Showing posts with label Cerpen Persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Persahabatan. Show all posts
Cintamu Bukan Untukmu

Cintamu Bukan Untukmu

Judul Cerpen Cintamu Bukan Untukmu

Sudah sangat lama sekali aku mengenal hamid. Dia adalah temanku sejak smp, dari dulu kami berdua memang sudah sangat dekat bahkan dia sudah sepetri saudaraku sendiri dan semanjak acara kelulusan sekolah aku dengan hamid tidak lagi bersama.

Kami meneruskan jalannya masing-masing akan tetapi komunikasi kami tidak pernah terputus, perhatian hamid yang selalu dia berikan ke aku pun tidak pernah putus, dia selalu mengingatkanku tentang hal apa saja setiap saat, dia selalu mensuportku tentang segala hal yang ingin aku capai, tapi sayangnya 1 hal yang dia tidak pernah setuju denganku kalau aku memiliki kekasih “kamu tuh harusnya inget sayang apa yang kamu impikan, apa yang kamu cita-citakan buatlah orangtuamu bangga dengan prestasi-prestasimu” itu yang selalu dia katakan

Hari berlalu begitu cepat, minggu pun telah berganti bulan, bulan telah berganti tahun perasaanku kepada hamid semakin kuat tanpa ku sadari bahwa aku telah mencintainya sejak aku smp, entah apa yang membuatku jatuh cinta pada hamid apa karena perhatian yang selalu ia berikan tapi entah aku pun tak tau banyak tentang cinta.

Di salah satu caffe yang bisa aku dan hamid makan tak sengaja aku ketemu dengan hamdi. Betapa habagianya aku bisa bertemu dengannya “aa” sapaku pada hamid “dede caktik, aa kangen banget sama kamu sayang” ucapnya memeluk tubuhku “aku juga a, kangen banget” aku membalas pelukannya dengan erat dan tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri kami “yank” panggil wanita itu kepada hamid, aku bingung kenapa wanita itu memanggil hamid ‘yank’ “ini siapa a?” tanya ku “ini pacar aa de, dia calon kakak ipar kamu, cantik kan? namanya devi” ucap hamid membuatku terkejut “devi” ucap devi mengulurkan tangannya. “pacar???” ucapku bingung “iya ini pacar aa sayang” jawab hamid “maaf aku harus pergi” ucapku, hatiku hancur seketika mendengar devi adalah pacarnya hamid, orang yang selama ini aku pikir memiliki perasaan yang sama ternyata dia diam-diam meiliki seorang kekasih.

“ade kamu kenapa yank?” tanya devi “aku juga gak tau, emm aku susul dia, kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?” ucap hamdi “iya udah nggak apa-apa” ucap devi. hamid pun mengejarku dengan sepeda motornya.

Tak ada pilihan lain bagiku salain ke danau dimana aku selalu meluapkan segala isi hatiku di danau itu “TUHANNN kau tak adil padaku hiks hiks hiks aku yang pertama kali bertemu dengannya, aku yang mengenalnya begitu dekat harus patah hati karenanya hiks hiks sedangkan dia, yang baru mengenalnya bisa memilikin dia hiks hiks ini nggak adil tuhan nggak adil” teriakku dan menangis sejadi-jadinya perasaanku hancur rasanya sudah tak ada lagi kehidupan di hidupku.

Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang memelukku dari belakag dan ikut menangis “maafin aa udah buat kamu nangis, kanapa nggak pernah bilang ke aa sayang” ucap hamid membalikan tubuhku sehingga aku dangannya berhadapan, aku pun hanya menundukan kepalaku “liat aa sayang, aa memang cinta sama kamu, aa sayang, aa perhatian sama kamu, tapi sebangai seorang kakak kepada adiknya” jelasnya “tapi aku cinta sama aa, aku nggak mau kehilanggan aa” ucapku “karena aa nggak mau kehilangan kamu, kalau aa jadiin kamu pacar kita nggak akan pernah tau sampai di mana hubungan itu, kita putus terus saling menjauh aa gak mau seperti itu. pacar itu pasti ada yang namanya mantan sedangkan adik, nggak ada yang namanya mantan adik” jelas hamid mencoba menjelaskan alasanya, aku pun memeluk tubuhnya dengan erat dan dia membalas pelukanku.

Di situlah aku sadar bahwa memang hubungan seperti inilah yang terbaik untukku dan hamid. Jika pacar ada mantan tapi tidak untuk adik.

Cerpen Karangan: Juniar Amalia
Blog / Facebook: Juniar Amalia putri karisma
Smarthree

Smarthree

Judul Cerpen Smarthree

Assa dan Putri sudah dari kelas tiga akrab, bersahabat. Mereka cerdas, selalu disayangi guru dan teman-teman lainnya. Mereka selalu mengajari satu sama lain. Saat kelas lima, Assa bertemu degan teman yang baru sekelas dengannya, Echa. Mereka kenal satu sama lain, tapi hanya saling menyapa dan tidak terlalu akrab.

Di kelas lima semester dua, Putri dapat peringkat satu (langganan peringkat satu), Assa peringkat dua, dan Echa peringkat tiga. Mereka saling berbagi ilmu. Mereka hampir selalu berkelompok dalam tugas kelas. Mereka sangat kompak.
Ketika mereka butuh bantuan selalu ada yang membantu dengan ikhlas. Mereka disukai semua teman-teman.

Kepribadian mereka berbeda. Mereka bertiga berhijab. Assa sering dipanggil Iblis Bagasura oleh murid lelaki karena galak, tegas, dan selalu bertatapan tajam kepada mereka. Assa juga jago silat, tapi dia hanya mengancam saja serta tidak memukul beneran. Perempuan menyebutnya Si Tomboi. Assa hobi membaca novel tebal, bermain tenis, bulu tangkis, sepak bola, takrau, internetan, membuat novel, merajut, menganyam, dan membuat kerajinan lainnya, memanjat pohon, dan bermain panahan dan skateboard. Assa menjabat sebagai wakil ketua kelas. Dia berpostur jangkung, tapi tingginya sekening Echa, rambutnya mirip lelaki berambut agak gondrong.

Echa yang kerap dijuluki Si Alim adalah orang yang paling gaul dan ceria di persahabatan mereka. Postur tubuhnya jangkung. Dia suka bercanda dan terseyum. Rumahnya cukup jauh dari sekolah. Hobinya internetan dan membuat cerita, serta chattingan.

Putri adalah orang yang kerap dijuluki Si Jenius. Dia paling pendek, tapi hanya sedikit pendek dari Assa. Orangnya lembut jika di luar jam kelas. Jika di dalam jam kelas disiplin, tegas, sering menggebrak meja, dan membuat kelas diam. Ya, Putri adalah ketua kelas.

Sekarang Assa dan Echa menjadi petugas upacara kelompok dua kelas 5A. Putri ada di kelompok satu. Amanat Pak Kepsek lama. Tapi pasti ada pengumuman. Biasanya begitu. Assa untung menjadi pembawa acara tertutupi atap. Echa ada di lapangan, dia pemimpin upacara.

“… Dan pengumuman lomba tingkat kota kemarin alhamdulillah banyak yang mendapat juara. Yang disebut silahkan maju. Dari atletik adalah Zollam dan Nia. Dari Agama Islam Nadica dan Taya. Dari aksara Sunda Kezya dan Ramadhan. Dari olimpiade Matematikan Echa dan Putri. Dan olimpiade Sains Assa.”

Semua yang disebutkan maju dan difoto bersama Pak Kepsek dan piala hasil usaha mereka. Mereka memberikan piala pada sekolah. Kezya maju ke tingkat provinsi karena dia mendapat juara satu. Juara satu maju ke provinsi, dua dan tiga tidak. Seusai upacara, mereka izin meminjam piala dan foto bertiga serta Pak Kepsek dan wali kelas mereka. Sungguh mereka senang sekali dan akan membanggakan orangtua.

“Alhamdulillah dapat jalur prestasi,” gumam mereka. Mereka diucapkan selamat dengan meriah. Khusus kelas lima seraya merayakan acara ulang tahun sekolah. Mereka mengganti seragam putih merah/petugas upacara menjadi seragam Pramuka. Mereka meletuskan petasan kertas dan menari dengan lucu dengan lagu lucu (nada saja tanpa suara). Ada flyng fox yang dipasang di gedung tiga hingga gedung satu jaraknya. Ada mainan bola pingpong yang harus keluar dengan cara menutup pipa bolong dan memasukkan air hingga bola keluar. Lalu, panjat pinang yang ahlinya Assa. Mereka tentu juara. Regu Melati ditambah Gita dan Nia (satu regu lima-enam orang).

Saat pengumuman hasil skor. Semua murid mungkin deg-degan dan berharap menang. Juara satu diraih oleh regu Melati. Mereka senang sekali. Apalagi Assa, Echa, Putri, dan Nia yang menerima dua penghargaan dan hadiah. Persahabatan mereka memang sangat setia dan dipertahankan.

Cerpen Karangan: Axscores Devness Compny
Hurt

Hurt

Judul Cerpen Hurt

Hari itu, hari yang kutunggu-tunggu. Hari yang selalu kuharapkan. Hari yang kupikir akan menjadi kenangan yang indah. Adalah awal kehancuranku.

Hari itu, semua musnah. meninggalkan rasa sakit dan kehampaan. Hari dimana peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang merenggut kebahagianku. Peristiwa yang mengambil mereka, orangtuaku untuk selamanya.

Di bawah guyuran hujan aku menyaksikan sendiri. Betapa tak berdayanya mereka, orangtuaku.

Sejak hari itu semua menjadi berbeda. Hanya ada tatapan iba dan rasa kasihan mereka untukku. Membuatku muak. Membuatku terjerat dalam sepi dan tak ingin beranjak darinya.

Sampai dia hadir menghancurkan pertahananku. Ashad, begitulah mereka memanggilnya. Murid pindahan dengan wajah tampan dan tingkah konyolnya. Mengulurkan tangannya kepadaku dan menawarkan sebuah pertemanan.



Kring kring kring
Bel masuk pun berbunyi. Siswa-siswi menempati kursinya masing-masing. Sunyi. Sampai akhirnya bu Rika, guru matematika kami pun masuk.

“Selamat pagi anak-anak” sapanya dengan ramah.
“Selamat pagi bu” sapa kami serempak.
“Oh ya hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk nak Ashad” kata bu Rika memanggil Ashad.
“Silahkan perkenalkan dirimu terlebih dahulu” lanjut bu Rika.

“Perkenalkan nama saya Ashad, Ashad Firaz Dhyiaulhaq. Pindahan dari SMAN 3 Bandung. Sekian”
“Silahkan duduk di samping Adna. Adna angkat tanganmu” perintah bu Rika.
Aku mengangkat tanganku. Memasang wajah dingin yang menjadi perisai tiga bulan terakhir ini. Aku hanya tak ingin dia mengganggu ketenanganku. Tapi..

“Hai, gue Ashad. Salam kenal” Ashad mengulurkan tangannya dihadapanku.
“Adna Abira Ganiyah” ucapku dingin tanpa membalas uluran tangannya.
“Ohh oke” dia menarik uluran tangannya kembali.
Perkenalan ini menjadi awal kedekatan kami. Bukan, bukan kami tapi dia yang selalu menempel padaku. Risih? Pasti, aku sudah terbiasa sendiri.

“Na.. Na.. Pelan dikit kek jalannya” protesnya.
“Gue gak minta lo buat ikut sama gue” ucapku dingin.
“Iya iya tapi bisa kan pelan dikit jalannya” ucapnya memelas.
Membuatku tak bisa menahan senyum. Tanpa tersadar aku memendekan langkahku.
“Nah gitu kek dari tadi” ucapnya dengan senyuman khasnya.
Awalnya aku merasa risih karena dia terus mengikutiku. Tapi akhirnya aku terbiasa dengannya. Tanpanya aku merasa sepi.

Rintik hujan mulai turun membasahi jalan. Hari ini kami akan menghabiskan waktu bersama. Senang rasanya bisa berkumpul dengan mereka karena jarang sekali orangtuaku memiliki waktu luang seperti ini.

Suasana di mobil saat itu sangat menyenangkan. Kami bernyanyi dan bersenda gurau bersama. Sampai..
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku melihat wajah papa yang memucat. Mama yang berteriak, meminta papa untuk berhati-hati. Seketika suasana menjadi tegang. Sampai di detik berikutnya mobil yang dikendarai papa sudah menabrak pohon di depan kami.

Aku merasakan sakit yang luar biasa. Tak tertahankan. Sayup-sayup aku mendengar seseorang berteriak, meminta bantuan karena ada sebuah kecelakaan.

“Kecelakan? Benarkah?” tanyaku dalam hati. Aku membuka mataku, untuk pertama kali nafasku tersedat. Tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mereka, orangtuaku, ada darah menyelimuti tubuh mereka. Tak bergerak.

Keringat dingin membasahi dahiku. Mimpi buruk itu lagi. Sampai kapan aku harus terperangkap seperti ini. Menyakitkan.

Hari ini aku memilih untuk beristirahat di rumah. Menenangkan diri.
Aku memilih pergi ke taman dekat rumah. Di siang hari yang terik ini banyak sekali anak-anak yang sedang bermain. Melihat senyum mereka membuatku ikut tersenyum.

Entah karena apa airmataku menetes. Disaat itu juga aku melihat sebuah saputangan di hadapanku.

“Hapus airmata lo. Gue gak suka liat lo nangis” ucapnya tanpa menatapku. Aku mengambil saputangan pemberiannya.
“Kenapa lo ada di sini?” tanyaku heran.
“karena lo ada di sini” jawabnya.
Hening, tak ada satu pun dari kami yang berbicara setelahnya.

“Kalo lo ada masalah cerita sama gue. Gue di sini ada buat lo” ucapnya meyakinkanku.

Aku ingin mempercayainya. Membuka diri dan menceritakan masalahku padanya. Tapi mampukah aku melawan rasa takutku? Mampukah aku untuk berdiri tegak bila merasakannya kembali? Mampukah?

Dua Tahun Kemudian
Aku memutuskan untuk berhenti, berhenti merasakan sakit. Mencoba membuka diriku dan berdamai dengan masa lalu.
Aku ingin menceritakan segalanya pada Ashad hari ini. Seseorang yang tetap berada di sisiku meski aku memintanya pergi. Seseorang yang tak pernah menyerah.

“Woy..” teriaknya ditelingaku.
“Apaan sih lo?” tanyaku ketus.
“Salah lo sendiri ngelamun. Ngelamunin jorok ya lo?” tanyanya menggodaku.
“Ish itu mah lo bukan gue” ucapku ketus.
“Jadi apa yang mau lo omongin ke gue?” tanyanya.

