Judul Cerpen Semangat Puasa
Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku.
“Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan.
“Iya, umi…” Aku berjalan gontai sambil masih terkantuk-kantuk menuju kamar mandi untuk cuci muka.
“brrrrr…” dinginnya air membasuh mukaku.
Biasanya kami makan sahur hanya berempat aku, umi, abi, dan kak Laila. Tapi suhur Ramadhan kali ini terasa istimewa karena ditemani kakek dan nenek yang sengaja berkunjung dari desa.
“imsak… imsak… imsak…” sayup-sayup terdengar lirih suara imsak tiga kali dari masjid kampung, aku dan keluargaku segera menghabiskan minum masing-masing. Kan, ini bulan ramadhan, gimana mau enggak puasa coba?
Usai sahur aku bergegas kembali lagi ke kamarku di lantai dua.
“Ruqayyah kenapa ya nek..? nggak seperti biasanya” ujar kakek bingung.
“Iya… kek, Ayya aneh hari ini. Tidak seperti biasanya” komentar nenek sambil segera menyusul ke kamarku.
“Assalammualaikum Ayya, buka pintunya, Ayya…” Salam nenek. “Waalaikumussalam… masuk saja, nek. nggak dikunci, kok…!” Jawabku dari dalam kamar. Aku hanya memikirkan sesuatu. Ya, apa jadinya puasa tapi upacara? Wuiiih… heran aku!
Sambil ikut duduk di pinggir kasurku nenek mulai berbicara. “Ayya, Yang paling cantik sedunia… Kok tadi kelihatan aneh, sih?” Tanya nenek.
Aku hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian aku balik bertanya “Memang ada apa dengan Ayya…?” Tanyaku seperti orang linglung.
“Ya… Nenek Cuma mau tahu saja. Ayya kelihatan aneh, tadi, tidak biasanya begitu selesai makan sahur langsung kembali ke kamar lagi, jangan-jangan Ayya kembali tidur lagi…” Canda nenek sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Yang ini harus jawab, nih! “Maaf, nek… Tadi aku hanya berfikir, apa bisa upacara tapi puasa? Yah… sampai sekarang saja aku masih bingung…” Ujarku sedikit tertawa.
“Oh… nenek kirain ada apa. Ayya tahu perjuangan pahlawan?” Tanya nenek sambil membelai lembut kapalaku.
“Ya, pasti Ruqayyah tahu dan faham lah nek… Memang, ada apa?” ujarku lebih lanjut.
“Ruqayyah, merdeka itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan sangatlah besar. Mereka pantang menyerah demi tetap tegaknya negara kesatun Republik Indonesia. Mereka siap untuk mengorbankan jiwa dan raga tanpa pamrih. Untuk itu kita harus menghormati perjuangan para pahlawan, salah satunya dengan upacara itu…” Nenek menjelaskan panjang lebar. “Puasa bukan berarti membuat kita boleh bermalas-malasan, justru Ayya harus tunjukkan bahwa puasa janganlah dijadikan sebagai alasan yang dapat menghambat segala aktifitas sekolah Ayya” lanjut nenek.
“Baik nek, Ruqayyah janji untuk ikut upacara” Aku menegaskan dan meyakinkan nenek.
“Wah… ternyata, nenek itu pandai berpidato ya… hehe” gumamku dalam hati, dan aku sekarang mantap untuk mengikuti upacara sebagai rasa hormat terhadap perjuangan para pahlawan. Panasnya saat upacara belum seberapa dibanding pengorbanan yang telah mereka darma baktikan untuk nusa dan bangsa. Dan aku pun bertekad tetap semangat untuk selalu mengisi kemerdekaan ini dengan belajar rajin agar dapat mendarmabaktikan seluruh kemampuanku demi kejayaan negara Indonesia tercinta.
Seperti nasihat nenek, puasa bukanlah hambatan untuk beraktifitas dan belajar. Insya Allah… semoga kita selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam bulan puasa kali ini.
Cerpen Karangan: Hafshah Mufidah
Facebook: Hafshah Fida
Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku.
“Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan.
“Iya, umi…” Aku berjalan gontai sambil masih terkantuk-kantuk menuju kamar mandi untuk cuci muka.
“brrrrr…” dinginnya air membasuh mukaku.
Biasanya kami makan sahur hanya berempat aku, umi, abi, dan kak Laila. Tapi suhur Ramadhan kali ini terasa istimewa karena ditemani kakek dan nenek yang sengaja berkunjung dari desa.
“imsak… imsak… imsak…” sayup-sayup terdengar lirih suara imsak tiga kali dari masjid kampung, aku dan keluargaku segera menghabiskan minum masing-masing. Kan, ini bulan ramadhan, gimana mau enggak puasa coba?
Usai sahur aku bergegas kembali lagi ke kamarku di lantai dua.
“Ruqayyah kenapa ya nek..? nggak seperti biasanya” ujar kakek bingung.
“Iya… kek, Ayya aneh hari ini. Tidak seperti biasanya” komentar nenek sambil segera menyusul ke kamarku.
“Assalammualaikum Ayya, buka pintunya, Ayya…” Salam nenek. “Waalaikumussalam… masuk saja, nek. nggak dikunci, kok…!” Jawabku dari dalam kamar. Aku hanya memikirkan sesuatu. Ya, apa jadinya puasa tapi upacara? Wuiiih… heran aku!
Sambil ikut duduk di pinggir kasurku nenek mulai berbicara. “Ayya, Yang paling cantik sedunia… Kok tadi kelihatan aneh, sih?” Tanya nenek.
Aku hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian aku balik bertanya “Memang ada apa dengan Ayya…?” Tanyaku seperti orang linglung.
“Ya… Nenek Cuma mau tahu saja. Ayya kelihatan aneh, tadi, tidak biasanya begitu selesai makan sahur langsung kembali ke kamar lagi, jangan-jangan Ayya kembali tidur lagi…” Canda nenek sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Yang ini harus jawab, nih! “Maaf, nek… Tadi aku hanya berfikir, apa bisa upacara tapi puasa? Yah… sampai sekarang saja aku masih bingung…” Ujarku sedikit tertawa.
“Oh… nenek kirain ada apa. Ayya tahu perjuangan pahlawan?” Tanya nenek sambil membelai lembut kapalaku.
“Ya, pasti Ruqayyah tahu dan faham lah nek… Memang, ada apa?” ujarku lebih lanjut.
“Ruqayyah, merdeka itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan sangatlah besar. Mereka pantang menyerah demi tetap tegaknya negara kesatun Republik Indonesia. Mereka siap untuk mengorbankan jiwa dan raga tanpa pamrih. Untuk itu kita harus menghormati perjuangan para pahlawan, salah satunya dengan upacara itu…” Nenek menjelaskan panjang lebar. “Puasa bukan berarti membuat kita boleh bermalas-malasan, justru Ayya harus tunjukkan bahwa puasa janganlah dijadikan sebagai alasan yang dapat menghambat segala aktifitas sekolah Ayya” lanjut nenek.
“Baik nek, Ruqayyah janji untuk ikut upacara” Aku menegaskan dan meyakinkan nenek.
“Wah… ternyata, nenek itu pandai berpidato ya… hehe” gumamku dalam hati, dan aku sekarang mantap untuk mengikuti upacara sebagai rasa hormat terhadap perjuangan para pahlawan. Panasnya saat upacara belum seberapa dibanding pengorbanan yang telah mereka darma baktikan untuk nusa dan bangsa. Dan aku pun bertekad tetap semangat untuk selalu mengisi kemerdekaan ini dengan belajar rajin agar dapat mendarmabaktikan seluruh kemampuanku demi kejayaan negara Indonesia tercinta.
Seperti nasihat nenek, puasa bukanlah hambatan untuk beraktifitas dan belajar. Insya Allah… semoga kita selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam bulan puasa kali ini.
Cerpen Karangan: Hafshah Mufidah
Facebook: Hafshah Fida
Semangat Puasa
4/
5
Oleh
Unknown
