Showing posts with label Cerpen Lucu (Humor). Show all posts
Showing posts with label Cerpen Lucu (Humor). Show all posts
Berkah Jadi Santri

Berkah Jadi Santri

Judul Cerpen Berkah Jadi Santri

Nama gue Sofi, gue siswa di salah satu Mts swasta di Kediri. Gue siswa yang lumayan bandel tapi juga lumayan pinter. Eitzh… bukan bermaksud sombong. Gue hidup serba kecukupan makan cukup, tidur cukup, istirahat cukup, mandi cukup, pokoknya serba cukup Dech…!. Tapi semua itu berubah saat gue berada di sini, di sebuah pesantren yang gue anggep seperti penjara. Maksud gue penjara suci.

“Ma…! Sofi gak mau di sini, Sofi pengen pulang!”, kataku sambil merengek seperti anak kecil kehilangan permennya.
“Sofi…! mama itu pengen kami jadi anak yang bener gak urakan kayak gini”, kata mamaku gak mau kalah.

Dan disinilah kehidupan baru gue dimulai, kehidupan yang penuh dengan aturan menyebalkan. Gak boleh keluar malem, gak boleh pacaran, gak boleh Hp an dan blablabla. Gue bisa gila kalo terus di sini. Ditambah wajah-wajah pengurusnya yang galak kayak harimau kelaperan.

Tiap hari kerjaan gue diomelin pengurus, soalnya gue selalu telat berangkat ngaji, telat berangkat sekolah, telat bangun, telat Ro’an, Eitzh… tapi gue gak pernah telat makan. Selama di sini gue merasa waktu berjalan kayak siput pincang lama… banget (bukannya siput gak punya kaki?). Dua minggu di sini serasa dua tahun lamanya. Dan selama itu pula gue membuat kericuhan di sini mulai dari rebutan makan, rebutan antrian mandi, rebutan tempat tidur sampai rebutan toilet. Al hasil gue gak punya banyak temen di sini. Tapi gue punya satu sahabat baik namanya Yasmin. Entah apa yang membuat dia mau temenan sama gue yang jelas dia yang selalu nasehati gue saat gue lagi di puncak bandel.

Pernah juga sutu hari gue berencana ketemuan sama gebetan gue. Rian.
“Lebih baik jangan dech fi, kamu tahu sendiri kan banyak mata-mata di sini”, kata Yasmin menyarankan.
“Kan kita beraksinya malem gak bakalan tahu, alah… bilang aja lo gak mau kan nganterin gue?”, Sergahku.
“Kalo masalah ini aku gak mau ikutan fi, aku takut ditakzir. Yang penting aku sudah mengingatkanmu”, kata Yasmin sambil berlalu meninggalkanku.
“oke gue bakalan berangkat sendiri, gue kira lo temen baik gue”. Kataku setengah teriak.

Dan akhirnya pada waktu yang telah ditentukan gue benar-benar menjalankan aksi gue. Diam-diam gue buka pintu kamar, sejauh ini suasana aman. Gue terus berjalan bak seorang maling yang akan menjalankan aksinya, hingga akhirnya gue sampai di tempat tujuan dengan selamat.
“Eh… lo udah nunggu lama ya…? sorry-sorry”, kataku setengah berbisik.
“oke oke no problem, nunggu lo di sini sampai pagi pun gue rela asalkan bisa ketemu lo”, jawab Rian dengan gaya lebainya.
“Dasar gombal…!”, umpatku.
Tiba-tiba ekspresi Rian berubah menjadi seperti ketakutan.
“Eh… muka lo kenapa kusut gitu? Kayak nglihat setan aja, mana setannya sini kalo berani sama gue”, kataku sok berani.
“Hm… itu”, jawabnya dengan ekspresi yang masih sama.
Gue perlahan berbalik melihat siapa gerangan yang ada di belakang gue. Sontak mata gue terbelalak, jantung gue serasa berhenti berdetak saat gue tahu sosok di belakang gue adalah dua pengurus pesantren yang tengah berdiri dengan wajah garangnya.
“Sofi…! pergi ke kantor pengurus sekarang!”, teriak mereka berdua serentak.
Dan kini gue harus nyiapin mental gue buat ngadepin semua ini.

Di kantor pengurus, gue kenyang oleh omelan omelan para pengurus yang kejam, dan tak jarang sebuah tongkat besar mendarat mulus di tangan gue.
“Saudari Sofi sampai kapan anda akan terus melanggar aturan seperti ini?”,
Bukkkk!
“Auhw…”, pekikku kesakitan.
“Apakah pentakziran yang selama ini kami berikan pada anda tidak cukup untuk membuat anda jera?”,
Bukkkk!
“Aauhw…”, satu lagi pukulan mendarat mulus di tangan gue. Gue hanya bisa pasrah.
“Kalau memang anda tetap tidak mau menaati peraturan di sini, kami akan menyerahkan anda pada Abah Yai gar beliau turun tangan sendiri”,
“Ja… jangan mbak saya janji gak akan mengulanginya lagi”, jawabku mulai angkat bicara.
“Baiklah tapi anda tetap harus menerima pentakziran yang telah kami tentukan yaitu shalat taubat, istighfar 10.000 kali, shalat tahajud 15 hari, dan puasa senin dan kamis selama satu bulan.
“Baiklah mbak insyaallah”, jawabku lemah.

Gue kembali ke kamar dengan terburu-buru. Air mata gue tek lagi dapat dibendung dan seketika itu juga gue bersimpuh di hadapan Yasmin.
“Maafin gue Yas, gue memang egois. Seharusnya gue dengerin nasehat lo”, kataku sambil menangis.
“Semua sudah terlanjur gak ada yang perlu disesali semua harus diperbaiki. Sini tanganmu berdarah, aku obati”. Kata Yasmin sambil meraih tanganku.
“Terimakasih lo emang manusia berhati malaikat”, Ujarku sambil menahan nyeri.
“Sofi, kita di pesantren ini untuk mencari ilmu bukan untuk bersenang-senang. Apapun peraturan yang ada di sini untuk kebaikanmu, jadi taatilah semua peraturan itu. Orangtuamu ingin kamu berubah menjadi lebih baik. Apa kamu gak ingin membuat mereka bahagia?”, Kata Yasmin menasehati.

Sejenak suasana hening, kata-kata Yasmin bagai peluru yang melesat di otak gue yang akhirnya mendarat mulus menembus relung hati gue yang paling dalam. Berbagai pikiran mulai muncul dalam otak gue, termasuk niat untuk berubah. Tapi apa gue bisa?

Setelah kejadian itu aku (ceritanya udah tobat jadi pakek aku – kamu) telah berubah menjadi Power Rangers. Eitsz….. Maksudku berubah menjadi lebih baik. Aku menjalani pentakziran dengan baik dan ikhlaas tentunya. Dan selama itu pula Yasmin selalu membimbingku dengan sabar.

Terimakasih Ya Allah karena engkau telah menurunkan hidayahmu padaku, serta telah memberikan secercah harapan pada hambamu ini untuk dapat menikmati surgamu. Dan berkah menjadi santri ini aku dapat kembali kejalan lurusmu.

END

Cerpen Karangan: Elvania Nur Safitri
Facebook: Elvania
Olahraga Pagi

Olahraga Pagi

Judul Cerpen Olahraga Pagi

Pengalaman olahraga di pagi buta yang mengasyikkan. Iya!! pagi buta, saking butanya aku tidak bisa melihat telingaku sendiri hahaha.
Niatnya sih simple, pulang-nyampe-tidur. Ternyata perjalanan dari nganjuk city harus berhenti di tengah jalan karena motor kesayangan kehabisan tenaga. Detik-detik kehausan motorku sebenarnya sudah terasa dari nganjuk (rumah teman), tapi aku abaikan karena motornya itu irit, pikirku pasti cukuplah, lagi pula jam 2 pagi siapa yang jual bensin?
Ya udah akhirnya kesampaian juga deh olah raga di pagi buta, tidak hanya berjalan kaki atau sekadar lari namun juga mendorong motor kesayangan.
“Okay… Ini dekat aku bisa!! Pasti nyape rumah!!”

Setelah sepuluh langkah berjalan
“Ini sih jauh bahkan anyer sampai panarukan lebih jauh lagi apalagi dorong motor. Fuhh!!”

Langkah demi langkah kulalui, keringat menetes dengan rajin. Satu dua orang melaluiku tanpa sapaan. Uang berapapun tak berguna saat itu, bahkan jika aku harus memilih antara sekarung berlian atau bensin satu liter aku tetap pilih bensin (dorong motor aja kepayahan apalagi ditambah sekarung berlian?).

Ada lampu mobil menyorot dari belakang, berjalan pelan dan berhenti di sampingku.
“Mas mau taya, jalan ke kediri kota mana ya?”
“Oh blablablablblabla, gitu pak”
“Oh iya mas, terimakasih!”
Mobil tersebut langsung melaju meninggalkanku sendiri di sini tanpa ada seorang pun yang menemani. Oke, no whot whot. Kulanjutkan perjalanan ini sendiri.

Mushola mulai mengumandangkan imsak. Terlihat jauh di sana ada rumah yang jual bensin dan orang laki-laki menyapu halaman rumah.
“Pak, beli bensin.”
“Haduh habis mas”
Mak tratap. Langsung syedih, lemas, lesu, gatal-gatal, pusing, hidung tersumbat dan susah buang air besar.

Perjalanan berlanjut. Terlihat ada orang yang senasib mendorong motornya dari arah yang berlawanan.
“Mas, bocor?”
“Tidak pak, bensin habis, jenengan (kalau Anda)?”
“Bocor mas”
Kami berdua spontan tertawa terbahak-bahak bersama, istirahat bersama, cerita-cerita pengalaman hidup, sambil main gitar dan ngopi bersama. (gladur)

Aku dan bapak itu melanjutkan jalan masing-masing. Selang beberapa saat terdengar adzan shubuh. Toko-toko mulai mempersiapkan dagangannya.
“Bu, beli bensin satu liter.”
“Bentar mas, tak cari dulu kuncinya.”
“Iya bu.”

Beberapa saat kemudian
“Mas maaf kuncinya ketelesot”
“oh iya gak papa bu, aku rela kok jika harus melanjutkan olah raga pagi ini.”

Semakin haus, lapar, letih, ingin menyerah namun semangat lagi ketika melihat toko baru buka.
Hati kecil berbisik, jika ini gagal juga aku akan…
“Berapa mas?”
“Satu liter”
Mengambil bensin
Lanjut berkata dalam hati “Untung aja ada hehehe…”

Akhirnya nyampe rumah langsung beraktivitas seperti biasanya.
Seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa. Atau mungkin semalem hanyalah mimpi?
No whot whot dah..

Sekian

Cerpen Karangan: Moh. Tito Ragil Dianang
Facebook: Moh Tito Ragil Dianang
Qurban Perasaan

Qurban Perasaan

Judul Cerpen Qurban Perasaan

Tepat hari ini adalah hari raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha. Aku sudah tidak dapat lagi menahan perasaanku yang selama ini aku pendam kepada seorang wanita. Dia adalah Shinta, menurutku Shinta adalah wanita paling cantik di kelasku, dia juga siswi paling pintar di kelas, terbukti dia selalu menjadi juara pertama. Dan aku adalah Andi, aku adalah seorang anak laki-laki bertubuh kecil, berkulit tidak terang, sedikit kurus dan tidak terlalu keren, tapi tetap manis kalau lagi senyum. Aku adalah pribadi yang humoris, sehingga siapa saja yang berteman denganku pasti sering tertawa melihat tingkah lakuku. Dan aku adalah siswa paling pintar kedua di kelas, terbukti aku selalu menjadi juara kedua setelah Shinta.

Aku dan Shinta memang sangat akrab, kami sering belajar bersama, bercanda bersama, dan SMS-an bersama juga. Kami sering jadi bahan ejek-ejekan dan dijodoh-jodohkan oleh teman-teman yang lain karena kedekatan kami ini. Karena kedekatan kami inilah membuat aku menjadi suka dengan Shinta, dan juga melihat respon Shinta yang selalu positif kepadaku. Mungkin dia juga menyukai ku. “Aaah… Entah aku yang ke GR-an atau apapun itu, yang jelas aku harus mengungkapkan perasaanku ini padanya.” Dalam hati aku berkata.
Jujur ini adalah kali pertama aku jatuh cinta kepada seorang wanita, entah bagaimana cara mengungkapkanya aku pun tak tahu, mungkin aku bisa meniru gaya-gaya di film sinetron romantis atau apalah itu.

Tepat hari ini adalah momen yang pas dan mudah diingat, dimana semua orang bergembira, yang galau jadi senang dan yang senang makin senang. Yaitu hari raya Qurban atau Idul Adha. Aku harus bicara dengan Shinta tentang perasaanku ini.
“Oke, hari ini aku harus mengungkapkan perasaan ini kepada Shinta.”

Aku pun mengirim sebuah pesan ke Shinta lewat SMS.
“Hay Shin, aku boleh ke rumah kamu gak sekalian mau silaturrahmi, mumpung lagi momen Idul Adha.”
Tak lama kemudian Shinta membalas SMS dariku.
“Oh iya Andi silahkan, kebetulan ada teman-teman yang lain yang juga datang ke rumahku.”
Padahal aku berharap hanya ada aku dan Shinta saat itu, tapi mau bagaimana lagi, ya sudahlah.
Aku pun segera berangkat menuju rumah Shinta yang tidak terlalu jauh dari rumahku.

Akhirnya aku tiba di rumahnya, aku pun mengetuk-ngetuk rumahnya sambil memanggil-manggil namanya.
“Tok.. Tok tok.. Shinta..!” Tak ada jawaban.
Aku kembali mengetuk pintunya.
“Tok tok to..”. Tiba-tiba pintu terbuka, muncul seorang bapak-bapak berkumis tebal dan berbadan gemuk, dan aku masih mengetuk, tapi yang aku ketuk adalah jidad si bapak itu.
“Ada apa ini dek, berisik di depan rumah orang”. Sambil matanya melotot kepadaku.
“Anu pak, saya maaamaauuu caarrii sshhiin shiin taa..” Sambil gemetar, tapi tidak sampai ngompol.
“Di sini gak ada yang namanya Shinta.” Braaakkk… Pintu ditutup dengan keras.
Huh sepertinya tak salah lagi, aku salah rumah, sialan. Sudah jatuh ketiban tangga. Sudah salah rumah eh juga kena marah-marah bapak berkumis, tapi untung saja… Aku pun memeriksa celanaku. Ya aman aku gak ngompol.