“Emm.. Dulu lo pernah bilang gue bisa cerita apapun masalah gue ke lo. Itu masih berlaku?”
“Emm..”
“Nyokap, bokap gue udah gak ada” ucapku.
“Gak ada? Maksud lo?” tanyanya meminta penjelasan.
“Kecelakaan mobil” aku tidak menjawab pertanyaannya tapi melanjutkan ucapan ku.
“Maksud lo? Gue gak ngerti” tanyanya lagi.
“Nyokap bokap gue udah gak ada. kurang lebih 2 tahun yang lalu. Kecelakaan mobil. Kita bertiga. Cuma gue yang selamat. Sampe sekarang rasa sakitnya masih kerasa. karena itu..” Aku tak sanggup melanjutkannya. Terlalu menyakitkan.
“Karena itu lo nutup diri? Takut kehilangan? Lagi?” tanyanya memastikan. Melihat airmataku menetes dia merengkuhku dalam peluknya. Membisikan kata-kata penenang.
“Gak perlu ngomong apapun lagi. Gue ngerti” ucapnya.
“Gue gak bisa janjiin apapun sama lo tapi gue pastiin selama lo butuhin gue, selama itu juga gue bakal ada di samping lo” lanjutnya.

Sangat melegakan. Seharusnya aku melakukan ini dari dulu. Bukannya menutup diri dan terbelenggu dalam rasa sakit. Penyesalan memang selalu ada di akhir bukan?

End

Cerpen Karangan: Mipta Hulzanah
Facebook: nur.hulzanah[-at-]facebook.com
Goodbye My Friend

Goodbye My Friend

Judul Cerpen Goodbye My Friend

“Duh besok adalah ulang tahunnya Reina lagi aku sampe lupa, hem.. mau ngado apa yah?, aha ngado buku diary aja dia kan suka nulis” ucapku panjang lebar, oh iya aku belum perkenalkan diri namaku shelly salsabella putri biasa dipanggil Bella dan aku punya sahabat yang namanya Reina isabella putri biasa dipanggil Reina. Besok adalah ulang tahunnya Reina aku lupa untuk beli kado lagipula ini udah jam 9 malam pastinya sudah tutup lah tokonya besok aja deh kan besok hari minggu terus ulang tahunnya sore, kan masih sempet beli kado.

“Bella kamu belum tidur?” teriak mamaku.
“Iya mah aku mau tidur” sahutku.

Keesokan harinya aku berangkat ke toko untuk beli kado, sesudah beli kado aku pulang untuk taruh kadonya di rumah dan berangkat lagi ke rumahnya Reina untuk bantu dekorasi’in ruangan rumah Reina, lagipula komplek rumahku sama komplek rumahnya Reina gak jauh jadi aku naik sepeda aja.

Sesampainya di rumah Reina aku langsung aja bantuin Reina untuk dekorasi’in dan akhirnya selesai.
“Loh udah jam segini lagi aku belum mandi” kataku dalam hati.
“Eh Reina aku pulang dulu ya soalnya aku belum mandi” kataku ke Reina.
“Oh ya udah kalau gitu” kata Reina.
Aku pun pamit pulang sama Reina dan mama papanya.

Setelah sampai di rumah aku langsung mandi dan ganti baju lalu berangkat ke ulang tahunnya Reina, setelah sampai di ulang tahunnya Reina aku langsung ngasih kadonya ke Reina dan ucapin selamat ulang tahun Reina. Ulang tahunnya pun selesai aku bantuin Reina beres beres rumahnya.

“Loh Bella kamu belum pulang?” tanya Reina.
“Belum Rei” jawabku.
“Nanti dicariin mamamu gimana?” tanya Reina lagi.
“Udah tenang aja aku udah bilang kok ke mamaku aku bakalan pulang terlambat” jawabku panjang lebar.
Setelah bantuin Reina beres beres aku langsung pulang.

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan semangat, ketika aku markir sepeda di tempat parkir sekolah aku lihat ada Reina, aku lihat mukanya pucat, lalu aku samperin dia dan mulai nanya. “Hai Reina kamu sakit ya?” tanyaku.
“Ah enggak kok cuman kecapekan aja mungkin kurang istirahat” jawab Reina yang lesu.
“Sudahlah Reina kamu jujur aja aku kan sahabatmu” paksaku ke Reina.
“Enggak kok, ya udah ayo masuk ke kelas nanti telat lagi” ajak Reina.
Aku dan Reina pun masuk ke kelas.

Bel istirahat berbunyi. Lalu aku ngajak Reina ke kantin.
“Reina ke kantin yuk” ajakku.
“Kamu duluan aja Bella, nanti aku nyusul” jawab Reina lemas.
“Yakin nih aku duluan nanti nyesel loh” candaku ke Reina.
“Hahaha iya udah sana duluan aja” balas Reina.
“Ya udah aku duluan ya, dah…” ucapku.

Setelah itu aku langsung ke kantin dan ninggalin Reina sendirian di kelas. Setelah ke kantin aku langsung ke kelas untuk ngecek Reina, tiba tiba ada keramaian di tangga, perasaanku langsung gak enak dan aku langsung nyamperin keramaian itu dan ternyata yang aku lihat adalah Reina!!!. Aku langsung teriak histeris dan langsung bawa Reina ke rumah sakit.

Setelah Reina koma Reina pun terbangun dari komanya. Reina langsung memanggilku.
“Bella sini, aku mau bilang sesuatu ke kamu” kata Reina.
“Bilang apa Rei? bilang aja” balasku.
“Bella terimakasih karena kamu udah nemenin aku selama ini, kamu pasti bertanya tanya kan kenapa aku bisa kayak gini, aku kayak gini karna aku punya penyakit tumor otak” kata Reina panjang lebar sambil menangis.
“Apa!!!, kamu punya penyakit tumor otak, tapi kenapa kamu rahasiain ini dari aku?” jawabku sambil mengisak tangis.
“Aku takut kamu bakal jauhin aku” jawab Reina.
“Gak Rei aku gak akan jauhin kamu untuk selamanya” kataku sambil menangis.
“Tapi Bella umurku udah gak lama lagi” kata Reina.
“Enggak Rei kamu gak boleh bilang gitu” kataku sambil menangis.
Reina pun perlahan menutup matanya, dan dia pun pergi untuk selamanya.

Setelah pemakaman Reina aku langsung bilang.
“GOODBYE MY FRIEND”

Cerpen Karangan: Nasywah Azzuhrah Islamiyah
Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Judul Cerpen Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Sore itu kulihat seorang perempuan duduk di bangku taman sekolah, Namanya Rina dia adalah salah satu sahabatku yang bisa dibilang paling cantik dan banyak laki-laki yang suka padanya. Aku dan rina bersahabat sejak kami masuk sekolah menengah kejuruan, di sekolah, kami mempunyai geng yang kami beri nama D’Jonga (Jomblo Ngaga) nama itu kami pilih karena terinspirasi dari film putih abu-abu dimana salah satu pemerannya bernama Feby (Blink) Cuman bedannya dia mempunyai Geng yang di beri nama D’Joba (Jomblo bahagia).

Nama Geng kami bisa di bilang lucu dan unik tapi Geng kami juga termasuk Geng yang terkenal di sekolah bukan karena penampilannya yang cantik, atau apalah itu namanya. Kalau di bilang gaya, kami gak ada apa-apanya dari teman-teman yang lain tapi kalau dilihat dari bidang akademik bisa dibilang lumayan.

Geng kami terdiri dari empat orang yang pertama bernama Samsi, samsi itu orangnya pintar dan bisa dibilang dia menguasai banyak mata pelajaran karena rata-rata nilai yang dia dapatkan lebih tinggi dari yang lainnya.

Yang kedua Sariati, dia biasa di panggil tati orangnya cantik, baik, dan yang paling lucu di antara kami berempat, dia juga yang paling banyak makan, tapi yang saya heran sebanyak apapun dia makan berat badannya gak pernah naik, itulah hebatnya dia.

Nah yang ketiga ini, bernama rina yang saya ceritakan diawal cerita ini, Rina ini dia orangnya baik juga sih, cantik ya pasti, cuman sekian lama saya bersahabat sama dia sampai sekarang masih banyak sisi lain dari dirinya yang saya tidak ketahui, bisa dibilang dia misterius dan susah ditebak, mungkin kalau membahasa tentang sahabatku yang satu ini gak ada habisnya karena, aku paling banyak menghabiskan waktu bersamanya, bahkan kami juga pernah menyukai laki-laki yang sama, laki-laki itu bernama “Arif” dia salah satu senior kami di sekolah, orangnya baik, ganteng, pokoknya hari rina menghampiriku yang sedang duduk di teras depan ruang guru dan duduk di sebalahku lalu dia memulai pembicaraan yang membahas tentang “Arif” .

“Jul tadi malam arif sms aku loh”. Dengan heran aku hanya bisa menjawab “terus”, “iya dia sms aku sebenarnya sih sudah beberapa hari ini kami sering kontek-kontekan, dan yang gak nyangkanya lagi dia nembak aku”. “Lalu kamu terima dia?” jawabku lagi. “Iya lah aku terima coba deh bayangkan cewek mana sih yang gak suka dan kagum sama dia”.

Perasaan yang kurasakan saat itu sedih, nyesek, pengen mewek (nangis). Gak nyangka aja, sahabat sendiri tega nusuk dari belakang ee ralat deh bukan nusuk aku kan belum jadi pacarnya dia, tapi tega rebut gebetan sahabatnya sendiri. Namun aku selalu berpikir dewasa dalam menghadapi suatu masalah, selalu sabar menerima jika sesuatu yang kuinginkan tak ditakdirkan untuk kumiliki, dan jangan karena hanya seorang laki-laki yang baru kita kenal bisa ngerusak/ngehancurin hubungan persahabat yang jauh lebih lama kita bangun. aku sendiri berpendapat bahwa persahabat jauh lebih penting ketimbang hubungan pacaran, karena pacar bisa saja pergi dan memberikan suatu luka yang mendalam di hati namun seorang sahabat akan selalu mendampingi dikala susah maupun senang dan gak akan pernah ninggalin kita.

“Hari hari yang kujalani terasa berat semenjak mendengar pengakuan rina saat itu, namun aku tidak mau terlalu larut dalam kegalauan yang berkepanjangan, mencoba bangkit dan mencari kesibukan lain agar tak lagi mengingat hal yang menyakitkan itu. Dan benar saja tak butuh waktu lama untuk bisa bangkit dan melupakan hal yang memilukan dalam kisah percintaanku.

Cerpen Karangan: Reski Julianti
Blog / Facebook: Reski Julianti
Salah Faham

Salah Faham

Judul Cerpen Salah Faham

Apa yang harus Aku lakukan ketika Sahabatku membenciku hanya karena hal sepele? Haruskah penjelasan itu Ia abaikan? Setidak pentingkah suatu penjelasan itu? Hingga akhirnya suatu kesalah pahaman pun muncul di antara kami.

“Main yuk?”
Satu pesan masuk melalui ponselku. Aku terkejut. Sangat terkejut. Dia Nita. Sahabbatku. Aku benar benar tak percaya. Pasalnya setelah kita pisah sekolah, karena kita hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia jarang mengabariku. Atau mungkin kita bisa sebut lost kontak. Akhirnya aku menjawab dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Yukk”. Sehrian itu kuhabis kan sisa pulsaku hanya untuk membalas pesan darinya sampai kita menyepakati waktu dan tempat yang telah kita setujui untuk pergi main.

Singkat cerita. Akhirnya sampai hari dimana kita bertemu untuk yang pertama kalinya kembali. Aku segera menunjukan senyum bahagia. Begitupun dengannya. Ia langsung menghampiriku, memeluku yang masih berada di motor. “gimana, sehat?” tanyaku padanya. Ia tersenyum seolah masih tak menyangka kita bertemu. Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya menganggukan kepalanya sebagai simbol bahwa ia menjawab Ya.

Di perjalanan kita saling bertukar cerita. Tertawa kembali. Aku pun masih tak percaya bahwa kita sekarang sedang bersama. Sampai titik pembicaraan kita
“Amel?” tanyanya padaku.
Aku yang sedang berkonsentrasi membawa motor terpaksa harus mengalihkan wajahku ke spion motor agar dapat melihat wajahnya.
“Ya, ada apa?”
“Atikah sekarang lagi deket sama Adnan, emang bener?” tanyanya serius mengenai Atikah, temen sekelas kita sewaktu SMP, dan Adnan, mantan pacarnya.
“kurang tau Nit. Emang kamu tau dari siapa?” aku balik bertanya.
“Aku lihat sendiri di pesan Adnan” jawabnya

Atikah. Dia walaupun bukan sahabatku, tapi dia sangat baik. Ketika Aku dan Nita sedang ada masalah, Aku mencurahkan sedikit keluhku padanya. Dan Ia sangat menyambutku kapan pun. Bagaimana pun Atikah, dia tetap temanku. Teman yang selalu menolongku. Aku dilema sekarang. Bagaimana ini? Tanyaku dalam hati. Aku akan beritahu Atikah agar tidak dekat dengan Adnan. Tapi sama saja aku melarangnya untuk dekat dengan siapapun. Begitu juga dengan Nita. Jika aku tak memberitahu Atikah, pasti dia akan sakit hati. Tapi Nita dan Adnan sudah tak ada hubungan lagi.

Setelah sampai di rumah, aku segera memberitahu Atikah. Bukan karena Adnan, tapi memberitahukannya agar tidak dekat dengan Fino. Karena jujur Aku menyukai Fino. Akhirnya Atikah menyurah kan semuanya lewat facebook dan Nita membacanya. Satu kata yang di postingnya ‘Maaf’. Lalu Aku mengomentarinya “Iya Atikah tak apa, semua bukan salahmu”. Tak kusangka, postingan Atikah dan komentarku membuat Nita marah. Lalu Nita juga memposting kata kata untuk menyindirku selama menjadi sahabatnya.

Tak selamanya sahabat yang dibangga banggakan menjadi yang terbaik. Selamat telah berhasih membuatku terluka dan telah berhasih membuat retakan di antara kita.

Aku yang membaca postingan tersebut langsung menangis sejadi jadinya. Ia salah paham. Apa yang harus kulakukan? Menyerah? Membiarkan persabatan ini rusak? Ini semua salahku. Seharusnya Aku tak memberitahu Atikah secepat itu. Nita mengira Aku memberitahu Atikah mengenai Adnan. Tapi itu salah.

Segera Aku menghubungi Atikah. Betapa baiknya dia. Dia mau menjelaskan semuanya pada Nita. Langsung Aku berterimakasih padanya. Aku yang melarangnya agar tidak dekat dengan Fin, sekarang mau membantuku untuk merapikan masalah Aku dan sahabatku.

