Showing posts with label Cerpen Sastra. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Sastra. Show all posts
Andai

Andai

Judul Cerpen Andai

Di malam yang berakabut tebal, tubuhku terbujur kaku di atas kasur apak. Tidak ada lagi kehidupan yang bisa aku perjuangkan. Hanya lentera kecil di sudut kamar yang setiap kali mengingatkanku pada sebuah penyesalan, penyesalan yang mungkin tak terlupakan hingga ku di alam baka. Sahut marut celoteh keluarga dan kerabat yang biasa melebarkan sejengkal rasa gembira, kini pupus ditelan tuli kegelapan hati.

Andai detik ini tak tertulis sebuah takdir di laul mahfud, akan kupinjam pena dari genggaman malaikat tak bersayap. Tintanya yang hitam berkilau bagai mutiara papua menetes kental di atas kertas kosong. kertas kosong yang terbang tak memiliki arah tujuan untuk berhenti di suatu tempat.

Tubuhku semakin melemah karena penyakit yang tak jelas dari mana asal dan penyebabnya, hanya bisa menuding layaknya lalat hijau yang menebar penyakit di setiap lingkungan yang ia hinggapi.

Dari perjalanan kisah aku dipaksa marantau hingga tak kenal lelah. tapi, semua telah hilang menjadi harapan fatamorgana. kini penguasa alam telah memanggil salah satu kelengkapan jasadku. ia memberi pena yang lebih istimewa. pena yang bertintakan jutaan warna. Ia perintahkan diriku yang tiba-tiba segar bugar, layaknya waktu ia rubah seperti sekian masa. masa dimana bujang priangan masih meraja lela di atas gelapnya dunia karena perpecahan negara. ia perintahkan aku tuk tulis “Andai” di kertas yang kotor dan penuh coretan tangan mungil.

Cerpen Karangan: J. Rasta
Facebook: Keceng Da Costa
Lelaki dan Pohon Cemara

Lelaki dan Pohon Cemara

Judul Cerpen Lelaki dan Pohon Cemara

Di bahu jalan terdapat sebatang pohon cemara yang tumbuh rindang. Sudah dua puluh tahun pohon itu menemani Jalan Harapan. Di bawahnya terdapat beberapa bangku yang terbuat dari kayu. Walaupun sudah terlihat tua. Tapi kebanyakan orang selalu menemani bangku itu sambil menghirup udara segar di bawah pohon tersebut
Jika mentari mulai menyembur warna tubuhnya dengan kuning keemasan di ufuk timur. Maka siapapun yang berlalu lalang di jalan Harapan. Pastilah akan melihat sosok sepasang sahabat duduk di bawah pohon cemara.

Wanita itu terlihat sesekali duduk termangu. Menatap tajam di angkasa sore. Kadang-kadang titik kalbunya menetes di pinggiran pipi mulusnya. Orang-orang yang berlalu lalang banyak berfirasat. Kalau wanita itu sedang bertengkar ataupun kecewa dengan pria di sampingnya itu.
Namun apa yang orang-orang terjemahkan tentang pria itu. Ternyata tidaklah benar adanya. Lalu siapa? Adalah orang masa lalunya. Pria yang di sampingnya itu hanyalah sosok sahabat. Dimana mencoba menjelma menjadi sapu tangan untuk menyeka beningan air mata gadis itu.

Dulu Rahmat sempat meminang Aliska untuk menjadi orang yang terahkir dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu kisah mereka kandas di atas luka. Karena pria itu mendua badan dengan wanita lain. Itulah yang membuat gadis berambut pirang ini kecewa.
Kekecewaan membuat dirinya tidak lagi mendamaikan batinnya dengan masa lalunya. Walaupun pernah sekali Rahmat meminta mereka untuk saling mencintai seperti dulu lagi. Baginya sosok mantan hanyalah kepingan kaca yang tak mungkin disentuhnya lagi.

