Showing posts with label Cerpen Remaja. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Remaja. Show all posts
Nameless Circus (Part 1)

Nameless Circus (Part 1)

Judul Cerpen Nameless Circus (Part 1)

Ada sebuah kebiasaan aneh yang saudarinya, Aria, lakukan setiap bulan.

Belanja pakaian.

Oke, mungkin untuk anak perempuan, itu sangat tidak aneh. Tapi kalau untuk anak laki-laki sepertinya, jelas itu aneh. Aria memiliki kebiasaan membeli pakaian-pakaian baru di mal dekat. Kata Dad, itu wajar karena Aria sedang dalam proses pubertas. Tapi apa dia perlu membeli banyak pakaian sebanyak isi lemari kamarnya?

Belum lagi, Akira sering diminta untuk mengikuti dan menemaninya selama di sana. Sungguh, Akira sangat kebosanan dengan semua itu. Hanya datang demi membawa barang belanjaan Aria yang sangat banyak, sangat merepotkan. Akira mau saja menolak dijadikan beban tapi Aria akan menampilkan wajah tidak sukanya dan dia akan terus ‘meneror’ Akira selama beberapa hari.

“Kira, temani aku ke mal yuk! Ada baju bagus di sana.”
“Ari, ini sudah yang kesebalas kalinya kamu mengajak aku ke mal demi urusan membeli baju.”
“Tapi kali ini baju-bajunya bagus, Kira. Tolong temani aku ya! Pleaseee!”
“Kenapa kamu suka banget belanja tanpa henti? Apa kamu enggak pernah pikirkan uang Dad?”
“Itu enggak masalah. Sekarang ini aku sudah bekerja dengan Melisa jadi masalah uang enggak perlu dipikirkan lagi.”
“Kenapa kamu enggak ajak teman-temanmu saja? Kenapa harus aku?”
“Karena kalau sama yang lainnya sudah bosen. Lagi pula, kamu kan cowok. Kalau aku ajak Melisa atau Delie, mereka enggak akan kuat bawa barang-barang belanjaan.”
“Ari, aku bukan bodyguard kamu, oke?”
“Tapi tetap aja. Tolonglah, Kira. Temani aku ya!”
“Kenapa kamu selalu menyusahkanku?”
“Temani aku saja! Apa susahnya sih?”
Menyebalkan bila seandainya memiliki saudari yang keras kepala.

Aria memang punya kebiasaan menarik bila sedang berjalan-jalan. Gadis itu selalu memeriksa internet, mencari-cari pakaian yang sedang populer di kalangan remaja. Baginya, melakukan hal itu sangat penting dalam dunia berteman. Akira tidak pernah bisa memahami hal itu. Akira hanya punya dua teman saat SD, Riki dan Philip. Keduanya mungkin paham dengan maksud Aria, mengingat Riki dan Philip adalah golongan murid-murid populer di SMA Perdana Alam.

Akira memang susah bergaul. Itu salah satu kelemahannya. Entah mengapa, berada di kerumunan orang yang seumuran dengannya membuat Akira gugup, malu, dan susah berbicara. Mom dan Dad pernah mengira dia penderita Agoraphobia —ketakutan di tempat-tempat terbuka atau banyak orang— walau terbukti tidak benar. Mereka bingung kenapa Aria bisa mendapat banyak teman sementara Akira tidak. Jangankan Mom atau Dad, Akira sendiri juga masih bingung dan terheran-heran. Mungkin karena dia terlalu cerdas dan lemah dalam fisik? Bisa jadi. Riki pernah bilang kalau Akira harus pintar dalam bidang olahraga, walau sampai sekarang dia masih payah.

Saat ini Aria sedang memilah-milah harga baju di salah satu toko. Aria terlihat menikmati momen-momen memilih pakaian, terukir dari ekspresi kesenangannya. Sementara Akira terbebani barang-barang berat miliknya.

“Ari, berapa lama lagi kamu berbelanja? Barang-barangmu ini sungguh berat,” gerutu Akira.
“Resiko kalau jadi cowok.”
Sialan. “Tapi ini enggak adil, Ari.”
“Memangnya aku peduli?”
Argh! Rasanya frustasi bila memiliki kakak sepertinya.

“Ari, kalau kamu enggak buru-buru, aku akan—”
Buk!
Badan Akira terhempas ke belakang karena tertabrak sesuatu —atau seseorang— dan membuat barang-barang belanja Aria ikut terjatuh ke mana-mana. Aria yang melihatnya langsung panik dan buru-buru mengambil barang-barangnya, bukan menolong adiknya terlebih dahulu. Dasar kakak tak tahu benar. Kenapa dia malah sibuk mengecek barang-barang miliknya?

“Aduh, Nak! Maaf banget! Tadi Tante enggak lihat.”

Seorang wanita berusia pertengahan tahun, memakai baju motif bunga mawar dengan warna yang berbeda, sepatu hak tinggi yang tidak serasi, dan tas besar ukura ibu rumah tangga. Tangannya menopang tubuh Akira supaya ia bisa berdiri dan membereskan kekacauan yang sudah ia lakukan.

“Kamu enggak kenapa-napa kan? Apa ada yang terluka? Apa ada yang berdarah? Apa kamu pusing? Lelah? Mual? Capek?”

Diberi pertanyaan sebanyak itu tentu membuat Akira bingung. Belum lagi, wanita ini bertanya dengan cepat-cepat dan terburu-buru, seolah-olah dikejar sesuatu. Orang lain pun pasti juga bingung jika diberi pertanyaan dengan cepat, apalagi jika banyak.

“E-Enggak apa-apa, Tan. Aku oke-oke aja.”
“Oh, baguslah. Tante sempat takut kamu terluka atau semacamnya.”
“Hei, Kira! Kenapa kamu bisa jatuh?” tanya Aria dengan wajah sebal. Yah, wajar saja kenapa Aria bisa sebal.
“Aku kan enggak sengaja. Lagian, kenapa kamu malah mempedulikan barang-barang kamu, bukan adikmu sendiri?”
“Ya ampun. Kamu ini kan udah besar. Memangnya masih perlu kuurus?”

Akira menggeleng kepala. Beruntung Akira masih bisa menahan emosi, tidak seperti kakaknya yang mudah berbawa emosi yang tidak jelas. Apa namanya? Ya, labil.

“Maaf ya. Tante enggak ada maksud buat kamu terluka.”
“Iya, Tante. Aku tahu kok. Tante enggak perlu khawatir.”
“Mana mungkin Tante enggak khawatir?” wanita itu terdiam sejenak lalu tiba-tiba berseru, “Ah! Tante tahu!”
Dia merogoh tas besarnya, mencari-cari sesuatu di dalamnya. Butuh waku beberapa menit sebelum ia menemukan apa yang hendak ia cari. Ketika tangannya keluar, dia menggenggam sebuah kertas panjang yang menampilkan gambar buku-buku, di mana tulisan TOKO BUKU LEBLANC tercetak besar dan ditulis menggunakan gaya yang menarik.

“Kupon pembelian buku?” guman Akira.
“Kebetulan Tante pemilik toko buku di sekitar sini. Kalau kamu mau membeli buku lama Tante, kamu boleh-boleh aja datang. Mau?” tawarnya.
“Tentu. Kenapa enggak?”

Dari dalam hati, Akira sudah berteriak kegirangan. Mendapat kupon pembelian buku merupakan hal yang sangat ia harapkan. Sebagai anak yang gemar membaca buku, mendapatkan kupon pembelian buku merupakan hal yang Akira harapkan. Kesempatan ini tidak akan selalu ia dapatkan setiap saat.

“Kupon beli buku? Serius? Dan kamu malah senang?” tanya Aria heran. Aria bukan maniak buku seperti adiknya tapi bukan berarti Aria tidak suka membaca. Dia masih mau membaca buku bergenre romance dan teenlit walau hanya sedikit saja. Masalahnya adalah Akira sering membeli buku-buku pelajaran sekolah dan sejarah dunia yang ketebalannya bisa mencapai 1000 halaman. Jangankan 1000 halaman, memiliki buku mata pelajaran setebal 200 halaman —seperti Matematika— saja sudah membuat otak Aria pusing tujuh keliling. “Memangnya Tante menjual buku-buku sejarah atau materi mata pelajaran SMA?”

“Oh, Tante punya banyak. Kalau kamu mau membeli buku, kamu bisa ke sana.” Dia melirik jam arlojinya lalu terkesiap. “Astaga, aku telat! Aku pergi dulu, Anak-anak!”
Sebelum Aria maupun Akira merespon jawabannya, wanita itu pergi dengan lari yang cepat.

“Dia sangat… aneh,” ujar Aria.
“Ya. Tapi menyenangkan,” balas Akira.
“Ya sudah. Ayo kita teruskan jalan-jalannya. Masih ada banyak hal yang ingin kubeli.”

Sesampainya di rumah, Aria mengeluarkan 6 pakaian barunya dengan perasaan gembira. Aria tidak sabar memperlihatkan baju-bajunya kepada Melisa, Delie, Vaina, dan Gwen. Pasti mereka akan suka sekali dengan baju-bajunya.

Aria tidak melihat Akira ke kamarnya. Kamar Aria dan Akira terletak cukup dekat satu sama lain, jadi dari balik pintu daun mereka bisa melihat siapa saja yang melewati kamar mereka. Ah, benar juga. Akira sedang mencari buku-buku materi untuk kelas 11 mendatang di toko buku terdekat. Ujian Akhir Sekolah sudah tinggal beberapa hari lagi dan Aria masib belum mengulangi setiap materi yang akan keluar di ujian. Argh, Aria tidak suka belajar. Apalagi yang materinya susah seperti Matematika atau Fisika.

Lebih baik kulihat internet dulu. Mumpung masih ada waktu, batinnya.

Tangan Aria refleks memeriksa berita-berita di beberapa situs website. Aria menemukan halaman berjudul PEMBATALAN KONSER JAZ WARDEN, SANG PENYANYI MENGHILANG yang menjadi berita hits nomor satu. Refleks, Aria meng-klik halaman berita tersebut dan sebuah artikel pun muncul di layar.

PEMBATALAN KONSER JAZ WARDEN, SANG PENYANYI MENGHILANG

Senin (26/02), konser Jaz Warden bertema “Lovely Flower” terpaksa dibatalkan di Jakarta karena keberadaan sang penyanyi yang menghilang tanpa kabar. Terakhir kalinya Jaz terlihat saat ia sedang berada di kamarnya, hendak mempersiapkan diri. Tidak ada siapa pun yang pernah melihatnya lagi.

Menurut sang manager, Jaz sering mendapat banyak pesan dan telepon anonim beberapa minggu terakhir. Tidak diketahui siapa dan bagaimana si pengirim mengetahui alamat pribadi Jaz yang tidak pernah ia tampilkan. Kemungkinan besar Jaz menerima ancaman dari seseorang yang membencinya, mengingat Jaz Warden memiliki banyak haters dan saingan di dunia musik sejak karirnya mulai menaik.

Hingga kini, pihak kepolisian masih mengadakan pencarian menyeluruh Jaz di daerah Jakarta. Polisi meminta siapa saja yang melihat atau mengetahui keberadan Jaz bisa menghubungi pihak polisi atau pihak manager supaya proses pencarian Jaz bisa cepat ditemukan.

Berita itu cukup mengejutkan Aria. Bagaimana tidak? Aria dan keempat temannya merupakan penggemar lagu-lagu Jaz Warden semenjak SD. Lagu-lagunya yang menarik dan indah, mampu menyihir siapa saja yang mendengarnya. Tentunya Aria ingat dengan Meg Ross, salah satu penyanyi sekaligus model majalah fashionista ternama yang bersaing keras dengan Jaz. Yang pasti, besok keempat temannya akan mulai merengek seperti bayi, mengoceh panjang-lebar dengan kabar menghilangnya Jaz dan konsernya yang terpaksa dibatalkan. Sejujurnya Aria sebal dengan berita ini. Padahal ia ingin sekali menemui Jaz dan kalau bisa meminta tanda tangan di album sebelumnya.

“Aaah! Kenapa konsernya harus dibatalkan sih?! Padahal aku harus menabung selama enam bulan demi beli tiketnya!” teriak Aria kesal.
“Ari, berhenti berteriak! Aku sedang sibuk belajar!” sahut Akira dari balik dinding kamarnya. Sepertinya dia sudah pulang.
Aria menghembus napas panjang lalu menatap jam kamarnya. Sepertinya dia perlu melakukan kegiatan lain hingga waktu tidur.

Akira paling benci bila waktu belajarnya diganggu.
Orang lain mungkin tidak akan mau belajar materi kelas 11 seperti yang Akira lakukan saat ini. Wajar saja, zaman sekarang remaja-remaja lebih malas dan lebih ingin santai. Apa ada orang yang ingin menghabiskan waktunya demi belajar materi pelajaran yang bahkan guru-guru di sekolah saja masih belum bahas? Mungkin hanya Akira saja yang akan melakukan hal semacam itu.

Saat Akira hendak menjawab soal Matematika nomor 26, ponsel pintarnya bergetar di meja. Layar menampikan nama si penelepon yakni Riki.

Akira menghembuskan napas pelan dan mengangkat panggilan. “Kenapa, Rik? Aku lagi belajar. Tolong jangan ganggu—”
“Aki, kamu enggak bakal percaya dengan apa yang akan kusampaikan!”
“Riki, jangan panggil aku Aki. Aku bukan mesin kendaraan.”
“Whatever,” sahut Riki tidak peduli sama sekali. “Kembli ke pembicaraan, aku mau menyampaikan sesuatu—”
“Kuharap ini bukan soal insiden batu semen seminggu lalu. Aku harus membersihkan seragamku sebanyak sepuluh kali.”
“Tenang, kawan. Yang ini jauh lebih besar.”
Akira menunggu hingga Riki berujar, “Philip udah punya pacar! Kali ini Leni!”
Astaga. Lagi?, tanya Akira dalam hati.
“Gila, bukan? Kudengar kali ini dia memakai lagu yang dia buat sendiri buat Leni mau jadi pacarnya! Aku yakin Yuno bakal menangis banget—”

Tangan Akira langsung mengakhiri panggilan Riki yang sangat tidak bermutu. Riki meneleponnya demi memberikan kabar soal temannya yang sudah berpacaran lagi? Membuang waktu berharga Akira untuk belajar. Kalau Riki mau menyampaikan berita itu, lebih baik disampaikan kepada Aria saja. Mungkin Aria yang sedang kesal entah apa bisa sedikit terhibur dengan berita itu.