Waktu berlalu begitu cepat. Selama 2 bulan ini, Aku dan Nita kembali hilang komunikasi. “kringgg”. Tiba tiba suara teleponku terdengar nyaring di kamar. Aku segera mengangkatnya.
“Hallo?” Aku berusaha mengetahui siapa yang menelponku. Karena di sana tak ada nama yang tercantum.
“Mel?” dia mulai berbicara. Aku kenal suara ini. Seperti suara… Nita.
“Nita?”
“Mel, maafkan Aku. Aku salah faham. Aku menjauhimu, Aku menyindirmu lewat medsos, Aku mengganti nomor teleponku. Aku mainta maaf Mel..”
“Nit, selama ini Aku merasa tak ada yang salah darimu”
“Tidak mel. Kau tak paham. Aku mengira kau memberitahu Atikah tentang Adnan, tapi aku salah..”
“dan mulai sekarang coba untuk saling megerti”

Akhirnya, kami tak hilang komunikasi lagi. Hubungan Nita dan Atikah pun sekarang sudah seperti teman. Sama halnya seperti Aku dan Atikah. Namun Aku dan Nita, kami masih bersahabat.

Cerpen Karangan: Amelia
Blog / Facebook: Amel Lia
Maafkan Aku (Part 3)

Maafkan Aku (Part 3)

Judul Cerpen Maafkan Aku (Part 3)

Terbangun entah setelah sekian lama, lalu kemudian tersadar dan ku melihat samar di hadapanku seseorang seperti berbicara dengan seseorang lainnya dengan jarak yang berjauhan, dengan sakit yang terasa di kepala aku pun mencoba untuk bergerak mencoba memahami apa yang telah terjadi kemudian dengan perlahan pandangan menjadi semakin jelas seseorang di hadapanku adalah sahabatku sekaligus pujaan hatiku, melihat diriku sadar kemudian dia berlari meninggalkan diriku, entah apa yang terjadi lalu tidak lama kemudian dia bersama sahabatku yang lain datang dengan wajah yang terlihat senang dan sedikit bahagia selebihnya raut wajah tak percaya. Mereka tersenyum sungguh seyuman yang berasal dari hati. “aku di mana” kuungkapkan pertanyaan standar seperti kata-kata di sinetron sekali tayang selesai. “Ranu di Rumah Sakit, Ibu mu dalam perjalanan ke sini” penjelasan Mirza yang disambut senyum oleh yang lain, lalu kupegang kepalaku terdapat balutan perban melingkar rapi, kemudian aku bertanya.
“Rumah sakit”
“Rumah sakit apa, kenapa”
“Kalian siapa”

Hening terasa, sontak mereka kaget bukan kepalang, hilang senyum mereka berganti dengan sedih, rasa tidak percaya telah menyelimuti sanubari sahabat-sahabatku, melihat itu semua giliranku yang tersenyum.
“hehehe… mana mungkin aku lupa dengan kalian, bahkan jika Yang Kuasa berkehendak lain maka aku akan mengingat kalian dari surga”.

Terlihat Indah dan Ira terduduk lemas sedangkan Mirza terdiam tak percaya dengan kelakuanku disaat-saat yang mungkin menurutnya tidak tepat. Sahabatku mengatakan jika aku mengalami kecelakaan di dekat sekolah kemudian dirawat di rumah sakit sampai akhirnya sadar. Mirza berkata “Ran, menurut dokter kemungkinan Ranu ndak sadar itu seminggu tapi alhamdulilah dihari ketiga sudah bangun”, dia juga menjelaskan jika aku harus istirahat untuk penyembuhan retak tulang dikaki, memar-memar dalam dan juga sedikit gumpalan darah didalam kepala. Ibuku datang dengan tangis menghiasi, suasana menjadi haru tetapi bahagia terasa tanpa kepalsuan. “tadi ibu dikasih tau sama Ana kalo Ranu sudah sadar, jadi Ibu langsung ke sini”. Kata-kata ibu membuat diriku bingung, siapa itu Ana lalu kulihat Indah tapi yang ada Indah malah menundukan kepalanya, kualihkan pandanganku ke Ira tapi yang kudapat hanya seyumannya, terakhir aku menatap Mirza berharap ada jawaban tapi Mirza hanya berkata “nanti kujelaskan”.

Hari ujian. Semilir angin pagi berhembus disela-sela kain pembatas warna biru, hari-hari telah berlalu dan akhirnya aku diizikan pulang. Ibuku yang selalu mendampingi diriku menjelaskan selama aku ndak sadar banyak teman-teman yang datang tidak terkecuali Ibu Elisabet, ibu juga becerita jika aku beruntung memiliki teman, sahabat yang sangat peduli dan perhatian. Surya tenggelam terasa berbeda, seakan Yang Kuasa memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua gurauan hidup yang telah kuciptakan sendiri. Dimalam yang sunyi membuat heningnya malam merasuk dalam khayalku, berpikir jauh bahwa hari-hari yang hilang kerana kecelakaan mengingatkan diriku jika kebersamaan dengan sahabatku sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu, haruskah kuungkapkan semua persaanku tanpa merusak persahabatan, merusak semua kenangan yang telah terjalin atau aku harus tetap mengambil resiko tersebut untuk sebuah kepastian. Embun pagi menyapa lembut hingga terasa di ruang kecil yang kutempati, setelah mengadu Yang kuasa kupersiapkan semua perlengkapan sekolah, hari ini adalah hari pertama aku masuk setelah lama tak berdaya. Pamit dengan ibu lalu berjalan santai dengan tongkat penyangga di kaki kiri menuju ke luar gang, tak kusangka sebuah mobil menungguku, mobil yang pasti kuingat, itu mobil sahabatku bukan mobil yang menghajarku kemarin.

“Hai Ran” lambaian tangan Indah terasa seperti namanya.. “Hai Ndah, jemput aku ya” Indah pun membukakan pintu mobil, ku lihat Ira duduk manis di kursi depan. Debaran hati ini seperti pertama kali bertemu. Dalam perjalanan kami pun berbincang-bincang ditemani alunan lagu Chrisye pada album Best Cinta, “Ra, Ndah mudahan kalian tetap seperti dulu walau aku sempat membuat kalian risau” perkataanku disimak serius oleh kedua sahabatku, kalau pak Rus sih ndak, bapak paruh baya tersebut tetap fokus melihat ke depan. “Sudah Ran, Ndak usah dibahas yang lalu biarlah berlalu” “Waktu Ranu masih di rumah sakit, waktu Ranu belum sadar kami sedih, Mirza menceritakan semua hal yang kalian bicarakan, semua hal yang membuat Ranu berubah, Mirza meminta kami untuk memaafkan Ranu”. Hatiku tersenyum mendengar perkataan Indah, katanya yang lalu biarlah berlalu tapi dia sendiri yang bahas, tetapi sykurlah semua baik-baik saja.

Sambil melihat ke arahku Ira berkata “Iya Ran, aku dan Indah tahu kalau Ranu baik, tidak mungkin Ranu berubah tanpa alasan yang jelas, yang penting apa yang Mirza katakan ke Ranu juga kata-kata yang akan kami katakan jika kami ikut mancing kemarin”, tak terasa sudah sampai di sekolah.

Suasana sekolah terasa indah seperti lama sudah tak kurasa, di kelas teman-teman menghampiriku dan menanyakan segala hal yang menyakut kejadian yang telah kulalui, terasa hangat semua sambutan yang mereka sajikan, aku tersenyum dan tersirat rasa senang di wajah ini. Kemudian Dini dengan senyumnya, untung tidak memukulku seperti biasanya. ”Ranu sudah baikan, bagimana masih sering pusing ya” “Masih Din, kadang-kadang muncul jika sudah kambuh pusing sekali” sahut ku “Banyak istirahat ya, kalau ndak awas” dengan kepalan tangan di wajah. Hatiku berkata apakah dia yang dipangil Ibu ku sebagai Ana, tidak mungkin cewek galak seperti dia bisa menaruh perhatian kepadaku, aku pun langsung mengelengkan kepala.

Hari-hari kami lewati dengan belajar, jalan-jalan, mengerjakan tugas kelompok, ikut try out ujian nasional dan selama itu juga diriku memendam rasa yang tidak sempat kuungkapkan atau sebenarnya tidak berani adalah kata yang paling tepat. Akhirnya.. Ujian nasional menghampiri kami, kami berjuang, kami bekerja keras berusaha melakukan yang terbaik, doa dan usaha selalu kami sematkan, tiada arti tanpa Yang Kuasa berkehendak, doa orangtua menyertai kami, bersama sahabat ku lewati ujian nasional dengan harapan tinggi menjadi kebanggaan Ibu, kebanggaan orangtua walau terasa tidak adil semua usaha, semua biaya, semua jerih payah selama tiga tahun harus ditentukan dalam tiga hari ujian. Apalah daya kembali usaha dan doa adalah jalan terbaik. Hari terakhir ujian nasional terlewati, ku melihat Mirza dan Ira sudah menunggu di depan kelas lalu ku hampiri mereka kemudian berkata “tinggal Indah yang belum ya” tidak lama kemudian Indah datang dengan senyum diwajah, lepas semua beban dipundak ini tinggal menunggu hasil pengumuman.

Hari pengakuan
Bahagia dan gelisah menjadi satu ketika kami memasuki zona menunggu, iya menunggu kepastian dengan selembar kertas yang bertuliskan kata-kata ajaib. Berkumpul di rumah Ira dan Indah, bercanda melepas kegelisahan yang melanda aku pun mengatakan, “ada lima hal yang bisa kita lakukan, pertama bersantai kedua ikut bimbingan belajar ketiga belajar sendiri keempat mencari kesibukan dan yang terakhir liburan”,
“liburan ke pantai Manggar aja di Balikpapan” Mirza memberi saran. Aku pun tersenyum ternyata modus ku berhasil, alhamdulilah. Setelah meminta izin orangtua kami pun berangkat dengan pak Rus mengentar kami, kami berangkat pagi sekali agar bisa kembali ke Samarindanya tidak kemalaman. Sepanjang jalan kami senda gurau, bercanda dan bercerita tentang semua hal yang telah kami lalui sampai akhirnya kami di tujuan.

Berjalan di pinggir pantai dengan air yang membasuh kaki, ku ercepat langkahku untuk mendekati Mirza lalu berkata “Za, ini saatnya aku ungkapkan persaanku kepada Ira”. Mirza terlihat terdiam melihatku, “hahaha, ndak usah kaget gitu Za” sahutku tanpa memberikan kesempatan padanya untuk mengungkapkan kata-kata. Melihatku semangat Mirza tersenyum kecil penuh arti. Menghabiskan waktu melihat keindahan ciptaan Yang Kuasa dengan bermain air laut bersama, kembali senda gurau dan canda tawa menandakan kegembiraan di wajah kami.

Sore menjelang semilir angin laut memberi semangat pada ku seperti membisikan kata untuk mengukapkan semua isi hati untuk mendapatkan kejeselasan hidup agar diri ini tidak menyesal tanpa arti dikemudiah hari. Kesempatan itu muncul ketika ku terlihat Ira duduk sendiri di sebuah bangsal, dengan langkah pasti aku pun menghampirinya dengan debaran jantung tak menentu semakin mendekat semakin tak karuan hati ini, teringat ketika pertama dulu mengenalnya.

“Hai Ra”
“Oh Ranu, Indah mana” memandangku dengan terseyum.
“Ra, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu” seyumannya terhenti diganti dengan keseriusan untuk mengetahui apa yang akan kubicarakan kepadanya.
Menarik napas.. kali ini dia tidak tersenyum..

“Ra, sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh hati walau ku tak tau siapa dirimu sebelumnya”
“Tapi ku tak dapat membohongi dan menghindari kegolak cinta ini”
“Maka izinkanlah aku mencintaimu” “atau bolehkan aku untuk sayang padamu”
“Memang serba salah rasanya ketusuk panah cinta”
“Apalagi kita telah lama menjadi sahabat tetapi ku harus ungkapan karena aku tak sanggub membohongi diri ini jika aku mencintaimu”
“aku sayang Ira”
Menatap matanya “Ra, Maukah dirimu menjadi kekasihku”

Mendengar semua ungkapan hatiku, kemudia Ira.. terdiam dirinya seakan berat beban yang terasa.. Memandangku penuh makna akhirnya Ira berkata, “Ran, kuingin kau tahu dirimu adalah sesorang yang penting bagi orang lain dan aku mengenal sesorang itu, janji sudah terucap walau dia juga tidak mengaharuskan diriku membuat janji itu tapi aku tahu kalau Ranu hal yang tak terganti bagi dirinya” “maksud Ira apa” sahutku karena perkataan Ira membingunkanku, “Ran, seseorang juga sudah menjagaku, seseorang itu telah mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, suka duka dan seseorang tersebut bukanlah dirimu” Ibarat resah titik hujan yang tak henti sungguh tak pernah kusangka kisah kasihku jadi sepeti ini. “Ra, aku mengerti sungguh aku akan mencoba untuk mengerti” “Ra, siapa seseorang berbahagia itu” jawabku dengan hati yang terluka. Suasana hening terasa sampai sesorang datang mendekati kami.
“Aku Ran, Akulah seseorang itu” “Iya, ini aku sahabatmu”
“Aku Mirza sahabatmu, akulah orang yang kau pertanyakan itu” Sungguh aku tak menduga sahabatku sendiri tega melakukan semua ini.
“Za, kamu, sejak kapan”
“Kenapa Za, bukankah kamu tahu bagaimana perasaanku terhadap dia, dari pertama kali ketemu Za” sambil menujuk ke arah Ira.
Mirza berusaha menjelaskan, tapi kutepis rangkulannya.
“Sudahlah Za” perkataanku mewakili kekecewaanku.
“Ran, jangan seperti anak kecil” hardik Mirza.
“Ran maafkan aku jika ini semua melukaimu, seharusnya kami memberitahukan ini semua dari awal”
“Aku sendiri tidak tahu kapan mulai rasa ini muncul, jangan pernah kau berpikir kami dengan mudah menyatakan saling memiliki rasa, dirimulah yang menyatukan kami, kami sama-sama peduli dengan dirimu”
“Ran bukan hanya aku yang tahu perasaan dirimu, tapi Ira juga sudah dapat merasakan itu kerena Ranu bukan type orang yang dapat berbohong dan menyembunyikan perasaan hati, tapi Ran kasih sayang itu Yang Kuasa yang menentukan”, Mirza berbicara dengan Ira tidak lama kemudian Ira meninggalkan kami. “Ran, aku minta Ira untuk menunggu kita di mobil, berbicaralah aku akan mendengarkan dan menjawab semua pertanyaanmu” Aku terdiam entah untuk berapa lama. Kemudian..
Kami berbicara panjang kali lebar kali tinggi, Mirza menjelaskan semua hal yang menjadi pertanyaanku, mungkin kedewasaan itulah yang membuat Ira menuruh rasa kepada Mirza, kusadari Yang Kuasa menentukan kehendaknya.

