Showing posts with label Cerpen Galau. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Galau. Show all posts
Kesempatan

Kesempatan

Judul Cerpen Kesempatan

Kususuri koridor sekolah dengan gamang, rasa bersalah kian membesar dan menghantui pikiranku. tak kubayangkan bahwa Ravid akan semarah ini padaku, walaupun aku sadar dia pantas marah atas semua ini. Kalau saja waktu dapat diputar kembali, aku ingin mengulang waktu dan tak membiarkan hati lain mengusik rasa yang selama ini kujaga. Namun semua sudah terlanjur kualami dan aku tahu bahwa hubunganku dengan Diky yang terjalin secara sembunyi sembunyi akan diketahui oleh Ravid. Namun apa daya, kehadiran Diky begitu saja dalam hidupku membawa sebuah rasa yang tak kumengerti. Kujalani juga cinta segitiga ini walau ragu.

Pulang sekolah kuhempaskan tas dan seragamku di lantai, lalu merebahkan tubuh lelahku di ranjang. Hpku berdering, kubuka, pesan dari Diky. “ren, kok kamu pulang duluan sih? Alda bilang kamu ngambek, ada apa?” kuletakkan hpku tanpa membalas sms itu. Haruskah aku jujur pada Diky tentang akhir kisahku dengan Ravid, ataukah terus membohonginya dan membiarkan jiwaku diteror rasa bersalah?

Diky dan Ravid, sosok yang hampir sama. membuatku tak bergeming. Aku harus menanggung resiko dari kesalahanku sendiri. Kini yang kupunya tinggal Diky setelah Ravid meninggalkanku. Tapi mungkinkah Diky mau bertahan untukku saat mengetahui semua?.

Seminggu berlalu. Kebencian yang diisyaratkan Ravid padaku seakan tak berujung. Kuputuskan untuk jujur pada Diky tentang semuanya. Tanggapan Diky begitu dingin. “kesalahan ini memang harus diperbaiki Ren, dan aku harus memilih persahabatanku dengan Ravid ketimbang mempertahankan hubungan kita, lebih baik begini daripada ada yang terluka karenamu. selamat tinggal…”.

Entah sudah berapa banyak airmataku tertumpah, menyesali kesalahanku sendiri. Kini aku juga kehilangan Diky, yang kuharap akan menerima kejujuranku. setelah Ravid yang kubuat kecewa, kini akulah yang menderita. Kesalahanku ini, apakah tak mungkin bisa dimaafkan? masihkah ada kesempatan untuk kembali pada masa masa indah bersama Ravid yang sepenuh hati percaya padaku, namun kukhianati? atau pada Diky yang teguh pada kesetiaannya, namun kubohongi? aku hanya dapat menunggu datangnya kesempatan kedua itu, entah sampai kapan harus begini.

Cerpen Karangan: Ning S Astry
Blog / Facebook: Astryand Mgzean
Umur 25 and Still Counts

Umur 25 and Still Counts

Judul Cerpen Umur 25 and Still Counts

Seminggu lalu gua dikirimin undangan pernikahan dari temen deket. Dia temen semeja gua waktu SMA. Dari WA, gua ngucapin makasih dan minta maaf karena gua gak bisa dateng. Pas ditanggal itu gua akan dinas ke estate. Lalu temen-temen yang lain pada akrab nimbrung -ngebully gua: nyuruh nikah.

Ikan gembung!

Apakah menjadi single karena ‘cinta bertepuk sebelah mata’ di usia 25 adalah suatu hal yang aneh? Beberapa temen gua udah pada nikah di usia ini atau at least mereka udah punya pacar yang mereka yakini akan berjodoh dengan mereka. 25 tahun itu masuk periode perak kalo gak salah ya? Dan di usia ini gua rasanya jadi kebanyakan merenung, pencapaian apa yang udah gua dapat sampai sekarang… kadang gua ngerasa mimpi-mimpi gua semakin menjauh. Kadang juga gua ngerasa waktu gua untuk mimpi-mimpi itu udah semakin gak ada. Setelah gua bekerja kayak gini, apakah ada kesempatan gua untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, gua udah jadi ragu. Jadi Social Worker di pedalaman, ambil Beasiswa S2 ke New Zealand, dan membeli rumah untuk mama. Itu impian terbesar seumur hidup gua. Dan jujur, sebelum menikah, salah satu dari tiga hal ini ingin gua wujudkan. Tapi sampai detik ini, bahkan tanda-tanda untuk hal itu akan terwujud belum ada.

Gua pun terdiam.
Merasa dibegoin sama waktu.

Gua bener-bener ngerasa, kalo di usia ini gua mengalami transisi secara besar-besaran. Benar kata laki-laki itu, gua sedang mengalami transisi baik itu dalam percintaan, pekerjaan dan cara berpikir gua sendiri. Makasih buat orang yang pernah gua cintai, ia adalah orang pertama menyadarkan gua akan hal itu. Dan itu memberi gua sedikit kekuatan. Menghadapi banyak masalah kayak gini benar-benar membantu gua untuk lebih bersabar dan harus menghadapi masalah itu sendiri ketimbang kabur dari situ. gua nggak lagi berpikir untuk dimengerti oleh orang lain. Tapi gua harus lebih banyak mengerti diri gua sendiri. gua harus lebih banyak mendengarkan kata hati gua, tapi sambil lebih berhati-hati juga karena kecendrungan kita sebagai manusia itu egois, jadi kadang hati kita suka licik. Hati kita suka membenar-benarkan hal salah yang udah kita lakuin dan itu selalu mengatasnamakan “perasaan”. Untuk itu, sekarang gua udah mulai melatih diri gimana caranya berpikir rasional. Sifat kebocahan kayak gitu udah mulai gua tinggalin.

Ini tentang gua dan bagaimana cara gua menyikapi orang yang suka sok tau dengan jalan pikiran gua. Sejujurnya, gua kurang senang dengan suatu keadaan dimana ada orang yang suka mengukur-ukur perasaan gua atau suka menebak-nebak kepribadian gua. Karena bahkan gua sendiri kadang bertanya tentang perasaan gua, apa mau gua, dan tentang isi dalam otak gua. Gimana bisa mereka lebih tau dari gua? Apa selain diciptakan menjadi manusia mereka juga diciptakan sebagai scanner atau rontgen?
Disatu kesempatan, dia berusaha menebak siapa gua dan it was almost totally wrong.

Sadly, orang-orang suka salah sangka bahwa gua adalah mahluk fleksibel. gua bisa berbaur dengan siapa aja, diajak ke mana aja, diajak makan apa aja, dan diledekin jadi siapa aja. Benar adanya bahwa gua adalah cewek yang sedikit gak ribet. gua gak susah diajak nongkrong bahkan itu di dalam neraka bersama anak-anak setan, gua gak pernah ribet mau makan apa aja, dan banyak hal lain yang tampaknya gua nyantai aja soal itu. gua juga selalu okay ngikutin rencana yang tiba-tiba berubah pas injury time. gua jarang mengeluh soal itu. Dan, ataukah mungkin dia ngerasa sedikit gak nyaman gara-gara gua lebih nyaman berteman dengan temen cowok daripada cewek? Was it something like threat? Lagian kenapa gua harus peduli? (Pembelaan diri secara besar-besaran untuk menyembunyikan perasaan gamang)

Tapi apakah mereka berpikir bahwa di dalam hati gua gak menyimpan sesuatu?
Gua adalah orang yang menyimpan segala sesuatu di dalam hati.
Dan sifat jelek gua adalah lama memutuskan. Akan berakhir bagaimana gua dengan orang ini. Apakah gua masih akan terus berteman dengan dia atau gua harus berhenti berteman di detik itu juga.

Jujur aja, lama-lama gua semakin ngeliat dan mata gua semakin terbuka terhadap potensi yang sama sekali gak ada di antara gua dengan laki-laki jelmaan rayap namun yang masih gua cintai itu. Makin kesini gua makin gak yakin atas keputusan gua untuk menjalani semuanya dengan cara menganggap gak ada kejadian apa-apa. Kayaknya keputusan ini belum gua yakini tepat. Pasalnya, gua malah sering jadi sakit hati kalau lagi sama-sama. Jadi buat apa gua menyiksa diri dengan berlama-lama menghabiskan waktu dengan orang yang cuma dateng nyakitin doang? Buat apa gua ngabisin waktu berteman dengan orang yang mungkin gak menghargai gua bahkan sebagai teman? Orang yang nggak melindungi harga diri gua dan gak bertanggung jawab atas semua usaha dia bikin gua jatuh hati lalu dia dengan entengnya malah pergi memilih cewek lain.

Kutil Badak.

Adalah sangat sakit saat dia udah tau perasaan lu dan dia gak punya niat untuk mencintai lu kembali, namun dia suka bermain-main dengan perkataan atau perbuatan yang membuat lu ngerasa bahwa dia, setidaknya, menyukai lu. Sakit rasanya saat perasaan lu gak dijaga oleh orang yang lu kasihi.

“Aku balik sebentar ya. Mau laporan.”
Boker? Bukan. Nelepon cewek.
*gua berubah jadi Hulk

Apa dia pikir hati gua terbuat dari daur ulang plastik asoy dan gak mengurai?
Bener-bener jelmaan ikan sapu-sapu.

Kayaknya gua memang sampai kapanpun gak akan pernah bisa berteman dengan dia. Gak akan pernah ada kata-kata pertemanan. Agak sedikit mustahil untuk ngelakuin itu. Harusnya gua percaya sih dengan kata hati gua. Dari awal gua udah insecure dengan cara dia memperlakukan gua dan mengenai cara gua ngerasa tentang dia. Tapi untuk yang kesekian kalinya gua mengabaikan kata hati gua. Entah apa yang sedang berusaha gua nomorsatukan, entah itu rasa atau status pertemanan-semua ini membuat gua keliatan kayak orang bego. gua gak bisa mutlak nyalahin dia yang udah mempermainkan perasaan gua, tapi ini lebih ke jahatnya gua yang udah mempermainkan diri gua sendiri.

gua capek.
gua capek dibegoin.

Tapi gua gak tau gimana caranya pergi dengan hati yang udah luluh lantak -gimana caranya ngeberesin hati hancur ini, masih menjadi pertanyaan. Saat ini jiwa gua udah kayak dimutilasi dibagi atas 3 bagian. Bagian pertama, gua masih tetap dengan hati gua yang masih sayang. I am his lover. And I can not do any shit about this. Maybe it is true that once upon a time he liked me but not find enough encourage to love me (back). Apalagi untuk Fighting. (Apakah kualitas diri gua seburuk itu ya? 🙁 ; bener-bener bikin gua down). Ternyata, gua masih suka diam-diam memperhatikan dia, apakah dia sudah makan, apakah dia minum terlalu banyak beer hari ini, apakah dia bahagia hari ini (Tentu aja, yang ada gua yang meringis menahan rindu). gua masih berdoa buat dia, semoga hari ini dia bangun tidur dengan seger, atau mudah-mudahan hari ini dia gak digigit semut matanya karena dia manis.
(Ini kenapa jadi kayak psikopat gini ya? *telan semen padang*)

Bagian kedua, gua harus bisa tetap menjadi temannya. Seorang teman baik. This is the hardest part of these parts. Berada dalam satu kelompok pertemanan dengan dia dan ada dalam satu grup WA artinya gua akan setiap hari melihat dia ‘hidup’ sementara gua sedang jungkir balik mati-matian untuk memutus semua celah perasaan sayang gua agar gak lagi mengambil alih quality time yang harusnya gak gua habiskan untuk sibuk berpikir gimana caranya move on. Mati-matian mematikan perasaan mematikan ini. Mati-matian gimanapun caranya untuk gak ketemu atau membaca pesannya.
Lagi-lagi gua gatot. Gagal Total.
gua susah menjelaskan gimana rasa sakit yang sedang gua rasa ini. Ini perasaan gua, jadi gua harus bertanggung jawab kan? *nangis di ketek mama
Gua sakit setiap hari gua harus sok asik dengan semua basa-basi itu.

Bagian ketiga adalah, A Hater, karena ternyata dia sudah mempermainkan perasaan gua, harusnya gua bisa berubah wujud jadi orang yang membenci semua basa-basinya yang gak berguna itu. Mengacuhkan semua leluconnya yang garing itu. Mematahkan semua omong kosongnya dan sudah membunuh dia 20 kali dalam pikiran gua setiap kali gua berpapasan dengannya.

Gak tau mau mengambil peran yang mana supaya gua merasa nyaman dengan hidup gua sendiri.
MENCINTAI DIA ITU KAYAK DUDUK TANPA CELANA DI ATAS DURIAN YANG LAGI DIBAWA DI ATAS MOBIL PICK UP.
Sakit. Malu. Gila.

14-05-2017
gua tiba-tiba ngerasa nista. Ngebayangin seorang cewek di umur 25 yang sama sekali gak punya plan apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Agak miris sih, mengingat pencitraan yang gua lakukan selama ini bahwa gua adalah orang yang paling kocak sedunia. Orang yang paling cincay dengan segala sesuatu. Cewek bermental kuat yang gak takut apa-apa (kecuali kecoak terbang dan bulu mata palsu yang ditempelin di kaca). Gak akan sakit dengan perlakuan apapun dan akan tahan menanggung rasa sakit kayak neraka. Perempuan single yang bahagia. True it was me, but…

Yes, I used to. Dulu gua sangat optimis dengan segala sesuatu. Gambaran gua tentang masa depan itu sangat jelas. gua punya pacar yang baik, gua mendapatkan suitable job, dan gua akan menikah pada 18 November 2018 dengan pacar yang bernama Christian Adiguna. (Setelah sekian lama akhirnya gua nge-mention nama itu). gua akan mulai ambil arisan dan memasukkan adik gua kuliah dengan uang itu. Tapi, waktu berlalu dan sebagai manusia kita cuma bisa berencana. Saat keadaan gak sesuai dengan harapan kita, maka inilah gua sekarang.

Gua putus dengan Christian after had a very huge fight. 18 November hanya akan menjadi tanggal biasa di tahun 2018 nanti. Adek gua ternyata adalah seorang junkie… and now, his girlfriend is 5 months of pregnancy.
AND NOW I am in love with someone’s husband to be.

Is my life a failure?

I often talk to God. So very often. And so far I don’t know, apakah Tuhan masih sudi memberikan rencana dalam hidup gua. I am so lost. Apakah mungkin Tuhan mulai kecewa dengan gua karena gua adalah seorang pembangkang dan sedikit bebal? Apakah Tuhan murka karena dulu gua pernah berjanji akan menyerahkan hidup gua untuk melakukan kebaikan tapi gua mengingkarinya beberapa kali? But God, I am a little girl you entrusted in my mom’s womb. Please have mercy on me, oh, God.

I am suffering.
Wounded.