Semenjak saat itulah Aliska memilih Roy untuk menjadi teman curhatnya. Setiap pertemuan gadis itu selalu memunculkan nama Rahmat sebagai sosok yang amat dibencinya. Tiada bosannya gadis tersebut memuntahkan kisah pendihnya. Walaupun yang dia kisahkan seputar masalah cintanya yang gagal itu.
“Aku benci dengan pria sepertinya, aku tertikam dengan cintanya yang kian hari semakin tajam. Tanpa kusadari membuatku tersiksa dalam luka!” Sahutnya dengan nada emosi. Sambil Roy mengeluarkan secarcik tisu untuknya “Aku yakin suatu saat kau bisa melupakannya” balas pria itu.

Pohon cemara mengibas-ngibas daun-daunnya yang menjuntai bak lidi-lidi kecil. Mungkin saja pohon tua itu sedang menulis rangkaian luka gadis itu yang ditikam oleh dusta. Ehm, dusta yang tak mampu mendamaikan hatinya dengan sang mantan.

Kadang-kadang senyuman manisnya mengukir indah dari wajah Aliska. Roy tampak sedikit legah jika gadis di depan matanya itu tak mengingat sang mantan. Ya, bukan tidak suka dengan kisahnya yang terkadang menguras air mata. Melainkan dia ingin sekali wanita itu bisa melupakan kepedihan masa lalunya.

Senyuman itu hanya bertahan beberapa jam saja. Jika tatapannya mulai kosong dan menikam bentangan angkasa yang berwarna keemasan. Maka nama Rahmat akan terucap olehnya. Dan disusul dengan titikan air mata yang mulai menodai kecantikan wajahnya.

Entah sampai kapan Aliska berhenti untuk bercerita dan mengingat kisah pedihnya. Padahal mereka sudah berpisah selama enam bulan yang lalu. Tekad utamanya setelah berkisah tentang masa lalunya dengan Roy. Dia bisa melupakan sang mantanya itu.

“Lis, sampai kapan kau begini terus?” tanya Roy dengan mimik wajah separuh letih. Letih melihat episode kisah Aliska tak kunjung berending.
“Sampai aku bisa mencintai laki-laki lain” jelas Aliska.
“Mungkin dengan jatuh cinta lagi kau bisa mengobati lukamu” sahut Roy itu.

Suatu petang, angin berhembus kencang. juntain daun cemara gugur dan berserakan di bahu jalan Harapan. Sebentar lagi bumi akan segera menangis. Roy dan Aliska duduk berhadapan. Pria itu hendak mengungkapkan kata. Kata yang tersimpan setahun yang lalu. Dimana hendak diungkapnya. Tetapi Aliska pada waktu itu sudah berpunya kasih, yakni Rahmat.
Roy memang pernah mencintai gadis itu dalam diam. Walaupun dia tahu Aliska adalah milik Rahmat. Ahkirnya pria itu mencoba melupakan gadis yang sudah berpunya kasih. Pikirnya waktu itu; mustahil kalau dirinya bisa bersama dengannya. Karena cinta mati sudah membungkus raga Aliska.
Dan pada kesempatan ini Roy mencoba menghidupkan kembali benih cinta yang sudah terbuang. Nazar hatinya mencoba untuk menyakinkan bahwa dia juga mencintai Aliska. Jika dirinya bisa bercinta dengan gadis itu, satu niat yang hendak dia lakukan; mencoba untuk mengobati luka dan melupakan Aliska dari sang mantan.

“Lis, aku mencintamu” kalimat itu mengelegar di bawah mendung. Bagai kilat dan gemuruh yang sedang bersahutan di langit gelap dan pekat “Lupakan Rahmat, aku berharap kau bisa mencintaku dan menerimaku” sambungnya.
Dan Aliska lekas memeluk Roy. Dadanya berdegup kencang. Pikirannya masih teringat kata-kata segar sepekan lalu. Dimana dia sempat berkata “Sampai aku bisa mencintai laki-laki lain”. Mungkin inilah laki-laki itu. Laki-laki yang sedang berada dalam pelukannya.

