkk!
“Aauhw…”, satu lagi pukulan mendarat mulus di tangan gue. Gue hanya bisa pasrah.
“Kalau memang anda tetap tidak mau menaati peraturan di sini, kami akan menyerahkan anda pada Abah Yai gar beliau turun tangan sendiri”,
“Ja… jangan mbak saya janji gak akan mengulanginya lagi”, jawabku mulai angkat bicara.
“Baiklah tapi anda tetap harus menerima pentakziran yang telah kami tentukan yaitu shalat taubat, istighfar 10.000 kali, shalat tahajud 15 hari, dan puasa senin dan kamis selama satu bulan.
“Baiklah mbak insyaallah”, jawabku lemah.

Gue kembali ke kamar dengan terburu-buru. Air mata gue tek lagi dapat dibendung dan seketika itu juga gue bersimpuh di hadapan Yasmin.
“Maafin gue Yas, gue memang egois. Seharusnya gue dengerin nasehat lo”, kataku sambil menangis.
“Semua sudah terlanjur gak ada yang perlu disesali semua harus diperbaiki. Sini tanganmu berdarah, aku obati”. Kata Yasmin sambil meraih tanganku.
“Terimakasih lo emang manusia berhati malaikat”, Ujarku sambil menahan nyeri.
“Sofi, kita di pesantren ini untuk mencari ilmu bukan untuk bersenang-senang. Apapun peraturan yang ada di sini untuk kebaikanmu, jadi taatilah semua peraturan itu. Orangtuamu ingin kamu berubah menjadi lebih baik. Apa kamu gak ingin membuat mereka bahagia?”, Kata Yasmin menasehati.

Sejenak suasana hening, kata-kata Yasmin bagai peluru yang melesat di otak gue yang akhirnya mendarat mulus menembus relung hati gue yang paling dalam. Berbagai pikiran mulai muncul dalam otak gue, termasuk niat untuk berubah. Tapi apa gue bisa?

Setelah kejadian itu aku (ceritanya udah tobat jadi pakek aku – kamu) telah berubah menjadi Power Rangers. Eitsz….. Maksudku berubah menjadi lebih baik. Aku menjalani pentakziran dengan baik dan ikhlaas tentunya. Dan selama itu pula Yasmin selalu membimbingku dengan sabar.

Terimakasih Ya Allah karena engkau telah menurunkan hidayahmu padaku, serta telah memberikan secercah harapan pada hambamu ini untuk dapat menikmati surgamu. Dan berkah menjadi santri ini aku dapat kembali kejalan lurusmu.

END

Cerpen Karangan: Elvania Nur Safitri
Facebook: Elvania
Joomblow

Joomblow

Judul Cerpen Joomblow

“JOMBLO… JOMBLO… JOM…” Nyamuk sialan yang duduk sebelah gue memang sangat meresahkan. Iya, siapa lagi kalau bukan Noki. Cowok berkumis tipis berbody atletis yang nyatanya juga jomblo bahkan jauh lebih akut dari gue.
“Apa sih lu, jomblo teriak jomblo. M*ho lu!!” Balasku kesal sambil menarik rambutnya yang kriwil.
“Etdaah.. gitu aja marah lu jom…”
“Nokittiiing…!!!” Teriakku keras sambil memberi dua tinjuku ke mukanya.

Kelas yang semula hening karena tengah melaksanakan proses belajar mengajar menjadi ricuh karena suaraku.
“Khinoooy…!!!” Geram bu Teti sambil menekan kuat kapur ke papan tulis hingga patah. Semua pasang mata tertuju padaku.
“Dasar dua makhluk jomblo…!!” Hina bu Teti sambil mengendus kencang. Tawa pun mulai berhamburan untuk kami. Kami pun saling berpandangan lalu teratawa.

Aku Khinoyya Algino Bandro namaku rada aneh sama dengan diriku yang jauh lebih aneh dari namaku. Aku adalah salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi yang terdapat di kota Padang. Hobiku mendengarkan musik-musik beraliran rock. Seperti Foo Fighter, Steal Heart, dan Kotak. Aku pemilik bakat terbanyak di kampus karena hampir semua ekstrakurikuler yang kuikuti. Bahkan aku pernah mewakili kampusku dalam berbagai lomba yang diadakan baik kota, kabupaten maupun sesumbar. Aku juga aktivis dibidang rohis dan BEM.

Seumur hidup aku cuma punya satu mantan dan itu pun hanya satu jam pacaran lalu putus. Lantaran si doi terlalu ganjen. Bagiku gak ada pacar pun gak masalah karena memang pacaran itu gak ada dalam dalil juga kan. Hanya saja bagian positif dari pacaran ya itu adanya getaran semangat yang terpacu dalam jiwa kita. Aku memutuskan untuk menyandang status jomblo karena dengan jomblo aku bisa lebih berekspresi dan berkreasi. Tak ada galau dalam hidup, tak ada stress, gak mikirin uang keluar tiap doi ultah. Pokoknya asyik deh jika dinikmati.

Kekurangan jomblo sih ya banyaknya isu-isu miring tentang kita. Dibilang gak laku lah, aneh lah, bahkan lebih sadisnya dibilang LGBT. Sebanyak apa orang ngejudge ada juga yang salut sama prinsip gue buat jomblo. Karena pada dasarnya sangat jarang ada cewek yang bertahan dalam waktu bertahun-tahun hidup sendiri tanpa ditemani sang belahan jiwa. Jawabanku simple saja, aku tidak jomblo karena jomblo tak ada dalam kamus islam, tapi aku adalah wanita muda yang sendiri yang ingin memantaskan diri untuk jodoh terbaikku nanti.

Pesan moral: Jangan merasa risih dengan status jomblo yang sedang kamu jalani saat ini. Karena jomblomu nanti akan mendatangkan jodoh terbaik yang juga sama-sama ingin memantaskan diri menjadi lebih baik denganmu.

Cerpen Karangan: Indah Larasati
Facebook: Indah Larasati
The Power of Qur’an

The Power of Qur’an

Judul Cerpen The Power of Qur’an

Matahari mulai menampakkan wujudnya, sang ayam pun telah berkokok membangunkan semua yang sedang terlelap, burung-burung pun bernyanyi mengiringi datangnya sang fajar. Angin yang berhembus dengan lembut membuat siapapun yang merasakannya menjadi sangat nyaman. Sinar mentari pun sedikit demi sedikit masuk ke dalam kamarku melalui jendela yang sedikit terbuka. Aku pun terbangun di hari yang sangat indah itu. “Ahh ini sudah harinya, ingin rasanya memperlambat waktu”. Ya, hari itu adalah hari ketika aku dimasukkan ke dalam pesantren Qur’an, ada rasa malas untuk pergi ke sana, selalu terpikir olehku, “Ah buat apa sih masuk pesantren? Toh aku juga bisa menghafal di rumah..”. Entah kenapa hari itu gravitasi terasa sangat berat di kasurku yang sangat nyaman ini, yang nantinya akan kutinggalkan dalam waktu yang lama.

Badanku pun terasa sangat lemas, walaupun sudah mandi dan sarapan karena enggan untuk meninggalkan rumah. Aku pun lalu diajak untuk naik ke mobil tua berwarna hitam, Kijang Rover mobilnya, walaupun sudah tua namun masih tangguh dan tarikannya sangat bagus. Aku pun pergi bersama kedua orangtuaku, kakakku, nenek dan kakekku, serta tanteku. Yang bisa aku lakukan adalah tersenyum dengan manis, padahal dalam hatiku bergejolak menolak untuk pergi ke sana, ya tempatnya di Bogor atau tepatnya di Puncak. Aku tidak mengingat apa apa saat perjalanan karena aku sedang mengarungi samudera mimpi saat itu. Namun saat terbangun, “Ini di mana?” tanyaku. “Sudah sampai di pesantren nak..” Jawab ibuku. Ibuku adalah sosok yang sangat aku hormati dan sayangi serta sangat lembut kepadaku. Makanya aku tak sanggup menolak untuk masuk pesantren.

Setelah sampai di sana, aku langsung merapikan tas dan koperku di “kamar” yang aku tempati. Bukan, bukan kamar, tapi lebih seperti barak tentara saat perang, hanya bedanya ada kasurnya di lantai. Dengan luas 3×3 meter untuk 12 orang, bayangkan bagaimana sesaknya. Aku pun pasrah mengharap yang terbaik, ya, orangtuaku melakukan ini pasti untuk kebaikanku walaupun sebenarnya aku sangat tidak suka keputusan ini.

Tak lama kemudian semua yang mengantarku pulang, aku pun tinggal seorang diri, walaupun banyak orang di sini, namun diriku merasa sangat sepi. Tiba tiba ada yang menepuk pundakku. “Eh kamu ikut ke sini juga?”. Aku pun terkejut sekaligus senang karena dia adalah teman semasa kecilku. “Iya aku ikut, sebenarnya sih gak mau soalnya kurang suka sama yang beginian” jawabku. Kami pun mengobrol dengan asyiknya sampai tiba tiba mikrofon berbunyi. “Kepada seluruh peserta diharap kumpul di aula utama, terima kasih”. Kami lantas langsung bergegas ke sana. Lalu setelah mendengar beberapa sambutan dibacakanlah jadwal selama pesantren. Aku terkaget-kaget karena jadwalnya begitu berat, kami diharuskan bangun jam 1 pagi lalu mandi. Lalu lanjut menghafal sampai berbuka puasa.

TEEETT TEEEETT!!. Suara toa yang berisik memecah keheningan di malam yang sunyi. BANGUUN SEMUANYA!! SUDAH JAM 1 PAGI! SEGERA PERGI MANDI!!. “Ah berisik! Lagi enak enak tidur dibangunkan pakai toa segala.” Gumamku dalam hati. Aku pun segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. “Huaaa dingin sekalii…” bayangkan saja mandi jam 1 pagi, dengan air yang sangat dingin di puncak. Keluar dari kamar mandi aku pun tak bisa berhenti menggigil saking dinginnya. Lalu mulailah aku menghafal Qur’an, waktu itu hafalanku masih di surat Hud, juz 11. Aku pun menghafal dengan serius, namun? Seharian aku menghafal hanya dapat 6 halaman! “Ah! Masa Cuma dapat 6 halaman, temanku saja sudah dapat 16 halaman dalam sehari!”. Ya, aku merasa sangat kesal dan frustasi karena baru menghafal sedikit, sedangkan temanku sudah dapat berhalaman-halaman banyaknya.

Ya, aku melupakan satu hal, teringat kata kata ustadku di sekolah, katanya kunci dalam menghafal itu yang terpenting adalah IKHLAS. Itu dia! Aku melupakan satu hal itu!. Pantas saja aku menjadi frustasi, harusnya aku bersyukur karena telah diberi kemudahan menghafal semampuku. Aku pun merebahkan diri di Kasur yang sangat keras, tak nyaman, dan sumpek. Kemudian karena sudah larut malam aku pun terlelap.

Esoknya aku pun berkomitmen untuk terus ikhlas dan bersyukur dalam menghafal Qur’an. Waktu istirahat pun tiba, pukul 6 pagi, bebas untuk melakukan apapun, mau tidur, mandi, keliling, jogging. Aku pun memilih untuk jalan jalan keliling pesantrenku bersama teman sekamarku, Arif namanya, dia berasal dari Ngawi, Jawa Tengah. Kami berjalan sembari mengobrol dengan asyik. Memandang pinggiran kolam yang di belakangnya terhampar pemandangan gunung yang MasyaAllah indahnya. Membuatku merasa sangat tentram.

Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, saatnya untuk kembali menghafal. Aku pun mencoba untuk ikhlas, awalnya aku masih merasa kesulitan menghafal, namun aku terus berusaha seharian itu dan ya! Aku berhasil mendapatkan 12 halaman hari itu!!. Betapa senangnya aku, namun itu tak membuatku tinggi hati, dan malah membuatku semangat untuk lebih berusaha lagi. Hari kedua pun berakhir, masih ada 18 hari lagi. Oh ya aku lupa menceritakan, pesantren di sini bukan seperti pesantren yang lain, aku mengikuti pesantren kilat selama 20 hari. Yang hanya fokus untuk menghafal Qur’an, bahkan kalau bisa mengkhatamkannya selama waktu itu. Sanlat ini digelar selama bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan berkah-Nya.

Sudah hari kelima semenjak aku di pesantren ini, aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan dan sudah mendapatkan teman teman yang seru, asyik, dan konyol. Mereka datang dari seluruh penjuru Indonesia, ada yang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, bahkan Papua juga ada. Aku memiliki sahabat disini, ada 2 orang, yaitu Adil, dia datang dari Jember. Dan juga Arif, yang sudah aku sebutkan di atas, dia datang dari Ngawi. Walaupun umur kami berbeda, namun itu tak menjadi penghalang kami untuk bersahabat. Ya, kami selalu saling memotivasi satu sama lain untuk menghafal. Karena kami memiliki cita-cita yang sama. Benar, kami ingin menjadi seorang yang hafal Qur’an, kami ingin menjadi keluarga Allah, kami ingin memberikan mahkota kepada orangtua kami, juga memberi syafaat kepada keluarga kami. Bukan hanya kami, melainkan seluruh santri ingin hafal Qur’an. Jika ditanya pasti setiap orang alasannya berbeda beda, walaupun tujuannya sama.

Hari berganti hari, aku pun mulai menikmati keberadaanku disini. Aku sudah merasa sangat nyaman di sini, dengan suasana yang teduh, asri, serta teman teman yang sangat membantuku dalam menghafal. Seminggu berlalu, Alhamdulillah aku sudah mendapatkan 3 juz, namun teman temanku sudah mendapatkan sangat banyak. Ada yang sudah mendapat 5 juz, 6 juz, luar biasa sekali mereka. Serta aku juga dimotivasi oleh musyrifku yang sangat baik. Aku mencoba untuk menjadi lebih baik lagi dari minggu lalu
Namun yang namanya menghafal Al Qur’an, pasti ada kalanya kita sangat semangat untuk menghafal, dan ada kalanya kita malas atau semangat kita turun. Seperti yang aku alami, beberapa kali aku semangat, namun ada beberapa surat di dalam Al Qur’an yang intermediate atau lumayan sulit. Karena sulit waktu itu aku sempat frustasi lagi untuk kedua kalinya, aku kesulitan menghafal lagi walaupun aku sudah mencoba semua yang dikatakan oleh musyrifku, tetap saja aku masih kesulitan menghafal. Bahkan aku sampai menceburkan diri ke kolam renang yang ada di sana saking stressnya.

Ya, kesulitan yang kualami pasti akan atau pernah dialami oleh para penghafal Qur’an yang lainnya. Berjam-jam aku hanya mendapatkan 2 halaman disaat yang lain sudah mendapatkan berlembar-lembar. Akhirnya aku pun pasrah dan mencoba untuk mengistirahatkan diriku di kamar. Aku pun terlelap hingga waktu berbuka puasa. Alhamdulillah makan malam hari itu sangat lezat, yakni ayam bakar. Wah! Aku sangat menikmatinya, disaat hatiku sedang kacau dan frustasi.

“Ah!! Lagi lagi dibangukan dengan suara toa yang sangat mengganggu. Malam yang senyap, sunyi pasti selalu terpecah dengan suara itu. Kegiatan biasa kami pun berlanjut, menghafal Qur’an. Kata demi kata, ayat demi ayat, baris, lembar demi lembar kami hafalkan tana kenal lelah. “SIAPA KITA SIAPA KITA SIAPA KITA?!!”. “HAFIDZ QUR’AN HAFIDZ QUR’AN HAFIDZ QUR’AN!!”. “ALLAHUAKBAR!!”. Tiba tiba suara yang keras itu mengagetkan kami semua, ya itu adalah yel yel kelompok lain untuk memberi semangat anggotanya. Kami pun menjadi terpacu untuk menghafal lebih banyak lagi. “ISY KARIIMAN? AU MUUT SYAHIIDAN!!”. Lagi lagi ada yel yel dari kelompok lain yang membuat suasana menjadi membahana. Ya, saat itu adalah saat yang berkesan dimana semua kelompok saling memberikan semangat satu sama lain. Benar benar indah.

Malam itu malam yang sangat indah, sang rembulan menampakkan seluruh wujudnya. Ya, saat itu adalah bulan purnama, oh indahnya ciptaan-Mu Yaa Khaliq. Kami sekamar pun tidak mau melewatkan kesempatan langka ini, kami bercanda bersama, ngobrol, dan membuat api unggun. Lalu kami membakar jagung dan marshmello, eh maaf, maksudnya marshmallow. Aku juga membuat nasi goreng saat itu, ya aku memang bisa memasak walaupun tidak terlalu pro juga, hehe. Diluar dugaan!! Ternyata teman temanku bilang kalau itu sangat enak!! Wah aku pun senang karena kukira akan hancur rasanya.

Tiba tiba salah seorang temanku pun berdiri dan bilang “Wahai manusia sekalian *lebay amat* saksikanlahh!! Aku akan menunjukkan sebuah sulap yang amat sangat fantastis”. Kami pun tertawa melihat tingkahnya yang konyol itu. “Aku ingin menunjukkan bagaimana tisu ini bisa menghilang!! Saksikanlahh!!”. Kami pun melihat dengan seksama, eh kukira benar sulap, ternyata dia malah membakar tisu itu, ya jelas hilang laah ahahah. Kami tertawa terbahak bahak melihat dia. Akhirnya kami pun menunjukkan kemampuan kami masing masing saat itu. Ada yang bisa juggling bola, backflip, beatbox, acapella, dan taekwondo. Tanpa sadar acara api unggun kami menjadi ramai, semua santri pun ikut menonton acara kami, bahkan para ustad juga ikut. Akhirnya kami bersepakat membuat acara stand up comedy. Satu kamar kami pun menampilkan lawakannya masing masing, penonton dibuat tertawa terbahak bahak saat itu. Akhirnya acara itu berubah menjadi pensi yang sangaaat menyenangkan.

Ya!! Aku sudah mendapatkan 8 juz!! Ini sudah hari ke 15 aku di sini. Semangatku sangat membara di 1 minggu terakhir, bahkan aku waktu itu mendapatkan 22 halaman dalam satu hari!! Malamnya aku, Adil, dan Arif pergi keluar untuk makan. Kita pergi ke warkop yang berada di sepanjang jalan kenangann.. Maaf, aku jadi malah bernyanyi, hehe. Aku pergi ke warkop yang ada di seberang jalan, kami pun memesan makanan yang tersedia. Aku memesan mie goreng, Adil memesan nasi goreng, dan Arif memesan bubur ayam. Kami pun makan dengan nikmat sembari bersenda gurau seakan melupakan lelahnya menghafal. Tring! Suara sendok dan garpuku saat kuletakan dengan agak keras, tiba tiba aku rindu dengan orangtuaku nun jauh di sana. Membuatku memikirkan mereka terus, namun itu tidak boleh terus terusan terjadi, bisa bisa aku menjadi tidak fokus menghafal.

Kami pun pulang ke asrama, namun di tengah jalan kami tiba tiba ditodong oleh 6 orang bersenjata. 3 orang membawa pisau, 2 orang pistol, entah asli atau tidak, dan satu lagi membawa gir. Kami pun seketika kaget dan agak takut, kami dipalak oleh mereka dan diminta uang, Arif menggenggam tanganku dengan keras. Aku pun berusaha menenangkannya, “Apa apaan nih! Jangan seenaknya minta uang ke orang dong!” kataku dengan keras dengan harapan ada orang lain yang mendengar.
Namun sepertinya harapan itu sia sia karena memang jalanan itu begitu sepi malam itu. Tiba tiba dua orang dari mereka menangkap tanganku dan satu lagi memukul perutku berkali kali sampai aku terjatuh dan muntah darah. Arif dan Adil pun langsung menolongku dan memukul ketiga orang itu sampai jatuh. “Kamu gak papa kan, sakit gak?”. *herp face* “Alhamdulillah sehat wal afiat, ya sakit lah!! ar Masih ditanya juga..”. Ya, memang tak ada jalan lain selain melawan mereka berenam dengan masing masing mereka membawa senjata. Aku yang sudah sabuk hitam taekwondo berkata pada kedua temanku “Rif, Dil, kita terpaksa harus melawan mereka.. Gunakan kemampuanmu! Adil, kau bisa wingchun kan?” kataku. “Tentu saja” jawabnya. “Arif, kau bisa silat kan?” Tanyaku lagi. “Tak usah ditanya lagi.” Jawab Arif. Baiklahh kami pun siap untuk segala konsekuensi yang akan kami hadapi. Mereka pun maju dengan segala keberingasan mereka, namun mereka hanya sekelompok orang yang bahkan memainkan senjata saja tak tahu.

Bruak! Cring! Crek! Buk! Suara suara pertarungan kami terdengar nyaring di udara, itu artinya 1 orang melawan 2 orang sekaligus! Kami bertarung dengan sangat hati hati, sampai 2 orang lawanku telah jatuh dan pingsan. Begitu juga dengan lawannya Adil. Tinggal Arif yang masih melawan, brukk! Arif jatuh dibanting oleh preman itu, lalu preman itu pun langsung ancang ancang ingin menusuk dengan pisaunya. Aku pun langsung berlari ke arahnya dan.. Crrk!! Aku membuat diriku menjadi perisainya dan perutku ditusuk oleh preman itu supaya Arif tidak kena. “Arif, Adil, lari cepat!! Jangan pedulikan aku!!” teriakku. “Mana mungkin kami meninggalkanmu!!”. Mereka berdua pun langsung mambanting preman itu hingga pingsan. Ya, sayang sekali tak ada yang melihat kejadian itu.
Aku dibawa lari oleh kedua temanku ke asrama kami, yang aku ingat saat itu darahku mengalir dengan sangat deras di jalan. Lalu setelah itu semua menjadi gelap.

“Hah dimana aku?” gumamku dalam hati seraya bangun dari pembaringan. “Syukurlah kamu sudah sadar! Kamu kehilangan banyak darah tadi saat di jalan kemari.” Arif bicara padaku. “Si, siapa yang mendonorkan darah kepadaku?” kataku sambil menahan nyeri yang amat sangat sakit di perutku. “Ya, dia yang mendonorkan darah kepadamu, dia adalah santri akhwat. Rupanya hanya dia yang darahnya cocok denganmu”. “Akhwat? Siapa dia?” tanyaku. “Dia tak mau disebutkan namanya, tapi waktu kamu sedang terbaring dia datang dan langsung mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya.”. Sambung Adil.
Aku pun termenung sejenak, siapa yang tahu golongan darahku ya?. Satu satunya yang tahu hanya.. Oh iya!! Hanya dia yang tahu! Tak salah lagi! Siapa namanya ya, aku lupa.. Oh iya!! Hana, dia pasti Hana, teman masa kecilku, kebetulan dia juga ikut sanlat ini. Aku pun penasaran mengapa dia melakukan hal itu, ingin sekali rasanya bertanya, tapi apa daya aku tak boleh bangun dari tempat pembaringanku.