Tiba-tiba ada yang memanggilku di seberang rumah bapak tadi. Ternyata itu adalah Shinta.
“Andi, ke sini!”
Aku pun menghampirinya.
“Hay Shinta!” aku menyapanya.
“Hay juga, oh ya ngapain tadi kamu ke rumah pak Tono?”
“Haha iya, tadi aku silaturrahmi gitu sama beliau.” Sambil senyum-senyum terpaksa.
“Oh ya, wah kamu berani yah, padahal Pak Tono itu terkenal galak lo di daerah sini.”
“Ah masa, beliau baik kok.” Dalam hatiku, iya betul galak banget Shin. Untung saja Shinta gak tau yang sebenarnya, bisa-bisa aku beneran ngompol karena malu.
“Andi masuk dulu yuk!”
“Iya Shin. Oh ya Shin, teman-teman yang lain pada kemana ya, katanya juga mampir ke sini.”
“Mereka sudah pulang dari tadi, katanya sih mau ke rumah yang lain lagi.”
Dalam hatiku, yes yes yes, ini memang momen yang pas untuk aku mengungkapkan perasaanku selama ini kepada Shinta. Tapi yang jadi masalah sekarang bagaimana caranya, sebelumnya aku tak pernah nembak cewek, aku hanya pernah melihat cara nembak cewek di film-film sinetron saja, mungkin aku bisa menirukannya dalam kehidupanku sekarang. Tapi entah kenapa aku menjadi gugup, tiba-tiba tubuhku jadi gemetar lagi, wajahku memucat, aku jadi susah bicara, rambutku menghitam (sudah dari lahir), sepertinya aku salting karena baper yang berlebihan, tapi gak sampai ngompol. Dan akhirnya aku
“Shin, aku mau ijin ke toilet dulu, di sebelah mana ya?”
“Oh iya Andi, ada di sebalah sana.”
“Iya makasih.”
“Andi, jangan lupa disiram yah!” Sambil tertawa kepadaku.

Kurang lebih 15 menit aku di dalam toilet, di situ aku melakukan ritual untuk mencari inspirasi agar dapat merangkai kata-kata yang tepat untuk aku sampaikan pada Shinta. Dan akhirnya aku siap.

Aku pun kembali ke ruang tamu menghampiri Shinta.
“Shin aku mau bicara serius sama kamu.”
“Bicara apa Andi? Eiitsss, lama banget sih tadi di toilet, ngapain aja, disiram gak tadi, haha.”
“Iya, tadi aku pingsan kaya gitu dulu, haha yaiyalah aku siram, kalau gak nanti ada yang ngapung gitu.” aku tersenyum kepadanya.
Aku pun kembali blank, bingung mau bicara apa karena keasikkan bercanda dengan Shinta. Aku jadi diema antara mengungkapkan perasaan ini atau tidak.
Dan kurasa sepertinya ini bukan momen yang tepat untuk aku bicara.

Hingga hari sudah sore, aku pun berpamitan untuk pulang.
“Shin sudah sore nih, aku mau pulang dulu ya, terima kasih atas waktunya.”
“Iya Andi sama-sama, kamu hati-hati ya di jalan!”
Aku pun membalikkan tubuhku dan melangkah ke luar rumah Shinta. Tiba-tiba dia memanggilku.
“Andi, aku lupa, aku jadi penasaran kamu tadi mau bicara serius apa ya?”
Aku terdiam saat dia bertanya seperti itu. Aduh aku harus bagaimana, apakah aku katakan sekarang atau bagaimana?. Aku pun membalikkan tubuhku ke arahnya dan secara refleks tanganku memegang kedua belah tangannya dan mulutku juga secara reflek dan spontan berkata.
“SHIN, SEJUJURNYA AKU SUDAH LAMA MENYUKAIMU, AKU MENYAYANGIMU, AKU TAK BISA BICARA BANYAK LAGI, APA KAMU MAU JADI PACARKU?.” Persis seperti dialog di film sinetron romantis yang aku tonton apa yang aku katakan itu.
“Hah, apa kamu serius Andi?.”
Tiba-tiba Shinta dipanggil oleh ibunya untuk segera masuk. Dia pun melepas tanganya dariku dan masuk ke rumahnya.

Oke, sekarang aku telah digantung olehnya. Aku belum diberi jawaban atas perasaanku itu. Namun aku sedikit merasa tenang karena aku sudah berani mengungkapkan perasaanku selama ini kepada Shinta. Aku hanya bisa berdo’a, berharap dia menerima cintaku, dan aku harap di momen Hari Raya Qurban ini, aku justru tidak berQurban perasaan.

Aku pun pulang ke rumahku untuk menenangkan diri sambil menunggu kepastian jawaban dari Shinta yang tak kunjung datang.
Hingga tiba malam hari, dan aku pun masih belum bisa tidur, dan aku lihat ke arah jam dinding, ternyata masih jam 8 malam.

Aku bolak-balik di dalam kamar sempitku, aku naik-turun ke atas ranjangku hingga akhirnya handphoneku berbunyi menandakan adanya SMS masuk. Aku segara mengambil handphoneku dan membuka SMS itu. Pikirku pasti dari Shinta. Dan ternyata
“Selamat Anda mendapatkan sebuah mobil Av*anz* dari Ind*s*t, nomor Anda baru diundi tadi sore…”
Belum selesai aku membaca SMS tipu daya itu, langsung aku delete karena saking keselnya.

Tak lama kemudian ada SMS lagi yang masuk. Aku tak menghiraukannya, paling SMS tak karuan lagi, pikirku.
Semakin lama, handphoneku terus berbunyi, sepertinya banyak SMS yang masuk. Karena penasaran aku pun membukanya.
Ternyata dari Shinta.
“Andi, ya aku mau jadi pacar kamu, aku juga menyukai kamu Andi.” Salah satu SMS yang masuk dari Shinta.
Aku pun histeris sendirian di dalam kamar, aku jingkrak-jingkrak di atas ranjang saking senangnya.
“Andi kamu ngapain?” tanya ibuku dari luar kamar.
“Nggak ada ngapa-ngapain bu.”
Aku masih belum percaya, apakah ini mimpi? Aku jadian dengan cewek tercantik dan terpintar di kelasku. Tapi ini nyata.
“Apakah kamu benar-benar menerimaku?”
“Iya Andi, aku benar benar menerimamu.”
Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku punya pacar. Dan Shinta adalah cinta pertamaku. Dan do’aku terkabul, hari ini aku tak harus berQurban perasaan seperti yang aku takuti.

Kini hari-hariku diisi dengan kebersamaan bersama orang yang kusayang. Layaknya orang pacaran, kami pun punya panggilan sayang sendiri, yaitu: Si laly (panggilanku kepada Shinta karena dia sering lupa hal-hal kecil) dan Si Kodok (panggilan Shinta kepadaku, entah alasannya apa dia memanggilku seperti itu, mungkin karena suaraku seperti kodok, atau wajahku yang seperti kodok, ah aku tak peduli itu).

Malam Minggu pertama kami aman, tak ada kendala apapun, kami dinner di sebuah restoran di dekat rumah Shinta. Suasana romantis pun tercipta, lilin-lilin kecil menyala menghiasi meja makan kami, dan bunga mawar putih menjadi saksi kisah cinta kami malam itu.
Dan saat selesai makan malam, saat pelayan memberikan nota pembayaran, Shinta bilang aku saja yang bayar.
“Eiitssss… aku aja.” Kataku.
Saat aku meraba sakuku, belakang samping kanan kiri, kenapa gak ada. Aduh, aku baru ingat dompetku ketinggalan di ranselku dan ranselku ada di kamar. Mampus aku.
“Kenapa ya Andi?” tanya Shinta.
“Anu, anu Shin, dompetku ketinggalan.” Dengan malunya aku bicara.
“Ya udah aku aja yang bayar, ini mas.” Sambil memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan.
Kulihat si pelayan itu tersenyum-senyum seperti mentertawakan aku. Sialan.
Sungguh malam ini adalah malam yang sangat romantis bagiku sekaligus yang paling memalukan, karena yang bayar makanannya Shinta, aku gengsi.

Hari demi hari kami lewati bersama. Kami termasuk pasangan yang jarang bertengkar, dan makin hari aku makin menyayangi Shinta. Seperti biasa, setiap malam minggu kami jalan berdua, dan yang pasti aku akan selalu ingat bawa dompet, itu yang penting.
Hingga tepat di minggu keempat di dua puluh hari kami jadian, Shinta mengajak aku untuk bertemu.
Dan kami pun bertemu, seperti biasanya kami saling ngobrol membahas berbagai macam topik, dan saling bercanda. Hingga ditengah-tengah perbincangan kami, Shinta mulai menunjukkan wajah seriusnya dan berkata

“Andi, aku mau bicara sesuatu kepada kamu.”
“Iya bicara apa ya, Si laly ku.” Sambil tersenyum kepadanya.”
“Aku jujur, sebenarnya aku masih belum bisa melupakan mantanku.”
“Hah, mantan yang mana, kamu gak pernah cerita kepadaku sebelumnya.”
“Dia adalah Amir, aku masih belum bisa move on darinya. Dari pada terlalu lama, aku ingin kita temenan saja ya Andi.”
“Aa eee oo ppaa.. Shin tapi aku masih sayang kepada kamu.” Aku berbicara terbata-bata.
“Iya sebelum kamu terlalu dalam mencintaiku, aku harus akhiri sekarang.”
Aku hanya terdiam menatap ke arahnya dengan tatapan tak percaya. Aku ingin rasanya menangis tapi aku tak bisa. Aku ingin rasanya berteriak TIDAK sekencang-kencangnya tapi tak bisa. Aku ingin rasanya marah kepadanya, dan lagi aku tak bisa aku hanya bisa terdiam.

“Andi sudah malam, kita pulang yu!”
“Ayo.” Aku antar dia pulang, tanpa ada sedikit kata-katapun yang keluar dari mulutku hingga sampai ke rumahnya.
“Makasih ya Andi atas waktunya, selamat malam kamu hati-hati di jalan ya!”
Aku segera pergi dari rumahnya. Dan saat sudah sampai di rumahku aku segera mengurung diriku di kamar. Aku masih belum percaya hubungan kami harus berakhir di dua puluh hari kebersamaan kami, di malam minggu yang indah ini. Mantan, sebelumnya dia tak pernah cerita tentang mantannya padaku, apakah ini semua hanya caranya untuk mendapatkan alasan meninggalkanku, atau selama ini aku hanya menjadi pelampiasannya saja, entahlah. Dan aku harus rela berQurban perasaan.

Semua sekarang menjadi berubah 180 derajat, aku yang dulu punya pribadi yang humoris dan ceria, sekarang sering menyendiri sering melamun sendirian. Hingga banyak teman-teman yang lain yang mengatakan aku sudah gila. Dan kedekatanku dengan Shinta pun sudah tak kelihatan lagi, kami yang biasanya terlihat selalu bersama sekarang justru saling menjauh, dan saat ada Shinta pun aku coba menghindar darinya. Semuanya terus berlangsung seperti ini hingga aku lulus dari sekolahku dan Shinta pun juga. Kami melanjutkan pendidikan kami ke perguruan yang berbeda.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan wanita lain, namanya Maya. Sejak aku mengenal Maya, aku mulai perlahan-lahan bisa melupakan Shinta. Keceriaan yang pernah hilang kini kembali lagi. Dan aku sadar suatu hal, tak perlu harus berQurban perasaan hanya karena satu wanita, karena wanita tak hanya cuma satu, masih ada banyak di luar sana.

Cerpen Karangan: Normadani
Facebook: Dhanisna
LDR (Longlast Relationship)

LDR (Longlast Relationship)

Judul Cerpen LDR (Longlast Relationship)

Haloo selamat pagiii bro sis dimana aja kalian bernapas moga-moga pas kalian baca sekarang lagi pagi, kalo siang kan jadinya selamat siang *absurd gurihh kresss… Okayy kenalin nama gue Efan bisa juga dipanggil Fattah, tapi jangan Abdul ntar dikira orang arab hehe… tapi kalo dipikir-pikir Fattah juga nama orang arab yak *krik krik krik…

Well, udah dulu mikirin lawakan gue yang gurih. Sekarang gue mau ngomongin ekhem-ekhemnya gue. Gue nggak nyebut PACAR, soalnya takut kalo sampe ortunya tau huehue… bidadari yang udah berhasil ngambil hati gue namanya Nadia FP *bukan Fan Page*, dia punya sepasang mata yang sederhana tapi mempesona, bibirnya waaa kaya kaya buah delima yang merekah, kalo lagi senyum hati–hati aja, kalo nggak mimisan lu bakalan pingsan, dia juga punya hati yang wow banget dah, sampe-sampe hati gue kembang kempis kalo deket dia.

Awal mula bertumbuh kembangnya hubungan antara gue dan sang bidadari itu waktu di zaman putih-biru, dia dulunya adek kelas gue seinget gue sih kenalnya itu waktu ada acara pramuka, emang si pas itu kita nggak ngobrol-ngobrol; tau dia aja dari pembina pramuka, tapi lama-lama gue sama Nadia jadi tambah deket, mulai dari tukeran nomor kartu sim hape eh bukan, awalnya dia nge-add akun facebook gue dan mulailah kita chattingan, terus tukeran nomor kartu sim hape; mulai dari itu kita jadi tambah deket bagai bebek sama pawangnya.

Tapi waktu kebersamaan kita dihalangi jahatnya jarak dan waktu, soalnya abis gue lulus dari smp gue langsung merantau dan melanjutkan sekolah ke luar negeri, tepatnya di SMK swasta di Kota Puerto Rico nama populernya Purwokerto. Imbasnya sekarang gue sama Nadia LDRan, kalo gak salah sih itu istilah gaholnya pacaran sama hape; bener enggak sih? kan LDRan ngebikin kita jadi tambah intim sama hape, ya nggak? udah aja deh bahas pacaran sama hapenya sekarang kita bahas yang lain aja, hmmm apa ya? Oh ya gue mau bagi-bagi tips buat kalian yang juga LDR addict, hal yang paling penting buat ngejaga hubungan kita sama pacar kita itu komunikasi, kalo sampe komunikasi kalian mulai ngaco kaya orang lagi makan soto sambil salto *gubrak* siap-siap aja buat ganti kartu sim hape, mungkin gak ada BTS jadinya low signal; makanya kalo hubungan kalian pengen jadi spesial bin istimewa, kalian harus ngelakuin perjuangan tanpa henti di dalemya bro sis… camkan itu. Berkat komunikasi hubungan kita masih bisa lanjut sampe sekarang, kurang lebih udah 765 hari kita abisin bareng-bareng (lewat hape), enggak gue pungkiri udah banyak konflik terjadi tapi alhamdulillah ya bisa kita selesein.

Kita baru aja ketemuan loh pas liburan Bulan Ramadhan kemaren, sebenernya gue sempet kasian pas lihat dia soalnya Nadia kaya orang sakit; keliatannya lemes banget pas gue tanyain kenapa dia jawabnya “Nadia enggak sakit mas, emang Nadia dari sananya begini”, duhh super banget kan jawabannya. Abis itu gue langsung tancap gas langsung pergi ke bioskop, Nadia ngajakin gue nonton film Mini Ons, pas lagi nonton gue seneng banget bisa lihat senyumnya lagi, bisa lihat dia ketawa lagi, seneng banget lah pokoknya.

