A B S

Baca Juga :
    Judul Cerpen A B S

    “Hei sayang kamu cantik sekali” ujar lelaki di dekatku menggoda wanitanya
    “Ah gombal” balas wanita itu
    Tanpa kupedulikan aku yang saat itu sedang duduk diam membaca sebuah novel di dalam kelas pada waktu istirahat pergi berlalu meninggalkan kelas. Hanya satu lokasi yang terpikirkan oleh kepala kecilku ini, yaitu perpustakaan. Aku merupakan salah satu orang yang sulit bergaul dimanapun, jadi kupikir aku tidak memiliki teman.

    Beberapa menit kemudian sampailah aku disana. Ketenangan dan kesunyian khas sebuah perpustakaan memang sebuah surga, tanpa gombalan, orang pacaran, orang bermain game dan sebagainya. ini jauh berbeda ketimbang sewaktu di kelas, mereka semua berisik, dan itu menggangguku saat membaca, ya, aku tau toleransi, dan juga ini waktu istirahat, tapi aku tetap tidak menyukai mereka, karena mereka mengusikku saat membaca novel.

    “Ting tong ting tong ting tong” bunyi bel masuk istirahat berbunyi
    Tapi aku enggan kembali ke kelas kupikir bolos 2 jam pelajaran terakhir juga nggak papa, lagian aku juga nggak suka cara ngajar gurunya.

    Tanpa mempedulikan bel masuk istirahat aku tetap di perpustakaan dan membaca dengan gontainya.
    “Heii, kamu yang disana” ujar seorang perempuan di dekat pintu perpustakaan yang mungkin memanggilku. Tapi tak kupedulikan karena aku takut salah sangka walaupun di perpustakaan hanya aku sendiri, sementara penjaga perpus sedang pergi.
    “Heiii, jawab aku” katanya lalu menepuk pundakku.
    “Oh, ada apa?” sambil membalikkan badanku, kulihat seorang perempuan dengan tinggi kurang lebih 160 cm dengan rambut hitam terurai ke belakang dengan kulit putih dan kacamata hitam yang terpasang di tubuhnya juga demikian dengan rok panjang semata kaki dan mata belonya juga hidung mancungnya, sungguh luar biasa.
    “ikut aku” katanya lalu menarik tanganku
    “Ga, aku gak mau” tolakku lalu menepis tangannya dari tanganku.
    “Ikut aku” dengan tatapan tajam dengan aura buruk di sekitarnya Aku pun mengikutinya dan membawaku ke suatu tempat.

