Showing posts with label Cerpen Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Nasihat. Show all posts
Dari Culun ke Ganteng

Dari Culun ke Ganteng

Judul Cerpen Dari Culun ke Ganteng

Hendry namanya. Anak kedua dari 2 bersaudara. Kakaknya Herlina atau disapa Herli. Hendry kelas 4-1 SDIT Cahaya Islami. Ia Hendry anak yang selalu juara 1 setiap kelas dan semester. Hendry memang multitalenta. Ia anaknya culun/cupu. Bagaimana tak, memakai kawat gigi, kacamata super teebaaal sekali. Tetapi tak membuat dia dijauhi teman maupun guru. Tapi, ya ada tapi, ada anak yang suka mengejek Hendry bahwa ia cupu. Ia Mr. Handsome, Josh, teman sekelas Hendry. Bagaimana tak mendapat gelar Mr. Handsome? ia disukai semua cewek di sekolah itu, tapi Josh orangnya sombong. Hendry mempunyai 5 sahabat, yaitu ada Summer (baca: samer) yang centil tapi dikenal dengan anak orang kaya yang dermawan, Gadisy yang sedikit tomboy namun jago dalam segala bidang yang berbahasa Inggris, Navita yang suka memecahkan misteri (memang cita-citanya detektif) namun selalu juara 2, Ivon (baca: Ayfon) yang sering menjahili temannya namun pintar dalam hal teka-teki, dan Toby yang pintar membuat alat namun agak pendiam. Mereka mau bersahabat dengan Hendry dikarenakan 2 faktor, pertama orangtua mereka bersahabat, kedua mereka menyukai Hendry karena ia orangnya sangat multitalent kecuali cupu.

Pada suatu hari, kebetulan ini hari sabtu. Pagi hari, pukul 5:30 WIB…
Usai sarapan, Hendry pamit pada Mami dan Papinya untuk berangkat ke sekolah. Sama juga dengan Herli yang masih kelas 1 SMPIT. Mereka diantar oleh sopir pribadi keluarga Irwansyah, pak Yo. Memang keluarga Hendry bermarga Irwansyah. Pertama, ia ke sekolahan Hendry. Tak lama, sampai di SDIT Hendry. Hendry pamit ke pak Yo dan Herli. Ia turun dari mobil. Ternyata Summer, Navita, Ivon, Gadisy dan Toby di gerbang. “Hai! maaf lama,” sapa Hendry. “Enggak lama, kok Ndry!” sahut Summer dengan gaya centilnya. Mereka masuk kelas. Tiba-tiba, Josh bersama 2 dayang ceweknya, Terissa dan Syntia menghampiri rombongan Hendry. “Hoy! Mr. cupu! gue tantang loe ikut kontes fashion show Cewek dan Cowok! Kita taruhan saja, kalau loe menang, gue beri gelar gue ke Loe! kalau gue menang, loe and friend loe harus tunduk ke gue dan dayang gue!” jelas Josh. “Terima nggak loe Mr. cupu!?” tantang balik Terissa dan Syntia. “Ok!! deal,” ujar mantap Hendry. “Tapi di mana? jam berapa?” tanya Navita sinis ke Josh. “Di mall Happy Shopping, jam sembilan pagi!” jawab Josh lalu berjalan menghindari Hendry.

“Yakin kamu, Ndry ikutan begitu?!” ucap Ivon penuh tanya. “Iya Ndry! yakin kamu?” timpal Gadisy. “Aku nggak yakin,” ujar Hendry. “Tak apa! ini kita semua yang urus! nanti kita nginap ke rumahmu, ya… Kan, orangtua kita keluar kota 3 hari!” celetuk Summer. Memang orangtua mereka kerja di tempat sama.

Setelah mengambil keperluan di rumah, mereka menuju rumah Hendry. Rumahnya kosong karena Herli menginap di rumah temannya untuk pajamas party. Mereka pun ke Mall Happy Shopping untuk membeli baju dan lain lain. Ia mempersiapkan dengan matang. Summer yang jago dalam hal Fashion merencanakan semuanya. Hari makin larut. Mereka putuskan untuk tidur.

Kring… Kring… Kring… Jam weker Hendry berbunyi saat Azan subuh. Mereka bangun, merapikan kasur, wudhu, dan sholat. Mereka mandi secara giliran. “Wah, kamu malah ganteng dari Josh!” puji Ivon. “Iya, kamu malah sangat ganteng!!” puji tulus Navita. “Tapi, kacamatanya, gimana?” keluh Hendry. “Kami pakaikan cont lens coklat!” jawab Summer. Lalu memakaikannya di mata Hendry. “Ya Allah!! kamu lebih dari cakep!” puji Navita lagi. “Ini berkat Summer. Thanks Mer!” Ucap Hendry. “Your, Welcome,” jawab Summer. Summer juga berdandan dan mengenakan gaun lengan panjang dan jilbab cantik sekali plus olesan make up natural di wajahnya. Katanya, Summer mau ikutan. Teman lainnya hanya menyemangati mereka.

Sudah pukul setengah sembilan. Mereka diantar oleh pak Yo. Sampailah mereka. Mereka menuju ruangnya. Summer dam Hendry memdaftar dulu. “Nama saya Muhammad Hendry Putra Irwansyah. Kelas 4-1 SDIT cahaya Islami. Umur sepuluh tahun,” kata Hendry pada mbak Neny, selaku mendaftar calon-calon fashion show. “Saya Putry Summer Gracecie Hista, kelas 4-1 SDIT cahaya Islami. Umur sepuluh tahun,” kata Summer. Mereka duduk di kursi peserta Fashion show. Yang pertama perempuan dulu. Summer menampilkan gayanya yang khas, yaitu centilnya. Ia terbiasa ikut lomba tersebut dan memakai High heels. Lalu yang cowok. Hendry menampilkan gayanya yang cool. Memang ia diajari Summer.

Tak terasa, tiga puluh menit lagi pengumuman pemenang. Rombongan Hendry makan di Kenthuki Chikens Delicius yang tak jauh dari tempat lomba Fashion show. “Gaya kalian tadi sungguh bagus,” celetuk Ivon seraya menyuapkan nasi dengan ayam goreng kemulutnya. “Bener kata Ivon, Ndry, Mer!” timpal Gadisy. “Memang!” seru Navita. “Memang kenapa, Nav?” tanya Summer dan Hendry kompak. “Memang Summer miss Fashion show!” jawab Navita. “Bener itu Navit!” timpal Gadisy seraya meminum susu dinginnya.

Usai makan, mereka bayar dan menuju ruang lomba. “Ok! terima kasih telah masih menunggu disini!Ok pengumuman juara lomba dari 1-3 yang cewek dulu, ya… Juara 3 diraih oleh Erlinda Zalzabilla atau Erli kelas 3-3 Sd Permai III… Juara 2 diraih oleh, Indah Savitria Agustina atau Indah kelas 5A Sd Berlian bangsa… Dan, juara satu diraih oleh… PUTRY SUMMER GRACECIE HISTA ATAU SUMMER KELAS 4-1 SDIT CAHAYA ISLAMI!!!” seru Mcnya. Summer senang sekali. Ia maju dan diberi hadiah berupa uang 5 juta, alat tulis gambar Frozen, penghargaan, piala, dan mahkota yang diletakkan di kepala Summer yang tertutupi jilbab.

“Sekarang yang cowok. Juara 3 diraih oleh Naufaldy Agus atau Faldy kelas 6-7 SDIT Permata Islami… Juara 2 diarih oleh, Ahmad Abdullah atau Ahmad kelas 6 Sd Pita Nusa… Dan, juara 1 diraih oleh, Joshuanto Bagustian atau Josh kelas 4-1 SDIT Cahaya Islami!!!” seru Mc. Sebelum Josh maju dengan sombong di depan Hendry, “Maaf, saya keliru! Juara 1 diraih oleh Muhammad Hendry Putra Irwansyah atau Hendry kelas 4-1 Cahaya Islamia!!” ralat Mc. “Maju, Ndry!!! Maju Ndry!!” seru temannya. Hendry maju dan diberi hadiah sama dengan Summer cuma alat tulisnya gambar Spider man.

Sejak saat mengikuti lomba tersebut, Hendry mendapat gelar Mr. Handsome and Smart dan Summer Miss. Fashion Show. Siapa yang menjadi Mr. cupu sekarang, tentunya JOSH!!! Hahaha… Kesian, Josh. Nah, pelajarannya, jangan pernah mengejek dia dari penampilannya walau cupu. Bisa saja ia setelah didandan terlihat lebih cantik atau ganteng. Dan, kalian juga harus berteman dengan orang cupu. Siapa tahu dia pintar, tinggal nyontek aja.. Haha… Nah, bagi yang cupu, jangan pernah marah yang ngejek kalian cupu. Kan, setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan. Sebaik-baiknya orang pasti mempunyai kejelekan. Dan sejelek-jeleknya orang pasti mempunyai kebaikan. So, contohlah teman Hendry, ya…

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza
Cerita yang Menyeramkan

Cerita yang Menyeramkan

Judul Cerpen Cerita yang Menyeramkan

Setiap orang punya hak untuk percaya bukan? Aku harap kau juga percaya dengan kisah yang akan aku sampaikan ini. Tentu sebelum kisah ini kuceritakan kau harus tahu darimana kisah ini berasal. Aku dapat kan kisah ini dari ayahku dan ayahku dapat dari ayahnya dan begitu seterusnya. Namun aku tak berniat membuat kau takut akan kisahku ini. Aku dulu juga takut pada kisah ini, saat itu aku masih anak-anak, apa aku salah jika aku takut?.

Dulu ayahku pernah bercerita, dunia tempat tinggal kita ini akan hancur. Sudahlah kau boleh menganggap cerita ini hanya bualan semata, tapi berbeda denganku yang saat itu masih anak-anak. Kau pasti bisa memahami diriku bukan. Bolehkah aku mengisahkan hal ini pada kau? Aku anggap kau setuju, setidaknya kau dapat sebuah amanat dari bualan orang tua yang turun temurun dikisahkan.

Langit yang biasa kau pandang, indah bukan? Sungguh sangat indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Berhiaskan bintang-bintang yang bersinar, sungguh elok ciptaan Tuhan. Banyak lagu yang diciptakan hanya untuk menyanjung Langit bukan? Tapi hal yang tak pernah terpikirkan olehku dan juga oleh manusia lainnya mengapa kita menyanjung ciptaan Tuhan dan bukan Tuhan Yang Maha Pencipta?

Kau tahu, jika kau saja yang melihat Langit yang mulai tua saja tersanjung, bagaimana rasanya kau menjadi si Bumi tua bangka yang hanya dapat melihatnya tanpa pernah bisa memilikinya? Kau tak perlu tertawa dengan apa yang barusan aku katakan, bayangkan saja dirimu sebagai bumi, kau diciptakan untuk berdampingan dengan Langit, namun kau tak bisa memilikinya, apa kau sekuat si Bumi tua bangka?

Mungkin kau kira ini hanya dongeng yang tak masuk akal. Tapi bagi anak berumur tujuh tahun, ini bisa jadi sebuah imajinasi yang bahkan bisa membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tentu saja, bagi anak yang memiliki imajinasi dimana ia berpikir bahwa si Bumi tua bangka sedang jatuh cinta pada Langit yang elok.

Terkadang hidup aneh bukan? Kau bisa melihat banyak orang melupakan hak, kewajiban dan tanggung jawabnya. Ketika hasrat yang sudah ada di dalam otakmu, kau akan melakukan segala cara untuk memenuhi hasrat tersebut bukan? Begitu juga dengan si Bumi tua bangka tersebut, ia terpesona akan Langit yang elok, dan ia ingin memilikinya. Apa si Tua bangka itu salah? Aku harap kau bisa memahaminya.

Mungkin di dalam otakmu, kau menganggap bumi itu benda mati bukan? Baiklah aku juga menyadari cerita ini hanya bualan ketika usiaku beranjak dewasa, bodohnya aku bukan? Bisa menganggap bahwa si Bumi tua bangka bisa jatuh hati pada Langit yang elok. Jangan salahkan aku, tapi salahkan pengarang dongeng bodoh ini. Aku hanya ingin menceritakannya supaya kau dapat mendapat amanat dari dongeng ini, apa aku salah?.

Si Bumi tua bangka dan Langit yang elok memang ditakdirkan selalu berdampingan tak pernah bisa bersatu, tapi apakah salah jika makhluk melewati batasannya? Aku harap kau bukan agamawan yang mengaitkan teori agama dengan dongeng ini. Ingat ini hanya dongeng pengantar tidur yang membawa mimpi buruk.

Tua bangka itu, atau tepatnya si Bumi bodoh itu. Ia tak pernah sadar akan posisinya. Ia tak pernah berterima kasih pada Tuhan yang menciptakannya, ia malah memilih melebihi batas, bukankah sesuatu yang melebihi batas itu tak baik? Ya itulah yang terjadi, ketika si Bumi tua bangka mendekati langit yang terjadi hanya kekacauan di dalam dirinya.
Karena itu Tuhan Yang Maha Kuasa menakdirkan bahwa Bumi hanya bisa berdampingan dengan Langit, tak pernah bisa berdampingan. Sungguh tragis bukan nasib si Bumi tua bangka kita?

Kau boleh berharap Langit yang elok ibarat perempuan yang angkuh yang hanya memamerkan keindahan pada si Bumi yang ibarat pemuda dari kalangan bawah, dan menolak mentah-mentah keinginan si Bumi. Namun kau salah, Langit yang elok ibarat sosok putri kerajaan yang anggun dan baik hati, dimana sang raja adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sungguh sebuah pengibaratan yang sangat pas sekali bukan?

Kau tahu ketika si Bumi melewati batasannya dan Tuhan tahu, tentu Dia tahu karena Dia Yang Maha Tahu. Maka ketika Tuhan sudah berkehendak maka itulah yang akan terjadi. Bukankah aku sudah bilang bahwa Bumi dan Langit itu berdampingan namun tidak akan pernah saling memiliki?

Karena itulah terciptalah sebuah satir yang membatasi pandangan Bumi dan Langit, atau yang biasa kalian kenal dengan awan itu. Cukup tragis bukan? Pada saat usiaku tujuh tahun aku takut karena kuanggap kehidupan akan berakhir karena Bumi dan Langit bersatu saat itu, namun aku salah karena sesuatu yang melewati batasan tidak akan pernah terjadi jika yang kau lawan adalah takdir Tuhan.

Karena itulah aku mengisahkan ini pada kalian agar suatu saat kalian paham, atau bahkan setelah membaca kisah ini kalian mengerti bahwa sesuatu sudah ada kodratnya, dan sesuatu yang melewati batasan itu tidak baik. Cukup menyeramkan bukan?

Cerpen Karangan: Nadhif Wardiansyah
Maafkan Aku Ibu

Maafkan Aku Ibu

Judul Cerpen Maafkan Aku Ibu

“Bu, lihat Sifa dapat juara 1 lagi di kelas!” kata Sifa sambil menyodorkan rapor di tangannya. Sifa memang seorang anak SD yang pandai, sudah 3 tahun dia selalu mendapat peringkat 1, meskipun dia dilahirkan dari keluarga tidak mampu tapi dia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, apalagi sejak ayahnya meninggal dunia, dia hanya tinggal bersama ibunya.
“Alhamdulillah, Ibu bangga punya anak seperti kamu, kamu anak yang baik dan juga pintar, semoga kelak kamu bisa merubah hidup kita ya nak?” kata Ibu Ani sambil memeluk Sifa yang tanpa disadari air matanya menetes.
“Ibu kenapa menangis, maaf ya bu kalau Sifa buat Ibu sedih, Bu, Sifa janji kalau Sifa sudah besar Sifa akan jadi anak yang berbakti sama Ibu” kata Sifa mengusap air mata Ibu Ani.
“Sifa, kalau Ayah kamu masih hidup mungkin dia akan sangat senang melihat kamu seperti sekarang ini, tapi..!”
“Ibu, Ayah sudah tenang di alam sana, jangan membuat Ayah sedih lagi?” jawab Sifa memotong pembicaraan Ibu.
“Iya nak, sekarang kamu mau hadiah apa dari Ibu nak?” Tanya Bu Ani.
“Sifa nggak mau apa apa Bu, Sifa hanya mau Ibu bahagia.”
“Terimakasih nak?”