Mirza menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca lalu aku mendekatinya, “Za itu kaca mata yang kita beli di night market ya” sambil aku menunjuk ke arah mata Mirza.
Kaget Mirza lalu berkata “night market, maksudmu pasar malam”. melihatku dapat menerima kenyataan kemudian Mirza berkata, “Ran masih ada yang ingin kukatakan” “Ran, ada seseorang yang sangat peduli denganmu, rasa kagummu dengan Ira telah membutakan dirimu hingga membuatmu kehilangan kebahagian sejati yang seharusnya kau dapatkan, bahkan Ibumu tahu siapa seseorang itu”
“Dia peduli denganmu, dia yang dulu bertanya kepadaku apakah Ranu suka baca novel, dia yang paling panik ketika mendengar Ranu mengalami kecelakaan, dia yang selalu menemani Ibu merawat dirimu dan waktu Ranu mulai sadar di rumah sakit dia lah yang bersama Ira”
“Sebetulnya yang jahat bukan aku, bukan Ira dan bukan juga Indah tapi Ranu” “Dia yang Ranu panggil sebagai Ana” Aku terdiam, berusaha mengingat semua lalu berkata, “Za, jangan kau jelaskan siapa Ana itu biarlah itu menjadi rahasia hidupku”
“Walau aku harus terus mencari bayanganya..”
“Walau keujung dunia pasti akan kunanti, mesti ke tujuh samudra pasti kucari karena ku nyakin jika Yang Kuasa menginjinkan maka aku akan menemukannya dan menebus semua kesalahanku, semoga kisah cintaku selajutnya tidak berakhir tragis seperti ini” Mendengar perkataanku Mirza hanya tersenyum.

Akhirnya aku dan Mirza balik menuju mobil dimana Ira dan Indah telah menunggu, Dengan persaan yang setulus-tulusnya aku berkata, “Ira, Mirza dan Indah” “Maafkan Aku”
“Maafkan Aku untuk semua yang telah kulakukan” Ira tersenyum, Mirza tersenyum dan Indah pun tersenyum. Kemudian Mirza berkata, “Kalau nembak cewek jangan pakai lagu yang terkenal mudah ketebak keles”
“Ranu pakai lagu Chrisye – Kala cinta menggoda kan” Aku pun tersenyum.

Created By RMW

Cerpen Karangan: Ranu
Maafkan Aku (Part 2)

Maafkan Aku (Part 2)

Judul Cerpen Maafkan Aku (Part 2)

Bel berbunyi seperti biasa tetapi ini bel pulang, saat-saat yang membuat diriku cemas dengan perasaan ini akan terjadi ya akan terjadi sebentar lagi. “ayo Ran Jadikan ketematmu” sambil Mirza mengambil tas lalu berbicara dengan Ira, sampai di parkiran terdengar suara klakson mobil, terjadi perubahan rencana Ira dan Indah ngajak dulu ke Mall Lembuswana dengan menggunakan mobil biar bisa sama-sama, ini bukan pertama kali saya naik mobil Ira tapi sekarang menjadi sedikit canggung, mungkin bawaan kemarin. Dalam Mall kami berbelanja keperluan-keperluan untuk tugas kelompok dan sekalikali ke stand pakaian harap dimaklum belanja dengan cewek-cewek ya begitu adanya malahan terkadang susah untuk dimengerti.

“makan dulu ya, aku yang traktir” ajakan Mirza disambut baik oleh Ira dan Indah tidak terkecuali saya, maklum jalan mengelilingi Mall ternyata memakan energi yang lumanyan banyak. Pulang.. ternyata rencana awal tidak sesuai dengan jadwal tetapi tetap terlaksana, kami menuju rumah ke tempat diriku melepas lelah berteduh dari panasnya mentari dan dinginnya angin malam, sampai di depan gang mobil ndak bisa masuk. “sampai sini aja mobilnya, nanti tidak bisa muter kalo dipaksa masuk” penjelasanku terhadap ketiga sahabatku itu. “ya udah kita lanjut jalan aja” sahut Indah. “pak Rus balik aja ke rumah nanti jam 5 ke sini lagi jemput kami” permintaan Ira kepada bapak paruh baya yang biasa bawa mobil mengantarkan kemana Indah dan Ira inginkan. “baik mba” jawaban pak Rus sopan. Dalam perjalan kerumah kami ngobrol dan ku awali dengan perkataan “rumahku kecil lho, jangan kaget ya kalo Mirza sih udah tau” “emang kenapa” sahut Indah, membuat diriku sedikit ragu apa benar cewek yang biasa hidup berkecukupan dapat memahami diriku hidup dalam perjuangan, akhirnya sampai dan tidak ada perubahan pada wajah mereka atau mungkin itu hanya untuk menjaga persaanku saja.

“Asalamualikum” sambil membuka pintu. “Walaikumsallam” Ibu paruh baya menjawab terdengar pelan karena berada di dapur dan ternyata ibu paruh baya itu adalah ibuku, kucium tanganya sambil mengenalkan Ira dan Indah kalo Mirza malah sudah ke dapur dan kemudian kembali mendekat untuk ikut mencim tangan ibuku. “oh ini teman yang sering kamu ceritakan”, sambil melihatku dan aku hanya bisa garuk kepala. “emang Ranu cerita apa bu” Mirza bertanya dalam canda penuh arti. “kalian emang cantik” sambil memegang wajah Ira dan Indah. Momen itu ibarat sedang di depan kelas nyanyi padahal denger musik aja fals, dengan tersipu malu kupersilahkan mereka untuk duduk, benar-benar duduk bukan di kursi apalagi sofa tapi di lantai dengan karpet motif bunga warna biru. Kami pun mulai menyelesaikan tugas kelompok yang sebenarnya hampir selesai, dengan perdebatan kecil di dalamnya akhirnya selesai dan siap untuk dipersentasikan di kelas besok.

Disela-sela menunggu pak Rus terlihat Ira dan Indah berbincang-bincang dengan ibuku sambil tertawa kecil lalu melihat kearahku entah apa yang dibicarakan tetapi perasaanku sedikit tidak enak. Termenung melihat Ira dan Indah tidak terlihat canggung dan malah bisa tersenyum canda membuat diriku berpikir ternyata semua kegelisahanku hanya rasa takut yang berlebihan. Terlihat pak Rus sedang mencari rumah, rumah siapa lagi jika bukan rumahku. “pak di sini” teriakku. Ira, Indah dan Mirza pamit pulang, perasaan lega juga tersirat di hatiku.. sykurlah.. Mereka pun pergi meninggalakan diriku sendiri seraya lembayung senja mulai menaungi dan menyelimuti dunia. Tetapi.. Gara-gara sepatu .. semua kegelisahanku kembali, teringat ketika kulihat sepatu yang digunakan kedua sahabatku itu sangat bagus dan terlihat sangat mahal walau itu sepatu sekolah, berkembang jauh sangat jauh di pikiranku apa aku harus terus menerus ikut dalam kehidupan Ira dan Indah hanya untuk bisa dekat mereka, apakah aku harus selalu ditraktir makanan, apakah aku harus selalu di belakang mereka jika urusan uang, mereka terima aku apa adanya tapi aku tidak bisa, di mana hatiku, di mana perasaanku yang ada aku hanya hidup dalam kepalsuan.

Hari Perubahan 2
Mentari kembali menerangi pagi tetapi tidak menerangi hatiku, sepanjang jalan menuju bengkel tak sadar diriku melewatinya sehingga akhirnya ku putuskan untuk naik taksi saja, sampai di sekolah tiba-tiba seseorang dari arah belakang memukul pundakku “mogok lagi Ran motornya” ternyata Dini sembil berlalu, Dini nya sih sudah hilang dalam pandangan tapi sakit pundak ini masih terasa ternyata dia pukul dengan genggaman tangannya, dalam hati kecilku berkata kalo dipangilkan Power Rangers baru tau rasa dia, pokonya awas nanti di kelas.

Sampai di kelas saya lihat teman-teman sudah pada sibuk mempersiapkan bahan persentasi tidak terkecuali kelompok kerja ku. “Eh Ranu udah datang, nih” Indah melihatku sambil memberikan secarik kertas berisi data-data persentasi. “iya Ndah, trims” jawabku singkat.

Persentasi sudah, mata pelajaran lain juga sudah akhirnya Bel berbunyi seperti biasa tetapi ini bel pulang dan sepertinya tidak ada rencana apapun dari Ira, Indah maupun Mirza jadi aku putuskan pulang, di selasar sekolah aku bertemu Dini lagi “Nah ketemu” kataku lirih, sampai di hadapanya yang terjadi berbeda dengan harapan, “apa!!!” kata-kata yang keluar dari mulut Dini sambil mengarahkan genggaman tangan ke wajahku, dalam hati aku berkata galak banget nih cewek. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan akhirnya aku meninggalkannya tanpa jejak tanpa suara tanpa rasa kemudian terdengar sebuah kata maaf dan aku yakin itu dari Dini, aku pun tersenyum terus berjalan tanpa melihatnya.

Hari berlalu berganti minggu berganti lagi dengan bulan persahabatanku sudah tidak seperti dulu, aku lebih banyak menghindar dari mereka, aku tidak mengerti apa yang kurasakan seakan surya tenggelam menemani senja nan muram hanya meninggalkan sebercik cahaya. Catur wulan dua aku lewati tidak seperti biasa, soal pelajaran yang biasanya mudah walau ada yang sulit tapi aku dapat mental berjuang untuk dapat jawaban soalnya, tetapi di catur Wulan dua ini semua terasa berat semua terasa membingungkan, akhirnya dapat ditebak prestasi akademik ku turun. Pembagian rapot harus diambil oleh orang tua, terlihat ibuku datang menghampiri diriku dengan wajah berusaha untuk tersenyum. “bagaimana bu hasilnya” pertanyaanku penasaran, “Alhamdulilah” sambil mengusap kepalaku dan menyerakan rapot kemudian kubuka tertera didalamnya rengking dua, aku pun terdiam kemudian tersenyum.. benar adanya dugaanku semua kepalsuan itu penyebabnya, terlebih aku ketahui bahwa yang rengking satunya adalah Ira Elwita, anak baru yang dengan kecantikannya telah membuatku terlena dan merubahku, aku harus kembali ke jalanku.

Liburan satu minggu setelah ulangan catur wulan kuhabiskan dengan mencari tambahan uang karena aku hanya dapat potongan lima puluh persen dari biaya SPP, tidak seperti biasanya aku bayar gratis karena juara kelas. Senin pertama setelah liburan, selesai upacara biasanya hari pertama tidak ada pelajaran tapi kami tetap masuk kelas dan kemudian Ibu Elisabet berkata “yang namanya dipanggil untuk maju ke depan” lalu ibu guru mulai membuka catatan dan memangil nama, “Sabrina, M Yasin, M Thoha, Rahmadi, Ali, Nurul, Eva Margaretha, Mirza Syahbani, Indah Sari, Erna Wati, Dinny Anggana, Ranu Mulyo dan Ira Elwita” Kami pun maju ke depan kelas kembali Ibu Elisabet menyusun kami berurutan dari kanan ke kiri, “Anak-akan ini adalah teman-teman kalian yang masuk sepuluh besar” perkataan ibu guru disambut tepuk tangan teman-teman yang lain, kulihat sebelah kanan Ira Elwita dengan senyumnya kemudian kulihat sebelah kiri ternyata Dinny Anggana yang kali ini juga tersenyum ke arahku, dalam hatiku berkata ternyata senyumannya. aku langsung menggelengkan kepala.

Setelah itu teman-teman maju ke depan kelas untuk memberikan selamat kepada kami, terutama kapada Ira Elwita sang juara kelas. Kami yang sebelumnya sudah dipanggil ke depan kelas juga saling memberikan kata selamat sampai sahabatku Ali berkata “Ran sekarang rengking dua ya, yang ngalahin pujaan hati lagi” kata-kata Ali membuatku kaget “terlihat jelas ya” sahutku disambut senyum oleh Ali, kemudian kulihat sebelahku Dini dengan wajah polosnya berkata “apa!!!” dengan kepalan tangan di wajah.

Berjalannya waktu aku sudah jarang lagi bersama mereka, Mirza bertanya, Indah bertanya, bahkan Ira pun bertanya perubahan dari diriku, ketika kami mengerjakan tugas kelompok hal tersebut bagiku hanya seperti kewajiban yang harus diselesaikan saja tanpa ada canda tanpa ada rasa bahkan tanpa ada perdebatanperdebatan yang memeriahkan suasana. Terlihat Indah dan Ira meminta Mirza untuk menanyakan suatu hal kepadaku, “Ran, belakangan ini kamu berubah, kenapa, kami salah, kalo seperti ini kami ndak tau harus bagaimana”. Seperti disidang dengan tatapan penuh harap menunggu sebuah jawaban dan aku tidak berani untuk mematap balik mata mereka dalam hatiku berkata separah ini kah aku memperlakukan sahabatku, seperti kisah sinetron dan aku pemeran antagonisnya. “ndak papa Za, aku ndak papa, aku balik pulang duluan” aku pun beranjak meninggalkan mereka dengan kekecewan yang tersirat diwajah. “Ran tunggu” suara Indah terdengar sedikit agak keras “Indah mau nanya, Indah ada salah, Ira ada salah apa Mirza ada salah, kalo ndak kenapa Ranu berubah”

Aku tidak bergeming dengan hanya memandang, tersenyum dengan harapan dia mengerti untuk tidak mengkhawatirkan diriku atau mungkin untuk sedikit tidak peduli dengan diriku. Aku tidak tau kenapa bisa terjadi pada diriku, sebagian diriku mengatakan ini salah tapi sebagian diriku mengatakan ini yang seharusnya.

Hari pencerahan
Kamarku penuh dengan buku pelajaran dengan kalender yang bertanda silang di salah satu angkanya, angka keramat angka yang menentukan cerita kehidupanku yang selanjutnya. Terdengan suara ketukan pintu “iya bu” sahutku sambil membuka pintu. “ini kemarin ada yang datang cari Ranu, Ibu lupa nanya siapa namanya tapi dia datang dengan temanya kalo ndak salah temannya manggil dia Ana”, penjelasan Ibu membuatku bingung, “maksud Ibu nama temanku Ana” Ibuku mengangukan kepala “iya, namanya Ana, dia sering kok lewat depan rumah dan menegur Ibu”, sambil mengucapkan terima kasih kubuka isi kantong plastik yang ternyata isinya buku novel dengan cover dua cowok dan dua cewek di atas perahu kertas. Hatiku bertanya-tanya siapa ya Ana itu dan kenapa dia tahu kalo aku suka baca buku novel, kubuka lembar demi lembar ternyata hatiku tertarik untuk membaca dan terus membaca, hari-hari berlalu akhirnya sampai juga pada lembar terakhir. Terbenam dalam lamunan kembali aku berpikir berkembang jauh sangat jauh sehingga aku putuskan untuk membuat janji sepulang sekolah dengan Mirza.