Tiga hari aku hanya berbaring di kasur, hari saat aku ditusuk adalah H-5 untuk wisuda sanlat. Berarti sisa 2 hari lagi untuk wisuda. Ah begitu kesalnya aku tidak bisa melakukan apa apa, teman temanku sedang menghafal namun aku hanya diam di sini. Tidak, tidak diam juga, aku juga tetap menghafal namun tidak bisa maksimal lantaran rasa sakit yang kurasakan.

Tok tok tok.. Suara pintu UKS diketuk, “Assalamualaikum, boleh aku masuk?” Tanya yang mengetuk. “Waalaikumsalam, ya silahkan” Adil yang menjawabnya, karena suaraku sedikit serak waktu itu. Krieettt… Pintu pun dibuka, ada dua orang akhwat yang masuk ke UKS, aku tidak begitu mengetahui siapa. Karena pandanganku juga kabur. “Kamu sudah siuman?” Tanya akhwat itu. Tunggu, aku mengenal suara ini, mungkinkah ini Hana? Gumamku dalam hati. “Maaf, kamu Hana bukan, soalnya pandanganku agak kabur” tanyaku. “Ya ini aku, teman bermain semasa kecil kamu”. Aku langsung terkejut, karena tak menyangka dia adalah Hana, sudah 4 tahun kami tidak pernah bertemu karena sekolah yang berjauhan.
Langsung aku bertanya, “Kamu mendonorkan darah kepadaku kan? Kenapa kamu melakukan itu?”. Dia pun menjawab, “Kamu ingat waktu kita masih kelas 2 SMP? Waktu itu ayahku mengalami kecelakaan, dan kamu melihat kejadian itu. Lalu tanpa pikir panjang kamu langsung mengendarai motor ayahku sambil memboncengnya ke rumah sakit. Ternyata ayahku kekurangan darah, dan kamu pun mendonorkan darahmu. Karena itu aku ingin membalas budi.” Jelasnya. Aku pun tertegun mendengarnya. Ingin menangis rasanya, aku sangat bersyukur kepada Allah, ternyata memang benar kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Aku pun mengucapkan terima kasih yang sangat banyak. Dia menjawab dengan malu malu, “Sama sama akhi, aku mau balik ke asraman dulu, ini bunga untuk kamu”. Seketika aku terdiam, dia pun keluar seraya mengucapkan salam.

Hari wisuda telah datang, kami pun diwisuda satu persatu. Dan Alhamdulillah, aku masuk 5 besar peserta terbaik. Aku mendapatkan 10 juz dalam waktu 20 hari! Betapa senangnya aku, tak henti hentinya bersyukur pada Allah SWT. Hari hari yang telah kulewati, frustasi, stress, kesal, capek, semuanya terbayar di hari ini. Banyak pengalaman yang tak bisa kulupakan, mulai dari tingkah konyol teman temanku, suasana yang nyaman, ustadz yang baik hati, sampai insiden penusukan waktu itu. Dan satu lagi, kejadian di UKS membuatku tak bisa tidur waktu itu, entah mengapa selalu terpikir olehku. Ah lebih baik kulupakan saja.

5 tahun berlalu, aku sudah menjadi seorang yang hafal Qur’an, aku menjadi kepala detektif di BIN atau Badan Intelijen Nasional. Dan yang tak kusangka adalah partnerku ternyata adalah Hana, chemistry kami sangat baik dalam menangani kasus kasus. Sekarang Hana juga telah hafal Qur’an.

Tiba tiba kami mendapat panggilan oleh seseorang yang mengatakan bahwa ada kasus pembunuhan di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Aku dan Hana langsung meluncur ke sana, begitu sampai di tempat, kami langsung disambut oleh pegawai hotel yang ramah, dan langsung diantar ke TKP. Saat sedang menyelidiki kasus itu, datanglah dokter sekaligus forensik professional yang akan melakukan pemeriksaan. Tampaknya aku kenal dengan orang ini, “Arif? Kamu Arif kan??” tanyaku. “Eh kamu? Hah sudah berapa lama kita tak bertemu?”. “Sekitar 5 tahun sepertinya.” Jawabku. Lalu datanglah kepala POLRI yang juga tampaknya kukenal. Tak salah lagi! Dia adalah Adil! Kasus itu seperti menjadi reuni kecil bagi kami. Namun tak ada waktu untuk berleha leha, kami harus menyelesaikan kasus ini yang terbilang rumit.

Ya, dari cerita teman temanku, mereka mendapatkan pekerjaan impian mereka karena Al Qur’an, entah bagaimana jalannya mereka dimudahkan di segala urusan. Begitu juga denganku, aku selalu mengingat Allah di setiap kegiatanku. Karena kuyakin pasti akan diberi kemudahan jika Allah adalah prioritas dalam semua hal. Kami memang ditugaskan sangat berat, namun pasti selalu ada jalan keluar. Karena Man Jadda Wa Jada. Tak lupa ini semua juga karena peran orangtua kami yang selalu mendukung kami. Ya, Indonesia harus terlahir dengan banyaknya para penghafal Al Qur’an. Kenapa banyak orang berilmu di negeri ini salah jalan? Ya, karena ilmu jika tak dibekali dengan akhlak pasti akan sia sia, namun jika dibekali dengan akhlak, ilmu itu pasti akan menjadi sangat bermanfaat.
Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Secara sembunyi atau terang terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Itulah orang yang mendapat tempat kesudahan yang baik.
(QS: Ar Ra’d: 22)

Usaha keras tak akan mengkhianati

Cerpen Karangan: Arghafary
Facebook: Argha Kudo
No telp: 081311640832
Email: argha.buahati[-at-]gmail.com
Temanku Hidayah Mu

Temanku Hidayah Mu

Judul Cerpen Temanku Hidayah Mu

Pagi cerah menghiasi alam semesta dengan indahnya, burung-burung berkicauan riang, angin sepoi-sepoi hangat datang dari segala penjuru arah.

“Kringgggggg…”
“Kringgggggg…”
“Kringgggggg…”
Suara dering telepon kos-kosan berdendang dengan keras tapi membangunkan jiwa yang terlelap. Al datang ke asal suara telepon tersebut dengan mata sayup-sayup, menuruni anak tangga, melewati ruang tamu dan akhirnya sampai di asal suara tersebut. Al mengangkat telepon dengan malasnya.
“Assalamualaikum. Ini bersama Ali.” Suara berat yang berasal dari jauh telepon.
“Iya. Emang ada apa, pagi-pagi begini nelfon?” seru Al dengan mulut menguap dan sesekali menutupnya.
“Al, ini bukan lagi pagi tapi sudah hampir siang. Kamu tidak berangkat kuliah?” tanya di seberang sana yang ternyata Dodon teman sekampus Al.
Al langsung melihat ke belakang tepat ke arah jam dinding yang dari tadi berdetak dengan cepat, jam tersebut menunjukkan pukul 10.00 pagi yang dimana Al harus berangkat kuliah. Al langsung merespon dengan menepuk jidatnya.
“Al, kamu harus datang sekarang juga, keburu dosennya datang!” seru Dodon dengan suara berat yang keras.
“Iya.” Jawab singkat Al yang langsung meletakkan ganggang telepon dengan cepat dan segera berlari menuju kamar mandi.

5 menit kemudian Al sudah memakai pakaian rapi dan tasnya, dengan terburu-buru Al menuruni tangga tanpa hati-hati dan hampir menabrak Pak Chun pemilik kos-kosannya. Tapi Al menghiraukan suara teriakkan yang menyebut namanya dan terus berlari hingga menuju tempat motornya di parkirkan.
“Nang, ameh neng dhi? kok lagian mangkat kuliah.” Tanya Abang Ren penjual rujak yang sedang membuka lapak dagangannya.
Tapi pertanyaan Abang Ren dihiraukan lagi oleh Al yang sudah melesat dengan cepat, kecepatan motornya sampai 100 km/jam.

15 menit sampailah Al di kampusnya, dengan terengah-engah Al berlari menuju ke kelas dengan cepat dan menabrak seorang perempuan. Tanpa minta maaf Al meninggalkan perempuan tersebut dengan memaki-maki perempuan tersebut dalam hatinya. Al sampai di kelas dan langsung duduk di kursinya, membanting tasnya dengan rasa kesal.
“Untung saja, Dosen belum datang.” Batin Al yang langsung mengeluarkan bukunya.
“Hei, Al. Baru datang kamu?” tanya Dodon dengan nyengir memperlihatkan giginya yang enggak pernah rata.
“Iya, Don.” Jawab Al dengan cuek dan kesal.

10 menit kemudian dosen datang dengan mengusapkan salam kepada mahasiswa, tapi dosen tersebut tidak sendirian beliau membawa seorang Ustad yang berperawakan tinggi dan berwibawa. Dosen memperkenalkan Ustad tersebut dengan rinci. Nama Ustad tersebut ialah Syekh Ali Khodar, beliau seorang Ustad yang berpendidikan tinggi hingga mengelilingi dunia di saat umur beliau 20 tahuan.

Dosen menerangkan mengapa Ustad Ali masuk ke kelas, ia mengundang beliau untuk mengisi materi tentang keutamaan berteman dengan orang baik dan peduli kepada orang lain. Materi mulai dengan bacaan basmallah yang dipimpin oleh Ustad Ali, pada saat Al mendengarkan materinya Ada yang melempar ketas menuju Al, Al langung reflek dengan cepat.
“Nama Ustadnya seperti namamu, Al.” Seru Ad dengan tertawa kecil.
“Tidak, namaku itu Ali Qadar.” Jawab Al dengan nada kesal.
“Tapi mirip, kamu Ali Qadar sedangkan ulama terkemuka di depan kita itu Ali Khodar. Hanya saja tulisannya berbeda, dan kamu itu sukanya main terus tidak pernah mengerti soal agama tapi lihat Syekh Ali, beliau itu paham tentang agama. Tidak seperti kamu! Hahahaha…” Seru Dodon yang ikut angkat bicara.
Ad dan Dodon tertawa keras, sehingga ia terkena imbasnya, dilempar oleh dosen dengan penghapus papan tulis.
“Ah, terserah kalian.” Seru Al yang langsung memperhatikan ceramah sang Ustad.
“Ada sebuah hadist tentang berbuat baik kepada ornag lain yang artinya “Dari Abu Musa r.a., dia berkata, ‘ Rasulullah saw. Bersabda, ‘ Perumpamaan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk ibarat perumpamaan penjual minyak wangi (misik) dan penempa besi. Engkau akan terkena wanginya dari penjual minyak wangi, baik engkau membelinya maupun sekedar mendapati aromanya. Sementara itu, penempa besi akan membakar badanmu atau pakaiamu atau pakaianmu atau engkau akan terkena bau tidak sedap.” (HR Al Bukhari, 2101/Jawami’ul Kalim, 1969)” terang Ustad Ali panjang lebar.
Al mencerna ceramah tadi dengan matang dan tahu apa yang di maksud oleh ibarat tersebut, tapi ia masih bertanya-tanya. Ustad Ali menerangkan lagi tentang hadist lainnya tentang kepedulian terhadap orang lain.
“Siapa yang pernah tidak peduli terhadap sesama manusia?” tanya Ustad Ali terhadap mahasiswa, mereka bingung dengan pertanyaan tersebut.
“Emangnya anak kecil, ditanyain dengan pertanyaan yang begitu.” Batin Ad dan Dodon yang berada di sebelah Al.
Al hanya diam dan menyimak ceramah tersebut.
“Kini hadist tentang peduli yang artinya: “Dari Bahaz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dia mendengar Rasullulah saw. Membaca firman Allah, ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang diutus bagi umat manusia.’ Beliau bersabda, ‘Sungguh, kalian sempurna sebagai umat yang ke tujuh puluh, yang paling baik dan paling mulia di sisi Allah.’ ” (HR AtTirmizi, 3001/Jawami’ul Kalim, 2946) jadi kita semua yang hadir di sini harus bisa memiliki rasa peduli dan baik kepada orang lain, jangan di ejek jika teman kita sedang ada masalah. Tapi kita harus menolongnya dengan memberi masukan atau nasehat yang benar, agar masalahnya akan selesai.”
“Waktu saya memberi sedikit ceramah sudah berakhir, jadi saya ingin kalian memahami makna atau artinya dengan baik. Mari tutup acara ini dengan bacaan Hamdallah bersama-sama. Alhamdullilahhirobbil alamin… Wassalamualaikum.” Seru Ustad Ali yang mengakhiri ceramah.
Ustad Ali selesai mengisi sedikit ceramah dan bersalaman dengan Pak Dosen dengan senang, setelah Ustad Ali keluar kelas Dosen sudah mulai pembelajarannya.