In my way of perfection ternyata gua cuma ciptaan yang gak sempurna. Dan saat ini gua udah gak punya pilihan selain percaya dan berserah. Walau kadang gak bisa dipungkiri gua marah dengan semua keadaan yang datang bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan ini. Tapi entah kenapa, gua kayak memperoleh kekuatan entah darimana. gua masih sanggup untuk menjalani hidup gua dengan baik dan gua masih bisa tersenyum setiap hari. Walau dramatically, senyum gua berdarah. gua masih sanggup mencintai orang lain dan gua masih terus memaafkan. Demi Tuhan, ini gak datang dari kekuatan gua pribadi. THIS IS SOMETHING LIKE SPIRIT.

Gua masih berharap bahwa besok hidup ini akan lebih baik. Bukan hanya gua yang mengalami rasa sakit ini. Mungkin di luar sana masih banyak orang-orang yang bahkan udah akan sangat bersyukur apabila mereka punya hidup kayak yang gua miliki saat ini. Mungkin Christian akan melupakan gua tanpa dendam dan mendapatkan orang yang baik, begitu juga dengan gua. Mungkin nanti adek gua akan berhenti menjadi junkie dan akan menjadi seorang laki-laki yang baik untuk bayi dan perempuan yang menerimanya itu. Mungkin perasaan gua terhadap Siluman Ikan Sapu-Sapu orang ini akan menghilang dan dia akan menjadi orang yang lebih baik di tangan seseorang yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sebuah bejana akan menjadi lebih indah apabila dipoles di tangan ahlinya. Mungkin bukan tangan gua. So, I’ll let it go…

Gua memutuskan untuk selalu mengucap syukur atas apapun yang sudah terjadi dalam hidup gua.

Saat ini memang umur gua udah 25 dan gua dianggap gak punya rencana apa-apa dengan hidup gua. Saat ini mungkin gua terluka berkali-kali, jatuh bangun dengan menangis karena rasa sakit, dipermainkan oleh orang yang gua cintai dan kecewa dengan keadaan di sekitar gua. Tapi gua ingin selalu percaya bahwa saat gua bahkan udah gak punya rencana apa-apa terhadap kehidupan gua, Tuhan pasti masih punya. Mungkin Tuhan gak akan langsung menyingkirkan cawan itu dari bibir gua, he lets me taste it but never lets me get poisoned. He only wants me to know how it tastes and it’s gonna make me learn a lot about life.

Untuk saat ini, di usia ini, I am shouting to you oh, God… Please have mercy on me and let me surrender. I don’t know what I am gonna do with my life. I will only let you take control of everything.

God.
Aku aman dalam genggaman tanganMu, kan?
I feel my heart beats faster.

I am still and gonna be OKAY.
All Thanks to God.

Cerpen Karangan: Sebatang Pohon
Blog / Facebook: @lauratan24
Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Judul Cerpen Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Malam hadir dan segera menjemputku, mengusir mentari yang sedari tadi mengintip dari balik pepohonan rimbun di samping bangunan sejarah. Di sanalah kuurkir sejarah kebersamaan kita, pertama bertemu hingga pada akhirnya kita berpisah. Masih kuingat semua untaian cerita yang pernah engkau rangkaikan untukku, bagaimana hati yang lemah ini kau kuatkan kala kita bermain-main dengan pertengkaran. Senyuman yang selalu kau jadikan cara cepat untuk mengusir kesalku kala sering kali kusalahkan dirmu karena hal sepele. Yah bahkan rentetan seluruh cerita itu masih tersusun rapi dalam dalam rak di ruang itu.

Ruang yang biasanya kau berada di sana, duduk bercerita tentang masa depan denganku.
“ummi, bagaiman mungkin kutinggalkan dirimu, sedangkan engkau kan kan kujadikan ummi dari anak-anakku kelak”.
“lantas?, itu bukan alasan untuk dekat dengan siapapun bi”
“sudahlah, runtuhkan cemburumu itu, bukankah aku milikmu?
“Yah… untuk saat ini, lantas bagaimana dengan nanti, besok dan seterusnya?” hanya kuungkap di balik pendengaranmu, tak ingin lagi kuperdebatkan masalah yang selalu menjadi pokok pembahan dalam hubugan ini.

Cerita ini berjalan sesuai dengan yang kau rangkaikan, dan aku hanya menjadi tokoh yang berperan dalam alur yang telah engkau setting sebelumnya. Benar sering kali keegoisan kita tak berujung damai, hingga aku meminta maaf tersering kali untuk mengusai pertentangan itu. Tapi kerumitan yang seperti ini telah membuatku nyaman, dan tak bisa dengan ketiadaan. Selayaknya tokoh yang berperan sesuai naskah, aku pun demikian. Tersenyum kala kau butuh seuntai semangat, mendengarkan kala kau ingin bercerita, menemanimu kala kau letih dengan aktivitasmu sendiri, namun apa jua yang bisa kuperbuat kala kau tuliskan dalam naskah itu kepergianmu.

Rasanya pening saat kubaca pesanmu, ada rasa sakit yang perlahan menjalar ke setiap syaraf di otakku, sontak kaget aku waktu itu “ummi maafkan abi. Abi bukan orang yang baik, mungkin akan lebih baik agar hubungan kita sampai di sini.”
“beginikah akhir cerita yang kau tuliskan untukku bi?”
“maaf kan abi ummi, suatu saat engkau akan dapatkan orang yang tulus mencintaimu”

Ada gemuruh yang tak terkendali di hatiku, meratalah semua bangunan harapan itu di sana, tersampailah pesan dari otakku ke tempat itu, semakin dalam dan jauh luka ini. Mata pun mulai lembab dengan cairan yang entah datangnya dari mana, tak terkontrol sudah alasannya. Rasanya masih terlalu dini kisah kita namun aku pun tak pernah menyadari akan keseriusanku dalam menjalani hingga selepas kau pergi barulah ku tau ternyata teramat dalam sudah cinta ini teruntukmu.

Aku yang merindukanmu saat kau jauh di seberang, aku yan berada di sampingmu saat kesulitan mendatangimu, aku yang menguatkanmu saat keterpurukan menyapamu, dan aku yang kau minta menunggu saat kepulanganmu, lalu?

Belum sempat hati ini kau bahagiakan, bahkan belum kau sediakan waktu untuk sekedar bermuajah denganku selama kita bersama, dan ternyata orang lain yang bahagia dengan kepulanganmu, orang lain yang merasakan kehadiranmu, orang lain yan tersenyum untuk kebahagiaanmu, aku?

Aku yang terluka karena keputusanmu, aku yang kembali merindu sedang kau tak lagi berada jauh denganku, aku yang harus kembali sendiri walau kutau keberadaanmu, dan lagi-alagi aku yang harus terluka atas keputusanmu. Terlalu besar kiranya oleh-oleh yang kau berikan untukku hingga tak sepatah katapun mampu kuungakapkan untuk membalasmu.

Tiada alasan untuk bertahan, tapi aku masih tak ingin pergi dari kisah ini, kudiami sendiri pesaraanku, hingga ku tau ternyata dialah yang telah menggantikan namaku di hatimu. Saat itu aku ingin segera beranjak namun ternyata kenyataan itu terlau tajam dan dalam menggores hatiku hingga tiada lagi kukuatan untuk sekedar berdiri dari panantianku terlebih untuk beranjak dan pergi. Walau sering kali kau paksa diriku untuk segera menjauh, apa yang mampu kulakuakan aku terlalu lemah. Walau ternyata kau raih tangannya, dan mempersilahkan dia duduk di tempatku dan tepat di depan mataku. Semakin tiada kutemui lagi kekuatanku untuk pergi walau aku teramat ingin.

Malam ini semakin larut, mataku pun terasa mulai perih yang sedari tadi mencoba menghilangkan namamu melalui air mataku. Kesedihan ini terus mengalir hingga kutakut pipiku akan mulai tergores akan tajamnya. Aku benar-benar ingin menghilangkan semua yang pernah ada di hatiku, ingin kuhanyutkan sejauh mungkin dari hidupku, kupikir cukup sudah kesakitan ini, namun tanpa kusadrai malam semakin jauh, dan mata ini tak ingin terpejam walau telah kuperintah kan. Kubiarkan kalian mermain-main dengan mimpi dan biarkan aku menikmati keteduhan dan kejernihan aliran ini karena terkadang di sela-selanya masih kutemukan senyum di bibirku.

Rasa sakit ini mengajarkanku, untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap orang lain, cara tersenyum pada wajah yang sebenarnya jelas menyakitkan, cara bangkit dari keterpurukan walau tanpa penopang. Cukup aku, kisahku dan impianku. Satu hal yang ingin kusampikan,

“maafkan aku tak bisa turut bahagia untukmu, maafkan aku yang tak bisa lagi menjadi salah seorang tokoh dalam kisahmu, cukup aku dan kenangan kita yang bersamaku, walau aku tak mampu melupakan tapi aku tak punya alasan untuk mempertahankan”

Cerpen Karangan: Samiatul Ahyani
Blog / Facebook: Samiatul Ahyani
Terbang

Terbang

Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menerima tekanan ini. Ini begitu berat, berat sekali. Bahkan sepertinya aku sudah tidak sanggup menahan beban ini. Semuanya salah. Semua yang aku katakan salah. Semua tindakan yang aku lakukan salah. Dan semua yang ada hubungannya denganku salah. Salah semua dan tidak ada yang benar.

Semua kacau! Kacau semuanya menjadi berantakan. Dan tinggal puing-puing yang ada, dan bahkan itu sudah tak terlihat. HILANG!!! Semuanya telah hilang. Semua lenyap. Kepercayaan, dan semuanya sudah tidak ada. Karena aku! Karena aku yang menyebabkan semua ini, karena ketidaktegasanku, karena kelabilanku, karena memang semua salahku. Semuanya menjadi sangat menyakitkan untuk saat ini.

Tekanan-tekanan yang mereka timbulkan membuat aku merasa terhimpit, bahkan untuk bernapas pun sepertinya aku sudah tidak sanggup. Cobaan apa lagi ini Ya Allah… Aku hanya ingin hidup tenang. Semuanya berjalan dengan lancar. Semuanya ingin baik-baik saja. Tapi aku tahu aku salah, aku salah dan aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena aku sudah tidak berdaya. Karena aku terlalu lemah, karena aku yang selalu membuat marah, dan mereka jengkel, mereka membenciku, dan mereka sudah tidak mempercayai aku lagi.

Semuanya menjadi begitu menakutkan bagiku, seperti ini rasanya ketakutan. Bahkan aku hidup sekarang karena bukan pilihanku. Aku dipaksa untuk terus hidup, hidup yang terus ditekan. Kadang aku ingin seperti burung yang terbang bebas di angkasa. Melihat mereka aku ingin melepaskan seluruh bebanku. Membuat nyaman diriku. Tapi kenapa? Kenapa aku tidak bisa… Bahkan keadaanku sekarang tambah buruk. Bahkan jika aku menangis, rasanya air mataku sudah kering. Aku tidak mau menyimpan perasaan seperti ini terus di dalam hati.

Rasa marah, rasa benci, rasa bersalah, rasa cinta dan masih banyak rasa yang ada di hatiku. Kadang aku ingin menolak semua masalah yang ada di hadapanku. Tetapi aku tidak bisa menghindar, karena mereka serta merta menikam aku. Mencekik dan membuat aku tidak bisa bicara. Hanya bisa merintih dalam kesakitan, tanpa bisa berteriak minta tolong. Karena tak ada orang yang ingin menolong. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Hanya Engkau Ya Allah yang dapat membantu hamba. Di dalam kegelapan ini… berikanlah penerangan di jalan yang gelap ini Ya Allah… bahkan jika aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, aku masih punya Engkau kan Ya Allah, Engkau masih mau membantu hambamu yang tak berdaya ini kan Ya Allah… Tolonglah hamba untuk menyelesaikan masalah ini Ya Allah… Orang yang selama ini aku andalkan, aku percaya, dia telah berubah, meskipun tidak sepenuhnya menghianati, tapi tindakannya itu sudah sukses membuat aku semakin merasa bersalah.

Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana? Aku harus melakukan apa? Mereka sama sekali tidak menganggapku. Tidak menganggap aku ada, sekalipun aku tepat ada di depannya. Semakin ingin rasanya untuk cepat terbang… bersama burung dan kupu-kupu, mengepakkan sayap untuk meninggalkan keadaan ini… kalau aku seperti ini, apakah aku juga semakin terpuruk.

Cerpen Karangan: Fimv Marlisa
Facebook: Fimv Marlisa
Daffa

Daffa

Judul Cerpen Daffa

Entah bagaimana aku mengenalnya, entah bagaimana aku merasa nyaman saat bersamanya. Aku heran, mengapa ada pria yang mau berjuang keras untukku, padahal aku dingin sangat dingin. Aku mulai merajut kisah dengan sebait kata, menahan rindu dengan sebait doa. Entah apa alasan dia mau bertahan denganku, Entah apa alasan dia memperjuangkanku, Entah seberapa sabar dirinya berhadapan denganku. Namun sayangnya hatiku beku, hanya merasa nyaman dan rindu. Aku menyayanginya, tapi cinta? Aku tak tau. Aku lupa cara mencintai seorang kekasih, mungkin akibat masa lalu yang menbuat cintaku hilang, mungkin karena masa lalu yang membuat hatiku beku untuk mencintai.

“Nanda.. dengerin aku ya mau nyanyi” mintanya sambil memegang gitar.
Aku pun hanya mengangguk tersenyum.
Tangannya mulai bermain, suaranya mulai terdengar. Dia bernyanyi dengan tersenyum, dan aku pun hanya mendengarkannya. Aku sangat menyukai suaranya, cara dia bicara bahkan caranya tersenyum tertawa. Meski bukan aku yang menciptkan tawanya, tapi aku bahagia bisa mendengarnya.

“Gimana, bagus?” Tanyanya menatapku.
“Enggak, jeleeek” jawabku
“Ya udah aku gak akan nyanyi lagi” balasnya cemberut
Aku pun mentertawainya, melihat ekspresi wajah dan tingkahnya.
“Lah Autis malah ngetawain”
“Bocah banget sih, idiot haha” ledekku lagi.
Dia hanya tersenyum heran menatapku.

Mungkin bukan aku yang mampu membuatnya bahagia, mungkin begitu keras hatiku sampai aku pun belum bisa mencintainya. Daffa.. orang yang begitu sabar, perhatian, dia bertingkah konyol hanya untuk membuatku tersenyum, dia kuat menghadapai dinginnya sikapku. Aku lupa cara mencintai, aku lupa bahagianya mencintai, yang aku rasa, aku hanya mampu mecintai pria dan itu pun ayahku saja untuk saat ini. Waktu membawaku mengenalnya, menyimpan rasa untuknya, tersenyum dan tertawa karenanya. Waktu yang menarikku untuk menggenggam tangannya, namun untuk sekarang waktu belum mampu membuatku mencintinya. Entah aku akan merasakan cinta terhadapnnya, atau hanya sekedar menyayanginya.

