Judul Cerpen Indahnya Negeri Kinanah Di Pagi Hari
Waktu yang berlalu tidak akan kembali datang, melainkan hanya penyesalan. Kadang penyesalan pun jaraknya cukup lama. Hmm, sia-sia sudah. Meski setiap orang diberi nikmat waktu yang sama, namun setiap orang membuahkan hasil yang tidak sama. Setiap orang memiliki aktivitas yang cukup beragam, namun aktivitas siapakah yang nilainya tinggi di hadapan-Nya. Tidak ada yang tahu, kecuali sedikit saja. Iya.
Maha benar apa yang disampaikan oleh tauladan umat di dunia beribu abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW, bahwa nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia diantaranya adalah nikmat sehat dan waktu rehat. Maka, bersyukurlah bagi siapa pun yang ketika bangun di pagi hari memiliki nikmat sehat dan waktu luang. Yang ia bisa manfaatkan untuk mengisi sisa episode hidupnya. Pilihan. Happy or sad choice!
“Alhamdulillah”, itulah yang Aya ucapkan ketika suara adzan subuh bertalu-talu di langit negeri Kinanah yang kali pertama Aya dengar sejak kemarin siang ia tiba di negeri itu.
Aya bersyukur mendapatkan kesempatan bisa menginjakkan kaki di negeri yang menjadi idaman bagi para pencari ilmu itu. Lantaran selama ini Aya hanya beranggan lewat buku-buku yang ia baca. Bahkan bagi Aya ini serasa mimpi. Ia pun masih termenung ingat dengan apa yang ia tulis di dinging kamar kosnya waktu masih kuliah di salah satu kampus di kota Malang. Aya menulis apa saja yang menjadi khayalannya yang ia anggankan sambil membaca buku favoritnya, novel.
Aya pun memberikan tanda centang di sebelah tulisan yang berhasil ia capai, kemudian ia menambah dengan harapan barunya. Bahkan ia juga menuliskan Andalusia. Ya, meski seolah menggambil satu dari sejuta bintang di langit untuk bisa kesana.
“Ah, apa salahnya”, gumam Aya sambil beranjak dari kasurnya. Aya melanjutkan untuk menggambil air wudhu setelah beberapa menit ia habiskan untuk merapikan kamar tidurnya. Aya pun menunggu teman-temannya sambil shalat dua rakaat sebelum subuh.
“Oh ya Nay, disini kalau adzan ndak sama ya seperti di negeri kita?”, tanya Aya penasaran ke teman barunya yang juga sudah siap untuk sholat subuh berjama’ah.
“Maksudnya, apanya yang ndak sama, Ay?”, Nay balik bertanya.
“Ya itu, nadanya, Nay. Kan kalau di negeri kita kan ada nadanya tuh. Bahkan suaranya bagus mendayu-dayu. Nah, ternyata kalau disini pendek-pendek ya. Jadi teringat dengan adzan pertama kali dalam Islam yang dikumandangkan oleh sahabat Nabi SAW yang terompahnya terdengar di surga, Bilal bin Rabbah, itu Nay”, papar Aya dengan semangat.
“Oh, iya Ay. Aku juga suka lho, serasa gimana gitu”, jawab Naya yang juga ternyata sama-sama suka dengan nada adzan disini.
Sholat subuh pun dilaksanakan dengan penuh suasana baru, terlebih bagi Aya yang baru pertama kali, tentunya lebih berkesan dibandingkan dengan teman-temannya yang lain dimana mereka lebih dulu sampai di ujung benua seberang ini.
Suasana baru adalah kesempatan baru yang Allah berikan untuk hambanya yang ingin lebih baik lagi. Karena tak setiap orang menikmati kesempatan yang ada untuk sesuatu yang bisa membuat dirinya jauh dan jauh lebih baik lagi.
Begitupula kesempatan yang telah Allah karuniakan kepada kita, umat Islam, untuk bisa lebih baik lagi. Keruntuhan Islam selain membuat kita tunduk kepada orang-orang kafir, justru di balik hal itu adalah kesempatan yang harus kita manfaatkan agar kita bisa bangkit memimpin dunia kembali. Kita akan ingat kenapa kita bisa mengalami kemunduran, jauh dari peradaban. Itu karena umat Islam tidak memakai Islam dalam kehidupan.
“Oh ya Nay, jadi ingat sesuatu ni…”, lanjut Aya setelah melaksanakan sholat subuh dan dzikir bersama.
“Ingat apa ni Ay?”, sahut Kak Niswah sambil sibuk beresin mukenahnya.
“Hehehe.. ehmm ini lho Kak, kan Mesir itu pas masih hidup dalam naungan Islam sejarahnya bagus banget kan Kak. Menjadi mercusuar dunia, khususnya akan ilmunya. Sampai-sampai menjadi pusatnya ilmu”, jelas Aya dengan antusias.