7 tahun kemudian
“Bu! Minta uang buat beli kado dan juga buat beli baju baru aku.”
“Nak, Ibu nggak punya uang, kemarin kan kamu sudah beli sepatu dan tas baru?” kata Ibu Ani.
“Itu kan sepatu sama tas, sekarang baju Bu! Baju aku udah jelek semua, aku malu sama teman teman, sekarang ini aku udah SMA apalagi aku sekolah di sekolahan elit, itu juga karena aku dapat beasiswa, jadi aku berhak donk bu, mendapatkan apa yang aku mau.” kata Sifa.
“Ini nak, Ibu Cuma punya uang 20.000, tapi ini buat kita makan nanti” kata Ibu Ani memelas.
“20.000 Bu, buat beli baju bekas aja nggak cukup, kapan sih Ibu punya uang, setiap kali Sifa minta uang selalu saja Ibu bilang nggak punya, kapan Ibu bisa nurutin kemauan Sifa, kapan Bu!” Bentak Sifa. Ibu Ani hanya bisa diam sambil meneteskan air mata. Sifa lalu melihat cincin yang dipakai Ibu Ani.
“Aku mau cincin Ibu!” kata Ani ingin merebut cincin yang dipakai Ibu Ani.
“Jangan nak, ini peninggalan dari Ayah kamu, ini satu satunya benda yang Ibu punya nak.”
“Alah, Sifa nggak mau tau, pokoknya Sifa harus bisa dapetin semua yang Sifa mau!”
“Jangan nak, jangan!”. Setelah saling berebut, akhirnya Sifa bisa merebut cincin Ibu Ani, Ibu ani sempat terjatuh ketika mempertahankan cincin peninggalan suaminya itu. Tapi Sifa malah meninggalkan Ibu Ani yang sedang terbujur di lantai.

“Hai guys, lihat baju baru aku, ini bokap gue yang beli dari prancis lo, gimana bagus nggak?” pamer Sifa saat sampai di rumah Dina.
“Wah, beneran bagus banget, kapan kapan aku boleh donk dibeliin dari Prancis?” pinta Dina yang saat itu sudah berdandan layaknya berbie.
“Tentu donk, semua pasti gue beliin” jawab Sifa.
“Oke, btw rumah kamu tuh dimana sih, kita kok nggak pernah tau rumah kamu?” kata Risa
“Iya, kita nggak pernah tuh kamu ajakin ke rumah?”
“ehmm, soalnya nyokap gue orangnya galak, gue nggak berani ajak kalian semua, takutnya ntar kamu semua diusir lagi!” jawab Sifa agak gugup.
“Oh, ya udah ayo guys sekarang kita berpesta!” seru Dina.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00
“Sifa, kamu kemana nak jam segini belum pulang?” batin Ibu Ani cemas.
“Tok tok” Terdengar suara pintu diketuk.
“Ani, kamu kemana aja nak, jam segini baru pulang?” kata Ibu Ani memeluk Sifa.
“Pesta di rumah teman!”
“Pesta sampai larut malam begini?”
“Iya, sudah lah aku ngantuk mau tidur.” jawab Sifa menuju kamar. Ibu Ani hanya menghela nafas kemudian hendak mengikuti Sifa menuju tempat tidur.

Keesokan harinya
“Nak bangun, Ibu sudah buatkan nasi goreng kesukaan kamu” kata Ibu Ani membangunkan Sifa.
“Apa sih buk, Sifa masih ngantuk!” bentak Sifa.
“Sudah siang nak, ayo bangun!”
“Iya iya Sifa bangun!”
“Ini nasi gorengnya, sudah Ibu bawakan” kata Ibu Ani yang sudah membawakan nasi goreng di depan kamar Sifa.
“ya!” jawab Sifa langsung makan nasi goreng itu.”
“Nak, cincin Ibu kemarin kamu bawa kemana?” Tanya Ibu Ani.
“Sudah Sifa jual!” kata Sifa acuh
“Lalu uangnya dimana?”
“Sudah habis, Sifa beliin baju.”
“Apa, nak itu buat bayar hutang kita, sekarang kita mau bayar pakai apa?”
“Terserah Ibuk donk, itu bukan urusan Sifa” kata Sifa kemudian pergi meninggalkan Ibu Ani yang sedang menangis.

“Sifa, besuk bukannya ulang tahun kamu ya?” kata Reni saat Disekolah.
“Oh iya, aku sampai lupa.”
“berarti ulang tahun kamu nggak dirayain donk.”
“ya dirayain lah, malah kata bokap dirayain di hotel berbintang!”
“Oh, kamu nggak ngundang kita?”
“ehmm, sory ya guys bukannya gue nggak mau ngundang kalian, tapi kata bokap yang diundang Cuma kerabat gue aja, maaf ya?”
“yaelah, kok gitu, ngak papa deh tapi nanti bawain jajan ya, hehe”
“iya deh!”

“Bu, aku minta duit buat jajanin teman teman”
“Ibu nggak ada duit nak”
“Bu, tadi di sekolah Sifa diledekin teman teman, besuk Sifa itu ulang tahun dan semua teman Sifa nanya kenapa nggak dirayain, Sifa malu Bu, malu!”
“tapi Ibu beneran nak, nggak ada uang sepeserpun!”
“selalu itu itu aja yang ada di pikiran ibuk, usaha donk buk, cari uang.”
“Ibu sudah mencari uang nak.”
“cari uang, jualan kue Ibu bilang cari uang, itu masih belum cukup buk, Sifa nyesel jadi orang miskin kayak ibuk.” bentak Sifa.
“Ya Allah, ampunilah segala kelakuan Sifa terhadap hambamu ini, tabahkanlah hamba menjalani cobaan ini, dan berikan Hidayah kepada SIifa anak hamba ya Allah.” do’a Ibu Ani dalam hati.
“Nak, Ibu mau ke pasar kamu jaga rumah ya?” kata Ibu Ani kemudian, tapi Sifa tidak merespon perkataan bu Ani, Ibu Ani kemudian langsung pergi.

Tinnnnn, Brukkkk
“Apa benar ini Rumahnya Ibu Ani?” Tanya seorang polisi yang mendatangi rumah Sifa.
“Iya benar, memang ada apa ya pak?” Tanya Sifa.
“Ibu anda mengalami keclakaan saat hendak pulang dari pasar.” kata Polisi yang membuat jantung Sifa berdetak kencang.
“Apa pak, lalu Ibu sekarang dimana?” Tanya Sifa cemas.
“Ada di rumah sakit Bayangkara.” Setelah mebndengar itu, sifa langsung berlari menuju rumah sakit. Setelah sampai di rmah sakit Sifa langsung melihat Ibunya yang sedang ditangani oleh dokter.
“Dok, gimana keadaan ibu saya?” tanya Sifa.
“Ibu anda mengalami gagar otak, mungkin…” Kata Dokter tidak meneruskan pembicaraan
Sifa langsung masuk ke ruang UGD dimana Ibunya sedang terbaring dengan muka pucat dan banyak darah di sekujur tubuhnya. Sifa kemudian terduduk di lantai, dia merasa tulang tulangnya sudah tidak berfungsi lagi, dia lemas kemudian pingsan.

“Ibu!” teriak Sifa yang sudah terbangun dari pingsannya.
“Kamu sudah sadar nak?” kata seseorang yang masuk dari sebuah pintu.
Sifa baru menyadari kalau ternyata ini bukan rumahnya, tapi ini adalah rumah sakit, dan yang baru saja masuk itu adalah dokter yang merawat Ibunnya.
“Dokter, Sifa kenapa disini?” Tanya Sifa heran.
“kamu pingsan tadi” jawab Dokter itu.
“Ibu dimana dok, ibu dimana?” Tanya sifa teringat ibunya.
“Ayo, ikut Dokter?” Lalu Sifa mengikuti Dokter itu menuju kamar rawat pasien. Entah kenapa perasaan Sifa saat itu sangat mencemaskan Ibunya. Sifa melihat seseorang sudah ditutup kain penutup jenazah sedang berbaring di tempat dimana Ibunya berbaring sebelum kemudian dia pingsan.
“Dok, itu siapa? Bukannya ini kamar Ibuk saya?” Tanya Sifa mengharap penjelasan.
“Coba kamu buka kain penutup ini?” Kata suster yang tiba tiba ekspresi mukannya menjadi sedih. Sifa kemudian membuka pelan pelan kain itu, dan betapa terkejutnya ternyata itu adalah Ibunya.
“Ibu, jangan tinggalin Sifa bu, Ibu!” teriak Sifa.
“Tenang Sifa, kamu harus sabar!” kata Suster menenangkan.
“Ini hanya mimpi kan sus, ini mimpi buruk, iya kan!” kata Sifa nggak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Sifa saat kamu pingsan Ibu kamu sempat kritis, lalu dia bangun sesaat untuk menitipkan ini ke kamu!” kata suster menyodorkan bingkisan seperti kado.
“Ini apa sus?”
“Itu pemberian Ibu kamu sebelum menghebuskan nafas terakhirnya, dia juga berpesan agar kamu bisa menjaga diri baik baik!” kata suster dengan nada sedih.
“Ibu! maafin Sifa bu!”.

Setelah jenazah Ibu Sifa dimakamkan, Sifa langsung tertunduk di makam Ibunya, dia tidak mau pulang, dia terus saja menyesali perbuataanya dan dia juga menyesal belum sempat minta maaf kepada Ibunnya. Setelah dibujuk oleh suster yang ternyata teman Ibunnya sendiri, dia akhirnya mau pulang. Saat tiba di rumah, ada seorang mengantar nasi kuning duduk di kursi depan.
“Ada apa ya pak?” Tanya bu Evi.
“Ini saya antarkan nasi kuning buat mbak Sifa dari Ibunya. Kata Ibunya anak kesayangannya lagi ulang tahun.”
“Ibu!” Batin Sifa dan langsung mengambil nasi kuning itu, lalu dia membuka kado pemberian Ibunnya tadi, betapa terkejutnya Sifa melihat kado yang ada di tangannya itu berisi sepatu yang selalu diidam-idamkan Sifa saat masuk SMP dan belum mampu membelinya sampai sekarang, dibawahnya juga ada beberapa foto kusam dan sebuah surat. Sifa membuka Surat itu pelan pelan.

Buat anakku tersayang
Selamat ulang tahun anakku.
Nak, semoga kamu suka dengan hadiah ibu, dan semoga kamu juga suka dengan nasi kuning pesanan ibu, ibu menyiapkan semua ini untuk kamu, Ibu mencari tambahan uang seperti yang kamu minta dulu, Ibu bekerja sampingan sebagai pembantu dan juga buruh cuci, untuk bisa membelikanmu hadiah ini.
Nak, satu pertanyaan kamu dulu yang belum sempat Ibu jawab “Siapa orang yang mendonorkan ginjalnya untuk kamu waktu kamu sakit saat kecil dulu.” itu Ibu, maaf jika Ibu menyembunyikan ini, Ibu tidak mau kamu cemas. Ibu jadi teringat janji kamu dulu sewaktu masih SD, tapi Ibu sudah cukup bahagia dengan adanya kamu di samping Ibu, maaf ya nak Ibu belum sempat jadi Ibu yang baik buat kamu, tapi Ibu mohon sama kamu, tolong tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki. Itu saja pesan Ibu nak jangan sekali kali meninggalkan sholat 5 waktu, dan terus do’a kan ibu ya nak. Ibu sayang Sifa.

“Ibu! Maafkan aku, aku belum sempat menjadi anak yang berbakti sama Ibu, aku selalu menyusahkan Ibu, aku menyesal Bu” kata Sifa lirih dan terus meneteskan air mata.

Pesan moral: Ibu adalah seorang yang sudah merawat kita, melahirkan kita, dan rela berkorban demi kita, maka jangan sekali kali kamu mengecewakan Ibu kamu, bahagiakan dia sebelum terlambat, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.

Cerpen Karangan: Novita Layla
Facebook: Novitha Layla
Terjebak Cinta Yang Salah

Terjebak Cinta Yang Salah

Judul Cerpen Terjebak Cinta Yang Salah

Cinta itu kadang seperti coffee yang hangat jika dinikmati, tapi kadang pahit jika terlalu lama dirasakan. Cinta itu tak pernah salah dan tak pernah membuatmu sakit hati, mngkin belum tepat untuk mendapatkannya.
“Alifa!!!? Cepat bangun sudah siang gini belum bangun, cepat sana bersihkan taman depan jangan molor saja.. Allifa!” teriak sang Ibu. Allifa yang tidur pulas langsung terbangun saat mendengar seruan sang Ibu, lalu bergegas menuju taman depan tanpa menjawab seruan Ibunya. Baru dapat setengah bagian ponselnya pun dikeluarkan dari balik sakunya. ya… biasalah kebiasaan buruk muncul kembali kemana mana selalu bbman. Walaupun hp sepi tetap saja asyik mainnya. Dibukanya bbm lalu ia membuka sebuah Broadcast dari seseorang tak dikenal, ya biasalah alifa selalu sok care sama semua orang tanpa berpikir panjang ia pun mengomentari Broadcastan itu.
“free chat!!”
“kenapa free chat? Free Delete aja ya?” balas allifa
“eeee… jangan tho.” dan akhirnya si tukang Broadcast itu pun memperkenalkan diri dan mengajak berkenalan lah yang pasti. Alifa pun menanggapinya dengan santai itung-itung buat temen bbm kasian galau mulu gara-gara kelaman ngejomblo.

Waktu itu liburan sekolah yang panjang. Alifa selalu bangun telat dan mengerjakan tugas harian nyapu, dan nyuci setelah itu langsur masuk kamar berjam jam di depan hp biasalah bbman sama tukang Broadcast anggap saja namanya Gama, saat ini dibilang deket sama alifa memang deket banget sampai stalking terus di bbm. Sungguh terlalu ya semakin lama dekat semakin lama lengket.

Liburan pun telah usai alifa harus balik ke tempat ia bersekolah, inilah hari yang ditunggu tunggu alifa untuk dapat bertemu Gama si tukang Broadcast. Baru saja sampai kost, sudah pergi ke luar bertemu dengan Gama. Pertemuan pertama mereka tepatnya di tempat ngopi GJ. alifa hanya senyum-senyum saat Gama mengajaknya ngobrol. Jam pun menunjukkan pukul 20.30 WIB. gama pun bergegas pergi mengantar alifa pulang karena takut kalau Alifa dimarahi ibu kostnya.

Sampai di kostnya Alifa pun tertidur pulas, di tengah malam saat tidur ia bermimpi naik sepeda kayuh dengan seorang pangeran berseragam sekolah. Wah kenyataan yang terbawa mimpi. Hari hari pun telah berlalu, malam ini Alifa dan Gama akan ke luar bersama temannya yang akan dicomblangkan. Yah tak salah lagi mereka berempat ketemuan bareng di kedai coffee.

Selang beberapa menit Gama mengajak alifa pergi ke suatu tempat, ia akan membicirakan sesuatu yang penting. Ternyata di malam itu tepat tanggal 10 Januari 2016 Gama menyatakan cintanya kepada Alifa. Sampai di kost hati alifa berbunga-bunga bak terbang ke langit. Hari selanjutnya mereka pergi berempat lagi bersama ke suatu tempat. Temannya Gama dan Alifa akhirnya pun jadian tepat pada tanggal 11 Januari 2016. Tapi ditengah perbincangan Alifa dan Gama ada pertengkaran di antara mereka. Pertengkaran itu dimulai karena seorang cewek yang menghubungi Gama lewat BBM dengan kata-kata sayang membuat Alifa curiga. Tapi Gama beralasan kalau itu sang mantan yang masih menghubungi dan mengharapkannya. dan membuat Alifa tenang seperti sedia kala.

Hari demi hari pun berlalu mereka pacaran hampir satu bulan lebih. Malam itu Alifa mimpi buruk bahwa ia ketemu pacarnya bersama cewek lain tengah mesra-mesraan di hadapannya, kemudian Alifa menghampiri mereka.
“siapa dia?” Tanya cewek itu pada Gama
“Oh itu temenku yang.” Jawab Gama
Mendengar kata-kata itu Allifa pun pergi meninggalkan mereka dan akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Alhamdulillah hanya mimpi.” Batin Alifa

Sampai di sekolah ia pun bercerita kepada temannya yang bernama Dyah agar mendapat solusi apakah arti mimpinya semalam.
“Dyah aku mau tanya sama kamu. Tadi malam aku mimpi buruk kalau Gama keluar sama cewek lain dan mengatakan kepada cewek itu kalau aku hanya temannya.” Tanya Alifa.
“Udah jangan berfikir negative biasanya itu tandanya kamu bakal langgeng sama dia.” Jawab Dyah
Mendengar perkataan Dyah hati Alifa pun terasa tenang. Tapi dia masih bertanya-tanya dan tak puas akan jawaban Dyah.

