Showing posts with label Cerpen Pengalaman Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Pengalaman Pribadi. Show all posts
Umur 25 and Still Counts

Umur 25 and Still Counts

Judul Cerpen Umur 25 and Still Counts

Seminggu lalu gua dikirimin undangan pernikahan dari temen deket. Dia temen semeja gua waktu SMA. Dari WA, gua ngucapin makasih dan minta maaf karena gua gak bisa dateng. Pas ditanggal itu gua akan dinas ke estate. Lalu temen-temen yang lain pada akrab nimbrung -ngebully gua: nyuruh nikah.

Ikan gembung!

Apakah menjadi single karena ‘cinta bertepuk sebelah mata’ di usia 25 adalah suatu hal yang aneh? Beberapa temen gua udah pada nikah di usia ini atau at least mereka udah punya pacar yang mereka yakini akan berjodoh dengan mereka. 25 tahun itu masuk periode perak kalo gak salah ya? Dan di usia ini gua rasanya jadi kebanyakan merenung, pencapaian apa yang udah gua dapat sampai sekarang… kadang gua ngerasa mimpi-mimpi gua semakin menjauh. Kadang juga gua ngerasa waktu gua untuk mimpi-mimpi itu udah semakin gak ada. Setelah gua bekerja kayak gini, apakah ada kesempatan gua untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, gua udah jadi ragu. Jadi Social Worker di pedalaman, ambil Beasiswa S2 ke New Zealand, dan membeli rumah untuk mama. Itu impian terbesar seumur hidup gua. Dan jujur, sebelum menikah, salah satu dari tiga hal ini ingin gua wujudkan. Tapi sampai detik ini, bahkan tanda-tanda untuk hal itu akan terwujud belum ada.

Gua pun terdiam.
Merasa dibegoin sama waktu.

Gua bener-bener ngerasa, kalo di usia ini gua mengalami transisi secara besar-besaran. Benar kata laki-laki itu, gua sedang mengalami transisi baik itu dalam percintaan, pekerjaan dan cara berpikir gua sendiri. Makasih buat orang yang pernah gua cintai, ia adalah orang pertama menyadarkan gua akan hal itu. Dan itu memberi gua sedikit kekuatan. Menghadapi banyak masalah kayak gini benar-benar membantu gua untuk lebih bersabar dan harus menghadapi masalah itu sendiri ketimbang kabur dari situ. gua nggak lagi berpikir untuk dimengerti oleh orang lain. Tapi gua harus lebih banyak mengerti diri gua sendiri. gua harus lebih banyak mendengarkan kata hati gua, tapi sambil lebih berhati-hati juga karena kecendrungan kita sebagai manusia itu egois, jadi kadang hati kita suka licik. Hati kita suka membenar-benarkan hal salah yang udah kita lakuin dan itu selalu mengatasnamakan “perasaan”. Untuk itu, sekarang gua udah mulai melatih diri gimana caranya berpikir rasional. Sifat kebocahan kayak gitu udah mulai gua tinggalin.

Ini tentang gua dan bagaimana cara gua menyikapi orang yang suka sok tau dengan jalan pikiran gua. Sejujurnya, gua kurang senang dengan suatu keadaan dimana ada orang yang suka mengukur-ukur perasaan gua atau suka menebak-nebak kepribadian gua. Karena bahkan gua sendiri kadang bertanya tentang perasaan gua, apa mau gua, dan tentang isi dalam otak gua. Gimana bisa mereka lebih tau dari gua? Apa selain diciptakan menjadi manusia mereka juga diciptakan sebagai scanner atau rontgen?
Disatu kesempatan, dia berusaha menebak siapa gua dan it was almost totally wrong.

Sadly, orang-orang suka salah sangka bahwa gua adalah mahluk fleksibel. gua bisa berbaur dengan siapa aja, diajak ke mana aja, diajak makan apa aja, dan diledekin jadi siapa aja. Benar adanya bahwa gua adalah cewek yang sedikit gak ribet. gua gak susah diajak nongkrong bahkan itu di dalam neraka bersama anak-anak setan, gua gak pernah ribet mau makan apa aja, dan banyak hal lain yang tampaknya gua nyantai aja soal itu. gua juga selalu okay ngikutin rencana yang tiba-tiba berubah pas injury time. gua jarang mengeluh soal itu. Dan, ataukah mungkin dia ngerasa sedikit gak nyaman gara-gara gua lebih nyaman berteman dengan temen cowok daripada cewek? Was it something like threat? Lagian kenapa gua harus peduli? (Pembelaan diri secara besar-besaran untuk menyembunyikan perasaan gamang)

Tapi apakah mereka berpikir bahwa di dalam hati gua gak menyimpan sesuatu?
Gua adalah orang yang menyimpan segala sesuatu di dalam hati.
Dan sifat jelek gua adalah lama memutuskan. Akan berakhir bagaimana gua dengan orang ini. Apakah gua masih akan terus berteman dengan dia atau gua harus berhenti berteman di detik itu juga.

Jujur aja, lama-lama gua semakin ngeliat dan mata gua semakin terbuka terhadap potensi yang sama sekali gak ada di antara gua dengan laki-laki jelmaan rayap namun yang masih gua cintai itu. Makin kesini gua makin gak yakin atas keputusan gua untuk menjalani semuanya dengan cara menganggap gak ada kejadian apa-apa. Kayaknya keputusan ini belum gua yakini tepat. Pasalnya, gua malah sering jadi sakit hati kalau lagi sama-sama. Jadi buat apa gua menyiksa diri dengan berlama-lama menghabiskan waktu dengan orang yang cuma dateng nyakitin doang? Buat apa gua ngabisin waktu berteman dengan orang yang mungkin gak menghargai gua bahkan sebagai teman? Orang yang nggak melindungi harga diri gua dan gak bertanggung jawab atas semua usaha dia bikin gua jatuh hati lalu dia dengan entengnya malah pergi memilih cewek lain.