“Nanda.. bagaimanapun caranya aku akan menggenggam tanganmu” ucapnya menatapaku.
“Tak usah berbicara itu, mungkin saja aku yang melepaskan genggaman itu” jawabku datar.
“Mengapa? Kamu gak serius sama aku?” Tanyanya mengerutkan kening.
“Aku hanya merasa tak pantas untukmu, bukan aku ingin melepaskan genggamanmu. Waktu menyeretku berkenalan denganmu, waktu pun akan menarikku menjauh darimu” jelasku menatapnya tersenyum.
“Sekeras apapun waktu mengambilmu, sekeras itu pula aku akan menggenggammu.” Ucapnya meyakinkanku.
“Sekeras kamu menolak perpisahan, sekeras itu pula takdir mewujudkan perpisahan. Sudahlah, aku tak berjanji akan selalu bersamamu, tapi sekarang aku hanya menikmati waktu saat aku menggenggam tanganmu” ucapku tersenyum kecil.

Daffa, mungkin sulit mencari pria sepertimu. Dia sabar, dia tak pernah berani membentakku keras, bahkan untuk memarahiku pun dia tidak pernah. Jikalau pun aku salah, dia hanya menegurku dan menasehatiku dengan sabar. Dia tidak pernah menggores luka, dia berharga dan aku pun merasa tak pantas untuknya.

“Sampai kapanpun aku bakalan sayang sama kamu” ucap daffa.

Aku pun hanya tersenyum tanpa membalas ucapannya. Mungkin begitu beku hatiku sehingga aku tak mampu mencintai pria itu, mungkin begitu keras sikapku sehingga aku tak mampu selalu bersikap baik terhadapnya. Aku harap, bila waktu mengizinkan aku bersamanya dengan jangka waktu lama, aku harap hatiku sempat mencintainya. Dan bila waktuku telah habis dengannya, dan aku pun belum sempat mencintainya, aku bersyukur sempat memilikinya dan mampu menyayanginya.

Cerpen Karangan: Novia Fernanda
Facebook: Novia Sepersial Fernanda
Pertemuan Tanpa Nama

Pertemuan Tanpa Nama

Judul Cerpen Pertemuan Tanpa Nama

Perkenalkan namaku adetia. Hobiku adalah menulis puisi. Aku tak suka dengan keramaian. Yang kadang membuat aku seperti terasingkan. Namun ku juga benci dengan kesepian. Yang membuatku selalu sendiri.

Aku sekolah di salah satu SMA favoritku. Dan sekarang ini adalah tahun ketiga ku sekolah di sana. Hari-hariku sangatlah membosankan. Tiap pagi harus bangun meskipun mata masih ngantuk. Berangkat ke sekolah, bertemu dengan teman-teman, lalu kembali lagi pulang. Hanya itu saja, sempat terpikirkan olehku, apakah aku harus merubah hidupku?

Pagi itu seperti biasa ku berangkat ke sekolah diantar ayahku. Peraturan di sekolah yang melarang setiap siswa untuk membawa motor membuat ayahku harus mengantarku ke sekolah setiap paginya. Dengan keadaan cuaca yang sedang hujan. Terpaksa aku harus tetap berangkat sekolah dengan menggunakan jas hujanku. Sebenarnya aku sangat benci dengan hujan. Benci dengan setiap titik airnya. Karena itu mengingatkanku akan peristiwa 2 tahun yang lalu. Peristiwa yang kembali membuatku berurusan dengan cinta. Cinta yang masih tetap sama. Tak pernah bisa kuungkapkan dengan sejujurnya.

Di perjalanan hujan pun berhenti. Meninggalkan bekas genangan air di jalanan. Sesampainya di sekolah, kulepaskan jas hujanku dan kuberikan kepada ayahku sambil mencium tangannya. Setelah itu aku berjalan memasuki ruang kelasku.
“Ternyata masih sepi, udah jam segini apa aku yang terlalu pagi ya berangkatnya.” Kataku saat melihat keadaan kelas yang masih kosong.

Sambil menunggu yang lain datang. Kubuka tasku dan mengambil buku latihanku. Kulanjutkan PR yang belum selesai kukerjakan semalam. Hingga ku tak sadar ada temanku yang datang dan menegurku.
“Woi PR mulu, ngerjain PR mah di rumah bosen gue liatnya.” Kata temanku.
“Nggak usah diliat kalo bosen mah. Emangnya lu udah apa?” Balasku
“Yah lu tau gue kan.”
“Tau gue, lu kan biasanya belom selesai.”
“Nah tuh tau pake nanya.”
“Dasar males”

Akhirnya selesai juga. Tak terasa semua temanku telah datang dan bel sekolah pun berbunyi. Sebelum memulai pelajaran seperti biasa tadarus Al Qur’an dulu. Sudah menjadi kegiatan rutin di sekolahku sebelum memulai pelajaran. Setelah selesai tadarus barulah pelajaran dimulai. Semua pelajaran di sekolah kuikuti dengan baik dan lancar. Bel pulang pun berbunyi dan aku pun pulang ke rumah.

Karena rumahku yang lumayan jauh dari sekolah. Jadi aku harus 2 kali naik angkutan umum. Tapi itu semua tak jadi masalah. Semenjak pertemuanku dengan dia. Dia yang telah mencuri pandanganku di sepanjang perjalanan. Entah sampai saat ini aku tak mengenal namanya. Tapi hati ini seakan mengenali wajahnya. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi itu dimana aku pun tak tahu. Aku seperti seorang yang amnesia waktu itu. Setiap pulang ku selalu bertemu dengannya tapi tanpa pernah ku menyapanya. Apalagi untuk menanyakan namanya ku tak pernah bisa. Meskipun jalan pulangku dan dia searah. Tapi selama ku bersamanya ku tak pernah berani untuk menanyakannya. Sampai-sampai aku tak bisa lagi bertemu dengannya. Tak bisa lagi melihat dia di tempat biasa itu. Dan sampai kini mungkin namanya akan selalu menjadi misteri bersama jejak yang kujelajahi.

Cerpen Karangan: Adetia Saputra
Blog: www.sobatbankids.blogspot.com
Aku Ingin Amnesia Dari Egoisentrum Diri

Aku Ingin Amnesia Dari Egoisentrum Diri

Judul Cerpen Aku Ingin Amnesia Dari Egoisentrum Diri

Pagi ini, mentari bersembunyi di antara butiran-butiran air yang dirangkul oleh gas di udara. Ketika waktu makin berjalan saat itu pula mentari tersapu oleh awan yang makin menghitam, menyelubungi pagi hariku yang kelam. Kelam akan hariku dan juga hatiku, tak lama langit sengaja memotretku dengan cahaya kilatnya. Yang membuatku terkagum sekaligus terkejut, kini langit marah. Dia marah kepadaku karena sikapku, karena sifatku dan juga karena aku. Kini suasana menjadi kacau, mentari pagi yang aku harapkan menyapaku dengan kehangatan andalannya berubah menjadi kemarahan sang langit. Langit tak henti-hentinya menggaur, seakan-akan memarahi diriku. Aku takut, sungguh ini bukan yang aku inginkan. Tak lama kemudian mentari menangis, yang menyebabkan bola biru ini basah kedinginan.
“Maafkan aku, ini bukan keinginanku…”

Andai waktu dapat diulang kembali, aku janji aku akan memperbaiki segalanya. Namun rasanya aku terlambat, hingga akhirnya kau menjadi korban dari sifatku yang amat ditakuti semua orang di dunia ini. “kenapa harus kamu yang merasakan? Kenapa tidak yang lain? Aku sungguh menyesal, sangat-sangat menyesal..”.

Entah waktu itu siapa yang salah, apakah memang aku dengan sifatku atau kamu dengan kepolosanmu. Saat itu aku benar-benar sangat emosi, andai kau tau itu. Waktu itu aku sedang membutuhkan dirimu, ingin cerita banyak tentang kehidupanku yang kini tak sama dengan kehidupanmu disana, aku yang sedang rindu serindu-rindunya, yang ingin bertemu dan sedikit bergurau denganmu, tapi apa alasanmu? “aku sibuk disini, kurikulum baru membuatku susah untuk meluangkan waktu. Bersabarlah, suatu saat nanti aku akan menemuimu, merealisasikan semua keinginanmu hari ini. Tunggulah…”.

Rasanya masih terngiang-ngiang alasanmu itu, hingga suatu saat aku menemukan bahwa alasanmu itu aku anggap sebuah kebohongan. Kamu, yang tidak mengabariku satu detikpun di waktu luangmu, tidak menanyakan kabarku seolah-olah aku bukan siapa-siapa lagi bagimu tiba-tiba berkicau di salah satu media sosial. Sakit rasanya yang kudapat saat itu, apa kamu tahu itu? Waktu itu aku benar-benar emosi, karena aku merasa aku sudah tak dihargai. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak ingin mengenalmu lagi.

Keputusanku itu sebenarnya bukan keinginanku, tapi keinginan dari emosi hatiku. Entah karena aku yang terlalu sayang atau hatiku yang lelah dan tak sanggup untuk bersabar, lalu kamu menambah bumbu yang pas hingga akhirnya aku bisa memutuskan keputusan itu. Sungguh, saat itu aku tidak merasakan apa-apa. Entah apakah saat itu aku sedih, bahagia, atau suasana yang lainnya, aku tidak merasakannya. Hampa, mungkin kata yang cocok untuk saat itu, aku melepasmu dan kau tak ingin melepasku. Sekali lagi, entah itu salahku ataukah salahmu.

Beribu kali aku merasakan penyesalan yang amat mendalam, kamu memang hebat. Membuat aku merasa menyesal sekaligus merindukanmu disini, sebuah penyesalan yang mengajakku menuju sebuah kegilaan. Tunggu, kegilaan tidak cukup untuk itu. Mungkin kata kematian yang cocok. Rasanya, ketika aku merasa bersalah dan menyesal sepertinya lebih baik aku mati. Menebus semua kesalahanku dan menghentikan rasa menyesal dan rinduku yang tidak akan pernah habis terhadapmu, hingga saat ini aku selalu bertanya pada diriku sendiri “apa yang harus aku lakukan? Untuk menebus semua kesalahnku terhadapmu dan menghentikan semua penyesalan ini?…”.

Jujur, aku lelah dengan semua ini. Mencoba lalu gagal lagi, mencoba lalu gagal lagi hingga detik ini aku tidak bisa menghilangkan semuanya. Penyesalan, rindu, marah, rasa bersalah semuanya bercampur aduk. Inilah diriku sekarang, entah apakah aku membaik atau memburuk. Kamu bisa melihatnya sendiri, disini.

Hingga akhirnya sang mentari mulai membaik, dia mulai berani melawan rasa takutnya. Namun itu tak sama dengan diriku, aku tak sanggup melawannya. Tak sanggup memulai lagi dari awal lalu terngiang lagi tragedi itu, kini aku bingung. Aku ingin menghilangkanmu tapi aku tak bisa, ataukah aku harus menunggumu tapi tak berarti alias sia-sia? Pernah dulu kamu bilang kita tak akan mungkin bersama lagi, karena kita memiliki alur kehidupan masing-masing. Aku dengan kesibukan dan duniaku dan kamu juga, namun sampai kapanpun aku tak bisa menerimanya. Sulit bagiku, mungkin karena rasa bersalah dan penyesalan ini penyebabnya. Lantas apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua itu? Apa aku harus mati? Atau apa yang harus aku lakukan? Jawab aku, tolong aku jika kamu tak mau lagi diganggu. Tapi kumohon maafkan aku, karena aku tak bisa melepaskanmu dari ingatanku.

Apakah ini sifat egoisku yang hanya menginginkanmu? Aku merasa bahagia untuk memilikimu sedangkan kamu sengsara ketika memilikiku? Setahuku cinta tak begitu, harusnya ketika aku bahagia kamu juga bahagia. Kita sama-sama merasakan hal yang sama, tapi apa kau ingat hal itu sebenarnya sudah terjadi pada kita. Namun dulu, Dulu sekali.
Siang ini, mentari bersinar kembali. Dia berhasil melawan rasa takutnya, mengalahkan kemarahan sang langit. Aku iri dengannya, iri karena kenapa aku tak bisa melakukan hal yang sama, melawan rasa takut? Kenapa aku selalu mengalah pada amarah hati dan mengikuti keegoisan diri. Sungguh aku lelah dan ingin bangkit, namun tak ada lagi yang mampu merealisasikannya bahkan diriku sendiri. Aku sudah tak sanggup lagi menanggung semuanya.

Apa aku harus meminta dan mengemis untuk meminta kesempatan kali kedua kepadamu? Karena aku tak mampu melepasmu, atau aku harus mati saja biar selesai semua hal ini? Tidak, aku masih ingin melihat senyummu meski itu tanpa kamu sadari. Mungkin yang aku butuhkan ialah AMNESIA, supaya aku lupa siapa dirimu dan siapa diriku. Mungkin.

Cerpen Karangan: Ajeung Nur Fauziah
Blog / Facebook: ajeungnf.blogspot.co.id / Ajeung Nur Fauziah
How To Love (Part 1)

How To Love (Part 1)

Judul Cerpen How To Love (Part 1)

Perasaan cinta yang masih kupendam tentunya sulit untuk aku lupakan selama ini sayang. Apa kabarmu hari ini? semoga kau tetap bahagia dengan keadaanmu saat ini, aku sangat yakin.

Hai, ini aku arif. Aku lelaki yang saat itu menghilang seperti pecundang. Kau tahu, sepertinya banyak sekali cerita yang kita lewatkan bersama. Entahlah, keadaan saat itu memaksaku ingin melupakanmu. Karena aku takut, kamu tidak akan pernah bahagia bersamaku.

Yah. selama ini, aku tentunya menyesali perbuatanku itu. Kau adalah wanita yang aku cintai, wajar bila aku sangat merindukanmu. Dan memang, aku orang yang kurang beruntung saja saat itu. Kau tahu, orang lain pun tak sudi jika membaca cerita sampah seperti ini. Cerita ini, sangat tidak penting untuk orang lain urusi.

Beberapa kali, aku mencoba mempertahankanmu. Namun nyatanya, aku tidak bisa menjagamu. Entahlah, aku tidak pernah mengerti tentang urusan cinta. Yang aku lakukan, hanya bisa mempermainkanmu dan tidak pernah serius pada hubungan cinta kita berdua. Tapi hati kecilku mengatakan berbeda sayang, kau wanita yang aku cintai. Betapa istimewanya cinta yang kau berikan padaku. Hingga, tidak pernah ada seorangpun yang dapat menggantikan posisimu di hatiku. Itu benar sekali.