Satu, dua, tiga dan sampai hari ketujuh. Roy merasa legah dimana Rahmat tak lagi hadir di bibir Aliska semenjak mereka berpacaran. Kali ini benar katanya “Mungkin dengan jatuh cinta lagi kau bisa mengobati lukamu”. Jiwanya menjadi obat yang mujarab. Dimana gadis itu seolah siuman dari luka yang pernah mencabik hatinya.
Jiwaku bertahan sebentar saja menjadi obatmu. Berlalunya waktu beningan kalbu menitik kembali dan menodai lembutnya pipi mulusmu. Dan itulah kalimat yang bersenandung di dalam jiwa Roy.
Nama Rahmat hanya membisu di bibir Aliska beberapa minggu saja. Setelah itu gadis tersebut pasti menitikan air matanya lagi. Kemudian mendekap di dalam pelukan Roy.

Entahlah, sampai kapan Aliska berhenti bercerita tentang Rahmat. Padahal Roy sangat berharap dirinya mampu menjadi pelangi selepas hujan. Tapi mungkin kadar jiwanya sebagai obat sudah kadaluarsa. Dan membuat gadis berambut pirang itu memilih untuk merindui luka lama. Ketimbang merindukan kehadirannya sebagai kekasih.

Roy menatap sedih di langit sore. Bukan dengan sepasang mata. Tapi menatap dengan kepingan hatinya. Mungkin Rahmat terlalu istimewa, sehingga Aliska sangat merinduinya. Tanpa tahu itu sangat mencabik hati Roy.
Berat bibir hendak berkata. Memilih untuk berkecamuk dalam jiwa yang kosong tanpa ada harapan. Dan mulailah dia bertanya dengan pengharapan itu “sampai kapan wanita ini berhenti untuk mengingat sang mantan?”

Ahkir-ahkir ini wajah Roy terlihat berubah disetiap pertemuan mereka. Sehingga Sontak mengundang tanya dari Aliska “Roy kau kenapa? Berceritalah kepadaku sebelum aku ingin mencurati kejamnya Rahmat yang melukaiku”
Apa yang harus dijelaskan oleh Roy? Sedangkan Aliska tetap saja tak bosannya membahas tentang mantannya itu dalam air matanya. Sepertinya sudah latah bibirnya dengan kalimat R A H M A T.
Dan kali ini Roy hanya terdiam. Menatap dengan senyum sambil menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat semuanya akan baik-baik saja. Memang dia harus berbohong sore itu. Tak merangkai kata untuk menjelaskan kalau dia sudah letih hanya untuk mendengar kisah asmara Aliska yang gagal itu. Dalam benaknya “Cobalah Aliska kau bercerita tentang masa depan hubungan kita yang baru seumur jagung ini. Tapi entahlahh…”

Aliska duduk menyendiri di bawah pohon cemara. Dalam empat hari berturut-turut Roy tiada datang menemaninya. Sudah beberapa kali dia coba menghubungi pria itu. Tapi dirinya tidak pernah mendapat jawaban dari kekasihnya itu.
Tampak gelisah mulai terpancar di rona wajahnya. Mungkin saja nama Rahmat sudah penuh dibenaknya. Karena Roy tak kunjung datang. Kepada siapa nama dan kisah pedihnya itu hendak dimuntahkannya lagi? Soalnya hanya kekasihnyalah yang paling setia mendengar. Walaupun terkadang juga merasa letih bercampur sedih dan kecewa.

Seorang pria berbaju orange membawa sepucuk surat. Setelah menerima surat itu, petugas kantor pos pun berlalu di hadapannya. Mulailah Aliska membuka surat itu. Sambil dia duduk menatap ke luar dimana jendelanya sedikit terbuka. Sehingga pada saat bersamaan angin yang berhembus sepoi-sepoi menyentuh kulit mulus dan rambut pirangnya itu.
Setelah membaca, kembali Aliska merelakan air matanya jatuh terurai dan menyentuh kertas itu. Surat itu kiriman dari Roy sang kekasih. Pria itu harus pergi ke luar kota. Sempat dia berkata pamit dari rangkaian tulis tangannya itu; kalau dia tidak akan pernah kembali. kemudian meminta Aliska mencari pria yang mampu mengobati dan melupakannya dari sang mantan.