Kembali hari-hari berlalu kemudian.. Tersenyum diriku melihat teman-teman pada berkumpul bertanya soal pelajaran mengelilingi Ira Elwita, sepertinya hati sudah tidak tersiksa. “mas bro jadi nanti jalan selesai sekolah” tegur mirza “jadi Za, sekalian mancing ditempat kita dulu ya, teman-teman ndak usah diajak dulu ya” permintaanku disetujui oleh Mirza. Bel berbunyi seperti biasa tetapi ini bel pulang, mirza mendatangiku bersama Ira dan Indah di belakangnya, “ayo berangkat” sahut Mirza. “ayo Za” sambil memberikan bahasa tubuh ke Mirza jika Ira dan Indah untuk jangan ikut. “bedua aja ini jalannya” tegur Indah. “Ranu mau bicara penting” Mirza menjelaskan, kadang kedewasaanya membuatku tidak mengerti.

Melihat diriku tersenyum membuat kebahagian di wajah Ira dan Indah, sambil berlalu kulihat mereka tersenyum ternyata sebuah senyuman dapat membuat kebahagian, sahabatku oh sahabatku. Saatnya mancing ikan bukan mancing kerusuhan ya.. Kuayunkan joran pancing dengan umpan cacing di kail, seperti biasa tidak sedikit pun umpanku menarik hati ikan untuk mendekat tapi tidak masalah karena bukan ikan tujuanku.

“ada yang mau dibicarakan Ran” tegur Mirza Menghela nafas “Za, aku salah ya” dengan nada bertanya. “Za, di dalam kamarku ada kalender yang sudah kutandai sebagai awal jadwal ujian nasional” “terus” potong Mirza “Aku ingin membuat Ibuku bahagia Za, untuk itu lulus dengan nilai terbaik adalah tujuan hidupku saat ini” “Za, sebenarnya bersama kalian aku merasa bahagia, senang canda bersama kalian adalah hal yang baru karena diriku terbisa sendiri”, kulihat Mirza memikirkan sesuatu. “Tapi Za, aku bukan orang kaya, aku harus bekerja untuk membeli buku dan perlengkapan sekolah bahkan untuk bayar SPP sebesar tiga puluh tujuh lima ratus rupiah perbulan juga adalah hal yang besar bagiku tetapi nilai itu mungkin hanya uang jajan bagi Ira dan Indah mungkin bagi Mirza juga” “Za, aku hanya berpikir jika dunia kita berbeda mungkin bagi kalian itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan tapi tidak bagiku Za, aku ndak bisa Za membiarkan diriku menjadi beban, bagiku dengan kembali menjalani hidup seperti dulu sebelum kalian masuk dalam kehidupanku adalah hal yang paling masuk akal dan paling tepat untuk saat ini”. “Za, ada ganjalan di hati ini ketika melihat teman-teman mulai bertanya soal pelajaran kepada Ira, bahkan guru juga menaruh perhatian lebih kepadanya, dulu akulah yang menjadi tempat bertanya, dulu guru juga sangat perhatian kepadaku tapi sekarang aku seperti seseorang yang sudah tidak penting bagi meraka” “Harus kuakui Za, tingkah laku pasti kalian sadari, tapi aku bingung dengan kalian terlebih kepada Ira bukannya memusuhiku tapi malah membuatku terpesona dan terus tepesona dengan kepintaranya, kebersahajaanya dan tentunya dengan kecantikannya”.

Mendengar semua itu Mirza meletakan joran karena sepertinya para ikan lebih senang melihat-lihat lalu mendekat dan kemudian pergi. Kemudian Mirza berkata, “Ran, kami menyadari perubahanmu dan kami tahu dirimu pasti punya alasan yang kuat untuk itu, kami tidak peduli betul-betul tidak peduli dengan istilah mampu, terpandang, kaya atau pun miskin, kamu sahabatku sahabat kami itu cukup.” “Mau lulus, kita lulus bareng jika mau jadi yang terbaik itu hak dirimu tapi…”

Tiba-tiba Mirza berteriak.. “dapat Ran dapat” lengkungan joran dan hilangnya pelampung menandakan kalo Mirza dapat ikan yang besar, emang kadang-kadang error teman satuku itu. Setelah memasukan ikan besar tersebut dalam keranjang Mirza kembali berkata, “Iya Ran, memang dalam hitungan bulan kita mau ujian nasional tapi alangkah lebih baik kita tetap berjuang bersama, belajar bersama, saling membantu dan mengingatkan soal pelajaran itu lebih baik menurutku”, “kembalilah seperti dulu, seperti Ranu yang senang canda yang senang buat katakata ndak jelas pokoknya kembalilah, aku ingin dengan sifat Ranu yang dulu”. Hatiku bergetar.. aku hanya terdiam berpikir atas semua kelakuanku, tapi aku enggan menanyakan pendapatnya soal kekagumanku dengan Ira yang sepertinya Mirza enggan untuk menjelaskannya.

Lembayung senja menghampiri menutup dirinya berbalik di ujung sungai, Mirza pun beranjak pergi. “Za, besok aku akan bicara dengan Ira sama Indah, Mirza temani ya” “Sip” jawabanya singkat sambil berlalu meninggalkan diriku pergi menjauh dan tak kembali. Sedangankan aku termenung berdiam diri menemani senja tenggelam.

Hari penting
Mentari kembali bersinar, hatiku tenang setenang air pengunungan yang mengalir tenang tanpa beban. Kusiapkan semua perlengkapan sekolah temasuk buku pelajaran, izin berangkat dengan cium tangan tapi ibu juga mencium pipi dan jidatku, aku jadi malu dan Ibu tersenyum. “halo motor, kita berangkat jangan mogok ya hari ini karena hari yang penting bagi ku” lalu kuhidupkan dan ternyata mau hidup, Alhamdulilah.

Dalam perjalanan yang terpikir adalah kata-kata yang akan kuungkapakan kepada kedua sahabatku hingga aku menyadari jika aku hampir terlambat jadi kupercepat laju motor dengan senyuman diwajah hingga.. Seseorang memotong jalurku .. aku kaget.. aku kehilangan kendali terlebih rem motor blong… Tiba-tiba..
“Allahu Akbar” teriakku.. mobil putih menghajarku dari samping.. aku tak sadarkan diri.. tergeletak tak berdaya..

Cerpen Karangan: Ranu
Maafkan Aku (Part 1)

Maafkan Aku (Part 1)

Judul Cerpen Maafkan Aku (Part 1)

Cerita ini tentang persahabatan, persahabatan yang dimulai saat kami masih SMU tepatnya di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, sebuah kota nan indah yang dibelah oleh sungai Mahakam.
Begini ceritanya..

Pada suatu hari… hehehe basi ya.. maaf dah.. kita ulangi ya.. Begini ceritanya..
Bel masuk berbunyi tetapi seperti biasa kami masih berbincang-bincang membuka suasana pagi sampai satu per satu kami masuk kelas dan akhirnya tiada satupun yang tersisa di luar. Wali kelas kami Ibunda Elisabet berencana mengenalkan dua orang teman baru, yang telah diberitahukannya seminggu yang lalu. “anak-anak, teman kalian yang baru sudah datang sekarang lagi di kantor Kelapa Sekolah, sebentar lagi ke sini”, kata-kata Ibu Elisabet mengawali pelajaran Sekolah saat itu.

Satu jam berlalu kemudian “Assalammualaikum” terdengar suara dari balik pintu. “Walaikumsalam Wr. Wb” kami serentak menjawab walupun kemungkinan besar bukan karena kami kalangan alim akan tetapi karena yang mengucapkan salam adalah cewek, sengaja saya tidak tulis wanita apalagi gadis supaya terkesan ceritanya waktu masih sekolah menegah sehingga tidak multitafsir. Dua cewek masuk dengan malu-malu menghampiri Ibu Elisabet lalu bebincang sejenak dan terlihat Ibu Elisabet untuk mempersilahkan kedua cewek tersebut untuk memilih tempat duduk, nah disitulah pertama kali saya berpandangan dengannya.

Sebelum melanjutkan cerita ini tokoh sentralnya saya sendiri, kedua cewek yang baru muncul penokohannya adalah Ira Elwita dan Indah Sari yang lain Sabrina, M Yasin, M Thoha, Rahmadi, Ali, Nurul, Eva Margaretha, Mirza Syahbani, Erna Wati, Dinny Anggana dan Ibu Elisabet Wali Kelas kami, tetapi dari nama-nama tersebut hanya sebagian yang menjadi inti cerita.

Kembali ke cerita ya..
Sambil melihat dan melirik salah satu cewek datang mendekat ke arah kursi kosong di sebelahku, dengan jiwa besar saya mengalah mundur ke belakang agar cewek yang satunya bisa duduk satu meja. Jadi mau ndak mau saya duduk bersebelahan dengan Mirza Syahbani. Sambil tersenyum “makasih ya tempat duduknya” kata-kata pertama yang teringat, ya sangat membekas dan tak akan hilang walau ditelan waktu, mengapa terjadi pada diriku bergetar rasanya hati ini.
Ingin rasanya menegur dirinya tapi apa daya mulut terkunci ketika matanya menatap sendu, hari itu berjalan dengan penyesalan tanpa tau siapa dirinya. benar-benar gagal fokus.

Bel berbunyi seperti biasa tetapi ini bel pulang, saya pun bersiap untuk pulang kemudian Yasin dan Thoha mengajak untuk ke rumahnya untuk kerja kelompok tak lupa Mirza, Rahmadi dan Ali ikut serta, sepanjang jalan sudah dipastikan yang menjadi pokok pembahasan adalah kedatangan dua cewek baru di kelas apalagi cantik dan manis, kutahan diriku untuk tidak ikut komentar walau di hati memberontak untuk mengatakan kalian tidak tahu kalau hanya melihat dari belakang saja ia cantik dan manis apalagi jika memandangnya dari depan. Dalam hati saya pun bertekat untuk memperbesar kemungkinan menyadarkan dirinya bahwa ada seseorang yang memperhatikannya.. yang memperhatikan itu adalah diriku, “hei bangun pasti lagi mikir yang macem-macem ya” tegur Ali temanku yang berbadan tidak kurus tapi baik hatinya, yang sering makan dan memberikan sebahagian rejekinya kepada kami.

Mentari pagi bersinar saya pun pergi menuju sekolah dengan misi yang telah tertanam di hati, benar adanya dia sudah ada dikelas bersama yang lain, saya lihat ada Erna, Nurul, Eva, Sabrina juga Dini, teman-teman cewek yang kalo sudah bergabung mungkin hanya Power Rangers saja yang dapat mengalahkan mereka apalagi Dini sama Erna jika sudah merencanakan sesuatu maka kekuatanya sama dengan Rita Repulsa, dengan langkah pasti saya pun menghampirinya dengan debaran jantung tak menentu semakin mendekat semakin tak karuan hati ini, akhirnya saya dan dia berada pada jarak satu meter dengan sudut pertemuan sembilan puluh derajat tetapi kembali mulut ini terkunci membisu tanpa bisa mungucapkan satu kata pun, mengapa ini terjadi kepada diriku seperti dilem dengan perekat super-super-super sekali.

Hari yang gagal…
Menjalang pulang termenung sendiri melihat kembar Yasin, Thoha yang sok rupawan dan juga Rahmadi yang sok artis Korea dengan mudahnya berbincang dengan canda tawa dengan dia, ya dia yang tak berani kutatap matanya dan tak bisa kubuka suara ketika berhadapan dengannya. Ingin rasanya kuakhiri perteman dengan Yasin, Thoha dan Rahmadi dengan titik tanpa koma. “Hay mas bro ngelamun aja, jadi pulang bareng ndak” suara Mirza membuyarkan lamunanku. “Oke Za, ngomong-ngomong kan kita ndak satu arah pulangnya” Sahutku
“Oh ya, lupa” jawabanya singkat sambil berlalu meninggalkan diriku pergi menjauh dan tak kembali, emang kadang-kadang error teman satu ku itu. Meninggalkan kelas sampai parkiran kutatap motor tua yang telah menghantarkan diriku kemanapun aku ingin pergi oh sungguh jasamu tiada tara, “ayo motorku sayang kita berangkat” suaraku pelanku sambil menghidupkan motor.

Tiba-tiba.. “Assalamualiakum, Ranu ya” Suara yang kukenal, karena sudut pandangku saat menghidupkan motor maka dengan gerakan lambat kualihkan pandangan ke arah dirinya dan benar adanya dia yang selama ini membuat diriku tak berdaya. “Walaikumsalam Wr Wb” sahutku Sambil mengibaskan rambut panjangnya “Bener ya namanya soalnya kita duduk dekatan tapi belum kenalan” aku terdiam dengan tatapannya yang meluluhkan hati.. seakan matanya berbicara dan mampu berkata, membiarkan aku tersiksa terlena tak berdaya dengan kesan di matanya itu.. “hallo” tegurnya menyadarkan lamunanku.” iya aku Ranu Mulyo Aji Putro Raharjo buntute dowo dicokot ulo sowo” ku ucapkan dengan tawa kemudian kuhentikan tawaku karena dia terlihat bingung mungkin karena dia bukan orang Jawa dan yang ada malah diriku terlihat bodoh, ingin rasanya tepuk jidat sama lipat muka. “Maaf panggil aja Ranu” berusaha memperbaiki suasana, “Nah kalo kamu namanya siapa” pura-pura tanya tetapi dengan menahan nafas dan berusaha berpikir jernih agar tidak melukukan kesalahan yang sama. Terseyum “Namaku Ira Elwita pindahan dari Tanjung Selor” Sambil mengangukkan kepala saya mendengarkan kata-katanya biar terlihat pintar padahal dalam hati Tanjung Selor dimana itu. Entah angin apa yang menghilangkan semua lem super yang biasanya menjadi perekat mulut ini sehingga kemudian berani berbicara “Ira mau aku antar pulang, pakai motor ini” sambil mukul jok belakang. Terlihat terdiam sejenak kemudian tersenyum “Makasih ya, Ira udah dijemput itu ada Indah Sari” sambil menujuk cewek samping mobil yang juga melambaikan tangan, ternyata namanya Saudaranya itu Indah Sari. Senyum kecilku pun menghantarkan langkahnya meninggalkanku sendiri, “Motor tua sial” ucapku lirih, setelah Ira hilang dalam pandangan lalu kuhidupkan motor dan ternyata mogok padahal tadi baik-baik aja agak bingung sih, akhirnya aku harus membujuk itu motor dan meminta maaf telah berbicara kasar dengan mengatakan motor tua sial dan ternyata berhasil, sukurlah.

Hari yang bahagia…
Dingin terasa angin melewati jendela kamar ternyata hujan sehingga mau tidak mau kuterobos dengan bersenjatakan mantel hujan dari pada terlambat karena hujan tidak memiliki perasaan, sampai di sekolah belum banyak teman datang cuma beberapa aja tetapi Ira dan Indah sudah ada dan kering tidak seperti saya yang basah kuyup karena mantelnya robek di jalan maklum mantel plastik. Sambil bergetar badan ini saya taruh tas dan duduk mengerinkan diri tak lama kemudian Indah datang duduk di kursinya dan menegur “basah ya Ran” sambil ngasih tisu, “makasih ya, tapi ndak ngaruh kalo tisu handuk iya” candaku disambut tawa kecil sama Indah. Dalam hatiku berkata tidak seperti saudaranya yang lebih mudah membaur kalo Indah pendiam dan lebih senang membaca buku tetapi aku yakin hatinya seperti namanya.

