Showing posts with label Cerpen Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Keluarga. Show all posts
Hurt

Hurt

Judul Cerpen Hurt

Hari itu, hari yang kutunggu-tunggu. Hari yang selalu kuharapkan. Hari yang kupikir akan menjadi kenangan yang indah. Adalah awal kehancuranku.

Hari itu, semua musnah. meninggalkan rasa sakit dan kehampaan. Hari dimana peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang merenggut kebahagianku. Peristiwa yang mengambil mereka, orangtuaku untuk selamanya.

Di bawah guyuran hujan aku menyaksikan sendiri. Betapa tak berdayanya mereka, orangtuaku.

Sejak hari itu semua menjadi berbeda. Hanya ada tatapan iba dan rasa kasihan mereka untukku. Membuatku muak. Membuatku terjerat dalam sepi dan tak ingin beranjak darinya.

Sampai dia hadir menghancurkan pertahananku. Ashad, begitulah mereka memanggilnya. Murid pindahan dengan wajah tampan dan tingkah konyolnya. Mengulurkan tangannya kepadaku dan menawarkan sebuah pertemanan.



Kring kring kring
Bel masuk pun berbunyi. Siswa-siswi menempati kursinya masing-masing. Sunyi. Sampai akhirnya bu Rika, guru matematika kami pun masuk.

“Selamat pagi anak-anak” sapanya dengan ramah.
“Selamat pagi bu” sapa kami serempak.
“Oh ya hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk nak Ashad” kata bu Rika memanggil Ashad.
“Silahkan perkenalkan dirimu terlebih dahulu” lanjut bu Rika.

“Perkenalkan nama saya Ashad, Ashad Firaz Dhyiaulhaq. Pindahan dari SMAN 3 Bandung. Sekian”
“Silahkan duduk di samping Adna. Adna angkat tanganmu” perintah bu Rika.
Aku mengangkat tanganku. Memasang wajah dingin yang menjadi perisai tiga bulan terakhir ini. Aku hanya tak ingin dia mengganggu ketenanganku. Tapi..

“Hai, gue Ashad. Salam kenal” Ashad mengulurkan tangannya dihadapanku.
“Adna Abira Ganiyah” ucapku dingin tanpa membalas uluran tangannya.
“Ohh oke” dia menarik uluran tangannya kembali.
Perkenalan ini menjadi awal kedekatan kami. Bukan, bukan kami tapi dia yang selalu menempel padaku. Risih? Pasti, aku sudah terbiasa sendiri.

“Na.. Na.. Pelan dikit kek jalannya” protesnya.
“Gue gak minta lo buat ikut sama gue” ucapku dingin.
“Iya iya tapi bisa kan pelan dikit jalannya” ucapnya memelas.
Membuatku tak bisa menahan senyum. Tanpa tersadar aku memendekan langkahku.
“Nah gitu kek dari tadi” ucapnya dengan senyuman khasnya.
Awalnya aku merasa risih karena dia terus mengikutiku. Tapi akhirnya aku terbiasa dengannya. Tanpanya aku merasa sepi.

Rintik hujan mulai turun membasahi jalan. Hari ini kami akan menghabiskan waktu bersama. Senang rasanya bisa berkumpul dengan mereka karena jarang sekali orangtuaku memiliki waktu luang seperti ini.

Suasana di mobil saat itu sangat menyenangkan. Kami bernyanyi dan bersenda gurau bersama. Sampai..
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku melihat wajah papa yang memucat. Mama yang berteriak, meminta papa untuk berhati-hati. Seketika suasana menjadi tegang. Sampai di detik berikutnya mobil yang dikendarai papa sudah menabrak pohon di depan kami.

Aku merasakan sakit yang luar biasa. Tak tertahankan. Sayup-sayup aku mendengar seseorang berteriak, meminta bantuan karena ada sebuah kecelakaan.

“Kecelakan? Benarkah?” tanyaku dalam hati. Aku membuka mataku, untuk pertama kali nafasku tersedat. Tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mereka, orangtuaku, ada darah menyelimuti tubuh mereka. Tak bergerak.

Keringat dingin membasahi dahiku. Mimpi buruk itu lagi. Sampai kapan aku harus terperangkap seperti ini. Menyakitkan.

Hari ini aku memilih untuk beristirahat di rumah. Menenangkan diri.
Aku memilih pergi ke taman dekat rumah. Di siang hari yang terik ini banyak sekali anak-anak yang sedang bermain. Melihat senyum mereka membuatku ikut tersenyum.

Entah karena apa airmataku menetes. Disaat itu juga aku melihat sebuah saputangan di hadapanku.

“Hapus airmata lo. Gue gak suka liat lo nangis” ucapnya tanpa menatapku. Aku mengambil saputangan pemberiannya.
“Kenapa lo ada di sini?” tanyaku heran.
“karena lo ada di sini” jawabnya.
Hening, tak ada satu pun dari kami yang berbicara setelahnya.

“Kalo lo ada masalah cerita sama gue. Gue di sini ada buat lo” ucapnya meyakinkanku.

Aku ingin mempercayainya. Membuka diri dan menceritakan masalahku padanya. Tapi mampukah aku melawan rasa takutku? Mampukah aku untuk berdiri tegak bila merasakannya kembali? Mampukah?

Dua Tahun Kemudian
Aku memutuskan untuk berhenti, berhenti merasakan sakit. Mencoba membuka diriku dan berdamai dengan masa lalu.
Aku ingin menceritakan segalanya pada Ashad hari ini. Seseorang yang tetap berada di sisiku meski aku memintanya pergi. Seseorang yang tak pernah menyerah.

“Woy..” teriaknya ditelingaku.
“Apaan sih lo?” tanyaku ketus.
“Salah lo sendiri ngelamun. Ngelamunin jorok ya lo?” tanyanya menggodaku.
“Ish itu mah lo bukan gue” ucapku ketus.
“Jadi apa yang mau lo omongin ke gue?” tanyanya.

“Emm.. Dulu lo pernah bilang gue bisa cerita apapun masalah gue ke lo. Itu masih berlaku?”
“Emm..”
“Nyokap, bokap gue udah gak ada” ucapku.
“Gak ada? Maksud lo?” tanyanya meminta penjelasan.
“Kecelakaan mobil” aku tidak menjawab pertanyaannya tapi melanjutkan ucapan ku.
“Maksud lo? Gue gak ngerti” tanyanya lagi.
“Nyokap bokap gue udah gak ada. kurang lebih 2 tahun yang lalu. Kecelakaan mobil. Kita bertiga. Cuma gue yang selamat. Sampe sekarang rasa sakitnya masih kerasa. karena itu..” Aku tak sanggup melanjutkannya. Terlalu menyakitkan.
“Karena itu lo nutup diri? Takut kehilangan? Lagi?” tanyanya memastikan. Melihat airmataku menetes dia merengkuhku dalam peluknya. Membisikan kata-kata penenang.
“Gak perlu ngomong apapun lagi. Gue ngerti” ucapnya.
“Gue gak bisa janjiin apapun sama lo tapi gue pastiin selama lo butuhin gue, selama itu juga gue bakal ada di samping lo” lanjutnya.

Sangat melegakan. Seharusnya aku melakukan ini dari dulu. Bukannya menutup diri dan terbelenggu dalam rasa sakit. Penyesalan memang selalu ada di akhir bukan?

End

Cerpen Karangan: Mipta Hulzanah
Facebook: nur.hulzanah[-at-]facebook.com
Emas Berharga

Emas Berharga

Judul Cerpen Emas Berharga

Dia tak kunjung sembuh. Sudah bertahun-tahun dia mengidap penyakit itu. Bagaimana bisa, aku pun tak percaya. Tapi aku baru mengenalnya selama sebulan. Karena aku baru pindah ke rumah ini sebulan yang lalu. Dan walaupun aku baru sebulan mengenalnya, aku tahu seluk beluknya. Banyak cerita yang sedikit demi sedikit mengalir dari mulut ke mulut. Sehingga cerita itu sampai padaku. Cerita itu sungguhan, bukan rekaan. Dan hal ini membuatku merasa kasihan padanya.

Kesehariannya hanya di kamar, tidak bekerja, hanya makan, tidur, dan jalan-jalan di sekitar rumah. Setiap sebulan sekali dia periksa ke dokter. Dan tepat satu bulan obatnya habis dicerna oleh perutnya. Sungguh kasihan. Aku saja tidak tega melihatnya. Kamarnya saja sudah berbau obat dan apek. Selimut-selimut berteteran tidak jelas di kamarnya. Pertanda dia selalu tertidur sebagian besar hari dengan selimutnya.

Air putih bertumpahan di lantai kamarnya, karena dia selalu meminum air sambil tiduran. Jika bangun sebentar, dia selalu pusing. Kecuali kalau bangun lama. Kalau mau bangun lama dan jalan-jalan, ia selalu bangun pelan-pelan. Itu justru membuatnya tidak pusing. Kalau makan, sama saja. Dia selalu makan di kamar sambil tiduran. Kadang disuapi oleh ibu.

Umurnya kira kira 24 tahun. Tetapi wajah dan sekujur tubuhnya sudah keriput dimakan penyakit yang dideritanya. Giginya sudah keropos, hitam, berlubang, pokoknya sudah tidak pantas. Rambutnya tidak karuan, selalu teracak-acak karena rontok sehingga menjadi tidak rapi. Matanya lebam, pucat, memiliki kantung mata yang sangat dalam, seperti orang baru bangun tidur. Sudah tidak ada lagi kemungkinannya untuk bekerja dengan kondisi fisik dan kesehatannya yang memprihatinkan seperti itu. Apalagi menikah.

Padahal pada usia-usia itu, sedang subur-suburnya seorang pria. Sedang produktif-produktifnya seorang pria. Dan sedang manis-manisnya masa-masa seorang pria. Namun sayang, semua itu tidak bisa dirasakan oleh dia. Kakak tiriku.
Benar. Kakak tiriku. Jadi ceritanya begini.

Ibuku meninggal sebulan yang lalu, ketika itu beliau terkena penyakit gagal ginjal. Sehingga dia harus pergi ke alam lain. Aku ditinggal sendiri bersama ayah. Sehingga ayah harus menikah lagi untuk mendapatkan pendamping hidup. Begitu pula aku yang masih harus mendapatkan kasih sayang dari orangtua. Tidak apa-apa bagiku, walaupun awalnya berat untuk memiliki ibu tiri, tapi ini yang terbaik untukku.

Tepat sebulan lalu, aku pindah ke rumah ini bersama ayahku. Memang pada dasarnya ayahku adalah orang yang tidak punya. Sehingga ayah terpaksa selalu hidup menumpang di rumah istrinya. Oh ya, ibu tiriku ini adalah seorang janda. Sama seperti ayah, ibu tiriku juga ditinggal suaminya karena memiliki penyakit. Sungguh malangnya mereka berdua.
Tetapi sekarang, mereka dipersatukan dan telah menjadi insan yang berbahagia. Bersama aku, dan anak darinya, yang tadi aku ceritakan.

Kesehariannya sangat berbeda denganku. Ketika aku bangun pagi-pagi untuk persiapan sholat subuh ke masjid, dia masih tidur. Bukannya memohon kepada Tuhan agar penyakitnya disembuhkan, tetapi dia tidak peduli. Ini juga menjadi penghambatnya mungkin. Kasihan sekali, bahkan ayah dan ibu sudah mencoba mengatakan soal ibadah padanya. Namun dia selalu menghiraukan itu dan tidak peduli. Apalagi dia seorang pria! Paling tidak dia berusaha untuk ibadah saja sudah cukup menurutku.

Lanjut. Ketika pukul setengah tujuh pagi, waktu dimana aku akan berangkat sekolah, dia masih tidur. Benar-benar tidak memikirkan soal ibadah. Aku yakin dia akan mendapatkan pencerahan kalau dia sholat. Kalau dia semangat dan mendekatkan diri pada Tuhan. Dia bangun biasanya jam delapan. Itu pun masih malas-malasan di kasur. Maklum saja, karena dia kan punya penyakit ganas. Tapi kalau soal ibadah, cobalah dipikir lagi.

Waktu aku pulang, belum pasti. Biasanya dia sedang tertidur atau sedang di depan rumah menikmati indahnya dunia sebelum terlambat. Iya! Aku berani mengatakan seperti itu! Karena saking ganasnya penyakit yang dideritanya, membuat ia hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi untuk hidup. Penyakit ini sudah dideritanya setahun yang lalu. Ia divonis oleh dokter bahwa beberapa bulan lagi ia akan pergi ke alam lain.

Aku tidak tahu bagaimana kejadian ketika dokter memvonis akan jangka waktu hidupnya karena aku belum di sini. Yang jelas aku mendengar semua ini dari mulut ke mulut. Kan tadi aku sudah bilang. Kasihan. Orang-orang sini pun juga sering khawatir akan keberadaannya.

Bagaimana dengan rumah sakit? Mengapa tidak suruh opname di rumah sakit saja? Oh. Pertanyaan yang bagus. Asal kalian tahu. Kami tidak memiliki cukup uang untuk menginapkannya di rumah sakit. Kami hanya memiliki uang untuk berobat ke dokter biasa saja. Dan hanya diberikan obat yang satu bulan habis. Belum pasti sembuh, hanya perelaksasi dan penenang saja. Juga ada penghilang rasa sakit.

Komplikasi, dengan stadium yang berbahaya. Terutama jantung, dan pankreas.
Oh! Tidakkah kalian kaget?
Dia lahir tanggal 23 April 1989. Ketika itu, dia masih sehat-sehat saja. Ya iyalah. Namanya saja baru lahir.
Bukan, maksudku bukan itu. Masa-masa sekolahnya dulu sangat membahagiakan. Masa SD, SMP, dan SMK, karena dia masuk ke SMK bukan SMA. Jurusannya teknik mesin. Namun sekarang semua ilmu itu tidak bisa bermanfaat karena, yah baru saja aku ceritakan.

Setelah lulus SMK, dia bingung karena untuk memulai sebuah pekerjaan adalah suatu hal yang sulit baginya. Sehingga dia mencari peluang lain untuk bekerja. Salah satu temannya, yang berusia dua tahun lebih tua memberikan kabar bahwa ada suatu proyek pembuatan beberapa unit mobil di luar pulau. Hal ini tentu sesuai dengan keahliannya sebagai seorang teknik mesin. Langsung tancap gas, dia langsung menyetujui permintaan itu. Habis mau gimana lagi, tidak ada pekerjaan lain selain ini. Tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi.

Simulasi kejadian 5 Februari 2008, hari dimana dia berangkat untuk bekerja di luar pulau.


Awalnya ibu tidak memperbolehkannya bekerja di luar pulau karena terlalu pemula baginya untuk merawat diri sendiri. Dari dulu kaka tidak pernah mandiri. Untuk mencari makan sendiri saja mungkin susah. Apalagi kalau bekerja di luar pulau. Ibu tidak tega dan pada akhirnya ibu melarang.