Omong-omong soal tidak bermutu, Akira teringat dengan percakapan ia dengan Aria beberapa hari setelah ia pindah ke rumah. Saat itu ada salah satu teman Aria berkunjung ke rumah saat liburan sekolah—kalau tak salah, namanya Isabel. Isabel yang pertama kali melihat keberadaan Akira mulai menanyai berbagai hal padanya. Mulai dari yang pribadi seperti hobi, sekolah, pergaulan, lingkungan rumah, dan masih banyak lagi. Tapi yang membuat Akira cukup heran adalah pertanyaan: “Apa kamu sudah punya pacar?”
“Hah?”
“Pacar. Apa saat kamu bersekolah di LA, kamu sudah punya pacar?”
“Pacar? Buat apa aku punya pacar?”
“Buat apa? Buat apa? Kamu seharusnya tahu kan. Kenapa kamu malah bertanya buat apa punya pacar?”
“Maksudku, memangnya untuk apa aku berpacaran? Bukannya masih ada hal-hal yang lebih penting seperti belajar?”
“Belajar? Hanya itu yang ada di benakmu?”
“Memangnya salah? Bukankah belajar adalah hal yang diperlukan pelajar sebelum kuliah? Berpacaran merupakan hal yang tidak bermanfaat untukku.”
Saat itu Isabel menampikan ekspresi heran dan kejengkelan lalu berangsut pergi. Akira mendengar suara “Orang aneh” dari balik mulutnya. Orang lain mungkin tidak mendengarnya tapi ia mendengarnya. Sepertinya dia sengaja melakukannya.

Sekitar beberapa menit kemudian, Aria menarik Akira ke koridor, menjauhinya dari teman-temannya yang berkumpul di ruang tamu, mengambil kue tar buatan Tante Ira.
Aria melirik ke arah ruang tamu, mungkin sedang memastikan tidak ada yang mendengarnya. Setelah terlihat yakin, Aria berkata, “Kira, kamu tadi bilang apa sama Isabel?”
“Bilang apa?” tanya Akira kembali. “Aku hanya memberitahunya tentang jawabanku.”
“Kira, kamu buat Isabel kesal. Dia bilang kalau kamu secara respon sudah menyinggungnya.”
Akira semakin kebingungan. “Menyinggungnya? Tapi aku hanya bilang untuk apa aku punya pacar dan pacaran enggak penting buatku. Memangnya itu menyinggungnya?”
“Itu jelas menyinggungya. Isabel punya pacar bernama William. Kamu beruntung Will tak bisa datang karena ada urusan. Kalau dia ada di sini, kamu akan terkena masalah besar dengannya dan aku tidak bercanda soal itu.”
“Tapi bukankah memang begitu kenyataannya?”
Aria menghela napas panjang sebelum berkata, “Kira, enggak semua orang berpikir begitu—”
“Mom berpikir begitu,” sela Akira.
“Beda pendapat, Kira. Kamu seharusnya tahu. Bagi teman-temanku, hal itu cukup… Yah, sebut saja penting.”
“Aku enggak paham kenapa penting.”
“Karena pola pikirmu itu berbeda. Akira, kamu harus belajar untuk berubah dan mengerti keadaan. Terkadang pernyataanmu itu enggak selalu bisa diterima orang-orang di sini. Terkadang pola pikirmu itu dianggap aneh, gila, dan membosankan. Menurutmu kenapa kamu dijauhi orang lain selama ini?”

Akira mengakui bila perkataan Aria mungkin ada benarnya. Tapi sampai sekarang pun, Akira belum mampu memahami pola pikir teman-teman sekolahnya. Tinggal bersama Mom di LA membuat Akira bersikap lebih mandiri dan lebih dewasa. Bahkan Akira saja masih belum memahami isi pikiran kakaknya sendiri yang berubah mood.

Akira meletakkan pulpen di depannya, selesai merangkum tiga materi awal pelajaran Kimia.

Lebih baik aku belajar Biologi untuk UAS daripada memikirkan hal yang enggak penting lagi, pikirnya.

Cerpen Karangan: Kir Vanessa
Khayalan 1 (Ini Baru Permulaan)

Khayalan 1 (Ini Baru Permulaan)

Judul Cerpen Khayalan 1 (Ini Baru Permulaan)

Teruntuk dirimu yang tak kuketahui, Kamu yang saat ini entah berada di mana, Kamu yang saat ini entah sedang jatuh cinta dengan orang yang Kamu kagumi, Kamu, yang Aku harap kita bertemu di waktu yang tepat, waktu ketika kita memutuskan tuk saling memberi kepercayaan satu sama lain dan lebih dari semua itu. Aku harap, Kamu bukanlah orang yang sangat asing bagiku, bukanlah orang yang tiba-tiba datang dalam hidupku, tidak, Aku tidak bermaksud enggan tuk menjemputmu, tapi Aku hanya berharap agar Kamu adalah orang yang Aku kenal sebelumnya, terlepas kita telah lama saling mengenal atau tidak, Aku harap, pertemuan kita bukanlah pertemuan yang ‘tiba-tiba’.

Stasiun Pasar Turi, Surabaya
Dalam lamunanku, melintas pria paruh baya yang tengah sibuk membawa barang yang diamanahkan kepadanya, besarnya ukuran koper tak memengaruhi langkahnya, ada satu koper yang mencolok, sebuah koper besar berwarna merah dengan sebuah garis hitam yang melintang dengan ukuran sekitar 15 cm, namun dengan mudahnya dibawa oleh bapak itu. “Ah paling isinya bukan barang penting” ucapku mendahului pikiran. Mataku sesekali melirik jam tangan yang kugenggam, ya, jam hitam digital dengan tampilan yang sangat sederhana. Jam itu memang sengaja tak kukenakan di pergelangan tangan, Aku lebih suka meletakkannya di saku kiri karena entah mengapa Aku memang tak menyenangi adanya asesoris pada tubuhku, walaupun itu hanya sebuah jam.

06.45, telah 15 menit Aku terduduk diam menyisakan kantuk yang tersisa selama di kereta. Aku bukanlah orang yang nyaman tidur dalam kendaraan, jadi Aku memang tak begitu menikmati serunya tidur dalam selongsong besi yang berisi puluhan orang itu, sekalipun itu Argo Anggrek Malam.

Zzzz zzzz zzzz
Kurasakan sebuah getaran dari saku celana bagian kanan, ah semoga saja itu pertandanya.
“Aku udah di luar nih, sorry lama” tujuh kata singkat yang mengisyratkanku tuk beranjak dari nyamannya kursi tunggu di stasiun ini.
Dalam kondisi yang lumayan lapar, Aku beranjak keluar, menuju suatu tempat yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana kondisinya.

Hari mulai beranjak pagi, sang matahari pun telah menampakkan jati dirinya secara utuh, jalan raya dengan densitas yang lumayan rendah menyambut Aku yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di kota ini, hampir tak dapat kukenali siapapun kecuali sesosok…

“Maaf, permisi mbak…” ucapku ramah sambil mengetuk telunjukku pelan ke pundaknya, tak bermaksud menyentuhnya secara langsung, Aku hanya ingin ia segara memutar badannya.
“Iya, ada apa ya mas?” jantungku berdetak hebat, Aku salah orang! Bodoh! Beruntung, senyumnya yang tulus cukup menghilangkan kepanikanku, ingin rasanya Aku pergi sejauh-jauhnya sesegera mungkin, sial, betapa malunya momen ini.
“Aduh maaf mbak, Saya salah orang hehe” dengan senyum yang rada kupaksakan ku membalas sapaan yang ramah itu, bukan karena Aku pelit senyuman, tapi Kau tau, momen ini benar-benar menggelikan, Aku justru ingin tertawa karena tindakanku ini haha XD.

Aku masih tak habis pikir, mengapa aku begitu ceroboh? Dari sekian banyak orang asing yang sengaja kutemui, ini pertama kalinya aku melakukan sebuah kesalahan, kenapa naluri diriku hari ini bisa salah ya? Apakah ini sebuah pertanda lagi? Ah jangan, Aku terlalu banyak menganggap kejadian tak terduga sebagai pertanda, itu tidak baik bagi diriku.

“Ehem, nyari siapa hayo?” suara itu mengalir dari bagian belakang, tak asing nampaknya.
“Ckck kamu ke mana aja” ujarku agak sebal, namun Aku juga tak dapat menyembunyikan rasa gembira ini, akhirnya Aku dapat bertemu dirinya.
Dirinya? Siapakah gerangan?

Sabtu, 9 November 2013
Hari ini adalah hari kedua Pesta Sains Nasional yang diselenggarakan FMIPA IPB, aku bersama beberapa rekanku tidak lolos ke babak selanjutnya, Aku sih tak mempermasalahkannya, karena Aku mengikuti ajang ini hanya sebagai “lahan” untuk menggali lebih dalam berbagai pengalaman yang bisa didapat di masa SMA.

Bersama Alif, Yosua dan Adit kami menikmati acara yang dihadiri ribuan orang ini, sama seperti diriku, mereka pun tak lolos, tapi ku bisa merasakan tampaknya mereka juga tak begitu mempermasalahkannya.

Sambil menunggu para pemenang menerima hadiah yang sore nanti akan diberikan, kami, ribuan orang yang memenuhi Graha Widya Wisuda atau yang biasa dipanggil GWW, dihibur dengan acara yang menarik, malah menurutku gokil haha. Kami diminta untuk bergoyang Caesar, ya, ribuan orang, tapi itu bagi yang mau sih haha. Lalu, beberapa panitia mengambil beberapa orang yang dinilai cukup gokil untuk diminta maju ke panggung, singkat cerita mereka diminta mempraktikannya segokil-gokilnya, Aku tak bisa berhenti tertawa melihatnya, oh panitia, idemu begitu cemerlang tuk mengguncang perut kami.

Dalam kecerian itu, waktu tetaplah egois, ia tak bisa dihentikan, perlahan tapi pasti acara pun akan berakhir, ketika acara mulai mendekati akhirnya, maskot PSN pun berkeliling, Rupes namanya, sebuah akronim yang cukup menarik, Rusa Pesta Sains, ia berfoto dengan siapapun yang ingin berfoto dengannya *yaiyalah*.

“Eh lif, kita foto bareng yuk, jarang-jarang tuh” ajakku kepada rekan di sebelahku.
“Ah enggak ah, males” jawabnya ketus, namun tak membuatku patah semangat tuk mengajaknya kembali.
“Yah, kapan lagi bisa foto, jarang-jarang anak SMA kita bisa foto” pintaku lagi berharap ia mengiyakan ajakanku yang kedua.
“Yaelah, kalo lo mau foto ya foto aja, nanti gue fotoin” jawabnya yang mebuatku cukup kecewa.
“Ya bareng-bareng lah, bareng Yosua sama Adit” balasku.
“Ya udah lo ajak tuh mereka” ucap ia singkat.
“Yos, kita foto yuk ke depan?” ajakku ke Yosua.
“Hah? Ke depan? Males ah dik” balas ia sambil mengamati Rupes yang diperebutkan orang-orang.
“Dit, foto yuk” pintaku lagi ke rekan terakhir yang satu-satunya kuharapkan jawaban iya darinya.
“Yang lain mau ikut nggak?” tanya ia balik.
“Pada nggak mau nih” balasku singkat.
“Ya udah lo aja” jawabnya lebih singkat.

Yaps, sesuai ekspektasi, Aku pasti nggak bisa berfoto dengan Rupes, bisa sih sendiri, tapi kan malu. Akhirnya, Aku mengubur harapanku tuk berfoto, berbeda dengan para perempuan di bagian depan, mereka begitu bersemangat dan antusias ingin berfoto dengannya, dan itulah momen pertamaku melihatnya, sesosok gadis dengan jilbab putih.

Hari ini 19 Mei 2021, tepat jatuh pada hari Rabu, sebuah hari yang mungkin akan Aku ingat selamanya sebagai momen pertemuan pertemuanku dengan ******.

-Bersambung-

Selasa, 12 April 2016

Cerpen Karangan: Didik Setiawan
Facebook: facebook.com/didik.setiawan.id
Mystery Hunters, Menguak Misteri Putri Duyung (Part 1)

Mystery Hunters, Menguak Misteri Putri Duyung (Part 1)

Judul Cerpen Mystery Hunters, Menguak Misteri Putri Duyung (Part 1)

Ini adalah kisah awalku mengungkap misteri. Oh, ya namaku Zora Putra Anggara panggil saja Zora. Sekarang aku sedang sekolah di sekolah favorit yaitu SMK Negeri Harapan empat. Aku mempunyai empat orang sahabat dan seseorang yang amat kucintai Dara namanya serta empat orang sahabatku adalah Bara, Ray, Rika dan Dewi.

Kisah petualangan serta mengungkap berbagai misteri dimulai saat aku, Rey, Bara dan Dara tengah asyik berjalan-jalan di sekitar pantai dan. “Eh, kita foto-foto dulu yuk.” Ajak Dara “Boleh.” Sahut Bara. Kami pun melihat hasil foto tadi daan… “Ehm… boleh kupinjam dulu.” Tanyaku “Oh, ini Zor.” Sambil memberikan handphonenya. Aku terkejut, dengan yang kulihat tadi “Ada apa Zor?.” Tanya Rey padaku “Coba kalian lihat ke belakang tapi perlahan-lahan jangan sampai membuatnya terkejut.” Jawabku. Mereka pun melihat dengan cara yang aku suruh dan…

“Kalian dari mana saja?.” Tanya Dewi “Kami mencari kalian dari tadi tahu.” Sambung Rika. “Kalian tidak akan percaya dengan yang kami lihat.” Jawabku “Apa yang kalian lihat memangnya?.” Tanya Rika lagi “Kami melihat mer…maid.” Jawab Dara “Apa!!.” sontak membuat Dewi dan Rika terkejut “Kamu jangan bercanda ya Dar, mana ada mermaid di dunia ini itu hanya sebuah dongeng.” Kata Dewi (sekarang kalian tahu apa yang kami lihat tadi). “Yang Dara bilang benar Dew bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri percayalah.” Kata Rey menyakinkan. Dan rupanya Dewi mulai yakin sayangnya… “Aku tetap tak percaya dan kau tak bisa membujukku ya Rey.” Sahut Rika “Baiklah, kalau kau tetap tak percaya tidak apa-apa kami tak memaksakanmu tapi setidaknya ikutlah dengan kami ke tepi pantai.” Ajak Bara “Baiklah aku akan pergi, tapi jika tak ada apapun awas ya…” Jawab Rika sekaligus mengancam kami. Kami semua pun pergi ke tepi pantai…


Di tepi pantai kami “Mana, mana mermaidnya man gak ada apapun di sini iya gak Dew.” “Iyah nih kok gak ada apapun yah.” Tanya Dewi dan Rika. “Coba kalian lihat ke arah sana.” Tunjuk Bara dan… “AAAAAA.” Teriak mereka berdua dan langsung jatuh pingsan. Kami bingung apa yang harus kami lakukan.

KISAH SILAM BANGSA MERMAID
Pesisir pantai…
Kami benar benar bingung, sangat bingung, sungguh kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan “Dewi, Rika bangun jangan pingsan dong, bangun Dewi, Rika!.” Kata Bara membangunkan mereka “Bagaimana ini apa yang harus kita lakukan?.” Kata Dara panik “Zora! Kau cepat cari bu Nila cepat!.” Suruh Rey padaku “Baiklah!.” Sahutku “Aku ikut Zor.” Pinta Dara “Baiklah, ayo.” Jawabku. Kami pun mencari bu Nila ke mana-mana tapi tak menemukannya lalu… “Aduuuh, bagaimana ini Zor kita tak menemukan bu Nila.” “Baiklah kita ke sana saja Dar bagiamana.” “Baiklah, ayo.”.