Hari berlalu berganti minggu berganti lagi dengan bulan persahabatanku dengan Ira dan Indah semakin dekat tidak terkecuali dengan Mirza yang ternyata sangat dewasa padahal kami seumuran mungkin faktor wajah yang mendukung kedewasaaanya. Posisi duduk kami yang berdekatan membuat kami sering menjadi satu kelompok kerja sekolah sehingga instensitas pertemuan juga semakin sering termasuk diluar jam pelajaran resmi yang dikeluarkan pemerintah Kota Samarinda. Baru kali ini kurasakan senang ke sekolah melebihi keinginan pergi ke timezone atau main playstation pokoknya kalah dah, di sekolah bertemu dengannya seperti candu yang membuat diriku mengharapkan mentari lebih cepat menerangi bumi bahkan kalo bisa dipesan maka akan kupesan ayam jantan untuk berkokok jauh sebelum Azan subuh berkomandang. Dekat dan melihat senyumnya telah membuatku bahagia berbunga-bunga walaupun dia tidak menyadari kekagumanku terhadap dirinya, ibarat aku tetap bahagia walau malam tanpa bintang asalakan rembulan tetap setia menerangi.

Hari yang aneh…
Entah apa yang terjadi dengan diriku seolah terbanguan dari fatamorgana ketika bertandang ke kediaman Ira dan Indah, wah gejolak di hati mengatakan sadar-sadar siapa dirimu. Masuk ke dalam rumahnya saja ada yang bukakan pintu, baru duduk di sofa empuk ibu paruh baya menghampiri dengan perlahan dan sopan sekali “maaf, mau minum apa”, aku hanya terdiam melihat semua apa yang kulihat, apakah ini benar, membayangkan saja aku tidak pernah bahkan tidak berani, ini bukan duniaku, canggung perasaan, hilang senyumku hilang candaku hilang logikaku, seharunya kusadari dari awal siapa dirinya, tertekanya hati ini melebihi sakitnya ditingalkan seseorang kasih. Datang Ira yang disusul saudaranya Indah terlihat rapi dengan pakaian santai disertai senyum tersungging diwajahnya.

“bisa main bola Ndah tempatmu ya, tahu gini tadi bawa sepeda sekalian” perkatan Mirza membuatku tertunduk. “Akhirya jadi ke rumahku juga Ranu sama Mirza ya” sahut sambil Indah menghidangkan ramah minuman yang dibawa ibu paruh baya tadi kepada kami, sedangkan Ira mulai membuka buku pelajaran. Pelajaran sekolah kami bahas ulang sambil mengerjakan tugas kelompok yang diberikan Ibu Elisabet dengan perdebatan-perdebatan kecil di dalmnya hingga sore pun menjelang. Ira menanyakan hal yang membuatku tertegun “Ran, besok kita lanjut bahas kerja kelompoknya di rumah mu ya” kata-kata nya tersebut bak petir di siang hari, aku hanya terseyum kecil kerena bingung harus berkata apa. “kami balik pulang dulu ya Indah, Ira” kemudian Mirza memberi kode untuk samasama pamit, karena motorku mogok jadi harus diantar Mirza pulang, dalam perjalan Mirza mengatakan “Gila bener ya rumahnya, yang jadi pacarnya pasti seneng banget”, aku tidak tahu arah pembicaraanya ke Ira atau Indah kerana aku tidak terlalu berfikir jernih yang kuinginkan hanyalah sampai rumah. Di rumah, kupandangi sekeliling dan di hati berkata, ini yang besok akan dilihat Ira, kembali aku termenung dan berpikir apakah layak. Sulit sekali memejamkan mata membuatku terus berpikir dan berusaha menyakinkan diri untuk melihat tanggapan Ira terhadap diriku jika besok jadi kerumah. Kita lihat saja besok, perasaan hati terus menerus beradu.

Hari Perubahan…
Ayam Jantan berkokok dan embun pagi telah menyentuh rerumputan ternyata udah subuh setelah mengadu ke Yang Kuasa kembali kusiapkan buku pelajaran hari ini dan bergegas ke bengkel dekat rumah untuk menyanyakan kabar motor tua apakah udah sehat jika masih mogok berati harus naik taksi, taksi adalah angkutan kota yang di Samarinda disebut taksi, benar dugaanku motorku masih mogok malahan tukang bengkel menyarankan untuk menjualnya ya tidak tegalah aku. Diam berdiri di pinggir jalan menunggu taksi sudah menjadi kebiasaan jika motor tua lagi ngambek biasanya agak lama kerena bukan jalur yang umum dilewati, “Ran” seseorang memanggilku ternyata Mirza datang menjemput padahal kami tidak berdekatan rumahnya. “hai Za, kok lewat sini” jawabku, sambil menuju ke arahnya. “sekalian lewat Ran, tadi ke tempat keluarga antar titipan” sambil mempersilahkan naik ke motornya untuk segera ke sekolah karena sudah agak terlambat. Benar adanya kami terlambat dan akhirnya masuk dalam catatan buku siswa yang terlambat dan harus tanda tangan agar bisa dibukakan pagar sekolah, apes dah.

Masuk kelas, Ibu Elesabet bertanya “kenapa kalian terlambat”. Dengan tenang dan penuh kedewasaan Mirza menjawab “iya Bu, tadi motor Ranu mogok jadi saya jemput dulu makanya terlambat”, kata-kata Mirza disambut senyum oleh Ibu Elisabet dan mempersilahkan duduk, kami pun duduk tapi dalam hati aku berkata dewasa sih dewasa tapi aku kok dibawa-bawa padahal.., ya sudahlah.

Berjalan ke tempat duduk saya lihat Ira sedang menulis pelajaran, hatiku kosong tidak seperti biasa getaran itu hilang, ada apa dengan diriku. “Hai Ran“ Indah melambaikan tangan sambil tersenyum padahal jaraknya kami hanya terhalat meja karena Indah kan duduk tepat di depanku, kelakukan Indah rupanya dapat mencairkan suasana hatiku, kami ngobrol yang akhirnya ditegur oleh Ibu Elisabet agar mendengarkan pelajaran, Ira tersenyum.

Cerpen Karangan: Ranu
Segenggam Bunga Abadi

Segenggam Bunga Abadi

Judul Cerpen Segenggam Bunga Abadi

Mentari merangkak naik perlahan saat seorang gadis mengintipnya dari balik jendela. Matanya yang sayu menyimpan setangkup kerinduan akan cerita yang memang telah lama tak diperankannya bersama sahabat-sahabatnya. Berhari-hari terbaring di ranjang dengan seonggok rasa sakit yang digelutinya membuat gadis itu tak sabar menanti kedatangan seorang kakak yang berjanji akan menjemputnya pagi ini. Mutiara, ialah nama gadis itu. Gadis yang terlahir dengan rupa ayu dan pendiam ini amat menyayangi sahabat-sahabtnya, terlebih sahabat yang menemaninya menganyam ilmu di bangku SMP dulu.

Mutia tersentak kaget saat mendapati sebuah tangan yang dingin menepuk pundaknya.
“Kakak, membuat kaget saja.” Ia memalingkan wajah ke arah kakaknya sembari tersenyum.
“Udah siap kan?” Tanya sang kakak. Mutia mengangguk tanpa melepas senyumnya. Senyum yang telah sekian lama bermain dari bibir mungilnya. Senyum yang amat dirindukan kakaknya. Seolah ternaung keteduhan, Harry terdiam melihat senyum sejuk Mutia membasuh kerinduannya. Jika saja bisa ia ingin melihat senyum itu lebih lama. Kalau saja mampu ia ingin senyum itu terjerat di wajah Mutia untuk selamanya. Itulah hal yang paling Harry inginkan untuk waktu kemarin, sekarang, sampai seterusnya.

Usai memakaikan sweater biru muda adiknya, Harry mengajak Mutia berpamitan pada ibu. Ibu terdiam saat Mutia mencium tangannya dan berkata,
“Kami pamit, Bu…” Ada rasa tak tenang saat kalimat itu singgah di telinganya. Ibu menggeleng pelan mencoba menepis netthinknya dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Tangan kiri ibu terulur membelai lembut rambut panjang Mutia. Tak sampai hati ia mengizinkan putrinya pergi, tapi ia jauh lebih tidak bisa jika harus merenggut senyum itu dari wajah putrinya. Senyum yang telah sekian lama raib. Lagi, ibu menghela nafas dalam menahan air mata yang memaksa keluar dari balik kantung matanya. Dengan berat ia berkata,
“Hati-hati, Nak. Turuti nasihat kakakmu…”
“Iya Bu, Ibu jangan khawatir… Mutia akan baik-baik saja.” Terang Mutia menggenggam tangan ibu. Ibu memeluk Mutia erat.
“Kami pergi dulu, Bu…” ucap Harry menggandeng tangan Mutia meninggalkan ibu yang berdiri lemas di muka rumah. Tatapan hangat mata ibu berubah menjadi kegusaran mengantar kepergian putrinya yang samar terhalang tirai-tirai kabut lalu hilang di balik rerimbunan pohon. Tak ada yang dapat ia lakukan selain terus memohon pada Tuhan agar menjaga dan menuntun putrinya kembali dengan selamat. Hanya itu.

Sapa dan senyum manis yang sahabatnya berikan menjadi sambutan pertama yang Mutia terima selagi jarak masih beberapa meter memisahkan mereka. Pelukan hangat dari sahabat yang sangat dirindukannya terasa begitu dalam di wajah Mutia. Satu tahun tak bertemu membuat mereka harus memendam rasa rindu yang teramat akan tibanya masa-masa seperti saat ini. Mereka, Mutia dan sahabat-sahabatnya memang sangat menyenangi tempat-tempat yang menyuguhkan panorama alam yang elok. Mereka sering bepergian bersama saat libur dulu, ketika mereka semua masih satu sekolah. Harry tertegun melihat Mutia dan semua sahabatnya. Ia baru mengerti alasan Mutia segan menolak ajakan kawannya. Karena hal itu pula ia mengerti arti ikhlas dalam persahabatan. Ia berkata dalam hati, “Tuhan… semoga Engkau tak enggan menjaga senyum itu agar tetap hadir menghias kesejukkan wajahnya.”

“Kami sangat merindukanmu Mutia, bagaimana keadaanmu?”
“Aku juga… baik. Kalian bagaimana?”
“Seperti yang kau lihat, dua mata, dua telinga, satu hidung dan satu mulut, tangan dan kaki yang tetap dua, masih utuh tanpa bagian dari tubuh kami yang hilang.” Mendengar jawaban Duwi sontak mereka semua tertawa.

“Emmm, ini siapa Mutia?” Tanya Fatikha mengedip-ngedipkan matanya lucu. Pertanyaan yang memang ingin mereka tanyakan sedari awal Mutia datang bersamanya.
“Perkenalkan, ini Harry. Dia kakakku. Tak apakan jika dia ikut bersama kita pagi ini?” Tanya Mutia ragu.
“Kakak?” tanggap Fatikha, Duwi dan Nia bersamaan. Mereka saling menatap sambil menaikan sebelah alisnya.
“Ehemm…” Mutia mengangguk, tersenyum.
“Salam kenal, senang bertemu denganmu Kak…”
“Salam kenal kembali, terima kasih. Aku juga.” Jawab Harry dengan air muka yang ramah.

Iyaahh, Mutia adalah putri tunggal Ibu Fatimah. Itu yang mereka tahu selama ini. Wajar mereka merasa heran. Namun mereka mengenal Mutia anak yang jujur, setiap yang dia katakan pasti ada alasan untuk mempertanggung jawabkan kebenarannya. Jadi mereka segera melupakan masalah itu.
Memeng benar, Harry bukanlah kakak kandung Mutia. Mereka tinggal di bawah atap yang berbeda. Sebenarnya, Harry adalah sahabat Mutia saat masih sekolah. Dia yang menjaga Mutia di perjalanan, juga di sekolah. Setiap kegiatan ekstra dan kembali pulang, dia yang selalu memastikan Mutia sampai di rumah dengan baik. Karena rasa sayangnya, kemudian ia menganggap Mutia sebagai adiknya sendiri. Karena memang ia ingin mempunyai adik perempuan. Begitulah kemudian rasa persaudaraan mereka terjalin semakin kuat hingga hari ini.

“Bagaimana, udah siap semua? Ayo kita berangkat!!” ajak Duwi memulai perjalanan.
“Tentu, ayo berangkat!!” jawab yang lain serentak.

Alam sekitar adalah sahabat yang tidak pernah berdusta. Mereka selalu memberi banyak cerita berjuta keindahan. Panorama alam perbukitan hijau seperti sebuah nyanyian yang mengalun. Berjalan di antara pematang sawah, menerabas celah-celah pohon dan melewati jalan setapak yang kadang membutuhkan sebuah kekompakkan membuat kebersamaan di antara mereka terikat semakin erat. Kebersamaan, berbagi. Itu yang mereka suka dari banyak perjalanan yang mereka arungi. Bersama terpanggang terik matahari serta menggigil ditelan dingin hujan yang menusuk tulang, adalah bagian dari perjalanan yang mengantar mereka sampai tujuan. Menyapa ilalang, melambaikan tangan pada daun terbang, dan menitipkan pesan pada pesawat kertas untuk disampaikan pada Tuhan, selayak sebuah ritual dalam setiap perjalanan mereka. Alasan klasik mengapa kelompok sahabat itu gemar bepergian bersama. Sederhana bukan? Tapi di dalam kesederhanaan itulah terselip sebuah keistimewaan, kebahagiaan yang hakiki.

Namun tidak seperti biasanya, sahabat-sahabat Mutia menemukan sesuatu yang ganjil di perjalanan kali ini. Mutia tidak lagi seperti dulu. Jalannya kini pelan, bahkan beberapa kali terjatuh. Wajah Mutia pucat dan terlihat amat lelah.

“Hati-hati Mutia!” pekik Febi yang berjalan di belakang Mutia.
“Aku tidak papa…”
“Apa kau kelelahan? sebaiknya kita istirahat dulu.”
“Iya… mungkin aku butuh istirahat sebentar.”