Waktu berganti cepat, siang itu jam kuliah belum selesai sekitar jam 13.00, Al duduk di kursi panjang yang berada di taman dengan membawa buku kecil untuk menulis sebuah pengalamannya tadi dan diubah menjadi sebuah puisi yang indah, di buku kecil milik Al terdapat puisi banyak yang membuat hati terkesan saat membacanya. Dengan indah jari-jari tangan Al menulis satu perkata dengan baik, tiba-tiba ada seseorang yang di sebelahnya melihat tulisan Al yang tersusun rapi dalam sebuah kalimat.
“Bagus juga, puisimu. Itu puisi tentang agama kan?” tanya seorang perempuan yang sedari tadi melihat buku kecil milik Al.
“Eh, Iya.” Jawab singkat Al yang terkejut karena yang di sebelahnya adalah perempuan yang ia tabrak waktu berangkat kuliah.
“Aku juga suka membuat puisi, tapi tidak pernah melihat puisi yang lebih baik dari aku. Boleh aku pinjam?” seru perempuan tersebut dengan senyuman yang manis dan mata sipitnya.
Al langsung meminjamkan buku kecil yang di tangannya kepada perempuan tersebut, tanpa basa-basi Al menjulurkan tangan untuk berkenalan.
“Aku Ali Qadar fakultas Sastra Belanda.” Seru Al menjulurkan tangan kepada perempuan tersebut.
“Aku Ling-Ling fakultas Tarbiah.” Seru perempuan tersebut dengan menelengkup kedua tangan dan tersenyum.
“Kamu keturunan China?” tanya Al yang tiba-tiba saja bertanya begitu.
“Iya, emang kelihatan ya kalau keturunan China?” jawab Ling-Ling dengan senyum yang manis.
Saat pertemuan tadi dengan Ling-Ling, ia menceritakan segala sejarah perkembangan islam kepada Al secara rinci, tentang perkembangan universitas pertama di dunia, tentang dirinya yang keturunan China, dan lain-lain.
“Kalau kamu ingin tahu tentang sejarah islam, kamu bisa ke rumahku. Nanti kamu bisa bicara sama Ayahku, ini alamat rumahku. Aku pergi dulu!” Seru Ling-Ling senyum dengan menjulurkan secarik kertas.
“Insya Allah. Terimah kasih. Hati-hati di jalan.” Seru Al membalas senyuman Ling-Ling dan melambaikan tangannya.
Al memandangi kertas pemberian Ling dengan seksama dan menyimpannya di dalam tasnya. Al berjalan menuju ke parkir untuk mengambil motor dan melaju ke kos-kosannya yang berada di daerah kampusnya. Melaju dengan kecepatan 100 km/jam melesat bagaikan peluru yang cepat, sampailah Al di kos-kosan. Disana Al langsung menuju kamarnya dengan cepat, melewati ruang tamu dan menaiki tangga dengan semangat. Al membuka daun pintu kamarnya dan merebahkan dirinya ke kasur empuk bersama tasnya.

Al memejamkan mata sebentar dengan tenang, tiba-tiba ia teringat akan menghampiri rumah Ling-Ling. Bergegas mengambil pakaian, jam tangan, merapikan rambut yang berantakan, dan mengambil kunci motor, tidak lupa juga Al membawa kertas kecil yang di beri Ling-Ling.
“Semua dah beres..” seru Al dengan bangga.

Al turun dengan cepat menuju motornya dan langsung melesat lagi, Al melihat sepanjang jalan untuk menemukan alamat yang ada di kertas dengan seksama. Tiba-tiba Al melihat alamat di kertas dengan sebuah rumah yang terlihat ramai oleh anak-anak yang berlarian, Al memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu anak-anak yang berlarian. Ternyata benar itu adalah rumahnya Ling-Ling. Al masuk ke dalam rumah dan mengetok rumah dengan pelan, muncullah Ling-Ling dengan memakai pakaian yang Al kira pakaian China. Ling-Ling mempersilahkan Al masuk ke dalam rumah dan menyuruh Al untuk duduk.
Al melihat-lihat ruangan tamu yang tidak besar, dan muncullah Ling-Ling bersama Ayahnya yang ternyata Ustad yang pernah berceramah di kelasnya.
“Assalamualaikum. Kamu mau belajar tentang sejarah Islam?” Seru Ayahnya Ling-Ling dengan suara yang berat tapi berwibawa.
“Eh, Iya. Pak.” Jawab Al dengan gugup.
“Kita pernah bertemu, Nak?” seru Ayahnya Ling-Ling yang langsung duduk di sebelah Al.
“Iya.” Jawab Al.

Ling-Ling langsung menuju ke belakang untuk menjamu tamunya dengan sedikit air untuk menghilangkan dahaga. Saat pertemuan dengan Ayahnya Ling-Ling yang ternyata Ustad Ali, mereka berbincang-bincang tentang sejarah agama islam dan lain-lain terkait dengan islam. Al mulai menyadari ia itu salah dalam berpendapat terhadap islam, padahal Al itu islam yang tak pernah mengerti apa itu islam?. Saat itulah Al mulai sadar dan langsung bertaubat kepada Allah dengan mengerjakan yang diperintahNya.
Saat itulah pintu hati Al terbuka dengan luas membuat Al tenang dan damai.
“Terima kasih atas hidayah-Mu yang engkau berikan kepada hambamu ini, melewati seorang teman.” Batin Al dengan senang.

Cerpen Karangan: Aisy Azzahra Nurjati
Facebook: Aisy Azzahra N
Bos Galak dan Rujak Cair

Bos Galak dan Rujak Cair

Judul Cerpen Bos Galak dan Rujak Cair

“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah siang-Mu yang telah menjelang dan Malam-Mu yang telah berlalu serta suara-suara penyeru-Mu. Maka Ampunilah aku.” Pagi ini telah kuselesaikan zikir Al-matsurat selepas shalat subuh di Mushollah depan rumahku. Hanya aku dan Pak Haji Thamrin, seorang sesepuh sekaligus pemuka agama di komplek Mahoni, tempat tinggalku.

Sebelumnya terbayang rasa amat sangat frustasi perihal kejadian kemarin di tempat kerja. Ocehan dari bossku yang menganggap karyawan di divisiku yang selalu santai disaat jam kerja. Menurutnya penjualan lewat website yang kami kelola mengalami stagnansi bahkan penurunan penjualan pemesanan online. Padahal pekerjaan mengelola dan mengoptimalisasikan website tidak seinstan pedagang keliling yang menyeduhkan kopi untuk pengunjung Panggung seni di Taman Ismail Marzuki.

“Kalau tim kalian seperti ini terus, siap-siap saja kalian buat acara Farewell Party!” Ujar boss kami dengan mata yang tajam dan suara yang berat.

“Hmm, si boss ini lagi dateng bulan kali ya. Kerja kita kan emang santai, apa kita harus duduk depan komputer, desain gambar produk sambil angkat barang dari gudang ke mobil pick up. Kerja keras nggak gitu juga kali” Keluh Rendi web design di tim kami

“Udah lah Rend, nggak usah banyak ngeluh. Lagian emang lu nya juga kan yang kerjanya lama. Desain gambar sambil pasang headset di kuping. Gimana mau fokus coba” balas Fitri, seorang content writer yang satu tim dengan kami.

“Brakkkkk” Suara gebrakan meja Rendi seketika mengagetkan kami.
“Eh, neng. Lu pikir karena gue sambil dengerin musik, kerjaan gue jadi nggak bener? Tiap orang punya cara sendiri buat fokus” Tegas Rendi dengan muka yang mulai memerah.

“Yaudahlah, nggak usah narik urat segala kali. Biasa aja kalau ngomong. Ini juga bukan buat lu doang, tapi buat Fikar, Gue sama Deny” Balas Fitri dengan nada setengah tegas.

Suasana saat itu benar-benar kaku dan dingin. Percakapan tadi merupakan percakapan terakhir sore itu, satu jam menjelang pulang. Kami melakukan kesibukan masing-masing. Fitri sibuk melanjutkan artikel website, sambil sesekali asik membaca Sinopsis film yang akan tayang di bioskop. Rendi asik menonton Anime Streaming dengan Earphone dan kurasa dia sudah jenuh untuk melanjutkan editan gambarnya sedangkan Aku yang sibuk melihat beberapa chat dari grup whatssap yang masuk di Handphoneku, sambil sesekali mengontrol website perusahaan. Meja Fikar Kosong, karena dia ambil cuti satu hari untuk mengurusi resepsi pernikahannya.

Pagi ini aku merasa beda, mungkin karena energi dari shalat subuh berjamaah dan zikir pagi tadi. Ternyata kajian dari ustdz Bachtiar Natsir yang aku tonton dari YouTube semalam mengubah persepsi hidupku hari ini. Beruntunglah aku melampiaskan kejenuhan dan frustasi yang kualami dengan cara yang tepat. Pikiran bahwa besok pasti lebih buruk dari hari ini telah sirna oleh aktivitas awal pagi yang menyegarkan. Seperti butiran embun yang melapisi jok motor yang membersihkan seluruh debu sisa kemarin.

Terbesit suatu ide untuk melengkapi indahnya hari ini. Setelah bersiap, kutancapkan gas motor matic ku menuju pasar kaget untuk sekedar membeli Sekantong penuh Rujak kemudian menuju kantor.

“Ini dia nih, calon pengantin baru. Gimana persiapan resepsinya?” Tanyaku heboh kepada Fikar.
“Alhamdulillah Den, lancar. Tinggal nunggu hari H-nya nih minggu lusa”
Aku melihat Rendy dan Fitry masih sibuk dengan komputernya masing-masing. Masih terdiam fokus.
“Eh kebetulan gua bawa rujak nih, ayo dicicipin. Seger-seger nih buahnya, langsung diambil dari kebonnya” Canda ku
“Waah, ini sih kesukaan gue. Kenapa nggak tiap hari aja sih, Den bawa beginian” Celoteh Fitri dengan suara cemprengnya.
“Rend, ayo gabung bukannya lu rujak lover, ya?” bujuk Fitri dengan nada sedikit meledek
“Kalau Ini sih gue nggak nolak, fit. Gue nggak rela kalau ini habis cuman sama lu doang.” Ujar Rendi dengan senyum nyinyir nya
“Plakk” “Eh, ini bagian gua. Maen sikat aja” teriak Fitri karena kesal, buah yang sudah dipegang fitri dimakan Rendi.
“Hahaha, udah dikasih rujak masih aja kalian pada ribut” Tawa ku menggelegar. Suasana jadi cair kembali.

Cerpen Karangan: Gus Randi
Facebook: www.facebook.com/rant.guswandy
Si Orange

Si Orange

Judul Cerpen Si Orange

Hidup enak, bisa gonta ganti baju bagus, fasilitas lengkap, jabatan strategis, dan segudang kenikmatan lainnya, siapa sih yang nggak kepingin? Dan mungkin hal semacam itulah yang diidamkan oleh setiap insan di zaman para pemuja kenikmatan semu.