Tapi kakak berusaha meyakinkan ibu akan pentingnya hal ini. Kakak juga meyakinkan ibu bahwa di sana ia akan baik-baik saja. Akhirnya ibu pun percaya ketika kakak sudah memaksa membeli tiket bus untuk ke bandara sebelum dia mengatakan hal itu.

“Ibu, aku berangkat dulu ya. Mohon doa dan restunya.”
“Pasti nak, kamu hati-hati di sana. Ingat janji kamu.”
“Iya bu, satu tahun lagi aku pulang kok. Udah bawa uang yang banyak untuk ibu.”

Cerita dari ibu membuatku membayangkan bagaimana kondisi ketika kakakku akan berangkat. Kurang lebih seperti itulah. Pada saat itu dia masih segar bugar tanpa penyakit apapun. Tapi darimana asal penyakit yang tadi aku ceritakan?
Sebentar. Aku belum ingin menceritakannya.

Pada masa ini, aku belum di sini. Ibu kandungku masih hidup sehingga aku masih bersama ibu kandungku, dan ayahku di sana. Aku datang ke sini pada saat dia sudah pulang dari pekerjaannya. Begitu aku datang, keadaanya sudah seperti yang tadi aku ceritakan. Aku tidak berani bertanya, hanya mendengar cerita yang mengalir dari mulut ke mulut saja. Dan pada akhirnya aku pun tahu.

Kau siap?

Sebenarnya di sana dia memang bekerja. Tetapi, dia tidak ingat Tuhan yang selalu mengawasinya. Sudah kelihatan dari gerak-geriknya di rumah setelah pulang. Ketika sudah disuruh orangtuanya untuk sholat saja tidak mau, apalagi di sana, keadaannya sendirian. Ibupun tidak tahu apa-apa akan apa yang terjadi di sana. Pokoknya ketika kakak pulang, ibu langsung pergi ke rumah sakit.

Loh, memang apa!

Jantung, dan kanker pankreas yang menyerangnya.
Ratusan pil narkoba yang telah membenih di lambungnya.
Jutaan mili alkohol yang telah mengalir melalui kerongkongannya.
Beribu-ribu asap rokok yang telah mewarnai mulut dan giginya.
“Astaghfirullah nak! Apa yang telah kau lakukan?!”

Kasus yang sudah biasa. Ketika seorang anak meninggalkan orangtuanya ke perantauan yang kebudayaannya jauh berbeda dari kampung halamannya. Saking tidak ingatnya dia pada Tuhan. Aku pun tidak menyangka dia melakukan itu, demi kesenangan belaka. Hingga pada akhirnya dia merasakan akibatnya yang sangat pedih.
Semua yang dia miliki hilang begitu saja ditelan penyakit. Alat-alat tubuhnya, alat indranya, sistem tubuhnya, semuanya hilang. Dia hanya bisa terbaring di kasur rumah sakit dan menikmati bau infus serta birunya atap rumah sakit pada saat itu. Ditambah jarum-jarum yang menusuk kulitnya. Sungguh kasihan.

Pada saat itu ibu hanya bisa menikmati kesedihan yang melanda hatinya, serta memohon doa pada Tuhan. Yang dia inginkan adalah anaknya sembuh. Yah bagaimana lagi, itulah hukuman bagi orang yang lupa pada Tuhannya. Tapi kita tetaplah harus berusaha dulu.
Kakak juga sadar akan apa yang telah ia lakukan, ia tidak akan mengulanginya lagi. Ya iyalah, namanya saja sudah dihukum dengan penyakit. Dia hanya bisa pasrah dan menikmati sisa-sisa dunia.

Karena keterbatasan biaya untuk opname di rumah sakit, kakak terpaksa harus dibawa pulang ke rumah. Walaupun penyakit masih ada di tubuhnya. Hingga pada akhirnya, kakak hanya bisa periksa kesehatannya ke dokter biasa, bukan ke rumah sakit. Itu pun hanya diberi obat penenang dan penghilang rasa sakit saja, belum pasti sembuh.

Ibu bingung apa yang harus dilakukannya ketika sudah terjadi seperti ini. Yang jelas ibu bingung. Tetangga samping rumah pun juga bingung. Lah siapa yang tidak bingung kalau keadaanya seperti ini. Semua ini karena ulahnya yang macam-macam di sana. Ingkar janji pada ibunya. Yang katanya akan bekerja dan membawa pulang uang yang banyak, tapi nyatanya. Memang sih ia bekerja, tapi ternyata pekerjaan sampingannya adalah mabuk-mabukan.

Beberapa tahun kemudian, aku dan ayahku datang ke kehidupan ini. Kehidupan dimana aku hidup bersama ibu tiri dan kakak tiri, iya, dia maksudnya. Pertama aku datang ke sini aku bingung, Yang aku tahu dia hanyalah kakakku. Sudah itu saja. Aku pertama kali melihatnya seperti terkena penyakit biasa saja. Seperti panas, atau lainnya.
Tapi semua itu terungkap ketika banyak cerita yang mengalir dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai pada telingaku. Mendengarnya saja kaget. Ketika aku mendengar itu, ceritanya sama persis ketika kalian membaca paragraf sebelumnya. Aku pun tidak menyangka, dan akhirnya aku tanya lebih dalam tentang dia ke ibuku.
Aku tidak berani mengatakan sesuatu dengannya, karena dia selalu berada di dalam kamar. Kadang jalan-jalan, seperti yang tadi aku ceritakan. Hanya aku yang hawanya takut mengatakan sesuatu padanya. Entah apa yang aku takuti selama ini. Yang jelas, aku takut mengganggunya saja.

Aku juga sering menemui keadaan dimana dia periksa ke dokter. Dia jalan menuju depan rumah, kemudian dituntun membonceng sepeda motor bersama tetanggaku yang kebetulan adalah saudaraku juga. Sungguh pahit untuk dilihat. Aku tidak tega!

Hal itu dilakukan selama beberapa bulan. Siklusnya tidak pernah berhenti. Setiap awal bulan, dia selalu periksa ke dokter, diberi obat penenang dan penghilang rasa sakit, kemudian pulang. Setelah satu bulan obat itu habis, dia kembali periksa ke dokter yang sama, diberi obat, pulang, dan menghabiskan obatnya selama sebulan. Begitu-begitu terus. Kalau aku jadi dia, aku bosan. Harus berhadapan dengan pil-pil obat yang harus menembus kerongkongannya setiap hari.

Tapi itu semua berubah ketika kakakku tiba-tiba pingsan di rumah. Kami semua panik, iya kami semua, ibu, ayah, dan aku. Tetangga lainnya juga panik. Dengan sigap, tetangga kami langsung menyiapkan sepeda motornya untuk membawa kakak ke dokter. Yah kakak naik sepeda motor dalam kondisi pingsan. Tapi ini semua bisa dikendalikan. Karena mau bagaimana lagi. Pakai mobil? Boro-boro. Ingat kan kita siapa?

Sesampainya di dokter, iya dokter yang biasa memeriksa kakak.
“Saya tidak bisa menangani ini. Ini darurat. Bawa dia ke rumah sakit.”
Aduh. Kami semua makin panik.
Demi keselamatannya, kami semua membawanya ke rumah sakit. Rumah sakit yang waktu itu lho. Aku, ayah, ibu, dan tetangga kami yang lainnya.
Langsung para asisten dokter yang berada di depan pintu mengambil kursi roda yang ada. Kakak langsung ditangani di ruang gawat darurat. Berikan keselamatan untuknya.

Dua jam kami menunggu, alhasil, kami mendapatkan untaian kata dari dokter.
“Dengan berat hati saya katakan. Jika bukan karena narkoba yang membenih di perutnya. Tidak akan jadi seperti ini.”
“Yang benar saja!”
“Tenang. Sabar dulu.”
“Bagaimana bisa sabar!”
“Begini. Anak ibu masih selamat. Tetapi beberapa bulan lagi dia akan pergi.”
“Ke alam lain?”
“Tepat.”
“Dokter, jangan beritahukan ini kepadanya ya.”

Beberapa bulan lagi…
Aku tak bisa membayangkan kapan itu. Karena tidak pasti. Hanya “beberapa” yang menjadi kunci kapan dia akan pergi untuk pulang. Ibu menangis tak karuan. Aku tidak tega.
Kakak pun dibawa pulang beberapa jam setelah itu. Tidak dirawat di rumah sakit tadi. Benar. Karena kami tidak punya uang. Bukannya tadi sudah aku ceritakan. Inilah halangan bagi kami. Ketika kami dihadang masalah dan hanya uang yang bisa menyelamatkannya. Mengapa mereka tidak memiliki rasa kasihan sama sekali.

Di rumah.
Kurang lebih seperti itu ceritanya. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan ini semua pada kalian. Aku hanya ingin dia bahagia sebelum hari kematiannya beberapa bulan lagi. Satu hal penting yang harus dipersiapkannya sebelum hari kematiannya. Namun sayang, ini akan sangat sulit baginya. Ibadah.

Berapa tahun dia tidak beribadah. Jika dia dipaksa harus memulai ibadah dari sekarang, tentu akan sangat sulit. Tapi ini harus! Siapa yang berani bilang padanya.
Aku tidak berani. Aku pun juga sudah bilang pada ibu dan ayah untuk mengatakan akan ini padanya. Namun hasilnya nol. Ibarat diriku mendorong sebuah tembok. Walaupun orangtua sudah mengatakan soal ibadah, dia tetap tidak peduli. Mengingat ini, kami semua sedih. Bagaimana dia bisa tenang di alam sana nanti. Kita tidak tahu kapan hari kematiannya. Yang jelas beberapa bulan lagi.
Tetapi dia tidak tahu bahwa kematian akan menjemputnya beberapa bulan lagi. Ingat. Beberapa bulan itu sudah dihitung dari kejadian di rumah sakit yang tadi baru saja aku ceritakan. Tentunya ini semakin dekat dengan hari kematiannya. Sungguh menyedihkan. Padahal dia seorang pria.

Melihat keadaan yang seperti ini, ini membuat aku ingin turun tangan langsung. Aku kasihan. Apa yang akan dia persembahkan untuk Tuhan nanti selain hasil ibadahnya di dunia. Tapi, seperti yang kubilang tadi. Aku tidak berani mengatakan sesuatu padanya. Apapun itu. Selalu tidak ada kesempatan.

Sebentar. Ada jalan lain.
Aku akan memberikan sajadah, dan Al Quran padanya.
Caranya tinggal aku taruh saja di kamarnya ketika dia sedang tidur. Mau dipakai atau tidak, itu terserah dia. Tapi kuharap dia memakainya dan sadar akan ini semua. Sadar apa yang telah dilakukannya adalah hal yang buruk. Mabuk, judi, oh tidak.
Akan kusediakan besok setelah pulang sekolah. Aku mampir ke toko sebentar untuk membelinya. Tentu saja hal ini tidak kukatakan pada ibu. Semuga berhasil.

Esok hari, pulang sekolah.
Ingat aku akan melakukan apa hari ini? Oke, langsung tancap gas.
Aku pilihkan sajadah dan Al Quran yang paling menarik untuknya. Aku yakin ini lebih berharga daripada jutaan pil yang telah membenih di lambungnya. Aku juga yakin ini lebih berharga dari emas berkarat-karat.

“Assalamualaikum.”
Loh, tidak ada orang di rumah.
“Assalamualaikum.” aku masuk rumah saja. Karena pintunya tidak dikunci.
“Ibu, ayah, di mana kalian.”

Suara tangisan yang tidak enak didengar. Suara tangisan yang menusuk telinga kanan dan kiriku. Terdengar langkah kaki tetangga yang berbondong-bondong menuju rumah.
Sebuah gorden dengan sandal di depannya. Suara ucapan syahadat dari ayah yang terdengar dari ruangan itu. Oh tidak, ini tidak mungkin terjadi!

Ternyata benar. Dokter mengatakan beberapa bulan. Dan itu jatuh pada hari ini.
Aku telah terlambat. Baru saja tadi aku membelinya. Tapi Tuhan berkata lain. Aku tidak berhasil melakukannya. Aku terlambat!!

Cerpen Karangan: Muhammad Hafidz Agraprana
Facebook: facebook.com/muhammad.agrapranaii
Inilah Aku

Inilah Aku

Judul Cerpen Inilah Aku

Inilah aku yang hidup hanya sendirian, aku andini putri ababil. Orangtuaku sudah pergi dan sekarang aku tinggal dengan nenekku, nenekku yang tak mampu berjalan, nenekku yang tak mampu untuk bekerja. Ya di sini aku merawatnya dengan kasih sayangku, sekarang aku duduk di kelas 1 sma.

Pertama dari awal aku masuk, aku selalu tertimpa masalah walaupun aku sudah berusaha diam tapi masalah itu timbul dalam hidupku, dan aku sering dimusuhi oleh teman-temanku hanya karena sepatuku yang butut dan seragamku yang kotor dan tak sebagus apa yang dipakai mereka…

Di saat jam sudah menunjukkan waktu pulang aku tak lupa untuk mampir ke musholla sekolahku, di sana aku selalu berdo’a supaya aku bisa bersabar dalam menghadapi segala keadaan dan ocehan temanku, dan aku tak lupa untuk mendo’akan nenekku yang sedang berbaring di kasurnya…

Keesokan harinya aku mendengar temanku yang sedang berbisik kepada temanku yang lain, dia berbisik “teman-teman? Eh liat deh dia cupu banget yah, lihat kerudungnya mungkin gak dicuci yah aku yang ada di depannya muak, dan lihat tuh juga bajunya yang lain putih dia malah putih agak kekuning-kuningan ya kan? Mana ada anak baru kayak itu? Trus sepatunya bolong gitu gak seperti kita ya kan? Mungkin kaos kakinya pun juga bau, bolong ihhhh… Trus trus liat tuh juga tasnya masa make kantong plastik mana ada loh jaman sekarang sekolah, kok bisa ya dia sekolah di sini padahal di sini kan tempat anak-anak terfavorit ya kan teman-teman?”
Dan mereka pun mengiyakannya dan mensorakiku…

Dan hal yang paling buat aku sakit saat guruku datang dan dia mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya guru itu katakan padaku “beng, kamu gak pakai parfum ya?”
Aku pun menjawab “iya pak?” dengan wajah sedihku.
Dan teman-temankupun menertawakanku, sungguh sakit hatiku tanpa aku berpamitan pada guruku aku langsung keluar dan membawa kantong plastik yang dijadikan tas olehku.
Dan kebetulan dia adalah wali kelasku

Yaa aku memang tak mampu dan sejujurnya aku sekolah di sana pun mendapat beasiswa, sekarang aku sadar meskipun aku sepintar apapun, jika aku tidak memiliki uang aku tak akan bisa sukses, ya aku berbicara seperti itu karena meskipun aku pintar tapi ocehan teman-temanku yang menyakitkan itu tak pernah berhenti hanya mengakibatkan aku tidak pernah memiliki pikiran untuk fokus pada pelajaranku, karena aku akan selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh teman-temanku.