Roy pergi dengan sebuah alasan. Seperti dia datang mempersembahan hatinya untuk Aliska dengan satu alasan. Agar gadis yang dicintainya itu bisa luput dari masa lalunya. Tapi waktu yang singkat mulai menyadarinya. Bahwa ketika cinta dan alasan itu tidak bisa berjalan searah, maka biarlah dirinya pergi. Karena alasan yang selalu diingin tidak terkabul. Buktinya Aliska masih saja mengurus masalalunya dan membahas Rahmat dengan air matanya di hadapan Roy.
Barulah Aliska menyadari dengan situasi yang terlanjur tak bisa diubahnya. Seorang yang benar-benar mencintainya pergi dari hidupnya. Dia telah kehilangan orang yang berharga. Karena telah menghabiskan waktu membahas masalalunya. Seolah dirinya berpikir masalalunya itu bisa diubah jalan ceritnya.

Kini tinggalah Aliska berdiri di seberang jalan sambil menatap dengan mata bersimbah kalbu. Pohon cemara yang konon tempat dia bersingah untuk berkisah duka di hadapan Roy. Kini harus ditembang para pekerja jalan. Karena pemerintah setempat ingin memperluas ruas jalan Harapan.

Roy dan pohon cemara itu hilang dalam sekejap. Jika pohon cemara itu tumbang karena pelebaran jalan Harapan. Maka lelaki itu pergi karena terusik dengan masa lalu Aliska. Yang mana selalu hadir di bibirnya. Tapi keduan-duanya memiliki sama arti. Bahwa pohon cemara dan lelaki itu sama-sama hilang di hadapan Aliska.

The End.

Cerpen Karangan: Yohanes Tuba
Facebook: Yohanes Tuba Matarau
Senja di Tepian Pantai

Senja di Tepian Pantai

Judul Cerpen Senja di Tepian Pantai

Ari dan Adit duduk di sana, bertolak dengan datangnya ombak pasang yang bergulung-gulung menyentuh kaki-kaki mereka, menjebak pasir di sela jari-jarinya. Keduanya menatap bena dalam kebisuan, tercekik kecanggungan dan terjebak sejumput pertanyaan.

Mereka lihat perahu-perahu yang mengambang serupa siluet, terus menjauh dan menyisakan titik semu. Kekosongan mata itu juga tertuju pada nelayan yang mendorong pinisi lalu naik ke atas perahu kayu yang hilang keseimbangan sedetik. Bunyi motor tempel di punca mendesing, merobohkan keindahan suara pantai. Para nelayan bersarung yang urung melaut pilih kembali, agak sangsi dengan cuaca sore itu. Adapun nelayan lainnya yang memasang sirap dan dek, juga membuat pasa pada perahu-perahu setengah jadi. Ari dan Adit ingat masa lalu, saat tak sengaja tidur di atas geladak dengan satu nahkoda bertubuh sintal, tiba di tengah laut dalam kondisi terombang-ambing ditubruk ombak. Saat itu Adit tak kuat, dia muntah kuning setelah rasa mual menjalajahi perut sampai tenggorokan. Demi mengurangi kesengsaraan itu, Ari memberinya hati ikan kaci-kaci.

“Jadi, kau tidak membual akan berangkat ke sana? melewati laut ini?” wajah Ari menunjuk luasnya lautan yang tanpa ujung. Seperti garis semu di mana matahari mulai merangkak untuk sembunyi.
Adit mengangguk. “Esok, aku akan mengarungi langit dan melihat samudera dari atas sana.”
“Dulu kau pernah mabuk laut, kau tahu jarak teluk ke tengah hanya sepelemparan batu? lalu bagaimana kau akan tenang duduk di dalam burung besi selama 17 jam?”
Senyum Adit terkulum gugup. “Nanti, setelah aku mencobanya, akan kuberitahu jawabannya.”