Harry yang sejak awal berjalan di samping Mutia memapah Mutia menepi dan membantunya duduk di bawah sebuah pohon maoni yang cukup besar. Ia mengeluarkan sebotol air minum dari dalam tasnya dan memberikannya pada Mutia.
Sahabat-sahabat Mutia duduk di kanan kiri mengelilinginya. Mereka semua panik namun juga heran. Mutia yang dulu paling bersemangat dalam urusan berjalan sekarang tak berdaya. Masih teringat jelas dalam memory mereka bagaimana Mutia yang kalem dan pendiam berubah menjadi periang dan tidak bisa diam jika sudah berjalan bersama seperti sekarang. Kebiasaannya jail di jalan, mendorong atau menarik tangan sahabatnya jika ada yang tidak semangat atau mulai lelah sambil meneriakkan kata-kata iseng yang berujung membuat ia dikejar-kejar sambil dipukul buku. Atau hobi absurdnya memakan tumbuhan atau buah aneh yang ditemukannya di jalan, lalu memaksa anak lain memakannya. Awalnya itu menjengkelkan, tapi lama-kelamaan membuat yang lain ketagihan. Sehingga mereka menjuluki Mutia ‘GADIS HUTAN’. Pula dengan mottonya ‘JAIL ITU ASIK’ yang selalu membuat sahabat-sahabatnya hipertensi dadakan. Itulah hal-hal yang mereka rindukan dari diri Mutia. Tapi sekarang, ada apa sebenarnya? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak mereka masing-masing. Akhirnya Nia mencoba bertanya,
“Mutia, apa kau sedang sakit?”
Mutia menjawab dengan tersenyum, namun air mukanya tidak dapat berbohong jika ia menyembunyikan sesuatu. Teman-temannya tahu itu.
“Aku tidak papa teman-teman. Maaf membuat kalian khawatir.”
“Apa tidak lebih baik kita kembali saja? Perjalanannya belum terlalu jauh.”
“Tidak. Aku ingin sampai di sana sebelum siang, bisa, kan?”
“Kau yakin akan melanjutkan perjalanan ini?”
“Tentu. Bukankah dulu kita selalu sampai?” ia tersenyum dan melihat kakaknya. Harry yang telah mengerti dengan baik keadaan diri Mutia tersenyum menyambut pandangan Mutia jatuh ke arahnya. Namun Mutia jelas melihat mata Harry yang memancarkan nada khawatir yang amat. Ia mengangguk memberikan isyarat pada kakaknya bahwa ia akan baik-baik saja.

Desah nafas yang sesak dan pegal yang menggigit kaki mereka seolah terbang bersama angin ketika matahari memuncak bedug doa berkumandang. Alam yang tersenyum membayar lelah mereka berjalan setapak demi setapak merangkul kebersamaan yang hangat.
“Inilah persahabatan!! Inilah kebahagiaan!!”
“Wonderfull!!”
“Amazing!!!”
“Marvelous!!!” sorak sorai anak remaja yang merasa menang menemukan tujuan perjalanan panjangnya terdengar begitu riuh di telinga Mutia. Ia tersenyum dalam rengkuhan rasa sakit yang memeluknya begitu erat. Wajahnya pias, nafasnya tersengal. Pucuk-pucuk pinus yang menari dengan lincahnya, teriring senandung merdu alunan daun-daun pohon tertiup angin. Gemuruh air-air jernih yang berkejaran jatuh dari atas tebing di bukit seberang terlihat di kanan kiri dari bukit ini. Di bawah sana, jalan-jalan desa yang nampak seperti garis-garis kaligrafi berlatarkan sawah yang tersiram tumpahnya padi yang mulai menguning menjadi lukisan alam yang begitu asri sepanjang mata memandang.

Mutia duduk di bawah sebuah pohon pinus di bibir jurang. Harry mengikutinya duduk di samping kanan. Sementara sahabat-sahabat Mutia yang lain sibuk dengan gaya dan kameranya sendiri-sendiri. Mutia menatap jauh ke arah hamparan hijau yang menyelimuti pertiwi. Ia tersenyum dan mengucap,
“Kakak… di sinilah aku menemukan kebahagiaanku. Karna semua ini, aku berjalan ke sini. Bukan tempatnya, tapi seluruh pelajaran yang terselip dalam setiap perjalanannya.” Harry hanya tersenyum, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun karena ia tak ingin membuat kristal-kristal lembut yang tengah bermain di bola mata Mutia jatuh karena ia mengucapkan kata yang salah.

Udara pegunungan yang sejuk menyeka kulit. Di saat yang sama Harry merasa, kata-kata yang keluar dari bibir mungil adiknya lebih sejuk dari angin yang menyapu dirinya. Ketika Mutia berucap:
“Setiap ingin tercipta dari sebuah ke-tidakmiliki-an yang menjelma menjadi satu motif yang mendorong manusia berbuat agar ke-tidakmiliki-an itu dapat ia miliki. Namun Tuhan menciptakan manusia dengan ke-tidaksama-an yang abadi. Satu manusia tidak akan bisa menjadi manusia lain. Dengan se-sama-nya, tetap kesamaan itu akan berbeda. Karena setiap manusia terlahir dengan semua yang tidak dimiliki manusia lain. Satu yang harus kita tahu, Tuhan menitipkan kekuatan di setiap kelemahan. Menitipkan kelebihan di setiap kekurangan. Menjanjikan harapan dalam setiap keputus asaan. Pergunakan kelebihan itu untuk menutup kekurangan kita, dan jika kau berhasil, mungkin kau akan merasa… betapa sempurnanya dirimu”

Mutia tertunduk selepas mengucapkan kata-kata itu. Matanya melihat sekumpulan bunga pinus berserakan di lereng jurang. Ia bangkit dan berjalan tertatih ke arah bunga itu. Merangkak menuruni lereng. Dengan susah payah diraihnya kemudian berjalan kembali pada kakaknya membawa segenggam bunga pinus. Ia duduk dan mengulurkan sebuah bunga pada kakaknya.

“Ini bunga abadi, Kak… satu bunga yang takkan pernah layu sampai kapan pun. InsyaAllah… aku mengambilnya dengan tanganku sendiri, dan memberikannya pada kakak juga dengan tangan ku sendiri. Aku ingin masa-masa ini, persahabatan ini, dan juga kasih sayang ini, abadi seperti bunga ini … ?”
Harry terdiam mendengar kata-kata yang begitu dalam lepas dari bibir Mutia. Ia memeluk adiknya dan berkata, “Pasti Mutia…”



“Sudah foto-fotonya?”
“Emmm, pemandangannya luar biasa indah!”
“Kemarilah teman-teman, aku ingin memberi kalian sesuatu.”
“Iyakah? Apa itu?”
Mutia tak menjawab. Ia hanya menyodorkan segenggam bunga pinus yang diambilnya tadi. Memberikannya satu demi satu pada ke tujuh sahabatnya dan menyisakan satu untuknya.
“Aku ingin persahabatan kita abadi seperti bunga ini. Tidak pernah layu, sampai kapan pun”

Mutia tersenyum dan menatap wajah sahabat-sahabatnya. Sahabat Mutia tak berkata apapun, hanya tetesan air mata yang mereka biarkan bicara betapa mereka beruntung punya sahabat seorang Mutia, dan hati mereka menjawab, “itu pasti Mutia.”
Selayak telletubbies mereka semua berpelukan. Dalam pelukan sahabat-sahabatnya Mutia merasakan kedamaian, ia tersenyum.

Betapa terkejut semua ketika melepas pelukannya dan mendapati darah segar keluar dari hidung Mutia. Ia telah tak sadarkan diri. Sontak mereka semua berteriak dan mencoba membangunkan Mutia, namun mata Mutia tak jua mau terbuka. Beruntung rumah Andi tak terlalu jauh dari tempat itu, dia teman Nia. Segera Harry meminjam sepeda motor Andi. Dengan bantuan Nia menjaga Mutia di belakang, Harry segera melesat ke rumah sakit. Warga setempat sempat panik akan kejadian tersebut, kemudian sahabat-sahabat Mutia meminta tolong pada warga untuk mengantar mereka menyusul. Dengan senang hati warga menolong.

Ibu, Harry dan sahabat-sahabat Mutia tak kuasa menahan tangis saat dokter yang memeriksa Mutia mengatakan bahwa Mutia tak bisa diselamatkan karna kanker otak yang dideritanya sudah menyebar ke seluruh tubuh dan menyerang jantungnya. Sontak semua sahabat Mutia menangis sejadi-jadinya. Mereka tak percaya Mutia akan pergi secepat ini. Mereka tak percaya bahwa perjalanan kali ini adalah perjalanan terakhir mereka bersama Mutia. Terlebih mereka sama sekali tidak tahu jika Mutia sakit.

Ibu terdiam, ia tak mampu menahan kesedihannya yang mendalam. Seketika wajah ibu pias, pundaknya lemas. Ia baru mengerti arti perasaannya yang tidak nyaman sejak pagi adalah alamat kepergian Mutia untuk selamanya.
Harry menundukkan kepala saat kalimat itu sampai di telinganya. Ia beranjak dari ruang itu. Keseimbangannya hancur, jalannya limbung. Kepergian adiknya merupakan suatu pukulan yang teramat berat baginya. Detik-detik nestapa, kepedihan merengkuh erat jiwanya. Biru langit yang tersenyum telah berlalu. Panas tropika tak kuasa mengeringkan air sungai yang mengalir di pipinya. Bermalam-malam ia mencoba membuat dirinya mengerti akan saat ini. Namun ia tak pernah mampu membuat dirinya siap untuk mengahadapi tibanya saat ini.

“Jadi, sampai disinilah aku mengantarmu Mutia…
Tidurlah dengan tenang…
Jadilah Mutiara kami yang abadi. Kami menyayangimu.
Selamat jalan Mutia…
Selamat tinggal adikku sayang…”

Cerpen Karangan: Nisa Syahrowati
Facebook: facebook.com/sangmentari17
Happy Birthday Nadia

Happy Birthday Nadia

Judul Cerpen Happy Birthday Nadia

KRINGGGG!!!
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku, Fika, dan Ghani berjalan beriringan menuju kantin. “Eh, temen-temen, besok ultahnya Nadia kan?” Ucap Ghani mengawali pembicaraan. Aku dan Fika pun baru sadar bahwa sebentar lagi Nadia akan berulang tahun. “Benar juga. Apa ya yang harus kita lakukan?” Balasku. Fika dan Ghani hanya diam. Mereka belum punya ide untuk merayakan ulang tahun Nadia. Suasana hening beberapa saat. “Bagaimana kalau kita mengerjai Nadia? Sekali-kali lah.” Ucap Fika memecah keheningan. “Tapi, aku kasihan sama Nadia kalau kita mengerjainya.” Balas Ghani ekspresi kurang setuju. Fika hanya tersenyum, dan berbisik di telinga Ghani. Ghani pun tersenyum mendengar rencana Fika tersebut. Aku hanya menatap heran, sebagai kode untuk Fika supaya memberitahuku tentang rencananya. Fika langsung berbisik kepadaku. Aku pun mengangguk tanda mengerti.
“Jadi, kapan kita akan melaksanakan rencana itu?” Tanyaku. “Mulai hari ini saja.” Usul Ghani. Aku dan Fika pun hanya mengangguk.

Tiba-tiba Nadia datang dengan ekspresi bahagia. Kamu pun saling bertatapan dan segera melaksanakan rencana yang tadi disusun oleh Fika. “Eh, Fik, gimana kondisi ayah kamu?” Tanya ku tanpa mempedulikan Nadia yang berdiri di dekatku. “Alhamdulillah, Ra, sudah lebih mendingan.” Nadia yang merasa tidak dihiraukan pun pergi meninggalkan kami dengan wajah cemberut.

Sepulang sekolah kami langsung pergi ke rumah masing masing. Sesampainya di rumah, aku langsung membuka celenganku untuk mengambil beberapa uang untuk membeli kado ulang tahun untuk Nadia. Aku berpikir untuk memberikan sebuah boneka. Aku berpamitan dengan Ibu, untuk pergi sebentar. Ibu pun mengizinkan. Aku pergi ke toko boneka dekat SD tempat aku bersekolah. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari rumahku. Aku berkeliling mencari boneka yang cocok untuk Nadia. Sampai aku menemukan boneka beruang yang lucu. Aku segera mengambilnya dan membayarnya di kasir. Setelah mendapatkan barang yang aku inginkan, aku pergi dari sana dan segera pulang.

Keesokan harinya, aku berangkat sekolah pagi-pagi untuk menyusun rencana lanjutan. Di dalam kelas ternyata Fika dan Ghani sudah datang. Kami pun berkumpul dan mengatur rencana. Hingga akhirnya, Nadia datang, dan tersenyum ramah kepada kami. Kami tidak mengindahkan senyuman nya pada kami. Nadia hanya bersikap biasa saja saat mendapati kamu yang mengabaikannya. Sebenarnya, Nadia hendak duduk di sampingku, namun karena aku tidak mengajak dia bicara dia melewatiku dan BRAKK!! Nadia jatuh, dia tampak kesakitan karena dengan sengaja aku menyandung kaki Nadia. Nadia berdiri dan berkata “Kamu sengaja menyandung ku, ya?” “Ah, tidak, kamu nya aja yang tidak hati-hati!” Mendengar jawabanku itu, mata Nadia langsung berkaca-kaca, dan mengatupkan kedua telapak tangannya di wajahnya.

Dengan sedikit merasa canggung, kami pun menyanyikan lagu Happy Birthday. “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Nadia!” Kamu bernyanyi sambil bertepuk tangan. “Terima kasih teman-teman, kalian memang sahabat terbaik yang aku miliki!” Ucap Nadia bersamaan dengan mengusap air matanya yang jatuh karena terharu dan juga sakit efek jatuh tadi. Kami pun saling berpelukan. Setelah berpelukan cukup lama, aku, Fika, dan Ghani memberikan Nadia kado ulang tahun yang kamu bingkus dengan penuh kasih sayang.

Tamat.

Cerpen Karangan: Sikna Aurel Rianditha
Facebook: Sikna Aurel
You’re My Choice

You’re My Choice

Judul Cerpen You’re My Choice

“Kita hentikan semuanya sampai di sini” ucap seorang pria dengan suara berat. Pria itu mencoba menatap kedua mata perempuan yang ada di hadapannya, ia mencoba mencari kesedihan dari perempuan itu namun benar saja dugaannya, bahwa perempuan yang ada di hadapannya ini tidak merasa sedih sama sekali.
“Baiklah jika itu yang kau inginkan Kevin, ayo kita akhiri hubungan ini” balas perempuan cantik itu dengan tenang.
“Benar saja dugaanku, kau tidak pernah mencintaiku sama sekali. Thalia kita sudah bersama selama 2 tahun apa kau tak pernah mencintaiku sama sekali?”
“Kevin, kenapa kau mengajukan pertanyaan seperti itu? Kau sudah mengakhiri hubungan kita jadi pertanyaanmu sekarang sudah tidak perlu aku jawab” perempuan cantik benama Thalia itu pun pergi meninggalkan mantan kekasihnya Kevin yang masih duduk tenang di dalam cafe. Kevin menatap jendela yang ada di depannya dan melihat Thalia yang berjalan semakin jauh sampai tubuh cantiknya sudah tidak terlihat lagi.