Sampai di kos Alifa pun mulai chat sama Gama dan cerita tentang semuanya tapi responnya hanya biasa saja. Di tengah percakapan mereka Gama meminta ciuman sama Alifa dengan gaya bercanda. Mendengar hal itu membuat Alifa ilfil dengan kelakuan sang pacar. Mulai hari itu sikap Gama berubah drastis. Saat Alifa bertanya kenapa sifatnya berubah jawabannya selalu pada hal ciuman.
“kamu itu kenapa sih jadi berubah gak seperti biasanya.” Tanya Alifa
“semua itu karena kamu nggak mau nurutin apa kataku.” Jawab Gama denga nada emosi
“oh Cuma gara-gara hal itu kamu jadi berubah. Sebenarnya tujuan kamu pacaran itu apa tho?” Tanya Alifa
“Ya buat temen hidup.” Jawab Gama
“kalau cuman buat temen hidup ngapain juga aku harus nodai cintaku dengan hal yang dilarang agama. Pacaran itu sewajarnya aja. Kalau kamu nggak setuju dengan apa yang aku katakan lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.” Jelas Alifa dengn penuh emosional.
“udah deh, malas aku debat sama kamu. Udah lupain aja masalah ini. Jangan ngomong gitu to yang, nanti malam ayo jalan.” Bujuk Gama
“Ya.” jawab Alifa singkat

Pada malam harinya Alifa menemui Gama untuk menemani jalan-jalan, mereka berdua menuju WA Coffee. Ditengah perbincangan mereka kebetulan Gama meletakkan hpnya di meja, ini kesempatan Alifa untuk tau yang sebenarnya. Ia pun mengambil hpnya Gama dan mencari beberapa nama cewek. Dia menemukan seorang cewek bernama kelya dengan chat di BBM menggunakan kata sayang yang tak sepantasnya mereka ucapkan. Alifa pun mengambil pin kelya, tidak hanya itu ia menemukan pesan dari Arum yang sangat membuatnya curiga.
“Gama bilang arum mantannya tapi kenapa masih manggil sayang? Hmm… mencurigakan aku invite sekalian aja deh.” Gumam Alifa
Tanpa sepengetahuan Gama, Alifa pun mengambil pin Arum. Dan mengajak Gama pulang. Tapi di tengah perjalanan, mereka berdebat dan akhirnya mereka berdua pulang ke rumah masing-masing.

Pagi harinya Alifa menceritakan kejadian semalam kepada Dyah. Dan Dyah pun menceritakan kalau sebenarnya Gama itu cowok playboy. Tanpa berfikir panjang sepulang sekolah dia memutuskan akan mengakhiri hubungannya. Tapi sebelum itu Alif mencoba mengubungi Arum dan kelya. Pertama Alifa menghubungi Arum dan menanyakan siapakah dia sebenarnya mantan apa pacarnya Gama.

“ping!!!” Alifa pun menunggu balesannya
“Iya siapa dan ada perlu apa?” Tanya Arum
“Aku alifa pacarnya Gama. Kamu mantannya Gama tho?” Tanya Alifa
“Mantan?! aku pacarnya bukan mantannya dan aku belum pernah putus dari Gama. Tapi kata Gama kamu temenya deh.” Jelas Arum
“kurang ajar jadi dia Cuma mepermainkan kita? Oh ya Rum maaf ya aku nggak tau kalau kamu pacarnya, terima kasih udah mau jujur.” Jelas Alifa
“Iya sama-sama tapi kalau emang Gama nyamannya sama kamu aku ikhlas kok.” Kata Arum “Hahaha…, nggak Rum aku paling benci sama cowok playboy kayak dia.” Jawab Alifa

Sebelumnya Alifa pun menghubungi Kelya dan menanyakan ada hubungan apa Kelya dengan Gama. Tanpa basa-basi ia pun menge-chat Kelya
“kamu siapanya Gama.” Tanya Alifa
“Aku temennya.” Jawab Kelya
“Temen apa teman kok panggilnya pakai sayang.” Tanya Alifa makin jengkel.
“temen lah tapi sama-sama sayank.” Jawab Kelya
Jawabannya kelya membuat hatinya Alifa makin panas. Emosinya Alifa pun membara-bara semacam api neraka. Tanpa berpikir panjang Alifa menghubungi Gama dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Alifa mengirimkan screenshotan Arum dan Kelya kepada Gama. Hal itu membuat Gama malu dan malah marah-marah sama Alifa. Sungguh aneh si Gama itu dia yang mempermainkan cewek malah dia yang marah-marah nggak jelas.

Selang beberapa minggu sikap Alifa kepada Gama sudah biasa saja walaupun mantan tapi ikatan teman tidak mereka putuskan. karena Alifa berfikir sesama muslim tidak baik saling membenci.

“jadi kalau mencari kekasih harus teliti dalam memilih jangan hanya kenal sebentar langsung jadian ya… akal bulus cowok itu bahaya. Tapi gak semua cowok kayak gitu kok. Dan kita sebagai seorang muslim harus saling memaafkan ya… walaupun kita pernah disakit, buatlah semua itu pelajaran bagi kalian.”

Cerpen Karangan: Muallifah
Facebook: Muallifah
Semangat Puasa

Semangat Puasa

Judul Cerpen Semangat Puasa

Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku.
“Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan.
“Iya, umi…” Aku berjalan gontai sambil masih terkantuk-kantuk menuju kamar mandi untuk cuci muka.
“brrrrr…” dinginnya air membasuh mukaku.

Biasanya kami makan sahur hanya berempat aku, umi, abi, dan kak Laila. Tapi suhur Ramadhan kali ini terasa istimewa karena ditemani kakek dan nenek yang sengaja berkunjung dari desa.

“imsak… imsak… imsak…” sayup-sayup terdengar lirih suara imsak tiga kali dari masjid kampung, aku dan keluargaku segera menghabiskan minum masing-masing. Kan, ini bulan ramadhan, gimana mau enggak puasa coba?
Usai sahur aku bergegas kembali lagi ke kamarku di lantai dua.
“Ruqayyah kenapa ya nek..? nggak seperti biasanya” ujar kakek bingung.
“Iya… kek, Ayya aneh hari ini. Tidak seperti biasanya” komentar nenek sambil segera menyusul ke kamarku.
“Assalammualaikum Ayya, buka pintunya, Ayya…” Salam nenek. “Waalaikumussalam… masuk saja, nek. nggak dikunci, kok…!” Jawabku dari dalam kamar. Aku hanya memikirkan sesuatu. Ya, apa jadinya puasa tapi upacara? Wuiiih… heran aku!

Sambil ikut duduk di pinggir kasurku nenek mulai berbicara. “Ayya, Yang paling cantik sedunia… Kok tadi kelihatan aneh, sih?” Tanya nenek.
Aku hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian aku balik bertanya “Memang ada apa dengan Ayya…?” Tanyaku seperti orang linglung.
“Ya… Nenek Cuma mau tahu saja. Ayya kelihatan aneh, tadi, tidak biasanya begitu selesai makan sahur langsung kembali ke kamar lagi, jangan-jangan Ayya kembali tidur lagi…” Canda nenek sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Yang ini harus jawab, nih! “Maaf, nek… Tadi aku hanya berfikir, apa bisa upacara tapi puasa? Yah… sampai sekarang saja aku masih bingung…” Ujarku sedikit tertawa.
“Oh… nenek kirain ada apa. Ayya tahu perjuangan pahlawan?” Tanya nenek sambil membelai lembut kapalaku.
“Ya, pasti Ruqayyah tahu dan faham lah nek… Memang, ada apa?” ujarku lebih lanjut.
“Ruqayyah, merdeka itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan sangatlah besar. Mereka pantang menyerah demi tetap tegaknya negara kesatun Republik Indonesia. Mereka siap untuk mengorbankan jiwa dan raga tanpa pamrih. Untuk itu kita harus menghormati perjuangan para pahlawan, salah satunya dengan upacara itu…” Nenek menjelaskan panjang lebar. “Puasa bukan berarti membuat kita boleh bermalas-malasan, justru Ayya harus tunjukkan bahwa puasa janganlah dijadikan sebagai alasan yang dapat menghambat segala aktifitas sekolah Ayya” lanjut nenek.
“Baik nek, Ruqayyah janji untuk ikut upacara” Aku menegaskan dan meyakinkan nenek.
“Wah… ternyata, nenek itu pandai berpidato ya… hehe” gumamku dalam hati, dan aku sekarang mantap untuk mengikuti upacara sebagai rasa hormat terhadap perjuangan para pahlawan. Panasnya saat upacara belum seberapa dibanding pengorbanan yang telah mereka darma baktikan untuk nusa dan bangsa. Dan aku pun bertekad tetap semangat untuk selalu mengisi kemerdekaan ini dengan belajar rajin agar dapat mendarmabaktikan seluruh kemampuanku demi kejayaan negara Indonesia tercinta.

Seperti nasihat nenek, puasa bukanlah hambatan untuk beraktifitas dan belajar. Insya Allah… semoga kita selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam bulan puasa kali ini.

Cerpen Karangan: Hafshah Mufidah
Facebook: Hafshah Fida
Pengganggu Di Sekolah Berasrama

Pengganggu Di Sekolah Berasrama

Judul Cerpen Pengganggu Di Sekolah Berasrama

Aelita, anak perempuan yang tergolong nakal. Ada aja cara menggangu orang lain. Mulai dari miscall terus-terusan sampai pura-pura jadi zombie. Pokoknya ide Aelita tidak pernah habis.

Aelita masuk sekolah berasrama. Dan disitu jugalah trik-trik nakalnya dilakukan. Hampir semua murid di situ pernah terkena triknya. Pernah seorang murid laki-laki diisengin sampai teriak-teriak.

Kenapa murid laki-laki itu teriak-teriak? Ceritanya begini. Aelita menukar air di botol minumnya dengan jus cabe. Nah, kebetulan anak itu sangat haus dan meminum jus cabe itu, makanya dia teriak-teriak.

Kadang, kenakalan Aelita tak sebatas pada satu orang. Pernah ia menyelinap ke luar kamar. IRA menempelkan poster-poster konyol dan menghina di toilet dengan super glue. Untunglah aksi ini ketahuan kepala sekolah. Aelita dihukum harus mencopot semua poster di toilet plus membersihkan toilet.

Ada satu murid, namanya William yang sangat sering ditrik oleh Aelita. William ingin membalas, tapi susah karena takut dimarahi guru. Aelita sudah setidaknya 10 kali. Girangnya William, ketika mendapat kesempatan untuk membalasnya.

Suatu malam, Aelita bukannya tidur justru lari-lari di koridor sekolah sambil membuat suara seram. Tapi William sangat kenal suara Aelita. Karena itu, William ingin melapor pada guru. Tapi William masih menunggu saat yang tepat.

Saat itu pun datang. Aelita ketiduran saat pelajaran esoknya. William segera melaporkannya, ditambah melapor juga tentang kenakalan Aelita tadi malam.

Senangnya William, karena hukuman yang diberikan pada Aelita cukup berat. Detensi 6 jam, mengakui perbuatannya kepada semua anak yang takut karenanya, lari di lapangan 20 kali, menyalin material sebanyak 5 kali, dan pengurangan nilai 10 %.

Tapi, Aelita belum juga jera. Ia menyiapkan jebakan untuk kepala sekolah. Pas kepala sekolah lewat, tali dilepas dan Pak kepala sekolah jatuh ke lubang jebakan. Kali ini, Pak kepala sekolah sendiri yang “menasihati” Aelita (lebih tepatnya, memarahi). Untuk mencegah Aelita berbuat nakal lagi, seorang guru akan mengawasi Aelita Dari pagi sampai malam. Walau kamar biasanya memang sudah dikunci, kunci khusus dipasang di kamar Aelita.

Pesan: Jangan berbuat nakal.

Cerpen Karangan: Daniel Lie
Facebook: Daniel Lie
Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Judul Cerpen Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Dunia mereka kelabu sebelum datangnya seorang malaikat tak bersayap. Tapi roda kehidupan terus berputar. Kini dunia malaikat itu kelabu sebelum segerombolan semut membuka mata hati dan pikirannya.

Mentari tersenyum gembira, awan tak bosan menaungi gadis cantik berkulit cerah itu. Pepohonan saling menyapa dan hembusan angin berlomba-lomba menggoyangkan rambut lurusnya. Cuaca pagi itu membuat Lotusia Amor begitu bersemangat memulai harinya. “Mam, Lotus berangkat” pamitnya sebelum ia pergi ke rumah keduanya dengan B-Blue, sepeda kesayangannya. Ia terus melantunkan nada-nada yang indah selama perjalanannya. Ia selalu menikmati setiap detik hari-harinya. Tak ada keluhan di kamus kehidupannya.

“Sore ibu, Bagaimana kabar dagangannya?” Senyumnya merekah ketika ia sampai di kantin sepulang sekolah.
“Hari ini semua daganganmu habis terjual. Ini hasilnya” Kata ibu kantin sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas.
“Uangnya tolong dibungkuskan 10 nasi saja Bu”
“Kamu masih sering menemui anak-anak jalanan itu?”
Lotus hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Tak salah memang orangtuamu memberimu nama Lotusia Amor. Kau gadis yang sangat cantik dan penuh cinta”

“Selamat Sore” sapa gadis itu sesampainya di rumah kardus. Ya, rumah kardus, rumah yang dibangun dengan kardus. Rumah itu jauh dari kata layak tapi mereka dengan telatennya membersihkan dan merawat tempat itu. Sehingga tempat itu selalu terlihat bersih dan rapi.
Anak-anak yang sudah berkumpul disana langsung berhamburan ke arah Lotus. “Lihat! Kakak bawa sesuatu untuk kalian” gadis berambut lurus itu membagi-bagikan nasi bungkus yang telah ia beli. Senyum manis tersungging di bibirnya ketika anak-anak itu makan dengan lahap.

“Kak” panggil seorang anak laki-laki yang berkulit hitam dan berambut keriting. “Kenapa kakak diam saja? Kenapa kakak tidak makan? Ayo kita makan bersama”
“Kakak senang sekali bisa disini lagi dan bisa berbagi dengan kalian. Makanan itu kakak belikan untuk kamu, habiskan saja, kakak bisa makan nanti di rumah” jawab gadis itu dengan lembutnya. “Oh ya, bagaimana dengan buku yang kakak beri kemarin? Apa kamu suka?”
“Suka sekali Kak! Ceritanya bagus” jawabnya dengan mata berbinar-binar. “Kakak tau nggak? Sekarang Bintang sudah lancar membacanya”
“Oh ya? Pintar sekali adik kakak yang satu ini” Pujinya sambil mengelus rambut anak itu.

Sebelum pulang gadis berparas cantik itu menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Hal yang sangat jarang sekali dilakukannya. Dia memang tidak suka berfoto tapi entah mengapa ia ingin sekali melakukan hal itu saat ini.

“Lotus, bangun nak!” Ibunya mencoba membangunkan gadis bernama Lotus itu. “Kita harus berangkat sebelum larut malam”
Masih dengan mata terpejam dan guling dipelukannya ia menjawab dengan malasnya, “Iya mam, sebentar lagi, Lotus masih mengantuk”
“Ayolah, ini sudah jam berapa? Kalau kita berangkat terlalu larut kita bisa terlambat datang ke pernikanan Lilib besok pagi”
Lotus mengucek-ucek matanya. Ia menyerah. “Iya iya Mam, aku sudah bangun ini, Aku akan turun 30 menit lagi. Mama tunggu saja aku di ruang keluarga, aku perlu bersiap-siap”

Entah mengapa Lotus merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Sebelum berangkat kalimat “Jangan pergi, tetaplah disini” terus terdengar olehnya. Meski ia sudah mencoba memakai headset yang mengalunkan nada-nada indah, kalimat itu terus saja menghantuinya. Perasaan itu sungguh mengganggu dan membuatnya tidak nyaman saat dalam perjalanan. Ia sudah kehabisan akal. Akhirnya pemilik rambut lurus itu memilih memejamkan matanya dan mencoba memasuki alam bawah sadarnya meski berbagai rasa berkecamuk di hatinya dan membuat pikirannya menjadi liar.

