Showing posts with label Cerpen Korea. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Korea. Show all posts
Moonchild (Part 4)

Moonchild (Part 4)

Judul Cerpen Moonchild (Part 4)

“Taehyung,” suara lembut Zian mengalun seperti alunan piano, dan aku mencoba mengerakkan tubuhku namun karena luka di sekujurnya membuat usahaku sia-sia.
“Taehyung, ayok kita menuju kamar, kamu harus diobati.”
Lagi-lagi aku bermimpi Zian ada di sini, benar-benar malang nasibmu, Taehyung.
Lalu aku mendengar suara tangisan.
“Aku di sini, Taehyung, aku di sini,”
Aku mengangkat wajah dan mendapati gadis yang paling kusayangi di dunia setelah nenek dan ibu sedang menangis, dengan wajah sesenggukan dia menatapku.
“Zian, bagaimana kamu bisa di sini?”
“Syuutt, diamlah, yang harus kita lakukan saat ini adalah mengobatimu. Ayok, berdiri.”
Dia memapahku berdiri dan kami berjalan sangat pelan ke arah kamar tidur Jimin yang jauh ke arah timur, apertemen ini cukup besar dan memiliki 2 kamar tidur namun biasanya aku akan tidur bersama Jimin karena aku akan mengigau saat tidur dan itu membuat Jimin khawatir.

“Buka bajumu,” kata Zian setelah kembali dari menyiapkan kompres serta sekotak P3K.
“A-apa? Melepas baju?” wajahku memanas.
“Ya, karena yang lebih banyak terluka itu di daerah belakang dan perutmu.”
“Ta-tapi,”
“Sini aku bantu.”

Dengan cepat Zian bergerak ke arahku dan itu membuatku dengan cepat munduk ke belakang, ketika kepalaku menyambar dinding, Zian sudah berada diatas kasur dan dengan airmata dia menangis sejadi-jadinya.
“Eh-Eh, Zian, kenapa menangis?”
“Tolong aku, Taehyung. Tolong jangan seperti ini, aku terlalu takut kamu terluka makin parah karena aku. Tolong, Taehyung.”
“Baiklah. Tapi berhentilah menangis, airmatamu itu lebih menyakitkan daripada luka-luka ini.” Aku menghapus airmata yang membanjiri pipi Zian, berharap waktu untuk kami lebih banyak lagi dari ini, berharap hari ini tidak akan berakhir sampai kapanpun.
“Ka-kakakku, tidak menyukaimu, dia dari dulu telah menyiapkan jodoh untukku dan aku tidak suka itu. Dia terlalu memaksakan kehendakku, aku tidak ingin terlepas darimu, Taehyung. Bagaimana ini?” dia kembali menangis dengan sangat sedih bahkan ranjang milik Jimin sudah basah akibat airmata.
“Ya, mau bagaimana lagi, aku tidak ingin dipisahkan darimu tapi perkataan keluarga itu lebih baik didengar karena kamu hanya memiliki dia kan?”
“Siapa bilang? Aku masih memiliki kamu, Jimin-ssi juga.”
“Kami berbeda, Zian.”
“Ta-tapi, a-aku, benar-benar tidak bisa. A-aku su-dah begitu menci-cintai kamu.”
“Aku mencintai kamu, Taehyung.” Dia terlihat histeris dalam teriakan dan tangisan, aku meraih kepalanya membawa menuju pelukanku, memangkannya untuk saat ini bahwa kami sedang bersama dan tak perlu ada yang dibahas.
“A-ak-u lebi-h menci-taimu lagi. Sangat mencintaimu.”

Kami beradu pandang dalam waktu yang lama, dan menghabiskan malam dengan bercerita setelah selesai mengobati lukaku. Zian tertidur di sampingku hingga waktu yang kami butuhkan bahkan benar-benar berhenti disaat itu.
Kami telah melakukannya.
Ketakutan kami bahkan menyatu.
Airmata yang tidak bisa dibagi menjadi bagian yang satu.
Kami beradu dalam dunia keindahan dengan hamparan cinta yang mengila.
Waktu kami berhenti disini.



“APA?”
Taehyung berdiri di hadapanku dengan wajah berbinar, kami sedang melarikan diri diatap dan dia sedang memberitahukan sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut.
“Ka-kapan kalian—”
“Malam saat aku di apertemenmu.” Lagi-lagi dia berkata dengan penuh semangat, seakan sebelum itu tidak terjadi hal yang membahayakan nyawanya.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau XiuMin tahu? Kau bukan saja dipukuli tapi kau akan dihabisi dalam satu waktu.” Aku berteriak menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, sangat salah.
“Jimin-ssi, tolonglah mengerti, kami hanya membutuhkan bukti dari cinta kami.”
“Tidak, Taehyung. Tidak dengan cara seperti itu, itu salah. Ya Tuhan, Taehyung. Apa lagi ini? Kamu benar-benar akan membunuh nenekmu kalau sampai beliau tahu.”
“Jangan, Jimin. Tolong jangan beritahu mereka, aku janji akan mencari kerja begitu lulus sekolah, aku akan pergi ke Soul untuk mencari pekerjaan dan akan membawa serta Zian.”
Aku menggeleng histeris.
Barusan Taehyung memberitahu kalau Zian –? Aku tidak bermimpikan? Ya Tuhan, katakan sesuatu.
Kami terdiam dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya aku merelakan apa yang sudah terjadi dan memaafkan perbuatan gegabah Taehyung.
“Sudah tiga bulan ya?” aku menebak untuk diri sendiri dan membuat Taehyung bergumam sendiri.
“Ngomong-ngomong, kenapa Zian tidak masuk? Tadi aku mengecek kelasnya dan katanya dia tidak masuk.”
Taehyung melonjak kaget, sejurus kemudian aku ditinggal seorang diri.



Taehyung tak lagi menelepon.
Aku berharap mobil ini bisa terbang sampai ke tempat dimana Taehyung berada namun aku tahu sampai kapanpun mobil ini tidak akan bisa terbang.

Aku ingat betul, setelah hari terakhir kami diatap itu, Taehyung menjadi serpihan debu, dia terus menangis dan bersembunyi di apertemenku, merapuh seperti kertas dan terus-terus menyalahkan dirinya sendiri.
XiuMin, kakak lelaki Zian berhasil mengetahui kalau Zian tengah hamil dan memaksa gadis malang itu mengugurkan kandungannya.
Setelah itu Taehyung dan Zian seperti boneka tak bernyawa dan tak berdarah, mereka tidak bersemangat, bahkan untuk makan. 1 bulan terakhir disekolah, Zian terus dikawali pengawal membuat mereka benar-benar tersakiti, dan membuat aku merasa sangat bersalah untuk apa yang mereka alami.
Setiap pulang sekolah, apertemenku adalah persingahan Taehyung. Kami menghabiskan waktu dalam diam, makan dalam tangisan, belajar dalam lamunan, tidur dalam kesunyian.

Sejak hari itu Taehyung berubah menjadi lebih pediam, hingga suatu hari dia pulang kerumah neneknya dan memutuskan untuk bangkit, melupakan apa yang menjadi bagian dari kesakitan dirinya, melupakan bahwa dia pernah memiliki darah dalam tubuh seorang wanita.
Setelah kelulusan Zian dibawa XiuMin meninggalkan kota kami, tidak memberikan sedikit waktu bagi Taehyung untuk meminta terima kasih karena sempat memberikan dia harapan meski akhirnya pupus, namun itu menjadi bagian terindah di dalam garis hidupnya, menjadi kisah yang sulit dihalau meski nanti dia menikah dan memiliki keluarga yang mampu memberikan kebahagiaan padanya.

Taehyung hanya ingin berterima kasih karena pernah menjadi wanitanya dan bahkan sampai saat ini masih menjadi wanitanya.
Ya, wanitanya.

Aku larut dalam ingatan masalalu, menangis seperti saat aku dan Taenhyung menghadapi masa-masa sulit. Kami benar-benar harus disembuhkan, luka di antara kami terlalu besar untuk bisa diobati.

Taman? Tempat yang dikunjungi Taehyung adalah Taman yang sudah tutup beberapa waktu lalu.
Aku keluar dari mobil dan berlari memasuki gerbang taman bermain itu, berharap langsung mendapati Taehyung disana, namun ternyata tak ada sahabatku itu.
Kuhubungi ponselnya namun ponsel itu tidak aktif.

Ketakutanku bertambah.
Dia ke mana lagi?
Ya Tuhan, jangan buat seorang Taehyung terluka lagi. Tolong.
Airmata itu terjatuh. Aku takut jika mereka menyakiti Taehyung lagi, kenapa dia begitu bodoh hingga ingin bertemu dengan Zian sendirian? Kenapa tidak mengajakku?
Aku berlari dalam tangisan yang memilu, mencari di mana sahabatku itu.
Jangan lagi. Dia sudah cukup merasakan kehilangan, jangan lagi saat ini Tuhan, jangan untuk Taehyung.



Jam 4 pas dan Jimin belum juga sampai.
Kemana dia? Apa dia tidak ingin mendengar ceritaku? Bagaimana aku membuat XiuMin menangis dengan perkataanku, bagaimana aku memukuli XiuMin dengan tanganku sendiri karena perkataannya yang pedas pada Zian, bagaimana akhirnya dia mengaku bahwa sebenarnya membenciku hanya karena aku berasal dari rakyat biasa yang tidak memiliki harta, hanya karena dia takut aku tidak bisa menghidupi saudara perempuannya.
Bagaimana itu membuat aku menangis seperti anak kecil dihadapan semua orang, dan bagaimana seorang bocah dari lelaki lain yang menikahi Zian datang dan memelukku memberikan kehangatan yang dulu tidak aku dapatkan dari anakku, yang-yang–

Ah, sial. Aku menangis lagi.
Nah, itu dia.
Jimin sedang berlari memasuki gerbang taman, dia terlihat lelah karena berlari, matanya dipenuhi airmata. Ah, maafkan aku, Sahabatmu yang selalu membuat kamu berada di posisi yang sulit.
Sesuatu terlintas di kepalaku, aku menyalakan ponsel dan mengaktifkan mode penerbangan.
Membuka notes dan menuliskan beberapa kata disana.
“4 O’Clock”

Lagu untuk Jimin.
Lagu untuk kami.
Lagu untuk Zian.
Lagu untuk Putra atau Putriku.

Semoga kalian bahagia.

“Hey, Moonchild!!!” aku memanggil Jimin dengan senyuman sebari melambai padanya menyuruh dia segera menghampirku.
Jimin menangis, lagi-lagi.,
“Ya, dasar, kau sendiri Moonchild!!!”
Taman itu dipenuhi suara tawa dan tangis yang kian menghilang.
Mulai hari ini kami harus memaafkan masalalu dan melangkah menyambut masa depan, begitulah perkataan Jimin yang aku ingat sampai hari ini.

SELESAI

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Moonchild (Part 3)

Moonchild (Part 3)

Judul Cerpen Moonchild (Part 3)

Malam setelah kejadian dikeroyok

Desember 2012
Untung saja sudah tengah malam, kalau aku ketahuan memasuki apertemen elit dengan keadaan babak-belur begini aku pasti sudah dikirim ke kantor polisi. Beruntung sekali Jimin memiliki tempat tinggal ini, karena ini adalah impianku juga.

Aku memiliki kunci kamar Jimin karena sejak awal kami selalu bertukar barang-barang, dia juga memiliki kunci lemari pakaianku, aku membawa bagian lain dari Keyboardnya – aku membawa huruf J dan dia juga melepas huruf T, kami seperti saudara kandung ya? Dan hal-hal kecil lainya yang menjadi bumbu pelengkap persahabatan kami.

Lampu mati.
Aku juga tidak berusaha menyalakan.

Aku terjatuh di ubin dingin depan pintu masuk, karena kepala yang terus terasa sakit, sebaiknya aku memejamkan mata beberapa menit saja.
Maaf, Jimin-ah, aku harus menyusahkan kamu lagi.



3.40 AM
Ada polisi.
Sial!
Aku memperlambat laju mobil, dengan kecemasan yang kian menambah. Bagaimana kalau Taehyung tidak menungguku? Bagaimana kalau dia- dia terjun atau sesuatu yang lebih menyeramkan dari itu, la-lalu bagai-mana ka-kalau di-dia terl-uka lagi?

Bagaimana ini?
Polisi, sialan!

Sebentar. Kenapa GPS tidak berjalan otomatis? Apa tempat tujuanku baru saja dibuka makanya tidak masuk dalam peta ini?

Ah, suaranya hostnya berputar lagi. Mungkin karena kesalahan system suaranya jadi hilang, wanita itu kembali membacakan guide, dan aku menemukan dimana letak tempat yang dimaksud Taehyung.
Taehyung-ah, tunggu aku. Tolong jangan memutuskan hal gila sendirian. Tunggu, sahabatmu ini.



Nenek memberikan segelas jamu yang dia bawa dari Indonesia, aku mencoba meminumnya dengan melupakan bau dari jamu ini. Nenek bercerita banyak tentang perjalanannya, dia bahkan membawakan kain khas Indonesia, aku dipaksa memakai kain itu dan melepas baju dengan dada kosong aku memamerkan betapa cocoknya aku memakai kain itu.

“Hyung, ada telepon untukmu.” Jae berteriak dari ruang tamu sembari memainkan gangang telepon padaku, aku meminta izin pada nenek untuk menerima telepon.
“Jimin di sini,” belum lagi aku menyelesaikan perkataanku, suara seorang wanita menghalau lebih dulu.
“Jimin-ah, kamu tahu di mana Taehyung? Aku sudah mencari dirumahnya tapi nenek bilang dia tidak di sana, dan aku merasa khawatir karena dia belum juga menghubungiku.” Terdengar isak tangis diujung sana, wanita itu sepertinya sudah bergetar karena tangisan.
“Ada apa, Zian? Apa yang terjadi?”
Namun Zian hanya terdiam.
“Zian, katakan padaku, ada apa?”
“Nanti akan aku ceritakan, ceritanya panjang dan saat ini aku belum focus pada siapa pun dan apa pun, aku hanya ingin mengetahui di mana Taehyung.” Lagi-lagi dia menangis dengan isakan pilu yang membuatku ingin berlari pada Taehyung dan meminta penjelasan.
“Mungkin saja dia ada di apertmenku. Kamu ingat kan aku pernah mengajak kamu makan disana? Pergilah ke alamat itu, dia pasti disana.”
“Ya, ya, terima kasih, Jimin.”
“Zian-ssi, tolong jaga Taehyung. Tolong beri dia makan sebelum aku kembali kerumah, kamu tahukan kadang dia jadi begitu rapuh?” aku kembali mengingatkan Zian betapa Taehyung kami memiliki sisi gelap yang hanya diketahui kami.
“Ya, aku akan menjaganya. Kamu cepatlah selesaikan acaramu. Datang, dan aku akan menceritakan semuanya padamu. Sudah yaa, aku harus segera pergi.”
“Hati-hati, Zian.”

Aku meletakan gangang telepon dengan lemas, bertanya pada diri sendiri bahwa apa yang sedang terjadi pada mereka? Apa mereka putus? Tidak, aku rasa mereka tidak akan bisa putus.
“Taehyung kenapa kak?” Jae muncul dibelakangku dan bertanya dengan cara yang cool, aku hanya menggeleng meyakinkan diriku sendiri bahwa Taehyung baik-baik saja. Ya, sahabatku itu pasti bisa mengatasi masalah yang dia miliki.