Tok tok tok tok tok tok tok dung dung dung dung dung dung dung Allahuakbar allahuakbar, alunan yang udah ditunggu-tunggu akhirnya berkumandang..

“Nad mau buka puasa di mana nih?” gue nanya.
“Terserah mas Efan aja ya” ituu hasil riset dari ahli bidang antariksa dan geofisika tentang jawaban yang paling sering cewek keluarin. Mungkin..

Lambat laun setelah ribuan nanodetik, kita menepi terus buka puasa di pinggiran jalan cuma pake 2 botol minuman bulir jeruk, iya emang cuma bukber yang sederhana, tapi dari kesederhanaan itulah muncul rasa yang luar biasa, soalnya kaya yang bang rhoma bilang “sekian lama aku menunggu untuk kedatanganmuu… syalalalalaaa…” iya gue tiap hari nunggu waktu kek gini, dimana kita bisa ngobrol bareng, bercanda bareng, etc. Pokoknya waktu itu seneng banget dah, hehee.. Love you Naaadd… Keep Romantic yeaa Naaad… gue mau LDRnya kita bakalan berubah jadi longlast relationship.

Cerpen Karangan: Muhammad Efan Abdulfattah
Blog: efan-alfattah.blogspot.co.id
Da Aku Mah Apa Atuh

Da Aku Mah Apa Atuh

Judul Cerpen Da Aku Mah Apa Atuh

Namaku Aprilia Putri Handayani. Aku biasa dipanggil April. Inilah yang membuat aku bingung mengapa orangtuaku memberikan aku nama April? Sedangkan aku sendiri lahir di bulan Oktober? Ah sudahlah, da aku mah apa atuh?. Aku tinggal bersama orangtua dan juga adikku. Adikku bernama Febrianti Putri Handayani. Ya, adikku lahir tepat di bulan Februari dan inilah yang membuatku selalu iri kepadanya. Mengapa aku harus diberi nama yang tak sesuai dengan bulan lahirku? Tapi, da aku mah apa atuh?. Aku sekolah di sebuah SMK di kota Jakarta. Dan ini juga selalu membuatku bingung dengan orangtuaku. Mengapa aku selalu dipaksa masuk jurusan Tataboga? Jika keahlianku ada di bidang Otomotif? Ya, aku memang anak yang tomboy dan sering berbuat onar. Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa orangtuaku bersikeras menyekolahkan aku di jurusan Tataboga walaupun.. Da aku mah apa atuh? Nyalain kompor gas aja gemeteran, masak air aja kebablasan. Dan yang lebih membuat kepalaku berputar adalah ketika ibu bilang bahwa alasannya menyekolahkan aku di jurusan ini agar aku bisa menjadi seorang istri yang pintar menyajikan makanan untuk suamiku nanti. Apa? Suami? Umurku saja masih 15 tahun! Apa aku harus menikah sekarang? Dengan bodohnya aku bertanya kepada ibuku. Tapi.. Da aku mah apa atuh. Jangankan nanya, diem aja salah. Memang hidupku selalu salah. Huft..

“April, boleh gue duduk disini?” ucap kak Galih kakak kelasku.
“boleh a” jawabku. Kak Galih adalah kakak kelasku yang baik dan tampan. Jika ditela’ah lebih jelas, wajahnya ini mirip seperti personil CJR. iya, dia memang mirip Iqbaal CJR. kak Galih terus sibuk membaca bukunya. Entah mengapa aku terus memperhatikan ketampanannya sambil tersenyum
“pril, lo suka baca juga?” tanya dia.
“enggak a. Aku mah sukanya tidur” jawabku polos. Galih hanya tertawa kecil menanggapi jawabanku tadi. Entah karena deg-degan atau apa, tiba-tiba perutku terasa mulas. Aku segera berlari menuju kamar mandi sekolah.

“bruk!!” aku tak sengaja menabrak seorang lelaki yang sedang membawa buku sampai bukunya berceceran di lantai.
Ternyata itu adalah Arman Maulana. Bukan, bukan Arman vokalis band yang tampan itu. Arman yang ini tidak sama sekali mirip sang vokalis yang lagunya sudah melanglang buana ke seluruh Indonesia itu. Arman yang ini lebih mirip tukang lotre di sekolah SD ku dulu. “apa jangan-jangan ini anaknya tukang lotre itu ya?” gumamku dalam hati. Entah menyerah atau bagaimana, Arman melambai-lambaikan tangan padaku. “pril? Lo kenapa?” aku tersadar dari lamunanku tentang anak tukang lotre itu. Akhirnya aku membantunya membereskan buku dan mengucap maaf padanya.

Sore itu aku sangat bosan di rumah. Kuputar-putar channel tv namun tak ada juga acara yang menarik sore itu. Sampai kuputuskan saja untuk ke luar rumah sekedar untuk melihat pemandangan di luar walau hanya sebatas jemuran yang berjejer seperti baju di toko itu. “kring.. kring.” hp ku berbunyi sangat kencang. Aku mengambil hp ku di saku celanaku
“halo? Asalamualaikum” ucapku sopan.
“walaikumsalam pril. Ini gue, Galih”
“oh a Galih. Iya a ada apa?” ucapku gugup.
“anter gue yuk, cari buku buat tugas besok” katanya.
“oh iya a. Ayo” jawabku
“ya udah, gue jemput di rumah lo ya.” rasanya sangat bahagia mendengar ucapan Galih. Seperti mendapatkan hadiah pulsa dari operator seluler hatiku sangat senang kala itu.

10 menit kemudian Galih pun sampai. Aku pun pergi dibonceng motornya menuju toko buku yang Galih tuju.
“lo laper gak?” tanya Galih.
Aku hanya menganggukan kepalaku karena memang saat itu cacing-cacing di perutku sedang latihan paduan suara di dalam. Akhirnya Galih membawaku ke sebuah restoran. “ini apa a?” tanyaku ketika aku lihat makanan yang menurutku mirip dendeng sapi itu.
“ini namanya steak. Cobain deh” aku hanya terdiam sambil terus memperhatikan dendeng sapi yang tidak sedang melakukan apa-apa itu.
“a. Ini teh langsung dimakan?” tanyaku bingung.
“enggak. Sini gue potongin dulu” Galih memotong dendeng sapi itu menjadi beberapa bagian dengan sebuah pisau di sebelahnya.
Inilah yang membuatku semakin bingung mengapa orangtuaku tetap nekat menyekolahkan aku di jurusan ini sedangkan aku mah apa atuh? Liat pisau aja gemeteran apalagi harus ngiris masakan? Tapi ah sudahlah memikirkan kehidupan memang tidak pernah ada akhirnya.

“nih udah. Ayo makan” Galih menyimpan pisau itu dan menyuruhku makan adiknya dendeng sapi yang sudah dipotong kecil itu. Akhirnya aku memakan daging sapi itu. Menurutku, ini rasanya tidak seperti dendeng. Tapi lebih mirip daging qurban. Tapi.. Ah sudahlah da aku mah apa atuh? Setelah selesai memakan steake dendeng sapi itu akhirnya Galih mengantarku pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar. Dalam hati aku bergumam “kok ada ya restoran yang nyedia’in dendeng rasa daging qurban? Ah udahlah aku pusing”

hari demi hari aku dan Galih semakin dekat. Sepertinya aku mulai menyukai pria tinggi itu. Sikapnya yang perhatian dan baik justru membuatku semakin merasa ragu kepadanya. Aku semakin merasakan gejolak Albert Sebastian (Aku lelah bertahan tuk sebatas teman tanpa kepastian) ya semacam temen rasa pacar atau sejenisnya. Hari demi hari Galih terus dekat denganku sampai suatu haru aku melihat dia sedang berdua bersama seorang wanita berkulit putih dan bergigi pagar sedang duduk di taman. Aku mengendap ngendap dan bersemvunyi layaknyya detektif atau kurasa aku lebih mirip tim katakan putus. Aku memperhatikan gelagat mereka dengan seksama

“Hani, apa lo mau jadi pacar gue?” Galih menggenggam tangan wanita itu.
“lo serius gal?” Tanya wanita itu padanya
“Iya gue serius. Gue udah lama suka sama lo. Jadi apa lo mau jadi pacar gue?” Uxapnya lagi
“Tapi bukannya lo lagi deket sama si April?”
“Dia cuma temen dan gak lebih dari itu. Lagian gue gak pernah suka sama dia” tanpa kutonton kelanjutan drama yang menurutku jauh lebih sedih dari drama turki yang selalu ibuku tonton setiap sore itu, aku lebih memilih untuk berlari dari mereka. Sampai “bruk!” aku terpeleset hingga jatuh karena terlalu cepat berlari
“April?” Sepertinya Galih dan wanita bergigi pagar itu menyadari keberadaanku disini. “Sial! Siapa sih yang buang kulit pisang sembarangan!” Ucapku kesal. Aku segera bangkit dan berjalan menuju kelas. Aku menangis di dalam kelas itu teringat perlakuan manis Galih yang selalu menjanjikanku bahwa suatu hari nanti dia akan mengutarakan cintanya kepadaku. Setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi berpapasan dengan Galih. Sampai hari itu setelah pelajaran olahraga aku melihat Galih di depan ruangan OSIS. Galih menghampiriku yang terus mencoba menghindarinya
“April dengerin gue dulu” Galih mencoba menahanku dengan cara memegangi tanganku. “udahlah a. Lepasin aku. Aku tahu tujuan aa selama ini ke aku jadi udahlah” ucapku seraya melepaskan tangan Galih. “Ini mirip drama turki episode ke 19 minggu lalu” ucapku dalam hati. Aku segera berlari ke taman sekolah untuk menghindari Galih. Kuluapkan segala rasa sakit dan kecewaku lewat air mataku ini. Kini aku tahu bahwa Galih benar tidak mencintaiku

“April, boleh gue duduk disini?” Kalimat itu? Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan kulihat Arman duduk tepat di sampingku. Tapi kenapa dia bisa tahu kalimat yang pernah Galih ucapkan kepadaku itu? Apa jangan-jangan dia mengikutiku saat itu? Atau mungkin dia membaca cerita ini dari awal? Ah entahlah, yang jelas kini yang ada di sebelahku adalah Arman, bukanlah Galih yang selama ini aku cintai
“Pril, gue suka sama lo” ucap Arman dengan nada serius. Aku menatap Arman dan bertanya “kamu serius?”
“Iya. Gue suka sama lo dari awal kita ketemu waktu masa orientasi. tapi selama ini gue gak berani nyatain karena gue sadar, kalo gue mah apa atuh?” Aku terus menatap Arman yang kini menjadi seorang plagiat. “April, apa lo mau jadi pacar gue?” Arman memegangi tanganku. Aku hanya mengangguk tanpa ragu. akhirnya Arman memelukku dan menjatuhkan coklat yang sudah dia siapkan untukku.

sekarang aku tahu bahwa mencintai itu tidaklah lebih baik daripada dicintai. Dan aku akan memilih orang yang mencintaiku ketimbang harus mempertahankan orang yang aku cintai tapi belum tentu dia pun bisa mencintaiku. Dan aku akan menghargai setiap usaha Arman walau kini aku tahu bahwa dia bukanlah anak dari tukang lotre yang keberadaannya masih mieterius itu. Kadang aku berpikir mengapa cerita ini aku beri judul Da Aku Mah Apa Atuh? Mengapa tidak aku beri judul Misteri Hilangnya Tukang Lotre atau Dendeng Sapi Rasa Danging Qurban atau mungkin bisa saja kuberi judul Anak Tiri Yang Terbuang tapi ya sudahlah, kurasa yang terakhir itu tidak masuk akal. Tapi sekali lagi, da aku mah apa atuh? dan seperti apapun aku, aku akan tetap mensyukiri hidupku.

Cerpen Karangan: Andrea Silvana Vilim
Facebook: Andrea Silvana
Parfum Nyegrak

Parfum Nyegrak

Judul Cerpen Parfum Nyegrak

Hari-hari setelah Masa Orientasi siswa SMP dijalani seperti biasa, dan ternyata gue baru sadar kalau ternyata di kelas gue itu ada cewek yang menurut gue cantik, namanya putri, sayangnya dia bukan level gue, maksudnya gue yang bukan level dia. Putri ini memiliki tubuh yang ideal, walaupun gue gak tau gimana tubuh ideal seorang cewek, pokoknya ideal lah, matanya tidak terlalu besar dan tidak terlalu sipit, keningnya memang agak sedikit lebar, memang tidak selebar lapang bola, paling selebar lapang futsal, walaupun begitu, itu tidak menutupi kecantikannya.

Sebenernya, gue itu pemalu yah, gue suka sama Putri tapi gue gak berani nyapa dia, gue cuma lirik-lirik sedikit, suatu saat gue lirik dia sebentar, ternyata dia juga secara tidak sengaja ngelirik gue, setelah berpandangan selama beberapa detik, gue ketika itu bener-bener salah tingkah, belum lagi setelah dia tersenyum dan langsung memalingkan mukanya, wih itu bener-bener adem banget.

Gue lihat Putri emang sangat populer di kalangan cowok, dan gue pertama kalinya ngerasain yang namanya cemburu, padahal dia bukan siapa-siapa gue, dan itu untuk pertama kalinya gue galau, gue banyak banget ngelamun, pelajaran gue juga bener-bener gak fokus, dan gue ngerasa sepertinya gue harus ngelupain putri.

Sampe 1 bulan gue masih belum berani nyapa Putri, dan gue bener-bener udah nyerah buat deketin Putri, tapi hoki ngehampiri gue, ketika itu Putri justru malah nyapa gue duluan
“Ibnu ya?, masih inget gue gak?”
“Iya, maksudnya masih inget gue apa ya?”
“Lo lupa ya, kita kan pernah barengan”
“Maksudnya?”
“Heh kita kan pernah satu sekolah di madrasah”
Jujur ngedenger itu gue kaget, akhirnya gue inget-inget, wih akhirnya gue inget, tapi perasaan Putri waktu kecil gak cantik-cantik amat, tapi waktu udah SMP wih gila men.

Ketika SMP, gue itu masih rajin-rajinnya, tugas-tugas gue kerjain, gue kerjain semua LKS tanpa ada satupun yang nyontek, memang ketika kecil itu masih sangat nurut sama guru, ketika diperintah oleh guru untuk membuat pekerjaan rumah, kita semua pasti bisa tidak bisa kita akan mengerjakannya, namun keadaan berubah ketika Negara api menyerang, oh maaf maksud gue ketika gue udah mulai kelas dua SMP semester 2.

Hari demi hari gue udah mulai ngelupain Putri, karena Putri udah deket sama cowok lain dan jauh lebih ganteng dari gue, jauh banget kaya jarak anatara Indonesia sama Amerika, dan gue mulai mikir dia itu cantik, sedangkan gue apa?, gue pendek, bahkan lebih pendek dari putri, muka segitu-gitunya, pokoknya kacau, mana maulah dia sama gue, kalaupun Putri mau paling gue santet.