Kutil Badak.

Adalah sangat sakit saat dia udah tau perasaan lu dan dia gak punya niat untuk mencintai lu kembali, namun dia suka bermain-main dengan perkataan atau perbuatan yang membuat lu ngerasa bahwa dia, setidaknya, menyukai lu. Sakit rasanya saat perasaan lu gak dijaga oleh orang yang lu kasihi.

“Aku balik sebentar ya. Mau laporan.”
Boker? Bukan. Nelepon cewek.
*gua berubah jadi Hulk

Apa dia pikir hati gua terbuat dari daur ulang plastik asoy dan gak mengurai?
Bener-bener jelmaan ikan sapu-sapu.

Kayaknya gua memang sampai kapanpun gak akan pernah bisa berteman dengan dia. Gak akan pernah ada kata-kata pertemanan. Agak sedikit mustahil untuk ngelakuin itu. Harusnya gua percaya sih dengan kata hati gua. Dari awal gua udah insecure dengan cara dia memperlakukan gua dan mengenai cara gua ngerasa tentang dia. Tapi untuk yang kesekian kalinya gua mengabaikan kata hati gua. Entah apa yang sedang berusaha gua nomorsatukan, entah itu rasa atau status pertemanan-semua ini membuat gua keliatan kayak orang bego. gua gak bisa mutlak nyalahin dia yang udah mempermainkan perasaan gua, tapi ini lebih ke jahatnya gua yang udah mempermainkan diri gua sendiri.

gua capek.
gua capek dibegoin.

Tapi gua gak tau gimana caranya pergi dengan hati yang udah luluh lantak -gimana caranya ngeberesin hati hancur ini, masih menjadi pertanyaan. Saat ini jiwa gua udah kayak dimutilasi dibagi atas 3 bagian. Bagian pertama, gua masih tetap dengan hati gua yang masih sayang. I am his lover. And I can not do any shit about this. Maybe it is true that once upon a time he liked me but not find enough encourage to love me (back). Apalagi untuk Fighting. (Apakah kualitas diri gua seburuk itu ya? 🙁 ; bener-bener bikin gua down). Ternyata, gua masih suka diam-diam memperhatikan dia, apakah dia sudah makan, apakah dia minum terlalu banyak beer hari ini, apakah dia bahagia hari ini (Tentu aja, yang ada gua yang meringis menahan rindu). gua masih berdoa buat dia, semoga hari ini dia bangun tidur dengan seger, atau mudah-mudahan hari ini dia gak digigit semut matanya karena dia manis.
(Ini kenapa jadi kayak psikopat gini ya? *telan semen padang*)

Bagian kedua, gua harus bisa tetap menjadi temannya. Seorang teman baik. This is the hardest part of these parts. Berada dalam satu kelompok pertemanan dengan dia dan ada dalam satu grup WA artinya gua akan setiap hari melihat dia ‘hidup’ sementara gua sedang jungkir balik mati-matian untuk memutus semua celah perasaan sayang gua agar gak lagi mengambil alih quality time yang harusnya gak gua habiskan untuk sibuk berpikir gimana caranya move on. Mati-matian mematikan perasaan mematikan ini. Mati-matian gimanapun caranya untuk gak ketemu atau membaca pesannya.
Lagi-lagi gua gatot. Gagal Total.
gua susah menjelaskan gimana rasa sakit yang sedang gua rasa ini. Ini perasaan gua, jadi gua harus bertanggung jawab kan? *nangis di ketek mama
Gua sakit setiap hari gua harus sok asik dengan semua basa-basi itu.

Bagian ketiga adalah, A Hater, karena ternyata dia sudah mempermainkan perasaan gua, harusnya gua bisa berubah wujud jadi orang yang membenci semua basa-basinya yang gak berguna itu. Mengacuhkan semua leluconnya yang garing itu. Mematahkan semua omong kosongnya dan sudah membunuh dia 20 kali dalam pikiran gua setiap kali gua berpapasan dengannya.

Gak tau mau mengambil peran yang mana supaya gua merasa nyaman dengan hidup gua sendiri.
MENCINTAI DIA ITU KAYAK DUDUK TANPA CELANA DI ATAS DURIAN YANG LAGI DIBAWA DI ATAS MOBIL PICK UP.
Sakit. Malu. Gila.

14-05-2017
gua tiba-tiba ngerasa nista. Ngebayangin seorang cewek di umur 25 yang sama sekali gak punya plan apa yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Agak miris sih, mengingat pencitraan yang gua lakukan selama ini bahwa gua adalah orang yang paling kocak sedunia. Orang yang paling cincay dengan segala sesuatu. Cewek bermental kuat yang gak takut apa-apa (kecuali kecoak terbang dan bulu mata palsu yang ditempelin di kaca). Gak akan sakit dengan perlakuan apapun dan akan tahan menanggung rasa sakit kayak neraka. Perempuan single yang bahagia. True it was me, but…

Yes, I used to. Dulu gua sangat optimis dengan segala sesuatu. Gambaran gua tentang masa depan itu sangat jelas. gua punya pacar yang baik, gua mendapatkan suitable job, dan gua akan menikah pada 18 November 2018 dengan pacar yang bernama Christian Adiguna. (Setelah sekian lama akhirnya gua nge-mention nama itu). gua akan mulai ambil arisan dan memasukkan adik gua kuliah dengan uang itu. Tapi, waktu berlalu dan sebagai manusia kita cuma bisa berencana. Saat keadaan gak sesuai dengan harapan kita, maka inilah gua sekarang.