Di Blue Cafe…
Kami mencari bu Nila dan ternyata bu Nila sedang makan siang di Blue Cafe bersama bu Riska dan… “BU NILAAA!!!.” Teriak kami. Sontak itu membuat bu Nila dan bu Riska terkejut. “Ada apa dengan kalian kenapa kalian terlihat sangat panik??.” Tanya bu Nila pada kami “Dewi.. huft… huft Rika… pingsan.” Jawab Dara “APAA!!!!.” Teriak bu Nila “Di mana mereka sekarang.” Tanya bu Riska “Tepi pantai, bersama Bara dan Rey.” Jawabku “Ayo kita kesana sekarang! Zora antar kami ke sana sekarang! Cepat!!.” Perintah bu Riska “Baik bu!”

Tepi pantai…
“Bara, Rey!!.” Teriakku “Akhirnya Zora, Dara, bu Nila, bu Ris…ka.” Kata Rey “Apa yang terjadi kenapa mereka bisa seperti ini.” Tanya bu Nila

Di rumah…
Akhirnya jam 16:30 sore aku sampai rumah “Assallamualaiku, ibu aku pulang.” Sahut ku memberitahu kalau aku sudah sampai rumah “Oh, Zora kau sudah pulang rupanya bagaimana tudy our kau.” tanya ibu padaku “Ya, lumayan bu tapi, bukan tudy our, study tour bu!!.” Jawabku pada ibu “Ya sudah kau sekarang mandi siap-siap untuk sholat maghrib lalu kita makan malam.” Tambah ibu “Baik bu.”.

Di kamar…
Setelah makan malam bersama aku masih kepikiran oleh kejadian tadi lalu aku mencoba browsing di internet ternyata ada banyak sekali artikel yang menceritakan tentang mermaid tapi sayangnya info ini masih belum cukup untukku.

Di sekolah…
Seperti biasanya setiap hari senin sekolahku melakukan aktivitas seperti sekolah sekolah pada umumnya yaitu Upacara bendera hari senin dan hari ini aku akan mencari buku yang pernah secara tak sengaja kubaca yaitu Kitab Kuno Mermaid. Yeah… benar aku pernah membacanya tapi hanya sekilas lalu kutaruh kembali karena aku tak mau mengungkit masa laluku.

Di perpustakaan…
Dan akhirnya aku pergi mencari buku itu tapi aku tak bisa menemukannya sampai… “Aduuuh… di mana sih buku itu.” Gerutuku dalam hati “Kamu pasti mencari buku ini.” Tanya seseorang yang ternyata… “Waah… benar ini dia buku yang aku cari terima kasih ya… Yuri!.” kataku terkejut.
“Ya, benar. Oh, ya sepertinya aku tak bisa lama lama di sini karena aku harus piket aku ke sini ingin mengembalikan buku yang kubaca ini dan kau tahu kan aku bisa baca pikiran jadi aku pikir kalau buku ini aku berikan kepadamu dulu saja baru kukembalikan.” Katanya “Baiklah nanti kau taruh lagi ya aku pergi dulu.” Lanjutnya “Yuri!.” teriakku. “Ada apa?.” sahutnya. “Terima kasih.” ucapku. “Ya, sudah aku pergi ke kelas dulu dah.” katanya sambil melambaikan tangannya.

Di kelas…
“Bara, Rey kalian melihat Zora tidak?.” tanya Dara “Tidak lu liat gak Rey.” tanya Bara pada Rey “Dehh… lu nanya ke gua, gua aja ama lu geh dari tadi gimana sih!.” teriak Rey “Yeee jangan marah kan cuman… tu orangnya.” kata Bara sambil menunjuk diriku. “Ada apa?.” Tanyaku kebingungan “Zora kamu dari mana saja aku mencari mu dari tadi, aku khawatir kamu.” tanya Dara “Cieee yang khawatir.” sahut Rika “Apaan sih Rika?.” bentak Dara pelan “Dar jangan kesel ntar cantiknya ilang lho.” kataku menenangkan “Ciee…” kata Bara dan Rey serta Rika juga Dewi “Sudah lah teman teman coba lihat ini.” potongku “Buku??.”…

bersambung…

Cerpen Karangan: Candra Eko Saputra
Facebook: Candra Eko Saputra
Tidak Sekalem Yang Aku Pikirkan

Tidak Sekalem Yang Aku Pikirkan

Judul Cerpen Tidak Sekalem Yang Aku Pikirkan

Siang itu aku sedang memainkan instagram. di Beranda, aku melihat akun temanku si Ayu mengupload foto, terlihat beberapa orang terdapat di dalam fotonya, mungkin dia bersama teman-teman sekelasnya. kemudian aku melihat siapa saja yang ditag dalam foto tersebut, dan aku menemukan akun bernama “Nadanyasiapa”, karena penasaran kemudian aku lihat, ah ternyata akunnya privacy, sekilas aku dapat melihat foto profilnya, wah ternyata benar, ini Nada anak kelas A yang cantik itu. Aku sering melihatnya di sekolah, tapi mungkin dia tidak mengenaliku. Dengan perasaan galau akhirnya aku follow akun instagramnya, yah dikonfirmasi saja tanpa difollback juga aku udah sangat senang. Aku memang sering melihat Nada, dia cantik dan terlihat kalem. aku suka wanita yang kalem hehe.

Malam harinya saat aku membuka instagram, aku terkejut setengah mati. Nada tidak hanya mengkonfirmasi instagram aku, tetapi dia juga follback. Sejenak aku terbawa perasaan.

Menjelang Uas aku diajak belajar bareng oleh si Ayu, aku langsung menyetujui karena aku juga bingung tidak mempunyai bahan untuk belajar, belajar kelompok sama anak anak kelas tempatnya kejauhan. Ayu adalah teman sekelasku saat smp, jadi aku sangat mengenalnya.

Saat tiba di rumah Ayu aku dipersilahkan masuk oleh pembantu rumahnya, dan alangkah kagetnya saat aku melihat di sana ternyata juga ada Nada, Nada yang membuatku baper setengah mati hanya karena masalah instagram. kemudian aku duduk menghampirinya.

“Ayu nya mana?”, tanyaku memulai.
“si Ayu katanya lagi jajan dulu”, jawabnya sambil memainkan sebuah tab, ada sedikit kejanggalan pada nada bicaranya.
“oh iya”, kemudian suasana menjadi hening, Nada fokus pada tab nya, dan aku fokus memandangi Nada hehe.

“btw katanya anak anak kelas D ngadain belajar bareng”, Nada kemudian bicara.
hah? dia tau aku kelas d, atau dia bicara pada orang lain. aku hanya diam dan pura-pura membaca buku.
“yah dia diem aja”, ucap Nada. kemudian aku perlahan melihat ke arahnya
“kamu nanya siapa?”, tanyaku gugup.
“duh, emang di sini ada siapa lagi selain kita?”, dia balik bertanya.
“oh hehe iya katanya”, jawabku konyol.

Suara motor terdengar dari luar, rupanya Ayu sudah datang.
“eh Ay ternyata udah di sini”, sapa Ayu padaku. aku tersenyum.
“lu lama banget sih yu, dia udah beku tuh nungguin lu”, ucap Nada.
“hehe maaf”, jawab Ayu.
Aku dibuat spechless, ternyata Nada yang selama ini aku anggap kalem bisa bicara sekasar dan sekeras itu, malahan lebih kalem Ayu daripada Nada. Aku melongo.

“Ay lu mau gak?”, tanya Nada ke Ayu menawarkan makanan.
“buset dari tadi gue dikacangin terus sama ni orang”, lanjutnya.
“oh iya iya nanti kalau mau juga ngambil sendiri”, jawabku, ternyata Nada bertanya padaku. aku benar-benar belum percaya dengan apa yang terjadi.

Saat sedang belajar dan membahas soal-soal, Nada memang terlihat sangat pintar, sudah kuduga. yang tidak kuduga sama sekali adalah gaya bicaranya yang kasar dan nyeplos, tidak sekalem yang aku pikirkan selama ini. aku benar-benar dibuat kaget.

Belajar selesai saat waktu menunjukkan pukul 11 malam, “nad, kamu pulangnya sama Ay aja, kan sejalur”, ucap Ayu.
“lah bilang aja lu males nganterin”, balas Nada. aku hanya terdiam dan memasukkan buku pelajaran ke dalam tas.
“say gimana? lu mau gak nganterin gue?”, tanya Nada. sumpah aku tidak salah dengar, dia manggil Say. (aku memang rada baperan).
“gak bakalan kotor dan harus dibersihin pake air tujuh ember ini kok motornya”, lanjutnya.
“oh i i iya ayo, ayo kalau mau bareng”, responku.

Kemudian aku pulang dengan membonceng Nada di motorku. dia memeluk sangat erat, tangannya melingkar di perutku. entah sudah berapa kali aku dibuat baper olehnya, meskipun aku sudah tau dia tidak sekalem yang aku kira sebelumnya.

“cieee pegangannya erat banget Nad”, goda Ayu.
“berisik lu ah, gue takut”, balas Nada.
“lagian kamu gak apa-apa kan Ay aku peluk seperti ini?”, goda Nada padaku, ternyata bisa juga dia bicara selembut itu, ucapku dalam hati.
“iya gak papa”, jawabku.

Setelah pamitan pada Ayu, aku menjalankan motorku. di perjalanan, Nada banyak bercerita tentang teman-teman di kelasnya padaku, termasuk Ayu. Ternyata Nada benar-benar gampang ramah terhadap orang. Saat aku tanya kok dia tau aku dari kelas D, dia jawab “karena kamu terkenal”, tentunya itu hanya jawaban candaan. Lama-lama aku mulai terbiasa dan aku juga banyak bercerita padanya.

Sesampainya di depan rumah Nada, “Ay maaf ya, bicara gue emang kayak gini, nyeplos, tapi aslinya gue kayak cewek biasanya kok hehe”, ucap Nada.
“iya gak papa kok, santai aja”, jawabku.
“aku masuk dulu ya Ay, kamu hati-hati di jalannya, supaya nanti bisa ketemu aku lagi hehehe”, ucap Nada lagi.
“manis banget”, ucapku.
“besok kita ketemu lagi ya Ay, yang lancar Uas nya”,
“iya Nada, kamu juga yang lancar ya”.

Kemudian aku melanjutkan perjalanan, di jalan aku senyum-senyum sendiri. Aku benar-benar senang bisa akrab dengan Nada. Semoga besok dan kapan-kapan kita bisa melewati waktu bersama lagi hihi.. meskipun aku tau kamu tidak sekalem yang aku pikirkan.

Cerpen Karangan: Ay Rahmat
Blog / Facebook: Rahmat Illahi Ai
Love Street (Part 3)

Love Street (Part 3)

Judul Cerpen Love Street (Part 3)

Di dalam mobil.
“Kita ke mana?” tanyaku.
“Banyak nanya.” ucapnya datar masih fokus menyetir mobilnya. Aku mengeluarkan hpku.
“Sekarang tutup mana lo.” ucapnya sambil mengulurkan selembar kain.
“Gak mau.” jawabku.
“Cepat aja lah.” ucapnya, memberhentikan mobil dan mengikat kain itu menutupi mataku.
“Entah apa yang kurasakan? apa aku harus senang? bisa saja? kenapa dia begitu baik? virus apa yang telah mengubahnya?” begitu banyak pertanyaan yang berputar di otakku dan kejadian kejadian yang kulewat bersamanya.

Tak lama kemudian
“Yuk turun.” ajak ko devin.
“Lo lupa ya mataku lo tutup.” ucapku.
“Iya sorry, janganlah marah.” ucapnya sambil turun duluan. Dia membukakanku pintu dan menggengam tanganku menuntunku turun.
“Sekarang bisa dibuka penutup matanya?” tanyaku. Dia tak menjawab hanya menuntunku berjalan.
“Sekarang lo boleh buka penutup matanya.” ucap ko devin. Aku langsung membuka penutup mataku.
“This is very nice, where do you know I like a place like this?” ucapku sambil tersenyum dan menatapnya.
“No need do you know I know from which important do you like the place of this?” ucapnya sambil membalas senyumku.
“I really like this place.” ucapku, Aku kembali menatap pemandangan yang begitu indah.

Angin kencang memghembus dengan cepat membuat badanku terasa menggigil.
“Kamu kedinginan ya?” tanya ko devin.
“Enggak kok.” jawabku.
“Kamu bohong kan?!” ucap ko devin, sambil berlalu kearah mobilnya dan tak lama kemudian kembali lagi.
“Nih pake scarf ku.” ucapnya sambil menyodorkan scarfnya kearahku.
“Gak usah koko ada yang pake.” ucapku lembut sambil menahan dinginnya terpaan angin. Tampa mengucap sepatah kata pun ko devin langsung memakaikan scarfnya dileherku.
“Terimakasih scarfnya.” ucapku sambil tersenyum menatapnya.
“Sama sama.” dia membalas dengan senyum termanis yang pernah dia aku lihat.

“Sejak kapan kamu belajar panggil kau dengan sebutan koko? biasanya lo gue? kenak virus apa?” ucap ko devin sambil masih menatapku. Aku mengalihkan pandanganku.
“Hei..?!” panggilnya. Aku masih diam saja.
“Hei..?! ada yang salah dengan pertanyaanku tadi?” tanyanya.
“Aku aja yang salah nilai ko devin waktu awal.” ucapku pelan sambil menundukan kepalaku karena malu.
“Biasa aja.” ucapny lembut sambil menepuk bahuku. Aku masih saja menundukan kepalaku.
“Hei.?! angkat kepala kamu.” ucap ko devin.
Aku masih tak bergerak sedikit pun.
“Hei..?!” ucapnya lagi sambil mengangkat kepalaku dengan memengang daguku. Dia tersenyum mematapku, Aku hanya tersipu malu melihat caranya menatapku.
“Kenapa hatiku berdebar cepat? apa aku jatuh cinta padanya?” gumamku.
“Kamu tadi bilang ada?” tanya ko devin.
“Dia bisa mendengarnya.” pikirku.
“Hei..?!” ucapnya lagi.
“Apa?” tanyaku sedikit terkejut.
“Kamu melamun ya?” tanyanya.
“Enggak kok.” ucapku pelan.
“Kamu tunggu sini bentar aku mau beli sesuatu.” ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkanku.
“Ke mana?” tanyaku.
“Bentar aja kok, aku kan pake mobil.” jawabnya.
“Kenapa dia baik banget ya hari ini?” pikirku. Aku hanya duduk di rumput sambil memandang pemandangan.

Sekitar 20 menit kemudian.
“Hei..?! sudah lama nunggu ya? nih buat kamu..” ucapnya sambil jongkok disampingku.
“Es creem?” tanyaku binggung.
“Ya ambil kesukaan kamu kan corrneto matcha.” ucapnya.
“Thx.” ucapku sambil mengambil es cream dari tangannya.
“Senyum dong.” ucapnya sambil duduk disampingku. Aku pun tersenyum menatapnya.
“Gitu dong baru cantik.” ucapnya.
“Siap makan es cream aku mau ngajak kamu kesuatu tempat even nice than this place.” ucapnya.
“Is it true?” tanyaku sambil menatapnya.
Dia hanya tersenyum tanda iya.
Setelah siap makan es cream kami menuju tempat yang dia bilang lebih bagus dari tempat sebelumnya.