Perlahan tapi pasti gue udah mulai ngelupain Putri, karena dapetinnya itu bener-bener susah, udah kayak Indonesia mau masuk Piala Dunia, susah banget, pada saat istirahat gue ngerjain LKS PAI, kebetulan waktu gue masih rajin, padahal belum disuruh sama guru PAI nya, tapi gue udah ngerjain sampe Bab 3, tiba-tiba putri datang dan duduk di samping gue

“Nu, lagi ngerjain apa?” Tanya dia dengan suara yang memang agak cempreng
“LKS PAI” ujar gue singkat dan sok cool sambil terus ngerjain
“Boleh pinjem?”
“buat apa?”
“Ya buat disalin, copas lah” dan gue cuma bisa ngejawab oh sesudah itu gue diem,
“Kok cuma oh, boleh enggak?” dengan suaranya yang agak sedikit dimanjakan
“iya sebentar, ni essainya tinggal satu, nanti gue kasih, tenang aja” setelah selesai gue kasih LKS gue sama Putri, dia langsung pergi ninggalin bangku gue, dan yang harus para pembaca tau, gue dari tadi tahan nafas, gue gak kuat sama parfumnya, gila parfumnya nyengat banget.

Gue inget banget, hari itu hari rabu, gue dikasih permen sama Putri, ya walaupun cuma sekedar permen tapi itu bener-bener berarti bagi gue, karena cuman gue yang dikasih, saking berartinya gue bahkan gak makan tuh permen, gue gak bosen-bosennya mandangin permen itu, dan gue terus-terusan kebayang wajah cantik Putri, dalam hati gue tau itu merupakan zina pikiran, tapi pikiran kayak gini ini betul-betul susah banget dilupain, gue yang tadinya udah mau mundur buat dapetin Putri, langkah mundur gue langsung terhenti karena Putri ngasih gue permen, yah walaupun terhenti, bukan berarti gue maju

Masa-masa SMP itu emang masa dimana kita itu sedang dalam masa, dimana kita itu sedang benar-benar mencari perhatian lawan jenis, dengan memakai segala perhiasan, dan berbagai wewangian, dan itu pun terjadi sama gue, walaupun gue gak terlalu berlebihan. Tapi ada juga yang sangat berlebihan untuk memikat lawan jenisnya.

Pak Surya membagikan selembar kertas ulangan, gue lalu lirik Putri, yang kebetulan di meja sebelah gue, dia terlihat sedang mengecek pulpennya, rupanya pulpen Putri habis tintanya, dan untuk pertama kalinya gue yang nyapa Putri
“Put kenapa?”
“Eh Ibnu, ini, pulpennya habis semua”
“Oh” Udah aja gue balik nulis
“Dingin banget sih, kirain mau minjemin pulpen nanya tuh”
“Ngomong dong kalau mau minjem pulpen, nungguin ditanya aja”
“Iya-iya gue pinjem pulpen”
Gue terus minjemin pulpen gue sama Putri

Ketika pulang sekolah, Putri ngembaliin pulpennya sama gue, ketika gue cium pulpennya, beh itu pupen gue udah kaya dicelupin sama parfum, bahkan ketika sampai di rumah, bau parfum dari pulpen gue masih belum hilang, sebenernya gue gak suka sama parfum, berhubung ini parfum putri, jadi gue ketagihan nyium tuh pulpen, gue gak tau parfum apa yang dipake sama Putri, 2 hari itu bau parfum masih nempel di pulpen gue.

Ketika malam hari, gue tiba-tiba sadar, bahwa gue udah terlalu suka sama Putri, dan ketika rasa suka sudah mulai menjalar, maka akan timbul rasa cinta, dan itu yang gue takutin, ketika misalnya gue pacaran sama Putri, gue takut rasa cinta gue sama orangtua gue, akan luntur, gue bener-bener jauh banget pikirannya, padahal Putri juga belum tentu mau ama gue, tapi gue udah mikir jauh banget

Gue bener-bener mencoba untuk ngelupain Putri, gue harus inget, gue masih kelas 7 SMP, perjalan kedepan masih sangat jauh, dan misalnya gue putus sama Putri, itu kan akan menimbulkan kegalauan yang maha dasyat, dan gue gak mau baru kelas 7 SMP gue udah galau, gue mau gak terlalu banyak fikiran, kemarin gue ngayal jadian sama Putri, eh hari ini, gue udah ngayal putus sama Putri. Andai hidup itu seperti Facebook, kita pasti bisa dengan mudah menarik rasa suka kita terhadap seseorang

Hari demi hari rasa suka gue sama Putri perlahan luntur, bukan karena udah ada gantinya, tapi karena ada sesuatu hal yang gue gak suka, parfum, gue pernah denger dari ustadz bahwa wanita yang memakai parfum secara berlebihan itu derajatnya sama dengan pel*cur, awalnya gue suka sama parfum Putri, namun itu karena gue udah buta sama yang namanya rasa suka.

Sebulan kemudian, orang-orang banyak menggosipi tentang Putri yang sudah mempunyai seorang pacar, yah gue gak heran, cewek sepopuler Putri pasti banyak yang naksir, tapi gue gak peduli, lagian gue siapanya dia hah mesti peduli, kalau peduli tuh sama fakir miskin dan orang yang tidak mampu, bukan sama Putri, jujur kalau masalah cantik, iya gue jujur dia itu cantik, dan kalau masalah akhlak, jujur, dia gak bejat-bejat amat dan gak bagus-bagus amat, normal lah, dan ada satu hal yang gue gak suka sama Putri, parfum, itu parfum udah kayak gelasan buat ngadu layangan aja, meteran baunya.

Cerpen Karangan: Ibnu Fadlillah
Blog: tidakadajudul12.blogspot.co.id
Botol Kayu

Botol Kayu

Judul Cerpen Botol Kayu

Di suatu kota hiduplah 4 gadis yang bersahabat sejak kecil. Keempat gadis tersebut bernama Siti, Ina, Imeh, Miya. Mereka mereka selalu dihindari oleh temen-temannya karena kecantikan mereka yang diibaratkan bagaikan bunga bangkai. Misalnya Siti dengan kulit hitamnya yang menawan. Ina dengan hidungnya yang menggemaskan seperti 2 tumpukan kue apem. Imeh dengan tubuhnya seperti beruang. Dan Miya yang wajahnya dipenuhi oleh bunga-bunga yang cantik di wajahnya.

Ketika dulu mereka berempat adalah gadis biasa saja tetapi semenjak Pubertas mereka berubah bentuk menjadi yang seperti sekarang ini. Mereka pun berkeinginan untuk merubah kecantikan mereka yang bagaikan bunga bangkai menjadi bunga melati.

Suatu hari ketika istirahat, Imeh mendapatkan informasi dari Internet mengenai botol kayu yang bisa mengabulkan keinginan mereka. Artefak tersebut berada di museum dekat dengan sekolah mereka. Tentu saja imeh memberitahu kepada sahabat-sahabatnya ini.

“kawan-kawan ada kabar gembira!!!” ucap Imeh dengan antusiasnya.
“kabar gembira apa?” tanya sahabatnya yang lain.
“Kalian tahu kan di museum di depan, disana ada Botol kayu yang katanya jika meminum dari gelas itu kecantikannya akan bagaikan bunga melati” ucap Imeh.
“Apa? kita harus meminum dari botol itu!!” Tegas Siti.
“Caranya?” tanya ina.
“Hah, kamu sudah kelas 12 SMA masih tidak tahu cara meminum?” tanya Siti sambil menahan rasa jengkelnya.
“Bukan Itu maksudku tapi kita tidak boleh meminum dari Botol itu.” ucap Ina.
“kenapa?” tanya Siti.
“Mana kutahu kau pikir aku apa, dukun?” jawab ina
“Baiklah kalau begitu kita harus memikirkan cara untuk bisa meminum dari botol itu.” kata Siti.
“Aku tahu, bagaimana jika kita menerobos masuk saat malam dan meminum air dari botol itu.” kata Miya.
“Ide yang bagus miya, dengan begitu tidak ada yang tahu kalau kita meminum dari Botol itu” kata Imeh dengan senangnya.

Setelah itu mereka merencanakan cara untuk masuk ke museum dan menjalankan rencana mereka. Ketika sampai dan menerobos masuk ke dalam, museum itu sangat gelap. Mereka sengaja tidak memakai alat penerangan agar tidak mudah ketahuan. ketika di dalam mereka mendengar sesuatu.

“kau dengar itu?” tanya Miya.
“Apa?” ucap Ina.

Terdengar suara langkah kaki berasal dari belakang. Ketika mereka melihat ke belakang mereka melihat sosok manusia membawa lentera dengan kaki-kakinya yang tak sama panjang dan wajahnya yang menyeramkan. Dengan spontan mereka berteriak dan lari menjauh. Setelah menjauh mereka pun sampai di suatu ruangan.

“Hampir saja, aku tak tahu kalau di sini ada hantunya” kata Miya.
“Iya, ini lagi imeh larinya lambat banget makanya lemak jangan dipelihara” kata Siti.
“Iya-iya nanti aku pelihara kambing deh” jawab Imeh.
“Miya kamu kenapa?” tanya Ina kepada Miya.
“Itu” kata Miya sambil tangannya menunjuk sesuatu.

Ternyata disana seperti ada sosok tentara yang bajunya dipenuhi darah. Mereka pun ketakutan tapi ina langsung menyorot sosok tersebut dengan senternya. Ternyata itu hanyalah patung tentara jepang. Setelah merasa tenang, mereka pun melanjutkan pencarian Botol kayu yang mereka cari. Mereka pun menemukan ruangan dan salah satu dari isinya adalah botol yang mereka cari.

“Akhirnya, penderitaan ini akan berakhir” kata Siti sambil mengangkat botol tersebut
“Iya akhirnya aku bisa punya pacar” kata Imeh.
“Sini mangkuknya akan kuisi dengan air” kata Ina sambil menyodorkan tangannya.
Lalu mereka pun meminum air yang sudah dimasukan ke dalam botol tersebut.

“Kok rasa airnya agak asem-asem gitu ya” ucap Miya dengan herannya.
“Iya aku kira bakal ada manis-manisnya gitu” Ucap Ina.
“Silau!!” ucap mereka serentak sembari menghalangi mata mereka.

Tiba-tiba ruangan yang gelap tersebut menjadi terang. Ternyata ada orang yang menyalakan lampu tersebut. Orang itu adalah pak Joko penjaga museum. Setelah dilihat Dialah sosok menyeramkan yang membawa lentera tadi. Pak Joko pun menghampiri mereka.

“Kalian kenapa disini?” tanya pak joko dengan anda tinggi.
“Ini, anu pak” Jawab Siti panik.
“Anu apaan?” tanya pak Joko.

Setelah itu mereka menjelaskan kepada pak joko bahwa botol kayu itu bisa membuat mereka menjedi seperti bunga melati dari internet dan mereka ingin meminum dari botol kayu itu.

“Aduh kalian ini, kalian tahu tidak fungsi sebenarnya botol ini?” tanya pak Joko sambil menahan tawa.
“tidak, memangnya mengapa?” jawab mereka dengan kebingungan.
“Botol ini dulu dipakai untuk menampung urin ketika raja berburu di hutan” jawab pak Joko sembari melepas tawanya.
“apa, jadi kami minum dari botol bekas penampungan urin” kata mereka sembari syok.
“makanya jangan percaya semua informasi di internet dan kalian juga harusnya bersyukur karena sudah bisa hidup di dunia ini” kata pak Joko dengan bijaknya.

Mereka pun pulang dengan rasa penyesalan dan rasa asem di lidah yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.

Selesai

Cerpen Karangan: Panzerkampfwagen V Panther
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Judul Cerpen Jumat Keramat

Badanku terasa pegal-pegal. Kepala pening, leher seperti membeku ke arah kiri. Punggung rasanya mau copot. Tidur di pagi hari selalu tidak menjadikanku bugar ketika bangun. Tapi anehnya aktivitas ini terus aku lakukan ketika malamnya aku terjaga. Membayar ‘hutang’, kalau kata orang. Diskusi baru usai pukul 02.15 dini hari. Aku pulang tinggal setengah nyawa. Mata merah dan badan lemas.

Aku berusaha membuka mata. Mencari telepon pintarku. Melihat jam, membuka notifikasi, membaca semuanya tapi tidak langsung membalasnya. Ada 10 pesan dan 4 panggilan tak terjawab yang kesemuannya dari Ayu, isinya, jelas, memintaku untuk segera bangun dengan emoticon ala anak muda kekinian. Dan seperti biasanya, itu tidak mampu menjadi pemicu untuk bangun. Ayu sangat paham itu.

Ayu adalah perempuan baik-baik yang resmi menjadi pacarku sejak tiga bulan lalu. Aku mengenalnya dari sebuah diskusi tentang Hak Asasi Manusia, saat itu aku dan dia sama-sama menjadi penanya. Singkat kata kami berkenalan, betukar nomor lalu seminggu kemudian sepakat untuk menjalin hubungan. Sangat mudah memiliki cinta tapi tidak untuk menjaga hangatnya.

“Iya, aku sudah bangun,” balasku singkat untuk sepuluh pesan yang dikirimnya tiga jam yang lalu.
“Ini sudah pukul sebelas, mas. Jangan sampai kamu punya niat untuk meninggalkan shalat subuh dan shalat Jum’atmu sekaligus,” balasan pesan yang langsung membuatku terperanjat dan melompat dari tempat tidurku. Ah, aku baru ingat kalau ini hari Jum’at.

Ponsel kulempar ke atas kasur, menyibak gorden dan membuka jendela. Di luar sudah sangat terang. Cenderung panas bahkan. Mataku menyipit menerima sinar matahari. Silau. Sayup-sayup terdengar suara tape recorder masjid melantunkan ayat-ayat suci.
“Kali ini aku benar-benar kesiangan,” gumamku.
Dengan mata yang belum terbuka secara sempurna aku berjalan menuju pintu, mengambil handuk, masuk ke kamar mandi lalu mengguyurkan air ke sekujur tubuhku perlahan. Aku resmi mandi.

Aku tiba di masjid tepat saat Muadzin menjalankan tugasnya, di dalam belum terlalu ramai ternyata padahal sudah hampir jam 12 siang. Biasanya jam segini sudah meluber sampai ke serambi masjid. Hari ini aku beruntung masih bisa mendapat bagian shaf di dalam masjid agak belakang, tepat di bawah kipas angin. Tempat favorit untuk orang-orang sepertiku.

Adzan selesai. Aku duduk dan bersiap mendengarkan ceramah.
“Jama’ah yang berbahagia, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala…,” khotib mengawali ceramahnya. Kalimat template yang sedikit menggangguku. Sok tahu tentang kondisi hati jama’ahnya. Tidak semua sedang berbahagia.