Kalimat itu terdengar semakin keras ketika mereka memasuki jalan tol. “Tuhan, pertanda apakah ini?” tanyanya dalam hati. Ia terus memejamkan matanya dan memakai headset. Ia mencoba menenangkan dirinya. Hanya sekelebat cahaya berlalu lalang di kegelapan yang dia rasakan. Sampai ketika ada cahaya terang yang menuju arah yang berlawanan dengan arah laju mobilnya. Cahaya itu berbeda dengan cahaya yang ia temui sebelumnya. Semakin lama cahaya itu semakin membesar dan terang sehingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berpikir itu hanyalah halusinasinya saja. Gadis itu tetap memejamkan matanya dan mencoba membuang pikiran buruk itu. Tapi cahaya itu semakin lama semakin jelas dan disertai suara klakson yang memekakkan telinga. Ia semakin takut ketika ada sesuatu yang menghantam mobilnya hingga membuatnya merasakan goncangan yang begitu dahsyat. “Mah, Pah, Kak?” panggilnya lirih sebelum pandangannya kemudian kabur.

Jari-jari tangan Lotus mulai bergerak ketika jam dinding berdentang tepat pukul tiga sore. Ia mengedip-edipkan matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu kemudian ia melihat sekelilingnya. Di sebelahnya tertidur seorang anak kecil berambut keriting. Muncul rasa penasaran dibenak gadis itu. “Siapa anak itu dan mengapa dia ada disini?”. Lotus menyentuh lembut tangan anak itu dan menggenggamnya. “Tangan mungilnya kasar. Apakah ia bekerja terlalu keras?” pikir gadis itu. Ia terkejut ketika anak itu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahnya. Matanya yang sayup menatap gadis itu dengan lembut. Anak itu terdiam sejenak kemudian senyum manis terukir di wajah imutnya. “Kak Lotus. Kak Lotus sudah bangun?” senyum anak itu semakin melebar. “Tunggu sebentar Kak, tunggu” kata anak itu lalu keluar. Tak lama kemudian ia masuk dengan menggandeng seorang laki-laki beserta seorang perawat. Wajah laki-laki itu begitu sederhana dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kenapa kalian ada disini?” tanya Lotus lirih.
“Aku melihat kakak di koran. Lalu aku bersama abang Doni mencari kakak disini dan ternyata itu benar” jawab anak itu dengan semangatnya.
“Lalu, dimana orangtuaku? dimana kak Aldi? kenapa mereka tidak disini?” Lotus menengok-nengok sekitarnya, berharap orang yang dimaksudkannya itu ada di ruangan putih dengan bau alkohol dan obat-obatan yang ia tempati sekarang.
Anak kecil bernama Bintang dan abangnya saling bertatap muka dalam sunyi. Mereka tidak tau bagaimana cara menyampaikan kabar keluarga gadis itu.
“Kenapa kalian diam? Katakan, dimana mereka?” Pinta Lotus.
“Me… mereka sudah.. sudah…” Kata Doni terbata-bata.
“Mereka sudah apa? katakan cepat!” Gadis itu membentak mereka meski suaranya lemah.
“Mereka sudah meninggal Kak” Bintang menundukkan kepalanya. Ia tak ingin melihat malaikatnya ini menangis.
Lotus hanya terdiam dengan tatapan kosong ke arah langit-langit ruangan itu. Perlahan-lahan cairan bening mengalir di pipi mulusnya. Ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia sudah tidak mempunyai keluarga lagi. “Tuhan, kenapa harus aku? kenapa harus Lotus, Tuhan?” isaknya dalam hati.

Baru kali ini Bintang dan Doni melihat malaikat tak bersayap mereka menangis. Setau mereka Lotus adalah gadis cantik, penuh kasih yang selalu ceria. Mereka tak menyangka gadis sebaik itu bisa mendapatkan cobaan seberat ini.
“Tolong pasien ini jangan dibiarkan terlalu larut dalam kesedihan, karena hal itu dapat memperburuk kesehatannya” Kata seorang perawat kepada Doni sebelum meninggalkan kamar pasien milik Lotusia Amor.

Minggu demi minggu telah berganti, dan Lotus masih saja menikmati kepedihan hatinya. Ia selalu saja menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tubuhnya samakin kurus karena hanya ia masuki sedikit nutrisi. Hal itu terus ia lakukan hingga tiba hari istimewanya.

Tepat sebelum matahari kembali ke peraduannya beberapa anak jalanan masuk ke kamar gadis berwajah bidadari itu. Mereka terus mengalunkan lagu selamat ulang tahun yang dipopulerkan oleh Jamrud meski Lotus tak memalingkan wajah sedikitpun. Mereka terus melantunkan nada-nada yang indah di hari istimewa itu. Ya, karena hanya ini yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membelikan sebuah barang untuk saudara kesayangannya itu.
Anak-anak itu mendekat pada Lotus dan memeluknya lembut sembari mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka tenggelam dalam kehangatan kasih yang murni dari hati.

“Kak, kakak jangan bersedih lagi. Kakak masih punya kami. Kami sudah menganggap kakak sebagai saudara kami. Sebagai keluarga kami. Kakak tolong jangan seperti ini terus. Kami jadi sedih kalau kakak terus seperti ini. Kami semua sayang kakak” Kalimat itu langsung saja meluncur dengan mulusnya dari seorang anak kecil yang begitu lugu. Kalimat luapan isi hatinya yang paling dalam.
“Mungkin anak itu benar. Aku tidak boleh terus seperti ini” Lotus memotivasi dirinya sendiri. Ia melihat sekelilingnya, banyak sekali yang sayang padanya dan selalu memberikan senyuman terbaiknya. “Bodohnya aku. Kenapa selama ini aku tak sadar? aku masih mempunyai keluarga” senyum kecil terlukis di tengah deras air matanya.

Satu tahun sudah mereka hidup bersama. Lotus tak lagi merasa sepi karena masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Mereka membangun sebuah usaha kecil di rumah Lotus dengan harapan mereka bisa memetik buah dari apa yang sudah ia tanam di kemudian hari.

Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan. Bangkitlah dan jemputlah bintang masa depanmu. Kita tidaklah sendirian di dunia ini. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kita. Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mengurusi kepedihan hati.

Cerpen Karangan: Dema Biofani
Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku

Judul Cerpen Cinta Pertama Dan Terakhirku

Hari ini seperti hari-hari biasa seperti yang kualami. Pergi ke sekolah untuk mencari ilmu dan bertemu dengan teman-teman yang sama. Tapi sejak 2 tahun yang lalu hidupku berubah menjadi indah, karena ada dia. Dia adalah Dewa teman sekelasku yang menjadi kekasihku. Sebenarnya aku ragu untuk menerima cintanya tapi karena ketulusannya akhirnya aku menerimanya menjadi kekasihku.

Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan agak murung, tetapi ketika aku mengingat bahwa hari ini adalah hari jadiku dengan Dewa yang ke 2 aku menjadi gembira dan aku tersenyum kepada diriku sendiri ketika mengingat pertama kali Dewa menyatakan cintanya kepadaku. Dulu kami masih cupu karena kami masih kelas 1 SMA sekarang kami sudah kelas 3 SMA. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kubuka laci tempat di mana aku meletakkan surat pernyataan cinta Dewa kepadaku, lalu kubaca ulang surat itu.

Untuk: Alana Febiola
Dari: Dewa Lenggana
Setahun yang lalu aku hidup dalam kedamaian dan ketenangan… Namun ketenangan itu sekarang telah berubah jadi kebisingan dan kedamaianku jadi persaingan.
Gemetar!!! Gemetar tanganku ketika mula-mula menulis surat ini. Hatiku memaksaku menulis, banyak yang terasa, tetapi setelah kutuliskan penaku ke dawat, hilang akalku tak tentu arah dari mana harus kumulai?
Saya menanggung perasaan ini seorang diri, tiada tempat mengadu. Mengapa hal ini saya adukan kepadamu Alana? Itu pun saya tidak tahu, cuma hati saya berkata, bahwa engkaualah tempat saya mengadu…
Di dalam khayalku dan dalam gelapnya malam, tersimbahlah awan, cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang. Bintang itu adalah kau Alana. Maukah kau menjadi kekasihku untuk menjadi semangat dalam hidupku? Agar aku semangat bersekolah? Jika kau tidak mau menjadi kekasihku jadilah teman yang selalu menemaniku.

Setelah membaca surat itu aku segera berangkat ke sekolah dan segera menemui Dewa untuk sekedar mengingatkan hari jadi kita yang ke 2. Tapi ketika aku sampai di kelas dia mengajakku utuk ke taman sekolah dan berbicara kepadaku bahwa hubungan ini tidak dapat dilanjutkan lagi karena dia akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya serta ikut ayahnya karena ayahnya dipindahkan tugasnya. Aku hanya terdiam di tempatku berdiri. Aku terlanjur menyayanginya, mengapa dia harus pergi meninggalkanku? aku menangis dan berusaha menahannya tapi butir-butir air mata ini tidak dapat dibendung lagi. Dia berkata kepadaku “Na, jangan menangis akan kuusahakan aku akan kembali ke sini untukmu”. Janji itu yang kupegang sampai sekarang.

10 tahun kemudian, sekarang usiaku 28 tahun, dan aku masih mengingat janji itu. Aku memegang janji itu tapi dia tidak kunjung datang untukku. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan apakah dia lupa denganku apakah ada suatu hal terjadi padanya? aku selalu berdo’a setiap hari agar dia datang kepadaku. Tapi sampai sekarang dia tak kunjung datang juga.

Suatu hari orangtuaku merasa kasihan kepadaku karena usia sudah semakin bertambah, dan mereka berencana menjodohkanku dengan orang pilihan mereka. Aku tidak mau dan menolak perjodohan itu. Lalu aku pergi meninggalkan rumah dan hidup sebatang kara.

Setiap hari aku menununggu di tempat yang sama ketika dia pergi. Aku tidak bosan menunggunya. Ditemani dengan matahari yang kemudian berganti dengan bintang-bintang yang seakan mengajakku untuk bersama mereka agar aku tidak sendirian lagi. Kini usiaku tidak muda lagi, penantianku yang begitu lama tidak membuahkan hasil. Kini aku sudah lelah menunggunya dan tidak ada harapan lagi untuk bersama, dan ketika tubuhku tak mampu lagi digerakkan, nafasku tak lagi berhembus, dan jantungku berhenti berdetak aku tetap sendiri menanti kehadirannya yang tak kunjung datang. Inilah akhir penantianku…

Amanat: orang yang kita sayang mungkin tidak selamanya yang terbaik untuk kita, kita harus bisa memilih mana orang yang baik untuk kita dan mana yang bukan. Mungkin pilihan orang lain adalah orang terbaik untuk kita. Jangan remehkan orang lain.

Cerpen Karangan: Nila Ni’matul Maula
Facebook: Nila Ni’matul Maula
Beneran Dajavu

Beneran Dajavu

Judul Cerpen Beneran Dajavu

Pagi hari yang sangat dingin. Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Rasanya malas sekali unuk bergerak. Untuk menyapa mentari saja lewat jendela kamar rasanya sangat enggan. Aahhh aku hanya ingin menarik selimut tebal ini dan kembali ke alam mimpi.

Drrrttt drrttt. hpku bergetar sepertinya ada sms masuk. Haaahhh, mataku langsung membelalak seketika. Kaget dengan isi sms barusan yang mengatakan bahwa perkuliahan akan dimulai 5 menit lagi. Aku baru teringat hari ini ada jam tambahan mata kuliah psikologi.

Aku bergegas bangun dan hanya gosok gigi serta cuci muka. Waktunya tak cukup jika dipakai untuk mandi. Apalagi dosen psikologi terkenal sangat killer. Kuambil baju yang bisa langsung dipakai yang tak harus disetrika, rambut kukuncir kuda, tas selempang tangan langsung kusampirkan di lengan kiri, buku tebal psikologi kuambil dengan tergesa-gesa di rak buku dan sepatuku, aduuh sepatuku gak ada, di mana ini, waktu udah mepet sepatu ngilang sendiri, hanya ada sepatu sandalku yang model crocs, padahal jika masuk perkuliahan ini tak boleh menggunakan crocs. Aaahh tanpa pikir panjang, daripada aku terlambat, langsung saja kukenakan sepatu itu dan berlari menuju kampus.

Kulirik jam tanganku, waktu tinggal satu menit lagi. Kupercepat langkah kakiku. Tak berapa lama aku sudah sampai ke depan kelas. Tapi aneh kenapa kelas ini rasanya sangat sepi, tak terdengar adanya suara perkuliahan yang sedang berlangsung, karena kupikir aku sudah telat 2 menit. Kucoba ketuk pintu kelas itu tapi nggak ada jawaban. Kubuka pintu itu perlahan-lahan takut kalau-kalau sudah ada dosen psikologi tersebut.

“permisi…”. Ucapku sembari membuka pintu yang berwarna coklat tersebut. Kelas tersebut sangat gelap saat aku masuk ke dalamnya. Aku berpikir kenapa lampunya nggak dinyalain, dan kenapa sepertinya suasana sangat sepi. Tiba-tiba “braaaak” terdengar pintu yang ditutup dengan sangat keras sampai-sampai dindingnya ikut bergetar. Aku menggigil ketakutan. Kuraih hpku yang berada di dalam tas karena bergetar seperti ada sms yang masuk. Kubuka sms tersebut dan
“woiiii bangun woii… udah siang nih. Kamu nggak kuliah? Ini ada jam tambahan pak dirman loh perkuliahan psikologi”. Seru seseorang membangunkan dan menggoyang-nggoyangkan tubuhku. Aahhh kubuka mataku ternyata aku masih berada di kamar kos-kosan. Kuambil hp jadulku dan kulihat sudah jam 8.35. sedangkan perkuliahan akan dimulai pada jam 8.40. aku segera bergegas bangun dan kulihat teman yang tadi membangunkanku sudah rapi berpakain dan hendak berangkat.

“din kamu berangkat sekarang?” ucapku pada dinda, teman satu kamarku.
“ya iyalah rara sayang. Kamu nggak lihat tuh udah jam berapa, Aku berangkat duluan yah. Takut telat. Bye.” Ucapnya sembari meninggalkanku yang masih duduk di kasur. Aku segera tersadar dan menuju kamar mandi, kugosok gigi dan cuci muka, mengambil pakain yang tanpa harus disetrika, serta mengambil tas hingga memakai sepatu crocs. Kejadian ini seperti dalam mimpi. Dejavu. Teriakku dalam hati. Kejadian sampai di kampus persis seperti apa yang sudah kualami dalam mimpi. Dan “braakkk” terdengar suara pintu.
“rara lu ngapain bengong aja di situ. Katanya ada jam tambahan.” Ucap bintang, tetangga kamarku yang kebetulan lewat ke depan kamarku dan melihatku sedang melamun. Aku terbelalak kaget. “loh, bukanya aku udah di kampus yah?”. Tanyaku bingung. “di kampus apaan? Tadi si dinda udah berangkat duluan katanya lu lelet.” Jelasnya.
Aku menggaruk-nggaruk kepalaku yang tak gatal. Kulirik arloji pinkku dan sudah jam 09.30. what??? Aku kaget dan langsung terlonjak bangun dan berjalan mondar-mandir bingung.

“lu kenapa ra?” Tanya bintang dengan penasaran.
“ini bi liat jam Aku”. Jawabku sembari menunjukan arlojiku ke bintang.
“ea, arloji lu kenapa?”. Tanya bintang dengan menatap heran ke arahku. “aaaa… mati aku”. Teriakku histeris sambil memegang kepalaku dengan kedua tangan. “heiii sadar lu ra… lu kenapa tiba-tiba gitu? Lu kesurupan?”
“Aku telat bintang, perkuliahan udah dimulai, mana ini perkuliahan psikologi lagi, aduuuhhh”. Teriakku pada bintang, dan bintang menatapku heran serta menahan tawa dan tawa bintang meledak juga. “hahahhaha… lu kebanyakan ngelamun and ngekhayal nggak jelas, makanya jadi gitu.” Teriak bintang sembari berlalu ke luar kamar meninggalkanku yang lagi bingung dan menangis sedih.

Aku terduduk lemas di kasur, karena jika berangkat kulah sudah nggak memungkinkan, karena telat banyak, dan jika nggak masuk kuliah akan dapat 1 poin yang berdampak pada pengurangan nilai. aaaahhh.