Mereka kembali membisu, menatapi biasan larik cahaya matahari yang oranye, menjalar di permukaan air laut dengan riaknya yang tak henti-henti. Bau amis menguap di udara, membelai lubang hidung lalu membungkus beberapa aroma. Sekelompok rajungan mulai mengungsi, undur-undur mencari teritori teraman lalu tubuhnya melempas ke dalam pasir, kepiting merah merayap di batang-batang pohon kelapa yang sedang menari-nari. Di angkasa, Trinil sedang membentangkan sayap mereka, sama besarnya dengan bentuk pesawat nun jauh di sana. Segala pemandangan di sana memang anugerah, tapi entah mengapa Ari merasa sadah.

Apa pun yang dilihat mereka saat dewasa akan sangat berbeda dengan segala sudut pandang sewaktu kecil dulu. Saat senja, duduk di tepian pantai sambil membakar belacak di atas serabut kelapa adalah hal yang membuat masa kecil mereka bahagia. Lalu sambil menatapi keelokan sore hari, mereka bakal bercerita, menebak-nebak bagaimana Sir. Thomas Stamford Raffles bisa terpesona akan keeksotisan pulau jawa. Mereka juga kerap membacakan puisi Jalaludin Rumi. Kala matahari mulai menerungkup dan langit pekat membentang, Ari akan membaurkan pasir ke atas arang sisa pembakaran, sementara Adit memanggul ikan-ikan sebesar kelingking. Lalu mereka akan meninggalkan satu jejak di sana: sebuah kebersamaan.

Dua lengan Ari menopang tubuhnya yang baru bergeming setelah beberapa saat membatu. “Kenapa harus Belanda, kau tidak tahu kalau negara ini pernah dijajah olehnya? memalukan saja.”
Senyum sungging Adit menggelap di hari yang mulai pekat. “Kau pernah merasa malu, belajar pada seseorang yang pernah kau musuhi?”
Sedetik pandangan mereka beradu. “Harus kupertimbangkan dulu, siapa musuhku itu. Kalaupun hubungan kami tak harmonis, apabila dia lebih unggul dan punya wawasan jauh di atasku, maka mau tak mau aku perlu menghilangankan ego sedikit untuk belajar ilmunya.”
Bibir Adit mengulas senyum tak biasa. “Kau sudah tahu jawabannya kalau begitu.”
Mereka diam lagi. Gemuruh ombak seolah menghantam perasaan masing-masing, lantas menenggelamkan kenangan-kenangan masa lalu.

Adit menggenggam pasir pantai, lalu membaurkannya, menggenggam lagi, sampai akhirnya menepuk-nepuk tangan, kemudian ia tumpukan di kedua lutut.
“Kelak, saat aku sampai di sana, kau juga akan termotivasi supaya bisa mencoba melihat pantai ini di balik gumpalan awan.”
Sekali lagi Ari menunduk, tak kuasa memandangi apapun di hadapannya. Dia terlalu takut, bahkan untuk sekadar bermimpi.
“Mimpiku tak seperti mimpimu, Dit. Kau itu bermimpi sambil berusaha merealisasikannya. Sementara aku, bisa bermimpi saja sudah bersyukur.”
“Ada yang tak kau ketahui Ri, kalau Tuhan tak pernah membatasi mimpi-mimpi hamba-Nya.”
Mata bulat Ari menatap air yang sekali lagi menyentuh kaki, lalu kembali surut dalam sekejap. Sinar oranye matahari memantul di manik hitamnya.
“Tapi aku itu hidup dalam serba keterbatasan. Ekonomi yang terbatas. Kemampuan yang terbatas. Dan dukungan yang juga terbatas. Kau tahu sebatu apa Bapa’ dan secemas apa Ama’? kedua orangtuaku bahkan tidak akan pernah mendukungku.”
“Ada satu hal yang kau lupa, kau harus merendahkan diri meminta dukungan Tuhan. Setelah itu hambatanmu mudah-mudahan bisa kau lewati.”
Keduanya saling tenggelam dalam desau angin, menyapu nyiur yang melambai.