Aku duduk pada shaf paling belakang. Ketika sedang mendengarkan isi ceramah sambil mengamati sekitar, pandanganku berhenti pada seorang kakek-kakek berumur sekitar 70 tahun yang duduk di pojokan. Masih satu deret denganku. Mengenakan jubah, kaos kaki serta sarung tangan yang serba putih. Rambut panjangnya terurai bebas. Memiliki jenggot yang terikat rapi oleh dua buah karet warna merah. Ia duduk bersandar di dinding, kaki kanannya dilipat ke atas, kaki kiri menjulur ke depan dan matanya terpejam. Persis seperti saat seseorang duduk di warung kopi. Aku mengamatinya cukup lama. Bagiku penampilan orang ini tidak biasa.

Di tengah-tengah ceramah, tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jubahnya. Sebungkus rok*k berikut korek apinya. Menarik sebatang, lalu… hah? dia menyalakkan rok*k di dalam masjid?! Di saat khotib berceramah! Apa yang ada di kepala pak tua ini? Rasanya tidak mungkin jika ia tak mengerti etika di dalam masjid. Anehnya tidak ada satu pun jama’ah yang menyadari aktivitas si kakek. Semuanya diam mengahadap ke arah mimbar. Sementara asap rok*k dari Pak tua ini semakin menyebar ke seisi masjid.

Intuisi sebagai seorang muslim agaknya mulai bermain. Kata pak Ustadz di kampung, jika ada kedzholiman yang terjadi di sekitar kita, maka kita berkewajiban untuk meresponnya. Sebisa dan semampu kita. Ah, tapi kalau aku menegurnya dengan ucapan ibadah jum’atku hari ini akan sia-sia, tapi kalau aku juga memilih untuk diam saja Pak tua ini akan semakin menjadi-jadi. Aku diserang rasa gamang. Bodo amat, pikirku.
“Permisi, kek tolong rok*knya dimatikan. Ini masjid.” Tegurku dengan nada setengah berbisik.
Dia tak bergeming ternyata. Tetap melanjutkan merok*k. Mungkin suaraku terlalu pelan sehingga sulit untuk didengar olehnya. Barangkali pendengarannya sudah bermasalah karena faktor umur.
“Kek, tolong rok*knya dimatikan!” kali ini dengan suara yang cukup lantang.
Dia masih tak bereaksi apa pun. Hanya saja kini tak lagi menghisap. Apakah dia mendengar? Apakah dia akan mematikan rok*knya? Ternyata tidak! Dia masih terus menghisap tembakaunya.

Belum selesai aku dengan Pak Tua tadi, datang seorang masuk ke dalam masjid dengan hanya menggunakan kaos dalam warna putih dan celana pendek hitam. Ada banyak bercak darah di kaos yang ia kenakan. Semuanya terlihat lusuh dan menjijikkan. Bau anyir langsung tercium seketika. Tubuhnya yang hitam legam tampak mengkilap penuh keringat. Ia masuk dengan berlari kecil menuju ke arah mimbar. Mengambil mikrofon yang tengah digunakan khotib berceramah lalu pergi secepat kilat. Maling! Ada maling! Aku berusaha berteriak tetapi suaraku seolah tertahan ketika sampai di tenggorokan.
Yang lebih mengherankan lagi tidak ada seorang pun yang menyadari peristiwa pencurian tersebut, bahkan orang yang diambil mikrofonnya seperti tidak sadar dan masih terus melanjutkan ceramahnya. Aku terperangah melihat fenomena aneh yang baru saja terjadi di depan mataku. Bagaimana mungkin ada seseorang yang sedang mencuri mikrofon di depan banyak orang tetapi tidak satu pun menyadarinya. Apakah orang tadi menganut ilmu hitam? Tapi bagaimana caranya ilmu hitam bisa bekerja di dalam masjid? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menyesaki isi kepalaku. Ketika aku masih diombang-ambingkan oleh kebingungan demi kebingan tiba-tiba seseorang terasa sedang menggenggam tanganku dengan sangat kuat.
“Hei, anak muda!,” sebuah suara mengagetkanku. Badanku membatu. Tidak mau digerakkan. Kepalaku menghadap lurus ke arah depan. Aku tidak berani menoleh.
“Hei, jangan diam saja! Ini, cobalah sebatang saja. Ayo! Ha.. ha.. ha”, suara itu terdengar semakin dekat sekarang. Masih tetap serak tapi kali ini diiringi gelak tawa. Jangan-jangan ini tangan dan suara Pak Tua di belakangku tadi. Aku masih tidak bergerak sama sekali. Aku bacakan surat Al-fatehah. Berharap tidak akan terjadi apa pun pada diriku.
Genggaman yang sedari tadi mencengkeram tanganku tiba-tiba melemah dan terlepas. Suara berat juga sudah tak terdengar lagi sekarang. Aku menoleh ke belakang. Pak tua aneh tadi sudah tidak lagi tampak di sana. Hilang bersama kepulan asap rok*knya. Tak berbekas. Tak berjejak sama sekali. Syukurlah.

“Jama’ah yang berbahagia, di khotbah yang kedua ini marilah kita memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wata’ala,” seru khotib mengawali ceramah keduanya. Tanpa mikrofon di depannya tentu saja. Aku mengehela nafas panjang. Akhirnya sebentar lagi selesai. Dan aku bisa segera pergi dari sini.

Sementara khotib memimpin doa, para jama’ah menengadahkan tangannya ke atas. Semua tampak khusyu’ dan normal sekarang begitu juga denganku. Doa selesai. Muadzin kembali melaksanakan tugasnya. Semua jama’ah bangkit dari duduknya untuk melaksanakan shalat. Semuanya masih tampak normal. Tidak ada lagi keanehan yang muncul.
“Allah…huakbar,” shalat dimulai.

Raka’at pertama selesai. Sekali lagi semua masih tampak normal. Sampai ketika terdengar suara tangis yang sungguh memekakkan telinga. Aku terhenyak dan langsung menggerakkan bola mataku ke kanan dan kiri. Mencari sumber dari suara tangisan tadi. Nihil. Aku tidak mendapati seorang pun yang menangis dari penjelajahan kedua bola mataku. Mungkin itu tangisan anak kecil yang sedang dilatih orangtuanya beribadah di masjid, batinku berusaha menghbur diriku sendiri. Tetapi suara itu bukan seperti suara seorang anak kecil. Suaranya berat dan agak serak.

“A…mi…n!,” suara jama’ah kompak menyambut ayat terakhir dari al-fatihah yang dibaca oleh Imam.
Suara tangisan itu semakin lama semakin keras. Sejujurnya aku tidak siap dan terlalu pengecut untuk menghadapi suara-suara yang tak jelas sumbernya seperti ini. Tunggu sebentar, pertanyaanku sepertinya akan terjawab. Aku melihat seseorang di shaf kedua dalam posisi duduk jongkok. Terlihat sesenggukan sambil menggigil sesekali. Berpakaian serba putih, rambut panjang terurai. Aku sudah tidak peduli lagi dengan shalatku. Perhatianku kini tersita oleh penasaranku kepada seseorang di depan sana.

Ketika semua orang di sekitarku sedang sujud aku pelankan gerakanku untuk mengamati orang itu. Masih menangis dan masih pada posisi jongkok seperti tadi. Ketika tatapanku puas menelanjangi tubuhnya dia tiba-tiba menoleh ke arahku yang seketika membuatku terheran-heran. Ternyata Pak tua yang tadi! Ia menatapku dengan tatapan iba. Air matanya menganak sungai. Beberapa tertahan di pucuk jenggot putihnya. Kami sempat beradu pandangan beberapa saat sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan ke arahku. Aku ketakutan setengah mati. Langsung aku tenggelamkan kepalaku di antara para jama’ah lainnya. Sambil terus berdoa semoga Pak tua itu buka sedang berjalan ke arahku.

Dalam hati aku sempat menduga-duga, jangan-jangan ia adalah malaikat pencabut nyawa. Jangan-jangan ajalku akan tiba sebentar lagi. Akankah aku mati di masjid dalam keadaan shalat? Tapi, masa iya malaikat merok*k di masjid apalagi saat khotbah jum’at berlangsung? Masa iya malaikat tidak memilih untuk ikut shalat terlebih dahulu baru mengambil nyawaku? Lalu, kalau memang benar Pak Tua tadi adalah malaikat pencabut nyawa, darimana ia mendapatkan dua karet gelang merah untuk mengikat jenggot panjangnya? Ketika pikiranku masih bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan di atas seseorang terasa menepuk pundakku dengan sangat kuat.
“Hei, bangun.. bangun. Mari kita pulang! Kamu sudah terlalu lama di sini”
Aku sebentar lagi mati, batinku. Mulutku seketika membaca semua bacaan dzikir yang aku tahu sambil terus berdoa dalam hati. Jantung sudah seperti gendang di konser-konser dangdut. Berdetak begitu cepat.
Semoga aku khusnul khotimah ya, Tuhan. Maafkan dosa-dosaku selama ini. Lebarkan kuburanku, berikan orangtuaku ketabahan karena kehilangan aku. Asyhadu ala ilaha illa allah..wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.
Tiba-tiba semua terasa sesak. Cahaya perlahan-lahan meredup. Dalam sekejap mata semuanya menjadi hitam. Gelap. Aku mati?

“Heh, mas, bangun, mas! Shalatnya sudah selesai, mas nggak pulang,” samar-samar terdengar seseorang sedang memintaku untuk bangun. Suara laki-laki.
Pendengaranku masih berfungsi, aku masih hidup? Aku tidak jadi mati? Tapi, bagaimana bisa?
“Bangun mas. Mau pulang atau mau bantu saya bersih-bersih masjid he he he?,”
“Ehm,”
Tengkukku terasa sakit. Dengan sekuat tenaga aku berupaya memperoleh kesadaran yang utuh pada posisiku saat ini. Kaki bersila dengan kepala tertunduk di atas lantai.
Ketika aku mendongak, di hadapanku sudah tidak terlihat siapa pun. Seisi masjid tampak lengang. Orang-orang sudah pulang. Pak tua tadi juga sudah tidak terlihat lagi. Tinggal tersisa seseorang yang sedang berdiri di sisi kiriku yang sedang memegangi pundakku.
“Pada kemana pak?”
“Sudah pada pulang mas. Shalatnya kan sudah selesai.”
Belum sempat aku mencerna situasi, bapak-bapak itu sudah meneruskan pembicaraannya.
“Waktu saya lagi menyapu serambi tadi saya kira mas-nya lagi dzikir sambil merunduk. Eh, setelah saya dekati ternyata tidur. Mungkin saking khusuknya, ya mas. He he he,” tuturnya mencoba menerangkan kronologi. Dari penjelasannya, bapak ini sepertinya penjaga masjid.
Aku mulai mengerti sekarang, ternyata aku tertidur sepanjang khutbah dan terus terlelap sampai shalat jum’at selesai. Lalu penjaga masjid menemukanku di sini dan berusaha membangunkan. Alamak, berarti semua keganjilan dan keanehan yang aku alami itu hanya bunga tidur saja. Cuma mimpi? Pak tua yang merokok, seseorang yang mencuri mikorofon khotib, suara tangisan, semuanya tidak pernah ada? Seseorang yang kusangka ‘Malaikat’ dan hendak mencabut nyawaku juga tidak pernah terjadi? Tapi semuanya tampak nyata. Astaga! Alangkah konyolnya diriku.

“Saya pamit dulu, pak” tanpa menunggu jawaban aku langsung berdiri, membetulkan posisi sarungku dan berjalan setengah berlari ke luar. Mengambil sandal dengan tergesa-gesa. Pulang.

Di sepanjang jalan menuju kost aku terus mengumpat tanpa henti. Kepada diriku, kepada Pak tua aneh yang aku temui di dalam mimpi dan juga kepada kipas angin masjid. Memalukkan sekali, batinku. Aku merasa sangat kesal. Ingin juga rasanya menumpahkan amarah kepada kipas angin masjid dan keputusanku pulang pagi dari acara diskusi. Keduanya seolah telah bersekongkol untuk menina bobokkanku sehingga tertidur pulas.

Dalam hati aku bersumpah, tidak akan pernah lagi begadang di malam Jum’at. Dengan alasan apa pun aku akan menolak semua ajakan untuk keluar di malam itu. Aku juga tidak akan shalat Jum’at di masjid itu lagi. Jum’at depan harus pindah masjid. Demi harga diriku dan demi tidak bertemu lagi dengan Pak tua misterius itu.

Cerpen Karangan: Ghazian Luthfi Zulhaqqi
Facebook: Bos Que
Paijo Jatuh Cinta

Paijo Jatuh Cinta

Judul Cerpen Paijo Jatuh Cinta

Sewaktu Semester 2 Paijo jatuh cinta diam-diam sama Sari, cewek kelas sebelah. Paijo adalah teman sekontrakanku, dan dia sebenarnya bisa dengan mudah mendapatkan Sari, namun, sayangnya dia terlalu polos. Mungkin sewaktu masih balita, menyusu pada bapaknya kali ya.

Paijo memang polos, tapi bukan berarti dia bloon maupun dongo, emmm ya mungkin sedikitlah bagiku. Hehehe. Dia polos dalam berbagai aspek, apalagi masalah ngejar cewek. Dia bahkan tidak tau bagaimana cara kenalan sama Sari dengan baik dan benar. Paijo bahkan sering meminta bantuan kepada Mbak Nova. Sang ratu kolektor cowok.
Bahkan ia rela menjadi murid mbak Nova asal Tv di kamarnya disewa Mbak Nova GRATIS selama menjadi muridnya. hahaha. dasar pemuja Cinta.
Paijo pernah melakukan saran Mbak Nova untuk membawakan Coklat kepada Sari. Dengan Uang tabungannya Paijo membeli Coklat entah Coklat apa tapi dari bentuknya saja orang sudah ngiler lihat tu coklat.

“Coba deh.” Paijo menyerahkan batang coklatnya ke tanganku. “koe coba dulu enak apa enggak, masalahnya ini mau aku berikan ke Sari. Enak kagak?”
“Hmmmmm..” Kataku, mengunyah pelan-pelan.
“Kayak senyumannya Mbak Dewi.”
Siapa sih yang gak kenal sama Mbak Dewi, Wanita yang mempunyai kadar senyuman paling manis.
Paijo memukul dadanya sendiri dengan bangganya.
Rasanya, menurutku bukan enak atau enggaknya rasa. Yang jadi masalah apakah Paijo seberani itu untuk memberikan Coklat itu kepada Sari. Dan semuanya bisa ditebak, Begitu Paijo mencoba menyerahkan coklat ke arah Sari. Ketika pulang jam Kuliah, dia tidak berani dan mengurungkan niatnya. Akhirnya Coklat itu kami makan bersama di ruang Tv Kontrakan. hahaha lumayan coklat gratis.