Gua putus dengan Christian after had a very huge fight. 18 November hanya akan menjadi tanggal biasa di tahun 2018 nanti. Adek gua ternyata adalah seorang junkie… and now, his girlfriend is 5 months of pregnancy.
AND NOW I am in love with someone’s husband to be.

Is my life a failure?

I often talk to God. So very often. And so far I don’t know, apakah Tuhan masih sudi memberikan rencana dalam hidup gua. I am so lost. Apakah mungkin Tuhan mulai kecewa dengan gua karena gua adalah seorang pembangkang dan sedikit bebal? Apakah Tuhan murka karena dulu gua pernah berjanji akan menyerahkan hidup gua untuk melakukan kebaikan tapi gua mengingkarinya beberapa kali? But God, I am a little girl you entrusted in my mom’s womb. Please have mercy on me, oh, God.

I am suffering.
Wounded.

In my way of perfection ternyata gua cuma ciptaan yang gak sempurna. Dan saat ini gua udah gak punya pilihan selain percaya dan berserah. Walau kadang gak bisa dipungkiri gua marah dengan semua keadaan yang datang bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan ini. Tapi entah kenapa, gua kayak memperoleh kekuatan entah darimana. gua masih sanggup untuk menjalani hidup gua dengan baik dan gua masih bisa tersenyum setiap hari. Walau dramatically, senyum gua berdarah. gua masih sanggup mencintai orang lain dan gua masih terus memaafkan. Demi Tuhan, ini gak datang dari kekuatan gua pribadi. THIS IS SOMETHING LIKE SPIRIT.

Gua masih berharap bahwa besok hidup ini akan lebih baik. Bukan hanya gua yang mengalami rasa sakit ini. Mungkin di luar sana masih banyak orang-orang yang bahkan udah akan sangat bersyukur apabila mereka punya hidup kayak yang gua miliki saat ini. Mungkin Christian akan melupakan gua tanpa dendam dan mendapatkan orang yang baik, begitu juga dengan gua. Mungkin nanti adek gua akan berhenti menjadi junkie dan akan menjadi seorang laki-laki yang baik untuk bayi dan perempuan yang menerimanya itu. Mungkin perasaan gua terhadap Siluman Ikan Sapu-Sapu orang ini akan menghilang dan dia akan menjadi orang yang lebih baik di tangan seseorang yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sebuah bejana akan menjadi lebih indah apabila dipoles di tangan ahlinya. Mungkin bukan tangan gua. So, I’ll let it go…

Gua memutuskan untuk selalu mengucap syukur atas apapun yang sudah terjadi dalam hidup gua.

Saat ini memang umur gua udah 25 dan gua dianggap gak punya rencana apa-apa dengan hidup gua. Saat ini mungkin gua terluka berkali-kali, jatuh bangun dengan menangis karena rasa sakit, dipermainkan oleh orang yang gua cintai dan kecewa dengan keadaan di sekitar gua. Tapi gua ingin selalu percaya bahwa saat gua bahkan udah gak punya rencana apa-apa terhadap kehidupan gua, Tuhan pasti masih punya. Mungkin Tuhan gak akan langsung menyingkirkan cawan itu dari bibir gua, he lets me taste it but never lets me get poisoned. He only wants me to know how it tastes and it’s gonna make me learn a lot about life.

Untuk saat ini, di usia ini, I am shouting to you oh, God… Please have mercy on me and let me surrender. I don’t know what I am gonna do with my life. I will only let you take control of everything.

God.
Aku aman dalam genggaman tanganMu, kan?
I feel my heart beats faster.

I am still and gonna be OKAY.
All Thanks to God.

Cerpen Karangan: Sebatang Pohon
Blog / Facebook: @lauratan24
Cinta Terhalang Pagar Gereja

Cinta Terhalang Pagar Gereja

Judul Cerpen Cinta Terhalang Pagar Gereja

Cinta.. tak mengenal kata siapa, kapan, dan di mana. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan yang hadir dalam hati. Jika benar cinta tak selalu harus memiliki, maka bukankah akan ada banyak hati yang tersakiti? Tapi ketika kita nekat menerjang takdir, maka yang ada hanyalah rintangan menyesakkan dada dan memutus asa.

Cinta terkadang menyesatkan dan membutakan nurani. Entah telah berapa kali terjatuh, kita masih tidak dapat seketika merubah perasaan yang telah tertanam dalam sanubari. Dalam hidup, kita hanya dapat memilih. Tuhanlah yang berkehendak.

Begitukah?

Jadi meskipun kita menentang takdir, apakah akan tetap berpisah karena bukan jalannya? Lalu apakah ada manusia yang memiliki kuasa menentukan takdirnya sendiri? Di manakah dapat kutemui manusia perkasa seperti itu? Ingin ku bertanya, bagaimana rasanya ketika cintanya ditentang.

Apakah dia tahu, betapa sakitnya ketika ia hanya bisa menunggu kekasihnya di depan pagar gereja hanya karena ia memakai kerudung? Apakah senista itu cinta berbeda agama, hingga terkesan seperti aib yang harus ditutupi dan tidak bisa dengan lantang meneriakkan cinta di hadapan dunia?

Mungkin tidak.

Semua itu hanya masalah kemauan. Mungkin jika kami tidak pengecut dan berani mempertanggung-jawabkan perasaan kami, bukan tidak mungkin orang dapat memaklumi meskipun cacian itu tidak dapat dipungkiri. Jadi apakah ini hanya masalah waktu, karena kami belum merasa pasti dengan perasaan ini? ataukah sejak awal, ini hanya perasaan yang tidak ingin ia perjelas?