08.00 PM
Jeju Island
“Wah, lihat ini, siapa yang berdiri disana?” suara berat itu mengudara dengan sangat lantang, beberapa pria bertato yang berdiri disamping lelaki itu terlihat menyerigai.
“Ya, sepertinya kalian sudah tahu aku akan datang. Bagaimana kabarmu kak?” aku mencoba ramah dan melupakan apa yang pernah dia lakukan padaku sebelumnya meskipun itu sangat sulit, karena sakit yang dulu tercetak masih saja terasa.
“Jangan biarkan Zian keluar.” Kakak lelaki Zian bebicara pada beberapa pengawal mereka menggunakan bahasa Mandarin. Dia akan berfikir bahwa aku mungkin belum mengerti bahasa mereka namun 4 tahun bukanlah waktu yang cepat bagiku untuk belajar bahasa mandarin dan aku tidak mau itu sia-sia belaka.
“Kenapa kau tersenyum?” XiuMin bertanya lagi, berdiri dari duduknya dan berjalan kecil kearahku.
“Jangan berfikir bahwa karena kamu public figure aku jadi segan untuk melukai wajahmu itu. Meskipun kalau boleh jujur, wajahmu ini lebih baik wajah yang dulu. Aku bisa menyaksikan wajahmu dulu yang kuhabisi dengan tanganku, ah, betapa malangnya kau, Taehyung.” Dia dengan menyerigai berdiri di hadapanku, tapi karena tinggiku yang melebihi dia membuat dia terlihat begitu kecil meski bodynya sangat kekar.
“Ah, kau bertambah tinggi. Siapa sangka kau akan datang kesini, Zian pasti akan senang melihatmu. Tapi, hey, dia sudah menikah dengan Choi Sinwoo, dan mereka sudah memiliki satu putri cantik. Ya, sekedar informasi untukmu.” XiuMin tertawa sembari berjalan meninggalkanku, ia kembali duduk dibangkunya.

Choi Sinwoo? Ah, anak kepala pengedar Narkoba? Aku tahu nama-nama gelap itu, mereka bahkan lebih terkenal dikalangan seleberitis dibandingkan kalangan pengusaha karena seleberitis membutuhkan obat namun berbeda denganku, aku mengetahui Sinwoo karena dia adalah lelaki yang dijodohkan XiuMin dengan Zian.
“Apa dia melanjutkan usaha ayahnya? Aku dengar-dengar ayahnya meninggal 2 bulan yang lalu. Apa itu bukan karena kamu?”
XiuMin membanting gelas kelantai dan berdiri dengan marah, dia menatapku seakan aku adalah kedelai malang yang siap disantapnya.
“Diam kau! Jangan berani-beraninya di daerah kekuasaanku.”
Aku tertawa.
Jimin-ssi, seadainya kamu di sini, kita akan menertawakan ekspresi bodoh lelaki sok jagoan ini.
“Ini boleh daerah kekuasaanmu, tapi kalau aku mengungah sesuatu di Internet maka kau akan tamat.”
XiuMin terdiam, kemudian tertawa lagi.
“Jangan bodoh, Taehyung. Kalau kau melakukan itu maka masalalumu akan diketahui semua orang, kau tidak akan memiliki pengemar lagi, tidak akan ada yang ingin mendukung dan melindungimu karena merasa dibodohi.”

Aku menggeleng keras. Kataku, “Tidak. Mereka tidak seperti kau, XiuMin. Pengemarku bahkan lebih setia dari siapa pun, Sahabat-sahabatku bahkan lebih baik darimu. Kau tidak perlu takut aku diasingkan, kau terlalu baik untuk melakukan itu.” Perkataanku membuat XiuMin kaget dan menyadari kesalahanya, dia lalu berbisik pada seorang pria dan orang itu masuk kedalam rumah. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik bagaimana bagian rumah ini tapi seperti inilah cara aku menjelaskannya.

Ruangan ini sunyi. Hanya diisi oleh ketukan sepatu yang makin nyaring seperti bergerak ke arah tempat kami berdebat
Kain pintu besar berwarna merah di hadapan kami terangkat dan menampilkan tubuh ramping Zian dibalut baju serba hitam dan kakinya memakai sepasang Heels berwarna senada, rambutnya dikuncir kuda dan wajahnya sedikit dipolesi bedak tipis, bibirnya sedikit berkilap mungkin karena dia memakai lipglos.

Kami sama-sama kaget dengan keberadaan masing-masing. Zian bahkan sedang gemetaran, kakinya tidak mampu lagi menahan tubuhnya, dia tersungkur di lantai dan buru-buru seorang pengawal ingin membantunya berdiri namun dia tolak.

“Kenapa Zian? Kamu masih mencintai Taehyung? Bahkan setelah kamu menikah dan memiliki anak?”
Betapa jahatnya XiuMin, menjebak adiknya dan memaksa menikah, sekarang dia melempar kata-kata yang pedas pada adiknya sendiri?
Aku bergerak cepat ke arah XiuMin dan langsung melayangkan sebuah tinju tepat pada hidungnya sebelum mereka menyadari aku tengah bergerak, Lelaki itu terjatuh menimpa kursi duduknya sendiri, sedang dua pengawal lalu berebutan menarik tanganku agar aku mundur.
“Wah, sudah jago kamu, Taehyung.”

TO BE CONTINUE

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Moonchild (Part 2)

Moonchild (Part 2)

Judul Cerpen Moonchild (Part 2)

“Yess!!!”
Taehyung berteriak histeris, untungnya kami berada di atap sekolah jadi tidak ada yang mendengar teriakannya selain hanya aku.
“Ada apa, Taehyung-ah?”
Aku menariknya duduk, setelah itu dia merebahkan punggungnya di lantai atap dan merebah seperti anak kecil.
“Kencan pertama kami!”
“APA?”
“Hahaha, aku tahu kamu akan sangat terkejut.”
Taehyung memulai ceritanya.

Taehyung POV
Kami bertemu di koridor Loker ketika aku hendak berjalan keluar, Zian sedang memasang sepatunya dengan buru-buru namun terlihat sepasang sepatu itu bahkan enggan memasuki kakinya.
“Boleh aku bantu?” tawarku, sial! Tuhan, jangan kau buat aku salah berkata lagi.
“Apa? Ah- Taehyung-ssi? Bolehkah?” setelah dia mengangkat wajah dan mendapati aku yang berdiri di hadapanya, dia kembali mengudarakan senyum.
“Tentu saja. Turunkan kakimu.” Aku menyuruhnya menurunkan kaki.
Jujur saja, kedua tanganku saat ini sedang gemetaran.
“Pelan-pelan saja.” Gumamku menenangkan diri sendiri.
“Apa? Haha, Taehyung-ssi. Taehyung-ssi, Taehyung-ssi, Taehyung,” akhirnya waktu berakhir dengan hanya mendengarkan suaranya menyanyikan namaku, bahkan aku membandingkan suara dia menanyikan namaku dengan suara nyanyian Jimin, bedanya Jimin menyanyikan “Taehyung-ah” sedang Zian “Taehyung-ssi”
“Selesai.”
“Gomawo. Wah, bagus sekali ikatan tali sepatu kamu, Taehyung.” Kedua mata Zian terlihat berbinar senang bahkan dia berlompat-lompat kecil.
“Karena nyanyian kamu yang begitu bagus, aku sampai lupa rasa gugupku.” Ucapanku yang sangat tiba-tiba membuat Zian berhenti melompat, dia menatapku lama dan akhirnya menangis di sana.

Aku hampir kena serangan jantung karenanya.
Wajahnya yang disembuyikan di balik telapak tanganya adalah hal terindah yang pernah aku lihat. Selain Jimin, seperti aku akan membunuh seseorang jika mereka berani merampas gadis ini dariku, ya, Mereka berdua.
“Lari, Yuk.” Aku menarik tangannya tanpa memerlukan persetujuannya lagi, kami meninggalkan ruangan loker dan berlari menuju taman samping kolam renang.
“Sudah, ah. Aku capai.” Zian melepas tangan kami dan membungkuk memengang lututnya sembari menarik nafas mengumpulkan mereka karena telah pergi beberapa menit yang lalu.

Aku tertawa.
Dia tertawa.
Kami tertawa.

“Kamu tadi sedang sedih?”
“Karena kamu.” Jawabnya dengan malu-malu, dia sedikit menunduk, membuat helaian rambutnya berhamburan menutupi wajahnya.

“Tunggu aku. Sebentar saja.”
Dia menatapku heran, namun tetap membiarkan aku pergi.

“Ta-da!!”
Aku memetik bunga di halaman taman dan memberikannya pada Zian. Gadis itu melonjak senang, dan hampir saja memelukku, kami tertawa karena malu.
“Mau ke luar?” aku bertanya agar suasana tak jadi sepi lagi.
“Kita sudah di luar.”
“Ah, benar juga. Maksudku, keluar seperti pergi ke Zona X, Atau pameran, atau MOX Bioskop, atau apapun, yang penting,”
Buru-buru dia memotong ucapanku. “Kencan?” lalu dia menutup mulutnya karena merasa terkejut.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kenapa gadis ini mengambil alih bagianku?
“Besok, Jam 8 pas, aku tunggu di Depan stasiun kereta Jkioek.”



Namjoon Hyung menatap kami bergantian, wajahnya dipenuhi dengan kecemasan yang amat menyakiti kami. Begitupun dengan Yoongi Hyung, Hoseok Hyung, Seokjin Hyung dan Jungkook, mereka duduk dalam diam namun mata mereka sudah cukup mengambarkan kegelisahan mereka.
Di sana aku hanya merasa sebagai orang yang benar-benar tak pantas ada disana, berada dalam zona nyaman sementara membiarkan Taehyung seorang diri mendapatkan luka lama yang tidak pernah ia bisa sembuhkan. Akulah yang menyebabkan semua ini. Aku – YA! KAMU JIMIN!

“Mian. Ini semua karena aku.”
Mereka menatapku dengan kening berkerut, mereka memang sudah tahu wanita itu tapi mereka belum tahu cerita lengkapnya, bagaimana Taehyung dan Zian bertemu, asal-muasal masalah, sampai puncak masalah, dan luka yang selamanya tidak akan terobati yang diderita Taehyung.

Dan aku memulai cerita masalalu kami. Semuanya. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ya, memang seharusnya tidak.



Taehyung meletakan sekotak bekal di atas meja belajarku, hari ini merupakan hari ke 5 selama kami menduduki kelas 11 dan Taehyung masih saja menghabiskan waktunya untuk bermain-main, terutama Karena tengah dimabuk cinta. Ya, mereka sudah 2 tahun berpacaran dan aku rasa ini adalah puncak dari puncak yang setiap hari mereka bangun, mereka jadi selalu terlihat menghabiskan waktu yang dulu adalah milikku. Gadis itu, Zian, dia semakin menempel pada Taehyung selain karena sahabatku itu memiliki banyak pengemar perempuan – kebanyakan adalah kakak tingkat kami, karena sepertinya Zian memiliki masalah yang tidak dia bagi pada Taehyung, menurutku masalah itu menyangkut hubungan mereka.
Dan itu benar. Bahkan Taehyung sendiri belum menyadari hal itu.

“Zian memberikan ini untuk kamu, Jimin-ssi. Kau tidak ingin ikut kami ke café?”
Taehyung menarik kursi didepanku dan mendudukinya, dia mengambil roti dari tanganku dan memakannya.
“Tidak, Taehyung-ah. Aku ada pertemuan keluarga, kebetulan nenekku pulang dari Indonesia dan aku harus menjeput dibandara. Kalian pergi saja, lain kali aku akan ikut.”
“Nenek? Wah, salam yaa, aku kangen sekali. Nanti aku pergi yaa, tolong bilang pada nenekmu untuk memasakan ramen terbaiknya.”
Aku dan Taehyung larut dalam obrolan tentang nenekku, sampai ramen dan percakapan konyol lainnya. Kami benar-benar menghabiskan waktu yang terasa sangat singkat.



“APA?”
Mereka berteriak lantang dengan wajah mengambarkan kekagetan tak terkira. Aku hanya bisa menunduk, menyesali sesuatu yang besar baru saja aku ceritakan pada mereka, rahasia terbesar yang aku dan Taehyung miliki tentang seorang wanita.
Aku menganguk lemah. Dengan wajah tertunduk lesu.
“Astaga.” Namjoon Hyung menahan ucapannya dengan jemari yang menutupi mulutnya.
Jungkook sudah menangis, merasakan penderitaan Taehyung saat itu dan kesakitanku menjadi satu-satunya orang yang tahu masalah Taehyung bahkan nenek Taehyung sendiri tidak mengetahui ini.
“Kita harus menolongnya.” Seru Hoseok Hyung sambil berdiri menengaskan seruannya.
Aku mengeleng.
“Tidak mungkin.”
“Ya Tuhan,” Yoongi hyung terlihat putus asa dan kalau boleh jujur itu adalah wajah putus asa pertama yang aku lihat dari dirinya.
“Ta-Tapi, Tae hyung akan baik-baik saja kan?”
Mendengar pertanyaan Jungkook, membuat aku menunduk dalam gelisah yang kusembunyikan, sebenarnya aku juga sangat takut harus menerima kenyataan masalalu yang terulang kembali, aku bahkan lebih takut sahabatku itu terluka lebih dalam lagi.
“Ya, dia akan baik-baik saja. Kita tahu bahwa Taehyung adalah orang yang kuat.” Ujar Seokjin Hyung sembari menjatuhkan telapaknya pada bahuku, menegaskan bahwa aku tidak perlu berlarut dalam penyesalan.
“Ya!”
“Siapa pun yang nanti akan dihubungi Taehyung, tolong, agar memanggil yang lain karena kita semua butuh kabar dari dia.” Begitulah keputusan final kami.
Kami berlalu dan masuk kedalam kamar masing-masing.

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Moonchild (Part 1)

Moonchild (Part 1)

Judul Cerpen Moonchild (Part 1)

Bahu kekar Taehyung seperti remuk dalam pelukanku, bahu itu bergetar diikuti tangisan tak tertahankan. Sedari sore tadi dia hanya menyembunyikan diri didalam kamarnya, dan tak ingin satu orang pun menganggunya. Aku pulang dan mendapati sahabatku ini sedang menangis di dalam kamar mandi pribadiku, aku menyeretnya keluar dan langsung memeluknya agar menenangkannya.

Ternyata dia sudah menungguku sedari tadi, merasakan dingin ubin kamarku dengan merebah seperti seekor keledai. Aku merasa khawatir karena apa yang menjadi perkara dalam kepalanya itu bisa membuatnya merapuh seperti kertas.

Dia terus menangis seperti airmatanya bahkan belum habis sejak siang ketika pulang dari Sajeun Park, taman bermain khusus untuk orang dewasa di daerah Haejin, bahkan dihari pertama taman bermain itu buka Taehyung telah memiliki kenangan buruk di sana. Aku ragu bahwa besok dia akan bersemangat ketika kami memiliki pekerjaan di segala jenis taman.

“Jimin-ah, aku tidak peduli jika kau sudah mendengar ini dari yang lain tapi aku ingin memberitahu sekali lagi,” sambil terisak Taehyung terus berkata sambil menarik ingusnya, sebenarnya aku sudah tidak bisa membedakan rasa ingin tertawa dan menagis, kadang sahabatku ini bisa sangat melankolis dan juga bisa berperilaku aneh dalam waktu yang sama, itu membuatku sudah begitu nyaman.
“Ya, aku ingin mendengarkan lagi, Bicaralah.”

Taehyung melepaskan diri dan meringkuk di ranjangku, menarik selimut dengan sembarangan dan menutupi sebagian wajahnya.
Aku duduk di samping ranjang, memperhatikan Taehyung sebaik mungkin agar tidak melewatkan apapun, karena jika kulewatkan maka aku akan kehilangan moment berharga bersama sahabatku yang selalu terlihat ceria ini.

“Aku melihat mereka,” dia menahannya dan sedikit terdengar isakan, lalu dia menarik nafas lagi. “Mereka terlihat bahagia, aku bahkan melihat bocah perempuan sedang merengek dibelikan Permen. Lalu mereka membawa bocah itu pergi menghampiri gerobak Kembang Gula, dan membelikan banyak sekali untuk bocah itu.” Dia melanjutkan lagi kali ini sambil mengarahkan padangan padaku, kedua matanya kembali dipenuhi airmata.

“Mereka memiliki kembali kebahagiaan mereka, dan aku? Aku hanya serpihan debu, Ya, Jimin-ah?” dia terisak semakin mengila.
Aku hanya terdiam, mengerti bahwa ini yang terbaik untuk dia saat ini. Di mana dia bisa lagi meluapkan semua kesedihan yang dia pendam sendiri selama ini? Aku. Ya, hanya aku. Meski kenyataannya banyak yang bisa dia ajak bicara tapi yang tahu pasti tentang Taehyung dimasa lalu hanyalah aku.