Saat itu aku berpikir, Paijo memang Polos atau memang takut ataukah malu untuk datang langsung ke hadapan Sari.
Beda sekali denganku, Sampai saat ini aku juga belum punya pacar. Ngenes tingkat dewa
Orang yang jatuh cinta akan diam-diam mencari tahu apa saja semua informasi tentang orang yang dia taksir. Walaupun mereka belum pernah ketemu. Paijo juga tahu Kost Sari dimana, Plat motornya berapa, dan sama siapa dia selalu berangkat ke kampus. Paijo juga tau Sari suka makan Mie Ayam di kantin bawah dan suka berlama-lama jika di depan kamera. Bahkan kamera CCTV. Hehehehe, Jangan Percaya itu.
Dari mana Paijo tau semua itu?
Yapss, dari teman temannya teman temannya temannya lagi. pusing dah lo

Orang yang sedang jatuh cinta selalu melamun pas waktu Jam kuliah yang membosankan. Atau tidak, dengan menulis atau menggambar dalan catatannya. Di whiteboard Paijo selalu menuliskan harapannya supaya bisa berkenalan dengan Sari. Karena Paijo terinspirasi dari film Ngenes. Menurut Paijo PDKT buang-buang waktu, jika cowok mendekati cewek pasti sudah jelas maksud dari si cowok mendekati si cewek.. Emang agak agresif tapi itulah menurut Paijo yang dikutip dari film yang ia lihat. Kalau aku sih belum pernah liat tuh Film. hahaha. Dan juga Paijo pernah menulis di Buku antah berantahnya. masalahnya tuh buku isinya macem macem kayak isi lotek spesial gitu

“cinta itu seperti puzle, kita perlu mencari kepingan-kepingan ntuk kemudian dipasangkan agar mencapai kesempurnaan, tapi kadang orang mebiarkan puzle itu berantakan karena ia menganggap cinta itu bukan suatu hal yang berharga… Jadi cinta bukanlah puzle.”

Paijo juga pernah mengikuti kegiatan Sari. Yaps kegitan selalu makan mie ayam sehabis jam kuliah di kantin kampus bawah bebarengan dengan waktu Sari memesan mie ayamnya lagi. Kalau bukan ide Mbak Nov mungkin Paijo tak akan melakukan itu. Karena aku tau paijo anti makan di kantin. Bukan karena tak enak atau tak higenis tapi karena Paijo selalu masak di kontrakan karena lebih hemat alias ngirit.

Saat waktu Paijo berpapasan dengan Sari saat itulah Paijo merasa dekat dengan Sari walaupun hanya sekian detik dan sekian langkah. Ibarat Paijo tentaranya Sari Sanderanya dan aku Terorisnya. Kemudian Paijo mencoba menyelamatkan Sari Walaupun tinggal beberapa langkah dan Dooor!! paijo tewas dan bangkainya dibuang ke sungai terus mengalir ke pantai terombang-ambing kesana-kemari. Dan dimakan ikan Hiu. Hihihi. Sadis.

Hampir semua orang yang sedang jatuh cinta diam-diam pernah mencoba menghubungi via telepon number private, sms, bbm, line maupun telegram tapi bukannya dikirim eh malah dihapus tuh pesan.
Pernah sekali Paijo meminjam Hp Agus untuk menelepon Sari tapi bukannya terhubung eh malah terdengar suara cewek yang tak asing lagi. “Maaf pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan, bla bla bla bla.”

Sewaktu kumpul bareng penghuni Kontrakan Dodol. Paijo pernah bertanya “Kalian sadar gak sih, gimana cewek yang kita suka pasti gak pernah suka sama kita? kenapa sih kita harus suka sama cewek yang kayak gitu? kenapa gak sama cewek yang pasti udah suka sama kita?”
“Emang ada yang suka sama kau kau ini?” tanya mbak Nova
“Tapi gak berarti sama si Jhonku dong?” celetuk Mbak Sus.
“Gak tau deh. Mungkin kita terlalu cool untuk para wanita di luar sana.” kata Agus sok pede.
“Atau gak, kita kita ini belum boleh sama Tuhan untuk menjaga Istri orang.” Candaku
“Maksud dikau apa kakanda?” balas mbak Nova
“Iya kan, kita pacaran hanya disuruh untuk menjaga istri orang, lagi pula kita pacaran juga gak pasti kita akan menikah sama dia.” Jawabku sok polos.
Mbak Nov hanya mengangguk antara ngerti atau mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang kuucapkan.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya bisa mendoakan. Setelah pengharapan ini, pengharapan yang dari dulu, yang tumbuh dari kecil, hingga makin besar lalu semakin lama semakin jauh. Dan pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Dan terkadang apa yang kita inginkan bisa jadi yang tidak dibutuhkan. Dan sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.
Maka untuk kalian yang disana, Sampaikan perasaan kalian agar tak menyesal dilain waktu.

Cerpen Karangan: Bayu Ari Saputra
Blog: www.semangatmoveon.blogspot.com
Cafe Biru Muda

Cafe Biru Muda

Judul Cerpen Cafe Biru Muda

Mereka duduk berdampingan, sementara di seberang meja seorang gadis berambut sebahu tertunduk resah. Meja bernomor 18 itu diliputi ketegangan. Bahkan tidak ada seorang wetress pun yang berani mendekat padahal meja mereka masih kosong.

“Coba ulangi lagi apa yang kau katakan barusan” katanya dengan nada tinggi yang jelas-jelas ditahan setengah mati.
Laki-laki di sampingnya mengeraskan rahang. “Kali ini tolong dengarkan baik-baik.”
Tak hanya meja bernomor 18, tapi seluruh ruangan cafe bernuansa biru muda itu ikut menegang. Hujan rintik-rintik di luar sana semakin deras seiring melambatnya jarum jam. Bersamaan dengan guntur yang menggelegar, laki-laki itu kembali mengucapkan kalimat mematikannya.
“Aku akan menikahi adikmu, dia hamil. Karena itu sebaiknya kita putus.”
Bak disambar petir, ia merasakan telinganya berdenging ngilu. Seluruh ruang cafe berputar beberapa kali hingga ia memutuskan untuk berusaha berdiri. Dengan langkah gontai, ditinggalkannya pacar pengkhianat itu sesegera mungkin. Saat melangkah pergi ia masih bisa mendengar jeritan maaf sang adik. Namun tak ada yang bisa mengobati luka hatinya saat ini. Gadis berambut panjang itu terus melangkah walaupun dunia berputar semakin cepat dan cepat. Hingga akhirnya ia tumbang di bawah rinai hujan. Kehilangan kesadaran, atau lebih baik lagi jika ia kehilangan ingatannya.

Seseorang ke luar dari rumah sakit setelah 2 hari tak sadarkan diri. Hujan baru saja reda dan pelangi muncul di langit utara. Suasana sore yang begitu tenang. Ini adalah hari yang sempurna bagi Kira. Ia akan memulai hidup barunya setelah 2 hari berkelana di dunia bawah sadar.
Warna-warni di langit mulai memudar, namun Kira memutuskan untuk tetap menunggu kekasihnya datang menjemput. Hingga pelangi itu sempurna hilang, Tedy baru saja sampai di halaman rumah sakit.
“Maaf, Kira. Aku membuatmu menunggu” sesal Tedy setelah turun dari mobil. Kira hanya tersenyum.
“Aku beberapa kali menjengukmu, tapi kau tak sadarkan diri.” Tedy tampak berusaha memberi penjelasan, melihat Kira hanya diam.
“Aku mengerti,” kata Kira akhirnya. “Jangan terlalu mengkhawatirkanku, Sayang.”
Mendengar jawaban Kira dengan panggilan ‘sayang’nya itu, tiba-tiba air muka Tedy membeku. Rahangnya mengeras dan dadanya terisi penuh oleh keterkejutan.
“Aku harus menemui dokter. Kau tinggallah di sini sebentar” kata Tedy tegas. Ada getar aneh dalam nada bicaranya. Kira hanya mengernyitkan kening melihat kekasihnya berjalan cepat menuju ruang dokter.

“Amnesia retrograde. Nyonya Kira dipastikan terkena penyakit ini. Penderita akan kehilangan memori jangka pendek. Yaitu memori mengenai kejadian sebelum amnesia terjadi. Penyebabnya antara lain adalah kecelakaan atau kejadian yang menyebabkan shock dan trauma.”
Tedy terhuyung ke luar dari ruang dokter. Kenyataan terasa begitu berat baginya. Kesalahan terbesar bergelayut di pundak lelaki itu. Ia sadar telah menyakiti Kira, kekasih yang amat dicintainya. Namun Tedy juga menyadari ia mencintai Reta, adik kandung Kira yang kini hamil 2 bulan.
“Dokter bilang aku baik-baik saja kan, Sayang?” senyum Kira menyambut wajah lesu Tedy.
“Tentu” jawab Tedy singkat. Dipandangnya sepasang mata Kira yang penuh gurat cinta. Tedy tak menyangka bisa melihat mata itu lagi. Padahal beberapa malam yang lalu guratan cinta telah berubah menjadi benci dan kecewa.

Rumah megah dengan dua orang putri cantik, Kira dan Reta. Orangtua mereka begitu bangga dengan kedua bidadari yang selalu akur. Sayangnya, ibu-bapak itu berpirkir bahwa kebahagiaan sangat bergantung pada materi. Dan jadilah mereka jarang ada di rumah. Alhasil, selama bertahun-tahun Kira dan Reta hanya hidup berdua, berusaha saling melengkapi. Bahkan ketika Kira masuk rumah sakit, orangtuanya tak bisa pulang.

“Kak Kira! Aku senang kakak cepat keluar dari rumah sakit” sambut Reta dengan senyum dipaksakan. Ada sebersit kilat takut di kedua bola mata hitamnya.
“Reta.” Suara Kira datar.
Reta memejamkan mata. Ia siap dengan segala resiko demi meperjuangkan ayah bayi dalam kandungannya.
“Aku merindukanmu, adikku…”
Pandangan Reta sekejab menggelap. Apa ini? Kenapa Kira tidak marah? Oh, Reta menarik nafas lega. Mungkin kakak mengerti posisinya dan telah merelakan Tedy untuk bayi dalam kandungannya. Dengan lega dan penuh haru Reta balas memeluk Kira. Sementara Tedy yang melihat semuanya, diam membeku tanpa tau harus berbuat apa.

Reta menangis sesenggukan di depan meja rias. Tedy terduduk di bibir ranjang dengan pikiran kalut. Sekali lagi ia menyadari semua ini adalah salahnya. Tedy mencintai Kira, juga mencintai Reta dan bayinya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Reta di sela isak tangisnya.
Tedy menggeleng. Ia tak yakin jika harus mengulang kejadian malam itu. Melihat mata Kira yang penuh cinta dipenuhi luka. Melihat Reta harus menjerit meminta maaf dengan suara pilu.
“Kita harus memberitahu Kak Kira sebelum terlambat” ujar Reta akhirnya, memberi keputusan.
Tedy mengangguk pelan. “Tunggulah dua-tiga hari lagi.”

Langit malam bertabur bintang. Hujan tidak turun seharian, mungkin tidak juga malam ini. Tedy dan Reta telah memilih hari.
Seperti mengulang sejarah, mereka bertiga makan malam di sebuah cafe bernuansa biru muda. Bedanya, kali ini Tedy sempat memesan makanan untuk Kira dan Reta. Mereka sempat makan sambil bersenda gurau. Tedy duduk berdampingan dengan Kira. Reta duduk di hadapan keduanya. Seorang wetress yang mungkin mengingat semuanya, mengerutkan kening heran melihat kejadian beberapa malam yang lalu mungkin akan terulang lagi.
Benar saja, wetress berseragan biru muda itu tak habis pikir. Sedang berlatih dramakah mereka bertiga? Atau berlatih skenario untuk casting film?
Dari kejauhan, dilihatnya gadis berambut panjang itu berurai air mata, tangisnya pecah lebih dahsyat dari beberapa malam lalu. Dengan cepat gadis berambut panjang itu beranjak pergi. Langkahnya gontai namun tegas meninggalkan area cafe. Tunggu dulu, sang wetress baru menyadari sesuatu. Wajah kedua gadis itu mirip. Jangan-jangan mereka adalah kakak-baradik. Kini pandangannya tidak tertuju pada gadis berambut panjang, tapi pada sosok lelaki yang duduk membeku disana. Dasar pria! Geram wetress itu dalam hati.

Langit bertabur bintang menghilang seketika. Berganti gulungan awan dan petir yang menyambar. Hujan akhirnya turun hari ini, membasahi jalan-jalan. Seorang gadis berambut panjang ke luar dari cafe bernuansa biru muda, dengan deraian air mata. Jalannya limbung, dan jelaslah gadis itu terpeleset di trotoar yang licin.

“Amnesia retrograde.” Dokter menjawab yakin.
Tedy dan Reta saling tatap. Apa yang harus mereka lakukan setelah Kira sadar nanti? Mengulang kejadian malam itu di cafe biru muda? Lagi?

Cerpen Karangan: Islaa Ed
Facebook: Islaa Edogawa
Si Pembual

Si Pembual

Judul Cerpen Si Pembual

“Bang, bang pernah nggak lihat setan di rumah kosong itu?” tanya pemuda di samping Ghani
“nggak tu!, tapi aku tau kenapa rumah itu bisa kosong” Jawab Ghani sambil mengusap jenggot panjang yang tak terawat
“Gimana bang ceritanya?” tanya pemuda itu lagi

Malam itu seperti biasa aku tugas dari negara keliling kampung, malam itu udara dan suasananya agak terasa aneh tidak seperti malam-malam biasanya malam yang aneh.

“abang lihat setan?” potong pemuda di sampingnya.
“San… Ihsan, bukanlah masa kalo yang aneh-aneh setan doang!” jawab Ghani
“Ohh… kirain setan bang, teruskan bang!” celetuknya lagi.
Ghani pun meneruskan kisah yang terpotong tadi.

Aku seperti merasakan sebuah perasaan, perasaan kehilangan entah kehilangan apa aku tak tau. kulangkahkan kakiku dan sampai d ipertigaan, di pertigaan terdapat sebuah rumah yang megah dan aku merasakan perasaan yang amat kuat perasaan kehilangan itu lagi.

“Rumah yang mana bang?, rumah kosong itu!” tanya pemuda memotong kisah
“ya, rumah pak Sohib. Tanya mulu kapan kelarnya ini cerita?” jawab gani menggurui.
“oke bang, lanjutkan!” kata pemuda itu sambil memasang muka tersenyum.

Semua orang mengenalnya keluarga pak Sohib, keluarga yang harmonis dengan segala kemapanannya. entah kejadian apa hingga membuat beranda rumah pak Sohib menjadi sepi seperti ini.
Sebagai keamanan di kampung ini kuhampiri rumah pak Sohib dengan langkah yang berat aku berjalan sampai di depan pintunya. Tanganku terasa berat entah aura apa pada rumah pak Sohib, aku ketuk pintunya Tok… tok… tok kupanggil namanya namun tak seorang pun menjawabnya. Berkali-kali kuketuk dan kupangil-panggil tetap tak ada jawaban, saya curiga kalo terjadi apa-apa dengan sigap kuraih daun pintunya ternyata tak terkunci kubuka lebar pintunya. pertama kali saya buka mataku tertuju ke arah pak sohib, ia duduk di ruang tamu ia menatap ke lantai sembari memegang sepucuk kertas

“pak sohib…” kupanggil dia
“tak terjadi apa-apa kan pak” tanyaku
Tanpa ada balasan ia hanya menatap ke arahku dengan tatapan kosong sembari mengulurkan kertas yang ia pegang
“Lihatlah..!” pinta pak Sohib
Tanpa basa-basi kuraih kertas dari tangannya dan kubaca isinya.