Sebentar lagi Adit akan bertolak meninggalkan daerah pesisir yang bau amis menuju kawasan kota penuh ingar bingar. Bukan di Indonesia, melainkan ia akan melintasi samudera ke negeri Belanda. Seorang anak pesisir yang punya mimpi besar dan berhasil mewujudkannya.
Ari ingat bagaimana perjuangan mereka setelah menangkap ikan, kerang dan beberapa rajungan, lalu menghitungnya di atas birai batu. Dia juga ingat saat memakan ransum bersama di bawah atap rumbia kala hujan mengguyur pantai.
Sungguh, Ari merasa bahagia melihat sahabatnya mampu meraih keinginan yang telah lama diimpikan. Adit bahkan belum mengangkat kakinya dari desa, namun pikiran maupun perasaan Ari didera seribu kekosongan. Mereka pernah melangkah bersama, bermimpi bersama, dan tumbuh bersama. Tapi nyatanya, nasib mereka berbeda. Bukan, bukan karena Adit berasal dari keluarga kaya dan Ari hanya dilahirkan dari keluarga biasa. Ini semua karena usaha dan tekad serta dukungan dari orangtua yang belum berhasil ia rengkuh. Selain kesempatan yang telah digariskan Tuhan.
Benar kata Adit kalau Tuhan tak akan pernah membatasi mimpi ia sebagai seorang hamba. Semua di dunia tak ada yang tak mungkin.

“Besok, kau berangkat jam berapa?” tanya Ari yang kini mulai merebahkan diri usai melemparkan cangkang kosong, meluruskan kakinya, lalu menatap ke warna yang membias di langit senja.
“Jam sepuluh. Kau berniat mengantarku, Ri?” Adit berceloteh sambil menyenggol pinggangnya.
“Tidak. Aku cuma ingin memastikan. Sepertinya kau juga sudah hapal betul jalan dari sini menuju bandara,” Ari berdalih.
“Semoga kau tidak menyesal, karena aku akan pulang tiga atau empat tahun lagi.”
Ari cuma tersenyum. Waktu yang sangat lama, dan entah Adit masih mengingatnya atau tidak. Karena saat itu datang, mungkin saja mereka berada dalam status yang jauh berbeda.
“Tenang saja! Tak usah selama itu, aku pasti akan segera menyusulmu ke sana.”
“Baiklah, akan kupegang kata-katamu. Nanti biarkan aku berkelana mencari universitas unggulan di Belanda maupun Eropa.”
Keduanya saling tertawa. Ari memang hanya menganggapnya sebagai gurauan, tapi tidak dengan Adit. Dia amat berharap kalau itu akan menjadi kenyataan. Menikmati waktu berdua di negara orang pasti akan membuat jalinan persahabatan mereka terasa istimewa. Sekaligus menciptakan sejarah baru sebagai anak pesisir.

Sesaat sunyi mengekang jiwa mereka. Rongga dada keduanya menegang didera rasa rindu meski masih berada di ruang yang sama. Dua linang air mengisi rongga mata, jatuh menimpa buliran pasir yang berubah jingga. Bayangan-bayangan itu membuat sudut-sudut mata keduanya jadi tiras. Duduk di atas dek kayu berbagi sekepal nasi asin, menyusup ke dalam lambung perahu, memanggang tubuh di atas birai batu, atau bergantian menuang air dari perigi, berburu rajungan, dan menghitung jumlah migrasi burung di musim penghujung. Seketika pikiran keduanya melepuh, bahkan ingat masa lalu membuat mereka semakin terbelenggu. Suara isak keduanya tenggelam dalam bunyi gulungan ombak yang samar menghantam keras bagian terdalam, yang entah di mana.