“Ko devin pencinta alam?” tanyaku mencoba membuka bicara.
“Maybe.” ucapnya.
“Kujamin kamu pasti lebih suka tempat ini. karena ini juga merupakan tempat favoritku.” ucapnya.
“Maybe.” ucapku.
“Kamu mengikuti kata kataku.” ucapnya.
“Maybe.” ucapku lagi.
“Yuk turun, Udah nyampe.” ucapnya. Kami pun turun.

“Gimana pemandangannya?” tanya ko devin.
“It’s so beautifull.” jawabku.
“Gimana kalau kita berkeliling, pasti kamu akan tambah terkagum kagum dengan tempat ini.” ucapnya sambil melangkah aku hanya mengikutinya dari belakang.
“Menarikkan tempatnya.” ucap ko devin.
“Lebih bagus dari tempat yang tadi.” ucapku.
“Ada taman bunga.” ucapku.

Tiba tiba ko devin memarik tanganku dan kami berlari bersama sama ke taman bunga.
“Kamu pasti belum pernah lihat bunga sebanyak ini.” ucap ko devin sambil memetik setangkai bunga mawar dan memberikannya padaku.
“Nih ambil.” ucapnya.
“Thanks.” ucapku mengambil setangkai bunga mawar dari tangannya.
“Kamu suka kan sama bunga lily putih?” tanya ko devin.
“Suka banget.” ucap ku sambil tersenyum.
“Gimana mau beli bunga lili putih gak? sekaligus juga ada tanaman yang mau aku cari.” tanya ko devin.
“Mau mau.” jawabku.
“Bersemangat kali.” ucap ko devin sambil mengosok kepalaku dengan tangannya, daia sangat mudah melakukan itu karena tinggiku hanya sedagunya.
“Ayuk..” ucapku sambil menarik tangannya.
“Ya yuk.” ucapnya.
“Sekarang kok jadi berbalik kondisi, tadi perasaan kamukan yang genggam tanganku tadi sekarang kok jadi aku yang genggam tangan kamu.” ucap ko devin.
“Tapi aku sekarang kelihatan seperti anak anak yang harus dijaga di tempat wisata.” ucapku.
“Hampir mirip tapi bukan karena nakal.” ucapnya.
“Lalu karena?” tanyaku.
Dia tak menjawab hanya terus mengenggam tanganku lalu terus berjalan ke mobil.
“karena?” tanyaku lagi.
“Supaya lo gak kabur lagi.” jawabnya.
“Kabur ke mana?” tanyaku.
“Kepo!!” ucap ko devin.
“Huhhh…” ucapku pelan.
“Cepat naik.” ucap ko devin sambil membukakan pintu untukku. Lalu aku naik dan ko devin pun juga naik.
“Setelah cari bunga nanti kita makan siang ya?” ucap ko devin.
“Makan siang?” ucapku bingung.
“Ya… nanti kamu pingsan aku juga yang repot.” ucapnya.
“Huhhh..” ucapku.
“Mau gak, atau tak gak jadi kita cari bunga langsung pulang aja lagi.” ucap ko devin.
“Eeee… janganlah.” ucapku.
“Ya udah berarti nanti siap cari bunga kita makan siang janji?!” ucap ko devin.
“Janji.” balasku.
“Gitu dong.” ucap ko devin sambil menggosok kepalaku dengan tangannya. Lalu kembali menyetir dengan dua tangan. Tapi aku suka dia menggosok kepalaku dengan tangannya.
“Oke.. kita cari bunganya di sini.” ucap ko devin sambil memakirkan mobilnya.
“Yuk turun.” ucapnya, Kami pun turun.

Kami pun langsung disambut oleh penjual.
“Cari tanaman apa dek?” tanya pejual bunga.
“Cari bunga lili putih, Ada?” ucapku.
“Ada bentar biar saya ambilkan bentar.” ucapa penjual sambil pergi, Aku sibuk melihat lihat bunga yang ada.
“Tunggu. Di mana ko devin?” gumamku.
“Dek, bunganya.” ucap penjual.
“Ini berapa harganya pak?” tanyaku.
“25.000” jawab penjual itu. Aku membayar dengan uang pas.
“Makasih pak.” ucapku.
“Perlu pake plastik dek?” tanyanya.
“Boleh.” ucapku sambil penjual itu memasukkan tanaman ku ke dalam kantong pelastik. Lalu perjalan meninggalkan penjual itu.
“Udah dapat bunganya?” tanya ko devin sambil tegak menyilang kaki kanan di depan kaki kirinya sambil tegak di depan mobilnya.
“Udah, nih bunganya.” jawabku sambil menunjukan bungaku.
“Ko devin gak cari bunga?” tanyaku lagi.
“Udah dapat. letak aja bunganya dibelakan.” jawabnya sambil mengambil kantong diri tanganku dan meletakkannya di bagasi mobilnya.
“Yuk naik, kita makan siang lagi.” ucap ko devin. Lalu kami naik.
“Makan di mana?” tanyaku.
“Yang pasti di restoran.” jawabnya.
“Aku tau lah di situ tapi nama restorannya apa?” tanyaku lagi.
“Jam berapa?” tanya ko devin.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” ucapku kesal.
“Marah lagi.” ucap ko devin.
“Terserah ko devin lah, turunkan aku di sini!!” bentakku.
“Enggak!!” jawabnya.
“Cepat!! atau aku akan loncat dari mobil ini!!” ucapku.
“Ya ya…” ucap ko devin sambil menepikan mobilnya. Aku pun langsung turun dan menutup pintu mobil dengan keras. Dia langsung pergi meninggalkanku.
Aku pergi mencari taksi…

35 menit kemudian…
“Ma tere pulang.” ucapku.
“Anak mama udah pulang, Devin mana?” ucap mamaku.
“Gak tau.” jawabku, Langsung pergi ke kamar.
“Sejak kapan ada kado?” ucapku pelan sambil jalan mendekati kado yang terletak di atas kasurku.
“Siapa yang kirim?” gumamku.
di atas kotak itu tetera

To: Teresia Putri.
“Gak ada nama penggirim.” ucapku pelan.
“Aku buka saja lah.” pikirku sambil membuka kado itu.
“Green long dress.” ucapku bingung sambil megeluarkan dress itu dari kotak.
“Secarik kertas?” ucapku sambil meletakkan dress itu di atas kasur dan memgambil kertas itu.
‘Sorry sering bikin kamu marah, sorry sering bikin kamu kesal, Sebenarnya waktu di mall itu aku cuma shellya bantu carikan dress buat kamu…
JANGAN LUPA BESOK DIPAKE!!
WAJIB!!
Sorry…
From: Devin
To: Cewek aneh (jangan lupa lihat ke teras kamar kamu)’
“Maksudnya?” ucapku ku sambil berjalan keteras.

“Lili putih.” ucapku. Dan aku berjalan mendekati bunga lili itu.
“Secarik kertas.” ucapku sambil membuka kertas itu. ‘Sorry…’.
“Cowok lemot.” ucapku sambil tersenyum malu malu.

Sabtu pagi…
“Dressnya pas.” ucapku sendari tadi berdiri di depan kaca melihat long dress hasil pilihan ko devin. Aku menggerai rambut dan menggunakan high heels silver dan membawa sling bag yang hanya berisi hpku dan sebuah buku novel.
Lalu aku turun setelah bersiap siap.

“Ma tere berangkat.” ucapku.
“Wah cantik kali anak mama. katanya dressnya belum beli lalu ini?” puji mamaku.
“Ko devin kasih kemarin.” ucapku.
“Ooo yang kado itu.” ucap mamaku.
“Mama tau?” tanyaku.
“Tau lah ko devin yang letak.” ucap mamaku.
“Berangkat sama siapa?” tanya mamaku.
“Naik taksi.” jawabku.
‘Tittitiiit…’ Tiba tiba ada sebuah mobil hitam pakir di depan rumahku. Dan seorang laki laki turun mengunakan jas hijau.
“Ko devin?!” ucapku bingung.
“Good morning tante, Permisi mau jemput anak tante, Tere.” ucap ko devin.
“Iy hati hati di jalan.” ucap mamaku. Ko devin langsung menarik tangaku.
“Ma tere pergi dulu, bye…” ucapku.
Kami pun naik ke mobil dan berangkat ke lokasi ultah sekolah.

“Kamu cantik.” ucap ko devin. Aku hanya diam saja sibuk memainkan hpku.
“Hei..?!” panggilnya sambil menarik hpku den memasukkannya ke dalam kantong jasnya.
“Eehh.. ko devin!! kembalikan hpku.” rengekku sambil menarik tangannya.
“Enggak akan ku kembalikan.” ucap ko devin.
“Jahat!!” ucapku sambil mengeluarkan novel.
“Baca novel lagi.” ucap ko dengan nada tinggi.
“Suka hati lah.” ucapku.

“Gimana dressnya bagus gak?” tanya ko devin.
“Bagus.” jawabku singkat.
“Hei..?! cuek kali sih asal ketemu sama novel dan hp orang yang lebih tua pun tak dianggap.” ucap ko devin.
“Lalu?” tanyaku.
“Ya jangan dibaca.” jawab ko devin.
“Enggak!!” jawabku. Dia langsung sung mengambil novelku dan melemparnya ke kursi belakang.
“Ko devin!!” bentakku.
“Tambah cantik kalau gambek.” ucap ko devin.
“Gombal..” balasku.
“Koko gak gombal ya, itu kenyataan.” balas ko devin.
“Biasa aja.” ucapku. Dia langsung menggosok kepalaku dengan tangannya.

“KO devin kok bisa dekat sama mamaku?” tanyaku.
“karena mama kamu sama mamaku saling kenal. Emang kenapa?” jawab ko devin.
“Gak ada.” jawabku.
“Kepo ya?” ucapnya.
“Mana ada.” balasku.
“Bohong..” balas ko devin.
“Terserah Ko Devin aja.” ucapku Lalu memandang ke arah jendela mobil.
“Ngambek..” ucap ko devin. Aku tidak memperdulikan ucap ko devin.
“Ngambek ya?” ucap ko devin lagi.
“Enggak.” jawabku.
“Eh tunggu dulu. Rasanya hotelnya arah jalannya gak ke sini deh.” ucapku
“Memang.” jawab ko devin.
“Lalu mau ke mana?” tanyaku.
Ko devin hanya diam saja dan fokus dengan menyetirnya.
“Mau ke mana?!” tanyaku lagi.
“Ke hatimu.” jawab ko devin.
“Kenapa aku jadi salting gini?” pikirku.
“Hei..?! kok diam?” tanya ko devin.
“E-Eng-enggak ada.” jawabku.
“Santai aja.” ucap ko devin.
“Sebenarnya acaranya mulai jam 09.00 tapi sekarang masih jam 07.45.” ucapnya sambil melipat lengan jasnya.
“Jadi ini mau ke mana?” tanyaku.
“Kita ke…” ucap ko devin.
“Ke mana?” tanyaku lagi.
“Jalan cinta.” jawab ko devin.
“Emang ada?” tanyaku.
“Ada.” jawabnya.
“Di mana?” tanyaku.
“Jalan untuk mendapatkan hatimu.” ucap ko devin.
“Maksudnya?” tanyaku. Dia tak menjawab hanya fokus menepikan mobilnya lalu berhenti.

“Sebenarnya koko suka sama kamu, dari gaya bicara kamu sikap. Kamu mau gak jadi pacar koko?” ucap ko devin sambil megeluarkan setangkai mawar merah dari punggungnya.
“A-a-aku mau.” jawabku sambil mengambil mawar dari tangannya.
“Cie… cie… yang jadian.” ejek seseorang dari belakang.
“Ya tuhan terimakasih telah membukakan pintu hati sahabatku ini hingga dia tidak jomblo lagi.” ucap seseorang menyusul.
“Renita… steven..” ucapku.
“Sejak kapan kalian di sini?” tanya ko devin.
“Sejak kalian berdua.” jawab renita.
“Dan sebelum kalian pacaran.” sambung steven.
“Kapan kalian masuk?” tanya ko devin.
“Ceritanya panjang ko.” jawab steven.
“Yang pasti nanti kalau kita jalan bareng gak ada nyamuk lagi.” ucap renita.
“Jadi selama ini aku nyamuk ya… huhh…” ucapku. Lalu kami tertawa.

“Satu kenyatan lagi… Menurut kalian jalan cinta ada gak?” tanya ko devin.
“Enggak.” jawab renita.
“Enggak tau.” sambung steven.
“Sebenarnya kita lagi ada di jalan cinta, baca itu.” ucap ko devin sambil menunjuknya.
“Jalan cinta…” ucap renita.
“Cocok.” sambung steven.
“Jalan cinta… Love street…” ucap ku pelan.

The End

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia
Love Street (Part 2)

Love Street (Part 2)

Judul Cerpen Love Street (Part 2)

Di kelas
Lalu aku duduk dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Tak beberapa lama kemudian bel istirahat berbunyi, Aku mengeluarkan novel dari dalam tas dan membacanya.
“Hei… lo kenapa?” tanya renita mengejutkanku.
“Apanya kenapa?” tanyaku bingung.
“Tadi kok lo pergi?” tanya renita.
“Gak ada, cuma jelek aja moodku nengok mukanya.” jawabku.
“Yakin?” tanya steven.
“Apa sih?” tanyaku.
“Gak ada.” jawab steven.
“Ya udah.” balasku kembali baca novel.
“Pantas aja ko dev sifatnya gitu ke lo.” sambung steven.
“Apanya sifat?” tanyaku.
“Kan ko dev udah sebutin tipe cewek yang dia taksir dan itu semua mengarah ke lo.” jawab steven.
“Eh tunggu dulu, kan waktu ko dev ditanya alasan kenapa dia telambat dia bilang apa?” tanya renita.
“Tadi aku tersesat di jalan bernama cinta.” jawab steven.
“Itu persis dengan alasan waktu lo masih sd gue tunggu lo, lo telat 1 jam.” sambung
“Lalu apa hubungannya sama aku?” tanyaku.
“Ya banyak lah.” jawab renita.
“Apanya?” tanyaku lagi.
“Berarti dia mirip sama lo.” jawab renita.
“Dahlah malas aku bahas.” sambungku sambil membaca kembali novelku.
“Ahh malas aku bicara sama lo.” balas renita.
Aku hanya diam saja.

Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi.
“Gimana kalau kita ke kantin aja.” ajak steven.
“Yuk.” jawab renita.
“Tere lo gak ikut?” tanya steven.
“Malas, Kalian aja pergi.” jawabku.
“Lo yakin, masa aku pergi berdua sama dia.” sambung renita.
“Kalian itu cocok dari pada nanti aku jadi nyamuk di antara kalian memding aku di kelas.” jawabku.
“Apa sih tere, kami tuh gada apa apa.” sambung steven.
“Sekarang gak ada apa apa besok atau nanti pasti ada apa apa.” jawabku.
“Ya udah, kami pergi dulu.” sambung steven.
“Bye…” ucapku renita, lalu pergi ke kantin bersama steven.