Apa kabar ibu? Ibu baik-baik saja kan! Aku sangat senang, ibu, ini surat pertama yang aku buat untuk ibu. kata ayah ibu sedang sibuk jadi ayah menyuruku untuk membuat surat ini. Ibu hari ini aku kan menjalani operasiku entah sudah berapa kali aku merasakan segarnya infus, aku akan sembuh ibu.
Oh.. ya ibu penyakitku ini sudah seperti keluargaku sendiri ia selalu menemaniku, ibu tahu tadi aku sempat diperiksa dokter aku lihat dokternya menggeleng-gelengkan kepalanya saat memeriksaku. Aku tak tahu apa maksudnya tapi ayah bilang aku akan sembuh ibu, aku ingin sekali bertemu dengan ibu!. ibu bagaimana kabar bibi sudah lama ia tidak menjengukku sudah setahunan aku tidak bertemu dengannya. Oh ya kucingku juga bagaimana keadaannya?, apa kucing kesayanganku itu sudah bertambah gemuk, aku mau minta maaf padanya karena tak bisa bermain dengannya lagi.
Besok aku akan pulang ibu, kata ayah aku gak boleh cengeng di depan ibu. nanti kata ayah ibu bisa ikut jadi cengeng kaya aku. aku tak ingin ibu bersedih karena aku. Ibu ingatkah ibu saat aku terjatuh dari atas pohon di depan rumah kita aku pada waktu itu menangis tersedu-sedu tapi kini jika aku terjatuh lagi mungkin aku tidak akan menangis seperti dulu, sekarang aku tahu terjtuh dari pohon tidak lah lebih sakit dengan penyakitku ini.
Ibu aku rindu sekali dengan kamarku meski berantakan tapi aku merasa nyaman tidur di kamarku! Disini aku merasa seperti bertambah parah penyakitku ibu. Hhmm… ingin rasanya kupeluk boneka teddy besarku
Sudah ya bu kata ayah jangan banyak-banyak kalo nulis suratnya nanti ibu pusing kalo kelamaan membacanya, aku akan menjalani operasiku tunggu aku di rumah ya bu aku akan pulang

Anakmu
Love
Mona

“Ya, itulah surat yang dituliskan sebelum ia pergi” kata pak sohib membuyarkan konsentrasi membacaku
“aku tau kalo istrinya mencerikannya tapi aku baru tahu kalo anaknya meninggal” gumamku dalam hati
“apa kau tak bilang padanya tentang ibunya” tanyaku.
“tidak, jika aku bilang ia tak akan pergi seperti ini. pergi dengan bahagia” jawab pak sohib datar.
“kenapa kau tak memberitahukannya?” tanyaku lagi
“dia sudah menahan semua derita. Aku tak ingin menambah penderitaannya” jawab pak sohib tanpa ekspresi.
Aku dan pak sohib terdiam, suasana berubah menjadi hening beberapa saat.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyaku memecah keheningan.
“entah, mungkin pergi dari sini” jawab pak sohib.
“meninggalkan ini semua?” kataku heran.
“aku kan mencari kehidupan baru. Disini terlalu banyak kenangan pahit” jawab pak sohib.
“ia anak yang baik, ia pintar tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan berikan ujian padanya, ujian yang sangat berat mungkin kalo dipikir mungkin aku tak akan sanggup” tambahku.
“Kau benar!” jawab pak sohib sambil mengusap kepalanya.
“bagaimana denganmu?” tanyaku lagi.
Pak sohib tak menjawab pertanyaanku entah apa yang ada di otaknya, ia diam bak kegelapan malam yang sunyi tanpa bintang.
“kau baik-baik saja kan?” tanyaku lagi.
Ia hanya menatap ke langit-langit, lalu ia mengulurkan tangannya sembari mengambil kembali kertas yang aku pegang.
“kehidupan harus tetap berjalan, percayalah setelah hujan badai akan ada cahaya yang menyinari” nasihatku sambil kutepuk pundaknya.
Ia diam saja aku pun pamit menjalankan kewajiban keliling kampung, malam kulalui dengan penuh pemikiran tentang pak sohib.

Siangnya kudatangi lagi rumah pak sohib seperti semalam kupanggil namun tak ada yang menjawab sampai putus asa niatku menemuinya. dengan hati hampa aku hendak pulang baru 15 langkah dari beranda rumah pak sohib, tiba-tiba ada seseorang memanggilku suaranya cempreng bak terompet perang.
“Pak…” suara cempreng seorang wanita.
Dengan sigap aku pun berhenti, sudah hampir langkah yang ke 17. Aku hampiri asal suara cempreng tadi, ternyata suara tetangga pak sohib.
“cari pak Sohib ya?” tanyanya.
“iya betul, kemana ya pak Sohibnya?” tanya ku dengan penuh selidik.
“Wah… bapak telat, tadi pagi buta sekitar jam 2 kurang saya dengar suara gaduh di rumah pak Sohib, saya lihat pak Sohib seedang beres-beres. Saya tanya mau kemana pak? Eh.. orangnya gak jawab tapi saya lihat dia bawa koper sama tas” jawabnya dengan tempo cepat.
“Lo… saya kemarin jaga kok nggak tau dia pergi ya?” tanyaku keheranan.
“ketiduran kali bapaknya makanya kalo jaga jangan tidur pak” celetuknya dengan nada ketus.
“ya sudah kalo begitu makasih ya buk!” pamitku pada ibu itu.
Aku tak menyangka pak sohib pergi secepat itu.

“Oh… gitu bang ceritanya” tandas pemuda di samping Ghani.
“udah ya ceritanya! ada perintah dari negara nih” kata Ghani sembari pergi pos kamling.

Lalu sesosok orang tua mendatangi pemuda yang sedari tadi menikmati kisah Ghani
“Tong… ente diceritain apaan sama Ghani tu?” tanya orang tua itu.
“Ooo.. cerita yang dulu tinggal di rumah kosong deket pertigaan itu kong!” jawab pemuda ke sesepuh kampung.
“mau aje lu tong diceritain orang kagak waras ntu!” celoteh sesepuh kampung.
“Dulu rumah ntu ditinggali sama Pak Sohib orangnye kaye saking kayenye rumah ntu dirampok 1 keluarga dibunuh, la… yang mergoki perampok tu Ghani, Ghani dipukul pake pentungan di kepalenye terus pingsan. Sadar-sadar Ghani tidur sama mayat 1 keluarga ntu, dia shock sampe kagak waras kayak gitu. Cerita kemana-mana kalo anak pak sohib mati kena penyakit, istrinya cerai, terus pak Sohib minggat karena nggak kuat hidup di mari, jangan percaye sama tu orang gila tong!” cerita ngkong sesepuh desa ke pemuda.
“biar bang Ghani seneng kong makanya, saya dengerin ceritanya” sanggah pemuda itu.
“bisa jadi gile juga lu tong! Udah pulang sono ati-ati kalo di pertigaan ntu!” perintah engkong sesepuh sambil menakut-nakuti.
“ya kong bentar, abisin kopi dulu kong!” jawab pemuda tersebut sambil meminum kopi yang sedari tadi dingin.

SEKIAN TERIMA KASIH TELAH MEMBACA

Cerpen Karangan: Hasan Nur Komari
Facebook: Hasan Nur Komari
Beri Aku Serupiah Saja

Beri Aku Serupiah Saja

Judul Cerpen Beri Aku Serupiah Saja

Siang ini matahari terasa membakarku, bulir-bulir keringat terus saja meluncur di permukaan kulitku. Ah, aku mengeluhkan rahmat Tuhan lagi. Kupikir lebih baik mencari cara untuk mendinginkan tubuhku agar mulut dan hatiku berhenti mengeluh.
Kalau cuaca panas seperti ini memang cocok minum atau makan sesuatu yang dingin. Tapi, segala macam es seperti es jeruk, es kelapa muda, es campur dan minuman lain yang bertemakan es sama sekali tidak menarik minatku saat ini. Kulihat ponselku sambil termenung, terlintaslah ide untuk menghubungi teman sekelasku Novi. Mungkin dia mempunyai saran yang bagus. Kuharap.

“Nov, lg sibuk? Jln yuk” tak menunggu lama, sebuah balasan kuterima.
“Mau jln ke mna panas2 spt ini?”
“Terserah, mnrut kmu ccokny ke mna?” kubalas pertanyaannya dengan pertanyaan.
“ke Ice Cream 98 aj, gmna?” Balasan seperti ini yang ditunggu sedari tadi.
“Oke, aku jmpt skrang ya!”

Waktu dua puluh menit sudah cukup untuk menjemput Novi dan menuju lokasi yang kami tuju. Setelah mencari tempat duduk, kami pun sibuk menuliskan pesanan kami pada secarik kertas kecil lalu menyerahkannya pada pelayan. Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan kami diantarkan. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang pakaiannya terlihat kotor sambil menengadahkan tangan menghampiri meja kami. Aku diam sejenak, lalu menunduk. Sekilas kulihat Novi melakukan hal yang sama. Mungkin karena tidak ada tanda-tanda kami akan memberikan serupiah pun padanya, wanita itu pun memilih menjauh dan menghampiri meja yang dikelilingi beberapa anak laki-laki. Anak-anak tersebut menyerahkan lembaran uang rupiah, tak terlihat jelas nominalnya. Sesaat aku merasa hatiku ditusuk, aku merasa apa yang baru saja kulakukan adalah kesalahan.

Pesanan kami telah tersedia di atas meja kami. Namun, tak ada satu pun yang bersuara maupun bergerak barang memakan es krim yang telah kami pesan. Jengah dengan keheningan, aku pun membuka suara.
“Nov, menurutmu haruskah kita memberi wanita tadi uang? Ya, memang kita diajarkan untuk berbagi. Apalagi aku pernah mendengar kalau di dalam rezeki yang kita dapat tersimpan rezeki orang lain. Tapi, di zaman sekarang banyak orang yang salah memanfaatkan kedermawanan orang lain. Seperti banyaknya pengemis-pengemis yang jiwa dan raganya masih sehat, masih bisa berusaha mencari sedikit rezeki akan tetapi mereka lebih memilih mengemis. Karena hanya dengan bermodalkan pakaian compang camping, wajah memelas dan menengadahkan tangan saja mereka sudah bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Itu membuat aku takut kalau aku memberi mereka sedikit saja rasa syukurku, yang ada malah membuat mereka malas berusaha dan menyuburkan jumlah pengemis.” Ujarku jujur, aku menatap matanya lalu ia membalas tatapanku dengan serius.
“Ya, aku setuju. Maka dari itu, aku pilih-pilih dalam memberikan uang kepada pengemis. Jika ia terlihat masih sehat seperti wanita tadi, aku tidak akan memberinya. Kecuali pengemis itu sudah berusia lanjut atau memiliki ketidaksempurnaan fisik. Tapi, kebanyakan dari mereka masih tetap berusaha menghasilkan uang dari keringat mereka sendiri. Ah, sudahlah. Itu es krim milikmu sudah mencair.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ternyata kami memiliki pemikiran yang sama.

Setelah itu, kami menikmati es krim sambil berbincang-bincang tentang banyak hal, tidak sedikitpun menyinggung tentang hal yang sempat membuat kami diam merenung. Meskipun begitu, hal itu terus saja mengusik pikiran dan hatiku. Aku berniat akan meminta pendapat guru agama di sekolah dan teman-teman yang lain nantinya.

Aku duduk termenung di kursi panjang yang terletak di depan kelas kami sambil menikmati udara yang masih segar. Tak ada satu pun batang hidung teman-teman sekelasku yang terlihat karena memang aku terlalu pagi berangkat ke sekolah hari ini. Biasanya aku akan merasa bosan karena tidak ada yang bisa diajak berbicara. Tapi, kejadian kemarin masih saja mengusik memoriku. Merayuku untuk segera menemukan pendapat yang menurutku cukup masuk akal.

Akhirnya kedua teman sekelasku datang setelah beberapa waktu aku termenung sendirian. Tanpa menunggu mereka melanjutkan langkah memasuki kelas, aku memanggil mereka untuk duduk di sampingku dan aku pun mulai menanyakan hal yang cukup mengusikku dari kemarin.
“Aku setuju denganmu. Aku juga pernah mendengar ceramah dari seorang Ustadz, beliau mengatakan bahwa kita dilarang memberikan uang kepada pengemis yang terlihat sehat jasmaninya karena akan menyebabkan pengemis tersebut semakin malas untuk bekerja.” Lagi, aku mendengar kalimat persetujuan dari temanku, Ahmad.
“Aku juga. Ya, kalau dipikir-pikir sekarang itu banyak sekali orang yang memanfaatkan hal tersebut dengan seenaknya. Bahkan ada yang mengemis padahal ia memiliki harta yang cukup untuk digunakan modal usaha.” Ujar Nurul
“Kalau menurutku, lebih baik beri saja walau serupiah. Toh, kalaupun kita memberi tidak ada kerugian pada diri kita, selama kita ikhlas. Daripada tidak memberi tapi membuat pengemis tersebut dendam atau marah kepada kita, yang rugi kita sendiri.” Ujar Nurul menambahkan.
“Semua tergantung individunya juga. Jika memang ada rezeki, beri saja. Lalu berdoa semoga uang tersebut menjadi berkah kepada si penerima dan tidak disalahartikan. Ya sudah, aku mau masuk ke kelas dulu.” Ujar Ahmad menutup pembicaraan di antara kami bertiga.

Bel pertanda jam pelajaran di sekolah telah usai berbunyi. Semua murid, termasuk aku berjalan ke luar pagar sekolah menuju rumah masing-masing. Hari ini, aku dan Novi memilih jalan memutar karena ingin mampir di pasar untuk membeli keperluan tugas sekolah. Aku berjalan pelan di samping Novi, masih memikirkan hal yang sama. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memilih mengikuti saran dari Nurul dan Ahmad. Meski masih mengambang, kupikir alasan mereka cukup rasional.

Sesampai di pasar kami langsung mencari bahan untuk tugas biologi besok. Tiba-tiba pandanganku teralihkan pada seorang bapak yang duduk sambil menunduk di sudut pasar, pakaiannya kotor, tangannya mengangkat sebuah mangkuk kecil pada setiap orang yang lewat di depannya.
“Nov, aku ke sana sebentar, ya” Ucapku pada Novi yang sedang bebicara pada pedagang buah.
“Iya, jangan lama-lama.” Sahutnya

Kemudian aku mengambil selembar uang sepuluh ribu, lalu pelan-pelan mendekati bapak pengemis itu. Setelah jarak kami cukup tertelan oleh langkah-langkahku, terdengar suara pengemis itu.
“Beri aku serupiah saja” ia berucap entah kepada siapa karena kepalanya terus saja menunduk. Lalu aku memasukkan uang sepuluh ribu yang sudah kusiapkan tadi ke dalam mangkuk kecilnya.
“Terima kasih” Ucapnya lalu menangkat kepalanya ketika mengetahui nominal yang mungkin dia rasa cukup banyak itu. Tapi, akulah yang paling terkejut ketika mengenali wajah lelaki paruh baya ini. Terlihat ia juga sangat terkejut melihatku.
“A.. ayah?” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku, sedang ia hanya dapat membisu.