Taehyung terdiam, menarik nafas, menutup wajahnya dengan bagian selimut lain yang masih terlihat kering akhirnya basah karena sekaan airmatanya. Terdengar tawa serak dan teriakan kecil, Taehyung membuka kembali selimut yang menutupi wajahnya dan tersenyum padaku.

Melihat Taehyung yang begitu rapuh membuat aku kembali pada bayangan tentang masa lalu, ketika kami berada di bangku SMA.



Gadis itu selesai menganyam rambutnya, dia terlihat sangat suka dengan kegiatannya sendiri. Sedang Aku dan Taehyung mencoba mencuri padangan padanya, menyisahkan sedikit waktu agar Taehyung bisa melihat wajah gadis itu lebih lama.

Sudah sebulan ini, setelah upacara penerimaan siswa baru, kami menempati kelas yang sama dan ikut serta memuja gadis yang sedang kami lihat, sebenarnya hanya Taehyung saja, aku sekedar menemaninya.

“Aku memberinya sekotak tisu basah waktu itu. Kamu tahu? Dia dipenuhi coklat akibat sunbaemin yang jahil menumpahkan seember coklat padanya, ya, aku tahu sih, untuk sekotak tisu basah tidak terlalu membantu tapi setidaknya itu penolongan pertama yang paling baik.”
Aku mengingat lagi ketika pertama dikagetkan oleh ucapan Taehyung kalau dia Naksir berat cewek itu, cewek yang bahkan tidak kami ketahui namanya.

“Taehyung-ah, sampai kapan kita seperti ini? Bagaimana kalau kamu membantu mengikat rambutnya?” dengan paksa aku mendorong badannya, membuat Taehyung berteriak tertahan seperti didalam perpustakaan ini hanya ada kami berdua.

Gadis itu mengangkat wajah. Menatap kami. Mengerutkan kening. Lalu tertawa.
“Sedang apa, Taehyung-ah, Jimin-ah?” terdengar suaranya yang lembut memanggil namaku, jujur saja aku hampir terkelabui karena suara lembut itu.

Aku mengirimkan code pada Taehyung agar menghampiri Gadis itu, setidaknya kami tahu siapa namanya.

“Kau tahu nama kami?” aku mengambil inisiatif menyapa lebih dulu karena saat ini Taehyung sedang berdiri kaku di tempat dengan posisi kaki sebelah terangkat dan kaki sebelah masih berada di lantai, dia seperti kena sihir hitam penyihir jahat.
“Tentu saja. Kamu pernah gagal pentas karena tiba-tiba lupa teks, kamu mendapat nilai 100 untuk seni, kamu juga menjadi peringkat pertama karena gambar yang sangat bagus, lalu kalian berdua sangat keren saat bernyanyi di kantin kemarin.” Gadis itu berbicara panjang lebar dan membuatku kagum, bagaimana bisa kami seterkenal itu hingga dia tahu segala yang buruk?
“Taehyung-ah, pernah memberiku tisu basah. Haha, kenangan terburuk karena disiram seember coklat. Gila banget! Untung ada kamu, Taehyung.” Terdengar gelak tawa. Taehyung merespon, tubuhnya berputar dan akhirnya berlari ke arahku.

“Ayo, kita pergi.” Taehyung menarik tanganku dan hendak menyeretku pergi namun terlihat tangan kecil milik gadis itu menahan ujung seragam Taehyung.
“Kenapa pergi? Ah, maaf ya, membicarakan keburukan kalian.”
Aku lalu melepas tangan Taehyung dengan paksa, mendapatkan pandangan menerkam dari Taehyung namun aku mengabaikan itu semua dan kembali memfokuskan diri pada gadis itu.
“Tidak kok, kamu hanya menyebutkan kejelekanku, tidak untuk Taehyung tapi itu tidak masalah. Kenalkan, aku Jimin, P A R K J I M I N.”

Dia tertawa dan menyambut uluran tanganku.
“Xian Xu Lee, kalian bisa memanggilku Zian.”
“Xian? Atau Zian? Atau Jian?” aku menggulang kembali ejaan namanya yang benar agar kami tidak salah memanggilnya nanti jika berpas-pasan di kantin.

“Z-I-A-N, Zulu, India, Alfa, November.”

Taehyung tertawa.

Aku dan Zian menatapnya, heran.
Lalu kami menertawakan dia.



Ya, aku yang harus disalahkan di sini.
Karena jika aku tidak mendorongnya dan dia tidak berteriak seperti hari itu pasti mereka tidak akan pernah berkenalan, dan tidak akan pernah ada kisah penuh kesedihan seperti ini.

“Jimin-ssi?” kudengar Taehyung memanggil.
“Kamu menangis? Kenapa?”

Apakah aku ketahuan sedang menangis?
Aku menghapus airmataku dan beranjak dari dudukku, merasakan panas pada kedua mataku.
“Taehyung, tolong aku, jangan terus bersedih seperti ini. Aku akan terus merasa bersalah, kamu, kamu harus bangkit Taehyung, harus!” aku merasa gelisah dan mondar-mandir di dekat ranjang, begitu terus sampai akhirnya lelah dan memutuskan duduk melantai menyandarkan kepala pada kusen pintu.
Taehyung bangun dan menghampirku.
“Gomampda, Jimin-ssi. Kau terbaik yang pernah aku miliki.”
Kami melakukan hight five sebelum akhirnya Dia berlalu di balik pintu kamarku.

“Aku sudah membaik jadi jangan terus-terus menyalahkan dirimu. Dalam hal ini, hanya aku satu-satunya manusia yang harus disalahkan.”

Itu kalimat terakhir Taehyung, setelah itu aku tidak lagi bertemu dengannya, dia tidak muncul di dorm dan membuat kami bersembunyi di balik layar. Berlari dari kejaran wartawan yang menanyakan perihal menghilangnya Taehyung, meski pihak kami telah mengatakan kalau Taehyung sedang berlibur ke Bali dan tidak ingin diganggu privasinya namun para wartawan itu tidak juga puas. Mereka mendatangi studio kami, tidur di jalanan menuju dorm, dan bahkan menganggu jam makan siang kami.

Dan yang benar-benar terjadi adalah TAEHYUNG MENEMUI ZIAN.
Untuk beberapa alasan aku merasa sangat khawatir pada Taehyung. Ya, sangat!

TO BE CONTINUE

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: rianarahayaan.blogspot.co.id
Sepeda dan Cinta

Sepeda dan Cinta

Judul Cerpen Sepeda dan Cinta

“Aa..akh!”
Bukh!
Namja tampan bernama kim nam soo itu menjerit ketika tubuh dan sepeda kesayangannya terperosok ke dalam selokan air. Ia meringis kesakitan begitu tubuhnya terjatuh. Tulang keringnya membentur tepian selokan hingga ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
“Jeongmalnaeyeo?” Tanya seorang gadis yang ekspresinya menunjukan ketakutan.
“yakk! Tinggalkan saja nomor ponsel atau… alamat rumahmu!” Teriakan itu membuat Na young bergidik ngeri sekaligus terkejut.
“Ayo, cepat! kenapa malah diam!”
“Untuk apa?” Tanya Na young bergetar. Nam Soo menggetarkan giginya. Ia sungguh kesal terhadap yeoja yang sudah ceroboh lalu menabraknya.
“Seandainya kakiku patah siapa yang harus bertanggung jawab, ya pasti kaulah. Cepat berikan padaku alamat yang bisa dihubungi. Ingat, jangan beri alamat palsu, kalau tidak kau akan menyesal” ancam nam soo histeris.
“Kau kira jatuh begitu saja bisa membuat kakimu patah, aku tidak mau!” Ucapnya young ketus sekaligus kesal karena nam soo membentaknya.
“Hey, kalau begitu kita saling impas saja. Bagaimana jika aku menabrakmu gantian?” Tawar nam soo geram. Na young memerah, kemudian ia menendang kaki nam soo geram. Itu membuat nam soo menjerit kesakitan.
“Kau jadi begini bukan sepenuhnya kesalahanku kau yang mengerem mendadak di depanku. Dasar idiot!” Dengus na young merasa tidak bersalah.
Na young meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan panggilan nan berisik dari Namja yang ditabraknya tadi.



“Kau kenapa sih. Aku pusing, jadi berhentilah sejenak dari mondar-mandirmu itu.” Desis Ji min merasa bosan dengan tingkah laku na young.
“Sepedaku, aku harus bagaimana?” Tutur Na young kemudian. Ji min terdiam sambil berpikir. Sepeda?
“ada apa dengan sepedamu?”
“diambil orang, aku pusing.”
“Kau pusing? Nah, sekarang duduklah dengan manis nona manis ”
Na young mendelik kesal terhadap Ji min yang berekspresi santai itu.
“beli baru saja, kan selesai.”
“Kau tidak tau, di sepeda itu ada buku pemateri yang baru saja aku ambil dari perpustakaan.”
“kenapa tidak kau ambil sebelumnya, kau ini aneh.”
Na young hanya bisa melihat sobatnya itu dengan kesal di hati. Bukan membantu malah mengalahkannya juga. Bagaimana sih, apa dia tidak sayang padaku lagi? batin na young merasa tidak bisa menerima kenyataan.

Sudah seminggu lebih Na young tidak bersepeda lagi. Ia menggunakan angkutan umum terkadang juga lebih memilih menumpang pada Ji min. Bahkan ia pernah sekali berjalan kaki ketika Ji min bahkan angkutan umum tak sedia menjemputnya.
“Ouk! Bukankah itu lelaki sinting itu!” Tiba tiba saja Na young melihat pria bertubuh jenjang dengan senang sekali mengayuh sebuah sepeda. Sepeda Na young.
“Kau, apa kabar?” Nam Soo menyeringai kepada Na young yang terlihat begitu jengkel melihatnya.
“Hahaha, lihat wajah jeleknya memerah.” Seru Nam Soo begitu ia telah berada di dekat Na young. Na young mengepal tangannya. Rasanya ingin sekali Na young mendaratkan kepalan tangannya ke wajah orang yang sudah mempermalukannya begini.
“‘Hey, jangan begitu. Kau ini cantik kok. Tapi bodoh. Oh ya ini sepedamu. Aku kembalikan, bokongku sakit karena joknya murahan.” Mendengar ocehan ringan yang terlontar dari bibir tipis milik nam soo, na young semakin ingin saja memusnahkanya.
“Ayo, kenapa diam saja, selain bodoh apa Kau juga telah bisu..”
“dasaa..ar, kau! Lelaki gila.” seru na young dengan suara yang membuat nam soo membekap mulut na young. Na young memukul nam soo yang telah berani berbuat begitu padanya.
“Sstt! Kuberi tau saja ya, aku pria baik baik. Dan ingat jangan sampai kau menyesal telah memarahiku seperti ini.”
Na young merinding begitu suara lembut nam soo berdengung tepat di telinga kirinya. Bisikan itu membuatnya terlena, dan membuat jantungnya berpicu. Nam Soo melepaskan tangan na young yang hampir saja mendarat bebas ke pipinya.

Na young meninggalkan kelas ketika Ji min mengajaknya untuk pulang bersama. Na young tau pasti Ji min sedang tidak mood untuk pulang sendirian seperti biasanya. Kalau seperti ini biasanya mereka akan berakhir di sebuah rumah pohon yang selalu mereka kunjungi di akhir minggu.
“sepedamu.” Seru datar Ji min menunjuk sepeda na young dengan matanya. Na young langsung mengerti. Ia mendapati kedua ban sepedanya kempes. Na young menjejakkan kakinya.
“sebaiknya kita buang saja sepeda ini. kau tau, sudah berapa kali kau memperbaikinya, hampir setiap hari” ucap Ji min mencoba menyadarkan sobatnya itu.
“ya, hampir saja tabunganku habis dibuatnya” akhirnya na young mengerti. Tapi kemudian ia tersenyum simpul.
“kurasa aku tau siapa yang telah menganiaya sepedaku.”
“Apa Namja yang pernah mengambil sepedamu?” Tebak ji min menduga.
“siapa lagi!” Na young menuntun sepedanya perlahan untuk pulang. Seraya mengobrol mereka masing masing menuntun sepedanya dengan senang bahkan mereka lupa tentang apa yang telah membuat mereka harus berjalan kaki.
“Hey hey.. apa..apaan ini?” Pandangan kedua mata gadis tersebut terkalahkan kepada dua gadis sebaya mereka. Na young memberi isyarat pada Ji min untuk waspada.

Seperti direncanakan salah satu gadis di hadapan mereka menyiramkan sesuatu pada Na young. Sontak Na young terkejut hingga sepedanya terlepas.
“Wae…?”
Plakk!
Gadis itu murka ketika sekejab saja Ji min menamparnya hingga teman gadis itu juga terkejut bukan main.
“Hey, kau ini siapa? kenapa malah menyerang begitu saja, apa sekolahmu mengajarkan hal begitu” seru Ji min berapi-api. Bukan menjawab atau bertanggung jawab kedua gadis itu berlari pergi meninggalkan tempat itu. Ji min tersadar akan keadaan na young. Na young mengkatupkan mulutnya ketika Ji min menyadarkannya.
“Kau menamparnya barusan.”
“Kurasa itu sudah pantas untuk mereka rasakan.” Ucap Ji Min datar. “Ayo!”
“Eoh? Kau tau jantungku hampir saja lepas melihat itu tadi, sekarang aku bahkan masih lemas begini.”
“Terus?”
“aaakh! Aku mau mati bodoh!” Teriaknya jengkel terhadap Ji min. Ji min menendang sepeda Na young yang tergeletak di sisinya.
“Lihatlah tubuhmu penuh dengan oli, apa Kau tidak malu?” Spotan ucapan Ji min membuat na young mendelik memandangi tubuhnya yang berlumuran noda hitam.

“Kau tau siapa mereka?”
“Ku rasa mereka dari sekolah GS Art school.
“oh, pantas saja tampang mereka seperti artis.”
Na young meninggalkan tempat tidurnya ketika suara bunyi kaca pecah.
“mereka mungkin balas dendam, tapi apa untungnya untuk mereka?”
Ji min mendesah begitu melihat kaca jendela berserakan. Ji min mengisyaratkan pada Na young agar tak keluar. Karena bisa saja bukan lagi kaca yang pecah melainkan juga keselamatan mereka berdua.
“terlalu kekanak kanakan. Apa mungkin Namja tersebut membayar mereka?”
“Aku pikir mereka hanya salah orang saja, apa mungkin?” Gumam Na young seraya memunguti pecahan kaca. Ji min menarik nafas dalam, ini sungguh mengganggu ketenangan.