Tak lama setelah mereka pergi.
“Woi ngapain tadi lo pergi?!” panggil seseorang, ko devin.
“Ooo… lo lagi ya aku gak mau kelamaan di sana, bosan.” jawabku.
“Bosan kenapa?” tanya ko devin.
“Bisa gak sih lo itu diam aja sebentar, hilang dari pandangan aku.” sambungku.
“Kenapa?” tanya ko devin.
“karena gue mau mengundurkan diri jadi anggota osis, nih ambil kembali jaket osisnya.” jawabku sambil mengembalikan jaket osis.
“Enggak lo gak bisa mengundurkan diri gitu aja.” balas ko devin.
“Please gue mohon gue gak mau.” ucapku.
“Tapi.. kena..” ucapnya terpotong.
“Ko please gue mohon, ambil jaketnya, gue gak mau jadi anggota osis lagi.” ucapku.
“Ya udah terserah lo.” ucap ko devin sambil memgambil jeket dari tanganku, lalu pergi meninggalkanku.
“Ko!! koko tau kenapa gue gak mau jadi anggota osis, karena gue takut jatuh cinta ke lo.. karena semejak jadi anggota osis gue merasa ada perubahan di hati gue, maafkan gue ya ko devin.” gumamku sambil menutup novel dan memandang ke luar jendela.

Tak lama setelah kejadian itu.
“Tere, lo mengundurkan diri jadi anggota osis?” tanya seseorang.
“Iya.” jawabku (tidak melihat orang yang bertanya itu.)
“Kenapa?” tanya orang itu lagi.
“karena gue gak mau jadi anggota osis lagi.” jawabku.
“Lihat gue.” panggilnya. Aku menatapnya.
“Renita, steven?” ucapku pelan.
“Kenapa lo gak mau jadi anggota osis?” tanya steven.
“Kenapa lo selalu bilang bosan?” tanya renita.
“Kenapa lo se..” ucap steven terpotong.
“Stop… cukup pertanyaannya. aku gak mau jadi anggota osis karena bosan kenapa bosan karena aku.. aku..” ucapku.
“Kenapa lo berhenti?” tanya steven.
“karena gak ada yang perlu aku jelaskan.” jawabku.
“Ada banyak.” sambung renita.
“Apa sebutkan.” ucapku mulai marah.
“Lo kenapa gak mau jadi anggota osis? lalu kenapa lo selalu jawab bosan? apa lo suka sama ko devin? apa.. lo” tanya renuta terputus.
“Cukup..!!” bentakku. lalu pergi keluar kelas.
“Tere… gue tau lo suka kan sama dia.” teriak renita dari dalam kelas.
“Dari mata lo gue udah tau lo suka sama dia.” teriak renita lagi. Aku hanya diam saja

Setelah satu hari aku melepaskan jabatanku sebagai aggota osis aku jarang melihat ko devin semejak kejadian hari itu. Dan hari ini aku janjian sama steven dan renita mau ke mall cari long dress.
Setelah bersiap siap hanya membawa tas kecil favoritku, aku berangkat ke mall naik taksi.

Sesampainya aku di mall.
“Wah!! sekarang ini jam berapa?” tanya renita.
“Ke mana saja lo?” tanya steven.
“Jam 11.54 menit dari rumah.” jawabku.
“Gue tau itu.” jawab steven datar.
“Sekarang kita bisa langsung carikan?” tanyaku.
“Kita masih nunggu dua orang lagi.” jawab renita.
“Siapa?” tanyaku.
“Yang pasti orang.” jawab steven ketus.
“Gue tau.” jawabku datar.
“Entar lo pasti tau. Tuh orangnya udah datang.” jawab renita. Aku membalikkan badan.
“Ko devin sama kak shellya.” ucapku pelan. Berjalan sambil bergandengan tangan. Saat aku berbalikkan badan dan melihat ke arah renita stevn juga bergandengan tangan.
“Ceritanya ini double date gitu?” ucapku bingung.
“Menurut lo gimana?” tanya renita.
“Sorry kami telat.” ucap ko devin.
“Lama benget.” keluh renita.
“Tadi aku tersesat di jalan namanya cinta.” jawab ko devin masih bergandengan tangan dengan kak shellya.
“Oke kalau gitu gue jalan dulu dari pada jadi nyamuk.” ucapku berjalan meninggalkan dua pasang yang lagi bergandengan tangan.
“Hei… lo mau ke mana?” panggil kak shellya.
“Cari dress.” jawabku singkat sambil mempercepat langkahku.

“Mereka telah berpacaran tinggal aku yang masih jomblo.” ucapku sambil mengambil earphone dan memutar lagu. Aku berjalan ke toko baju.
“Saat hati ini terbuka untuk seseorang pasti langsung tersakiti. Kenapa? apa aku harus menjadi seorang cewek dengan kepribadian alay tapi itu bukan tipeku.” ucapku sambil berjalan mengelilingi seisi toko baju.
“Mereka bersama dan pasti mencari dress code yang couple.” pikirku sambil melintas di depan mereka.
“Eh… ada cewek aneh… udah ketemu dressnya?” ejek ko devin. Aku mendengarnya karena aku hanya memasang sebelah earphone saja.
“Menurut lo gimana?” tanyaku sambil berjalan ke luar dari toko baju.
“Mereka sangat cocok.” gumamku pelan sambil berjalan ke toko buku.
Aku sibuk memilih milih novel hingga lupa waktu.

“Hei…” panggil seseorang sambil menepuk bahuku.
“Eh andre.” ucapku.
“Kukira lo bakal lupa sama gue.” ucapk andre.
“Ya engak lah.” ucapku.
“Lo masih gemar baca novel?” tanya andre sambil menatapku.
“Iya.” jawabku.
“Udah nemu berapa novel?” tanyanya.
“Ya baru 3 sih.” jawabku sambil menunjukan buku novel yang baru saja kupilih.
“Gimana kalau kita beli es cream corrneto matcha-kan itu kesukaan lo banget.” sambung andre sambil tersenyum.
“Lo masih ingat aja, yuk tapi aku bayar ini dulu oke.” ucapku.
“Sip.” balas andre. Aku berjalan kekasir dan membayar semua novelku.
“Yuk.” ucapku lalu berjalan bersama andre ke hypermat.

“Gimana masih sama gak rasanya? sama yang waktu aku belikan waktu sd gak?” tanya andre sambil menatapku.
“Masih.” jawabku.
“Lo masih dingin aja.” ucap andre.
“Ya aku tau itu dan aku tak mau berubah.” jawabku hanya terfokus dengan es creamku.
“Kenapa?” tanya andre.
“karena gue gak mau.” jawabku.
“Lo betul betul gak berubah. Gimana kalau kita ke jco aja. sama waktu sd dulu tapi cuma kurang renita sama marvell.” sambungnya.
“Yuk.” jawabku. Lalu kami berjalan ke jco. Lalu memesan beberapa makan dan minuman.
“Eh gimana kabar marcell?” tanyaku.
“Ya masih begitu, masih keren kece masih jadi cogan di setiap kelas.” jawab andre.
“Dia itu biasa saja, lo berlebihan.” balasku datar.
“Idih sok nolak, gitu gitu dia ganteng ya di mata renita.” sambung andre.
“Wah..!! gua cariin lo di mana mana rupanya lo di sini lagi ngedate juga rupanya.” ucap seseorang dari belakang. Aku dan andre membalikkan badan.
“Renita.” ucap andre. Aku hanya melihat renita masih bergandengan tangan dengan steven dan ko devin dengan kak shellya.
“Eh lo dre, lama gak jumpa ke mana aja lo, marvell mana?” ucap renita panjang lebar.
“Sejak kapan aku ngedate sama andre.” ucapku kasar.
“Gak usah nolak, buktinya aja kalian masih ingat tempat nongkrong kita dulu waktu sd tapi gak lengkap gak ada marvell.” balas renita.
“Ngapain masih diri duduk sini, gak enak bicara.” ucap andre. Lalu mereka duduk dengan kami satu meja.
“Dre dia masih ganteng gak?” tanya renita.
“Masih dia masih jadi cogan kok, lo masih like sama dia kan.” balas andre.
“Eh… dre gimana kalau kita selfi bareng.” tawar renita.
“Kita? siapa saja?” tanya andre.
“Ya gue lo sama si dingin kita.” jawab renita, aku hanya melihat sebentar lalu memalingkan wajahku kembali.
“Iya gue lupa panggil akrab kita, dan lo memiliki julukkan si dingin dan marvell si cuek sedangkan kita si ribut dan si rempong.” ucap andre.
“Iya.. jadi ingat waktu sd dulu.” balas renita.
“Ehemmm… kami dikemanakan?” tanya steven.
“Ya lo di situ aja gak usah ke mana mana.” jawab renita.
“Dia itu pacar lo ya ren?” tanya andre.
“Iya, kenalkan dia steven ini kak shellya dan yang ini ko devin.” jawab renita sambil menunjuk satu persatu.
“Ooo..” balas andre.
“Tapi jangan panggil pake ko devin dan lain lain panggil aja cowok lemot.” ucapku ketus.
“Apa lo bilang?” tanya ko devin dengan nada tinggi sambil menatapku.
“Cowok lemot.” balasku.
“Kan lain mulai lagi kelahinya, tapi cocok juga sih.” sambung kak shellya.
“Maksudnya apa sih kok cocok? jadi sebenarnya mereka pacaran gak sih?” pikirku.
“Eh tunggu dulu.” ucap renita.
“Apa?” tanyaku datar.
“Lo udah nemu dress-nya?” tanya renita.
“Menurut lo?” tanyaku balik.
“Belum.” jawab renita.
“Ya udah.” balasku.
“Lo kena lagi sama si dingin.” ucap andre.
“Wah sama nih sama sih devin gak nemu jasnya.” sambung kak shellya.
“Cocok nih buat cari bareng.” sambung renita.
“Iya juga ya. Biar baju nya jadi couple.” sambung kak shellya.
“Ooo ceritanya mereka gak pacaran?” pikirku.
“Gak mau.” balasku.
“Siapa juga yang mau sama lo.” balas ko devin.
“Jadi gak selfinya?” tanya andre.
“Yuk.” jawab renita sambil menarikku.
“Iya iya.” balasku.
“Ini ceritanya gue di tengah gitu?!” ucap andre.
“Gak usah banyak protes, lo tau ini buang buang waktu gue, gue mau cari sesuatu lagi.” ucapku.
“Iya iya.” lalu kami mengambil beberapa foto.
“Eh gimana kalau kita semua berfoto.” ucap andre.
“Wah gue setuju.” sambung renita.
“Aku gak.” jawabku sambil berdiri meninggalkan mereka.
“Woi..!! gue ikut.” ucap seseorang, ko devin.
“Gak usah.” ucapku.
“Gak usah nolak.” ucap ko devin sambil mengenggam tanganku dan menarikku.
“Ke mana?” tanyaku.
“Entar lo tau juga.” jawabnya masih nenarik tanganku.

“Toko buku?” ucapku pelan.
“Iya gue tau lo suka baca novel jadi makanya gue ajak lo ke sini.” jawabnya.
“Kok lo baik sama gue?” tanyaku.
“karena ada beribu ribu hal yang belum kusadari sebelumnya.” ucapnya.
“Tapi tadi aku udah cari novel.” ucapku.
“Cari aja lagi atau mau lihat lihat yang lain.” ucapnya.
“Kok dia bisa baik? tapi kenapa? ada apa dengannya? apa dia juga suka sama sama aku juga?” pikirku
“Hei..?! lo menung?” ucapnya sambil melambaikan tangan disepang muka ku.
“Eh apa?” tanyaku.
“Jadi gak?” tanyanya balik.
“Jadi jadi.” jawabku grogi. Aku berjalan mencari novel satu persatu.
“Eh lo sama andre pacaran ya?” tanya ko devin membuatku tercengah.
“Sejak kapan?” tanya ku terkejut.
“Tadi renita bilang.” jawab ko devin.
“Impossibel.” balasku.

Tiba tiba pesan masuk dari hpku.
‘Tere cepat pulang.’ rupanya pesan dari mamaku.
‘Iya ma.’ balasku.

“Sepertinya aku harus balik dulu mama udah nyari.” ucapku sambil berjalan kekasir.
“Gue antarin ya.” ucap ko devin.
“Gak usah nanti kak shellya pulang sama siapa? aku bisa pupang sendiri kok.” ucapku berjalan lebih cepat dari ko devin. Kami pertama tapi ke jco dulu.
“Gue balik dulu.” ucapku lalu berlalu dari jco.
“Hei!!! gue antarin lo pulang ya.” ucap andre sambil menyusulku.
“Gak usah.” jawabku sambil terus berjalan.
“Gak usah nolak.” ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Aku bukan nolak tapi gak mau ngerepotin.” ucapku sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“Sekali aja gue antarin lo pulang.” ucapnya memelas.
“Gue bilang gak usah ya gak usah.” ucapku dengan nada yang tinggi. Lalu aku berlari keluar memcari taksi lalu langsung pulang.
“Sorry ya dre aku gak bisa mainin perasaanku sendiri, aku tu tertariknya sama ko devin bukan lo.” gumamku.

“Ma tere pulang.” ucapku.
“Lama banget di mallnya. dress-nya dapat?” tanya mamaku.
“Engak, tapi dapat novel.” ucapku sambil menunjukkan 3 novel yang baru saja ku beli tadi.
“Beli novel lagi, tapikan udah punya banyak novel bahkan satu lemari lagi.” ucap mamaku. Aku hanya tersenyum malu. Mamaku hanya menggeleng gelengkan kepala melihatku.

Pagi harinya lagi.
“Tere…re… ada kawan kamu tuh datang.” panggil mamaku dari bawah.
“Iya ma bentar.” jawabku memeng sebenarnya aku sudah bangun dari tadi pagi.
“Siapa ma?” tanyaku.
“Mama masuk dulu.” ucap mamaku.
“Lo?!” ucapku kaget.
“Dari mana lo tau rumah gue? kenapa lo datang? Aku ada buat masalah lagi ya? Atau lo mau cari masalah lagi ya?” tanyaku panjang lebar.
“Udah pertanyaannya, dan biar gue jawab satu satu, gak penting gue tau rumah lo dari mana, untuk ngajak lo jalan, engak ada, engak.” jawab ko devin.
“Jalan?” ucapku bingung.
“Tante pinjam anaknya mau ajak jalan sebentar.” teriak ko devin dari luar rumah langsung menarik tanganku.
“Iya hati hati, jangan kesorean pulangnya.” jawab mamaku.

“Mau ke mana sih?!” tanyaku marah.
“Entar lo tau sendiri.” jawabnya.
“Tapi gak usah pake tarik tarik tangan gue segala!!” bentakku.
“Kalau gue gak tarik lo gak akan ikut.” ucapnya.
“Cepat masuk.” ucapnya sambil sedikit mendorongku masuk ke dalam mobilnya.
“Mau ke mana?!” tanyaku lagi.
“Nanti lo tau, cepat aja-lah masuk!!” bentaknya, Aku nurut aja.

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia
Love Street (Part 1)

Love Street (Part 1)

Judul Cerpen Love Street (Part 1)

Kenalkan nama gue Teresia putri, Pagi ini aku baru saja masuk smp. Pagi ini aku segaja berangkat cepat supaya tidak telambat.
“Ma tere berangkat sekolah dulu ya?” ucapku.
“Iya hati hati.” jawab mamaku.