“Kau pasti kembali ‘kan Dit?” wajah Ari yang mengilat berubah merah dan mengeras. Ketakutannya melebihi ketakutan saat gulungan ombak membalikkan perahu mereka kala menyusup untuk ikut melaut.
Adit mengulum bibir —menahan tangis. “Aku pasti kembali, ke desa ini, ke tempat ini. Kau tak perlu cemas.”
Keduanya saling melepaskan pelukan. Rasa haru mendera sampai ke puncak kepala. Air mata mereka meleleh, turun membasahi puncak pundak masing-masing. Beberapa menit tenggelam dalam regukan perasaan yang menyesakkan, keduanya saling melepas pelukan. Adit mengeringkan wajah basah Ari dengan dua telapak tangannya.
Keduanya tersenyum.

Kini, garis cakrawala membentang di ujung samudera. Warna kemerahan senja mengusik waktu yang semakin menua. Mereka duduk tergelak di sana, memandang ke arah ufuk barat tempat sinar matahari senja semakin menyusut. Alunan sepoi angin pantai melunakkan hitam putih memori. Ari dan Adit tahu, di sana bukan untuk duduk semata, karena saat senja datang, hari esok akan tiba menjelang. Kenangan hari ini terlewat, malam naik ke peraduan menyulap suasana jadi memilukan. Tapi sungguh, setidaknya di tepian pantai mereka dapat melihat kebesaran Illahi dalam memutarbalikkan bumi. Keajaiban yang tak terperi. Dan mereka wajib mensyukuri.
“Ketika tiba saat perpisahan, janganlah kau berduka, sebab apa yang paling kau kasihi darinya akan nampak lebih nyata dari kejauhan. Seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan daratan.”

Tangerang, 31 Mei 2016

Cerpen Karangan: Serlin
Facebook: Serlin Nur Hidayati
Lara Senjaku, Nda

Lara Senjaku, Nda

Judul Cerpen Lara Senjaku, Nda

Mengenalmu, aku menemukan sesuatu dalam dirimu yang buatku nyaman. Tak terasa, beberapa bulan ini kulalui dengan indah, tanpa sehari pun terlewati untuk sekedar bertanya “apa kabar?”

Entahlah… Sampai saat ini pun aku tak bisa mendefinisikan semua ini. Yang pasti ada rasa sayang meski tak terkata, rasa cemburu meski tak terucap, bahagia, curiga, dan selayaknya pasangan kekasih.

Yang berbeda adalah tak pernah ada kata-kata jadian ke luar dari mulut indahmu, walaupun telah beberapa kali aku mengungkapkan perasaanku padamu.

Kadang ingin kutanyakan perasaanmu yang sesungguhnya. Namun aku takut semua berubah. Rasa takut kehilangan apa yang telah susah payah kubangun bersamamu.

Meski aku sadar, pohon waktu semakin tinggi, bukan saatnya lagi berdiam dalam hubungan yang abu-abu. Namun sekali lagi, aku takut menanyakan ini padamu. Aku membiarkan semua pertanyaan dalam benakku menguap begitu saja.

Aku mengikuti setiap irama yang kau ciptakan dalam hubungan ini. Yah, walaupun kamu cenderung diam dan cuek. Namun aku selalu berusaha memahamimu. Selama kita bisa berkomunikasi dengan baik, segala perbedaan dan jarak, nyaris tak terasa.

Aku paham caramu membalas pesan BBM kadang lama, paham betapa cueknya kamu dengan orang-orang yang baru sepertiku ini. Aku akui, Kamu bisa care sama aku, hanya untuk berbagi saja, aku bahagia.

Dan saat aku tahu bahwa cinta ini tak terbalas. Aku hanya merasakan kegetiran yang datang menyelimuti di dalam kegundahan hati. Tak bisa kusentuh, tak bisa kurengkuh, tak bisa kupeluk, dan tak bisa kusapa. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Aku hanya bisa sebatas Mengagumimu. Bahkan untuk cemburu pun, aku tak berhak.

Apakah kamu tau bahwa aku menyimpan rasa ini untukmu? Apakah kamu tau cinta yang ada di dalam hati ini tercipta untukmu. Banyak hati yang menghampiri, banyak cinta yang datang. Namun hanya satu tujuan cintaku. Hanya satu yang aku harapakan. Hanya satu rasa sayang yang kupersembahkan.