Sampailah aku ke rumahku dan akhirnya aku membuka pintu rumahku yang kecil dan hanya ada satu kamar itu, dan aku langsung memeluk nenekku, aku menangis dan nenekku bertanya “kenapa kamu menangis an?”
Dan aku pun menceritakan semua yang telah aku alami di sekolah, nenekku hanya berkata “jangan pikirkan kamu harus sekolah kamu harus bisa membanggakan orangtuamu di alam sana, biarkan orang berkata apa, harusnya kamu bersyukur karena kamu bisa mendapakatkan beasiswa tak seperti teman-temanmu, sebenarnya kamu yang merupakan orang terfavorit, tapi mereka masih dibutakan dengan kekayaannya”
Sebenarnya aku berpikir untuk menyusul kedua orangtuaku tapi aku masih memikirkan nenekku yang masih membutuhkan aku…

Satu minggu aku tidak masuk sekolah dan dari satu minggu itu aku pergi ke rumah-rumah tetanggaku untuk mencari pekerjaan, tapi satu pun aku tak menemukannya, akhirnya aku terasa lelah dan aku pun tak sadarkan diri di jalan, entah mengapa saat aku siuman aku sudah ada di rumah sakit, dan saat itu pula ada seorang lelaki dan perempuan, mereka adalah seorang suami istri, dan aku pun langsung bangun dan berusaha untuk keluar tapi suami istri tersebut melarangku dan aku pun berkata “aku tak sanggup membayar rumah sakit ini pak bu”
Istrinya pun berkata “kami yang akan membayarnya nak..”
Akhirnya kami berkenalan dan mereka berencana untuk mengadopsiku karena mereka tidak memiliki dan tidak dikaruniai seorang anak.

Ya akhirnya aku ikut dengan mereka, di sana aku sangat senang tapi saat mereka menanyakan sekolahku, ya akhirnya aku menceritakan semuanya meskipun semua itu perih dan menyakitkan aku tetap bercerita hingga mereka menangis begitupun denganku…

2 minggu aku ada di rumah mewah dan megah itu, tapi saat aku mau tidur siang aku mengingat nenekku, aku langsung memberitahu mereka kalau aku tinggal bersama nenekku, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah nenekku, dan saat aku membuka pintu nenekku sudah terbaring lemah, dan dengan bibirnya yang putih.
Dan bapak adopsiku berkata bahwa nenekku sudah tiada, aku pun menjerit menangis karena tanpa tersadar aku sudah menyia-nyiakan orang yang aku sayang, setelah pemakaman nenekku, guru bk ku datang dan dia menanyakan kenapa dalam waktu 1 bulan ini aku tidak masuk sekolah dan aku pun menceritakannya, dan guru bk ku pun memutuskan aku harus sekolah lagi dan untuk teman-temanku akan dia paggil ke bk, karena pelecehan nama baik begitu pula dengan guru yang mengajarku pada waktu itu sekaligus wali kelasku.

Awal aku masuk mereka langsung terkejut karena aku yang dulu sudah berubah, aku yang biasanya memakai kerudung yang bau dan berkerut, sekarang aku memakai kerudung yang sudah disetrika dan sudah harum sewangi bunga, dan bajuku yang agak kekuningan sekarang pun aku memakai baju yang putih bahkan lebih putih dari mereka begitu pula dengan sepatu dan kaos kakiku pun merupakan barang yang paling termahal dan tas yang aku pakai sekarang pun juga paling termahal dan bermerek.

Hari-hariku berjalan dengan lancar, aku pun sekarang memiliki teman tak seperti biasa, aku yang biasanya tertimpa masalah-masalah dan aku yang biasanya diocah sekarang sudah tidak lagi…
Tapi sekarang aku berubah bukan hanya penampilan tapi hati dan sifatku berubah menjadi sombong bahkan aku yang biasanya pada jam pulang pergi ke musholla tidak lagi, ya itulah aku sekarang dengan keadaanku yang sangat mewah.

Kesedihan yang dulu membanjiri hidupku sekarang berubah bahkan semua laki-laki mengejarku karena kecantikanku dan teman-temanku yang biasa mengocehiku, mereka sudah mulai sok akrab denganku, tanpa mereka sadari bahwa mereka dulunya sangat menyakitkan hatiku dan selalu buat aku terluka, dan tanpa mereka mengucapkan maaf kepadaku.

Ya itu karena kekayaan yang aku miliki sekarang, tapi hari ini aku menemukan hal baru satu orang lelaki dia sangat tidak tertarik denganku sama sekali. Padahal seluruh teman-teman kelasku gak laki gak perempuan semuanya sok akrab deganku begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Tapi untuk dia tidak. Bahkan aku pun menghinanya penampilannya yang seperti penampilanku saat pertama aku masuk ke sekolah ini, aku menghinanya seperti apa yang merek hina kepadaku, karena aku sangat mengingatnya dia yang dulu juga ikut-ikutan menghinaku dan mencelaku.

Beberapa hari kemudian beasiswaku ditarik karena kenakalanku dan kesombonganku, dan aku pun sekarang tak memikirkannya karena aku sudah memiliki uang yang banyak, bahkan sekolahan ini bisa aku beli, dengan sombongnya aku, aku bahagia. Ya inilah aku yang sekarang.

Dan lelaki yang aku hina, dia yang mendapat beasiswa, dan aku yang sombong ini selalu menghinanya, 3 hari aku tidak melihatnya sekolah, ya aku biasa aja, 1 minggu dia takk memunculkan mukanya aku cari tahu tentang dia, dan saat perjalanan pulangku, aku melihatnya berjalan di trotoar, dia mengamen, sungguh hatiku hancur.
Dan aku pun memutuskan untuk mengikutinya, dan masyaallah, rumahnya lebih tidak memungkinkan, tak seperti rumahku yang dulu malah rumahnya sangat sempit, aku pun menangis, tanpa dia sadari aku melihat wanita tua yang sedang berbaring di tempat tidur, dan dia pun menangis aku semakin terluka hingga akhirnya aku masuk dan aku berkata
“kenapa kamu tidak sekolah?”
Dan dia berkata “apa kamu mau menghinaku? Hinalah aku sesuka hatimu sekarang,”
Dan dia pun menangis, aku tak tahan dan aku meminta sopirku untuk membawa wanita tua itu ke dalam mobil dan aku pun menyuruhnya untuk membawa wanita itu ke rumah sakit karena aku tidak mau apa yang aku alami dialami oleh orang lain meskipun dia dulunya menghinaku, entah mengapa sifat sombongku hilang ketika aku melihat wanita tua itu.

Dan dia pun berkata “kenapa kamu menolongku, aku dulu sering menghinamu bukaan? Kenapa sekarang kamu baik padaku?”
Dan aku hanya menariknya dan membawanya ke rumah sakit tempat wanita itu di rawat, dengan menyusul sopirku menggunakan taxi, dan lelaki itu pun meminta maaf padaku atas apa yang dia lakukan dulu kepadaku, dia mengikuti kata-kata yang dikatakan temannya dan juga ikut menyorakiku, dan dia bercerita kalau dulunya dia memang orang punya tapi sejak neneknya bangkrut dia pun tinggal di rumah kecil dan neneknya pun penyakitan, akhirnya aku meminta bapak dan ibuku untuk membiayai semua biaya rumah sakitnya dan bapak ibuku juga memberikannya sebuah rumah yang layak untuknya, sejak itulah aku menyadari bahwa sikapku selama ini salah, akhirnya aku memutuskan untuk berpenampilan sewajarnya dan belajar menjadi orang yang sukses seperti apa yang dikatakan oleh nenekku.

Dan aku pun bersekolah seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid dengan sewajarnya…

Cerpen Karangan: Farhatus Sholihah
Blog / Facebook: Farhatus Sholihah
Depresi

Depresi

Judul Cerpen Depresi

Kuperkenalkan diriku dahulu sebelum kuceritakan semuanya pada kalian, para pembaca. Namaku Lail Azzahra. Umurku cukup dibilang muda, 14 tahun. Dan ya, aku tinggal bersama keluarga yang sangatlah sederhana.
Aku tak kaya, tak terlalu pandai, tak bisa juga dikatakan sebagai wanita Muslimah. Ketahuilah, aku hanya gadis urakan yang masih mempelajari ilmu keagamaan. To the point sajalah.

Kau tahu sesuatu? Pernah suatu saat kedua orangtuaku bertengkar. Ibuku masih di luar kota, menjaga kakek yang sakit keras di sana. Ayah tiba tiba memanggilku yang sedang asyik mengukir sebuah gambaran.

“Ya ayah?” Tanyaku.
“Duduklah, nak. Ada yang mau ayah bicarakan denganmu.” Aku duduk di samping ayah. Tatapan ayah begitu serius. Sungguh, ini tak seperti biasanya.
“Pernah tidak, kamu diajak keluar sama ibumu?”
“Pernah. Sering.”
“Sama siapa? Ibu sama siapa?”
“Temennya itu loh.”. Kulihat raut wajah ayah berubah seketika. Air matanya tiba tiba saja menetes.
“A-ayah? Ayah kenapa?”
“Bukan apa apa. Jika suatu saat nanti ayah akan bercerai dengan ibumu, kamu mau ikut siapa? Ayah atau ibu?”
Seketika aku terdiam. Suaraku pun seperti tertelan begitu saja. Perlahan, bening bening kristal membanjiri pipiku. Aku diam tak bergeming.

“Tak perlu menangis, anakku. Belajarlah yang rajin. Kamu juga sudah besar. Tak perlu lagi diingatkan untuk Sholat. Sholat itu wajib, nak. Jika ayah meninggal nanti, siapa yang akan mendoakan ayah jika bukan kamu?” Suara ayah terdengar sesenggukan. Langsung saja kupeluk ayah.
“Ayah, maafkan aku. Maafkan semua perbuatanku. Aku tak mau ayah dan ibu cerai. Aku tak mau”. Ayah mengusap air mataku. Lalu, menyuruhku belajar.

Jujur saja. Saat itu, aku benar benar depresi. Aku berpikir, tak ada gunanya aku hidup. Aku juga tak pernah membanggakan kedua orangtuaku. Sungguh, aku sudah tak pernah lagi tersenyum. Bahkan tertawa. Aku kehilangan semuanya. Dan ibu juga mengatakan hal yang serupa.
“Ayahmu minta cerai kah? Kenapa marah diam terus dari tadi?”
Mereka sama. Tak ada bedanya. Jika aku anak yang tak diinginkan, untuk apa aku dilahirkan?

Ayah, ibu, ketahuilah. Aku mudah sekali depresi. Kata kata seperti itu bisa membuatku jatuh. Membuatku patah semangat. Membuatku tak berarti lagi untuk kalian berdua.
Aku sering menangis pelan pelan. Aku sering menyayat ujung jariku jika depresi ini mulai membelengguku. Jika sajahal itu terjadi, aku harap, ibu dan ayah tak akan pernah melihatku ada di sini. Di dunia ini.

Ayah, ibu, kalian juga terkadang pilih kasih. Kenapa selalu adik yang kalian banggakan? Kenapa selalu adik yang kalian dahulukan? Aku tahu! Dia masih kecil kan?! Aku bosan mendengar kata kata itu! Lihatlah dia! Berlaku seperti ratu! Meminta ini dan itu tanpa memedulikanku!
Adik juga kalian belikan barang barang mewah. Aku kapan, yah? Aku kapan? Kapan aku bisa tertawa seperti adik? Apa kalian sama sekali tak menginginkanku?

Aku kecewa hidup di sini. Aku kecewa hidup dengan keluarga yang penuh keegoisan. Lihatlah pakaianku. Lusuh, kotor, rusak, dan sudah saatnya ganti.
Ayah, ibu, kalian tahu sesuatu? Aku hanya ingin satu. Bahagiakan aku sama seperti kalian membahagiakan adik. Aku tak meminta lebih. Sudah itu saja.

Kenapa? Kalian tak mau? Sudahlah, tak apa. Lagipula, aku sudah terbiasa seperti ini. Tak apa.. tak apa..
Ayah, ibu, jika memang benar kalian tak menginginkan anak sepertiku, buanglah aku. Buang aku kepanti asuhan. Buang aku ketika aku baru saja dilahirkan. Kenapa aku malah tersiksa?

BUKH! BUAKH! BUKH! Tanganku tak berhenti menghantam tembok. Dan kulihat, temboknya agak retak. Tanganku mulai membengkak. Depresi ini bisa membunuhku kapan saja. Tak ada yang peduli padaku. Kulihat ke arah luar. Aku lari di tengah jalan.

BRUAK!! Sebuah bus menabrakku hingga badanku terhempas cukup jauh. Darah segar mengalir.
Tak lagi kurasakan raga hangat tubuhku. Samar samar, kulihat bayangan ayah dan ibu begitu panik melihatku.
Terlambat. Semua sudah terlambat. Aku sudah lelah menghadapi semua cobaan ini. Dengan kepergianku, aku berharap, beban ayah dan ibu bisa terkurangi.

Penulis Lail Azzahra

Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Blog / Facebook: Rhytmawan Arnold
Ego

Ego

Judul Cerpen Ego

Masih di pojokan kamar yang gelap. Dengan rambut acak acakan, mata berkantung dan sayu aku terlihat seperti orang gila.

“Ayka, buka pintunya nak, ibu harus bicara sama kamu” teriak ibu dari luar.
Aku masih tetap di tempatku. Bersikap diam lebih baik pikirku.

Tuk.. Tuk.. Tuk..
Suara sepatu berjalan di lantai.
Itu ayah. Aku bisa mengetahuinya dari dalam. Seakan-akan ada CCTV di luar kamarku.
“Kamu apakan Ayka? Kenapa dia tidak mau keluar?” Tanya ayah dengan kasar
“Apa kamu bilang? Aku sangat menyayangi Ayka, mana mungkin aku bersikap kasar padanya.”
“Pembohong kamu!”

Ini alasanku kenapa aku tidak keluar rumah. Ayah ibu terus bertengkar. Aku berterima kasih pada Tuhan, karena ibu pernah keguguran waktu hamil calon adikku, bagaimana jika ia hidup? Apakah ia mampu menelan ini semua? Cukup aku yang mengalaminya.

HP ayah berdering
“Oke kiy, aku akan ke sana” kata ayah.
Kiy?? Ya, dia adalah penyebab pertengkaran ini terjadi. Entah apa salah ibu, ayah lebih memilih Kiy, padahal ibu adalah perempuan yang sangat baik dibanding Kiy.

“kamu akan nemui Kiy mas?” Tanya ibu dengan suara parau nya, aku bisa mendengar dari sini kalau ia sangat sakit.
“Lah, kenapa? Emang itu urusan kamu?? Ingat ya Fin, sebentar lagi kita akan cerai. Aku akan memberikan harta aku 50% ke kamu, dan rumah ini juga untuk kamu, jangan berani berani kamu halangi aku” kata ayah dengan pedasnya

Mataku memanas, sesuatu keluar dari mataku. Ya, aku menangis. Apakah ayah tidak sadar aku ada di dalam sini? Aku benar benar ingin membunuh Kiy.