“Oh, iya Ay. Itu dulu. Tapi saat ini Mesir bisa dikatakan pesonanya tinggal setengah,”, papar Kak Niswah yang langsung dipotong oleh Aya.
“Maksudnya, Kak?”, serbu Aya yang semakin tidak sabar.
“Iya, kan bisa diibaratkan disini itu salah satu negeri gudangnya ilmu, tapi saat ini ilmu itu seolah masih nempel di kitab-kitab aja. Belum bisa kita rasakan di kehidupan nyata. Bahkan di masyarakatnya sendiri pun juga malah belum nampak. Kita masih melihat bagaimana banyak sekali masyarakat yang kurang mampu, hidup mereka terlunta-lunta di jalan, masalah kebersihan yang menjadi sah dan tidaknya dalam ibadah pun juga masih sangat minim kan, kita juga bisa lihat bagaimana di pasar yang jual belinya pun juga banyak kecurangan”. Jelas Kak Niswah dengan penuh semangat.
“Hmm, gitu…” sahut Aya dan Naya yang nggak sengaja sama.
“Wah, terus gimana ni ya Kak?” tanya Aya yang masih belum puas.
“Ya kita harus berubah. Mumpung kita diberikan Allah kesempatan untuk bisa menuntut ilmu dari ‘gudang’ nya langsung. Kita mulai mengamalkan ilmu yang kita dapat dalam kehidupan sehari-hari sebagai tanda ilmu itu bermanfaat. Mempelajari ilmu tidak hanya sekedar kepuasan intelektual ataupun gelar semata”. Jawab Kak Niswah kepada Aya dan Naya.
“Iya ya Kak. Bener.” Gumam Aya sambil manggut-manggut.
Karena kesempatan itu berharga. Aya pun memutuskan untuk membuat dirinya lebih baik. Seindah mentari pagi di negeri Kinanah yang baru saja ia sampai. Karena penyesalan itu tidak mau dating di awal, makanya Aya tak mau menjadi yang terakhir, yakni penyesalan. Jauh-jauh ia memutuskan pergi jauh untuk menuntut ilmu, hingga meninggalkan ibu dan ayahnya.
Cerpen Karangan: Ima Susiati
Blog: imasusiati.blogspot.com
Waktu yang berlalu tidak akan kembali datang, melainkan hanya penyesalan. Kadang penyesalan pun jaraknya cukup lama. Hmm, sia-sia sudah. Meski setiap orang diberi nikmat waktu yang sama, namun setiap orang membuahkan hasil yang tidak sama. Setiap orang memiliki aktivitas yang cukup beragam, namun aktivitas siapakah yang nilainya tinggi di hadapan-Nya. Tidak ada yang tahu, kecuali sedikit saja. Iya.
Maha benar apa yang disampaikan oleh tauladan umat di dunia beribu abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW, bahwa nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia diantaranya adalah nikmat sehat dan waktu rehat. Maka, bersyukurlah bagi siapa pun yang ketika bangun di pagi hari memiliki nikmat sehat dan waktu luang. Yang ia bisa manfaatkan untuk mengisi sisa episode hidupnya. Pilihan. Happy or sad choice!
“Alhamdulillah”, itulah yang Aya ucapkan ketika suara adzan subuh bertalu-talu di langit negeri Kinanah yang kali pertama Aya dengar sejak kemarin siang ia tiba di negeri itu.
Aya bersyukur mendapatkan kesempatan bisa menginjakkan kaki di negeri yang menjadi idaman bagi para pencari ilmu itu. Lantaran selama ini Aya hanya beranggan lewat buku-buku yang ia baca. Bahkan bagi Aya ini serasa mimpi. Ia pun masih termenung ingat dengan apa yang ia tulis di dinging kamar kosnya waktu masih kuliah di salah satu kampus di kota Malang. Aya menulis apa saja yang menjadi khayalannya yang ia anggankan sambil membaca buku favoritnya, novel.
Aya pun memberikan tanda centang di sebelah tulisan yang berhasil ia capai, kemudian ia menambah dengan harapan barunya. Bahkan ia juga menuliskan Andalusia. Ya, meski seolah menggambil satu dari sejuta bintang di langit untuk bisa kesana.
“Ah, apa salahnya”, gumam Aya sambil beranjak dari kasurnya. Aya melanjutkan untuk menggambil air wudhu setelah beberapa menit ia habiskan untuk merapikan kamar tidurnya. Aya pun menunggu teman-temannya sambil shalat dua rakaat sebelum subuh.