Aku berjalan keluar dari pintu pagar, Di tengah perjalanan aku mengambil novel dari tasku. Memang aku gemar membaca novel, Aku berjalan sambil membaca novel. Karena jalan kesmpku memang sama dengan ke-sd ku dulu, jadi sudah hafal jalan.

Setelah cukup jauh aku berjalan akhirnya aku sampai di smp. Aku terus melangkah tampa memperhatikan jalan.
Tiba tiba ‘Brukk’ aku bertabrakan dengan seseorang hingga terjatuh.
“Sorry.” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Aku menggapai tangannya dan dia menarik tanganku hingga aku berdiri.
“Nih novel kamu.” ucapnya sambil memberikan novelku. Aku hanya mengambilnya dengan kepalaku yang menunduk.
“Kok diam?” tanyanya. Aku masih tak menjawab hanya menundukkan kepala.
“Heyy..” panggilnya sambil memegang daguku, supaya aku memandangnya. Dan sekarang aku sedang menatapnya, dia mengunakan rompi dengan tulisan osis.
“Sorry ta-ta-tadi aku tidak melihat jalan Sorry.” Ucapku sambil berlari meninggalkannya.
“Hey nama kamu siapa?” tanyanya. Aku hanya menghiraukannya dan terus berlari menuju kelas.

Sesampainya di kelas.
“Yeyy… tere kita sekelas rupanya. Awalnya kukira aku bakal gak ada kawan.” ucap renita.
“Benarkah?” tanyaku.
“Rasanya lo gak pernah berubah deh.” ucapnya.
“Benarkah?” ucapku lagi.
“Iya hanya sifat dingin dan novel terus.” ucapnya. Aku tak membalasnya aku berjalan menuju kursi duduk terletak di sebelah renita dan meletakkan tas dan buku novelku di laci.
“Keluar yuk.” ajak renita.
“Ya.” jawabku. Dia menggandeng tanganku.
“Kamu pun gak berubah, hobi banget gandeng tangan aku.” ucapku sambil menatapnya, dia hanya tersenyum melihatku. Lalu kami tegak di luar kelas.

Tak lama kemudian bel pun berbunyi kami langsung berbaris di lapangan.
Setelah semua siswa berbaris semua tiba tiba seorang laki laki maju kedepan dan mengambil mikrofon dan…
“Saya ucapkan selamat datang kepada siswa dan siswi yang baru masuk, Sebentar lagi osis akan mengadakan penggantian anggota setiap kelas mengusulkan maksimal 3 orang, saya selaku ketua osis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya sebentar.” ucapnya sambil menyerahkan mikrofon kepada guru di sebelahnya. Aku menatapnya sebentar.
“Sepertinya dia cowok yang tadi aku tabrak.” pikirku.

Setelah dari lapangan kami masuk kelas. Tak beberapa lama kemudian seorang guru wanita masuk.
“Selamat pagi anak anak.” sapa ibu itu.
“Pagi buk.” balas semua siswa dan siswi.
“Pekenalkan nama ibu, Ratnawati. kalian bisa panggil ibu, ibu ratna atau ibu wati. dan pagi ini kita akan adakan pemilihan ketua kelas, wakil dan sekretaris.” ucap ibu ratna.
“Baik buk.” jawab semua siswa/i.
“Di sini siapa yang pernah menjadi ketua kelas?” tanya ibu ratna. Hanya ada dua orang laki laki yang mengangkat tangan.
“Oke kalian maju ke depan. dan yang pernah jadi wakil angkat tangan.” ucap ibu ratna.
“Tere lo kan pernah jadi wakil, angkatlah tangan.” bujuk renita. Aku tak berkomentar hanya diam saja. Akhirnya renita mengangkat tanganku.
“Renitaku sayang ngapain angkat tangan?” ucapku marah.
“Supaya lo jadi wakil.” jawabnya santai.
“Tapi kamu musti jadi sekretaris ya.” ucapku.
“Iya iya.” jawabnya. Dan aku mengangkat tangan.

“Hanya satu? maju ke depan.” tanya ibu ratna, Aku berjalan ke depan.
“Jadi siapa yang mau jadi sekretaris?” tanya ibu ratna. Lalu renita pun angkat tangan.
“Gak ada yang minat cuma satu?” tanya ibu ratna bingung.
“Ya udah kamu maju ke depan.” sambung ibu ratna, Lalu renita maju ke depan dan tegak di sampingku.
“Oke setelah ibu lihat lihat ketuanya kita lakukan secara voting. yang di kanan namanya siapa?” tanya ibu ratna.
“Rahman bu.” jawabnya.
“Kamu?” tanya ibu ratna sambil menunjuk yang disebelah kiri.
“Steven.” jawabnya.
“Jadi siapa yang milih rahman jadi ketua kelas angkat tangan?” ucap ibu ratna. Cuma ada 10 orang yang angkat tangan tidak termasuk aku dan renita.
“Jadi sudah pasti yang jadi ketua kelas kita adalah steven dan karena yang mau jadi wakil dan sekretaris masing masing satu jadi langsung ibu angkat aja, nama kamu siapa?” tanya ibu kepala sekolah sambil menunjukku.
“Teresia.” jawabku datar.
“Kamu?” sambil menunjuk renita.
“Renita bu.” jawab renita lembut.
“Dan kalian juga akan ikut anggota osis. kalian dipersilakan kembali duduk.” ucap ibu ratna. Lalu kami kembali duduk.

“Cie yang jadi wakil.” ejek renita.
“Ini kan juga kemauan lo.” jawabku sambil mengambil novel yang ada dilaci.
“Pasti mau baca novel lagi.” ucap renita.
“Menurut lo apa?” tanyaku datar.
“Ya lo mau baca novel.” jawabnya.
“Ya udah.” jawabku datar sambil membaca novel.

Tak beberapa lama kemudian.
“Yang dipilih jadi anggota osis sekarang maju ke depan.” ucap seseorang.
“Hei… tere ayo maju.” panggil renita sambil menarik tanganku.
“Kamu aja yang daftarkan namaku.” jawabku malas.
“Ayuk.” panggilnya sambil menarik tanganku dengan paksa.
“Iya iya..” jawabku sambil berdiri sambil memegang novel ditangan kiri sedangkan tangan kananku ditarik.
“Kalau bukan lo yang paksa pasti gue gak akan mau maju kedepan melakukan hal yang gak penting.” jawabku sambil masih membaca novel.
“Nanti kalian ikut saya ke ruang osis.” ucapnya.
“Bukannya ini suara cowok yang tadi pagi kutabrak.” pikirku lalu mengangkat kepalaku dan merapikan rambutku yang menutupi muka.
“Ehh.. lo kan yang tadi..” ucapnya sambil menatapku. Aku hanya tersenyum, lalu kembali menunduk untuk menulis identitas untuk anggota osis.
“Oke sekarang kalian ikut saya.” ucapnya sambil mengambil buku identitas osis dan berjalan duluan. Tanganku kembali ditarik renita aku hanya ikut dan terus membaca novel.
“Eh tunggu dulu nama koko siapa?” tanya renita.
“Devin. Panggil ko dev atau ko devin atau lo gue juga boleh.” jawabnya santai. Aku masih terfokus dengan novelku.
“Hei.. kawan lo itu kok diam saja?” tanya ko devin sambil menunjukku.
“Orangnya memang kayak gitu cuek plus dingin.” jawab renita, Aku hanya menatapnya sebentar lalu kembali membaca buku.
“Ko devin, kan jadi ketua osis pasti banyak cewek yang gejar ngejar kan?” tanya steven.
“Alayy..” ucapku.
“Hei..!!!” ucap renita sambil memukul bahuku, Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali membaca.
“Itu hal yang wajar siapa cewek yang gak mau punya pacar seorang pemimpin.” jawabnya santai sambil menepuk bahu steven.
“Tapi ko dev gak pernah naksir gitu?” tanya steven lagi.
“Belum pernah, tapi baru saja koko naksir seseorang.” jawabnya sambil tersenyum.
“Emang tipe koko kayak mana?” tanya renita.
“Yang pasti, ceweknya gak ribet, gak manja, cuek atau dingin dan pintar.” jawabnya Dan semuanya pada menatap ke arahku.
“Apa?” tanyaku bingung.
“Gak ada.” jawab renita.
“Ya udah.” jawabku sambil kembali fokus ke novelku.
“Tapi satu hal yang aku mau tanya, kenapa lo memberitau tipe cewek yang lo suka?” tanyaku sambil melepaskan tanganku dari gandengan tangan renita.
“karena gue ditanya pasti gue jawab.” balasnya sambil tersenyum padaku.
“Tadi katanya mau ke mana? iya tadi mau ke ruang osis, kalau gitu aku jalan dulu kutunggu di depan ruang osis. Bye..” ucapku sambil berjalan lebih cepat dan membaca novelku.
“Cewek aneh.” ucap ko devin namun aku hanya menghiraukannya dan terus berjalan ke ruang osis.

Setelah sampai di depan ruang osis aku tegak di sebelah pintu sambil menyilangkan kaki kanan di depan sambil membaca novel dan memasukkan tangan kanan kedalam kantong rok ku.
Setelah 15 menit kemudian mereka datang dengan peserta yang lain.
“Dasar ketua osis lemot.” ucapku kesal sambil menutup buku novelku.
“Cewek aneh.” balas ko devin kesal sambil membuka pintu ruangan osis, Lalu kami masuk.
“Anggota osis yang baru silakan duduk. perkenalkan nama gue devin boleh dipanggil ko dev atau ko devin atau lo gue pun juga gak papah da..”
“Langsung aja ke inti gak usah berbelit belit.” uacapku memotong pembicaran ko devin.
“Iya sabar neng nih baru mau masuk inti…” balasnya.
“Oke perkenalkan ini shellya wakil ketua osis, kalian bisa panggil kak shellya…” sambungnya sambil menunjuk seorang cewek yang baru masuk.
“Hai…” sapanya sambil melambaikan tangan.
“Hai…” jawab semua anggota osis. Aku hanya diam saja dan sambung membaca novelku.
“Jadi sabtu ini adalah hari ulang tahun smp kita jadi setiap kelas harus memilih dress codenya lalu beri laporan kepada osis, makanya kami meminta 3 orang dari setiap kelas.” ucap ko devin.
“Jadi harus long dress tapi warnanya tentuin satu kelas, oke?” sambung kak shellya.
“Oke kak.” jawab seluruh anggota osis sedangkan aku sibuk membaca novelku.

“Hei… kamu yang lagi baca novel dengar apa yang koko jelaskan?!” tanya ko devin sambil menatapku.
“Dengar.” jawabku datar sambil menatapnya.
“Apa yang koko jelaskan tadi?” tanya lagi.
“Sabtu ini hari ulang tahun smp kita jadi setiap kelas harus memilih dress code tapi musti long dress. lalu melaporkannya ke osis makanya koko minta 3 orang dari setiap kelas. Udah kan.” ucapku lalu kembali membaca novel.
“Bisa perhatikan sebentar.” ucapnya lagi.
“Udah..!!” jawabku sambil menaikan nada suara dan berdiri.
“Sekarang kamu keluar dari ruangan osis!!” bentaknya sambil menunjuk ke arah pintu.
“Oke, emang lo kira gue mau ikut ini!!” bentakku balik sambil berjalan keluar.
“Cowok lemot sok kecakepan.” ucapku marah.
“Apa tadi lo bilang?!” tanyanya dari dalam ruang osis.
“Cowok lemot sok kecakepan.” jawabku kasar lalu berjalan kembali kekelas.
“Cewek aneh.” balasnya dengan suara yang keras hingga aku dapat mendengarnya.

Sesampainya di kelas aku langsung duduk.
“Ternyata gak ada guru, berarti free time.” ucapku pelan lalu kembali membaca novel.

Tak lama kemudian.
“Hei… lo itu gimana sih?!” bentak seseorang.
“Seperti suara cowok.” pikirku.
“Apa? lo mau jadi sama seperti si ketos itu.” bentakku kepada steven yang di sebelahnya ada renita.
“Ayo lah jadi cewek jangan garang garang nanti gak laku lo.” sambung renita.
“Renita ku sayang kamukan tau aku itu kayak mana orangnya, jadi gak usah bilang gitu lagi bosan dengarnya.” balasku.
“Nih tadi ketos itu nitip kekita suruh lo keruang osis sekarang.” ucap steven.
“Malas.!!” jawabku.
“Cepat aja.” sambung renita.
“Iya iya…” jawabku sambil berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke ruang osis.

Sesampainya di ruang osis.
“Ngapain lo panggil gue?!” tanyaku hanya menatap punggungnya.
“Ngapain?!” tanyaku mulai marah.
“Ahh sudahlah aku balik kelas aja… bosan menghadapi cowok aneh kayak lo.” sambungku sambil melangkah keluar dari ruang osis.
“Tunggu..” ucapnya. Aku menghentikan langkahku.
“Gue panggil lo ke sini buat.. nih ambil.” ucapnya sambil memberikan sebuah jaket.
“Buat apa?” tanyaku.
“Ini jaket osis. Cepat ambil.” ucapnya sambil melemparnya ke arahku.
“Santai ajalah kasihnya. cuma buat ini? buang buang waktu gue banget.” ucapku sambil berjalan meninggalkan ruang osis.

Aku kembali ke kelas.
“Tere kami udah putuskan bakal pake long dress warna green yang cowok pake jas warna hijau kemeja dalam putih pake dasi juga keren pokoknya, warna kesukaan lo jugakan.” ucap renita.
“Aku setuju, cuma aku gak ada yang long dress.” ucapku.
“Tenang kita nanti ke mall gue pun juga gak ada, kita bareng bareng aja cari.” Sambung renita.
“Kapan?” tanyaku.
“Kalau tadi gak salah dengar waktu lo gak ada kamis sama jumat libur karena persiapan ultah sekolahnya di hotel.” jawab renita.
“Ya udah.” sambungku sambil berjalan kekursi duduk.
“Tapi kita belum lapor ketua osis.” sambung renita.
“Nanti suruh aja steven yang lapor.” jawabku sambil duduk dan kembali membaca novel.
“Iya pintar juga lo.” sambung renita.
“Aku kan memang pintar.” jawabku. Lalu renita pergi suruh steven kasih laporan dress code kelas kami.


Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.
“Tere kantin yuk.” ajak renita.
“Malas.” jawabku masih fokus ke novelku.
“Ayuk.” ucapnya sambil menarik tanganku, aku hanya ikut pada tarikkannya dan meninggalkan buku novelku di meja.
“Eh rasanya sebelum gue pergi suruh steven kasih laporan lo kan ada bilang sesuatu. apa?” tanya renita.
“yang mana?” tanyaku balik (bingung).
“Yang tadi itu.” sambungnya.
“Ooo itu Aku kan memang pintar.” jawabku.
“Aku tau lo pintar dipelajaran tapi tidak pintar dalam hal cowok.” sambung renita.
“Itu lo tau.” sambungku.
“Gue itu sedang dalam hal pelajaran tapi pintar dalam hal cowok.” ucapnya.
“Ya aku tau itu.” jawabku.
“Eh ada yang memperhatikanmu lo.” ucap renita.
“Biar aja.” sambungku malas.
“Eh tunggu dulu dia kan ko devin. dia lihatin kamu terus lo, jangan jangan dia suka sama kamu kali.” goda renita.
“Jadi gak ke kantin? kalau gak aku balik ke kelas lagi nih.” sambungku.
“Iya jadi.” jawabnya, lalu kami mempercepat langkah ke kantin.