Lama sudah cerita kita berakhir kandas ditengah jalan, dengan masalah yang seharusnya bisa aku atasi lebih cepat. Terkadang, hubungan cinta ini terlalu rumit untuk aku jalani. Jelas, aku yang masih tidak percaya dengan keadaan, pada kenyataan, yang memaksaku untuk berkorban lebih, agar dapat mempertahankamu di sampingku. Karena aku tidak pernah memiliki seseorang, jadi aku tidak tau caranya mencintai.

Sayang. Nama panggilanku saat itu untukmu. Andai saja bila aku dapat memutar lagi waktu. Dimana aku masih mengingat jelas, sosokmu. Yah benar, kau wanita yang selalu meneleponku saat tengah malam. Bidadari yang jatuh dari kayangan, yang sekedar menanyakan keadaanku dan berbagi cerita tentang hari itu.

“Hallo, arif?” sahut amel padaku.
“Hallo, ini siapa yah?” tanyaku pada amel.
“Ih tukan kamu nyebelin banget sih” jawab amel padaku.
“Iya sayang ada apa? Pasti lagi kangen yah hehehe” candaku, pada amel.
“Ahhh bete” sentak, jawab amel padaku.

Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan amel, yang selalu meneleponku tengah malam. Sikapnya itu, membuatnya terasa berbeda dengan wanita lain, sungguh. Memang pada saat itu, amel tampak mengeluh padaku. Dimana ia bercerita, tentang aku yang jarang sekali mengajaknya bermain dan melepas rindunya bersamaku. Sepertinya ia memberikan kode, bahwa ia sedang rindu padaku.

“Arif, aku kangen banget, kapan kamu bisa ajak aku main lagi?” sahut amel padaku.
“Iya mel, aku usahain nanti aku kabrin lagi yah” jawabanku pada amel.

Sempat jawabanku itu, memicu kesalahan yang sering aku lakukan dengan wanita yang paling aku cintai dan aku lakukan itu dengan sadar. Rasanya hari-hari itu terasa membosankan karena aku lagi-lagi mengabaikannya. Yang aku takutkan, ia tidak akan pernah bisa bahagia bersamaku.

Jujur. memang aku menyadarinya dalam hati ini menjelaskan, bahwa kau memang tidak siap atas apa yang terjadi nanti padanya. Dan bila saat itu aku menyadarinya dengan cepat, mungkin cerita ini akan sedikit berbeda.

Hubungan kami memang tidak pernah jelas, dengan kondisi pada saat itu. Karena aku lagi-lagi menghilang darinya, dengan waktu yang cukup lama. Aku menyadari, bahwa sikapku yang pemalas menjadi penyebabnya. Ini sangat menyedihkan, suatu hal yang bodoh, memang benar sekali. Mungkin jika aku jadi amel aku akan sangat kecewa, mungkin membencinya, bahkan ingin melupakan, jika perlu.

Semua itu salah, rasa kecewa itu tidak pernah tampak terlihat darinya. Aku merasa bersalah sekali, banyak sekali janji yang aku ingkari. Kekecewaan itu nampak terlihat jelas di pikiranku. Tapi lagi-lagi hati ini menegaskan. Aku sangat mencintainya, aku menginginkanya, apa yang selama ini dia lakukan padaku, membuatku merasa nyaman denganya. Sehingga aku mencoba memberanikan diri, sepertinya aku harus belajar dari kesalahan itu. Entahlah, apa salahnya jika aku mencoba segera meminta maaf padanya.

Ini keadaan yang sangat kacau, aku tidak mengerti bagaimana ia menanggapinya saat itu. Tidak lama setelah aku mengirimkan pesan padanya, anehnya amel membalas pesanku. Dimana ia mengatakan untuk menjemputnya di rumah. “Oh Tuhan”, Aku sangat beruntung sekali. Sepertinya ada harapan untuku terbuka kembali. Momen yang aku inginkan, aku segera bergegas menuju rumahnya. Tiba sesampainya di rumah amel, aku lalu menghubunginya.

“Mel, aku sudah sampai ini depan rumah kamu. kamu jemput kesini yah” sahutku pada amel.
“Iyah aku sekarang kesana, tungggu yah bentar” jawab amel.

Hari yang cerah, menghiasi pertemuanku pada saat itu. Kami dipertemukan kembali. “Oh Tuhan”, hatiku bergetar dan mataku terkesima, betapa cantiknya dia hari ini. Tidak pernah aku menyangkanya, mimpi apa aku semalam, tanyaku. Dan Amel tersenyum manis, seketika bertemu denganku sore itu.

Aku sempat mengatakan maaf sebelumnya dengan tulus padanya. Tapi, karena memang ia wanita yang baik. Jadi dia sudah memafkan kesalahanku yang lalu.

“arif, kita mau main kemana nih?” sahut amel padaku.
“Kamu mau mainya kemana, aku sih gimana kamu?” jawabku yang bingung pada saat itu.
“Kemana yah, aku sih terserah kamu aja” jawab amel.
“Hmmmm, ya udah berangkat aja, gampang nanti kita mikir di jalan aja hehehe” elaku, pada amel.

Hal itu juga yang membuat saya bingung setengah mati. Soal tempatpun menjadi permasalahan besar. Memang saya buta sekali dengan jalan, karena begitu tidak hafal dan jarang sekali bermain. “Maaf karena saya bukan anak hits”. Terkadang saya merasa takut dan malu jika saya harus terus terang padanya.

Sesampainya kami di lokasi tempat makanan favoritku. Aku mencoba berbicara padanya dengan baik, nampak saat itu dia menceritakan kondisinya. Lama setelah tidak bertemu denganku. Ya, aku mengerti kondisi pada saat itu memang sulit untuk aku katakan. Sehingga, aku membahas cerita yang lain saja. Ditengah perkataanya aku sangat terkejut sekali, wow.. Amel menceritakan yang membuat perasaanku hancur seketika saat itu. Yah tentang kekasih barunya, ia mengatakan sangat bahagia dengan pasangan barunya saat ini.

Mungkin ini merupakan sebuah cambukan untuku, karna menyianyiakan cinta yang tulus darinya dan akhirnya petaka yang terjadi. Yah syukurlah, Memang orang bodoh banyak sekali yang mencintaimu dengan tulus termasuk aku.

Amel mencoba tersenyum seperti biasanya kepadaku dan aku hanya bisa mengiyahkan kondisi saat itu.
yah. Aku akui hari itu, aku sangat gugup berbicara padanya. Tidak seperti biasanya saat bejumpa. Mungkin, aku yang masih menyimpan perasaan padanya.

Amel sempat melanjutkan curhatnya padaku, ia menceritakan segala ceritanya. Termasuk, Masalahnya dengan teman dan pacarnya yang dia katakan padaku. Temanya yang menjauhinya karena sesuatu dan pacarnya yang sedang ada di luar kota. Ia sempat mengeluhkan tentang itu padaku.

Memang, dimalam itu aku melihat wajahnya sedih. tampaknya, amel seperti memikirkan sesuatu, entah itu sedang memikirkan masalahnya, sepertinya ia terganggu. Tidak tenang pada dirinya sendiri. Tapi, tidak seperti harapanku, Ia akan mengatakan putus begitu saja dengan pacar barunya. Semua itu salah, Karena amel mengatakan padaku, bahwa kekasihnya akan selalu setia padanya kapanpun.

Malam itu, aku mencoba utuk menghiburnya. Agar ia sedikit tenang dengan keadaanya. Tetapi, tidak untuk diriku sendiri. Memang, dalam hatiku mengatakan. “Kau pantas diselamatkan sayang”, sedangkan aku tidak. Malam semakin larut dalam kegelapan dan aku hanya bisa mengikhlaskan segalanya apa yang sudah terjadi padaku hari itu.

Cerpen Karangan: Mohamad Angga
Facebook: https://www.facebook.com/Aanggassangga
Reuni Mia

Reuni Mia

Judul Cerpen Reuni Mia

Aku menghela nafasku. Setelah menempuh perjalanan selama lima jam akhirnya aku sampai di rumah masa kecilku. Ya, aku sudah menyelesaikan kuliahku, hanya tinggal menunggu wisuda saja. Untuk mengisi waktu yang ada, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halamanku.

Setelah merebahkan tubuhku di kasur kamarku, aku memutuskan untuk menghubungi Triana. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku sudah pulang dan tak sabar untuk bertemu dengannya.
“Alhamdulillah, kalau kamu udah sampai di rumah dengan selamat. Yang udah mau lulus kuliah, selamat ya. Oleh-oleh dari kota ada nggak buat aku?” cerocos Triana dalam obrolan kami di Blackberry Messenger. “Ada nggak ya, sepertinya tidak ada oleh-oleh untukmu,” balasku.
“Kamu jahat, Mi. Kok nggak ada hadiah buatku? Tapi, ya udah nggak apa-apa deh. Oh, ya kamu udah tahu belum kalau teman-teman SMA kita mau mengadakan reuni, alumni kita saja satu angkatan.” Triana memberitahuku kabar terbaru. Apa? Reuni. Rasanya baru kemarin aku lulus SMA, padahal sudah hampir empat tahun berlalu.
“Oh, ya. Kapan reuninya? Tempatnya dimana?” tanyaku pada Triana. Aku baru tahu jika teman-teman mau mengadakan reuni. Mungkin karena saking sibuknya aku mempersiapkan ujian skripsi sehingga tidak tahu hal itu.
“Rencananya dua minggu lagi, Mi. Hari minggu tanggal 18 nanti, kata teman-teman. Tempatnya di sekolah kita. Kamu datang, kan. Sayang lho kalau kamu tidak datang. Semua teman-teman seangkatan kita saja kok. Nggak ada kakak kelas ataupun adik kelas. Datang ya, Mia sayang. Aku juga mau ikut rencananya.” Triana membujukku.

Sebenarnya aku tidak terlalu semangat untuk menghadiri acara tersebut. Otakku kembali mengingat masa putih abu-abuku dulu. Serangkaian kenangan hadir di kepalaku. Mulai dari teman-teman karibku, guruku, hingga dia.
Ya, dia. Orang yang akan selalu hadir saat aku mengingat masa SMA-ku. Roby Azka Rahman, orang yang coba aku lupakan semenjak beberapa tahun terakhir ini. Orang yang kupikir jika aku meninggalkan kota kelahiranku ini, aku akan melupakan dia. Nyatanya, tidak.

“Bagaimana, ya? Aku bingung. Memangnya semua teman-teman kita juga datang nggak, Tri? Aku sih ingin ketemu teman-teman, tapi bagaimana kalau aku ketemu dia?” Apa Triana tahu siapa yang aku maksud. Aku betul-betul mau bertemu teman-temanku yang lain. Tapi, jika aku bertemu dia, apa yang harus kulakukan?
“Ya, ampun. Kamu takut ketemu Roby, Mi? Kenapa mesti takut, sih? Kata Putra dia bisa tidak ikut. Kalau dia ikut kenapa juga, Mi? Santai saja, bukankah hal itu sudah lama berlalu.” Triana membesarkan hatiku. Tapi, tetap saja aku bingung dengan perasaanku sendiri.

Aku dan Roby dulu memang pernah dekat. Kami pernah menjalin hubungan selama beberapa waktu, tapi kemudian berakhir. Semenjak itu, aku tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun lagi. Entahlah, apa karena aku masih menyayangi dia sehingga aku tidak pernah berhubungan lagi dengan orang lain.
Tetapi, hal berbeda berlaku dengan Roby. Ya, dia pernah menjalin hubungan dengan orang lain setelah perpisahan kami. Tapi, semenjak lulus SMA sampai saat ini, aku tidak tahu siapa kekasihnya. Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya semenjak kelulusan SMA kami, dan tak pernah bertemu dengannya lagi.

“Ya, sudah. Nanti aku pikirkan lagi. Kalau aku mau datang, aku bisa menghubungi kamu lagi, Tri. Aku mau istirahat dulu, ya?” aku segera mengakhiri obrolan kami. Kulihat Tri mengatakan oke di pesan terakhirnya.
Sebenarnya, aku mau ikut reuni. Aku mau melihat perubahan teman-temanku. Dan, jujur di dalam hatiku yang terdalam, aku juga ingin bertemu Roby. Tapi, separuh hatiku yang lain memintaku untuk tidak datang. Jika bertemu lagi, aku takut kalau aku semakin tidak bisa melupakan dia. Padahal, saat ini pun aku tidak tahu apakah dia masih ada di hatiku atau tidak. Dan, ku tahu aku mulai merindukannya lagi. Setelah empat tahun berlalu aku masih belum bisa untuk melupakannya.



Roby Azka Rahman
Aku sedang duduk santai di kasurku ketika ibu mengetuk pintu kamar. Beliau mengatakan jika ada temanku yang sedang menungguku di depan. Astaga, ini hari minggu dan hari reuni SMA ku dilaksanakan.
“Hei, Putra. Ada apa? Sudah kubilang kan kalau aku tidak mau datang ke acara hari ini.” Aku menghampiri Putra yang sedang duduk di kursi tamu. Kulihat ia hanya tersenyum jahil melihat kedatanganku.
“Kamu yakin nggak mau ikut? Kupikir kamu sudah berubah pikiran sekarang? Kenapa sih kamu nggak ikut aja. Takut ketemu Mia, ya?” Kulihat ia tertawa setelah mengucapkan kalimat tadi. Dasar, aku bukannya takut bertemu dia.
Mia, ah sudah lama aku tidak mendengar nama gadis itu. Sejak kelulusan kami, aku tak pernah menghubungi dia lagi. Ya, hubungan kami bisa dibilang tidak terlalu baik semenjak perpisahan kami dulu. Aku sengaja menghindari dia, hanya agar dia tidak terlalu terluka ketika mengingatku.
Aku tahu semua salahku. Tapi, kami sama-sama tahu jika dulu kami masih terlalu muda untuk menjalin suatu hubungan. Dan, akhirnya hanya penyesalanku yang masih tersisa. Aku begitu merasa bersalah karena tidak memperlakukannya dengan baik, dulu. Sehingga aku selalu mencoba untuk menghindari dia. Aku tak punya keberanian untuk meminta maaf padanya.
“Hei, kamu kok melamun sih, By. Ditanya ikut atau tidak malah diam.” Putra mengagetkanku saja, bayangan wajah Mia perlahan menghilang. “Aku tetap tidak ikut, Putra. Ini bukan karena gadis itu. Aku hanya tidak berminat saja.” Ya, aku memang tidak berminat karena aku yakin dia pasti datang. Aku belum bisa bertemu dia. Walaupun aku berusaha menghindarinya, tidak berhubungan dengannya lagi, aku tetap tidak bisa melupakan gadis itu. Entah kenapa, ada hal berbeda dari Mia dibanding gadis-gadis yang pernah aku sayangi. Sehingga membuatku tak bisa melupakannya.
“Ya, sudah kalau kamu tetap nggak mau. Aku berangkat sekarang, ya. Ada yang mau disampaikan kalau aku bertemu Mia?” Putra kembali menggodaku. Kontan saja langsung kubilang tidak.
Sebenarnya, aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Apakah dia masih tetap sama seperti empat tahun yang lalu, ah, seperti enam tahun yang lalu sejak kami berpisah? Hanya saja aku terlalu takut untuk menemuinya lagi.