Pesan buat pembaca semuanya, jangan suka mengkhayal yang nggak jelas, nanti jadinya kaya aku ini, nggak masuk kuliah gara-gara kebanyakan ngekhayal. Kita harus selalu memikirkan hal-hal yang nyata aja yaaahhh…

Cerpen Karangan: Atie Dandelion
Facebook: Athirotul Wardah
Bunga Abadi

Bunga Abadi

Judul Cerpen Bunga Abadi

“Ra..” bisik lelaki dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit karena ditinggalkan. Lelaki itu sangat mencintainya. Sangat. Bahkan, lelaki itu terus saja berbisik memanggil namanya. Meskipun ia tahu tidak akan mendapat sahutan. Ia tak juga beranjak meski sekelilingnya sudah tak ada orang, meski hanya bertemankan nisan-nisan yang hanya akan terus diam, meski langit mendung memayungi. Tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi menatapnya di kejauhan dan ikut menangis bersamanya.

“Ram, sampai kapan kamu akan terus duduk di sini dan menatap nisannya? Aku tahu ini berat, tapi cobalah untuk mengikhlaskan. Doa tulus darimu dan keikhlasanmu yang ia butuhkan saat ini. Istirahatlah, kamu bisa mengunjunginya lagi besok.” Ujarku mencoba menguatkan dirinya yang kutahu ia sangat rapuh saat ini.
“Kamu pulang saja lebih dulu. Aku masih ingin bersamanya” Ujarnya masih menatap nisan yang bertuliskan nama MIRA ANDANI. Nama yang sudah 3 tahun mengisi hati Rama.
“Tapi kamu sudah duduk di sini berjam-jam. Sebentar lagi malam, lagipula hari sudah mendung. Ayo, kita pulang sebelum hujan turun.” Aku masih berusaha membujuknya.
“Biarkan saja aku kehujanan dan bermalam di sini. Aku tidak peduli! Kalau kamu mau pulang, pulang saja!” suaranya meninggi.
“Kamu pikir dengan duduk di sini semalaman dan berhujan akan membangunkan Mira? Kamu pikir dia senang kalau kamu sakit? Rama, sudahlah. Aku yakin Mira ingin kamu tidak terlalu larut dalam kesedihan seperti ini.”
“Apakah pernah kamu kehilangan orang yang sangat kamu cintai? Apa pernah, heh? Tidak, kan? Kamu tidak tahu rasanya!” Rama benar-benar keras kepala. Tapi, aku tidak menyerah untuk membujuknya.
“Tidakkah kamu tahu bahwa semua orang juga sangat kehilangan Mira? Tapi mereka tetap melanjutkan hidup. Bukan karena mereka sudah melupakan Mira, tapi mereka tidak ingin Mira sedih. Pulang dan istirahatlah. Kirimkan doa untuknya.” Aku memegang pundaknya, ia menatapku. Kulihat matanya memerah. Ah, hatiku ikut sakit melihatnya seperti ini.
“Kamu mencintai Mira, kan?” Ia menangguk pelan
“Kamu yakin ia juga mencintaimu, bukan begitu?” Lagi-lagi ia mengangguk
“Kalau begitu, sehatlah. Hiduplah seperti Rama yang dicintai Mira. Kamu tahu Mira takkan membiarkanmu sakit, kan?” Ia menangguk lagi. Ya, aku sangat mengenal Mira yang sangat memperhatikan kesehatan orang-orang di sekitarnya. Dia akan sangat sedih jika tahu ada orang yang ia sayangi jatuh sakit.
Akhirnya bujukan itu mampu membuat Rama luluh. Ia berjalan dengan lemas. “Apakah sebegitu berartinya seorang Mira untukmu?” Gumamku dalam hati. Seketika aku merasa ikut melemas.

Hari ini tampak sama, langit begitu cerah. Cahaya matahari begitu hangat menyentuh kulitku. Namun, ada seseorang yang telah berubah. Ia tak lagi hangat seperti cahaya matahari, tak lagi kulihat ia menarik kedua ujung bibirnya membentuk lengkungan ke atas. Ya, ia tak lagi menjadi Rama seperti dulu yang kukenal. Bertahun-tahun mengenalnya, menjadi teman yang selalu ada di sampingnya, selalu menjadi penghiburnya serta semua nasihatku tak menjadi motivasi Rama untuk bangkit dari patah hatinya. Padahal, ia sudah berkali-kali patah hati sebelum ini. Tapi, tak pernah sehebat ini.

Lagi, kaki ini tetap melangkah padamu. Meski aku tahu akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti kemarin. Meski takkan kurasakan hangat tatapanmu, walaupun takkan ada senyuman untukku. Setidaknya aku telah mencoba, bukan?.
Seperti kemarin, hari ini aku hanya duduk di sampingmu. Duduk menatapmu yang sedang menatap kosong dinding kamarmu. Keluar sebentar hanya untuk memasakkan makan siang untukmu dan terus-terusan mencoba membujukmu untuk memakannya. Walaupun hanya satu atau dua sendok saja. Itu sudah cukup untuk memberimu energi untuk tetap hidup. Karena menangis saja juga membutuhkan energi, benar kan?.

Untunglah saat ini sedang libur panjang sehingga aku bisa seharian duduk di sampingmu yang hanya membisu. Berbagai cara kulakukan untuk menghiburmu. Mencoba mengajakmu berbicara, melontarkan teka-teki yang akhirnya kujawab sendiri, menceritakan sesuatu yang lucu meski hanya aku yang tertawa. Tapi kamu masih diam, sejak aku datang hingga berpamitan untuk pulang. Seorang penghibur juga perlu istirahat, kan? Karena untuk menjawab pertanyaan sendiri dan untuk menertawakan lelucon sendiri juga memerlukan energi, ya kan?

“Bayanganku sudah memanjang. Tidak terasa, ya? Kalau begitu aku pamit pulang, ya? Besok aku akan ke sini lagi.” Pamitku lalu melangkah ke luar dari kamarnya yang di setiap sudutnya seperti tertulis hampa dengan cetak besar dan tebal.
“Pulanglah. Jangan pernah kembali.” Ucapnya menghentikan langkahku. Sejak hari pemakaman itu ia tak sedikit pun mengeluarkan suara. Tapi, kenapa saat ia membuka mulut malah kalimat menyakitkan itu yang keluar?

Aku berbalik dan menatap laki-laki yang berat badannya sudah menyusut dengan drastis itu. Menatap matanya yang terlihat begitu menyayat. Ah, bukankah laki-laki di hadapanku ini adalah insan yang sedang patah hati?. Wajar saja ia berkata seperti itu.

“Apa yang lagi yang kamu tunggu?” ucapnya dingin.
“Uh, kamu tahu? Kalimat itu barusan menyakitkan. haha” Ucapku yang masih berpikir ia bergurau
“Kamu mencoba membuat lelucon, Ram? Leluconmu masih kurang lucu. Besok aku akan kembali membawa buku kumpulan cerita lucu, mungkin itu akan membantumu.” Sambungku
“Aku bilang jangan pernah kembali! Apa kamu tuli, Fya?” aku tersentak, aku sama sekali tak menduga kalau yang diucapkannya bukanlah sebuah lelucon. Bahkan ia tak pernah menyebut namaku. Selama ini ia selalu memanggilku ‘adik kecil’ yang membuatku tak pernah bisa mengatakan apa yang selama ini memenuhi ruang hatiku, siapa yang selalu menjadi pemeran utama dalam pikiranku.
“Tapi, kenapa? Aku hanya ingin menghiburmu.”
“Untuk apa menghiburku? Bukankah kamu senang atas kematian Mira? Tidak perlu berpura-pura peduli!” Ucapnya dengan tatapan menuduh.
“Kenapa aku harus senang? Jadi kamu berpikir bahwa aku hanya pura-pura peduli? Baik, terserah kamu mau menilaiku serendah apapun itu. Aku akan mencoba tidak peduli dan tidak akan pernah menemui lagi.” Ucapku sambil berlari menjauh. Tidak kusangka orang yang selama ini kusayangi tega menuduh dan menilaiku serendah itu. Aku mencoba menahan tangisku. Tapi tidak bisa, kali ini Rama benar-benar menyakitiku.

Aku menangis di depan nisan berukirkan nama seorang wanita yang memang tiga tahun ini selalu membuatku cemburu. Bagaimana tidak, jika wanita yang baru saja mengenal Rama bisa dengan mudah mencuri hatinya. Sedangkan aku yang telah berusaha mati-matian sama sekali tak pernah disadari kehadirannya.
Meski cemburu, aku tidak pernah membencinya. Apalagi senang atas peristirahatannya yang untuk selama-lamanya ini. Sama sekali tidak.

“Ra, maafkan aku yang selalu mencemburuimu. Tapi, percayalah padaku bahwa aku tidak pernah membencimu. Aku sama sedihnya seperti orang lain ketika dirimu pergi. Maafkan aku juga karena tidak bisa membuat Rama hidup seperti dulu. Ia berubah, Ra. Ia dingin, bahkan tega menuduhku. Aku mengikhlaskan hati Rama untuk mencintaimu. Tapi, biarkan aku menjaga raganya. Karena itu, kembalikan Rama yang dulu. Hanya kamu yang bisa menasehatinya. Kumohon.” Bulir-bulir bening terus saja berjatuhan membasahi tanah.

“Apa kamu sedang menertawakan nisannya Mira?” suara bas yang sangat kukenal memecah keheningan tempat pemakaman.
Aku hanya bergeming mendengar pertanyaan Rama yang menusuk jantungku itu.
“Kamu menangis? Untuk siapa? Mira? Memangnya sejak kapan kamu dekat dengan Mira, heh? Hapus saja air mata palsumu itu. Aku tahu perasaanmu padaku, maka dari itu aku memanggilmu ‘adik kecil’ agar kamu tak pernah memiliki nyali untuk mencintaiku. karena itu, kamu pasti senang orang yang kucintai pergi, kan?” Ucapnya ketika duduk di sebelah kiri makam Mira dan berseberangan denganku yang berada di sebelah kanan makam, dari sini ia bisa melihat tangisku. Aku mengepalkan tanganku erat hingga buku-buku jariku memutih. Rama benar-benar keterlaluan. Ia menanggap remeh perasaan orang lain.
“Memangnya siapa yang tiga tahun lalu memperkenalkan Mira sebagai kekasihnya kepadaku? Kamu harus tahu, Ram. Aku menyesal mencintai orang yang tidak menghargai perasaanku.” aku menatapnya sinis lalu melangkah pergi.
Setelah beberapa langkah, aku berhenti.
“Aku akan benar-benar pergi kali ini, Rama. Jaga dirimu, jangan sampai sakit. Mira, tolong lindungi ia.” Ucapku dalam hati. Aku tidak bisa berbohong, aku sangat mencintainya meski hanya luka yang terus ia torehkan.

Malam itu sesuai harapannya, Mira menemuinya setelah beberapa minggu tak pernah hadir dalam mimpinya.
“Ram, aku memang pulang lebih dulu. Maaf, jika aku meninggalkanmu. Tapi, aku menunggumu di sini. Aku masih sangat mencintaimu. Kamu tahu, Ram? Aku sangat sedih melihat hidupmu yang begitu hancur sepeninggalku. Aku merasa menjadi kekasih yang tidak baik. Rama, bersyukurlah karena masih diberikan Tuhan kehidupan. Hiduplah dengan baik. Cintailah orang lain yang juga mencintaimu, berbahagialah bersamanya, bentuklah sebuah keluarga. Tak apa, karena aku tahu bahwa aku tetap menjadi orang yang paling kamu cintai. Aku mungkin adalah bunga abadi yang tidak akan pernah terganti. Tapi, ada orang lain yang mencintaimu sebesar aku mencintaimu. Aku percayakan dirimu bersamanya.”
Rama terbangun dari mimpinya, ia termenung memikirkan mimpinya. Semua seperti nyata. “Orang lain? Mencintaiku?” gumamnya pelan. “Fya!”

Pagi-pagi sekali Rama sudah berangkat menuju rumah Fya. Rama tahu, ia begitu kejam pada orang yang telah tulus mencintainya. Ia sangat malu untuk meminta gadis itu menemani sisa hidupnya. Tapi, ia tidak ingin kehilangan lagi orang yang sangat mencintainya.

Setelah mengetuk pintu dengan tidak sabar. Akhirnya pintu rumah dibukakan oleh ibu Fya yang sudah dikenal baik oleh Rama.
“Eh, Rama. Tumben bertamu sepagi ini. ada apa?” Ucap ibunda Fya ramah, mungkin beliau tidak tahu apa yang telah dikatakan laki-laki yang ada di hadapannya ini kepada putrinya.
“Fya ada, Bun?” Ya, karena sudah lama saling mengenal. Rama pun ikut memanggil beliau dengan panggilan Bunda.
“Lho, memangnya Fya tidak bilang ke Rama kalau dia akan melanjutkan pendidikannya ke Amerika? Dia sudah berangkat tadi malam.” Rama kecewa, kecewa pada dirinya sendiri karena terlambat menyadari. Ah, tidak. Terlambat menghargai perasaan Fya padanya.
“Kapan Fya pulang, Bun?” ucapnya lesu
“Wah, Bunda kurang tahu. Dia hanya pamit untuk pergi. Tidak tahu kapan pulang.” Ucap Bunda yang heran dengan perubahan Rama yang datang dengan semangat tiba-tiba berubah seperti kehilangan tenaga.
“Ya, sudah. Aku pulang saja. Tolong hubungi Rama ketika Fya sudah pulang, ya Bun.” Bunda hanya mengangguk lalu tersenyum. Rama berjalan dengan lemas.
“Aku akan menunggumu, Fya. Meski harus selama kamu menungguku.” Gumam Rama.

Patah hati memang menyakitkan, terutama patah hati ditinggal untuk selamanya. Tapi, coba lihat sekelilingmu yang dipenuhi orang-orang yang menyayangimu dan mencintaimu sebesar kamu mencintai orang lain. Meski kamu mencintai orang lain, cobalah untuk menghargai perasaan mereka. Karena mereka sama sepertimu, sama-sama patah hati namun dengan kisah dan orang yang berbeda. Kamu patah hati karena orang lain, mereka patah hati karenamu.

Cerpen Karangan: Wita Eldalia
Facebook: Wita Eldalia
Ig: @weldalia
Id Line: @witael_
Pacaran Membuatku Lupa Segalanya

Pacaran Membuatku Lupa Segalanya

Judul Cerpen Pacaran Membuatku Lupa Segalanya

Halo nama saya Diki Wahyudi, saya akan bercerita tentang kehidupan saya dimasa smk dulu, dimana dulu cinta pertama saya pun hadir dan meracuni jiwa dan raga saya.

Kehidupan saya baik-baik saja saat saya hidup sebagai anak muda yang cukup aktif dan polos, saya belum mengerti apa itu cinta. Dari kecil hingga masuk sekolah menengah pertama saya belum tertarik dengan yang namanya pacaran, bukan karena saya tidak normal tapi karena orangtua tidak mengizinkan saya pacaran sebelum lulus sekolah. Hari-hari saya berjalan dengan baik seperti biasa sampai pada akhirnya saya termakan rayuan teman saya sebut saja si Fulan, dia bilang kalau pacaran itu enak dan bisa ngilangin stress, galau, bete gitu, saya pada waktu itu percaya saja karena dia sudah berpengalaman soal percintaan, ya saya percaya karena dia bilang mantannya lebih dari 20an lebih hahah. saya pun penasaran gimana sih rasanya pacaran.

Tapi sayangnya saya mendapat awal yang sangat buruk untuk memulai hubungan, kenapa? Saya mendapatkan wanita yang “bad girl” what is bad girl? Saya mendapatkan wanita yang ‘nakal’, itu juga rekomendasi dari teman saya karena dia gampang sekali didekati, saya rayu dia saya dekati dia saya Pepet terus setiap jam istirahat, saya jadi tertarik begitu juga sebaliknya, akhirnya saya pun ‘tembak’ (istilahnya mengutarakan perasaan) saya ke wanita itu dan dia pun meng’iya’kannya (tuh kan gampang banget)

Setiap pulang sekolah saya tidak pulang ke rumahnya melainkan di sekolah bermesraan dengan Putri -nama pacar pertama saya- saya berdua-duaan sampai saya pun ada pikiran nakal, saya mencium bibirnya.. yang belum pernah saya rasakan selama hidup saya.

Seketika kehidupan saya berubah menjadi orang yang haus cinta, begitu banyak tekanan, menjadi liar tapi di sisi lain saya ingin kembali seperti saya yang dulu, tapi perasaan saya masih ingin melakukan itu tidak ada puasnya, rasanya hidup sudah terpaku dengan pacaran, kehidupan saya kacau, saya jadi orang yang boros, saya jadi tidak fokus belajar karena hanya memikirkan tentang wanita..