Mungkin kau tak pernah sadar, Tapi Tuhan tau. Rasa yang kusimpan baik-baik ini, jauh di relung hati. Membawa sejuta cinta untukku. Kau membuat aku gila, membuatku mencoret-coret buku yang tak tentu. Semua itu kulakukan hanya untuk menghilangkan rasa cemburu yang bergejolak dalam hatiku.

Apakah aku terlalu Bodoh, karena Aku masih saja mengharapkan cintamu…? Aku pun tak memahaminya. Cukuplah hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Kelak, bila suaraku tak lagi kau dengar di rabun malam, di jalan-jalan sebelum menempuh kota, hanya kan terlihat para pengemis kecil meringkuk, meminta bulan jatuh, atau bintang untuk selimut dari takdir yang menggigil.

Dan aku…
Adalah penyair yang gagal untuk membaca peta di hatimu. Atau bila puisi-puisiku tak lagi menggetarkan jiwamu karena sepanjang waktu kau lewati.

Hanya lagu-lagu muram, senandung bocah kehilangan angan. Kehilangan rumah dan harapan, tergadai dalam rusuh dan keruh. Maka kata-kata adalah sebuah serpihan sisa yang teronggok di pinggir jalan.

Saat kesepian saja bisa kau baca, mungkin aku, atau syair-syairku tengah berjalan ke dalam kelamnya malam. Kucoba untuk tahu diri. Kucoba untuk tak sakit hati. Ku sadar engkau adalah wujud dari keindahan, sedangkan aku hanyalah perwujudan dari gelapnya bayang-bayang.

Walau cinta ini menyakitkan. Tapi bagai candu yang tak bisa kulepaskan. Kutahu kini engkau telah bersanding dengan sang mentari. Ku sadar kini engkau dikelilingi bintang-bintang yang menari indah, sedangkan aku hanya ibarat kunang-kunang yang hanyut dalam pandangan. Hanya dapat menatapmu dari kejauhan. Berusaha terus bersembunyi dari tajamnya tatap matamu yang laksana sinar, menghapus kegelapan.

Aku sadar, aku mengerti, aku memahami, dan aku tahu diri. Sekuat apapun kulawan, hati ini tetap terus bergumam. Menyanyikan lagu-lagu rindu, mengirim isyarat pada sang jiwa.

Kucoba sembunyikan sayap-sayap yang terus mengepak di dalam dadaku. Ku coba membelenggu hati yang selalu ingin terbang menuju hatimu. Bukan karena aku tak ingin, bukan pula karena aku tak mampu. Tapi aku tahu diri, siapalah aku ini.

Mungkin di waktu ini sinarnya lebih menyilaukan di matamu, di bandingkan dengan sinar redupku. Tapi, aku janjikan satu hal padamu, ketika sinar yang membutakanmu itu pergi dan hilang. Ku kan muncul dari gelapnya bayang-bayang dunia yang kurajut untuk menuju hatimu yang mungkin kan menangis pilu di waktu itu.
Membawa setitik cahaya yang lebih terang dari pada sinar mentari, yang telah melupakanmu. Karena, cahaya itu adalah hatiku.

Tapi sebelum saat itu tiba, ku kan setia menunggumu di sini. Dalam dunia bayangan yang kuciptakan sendiri. Berteman rasa sakit dan rindu yang terus menghujam hati. Dari kejauhan ini, hanya bisa kubisikan kata lirih yang tak mungkin dapat kau dengarkan.

Kini, engkau tak perlu menjauh dariku. Karena aku tahu cara melangkah untuk mundur dari kehidupanmu dengan lapang dada.
Aku hanya berharap engkau bisa menghargai seseorang yang tulus kepadamu, walaupun perasaan itu tak kamu balas. Dan janganlah pernah kamu menyesali apa yang telah kamu lakukan. Serahkan semuanya pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Cerpen Karangan: Pho