Hidup di zaman hedonisme seperti saat ini, cobaan yang tiap hari mendera kian mematikan. Bak hidup di padang pasir dengan tanpa bekal. Namun, berbeda dengan seorang akhwat (cewek) yang mampu merubah dunia dengan si orange, sepeda ontel jadul banget. Seakan ia mampu membawanya ke kehidupan yang penuh kenikmatan, surga…
Setiap 06.30 WIB, setiap pagi, setiap hari…

Ya… si akhwat yang juga seorang aktivis itu mengayunkan si Orange tua tuk menggapai kenikmatan dunia plus juga akhirat.
Seorang akhwat dengan kondisi yang serba pas-pasan, dengan kehidupan jahiliyah yang pernah dijalaninya, ternyata ia mampu menemukan jalan yang haq bagaimana selayaknya ia menyikapi dunia. Kuliah dengan IPK fantastis, ia peroleh dengan usahanya sendiri. Meskipun hanya makan dengan asinan, garam. Bagaimana saat ia hutang kanan-kiri, tak dapat pinjaman dan yang didapat hanyalah cemoohan.
Ia tinggal dengan biaya kontrakan sendiri, bukan tiada orangtua akan tetapi ia telah membuat suatu keputusan yang mengharuskan ia menanggungnya. Dan juga bukan pilihan yang serba palsu, pilihan itu surga jaminannya. Mengiurkan bukan?

Pagi itu, usai menunaikan sholat shubuh, aktivis muda itu tampak menahan kesakitan pada penglihatannya. Ia tiba-tiba mengeluh sakit, dan kemudian tidur. Sejenak, ia memberi kabar pada majikannya bahwa ia sakit dan tidak bisa masuk kerja. Dan ia melanjutkan tidurnya. Saat itu, temannya sedang ada Praktek Mengajar, namun ia tidak tega dan memutuskan untuk membantu meringankan beban sakitnya. Sungguh luar biasa sakitnya, hingga ia tidak bisa melihat apa-apa meskipun cuma sebentar.

Tak seperti hari-hari biasanya, ia hanya tidur. Namun, tak disangka ia masih sempat untuk menunaikan kewajibannya kepada Rabbnya, yakni mengikuti perhalaqahan (mengkaji ilmu Allah) meskipun ia menahan kesakitan.

“Mau berobat, tak ada uang”, katanya. Bagaimana temannya tak menangis mendengarnya. Sungguh luar biasa akhwat ini…
Namun, keyakinan kepada Sang Pemilik Hidup, ia senantiasa berucap syukur dan harap akan kehidupan yang lebih baik, surga. Dan ia sering mengatakan bahwa, “Rizki itu di tangan Allah” bukan manusia.
Meskipun begitu, ia masih mampu untuk menginfaqkan hartanya yang ia peroleh dengan peluh keringatnya dengan si Orange yang senantiasa mendampingi. Tiap bulan ia masih bisa mengikuti agenda-agenda di harakah (kelompok dakwah) dengan gaji yang pas-pasan juga.

Subhanallah! Dengan secuil kondisi yang dialami oleh wanita di zaman yang penuh dengan multidimensi imperialisme seperti saat ini, ketakwaan kepada Allah mampu melahirkan seorang akhwat, seorang aktivis, yang tangguh akan meraih janji Rabbnya. Dan hanya dengan kembali kepada sistem atau aturan Sang Maha Pemilik Hidup yang mampu memuliakan wanita dengan kedudukan yang agung.

Cerpen Karangan: Ima Susiati
Blog: imasusiati.blogspot.com
Indahnya Negeri Kinanah Di Pagi Hari

Indahnya Negeri Kinanah Di Pagi Hari

Judul Cerpen Indahnya Negeri Kinanah Di Pagi Hari

Waktu yang berlalu tidak akan kembali datang, melainkan hanya penyesalan. Kadang penyesalan pun jaraknya cukup lama. Hmm, sia-sia sudah. Meski setiap orang diberi nikmat waktu yang sama, namun setiap orang membuahkan hasil yang tidak sama. Setiap orang memiliki aktivitas yang cukup beragam, namun aktivitas siapakah yang nilainya tinggi di hadapan-Nya. Tidak ada yang tahu, kecuali sedikit saja. Iya.

Maha benar apa yang disampaikan oleh tauladan umat di dunia beribu abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW, bahwa nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia diantaranya adalah nikmat sehat dan waktu rehat. Maka, bersyukurlah bagi siapa pun yang ketika bangun di pagi hari memiliki nikmat sehat dan waktu luang. Yang ia bisa manfaatkan untuk mengisi sisa episode hidupnya. Pilihan. Happy or sad choice!

“Alhamdulillah”, itulah yang Aya ucapkan ketika suara adzan subuh bertalu-talu di langit negeri Kinanah yang kali pertama Aya dengar sejak kemarin siang ia tiba di negeri itu.

Aya bersyukur mendapatkan kesempatan bisa menginjakkan kaki di negeri yang menjadi idaman bagi para pencari ilmu itu. Lantaran selama ini Aya hanya beranggan lewat buku-buku yang ia baca. Bahkan bagi Aya ini serasa mimpi. Ia pun masih termenung ingat dengan apa yang ia tulis di dinging kamar kosnya waktu masih kuliah di salah satu kampus di kota Malang. Aya menulis apa saja yang menjadi khayalannya yang ia anggankan sambil membaca buku favoritnya, novel.
Aya pun memberikan tanda centang di sebelah tulisan yang berhasil ia capai, kemudian ia menambah dengan harapan barunya. Bahkan ia juga menuliskan Andalusia. Ya, meski seolah menggambil satu dari sejuta bintang di langit untuk bisa kesana.
“Ah, apa salahnya”, gumam Aya sambil beranjak dari kasurnya. Aya melanjutkan untuk menggambil air wudhu setelah beberapa menit ia habiskan untuk merapikan kamar tidurnya. Aya pun menunggu teman-temannya sambil shalat dua rakaat sebelum subuh.

“Oh ya Nay, disini kalau adzan ndak sama ya seperti di negeri kita?”, tanya Aya penasaran ke teman barunya yang juga sudah siap untuk sholat subuh berjama’ah.
“Maksudnya, apanya yang ndak sama, Ay?”, Nay balik bertanya.
“Ya itu, nadanya, Nay. Kan kalau di negeri kita kan ada nadanya tuh. Bahkan suaranya bagus mendayu-dayu. Nah, ternyata kalau disini pendek-pendek ya. Jadi teringat dengan adzan pertama kali dalam Islam yang dikumandangkan oleh sahabat Nabi SAW yang terompahnya terdengar di surga, Bilal bin Rabbah, itu Nay”, papar Aya dengan semangat.
“Oh, iya Ay. Aku juga suka lho, serasa gimana gitu”, jawab Naya yang juga ternyata sama-sama suka dengan nada adzan disini.

Sholat subuh pun dilaksanakan dengan penuh suasana baru, terlebih bagi Aya yang baru pertama kali, tentunya lebih berkesan dibandingkan dengan teman-temannya yang lain dimana mereka lebih dulu sampai di ujung benua seberang ini.
Suasana baru adalah kesempatan baru yang Allah berikan untuk hambanya yang ingin lebih baik lagi. Karena tak setiap orang menikmati kesempatan yang ada untuk sesuatu yang bisa membuat dirinya jauh dan jauh lebih baik lagi.
Begitupula kesempatan yang telah Allah karuniakan kepada kita, umat Islam, untuk bisa lebih baik lagi. Keruntuhan Islam selain membuat kita tunduk kepada orang-orang kafir, justru di balik hal itu adalah kesempatan yang harus kita manfaatkan agar kita bisa bangkit memimpin dunia kembali. Kita akan ingat kenapa kita bisa mengalami kemunduran, jauh dari peradaban. Itu karena umat Islam tidak memakai Islam dalam kehidupan.

“Oh ya Nay, jadi ingat sesuatu ni…”, lanjut Aya setelah melaksanakan sholat subuh dan dzikir bersama.
“Ingat apa ni Ay?”, sahut Kak Niswah sambil sibuk beresin mukenahnya.
“Hehehe.. ehmm ini lho Kak, kan Mesir itu pas masih hidup dalam naungan Islam sejarahnya bagus banget kan Kak. Menjadi mercusuar dunia, khususnya akan ilmunya. Sampai-sampai menjadi pusatnya ilmu”, jelas Aya dengan antusias.
“Oh, iya Ay. Itu dulu. Tapi saat ini Mesir bisa dikatakan pesonanya tinggal setengah,”, papar Kak Niswah yang langsung dipotong oleh Aya.
“Maksudnya, Kak?”, serbu Aya yang semakin tidak sabar.
“Iya, kan bisa diibaratkan disini itu salah satu negeri gudangnya ilmu, tapi saat ini ilmu itu seolah masih nempel di kitab-kitab aja. Belum bisa kita rasakan di kehidupan nyata. Bahkan di masyarakatnya sendiri pun juga malah belum nampak. Kita masih melihat bagaimana banyak sekali masyarakat yang kurang mampu, hidup mereka terlunta-lunta di jalan, masalah kebersihan yang menjadi sah dan tidaknya dalam ibadah pun juga masih sangat minim kan, kita juga bisa lihat bagaimana di pasar yang jual belinya pun juga banyak kecurangan”. Jelas Kak Niswah dengan penuh semangat.
“Hmm, gitu…” sahut Aya dan Naya yang nggak sengaja sama.
“Wah, terus gimana ni ya Kak?” tanya Aya yang masih belum puas.
“Ya kita harus berubah. Mumpung kita diberikan Allah kesempatan untuk bisa menuntut ilmu dari ‘gudang’ nya langsung. Kita mulai mengamalkan ilmu yang kita dapat dalam kehidupan sehari-hari sebagai tanda ilmu itu bermanfaat. Mempelajari ilmu tidak hanya sekedar kepuasan intelektual ataupun gelar semata”. Jawab Kak Niswah kepada Aya dan Naya.
“Iya ya Kak. Bener.” Gumam Aya sambil manggut-manggut.

Karena kesempatan itu berharga. Aya pun memutuskan untuk membuat dirinya lebih baik. Seindah mentari pagi di negeri Kinanah yang baru saja ia sampai. Karena penyesalan itu tidak mau dating di awal, makanya Aya tak mau menjadi yang terakhir, yakni penyesalan. Jauh-jauh ia memutuskan pergi jauh untuk menuntut ilmu, hingga meninggalkan ibu dan ayahnya.

Cerpen Karangan: Ima Susiati
Blog: imasusiati.blogspot.com
Tabungan Untuk Umi dan Abi

Tabungan Untuk Umi dan Abi

Judul Cerpen Tabungan Untuk Umi dan Abi

Dering suara Alarm jam kecil kesayangan, membangunkanku dari lelapnya tidur, telingaku tak kuat menahan ocehan Alarm yang semakin lama semakin rewel. Ku matikan saja Alarmnya sambil menengok ke arah jarum jam. “hoaaam… Ternyata masih jam 5” ucapku pelan lalu ke pejamkan mata ini kembali dan tertidur. Tidak lama kemudian, terdengar suara Umi Memanggilku “Nisa ayoo bangun sholat shubuh sayang” ya namaku adalah Afnan Nisa Faizah semua temanku biasa Memanggilku Nisa termasuk kedua orangtuaku. Umi dan Abi tidak sembarang memberikan nama itu padaku, semua namaku ada arti yang sangat baik. Afnan itu artinya pohon yang berbuah, Nisa berarti anak perempuan, dan Faizah artinya kemenangan. Kalau ketiga nama itu digabung memiliki arti anak perempuan yang mendapat kemenangan dan banyak memberikan manfaat seperti pohon yang berbuah.