Mia Adilla
“Akhirnya kamu datang juga, Mi. Kenapa lambat sekali?” Triana langsung menghampiriku sesaat aku datang di acara reuni ini. Aku hanya tersenyum sambil melihat sekeliling panggung acara. Sekolahku tidak banyak berubah semenjak terakhir dua tahun lalu aku berkunjung kesini.
“Aku hanya mau terlambat saja sesekali. Kan dulu aku siswa teladan.” Triana tersenyum mendengar kalimatku barusan. “Aku datang sama Alya, Tri. Dia yang terlambat menjemputku,” sambungku lagi.
“Ya, maaf deh, Mi, Tri. Aku tadi agak sibuk membantu bibiku. Hanya kita bertiga saja kah yang datang, 9 Menara yang lain mana?” Tanya Alya. Ah, benar. Aku belum melihat teman-temanku yang lain.
Saat kelas XII dulu, aku berteman dengan delapan sahabatku yang lain. Saking akrabnya, kami menamai diri kami dengan 9 menara. Aku, Triana, Alya, Raina, Eka, Vivi, Reni, Andrea dan Zia. Tapi, saat ini aku hanya melhat Triana saja.
“Teman-teman yang lain pada sibuk, Al. Makanya, hanya aku dan Raina saja yang datang. Tuh, Raina lagi mengobrol dengan Putra dan yang lainnya. Ayo, kita kesana!” Triana menggandeng tanganku dan Alya. Kami hanya menurut saja mengikuti langkah kakinya.

Kami langsung mengobrol dengan teman-teman yang lain. Acara sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Sekarang sedang ada sambutan dari panitia pelaksana dan perwakilan guru yang mengikuti acara ini.
Aku tidak terlalu menikmati acara hari ini. Mataku masih mencari sosok keberadaannya. Sepertinya Roby memang tidak datang hari ini. Sampai menjelang acara penutup, aku masih belum melihat batang hidungnya.
“Kamu mencari Roby, Mi?” Putra mengejutkanku dengan pertanyaan itu. Langsung saja kugelengkan kepalaku. “Dia nggak bakalan datang, Mi. aku tadi sudah menjemputnya, tapi dia tetap menolak untuk hadir,” sambung Putra lagi.
“Oh, begitu. Tapi, aku tidak sedang mencari dia, kok.” Aku berbohong pada Putra. Mana mungkin kuceritakan yang sebenarnya, apalagi jika kukatakan kalau aku merindukan Roby dan ingin bertemu dengannya. “Sudah, ya. Aku mau pulang dulu. Udah dijemput soalnya.” Aku langsung bergegas menjauh dari Putra. Aku ingin pulang saja. Perasaanku sedang kacau sekarang.

Aku langsung mengatakan pada Alya kalau aku pulang lebih dulu. Triana ingin menahanku karena acara reuni belum selesai. Tapi, aku langsung melenggang pergi meninggalkan mereka.
Aku berhenti melangkah, terduduk di depan pagar sekolahku. Sudah kuduga, dia tidak akan datang. Padahal, aku sangat ingin bertemu dia. Bukan apa-apa, aku hanya ingin melihatnya. Sudah empat tahun berlalu sejak terakhir kali kulihat wajahnya. Tanpa kusadari air mataku menetes. Lagi, aku kembali merindukannya. Jika ada yang bertanya apakah aku masih menyayanginya atau tidak, mungkin ini akan menjawab pertanyaan itu. Hatiku sepertinya masih mengharapkannya kembali.



Roby Azka Rahman
Aku tidak tahu apa yang saat ini sedang kulakukan. Tiba-tiba saja aku menyadari jika aku sudah berada di depan sekolahku. Ah, acara reuni pasti masih berlangsung. Tapi, kakiku sepertinya enggan untuk melangkah masuk kesana.
Aku masih termenung ketika menyadari seseorang keluar dari depan sekolahku. Dia, gadis itu adalah Mia. Ia berjalan dengan cepat sebelum akhirnya terduduk lunglai. Apa yang sedang terjadi padanya?
Aku melihat ia meneteskan air matanya. Ah, gadis itu, kenapa dia menangis? Ingin sekali aku menghampirinya dan mengusap air matanya. Kenapa sekarang dadaku yang terasa sesak setelah melihat dia menangis?
Aku mulai melangkahkan kakiku, tetapi hanya sesaat saja aku langsung berhenti. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Di satu sisi aku ingin menemuinya dan berbicara padanya, tapi setengah hatiku yang lain memintaku untuk tetap tinggal. Aku takut jika aku menghampirinya, tidak menyembuhkan luka hatinya, malah akan semakin melukainya.
Kulihat Mia sudah berhenti menangis. Ia sudah mengusap habis air matanya. Tetapi sampai saat ini ia belum juga melihat kehadiranku. Mungkin karena tubuhku terlindung pohon akasia yang besar ini. Ah, Tuhan, aku harus bagaimana?



Mia Adilla
“Apa yang sedang kau lakukan, Mi? Kenapa duduk di luar sini, tidak masuk ke dalam?” Sebuah suara yang sangat aku nantikan terdengar di telingaku. Aku langsung berdiri dan melihat sesosok laki-laki yang sangat aku rindukan. Tuhan, dia sedang berdiri di hadapanku sekarang, setelah empat tahun aku tidak melihatnya.
“Aku sedang menunggu seseorang. Aku mau pulang dan sedang menunggu jemputan,” balasku sambil mengamati wajahnya. Dia tidak berubah. Roby masih sama seperti yang dulu. Hanya saja sekarang kulitnya agak lebih gelap.
“Kamu kenapa nggak masuk ke dalam saja? Acara reuninya masih belum selesai. Mungkin saja kamu mau bertemu dengan teman-teman.” Aku kembali melanjutkan kalimatku. Kulihat dia hanya menatapku saja, tanpa bicara lagi.
Hening menyelimuti kami berdua. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Aku mencoba bersikap wajar dengan kembali bertanya padanya. “Apa kabar, Roby? Lama tidak berjumpa. Hampir empat tahun ya semenjak kelulusan kita,” kataku.
“Kabarku baik, Mi. Kamu belum berubah, masih sama seperti dulu, ya,” jawabnya. Aku hanya tersenyum. Tuhan, aku kembali bertemu dengannya. Kupikir aku takkan melihatnya lagi.
“Aku malas saja masuk ke dalam, Mi. Kamu, apa kabar? Kelihatannya kamu baik-baik saja,” Roby bertanya balik padaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Kulihat dia tersenyum menatapku.
“Maaf, Mi. Kamu sudah menunggu lama, ya. Tadi ibuku memintaku untuk mengantar adikku lebih dulu, baru aku bisa menjemputmu. Maaf, Mi.” Belum sempat aku menjawab pertanyaan Roby tadi, aku dikejutkan oleh kedatangan Radit. Ya, aku memang meminta Radit untuk menjemputku. Karena tadi pagi aku sudah diminta untuk makan siang bersamanya.
“Nggak apa-apa, Dit. Oh, ya ini temanku Roby. Roby, perkenalkan ini Radit.” Aku memperkenalkan Radit kepada Roby. Kulihat raut wajah Roby berubah, tidak seperti tadi saat pertama kali aku melihatnya.
“Roby, maaf ya aku mau pulang dulu sama Radit. Terima kasih sudah mengajakku mengobrol tadi.” Aku kemudian mengajak Radit untuk meninggalkan tempat ini. Kulihat Roby menganggukkan kepalanya. Seandainya Radit terlambat menjemputku, aku mungkin masih bisa mengobrol dengan Roby.
Aku menatap Roby untuk terakhir kalinya, dan ia masih tersenyum padaku. Terima kasih untuk hari ini, Tuhan. Aku bertemu dengannya lagi. Aku akhirnya bisa melihat sosok yang aku rindukan selama bertahun-tahun ini. Padahal, kukira aku takkan bertemu dia lagi.



Roby Azka Rahman
Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Sudah pukul 10 malam sekarang dan aku masih belum bisa memejamkan mata. Aku senang karena hari ini bisa bertemu gadis itu. Dan memastikan kalau keadaannya baik-baik saja. Tapi, siapa laki-laki yang menjemputnya tadi? Entah kenapa, hatiku terasa sesak setiap mengingat laki-laki itu. Apakah aku cemburu?
Aku kemudian memutuskan untuk menghubungi Mia. Aku ingin tahu siapa laki-laki tadi siang. Dengan segera kuketikkan pesan padanya melalui Blackberry Messengerku. Walaupun kami tidak pernah berhubungan lagi, tapi namanya masih ada dalam kontak BBM ku.
“Maaf jika aku mengganggumu, Mia. Kalau boleh aku bertanya, Radit itu siapanya kamu?” langsung saja kuketik kalimat tersebut. Dan sialnya, pesanku tidak terkirim. Hanya tanda ceklis yang muncul.
Aku mencoba berpikir positif. Mungkin saja laki-laki itu temannya. Tapi, aku tidak mengenal Radit. Apa mereka baru kenal? Tapi sepertinya mereka sudah lama kenal dilihat dari sikap Radit kepada Mia tadi.
Aku kembali bermain dengan pikiranku sendiri. Mia, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa aku jadi seperti ini? Aku hanya bisa mengecek kronologi Facebook Mia. Dia tidak terlalu aktif karena kulihat status terakhirnya dua minggu yang lalu.
Ah, gadis itu membuatku ingin berteriak saja. Aku begitu penasaran dengan hubungan mereka berdua. Ya, jika Radit orang yang istimewa untuk Mia, aku mungkin tidak akan menghubunginya lagi dan tidak akan memintanya bertemu denganku.
Waktu semakin berjalan. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 11. Dan dia masih belum menjawab pertanyaanku. Aku kemudian mencoba memejamkan mataku. Mungkin aku bisa tertidur sekarang.
“Kamu tidak menggangguku, By. Radit itu anaknya teman ibuku. Kami hanya berteman saja. Kebetulan tadi dia mengajakku makan siang karena dia ingin bertemu dengan sahabatnya. Dan teman-temannya lagi sibuk semua hingga akhirnya dia mengajakku.” Akhirnya Mia membalas pesanku dan menjawab pertanyaanku. Syukurlah, mereka hanya berteman saja. Ada kelegaan yang menyeruak di dalam hatiku.
“Oh, begitu. Syukurlah. Kamu kapan ada waktu? Aku boleh nggak berkunjung ke rumahmu?” Astaga pesan itu terlanjur kukirim padanya. Ada apa dengan otakku saat ini? “Aku akhir-akhir ini ada terus kok di rumah. Kalau kamu mau ke rumah, nanti kabarin aku lagi, ya.” Balasnya. Untung saja dia tidak bertanya yang aneh-aneh padaku.
“Baiklah. Tapi, kamu nggak apa-apa jika aku ke rumahmu?” tanyaku lagi. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku mau berkunjung ke rumahnya. Aku hanya menuruti kata hatiku saja. “Iya, nggak apa-apa kok. Santai saja,” jawab Mia.
Gadis ini, ternyata tidak berubah. Aku belum tahu apa yang akan aku katakan jika bertemu dengannya lagi. Terlalu banyak yang ingin aku bicarakan dengannya. Dan, jika dia mau. Aku ingin memintanya kembali. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai teman hidupku. Semoga, ya.

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi
Blog / Facebook: rahmipratiwibiologi14.blogspot.com / Rahmi Pratiwi
Hujan dan Kamu

Hujan dan Kamu

Judul Cerpen Hujan dan Kamu

Aku mulai menghitung dari hari ini, menghitung hari untuk sebuah perpisahan, perpisahan karena tak ada lagi pertemuan untuk waktu yang cukup lama. Memang, hari itu masih jauh, tapi aku sudah mulai resah. “Entah apa yang aku takutkan, entah apa yang aku resahkan.” itulah kebohongan yang selalu aku pertanyakan pada hatiku. Aku takut kita tak bisa bertemu lagi, aku takut tak bisa memandang senyum itu lagi. Senyum dari kamu yang bukan milikku lagi.

Hari demi haripun kini telah berlalu. Dan tak terasa waktuku berasamamu makin singkat. Bukan waktu untuk bersamamu, namun waktu yang aku miliki hanya untuk sekedar melihatmu. Kamu begitu dekat namun terasa jauh. Kamu di depan mata tapi tak bisa untuk kugenggam. Kamu nyata tapi bagai tak ada. Aku selalu bergantung pada sebuah harapan dan janji. Perjanjian kita untuk bertemu.

28 April 2016, belum beberapa lama waktu itu berlalu. Waktu dimana aku dan kamu kembali bertemu. Waktu dimana aku dan kamu berada di satu tempat berdua lagi. Waktu dimana kurasa itu adalah pertemuan berdua kita untuk yang terakhir kalinya. Hatiku hancur mengingat bahwa aku dan kamu akan terpisah oleh jarak. Jarak yang tidak bisa disepelekan. Jarak yang bukan dekat. Aku terus melamun di sepanjang jalan menuju tempat kamu menunggu. Hatiku benar-benar terluka. Karena belum saja aku bertemu denganmu, hujan sudah menemaniku terlebih dulu. Hujan yang membangkitkan semua ingatan dimasa lalu. Dimana dimasa itu “aku dan kamu” masih disebut “kita”.

Ya, sore itu kita pergi berdua. Kita kembali mengunjungi tempat yang pernah kita lalui bersama disaat hujan. Aku terus tertawa menutupi luka yang sebenarnya makin membesar. Aku menutupi kesedihan itu darimu karena kamu tidak boleh tau betapa hancurnya aku. Kamu tidak boleh tau betapa rapuhnya aku. “Aku mencintaimu, aku menginginkanmu, aku mau menjadi kita lagi,” itulah kata-kata yang keluar dari dalam hatiku yang tak mampu kuucapkan kepadamu. Kamu dengan ketegaranmulah yang membuatku semakin yakin, bahwa semuanya akan baik-baik saja walau ada jarak. Dan kamu akan baik-baik saja tanpa aku.

Sore ini pun berlalu. Malam pun menjelang, malam yang kulalui sendiri lagi. Kulalui tanpa kamu lagi. Dan malam itu yang membuatku sadar, aku akan melewati hari-hari beratku tanpa kamu. Benar-benar tidak akan ada kamu lagi. Benar-benar dunia yang akan baru lagi. Ini adalah malam yang berat. Malam terakhirku berada di daerah yang sama denganmu.