Tapi karena Allah masih sayang sama saya, Allah tuntun saya ke jalan yang benar lagi melalui kejadian. Pada saat memasuki bulan Ramadhan sekolah saya diliburkan selama sebulan dan sekolah mencarikan tempat magang untuk siswanya untuk mengisi liburannya, tapi saya tidak ikut karena ibu saya sedang hamil besar -8 bulan mau naik 9 bulan- pada saat mengisi liburan saya mengantar-jemput dia ke tempat magangnya karena saya ingin memegang tangannya selalu, saya memikirkan dia setiap malam, rutin saya lakukan setiap hari, sehingga dia meminta untuk tidak menjemput dia karena takut merepotkan, nah pada saat itulah saya tidak pernah antar-jemput dia sampai sebulan.

Nggak tau kenapa perasaan saya perlahan mulai hilang, saya mulai ingat sama Allah, saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan itu salah, saya putusin dia dan saya minta maaf ke dia kalau selama ini saya sudah bertindak berlebihan sama dia, tapi tidak apa-apa karena peristiwa itu saya jadi mengerti kenapa orangtua saya melarang pacaran sebelum lulus sekolah.

Kawan-kawan Allah tidak menyebutkan adanya pacaran dalam al-quran, Pacaran terjadi karena adanya bisikan syetan, jika kalian berfikir bahwa adanya pacaran islami? Itu artinya kamu sudah ditipu sama syetan, tidak ada pacaran yang islami, pacaran menuju kepada kemaksiatan. Maka jauhilah sekarang juga karena azab Allah sangat pedih. Saya harap pembaca mengambil pelajaran dari pengalaman saya ini, karena pengalaman yang berharga dan gratis adalah pengalaman yang kita lihat dari orang lain.

Wassalamu’alaikum

Cerpen Karangan: Dicky Wahyudi
Facebook: facebook.com/dicky.wahyudi.9275439
The Secret Of My Love

The Secret Of My Love

Judul Cerpen The Secret Of My Love

Cinta yang dipendam sendirian memang menyakitkan. Orang yang kita cintai, orang yang kita dambakan, orang yang kita perhatikan, orang yang kita pikirkan setiap saat pun belum tentu berbalik memikirkan kita pula. Jatuh cinta memang indah, tapi tidak untuk orang yang sedang jatuh cinta sendirian. Rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang kita inginkan. Butuh hati yang kuat dan tulus untuk itu. Untuk mencintai seseorang dengan cara diam. Jika aku diizinkan untuk menolak rasa ini, maka akan aku lakukan. Cinta yang dirahasiakan memang pahit. Oleh sebab itu, wanita hanya butuh kepekaanmu wahai kaum lelaki…

“Hey! Kerjaan kok melamun melulu sih, kesambet baru tau rasa loe!” ucap Siska yang mengagetkanku.
“Dasar pengganggu!” sahutku dengan nada emosi.
“Serius amat sih, emang loe lagi ngelamunin apa sih?” sambungnya.
“Ngelamunin ikan cupang.” jawabku sekenanya.
“Elo tuh ya, ditanya serius malah jawabnya ngelantur, jangan-jangan lagi ngelamunin si Adnan. Iya kaaaan?”
“Enggak kok, dasar sok tau!” sewotku.
“Udah deh, ngaku aja kenapa sih?” tindasnya.
“Enggak Siska… temanku yang baik” bantahku.
“Enggak salah kan? Kan? Kan?”
“Tau ah, males bicara sama orang sorot kayak elo!”
“Cieee… cie…” ledeknya. Dan aku hanya diam tak menggubrisnya lagi.

Sebenarnya memang benar apa yang dikatakan Siska, aku sedang bingung “Kok bisa ya, aku suka sama Adnan. Padahal dia kan jutek dan cuek” gumamku dalam hati.
Adnan adalah teman sekelasku. Ia sebenarnya cowok yang baik plus pinter di antara temen cowokku lainnya. Tapi ada satu keburukan dia. Yaitu mubal (muka bantal). Abis kerjaanya tidur melulu. Kalo jam kosong tidur. Kalo jam istirahat tidur. Dan kalo jam pelajaran pasang muka ngantuk. Kan mubal BGT tuh orang.
Aku dan dia tuh musuh kalo lagi musim ulangan. Kita mah suka taruhan, siapa yang nilainya paling rendah di antara aku dan dia, dialah yang harus traktir makan. Tapi saingannya sehat kok. Nilainya pun pasti gantian, kadang aku yang tinggi, kadang aku yang rendah, dan kadang pula samaan.
Dia itu terlalu sempurna untukku. Dan mungkin aku nggak pantes buat dia.
“Jangan terlalu berharap, nanti kalo akhirnya dia nggak cinta sama kamu gimana?” bisikku dalam hati. Memang konyol.

“Teeet… Teeet… Teeet…!” bel tanda dimulainya jam pelajaran keempat telah berbunyi. Semua siswa berhamburan memasuki ruang kelas masing-masing.
15 menit kemudian, tiba-tiba…
“Pengumuman, diberitahukan kepada ketua dan sekretaris masing-masing kelas untuk segera berkumpul di aula sekolah guna membahas kegiatan Class meeting besok lusa. Terimakasih.” suara speaker sekolah menggema ke segala penjuru ruangan.

Aku pun dengan spontan berdiri.
“Sis, gimana nih? Gue disuruh rapat, terus Adnan dimana?” tanyaku pada Siska.
“Mana gue tau. Sama gue aja kenapa? Hehe.”
“Elo kan kebersihan. Masa elo sih? La ketua kelas suruh ngapain?” protesku.
“Yaudah… Ayo kita cari Pak Ketua” Siska memberi solusi. Aku pun setuju.
“Nah, panjang umur tuh anak. Tuh dia udah dateng.” Siska memberi tahu.
“Nan, tadi elo denger nggak pengumuman?” tanyaku padanya.
“Ya denger lah. Makanya itu gue kesini buat nyari elo!” jawabnya.
“cieee…” dengan tiba-tiba Siska menyahut. Tapi aku tak menggubrisnya. Lalu aku pergi bersama Adnan menuju lantai dua sekolah kami. Aula.

Setibanya di aula, aku dan Adnan duduk sebangku. Kalaupun bukan karena tugas mungkin itu tak akan pernah terjadi. Aku yang di sampingnya tak berani menatap wajahnya, apalagi menatap matanya. Aku tak sanggup.

“Adnan, sesungguhnya aku telah lama mengagumimu. Bahkan aku pun mulai mencintaimu.” ungkapku dalam hati.
Tak ada percakapan di antara kami berdua sejak satu jam yang lalu. Dan kini waktunya kembali ke kelas masing-masing. Sepertinya aku tak dianggapnya sama sekali. Atau mungkin dia benci padaku. Mungkin.
Sangat sakit rasanya aku. Saat kau diamkan aku. Hari ini mungkin hari yang buruk untukku.



“Nan, gimana tadi kencanya sama Alita? Sukses?” Tanya Risky padaku.
“Kencan apaan? Orang tadi gue cuma rapat doang kok ama dia.” jawabku.
“Elo tuh gimana sih? Ada kesempatan emas malah gak elo gunain. Dasar bego lu!” sambungnya memakiku.
“Ah udahlah, semua akan indah pada waktunya.” jawabku.
“Terserah elo deh, Nan. Gua bingung ama elu.” akhirnya Risky pasrah.



“Elu kenapa sih Ta? Abis ketemu pujaan hati kok makin murung sih?” Siska bertanya padaku. Aku tak menanggapinya apalagi menjawab pertanyaannya.
“Ta, sebaiknya elo tuh cepet-cepet ungkapin perasaan elo itu ke Adnan. Keburu nanti elo naik kelas, pasti nanti kan pada misah semua.” ucapan Siska menambah kegundahanku.
“Udahlah Siska, gue cewek, dan gue nggak mau mulai duluan. Oke? Dan elo nggak usah ikut campur sama urusan pribadi gue. Gue tau kok apa yang terbaik buat gue.” aku menjawab dengan nada emosi.

Lima hari kemudian…
“Hari ini mungkin adalah hari terakhir aku ketemu Adnan.” gumamku.
“Mungkin memang dia bukan untukku.”



“Alita, aku mencintaimu! Setelah pembagian rapor nanti, apakah aku bisa bertemu lagi denganmu seperti hari-hari sebelumnya?” gumamku bertanya pada diriku sendiri.
“Huuuft… !!! Entahlah.”



Rapor selesai dibagi. Pengumuman hari libur kenaikan kelas pun telah selesai. Kini waktunya untuk pulang. Dan seorang Alita pun masih terduduk sendirian di dalam kelas, sedangkan Adnan? Dia berdiri mematung di balkon lantai dua.

Begitulah readers, cinta tapi gengsi. Tak ada yang mau memulai. Memang saling mencintai, tapi tak ada yang berani mengungkapkan. Dan akhirnya pupus. Terganti oleh cinta yang lain, begitu seterusnya. Itulah mengapa kau sampai sekarang masih sendiri. Karena kau tak pernah mengungkapkan isi hatimu. Jangan salahkan takdir. Karena takdirmu ada di tanganmu sendiri. Apakah kau ingin sendiri atau bersamanya.

The End

Cerpen Karangan: Windi Setyani
Facebook: Windhy Setyani
Cerita 20 Tahun

Cerita 20 Tahun

Judul Cerpen Cerita 20 Tahun

20 Tahun. Dimana kita lagi seru serunya ketemu temen baru, suasana baru, tempat baru yang belum pernah kita temuin, tanggung jawab sama kerjaan, tugas tugas numpuk yang bikin tidur larut malam, hang out sama temen sampai nggak ingat waktu, pulang diatas jam 9 yang saking biasanya sampai udah nggak jadi tabu lagi buat anak cewek. Ya itu semua yang dirasain di tahun ke 20 ini.

Awalnya kamu mungkin ngerasa ini akan jadi kebahagiaan baru yang akan kamu dapat setelah lulus SMA. Dimana kamu akan bebas dari segala hal yang kamu benci selama 12 tahun sekolah trus keluar dari keinginan orangtua kamu dan mulai mutusin bakal jadi apa kamu nantinya. Gimana? Menarik kan?

Tapi faktanya 20 tahun nggak semudah ngedeskripsikan kegiatan barusan. Dibalik itu semua kamu akan benar benar sendiri, nentuin jalan hidup kamu sendiri, bahkan di luar sana banyak yang hidup dengan perjuangannya sendiri. Gapai semua mimpi itu nggak sesimple kamu ngucapin “Nanti pas aku udah lulus aku bakal jadi ini jadi itu, aku pengen gini pengen gitu, aku bakal kesini bakal kesitu”

Banyak kok mereka yang malah pengen balik lagi jadi anak sekolahan. Tiap pagi kamu bangun dengan terpaksa tapi seengaknya kamu punya satu tujuan, “Sekolah”. Nah ini yang biasanya jadi dilema. Kalau yang kuliah bangun pagi buat kuliah, kalau yang kerja bangun pagi buat kerja, tapi kalau yang nganggur? Oke, mungkin kamu berpikir justru enak dong, kan jadi nggak perlu bangun pagi lagi karena nggak ada tujuan. Tapi coba kamu pikir lagi deh, kalau cuma buat sehari, seminggu atau sebulan mungkin kamu akan bersyukur, tapi kalau sampai berbulan bulan atau bahkan setahun? bosan nggak sih?

Biarpun mungkin ada yang ngerasa biasa aja tapi seengaknya pasti sempat mikirin, mau sampai kapan kayak gini terus? Mau sampai kapan hidup nggak ada tujuan? Ujung ujungnya jadi keinget masa masa sekolah trus jadi flashback lagi.

Pernah nggak sih nemuin anak sekolah yang biasanya suka ngeluh pengen cepet cepet lulus biar nggak sekolah lagi? Pasti pernah kan. Mungkin yang mereka bayangin kalau udah lulus bisa bebas, nggak perlu ngerjain tugas, nggak perlu tidur tepat waktu, nggak perlu bangun pagi dan lain lain. Padahal mereka belum tau gimana rasanya kalau udah nggak sekolah, bahkan mereka bakal rindu sama sekolah.

Kenapa pengen cepat lulus sih? Nikmatin aja, hidup setelah lulus SMA itu nggak seperti khayalan kamu atau kayak hidup anak SMA di film yang pernah kamu tonton. Itu akan jadi lebih sulit dari yang kamu kira, bahkan jauh lebih sulit dari bangun pagi, ngerjain tugas sebelum bel bunyi dan lebih sulit lagi dari upacara bendera tiap hari senin. Masalah yang kamu temuin pas kamu masih jadi anak sekolahan itu belum ada apa apanya dibandingin masalah yang akan kamu temuin pas udah lulus. Semua beban yang ada bakalan nambah, bahkan lebih berat dibandingin sebelumnya. Jadi bersyukurlah kalau kamu masih bisa sekolah atau masih di jenjang sekolah saat ini. Jalanin selama kamu belum menyesal atas apa yang udah kamu jalanin. Nikmatin selagi kamu masih bisa nikmatin.

Cerpen Karangan: Theodora Dayanti I.R.M
Facebook: Theodora Dayanti
Teguran Itu Cahaya Masa Depan

Teguran Itu Cahaya Masa Depan

Judul Cerpen Teguran Itu Cahaya Masa Depan

Namanya Tanika, ia sangat malas pergi ke sekolah. Sering ia ditegur Guru BP agar tidak terlambat. Tapi Tanika menghiraukan perkataan Guru BP. Tanika berubah semenjak orangtuanya sering bertengkar pada larut malam. Pernah Tanika mengintip pertengkaran Ibu dan Ayahnya

“kamu ini seorang Ibu, Mikha! Kalo kamu melakukan ini, Nanti Tanika dan Fika bisa mengikuti kamu Mikha!” bentak ayah, Plaak! Satu tamparan mengenai pipi Ibunya. Tanika hanya bisa menangis dan kembali ke kamarnya.

Sebelumnya, Tanika sangat senang dengan yang namanya ke sekolah. Ia juara kelas dan salah satu murid teladan. Ia sangat disenangi guru BP. Ia tak pernah ditegur dulu oleh guru BP. Kini sebaliknya, ia terus-terusan ditegur Oleh Guru BP. Untungnya, Guru BP masih memberinya kesempatan agar bisa masuk sekolah tepat waktu karena Guru BP masih yakin kalau Tanika bisa masuk sekolah seperti dulu.

Suatu hari, Rika menjemput Tanika seperti biasa. Saat Rika datang, Tanika masih tertidur di kasurnya. Rika sudah memanggilnya berkali-kali yang membuat Tanika terbangun

“Aduhh… Rika! Nyebelin deh pagi-pagi gini dibangunin. Aku mandi dulu aja deh. Semoga gak diomelin sama Guru Cerewet itu” gerutu Tanika lalu mengambil handuk dan segera mandi.

Setelah berpakaian seragam, ia mengambil tas dan segera berangkat ke sekolah bersama Rika

“Tanika! Kamu gak sarapan?!” teriak Ibu Tanika
“Enggak Ma, aku berangkat Langsung” jawab Tanika sambil mengayuh sepedanya menuju Sekolah. Tanika sempat tertegun karena ia tak pernah sepagi ini berangkatnya. Biasanya, Rika menunggu Tanika selama 30 Menit karena Tanika susah dibangunin. Rika adalah sahabat Tanika yang selalu menunggu Tanika sampai bangun. Tapi ia tak pernah meninggalkan Tanika berangkat sendirian. Rika pernah ikut ditegur Guru BP karena terlambat 15 menit bersama Tanika, tapi ia terus menunggu Tanika.

Di sekolah, Tanika dan Rika menaruh sepeda di parkiran lalu masuk ke kelas. Tapi Guru BP sudah tepat di hadapan Mereka
“Hmmm… kalian sepertinya tidak terlambat. Baiklah, kalian boleh masuk” kata Guru BP dan kembali berpatroli ke kelas yang lain. Tanika berpikir kenapa ia sangat senang tidak terlambat. Biasanya, Tanika senang sekali terlambat karena ia mendapat pelajaran yang lebih berharga dari pelajaran yang lain. Ia masih ingat pesan Almarhum Kakeknya “Tanika, kamu jangan sedih ya kalau ditegur ataupun dimarahi. Asal kamu tahu kita itu harus bersyukur atas teguran tersebut. Sebab teguran tersebut pasti banyak hikmahnya. Coba kamu bayangkan, Guru kelasmu memarahimu dan berkata ‘Tanika, kamu saya tegur karena kamu terlambat!’ kamu harus tersenyum karena ada makna terkandung di perkataan itu. Tanika harus bisa disiplin dan tanggung jawab karena kita yang salah. Jangan marah ditegur, teguran itu adalah Cahaya Masa Depan. Ingat pesan ini Tanika, Kakek sangat menyayangimu” pesan tersebut masih ada di benak Tanika.