Umi terus saja memanggil-manggil tapi aku tetap saja tidur dan menghiraukannya, sampai suara Umi tak terdengar lagi.
Kunikmati mimpi bersama seorang laki-laki yang sangat tampan dia mengajakku ke sebuah taman yang sangat indah, dia memetikkanku sekuntum bunga mawar merah dan memasangnya di telingaku “kau cantik sekali” pujinya aku pun tersipu malu mendengar pujiannya itu. Lalu dia menghilang, aku mencari-cari tapi tak ada satu pun jejak yang bisa aku temukan “kemana dia?” ucapku penuh dengan kegelisahan. Tiba-tiba datang laki-laki yang sangat menyeramkan datang menghampiriku dan mengajakku pergi. aku melepaskan tangannya yang menggenggam erat tanganku, aku berlari dan dia terus mengejarku
“Nisa mau kemana ayooo pergi bersamaku” ucapnya sambil terengah-engah mengejarku.
Aku berlari terbirit-birit dan ketakutan “Tolooong… Toloooong” teriakku kencang sekali tapi tak ada satu orang pun yang mendengar. Tiba-tiba laki-laki itu ada di hadapanku
“mau kemana kamu Nisa ha..ha..ha” ucapnya menyeramkan sekali sambil mengeluarkan senjata tajam dan akan menusukku “Aaaaaa…” Teriakku ketakutan. Lalu aku terbangun “Alhamdulilah … Ternyata hanya mimpi” sambil mengelus dada hatiku merasa tenang ternyata itu semua hanyalah mimpi belaka. Tapi bayangan laki-laki itu ada di hadapanku nyata sambil membawa pisau tajam.
“jangan… Jangan bunuh aku” ucapku ketakutan sambil kupeluk guling untuk melindungi wajahku. Dia semakin dekat.. Dan “nisaaaa ayooo bangun sayang sudah siang, nanti terlambat sekolah” hah ternyata itu umi, ilusiku semakin tidak karuan saja. “umiiiii…” kupeluk umi sambil Terisak-isak.
“kenapa kamu sayang” tanya umi lembut.
“aku bermimpi buruk umi dia mau membunuhku” ku semakin tak kuat menahan tangis.
“itu hanya mimpi nisa, sebaiknya daripada kamu berilusi tidak jelas, segera bersiap-siap lihat jamnya” sambil mengambil jam kecil Kesayanganku.
“astagfirulloh.. Sudah jam enam lewat lima belas menit, bagaimana ini aku belum sholat shubuh lagi” aku pun kebingungan.
“umi kan sudah bangunkan dari tadi shubuh, tapi telingamu ini tak mendengar” sambil menjewer telingaku
“maaf umi..” sesalku sambil ku pegang telingaku yang mulai memerah akibat jewerannya umi
“kalau sudah terlambat seperti ini, siapa yang akan kamu salahkan, masa kamu salahkan umi nanti” nasihatnya membuat hatiku berdebar-debar.
Aku terdiam mendengar perkataan umi, aku pun sangat menyesal tak pernah mendengarkan nasihat umi.
“cepatlah bersiap-siap, Abi sudah menunggumu dari tadi” perintahnya tegas padaku.
“Abi?? Bukannya Abi sudah berangkat kerja? Tanyaku keheranan.
“hari ini Abi berangkat jam 7, jadi kamu bisa berangkat bersama Abi, cepat bersiap nanti Abi juga bisa terlambat” jelas umi sambil pergi untuk mempersiapkan sarapan.

Setelah selesai, aku pergi bersiap untuk sarapan. Sesudah itu, segera aku berangkat sekolah dan tak lupa mencium tangan umi sambil mengucapkan salam. Abi mengemudikan mobil laju sekali, jarak rumah ke sekolah lumayan cukup jauh dan untungnya, sekolahku dengan tempat kerja Abi lumayan berdekatan jadi kemungkinan Abi pun tak akan terlambat masuk kerja. Ketika di mobil, Abi tak berbicara sedikit pun, Abi terus saja melihat ke arah jam.

“Hmmm abi aku boleh tanya sesuatu?” Tanyaku pelan.
“iya boleh tanya apa nak?” Jawabnya singkat.
“kalau kita berniat sholat shubuh, tapi malah kesiangan, bagaimana? Tanyaku malu sekali.
“kenapa? Kamu kesiangan sholat shubuh lagi?” Tanyanya tegas.
“iya Abi… Yang kemarin aja belum diganti, eh sekarang malah kesiangan lagi”
“sebaiknya segera kamu qodo di waktu itu juga, namanya orang kesiangan kan bukan hal yang disengaja. Tapi, kejadiannya, kamu sudah umi bangunkan dari shubuh, tidak segera bangun, akhirnya malah mimpi buruk kan?” Jelasnya.
“kok Abi bisa tahu?” Tanyaku keheranan.
“Umi tadi bilang sama Abi! dengar ya nak, sholat itu penting apalagi sholat wajib ketinggalan satu waktu saja, kamu akan rugi besar dunia dan akhirat apalagi sampai sengaja meninggalkannya” nasihat abi yang jelas dan lugas, semakin membuat hatiku tidak tenang.

Tidak terasa percakapan kami memakan waktu yang cukup lama. Dan akhirnya sampai di sekolahku. “lain kali jangan kesiangan lagi!!” Abi mengingatkanku kembali. “iya abi” jawabku sangat pelan aku takut temanku mendengarnya. Lalu, Aku mencium tangan abi dan mengucapkan salam. Abi pun segera pergi berangkat kerja. “anak Macam apa aku ini, tidak mensyukuri bahwa umi dan abi sangat sayang padaku, mereka tak henti-hentinya menasihatiku, tapi aku sering tak mendengarkannya” menggerutu dalam hati. Aku pun berjalan menuju kelas dan masih saja menyesali perbuatanku selama ini. Ketika aku melihat ke arah mading, disana ramai sekali.

“nisaaa… Siniii” panggil salah satu temanku bernama maya anaknya cantik, baik, bawel, humoris, dan pintar.
“ada apa??” Segera aku berjalan menghampirinya.
“coba lihat ini bagus untukmu” sambil menunjukkan ke salah satu kertas yang berisi perlombaan hafiz Alqur’an.
“pantas saja ramai ternyata ada perlombaan” ucapku singkat.
“kamu ikutan yaaa?” Bujuk maya padaku.
“kenapa harus aku, kamu saja yang ikut lomba” jawabku ketus.
“belum ada satu juz pun yang aku hafal, disini tertulis persyaratan mengikuti lomba minimal sudah hafal 5 juz, kamu kan insyaAlloh 15 juz sudah hafal” jelasnya sambil tersenyum.
“dari mana kamu tahu kalau aku bisa menghafal 15 juz alqur’an?” Tanyaku keheranan padahal aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun hanya umi dan abi saja yang tahu.

“kamu ingat gak waktu pertama kali masuk sekolah, kita pernah di test membaca Alqur’an? Lalu, ibu Sukma menyuruhmu tanpa melihat Alqur’an dan MasyaAlloh kamu sangat hafal baca’annya sampai tajwidnya juga bagus banget” pujinya.
“hehehe… Sudahlah.. Tapi, bagaimana kamu bisa yakin kalau sekarang aku sudah hafal setengah juz?”
“ya elah.. Itu mah gampang banget, dari cara ngomong aja udah keliatan kalau kamu sering baca Alqur’an, makanya aku yakin banget pasti sekarang kamu sudah hafal setengah juz atau sudah 30 juz ya?” Paksanya membuatku harus mengakui.
“belum kok.. Do’akan saja ya” jelasku singkat
“makanya kamu ikutan ya, aku yakin pasti kamu Menang, kamu gak mau mengasah kemampuanmu? Aku pernah mendengar ceramah dari seorang ustad dia menyampaikan sabda Rasulluloh SAW: “Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)” begitu nis penjelasannya, maaf ya gak ada maksudku menggurui, kamu gak mau mempersembahkan jubah kemuliaan buat kedua Orangtuamu nanti nis? Itu bisa jadi tabungan Akhirat buat umi dan abimu loh nis termasuk kamu juga?” Bujuk dan nasihatnya menumbuhkan semangatku.
“Hmmm… InsyaAlloh aku ikut. Kamu juga jangan cuma nasihatin aku doang” sindirku halus.
“Sebenarnya aku juga mau ikutan tapi.. Aku kan belum hafal satu juz pun nis, InsyaAlloh kalau nanti ada kesempatan aku ikut”
“ya sudah.. Aku do’akan semoga kamu juga bisa menghafal 30 juz sekaligus Aaamiiiin”
“Aaamiiiin ya Alloh ya Robbal Alamin.. Cepat daftar ke bu Sukma (guru PAI) pendaftarannya besok paling telat lho”
“iya.. Tapi kamu antar aku ya aku malu soalnya hehe”
“huuuu iya iya nanti aku antar, apa sih yang enggak buat sahabatku ini” sambil memeluk pundakku
“apa sih kamu tuh Lebay” ucapku ketus.

Lalu, aku pun segera mendaftarkan diri mengikuti perlombaan, ternyata banyak sekali yang sudah mendaftar, aku berada di urutan paling bawah. Alhamdulilah ada banyak sekali yang berminat mengikuti perlombaan ini. Hadiahnya memang cukup menggiurkan. Juara III hadiahnya uang sebesar 1 juta plus 1 buah Alqur’an beserta tajwidnya, juara II hadiahnya uang sebesar 2 juta plus 1 buah Alqur’an beserta tajwidnya, juara I hadiahnya uang sebesar 4 juta plus 1 buah Alqur’an beserta Tajwid dan akan diajak ke Kairo selama 1 bulan untuk mempelajari Alqur’an lebih dalam lagi bersama hafizh Alqur’an yang lainnya. MasyaAlloh.. Tapi, aku berniat mengikuti lomba ini bukan untuk berlomba-lomba mendapatkan hadiah, melainkan untuk mengasah kemampuanku dan semoga ini menjadi tabungan untuk kedua orangtuaku kelak. Kalau menang atau kalah itu urusan belakangan yang terpenting ikhtiar dan berdo’a dulu, jangan lupa do’a dari kedua orangtua itu lebih penting dari segalanya.

Sesampainya di rumah, aku meminta izin mengikuti lomba hafizh Alqur’an kepada Umi dan Abi, mereka sangat mendukung bahkan mereka membelikanku Alqur’an yang sangat lengkap ada tafsir dan Tajwidnya lagi. Aku pun sangat bersemangat mengikuti perlombaan ini. Hari demi hari telah ku lewati, dan Akhirnya perlombaan itu tiba. Lokasi perlombaan itu, berada di mesjid sekolahku. Aku pun sangat deg-degan dan gugup, pasti banyak yang melihatnya.
“aduuuuh kok tiba-tiba perasaanku jadi gak karuan gini.. Aku gugup may” ucapku sambil mondar-mandir dan memegang dadaku.
“bismillah ya nis, tenangkan dirimu jangan gugup” ucap maya yang berusaha menenangkanku. Tak lama kemudian, seorang ustad yang tak lain adalah panitia perlombaan itu memanggil namaku. Hatiku semakin berdebar kencang tubuhku mendadak panas dingin.
“nis… Giliranmu ayooo semangat ya jangan lupa bismillah” maya yang selalu menyemangatiku aku pun tak ingin membuatnya kecewa, aku pun bangkit dan bersemangat
“bismillah.. Do’akan aku ya may” sambil ku pegang tangannya dan dia pun memegang tanganku.
“pasti aku do’akan nis.. Kamu bisa kok semangatt ya” lagi-lagi dia menyemangatiku. Aku pun segera memasuki mesjid dan salah seorang panitia muda mempersilakan aku masuk dan menunjuk ke arah mimbar. Ku berdiri di atas mimbar, kulihat banyak sekali juri dan panitia dan semua teman-temanku menyaksikan perlombaan ini. Ketika kumulai membacanya, hatiku terasa tenang dan rasa gugup itu pun hilang seketika. Aku tak menghiraukan orang-orang di sekelilingku, aku terus saja menikmati lantunan ayat demi ayat yang sedang aku bacakan.