29 April 2016, aku akan beranjak pergi. Meninggalkan semua yang ada disini. Meninggalkanmu dengan ribuan kenangan yang ada disini. Sore itu kamu menemuiku. Kamu datang seusai hujan setempat di kamarku. Membawa sebuah kantong berisikan barang berbalut kertas kado. Senyum penuh kebohonganmu itu, membuatku berada di posisi sulit. Tidakkah kita bisa untuk saling memahami bahwa kita sama-sama terluka? Bahwa kita sama-sama terpuruk? Aku melihatmu berbohong terlalu kuat, terlalu kokoh berdiri di atas kebohonganmu. Kamu benar-benar tampak baik-baik saja. Tidak seperti aku yang sangat hancur menerima sebuah perpisahan yang aku mau.

Aku ingin terlihat sekuat dirimu, aku ingin setegar dirimu, tapi aku tidak pernah bisa. Aku selalu gagal menahan semuanya. Aku selalu gagal menyembunyikan semuanya. Cinta yang kamu berikan begitu sempurna sayang, hingga aku tidak dapat lagi untuk bersembunyi. Bersembunyi dari luka yang timbul akibat dari sebuah perpisahan yang akan kita lalui. Ini berat sungguh, namun karena kamu terlihat biasa saja, aku mencoba untuk lebih santai menghadapinya. Santai dalam sebuah hujan di mata.

Kini waktupun sudah mulai berlalu. 1 minggu sudah jarak ini berkuasa. Jarak pun kini seakan menjadi Raja yang serba mengatur hidupku. Aku tak lagi pada tekadku. Tekad yang akan mencoba untuk melupakanmu dengan adanya orang baru. Namun kamu, masih aku ingat. Kamu masih bersarang di sini, di otakku, di hatiku. Baru kusadar, ada yang tertinggal saat aku beranjak pergi. Hati, hati yang aku titipkan padamu tak kunjung bisa untuk aku bawa kemanapun aku ingin pergi. Hati yang masih tetap melekat padamu.

Aroma apa ini? Kenapa aroma ini tak asing bagiku? Padahal ini adalah tempat baru. Ini aroma khasmu. Ini aroma tubuhmu. Kamu mengikutiku? Kenapa aroma ini ada disini? Aku makin merindukanmu, aku makin mengingatmu. Aku makin terpuruk dalam kesunyian ini. Aku merasa terlalu akrab dengan aromamu. Aku terpuruk dalam kerinduan ini. Rindu yang tak pernah bisa aku ungkapkan sepenuhnya kepadamu. Aroma yang membuatku tertidur dalam kesedihan dan kerapuhan. Aroma yang membawaku pada keheningan senja.

Seketika keheningan itu pecah, aku mulai bertanya suara apa itu? kenapa tidak asing bagiku? Aku mulai bangkit dari tempat tidurku dan berjalan ke jendela asrama kala itu. Dan ternyata benar, itu suara hujan. Ada apa dengan hujan? Aku hanya mencoba untuk tidak terlalu berpikir tentang makna dari tiap rintikan hujan. Namun, semakin kuat hatiku menolak untuk melupakannya, semakin besar luka dan rindu akan dirimu. Pikirku melayang, terbang jauh meninggalkan ragaku. Pikiranku pergi menjemputmu ke masa lalu. Masa-masa dimana kita pernah menikmati hujan berdua. Masa-masa dimana kita tidak pernah menolak hujan untuk datang. Karena dimasa itu hujan adalah kamu, yang selalu memelukku erat yang tak mampu untuk aku lepaskan sampai saat ini.

Hujan selalu punya cerita tentang kita. Aku pernah merasakan pelukmu yang tak ingin aku lepaskan. Dan tanpa kusadari pelukan terbaikmu adalah disaat hujan. Disaat kita berjalan menyusuri sudut kota. Pelukan itu tak pernah lepas di sepanjang perjalanan. “aku mencintaimu, aku tak ingin kehilangan kamu,” kata-kata yang selalu aku katakan di dalam hati. Kata-kata yang telah bosan kamu dengarkan.

Banyak hal yang kita lalui, namun tak ada yang semenarik ketika hujan. Kamu bernyanyi, kita tertawa, dan kita bahagia. Karena hujan saat itu bukanlah tentang rindu, karena hujan dikala itu hanya tentang bahagia. Bukan tentang kenangan yang aku rasakan saat ini.

Aku selalu mengutuk hujan, aku selalu berusaha membenci hujan, karena hujan selalu berhasil membawamu kepadaku. Karena hujan selalu menimbulkan kenangan yang indah itu. Yang selalu berhasil membuatku berduka. Hujan yang selalu menggambarkan kamu. Aku makin hancur, aku makin terluka, hujan itu selalu berhasil menggambarkan kamu. Hujan itu selalu berhasil menimbulkan penyesalan di hatiku. Menyesal tak menikmati setiap rintik hujan bersamamu.

Kini aku sadar, tak ada gunanya aku membenci hujan. Karena jika aku membenci hujan, sama saja aku membenci kamu. Bagaimanapun hujan akan tetap turun. Hujan akan tetap bercerita tentang kamu. Hujan akan tetap seperti dulu. Semoga kita bertemu lagi, dipertemukan seperti air dan awan. Dipertemukan sebagai kita, tidak hanya tentang hujan dan kamu.

Cerpen Karangan: Dwi Ananda Aditya
Blog: dwiananda12.blogspot.co.id
Pertemuan Singkat

Pertemuan Singkat

Judul Cerpen Pertemuan Singkat

Pertemuan antara kau dan aku terjadi begitu saja. Semuanya terasa begitu sederhana, tidak ada hal yang manis. Kau mengenalkan namamu begitu saja padaku, aku hanya bisa tersenyum mendengar namamu, Azam. Waktu berlalu begitu cepat, kedekatan kita semakin terjalin erat. Kehadiranmu membawa cerita lain dalam hidupku, kau memberikanku perhatian yang sangat luar biasa sehingga membuatku terbiasa akan sapaan manismu, tawa canda yang kau buat dan perlakuan manis darimu.

Sampai akhirnya kedekatan antara kau dan aku ini menumbuhkan benih-benih cinta dalam diriku. Tanpa sengaja aku pun menaruh harapan padamu, sosok pria yang telah mampu menyembuhkan rasa sakitku akan luka lama di masa lalu. Kugantungkan harapku padamu, dengan berharap kau merasakan hal yang sama. Aku berikan kau kesempatan untuk mengetuk pintu hatiku meski kau tak memintanya. Aku berikan semua perhatianku padamu meski saat ini aku tahu kau tak merasakan getaran akan perasaanku ini.

Apa kau benar-benar tak merasakan akan getaran-getaran rasa yang telah kuciptakan untukmu? Aku tak percaya jika kau tak memahami dengan apa yang aku lakukan untukmu. Apa hanya aku saja yang terlalu berharap, mengartikan semua tindakanmu sebagai cinta? Tapi apakah aku salah jika aku memiliki perasaan yang berbeda untukmu. Rasa nyamanku saat bersamamu semakin hari semakin tumbuh sehingga membuatku tak bisa mengendalikan perasaan ini.

Kau tahu hal apa yang membuatku bahagia? Yaitu melihatmu tersenyum karena diriku. Aku merindukan handphoneku berdering menerima pesan darimu, aku merindukan saat-saat dimana aku bisa tertawa dengan bahagiannya bersamamu.

Namun semuanya telah berakhir. Tanpa ada ucapan perpisahan. Tanpa ada kata selamat tinggal dan lambaian tangan darimu. Kau pergi begitu saja tanpa alasan. Meninggalkan beribu pertanyaan dalam hatiku. Apa aku terlambat untuk berkata jujur mengenai perasaanku padamu? Aku hanya seorang perempuan yang senang akan memendam dan tanpa banyak bertindak. Karena itu aku tak mungkin untuk memulainya lebih dulu.

Kau tahu ini terasa aneh bagiku. Dulu kau dan aku begitu dekat meski tidak ada kejelasan dalam hubungan kita, tapi kini kau menjauh dengan tiba-tibanya. Aku berpikir begitu keras, apa yang membuatmu pergi. Apa aku masih kurang pantas untukmu, Atau di luar sana telah kau temukan perempuan yang lebih sempurna dariku.

Aku tak bisa berkata untuk memintamu kembali padaku. Aku juga tak bisa memaksamu untuk mengakui semuanya padaku. Karena saat ini tidak ada lagi yang bisa aku harapkan darimu. Harapanku terhadapmu telah mati seiring kepergianmu dari hidupku. Aku tak munafik, kepergianmu sungguh membuatku merasa kehilangan tapi luka yang kau beri lebih terasa dari rasa kehilangan itu.

Aku yang dulu terbiasa dengan sapaan manismu, terbiasa dengan perhatiamu, dan terbiasa melihatmu tertawa karenaku, kini harus ikhlas melepaskanmu dengan kesibukanmu yang sesungguhnya aku pun tidak tahu kesibukan apa yang saat ini sedang kau jalankan.

Setelah membuatku nyaman dan jatuh hati lalu pergi tiba-tiba, apakah kamu pernah berpikir sekali tentangku? Pernahkah sekali terlintas dalam benakmu untuk mengatakan seperti apa perasaanmu terhadapku? Ah, tapi rasanya pun akan percuma jika aku tahu seperti apa perasaanmu terhadapku. Karena saat ini saja aku enggan untuk melihatmu (lagi).

Awalnya aku memang tidak terima perpisahan tanpa ucapan ini terjadi. Begitu sulit untuk aku menerimanya dan seringkali aku menangis karena terlalu merindukanmu. Tapi aku bukan perempuan bodoh yang hanya akan tertuju pada sosok pria yang pergi meninggalkan tanpa memberi sebuah alasan.

Terimakasih pernah singgah walau hanya sesaat, terimakasih pernah menyembuhkan walau sekarang memberikan luka, terimakasih pernah membuatku tersenyum walau sekarang membuatku menangis. Pertemuan singkat antara kau dan aku biarlah menjadi penambah cerita di dalam hidupku ini. Dan aku berharap kau takkan pernah kembali sekalipun itu kau kembali dengan sebuah penjelasan.

Cerpen Karangan: Selvilla Apriani
Blog: http://selvillaapr33.blogspot.co.id
Facebook: Selvilla Apriani (Rachel Park)
Twitter: @SelvillaApr
Jomblo, Kutukan Apa Ujian

Jomblo, Kutukan Apa Ujian

Judul Cerpen Jomblo, Kutukan Apa Ujian

Kenalin nama gue Zahwa, umur gue dua puluh tahun. Di usia yang ke 20 ini gue, masih belum pernah pacaran sama sekali alias jomblo. Temen-temen gue sering ngejekin gue karena di zaman sekarang gue masih belum punya pacar. Gue sih santai-santai ini hidup-hidup gue, gue yang ngejalaninnya tapi kenapa orang-orang pada reseh. Gue mencoba untuk tidak peduli dengan apapun yang dikatakan mereka dan sabar buat ngejalanin hidup gue. Tapi tetep aja gue sebel juga kalau ada yang nanya-nanya kenapa belum punya pacar. Emang punya pacar itu sebegitu pentingnya apa. Sampai-sampai orang yang nggak punya pacar itu dianggap punya aib.

Sebenarnya gue nggak punya pacar itu bukan karena nggak laku, tapi gue nggak pengen aja pacaran. Tapi alasan sebenarnya adalah gue belum bisa move on dari mantan gebetan gue. Entah kenapa luka yang ditorehkan itu begitu dalam hingga gue tak bisa melupakannya. Gue sebenernya pengen ngelupain dia buat selamanya tapi hati gue nggak bisa ngebohongin diri gue sendiri kalau gue itu masih suka sama dia.

Banyak juga dulu yang pernah nembak gue, tapi selalu aja gue tolak. Meski, gue ini termasuk golongan yang biasa dan sederhana tapi ternyata banyak juga yang dulu pernah suka sama gue. Gue juga nggak tahu, kenapa. perasaan penampilan gue biasa-biasa aja malah cenderung udik. Muka gue juga biasa nggak cantik-cantik amat tapi emang lumayan sih hehe… Tapi nggak jelek-jelek amat. Pokoknya secara fisik gue ini standar banget deh.

Di zaman sekarang ini jomblo emang sudah seperti penyakit yang memalukan. Orang yang jomblo itu dianggap nggak laku, nggak seru dan bukan manusia modern. Ya begitulah stigma masyarakat yang berkembang saat ini apalagi di kalangan anak muda sekarang. Anak muda yang ketahuan jomblo kayak udah ketahuan punya penyakit panu. Malu banget pastinya. Makanya, untuk menghilangkan rasa malu itu, anak muda harus punya pacar.

Paling gue sebelin itu waktu ketemu sama temen-temen sekolah SD atau SMP. Pasti nanyanya udah punya pacar atau belum. Itu sudah seperti pertanyaan wajib saat ketemu temen-temen dari masa sekolah dulu.
“Gue belum punya pacar kok” kata gue enteng.
“Masa sih wa kamu belum punya pacar” katanya dengan nada nggak percaya.
Nih orang nanya atau ngasih tebakan sih kok dikasih tau malah tambah sok tahu. gue akhirnya Cuma nyengir kuda sambil senyum semanis-manisnya nahan hati gue yang dongkol.

Kok ada ya, orang kayak gini hidup di dunia ini. udah dikasih tahu malah nggak percaya. Logikanya orang yang nanya kan nggak tahu ya, eh dikasih tahu malah ngeyel. Ini nih yang suka bikin gue kesel abis sama mereka. Apalagi kalo pas lagi ngumpul, pasti yang dibahas masa lalu. Bahas masa lalu itu sih nggak apa-apa tapi ini yang dibahas soal mantan pacar dan gebetan.

“Eh wa, sekarang si asroh udah jadian loh sama Bella” kata Meta temen SMP gue.
“Lha terus kenapa ta, ya sukur deh kalo mereka udah jadian. Bella kan emang udah lama suka sama si Asroh” kata gue santai.
“Loe nggak cemburu??” tanyanya lagi
“Emang dia siap gue, pacar bukan, tunangan juga bukan. Apa hak gue cemburu sama dia” kata gue sewot.
“Tapi dia kan pernah nembak loe wa” katanya lagi
“Udah deh ta, nggak usah bahas masa lalu, kita di sini ngumpul di sini kan buat saling berbagi bukan bahas masa lalu” kata gue dongkol.
Namun jauh di dasar hati gue, gue juga pengen punya cowok dan pengen nyoba gimana rasanya pacaran itu. tapi gue nggak bisa ngebuka hati gue buat orang lain. ditambah lagi katanya dalam Islam itu nggak boleh pacaran. Jadi kuurungkan saja niat itu, mungkin ini cara Tuhan menyayangi gue yaitu menghindarkan gue dari melakukan dosa. Gue mencoba berpositive thinking aja.