Thalia terbangun dari tidurnya, ia menatap langit-langit dinding kamarnya. Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Ia masih tak percaya jika kemarin ia dan Kevin telah mengakhiri hubungannya, entah harus senang atau sedih akan putusnya mereka tapi Thalia merasa sedikit lega karena ia kini tidak akan terikat lagi dengan Kevin yang memang senang sekali bermain dengan perempuan. Thalia beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap pergi kuliah.
Setelah selesai bersiap-siap ia langsung turun ke bawah dan menemuai kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di meja makan. Ia tersenyum ramah berusaha menyembunyikan semua permasalahannya dari kedua orangtuanya.

“Selamat pagi bunda, selamat pagi ayah”
“Selamat pagi juga sayang” balas Ayah Thalia seraya mengecup kening putri kesayangannya. Thalia tersenyum lalu duduk di meja makan dan menikmati sarapan paginya.

“Thaliaaaaa… ayo kita sudah terlambat” terdengar suara teriakan seorang pria di luar rumah Thalia. Thalia yang menyadari ada seseorang yang menyerukan namanya pun segera bergegas dan pamit ke kedua orangtuanya. Thalia berlarian ke luar rumah dan sesampainya di luar rumah ia melihat seorang pria tampan sedang asik memainkan handphonenya. Thalia menatap sinis ke pria tersebut lalu berjalan pelan mendekatinya.
“Apa kau tidak bisa bersabar sebentar? Aku baru saja memakan sarapanku tapi teriakkanmu itu membuat nafsu sarapanku hilang”.
“Kita sudah terlambat, kau tahu kan kita sekarang ada praktek. Cepatlah masuk mobil”.
Thalia pun masuk mobil dengan raut wajah yang begitu kesal, lalu ia melirik sekilas pria yang sejak tadi mengomelinya. Pria itu adalah Nathan, sahabat Thalia. Mereka sudah bersahabat sejak masih duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka seringkali bertengkar, mendebatkan masalah sepele yang sebenarnya masih bisa diselesaikan secara diskusi. Sekalipun sering bertengkar tapi tak membuat mereka untuk saling berjauhan, mereka juga sadar jika mereka memang saling membutuhkan satu sama lain.

“Ku dengar kau putus dengan Kevin tapi kenapa aku tidak melihat wajah sedihmu?”
“Hei Nathan, kenapa aku harus bersedih kalau putus ya sudah putus saja”
“Kau ini ya memang benar-benar aneh, saat perempuan seusiamu putus cinta pasti mereka akan bersedih atau seenggaknya galaulah, terus ngerengek minta balikan”
Nathan dan Thalia pun tertawa bersama di dalam mobil. Thalia tahu bahwa saat bersama Nathan tidak akan ada kesedihan dalam dirinya, karena Nathan pandai sekali membuatnya tertawa lepas dan melupakan kesedihannya. Thalia bukannya tidak sedih akan berakhirnya hubungannya bersama Kevin tapi Thalia juga tak bisa berbohong bahwa selama ini dia tak mencintai Kevin. Thalia menerima Kevin karena saat itu mereka telah dijodohkan oleh kedua orangtua mereka, Thalia tak bisa menolak karena saat itu usia mereka masih muda.

“Sekarang kau akan bagaimana Thalia? Jika kau tidak sedih sama sekali, apa mungkin kau tak pernah mencintai Kevin?”
“Tepat sekali, aku tidak pernah mencintainya sama sekali. Kau juga tahu kan Nathan, aku bersama dia hanya untuk menjalankan perjodohan konyol itu saja. Lagi pula aku sudah mencintai orang lain sejak dulu”
Nathan terkejut mendengar ucapan Thalia. Ia menghentikan mobilnya secara mendadak dan membuat Thalia begitu kaget dan langsung memarahinya dengan spontan. Nathan meminta maaf kepada Thalia karena sudah menghentikan mobil secara mendadak, Thalia pun memaafkan Nathan.

“Lalu siapa pria yang kau cintai itu?”
“Kamu…”
“Jangan bercanda Thalia, aku serius”
“Aku serius Nathan. Aku sudah lama jatuh cinta padamu, tapi aku tak bisa mengatakannya padamu karena saat itu kau masih bersama Tika dan aku masih bersama Kevin”

Nathan menatap sepasang bola mata indah milik Thalia dan mencari kebohongan dari mata Thalia, namun ia tak melihat kebohongan di mata Thalia. Mata Thalia begitu berbinar menandakan bahwa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran. Nathan tak menggubris ucapan Thalia, ia langsung menjalankan kembali mobilnya. Thalia terlihat kecewa atas respon dingin dari Nathan. Thalia menunduk sedih bercampur malu, perasaannya tak mendapatkan balasan apapun dari Nathan.

Suasana mendadak hening, baik Thalia maupun Nathan tak ada yang berbicara satupun. Mereka sibuk berkutik dengan perasaan mereka masing-masing. Sesampainya di kampus, Thalia langsung keluar tanpa berbicara apapun kepada Nathan. Nathan begitu merasa bersalah kepada Thalia karena sudah membuat Thalia begitu sedih.

“Aku tahu, aku dan Kevin sudah bersama selama 2 tahun tapi tetap saja aku tak pernah merasakan getaran apapun terhadapnya. Hatiku begitu sulit untuk mencintainya, karena selama ini hatiku sudah aku berikan semua terhadap Nathan. Aku tahu Kevin begitu sangat menyayangiku dan dia juga bisa mengerti perasaanku tapi aku juga tidak bisa terus berbohong akan perasaanku ini, apa aku salah Jes?” terang Thalia kepada Jessika teman baiknya. Thalia tak bisa lagi menahan rasa sedih, kecewa dan amarahnya saat ini. Kalaupun hubungannya dan Kevin selesai, itu bukan maunya tapi Kevin sendiri yang mengakhirinya.
“Thalia, aku tahu bahwa tak ada perasaan yang bisa dipaksakan. Begitupula dengan perasaanmu terhadap Kevin dan perasaan Nathan terhadapmu. Ini semua adalah masalah hati kalian, biarkan Nathan menemukan sendiri jawabannya. Biarkan dia menata hatinya dulu agar dia juga tahu dia mencintaimu juga atau tidak, berilah dia waktu”.
“Aku takut Jes, karena pengakuanku ini Nathan akan menjauhiku”.
“Thalia…”
“Secara tidak langsung aku sudah membuat jarak antara aku dengannya, aku sangat menyayanginya. Aku tak bisa jauh darinya, aku selalu membutuhkan sosoknya dalam kehidupanku ini”.
Thalia menintikkan air matanya, ia tak bisa membendung lagi tangisnya. Ia sudah terlalu lelah bersikap seolah semuanya baik-baik saja selama ini. Ia tak bisa banyangkan jika pengakuannya ini membuat ia dengan Nathan menjadi berjauhan. Jessika menepuk pelan pundak Thalia seraya berusaha menghibur Thalia. Tanpa disadari Thalia dan Jessika ternyata di luar kelas Nathan mendengarkan percakapan mereka berdua. Nathan menatap sendu Thalia dari kejauhan, hatinya begitu tersiksa karena telah membuat Thalia begitu sedih.
“Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padamu Thalia, maafkan aku karena telah membuatmu begitu sedih” batin Nathan seraya pergi tanpa masuk lebih dulu ke dalam kelas.

Seminggu sudah setelah Thalia mengatakan perasaannya kepada Nathan dan setelah itu pula mereka berdua tak saling bertegur sapa. Thalia mengabaikan panggilan dari Nathan, ia berusaha menjauhi Nathan dengan caranya sendiri. Meski caranya salah tapi ia tetap melakukannya, ia takut dan tak sanggup jika harus berhadapan dengan Nathan terlebih saat itu Nathan mengabaikan perasaannya.

Nathan pergi ke kampus dan saat di koridor kampus ia melihat Thalia yang sedang memandang mading dengan tenangnya. Nathan menghampiri Thalia dan menepuk pelan pundak Thalia. Thalia melirik ke belakang dan melihat Nathan sudah ada di belakangnya. Thalia mencoba pergi namun tangan Nathan menahannya. Tangan Nathan menggenggam lembut tangan Thalia dan berusaha mencegah Thalia untuk pergi.

“Ayo kita bicara” ajak Nathan namun Thalia menolak dengan berusaha melepaskan genggaman tangan Nathan dari tangannya.
“Thalia berikan aku kesempatan untuk memperbaikinnya”.

“Thalia…” teriak seseorang yang menyerukan nama Thalia. Thalia dan Nathan serentak melirik ke sumber suara dan di lihatnya Kevin yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Kevin, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Thalia bingung.
Kevin melirik ke arah tangan Nathan yang sedang menggenggam tangan Thalia lalu tersenyum sinis kepada Nathan. Thalia yang menyadari langsung melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan mereka berdua. Kevin yang sempat ingin berbicara kepada Thalia pun mengurungkan niatnya dan berbalik berbicara kepada Nathan.
“Aku tahu Thalia menyukaimu, tolong jaga dia dan jangan sampai kau menyakitinya. Dia perempuan yang baik dan lugu, aku yakin kamu tahu itu karena kamu sudah berteman lama dengannya”.
Setelah berbicara kepada Nathan, Kevin pun pergi meninggalkan Nathan yang masih mencoba mencerna perkataan Kevin. Nathan meihat Kevin yang semakin jauh dari pandangannya setelah tak terlihat lagi Nathan pergi berlari menuju halaman belakang kampus, tempat favorit Thalia di kampus. Sesampainya di sana Nathan mencoba mencari Thalia, matanya begitu jeli melihat setiap sudut halaman sampai akhirnya ia menemukan Thalia yang sedang duduk merenung dengan kedua heandseat terpasang di telinganya seraya memejamkan matanya.

“Thalia…”.
Thalia membuka matanya dan menatap Nathan yang sedang berdiri di hadapannya. Mata keduanya pun saling berbinar saat bertemu, baik Nathan maupun Thalia begitu gugup karena ini pertama kalinya lagi mereka saling bertatapan setelah seminggu saling menghindar.
“Aku minta maaf untuk semuanya, aku tak bermaksud mengabaikan perasaanmu. Aku hanya…”
“Tidak masalah, kau tidak perlu pusing akan perasaanku padamu. Biarkanlah saja perasaanku ini, kau tidak perlu bertanggungjawab akan perasaanku ini. Ini perasaanku dan kau juga tidak berhak melarangku untuk menyukaimu” ucap Thalia memotong perkataan Nathan.
“Tapi Thalia…” Nathan mencoba menjelaskan namun lagi-lagi Thalia memotong perkataanya.
“Maaf karena aku sudah membuat jarak di antara kita. Aku mencintaimu tapi aku sadar dimana letak hubungan kau dan aku. Kita hanya sebatas sahabat itu saja pun sudah cukup”.
Thalia pergi meninggalkan Nathan tanpa mendengar penjalasan dari Nathan. Nathan menghela nafasnya lalu menghembuskannya, ia tak percaya sikap keras kepala Thalia ia gunakan juga dalam masalah ini. Nathan mengejar Thalia lalu menarik tangan Thalia dan membuat Thalia jatuh dalam pelukannya.

“Kevin lebih mengerti kamu dibandingkan aku, dia tahu apa yang menjadi keinginanmu tapi tidak dengan aku. Maaf karena aku tidak terlalu memperhatikanmu selama ini, aku terlalu cemburu kepadamu dan Kevin. Aku sangat mencintaimu sejak kita masih SMP, aku mendekatimu dengan label sahabat tapi tidak dengan hatiku”
“Jangan bicara omong kosong padaku, aku tahu kau tak pernah mencintaiku. Berhenti berpura-pura, aku mohon Nathan” Thalia menitikkan air matanya, ia melepaskan pelukan Nathan dan menatap tajam ke arah Nathan.
“Jangan berbohong padaku dengan mengatakan kau mencintaiku. Jika kau tak bisa membalas perasaanku cukup abaikan saja aku” lanjut Thalia.
Nathan meraih wajah Thalia dan menghapus air mata Thalia menggunakan jari tangannya. Thalia menatap kembali Nathan tapi kali ini tatapannya begitu sendu bahkan ia tak bisa lagi menangis. Sentuhan lembut dari Nathan membuatnya begitu tenang, ia seakan kembali menemukan sosok Nathan yang selama ini ia rindukan.

“Boleh aku memelukmu?” tanya Nathan dan Thalia menganggukan kepalanya. Nathan kembali menarik Thalia dalam pelukannya. Ia memeluk Thalia begitu erat sehingga membuat Thalia begitu damai dalam pelukan Nathan.
“Sekarang kau diam, biarkan kali ini aku yang berbicara,” ucap Nathan.
“Thalia, saat kau mengatakan kau menyayangiku kepada Jessika, kau bahkan tidak tahu bahwa saat pertama bertemu denganmu aku sudah mulai jatuh cinta padamu. Saat kau mengatakan membutuhkanku dan tak bisa hidup tanpaku, kau juga tidak tahu bahwa aku sudah menjadikanmu sebagian dari hidupku. Aku sudah memberimu duniaku sejak dulu tapi hanya saja aku tak bisa mengatakannya padamu. Maafkan aku, aku terlambat memahami semuanya” jelas Nathan.

Thalia tersenyum mendengar penjelasan dari Nathan, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ia tahu bahwa Nathan pria yang ia cintai juga mencintainya. Thalia membalas pelukan Nathan dengan begitu erat dan mendengar detak jantung Nathan yang berdebar sama sepertinya.

“Kevin memang baik, dia sudah seperti bayanganku tapi dia tak bisa aku anggap lebih dari teman. Aku hanya ingin bersamamu, kamu adalah pelangi untukku dan kamu pilihan hatiku”.
“Nathan, aku sangat mencintaimu” lanjut Thalia.
“Kalau aku pelangi untukmu, maka kamu adalah warna untukku. Karena tanpa warna, pelangi tidak akan pernah ada. Begitupula aku, jika kamu tidak ada aku seperti kehilangan sebagian dari warnaku. Aku juga sangat mencintaimu Thalia”.

Mata Nathan dan Thalia kembali bertemu, kali ini mata keduanya pun menjelaskan betapa bahagianya mereka karena kini semua yang mereka inginkan telah menjadi kenyataan. Cinta yang tumbuh di antara mereka kini sudah bersatu dan membuat persahabatan mereka di dasari atas nama cinta. Nathan mengecup kening Thalia dengan lembut, menandakan bahwa kini mereka telah kembali bersama dalam sebuah ikatan yang bernama cinta.

~ Dan akhirnya cinta pun akan berbicara ketika diam tak bisa menjelaskan semuanya. Tak ada yang salah mencintai sahabat sendiri karena hati tak menentukan dia harus jatuh kepada siapa namun ia tahu harus berkata kepada siapa. Seperti Thalia yang mengatakan bahwa hatinya memilih Nathan sebagai pilihan hidupnya, begitupula dengan Nathan yang menjadikan Thalia sebagian dari hidupnya. ~

Cerpen Karangan: Selvilla Apriani
Facebook: Selvilla Apriani (Rachel Park)
Blog: selvillaapr33.blogspot.co.id
Twitter: @SelvillaApr