Lalu masihkah pantas untuk bertanya bagaimana akhir kisah yang telah banyak menumpahkan air mata dan menimbulkan luka ini? Bagaimanapun, perjuangan untuk mempertahankannya sangat tidak mudah. Rasanya terlalu klise jika endingnya hanya menyerah pada keadaan. Sedangkan selama ini, semuanya tetap berjalan tanpa perlu dipertanyakan lagi pengorbanan untuk itu.

Terlalu menyakitkan untuk digenggam, tetapi tak kuasa untuk melepas. Jika berpisah adalah akhirnya, maka apakah lebih baik jika tidak bertemu sebelumnya? Kenapa seakan rasa ini dikutuk jika tetap diteruskan.

Omong kosong yang mengatakan jika terkadang seorang hadir dalam hidup, bukan untuk bersama melainkan sekedar memberi pelajaran hidup. Jika memang ikhlas yang ingin diajarkan, maka tidak semua orang berhati tegar dan dapat menerimanya kecuali Tuhan memberikan penggantinya seketika itu juga. Adilkah jika hanya manusia yang disalahkan, karena memaksa mencoba sesuatu yang tidak seharusnya?

Tuhan, jika aku bisa memilih takdirku, aku tidak ingin yang lain. Aku hanya ingin dia. Karena di matanya, aku melihat duniaku tergambar jelas di sana. Bersama senyumnya yang ingin kusimpan sendiri, karena aku tak ingin dunia merampasnya dariku.

Cerpen Karangan: Diannie
Blog: Weebsroom.wordpress.com
Kisah Cinta Pertamaku

Kisah Cinta Pertamaku

Judul Cerpen Kisah Cinta Pertamaku

Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi.
Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian orang menyatakan bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah dan mengukir cerita cerita yang akan dijalani bersama teman baru. Pada waktu itu usiaku masih 15 tahun. Kurasa aku belum siap untuk merasakan apa itu cinta.

Seiring berjalannya waktu, ada seseorang yang hadir di hidupku. Awalnya aku sama sekali tak mengenalnya. Dia bernama Khasan Munawir, walau dia alumni smp yang sama sepertiku. Tapi aku mengenalnya saat sudah lulus. Menurutku dia orangnya kurus, agak tinggi, item tapi manis. Ya jujur aku suka orang yang item manis. Kita menjadi akrab karena sering chatingan via bbm. Namun kita tak bersekolah di tempat yang sama. Awalnya aku bingung dengan sikapnya yang perhatian padaku.
Aku takut dia cuma ingin mempermainkanku seperti halnya orang bilang banyak cowok yang cuma bisanya mainin perasaan cewek. Ya kata kata itu membuatku takut untuk mengenalnya lebih jauh.

Waktu kurasa sangat singkat, sekitar 1 bulan aku mengenalnya. Entah perasaan apa itu? apa mungkin itu cinta? aku terus bertanya-tanya.
Tepat tanggal 26 Agustus 2016 dia menembakku, tapi sayangnya via bbm. waktu itu aku sangat bingung, harus menerima atau tidak. Ya mungkin karena aku takut pacaran. Tapi aku telah jatuh cinta padanya, jadi aku mencoba untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dia cinta pertamaku, dan aku cinta pertamanya juga.

Berbulan-bulan sudah sejak hadirnya dia di hidupku, aku merasa bahagia, merasa ada yang beda dari hidupku. Hidupku jadi lebih berwarna. Waktu itu aku memiliki sosok penyemangat dalam hidupku. Walau kita jarang bertemu, tapi aku bahagia bisa memilikinya.

Pada saat itu kita bertemu di smp untuk mengambil SKHUN. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi entah kenapa aku merasa malu dengannya. Pada waktu bertemu dia memanggilku “sayang”. Jantungku berdebar-debar. Tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ya kita sering memanggil sayang tetapi tidak secara langsung, tapi hari itu dia memanggiku sayang. Namanya juga baru pacaran pertama kali jadi ya masih malu-malu.
Kita berdua duduk di depan sekolah, ya hanya beberapa kali bercakap. Lebih seringnya tersenyum satu sama lain.

Waktu terus berputar maju, hubunganku dengannya masih manis, dan kita juga sering bertemu. Rasanya pun tak canggung lagi. Ya walaupun banyak masalah datang, entah itu PHO dan yang lain. Tapi kita bisa menghadapinya.

Menyedihkan pada waktu itu dia menghilang seminggu lebih, aku tak tau mengapa dia hilang. Padahal waktu itu aku sedang membutuhkannya untuk memberiku semangat, karena aku lagi UKK. Menghilangnya dia membuatku tak fokus belajar, pikiranku kacau karenanya. Dan pada saat aku ultah, dia pun msih menghilang. Padahal aku berharap dia ngucapin atau ngasih surprise. ehh ternyata nggak. Hatiku terus bertanya-tanya ke manakah dia? Mengapa dia menghindar dariku? Aku salah ap? Pikiranku dipenuhi dengan semua pertanyaan itu.

Liburan semester 1 tiba, dan aku berharap banyak waktu untuk bisa bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak. Saat itu dia akan pindah sekolah dan mondok di Banyuwangi. Saat kita bertemu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“kamu sebenernya mau ke mana sih?, kok status facebook kamu gitu.” tanyaku
“aku mau pindah yang, aku mau mondok.” balasnya
“mondok di mana?”
“di Banyuwangi”
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa diam. Dan pikiranku mulai kacau, “mengapa dia harus pergi meninggalkan?” batinku.
aku menangis setiap harinya. ya kita bakal jarang ketemu atau bahkan tak bisa lagi ketemu.