“Oh ya Nay, disini kalau adzan ndak sama ya seperti di negeri kita?”, tanya Aya penasaran ke teman barunya yang juga sudah siap untuk sholat subuh berjama’ah.
“Maksudnya, apanya yang ndak sama, Ay?”, Nay balik bertanya.
“Ya itu, nadanya, Nay. Kan kalau di negeri kita kan ada nadanya tuh. Bahkan suaranya bagus mendayu-dayu. Nah, ternyata kalau disini pendek-pendek ya. Jadi teringat dengan adzan pertama kali dalam Islam yang dikumandangkan oleh sahabat Nabi SAW yang terompahnya terdengar di surga, Bilal bin Rabbah, itu Nay”, papar Aya dengan semangat.
“Oh, iya Ay. Aku juga suka lho, serasa gimana gitu”, jawab Naya yang juga ternyata sama-sama suka dengan nada adzan disini.
Sholat subuh pun dilaksanakan dengan penuh suasana baru, terlebih bagi Aya yang baru pertama kali, tentunya lebih berkesan dibandingkan dengan teman-temannya yang lain dimana mereka lebih dulu sampai di ujung benua seberang ini.
Suasana baru adalah kesempatan baru yang Allah berikan untuk hambanya yang ingin lebih baik lagi. Karena tak setiap orang menikmati kesempatan yang ada untuk sesuatu yang bisa membuat dirinya jauh dan jauh lebih baik lagi.
Begitupula kesempatan yang telah Allah karuniakan kepada kita, umat Islam, untuk bisa lebih baik lagi. Keruntuhan Islam selain membuat kita tunduk kepada orang-orang kafir, justru di balik hal itu adalah kesempatan yang harus kita manfaatkan agar kita bisa bangkit memimpin dunia kembali. Kita akan ingat kenapa kita bisa mengalami kemunduran, jauh dari peradaban. Itu karena umat Islam tidak memakai Islam dalam kehidupan.
“Oh ya Nay, jadi ingat sesuatu ni…”, lanjut Aya setelah melaksanakan sholat subuh dan dzikir bersama.
“Ingat apa ni Ay?”, sahut Kak Niswah sambil sibuk beresin mukenahnya.
“Hehehe.. ehmm ini lho Kak, kan Mesir itu pas masih hidup dalam naungan Islam sejarahnya bagus banget kan Kak. Menjadi mercusuar dunia, khususnya akan ilmunya. Sampai-sampai menjadi pusatnya ilmu”, jelas Aya dengan antusias.
“Oh, iya Ay. Itu dulu. Tapi saat ini Mesir bisa dikatakan pesonanya tinggal setengah,”, papar Kak Niswah yang langsung dipotong oleh Aya.
“Maksudnya, Kak?”, serbu Aya yang semakin tidak sabar.
“Iya, kan bisa diibaratkan disini itu salah satu negeri gudangnya ilmu, tapi saat ini ilmu itu seolah masih nempel di kitab-kitab aja. Belum bisa kita rasakan di kehidupan nyata. Bahkan di masyarakatnya sendiri pun juga malah belum nampak. Kita masih melihat bagaimana banyak sekali masyarakat yang kurang mampu, hidup mereka terlunta-lunta di jalan, masalah kebersihan yang menjadi sah dan tidaknya dalam ibadah pun juga masih sangat minim kan, kita juga bisa lihat bagaimana di pasar yang jual belinya pun juga banyak kecurangan”. Jelas Kak Niswah dengan penuh semangat.
“Hmm, gitu…” sahut Aya dan Naya yang nggak sengaja sama.
“Wah, terus gimana ni ya Kak?” tanya Aya yang masih belum puas.
“Ya kita harus berubah. Mumpung kita diberikan Allah kesempatan untuk bisa menuntut ilmu dari ‘gudang’ nya langsung. Kita mulai mengamalkan ilmu yang kita dapat dalam kehidupan sehari-hari sebagai tanda ilmu itu bermanfaat. Mempelajari ilmu tidak hanya sekedar kepuasan intelektual ataupun gelar semata”. Jawab Kak Niswah kepada Aya dan Naya.
“Iya ya Kak. Bener.” Gumam Aya sambil manggut-manggut.
Karena kesempatan itu berharga. Aya pun memutuskan untuk membuat dirinya lebih baik. Seindah mentari pagi di negeri Kinanah yang baru saja ia sampai. Karena penyesalan itu tidak mau dating di awal, makanya Aya tak mau menjadi yang terakhir, yakni penyesalan. Jauh-jauh ia memutuskan pergi jauh untuk menuntut ilmu, hingga meninggalkan ibu dan ayahnya.
Cerpen Karangan: Ima Susiati
Blog: imasusiati.blogspot.com
Indahnya Negeri Kinanah Di Pagi Hari
4/
5
Oleh
Unknown