Setelah kesadaran tersebut, Tanika mulai berusaha untuk disiplin dan Tanggung jawab karena pesan Almarhum kakeknya tersebut.

Cerpen Karangan: Hanania
Kado Terindah Dari Sahabat

Kado Terindah Dari Sahabat

Judul Cerpen Kado Terindah Dari Sahabat

Namaku Luma seorang siswi SMA yang baru saja naik kelas XII. Hari ini aku pulang ke desaku setelah sekian lama tidak pulang karena ngekos di kota tempat aku sekolah. hari ini begitu indah ketika senja menemaniku menyusuri jalan setapak di desaku.

“hey luma…” kata seorang yang memanggilku dari belakang. aku menoleh dan tertegun, sejenak aku berpikir “siapa dia?” batinku bertanya-tanya… dia seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan rambut yang sama sekali tak tertata. Sekarang aku ingat dia “May” temanku waktu aku di bangku sekolah dasar. “ya ampun May” sergahku segera menghampiri dan memeluknya. “apa kabar?” tanyaku kemudian “yah seperti yang kamu lihat, aku sekarang susah…” keluhnya seraya duduk di kursi pinggir jalan, aku pun ikut duduk. Aku diam saja namun tetap menyoroti wajahnya yang tampak letih. “kamu harus sekolah sampai tuntas, harus jadi sarjana, biar gak seperti aku..” keluhnya lagi, aku masih diam dengan fikiran bertanya-tanya.

tak lama kemudian seorang anak kecil laki-laki sekita berumur 5 tahun, dengan ingus blepotan menghampirinya. “ibu, aku ingin beli mainan itu” katanya, menunjuk sebuah warung yang menjual mainan tersebut. May menghela nafas kemudian menjawab “ya, nanti kalau ibu sudah punya uang, ibu belikan” putusnya. Anak itu hanya mengangguk dengan wajah muram. “ya beginilah Luma, kalau sekolah ndak sampai tuntas, cari kerjaan susah, suami pengangguran, aku mau ngelamar kerja apa? orang cuma tamatan SD. Setiap hari aku harus mencari sampah di pekarangan rumah orang yang mungkin masih bisa diual, cibiran orang sudah jadi makananku setiap hari” terangnya, aku miris mendengarnya, dia salah satu teman aku yang dinikahkan saat baru lulus SD oleh orangtuanya, ya bisa dibilang pernikahan dini. Waktu itu dia hanya bisa menuruti kemauan bapaknya melawanpun ia tak akan bisa.

“kamu harus tamatkan sekolah kamu setuntas-tuntasnya, biar nggak seperti aku, menyesal kemudian, bapak selalu bilang “andai saja ndok, bapak dulu ndak menikahkan kamu usia dini mungkin kamu tidak akan susah seperti ini” apalah daya nasi sudah menjadi bubur, hidupku sudah seperti ini, kamu harus berjuang dalam belajar, pendiddikan memang bukan segalanya tapi dengan pendidikan kamu bisa meraih segalanya” tuturnya seketika membuka hatiku, bagiku kata-katanya barusan adalah kado terindah yang pernah kuterima dari sahabatku.

Aku jadi teringat program GenRe yang diadakan di sekolahku kemarin, suatu program pemerintah yang merencanakan pernikahan sesuai dengan ketentuan negara dan agama, program tersebut harus disosialisasaikan di seluruh Indonrsia, agar tak ada lagi korban nikah dini seperti temanku May, agar tak ada lagi yang merasakan pedihnya kehidupan tanpa perencanaan sebelumnya, agar indonesia tidak hanya menjadi negara dengan penduduk kuantitas terbanyak tapi juga berkualitas.

Cerpen Karangan: Lumatul Aisah
Facebook: Aiysh Looma
Penyesalan Cinta

Penyesalan Cinta

Judul Cerpen Penyesalan Cinta

“Esti, kamu harus move on dan kembali seperti Esti yang dulu” pinta Rina. “Gak mungkin bisa Rin, aku dan Alan itu sudah pacaran selama 5 tahun dan dia mengkhianati aku seperti itu lagi” kata Esti. “Memang aku yang minta putus tapi aku juga sedih pisah dengan Alan” sambung Esti sambil nangis. “Sabar yah Esti, aku disini selalu ada buat kamu” kata Rina menenangkan.
Hal serupa juga dialami oleh Alan. Dia sangan menyesal telah kehilangan Esti, pacarnya itu. Hal itu karena perbuatan Alan sendiri. Alan sangat menyesal dan tidak ingin hubungannya berakhir.

Lima tahun yang lalu, awal pertemuan Alan dan Esti. Saat mereka mengikuti MOS di SMA Bakti. Mereka berdua sudah tertarik sejak awal bertemu. Esti selalu berpenampilan berbeda dengan kebanyakan murid di SMA Bakti tersebut. Esti memakai jilbab, yang menutupi rambutnya. Esti juga menggunakan kacamata minus, yang menambah kecantikannya. Sedangkan Alan sebaliknya. Alan adalah cowok playboy dan selalu membuat onar di sekolah itu. Hal positif dari Alan adalah dia siswa yang pintar dan selalu mendapat ranking di kelasnya, dan nilainya selalu diatas rata-rata kelas.
Esti memiliki sahabat bernama Rina. Mereka bersahabat sejak mereka duduk di kelas 2. Esti sudah mengerti segala apapun tentang Rina, begitu pula sebaliknya.

Awal mula hubungan Esti dan Alan terjalin ketika mereka terpilih sebagai ketua OSIS dan wakil ketua OSIS. Kegiatan OSIS itu membuat mereka sering bertemu dan bekerja sama. Cinta bisa hadir karena terbiasa, itulah ungkapan yang cocok untuk mereka berdua.
Esti dan Alan terbiasa bertemu, akhirnya mereka menjalin hubungan spesial. Hubungan mereka berjalan lancar dan sangat indah. Tetapi di tahun ke-2 mereka berpacaran, Alan mulai tidak setia dengan Esti. Alan diam-diam menjalin hubungan dengan adik kelas. Lambat laun, Esti melihat kejadian itu. Alan dan adik kelas itu berada di restoran fast food dan sedang begandengan tangan saat mengantri.

Keesokkan harinya Esti minta penjelasan kepada Alan, tetapi Alan selalu berbohong. Akhirnya Esti meminta putus kepada Alan, lalu Alan berusaha menjelaskan dan Esti akhirnya memaafkan dan tidak jadi meminta putus.
Ternyata kejadian itu terjadi berulang-ulang kali dan Esti selalu memaafkan Alan. Lalu yang menjadi puncak emosi Esti terjadi ketika lulus dan memasuki perguruan tinggi yang sama. Alan dan Esti masih berpacaran, tetapi Alan mengulangi perbuatan itu lagi. Esti tidak bisa memaafkan Alan kali ini. Esti meminta putus kepada Alan karena dia sudah lelah menjalani hubungan yang terus-menerus dikhianati seperti ini. Esti tidak mau memaafkan Alan. Meskipun Esti masih sangat cinta dan sangat menyesal telah meminta putus, tetapi dia juga merasa lega dengan keputusan yang sudah diambilnya. Hal itu didukung oleh Rina, sahabatnya.

Hikmah yang bisa diambil adalah sayangi pasangan kalian apa adanya dan jangan pernah menyakiti hati orang yang kalian sayangi.

Cerpen Karangan: Sunshine
Ketika Hati Yang Memilih

Ketika Hati Yang Memilih

Judul Cerpen Ketika Hati Yang Memilih

Apakah kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya saja?
Apa ada yang salah ketika orang yang kita cintai itu memiliki kekurangan? Bukankah di dunia ini manusia tidak ada yang sempurna? Beda halnya ketika hati yang akan memilih siapa yang akan kita cintai.

Galih adalah sosok yang sangat terkenal di sekolahnya. Ia adalah seorang ketua osis yang berwibawa, ramah dan tampan. Banyak para siswi yang mengidolakan dirinya, tanpa terkecuali. Galih dengan senang hati menanggapi puluhan wanita cantik yang berusaha untuk mencari perhatiannya. Bisa dibilang ia tipikal laki-laki playboy.

Namun setelah kedatangan Niken di hidupnya semua berubah. Niken adalah sosok wanita yang bisa dibilang cupu, tidak terlalu cantik dan ia menderita disleksia. Niken adalah siswi baru di kelas Galih. Pada awalnya galih hanya mengabaikannya, namun setelah terjadi satu insiden, ia sadar bahwa Niken adalah wanita yang tulus.

Saat ini Galih sedang berkendara dengan kecepatan tinggi. Ia sudah terlambat ke sekolah lantaran dirinya bangun kesiangan. Namun tanpa disangkanya dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil sedan yang melaju kencang. Tabrakan pun tak dapat terelakkan. Tidak ada yang mau menolong Galih yang saat itu sudah terkulai lemas, tanpa disadarinya ada seorang wanita yang mau menolongnya. Dia Niken. Dengan cekatan Niken segera menelepon ambulan. Setelah ambulan datang, Niken pun rela menemani Galih hingga sampai di rumah sakit.

Setelah menunggu sekian lama, dokter pun keluar dari ruang operasinya.

“Dok, bagaimana keadaan teman saya?”
“Karena terkena benturan yang cukup keras pada syaraf kakinya, sepertinya teman adik akan mengalami kelumpuhan untuk beberapa saat.”
“Tapi bisa kembali berjalan seperti semula kan dokter?”
“Tentu bisa, tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lama.”
“Baiklah dok, boleh saya menjenguknya?”
“Oh silakan, teman adik sudah bisa dijenguk.”

Sesampainya di dalam ruang rawat inap, Niken lalu menghampiri Galih yang sudah sadar, namun dari sorot matanya ia terlihat putus asa. Dengan ragu Niken mulai menanyakan keadaan Galih.

“Ha..hai Galih, bagaimana keadaanmu?”
“Mengapa kau kemari? Apa kau ingin menertawakanku? Apa kau ingin mengejekku karena aku lumpuh hah?”
“Tidak, aku kesini hanya ingin menanyakan keadaanmu.”
“Sudahlah, kau tidak usah berpura-pura peduli terhadapku.”

Setelah beberapa minggu berlalu, Galih mulai kembali bersekolah. Namun dengan suasana yang berubah drastis. Ketika dulu ia dipuji-puji, sekarang ia dicaci-maki. Ketika dulu dirinya dikagumi, sekarang ia hanya mendapat cibiran dari orang-orang di sekitarnya, hanya karena kelumpuhannya ini. Namun ada seseorang yang setia menemaninya disaat susahnya ini.

“Mengapa kau kemari? Kau ingin mengejekku seperti yang mereka lakukan?”
“Tidak, aku mohon janganlah berfikir negatif begitu kepadaku. Aku hanya ingin memberikan makanan ini padamu,” ujar Niken.
“Apa yang membuatmu perhatian kepadaku?”
“Tidak ada alasannya, ini semua datang dari hati.”

Galih tersenyum memandang wanita yang berdiri di depannya ini. Meskipun dari fisik ia tidak menarik, namun hatinyalah yang jadi daya tarik bagi wanita itu. Berbulan-bulan sudah Niken dengan setia menjadi teman Galih. Walaupun bisa dibilang Galih cukup merepotkan, namun Niken tidak pernah mengeluh akan hal itu. Niken selalu dengan setia menemani Galih.

Setelah beberapa bulan terlewati kelumpuhan pada kaki Galih sudah sembuh. Saat ini Galih kembali seperti dahulu lagi. Dikagumi oleh orang-orang. Namun seperti kacang yang lupa pada kulitnya, Galih mulai mengacuhkan Niken.

“Hai Galih, ini aku bawakan bekal untukmu.”
“Kau tidak usah peduli kepadaku lagi. Aku tidak mau berteman dengan gadis dungu sepertimu lagi.”

Ucapan Galih itu bak sambaran petir yang menghantam hati Niken. Bagaimana bisa Galih berbicara seperti itu pada dirinya setelah berbulan-bulan lamanya Niken dengan sabar berteman dengan Galih yang saat itu cacat. Tak terasa air mata sudah tak bisa dibendung lagi oleh mata Niken. Galih yang diam-diam melirik ke arah Niken sebenarnya merasa bersalah, namun karena egonya ia tetap mengacuhkan Niken.

Saat ini Galih sedang berada di sebuah Cafe bersama beberapa perempuan. Ia berjanji akan menteraktir para wanita-wanita yang mengidolakannya ini.

“Galih, kau tampan sekali, baik hati pula.”
“Iya Galih, andai saja aku yang menjadi kekasihmu aku pasti akan setia kepadamu.”
“Tenang saja, kalian semua akan selalu menjadi ratu di hatiku.”
“Benarkah itu?”
“Tentu.”

Setelah acara mentraktirnya itu selesai, Galih segera menuju ke kasir. Namun ketika ia memeriksa saku celananya, ada sesuatu yang teramat penting tidak ada disana. Dompet. Ia lupa membawa dompetnya.

“Em, Nisa dompetku tertinggal, apa aku boleh meminjam uangmu?”
“Hey, bukankah kau orang kaya? Ohh atau kau hanya berpura-pura menjadi orang kaya ya? Aku membencimu! Mulai sekarang jangan pernah dekati aku lagi orang miskin!” ujar perempuan itu yang langsung meninggalkan Galih.

Galih hanya menunduk menyesal. ‘jadi selama ini mereka hanya mengincar hartaku saja’ ujarnya dalam hati.

Namun ada seorang wanita dengan senang hati mau membayarkan semua pesanannya tadi. Dia Niken. Niken datang disaat yang sangat tepat. Galih sangat heran mengapa gadis yang ia marahi tempo hari mau membayarkannya.

“Hey, kau kenapa?” tanya Niken.
“Eh, tidak, mengapa kau melakukan semua itu?”
“Tidak ada salahnya bukan?”
“Kau wanita yang baik hati Niken. Aku sadar, selama ini aku hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya saja, bukan dari hati. Namun kali ini hatiku telah memilih seseorang, yaitu kau Niken, would you be my girl in my heart?”
“Apa kau serius?”
“Aku tidak akan pernah mempermainkan pilihan hatiku Niken, percayalah.”
“Aku menerimamu Galih.”

‘Janganlah melihat suatu hal hanya dari luarnya saja, dari kekurangannya ataupun dari keterbatasannya. Tanpa kita ketahui mungkin dibalik itu semua ada ketulusan yang akan menutupi segala kekurangan itu’

Cerpen Karangan: Ayu Wahyuni
Sepatu Hitam Di Balik Jendela

Sepatu Hitam Di Balik Jendela

Judul Cerpen Sepatu Hitam Di Balik Jendela

“Kringg… kringg… kring..” suara alarm membangunkan Alya. Terkejut ia setelah melihat jam tepat menunjukkan pukul 07.00. Ia langsung melompat dari kamar tidurnya. Langsung diambil handuk di luar kamar mandi. Dengan begitu sigap ia selesaikan mandinya. Ini mungkin akan membuatnya terkena marah Salwa, karena hari ini ia berjanji akan menemani Salwa ke toko buku jam 07.00 tepat. Ia juga meninggalkan sholat Shubuh hari ini. Memang sial benar nasib Alya hari ini. Sepatu yang hendak ia pakai belum juga ia ambil dari rak. Padahal Alya sama sekali tidak menyukai sepatu. Baginya sepatu itu layaknya monster, namun ia selalu memaksakan untuk memakainya.

“Bunda, bantu aku memakai ini, ini begitu sulit bagiku,” teriak Alya yang hendak mengenakan sepatu dari kamarnya. Ibunya yang mendengar itu hanya senyum-senyum sembari menggelengkan kepalanya. “Kamu ini Alya selalu begitu, pasti kamu juga meninggalkan sholat Shubuh hari ini, iya kan?” jawab ibu Alya berjalan mendekatinya. “Ah, Bunda bantu aku dulu, aku sedang terburu-buru. Iya Bunda, Alya minta maaf tadi Alya meninggalkan sholat Shubuh.” sahut Alya dengan nada teramat menyesal. Ibu Alya langsung membantunya menalikan tali sepatu anak satu-satunya itu.
Lalu ia ambil dompet yang ada di meja belajarnya kemudian berlalu ke luar meninggalkan ibunya. “Ibu Alya berangkat, Alya sedang buru-buru.” teriak Alya menuju ke luar rumah.