Kudengar ayah melangkahkan kakinya pergi, dan terdengar ibu menangis. Oh, wanita emang lebih memilih menangis dibandingkan melawan, begitu baiknya ibuku.

Ibu pergi, dan tak terdengar suaranya lagi.

Di pagi hari, ini jadwal ku sekolah. Aku kelas 11. Tak ada sarapan seperti biasanya, ibu sedang terpuruk, pikirku.
Kulihat di kamarnya ibu menangis di atas sajadah. Entah apa dosa perempuan ini sehingga ia harus menghadapi masalah ini.

Aku pergi ke sekolah, pelajaran pelajaran yang diberikan tak masuk ke otakku. Semuanya hanyalah asap bagiku. Yang kupikirkan adalah siapa Kiy ini.

Tak terasa, jam sekolah berakhir. Aku terkejut ada wanita asing menjemputku.
“Hay Ayka, ayo ikut tante”
“Apa kau pikir aku anak 10 tahun?”
“Kau masih manis, disebut umur 8 tahun pun tak mengapa.” Kayanya
“Hah? Masih manis kau bilang? Apa kau pikir aku kenal kau?” Jawabku jutek
Ia masih sabar menghadapiku
“Aku Kiy. Calon mama baru kamu. Dulu kita sering main bareng lho. Kit jalan jalan ke mall. Kamu udah lupa? Iya wajar ajalah, soalnya tante baru pulang dari Thailand. Kamu bisa manggil say dengan mama. Oh ya, papa kamu suruh mama jemput kamu” katanya panjang lebar
Plaak..
Tamparku, aku ingat dia. Dia adalah bunga manis beracun. Aku membenciya, aku ingat dia siapa.
“Ayka, mana etika kamu?” Katanya teriak sambil memegang pipinya yang kemerahan.
Aku tak peduli seberapa banyak orang yang melirik ke arah kami. Bahkan ada yang berhenti untuk melihat drama ini.

“Yaa!! Apa kau tau? Aku 2 kali membunuh orang, dan masuk penjara. Untung ayah orang kaya. Ia bisa menebusnya. Tapi tidak denganmu. Aku harus membunuhmu” kataku
Sontak semua orang yang berada di situ menghentikan aksiku
.
Aku dipulangkan oleh Keysha, temanku. Sampai rumah aku melihat ibu tidur, pasti ia sakit.
Aku datang berdiri di hadapannya. Aku bukan orang yang bisa romantis dengan orangtuanya. Aku diam, ibu memandangku, meraih tanganku, mencium keningku, aku pun membalasnya.

Tak lama, ayah pulang, aku tau Kiy pasti mengadu. Toh aku tidak takut! Ternyata ayah tidak marah padaku, namun ia berkata “Ayka, kau sudah besar. Pahamilah posisi ayah, terimalah kiy”
“Ayah, dirimu lebih besar. Bahkan kau sudah bau tanah. Fikirkan ibu dan posisikan jika kau berada di tempatnya”
“Apa katamu?”
“Apa ayah tua ini tuli?”
“Stoop Ayka! Ayah bisa melukaimu”
“Silahkan. Apa ayah fikir aku akan diam saj? Pasti aku akan membalasnya”
“Durhaka kamu! Ini yang sudah diajari ibu kamu?”
“Tidak ayah, ibu mengajariku untuk bersabar menghadapi masalah, tidak mencari, pelarian. Kenapa ayah tidak jenguk ibu yang sedang sakit? Aahhh.. Iyaaa!! Aku tahu, ayahku tak lagi punya hati, ya kan? Terus fikirkan Kiy ayah! Fikirkan saja makhluk mati itu di kepalamu!” Kataku setengah berteriak. Posisi kami jauh dari kamar ibu.
“Aku tidak akan memberimu warisan dan juga pada ibumu”
“Silahkan, aku akan membunuhmu dan juga Kiy”
“kurang ajar”

Aju akhiri perkelahian ini, aku kembali ke kamar ibu. Aku merasakan hal aneh. Ibu pucat, badannya dingin. Aku menggendong ibu menuju garasi. Aku emang perempuan, tapi tenagaku laki laki.
Mobil kunyalakan dan kustir menuju Rumah sakit.

Terlambat, ibu sudah meninggal dari tadi, mungkin sejak perdebatanku dengan ayah.
Aku menangis. Ibu, ajari aku atas kesabaranmu.

Jenazah telah dikubur, ayah datang dan duduk di sampingku. Ia memelukku, meminta maaf padaku. Agh! Dasar bodoh.
Baru kusadari, ibu menderita penyakit jantung. Jantungnya tiba tiba melemah. Tapi kenapa kami tidak ada yang tahu? Perkawinan Kiy dan ayah dibatalkan, ayah berjanji tidak akan mencari wanita lagi karena ibu adalah segalanya, dan kiy berjanji padaku akan meninggalkan kami dengan kembali ke Thailand. Aku dan ayah kembali bahagia seperti dulu, walau kini tak ada ibu. Ibu, i love you

Cerpen Karangan: Ellya Syafriani
Blog / Facebook: Ellya Syafriani
Catatan Untuk Ayah

Catatan Untuk Ayah

Judul Cerpen Catatan Untuk Ayah

Ayah… apa yang sedang kau lakukan?
Aku memang tidak berhak tau apa yang sedang kau lakukan di sana, karena aku hanyalah mantan buah hatimu dimasa lalu. Tapi apa kau tau? Kita ini adalah keluarga, sejauh manapun jarak memisahkan kita.

Aku dan mama baik baik saja di sini, tapi hidup tanpa kehadiranmu tidak lebih baik setelah pertengkaran yang kalian lakukan setiap hari, entah itu pagi, siang, sore, atau malam.

Ayah… bagaimana rasanya tinggal di rumah barumu?
Lebih menyenangkan kah? atau sebaliknya? Tapi aku selalu berharap kau merasa nyaman dan bahagia di manapun kau berada. Bahkan saat kau tidak bersama kami, aku akan mendoakan yang terbaik untukmu, karena aku adalah anak tercintamu.

Ayah… kau sehat kan?
Aku khawatir dengan penyakitmu yang timbul saat umurmu sudah menjelang kepala 4, kau minum obat dengan teratur kan? Tapi aku yakin kau masih sehat, istri barumu bisa mengurus segalanya kan? Hehe, aku tidak perlu khawatir dengan itu.

Ayah… bagaimana pekerjaanmu?
Yah… sebenarnya aku tau kau orang yang gigih dan kuat, jadi kalau pekerjaan… itu masalah gampang. Tapi tetap saja aku ingin bertanya tentang semua kegiatanmu di sana, tidak keberatan kan?

Ayah… kapan pulang?
Memori memori kebersamaan kita tidak akan hilang, aku menyimpan dan mengunci rapat ingatan tentang itu. Air di pelupuk mataku jatuh begitu saja ketika mengingat dirimu yang selalu peduli dengan kami semua waktu dulu, setiap hari libur kita jalan dan makan bersama. Apa ayah tidak ingat? Itu merupakan harta karunku yang berharga.

Ayah… kenapa kalian bertengkar?
Mulutku terkatup rapat dikala kalian mulai berdebat, perasaan berkecamuk didalam hatiku. Kehilangan seseorang yang kami cintai itu merupakan mimpi buruk yang tiada habisnya, kami rapuh dan sakit.

Ayah… apa kau dan ibu akan berbaikan?
Hatiku selalu bertanya tanya dikala kalian sedang bertengkar, apa kelak kalian akan berbaikan? Sekarang sudah bertahun tahun, dan waktu tak kunjung menjawabnya. Apalah arti bulan ramadhan ini jika kalian masih belum tenang dari amarah?

Ayah… kau baik baik saja kan?
Ada kalanya aku berpikir kalau kau sedang bersenang senang dengan keluarga barumu di sana, tapi tidak dengan kami. Aku dan mama jarang jalan jalan lagi, kami banyak berdiam diri di rumah. Apa kau sering jalan jalan di sana? Kuharap iya, karena aku ingin kau menikmati sisa hidupmu dengan kebahagiaan.

Ayah… apa kau masih memikirkan kami?
Setiap hari, setiap malam… kuselipkan doa untuk keluarga kita. Berharap kita akan kembali seperti dulu, kau juga berharap seperti itu kan? Kuharap iya, karena mama pun begitu. Sedih rasanya jika hanya aku yang selalu bertanya tanya tentangmu, apa kau juga penasaran tentang anakmu ini? Kuharap iya, karena sekarang aku butuh penyemangat hidupku yang mulai meredup.

Ayah… kenapa kalian berpisah?
Aku selalu bertanya dikala aku terdiam, kenapa kalian berpisah? Apa kalian tidak bisa mengingat semua yang sudah kalian lakukan selama ini? Apa cinta di antara kalian sudah tidak memiliki arti? Apa yang sudah kalian perbuat sehingga harus mengambil jalan berduri ini? Kenapa kalian menghancukan keharmonisan keluarga kita?

Ayah… aku lelah…
Ayah… ibu… kenapa kalian begitu egois? Kenapa kalian tega membiarkan anak kalian hidup dibayang bayang kepedihan dan kesakitan yang kalian perbuat? Aku lelah berjuang sehingga ingin mengakhiri segalanya. Topeng bahagia yang selama ini kupasang mulai retak, hatiku yang dilapisi baja ini pun tak akan bertahan lama. Namun aku tetap tersenyum walaupun di dalam aku sedang rapuh dan runtuh. Semuanya kujalani dengan menerima fakta bahwa kalian telah berpisah, semuanya seakan meninggalkanku sendirian.

Tapi saat itu aku sadar, aku bukanlah anak lemah dan cengeng. Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kepada kita, Tuhan pembuat skenario hidup terbaik. Aku percaya kalau ada sebuah keajaiban yang kelak akan terjadi di keluarga kita. Apa ayah juga berpikir seperti itu?

Ayah… cukup sampai disini surat dariku. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu, tapi biarkanlah aku mencoba di lain waktu. Aku tidak berharap kau akan membaca ini, biarkanlah aku yang berkhayal bahwa kau sedang membacanya. Setuju?

Tertanda,
Jessica

Cerpen Karangan: Jessica Leilani Savira Azzahra
Hadiah Istimewa Dari Ibu

Hadiah Istimewa Dari Ibu

Judul Cerpen Hadiah Istimewa Dari Ibu

23 Januari 2010
Hari ini hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yeyy! aku gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi mereka hanya menjawab “nanti ya sayang.. ibu sama bapak gak punya uang”

23 Januari 2014
Hari ini aku ulang tahun lagii! umurku sudah 12 tahun, aku harap ibu dan bapak memberiku hadiah lagi! aku segera bangun dari tempat tidurku dan meminta hadiah dengan ibuku “bu.. mana hadiahku? dari dulu ibu dan bapak gak pernah beri aku hadiah!” tanyaku, ibuku hanya menangis “nak.. maafkan ibu, mungkin ini hadiah yang paling gak mau diinginkan! Bapakmu meninggal Sarah!!” tukas ibu.. Serasa hati ini berkeping keping mendengar bapak meninggal! bapak yang bekerja sebagai buruh bangunan sudah tidak lagi mencari nafkah.. di mana nanti aku mendapatkan hadiah?

23 Januari 2017
Umurku sudah 15 tahun, kenapa ibu belum memberiku hadiah ulang tahun? Aku benci ibu!!!! semenjak bapak pergi, aku semakin benci dengan ibu! benci dengan kemiskinan! “ibu!! mana hadiahku? katanya mau beriku hadiah istimewa? mana bu mana!!!!” aku membentak! kenapa sih aku harus hidup miskin? aku benci kemiskinan!!
“Aku harus kabur dari rumah, aku muak tinggal di rumah miskin itu!” aku bergumam terus di jalan karena ibu.

Tiba tiba..
BRUK!!! tubuuhku terpental jauh dan darah tercecer ke mana mana, satu persatu orang datang mengerumuniku dan memotretku! apa yang terjadi? apa aku sudah mati? kenapa semua gelap?

Tut.. tut.. tut..
Bunyi detak jantungku di alat pendetak jatung, aku masih hidup!! tapi.. kenapa aku sendiri? mana ibu? ah sudahlah! palingan ibu ke sini dan menangis.. dasar cengeng!!

Tiba tiba suster datang ke kamarku memberiku sepucuk surat “ini surat dari ibu anda” tukasnya, ahh lebay banget sih pake surat segala! dihari ulang tahunku belum cukup dengan hadiah sekecil ini! aku sebenarnya males banget mau membacanya, dengan terpaksa aku membaca.

Tiktes… tiktes.
Air mata ku tiba tiba menetes dengan sendirinya “ibu..” ucapku “AKU MAU BERTEMU IBU!!!” teriakku dan langsung melompat keluar dari kamar itu.. berlari tak karuan di koridor rumah sakit itu, semua orng menatapku! “dokter!! mana ibuku dokter!!” tanyaku dengan dokter “sabar dek sarah, sabar..” ucap dokter itu menenangkan “ibumu ada di kamar no 12 a” ucapnya lagi, tanpa berterima kasih ku langsung pergi untuk menemui ibu..

Aku berlari lari dengan mukaku yang basah terkena air mataku, tak terasa ternyata aku telah sampai di kamar 12 a, aku langsung membuka pintu dan… aku melihat suster sedang menutup tubuh seseorang dengan selimut berwarna putih, ini bukan ibu kan? bukan!! dokter itu bohong!! “suster, ini siapa suster? siap ini!!!” teriakku kepada suster. Pikiranku tak karuan setelah membaca surat itu “ini ibu wati, ibunya anak yang bernama sarah!” ucap suster tersebut “IBUU!!!” teriakku sembari membuka selimut itu, ibu jangan pergi ibu! aku sayang ibu!! aku gak akan meminta hadiah lagi untuk ibu! aku hanya ingin ibu bangun!! “Suster! kenapa ibu saya suster?!” teriakku “ibu kamu sudah mendonorkan kamu darah, sewaktu operasi.. ibumu gagal untuk menjalankan operasi, sebelum itu dia berpesan untuk memberikan darahnya kepadamu” tukas suster, Ibu? kenapa ibu meberikan hadiah ini bu? Di hari ulang tahun sarah, ibu malah membuat Sarah menangis! bukannya senang!

Di pemakaman.
“ibu, sarah sayang ibu.. sarah benar benar sayang ibu, sarah menyesal membuat ibu seperti ini!” ucapku menangis histeris
IBU.. SARAH SAYANG IBU

Isi surat
Sarah.. ibu harap kamu suka dengan hadiah yang ibu berikan, walaupun tak seberapa.. tapi ini bisa menyelamatkan nyawamu, akhirnya ibu bisa membuatmu bahagia, jaga baik baik ya sayang.. jangan sampai terbuang.