“Hai, apa kabar!”
Na young menoleh ke arah suara yang rendah di sampingnya. Na young menghentikan langkahnya, memandangi wajah orang itu dengan pandangan yang menyiratkan adanya sebuah kebencian. Na young melanjutkan perjalanan pulang, namun tetap saja namja tersebut masih setia di sampingnya. Awalnya Na young ingin rasanya tidak mau berbicara. Namun mengingat ini menyangkut keselamatan mereka Na young angkat bicara.
“Sungguh aku tak habis pikir, kenapa kau tega melakukan hal yang memalukan.”
“apa maksudmu, bukan sudah kukatakan padaku.”
“Orang baik?” Na young tersenyum licik.” Jika menyuruh dua orang yeoja untuk meneror kami. Masih bisa dipercayai?” Ujar Na young memancing Nam Soo. Nam Soo tersenyum kecil seraya bertanya dalam hati.
“dua yeoja? Apa aku tak salah dengar?”
Na young menghentikan langkahnya, nam soo berikut. Mereka saling pandang.
Na young mengepal telapak tangannya. Nam Soo melirik ke arah dua tangan mungil yang telah mengepal di sisi tubuh gadis itu.
“Hey jelaskan padaku, kau pikir apa yang bisa kau lakukan demi memukulku. Maka jelaskan saja padaku.” Ucap nam soo mencoba membujuk na young yang begitu tajam menatapnya.
“sebentar, aku rasa aku tau siapa yang telah menganiaya kalian, tapi harus kau beritahu dulu siapa yang telah membuat kau beranggapan kalau akulah yang selalu mengerjai kalian”
“sepedaku selalu rusak ketika saja aku pulang sekolah, kedua ada dua orang yeoja yang telah menyiramkan pelumas padaku dan tadi malam kami mendapati kaca jendela telah berserakan di lantai.” Jelas Na young dengan nada kesal. Sebenarnya Na young enggan bercerita.
“Hahaha…!”
“Kenapa malah tertawa!?” Na young mendelik kesal. Bukan menjawab malah tertawa. Apa pria ini benar benar idiot. Pikir Na young menduga.
“Hey jangan marah dulu, kau ini selalu marah marah padaku. Padahal setiap wanita biasanya akan bersikap manis padaku jika mereka bersamaku.”
“karena aku tidak begitu menyukaimu, kau lelaki idiot yang pernah ku tau, dan ingat! Aku sama sekali bukan para gadismu itu!” tegas na young tak mau kalah.
“baiklah.” Gumam nam soo akhirnya. “Dia adikku, aku tidak tau bahkan tidak sadar akan hal aneh yang dimiliknya. Dia adikku satu satunya bahkan aku juga kakak satu satunya. Mungkin dia merasa kau telah menyakiti aku makanya dia berani melakukan itu”
“menyakitimu? yang benar saja.” Seru na young tak habis pikir dengan keterangan dari nam soo. Kurasa benar, mereka memang keluarga aneh. Bisik hati na young merasa ngeri. Betapa horornya kelakuan adik kakak ini.
“maaf ya, aku tidak tau dia akan bertindak seperti itu.”
“Kau katakan saja padanya jangan berani berbuat kegilaan itu, kalau tidak ingin kedua pipinya menempel di tangan Ji min!”
“Kurasa itu sudah pantas ia dapatkan, hanya sebenarnya aku menyayangkan sikap kalian kepadanya.”
Na young meninggalkan nam soo yang berdiri tegak memandangnya. Sungguh yeoja itu telah membuat hatinya berdebar. Membuat Na na adiknya membuat perhitungan pada yeoja itu karena dia kakanya patah hati.
Nam Soo melambaikan tangan ke arah na young yang sudah pasti tak mungkin melihatnya. Bibirnya menyingsingkan senyum yang manis sekaligus kesal terhadap dirinya sendiri yang bak pecundang.

Na young telah menceritakan segalanya pada Ji min tentang apa yang telah membuat mereka harus ketakutan akan diteror. Ji min mendecak kesal ketika saja na young begitu mudahnya memaafkan kelakuan pria dan adiknya itu.
“Dia sudah meminta maaf, lalu apa yang harus dipermasalahkan lagi.”
“terserah kau saja, lihat saja jika gadis gila itu menyerang kita. Maka kau yang akan ku telan hidup hidup.”
Na young hanya tertawa begitu mendengar ancaman dari ji min yang menurutnya hanya sebuah candaan. Namun tidak bagi Ji min, menurutnya sebelum gadis itu benar benar meminta maaf langsung baginya masih belum dipastikan keselamatan mereka berdua dalam keadaan baik.

Ketika itu ji min sedang mencari obat herbal radang tenggorokan yang sedang dideritanya. Saat keluar toko dengan menenteng kantong plastik ia meninggalkan toko itu dan segera pergi dengan mengayuh sepedanya.
Ji min mengerem mendadak sepedanya begitu dua gadis menghadangnya dengan anggunya. Ji min memandangi mereka lekat lekat seraya waspada dengan situasi seperti yang tak terduga nantinya.
“ada apa, apa kita ada masalah lagi? atau kau akan kembali menamparku?” Seru Ji min menampakan seringai sindiran bahwa ia tak takut pada mereka.
“Kau teman gadis itu kan?” Bukan menjawab Na na malah bertanya. “Na young.” Na na meralat ucapannya.
“ya, lalu?” Tanya Ji min seraya beranjak dari jok sepedanya dan berdiri tegak bagai tak takut akan dua gadis yang bisa saja mengeroyoknya.
“bisakah kau tidak bersikap begitu, aku hanya ingin menjelaskan semuanya dan minta maaf padaku.” Ucap Na na sedikit ragu. Wajah baby face Na na bersemu merah sedang Yura mengangguk membenarkan ucapan Na na barusan.
Akhirnya Ji min menurunkan kadar amarahnya, dawn ia mengikuti dua gadis itu yang menuju sebuah cafetaria yang tak jauh dari toko obat yang baru beberapa saat ia hampiri.
“Kim Nam Soo. Dia kakakku. Aku sangat terlalu over protective padanya sehingga reaksiku ketika ada yang membuatnya terluka selalu berlebihan.” jelas Na na yang duduk di samping Ji min. “tapi kali ini reaksi berlebihan yang telah membuat kau dan Na young terganggu ternyata mendapat peringatan keras dari Nam Soo.”
“Maksudmu biasanya kakakmu tidak memarahimu jika orang lain yang kau aniaya!” Dengus Ji min merasa aneh.
“bukan begitu, kali ini dia benar benar marah. Kurasa dia menyukai Salah satu diantara kalian” ungkap Na na kemudian. Terlukis pula semburat rasa senang di wajah Na na ketika ia sudah mengatakan yang sebenarnya.
Ji min termenung berusaha mencerna kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Na na. Apa gadis bocah ini dapat dipercaya? Tanya Ji min dalam hati.
“tak apa, tapi ngomong ngomong aku juga minta maaf padamu karena pernah menamparmu.” Senyum Ji min mengambang di bibirnya yang marah tanpa pewarna itu.
“Seharusnya aku yang meminta maaf karena selalu membuat kalian takut.” Gumam Na na turut membalas senyuman Ji min.



“Apa kabar?”
“Kau. Apa yang lakukan di sini?” Tanya Na young terkejut. Ia sungguh sangat kesal apabila Nam Soo selalu datang begitu saja tanpa tanda tanda sebelumnya.
“Hahaha! Kau ini, lucu.”
“lucu apanya, dasar Namja idiot!”
“ralat lagi ucapanmu itu!” Dengus NAM soo pura pura marah.
“iya. Namja baik baik!” Ralat Na young dengan nada di buat buat.
“Kurasa kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu.” Gumam Nam Soo memandang lurus ke depan. Na young melirik dari sudut matanya. Nam Soo membalas lirikan itu dengan pandangan dan sebuah kerlingan dari Nam Soo.
“Aku jadi bersyukur, karena sepedamu yang buruk itu aku jadi bisa lebih dekat denganmu.”
“Apa yang kau katakan, apa selain aneh apakah kau juga seorang mesum?” Tanya Na young waspada.
Nam Soo hanya tersenyum mendengar ocehan dari Na young. Apakah ia benar benar jatuh hati pada Na young? Tanya hati Nam Soo. Sungguh ia tidak menyangka kalau ia akan luluh pada gadis yang sangat sensitif terhadap kaum adam.
“Kau ini, tak seorang pun berani mengatakan bahwa aku ini mes*m kenapa malah gadis aneh sepertimu berani sekali.” Balas Nam soo seraya mengacak rambut Na young. Na young menjejakkan kakinya merasa kesal terhadap Namja tersebut.
“Hey, Na young!” Panggil Nam Soo lembut pada Na young yang sedang asyik pada pikirannya sendiri. Na young menoleh.
“Wae?”
“mari kita saling jatuh cinta.” Gumam Nam Soo hampir tak terdengar. Na young berkerut karena tak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Nam Soo barusan.
“Apa yang kau katakan barusan?”
“ah. Selain bodoh ternyata kau juga tuli”
“katakan saja terus semuanya, kau kira kau sempurna? Dasar pria menjijikan!” Seru Na young histeris. Ia terus memukuli tubuh Nam Soo yang berusaha menghindar. Nam Soo selalu berhasil menghindar. Ia terus saja mengecoh na young sehingga mereka tak ubahnya sepasang anak kecil yang sedang berebut mainan.
“Hahaha..”
“dasar…!” Suara na young meninggi. Ia mengejar nam soo yang telah jauh meninggalkannya.

End

Cerpen Karangan: Nuriana
Facebook: Nuriana Teen Pumpkins
Step Brother

Step Brother

Judul Cerpen Step Brother

Mempunyai kakak tiri yang tampan, tinggi, ramah, baik hati dan populer, mungkin menjadi impian semua adik tiri perempuan di dunia ini. Tapi tidak untukku. Aku membenci kakak tiriku. Aku benci ketika semua orang menaruh perhatian dan pujian padanya termasuk kedua orangtuaku. Aku selalu merasa Park Chanyeol, kakak tiriku -yang diadopsi sejak kecil oleh kedua orangtuaku, mengambil hakku sebagai ‘anak kandung’ di rumah. Ia selalu saja dibanggakan oleh Ayah karena prestasinya di bidang olahraga dan selalu membanding-bandingkan dengan aku yang tidak suka olahraga. Ia juga selalu dipuji Ibu karena nilai akademiknya yang bagus. Park Chanyeol juga selalu lebih diutamakan ketimbang aku yang menjadi peran ‘anak kandung’ kedua orangtuaku. Terkadang aku berfikir apa yang istimewa dari anak adopsi itu? Dan terkadang aku juga merasa iri ketika Ia mempunyai banyak teman dan disukai semua orang. Park Chanyeol adalah kebalikan dari diriku. Ia lebih seperti cermin ketimbang menjadi kakak tiriku.

“Kita kan satu sekolah, lebih baik kita berangkat bersama!” Ajak Chanyeol. Ck, berangkat bersama katanya? Tidak akan.
“Hei, Kyeongri, kenapa kau diam saja?” Tanyanya lagi. Ia terus saja menanyaiku dengan pertanyaan bodohnya. Tapi aku hanya diam tak menggubrisnya. Malas rasanya meladeni ucapannya yang tak penting itu.
“Park Kyeongri, kau dengar tidak? Sebaiknya hari ini kau menonton pertandingan basketku dan sehabis itu kita bisa nongkrong di kafe dan…”
“Sudah cukup! Aku benci kau! Dan aku benci mendengar suaramu! Tidakkah kau tahu itu, Park Chanyeol?!” Bentakku dan langsung berjalan meninggalkan Chanyeol yang diam seribu bahasa. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padanya, pokoknya sekarang lebih penting aku tidak datang ke sekolah bersamanya.



“Chanyeol belum datang?” Tanya Soojin. Aku hanya mengangkat kedua bahuku tidak peduli.
“Kau ini adik macam apa yang meninggalkan kakakmu di jalan?”
“Dia bukan kakakku.” Jawabku singkat dan bangkit dari tempat dudukku. Ketika aku ingin melangkahkan kakiku ke luar kelas, tiba-tiba datanglah Chanyeol sambil tersenyum lebar dengan jaket yang diikat di pinggang.
“Pagi!” Ujarnya ke seluruh kelas. Kulihat para siswi terlihat begitu senang atas kehadirannya, tapi tidak untukku. Aku kembali ke tempat dudukku sambil menopang dagu. Sudah cukup sial sampai bisa satu kelas dengannya -karena usia kami yang tak jauh berbeda, sekarang aku harus melihat senyum menjengkelkan itu setiap hari.

“Kenapa kau meninggalkanku?” Tanya Chanyeol sambil menarik daguku. Aku kaget dibuatnya dan segera menepis tangannya. Ia tersenyum licik. Senyum yang aku benci darinya.
“Jangan berfikir hubungan kita sedekat itu!” Bentakku sambil menggebrak meja di hadapan Chanyeol.

Tiba-tiba semuanya menjadi hening. Aku melihat ke arah sekitarku, semua siswa/siswi yang ada di dalam kelas melihat ke arahku. Kemudian aku melihat ke arah Chanyeol yang masih tersenyum.

“Well, Kyeongri memang galak, ya? Ketika tidur saja dia bisa segalak itu.” Ujar Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Kemudian kelas menjadi normal kembali dan aku duduk sambil menopang dagu di atas meja.
Aku masih tak mengerti kakak tiriku itu.



“Oh, jadi ternyata kamu yang bernama Kyeongri?”
“Habisi saja dia! Kudengar tadi pagi dia membentak Chanyeol dan menggebrak meja di hadapannya! Sangat kurang ajar pada Chanyeol Oppa kita!!”
“Cewek jelek, kamu pikir kamu siapa bisa memperlakukan Chanyeol seperti itu?”

Kulihat cewek yang berambut panjang dan berwarna merah itu mengeluarkan gunting dari saku bajunya. Aku begitu ketakutan dan terus menjerit ketika pisau itu semakin mendekat ke arah wajahku. Tapi aku sungguh tak bisa apa-apa. Tanganku dipegangi oleh beberapa orang yang juga teman si cewek itu, dan lagipula siapa pula orang yang akan mendengar suaraku di dalam gudang sekolah tua ini?

“Kumohon jangan!!!! Lepaskan aku!!!” Teriakku. Aku meneteskan airmataku perlahan.
“Heuh, tidak akan!!” Jawab cewek berambut merah itu. Kemudian aku melihat Ia menggunting rambutku hingga menjadi pendek. Ini semua karena Park Chanyeol dan penggemar fanatiknya itu! Aku benci kakak tiriku itu!
“Lain kali, jangan pernah seenaknya dengan pacarku, Park Chanyeol!!”
Aku hanya menatap mereka yang tengah menertawaiku. Kumohon tolonglah aku.

“Pacar siapa?”
Aku menengok ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya aku melihat Chanyeol sedang berdiri tepat di hadapan cewek berambut merah itu.
“Aku sama sekali tidak pernah menyakiti seorang wanita, tapi oh, apa yang kau lakukan pada adikku?” Ujar Chanyeol sambil menjambak rambut cewek itu. Aku semakin terkejut melihat ekspresi Chanyeol semarah itu.
“Aaa…adik?” Tanya cewek itu
“Iya, dia adikku! Aku menyayanginya melebihi diriku sendiri, jadi jangan pernah kalian mengganggunya lagi! Kalau sampai aku melihatnya menangis karena kalian, bukan rambut kalian lagi yang aku tarik, tapi nyawa kalian! Mengerti? Sekarang pergilah!!!” Jawabnya dan segera melepaskan cewek itu.

Chanyeol mendekatiku dan memegang rambutku yang sekarang sudah pendek sampai atas bahu.
“Kau…”
“Ssstttt…” Chanyeol menutup mulutku dengan satu jari telunjuknya. Aku meneteskan air mataku dan Ia mengusapnya pelan. “Ayo pulang.” Lanjutnya sambil menggendongku pulang sampai rumah.

Keesokan harinya di sekolah…
“Hmm… tidak jelek juga kau berambut pendek. Jago juga mereka memotongnya sampai kau tak perlu merapikannya di salon.” Ujar Chanyeol sambil berjalan di sampingku. Aku hanya tersenyum sambil memukul kepalanya dan berlari meninggalkannya (lagi).
Well, ternyata punya kakak tiri oke juga

Cerpen Karangan: Rapunztalifah
Di Bawah Pelangi

Di Bawah Pelangi

Judul Cerpen Di Bawah Pelangi

Sore ini hujan begitu deras, aku menunggu bus di halte depan sekolah. Ada seorang laki-laki yang berlari ke arahku dengan tas di kepalanya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, lalu aku mengambil kacamataku dari dalam tas. Saat aku melihat ke arahnya, ternyata Oppa Taehyung.
Orang yang ada di sampingku saat ini adalah orang yang sangat kukagumi, selain tampan, pintar, jago olahraga dan yang paling aku suka darinya ialah misterius, membuatku semakin penasaran tentangnya. Meski aku satu sekolah dengannya, sangat sulit untuk bertemu dengannya.

Oppa Taehyung adalah murid VVIP, bagi mereka yang menjadi murid VVIP biasanya mempunyai tempat tersendiri di sekolah dan punya banyak fans.