Disaat mendekat hari dia akan pergi. Aku memintanya bertemu, tapi dia selalu tak mau, alasannya karena sedang sibuk.
Tapi sehari sebelum dia pergi, kita sempat bertemu. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.
Kita bertemu di stasiun, ya aku hanya diam dan merasa sebal dengannya. Aku tak berani berbicara, entah kenapa. Mungkin dia marah denganku, karena aku meminta untuk bertemu. Tak ada obrolan yang serius, padahal aku ingin bertemu untuk bicara soal dia pindah. Tapi aku tak berani.

Ehh tiba-tiba ada polisi datangin kita.
“dek, lagi ngapain di sini? Pacaran kok di sini. Sana pulang” kata polisi.
“iya pak,” aku dan khasan pun pulang.

Menyebalkan sekali belum bicara apa-apa udah disuruh pulang aja. Untung saja hp dia ketinggal di aku, aku bingung harus mengembalikan atau membiarkan dia menemuiku. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi tidak sendiri, aku minta temenin temenku. Ya waktu itu aku belum tau tepat rumahnya, tapi aku tau daerah dan arahnya.

Di rumah dia, aku disuruh masuk. Tapi aku tidak mau. Aku cuma di samping rumahnya. Ya itu menjadi terakhir kali kita bertemu. Sedih sih, tapi aku tak berani menunjukkan kesedihanku. Ya untuk kenangan aku memberinya jam tangan, couple sama aku. Berbicang-bicanglah aku dengannya.

“Sayang, I love You,” ucap khasan sambil menciup tanganku.
Aku hanya diam dan tersenyum.
Baru pertama dia bilang i love you secara langsung, dan mungkin juga yang terakhir kalinya. Dia juga berkata padaku “Sayang, jika kita memang berjodoh, pasti kita dipertemukan kembali.”
“Amin yang.”

Hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pulang.
“Hati-hati di jalan yah sayang,” kata khasan.
“Iya,” balasku.

Hari itu takkan bisa kulupakan. Hari dimana kita bertemu untuk terakhir kalinya. Dan hari hari berikutnya kita berpisah. Bukan berpisah hubungan, tapi terpisah oleh jarak dan waktu. Membiasakan Hari-hariku tanpa adanya Khasan di sampingku. Menjalin kisah LDR, bagiku berat untuk kujalani. Tapi dengan komitmen dan saling setia, juga saling percaya satu sama lain mungkin kita bisa njalanin hubungan ini. Ya aku tak tau apa hubungan kita akan berjalan mulus atau tidak. Aku hanya bisa berdoa kelak kita berjodoh dan dipertemukan kembali.

Cerpen Karangan: Dwi Rahmawati
Blog / Facebook: dwirahma05.wordpress.com / Dwi Rahma X-com
Sebuah Nama Dari Orang Yang Cerdas

Sebuah Nama Dari Orang Yang Cerdas

Judul Cerpen Sebuah Nama Dari Orang Yang Cerdas

Fantasi ini dimulai dari alarm bangun pagiku. Aku baru ingat hari ini ada jadwal keberangkatanku ke suatu daerah penghasil salah satu makanan terenak yaitu pempek. Ya bener kota palembang.

Indahnya langit punya sang fajar memang sangat cantik. Bisa kulihat dengan tenang dari bangku pesawat yang memang sengajaku pesan di ujung jendela.

Di kota inilah fantasiku memegang kendali. Kusewa mobil untuk memulai perjalanan dari palembang sampai pekanbaru. Ya pekanbaru, di kota itulah ada sebuah nama yang sulit aku jauhkan dari otakku, Gigih Yudhiannisa Putri.
Sebuah nama dari orang yang bukan hanya cantik tetapi juga cerdas.

Kihitung perjalananku 21 jam lamanya. Tak tahu ditemani kejadian apa saja nanti selama perjalanan. Yang jelas fantasi ini akan begitu sangat menyengkan. Kumulai mengatur kaki di pedal gasku secara perlahan. Karena aku tidak mau terlalu lelah sebelum bertemu si nama itu.

6 jam sudah kulewati dengan pemandangan yang selalu setia menemani dari balik kaca mobil. Ya mugkin bukan rahasia umum. Pulau sumatera adalah surga bagi para petani kebun sawit. Dan tak lupa padang rumput liar juga hadir menemaniku. Terik memang tapi di situlah anugerahnya. Saya pernah membaca sebuah quote dari bob marley yang kurang lebih artinya seperti ini “kamu bilang kamu suka hujan tapi kenapa kamu berlindung di balik payung saat melewatinya, kamu bilang kamu suka sinar matahari tetapi kamu berlindung di balik bayang bayang saat ia bersinar, kamu bilang kamu suka angin tetapi kenapa kamu tutup jendelamu ketika ia mulai berhembus”.

Sebuah quote yang menurutku ditujukan ke orang orang munafik, dan selama ini aku beruntung aku masih bisa menikmati semua itu dan bukan termasuk orang orang yang dianggap munafik. Oke kita tinggalkan masalah itu.

Banyak bukit dan jembatan jembatan yang sudah kulewati. Bermacam tikungan dan desa desa kecil dengan populasi manusia yang bisa terhitung dengan jari. Aku mulai berpikir apakah fantasiku ini bisa berujung dengan bertemunya aku dengan perempuan sang pemilik nama itu. Dan untuk apa aku menemuinya?. Tidak ada yang tahu yang jelas aku pun masih seperempat jalan untuk sampai di sana.

12 jam berlalu dengan cara perlahan. Kutepikan mobil di tepi jalan sesambil kuhisap candu dalam istirahatku. Kebetulan yang kulalui itu sebuah bukit dan aku bisa melihat bukit yang berseberangan yang sedang asik berbicara tentang senja. Matahari yang secara malu mulai meninggalkan si bukit seraya mengucapkan selamat datang pada rembulan. Warna merah yang begitu cantik menemani langit. Bersiluet ke segala arah permukaan bumi. Warna yang bercampur keemasan yang disebut indah.