Ibu

Cerpen Karangan: Dira Ariella Neysa
Blog / Facebook: Dira Neysa
Terlahir Kembali

Terlahir Kembali

Judul Cerpen Terlahir Kembali

Kau tahu? Aku bukan tidak bersyukur, hanya saja meminta kehidupan yang sedikit lebih baik. Ah, ya. Tepatnya memang aku ini sedikit kurang bersyukur dengan apa yang kujalani selama 16 tahun ini.
Aku hidup dan dibesarkan oleh keluarga yang sedikit berantakan. Tidak separah broken home, memang. Tetapi setiap harinya selalu saja kudengar pertengkaran kecil besar dari mulut kedua orangtuaku. Mereka membesarkan suatu masalah kecil, tapi tidak pernah mengecilkan masalah besar. Ya, mungkin di antara kalian pernah merasakan hal seperti ini.

‘Afnan Faizah’ sebuah nama pemberian dari kakek ketika satu bulan sebelum aku terlahir ke dunia. Nama itulah yang nyaris tak dikenali siapapun selain kakek, orangtuaku, dan beberapa teman yang memiliki daya ingat bagus untuk orang sepertiku. Bahkan, teman-teman yang lain, juga guru, atau sekedar kerabat sering terlupa akan nama itu. Yang mereka ingat tentangku hanyalah ‘Izah’ -seorang gadis pendiam. Kupikir begitu.

Sebenarnya aku ini bukanlah orang yang anti sosial, hanya saja keberadaanku ini yang jarang dianggap. Dari pertamaku masuk Sekolah Dasar, hal yang paling sulit bukanlah soal matematika ataupun membaca, tetapi mencari teman!
Walaupun mungkin aku selalu terlihat tegar dan baik-baik saja dikala sendiri, sebenarnya aku merasa amat kesepian. Seorang ‘Izah’ membutuhkan teman walaupun hanya satu. Ya, satu saja tak apa.

Semilir angin dimalam hari terasa amat menenangkan, indahnya cahaya bulan yang sesekali tertutup awan hitam itu pun membuatku semakin larut dalam lamunan. Sebuah lamunan harapan dan berbagai kemungkinan.
Aku selalu berkhayal, bagaimana kalau suatu hari nanti aku terbangun menjadi aku yang baru. Bak terlahir kembali. Dengan nama baru, lingkungan baru, kehidupan yang baru! Ah, tampaknya akan menyenangkan sekali, ya. Jikalau di lingkungan tersebut aku benar-benar menjadi seseorang yang kuinginkan.
Refleks, senyumanku pudar ketika mendengar suara petir menyambar. Bukankah sedari tadi langit baik-baik saja? Apa Yang Maha Kuasa marah terhadap lamunanku?
Seketika hujan deras. Aku menutup jendela kamar dan segera berbaring di atas kasur sederhana, membalut tubuhku dengan selimut tipis peninggalan kakakku yang telah meninggal dua tahun lalu.

Malam amat terasa singkat, hingga pagi ini aku kembali menjalani rutinitas membosankan. Aku harus pergi ke sekolah dengan sedikit berjalan kaki terlebih dahulu untuk sampai di jalan besar.
Sepagi ini jalanan masih sepi, aku terpaksa berangkat lebih awal karena harus piket di kelas. Pikiranku masih tertuju pada lamunan semalam, benar-benar terasa nyata! Sembari menunggu angkutan umum, aku asyik membayangkan hal-hal indah jikalau aku terlahir kembali. Menyenangkan sekali, sampai bibir ini tak bisa berhenti tersenyum.
Kalau aku terlahir kembali, apa aku boleh menentukan sendiri namaku? Haha. Aku sangat jatuh cinta pada nama ‘Sena’ entah mengapa. Tetapi nama itu seperti memiliki makna tersendiri di hatiku.

Bunyi klakson mobil yang bising mengganggu telingaku. Hampir saja aku meledak, dan memarahi sang pengendara. Tetapi itu tidak mungkin, karena saat ku menoleh, beberapa detik lagi mobil mewah berwarna silver itu akan menghantam tubuhku.
Aku tak bisa merasakan apapun, penglihatanku kabur. Yang kulihat hanyalah langit biru tanpa awan sedikitpun, dan seseorang sepertinya tengah membanting pintu mobil, “Apa kau tidak apa-apa?”. Ah, apa aku akan mati?

Semerbak bau obat-obatan merasuki hidungku. Aku terbangun dengan keadaan lemas, aku tak tahu apa yang terjadi. Di ambang pintu sana, terlihat olehku seorang lelaki yang mungkin satu atau dua tahun lebih tua dariku tengah berbicang serius dengan seorang dokter, di sampingnya ada wanita yang tidak tergolong muda, tetapi tidak tergolong tua pula menatapku dengan khawatir. Yang pertamakali keluar dari mulutku ini adalah kata, “Mama.”
Ketiga orang itu pun menghampiriku dengan langkah yang cepat. Dokter memberitahu aku harus banyak beristirahat.
“Mama.” Entah apa tujuanku terus memanggil ‘Mama’ yang padahal, saat ini aku tak tahu di mana mamaku, dan bahkan aku tak tahu siapa aku. Lelaki dan wanita itu saling berpandangan, “Iya sayang, ini mama.” Wanita yang sama sekali tak kukenali itu memegang tanganku dengan erat.

Satu minggu berlalu, aku sudah boleh meninggalkan rumah sakit sekarang. Dengan wanita dan lelaki yang selalu menjagaku di rumah sakit, aku memasuki rumah yang asing. Mereka berkata kalau ini rumahku, juga rumah mereka. Wanita itu ternyata ibuku, dan lelaki itu bernama Karel, dia kakakku. Kenapa aku tak bisa mengingatnya sama sekali?

“Kalau ada apa-apa, panggil saja aku di ruang TV.” Lelaki berpipi tirus itu tersenyum dan menutup pintu kamar.

Melihat foto-foto itu, rasanya aku sudah tak sabar untuk segera pulih dan mengingat semuanya yang terjadi padaku. Pasti aku ini gadis periang dan memiliki banyak teman!
Kamar ini tampak sudah lama sekali tak terpakai, padahal aku hanya dirumah sakit selama satu minggu? Ah, aku lupa menanyakan namaku!

“Kakak!” panggilku pada Karel, seraya menuruni setiap anak tangga. Samar-samar terdengar suara Karel menyahut, “Ada apa?”
“Siapa namaku?” tanyaku dengan polosnya duduk disamping Karel, kakakku.
Ia mengernyit, berpikir untuk beberapa detik, “Kurasa, aku akan memanggilmu ‘Sena’.”
“Sena?” aku seperti mengenali nama itu. Seketika kepalaku pusing, pandanganku kabur. Aku seperti tengah berusaha mengingat sesuatu. Argh! Tapi apa itu?
“Hei apa kau tidak apa-apa?” -suara Karel itu hanya membuat kepalaku semakin berat.

Bagai ada sebuah film tayangan yang hinggap di pikiranku saat ini. Aku terus memegangi kepala yang seakan hendak pecah ini. ‘Film’ itu terus menayangkan seorang gadis yang kesepian, keluarga yang berantakan, jalanan yang sepi, mobil berwarna silver, sebuah kecelakaan, dan … Dan gadis itu adalah aku! Benar, itu aku. Aku yang kesepian, lahir dari keluarga yang tak pernah akur, dan kecelakaan itu, kecelakaan itulah awal mulanya!
Aku ingat sekarang! Aku ingat siapa diriku, dan aku ingat apa yang menimpaku.
Tetapi …

“Apa kau sakit?” tanya Karel.
“Ah?” aku menggeleng, “Aku menyukai nama itu.” kataku tersenyum.

Tetapi, bukankah ini yang kuinginkan? Mungkin, saat ini dan kedepannya aku tak pernah lagi merasa kesepian, karena aku memiliki Kakak, sekarang. Aku pun tak perlu risau dengan pertengkaran orangtua, karena Mamaku yang sekarang ini adalah seorang janda kaya raya. Aku pun pasti akan memiliki banyak teman. Haha. Tuhan memang selalu punya banyak cara untuk mengabulkan harapanku. Haha.

Cerpen Karangan: Dina Ans
Facebook: facebook.com/CerpenAnsDina
Pahlawan Wanita Sejatiku

Pahlawan Wanita Sejatiku

Judul Cerpen Pahlawan Wanita Sejatiku

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Lagu nasional ini menggema indah di antara dinding-dinding ruangan gedung tua nan megah ini. Menyisakanku padaku satu pertanyaan yang sama pada setiap lariknya, siapa itu pahlawan bangsa, siapa itu mereka, apakah mereka saja yang telah mengorbankan darah mereka untuk tanah air ini ataukah mereka yang kini terdengar sebagai pahlawan di buku-buku sekolah yang pernah diajarkan guruku? Lalu apa yang harus kutulis dalam bukuku?

Aku menenggak habis segelas susu di sebelah kananku laptopku dengan mata memerah dan wajah yang lusuh. Ini sudah gelas ke 10 dalam waktu 2 hari ini aku lembur dikejar dateline membuat novel. Mungkin aku tidak perlu bersusah-susah seperti ini jika aku tidak menerima tantangan dari queen drama itu. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan inilah resiko yang harus kuhadapi. Berulang kali aku mencoba mengetik beberapa kata dan mencari pilihan kata yang tepat, tapi tidak ada yang berubah, tetap saja page di Ms Word-ku masih kosong karena terus kuhapus.

AAAARRRRRGGG.
Teriakku kesal sambil menggaruk-garuk kepalaku. Aku kini beralih dari laptop ke kertas yang hasilnya tetap saja hanya coretan-coretan tidak berguna yang kudapat. Rasa kantuk kembali mendatangiku, tidak… tidak… Aku harus dapat 20 lembar malam ini, aku tidak boleh tertidur.

“Oh, lihatlah penulis muda kebanggaan semua orang, katanya sudah terkenal, bukunya best seller tapi ditantang nulis novel aja tidak bisa, payah!” Wajah sombong penuh keangkuhan itu tertawa penuh kemenangan di hadapanku.
“Huuuuuu!” Olok-olokkan dari wajah satu persatu orang yang pernah memujiku menggerumuniku sambil mengolok-olok penuh kekecewaan padaku.
“Tidak… tidak… tidak…” aku semakin khawatir, kali ini aku benar-benar sudah malu, sangat malu pada diriku sendiri, tidak ada lagi pujian itu, tidak ada lagi orang yang akan menyanjung karya-karyaku lagi. Kini hanya ada aku yang tersisa sebagai pengecut.

“Andin! Andin sayang, bangun!”
Aku membuka mataku, kurasakan seluruh keringat membasahi tubuhku. Hanya mimpi. Mimpi burukku karena terlalu banyak berfikir tentang hal yang kutakutkan.
“Kamu nggak papa kan, sayang?” Tanya mamaku yang terlihat cemas melihat kondisiku. Aku mendongakkan kepalaku sedikit acuh, lalu kutatap laptop di sebelahku. Kelihatannya ke sleep dan tentu saja halaman Ms Word itu masih kosong, sama dengan otakku sekarang. Kembali aku menoleh pada mama lalu menggelengkan kepalaku sebagai kode bahwa aku baik-baik saja. Hari ini aku bangun tepat pada waktunya, segera kusambar handukku, mandi lalu berangkat ke kedung mutiara, ada louncing buku “The Best Heroes” karya penulis terkenal siang ini, semoga saja aku dapat inspirasi setelah pergi ke acara ini.

Sialnya, aku terjebak macet di tengah jalan karena demo penolakan kenaikan BBM, yang membuatku terlambat dua puluh menit dari waktu yang tertera pada poster acara. Ketika sampai di Gedung Mutiara, acara louncing itu sudah berlangsung, dan pintu masuk tepat berada di samping si bintang utama. Karena malu aku pun menunggu acara itu selesai di tempat sepi belakang gedung itu sambil menunggu acaranya selesai. Lebih dari tiga puluh menit aku duduk sendiri, dan tiba-tiba saja lagu gugur bunga karya Ismail Marzuki dikumandangkan begitu keras.

Lagu nasional ini menggema indah di antara dinding-dinding ruangan gedung tua nan megah ini. Menyisakanku padaku satu pertanyaan yang sama pada setiap lariknya, siapa itu pahlawan bangsa, siapa itu mereka, apakah mereka saja yang telah mengorbankan darah mereka untuk tanah air ini ataukah mereka yang kini terdengar sebagai pahlawan di buku-buku sekolah yang pernah diajarkan guruku? Lalu apa yang harus kutulis dalam bukuku?

“Sedang apa dek, kok sendirian di sini?” Sebuah suara menanyaiku dari belakang.
“Enggak. Nggak papa” jawabku sambil mencoba tersenyum ramah.
“Atau lagi nunggu pacar barangkali?”
“Pacar? Enggak kok, cuma lagi nyari jawaban siapa itu pahlawan bangsa sejati…” Ucapku keceplosan karena masih terbawa syair lagu yang baru kudengar.

Wanita muda yang kira-kira berumur 30 tahunan itu tersenyum ke arahku lalu duduk di sebelahku, kukira kata-kataku telah membuatnya begitu tertarik.
“Lalu siapa pahlawan bangsa sejati menurutmu?” Ia balik bertanya lalu kembali tersenyum ke arahku.
“Entahlah, mungkin yang pernah berperang untuk bangsa ini, atau yang sudah berkorban banyak untuk bangsa ini, Kartini, Jendral Soederman, Soekarno, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Dewi Sartika, Kapten Pattimurra dan entahlah.”
“Kamu benar, kukira nilai sejarahmu pasti bagus di sekolah.” Pujinya yang membuatku serasa mendapat sindiran mengingat bahwa aku sangat benci dengan pelajaran sejarah.
“Ya, mereka memang pahlawan, pahlawan yang rela mempertaruhkan apapun untuk bangsa ini, kamu sudah tahu, kenapa masih bertanya?” Lanjutnya kembali.
Aku terdiam sejenak. Rasanya masih ada yang janggal dan aku sendiri belum puas.
“Maksudku di jaman modern ini, kayaknya nggak ada.”
“Pahlawan sejati itu orang yang mau berkorban untuk kemajuan bangsa ini, orang yang ikhlas, sabar dan tabah serta mempunyai tekad, semangat yang tinggi untuk bangsa, mereka tidak pernah ingin terlihat, dinilai dan dipuji orang lain, karena yang mereka lakukan itu kerja nyata bukan hanya omong kosong semata.”
“Oh,” responku singkat, tapi aku tidak bermaksud sedikitpun menyindir ibu ini, melainkan fikiranku sedikit demi sedikit mulai terbuka mendengar ucapannya.

“Dan siapa itu mereka?”
“Mereka ada di dekat kita, para pemadam kebakaran, guru, bahkan kalau kamu tahu tukang bersih-bersih itu pun pahlawan bagi bangsa ini.”
Aku menganggukkan kepalaku, memang aku pernah mendengar pernyataan ini tapi kukira ini memang benar. orang yang rela berkorban demi bangsa ini.