Tiba-Tiba..
“Hey Go Aru sedang menunggu bus juga?” Ujar Oppa taehyung.
Aku sangat terkejut, pipiku memerah, jantungku berdegup kencang “Deg.. Deg.. Deg”
‘Dia menyapaku, Dia tahu namaku, Dia tersenyum padaku!!’ teriakanku dalam hati
Ini mimpi paling indah yang pernah kualami, Aku harap aku tidak pernah terbangun.
Mataku tidak bisa kedip, hanya melihat ke arahnya, Lalu Oppa melambaikan tangannya ke mukaku,
“Go Aru, Apa kau baik-baik saja?” Ujar Oppa Taehyung khawatir.
“Maaf, Aku baik-baik saja, Ya aku sedang menunggu bus” Ujarku dengan wajah memerah.
“Syukurlah, Aru apa kau masih ikut ekskul melukis?” Tanya Oppa Taehyung.
“Maaf, Oppa tahu darimana aku ikut ekskul melukis?” Tanyaku dengan terkejut.
“Aku mengujungi ruang lukis saat tidak ada orang, aku melihat beberapa lukisan yang di bawahnya betuliskan nama Go Aru, Kupikir itu karyamu.” Jawab Oppa Taehyung yang ternyata suka melukis juga.
“Ah apa jangan-jangan karya yang berinisial BlankTae itu Oppa?” Tanyaku penuh semangat
“Bingooo ahaha” Jawab Oppa Taehyung tertawa dengan jarinya yang menyerupai pistol menunjuk ke arahku.

Ini pertama kalinya aku melihat Oppa tertawa seperti ini, terlebih lagi dia tertawa karena aku. Tuhan, Aku harap waktu bisa berhenti saat aku bersamanya.

Banyak sekali yang kami bicarakan, namun busnya tak kunjung datang. Hujan mulai reda, sinar matahari muncul kembali.. Saat sedang asik ngobrol, ada mobil yang mencipratkan genangan air, dengan cepat Oppa Taehyung berpindah ke depanku agar aku tidak terkena cipratannya. Dan akhirnya Oppa yang terkena cipratan airnya, Aku sangat terkejut saat Oppa ada tepat di depanku. Tangannya memegang pundakku, rasanya seperti berpelukan, mata kita saling bertatapan, aku sangat gugup.
Dan Oppa bilang “Kau baik-baik saja?”
“Maaf, Iya, Harusnya aku yang bilang begitu, Apa Oppa tidak apa-apa?” Tanyaku dengan gugup.
“Ya, tidak masalah.” Jawab Oppa Taehyung sambil tersenyum.

“Oppa lihat ke awan, pelanginya indah sekali.” Ujarku sambil menunjuk ke arah awan.
“Iya, sangat indah seperti dirimu” Ujar Oppa taehyung melirikku sambil tersenyum.

Ini adalah awal kisah cinta kami Di Bawah Pelangi Cinta kami Bersemi. Dan akhirnya bus datang, Aku dan Oppa Taehyung pun naik bersama.

Cerpen Karangan: Aru
Blog: arudiary.blogspot.com
Flashlight

Flashlight

Judul Cerpen Flashlight

Aku berjalan menyelusuri setiap jalan, berharap kau bisa kembali disetiap hariku, mewarnai setiap jalan hidupku, melewati setiap saat bersamamu dan jika waktu dapat diulang aku tidak ingin menyia-nyiakanmu.

Aku merindukanmu…
Kau bagaikan lampu senter yang selalu menerangi gelapnya setiap sudut hatiku. Kau adalah orang yang pertama kali membuatku kembali ceria, yang selalu membuatku tertawa, selalu ada saat aku sedang sedih.

Bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu saja? Bahkan kau tak memberitahuku tentang hal itu? Kau meninggalkanku saat kau memberikan pertanyaan ‘aku menyukaimu? Apakah kau bersedia menjadi kekasihku?’ dan saat aku ingin menjawabnya kenapa kau meninggalkanku?

Jahat…
Setelah kau membuat aku selalu membutuhkanmu, kenapa saat itu juga kau meninggalkanku?

Seharusnya, kau beri aku kesempatan untuk membencimu, kesempatan untuk mencampakkanmu terlebih dahulu, kesempatan untuk menjawab pertanyaanmu dan mungkin jika aku tau bahwa kau akan meninggalkanku aku akan berpikir ulang agar bisa menolakmu.

Aku merindukanmu Lampu Senterku…

FLASHBACK
“Aku menyukaimu… Apa kau bersedia menjadi kekasihku?” ucap seseorang yang saat ini ada di hadapanku, memegang tanganku dan ia menatapku dengan tatapan yang sangat tulus.
“Beri aku waktu Kim mingyu”
“Haruskah? Tidak bisakah kau menjawabnya sekarang?”
Aku hanya menatapnya. Melihat setiap bagian bagian yang melengkapi wajahnya dan aku benci dengan wajah pucat itu.
“Baiklah, aku akan sabar menunggumu Jihyun-ah”

Dia melepaskan genggaman tangannya dan langsung pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa melihatnya menjauh dariku. Kakiku seperti tertahan saat aku ingin berlari dan memeluknya. Bahkan aku berjalan berlawanan arah darinya.

“Maaf Kim Mingyu… Aku takut kau akan menyakitiku seperti pria lainnya…”
Hanya itu yang bisa kukatakan saat melangkahkan kaki menjauh darinya, karena aku tak ingin tersakiti untuk kedua kalinya.

Aku menjatuhkan ponselku karena mendengar perkataan dari orang yang berada di seberang telepon tadi.

“Tidak… Tidak mungkin…”
Kakiku terasa lemas ketika ia mengucapkan sesuatu yang menurutku tidak masuk akal.

Sekuat tenaga aku berdiri dan berlari ke luar rumah untuk menuju rumah sakit.

Sesampainya disana hanya satu yang di pikiranku ‘Kumohon itu semua bohong’. Aku berlari sekuat tenaga untuk sampai ke tempat itu. Kubuka pintu itu dan mulai memasuki ruangan yang mengerikan bagiku. Kulihat banyak orang mengelilingi sekitar tempat tidur, Aku tak percaya…

‘Bagaimana jika itu terjadi?’
Aku berjalan ke arah orang orang itu, mereka menatapku bahkan tatapan mereka mengatakan ‘Kau harus tabah’
‘Apa ini? BERHENTILAH MENATAPKU SEPERTI ITU!!!’

Mereka memberiku jalan untuk menuju ke tempat tidur dan kulihat seseorang tergeletak kaku disana. Air mata ini kembali menetes bahkan lebih deras dari sebelumnya, aku sudah bersusah payah untuk menahan air mata ini keluar. Namun, hasilnya nihil… Aku tetap tidak bisa untuk menahannya lebih lama.

“Ya! KIM MINGYU… Jangan bercanda… Ini sama sekali tidak lucu” Ucapku sambil menggoyangkan lengan orang itu.
“KIM MINGYU! Jangan membuatku takut… Bangun… Jika kau tidak mau menghentikan lelucon ini aku tidak akan mau berteman denganmu lagi..” kini suaraku hampir tak terdengar lagi.
“YA! KIM MINGYU! BANGUN! BANGUN!” teriakku dan mengguncang tubuhnya semakin kuat.
“Kau… Jahat… Bagaimana bisa kau tinggalkanku seperti ini… Hiks… Hiks…”
Aku menyerah dan berakhir memeluk tubuhnya yang saat ini sudah kaku dan dingin.
Aku sama sekali tidak berpikir jika ini akan terjadi. Bahkan aku sama sekali tidak tau penyebab dia bisa seperti ini.
“ANDWE… YA! KIM MINGYU! kau menyuruhku untuk… Hiks… Menjawab pertanyaanmu semalam kan? Hiks… Ayo bangun dan aku akan memberitahu jawabanku… Jebal…”
Tangisku semakin pecah dan entah mengapa semakin aku ingin melihatnya bagun semakin sakit hati ini jika menyadari orang ini tidak akan bangun.
FLASHBACK END

“Hah…” aku menghembuskan napasku kasar ketika kembali mengingat kejadian itu.

Hampir genap 2 bulan setelah kejadian itu, tapi aku masih sangat ingat setiap detail kejadian yang memilukan bagiku.
Aku masih tidak percaya jika orang itu sudah tiada. Bahkan sampai saat ini aku masih tidak tau penyebabnya.

Hariku kembali suram sama seperti dulu sebelum bertemu dengan orang itu. Orang yang membuatku tau apa artinya ‘BAHAGIA YANG SEBENARNYA’. Bahkan sampai saat ini aku masih menjaga jarak dengan setiap orang yang ingin mendekatiku.

Author’s POV
Gadis yang saat ini sedang berdiam diri di pinggir danau mulai menetes air mata. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, wajahnya yang sangat pucat dan matanya yang sayup membuatnya terlihat sangat tertekan.

“Shin Jihyun?” tanya seseorang dari belakang gadis itu dan berhasil membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
“Jeon Wonwoo?” ucap gadis itu tak percaya sambil mengusap kedua pipinya agar air matanya berhenti mengalir.
Orang itu tersenyum saat melihat gadis itu masih mengingatnya. “Sudah lama kita tidak bertemu…” ucapnya sambil mendekati gadis itu.
“Hm..” Jihyun tersenyum kecut saat mengingat orang ini, karena ia adalah salah satu teman dari Kim mingyu yang tidak mau memberitahukan penyebab Kim mingyu pergi dari dunia ini.
“Apa kau sudah makan? Ayo kita ke kafe…”
Ia menarik lengan Jihyun perlahan namun secara paksa jihyun melepaskan genggaman tangan orang itu.
“BERHENTILAH BERSIKAP BAIK PADAKU!”
“Ke… Ke… Kenapa?”
“Hah…apa? Kau tanya kenapa? Jika kau ingin menjadi temanku lagi, aku mohon beritahu penyebab kematian Kim mingyu!” Jihyun mulai meneteskan air matanya lagi ketika menyebut nama seseorang yang sangat ia cintai di dalam kalimatnya itu.
Wonwoo hanya melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
Itu karena, ia sedih melihat jihyun yang masih memikirkan mingyu, ini sudah genap dua bulan. Seharusnya jihyun mencari pengganti mingyu bukannya sedih seperti ini, mengingat kembali setiap peristiwa saat bersama Kim mingyu.

“Bagaimana bisa kau masih memikirkannya Shin Jihyun?”
“MWO? Kau tanya bagaimana bisa aku memikirkannya? DIA SANGAT BERHARGA BAGIKU! DIA YANG MEMBUATKU BAHAGIA! BAHKAN DIA ADALAH ORANG YANG SANGAT KUCINTAI! bagaimana bisa kau bertanya seperti itu? Huh…? Jahat… Hiks.. hiks…”
Jihyun terduduk lemas ketika mengucapkan kalimat yang selama ini sangat ia pendam.

Wonwoo mengikuti jihyun yang terduduk itu, ia berjongkok di hadapan jihyun dan sedetik kemudian tetesan air mulai mengalir kecil di bagian pipinya. Itu karena jihyun membuatnya sedikit luluh dan akhirnya wonwoo memutuskan untuk memberitahukan semuanya.

Awalnya jihyun tak percaya dengan omongan wonwoo namun, setelah wonwoo meyakinkan bahwa semua yang dikatakannya benar, jihyun kembali menangis dan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Bahkan ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara isakannya tidak terdengar oleh orang yang berlalu-lalang di sekitar taman itu.

Wonwoo mengatakan bahwa sebenarnya mingyu memiliki penyakit langka dan sudah divonis hanya akan bertahan 3 bulan. Ia sangat menderita… Namun, setelah ia bertemu dengan jihyun, mingyu kembali semangat dan ia bahkan tidak memikirkan penyakitnya lagi. Berbeda dengan penyakitnya yang selalu menyerang tubuh mingyu, ia sangat tersiksa saat melawan penyakitnya. Ia harus masuk ke dalam rumah sakit 4 kali dalam 2 minggu dan ia harus menahan sakit di bagian kepala dan di bagian jantungnya. Mingyu pernah mengatakan ke wonwoo untuk berjanji tidak akan memberitahukan jihyun soal penyakitnya ini.

Woonwo juga mengatakan setelah mingyu menyatakan cinta pada jihyun, ia kembali ke rumah sakit karena tiba tiba pingsan dan mengeluarkan darah di bagian mulut dan hidungnya. Itu yang terparah, para dokter bahkan sudah angkat tangan untuk menyembuhkan mingyu dan sebelum ia pergi, ia menitipkan pesan kewonwoo untuk berjanji akan selalu melindungi jihyun.

Ini benar benar membuat jihyun sangat terpukul, tangisnya sudah membuat wajahnya memucat dan lemas.

“Bagaimana bisa…? Bagaimana bisa hal seperti ini sama sekali tidak ia ceritakan padaku? Hiks… Hiks…” Ucap jihyun setelah wonwoo baru saja menyelesaikan kalimat terakhirnya.
“Mianne jihyun-ya… Aku sama sekali tak bermaksud untuk merahasiakan ini darimu… ”
“Hiks.. Hiks.. Kau jahat mingyu.. Bagaimana bisa kau tinggalkan aku seperti ini? Hiks.. Hiks… ”

Wonwoo yang tidak tahan melihat sikap jihyun mulai menarik jihyun ke dalam dekapannya, membelai pelan puncak kepalanya agar membuat jihyun sedikit lebih tenang.

Hanya suara isakan yang saat ini didengar oleh wonwoo. Namun, lama kelamaan suara itu mulai hilang dan akhirnya jihyun melepaskan pelukan wonwoo dan kemudian menatapnya.

“Wonwoo-ya… apa yang harus kulakukan?” tanya jihyun yang terlihat masih menahan tangisannya.
“Kau hanya perlu mengikuti kata hatimu jihyun-ya..”
“Hah… Baiklah” mengusap air mata miliknya yang masih terjatuh di setiap sudut matanya “Terima kasih karena kau sudah mau memberitahukanku semua tentang mingyu… Kalau begitu aku permisi dulu…”

Wonwoo hanya melihat jihyun pergi menjauh darinya. Ada perasaan lega karena sudah menceritakan semuanya dan ada juga perasaan bersalah kerena telah membuat ia ingkar janji pada mingyu.

Author’s POV
Apa kau kecewa? Kenapa kau rahasiakan ini dariku? Jika kau beritahu dari awal, mungkin aku bisa menjagamu dihari-hari terakhirmu. Aku membencimu Kim Mingyu. Kau selalu membuatku merasa bersalah. Jika waktu dapat diputar, hanya satu ingin kuberitahukan kepadamu.
‘AKU MENCINTAIMU BODOH’



“Jadi, apa yang ingin kau katakan jeon wonwoo?” ucapku setelah 5 menit berdiam diri di hadapan namja yang bernama Jeon Wonwoo

Kali ini dia menyuruhku untuk menemuinya karena ada hal yang ingin ia beritahukan kepadaku.

“Lihat ini… Semalam saat aku ke rumahnya untuk berkunjung aku menemukan ini di lemari kamarnya”
Ia memberikan Handycam dan sepucuk surat. Aku tak mengerti apa maksudnya, tapi Handycam ini digunakan mingyu dan aku untuk merekam semua yang kami lakukan.
“Apa ini?” Tanyaku sambil mengarahkan sepucuk surat itu kepadanya.
“Entahlah, aku sama sekali tidak membukanya, aku hanya melihat namamu di bagian depan surat”

Saat aku ingin membuka suratnya, dia malah menahannya.
“Ehh.. Lebih baik jika kau membacanya sendiri, karena surat itu dibuat hanya untukmu…” Ucapnya sambil menahan tanganku yang ingin membuka surat itu.
“Hm… Baiklah…”
“Kalau begitu aku harus pergi, aku ada janji dengan kekasihku…” Ucapnya seraya menunjukkan senyumnya ke arahku.
“Siapa… Soojin?” Godaku setelah melihatnya ingin beranjak pergi meninggalkanku.
“Hm.. Siapa lagi? Kalau begitu annyeong..”