Pikiranku pun terasa jernih, kudengar suaraku begitu lirih dan merdu. Tak terasa air mata ini bercucuran dengan sendirinya.

Setelah juri mengetesku dengan sambungan ayat, Alhamdulilah aku bisa menjawabnya dengan lancar. Dan lomba itu pun telah selesai. Sekarang saatnya pengumuman pemenang hasil penilaian para juri, aku merasa tidak yakin kalau aku akan menang, soalnya peserta yang lain jauh lebih baik dariku. Tapi, aku pun teringat pertama kali aku berniat mengikuti perlombaan ini jadinya aku tidak merasa khawatir lagi. Ketika kudengar namaku disebut dengan meraih peringkat ke dua dari 156 peserta Aku pun tak menyangka kalau aku bisa memenangkan hafizh Alqur’an meskipun hanya meraih juara kedua. Dan juara pertama di raih oleh rian teman sekelasku, rian memang pantas menerimanya.
Alhamdulilah kemenangan ini sebagai hadiah atas usahaku selama ini, dan ku persembahkan kemenangan ini untuk umi dan Abi…

Cerpen Karangan: Deuis Pebria
Facebook: Deuis Pebria
Kemanakah Kita Akan Kembali

Kemanakah Kita Akan Kembali

Judul Cerpen Kemanakah Kita Akan Kembali

Setelah kematianya barulah kita sadar akan tujuan hidup yang sebenarnya. Berlinang air mata keluarga, berdegub jantung setelah mendengar kematian itu, berusaha agar ia dituntun ke tuhannya bersamaan dengan syahadat di ujung lidah pilatnya yang gemetar, setelah rohnya tak ada lagi menginjak bumi. Barulah apa yang menjadi kebencian dalam diri kita akan membuka maaf dan mengingat kebaikan yang telah diberikannya. di ujung keluh resah yang kita rasakan merasa orang itu berhutang budi di kian sakitnya, kini sudah tak ada arti karena rasa itu sudah ditiup angin akhirat, membiaskan dalam genggamnya yang sudah siap akan pertanggung jawabannya di alam sana.

Matahari telah pulang lama keperaduanya, tiada sisa dari warna petang yang terlihat di malam yang kelam, kecipak kaki berlari kecil berhenti dari rumah ke rumah yang ada paut keluarga dan tetangga. rasa yang tidak berasa, meski ditanda hujan dengan basah sekujur tubuh. menuju rumah kami yang tak jauh. terengah dia membuka pintu rumah kami, membuyarkan waktu santai bersama keluarga dimalam itu. “eeng mee…ninggal”. ucap devi terbata. “inallilahiroziunn” kami sentak menyambut ucap berita duka yang dibawa devi. dibalut rasa tak percaya menjawab keterkejutan kami dengan sendirinya bahwa hidup akan kembali pula kepada tuhannya. “yuk cil, mang, tanjung kita ke sana melihat sidin mungkin ini am terakhir melihatnya” kata devi. “Iih yuk kita kesanaan” ucap ibu dan ayahku. “jung yuk”. ajak ibuku. “kena maa ulun kesana. siang kena jaa. mun ulun kesana, siapa yang menjaga rumah” ucapku menyakinkan. “iyalah” sambut ibuku.

Mereka pun pergi ke rumah devi. meninggalkanku di rumah sendiri, dipadu malam sunyi nan sepi dan dari samar kejauhan tadarus qur’an menghentikan hujan yang menandai basah dibulan ramadan. Tersentak aku berfikir kenapa kita masih mengingat harta, kenapa kita masih mengingat rumah dunia bukankah kita semua akan dipanggil juga di sisinya. lalu kenapa kita begitu enggan meluruskan jalan kemudahan untuk saudara kita. “seharusnya aku tidak beralasan itu kepada mama” benakku. Lalu kuambil qur’anku yang sudah berdebu yang hanya menjadi pajangan tanpa dibaca, maka hari ini aku membaca. napasku menghela bacaanku mengirimkanya untuk beliau menancapkan kekhusyuan yang mampu mencakar alam kematian dengan sinar terang di sepanjang jalan yang dilewatinya.

Malam semakin larut, semua mata tertidur lelap. dengan niat menguburkan esok pagi sudah terbesit, memutuskan kesepakatan dengan menguncinya dalam kehiningan malam. tak terkecuali aku yang juga ingin tidur lelap dironai perasaran takut akan didatangi arwah tersebut tetapi lambat laun aku tertidur juga dengan lelap.

Pagi itu tiba dengan sinar cerahnya. devi datang kembali mengajaku. kami pun kesana dengan hati penuh duka. Disana, dengan suasana yang teramat pagi berjejer orang-orang yang berbaik budi meringankan tangan membuat tabla, membentangkan kain kafan panjang, mengiris daun pandan, memotong gadang pisang dan disana gerombolan keluarga dan tetangga bercerita tentang kebersamaan mereka selagi beliau ada. mengisahkan tetesan tangis seakan nostalgia di hari-hari mereka yang tiada tahu umurnya akan berakhir.

Selepas kami membaca yasiin dan membantu orang-orang yang sedang sibuk terasa kegiatan kami usai. aku dan devi pun melangkah gontai ke gerombolan orang-orang yang bercerita tadi disana kami mendapat cerita sejarah kami yang terasa terpotong dalam editan waktu.

Berkilas balik dari umurku beberapa tahun yang lalu, mengundur lebih lagi selagi aku tak ada mengecap bumi. dari masa kecil orangtuaku eeng lah yang merawat mereka. menambah perawatan extra dari orangtua kakek dan nenek yang sibuk bekerja dimasa itu. berkilas balik kedepan orang yang sering dia rawat kini sudah besar dan mempunyai cucu sekarang tugas eeng tidak hanya sampai disitu dia rawat cucu-cucunya. dia begitu mengerti tentang kesibukan orangtuanya. kini mereka bekerja dalam tantangan ringan hingga terbangun rumah besar nan mewah di kampung kami yang juga menggores sejarah dari raut wajah sang eeng, rambutnya putih dengan uban menyeluruh, yang kadang dia semir mengumumkan kepada teman temanya yang sebaya bahwa dia awet muda lagi tetapi dia juga acap kali berkata bahwa pesta akan bubar setidaknya itu yang menjadi slogan dalam hidupnya. Di usia yang sudah tua bukanya menikmati harta tetapi dia masih mencari harta walaupun hanya dapat sepiring nasi sehari itu pun dia hanya meminta kepada keluarga untuk keikhlasan imbalan menjaga cucu. gelar nama kamipun banyak yang diberikanya cincan untuk bunga, bocah ramai untuk melati, meons untuk aku, dan oyet untuk devi. kami masih ingat gelar itu. selebihnya cucu yang lain tidak mendapat gelar mungkin tergerus oleh usia beliau.

Dia begitu amat senang ketika mendapat uang. dibawanya kedalam mimpinya setiap hari meski mimpi hanya ada tambah dan kurang. Dan Jika menjelang lebaran dia habis-habisan membuat ketupat untuk dijual hingga mengalahkan kami. maka orang-orang menjulukinya juragan ketupat.

Uups… aku baru ingat bahwa aku bisa menganyam ketupat itu berkat eeng. diusiaku yang masih kecil dari jari jemari yang belum mampu mencapai bakat diajarkannya aku yang bebal dengan plus amarahnya. karena amarah itulah aku ingat dan kini aku bangga dengan keahlianku dalam membuat ketupat yang masih kecil keberuntungan orang untuk bisa mengayam seni ketupat yang sudah familiar atau tergerus sekalipun di zamannya.

Tak terasa waktu begitu cepat. membuat cerita kami semakin tersingkat ini sudah saatnya ke pemakaman. para gerombolan orang-orang tadi mulai bubar dan berbaris panjang mengiringi jalan di pemakaman. aku berbareng jalan bersama ibuku sambil membawa racikan pandan yang memiliki aroma sakral tersendiri. Setelah tiba di pemakaman barulah rasa terakhir kalinya pun meluap. Di hati kami semua yang menyaksikan, menderaikan air mata penyelesalan, terlebih orang yang tidak menjenguk dimasa sakitnya. andai uang dapat menolong maka mereka-mereka yang sudah sukses akan memilih hilang uang daripada nyawa beliau. tetapi untuk apa karena penyesalan sudah terjadi dan tak berlaku lagi bergeming waktu yang sudah lewat.

Mataku melayang pandang di pojok makam sana. di bawah rindang pohon ketapang bersungkur duduk di tiang atang. mulutnya berkucap-kucap mengenakan pakaian yang sudah kami hafal ciri khasnya. Tetapi lebih hafal lagi dia tentang kakaknya karena sudah bertahun jelang setengah abad umur mereka berdua. Satu suka satu rasa yang memberi makan alil ketika eeng juga makan. Kami hanya dapat melihatnya dengan penuh pertanyaan entah doa magic apa yang dibacakanya tetapi kami semua sudah maklum akan keadaan otaknya yang tidak pernah dirawat atau didiagnosa oleh dokter.

Begitu pemakaman telah usai, tangis yang terisak memerahkan mata seakan mengadu sesal rindu yang lebih di jalan pulangnya. kami usai memakamkan beliau maka terserah saja mau melakukan kegiatan apa. entah sholat ghoib, membaca yasiin, quran, ziarah, silaturahmi, perbanyak amal ibadah atau lain lainya tetapi kami berharap agar keluarga kami terbimbing kejalan yang benar, terhindar dari api neraka dan dapat menambah extra doa keselamatan bagi beliau. Lalu tentang perawatan adik eeng kami masih menguras kebijakan pemikiran agar lebih tepatnya.

Semoga beliau tenang di alamnya, terhindar dari gelap dan siksa kubur. dan kita sebagai manusia juga pernah merasa salah dan khilaf maka meminta maaflah kesalahan kita terhadap orang lain sebelum orang lain memaafkan kita, dan sholatlah sebelum kita disholatkan dan jangan biarkan qur’an anda di rumah hanya menjadi pajangan bacalah selagi kita masih bisa membacanya karena hidup akan kembali juga kepada tuhannya

Cerpen Karangan: Nurani Aisiyah Tanjung
Facebook: Nurani Aisiyah T
Kembalilah

Kembalilah

Judul Cerpen Kembalilah

“Woi! Ali! Ali!” teriak Indri diantara kerumunan teman-teman lelaki sekelasnya.
“Ah, kok enggak denger sih.” gumam Indri pada sosok yang disukainya tersebut. Rupanya, ada seseorang yang memperhatikannya dalam diam. Sahabatnya, Nia namanya. Nia sinis melihat tingkah laku Indri. Bukan berarti Nia membenci Indri ataupun tidak suka pada Indri. Ia hanya merasa kehilangan sosok Indri yang dulu. Indri yang pemalu, enggak sombong, enggak jutek, semua telah berubah semenjak mereka memasuki jenjang Madrasah Aliyah. Nia merasa sia-sia beberapa kali menasihati Indri. Karena pada akhirnya, Indri pasti mengelak.

Matahari semakin terik menyinari. Namun tak menyurutkan niat Nia untuk menemui sahabatnya satu lagi bernama Riani. Nia menceritakan semuanya pada Riani. Riani memang tak banyak tahu mengenai kedua sahabatnya tersebut. Disebabkan Riani tak lagi satu sekolah dengan mereka. Mereka berpisah setelah lulus MTs. Suasana hening sesaat setelah Nia bercerita.