“Oh, ya dek, kenapa yang kamu sebutkan sebagai pahlawan sejati pertama itu Kartini?”
“Tentu saja Kartini” jawabku dengan senyum yang mengembang di bibir” aku ini wanita tentu ingat dengan emansipasi wanita yang dilakukannya.”
Ia terdiam sejenak, menganggukkan kepalanya sambil berkata “aku tahu kartini itu telah berjasa banyak untuk wanita negeri ini, tanpa melupakan jasa-jasanya, tapi benarkah emansipasi wanita itu datang hanya dari kartini saja?”
“Ya tentu.”
“Ya, kartini telah membuat banyak perubahan untuk bangsa ini terutama untuk wanita yang membuat kita bebas bersekolah setinggi mungkin dan berkarir, tapi kita juga tidak boleh melupakan jasa pahlawan wanita yang lain, bahkan jauh sebelum kartini mengirim surat-suratnya kepada orang belanda, emansipasi wanita pun sudah dilakukan, buktinya perjuangan Cut Nyak dien, ia wanita tapi juga berperang, membuktikan bahwa wanita juga dapat menjadi pemimpin pada masanya. Selain itu kita ada Dewi sartika, Rohana Kudus, Cut Nyak Meutia, Hj R. Rasuna Said. Dan masih banyak lagi, tentu kita harus tetap mengenangnya bukan. Terlebih wanita yang selalu ada di dekat kita.”
Aku menganggukkan kepala. Kulirik jam tanganku, ternyata sudah jam 11.00 siang waktunya pulang sesuai yang kujanjikan pada ibuku. Kuucapkan terimakasih telah menjawab pertanyaanku dan memberikan inspirasi padaku. Walaupun baru beberapa menit berkenalan dengan orang ini dan kebetulan aku tidak tahu siapa namanya namun wanita ini sangatlah baik dan pandai. Aku pun tanpa sungkan meminta alamat e-mailnya untuk dapat berkomunikasi dengannya kembali.

Sesampainya aku di rumah masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab dari ucapan wanita itu, siapa wanita yang ada di dekat kita? Kufikir-fikir sejenak, mungkinkah? Aku melangkahkan kakiku menuju dapur, wanita dengan tubuh gemuk dengan kulit sawo matang itu kupeluk erat-erat. MAMA, KAULAH PAHLAWAN SEJATIKU.

Aku memandang wajah Emma, si Queen drama itu yang kini tertunduk malu di hadapanku. Ia memegang novel karyaku sambil mengucapkan ucapan selamat di hadapanku sambil memuji novelku. Aku pun membalasnya dengan senyum, “berkat kamu dan satu orang lagi aku tahu apa itu makna pahlawan sejati. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, harusnya aku yang berterimakasih padamu, karena kamulah novel ini bisa terbit.” Aku kembali tersenyum ke arahnya, kata-kataku ini benar-benar tulus, namun wajah sinis itu kembali muncul dan langsung meninggalkanku.

Aku tersenyum kembali, berusaha mengingatnya sebagai pengalaman. kulihat-lihat beberapa komentar yang muncul di cover bukuku ini. kubaca salah satu komentar dari penulis “The Best Heroes”, karena penasaran aku pun mencoba browsing siapa dan bagaimana orang itu. Ternyata orang itu adalah wanita yang duduk di sebelahku dan memberikan inspirasi untuk novelku. Aku pun segera mengirimkan sebuah pesan lewat alamat E-mailnya. Mengucapkan banyak terimakasih kutambahkan ungkapanku siapa itu pahlawan wanita sejati yang ada di dekat kita.

Dialah ibu, orang yang selalu ada di saat kita susah dan selalu tersembunyi di antara kebahagiaan kita. dialah ibu, yang melahirkan dan mendidik anak-anaknya hingga menjadi calon-calon pahlawan bagi bangsa ini, yang juga menciptakan ribuan pahlawan untuk bangsa ini. dialah ibu, yang selalu mendoakan dan berusaha melakukan apapun untuk anaknya. Wanita yang kadang terlupakan ini adalah pahlawan terbaik yang tidak boleh dilupakan oleh setiap manusia yang ada di muka bumi ini.

Cerpen Karangan: Isti Komah
Untuk Ayah

Untuk Ayah

Judul Cerpen Untuk Ayah

Gadis kecil itu adalah Nina, terlihat sedang duduk di sebuah kursi roda. Matanya menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang. Seolah meminta harapan untuk dirinya.

“Nina, masuk yuk, sudah malam ini,” pinta Ibunda Nina.
“Bunda, Nina rindu ayah, Nina ingin bertemu ayah, bunda…,” ucap Nina sambil terus memandangi langit.
Sekejap Ibunda tertunduk, matanya meneteskan butiran air mata yang jatuh ke pipinya. Namun ia mengusapnya dengan cepat.

“Nina sayang, ayah masih bertugas. Nanti pasti ayah pulang dan memeluk Nina,” jawab Ibunda sambil mengelus kepala Nina.
“Tapi kapan bunda? Nina rindu sekali dengan ayah, Nina ingin ayah datang saat ultah Nina, bunda…,” ucap Nina penuh harap.
“Nanti sayang… Nina sekarang tidur, terus berdoa kepada Tuhan agar ayah cepat pulang dan memeluk Nina, oke sayang?” balas Ibunda berusaha menenangkan Nina.
“Ya sudah bun, Nina tidur sekarang,” balas Nina.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan meninggalkan suasana malam yang dingin.

Pagi itu, Nina terlihat duduk di depan jendela kamarnya. Masih dengan kursi roda yang masih setia menyangga tubuh lemahnya. Tangan kanannya terlihat memegang sebuah pensil dan sebuah kertas kecil di pangkuannya. Perlahan, Nina mulai menulis sesuatu.
Setelah selesai menulis, Nina melipat kertas itu dengan rapi lalu menggenggamnya dengan erat.

“Nina, sarapan dulu ya…,” ujar Ibunda sambil membawa menu sarapan untuk Nina.
“Iya bunda…,” jawab Nina sambil menebar senyum manis.
Nina terlihat sarapan pagi dengan sangat lahap. Tidak seperti biasanya.

“Bunda, ayah kapan pulang? Kok masih lama? Nina rindu..,” Nina kembali bertanya tentang Ayahnya. Matanya berkaca-kaca. Seolah sangat rindu dengan Ayahanda terinta.
“Nina sayang, ayahmu pasti pulang kok… Dan pasti dia datang di hari ulang tahunmu, sayang,” balas Ibunda.
“Tapi kapan bunda…?” jawab Nina.
Ibunda tidak menjawab, hanya diam sambil memandangi wajah polos anak semata wayangnya itu.

“Nina sayang, nanti setelah makan, kamu ikut bunda ke lapangan ya?” ucap Ibunda.
“Ha? Kenapa ke sana bunda?” tanya Nina dengan heran.
“Sudahlah sayang, pokoknya kamu ikut ke lapangan ya…,” jawab Ibunda yang semakin membuat Nina heran.
“Ya sudah deh bunda, Nina ikut,” balas Nina sambil sekali lagi tersenyum.
“Tapi, Nina harus memakai penutup mata dulu, oke?” ucap Ibunda.
“Kok pakai gituan bunda?” Nina semakin heran.
“Sudahlah…,” balas Ibunda.
“Ya sudah deh, bunda,” jawab Nina pasrah

Setelah makan, mereka berjalan menuju lapang sepak bola di sudut kompleks perumahan. Dengan penutup mata, Nina ditemani Ibunda menuju lapangan.
Mereka pun sampai di sebuah lapangan hijau yang teramat luas.
Mereka menuju ke sebuah pohon mangga di sudut lapangan. Mereka berteduh di bawah naungan daun pohon mangga.
“Nina, kita berteduh di sini dulu ya nak…,” ucap Ibunda.
“Iya bunda…,” balas Nina denga senyum manisnya.

Hampir 1 jam mereka di sana. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, suara gemuruh terdengar begitu nyaring.
“Bunda…! Bunda…! Kenapa ini? Ada apa ini? Nina takut bunda… Ayo pulang,” ucap Nina ketakutan sambil memeluk Ibundanya.
“Tenang sayang, tidak ada apa-apa kok… Tenang ya…,” balas Ibunda berusaha menenangkan Nina.
“Tapi Nina takut bunda…, Nina takut…,” Nina terus memeluk Ibundanya dengan mata masih tertutup.

Setelah 5 menit, suara gemuruh dan angin kencang sudah tidak ada.
“Nina sayang, kita ke tengah lapangan yuk…,” ucap Ibunda.
“Tidak mau bunda, Nina takut…,” Nina masih saja takut dengan suara gemuruh tadi.
“Tidak apa-apa nak,” balas Ibunda.
“Hmmm… Ya sudah deh bunda,” balas Nina, pasrah.
Mereka pun menuju ke tengah lapangan.

“Nina sayang, kamu sudah siap kan?” tanya Ibunda.
“Sudah siap apa bunda?” Nina semakin heran.
“Sudah siap untuk membuka mata?” tanya Ibunda sekali lagi.
“Sudah bunda…,” jawab Nina.
Dengan perlahan, kedua tangan Ibunda Nina membuka penutup mata dari belakang. Matanya terus meneteskan air mata.
“Nah, sekarang Nina sudah boleh buka mata…,”

Perlahan, Nina membuka mata kecilnya. Bayangan masih belum jelas. Tapi perlahan, matanya dapat melihat sebuah benda besar berwarna hijau tua di hadapannya.
“Wooow… Bunda, ini helikopter kan bunda? Yang ada di televisi itu? Iya kan bunda?” tanya Nina. Ia baru kali ini melihat helikopter secara langsung.
“Iya nak, ini helikopter… Katanya kamu mau jadi pilot wanita…,” balas Ibunda sambil tersenyum.
“Iya bunda, tapi yang Nina mau adalah ayah, bukan helikopter…,” balas Nina. Wajah polosnya tidak lagi ceria, ia tetap saja mau ayahnya datang.

Tiba-tiba seorang lelaki berbadan tegap dengan seragam TNI turun dari atas pesawat. Wajahnya tertutup topeng putih.
“Bunda… Itu siapa bunda? Itu siapa?” Nina ketakutan melihat pria bertopeng itu.
“Tenang sayang…,” balas Ibunda.
Pria itu terus saja mendekati Nina. Nina kembali menutup matanya.
“Haii…. Sayang…,” pria itu menyapa Nina dengan berbisik.
“Kamu siapa? Pergi!” Nina masih saja menutup matanya.
“Buka dong matanya…,” perintah pria itu.
Nina pun membuka matanya perlahan. Seorang pria gagah dengan seragam TNI berdiri di hadapannya. Kedua tangan pria itu memegang sebuah tulisan…
“Happy birthday Nina sayang…,” ucap pria gagah itu dengan lembut.
“AYAAAAHHHH…!!!” teriak Nina. Pria itu langsung mendekap Nina dengan penuh kasih sayang. Air matanya tumpah saat mendekap Nina.
Ya, pria gagah itu adalah ayah Nina. ia pergi selama 3 tahun karena ada misi perdamaian di luar negeri. Selama berpisah, Nina selalu menanyakan kapan ayahnya pulang ke Indonesia.

Air mata Nina terus tumpah. Ia menangis bahagia di bawah dekapan ayah tercinta. Nina tidak menyangka, ayahnya datang saat hari ulang tahunnya. Ibunda Nina juga mendekap Nina dengan penuh kasih sayang. Nina masih saja tidak percaya dengan semua ini. Ia masih tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan seseorang yang amat dicintainya di hari ulang tahunnya

“Ayah, Nina sayang dengan ayah. Ayah juga sayang dengan Nina kan?” ucap Nina dengan berlinang air mata.
“Iya sayang, Ayah sangat sayang dengan Nina. Nina terus berusaha dan berdoa ya, agar nanti bisa jadi tentara seperti ayah… Dan bisa sembuh dari penyakit..,” balas Ayah Nina sambil memandangi wajah Nina.
“Iya ayah…,” jawab Nina.

Ayah dan Ibunda Nina tetap mendekap putrinya itu. Air mata masih mengalir deras di pipi mereka masing-masing. Mereka terlihat sangat bahagia di hari ulang tahun Nina. Mereka berharap Nina masih bisa merayakan ulang tahunnya tahun depan.

Saat mendekap Nina, Ayah merasakan sesuatu aneh terjadi. Entah apa yang ada di benak Ayah Nina hari itu. Ada hal ganjil yang membuat otaknya kacau. Sejenak ia terdiam. Benar saja. Ayah Nina tidak merasakan detak jantung Nina. Sontak saja Ayah Nina menatap wajah anaknya itu. Kedua lubang hidung Nina mengeluarkan darah merah. Sekali lagi Ayah Nina memeriksa detak jantung Nina. Tidak ada detak jantung sama sekali.
“Nina… Nina sayang… Bangun nak.. Bangun…!” Ayah Nina berusaha membangunkan Nina. Tapi tetap hasilnya nihil. Nina meninggal di dekapan ayahanda tercintanya.

Tak sengaja Ayah Nina melihat sebuah kertas kecil di tangan kanan Nina. Ia membuka dan membaca kertas itu. Tangannya gemetar saat membuka kertas kecil itu.

Untuk Ayah Tercinta
Ayah, Nina rindu sama ayah… Ayah kapan pulang? Nina ingin dipeluk ayah di hari ulang tahun Nina… Nina sangat ingin dipeluk ayah… Tapi hal itu tidak mungkin terjadi, itu mustahil. Mungkin Nina bisa bertemu dengan ayah nanti, tidak sekarang. Ayah… Nina doakan semoga ayah kerjanya lancar…
Nina sayang ayah…
Dari
Elnina

Ayah Nina makin tak percaya. Putri semata wayangnya meninggalkannya saat hari ulang tahun putrinya. Air matanya tumpah ruah membasahi seragamnya. Rasanya baru pertama bertemu Nina, namun Nina sudah tiada. Nina sekarang tenang di sana. Tidak lagi merasakan sakit kanker yang menggerogoti tubuh mungilnya.

Cerpen Karangan: Titov Varel
Facebook: Titov Srh Yamadict TL
Demi Ayahku

Demi Ayahku

Judul Cerpen Demi Ayahku

Dinginnya pagi bersama terpaan embun yang menuntun langkahku untuk menuntut ilmu, sesuatu yang wajib kulakukan sebagai pelajar. Tidak seperti biasanya, pagi ini dinginnya udara sampai menembus pori pori kulitku dan merasuk ke dalam tulang. Waktu telah menunjukkan pukul 8 tepat. Lari adalah satu satunya hal yang dapat mengejar waktu keterlambatanku untuk sampai ke kampus. Setiap hari, aku selalu mendapat hinaan dan celaan dari semua temanku, lemparan kata kata kasar yang membuat hatiku lemas terkulai karenanya. Begitupun dengan guruku, bukan kasih sayang seorang guru yang kudapat melainkan cacian dan kemarahan yang terus menerus diucapkan padaku, karena sebuah kata terlambat.