Aku duduk di pinggir danau sambil melihat setiap adegan yang selalu kami rekam di handycam ini, entahlah… Bagiku ketika bersamanya hari hariku selalu diwarnai dengan warna warni cat krayon

Ingin rasanya aku mengulang semua bersamanya, aku ingin melihat senyumnya, ingin melihat ia tertawa, ingin melihat tingkah anehnya dan ingin merasakan setiap kejailan yang ia lakukan kepadaku. ‘AKU BENAR BENAR MERINDUKANMU KIM MINGYU’

Tetes demi tetes kembali mengalir di wajahku saat melihat wajahnya di dalam video itu.
‘AKU BENCI INI KIM MINGYU, AKU INGIN IKUT BERSAMAMU SAAT INI JUGA..’

Saat itu aku teringat dengan sepucuk surat yang tadinya membuatku penasaran. Aku menghentikan aktivitasku melihat video dan langsung membuka perlahan surat tersebut.
Aku membacanya perlahan mengikuti setiap goresan goresan yang ia ukir di dalam kertas ini.

Untukmu malaikatku
Shin Jihyun

Maaf…
Sepertinya aku tidak bisa menunggumu lebih lama…
Maaf…
Karena selama ini aku menghilang dan kembali untuk menyatakan perasaanku…
Maaf…
Maaf…
Maaf Shin Jihyun…
Beribu maaf karena sudah membohongimu tentang penyakitku yang selama ini tidak kuberitahukan padamu…
Aku tidak mau kau dekat denganku karena kasihan atau aku takut jika kau tau tentang penyakitku, kau akan pergi meninggalkanku…
Aku tau cepat atau lambat kau akan mengetahui soal penyakitku.
Mungkin jika kau membaca ini, aku sudah tiada…
Sekali lagi maaf karena mengingkari janji yang kita buat selama ini.
Janji, ‘Jika aku tak akan pernah menyakitimu’
Kenyataannya mungkin kau akan tersakiti karena aku…

Aku mencintaimu Shin Jihyun…
Benar benar mencintaimu, bahkan untuk mengungkapkannya saja aku tidak bisa menggunakan kata kata lagi. Seluruh alam semesta ini pun tidak cukup untuk mengungkapkan rasa cintaku padamu.

Jika aku benar benar meninggalkanmu untuk selamanya. Kuharap, kau jangan membenciku karena hal ini…

Jangan patah semangat karena aku… Kita ditakdirkan untuk bersama, aku yakin itu…
Jika tidak di dunia mungkin ditempat lain yang lebih indah kita akan dipertemukan kembali…
Dan aku benar benar menantikan itu.

Aku akan menunggumu walau itu sangat lama…

Salam manis untuk kesayangan…
SHIN JIHYUN



“Hiks… Hiks… Kim Mingyu… Kenapa? Bagaimana bisa kau seperti ini? Benarkah… Hiks… Saat ini kau sedang menungguku? Benarkah…?”
Seketika tangisku pecah ketika membaca surat itu. Bagaimana bisa ia membuat surat ini ketika semuanya sudah berlalu?

Aku melihat seorang lelaki samar samar tengah berdiri di seberang danau, menatapku dan menunjukkan ekspresi sedih karena melihatku menangis. Tunggu… Tidak mungkin? Ini bukan mimpi kan?

“Ming… Mingyu-ya…” Ucapku gemetar karena aku tidak percaya dengan yang kulihat saat ini.
Ia kembali menatapku… Namun, saat ini wajahnya kembali cerah dan tersenyum bahagia.
“Be.. Benarkah itu kau?” Ucapku tengah lemas melihat keajaiban yang saat ini sedang terjadi di hadapanku.
Ia hanya menganggukan kepalanya dan kembali tersenyum padaku.
Ia sama sekali tidak membuka mulutnya ataupun membicarakan sesuatu disana, tapi… Kenapa telingaku serasa ada yang berbisik untuk tetap selalu kuat?
“Bagaimana bisa aku kuat jika penyemangatku meninggalkanku?” Ucapku kembali meneteskan air mataku.
‘Kau pasti bisa, jangan menangis… Aku akan selalu menunggumu Jihyun-ah’
“Kau janji? Benarkah kau akan menungguku?” Jihyun
‘Hm.. Karena kau memang ditakdirkan untukku..’
“Ahh… Mingyu-ya… Aku ingin mengatakan sesuatu padamu… AKU JUGA MENCINTAIMU KIM MINGYU…” Jihyun
‘Aku tau… Jangan sedih lagi hanya karenaku, hm… Aku selalu ada disampingmu dan selalu menjagamu… Aku selalu ada di dekatmu..’
“Baiklah… Aku tidak akan sedih lagi…” Jihyun
‘Jangan buat aku khawatir lagi… Aku mencintaimu Jihyun… Benar benar mencintaimu…’
“Aku tau, Terima kasih karena kau memberitahukannya saat ini… kau bisa pergi dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkanku… Dan… Dan… Tunggu aku disana…”
Ia tersenyum dan kemudian perlahan ia menghilang terbawa angin yang menuju ke langit. Mungkin itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya, aku tak menyangka selama ini ia selalu bersamaku…
‘Aku pasti akan menyusulmu Kim Mingyu… Aku janji lampu senterku…’

END

Cerpen Karangan: Siti Andeana
Facebook: Siti Andeana
Reset

Reset

Judul Cerpen Reset

“Wah Cindy, kau mendapat peringkat kedua lagi.” kagum Kang Se Young yang berdiri di samping seorang gadis berwajah angkuh dengan senyum hambar menghiasi wajahnya.

Satu minggu yang lalu murid murid SMA ScreenSky baru saja mengadakan ujian tengah semester. Dan hasilnya baru saja keluar dan di tempel di papan pengumuman.

CINDY CHOI Kembali menempati peringkat kedua selama dua tahun berturut turut. Murid terpintar yang sangat disegani ini adalah anak tunggal dari seorang chaebol yang memiliki saham terbesar di SMA ternama ini. Kenapa disegani, karena siapapun yang berurusan dengannya akan mendapat ancaman dikeluarkan dari sekolah ini.
Ditemani dengan Kang Se Young, Cindy berjalan menuju toilet. Saat akan memutar knop pintu, dari luar Cindy dapat mendengar ada 2 orang siswi yang sedang membicarakan gosip miring tentangnya.

“Hei, apa kau tidak heran mengapa dia selalu mendapat peringkat kedua? Tidakkah kau pikir dia memanipulasi nilai ujiannya.”
“Ya, kau benar. Ini aneh sekali. Tapi tetap saja Jung Jin Young masih yang pintar.”
“MWO-RAGO!?”
Kedua murid yang baru saja membicarakan Cindy, dikejutkan oleh orang yang sedang mereka bicarakan. Cindy datang dengan raut wajah marah. Sontak kedua murid itu tertunduk takut melihat raut wajah marahnya.
“APA YANG BARU KALIAN BICARAKAN TENTANGKU!?” Bentaknya kasar menatap dingin satu persatu murid itu.
Tak ada yang berani bicara, bahkan Kang Se Young sekalipun. Kang Se Young hanya menunjukkan raut wajah senang, karena ini adalah kali kedua Cindy akan melakukan perilaku tidak menyenangkan pada 2 murid ini yang telah berani berurusan dengannya.
“Apa yang kalian maksud dengan memanipulasi nilai-oh?!” gertak Cindy dengan nada dan tatapan mata yang dingin seakan siap menerkam kedua murid itu dengan taringnya yang tajam.
“Ka.. Kami hanya..”
“Hanya apa? Kalian pikir aku tuli.. Dengar hanya ada dua pilihan untuk kalian berdua. Mengundurkan diri dari sekolah ini atau mendapat perlakuan buruk dariku.” Ucapnya mengancam puas hingga membuat kedua murid itu keluar dari toilet dengan air mata bercucuran.

Di loteng sekolah yang jarang didatangi para siswa, Cindy berjalan sambil menerima telepon dari seseorang.
“Oh-Eomma..”
Raut wajahnya terlihat cemas dan ketakutan saat mendapati suara ibunya di ujung sana. Berbeda dengan saat Cindy menggertak kedua murid tadi. Cindy terlihat kejam dan menakutkan.
“Bagaimana peringkatmu?”
“Aku diperingkat 2 lagi, Eomma.” jawab Cindy ragu ragu sambil menggigiti ujung kuku tangan kirinya.
Tuttt.. Sambungan telepon tiba tiba saja terputus. Cindy terlihat semakin cemas dan takut saat ibunya menutup telepon beberapa detik yang lalu. Ia mendapat firasat buruk akan terjadi padanya.

Keesokan harinya…
PLAKKK…
Tamparan keras itu tiba tiba saja mendarat di pipi kanan Cindy. Cindy baru saja tiba di parkiran yang agak gelap dan sepi untuk menemui ibunya, Karena jam pertama baru akan dimulai 15 menit lagi.
“Kau masih belum bisa mengalahkan Jung Jin Young. Dasar anak payah.”
“Eomma…” panggil Cindy lirih memegang pipi kanannya yang terasa panas dan memerah.
“Dengar, ibu sudah berusaha meminta kepala sekolah agar kau ditempatkan di peringkat pertama. Tapi kau ternyata malah membuat ibumu kecewa.”
“Eomma.. Mianhae.”
“Maaf?! Itu tidak cukup. Ibu akan menarik semua aset berhargamu.”
“Tidak ibu. Jangan.”

Tak ada yang tau bahwa Cindy selalu diperlakukan seperti ini oleh ibunya. Hanya saja ada dua orang yang mengintip dari kejauhan dan mendengar serta melihat semua yang dilakukan ibu dan anak itu.

Jam pertama akan dimulai..
Cindy masih melihat satu orang murid yang ia ancam kemarin di toilet masih berada di kelasnya. Sedangkan yang satunya lagi sudah pindah saat hari dimana Cindy mengancamnya.

Walikelas berjalan memasuki kelas bersama seorang murid baru pindahan.
Jung Jin Young si anak terpintar itu berada disatu kelas yang sama dengan Cindy. Jung Jin Young bertugas untuk memerintahkan teman temannya memberi hormat pada guru.

“Salam..”
“Annyeonghasseo”

Walikelas itu hanya tersenyum dan segera memperkenalkan murid pindahan itu. Lee Sa Na akhirnya resmi bergabung dengan siswa siswi lainnya di kelas itu. Sa Na menempati tempat duduk di sebelah Jin Young. Sejak menempati bankunya, Sa Na selalu mencuri pandang pada Cindy yang duduk di seberangnya. Saat Cindy balas menatapnya, Sa Na masih menatapnya dengan raut wajah iba.

Sa Na menempati tempat duduk yang masih kosong untuk makan siang. Tatapan mata Sa Na tiba tiba saja menangkap sosok Cindy yang berjalan diiringi beberapa temannya. Cindy menghampiri meja gadis kemarin yang diancamnya di toilet.

“Kau belum pergi juga?!” Ucap Cindy duduk diatas meja dihapadan gadis yang menunduk takut itu.
“Ibuku tidak bisa memindahkanku.” Jawabnya pelan.
“Benarkah? Kalau begitu selamat menikmati makan siangmu.. pecundang.”
Cindy kemudian bangkit dan memberikan kode kepada teman temannya. Teman temannya langsung menuruti perintah Cindy. Mereka menuangkan apa saja yang berada di atas meja pada makan siang gadis itu dan menyuapi gadis itu agar mau memakannya hingga gadis itu menangis menahan malu, karena semua orang yang berada di kantin memandanginya dengamw tatapan ngeri bercampur iba.

Sa Na terus memandangi perilaku buruk mereka pada gadis yang sedang dibully itu. Hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Cindy.

“Jangan menatapnya!”
Tiba tiba saja sebuah tangan besar menghalangi pandangannya. Sa Na beralih pada si pemilik tangan besar itu yang ternyata Jung Jin Young.

“Kenapa mereka hanya diam saja dan memandangi gadis yang sedang diganggu itu?”
Jin Young hanya menggeleng dan menyantap makan siang Lee Sa Na.

“Aku tidak tau.”
“Tapi kau adalah ketua kelas.” sinis Sa Na
“Masa sih”

Giliran Sa Na yang menggeleng gelengkan kepalanya.

Pelajaran terakhir akan segera dimulai. Semua siswa sudah berada kembali di kelasnya masing masing.
Dikelas Sa Na sedang sibuk membaca novel miliknya tiba tiba saja Cindy melintas dan menaruh lipatan kertas di atas novel yang sedang dibacanya.

‘PULANG SEKOLAH TEMUI AKU GUDANG!!!’

Sekilas Cindy dan Sa Na saling beradu tatap. Cindy menatapnya dengan sinis dan senyum kecut tersungging di bibirnya.

“Kubilang jangan menatapnya.” Bisik Jin Young kembali menghalangi pandangan Sa Na.

Pelajaran selesai Sa Na segera menggendong tasnya dan berjalan mencari gudang yang dimaksud tulisan Cindy.
Gudang itu berada di sudut lorong dan pintunya sedikit terbuka. Tanpa ragu Sa Na masuk ke dalam gudang yang lumayan gelap itu.

“Kau datang?! Jadi selamat tinggal.”

Cindy rupanya hanya ingin mengerjai Sa Na dengan menguncinya di dalam gudang itu. Dari dalam Sa Na terus berteriak untuk dibukakan pintu. Dari luar Cindy hanya tersenyum devil dan pergi dengan kunci gudang yang digenggamnya.

Dari dalam gudang Sa Na tidak tau harus berbuat apa. Di dalam gudang rupanya sangat gelap begitu pintu ditutup dan sangat dingin. Sa Na hanya bisa duduk di sebelah pintu sambil menyadari kebodohannya.

“Kau sedang apa duduk di gudang?!”
Sa Na mendongak menatap Jin Young yang sedang menggenggam knop pintu. Sa Na segera bangkit dan tanpa sadar memeluk Jung Jin Young yang telah menyelamatkannya.

Keesokan harinya Sa Na berjalan dengan gusar mendekati Cindy yang tengah asik mengobrol dengan genknya.

“Cindy Choi..”
Cindy menoleh dan menatap Lee Sa Na yang memanggil namanya. Tampak kemarahan didalam mata Sa Na.
“Bagaimana caranya kau melepaskan diri?” Cindy bertanya sambil bangkit dari duduknya dan melipat kedua tangannya tanda menantang.
“Aku. Aku yang melepaskannya kemarin.” sahut Jin Young yang baru saja masuk ke dalam kelas.
Semua orang mulai berkumpul untuk menyaksikan perdebatan yang sangat seru dan jarang ini. Selama ini tak ada yang berani melawan apa lagi mendebat Cindy. Tapi Lee Sa Na dengan berani berbicara didepan Cindy seakan menantangnya.
“Kau..” tunjuk Cindy pada Jung Jin Young yang kini berdiri di belakang Sa Na.
“Hebat sekali. Seberapa jauh hubungan kalian?!” Cindy menyindir keduanya dengan senyum jahat yang selalu tersungging dibibirnya.
“Aku mau kau meminta maaf padaku dan juga gadis yang telah kalian ganggu kemarin saat makan siang.”
Cindy dan genknya melongo tak percaya namun segera disusul dengan ledakan tawa.
“Mwo-rago?! Atas dasar apa kau bicara seperti itu.”
Sa Na hanya menyunggingkan senyuman menang ke arah Cindy.
“Atau.. Kau mau aku menunjukkan semua rahasiamu.”
“Bicara apa kau brengsek.” Bentak Cindy.
Sa Na dapat melihat raut wajah Cindy yang panik, marah dan takut.
“Kau.. Kau dan ibumu mencoba memanipulasi nilai ujianmu agar kau berada di peringkat atas. Kau tau kepintaran yang kau miliki tidak cocok dengan perilakumu yang selalu membully siapa saja yang berani menantangmu. Kemarin kau melampiaskan kemarahanmu pada gadis itu sesaat setelah kau mendapat ancaman dari ibumu dan mendapatkan tamparan darinya. Benar begitu?!” Sa Na tak menunjukkan tanda tanda ia takut pada Cindy saat membeberkan rahasia kelam Cindy.
“Awalnya aku merasa kasihan padamu saat kau menerima perlakuan seperti itu dari ibumu. Tapi saat aku menyaksikan betapa kejamnya dirimu membully gadis itu di depan banyak orang..”
“SIAPA KAU BERANI BERBICARA DAN MENGASIHANIKU SEPERTI ITU!!!” Teriak Cindy mengangkat tangan kanannya hendak menampar Sa Na. Namun dengan sigap Jin Young mencengkram tangan Cindy yang terangkat itu.
“Melawan kekerasan dengan kekerasan, itu pengecut.”