Di kantin.
“Tere lo mau pesan apa? biar gue pesankan.” tanyanya.
“Gak ah aku gak lapar.” jawabku.
“Ya udah kalau gitu kamu duduk dulu aja.” sambung renita sambil berjalan ke kerumbunan orang untuk memesan makanan. Aku mencari tempat duduk.
“Ih mimpi apa aku kemarin kok aku bisa ketemu cowok kayak gitu.” pikirku.
“Apa jangan jangan dia betulan suka sama aku.” pikirku.
“Tapi kan gak mungkin. tapi dia keren juga.” pikirku.
“Duh kok jadi mikirin dia.” ucapku.
“Ayo pikirin siapa?” tanya renita yang ternyata sudah siapa memesan.
“Gak ada.” jawabku.
“Gak ada apanya. tadi kamu bilang duh kok jadi mikirin dia? dia siapa? jangan jangan ko devin.” terka renita.
“Engak ada.” jawabku.
“Yakin?” tanyanya lagi.
“Udah lah.” ucapku. Lalu renita menghabiskan makanan yang telah dia pesan.
setelah itu kami kembali ke kelas.

Pagi hari datang lagi waktu aku berangkat sekolah 06.30
“Ma tere berangkat ya.” ucapku.
“Kok pagi kali?” tanya mamaku.
“Pagi ini ada rapat osis jadi musti berangkat pagi.” jelasku.
“Ya udah hati hati.” sambung mamaku.
“Iya jaket?!” ucapku dengan sedikit keras.
“Jaket? bikin mama terkejut aja.” balas mamaku. Aku berlari ke kamar memgambil jaket.
“Aku berangkat.” ucapku lagi sambil berlari keluar rumah.

Sesampainya di sekolah 07.05
“Mati aku telat 5 menit.” ucapku sambil berlari ke ruang osis.
“Sorry aku telambat.” ucapku dari depan pintu dengan nafas yang tidak teratur.
“Anggota baru masa terlambat, kenapa bisa terlambat?” tanya kak shellya. Tiba tiba.
“Sorry koko telat.” ucap seseorang.
“Eh ketos juga telat.” ejek kak shellya.
“Emang siapa lagi yang telat selain gue?” tanya dengan nafas yang tidak teratur.
“Tengok di samping lo.” ucap kak shellya.
“Hhh? cewek aneh telat?!” ucapku ko devin.
“Masa ketos telat.” ejekku balik.
“Kalau dilihat lihat kalian cocok juga.” ucap kak shellya.
“Masa aku sama dia.” ucapku serentak sama ko devin.
“Tu kan gomong aja bisa serentak.” ucap kak shellya.
“Cie… cie…” ejek anggota osis yang lain.
“Kita tengok alasan ketos kenapa telambat”,
“Devin kenapa lo telambat?” tanya kak shellya.
“Tadi aku tersesat di jalan bernama jalan cinta.” jelasnya.
“Emang ada jalan cinta?” tanyaku sambil menatapnya.
“Jalan cinta ke hatimu. Ha.. ha. ha.” ucapnya lalu diakhiri dengan tawa yang keras.
“Gila lo.” ucapku sambil memdorongnya dan pergi meninggalkan ruang osis.
“Woi!! mau ke mana?” teriaknya.
“Bukan urusan lo!!” jawabku sambil berlari ke kelas.

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia
Kami Tidak Sehina Yang Kalian Kira

Kami Tidak Sehina Yang Kalian Kira

Judul Cerpen Kami Tidak Sehina Yang Kalian Kira

Kalian semua pasti tau apa itu cinta di SMA? Ya, tentu saja, bahkan sebagian orang telah merasakannya. Itu yang aku rasakan sekarang, berawal dari sebuah cinta di SMA yang katanya semanis brownies. Oh ya, namaku Reina kamila putri, aku bersekolah di sekolah yang cukup terkenal di jakarta ya sekitar tahun 2006.

Kisah ini aku mulai dari sebuah sekolah di SMA, cinta pertama yang aku dapatkan. Ia bernama rendi, dia begitu baik padaku, aku ingat sekali saat dia membantuku membersihkan kelas, menemaniku membaca buku, membantuku mengerjakan PR, dan hari itu, dia berkata “rei? Lo mau gak jadi pacar gua?” Semenjak saat itu kami resmi berpacaran.

Aku begitu bahagia bersamanya, dia menemaniku disaat suka maupun duka, dia selalu menemaniku berjalan jalan di taman, menghabiskan waktu senja bersamanya, membelikanku es krim, menemaniku membaca buku. Dia sosok pria yang sangat baik, aku begitu nyaman bersamanya. Sampai akhirnya dia berubah dan aku tidak tau apa alasannya.

Rendi sudah tidak menghubungiku selama dua bulan, aku selalu mengirim pesan kepadanya tapi tak ada balasan apapun, aku juga sudah meneleponnya tapi tak ada jawaban apapun, aku sangat merindukannya jadi kuputuskan menemuinya di kost tempat ia tinggal.

Sesampainya di sana, aku melihat dia sedang mabuk, aku pun menghampirinnya. “kamu ngapain sih ren?” ujarku kepadanya, “eh kamu rei” katanya dengan sedikit bingung, “kamu ngapain sih minum minum kayak gini?” kataku dengan kesal. Tiba-tiba dia menarikku ke kamar, dan melucuti seragam SMA ku, “ren kamu mau apain aku!” kataku sedikit cemas, “udah, kamu diem aja ya cantik” ujarnya dengan keadaan mabuk. Dia melakukan hal yang tidak senonoh kepadaku, dan hari itu juga aku kehilangan keperawananku.

Aku pulang dengan berlinang airmata, aku tak menyangkanya orang yang aku percaya akan menjagaku ternyata telah merenggut kehormatanku, merampas mahkotaku, aku sangat bingung apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin pulang dalam keadaan begini. Jadi kuputuskan untuk tinggal bersama temanku, pasti kalian tau? Jika wanita yang sudah kehilangan keperawannya akan dianggap jelek, bahkan dikucilkan.

“jika wanita yang kehilangan keperawannya dianggap hina, lantas bagaimana dengan yang terpaksa kehilangan kehormatan? Yang bahkan mereka tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini? Dan jika memang benar, KAMI wanita yang kalian anggap hina ini telah kehilangan sebuah mahkota kebaggaan. Lantas bagaimana jika jari dan kemaluan laki-laki dirantai saja?”

“Cerita ini untuk para wanita… Yang terpaksa kehilangan keperawanannya”

Cerpen Karangan: Anggitha Dwi Rahayu
Blog / Facebook: Anggitha Dwi Rahayu
Inilah Aku

Inilah Aku

Judul Cerpen Inilah Aku

Inilah aku yang hidup hanya sendirian, aku andini putri ababil. Orangtuaku sudah pergi dan sekarang aku tinggal dengan nenekku, nenekku yang tak mampu berjalan, nenekku yang tak mampu untuk bekerja. Ya di sini aku merawatnya dengan kasih sayangku, sekarang aku duduk di kelas 1 sma.

Pertama dari awal aku masuk, aku selalu tertimpa masalah walaupun aku sudah berusaha diam tapi masalah itu timbul dalam hidupku, dan aku sering dimusuhi oleh teman-temanku hanya karena sepatuku yang butut dan seragamku yang kotor dan tak sebagus apa yang dipakai mereka…

Di saat jam sudah menunjukkan waktu pulang aku tak lupa untuk mampir ke musholla sekolahku, di sana aku selalu berdo’a supaya aku bisa bersabar dalam menghadapi segala keadaan dan ocehan temanku, dan aku tak lupa untuk mendo’akan nenekku yang sedang berbaring di kasurnya…

Keesokan harinya aku mendengar temanku yang sedang berbisik kepada temanku yang lain, dia berbisik “teman-teman? Eh liat deh dia cupu banget yah, lihat kerudungnya mungkin gak dicuci yah aku yang ada di depannya muak, dan lihat tuh juga bajunya yang lain putih dia malah putih agak kekuning-kuningan ya kan? Mana ada anak baru kayak itu? Trus sepatunya bolong gitu gak seperti kita ya kan? Mungkin kaos kakinya pun juga bau, bolong ihhhh… Trus trus liat tuh juga tasnya masa make kantong plastik mana ada loh jaman sekarang sekolah, kok bisa ya dia sekolah di sini padahal di sini kan tempat anak-anak terfavorit ya kan teman-teman?”
Dan mereka pun mengiyakannya dan mensorakiku…

Dan hal yang paling buat aku sakit saat guruku datang dan dia mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya guru itu katakan padaku “beng, kamu gak pakai parfum ya?”
Aku pun menjawab “iya pak?” dengan wajah sedihku.
Dan teman-temankupun menertawakanku, sungguh sakit hatiku tanpa aku berpamitan pada guruku aku langsung keluar dan membawa kantong plastik yang dijadikan tas olehku.
Dan kebetulan dia adalah wali kelasku

Yaa aku memang tak mampu dan sejujurnya aku sekolah di sana pun mendapat beasiswa, sekarang aku sadar meskipun aku sepintar apapun, jika aku tidak memiliki uang aku tak akan bisa sukses, ya aku berbicara seperti itu karena meskipun aku pintar tapi ocehan teman-temanku yang menyakitkan itu tak pernah berhenti hanya mengakibatkan aku tidak pernah memiliki pikiran untuk fokus pada pelajaranku, karena aku akan selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh teman-temanku.

Sampailah aku ke rumahku dan akhirnya aku membuka pintu rumahku yang kecil dan hanya ada satu kamar itu, dan aku langsung memeluk nenekku, aku menangis dan nenekku bertanya “kenapa kamu menangis an?”
Dan aku pun menceritakan semua yang telah aku alami di sekolah, nenekku hanya berkata “jangan pikirkan kamu harus sekolah kamu harus bisa membanggakan orangtuamu di alam sana, biarkan orang berkata apa, harusnya kamu bersyukur karena kamu bisa mendapakatkan beasiswa tak seperti teman-temanmu, sebenarnya kamu yang merupakan orang terfavorit, tapi mereka masih dibutakan dengan kekayaannya”
Sebenarnya aku berpikir untuk menyusul kedua orangtuaku tapi aku masih memikirkan nenekku yang masih membutuhkan aku…

Satu minggu aku tidak masuk sekolah dan dari satu minggu itu aku pergi ke rumah-rumah tetanggaku untuk mencari pekerjaan, tapi satu pun aku tak menemukannya, akhirnya aku terasa lelah dan aku pun tak sadarkan diri di jalan, entah mengapa saat aku siuman aku sudah ada di rumah sakit, dan saat itu pula ada seorang lelaki dan perempuan, mereka adalah seorang suami istri, dan aku pun langsung bangun dan berusaha untuk keluar tapi suami istri tersebut melarangku dan aku pun berkata “aku tak sanggup membayar rumah sakit ini pak bu”
Istrinya pun berkata “kami yang akan membayarnya nak..”
Akhirnya kami berkenalan dan mereka berencana untuk mengadopsiku karena mereka tidak memiliki dan tidak dikaruniai seorang anak.

Ya akhirnya aku ikut dengan mereka, di sana aku sangat senang tapi saat mereka menanyakan sekolahku, ya akhirnya aku menceritakan semuanya meskipun semua itu perih dan menyakitkan aku tetap bercerita hingga mereka menangis begitupun denganku…

2 minggu aku ada di rumah mewah dan megah itu, tapi saat aku mau tidur siang aku mengingat nenekku, aku langsung memberitahu mereka kalau aku tinggal bersama nenekku, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah nenekku, dan saat aku membuka pintu nenekku sudah terbaring lemah, dan dengan bibirnya yang putih.
Dan bapak adopsiku berkata bahwa nenekku sudah tiada, aku pun menjerit menangis karena tanpa tersadar aku sudah menyia-nyiakan orang yang aku sayang, setelah pemakaman nenekku, guru bk ku datang dan dia menanyakan kenapa dalam waktu 1 bulan ini aku tidak masuk sekolah dan aku pun menceritakannya, dan guru bk ku pun memutuskan aku harus sekolah lagi dan untuk teman-temanku akan dia paggil ke bk, karena pelecehan nama baik begitu pula dengan guru yang mengajarku pada waktu itu sekaligus wali kelasku.

Awal aku masuk mereka langsung terkejut karena aku yang dulu sudah berubah, aku yang biasanya memakai kerudung yang bau dan berkerut, sekarang aku memakai kerudung yang sudah disetrika dan sudah harum sewangi bunga, dan bajuku yang agak kekuningan sekarang pun aku memakai baju yang putih bahkan lebih putih dari mereka begitu pula dengan sepatu dan kaos kakiku pun merupakan barang yang paling termahal dan tas yang aku pakai sekarang pun juga paling termahal dan bermerek.

Hari-hariku berjalan dengan lancar, aku pun sekarang memiliki teman tak seperti biasa, aku yang biasanya tertimpa masalah-masalah dan aku yang biasanya diocah sekarang sudah tidak lagi…
Tapi sekarang aku berubah bukan hanya penampilan tapi hati dan sifatku berubah menjadi sombong bahkan aku yang biasanya pada jam pulang pergi ke musholla tidak lagi, ya itulah aku sekarang dengan keadaanku yang sangat mewah.

Kesedihan yang dulu membanjiri hidupku sekarang berubah bahkan semua laki-laki mengejarku karena kecantikanku dan teman-temanku yang biasa mengocehiku, mereka sudah mulai sok akrab denganku, tanpa mereka sadari bahwa mereka dulunya sangat menyakitkan hatiku dan selalu buat aku terluka, dan tanpa mereka mengucapkan maaf kepadaku.

Ya itu karena kekayaan yang aku miliki sekarang, tapi hari ini aku menemukan hal baru satu orang lelaki dia sangat tidak tertarik denganku sama sekali. Padahal seluruh teman-teman kelasku gak laki gak perempuan semuanya sok akrab deganku begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Tapi untuk dia tidak. Bahkan aku pun menghinanya penampilannya yang seperti penampilanku saat pertama aku masuk ke sekolah ini, aku menghinanya seperti apa yang merek hina kepadaku, karena aku sangat mengingatnya dia yang dulu juga ikut-ikutan menghinaku dan mencelaku.

Beberapa hari kemudian beasiswaku ditarik karena kenakalanku dan kesombonganku, dan aku pun sekarang tak memikirkannya karena aku sudah memiliki uang yang banyak, bahkan sekolahan ini bisa aku beli, dengan sombongnya aku, aku bahagia. Ya inilah aku yang sekarang.