Kunikmati setiap kata muadzin mengumandangkan adzan. Dibalik bukit yang akan gelap dan tenang. Lampu kecil dari kejauhan mulai bermunculan. Menyebar dari satu titik ke titik yang lain. Seakan kompak menerangi desa kecil itu. Angin mulai berhembus tenang bawa segala angan melayang. Bermain di awan fantasi otakku. Istirahat yang bisa dibilang mengagumkan. Kuputuskan untuk meninggalkan suasana itu untuk berjalan.

20 jam sudah kulewati bersama angin malam. Sengaja memang kubuka kaca jendela mobil agar aku tetap terjaga dari rasa kantukku. Pohon yang berbaris dan bergelap gelapan tetap setia menemaniku. Masih sekitar 39 menit sampai di kota pekanbaru. Kota dimana perempuan cerdas menghabiskan waktunya. Tetapi rasa kantukku tak tertahan lagi. Akhirnya aku putuskan untuk tinggal tidur sejenak dalam mobil sewaanku. Mimpiku berlalu ditemani suara khas malam hari. Jangkrik dan katak tak henti hentinya berbicara. Beruntung angin waktu itu berhembus dengan tenang. Ya walapun kumatikan mesin mobil masih ada udara segar yang masuk melalui celah kaca.

Aku berniat menemuinya bertepatan dengan jam masuk kantornya. Aku memulai mencari alamat tempat ia bekerja. Dan yang aku tahu ia bekerja di bandar udara kota tersebut. Dengan rasa gugup bercampur aduk aku sampai tepat di tenpat parkir kendaraan. Kemudian pertanyaan itu kembali muncul. Apakah fantasiku bisa berujung bertemu dengannya? Dan untuk apa aku menemuinya?

Otak dan hatiku beradu siapa yang paling dulu mengelabuiku. Sebab logika dan perasaan tak akan pernah menyatu dalam satu diri seseorang.
Dan waktu bimbang pun dimulai bertepatan datangnya sebuah mobil yang parkir di sebelahku.

Dimatikannya mesin mobil itu dan mulai perlahan terlihat sebuah raut muka yang sangat aku hafal, dihiasi tatapan mata yang begitu percaya diri. Gigih Yudhiannisa Putri. Nama itu muncul di depan mataku. Dan secara tak langsung pertanyaan “apakah fantasi ini berujung bertemunya dia?” telah gugur. Muncul pertanyaan kedua yang begitu rumit dijawab “untuk apa aku bertemu dengannya?”. Sulit menemukan jawaban yang masuk akal untuk itu. Antara berharap kesempatan kedua atau hanya memenuhi hasrat untuk bertemu. Jawaban yang konyol dari orang yang konyol.

Akhirnya kuputuskan untuk tetap tinggal seraya melihat wajah cerdas itu pergi menjauh ke balik pintu kantor. Sebuah keputusan yang sangat adil buatku. Berhela nafas panjang kuputar balik mobil menuju kota palembang lagi. Memulai perjalanan 21 jam untuk kedua kalinya.

3 bulan berlalu masih dengan perasaan bimbang yang sama. Suatu ketika aku mendapat personal message dari salah satu media sosialku. Antara berita gembira atau sedih aku pun tak bisa menyampaikannya. Yang pada intinya ada lelaki beruntung di dunia ini yang bisa melengkapi kebahagiannya menjadi sempurna.

*NB: Gigih Yudhiannisa Putri, sebuah nama yang selalu bisa dibuatkan cerita dalam sisa hidup ini. Sebuah nama cerdas yang bisa membuat otak ini berfantasi. Ninis yang manis namamu tak akan terganti dalam setiap lembar kata ceritaku.

Cerpen Karangan: Dian Wahyudi
Blog: Ordinarychar.blogspot.com
Merindukanmu

Merindukanmu

Sinar mentari menyinari kamarku. Melalui jendela kamar yang terbuka. Wangi bunga-bunga di halaman yang diselimuti oleh embun pagi, memenuhi kamar mungilku yang juga berhias bunga. Pagi ini begitu cerah. Tapi tidak begitu dengan hatiku. Tidak bisa kudefinisikan apa perasaaanku saat ini.

Sebuah foto berukuran postcard kugenggam erat-erat. Foto seorang pria memakai baju batik berwarna coklat lembut. Ia tampak tersenyum sambil memegang sebuah piagam yang bertuliskan “Guru terbaik se-Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau”. Ia begitu gagah. Sudah puluhan kali aku memandangi foto itu, tapi tak pernah merasa puas.

Aku merindukannya. Sudah hampir dua tahun sejak ia pergi meninggalkanku. Ingin rasanya aku bertanya, kenapa ia meninggalkanku? Tanpa sebuah pesan. Membawa seluruh kenanganku bersamanya. Kenapa ia pergi meninggalkanku? Disaat aku menyayanginya? Di saat aku membutuhkannya?

Aku hanya bisa diam, di kamar ini. Aku tak bisa marah dengannya. Aku juga tak bisa menyalahkan kepergiannya. Air mataku mengalir. kugenggam erat foto itu di dadaku. Aku masih ingin memeluknya. Menggenggam tangannya seperti dulu. Bersepeda bersama di sore hari. Membuatkan makanan favoritnya.

“Hari ini, aku akan pergi dengan pria lain. Pria yang benar-benar menyayangiku. Bukan berarti aku sudah lupa padamu. Tapi sudah saatnya aku pergi dengan pria itu. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya.” Ucapku dalam hati.