Cindy berlari cepat meninggalkan kelas dan semua orang yang sedang menyaksikannya berdebat dengan murid pindahan dan murid terpintar. Mereka semua merasa terkejut mendengar ucapan Sa Na tadi.
Segera saja Sa Na berlari menyusul Cindy. Meski telah berkata seperti itu, tetap saja Sa Na mengkhawatirkan keselamatan Cindy.
Dari jarak yang cukup dekat, Sa Na melihat Cindy menyeberangi jalan tanpa melihat ada mobil sedang melaju ke arahnya.
Cindy tidak peduli lagi. Ia tidak mau menahan malu. Lebih baik ia mati saja tertabrak mobil. Ia tidak mau lagi melihat teman temannya. Ia tidak mau melihat ibunya yang telah membuatnya seperti ini. Karena ibunya, Cindy senang melampiaskan kemarahan atau kekesalannya pada orang orang di sekitarnya. Karena ibunya ia harus menanggung malu. Tapi tetap saja, Cindy tidak bisa menyalahkan ibunya. Itu karena ia terlalu takut ada ibunya. Dan hanya ada satu pilihan. Pilihan itu adalah.. Mati.

“CINDY AWASSS…”
Cindy masih dapat mendengar teriakan Sa Na saat mobil itu menghantam tubuhnya.
Sa Na berniat mendorong Cindy agar ketepi jalan. Tapi ia ditahan oleh Jin Young yang memeluknya erat.

“Kau mau mati juga ya..” bentak Jin Young saat itu.

Kini semua tak terelakkan lagi. Cindy segera dibawa oleh ambulan. Dan entah bagaimana caranya tabrakan Cindy menjadi berita yang paling dicari di media sosial.
‘SEORANG SISWA BUNUH DIRI KARENA TAK TAHAN OLEH IBUNYA.’

Di rumah sakit Sa Na termenung di kursi ditemani Jin Young. Sa Na merasa bersalah atas kejadian yang menimpa pada Cindy. Ia tidak tau bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Setetes air mata keluar dari pelupuk mata Sa Na.
“Tenangkan dirimu. Ini semua bukan salahmu. Kau tau.. Takdir selalu berjalan sesuai Kehendak-Nya.”

Sa Na sedikit tersenyum mendengar kata kata mutiara Jin Young. Dan itu membuatnya berpikir bahwa perkataan Jin Young benar tentang Takdir.

TAMAT

Terinspirasi oleh K-DRAMA “Who Are You: School 2015”
Hope you’re enjoy reading..
Gomawo

Cerpen Karangan: Miaa Fajri
Facebook: mia_fajriati[-at-]yahoo.com
Gone

Gone

Judul Cerpen Gone

Keterbatasan yang dimiliki Lee Eun Seul ini membuat orang di sekitarnya menjauh. Tidak ada satu orang pun yang mau bahkan ingin berteman dengannya. Mungkin karena malu atau tidak ingin Lee Eun Seul menyusahkan mereka. Ketika semua itu menimpanya yang ia rasakan hanyalah keterpurukan yang membuatnya ingin mengakhiri hidup. Namun ketika ia bertemu dengan seorang anak yang memiliki keterbatasaan yang sama ia pun menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang mengalami kepahitan dalam hidup.

Sore ini seperti biasa ia akan menghabiskan waktunya dengan duduk di pekarangan rumahnya. Walaupun ia tidak dapat melihat pemandangan yang indah ketika senja tiba, namun ia cukup senang karena dapat merasakannya.
“Hai!. Seseorang tiba-tiba menyapa Eun Seul yang sedang duduk di bangku pekarangan rumahnya. Eun Seul hanya terdiam kala itu karena suara yang sangat asing baginya. Laki-laki itu tetap saja mengajak Eun Seul bicara walaupun tidak ada respon balik yang diberikan kepadanya. Setelah Eun Seul sadar dari lamunanya ia pun langsung menanggapi sapaan laki-laki itu.
“Ah! Maaf aku hanya terkejut karena baru mendengar suaramu.”
“Suaraku, bukankah biasanya orang akan terkejut ketika melihat wajahnya, kenapa kau bisa terkejut hanya kerena mendengar suaraku?”
“Itu hanya untuk mereka yang normal.”
“Kau ini bicara apa, memangnya kau tidak normal.”
“Aku memang tidak normal seperti kalian, kalian mungkin bisa melihat indahnya senja setiap hari semau kalian, tapi tidak denganku walaupun sekali saja aku tidak pernah melihat indahnya senja.”
“Mianhae aku benar-banar tidak tahu soal itu.”
“Tidak apa-apa.”

Sehun merasa bersalah pada Eun Seul karena tidak mengetahui kekurangan pada gadis itu. Sehun pun berkali-kali meminta maaf kepada Eun Seul. Dan sebagai permintaan maafnya Sehun pun mengajak Eun Seul untuk berteman. Ketika mendengar perkataan Sehun, Eun Seul merasa terkejut karena baru kali ini ada yang memintanya untuk menjadi seorang teman.

“Apa kau tidak ingin menjadi temanku karena kejadian tadi”
“Bukan begitu aku hanya terkejut kau mau menjadi temanku.”
“Lagi-lagi aku membuatmu terkejut, apa aku seperti hantu.”
Eun Seul pun tersenyum mendengar perkataan tetangga barunya itu. Mungkin bisa dikatakan bahwa ini pertama kalinya ada yang mau berteman dengan Eun Seul dan membuatnya tersenyum. Akhirnya mereka pun saling berkenalan satu sama lain.
“Sehun-ah!!!” Panggil seorang bibi dari pekarangan rumah Sehun.
“Iya, sebentar.”
“Eun Seul-ah aku harus pulang, kita lanjutkan nanti ya. Aku pergi dulu”

Semenjak itu Eun Seul merasa bahwa dirinya dapat merasakan hidup kembali dengan adanya kehadiran Sehun. Setelah pertemuan mereka seminggu yang lalu mereka semakin dekat, bahkan mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sehun selalu membuat Eun Seul tertawa lepas tanpa memikirkan kekurangannya lagi karena Sehun selalu memperlakukan Eun Seul seperti gadis normal pada umumnya.

Seperti janji Sehun kemarin ia akan mengajak Eun Seul pergi jalan-jalan. Eun Seul pun sudah bersiap-siap. Dress pink yang dikenakan Eun Seul membuatnya terlihat anggun dan tentunya cantik. Ketika melihat penampilan Eun Seul, Sehun hanya terdiam.

“Kenapa, Sehun-ah kenapa kau diam saja. Apa aku terlihat aneh, aku tadi meminta adikku untuk membantuku.”
“Tidak kau terlihat sangat cantik.”
“Benarkah, syukurlah kalau begitu setidaknya aku tidak akan membuatmu malu.”
“Kalau begitu ayo kita berangkat.”

Mereka pun pergi dengan mengendarai mobil milik Sehun. Tempat yang mereka tuju adalah sungai Han dimana tempat yang paling cocok untuk menghirup udara segar dan melepas penat. Ketika mereka sedang berjalan tiba-tiba Sehun meminta Eun Seul untuk berhenti. Eun Seul pun mengikuti perintah Sehun. Ketika mereka berhenti Sehun pun memberi Eun Seul sebuket bunga mawar, dan mengajaknya berfoto bersama. Tanpa Eun Seul ketahui sebenarnya Sehun sudah lama menyukainya, bisa dibilang Sehun mengalami cinta pada pandangan pertama.

“Sehun-ah apa kau tidak malu pergi denganku?”
“Kenapa aku harus malu, sedangkan yang ku ajak pergi seorang gadis cantik.”
“Sehun-ah apa kau selalu merayu para gadis.”
“Aku tidak serendah itu.”
“Ne, aku hanya bercanda. Tapi Sehun-ah aku penasaran kenapa kau mau berteman denganku disaat semua orang menjauhiku.”
“Karena kau cantik.”
“Sehun aku serius jangan bercanda.”
“Aku juga serius. Kenapa ya, emmm… karena aku menyukaimu.”
Eun Seul hanya memperlihatkan ekspresi betapa terkejutnya dia.

Sudah hampir 1 tahun hubungan Sehun dan Eun Seul berjalan. Mereka menjalani hubungan dengan saling melengkapi. Rencananya hari ini mereka akan merayakan satu tahun sudah hubungan mereka. Mereka akan bertemu di pekarangan rumah Eun Seul, karena mereka menganggap tempat itu tempat yang bersejarah untuk mereka. Sehun pun datang menemui Eun Seul yang sudah siap duduk manis di bangku pekarangan.

“Eun Seul-ah ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Kenapa suaramu serius sekali Sehun-ah, bicaralah!”
“Begini Eun Seul-ah ak…aku.” Suara Sehun terbata-bata seperti tidak ingin mengatakannya. Aku harus mengakhiri hubungan kita Eun Seul-ah”.
“Kenapa?, apa kau malu jika pacarmu buta?, apa ada gadis lain yang lebih cantik?, apa, apa.” Eun Seul berkata sambil menangis karena tidak dapat menerima keputusan Sehun.
Akhirnya Sehun pun memberitahu Eun Seul jika dia telah dijodohkan oleh ibunya. Gadis itu bernama Lee Soo Kyung. Dia merupakan teman masa kecil Sehun.
“Kau jahat Sehun kenapa kau masuk di kehidupanku jika pada akhirnya kau akan meninggalkanku.”
“Sekali lagi maaf Eun Seul-ah aku tidak bermaksud menyakitimu.”
“Tapi kau menyakitiku Sehun.”

Sehun pun pergi meninggalkan Eun Seul yang menangis tersedu-sedu di pekarangan rumahnya. Tapi sebenarnya Sehun masih melihat Eun Seul dari kejauhan. Sehun pun tidak dapat menahan air matanya. Mungkin keputusan Sehun ini sangat menyakitkan untuk Eun Seul tapi akan lebih menyakitkan jika Sehun tetap mempertahankan hubungan mereka.

2 tahun kemudian
“Keadaan Sehun semakin parah, dan dia selalu menyebut nama Lee Eun Seul.”
“Apa sebaiknya aku memberi tahu dia kalau sebenarnya Sehun sakit.”

Dua tahun berlalu Eun Seul kembali hidup seperti dulu. Menjadi gadis yang suka menyendiri, namun yang lebih parah lagi ia selalu mengurung diri di kamar. Kejadian 2 tahun lalu menjadi sebuah pukulan terbesar untuknya karena ia menganggap jika Sehun adalah kehidupannya. Akhirnya Soo Kyung memutuskan untuk menemui Eun Seul dan menceritakan semua kebohongan antaranya dan Sehun selama ini. Dengan langkah ragu Soo Kyung berjalan menuju pintu rumah Eun Seul dan mencoba untuk mengetuk pintu.
“Apa Lee Eun Seul ada di rumah, saya Lee Soo Kyung, teman Eun Seul.”
“Maaf Eun Seul tidak ingin bertemu dengan siapa pun.
Tok… tok… tok suara ketukan pintu kamar Eun Seul. Soo Kyung berusaha agar Eun Seul mau membuka pintu kamarnya. Tapi Eun Seul tetap bersi keras untuk tidak membuka pintu kamarnya dengan alasan ia tidak ingin membicarakan tentang masa lalu pahitnya.
“Eun Seul-ah kita harus bicara, ini tentang Sehun.”
“Aku sudah tidak peduli lagi denganya, kenapa kau mencariku apa kalian masih belum cukup jika hanya membuatku terluka.”
“Aku minta maaf jika dulu membuatmu terluka, tapi saat ini yang Sehun butuhkan hanya kau Eun Seul-ah.”
Soo Kyung tetap berusaha membujuk Eun Seul walaupun ia tahu bahwa usahanya ini akan sia-sia namun Soo Kyung percaya bahwa Eun Seul masih sangat mencintai Oh Sehun karena bisa dikatakan Sehunlah pria pertama yang mau berteman dengan Eun Seul.

“Apa kau ingin membuatku terlihat seperti orang bodoh?”
“Bukan itu maksudku, tapi semua yang terjadi dulu hanya kebohongan.”
Akhirnya karena Soo Kyung tidak dapat menahan dirinya maka ia pun menceritakan semua kejadian yang sesungguhnya kepada Eun Seul. Pada awalnya sangat susah untuk membuat Eun Seul percaya namun pada akhirnya Soo Kyung dapat meyakinkan Eun Seul sehingga ia mau bertemu dengan Sehun yang sedang membutuhkannya sekarang ini.

Di Rumah Sakit
Eun Seul langsung mencari kamar dimana Sehun dirawat. Untuk sekarang yang ada dipikiran Eun Seul hanyalah Sehun. Ketika di perjalanan menuju rumah sakit ia selalu menyalahkan dirinya kenapa dulu ia tidak mengetahui jika Sehun sakit. Yang dia pikirkan hanyalah dirinya sendiri karena dia hanya merasa bahagia jika bersama Sehun.

“Sehun–ah, bagaimana keadaanmu, kau baik-baik saja kan?”
Hening, tidak ada sautan dari pertanyaan Eun Seul. Tapi Eun Seul tetap mengajak Sehun berkomunikasi walaupun Sehun tidak menjawab semua pertanyaannya.
“Sehun aku mohon bangunlah, jangan seperti ini kau membuatku takut.”
Sehun pun merespon semua perkataan Eun Seul dan ia pun terbangun dari tidurnya. Mungkin benar yang Sehun butuhkan sekarang hanyalah Eun Seul. Sehun pun memanggil nama Eun Seul berulang kali.
“Sehun-ah, aku disini.”
“Apa aku sedang bermimpi, jika ia maka aku tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.”
Sehun pun mencoba untuk membuka matanya. Eun Seul menggenggam erat tangan Sehun seakan-akan ia tidak ingin kehilangan Sehun untuk kedua kalinya.
“Eun Seul-ah maafkan aku.”… Detak jantung Sehun tiba-tiba berhenti.
“Yakkk, Sehun-ah kau kenapa?”
Setelah Sehun mengucapkan permintaan maafnya kepada Eun Seul ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan menggenggam tangan Eun Seul yang sangat dicintainya.
“Sehun-ah… Sehun-ah…” Eun Seul tidak berhenti memanggil nama Sehun dan menangis.
“Ini tidak mungkin, Sehun tidak mungkin meninggalkanku lagi untuk kedua kalinya.”
“Tenanglah Eun Seul-ah, mungkin itu memang yang terbaik untuk Sehun.”
“Sehun-ah, kenapa kau lakukan ini padaku.” Eun Seul tidak bisa berhenti menangis.

Setelah sehun pergi meninggalkanku untuk selamanya aku baru menyadari bahwa cinta tidaklah harus memiliki, cukup melihatnya bahagia. Namun sebesar apapun cinta kita jangan pernah membuat seseorang membencimu walaupun sebenarnya kau melakukan semua itu untuk membuatnya bahagia. Jangan memiliki keegoisan dalam menjalin sebuah hubungan, karena itu tidak akan baik nantinya. -Lee Eun Seul

Cerpen Karangan: Devi Jung
Facebook: Devi Jung
Cry For Love

Cry For Love

Judul Cerpen Cry For Love

“Saudara Jeon Jungakook, siapkah anda menjadi suami yang baik untuk Park Sooyoung?”
“Ya, saya siap”
“Saudari Park Sooyoung, siapkah anda menjadi istri yang baik untuk Jeon Jungakook?”
“Ya, saya siap”
“Silahkan sematkan cincin di jari pasangan anda”

Tanganku terulur untuk memasangakan cincin di jari jungakook, begitupun jungakook, ia menyematkan cincin di jari manisku, kemudian ia mencium punggung tanganku

“Dengan begini, kalian berdua telah resmi menjadi suami istri”

Jungakook lansung memelukku, tak terasa airmata ku mengalir, mulai sekarang dia adalah suamiku, dan dia kelak akan menjadi ayah untuk anak-anakku

Kenangan itu kembali menghampiriku, kenangan yang begitu indah, seandainya saja kenangan ini bisa kubagi bersama jungakook, sayangnya dia sudah pergi. Bukan, dia bukan meninggal, namun dia pergi bersama wanita yang lebih ia cintai, kenyataan pahit bukan? Orang yang selama ini kuanggap cinta sejatiku, ternyata mendua di belakangku.