Jujur aja menurut gue, status jomblo gue ini membuat gue lebih religious dalam menjalani hidup. Gue sering ngaji, shalat tepat waktu pokoknya gue mendekatkan diri sama Tuhan. Kalo punya pacar gue pasti nggak bakal sereligius ini, karena mungkin gue bakal ngabisin waktu buat pacaran. Jadi gue positif thinking aja sama Tuhan jika Dia ingin gue bisa lebih deket sama Dia makanya gue nggak dikasih pacar. Ya jadi jomblo harus berpositif thinking aja. Anggep aja itu energi buat bertahan hidup dari para cemoohan.

“eh wa, apa mungkin loe jomblo itu dapet kutukan” kata Maya tiba-tiba saat kami sedang berjalan menuju masjid kampus di ujung gedung.
Tentu aja gue kaget, denger kata-kata Maya barusan.
“Maksud loe kutukan apaan May, mana ada di zaman sekarang ada kutukan segala. Emang kita hidup di zaman Malin Kundang apa” kataku nggak percaya.
“Tapi, tetangga gue ada yang ngalamin hal kayak gitu wa” kata Maya dengan wajah serius dan berhasil memancing rasa ingin tahuku.
“Masa sih May, emang kutukannya gimana?” kataku mulai percaya dengan cerita Maya.
“Gue juga nggak tahu pasti sih wa, apa itu kutukan atau karena ilmu sihir. Menurut cerita yang beredar sih dia berubah jadi agak aneh setelah nolak cowok” katanya menjelaskan.
“Berubah gimana May?” tanyaku lagi
“Ya berubah, tingkahnya jadi aneh jadi pendiem banget terus suka menyendiri dan sampai sekarang dia masih belum laku-laku tuh” katanya menjelaskan dengan wajah sambil menampakkan wajah seriusnya.
“Kok serem gitu sih May” kataku memberi komentar.

Semenjak cerita dari Maya itu, gue jadi ngeri sendiri dan bertanya pada diriku sendiri apa mungkin status jomblo gue ini gara-gara kutukan dari seseorang. Karena jujur saja gue takut ada orang yang sakit saat gue tolak dulu. Ngebayangin itu gue jadi takut sendiri. tapi emang sih semenjak gue lulus SMP itu gue ngerasa jadi ada yang aneh sama gue. Seperti ada sesuatu yang hilang dari diri gue. Entah itu karena kutukan atau karena gue nggak bisa ketemu sama gebetan gue lagi. entahlah gue bingung kenapa. Tapi semoga ini bukan kutukan atau karena ilmu hitam. Gue nggak bisa ngebayangin aja kalo sampe gue kena ilmu hitam kayak gitu. Lagi-lagi gue harus berpositif thinking sama Tuhan.
Jadi jomblo emang harus sering-sering berpositif thinking sama Tuhan biar pikiran nggak tambah sempit dan hati pun nggak nyesek. karena kalo gue terus menerus meratapi status jomblo gue, bisa-bisa otak gue geser. Meski gue ingin punya pacar tapi gue tahu jika rencana Tuhan itu akan jauh lebih baik daripada keinginan sesaat gue yang ingin punya pacar. Mungkin gue harus sedikit bersabar dan percaya dengan takdir Tuhan jika semuanya akan indah pada waktunya. Jomblo itu bukan untuk diratapi ataupun disesali tapi jomblo itu harus dinikmati.

Cerpen Karangan: Sri Pujiati
Facebook: Oryza Sativa
Tak Berujung Denganmu

Tak Berujung Denganmu

Judul Cerpen Tak Berujung Denganmu

Sejuk senyap embun pagi menemani hati dalam rindu. Perlahan angin berhembus menerbangkan dedaunan menuju titik perhentian. Seiring dengan itu riuhan kicauan burung mengisi ruang pendengaran. Aku sudah lama menanti setiap pagi. Tidak ada yang berbeda, sunyinya hari-hariku sejak dia pergi. Hitam kelabu rindu menyelimuti kalbu. Aku menunggu untuk dibuai sendu. Kamu yang selalu kunanti tak kunjung kembali.

Tepat 4 tahun 2 bulan kita tidak bertemu, perpisahan jarak antar benua membuatku tak pernah henti mengkhawatirkan keadaanmu. Sudah 4 tahun kan? itu artinya dia pasti akan segera kembali ke Indonesia. Ohh sahabatku, tak sabar lagi aku ingin sekali menatap wajahmu, merangkulmu, bercanda tawa denganmu, dan itu aku tidak sabar untuk membuka kotak kecil dibawah pohon di dekat taman SMA kita. Tapi, aku sedikit ragu dengan sahabatku itu selama 4 tahun dia tidak pernah membalas E-mail dariku. Apakah kuliah di luar negeri itu sulit sekali? sampai dia tak menyempatkan waktu untuk membuka E-mail dariku? Hmmm.

Namaku Risti, hari ini hari pertama aku memulai pekerjaanku sebagai seorang perancang bangunan di sebuah perusahaan ternama. Lulus dengan fresh graduate membuatku mudah mendapatkan pekerjaan. Meskipun aku harus pindah daerah dari kota asalku itu tidak masalah, setidaknya aku bisa sedikit melegakan hati yang terus dibuat rindu akan penantian kembalinya sahabatku itu.

Di hari pertamaku, aku bertemu dengan seseorang yang tidak asing “Risti? sedang apa disini?”, “Eh Mas Rangga, Risti pegawai baru disini Mas, Mas sendiri?” ,”Wahh bagus kalau gitu selamat bergabung ya, Mas sudah bekerja lama disini dan sudah diangkat sebagai ketua tim perancangan, kamu bagian apa Ris?”, Aku tercengang mendengar jawaban Mas Rangga, dulu Mas Rangga ini seniorku di kampus dia juga pernah mengajakku berkencan tapi aku selalu menolak sekarang aku jadi awkward di hadapan Mas Rangga “Eh anu itu, Risti bagian perancangan juga Mas”. “Hahaha bagus ya Ris, ternyata bener kalau jodoh pasti ketemu”, ”Eh maksud Mas Rangga?”, “Enggak Ris, yuk kita ke ruangan”. Tiba di ruangan Mas Rangga memperkenalkan aku di depan semua anggota tim, Mas Rangga terlihat bahagia sekali, apa Mas Rangga masih mempunyai perasaan terhadapku? Oh my God, Why on me???

Jam sudah menunjukkan jam 8 malam kebetulan pekerjaan di kantor kuselesaikan dengan cepat dan aku bisa kembali ke apartmen, jam seginilah aku biasanya mengirim E-mail untuk sahabatku itu. Aku tidak peduli walaupun dia tidak membalas satupun aku tidak pernah lelah untuk terus mengirimkannya sebuah email. Paling tidak ketika dia membuka E-mail nanti dia akan tau bahwa ada seorang wanita yang selalu setia mengirim tanpa mengharapkan balasan. Yaa… sesimple itulah pemikiranku. Kring kriing kring, ohh that’s my phone ringing. “hallo? dengan siapa ini?”, “ini Mas Rangga Ris”, “Ohh Mas Rangga, ada apa?“, Mas Rangga bercerita dia membutuhkan bantuanku untuk bekerjasama menyelesaikan permintaan client yang rumit, aku pikir itu hanya modus Mas Rangga saja. Husshh kenapa jadi negative thinking gini sih, hmm.

Hari demi hari kulalui seperti biasanya mengirim E-mail untuk sahabatku,dan bekerja, tapi ada yang berbeda 12 bulan sudah aku bekerja di perusahaan itu, Mas Rangga selalu mengajakku untuk membantunya dan aku semakin dekat dengan Mas Rangga. Yang dulunya aku tidak pernah menerima ajakan makan malam sekarang hampir setiap malam aku makan bersama Mas Rangga. Mas Rangga selalu memberiku kode-kode alam tapi aku pura-pura gak peka. Gak peka bukan berarti bisa mendengar tapi lebih tepatnya tidak peduli. Mas Rangga baik, tidak ada yang salah dengan Mas Rangga hanya aku saja yang terlalu lama sendiri. Lohh kok hahahaha…

Suatu hari aku dibuat terkejut oleh Mas Rangga, dia berkata akan datang menemui orangtuaku untuk meminta izin. Meminta izin apa? aku sudah mengira dia akan datang untuk melamarku. Tapi bagaimana mungkin, aku masih menanti seseorang yang belum kembali, aku masih tertegun dalam harap akankah dia kembali atau tidak? tidak ada kabar sama sekali. Apakah aku harus menerima Mas Rangga? aku benar-benar dilema. Seperti inikah ujung dari penantianku? yang kunanti tak kembali yang tidak kunanti hadir, bagaimana mungkin aku melepaskan orang yang ingin serius denganku hanya karena seseorang yang 4 tahun kunanti tanpa kabar dan berita apapun. Tapi jujur aku masih sangat berharap untuk dapat bertemu dengannya. Aku ingin sekali mengetahui apakah perasaannya sama dengan perasaanku. Bagaimanapun ujungnya, aku tidak boleh egois aku harus menghargai perasaan Mas Rangga. Jika memang Mas Rangga yang terbaik untukku aku berharap tidak akan bertemu lagi dengan sahabatku itu.

Orangtuaku setuju, semua sudah setuju aku dan Mas Rangga bertunangan. Di hari pertunanganku dengan Mas Rangga, tak sadar aku menjatuhkan gelas dalam genggaman ketika mendengar seseorang berkata melihat Dennis membawa bunga di gerbang. Aku pun berlari tak menghiraukan apapun. Aku tak melihat ada Dennis, dimana Dennis? air mataku menetes. Seseorang yang selama ini kurindukan aku belum melihatnya tapi dia sudah pergi. Mas Rangga datang menghampiriku “saya tidak peduli seberapapun saya mencintai kamu betapa bahagia telah bertunangan denganmu hari ini, jika kamu menangis saya akan menghapus air matamu, carilah dia yang kamu nantikan. Jika kamu tidak menemukannya saya masih ada dan siap menikahi kamu. Cukup melihatmu bahagia tidak menangis itulah cinta saya yang nyata”. Hari itu aku menangis tersedu-sedu dihadapan Mas Rangga.

Keesokan harinya, aku mencari Dennis ke rumahnya tapi tak terlihat seorang pun. Aku mulai bingung harus mencari Dennis, apakah benar Dennis kembali? tapi seharusnya dia memberitahuku lebih awal. Mataku menerawang ke sekeliling rumah Dennis, aku melihat serangkaian bunga tergeletak di balik semak. Aku pun meraihnya ya ini bunga baru, ini artinya Dennis benar-benar kembali. Sejenak terlintas di fikiranku tentang sebuah kotak kecil itu. Aku bergegas menuju taman dekat sekolah. Tepat di bawah pohon yang sudah kami beri tanda aku masih sangat mengingat pohon itu walau tak diberi tanda. Aku melihat-melihat keberadaan Dennis namun tak terlihat juga. Akhirnya aku mendekati pohon itu aku menggali dan mengambil kotak itu, tapi sepertinya Dennis sudah menggali tanah ini, tunggu… Kenapa kotak ini tidak terkunci, Dennis sudah membukanya aku tau karena kunci kotak ini di tangan Dennis. Tidakk!! tidak mungkin, kenapa Dennis mengosongkan kotak ini? dia hanya meninggalkan sebuah kunci. Sia-sia sudah aku tak akan bertemu lagi dengan Dennis.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah E-mail masuk. “Aku tau kamu akan datang mencari kotak itu, aku memang pernah janji ketika kembali akan membuka kotak itu bersamamu. Tapi malam itu aku tidak sabar ingin membaca apa yang kamu tulis, you want to be my wife? aku sudah membalasnya malam itu. Umhh sudahlah, aku tidak mau bertemu denganmu jika kamu masih ingin menjadi istriku, tapi tetaplah menjadi sahabatku selamanya. Aku akan datang di pesta pernikahanmu nanti. Umhh iya kamu tidak perlu khawatir kenapa aku tidak jadi menemuimu kemarin. Karena aku tau kamu sayang aku kan? mau jadi istriku kan? hahahahaha Risti… Risti… I love you my best friend”.

Di hari pernikahanku dengan Mas Rangga, Dennis benar-benar hadir disitulah aku kembali menatap wajahnya untuk yang pertama kali setelah sekian lama tidak bertemu. Dennis tetap menjadi sahabatku dia bersikap nyaman sekali layaknya sahabat. Setelah itu Denis pun kembali ke Berlin untuk melanjutkan studinya, bekerja dan memulai lembaran baru di Berlin. Dan aku juga membuka lembaran baru bersama Mas Rangga.

Dennis sahabatku sejak kecil, dia pangeranku tapi tidak menjadi suamiku, sampai saat ini aku tidak tau apa jawaban Dennis tentang pertanyaanku. Terkadang kita pernah mendengar “jika dia memang terlahir untukmu sejauh apapun kamu melempar dia akan tetap menjadi milikmu”.

Cerpen Karangan: Oka Nadya
Facebook: oka.nadhiiya
Berharap

Berharap

Judul Cerpen Berharap

Namaku Rahayu, aku adalah orang yang selalu merasakan sakitnya berharap. aku mempunyai pengalaman yang bisa akujadikan pelajaran yaitu berharap kepada seseorang.

Dulu aku pernah menyukai seseorang namanya Alfian, aku sangat mencintainya sejak aku menginjak ke sekolah smp. aku mengenalnya karena kita pernah satu sekolah. waktu itu aku sangat memperhatikannya sampai aku rela minta diam diam nomornya ke teman aku sendiri, karena aku malu untuk memintanya sendiri. Setelah mendapatkan nomor hpnya aku langsung mengirim sms ke dia, setelah beberapa hari kemudian dia menembakku untuk jadi pacarnya. aku bahagia banget saat seseorang yang aku suka mengatakan apa yang aku harapkan.

Setelah hampir sebulan dia menghilang tanpa mengabari aku, ternyata dia sudah dekat dengan wanita lain. hati aku sakit entah saat itu aku hanya bisa menangis dan menangis. aku coba mengikhlaskan dia untuk orang lain.

Satu tahun kemudian aku menjalin hubungan dengan orang lain tapi tidak lama, karena aku nggak bisa ngelupain mantan aku alfian. entah apa yang membuatku mudah berikan hatiku padanya, padahal dia sudah menyakiti aku berkali-kali. 12 november itu adalah hari ulang tahunnya aku coba mengungkapkan isi hatiku lewat surat ucapan yang aku berikan padanya, tapi dia begitu biasa saja tanpa ada respon apapun.