Setiap sore saat pulang dari kampus hingga larut malam. Kegiatan rutinitas yang kulakukan adalah menjual sebuah pem pek sederhana yang hanya dibuat dari sebuah tepung kanji dan sepotong ketela pohon. Yang kujual dengan harga 2 ribu saja. Tidak seperti kebanyakan anak sekolah, yang bisa menyempatkan waktunya untuk belajar. Tidak bagiku, tidak ada sedikitpun waktu untuk kumanfaatkan membuka lembaran lembaran buku. Setiap selesai berjualan rasa kantuk menghinggapiku, itu alasan dari keterlambatan rutinku. Ini semua kulakukan untuk ayahku satu satunya yang masih hidup. Ayahku dahulu bekerja menjadi nelayan, karena kecelakaan yang terjadi 5 tahun silam menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki ayahku. Hal tragis itu membuat ayahku kehilangan pekerjaannya. Dan karena rasa ibaku pada ayah, aku rela menggantikan posisi ayahku sebagai kepala keluarga dengan berjualan, walau hanya sekedar pem pek.

Namaku Ardian Situmalarang, namaku sangat khas, nama itu diambil ketika ibuku masih hidup. Memang dahulu ibuku berasal dari Minangkabau, itu sebabnya namaku beraroma Padang. Ibukku meninggalkan kami ketika aku masih berusia 2 tahun. Sejak kematian ibukku, ayahku selalu meronta kesedihan. Aku kuliah di Universitas Gajah Putih, Maluku Utara. Pastilah, biaya perkuliahan sangatlah mahal, untunglah aku bisa mendapat beasiswa atas prestasi yang kudapat. Kurang 1 semester lagi, aku bisa membanggakan hati ayahku dikarenakan aku bisa meraih gelar sarjana. Aku tetap bertahan walau terpaan makian yang selalu aku dan ayah dapatkan dari orang orang yang membenciku, entah apa salahku dan ayahku.

6 bulan kemudian…
Harapan yang kutunggu tunggu telah terwujud. Akhirnya aku lulus dari perkuliahan selama 4 tahun silam. Hatiku selalu didera dengan kebahagiaan, atas kelulusan yang kucapai. Bangga, bangga, dan rasa bangga yang terus bergejolak sejak kelulusan itu. Tangisan kebahagiaan yang sedang kualami, rasa hati mengatakan tak sabar memberitahu pada ayahku akan semua ini. Lalu aku cepat berlari menuju rumah dan mengatakan hal ini pada ayah.

“Yah, ayah pasti senang dengan semua ini” girangku pada ayah.
“Ada apa Ardian anakku, hal apakah yang membuat dirimu tersenyum bahagia seperti ini?” kata ayahku heran melihat kegiranganku.
“Aku wisuda yah, aku sudah jadi sarjana.” jelasku dengan muka bahagia.
“Sungguh anakku!” kejut ayahku setelah mendengar kelulusanku.
“Ya.” kataku.
“Ayah bangga padamu nak, akhirnya impianmu terwujud juga. Selamat atas kemenanganmu nak! Tidak sia sia perjuanganmu selama ini Ardian.” takjub ayahku sambil memeluk tubuhku.
“Aku bahagia jika ayah ikut bahagia.” ucapku tersenyum manis pada ayah.

Perjuanganku selama 21 tahun, telah mencapai tahap akhir dari hidupku. Tahap akhir itu adalah jadi sarjana. Akhirnya aku bisa membangkitkan tawa dan senyuman ayahku, setelah 21 tahun larut dalam kepedihan.

Ini kisahku…

Selesai

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan
Merindukanmu

Merindukanmu

Sinar mentari menyinari kamarku. Melalui jendela kamar yang terbuka. Wangi bunga-bunga di halaman yang diselimuti oleh embun pagi, memenuhi kamar mungilku yang juga berhias bunga. Pagi ini begitu cerah. Tapi tidak begitu dengan hatiku. Tidak bisa kudefinisikan apa perasaaanku saat ini.

Sebuah foto berukuran postcard kugenggam erat-erat. Foto seorang pria memakai baju batik berwarna coklat lembut. Ia tampak tersenyum sambil memegang sebuah piagam yang bertuliskan “Guru terbaik se-Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau”. Ia begitu gagah. Sudah puluhan kali aku memandangi foto itu, tapi tak pernah merasa puas.

Aku merindukannya. Sudah hampir dua tahun sejak ia pergi meninggalkanku. Ingin rasanya aku bertanya, kenapa ia meninggalkanku? Tanpa sebuah pesan. Membawa seluruh kenanganku bersamanya. Kenapa ia pergi meninggalkanku? Disaat aku menyayanginya? Di saat aku membutuhkannya?

Aku hanya bisa diam, di kamar ini. Aku tak bisa marah dengannya. Aku juga tak bisa menyalahkan kepergiannya. Air mataku mengalir. kugenggam erat foto itu di dadaku. Aku masih ingin memeluknya. Menggenggam tangannya seperti dulu. Bersepeda bersama di sore hari. Membuatkan makanan favoritnya.

“Hari ini, aku akan pergi dengan pria lain. Pria yang benar-benar menyayangiku. Bukan berarti aku sudah lupa padamu. Tapi sudah saatnya aku pergi dengan pria itu. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya.” Ucapku dalam hati.

Klerk! Seseorang membuka pintu kamarku.
“Kau masih di sini, Sayang? Mereka sudah datang. Semua orang menunggumu.” Kata seorang wanita yang baru saja masuk ke kamarku.
Aku mengusap wajahku yang basah oleh air mata.
“Kenapa kau menangis? Apa kau merindukan ayahmu?” Katanya lagi. Ia melirik foto yang sedang kupeluk. Tangannya mengusap sisa-sisa air mata di wajahku.
“Ibu…” ucapku pelan.
“Sini. Peluk ibu.” Katanya
“Ayahmu pasti bahagia. Karena mulai hari ini ada orang yang akan menjagamu, menggantikannya.” Ibu memelukku dengan hangat. Kenapa aku bisa lupa? Masih ada dua orang lagi yang menyayangiku. Ibuku. Dan adikku, yang saat ini berdiri di depan pintu.

Hari ini hari pernikahanku. Ayahku yang seharusnya menjadi wali, telah pergi mendahului kami semua, karena sakit jantung yang dideritanya. Akulah yang tidak ada di sisinya saat ia pergi. Tapi aku tidak bisa menyesalinya, semua sudah kehendakNya.

“Ayah. Maafkan aku. Aku selalu menyayangimu. Saat ini hanya do’a yang bisa kuberikan padamu. Izinkan aku pergi bersamanya. Pria yang kusayangi” Ucapku dalam hati.

Cerpen Karangan: Anthika
Facebook: Anthika Alfarobi
Finishing Well My Hero

Finishing Well My Hero

Aku sudah berdiri di depan gedung ini sekarang, ini adalah hal yang paling kutakuti di dalam hidupku ya tuhan bukannya tiga hari yang lalu dia meyakinkanku bahwa dia akan baik-baik saja, aku melihat jam di tanganku jam 06.45 pagi. Tadi malam aku harus menginap di bandara untuk mengejar penerbangan tadi subuh dari kota dimana aku menempuh studi perkuliahanku ke kota asalku saat ini. Aku tak tau bagaimana bentukku sekarang itu sangat tidak penting lagi bagiku, aku hanya bisa menangis sejak aku mendapatkan telepon dari kakakku kemarin sore kalau aku harus ke sini di tempat ini tempat yang sangat menyeramkan.

Teleponku berbunyi lagi “dek, kamu sudah di mana cepatlah ke sini” ini suara kakakku suara yang menunjukkan rasa khawatir yang begitu dalam “aku sudah di depan kak” “cepatlah, mama dirawat di lantai dua ruang VIP sebelah kanan paling ujung” telepon mati. Aku menangis lagi mengingat semua yang telah terjadi, mamaku sudah masuk di dua rumah sakit satu bulan terakhir, dengan penyakit komplikasi yang dideritanya sangat tidak jelas bagiku penyakit apa sebenarnya yang sedang diderita pahlawan hidupku ini, semua memang disembunyikan dariku sebagai anak bungsu yang begitu dekat dengan keluarga aku cepat sekali drop jika mendengar keluargaku sakit, itu alasan mamaku dan keluargaku untuk tidak memberitahuku apa sebenarnya terjadi

“mama baik-baik saja nak, beberapa hari lagi juga pulang ke rumah kamu fokus kuliah ya sebentar lagi kan ujian” itu kata yang kudengar darinya tiga hari yang lalu, kata orang memang betul bahwa ibu itu seorang pembohong besar untuk kebaikan anaknya. Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku menuju lantai dua sesuai petunjuk kakakku, aroma rumah sakit ini begitu menjijikkan bagiku, aku benci tempat ini aku melawati lorong demi lorong rumah sakit, aku melihat banyak sekali pasien dengan berbagai macam penyakit aku tak sanggup dengan semuanya ini kenapa harus ada penyakit kenapa mesti orang-orang yang begitu kita kasihi yang memasukki tempat ini, ruang VIP ada papan yang menunjukkan lokasi tempat pahlawanku dirawat “Tuhan aku mohon selamatkan pahlawanku” doaku selalu dalam hati.

Sebelah kanan paling ujung ini dia ruangannya. Dari luar aku sudah mendengar isak tangis ada apa ini aku tak sanggup dengan semua ini, perlahan tanganku mulai membuka pintu oh tidak aku menangis tanganku bergetar hebat hatiku sangat kacau, kenapa mama tidak menyambutku dengan pelukan hangatnya kenapa mama tidak menyapaku seperti biasanya kenapa aku harus melihat mamaku dalam kondisi seperti ini ya tuhan, mamaku tak pantas untuk berada di sini dia terlalu baik bahkan sangat baik dia tak harus merasakan ini semua, mereka semua ada di sini papa dan kakakku ada di sini.

“ke sinilah via, kesinilah nak” papaku memanggil, dari tadi aku hanya berdiri di depan pintu tak mampu terima kenyataan ini air mata terus mengalir di pipi ini, aku melihat kelima orang saudaraku aku melihat papaku mereka begitu kacau aku melihat kepedihan yang amat dalam di wajah papaku, aku mengerti begitu sangatnya ia mencintai mamaku aku berlari mendekati mamaku “mama aku pulang, mama tak mau memelukku?” oh tuhan kejam sekali kenyataan ini aku tak berhenti menangis, mereka memeluk mereka menguatkanku mama tak bisa melihatku apalagi berbicara padaku, mamaku sangat kurus dia ditemani dengan tabung oksigen dan selang-selang yang melilit tubuhnya aku tak mengerti untuk apa ini semua tapi aku yakin ini semua cara mereka untuk menolong mama iya mama harus tertolong.

“mama sudah sangat parah sejak kemarin siang, bahkan obat sudah susah untuk masuk ke dalam tubuhnya” papa memberitahu kondisi mama saat ini, aku terus menangis dan lagi dia memelukku “makanlah dulu, kamu capek pasti dari tadi malam belum makan kan?” “nanti saja pa” aku tak bisa berkata tidak aku tak mau papaku bertambah beban pikirannya “kamu jaga kesehatan dek, jangan sampai sakit” kakakku menambahkan, sok tegar sekali mereka aku tau persis apa yang mereka rasakan tapi aku mengerti saat ini kami harus saling menguatkan.

Papaku menuntun kami untuk berdoa bersama memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan mama saat ini, setelah itu aku keluar dari ruangan itu aku menangis sejadi-jadinya “oh tuhan ini sangat sakit sekali” kataku dalam tangisku, aku masih punya harapan besar untuk membahagiakannya masih banyak rencana-rencana kami yang belum terwujud aku ingin dia ada disaat aku memakai togaku beberapa tahun lagi, aku tak berhenti menangis menangis dan menangis lagi.

“dek kakak sangat mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, kakak juga merasakan hal yang sama” “kenapa kalian baru telepon aku disaat kondisi seperti ini, kenapa bukan kemarin disaat mama masih bisa melihat kepulanganku” jawabku marah “tak ada yang menginginkan kondisi ini, mama yang selalu kuat untuk meyakinkan kamu, bentar lagi kamu ujian mama tak mau kamu terganggu. Kamu tau bagaimana mama kan selalu pura-pura kuat untuk kita” kakakku menangis “mama mengalami pendarahan di dalam perutnya, setiap makanan yang dia makan selalu dibuang dalam bentuk darah, mama juga memiliki cairan dalam paru-parunya sehingga membuatnya tak bisa bernafas. Itulah semua selang-selang itu untuk membantu mama” “kenapa tidak dikasi obat kak” “mama punya penyakit gula yang tinggi sehingga luka dalam perutnya akibat asam lambung susah untuk disembuhkan” aku menangis lagi.
“via kesinilah, mama buka mata dia menyebut namamu” papa memanggil, aku langsung lari melihat kondisi mama.

“via kapan datang nak?” mama berusaha tersenyum “tadi pagi ma, mama apa kabar?” aku berusaha menahan tangisku “mama baik, kenapa pulang kan minggu depan ujian” “aku kangen ma, akan ada ujian susulan” “kamu kurus setiap pulang via, makan dulu biar gemuk” ah… Mama selalu saja begitu memikirkan hal yang seharusnya tak dia pikirkan untuk saat ini “via sudah makan banyak tadi ma, mama yang makan via suapin ya” mama menganguk lalu aku menyuapinya

“mama makan yang banyak biar cepat sembuh” kataku berusaha kuat di depan pahlawanku ini aku mendengar isak tangis keluargaku “mama sudah banyak bicara sama orang kakakmu, mereka sudah kerja semua nak tinggal kamu, kamu harus cepat tamat kuliah kamu harus sukses jangan pernah lupa dengan nasihat mama yang selalu mama sampaikan setiap kita telfon” “iya ma, aku janji aku akan segera tamat dan akan selalu ingat nasehat mama, bukannya mama datang kalo via wisuda” mama hanya tersenyum lalu menangis, oh tuhan tangisku pecah sudah aku tak tahan lagi, dia menyuruh kami untuk berkumpul dan berdoa untuknya dia memandangi kami satu persatu tersenyum dan membelai pipi kami dia tersenyum “mama mau tidur” dia menutup matanya dengan senyum, papaku langsung menangis sejadi-jadinya.

Aku baru sadar mamaku tidur selamanya, kakakku memanggil dokter “maaf, sudah tidak bisa tertolong” kata dokter “mama bangunnnnnn” suara histeris kami tangis pecah tak terima dengan semua ini “jawaban doa macam apa ini tuhan” teriakku, mamaku sudah tersenyum bahagia, aku tak bisa menerima ini semua ini mimpi buruk aku ingin waktu kembali mamaku harus bangun

“dia sudah meneyelesaikannya dengan baik nak” papaku menguatkan, “aku pulang bukan untuk ini pa, aku ingin mama” jawabku, ini tak nyata aku tak bisa terima ini semua terlalu cepat aku ingin tidur supaya disaat aku bangun semua kembali seperti biasa ia mamaku baik-baik saja.