“Mama” Panggil seorang anak perempuan kecil, mendengar suara itu aku segera menghapus airmataku, yap dia adalah anakku, anakku dan jungakook
“Iya sayang, ada apa?” Ucapku sambil mengelus rambut hitam pekat milik Bona, Ia tidak menjawabku melainkan menatapku
“Hei, kok gak jawab pertanyaan mama?”
“Mama abis nangis lagi ya?” Tanya Bona, aku tersentak, namun sesaat kemudian aku tersenyum
“Enggak kok, mama baik baik saja”
“Mama boong, pasti mama nangis karena kangen papa kan? Memang papa kerja apa sih? Kok gak pulang-pulang” Tanya Bona, memang selama ini aku membohonginya, aku mengatakan bahwa ayahnya sedang pergi untuk bekerja. Dengan segera aku memeluknya, aku tak dapat membendung airmataku lagi, aku terisak di pelukannya

“Kok mama nangis? Bona salah ngomong ya? Maafin bona” Ucap Bona dengaan suara bergetar, ia ikut menangis
“Loh kok mama sama kakak nangis? Ucap dua orang anak kecil yang mempunyai wajah yang mirip dengan Bona, -Ara dan Lena-
“Ah mama, gak papa nak” Ucapku sambil menghapus airmataku dan mengelus pipi Bona yang masih terus dibanjiri air mata
“Sudah bona, jangan nangis lagi, bona gak salah kok” Ucapku sambil mengelus rambutnya, ia mengangguk, aku menoleh ke arah jam, sudah pukul 9 rupanya
“Ayo kalian tidur ya, besok sekolah kan?, besok mama akan nganterin kalian” Ucapku dengan senyum lima jari, mata malaikat-malaikat kecilku berbinar-binar, memang sudah lama aku tidak mengantarkan mereka sekolah, karena tugasku sebagai direktur di salah satu agency terbesar di korea sangat padat
“Yeayyy” Ucap mereka serempak, aku tertawa melihat tingakah mereka yang lucu ini, kalau bukan karena mereka, mungkin aku sudah menyerah untuk hidup
“Ya sudah, ayo tidur” Ucapku sambil menggandeng mereka bertiga ke kamar
“Goodnight princess” Aku mencium kening mereka dan mematikan lampu kamar, segera aku bergegas menuju kamarku

YG Entertaiment adalah agency yang menghasilkan begitu banyak artis-artis yang populer sehingga kami menjadi salah satu agency terbesar di Korea, kini aku sedang berjalan di lobby gedung YG, sambil sesekali tersenyum kepada seluruh pegawai yang memberikan sapaan kepadaku. Aku masuk ke ruanganku dan mulai mengecek dokumen-dokumen yang sudah tertumpuk di mejaku

Tok.. Tok.. Tok
“Masuk” Setelah berkata demikian, Chanmi -sekretarisku- masuk kedalam ruanganku dan membungakukan badannya
“Ada apa chan?”
“Direktur dari perusahaan Cube Entertaiment ingin bertemu, dia sudah ada di depan, ibu ingin menemuinya?”
“Tentu saja, suruh dia masuk sekarang chan”
“Baik bu”

Setelah chanmi ke luar, aku kembali mengecek dokumen dokumenku, tak kusadari seorang pria sudah masuk ke dalam ruanganku
“Annyeong Mrs. Park”

Deg
Suara itu, suara hangat yang amat aku rindukan terdengar di telingaku, Ah ini mungakin halusinasiku saja, aku mendongakkan kepalaku, dan ini bukan halusinasi.

Aku masih belum percaya bahwa sekarang aku bertemu dengan Jungakook lagi, Sejak aku dipaksa dia untuk ke Cafe aku memilih untuk tidak membuka mulut. Ia menatapku namun tidak berkata apa-apa. Hening itulah yang dapat menggambarkan suasana kami
“Jadi, apa kabarmu yi?” Akhirnya ia membuka mulutnya, tak kusangaka dia memanggilku Joyi, itu nama kesayangan yang ia berikan kepadaku
“Ya, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” Ucapku sambil tersenyum getir, pandanganku sedikit buram karena genangan airmata di pelupuk mataku
“Kau semakin cantik saja” Ucapan dia membuatku sedikit malu, aku tak yakin jika kini pipiku tidak memerah
“Gomawo”
“Apakah kau masih mencintaiku?”

Deg
Aku terdiam, aku menundukkan kepalaku menatap lantai café ini, mencegah agar airmataku tidak keluar, aku meremas kuat ujung blazerku
“Ah, kau pasti tidak mencintaiku kan yi? Bahkan kau mungakin membenciku”
Tidak, aku masih mencintaimu sangat
“Aniya, aku tidak membencimu, lupakanlah kejadian yang dulu” Ucapku sambil menatap wajah manisnya
“Jeongmal mianhae yi” Ucapnya sambil menggenggam tanganku
“Gwenchana kookie-ya” Ucapku lirih sambil melepaskan genggaman tangannya, ia tersentak, kemudian kami berdua menjadi kikuk, selang beberapa lama ia kembali memulai pembicaraan
“Bisakah kita berteman?” Ucapnya sambil tersenyum, munafik jika aku bilang senyum itu tidak manis, senyum itu begitu manis, dan karena senyum ini aku terpikat kepadanya
“Ah tentu saja” Ucapku sambil tersenyum, kemudian aku melirik jam di tanganku, sudah waktunya aku menjemput anakku
“Ah baiklah kookie, mungakin lain kali kita bisa bertemu lagi, aku harus pergi, sepertinya anakku sudah menunggu di sekolah”
“Eh, bagaiman jika aku mengantarmu? Aku sudah merindukan anakku”

Deg
Hatiku tersentak mendengar pernyataan jungakook, aku senang karena setidaknya dia masih merindukan putri kecilnya
“Eung, oke” Jungakoook tersenyum lalu menggandeng tanganku, Jantungaku sudah berdegub tidak beraturan, namun aku tidak ingin melepaskan genggaman ini, genggaman dari tangan yang begitu aku inginkan

“JUNGYI Elementary School” Di sekolah ini lah anakku disekolahkan, apakah kalian tahu apa arti kata JUNGYI? Itu adalah gabungan dari nama Jungakook Joyi, ya sekolah ini adalah milikku dan jungakook setidaknya sebelum aku dan jungakook berpisah, karena setelah berpisah kami sepakat menjualnya namun hingga kini aku tetap menjadi donaturnya, sepertinya jungakook pun seperti itu

“Mamaaa” Sehabis ke luar dari mobil jungakook, aku langsung disambut dengan teriakan malaikat-malaikatku
“Hello princess” Ucapku sambil memeluk mereka satu persatu, mereka pun membalas pelukanku, namun kini mereka tengah menatap jungakook dengan tatapan “siapa ini?”
“Ahjussi ini siapa mama?” Tanya Lena, aku diam saja, aku bingung ingin menjawab apa, haruskah aku menjawab “ahjussi ini ayah kalian yang selingakuh” Hah, mungakin aku gila jika berkata seperti ini
“Ah, bukannya dia yang ada di foto?” Tanya Bona
“Oh iya, foto yang selalu mama peluk sebelum tidur” Ucap Ara, aku terkejut mendengar penuturan Ara, aku merasakan pipiku memanas, aku melirik sekilas ke arah Jungakook, dia tersenyum tipis
“Hei cheonsa, aku jeon jungakook, appa kalian” Ucap Jungakook, kurasa dia sudah gila, dengan santainya dia berkata seperti itu. Lihat wajah anak-anakku yang terheran-heran mendengar penuturan Jungakook
“Appa kita? Benar ma?” Tanya Ara
“Eung.. ah.. iya” Aku menjawab dengan gemetar, Mata mereka berbinar-binar, dengan segera mereka “menerkam” ayah mereka
“Papaa, bona kangen”
“Ara juga kangen”
“Ih papa ganteng, coba aja papa jadi pacar Lena”
Sial, perkataan Lena membuatku sedikit ehm cemburu, hah dia sudah milik mama tau, eh itu dulu ding. Aku menatap miris ke arah mereka, bukankah dari dulu ini yang aku impikan? Keluargaku berkumpul lagi.
“Yi, kok diam saja?” Aku tersentak, kemudian aku menggelengakan kepalaku, kini aku melihat jungakook sedang menggendong Lena
“Kajja kita pulang” Ucapku, kemudian mereka semua mengangguk, kami pun masuk ke dalam mobil hitam milik jungakook

Kini, aku, jungakook dan anak-anakku sedang berada di halaman rumahku, Aku dan jungakook duduk di pondokan, sedangakan bona, lena dan ara sedang bermain kejar-kejaran
“Yi, Kau mengurus mereka dengan sangat baik”
“Benarkah?”
“Tentu saja, terimakasih sudah mengurus anak-anakku dengan baik”
“Itu sudah tanggung jawabku, ngomong-ngomong dia anakku juga”
“Lebih tepatnya anak kita”
“Hah iya”
“Yi, aku mau anak-anakku mempunyai ayah lagi” Aku tersentak mendengar pernyataan jungakook, apa dia menyuruhku melupakannya dan mencari lelaki baru?
“Kau menyuruhku mencari suami baru?”
“Tidak, aku yang akan menjadi suamimu untuk kedua kalinya”

DEG
Oh astaga, ucapan jungakook tadi hanya mainan atau serius sih? ah tentu saja hanya mainan, lagian kini ia sudah mempunyai Suzy
“Yak, kau lucu sekali kookie” Ucapku sambil tertawa, namun jungakook tidak tertawa, dia malah menatapku lekat
“Hei, aku tidak bercanda” Aku langsung berhenti tertawa, eh dia serius?
“e-em ah, bukankah kau sudah bersama suzy?” Belum sempat ia menjawabnya, tiba-tiba Lena dengan jailnya menyemprotkan air ke arah kami
“YAK, LENA MAMA JADI BASAH KAN” Ucapku dengan nada 3 oktaf, namun kemudian jungakook dengan sialnya menyemprotku kembali, ah aku tak bisa membiarkan mereka aku berlari mengejar mereka, akhirnya kami pun bermain air tak sadar posisi jungakook kini tengah memelukku dari belakang
“Ciee, mama sama papa” Ucap Bona, mungakin kini pipiku sudah seperti tomat busuk, sialnya jungakook malah mengeratkan pelukannya
“Saranghae” Ah kata-kata ini, kata-kata yang sudah lama tidak kudengar, kini aku mendengarnya kembali dari mulut jungakook
“Eh, udah ah, mama mau mandi, kalian juga mandi ya” Ucapku kepada mereka, dengan muka memerah aku berjalan ke kamar mandi, aku masih mendengar mereka masih tertawa

Kurasa jantungaku sebentar lagi copot, karena mereka berdetak dengan begitu cepat, bagaimana tidak, kini jungakook sedang tidur denganku, ehm seranjang, Tadi dia memutuskan untuk tidur di rumahku, sialnya tak ada kamar kosong lagi di rumahku, kamar yang lain sudah dipenuhi oleh para maid, dan akhirnya kami tidur berdua

“Yi, udah tidur?”
“Engg belum”

Klik,
Lampu kamarku dihidupkan oleh jungakook, tak disangaka ia menggenggam tanganku
“Yi, untuk kejadian yang lalu aku minta maaf dengan sangat, aku begitu bodoh telah melukaimu, tak dipungakiri setelah kau memutuskan untuk berpisah, aku masih sangat mencintaimu bahkan sekarang” Mendadak badanku terasa lemas, darahku mengalir begitu cepat, aku mulai meneteskan airmata
“Aku sudah memaafkanmu dari dulu, namun rasa sakit ini masih ada sampai sekarang, tapi sialnya, semua itu tertutup oleh rasa cintaku kepadamu, dan jujur aku sangat mencintaimu dan merindukanmu” Aku terisak, akhirnya aku bisa mengatakann semua, jungakook menarikku ke dalam pelukannya, aku bersandar di dada bidangnya sambil terisak
“Kau masih mencintaiku?”
“Sangat”
“Kau merindukanku?”
“Lebih dari yang kau tahu”
“Maafkan aku”
“Gwenchana”
“Jeongmal Saranghae”
“Nado Jeongmal Saranghae”

Jungakook menempelkan bibirnya di bibirku, jika waktu harus behenti, saat inilah aku ingin waktu berhenti, aku merasakan kehangatan dari bibirnya ini, aku membalasnya dengan perasaan, tak ada rasa nafsu diciuman ini, yang ada hanya cinta dan rindu
“Mari kita tidur” Ucap Jungakook, aku mengangguk, ia menari kepalaku ke dadanya, aku ingin memberontak namun ia dengan sigap memelukku dengan erat
“Biarkan seperti ini yi” Aku mengangguk, akhirnya mataku terpejam.

Seminggu semenjak peretemuanku dengan jungakook, kini kami makin dekat dan aku kembali menaruh harapan di pemuda tampan itu, kini aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman jungakook, dengan membawa makanan kesukaannya strawberry cake. Namun saat sampai disana kenyataan pahit kembali kuterima
“Kookie-ya” Ucapku lirih, tak sadar genggamanku di plastik berisi strawberry cake terjatuh. Jungakook yang tengah bercumbu dengan Suzy –wanita yang dulu membuat jungakook pergi dariku- menoleh kearahku
“Joyi..” Ucapnya, mungakin dia tak menyangaka aku sedang berada di rumahnya dan menyaksikan kebohongan yang dia lakukan entah keberapa kali
“Maaf menganggu” Ucapku sambil tersenyum lirih, lalu segera berjalan ke arah mobil. Sakit. itulah yang kini kurasakan, harapan yang sudah kutaruh kini kembali hancur, seperti beberapa tahun yang lalu.

Setelah beberapa hari semenjak kejadian perih itu, jungakook masih terus meminta maaf kepadaku, namun sama sekali tak kugubris, aku sudah memutuskan untuk melupakannya. Kini aku sedang merefreshingkan otakku dengan meminum coffe latte di café langgananku

TING.
Suara pintu café berbunyi bertanda ada pelanggan yang masuk, aku menoleh sebentar, wajahnya seperti sudah kukenali, ia menatapku juga, lalu tersenyum dan berjalan ke arahku
“Hei joy” Sapanya ramah, aku menatapnya dengan pandangan menyelidik, namun sesaat kemudian aku membalas sapaanya
“Eh hai”
“Kau ingat siapa aku?”
“Tidak”
“Dulu kita lumayan dekat joy” Aku memejamkan mataku mencoba menemukan memoriku tentang dia, aku membelalakan mataku
“KRIS” Teriakku, membuat pengunjung café menatapku dengan tatapan heran, aku tak mempedulikan tatapan mereka, aku hanya memikirkan pria di hadapanku. Dia Kris, sahabatku dari junior high school hingga kuliah, namun setelah lulus dia tiba-tiba hilang.

“Kris, aku butuh penjelasanmu” Ucapku dengan nada datar, dia tersenyum lebar, lalu mulai menjelaskan mengapa ia tiba tiba menhilang, dan akhirnya aku memaafkannya setelah ia memohon kepadaku. Dia masih seperti dulu, konyol. Di café ini, kami saling melepas rindu dan bersenda gurau, entah mengapa aku tiba-tiba menaruh harapan pada pemuda di hadapanku ini. Semoga harapanku tak hancur seperti sebelumnya dan semoga ia mampu menghapus nama Jungakook di hatiku.

Cerpen Karangan: Cintya
Facebook: facebook.com/cintya.bstarzbismaniac