    Tanpa mengucap satu patah katapun aku terus mengikutinya walaupun dengan tangan tergenggam olehnya. Dan Tempat yang dituju adalah atap gedung sekolah. Dengan hembusan angin yang kencang nan dingin menyambutku disana.
    “Hei kenapa kamu membawa aku kesini?” tanyaku padanya memecah keheningan
    “Sst jangan berisik” lalu menutup mulutnya dengan jari telunjuk lentiknya padaku. dan berjalan ke ujung atap
    “Ooh, iya, lalu kenapa kamu membawa aku kesini, aku gak kenal kamu, jadi kenapa membawa aku kesini?” sambil kudekati kutanya lagi kali ini dengan suara agak berbisik
    Ia yang sedang berdiri di dekat pembatas antara ujung gedung lalu mendekatiku yang hanya berjarak beberapa langkah.
    “Hmm menurutmu apa?” tanyanya manis berpura pura tidak tahu dengan menempatkan jari di pelipisnya dan mata yang hanya terarah ke sudut sudut lain selain ke arahku.
    “Aku gak akan tanya kalau aku tau jawabannya!!, dan juga kamu belum jawab pertanyaanku yang satunya!!” kataku sewot dengan muka menyebalkan.
    “Apa itu benar?”
    “Lalu kenapa kamu tanya pada dirimu sendiri kenapa kamu butuh teman?” tambahnya lagi menanyaiku.
    Aku terpaku diam seribu bahasa dan tak sadar akan apa yang diucapkannya, karena saking terkejutnya aku.
    “Ka-kamu bilang apa tadi” tanyaku gagap
    “kalau kamu mendengarnya kenapa kamu pura pura bertanya” ucapnya seakan membalikkan pernyataanku sebelumnya
    “Kamu siapa!!!” tanyaku marah padanya
    “Aku cuma teman sekelasmu, jangan marah begitu dong” balasnya mencoba menenangkanku
    “Aku nggak punya teman jadi aku nggak pernah kenal sama kamu, jawab jujur!!, siapa kamu!!!” tanyaku lagi
    “Karena itulah kamu nggak punya teman, huh sangat disayangkan padahal kamu cakep kok” balasnya
    “Apa kamu bilang!!, aku bukan nggak punya teman, aku hanya-ha”
    “Jangan cari alasan dan buktikan kalau itu salah” katanya memotong perkataanku.
    “Aa-aa-aa” jawabku gagap
    “Gimana kalau kita bermain sebuah permainan, kalau kamu menang aku percaya apa yang kamu ucapkan.”
    “A-apa?” kataku tiba-tiba kehilangan fokus akan semua percakapan tadi dan melupakannya.
    “Permainan ini, hmmm, sebenarnya aku nggak tau namanya apa tapi intinya akan ada dua orang yang bertanding untuk memenangkan pahamnya sendiri, pemain dikatakan menyerah jikalau salah satu orang berkata menyerah, gimana seru kan?”
    “Ha?” tanyaku agak bingung dengan penjelasan singkatnya
    “Baiklah kumulai.” katanya
    “kalau kamu punya teman kamu bakalan ngerasain apapun termasuk” katanya lalu membuka satu persatu kancing bajunya. Belum sampai kancing pertama dibuka
    “apa yang kamu lakuin ha!” kataku menyela perbuatannya
    “Ini, ini cuma apa yang dilakuin kalau kau punya teman” katanya lalu melepas kancing baju SMA yang paling atas.
    “Ha?, apa katamu, apa hubungannya ini dengan pertemanan!!” balasku
    “Kita masih dalam permainan, belum ada yang menang maupun kalah” membalasku dan mengubah topik pembicaraan
    Permainan, permainan macam apa ini, apa kau gila di depanmu ada seorang laki laki berumu 16 tahun, apa kau tidak punya malu ha, hanya sekedar permainan kenapa kau sampai segitunya!!, tunggu kalau aku menyelesaikan permainannya dia akan berhenti, tapi bagaimana caranya, aku nggak mudeng akan apa yang dia omongin tadi
    “klik” bunyi kancing kedua terlepas
    Hei berpikir, pikir, pikir… ooh,
    “Pertemanan cuma hal berengsek”
    “Apa katamu?” balasnya menghentikan aksi nekatnya itu
    “Pertemanan cuma hal berengsek, pertemanan cuma hal berengsek, pertemanan cuma hal berengsek, pertemanan cuma hal berengsek…” kataku lalu mengerang di bagian akhir.
    “Pertemanan, cuma orang bodoh yang akan memiliki sebuah teman, teman hanyalah kata kata sampah, mereka bilang teman itu terhebat dan sebagainya, tapi apa mereka semua cuma pengkhianat, maka dari itu aku nggak percaya teman!!” tambahku lalu mengakhirinya.
    “Oh, begitu ya jadi…”
    “Apa gunanya tidak memiliki teman” membalasku dengan muka seriusnya
    Aku terpaku kembali akan apa yang ditanyakan olehnya
    “he-hei apa yang mau kamu lakuin!” tanyaku ketakutan saat melihatnya melewati pembatas atap.
    “Aku, aku cuma ingin menyelesaikan permainan kok, cuma dengan cara ini doang biar ada yang menang” jawabnya dengan santainya
    “Jangan gila, tadi kau ingin melepas bajumu, sekarang kau ingin melompat dari Gedung yang tinggi ini, apa kau nggak waras, cuma sebuah permainan kau ingin melompat dari sana, kau gila benar-benar gila!!!”
    “Balik ke sini!!!” perintahku padanya
    “Kamu tau seperti inilah kalau kamu nggak punya teman, berdiri di sebuah tempat sempit, berada di ambang sebuah kematian, tempat hampa dengan angin mematikanlah yang cuma ada sekitarmu” balasnya melanjutkan permainan ini
    “H-he-hei a-ap-a kamu benar benar ingin melakukannya” kataku ketakutan saat ia mulai menghirup nafas panjang dan lalu melepaskannya
    “Hei” kulihat kakinya bergetar
    “Heii” kataku ketakutan
    “Selamat tinggal” katanya lalu senyum ke arahku dengan wajah canitknya
    “Tung” Ia lalu meloncat di ketinggian gedung 4 lantai ini.
    “Tunggu” kataku lalu mengejarnya juga dengan melewati pembatas yang hanya setinggi setengah meter lalu meloncat ke bawah.
    “Hwaaaaaah” teriakku ketakutan

    “Eh” kataku kebingungan akan apa yang terjadi setelah sebulmnya meloncat entah kenapa aku ada di sebuah tanah subur dengan banyak pohon dan bunga yang di tengah tempat ini terdapat sebuah danau yang sangat bening
    Mana mungkin apa yang terjadi setahuku aku meloncat untuk mengejar perempuan itu, tapi kenapa tiba-tiba di sini, dan juga ini dimana
    “Rian ini untukmu” suara perempuan tadi muncul tiba tiba di depanku dan terlihat ada sebuah tangan menghampiriku saat aku sedang menunduk dan di tangannya tersebut terdapat sebuah surat dan sebuah Cincin berlapisi emas dengan goresan yang tertulis disana adalah A. B. S.
    Kutegakkan kepalaku dan terlihat perempuan tadi sekarang memakai sebuah terusan berwarna hitam dengan sepatu berhak tinggi sekitar 3-7 cm dengan bando hitam terpasang di kepalanya, tapi entah kenapa sekarang ia tidak memakai kacamata hitamnya, dan juga rambutnya dikuncir ke belakang seperti kuncir kuda.