Cerpen Karangan: Wita Eldalia
Facebook : Wita Eldalia
Ig : @weldalia
Id Line : @witael_
Kisah Yogi Si Kura Kura Ninja

Kisah Yogi Si Kura Kura Ninja

Judul Cerpen Kisah Yogi Si Kura Kura Ninja

“dor dor dor dor”, terdengar suara gedoran pintu kamarku.
“qo, cepetan bangun udah jam 6” teriak kakakku, Zahra.
“iya kak” teriak ku pada Zahra.

Aku bangun, dan bersiap untuk ke sekolah. Eh lupa, kenalin aku Daqo, aku anak smp yang bisa dibilang dandananku agak berantakan, baju di luar, sabuk gambar rasta, dan rambut yang seringnya gak aku sisir waktu ke sekolah, walaupun berantakan gini, aku ini orangnya smart loh, dan untungnya aku gak pernah dikasih marah sama guru, paling cuma teguran, aku duduk di bangku kelas 2, smp 2 banjarnegara, smp faforit di kotaku.

Zahra kakakku ini juga sekolah di smp yang sama, tepatnya di kelas 3, dia kakak di rumah dan di sekolah, setiap hari kami menuju sekolah bareng dan pulang juga bareng, gak aneh sih untuk kakak adik, tapi juga kadang kadang zahra pulang dianter temen sekelasnya, gosipnya sih mereka pacaran, aku sih gak percaya, masa kakakku yang cantik nan jelita tinggi putih dan bodynya yang aduhai pacaran sama THE MUTANT NINJA TURTLE alias kura-kura ninja sih, kalo misalkan iya.. aku tepuk tangan sambil kayang terus salto salto sampe sumur.

“daqo.” kakakku membuka percakapan waktu pulang sekolah.
“apa..” jawabku cuek sambil mainin gadgetku.
“menurut kamu si yogi cakep gak?”
“yogi si kura-kura t*nja?, eh maksudnya kura-kura ninja?” jawabku meledek zahra.
“serius kenapa, orang kakaknya lagi serius gini kok, malah ngeledek” dijawab dengan ngambek.
“iyaaa, ganteeng puas loh..” sambil nyodorin mukaku ke zahra.
“ihh, biasa aja kalii” tangannya mendorong mukaku.
“kamaren dia bilang ke kakak, kalo dia suka sama kakak”
“terus kakak jawab apa?”
“pikir-pikir dulu” aku lega sambil ngelus dada kakakku, eh, maksudnya dadaku sendiri karena jawaban kakakku pikir pikir dulu.
“kamu kok malah ngelus dada gitu sik, kamu seneng ya kalo kakak jomblo seumur hidup” kakakku marah cuman karena aku ngelus dada, gimana kalo ampe ngelus ngelus bulu kaki, terus disambung ngelus bulu ketiak, jadi martabak aku.
“bukanya gitu kak, aku cuman lega karena jawaban kakak pikir pikir dulu, emangnya kakak gak pernah mikir ya, kalo misalkan kakak jadian sama yogi, bahwa nanti adiknya yang tampan ini dibuly temen temen sekolahnya.”
“dibuly gimana maksud kamu” kakakku penasaran.
“dibuly kayak ginilah kak.. Eh daqo masa kakakmu mau sama kura kura t*nja sih, kakak kamu kan cantiknya minta ampun, emang kamu gak ngelarang kakak kamu ya, kalo aku sih ogah.” kakakku cuman ketawa cengengesan.
“bener juga sih, kakak kan cantik” sambil ngeluarin jurus centilnya yang waow Amit amit.

Setelah percakapan itu, kak yogi jadi sering bolos dan murung gak jelas, dalam hatiku ngehina kak yogi, “dasar drama king t*nja kura kura”. Uuuh, tapi kasian juga aku ngelianya, gak tega.
udah dicela eh malah kasian, gak jelas aku. hehehehe

Kayaknya zahra emang tolak dia deh, karena penasaran aku tanya ke zahra.

“kak, kakk tolak yogi ya?”
“iya emang kenapa?” jawab kaka.
“emang kakak gak kasian ama kak yogi, semenjak kakak tolak dia kak yogi berubah tau..”
“berubah kaya gimana?” tanya kakakku yang masih belum sadar akan keadaan kak yogi.
“berubah jadi kura kura ninja.. Emang kakak gak tau ya?”
“seriusss” kakakku memohon.
“kak yogi tuh berubah jadi tukang bolos tau kak, jadi pemurung lagi, jadi mendingan kakak jadian aja deh ..” kak zahra bingung.
“aduhh, kamu ngomongnya telat sih”
“telat gimana kak?”
“kakak udah pacaran sama haikal” aku terkagetkan dengan kata haikal, karena haikal orang paling tampan dan diidolakan sesekolahan.
“aduh gimana dong kak, aku takunya nanti, kak yogi bunuh diri di pohon kencur karena saking gilanya ka”
“kamu sih nyaranin kakak yang gak bermutu, jadi ada korban kan?” kakakku marah marah.
“iya deh ntar aku ngomong sama kak yogi” sepulang sekolah.

“kak yogi..” aku panggil dia yang ada di parkiran sekolah.
“eh kamu daqo, ada apa?” yogi penasaran.
“kak, apa kakak masih suka sama zahra?”
“udah nggak” ada pelangi di matanya, eh, kebohongan di matanya.
“jangan bohong kak, aku tau kakak masih suka, kalo kakak beneran masih suka sama kakakku, tembak aja lagi kak” seruku.
“tapi kan dia udah pacaran sama haikal, gak mungkin lah ia terima aku, belum pacaran sama haikal aja aku udah ditolak.”
“percaya deh kak, pokoknya besok kakak harus tembak zahra” aku pergi menignggalkan kak yogi.

Besoknya kak yogi beneran tembak kak zahra yang ternyata udah pacaran sama haikal..
Singkat cerita kakakku menolak yogi kembali, karena kakakku juga gak bisa ninggalin haikal gitu aja, kakakku bilang sama yogi.
“kamu harus tetep suka sama aku, percaya, kita akan berdua sama sama, dan aku gak mungkin sama haikal terus, aku janji” dengan kata itu kak yogi jadi punya semangat hidup lagi.. Sekarang kelas 3 berganti jadi kelasku, tepat pada hari kelulusan, kak zahra putusin si haikal yang ternyata playboy cap kaki tiga. dan janji kak zahra sama yogi pun terbayarkan, sekarang mereka sudah sama sama lagi.

The end
tunggu kisahku ya ..

Cerpen Karangan: Nova Daqo
Facebook: Nova Daqo
One Night Full Mistery (Gentayangan)

One Night Full Mistery (Gentayangan)

Judul Cerpen One Night Full Mistery (Gentayangan)

Suara rintik hujan masih Terdengar hingga pukul 23.45 malam, entah kenapa hujan kali ini tak kunjung reda, padahal sudah hampir delapan jam hujan mengguyur daerahku, memang hujan saat ini tidak lebat melainkan hanya rintik rintik, namun hal itu yang membuat aku takut, karena nenekku bilang kalau hujan rintik rintik di malam hari dan tak kunjung reda, itu bisa mengundang kuntilanak berkeliaran, rasa takutku mulai bertambah ketika tepat pukul 00.00 WIB listrik tiba-tiba mati.

Kulangkahkan kaki untuk mencari lilin di meja belajarku. Setelah kucari cari, akhirnya aku dapatkan satu batang lilin dan satu pack korek kayu. Kunyalakan lilin tersebut, kini kamarku tak lagi gelap gulita lagi, setidaknya ada sedikit penerangan di kamarku, yaitu lilin. aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur, aku mulai menarik selimut bergambar bola yang baru kubeli minggu lalu, kupejamkan mataku dengan perlahan, tiba tiba terdengar suara orang mengetuk jendela kamar, Kulangkahkan kami sambil membawa lilin di tangan kananku menuju pintu. kubuka pintu dengan perlahan, dan ternyata tak ada seorangpun yang berada di depan kamarku, lalu siapa yang mengetuk pintu tadi? apakah ibuku? atau ayahku? atau mungkin itu…
“Ahh, Sudahlah mungkin ini hanya halusinasiku” Ucapku saat itu, sambil kembali menutup pintu kamar, dan kembali untuk tidur.

Baru saja aku duduk di kasurku, Suara ketukan kembali Terdengar, namun saat ini bukan di kamarku, melainkan di dapur. sengaja aku tidak membukanya, karena mungkin itu hanya halusinasi, tetapi lama kelamaan ketukan tersebut semakin keras, hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun, karena merdengar suara ibu, ayah, kakak dan adikku di dapur aku segera menghampirinya.
“Ada apa? mah.. pah..?” tanyaku sambil mendekati ibuku, “ini Rey, tadi kami denger gak ada yang ketuk pintu dapur?” Jawab ibuku sambil bertanya balik, “ooh, itu tadi aku denger, tapi aku gak buka, soalnya aku kira ini cuma halusinasiku, tadi di kamar aku juga ada yang ketuk bu, tapi setelah Rey buka, nggak ada apa apa” jawabku, “Jadi, yang tadi ketuk siapa?” Tanya ayahku, “Mmmm, Gak tau..” Jawab kami semua, “ya sudah, kalau gitu kita kembali ke kamar masing-masing ya!” perintah ayahku.

Kami pun berjalan kembali menuju kamar masing masing, namun aku urungkan niatku untuk kembali ke kamar. aku berjalan menuju kamar kakakku, Rangga. “kak, Rey tidur sama kakak ya..?” aku memohon kepada kakakku untuk mengizinkan aku tidur bersamanya, “Lo, takut ya..?” Tanya kakakku sambil menggodaku, “Ee.. enggak kok” jawabku gugup, “Jujur, kalo gak Jujur gue keluarin lo dari sini!” Paksa kakakku menyuruhku Jujur kepadanya, “Hhmmm, iya deh aku takut” Ucapku malu, “nah gitu dong, Dasar penakut!” Ejek kakakku.

“Eh, Lo tau gak ray, korban tabrak lari di ujung jalan itu?” Tanya kakakku dengan gaya bicara menakut nakuti, “Ya, Kenapa?” jawabku cuek, “Katanya, arwahnya itu gentayangan Jadi kuntilanak terus jalan menelusuri gang kita, dan balik lagi, sesekali ia mengetuk pintu rumah warga, termasuk rumah kita” Ucapnya dengan nada menakut nakuti, “Masa sih, Gak percaya” Ucapku sambil menutupi ketakutanku, dalam hati Jujur saja aku berfikir bahwa yang tadi mengetuk pintu itu adalah hantu yang kakak maksud, tapi aku tidak berani bicara langsung karena mungkin nanti kakakku bisa saja menakut nakutiku.

Tiba tiba “Tuk… Tuk.. Tuk..” Suara pintu di ketuk Terdengar, aku melihat wajah kakakku menjadi seperti orang ketakutan ditambah kakakku mulai menarik selimutnya, “haaahh, kakak takut yaa?” tanyaku, “Gak, Kakak cuma dingin” Jawabnya bohong, “Masa..?” tanyaku kembali, “eng..” Ucapan kakakku terpotong, “Teng, Teng, Teng..” Suara kaca jendela kamar kakak diketuk seseorang. kami semua panik dan takut “hiks.. hiks.. hiks.. Tolong.. Tolong..” Suara tangisan cewek di balik jendela kamarku, “kak itu siapa?” Bisikku, “mana gue tau” Jawabnya, “jangan jangan…” Ucapku, “Eh, lo intip aja siapa yang lagi nangis” perintah kakakku, “Hah!!, A..A..aku, kak kakak tau dong adik kakak penakut, jadi gak mungkin aku intip sendiri, kalo sama kakak pasti mau” Ucapku, “ya udah, sama kakak” Ucapnya, kami berdua berusaha membuka sedikiiit bagian gorden untuk mengintip siapa yang menangis, Gorden perlahan aku buka, dan ternyata itu adalah kuntilanak dengan satu mata, entah kemana mata yang satu lagi, “Hahhh” teriak kami kaget dan segera berlari menuju kamar mama dan papa.

“Adduuhh, apaan sih kalian?” Tanya ibuku, “ini ma, tadi kami lihat, cewek nangis, matanya hilang satu!!” jelas kakakku, “Masa sih?” Ucap papa tak percaya, tiba tiba jendela kamar mama dan papa pun di ketuk seseorang, setelah dilihat ternyata itu adalah cewek atau kuntilanak yang sama, kami semua berlari menuju kamar kakak, malam itu aku habiskan dengan ketakutan.

Keesokan harinya, Para warga geger dan resah dengan adanya hantu kuntilanak bermata satu, “Pak bagaimana ini pak!” ucap bu juleha, “Mmm, Bagaimana kalau kita panggil orang pintar” ucap pak RT, “betul itu betul!!” ucap semua warga. Pada malam harinya kami berkumpul di ujung gang yang biasanya warga banyak melihat penampakan kuntilanak, sang dukun datang dan memulai ritual, mulut sang dukun komat kamit baca mantra, Tiba tiba hadir kuntilanak bermata satu di hadapan kami, “hah” Para warga panik dan berusaha lari, tapi pak RT menyuruh kami untuk tenang “Tenang…” teriak Pria Separuh baya itu, Para Warga itu mulai tenang, “Krik.. Krik.. Krik..” Suara jangkrik Terdengar, Dan kuntilanak yang berada di hadapan kami mulai berbicara, “Jangan Takut, Aku hanya ingin meminta tolong kepada kalian, aku cuma ingin Tolong carikan mataku yang hilang!” Ucapnya, Perlahan Kuntilanak tersebut menghilang, setelah itu kami semua mencari mata sang kuntilanak yang hilang, setelah ketemu Pak RT mengembalikan mata tersebut di kuburan warga yang kecelakanan di ujung gang, Selepas kejadian itu, Warga menjadi tenang karena tidak ada lagi teror kuntilanak gentayangan.

“Rey, untung ya setanya udah ngilang, Kalo gak kakak gak berani pergi keluar rumah malem malem gini” Ucap kakakku, “kata siapa setannya udah gak ada?” Ucapku, “Hah?!” Sepertinya kakakku kebingungan, “Ituuuhhh…” ucapku sambil menunjukan selimut warga yang dicuci, “Aaaaaa….” Kakakku berteriak sambil berlari, “Hahahhahah” Tawaku puas.

Cerpen Karangan: Rifal Zainal
Facebook: Rifall Jr.