Klerk! Seseorang membuka pintu kamarku.
“Kau masih di sini, Sayang? Mereka sudah datang. Semua orang menunggumu.” Kata seorang wanita yang baru saja masuk ke kamarku.
Aku mengusap wajahku yang basah oleh air mata.
“Kenapa kau menangis? Apa kau merindukan ayahmu?” Katanya lagi. Ia melirik foto yang sedang kupeluk. Tangannya mengusap sisa-sisa air mata di wajahku.
“Ibu…” ucapku pelan.
“Sini. Peluk ibu.” Katanya
“Ayahmu pasti bahagia. Karena mulai hari ini ada orang yang akan menjagamu, menggantikannya.” Ibu memelukku dengan hangat. Kenapa aku bisa lupa? Masih ada dua orang lagi yang menyayangiku. Ibuku. Dan adikku, yang saat ini berdiri di depan pintu.

Hari ini hari pernikahanku. Ayahku yang seharusnya menjadi wali, telah pergi mendahului kami semua, karena sakit jantung yang dideritanya. Akulah yang tidak ada di sisinya saat ia pergi. Tapi aku tidak bisa menyesalinya, semua sudah kehendakNya.

“Ayah. Maafkan aku. Aku selalu menyayangimu. Saat ini hanya do’a yang bisa kuberikan padamu. Izinkan aku pergi bersamanya. Pria yang kusayangi” Ucapku dalam hati.

Cerpen Karangan: Anthika
Facebook: Anthika Alfarobi
Di Bawah Langit Agustus (Part 3)

Di Bawah Langit Agustus (Part 3)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 3)

Dua puluh enam Agustus 2016
Jum’at sore itu seusai pulang kerja, aku dan Leni bergegas mencari alamatnya dengan informasi seadanya. Aku pulang ke rumah dahulu menaruh motor dan kami mengendarai motor Leni, karena aku takut dia mengenaliku karena dia tahu motorku. Aku memakai jaket dan masker agar dia tak mengenaliku. Tiba di gapura RW 02, kami mencari RT 06. Ah ketemu! Namun sayangnya RT 6/2 itu bukan seperti letak perumahan yang aku kira. Akhirnya kami mencari perumahan itu, Sampai! Aku masih ragu kalau itu benar atau bukan, namun Leni bilang “yang tadi kita cari RT 6 kan? Itu juga RT 6”. Ah iya gapura perumahannya bertuliskan RT 6 RW 5. Kami terus berjalan untuk memastikan apa benar di depan jalan rumah susun atau bukan dan ternyata benar. Di depan perumahan itu kami bingung. FYI, kami sudah mendiskusikan ini sebelumnya. Kami kan menyimpulkan dia tinggal di Perumahan jadi sebenarnya lebih mudah untuk menanyakannya pada satpam. Ya, akhirnya kami menanyakan pada satpam namun kami mencari bukan atas nama dia melainkan adiknya, ya dengan pasti aku juga punya informasi tentang adiknya. Yang bertanya Leni karena aku takut. -Di pos satpam-
“pak mau tanya, rumahnya Pipit yang mana ya?”, Leni.
“emang RT berapa?” Satpam
“maka itu pak kita gak tahu berapanya” Leni
“Pipit yang kuliah di fotografi?” satpam satunya lagi
“Nah iya pak” kataku
“Ikutin jalan aja nanti ada gerbang lurus mentok belok kanan, tanya aja rumahnya pak Cecep”
“Rumahnya yang mananya pak?” kataku
“nanti tanya aja rumahnya pak Cecep”
“Oh ya udah makasih ya pak”

Kami mengikuti petunjuk jalan dari pak satpam tersebut. Mentok belok kanan, setelah itu kami bingung harus ke mana, rumahnya yang mana, nanya sama siapa. Ketika aku melewati rumah bercat tembok biru, firasatku itu rumahnya dia karena di luar ada bangku seperti yang di dalam foto adiknya. Namun kami akhirnya belok kanan entah itu ke mana. Kami berhenti. Ada anak kecil dan aku bertanya padanya
“dek tahu rumahnya pak Cecep?” kataku
“Pak Cecep yang mana? Yang jualan apa yang warnet”
Ah sial, aku tak tahu menau soal yang ini.
“yang punya anak cewek yang mana?
“Yang itu (nunjuk ke arah kanannya)”
“nah itu rumahnya yang mana?”
“oh iya iya, (dia hendak ingin memberi tahu kami jalannya)”
“eh sini sini dek, kasih tahu aja yang mana rumahnya”
“Yang rumah tingkat warna biru lagi direnovasi”
“Oh ya udah makasih ya dek”