26 februari adalah ulang tahunku, aku berharap dia ngucapin walaupun tidak langsung, aku menunggunya, ternyata sampai sore dia belum ngucapin padahal di sekolah kita sering berpapasan. Setelah beberapa lama aku membuka bbm ternyata ada bbm dari dia “hbd ya”, aku terkejut sampai sampai aku menangis karena saking bahagianya walaupun kata-katanya cuma simple. setelah aku dengar dengar ternyata dia disuruh sahabat aku, ada sedikit rasa kecewa karena terlalu berharap.

Kita sering chatan bahkan dia sering membuat aku baper, karena kata-katanya dan gombalannya, tapi bodohnya aku tanpa aku sadari ternyata itu semua cuma omong kosong dia, bukan hanya di saya tapi juga hampir semua cewek, aku sangat kecewa tapi entah kenapa aku masih berharap padanya, jelas jelas dia tidak pernah merespon aku sama sekali. padahal aku selalu berusaha untuk melupakannya, ternyata aku nggak bisa. entah apa yang membuatku selalu berharap padanya. menurut aku berharap kepada seseorang adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan.

Cerpen Karangan: Rahayu
Facebook: Rahayu Rhy
Krisis Identitas

Krisis Identitas

Judul Cerpen Krisis Identitas

Hari ini, dari mulai membuka mata pada pagi hari sampai tulisan ini dibuat pada pukul sebelas malam, perasaan gelisah bercampur dengan rasa sesal dalam hidup berkecamuk dalam diri ini. Paparan kronologisnya sudah dimulai sejak pagi hari.

Saat matahari terbit seolah semangat dan optimisme kembali terisi penuh. Kegiatan membersihkan rumah, mulai dari menyikat lantai kamar mandi, menguras bak mandi sampai membereskan kamar Ibu dan keponakan dilakukan dengan semangat yang menggebu. Beranjak sedikit siang setelah semua usai, aktifitas selanjutnya mandi, kegiatan ini juga masih kuisi dengan semangat yang cukup menggebu, karena rencana pendek yang sudah tergambar setelah aku mandi yaitu menyeduh dan menikmati kopi pagi ditemani sebungkus rok*k. Semangat menyeduh kopi dan menikmati setiap hisapan sebatang rok*k selalu muncul hanya di awal saja, sama seperti hari-hari sebelumnya. Ditengah dan akhir kedua kebiasaan yang selalu dilakukan bergantian tersebut, perenungan (kalau boleh disebut seperti itu) mulai mengganggu kenikmatan aktifitas itu. Seolah pikiran ini menuntut aku agar melakukan akttifitas tambahan lainya, entah apapun itu. Karena aku seorang jobseeker (kalau tidak mau dibilang pengangguran) maka dengan cepat kubuka situs lowongan kerja melalui handphone (HP).

Sebenarnya beberapa hari sebelumnya aku sudah mendapatkan kesempatan tes tulis di salah satu sekolah swasta berbasis agama Islam, yang surat lamaranya sudah aku masukan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi aku sudah membiasakan diri untuk tidak menunggu atau berharap lebih terhadap sesuatu. Aku sudah sering dikecewakan dengan harapan yang berlebih. Dan seolah rasa pesimisme lebih dominan dalam diriku ketimbang rasa optimisme. Temanku sempat bertanya ketika aku mampir setelah melaksanakan tes tulis yang lokasinya tidak jauh dari tempat kos temanku. Dia bertanya “gimana de (panggilan akrabku) tesnya?” aku menjawab “ya begitulah, gak terlalu mengharap” kemudian temanku menjawab “loh kok pesimis gitu, berdoalah supaya tesnya bisa lolos” kujawab dengan senyum agak meledek “realistis aja”

Hari ini aku isi dengan penuh kelesuan setelah semua pekerjaan rumah aku kerjakan, seolah sudah semua hal aku telah lakukan. Kopi yang kubuat juga tidak aku habiskan dan masih tergeletak di depan meja monitor komputer. Dengan tubuh yang kurebahkan di kasur dan HP di genggaman aku mulai membuka situs lowongan kerja dan hasilnya seperti yang sudah aku duga. Sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangku yaitu Sosiologi. Halaman facebook sudah kubuka hampir sepuluh kali mungkin, karena saking jenuhnya tidak ada aktifitas yang aku bisa lakukan. Hari ini pun aku mandi cukup siang sekitar pukul 10 pagi. Setelah mandi aku pergi ke kamar dan menyalakan TV. Sebenarnya aku kurang begitu suka menonton acara TV, tetapi karena bingung mau melakukan aktifitas apa ya sudahlah. Acara TV hanya aku ganti-ganti saja tanpa fokus melihat satu acara TV, sepuluh menit kemudian aku matikan TV, karena rasa jenuh tetap tidak terhindarkan. Kuputuskan untuk ke luar kamar dan melihat aktifitas Ibu di ruang TV. Kulihat ibu sedang duduk tenang menyaksikan TV. Begitu beliau melihatku beliau berkata “Mau kerja bakti ta Ndik?” kujawab dengan muka masam “tidak bu”, kuambil botol minum dari lemari pendingin, kuminum tidak sampai habis dan kuletakan kembali ke dalam kulkas. Aku kembali ke dalam kamar, sebenarnya tadi selain aku ingin melihat Ibu, aku juga ingin melaksanakan Ibadah sholat Dzuhur karena saat itu sudah pukul 12 siang, tapi karena ibu menanyakan apakah aku ingin kerja bakti maka moodku langsung berubah dan urung melaksanakan niat tersebut. pertanyaan Ibu tersebut seolah ingin menyindir aku bahwa aku ini anak yang kurang bersosialisasi dengan tetangga. Hal tersebut memang benar dan aku akui. Aku terkadang merasa bahwa diriku ini orang yang aneh, karena memiliki kepribadian ganda. Disaat tertentu aku sangat introvert tapi disaat lain aku bisa menjadi ekstrovert. Keanehan inilah yang terkadang mengganggu hubunganku dengan lingkungan sekitar. Dan keanehan ini juga membuatku merasa malu menyandang gelar sebagai sarjana Sosiologi yang harusnya bisa sepenuhnya menjadi seorang yang ekstrovert.

Kembali dengan aktifitasku yang tadi kujelaskan bahwa aku memutuskan kembali ke kamar. Pada saat inilah pergumulanku dengan pikiran kembali mengusiku. Terngiang dalam pikiranku tentang apa yang sudah kualami dalam hidup. seolah aku belum memiliki identitas yang pasti melalui kemampuan pasti yang kumiliki. Aku sangat iri dengan teman-temanku yang sudah banyak mendapatkan pencapaian. Teman-temanku seolah memiliki bakat khusus di setiap dirinya. Ada yang berbakat bermain musik, olahraga, faham dengan politik sehingga terjun sebagai aktifis dan masih banyak lagi. Aku sering membandingkan teman-temanku itu dengan diriku sendiri. Aku merasa tidak memiliki bakat khusus, aku bertanya kepada diri sendiri “apa yang aku bisa?” musik tidak, olah raga aku hindari, pemahaman politik setengah-setengah, menulis juga masih berantakan (lihat saja tulisan ini). Aku merasa seolah aku tidak berguna. Bahkan pikiran untuk bunuh diri sering terbersit dalam benak. Untuk apa manusia seperti aku ini hidup, yang aktifitasnya hanya bisa menghabiskan uang orangtua untuk membeli sebungkus rok*k dua hari sekali, menghabiskan sumber daya air untuk kebutuhan mandi, buang air dan menyeduh kopi dan masih banyak lagi. Dan perasaan bahwa aku ini orang yang tidak berguna adalah aku tidak bisa memenuhi ekspektasi Ibuku. Lihat saja tingkahku yang tidak mau mengikuti kerja bakti sehingga Ibu menjadi malu dengan tetangga sekitar, lihat saja perilakuku yang terkadang sering menolak bahkan membentak ketika ibu menyuruh sesuatu, dan lihatlah aku yang sampai saat ini masih belum bisa memberikan hasil keringatku karena sampai sekarang aku masih belum mendapat pekerjaan.

Semua permasalahan tentang rasa tidak bergunanya diriku ini, seolah pertanda bahwa aku memang sedang mengalami krisis identitas. Mau jadi apakah aku ini kelak, mengingat bakat khusus pun aku masih belum bisa temukan dalam diriku? Inilah pertanyaan besar yang selalu menggelayut dalam pikiran dan merusak suasana tenang ditengah aku menyeruput kopi dan menghisap rok*k. Apakah aku memang harus bunuh diri? Agar orang seperti aku ini tidak membikin dunia semakin sumpek dan sesak?

Cerpen Karangan: Achmad Soefandi
Facebook: Achmadsoefandi[-at-]gmail.com
Rindu Di Balik Hujan

Rindu Di Balik Hujan

Judul Cerpen Rindu Di Balik Hujan

Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu dengan pujaan hatinya. “Dia jauh di mata namun akan tetap dekat di hati dan juga doaku” bisiknya.

Winda hanya seorang anak biasa yang hidupnya sederhana. Awal pertemuannya dengan Dito saat mereka sekolah di tempat yang sama. Dito adalah kakak kelasnya dan setelah melalui banyak pendekatan akhirnya mereka resmi jadian.

Seiring berjalannya waktu mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing bahkan untuk bertemu sudah semakin sulit. Winda sibuk dengan urusan kuliahnya sedangkan Dito sibuk dengan pekerjaannya. Winda sudah lupa kapan terakhir dia bertemu dengan kekasihnya itu. Bahkan yang membuatnya semakin galau karena komunikasi antara mereka yang sudah mulai jarang dilakukan. “Aku sangat ingin tahu kabarnya, tapi aku tidak ingin menghubunginya duluan. Aku tidak mau mengganggu urusannya” batinnya.

Sempat terpikir di hatinya mungkin Dito sudah melupakannya atau bahkan menjauhinya. Tapi dia berusaha menepis rasanya itu, yang mampu dia lakukan hanya berharap hubungannya akan tetap baik-baik saja. “Hmm hujannya sudah reda yah” gumamnya. Winda segera beranjak dari tempat duduknya lalu kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sambil menatap langit-langit kamarnya dia pun mulai terbuai dalam mimpi indahnya.

Alarm handphonennya pun berbunyi yang membuatnya terbangun dari tidurnya. Itu tandanya ia harus melaksanakan shalat subuh. Karena sudah memasuki musim hujan, air yang ia pakai berwudhu sangat dingin. “Brr.. dingiiinn sekali” sambil merinding. Sehabis shalat, Winda segera membersihkan kamarnya hari itu dia ada jadwal kuliah. Pagi yang tidak secerah biasanya, matahari nampak tertutup oleh awan-awan yang mendung. Hawa dingin masih menusuk kulit sisa hujan semalaman. “Mungkin hari ini akan kembali turun hujan, aku harus segera berangkat ke kampus” sambil bersiap-siap ia berpamitan kepada kedua orangtuanya dan adik bungsunya.

“Kamu tidak sarapan dulu sayang?” tanya Ayah. “Tidak Ayah, Winda nggak sempat, lagian mau turun hujan” sambil memakai sepatu ia pun melangkah ke luar rumah. “Sayang, payungnya jangan lupa” teriak Ibunya. “Oh iya makasih bu” sambil memasukkan payung ke dalam tasnya dia pun berangkat naik angkutan umum.

Sampai di kampus tepat waktu, Winda pun mulai mencari-cari ruangannya. “Winda… tunggu!” teriak Vivi dari kejauan sambil berlari. Sambil menoleh dia pun menunggu temannya itu. “Win, kamu jalannya langkah seribu cepat banget!” sambil mengatur napas. “Ya iyalah nanti kalau jalannya kayak cinderella kapan sampainya ujung-ujungnya telat lagi” ucapnya sambil terus berjalan. “Iya iya” ucap Vivi.

Mata kuliah hari ini telah selesai, akhirnya Winda bersiap-siap untuk pulang. “Yah di luar hujan gimana nih Win?” ucap Vivi. “Kamu kan dijemput jadi tidak masalah kan” jawab Winda. “Iya tapi kan kita harus jalan ke luar ke gerbang dulu”. “Aku bawa payung kok yuk!” sambil mengeluarkan payung dari tasnya. “Horee, yuk!” ucap Vivi sambil menggandeng tangan Winda. “Oh itu jemputan aku Winda, aku duluan tidak apa-apa kan?” tanya Vivi. “Iya tidak apa-apa aku juga mau naik angkutan umum tuh” sambil menunjuk sebuah mobil. “Ok bye Winda” ucap Vivi sambil berlari. “Bye” Winda pun segera menaiki angkutan umum dan mobil pun melaju.

“Hujannya lumayan deras” batinnya. Winda mulai memperhatikan hujan yang turun di atas mobil yang dinaikinya. Biasanya dia bisa melihat senja tapi kali ini sebaliknya. Sebagian orang yang di dekatnya sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sibuk bercerita, main handphone, hingga ada yang sampai ketiduran saking ngantuknya. Di pinggir jalan Winda melihat anak-anak yang sedang berlarian sambil hujan-hujanan dengan ceria. “Hmm aku rindu masa-masa itu” gumamnya sambil tersenyum tipis.

“Assalamualaikum” teriaknya di balik pintu. “Walaikumsalam” ucap ibu sambil membuka pintu. “Kamu sudah pulang, ya sudah kamu jangan lupa shalat dulu baru makan ya sayang” ucap ibunya. “Iya bu” sambil melangkahkan kakinya menuju kamar. “Hmm hari ini hujan terus, tapi aku juga menyukainya. Hujan yang membawa kedamaian dan juga rahmat-Nya”. Winda pun bersiap-siap melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai dia pun menuju dapur “Huaa.. aku lapar sekali gara-gara tidak sarapan dan tidak sempat jajan di kampus” sambil mengusap perutnya. “Wah.. ada makanan kesukaanku alhamdulillah” Winda pun makan dengan lahapnya.

Winda pun kembali ke kamarnya dan berniat untuk menulis sesuatu. “Suasana dingin karena hujan membuatku terinspirasi saat ini” gumamnya. Dia pun membuka laptop dan mulai memainkan keyboard, dengan lincah jemarinya menekan tombol demi tombol entah apa yang ada dipikirannya.

“Ini kisah cinta yang rumit bagiku aku mencintainya. Seseorang yang bagiku akan tetap menjadi satu-satunya di hati kecilku. Apapun yang dia lakukan sangat berarti, sangat berkesan bagiku. Inikah cinta yang tulus? Kuharap bukan cinta yang membodohi diri. Aku mencintainya dan akan tetap seperti itu. Berapa banyak yang mengusik dan merayu aku tidak peduli. Tetap dia dan selalu namanya terukir indah disana dalam hatiku”.

Sepenggal paragraf yang Winda tulis dalam karangannya mewakili perasaannya saat itu.

Cerpen Karangan: Nur Alam
Facebook: Nur Alam