Sampai di depan rumah Salwa, Alya nampak berjalan mengendap-endap mendekati Salwa. “Alya…” panggil Salwa dengan nada menekan. Alya pun tersenyum mendengar itu. “Pasti ini akan terjadi, kamu ini Al dari dulu tidak pernah berubah.” tambah Salwa. Iapun membalasnya dengan senyum merayu Salwa agar tidak marah. Salwa pun sudah paham betul dengan sikap Alya jadi dia hanya menghela nafas panjang. Akhirnya keduanya pun bergegas untuk segera berangkat.

Di tengah-tengah perjalanan, Alya nampak melihat sepatu Salwa. “Mengapa kamu menatap sepatuku seperti itu Al, ada yang salah ya?” tanya Salwa dengan keheranan. “Emm, tidak kok, ayo cepat Al keburu siang nanti,” jawab Alya terlihat menyembunyikan sesuatu sambil menarik tangan Salwa. Sesampainya di toko buku seperti biasa Alya berpisah dengan Salwa. Ia mencoba mencari novel-novel kesukaannya di lantai 2. Sedangkan Salwa mencoba mencari buku-buku tentang kimia di lantai 1. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi keduanya. Mereka selalu melakukan hal itu setiap kali pergi bersama ke toko buku.

Di lantai 2 Alya sibuk membaca-baca novel kesukaannya. Sampai-sampai ia tidak menyadari hari sudah hampir siang. Salwa mencoba mencari Alya di lantai 2, namun ia tidak juga menemukannya. Di tempat rak-rak buku novel, Salwa juga tidak menemukan Alya, lalu kemana dia pergi. Ternyata Alya baru saja dari kamar mandi, ia mencoba untuk meminta maaf pada Salwa karena telah menunggunya lama tadi. Baru saja dua langkah ke depan Alya tiba-tiba saja jatuh tersungkur di depan Salwa. Semua pandangan tertuju pada Alya.

Seketika wajah Alya memerah, sambil mencoba untuk bangkit dibantu Salwa. Salwa pun merasa bingung dengan Alya mengapa dia hari ini begitu aneh. Dengan cepat Alya menarik tangan Salwa menuju ke kamar mandi. Dengan tali sepatunya yang terlepas ia mencoba untuk menahan itu dan segera ke kamar mandi. “Alya ada apa denganmu kamu terlihat begitu aneh hari ini, itu juga tali sepatu kamu terlepas, taliin gi,” ucap Salwa. Alya mencoba menjelaskan semuanya pada Salwa mengenai semua rahasia yang ia miliki. Mendengar itu Salwa begitu terkejut dan lucu, hal ini membuat Salwa menertawakan Alya. Karena respon Salwa yang seakan mengejek, Alya pun berubah menjadi marah. “Kamu ini Sal tidak setia kawan, aku marah sama kamu,” kata Alya sembari memalingkan mukanya. “Beneran kamu mau marah sama aku, terus yang bantuin kamu taliin sepatu kamu siapa?” jawab Salwa meledek. Akhirnya Alya dengan terpaksa menarik kata-katanya itu dan mencoba merayu Salwa. Dan pada akhirnya Salwa mulai membantu Alya menalikan tali sepatunya yang terlepas. Kemudian mengajak Alya pulang.

Sepanjang perjalanan Salwa terus-terusan menanyai Alya tentang keanehannya itu. Akan tetapi Alya menjawab dengan begitu dingin dan berjalan agak depan dari Salwa mencoba untuk menjauhinya.
“Alya, iya-iya aku minta maaf, aku janji nggak akan ngeledek lagi kok,” seru Salwa.
Alya seketika berhenti dan menoleh ke belakang sembari tersenyum. Keduanya saling bercanda di sepanjang perjalanan pulang.

Setelah sampai di rumah, Alya nampak begitu lesu. Dilempar sepatu yang ia kenakan itu ke luar rumah. Dan mengenai ayahnya yang baru pulang dari kantor. Tetapi tanpa meminta maaf Alya langsung berlari menuju kamarnya. Ayah Alya sudah menebak watak putrinya yang tidak pernah berubah itu dan tetap melanjutkan jalannya.

Di kamarnya yang cukup luas, ia melihat keadaan sekeliling yang nampak berantakan. Ini semua membuat Alya semakin naik darah, dan memarahi pembantunya. Ibunya yang mendengar ada keributan di kamar Alya segera menuju kesana, diikuti juga ayahnya. Bukan pembantunya yang kena marah melainkan Alya yang sikapnya selalu saja kekanak-kanakan itu. Setelah keributan mereda semua pergi meninggalkan kamar Alya kecuali Alya. Dia mencoba melupakan semuanya dengan merebahkan badannya di kasur. Baru beberapa menit ia langsung terlelap. Ia bermimpi ada sebuah sepatu besar yang menjatuhinya. Alya pun langsung terbangun sembari berteriak kencang. Teriakannya itu membuat ayah dan ibunya kaget dan mencoba menghampiri Alya untuk memastikan apa yang terjadi.

Setelah Alya menceritakan semua, ayah dan ibunya tertawa dan mencoba untuk menenangkannya karena itu semua hanya mimpi. Segera Alya menyuruh ibunya untuk menyimpan semua sepatu-sepatunya kecuali sepatu yang tidak bertali. Ia beranggapan semua itu layaknya monster yang selalu saja menghantuinya. Akhirnya setelah tenang kembali, Alya melanjutkan untuk tidur siang.

Sore itu, untuk menikmati sunrise, Alya mengajak ayahnya jalan-jalan di dekat alun-alun yang tidak jauh dari rumahnya. Sesampainya di alun-alun keadaan terlihat ramai. Di setiap sudut alun-alun terdapat berbagai jenis makanan yang diperdagangkan.
“Al, ayah mau beli minum dulu, ayah haus kamu disini atau ikut?” tanya ayah Alya.
“Tidak Yah, aku disini saja duduk, aku sedang tidak ingin kemana-mana,” jawab Alya loyo.

Setelah ayahnya beranjak pergi, pikirannya terbesit suatu kekonyolan mengenai mimpinya tadi. Dia pun dengan segera menghilangkan pikiran-pikiran anehnya itu. Tiba-tiba saja ada sebuah sepatu yang terlempar dan itu mengenai kepala Alya. Dia merasa kesakitan, kepalanya juga pusing. Sekaligus juga ia menahan marah, Alya pun hanya tersenyum melihat orang-orang di sekitarnya.
“Aduh sepatu siapa ini, sakit,” batin Alya sambil memegangi kepalanya yang masih sakit.
“Kamu kenapa Al?”, tanya ayahnya yang kembali dari membeli minum.
“Ini yah, tadi aku terkena lemparan sepatu, entah siapa yang melempar,” jawab Alya.
“Ya sudah lah Al, mungkin ini teguran buat kamu, ini minum dulu pasti kamu juga haus kan?” sambung ayahnya
“Maksud ayah?” sahut Alya lagi penasaran.
Kemudian ayahnya tidak melanjutkan menjawab dan segera mengajaknya pulang karena hari juga sudah hampir larut. Bintang malam juga mengedip pada Alya mengajaknya untuk segera pulang dan melupakan kejadian tadi. Sebelum pulang Alya mengambil sepatu itu dan hendak untuk membuangnya nanti. Di sepanjang perjalanan, ia tidak henti-hentinya memikirkan ucapan ayahnya tadi yang belum sempat terjawab.
“Teguran? Teguran apa yang dimaksud oleh ayah,” bantinnya dalam hati.
Dengan segera ia percepat langkahnya menyusul ayahnya yang sudah ada di depannya.
Kemudian setelah sampai di rumah, Alya ingin segera membuang sepatu yang mengenainya tadi. Lalu tiba-tiba saja pikirannya itu berubah, mungkin ada sesuatu yang bisa merubah hidupnya. Atau ada hikmah di balik sepatu itu. Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk membuang sepatu itu.

Keesokan harinya udara masih nampak segar menyelimuti sekitaran, hari ini Alya yang hendak pergi sekolah sudah terpejam dari waktu Shubuh tadi. Tidak seperti biasa yang selalu bangun kesiangan. Dia juga nampak berbeda hari ini tidak teriak-teriak lagi dan mulai bersifat lemah lembut. Sesekali ia mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas. Sempat juga ia memandangi sepatu hitam yang mengenainya sore kemarin, ia nampak heran dengan sepatu itu yang nampak kesepian karena sebelahnya tidak ada. Dia mencoba meletakkan sepatu itu di dekat kaca, ia berpikiran mungkin dengan itu sepatunya tidak akan kesepian lagi. Karena pasti ada bayangan dari sepatu itu seolah-olah menjadi dua bagian atau sudah menjadi sepasang sepatu yang lengkap.

Setelah itu Alya menunggui ayahnya di mobil untuk berangkat ke sekolah. Saat ayahnya sampai di mobil, ayahnya nampak tercengang melihat Alya yang tidak biasa seperti itu. Ayahnya hanya tersenyum melihat perubahan anaknya itu. Di sepanjang perjalanan Alya juga tidak merengek seperti apa yang selalu ia lakukan. Ia terlihat diam sembari memandangi keramaian jalan ibukota. Setelah sampai di sekolah, wajahnya nampak lempeng-lempeng saja seperti tidak ada gairah untuk hidup. Setelah berpamitan dengan ayahnya, Alya langsung masuk ke dalam sekolah.

Tiba-tiba dari arah belakang, datang Salwa yang mengejutkan dirinya. Alya hanya menyenggol Salwa pelan karena merasa terkejut. Salwa hanya bengong melihat tingkah kawannya yang aneh hari ini. “Ada apa dengangmu Al? Kenapa sikapmu tidak seperti biasa, biasanya kan kamu sering marah-marah.” tanya Salwa pada Alya. “Ahh tidak kok Sal, mungkin itu hanya perasaanmu saja,” jawabnya dengan tenang. Salwa masih heran sembari memandangi sahabatnya itu dengan begitu seksama. Mereka berdua langsung bergegas menuju ke kelas.

Ketika jam tanda masuk sekolah sudah berbunyi semua siswa segera masuk ke kelas masing-masing begitu juga dengan Alya dan Salwa yang kebetulan juga satu kelas. Pelajaran pertama adalah pelajaran musik, pelajaran yang selalu dinanti oleh anak-anak. Kebetulan juga hari ini pengambilan nilai bermain alat musik solo. Alya terlihat pucat dan gemetaran. Salwa menyenggolnya untuk memastikan ia baik-baik saja.
“Kamu sudah siap kan Al?” tanya Salwa
“Emm, aku tidak yakin Sal, aku rasa aku begitu nervous hari ini,” jawab Alya sembari memainkan jari-jarinya untuk menutupi rasa nervousnya.

Setelah nama Alya dipanggil ia tampil ke depan. Mukanya masih terlihat pucat karena nervous. Ia mencoba menenangkan pikiran dan hatinya, dengan menikmati permainan alat musiknya yaitu biola. Nampaknya Alya begitu menghayati setiap nada-nada yang ia mainkan, guru musiknya juga terlihat begitu tercengang. Melihat perubahan drastis yang ditunjukkan Alya. Setelah selesai, semua teman-temannya memberinya tepuk tangan dengan begitu meriah dan haru, karena lagu yang ia bawakan sampai-sampai bisa menyayat hingga ke hati.

“Wah, Al kamu keren, bagaimana kamu bisa melakukan itu? Itu membuatku hampir menangis Al?” tanya Salwa dengan penasaran.
“Kamu Sal, itu terlalu berlebihan padahalkan hanya biasa saja,” jawabnya menyangkal.

Setelah pelajaran selesai semua murid kembali ke kelas, sembari merapikan buku-buku mereka karena sebentar lagi bel pulang sekolah akan segera dibunyikan. Salwa dan Alya masih sibuk dengan buku-buku mereka sendiri-sendiri. “Sal, nanti kita pulang bareng ya.” ajak Alya. “Tumben Al, kan biasanya kamu dijemput sopir kamu,” jawab Salwa dengan nada ragu. “Ternyata bosen juga Sal kalau harus dijemput terus, nanti biar aku kasih tahu sopir aku biar nggak jemput, nggak papa kan Sal?” rayu Alya. “Tidak masalah sih, hari ini kayaknya aku juga tidak di jemput.” jawab Salwa.

Keduanya akhirnya pulang bersama dengan menaiki angkutan umum, memang terlihat tidak biasa bagi keduanya. Namun bagi keduanya itu adalah pengalaman baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Benar saja, meskipun dalam kondisi sumpek dan pengap mereka malah saling bercanda dan tertawa. Merasa Alya yang seperti ini Salwa senang karena ia tidak harus menjadi seperti yang lebih tua dari Alya lagi. Mungkin karena sepatu kemarin yang mengenai Alya, itu semua mungkin teguran baginya. Dan itu yang membuatnya tersadar akan sifatnya yang selalu kekanak-kanakan.

Sesampainya di gang depan rumah mereka turun dari angkutan. Keduanya berpisah disitu karena arah rumah mereka yang tidak searah. Ketika Alya mulai berjalan agak jauh, tali sepatunya tiba-tiba saja lepas. Karena hari ini terpaksa ia harus mengenakannya lagi karena peraturan sekolah yang tidak boleh ia langgar. Namun kini ia sudah mulai terbiasa dengan sepatu bertali. Kemudian ia langsung duduk untuk membenahinya. Dari arah yang berlawanan nampak ada seseorang yang coba membantunya. Alya pikir itu siapa karena sebelumnya ia belum pernah melihat orang itu.
“Sini biar saya bantu Nak, kamu terlihat kerepotan, kalau kamu bayangkan sepatu ini hendaknya kamu bersyukur karena sepatu yang melindungi kamu, ini layaknya kedua orangtuamu, dan sepasang sepatu ini mengibaratkan kita yang tidak bisa hidup jika hanya sendiri dan tentunya selalu membutuhkan yang lainnya yang cocok dengannya, lalu tali ini yang mengikatmu rapat-rapat agar kamu tidak terjatuh, ini ibaratkan sahabatmu yang selalu menemanimu disaat kamu terjatuh dan mencoba membantumu agar kamu tidak terjatuh lagi. Jadi patutnya kita harus belajar dari sepatu. Meskipun terlihat kecil namun memiliki makna yang luar biasa.” Kata seorang wanita setengah baya yang membantunya menalikan sepatu Alya.
Mendengar semua itu, hati Alya seakan baru saja dibuka. Ia terlihat amat menyesal dengan sikapnya yang selalu saja bodoh. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera berlalu sambil menahan air matanya yang seakan mulai membasahi matanya. Dengan segera ia berlari menuju ke rumah. Tiba-tiba saja ia langsung memeluk ibunya yang sedang melihat-lihat tanaman kesayangannya. Ibunya kaget, apa yang telah terjadi pada Alya. Alya juga menangis dan mulai mengeratkan pelukannya. Ibunya hanya bisa bernafas lega, dan mencoba untuk menenangkan Alya untuk menghentikan tangisannya.

Ibunya mengajak Alya masuk karena tidak enak dilihat tetangganya. Dengan segera Alya langsung meminta maaf, ayah Alya yang berada di luar rumah mulai mempercepat langkahnya untuk segera masuk. Disitupun Alya mulai meluapkan semua kebodohannya selama ini dengan memeluk kedua orangtuanya dengan terus-terusan meminta maaf. Kedua orangtuanya pun juga memeluk Alya erat sembari memberikan kata pemberian maaf yang tulus. Karena selama ini mereka sudah memaafkan Alya. Sekarang Alya telah tumbuh menjadi gadis yang lebih bijaksana dan lemah lembut ketika ia dihadapkan pada suatu masalah.
“Ya, karena sepatu hitam ini, aku sadar walau dulunya seperti monster bagiku namun sekarang telah menjadi cermin bagiku untuk berkaca tentang bagaimana diriku. Aku juga tidak akan membiarkan sepatu ini kesepian sehingga aku letakkannya di dekat kaca jendela. Agar terlihat mereka berdua, seperti layaknya sepasang sepatu yang selalu menginspirasiku.”

Cerpen Karangan: Amanda Novitasari
Blog: amandanov.blogspot.com
Facebook: amanda novitasari