Cerpen Karangan: Elviad Ghea
Facebook: Elviad Ghea
Demi Sebuah Asa

Demi Sebuah Asa

Judul Cerpen Demi Sebuah Asa

Hari berganti hari waktu kini terasa cepat berlalu namun aku masih tetap di sini bersama keluarga kecilku di istana yang jauh dari kemewahan dan kegelimangan harta. Bukan berarti aku tak mensyukuri. Aku hanya berusaha berjuang dan bertahan hidup bersama ibu, kakak dan adik bungsuku. Merekalah penyemangat di setiap hariku bahkan segala-galanya bagiku. Dari kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri tanpa seorang kepala keluarga. Melewati hari hari tanpa belaian dan kasih sayang seorang ayah. Namun aku tak ingin terlarut dan membuat keadaanku menjadi semakin sukar. Sebagai tulang punggung keluarga, meski dengan upah yang kecil aku akan selalu berusaha bekerja sekeras mungkin.

O, ya namaku Tio umurku delapan tahun aku dan keluargaku tinggal di sebuah desa yang tak begitu jauh dari pusat kota aku senang sekali menulis dan membaca buku. Sewaktu aku masih bersekolah dulu aku sangat ingat dengan pesan guruku bahwa ilmu tak kan berguna jika tidak dibagi dan diamalkan kepada orang lain. Oleh karena itu aku sangat bersukur karena aku masih sempat mengenyam banggku SD meskipun tek berselang lama.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara, kakak sulungku bernama Eka dan adik bungsu ku bernama Tria. Kakakku hanya senang berdiam diri di rumah entah apa yang dilamunkannya, tatapannya seakan kosong, terpaku dan terus membisu setiap pertanyaan yang terlontar dariku. Hal itu yang menjadi alasan mengapa hingga kini kakakku tidak bersekolah. Keterbatasan mental dan keadaan keluargaku yang tidak memungkinkan. Meskipun ia seperti itu aku tetap menghargai dan menyayanginya sebagai seorang kakak, apalagi dia adalah kakakku satu satunya. Sedangkan Tria, adikku yang sangat pandai dan lucu ini sungguh sangat cerdik bahkan lebih cerdik dariku. Aku berusaha umtuk mengajarkannya menulis dan membaca setauku. Pernah suatu malam dia bertanya padaku perihal ayahnya.
“Ka, kata ibu dulu kita punya ayah. Ayah sekarang ada di mana kak. kok tidak bersama kita di sini?” katanya dengan muka penuh tanya padaku.
“E… e… e.. ayah, sekarang sedang mencari pekerjaan di luar sana?” kataku dengan nada terbata bata.
“Ooo… untuk kita kan kak? dan ayah akan kembalikan kak?” Ujarnya kembali bertanya.
“Ya iya dik…” kataku sambil tersenyum kikuk.
Maafkan kakak dik mungkin saat ini kakak belum bisa membicarakan yang sebenarnya kepadamu.

Terkadang disela aktivitas, sering terpikirkan olehku tentang ayah, aku rindu sekali dengannya begitu juga yang dirasakan oleh keluarga kecilku. Terutama ibu dan Tria, mereka juga pasti menyimpan rasa kerinduan yang teramat mendalam sepertiku.

Ayah kapan kau pulang, di mana kau sekarang, bagaimana keadaanmu. Ayah apakah kau tau bagaimana keadaan kami di sini. Di mana kau ayah, dimana?.tanyaku selalu dalam hati. Pernah terpikir olehku mencari ayah ke kota, demi orang yang kusayang. Namun aku tak cukup nyali tuk pergi dan melangkahkan kaki di sana. Apalagi bocah sekecilku paling hanya menjadi budak budak di pinggir jalan. Ya sudahlah mau diapakan lagi jika tangan tak sampai, mungkin ini sudah nasib. Sekarang yang sedang fokus kupikirkan adalah uang, uang, dan uang. Bagaimana caranya agar hari ini aku dapat makan bersama keluarga. Kami hanya tinggal berempat di rumah dan hidup serba kekurangan namun aku tak ingin berputus asa. Meski aku hidup miskin, tapi ku pantang mengemis. Allah maha bijaksana ia memberikanku anggota tubuh yang lengkap dan sempurna. Aku amat bersyukur dan dari itu aku memutar otak bagaimana caranya agar aku dapat menghidupi ibu, kakak, dan adikku.

Aku juga sangat bersyukur karena allah telah memberiku kemudahan lewat perantara orang-orang yang ada di sekitarku. Seperti halnya pak Biro, beliau adalah juragan tanah di desaku. Beliau sangat terkenal dengan tanahnya yang begitu banyak. Salah satunya tanah yang sedang kutempati sekarang. Meskipun dengan rumah yang tak lagi layak dihuni namun aku sudah sangat berterimakasih kepada beliau yang mau memberikan tumpangan secara geratis. Pak Biro memang baik dan tak banyak celoteh tapi aku tetap tak enak hati dengannya. Maka dari itu aku selalu mengumpulkan uang untuk mengontrak di tempat lain, tetapi uang itu selalu saja habis.

Ya, demi biaya berobat ibu, kuharap ibu bisa sembuh seperti yang kubayangkan sebelumnya. Aku ingin sekali melihat ibu kembali sehat seperti sedia kala. Tertawa, gembira, dan bercanda ria bersama kami di tengah rumah. Aku rindu saat-saat seperti itu, kini aku hamya bisa berharap semoga Allah mengangkat penyakit ibu dan melihat ibu kembali ceria.
Aku tidak tega melihat ibuku yang buta harus menahan rasa sakitnya sendirian. Rasanya ingin sekali kupindahkan penyakit ibu ketubuhku. Biarlah aku yang merasakannya ibu…

Mungkin ibu begini karena ayah. Mengapa ayah bisa setega ini meninggalkan kami. Sudah dua tahun lamanya ia pergi dan kini tak ada kabar. Mengingat semua ini rasanya hanya menyisakan pilu dan tanya yang menjadi dendam dihati. Tapi aku tak seharusnya seperti itu,
Haruskah kucari ayah di sana?

Hari ini adikku memintaku untuk membuatkannya sarapan tapi aku bingung, apa yang harus kumasak. Jangankan memikirkan sarapan tungku saja jarang menyala. Ya allah apa yang harus kusajikan pagi ini.
“Tok tok assalamualaikum…” tiba tiba terdengar suara orang mengetok pintu.
“Iya, waalaikumsalam”. Jawabku sembari membuka pintu.
Ternyata yang datang ibu Hani tetangga di sebelah rumah, ia datang dengan membawa semangkuk bubur ayam dan sepiring nasi.
“Ini nak ada sedikit makanan ibu beli dari tukang bubur yang lewat dimakan ya?. Ibu Hani, sambil menyodorkan makanan itu kedepanku.
“Oh terimakasih banyak ya bu.” kataku.
Syukurlah ada ibu hani yang berbaik hati mengantarkan makanan, kalau tidak aku harus mencari makanan di mana lagi pagi pagi begini.

Setelah adik dan ibu selesai makan sekarang giliran kakak yang belum makan
“Kakak, sarapan dulu yahhh” bujukku kepada eka yang sedang duduk termenung sambil bersandar di tiang teras rumah. Jika sudah begitu aku hanya bisa meletakkan sarapan dan segelas air putih di sampingnya. Miris rasanya melihat kakak seperti ini, tapi hal ini tidak membuatku malu dan berputus asa. Justru karena keterbatasan itu aku sangat menyayangi kakak perempuanku yang satu ini.

Setelah itu aku segera ke pelabuhan pangkalan kelotok tempatku biasa bekerja, dan menjadi kuli angkat barang di kelotok pak Dadang yang bernomor kelotok 43. Kelotok adalah perahu yang berjalan lambat di daerahku. Sesampainya di sana seperti biasa hamparan kelotok yang belum melaju berjejer rapi, hembusan angin yang perlahan bertiup seakan selalu menyemangatiku. Ya, pak Dadang yang pada saat itu lebih dulu melihatku segera memanggilku.
“Ali… sini cepat angkat barang barang bapak ini!!” teriaknya dari arah loket pembayaran karcis.
“Siap pakkk”. Sembari berlari menuju penumpang yang terlihat membawa segerombol keluarganya itu.

Tanpa memperhatikan dan pikir panjang langsung saja aku bertanya pada bapak penumpang itu.
“Nomor kelotok 43 ya pak.” tanyaku kepada bapak itu sambil membwa barangnya dengan cepat.
“Iya dek”. jawab bapak itu sambil mengambil dompet dari kantong celananya.

Setelah semua barangnya telah kuangkut ke dalam kelotok. Tanpa kusadari ternyata bapak bersama keluarganya itu merupakan pak Rusli. Beliau adalah bapak yang pernah aku tolong.E ntah mengapa kami berdua sangat akrab semenjak hari itu apalagi dengan anak semata wayangnya yang bernama Haidar. Beliau dan sekeluarga memang sering berkunjung kendesaku.

“Eh, pagi pak…!!!” seruku menyapanya.
“Astaga ternyata kamu Ali. Maaf bapak kira siapa tadi”. sambil menepuk pundakku.
“Iya pak ini saya, saya juga baru sadar ternyata barang yang sedari tadi saya angkat itu milik bapak sekeluarga.
Oiya pak. Haidar mana?” tanyaku.
“Haidar sedang dirawat di rumah sakit, dan ditemani ibunya di sana” ujar pak Rusli perihal anaknya yang terbaring sakit.
“Haidar sakit apa pak?” tanyaku kembali.
“Dia divonis menderita sakit jantung, dan sekarang om bingung harus bagaimana. oleh karena itu om ke sini untuk memberi tahu dan menjemput neneknya. O ya untung om ingat. Dia titip salam untukmu sebelum om berangkat tadi” jelas ayahnya.
“Ya allah… innallilllahiwainnailaihi rojiun, semoga Haidar diberi kesembuhan oleh allah. Saya turut berduka cita ya pak.” ujarku sambil terkaget.

Cerpen Karangan: Nur Alliyah
Facebook: Nur Allyah
Saudaraku

Saudaraku

Judul Cerpen Saudaraku

Pada zaman dahulu di bawah laut hiduplah keluarga ikan. Keluarga Pak Lionfish. Pak Lionfish memiliki 2 anak. Anak Pak Lionfish bernama Lino dan Loni. Anak kembar Pak Lionfish tidak pernah bisa rukun, mereka selalu saja bertengkar.

“Ini milikku Lino! Ibu yang membelikan untukku!” teriak Loni, sembari merampas mainan yang dibawa Lino.
“Hei! Aku kan sudah bilang, aku pinjam mainanmu.” balas Lino.
“Tetapi aku kan tidak mengizinkanmu.”
“Ah kau ini! Sungguh pelit! Aku tidak mau berbagi apapun denganmu! Aku lelah dan menyesal menjadi kakakmu!” marah Lino sembari berenang pergi ke luar.

“Loni, di mana kakakmu? Mengapa menjelang senja belum di rumah?” tanya Ibu.
“Entahlah bu. Sebentar lagi juga dia pasti kembali.” ucap Loni cuek.

Sang Ibu sangat khawatir, tetapi Pak Lionfish dan Loni menenangkan, akhirnya Ibu pun menjadi sedikit lebih tenang. Mereka sekeluarga pun makan malam bersama tanpa Lino.

Setelah makan malam…
“Mengapa Lino belum balik juga? Kemana dia? Kalau marah, gak pernah sampai kaya gini juga.” ucap Loni di dalam hati dengan perasaan khawatir.
“Ah sudahlah. Buat apa aku mikirin dia. Kan enak aku hidup tanpa dia.” ucap Loni. Loni pun akhirnya tidur.

“Loni bangun nak! Ayo cepat bangun!” teriak sang Ayah dengan wajah khawatir dan ketakutan.
“Ada apa Ayah? Apa yang terjadi?” tanya Loni.
“Kemana saudaramu? Mengapa sampai sekarang belum pulang? Kita harus cari dia. Sampai ketemu.” ucap sang Ayah.
“Mengapa aku juga harus ikut mencari dia?”
“Karena dia saudaramu. Kita butuh dia. Kamu butuh dia. Ayah akan mencari di rumah teman-teman dan saudara-saudara yang ada di luar kota. Kamu cari di sekitar sini.” ucap Ayah.
Mendengar ucapan sang Ayah, Loni pun terenyuh. Seketika pula Loni langsung berenang secepat kilat ke luar rumah. Loni mencari sang Kakak mengelilingi kota. Bertanya kepada teman-temannya.

Loni pun kelelahan mencari sang kakak. Hingga…
“Permisi Tuan, apakah anda melihat seekor ikan mirip saya lewat sini?” tanya Loni kepada Gurita sembari beristirahat sejenak.
“Oh, iya nak. Saya melihatnya kemarin lewat sini. Dia sepertinya menuju Ladang Nelayan. Kemarin saya sempat mencegahnya, tetapi sepertinya dia tidak mendengarkanku.” ucap Gurita.
“Apa? Ladang Nelayan?! Tempat itu berbahaya sekali. Em.. Ya sudah tuan. Terima kasih atas bantuannya.” ucap Loni.

Loni pun berenang menuju Ladang Nelayan, hati Loni berdebar dengan kencang dan takut, ia berfikir jika Lino akan terkena jaring Nelayan. Tetapi, Lino terus berusaha berfikir positif.
“Aku akan mencari Lino hingga ketemu.” ucap Loni yakin.

Loni pun akhirnya memasuki Ladang Nelayan. Ia melihat sekeliling dengan hati-hati. Sampai akhirnya…
“Tolong!! Loni! Ayah! Ibu! Siapapun! Tolong aku! Aku terejerat jaring! Tolooong!!!” teriak Lino ketakutan.
“Tunggu Lino, aku datang!” teriak Loni sembari berenang mencari Lino.
“Tolong cepat! Keluarkan aku dari sini Loni. Cepatlah. Huhuhuhu.” tangis Lino.
Loni kebingungan bagaimana caranya mengeluarkan kakaknya.

“Kak! Gigit rumput laut ini! Gigit yang rapat, aku akan menariknya. Kakak tidak apa kan, kalau menahan sakit sedikit?” ucap Loni sembari melemparkan rumput laut ke arah Lino. Lino pun mengangguk setuju.
“Siap yaa… Satu.. Dua.. Tiga!” tarik dan teriak Loni. Akhirnya Lino pun terbebas dari jaring nelayan.

“Terima kasih Loni, kau telah menyelamatkan aku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kamu. Maafkan aku juga kalau aku jahat padamu.” tangis Lino meminta maaf kepada Loni.
“Kamu itu selalu saja bikin aku susah. Tapi aku juga minta maaf kalau aku sering kasar padamu.” ucap Loni. Mereka pun saling meminta maaf dan memaafkan. Akhirnya mereka kembali ke rumah.

Setelah kejaadian itu, keluarga Pak Lionfish hidup tentram, rukun, damai dan bahagia.

Cerpen Karangan: Moza Ardyanti Putri
Facebook: Moza Radyanty Yuko