Dan lelaki yang aku hina, dia yang mendapat beasiswa, dan aku yang sombong ini selalu menghinanya, 3 hari aku tidak melihatnya sekolah, ya aku biasa aja, 1 minggu dia takk memunculkan mukanya aku cari tahu tentang dia, dan saat perjalanan pulangku, aku melihatnya berjalan di trotoar, dia mengamen, sungguh hatiku hancur.
Dan aku pun memutuskan untuk mengikutinya, dan masyaallah, rumahnya lebih tidak memungkinkan, tak seperti rumahku yang dulu malah rumahnya sangat sempit, aku pun menangis, tanpa dia sadari aku melihat wanita tua yang sedang berbaring di tempat tidur, dan dia pun menangis aku semakin terluka hingga akhirnya aku masuk dan aku berkata
“kenapa kamu tidak sekolah?”
Dan dia berkata “apa kamu mau menghinaku? Hinalah aku sesuka hatimu sekarang,”
Dan dia pun menangis, aku tak tahan dan aku meminta sopirku untuk membawa wanita tua itu ke dalam mobil dan aku pun menyuruhnya untuk membawa wanita itu ke rumah sakit karena aku tidak mau apa yang aku alami dialami oleh orang lain meskipun dia dulunya menghinaku, entah mengapa sifat sombongku hilang ketika aku melihat wanita tua itu.

Dan dia pun berkata “kenapa kamu menolongku, aku dulu sering menghinamu bukaan? Kenapa sekarang kamu baik padaku?”
Dan aku hanya menariknya dan membawanya ke rumah sakit tempat wanita itu di rawat, dengan menyusul sopirku menggunakan taxi, dan lelaki itu pun meminta maaf padaku atas apa yang dia lakukan dulu kepadaku, dia mengikuti kata-kata yang dikatakan temannya dan juga ikut menyorakiku, dan dia bercerita kalau dulunya dia memang orang punya tapi sejak neneknya bangkrut dia pun tinggal di rumah kecil dan neneknya pun penyakitan, akhirnya aku meminta bapak dan ibuku untuk membiayai semua biaya rumah sakitnya dan bapak ibuku juga memberikannya sebuah rumah yang layak untuknya, sejak itulah aku menyadari bahwa sikapku selama ini salah, akhirnya aku memutuskan untuk berpenampilan sewajarnya dan belajar menjadi orang yang sukses seperti apa yang dikatakan oleh nenekku.

Dan aku pun bersekolah seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid dengan sewajarnya…

Cerpen Karangan: Farhatus Sholihah
Blog / Facebook: Farhatus Sholihah
Hanya Kamu

Hanya Kamu

Judul Cerpen Hanya Kamu

Hari ini hari pertama aku masuk sekolah, hari pertama ini hari di mana aku dan teman-temanku berkenalan, dan sekarang aku mulai berkontraksi dengan teman-temanku, ya dimana aku yang masih malu-malu untuk berkenalan, tapi ya gini teman-temanku pada gak maluan, mereka bicara aja blak-blakan, akhirnya aku ngerasa nyaman dengan temanku yang sekarang, ya ini aku namaku “ADELIA PUTRI” teman-temanku memanggilku adel, aku ke sekolah berangkat sama kakakku namanya “DITA WULANDARI” aku dan kakakku ya saling ngerti gitu.

1 bulan aku sekolah langsung aja aku dapet musibah, dimana aku mengalami kecelakaan yang tragis, hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk membawa kendaraan masing-masing, tapi kami tetep berangkat bersama bahkan kami berangkatnya bertambah teman, ya ada viola, nita dan agustin. Ya kami sering berangkat bareng.

Hari-hariku ya berjalan dengan baik, kebetulan aku adalah wakil ketua di kelasku jadi kelas adalah urusanku dimana aku harus mengurus kelasku, dimana aku harus selalu membuat kelasku nyaman, ya alhamdulillah aku bisa, meskipun aku sering dimarahi oleh wali kelasku karena itu ya aku bisa sabar dan memaklumkan hal-hal itu karena hanya itu yang bisa aku lakukan, selalu terlintas di pikiranku “aku capek” tapi ya sudahlah ini kan sudah tugasku sebagai seorang yang berkomitmen tinggi.

Dan hingga akhirnya pun aku mendapat sebuah masalah dimana temanku yang bernama andre menyukai kakakku dita, mereka yah saling berkomunikasi bahkan setiap hari aku dikacangin, mereka suka pulang berdua dan aku jadi congeknya, sebenarnya malu sih tapi mau bagaimana lagi, ya kann.

Pernah terlintas di pikiranku untuk menjauh tapi ya gak bisa gimana mau jauh, dita aja adalah kakakku, ya aku hanya bisa diam, kalau mereka lagi jalan ya aku cuman bisanya nunggu mereka gitu doang, ya sabarlah aku, hingga akhirnya andre pun mengajak kakakku untuk menjalin hubungan, aku ya iya iya aja tapi temanku viola sangat tidak setuju dan dia memberi tau kepada kakakku kalau dia sangat tidak menyukai andre dimana andre yang selalu mengganggunya dan sifatnya yang terlalu dan keterlaluan, ya aku diam saja, hingga akhirnya waktu kakakku menjawab pun tiba, hingga akhirnya kakakku menolaknya dan andre pun marah terhadapku karena menurutnya aku yang mengadu domba hubungan mereka, tidak tidak tidak.

Sejujurnya aku juga marah tapi ya mau gimana, aku aja pangkat di kelas adalah wakil ketua kelas gimana jadinya kelas kalau aku musuhan sama dia, CAPEKK!!, ngurus kelas sendiri itu capek, andre aja gak becus ngurus kelas, ahhh capek sama sifat dan sikap andre.

3 minggu lamanya kita musuhan dan gak nyapa tapi akhirnya semua kembali dengan semula, tapi meskipun semula ada aja masalah, masalah-masalah yang menumpuk, teman-temanku memusuiku, dan sering sekali aku dihina hingga akhirnya aku meneteskan air mataku di kelasku itu, sebenarnya sakit tapi aku harus sabar untuk bisa memberikan yang terbaik untuk orangtuaku, motivasiku adalah orangtuaku, dan motivatorku ya pastinya teman-temanku, dimana teman SMPku yang selalu mendengarkan kata dan curhatanku, aku tahu tuhan maha melindungi, maha mendengar, dan maha melihat, bahkan allah tahu siapa dia yang benar dan siapa dia yang salah, bukankah itu benar?.

Ya 1 bulan aku merasakan hal-hal yang tidak-tidak, hal-hal yang membuat aku sakit hati, dan hal-hal yang membuat air mataku menetes, sungguh sakit rasanya, tapi mungkin itu adalah bumbu dari keberhasilanku, tapi dibalik semua itu kelasku kembali lagi dengan semula dengan kekompakan yang aku inginkan, tapi hal yang tidak aku suka muncul dimana aku dibilang pacaran sama temanku dedi, sungguh andre sangat kelewatan, awalnya aku masih pendekatan karena andre membocorkan segala hal yang terjadi di antara aku dan dedi, dedi pun memutuskan untuk menjauhiku?.

Ya aku terima tapi saat itu pula aku dekat dengan kakak kelasku, namanya zaen, dia adalah kakak kelas di lesanku, orang baik, perhatian pokoknya apalah-apalah, ya aku mulai pendekatan di sosial media, awalnya masih chat biasa di bbm, dan akhirnya kita saling tukeran nomer handphone, dan kita pun mulai chat lewat facebook, dan akhirnya kita pun jadian, tapi hari pertama aku jadian sudah ada aja masalah, semua temanku tau kalau aku jadian sama si zaen, semuanya minta PJ, apa ya?. Ya itu semua gara-gara putra, dia adalah sepupu dari zaen, sungguh kelewatan dia.

Dua hari aku jadian dengan zaen, semuanya masih baik baik saja, dan masih lumayan asyik tapi aku sudah mulai bosan dimana aku harus selalu melibatkan dia di setiap kegiatanku, aku tidak menyukainya, sungguh, karena waktu yang tak memikat, 3 hari kemudian mungkin zaen sudah merasakan apa yang aku rasakan hingga akhirnya dia memutuskan untuk berteman denganku?, sebenarnya sakit, nyesek banget tapi ya mau gimana aku kan gak lebay aku biasa aja nanggepinnya. Malah aku jujur ke dia kalau sebenarnya aku juga gak nyaman sama sifat dan sikapnya.

Aku tak pernah pacaran serumit ini, ya hingga akhirnya kita temanan dan kita pun tak ada kabar, tapi hati ini tetap tegar dengan segala apa yang aku rasakan meskipun semua itu sakit tapi aku mampu untuk bertahan, ya inilah aku yang sekarang “JOMBLO LOVERS” dan sekarang aku pun memutuskan untuk pacaran dengan laptopku? dan hpku kutinggal, hingga beberapa hari dia tidak ada kabar aku mendengar dari temannya kalau dia hanya ingin status pacaran saja denganku, dia hanya maunya jalan sama aku, sumpah makin nyesek aja hatiku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menutup hatiku meskipun semua ini aku tak terima, ya sudahlah mungkin ini yang terbaik dan allah pasti akan memberikan jalan yang baik untukku, tapi entah mengapa sehari dari kepergian zaen dedi pun sudah mulai menghubungi aku lagi, ya begitulah hingga akhirnya aku mulai memperbanyak teman, walaupun dia yang aku sayang telah pergi meninggalkan aku ya sudahlah nanti juga pasti kembali lagi, jodoh kan ada di tangan tuhan. Jika dia memang jodohku dia pasti akan kembali.

Cerpen Karangan: Farhatus Sholihah
Blog / Facebook: Farhatus Sholihah
Kebahagiaan di Akhir Cerita

Kebahagiaan di Akhir Cerita

Judul Cerpen Kebahagiaan di Akhir Cerita

Dengan langkah malas aku berjalan ke koridor sekolah, melihat nilai ujian sekolah yang sudah tertera di papan informasi. Sebenarnya aku tak perlu melihat ini, toh nilaiku juga rendah.
Yaps! Tak meleset perkiraanku, nilai 55 tercantum di situ.
Kulihat nama Reyhan, pria yang kusukai, ia memperoleh nilai 100. Tak kisadari senyum terlukis di wajahku, bukannya sedih dengan nilaiku, aku malah senang jika Reyhan memperoleh nilai tinggi.

“Eh, senyum-senyum sendiri. Nilai lo 55, bahagia lo?” Tanya Killa temanku.
Aku menanggukan kepala, mungkin ia benar-benar anggap aku gila.
“minggu lalu 50, sekarang 55. Meningkat kan?” Kataku.
Aku langsung pergi menuju kelas, ada Reyhan.
Keringat dingin mengalir di wajahku.
“Hay Reyhan. Selamat, nilai kamu 100” kataku pelan
“Udah biasa dan makasih” Jawabannya cuek dan pergi begitu saja.
Cuek banget, pikirku!!

Jam pulang.
Aku menuju parkiran, ada Reyhan di sana. Senyum ini kembali mengembang. Aku pun menghampirinya.
“Reyhan, pulang bareng yok. Kita nonton dulu yuk, ada film enak loh hari ini” kataku semangat.
“Kia! Gue gak suka nonton” katanya
“Ah, anak sepertimu emang tidak suka seperti itu. Kalau begitu bagaimana jika ke toko buku”
“Kia! Apa lo gak sadar? Tindakan lo ini benar-benar bodoh tau gak? Oh ya, gue baru ingat, lo bodoh kan? Sana pergi lo ke toko buku sendiri, gue gak suka jalan sama orang bodoh kaya elo”
Aku benar-benar sakit. Aku ingin menangis, tapi aku tau aku kuat.

“Kak rey, gimana udah lama nunggui Mika? Maaf ya kak, Mika tadi ke ruang guru sebentar”
Gadis itu, siapa dia? Dia cantik, lesung pipinya dalam, hidung mancung, dan matanya besar, tinggi.

“Enggak kok Mik, kakak baru aja nunggu, kalau gitu ayo kita pergi” kata Reyhan sambil sinis denganku.

Aku benar-benar benci hal ini. Mereka meninggalkanku sendiri di parkiran ini. Kaki ini tak sanggup lagi berdiri, aku terjatuh. Tapi tidak pingsan seperti di sinetron. Tapi tangisan ini nyata!

Hujan turun aku masih di sini. Menikmati basahan air. Jam pukul 15:30. Aku masih di sekolah, toh kalau aku tetap di sini sampai malam tak mengapa, karena ku yatim piatu. Tante akan mengunjungiku 3 hari sekali.

Jam 18:25 aku, pulang dengan basah kuyup.
Rumah mewah ini sangat sepi. Karena aku sendiri, pembantu kusuruh berhenti karena aku malas bersama orang.
Badanku demam, ditambah kepikiran Reyhan. Kenapa aku harus mikirin orang yang membenciku?

Keesokan harinya aku tidak sekolah! Aku benar-benar sakit, tapi aku tetap belajar di rumah, walaupun aku tak mengerti tapi aku harus tetap belajar, aku mengikuti bimbel di mana mana. Sampai sampai aku berubah menjadi pendiam, gak care sama teman, yang kupentingkan aku harus berubah!!

Sampai pada akhirnya ulangan dimulai, dengan mudah kupelajari. Aku bahagia, nilaiku tertinggi, dan Reyhan nilainya 99.
Aku sedih, tentu saja. Yang kumau aku dan dia nilai 100.

“Kia! Si gadis bodoh ini berubh menjadi anak pintar” kata Reyhan di belakangku.
Aku memutar badanku, jantungku berdetak tidak normal. Aku bingung, yang biasanya aku caper, kini aku salting di depannya!

“Hanya kebetulan” kataku pelan.
“Ha? Kebetulan? Mana mungkin! Kecuali lo nyontek sama orang pintar. Tapi kan lo di kelas low, itu artinya isi kelas lo bodoh semua. Lo mau nyontek siapa? Gue yakin. Lo jadikan peristiwa di parkiran itu sebagai motivasi lo kan? Lo marah gue bilang bodoh, dan pada akhirnya lo berubah! Kia. Liat gue, lo gak perlu harus benar benar bersikap bodoh untuk nunjukin diri lo yang sebenarnya. Lo berubah karena gue kan? Lo suka kan sama gue?” Kata Reyhan panjang lebar. Aku benar benar grogi.
“Aku gak suka” aku benar benar gugup
Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku berpikir ini seperti dram Korea. Aku gugup.
Kini pikiranku gak meleset lagi, bibir kami bertemu. Ini tempat sepi, namun bisa menjadi ramai.
Reyhan mengangkat kepalanya.
“Lo gak suka sama gue?” Tanyanya lagi.

Aku langsung memeluknya dan menangis.
“Reyhan! Aku benci sama kamu. Aku bencii! Kamu selalu buat aku terus memikirknmu, kamu selalu ngasi soal tanpa jawaban yang kutau! Kamu selalu bersikap cuek sama aku, kamu selalu bikin jantungku berdetak lebih kuat. Aku benci sama kamu. Pelukan ini kueratkan, dan Reyhan membalas pelukanku.
“Maaf kia, aku cinta sama kamu, dari dulu. Aku gengsi”
Reyhan kembali melakukan adegan kiss padaku. Sungguh hari ini, aku bahagia.

“Jadi siapa gadis di parkiran itu?” Tanyaku saat kami pergi jalan.
“Dia sepupuku!”
Aku terkejut, kupikir dia sudah punya pacar. Tapi aku bahagia.

Cerpen Karangan: Ellya Syafriani
Blog / Facebook: Ellya Syafriani / Ellya Syafriani