    “Aaa”
    “Aaa?”
    “Ka-kamu, siapa kamu sebenernya?” tanyaku padanya dengan suara bergetar.
    “Aku ya, mmm gimana ya aku ini bisa dibilang A. B. S, tapi kamu bisa panggil aku Mitch kok” jawabnya dengan ceria
    “Aku adalah temanmu, mungkin?, yang jelas aku ini dekat denganmu” katanya
    “Tapi di dunia lain” tambahnya dengan suara yang hampir tak kudengar
    “kamu bilang apa tadi?”
    “Aku adalah temanmu, mungkin?, yang jelas aku ini dekat denganmu, itu yang kukatakan”
    “Bukan itu, tapi setelahnya”
    “Aku nggak bilang apa apa kok” lalu membalasku dengan senyuman menawannya
    “O-oh”
    “ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya”
    “Soalnya tugasku udah selesai” dengan suara kecil seperti tadi ia mngucapkan, terdengar tapi tak jelas apa yang ia ucapkan, hanya seperti ia bergumam sendiri, kali ini aku tidak tanyakan

    “Hai! tunggu kamu bilang pergi, bagaimana kamu bisa pergi setelah membawa aku kesini”
    “Oh, maaf, tapi setelah aku pergi kamu juga akan pergi sendiri kok” jawabnya ringan
    “lagipula waktuku sekarang sudah habis”
    “Apa yang dari tadi kamu omongin sih gak jelas banget, dari dunia, pergilah, waktulah, kamu itu siapa sebenarnya!!” tanyaku nyolot
    “Aku A. B. S kan aku udah bilang, dan juga jangan pernah hilangkan cincin itu ataupun sampai merobek surat itu ya”
    “Ha Surat, ah maksudmu ini, hei Jawab aku siapa kamu!!”
    “Selamat tinggal”
    “He-”

    “Oh sudah sadar ya, Rian”
    “Aa-ah iya” kataku yang entah mengapa ada di ruang UKS bersama wali kelasku Bu Rida
    “Apa mau diantar ke rumah?, tadi juga Ibu udah bilang ke ayahmu dan ayahmu bilang bakal nyampe bentar lagi”
    “A-ah iya Bu”
    “Kalau gitu ibu tinggal dulu ya, sebentar lagi ayahmu datang, dan juga itu ibu nemu surat sama cincin di sakumu waktu kamu jatut di kelas tadi”
    “Ha, kenapa bu? kenapa aku disini?”
    “Kamu jatuh kepleset waktu lagi lari di kelas, terus kamu pingsan waktu kepalamu kebentur lantai makanya ibu bawa ke ruang UKS, lagipula kenapa kamu lari sih?”
    “Aku, nggak tau bu aku lupa”
    “Oh, ya udah istirahat dulu sana sebelum dijemput, ibu tinggal dulu ya”
    “I-iya bu”

    Aku bingung, kenapa aku disini, setahuku, setahuku, aku lupa tee-hee
    Tapi tadi bu guru bilang ada surat sama cincin di sakuku, coba kuliatlah
    “Eh, nggak ada, masa hilang sih!!” ucapku kaget setelah memeriksa seisi kantongku tidak ada isinya”
    Kuperiksa di sekitar kasurku dan ternyata kudapati terdapat di bawah bantalku sebuah cincin emas bergoreskan A. B. S dan juga sebuah surat dari MITCH
    “Ha ini apa tulisan macam apa ini gak jelas banget, berubah? Apa maksdunya coba, ah gak peduli.” kataku setelah membaca surat itu dan terlihat ada sebuah robekan kecil di ujung kanannya, mungkin karena aku jatuh, tapi aku nggak ingat sama sekali. Dan setelah itu kulanjutkan Tidur dan menunggu ayah.

    Surat itu berisi

    Untuk Rian
    Aku adalah Mitch atau A. B. S, oh iya A. B. S adalah Alam Bawah Sadar, jadi kupikir kita berdua ada di alam yang berbeda.
    Setelah membaca ini mungkin kamu bingung karena tulisan ini kau tidak ingat sama sekali, jangankan tulisannya mendapatkannya saja sudah tak tahu darimana, tapi meskipun begitu kalau surat ini tersampaikan itu tandanya kamu sudah kembali ke tempat asalmu, dan juga kalau kau sampai membaca ini berarti kepribadianmu sudah berubah menjadi 180 derajat dan semua kondisi, lingkungan, serta orang orang di sekitarmu juga berubah sepertimu, walau kau bilang mustahil tapi itu terjadi, walau sekalipun tidak ada buktinya ini tetap terjadi, juga dengan ingatanmu, ingatanmu juga berubah dan kami A. B. S ada, terdapat setiap orang. Oh iya apa kamu mempunyai teman ataupun pacar dan sebagainya?, aku harap kamu punya karena dunia sudah berubah, oh, sampai disini dulu ya, aku nggak tau mau nulis apa lagi
    Mitch (A. B. S)

    Cerpen Karangan: Da Pervi
    Blog: myexperimenforliterature.blogspot.com

    Artikel Terkait

    A B S
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email