“Kita harus berbuat sesuatu. Kita harus mengembalikan Indri pada Indri yang dulu. Aku enggak mau, persahabatan yang udah kita jalani selama 3 tahun, hancur hanya karena hal seperti ini.” ucap Riani pada Nia. Mereka mulai berfikir bagaimana caranya untuk mengembalikan Indri, sebelum Indri berubah terlalu jauh.

Kaki baru saja menginjakkan di area gerbang, baju juga masih cokelat pramuka, lengkap dengan kerudung, tas, juga sepatu. Kebetulan guru sedang rapat, jadi murid dipulangkan lebih pagi. Bukan rumah yang menjadi tujuan utama Riani setelah bel pulang berbunyi. Ia baru saja sampai. Untunglah, ia melihat Nia. Nia ingin menunjukkan sesuatu pada Riani. Sesuatu yang cukup mengejutkan. Benar-benar terlihat jelas di mata Riani. Indri dan Ali sedang duduk berduaan di dalam kelas. Entahlah, apa yang sedang mereka bicarakan. Yang jelas, pembicaraan itu terlihat asyik sebab sesekali disertai tawa ringan. Riani langsung nyelonong masuk, tanpa permisi atau sekedar basa-basi. Menarik paksa tangan Indri, membawanya ke luar dan menjauh dari Ali. Indri terlihat kesakitan dan menyuruh Riani untuk melepaskannya.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Aku tahu kamu suka sama dia, tapi bukan seperti ini caranya.”. Indri hanya diam mendengarkan ucapan Riani.
“Kamu sadar kalau kamu berubah? Kamu bukan seperti Indri yang dulu. Indri yang aku dan Riani kenal saat kita masih MTs.”.
“Kita enggak bermaksud untuk mengguruimu. Tapi posisi kita di sini sebagai sahabat kamu. Sahabat yang wajib memberitahu sahabatnya jika ia bersalah”. Indri masih terdiam, tak tahu harus berkata apa. Tampaknya, ia baru menyadari akan satu hal.
“Indri.. Kita sayang sama kamu. Kita mau yang terbaik buat kamu. Kita enggak mau kamu terjerumus pada hal-hal yang tidak benar.”. Indri mulai luluh. Ia meminta maaf pada kedua sahabatnya. Ia berjanji akan kembali menjadi Indri yang dulu. Mereka berpelukan, saling melepas senyum terharu.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Puspita Elfa
Arti Hijabers Sejati

Arti Hijabers Sejati

Judul Cerpen Arti Hijabers Sejati

Aliya memandangi sosok yang kini ada di cermin kamarnya, persis berhadapan dengannya. Di sana, di cermin kamar kosnya, terbentuk sebuah siluet wanita yang amat anggun dengan balutan hijab rapat yang menutupi seluruh tubuhnya.
Sangat cantik, sungguh.
Yaah… itu adalah dirinya sendiri. Aliya anastasya Nadia dengan penampilannya yang baru.

Perasaannya campur aduk antara bahagia, haru, cemas, takut dan juga ragu. Ragu, apakah ia pantas mengenakan pakaian seperti ini setelah apa yang ia lakukan?
Aliya menggelengkan kepalanya kuat kuat, ia tak pantas dengan pakaian serapi ini. Tapi, kembali terngiang ucapan mbak Hana, senior sekaligus guru ngajinya saat ini “kamu tak perlu memantaskan diri dengan cara memperbaiki dulu prilakumu. Tapi perbaiki penampilan sekaligus prilakumu. Jangan menunggu diri merasa pantas untuk berhijab, tapi berhijablah dan jadikan dirimu pantas.” Tutur mbak Hana saat ia mengadukan masalah keraguannya untuk berhijab.
“Berhijab memang tidak membuatmu jadi baik, tapi sudah jelas membuatmu lebih baik. Berhijab juga tidak mengecualikanmu dari kesalahan, namun jelas menjadi salah satu jalan meniti kebaikan. Apa pendapat manusia tentang hijabmu tidak masalah, jika engkau sudah melabuhkannya karena Allah ta’ala” tutur mbak Hana panjang lebar.

Akhirnya, ia memantapkan diri dan perlahan berjalan ke arah pintu kosnya dan ke luar dari sana. Seketika, cahaya matahari menerpa tubuhnya yang kini terbalut pakaian muslimah super rapat. Ini adalah hari pertamanya mengenakan hijab. Ia tak tau harus berbuat seperti apa. Akhirnya ia hanya duduk dan berdiam diri sambil menunggu bus menuju kampusnya datang.

Beberapa menit kemudian, bus rute kampusnya datang, kini ia tidak bersikap grasak grusuk seperti biasanya, ia kini bersikap anggun, dan sabar layaknya seorang hijabers untuk mendapat giliran masuk ke dalam bus yang penuh sesak.

Setelah berada di dalam, ia memang tidak mendapat tempat duduk, sehingga ia harus sabar berdiri kurang lebih 15 menit kedepan hingga sampai di kampusnya. Kalau ia tidak ingat janjinya untuk mempertahankan hijabnya, ia pasti merasa sangat tersiksa. Bayangkan saja, berdiri di antara desakan orang orang, Dalam cuaca yang panas seperti sekarang, ditambah Dengan pakaian muslimah yang kini ia kenakan.
Sabar.. sabar.. Aliya mencoba menyemangati dan menguatkan hati dan diri dengan keadaan ini.

Ia menguatkan hati dan berpikir “mbak Hana aja yang tiap hari ngejalanin rutinitas kayak gini tampak baik baik aja, aku pun pasti bisa!!” tekadnya dalam hati.

Selama 15 menit perjalanan, Aliya terus menerus memikirkan akan seperti apa reaksi teman teman dan sahabat gengnya saat mereka melihat Aliya dengan pakaian seperti ini.

Setibanya di kampus, ia benar benar merasa nervous, ia sampai gemetar dan sempat ragu untuk melangkahkan kaki memasuki gerbang, hingga sebuah sapaan lembut membuyarkan lamunannya.

“Assalamu’alaikum ukhti… Aliya..? subhanallah.. anti cantik sekali..” tutur mbak Nana -sahabat mbak Hana di rohis- sambil menatapnya lekat lekat.
Aliya hanya tersenyum malu mendapat perkataan sarat kekaguman dalam nada bicara mbak Nana.
“Mari ukhti, kita masuk…” ajak mbak Nana sambil menggamit lengannya. Sehingga mau tak mau Aliya terbawa memasuki gerbang, dan benar saja, semua mata kini tertuju padanya.
“Tak usah hiraukan mereka ukhti.. jalan terus saja, tapi sekali kali tebarkan senyuman ramah.” Bisik mbak Nana di telinga Aliya.
Aliya mengikuti saran mbak Nana berpura pura cuek dengan keadaan sekitar.
Hingga..

“Eh buset dah.. Aliya, ni lo kan…? ya ampun.. lo kemasukan jin apaan..? tumben banget pake pakaian kayak gini.?” Teriak Arya -sahabat gengnya- sambil mendekatinya.
Aliya hanya terdiam melihat reaksi dari Arya yang pastinya merasa kaget dengan perubahan style Aliya yang notabene seorang ketua geng motor di kampus mereka.

Tiba tiba sebuah tangan lainnya menarik Aliya dan membawanya ke gudang basecamp mereka dulu. Ternyata yang membawanya adalah Aurel -salah satu sahabatnya yang lain-.
Lalu ia didudukan di sebuah kursi, langsung saja mereka menanyakan alasan kemana saja Aliya selama beberapa minggu ini dan juga kenapa ia mengubah penampilannya.

Akhirnya mau tak mau Aliya menjelaskan alasan hijrahnya.

Flash back on
Aliya sedang berada di sebuah Padang rumput hang gersang dan panas, tak ada siapa siapa di sana. Aliya hanya sendiri. Tiba tiba dari kejauhan, ia melihat segerombolan makhluk mengerikan dan menjijikan berlari ke arahnya. Sepertinya mereka sangat bernafsu untuk segera memakan habis tubuhnya. Lalu datanglah seorang kakek tua di hadapannya dan menghadang langkah makhluk tersebut, lalu kakek tersebut berkata “Rubahlah kebiasaan burukmu sebelum kamu benar benar hancur dimakan oleh mereka” ucap kakek tersebut seraya menunjuk makhluk tersebut. Lalu kakek dan makhluk tersebut hilang.

Kini Aliya berada di sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat jurang amat dalam yang dipenuhi api yang berkobar begitu ganas. Di dalamnya, ia melihat banyak jenis manusia yang sedang mengalami siksa sangat dahsyat, ada yang digantung dengan rambutnya, ditusuk -maaf- kemaluan hingga menembus ke mulutnya, dan berbagai jenis siksaan lain yang sangat menyeramkan.

Dari arah depannya muncul kakek kakek tadi dan berkata “Ketahuilah, semua siksaan itu akan kau alami jika kau tak segera memperbaiki diri dan meninggalkan semua kebiasaan burukmu.” Ucap kakek tersebut.
“Kau mungkin tak tau, bahwa sebab prilaku bejatmu, ayah dan ibumu sengsara di kubur mereka.” Lanjut kakek tersebut tajam dan dalam.
Aliya terhenyak mendengar kenyataan itu, ia tidak akan tega membiarkan ayah dan ibunya menanggung kesalahnnya.

Sekilas, ia diperlihatkan siksaan yang sedang dialami orangtuanya, ia merasa sangat terpukul. Ia memanggil manggil ayah dan ibunya, tetapi mereka hanya sanggup memperlihatkan wajah memohon supaya Aliya berhenti dari segala kebiasaan buruknya.

Ia terbangun dari mimpi buruk tersebut dalam keadaan bercucuran keringat di seluruh tubuhnya.

Keesokan harinya, ia bertekad untuk berhijrah menuju jalan yang diridhoi Allah, ia tidak akan bisa membiarkan orangtuanya yang telah tiada menanggung siksa atas segala kebiasaan buruknya.

Siang harinya, ia mendatangi kos-an tempat tinggal mbak Hana, ketua rohis Putri di kampusnya. Ia mengeluarkan segala unek uneknya dan meminta masukan dari mbak Hana. Mbak Hana bilang “Niatmu sudah baik untuk memperbaiki diri kamu, menjadi muslimah yang baik memang tak mudah awalnya, apalagi bagi seseorang yang keseharianya penuh dengan hura hura. Tapi, tak ada kata tidak mungkin untuk berubah ke jalan yang lebih baik, walaupun sekarang kamu mungkin motivasimu berubah karena orangtuamu, percayalah, suatu saat nanti kau akan merasa bahwa kau berubah karena Allah semata, mbak akan dukung penuh pilihan hijrahmu.” ujar mbak Hana panjang lebar.

“Jadi begitu ceritanya, selama seminggu ini aku belajar memantapkan diri dan mengikuti berbagai seminar tentang hijrah dan memcoba memperkuat akidah dan keimananku, maaf kawan kawan, aku tidak akan pernah lagi melakukan hal hal seperti dulu, aku merasa nyaman dengan keadaan dan pilihan hidupku saat ini, walaupun aku belum baik. Tapi, dengan memakai hijab ini, aku merasa termotivasi untuk menjadi pribadi lebih baik.” tutur Aliya mengakhiri ceritanya.

Selama sesaat, teman temannya termenung, dan tak lama kemudian, mereka serentak menyatakan bahwa mereka akan mengikuti jejak hijrah yang telah dilalui oleh Aliya.

Selesai

Cerpen Karangan: Syarifa Khamila
Facebook: Nurulaini Shinichi Nura Nani