Ah ternyata benar rumah yang aku duga. Rasanya saat itu warga setempat mencurigai kami terlihat dari tatapan mereka. Aku bilang sama Leni lihat nomor rumahnya. Aku bawa motor pelan-pelan, aku melihat seberang rumahnya itu nomor 10 dan pas aku lihat rumah dia malah tidak ada plat rumah, mungkin karena lagi di renovasi. Aku sama Leni menduga kalau rumahnya itu No 11. Dan pas sampai di pertigaan yang aku bilang mentok belok kanan, kami bertemu lagi sama ibu-ibu yang sedang ngobrol di warung, kami memang tidak bertanya padanya, Ibu itu bilang gini.
“Mau kemana sih neng daritadi, nanya orang mh” dengan nada yang ngeselin.
“Udah kok, bu” Kata Leni.
Dan aku lupa kalau itu perumahan, aku tak tahu bloknya
Sialnya aku ketemu anak kecil itu lagi, dia bilang “Lah itu kan yang tadi”
Ah malu sekali. Kata Leni blok D, namun kataku blok E karena aku lihat blok D sebelum gerbang. Okay kami memutuskan untuk pulang, karena dipikir yang penting udah tau rumahnya. Aku ambil arah yang berbeda dari kami pergi, namun di perjalanan aku bilang gini sama Leni “nama perumahannya apa? Gue lupa cuma inget indahnya doang”, Leni menjawab “Lah gue gak perhatiin, ya udah balik lagi aja”. Akhirnya aku putar balik. Ya! Setelah aku mengingatnya kami langsung pulang, sepanjang jalan aku bingung bagaimana aku mengirimnya, aku gak tahu alamat pastinya, belum tentu juga RT nya benar, toh Pak Satpam itu nanya RT berapa, berarti kemungkinan ada beberapa RT, tidak tahu Blok dan Nomornya juga, Gak mungkin kalau kirim pakai JNE dengan alamat gak lengkap gitu. Kalau mau pakai Go-send berarti nanti ketahuan kalau dari aku kan kalau pakai JNE aku bisa manipulasi nama pengirimnya. Aku bilang sama Leni aku akan cari tahu lagi alamat lengkapnya dengan waktu yang mepet.
“Kalau mau cari tahu lagi harus jalan kaki, celingak celinguk juga enak kan bisa sepik main hp” Kata Leni
“Berarti nanti motornya ditinggal dong” Kataku
“Ah gue tahu, mau gak mau kita harus kaya cabe-cabean bonceng tiga”
“Tapi kapan, yaudah deh”

Ah kenapa aku bisa seceroboh itu. Jujur, aku malas sekali untuk mencari tahunya kembali, rasanya aku ingin cepat-cepat hal ini berlalu. Saran Leni memang satu-satunya saran yang tepat, pakai jasa Go-send dan kasih tahu jalannya dan tak lupa mengganti nama pengirimnya. Leni pun menyarankan aku memakai nama Aan. Ada sedikit perdebatan soal ini.
“Tapi kan kalo pakai Go-send ketahuan yang ngirim gue” kataku
“Ya kan tinggal ganti aja” Balas Leni
“emang bisa?”
“Bisa kayanya”
“Terus gue ganti jadi siapa?”
“Aan aja”
“Ih kok Aan, masa nama cowok”
“Aan cewek ish, tetangga gue namanya Aan”
“temen gue Aan tapi cowok”
“ya udah kan Aan, Agus and Nilam hahaha”
“Sue lu”
“Lagian juga nama cewek yang sama Mirda namanya Aan (ini lupa, aandriani mungkin) hahaha”
“Hahaha najong banget lu, inget banget sama itu cewek hahahaha, terus nanti nama barangnya apa? Gak mungkin gue bilang kado”
“Ya udah charger laptop atau gak sparepart aja”
“Ngaco lu”
“Ya udah bilang aja baju”

Singkatnya seperti itu percakapan aku dengan Leni. Hari senin aku membawa kadonya dan kertas kado, yaaa untuk dibungkus oleh Leni karena aku gak bisa bungkus kado. Kalo diingat kadonya bukan seperti kado tapi seperti paketan bom. Lapisan pertama dibungkus dengan kertas kado batik, lapisan kedua kertas kado terbalik dan ketiga dengan kalender. Ya inginnya aku saat itu, agar tidak ketahuan kalau itu kado jadi pakai kalender namun akan terlihat bahwa itu kado ketika lapisan terakhir. Nah ini yang membuat seperti paket bom, kadonya dilapisi dengan solasi coklat di keseluruhan, aku dibuat geleng.
“Kan kata lu biar gak ketahuan, ya udah disolasiin aja lagian biar gak bikin repot abang gojeknya kalo hujan” Kata Leni.

Tiga puluh Agustus 2016
24 tahun sudah dia bernafas di dunia ini. Anak ketiga dari 4 bersaudara. Laki-laki yang hampir setiap hari pulang-pergi Depok-Jakarta. Laki-laki yang kini masih menjadi doaku dengan doa yang sudah berbeda. Kamu mau tahu apa doaku? Ya, aku mengubah doaku “Jika memang dia jodohku dekatkanlah jadikan aku sebagai penyempurna agama untuknya, jika memang tidak jauhkanlah beri aku kelapangan hati untuk mengikhlaskan” menjadi “Aku ikhlas jika dia memang bukan jodohku, berikanlah dia kebahagiaan dengan siapapun dia bersama”. Naif bukan? Tapi itulah kenaifan yang selalu aku lakukan. Dan semoga aku dan dia menjadi tetangga syurga. Hari itu, akhirnya aku melakukan niatku. Sebelum jam 7 pagi aku sudah rapih, aku melakukan order Go-send. Ah kesialan apa ini. 5 Menit aku menunggu namun tak ada juga yang menerima orderku. Aku ulangi namun tak ada hasil juga. Aku takut telat kerja dan aku takut jika memang harus aku yang memberinya langsung. Namun akhirnya di orderku yang ketiga ada yang menerima orderku juga. Aku pun berangkat, pas banget ketika aku sampai gang, drivernya juga sampai. Aku jelasin arah ke rumahnya. Aku bilang “nanti bapak dari depan perumahannya ikutin jalan aja, ada gerbang, lurus mentok belok kanan. Bapak tanya aja rumahnya Bapak Cecep, rumahnya di sebelah kanan gak jauh dari belokan warna biru yang lagi direnovasi, kalo gak bapak tanya aja satpam bilang Agus Mulyadi yang kerja di Telkom, anaknya Bapak Cecep”. Sahut driver itu “tadi bapak siapa?”, kataku “Bapak Cecep”. Aku pergi dengan perasaan yang was-was. Sesampai di kantor, aku cek orderku dan completed, huh lega. Hari itu aku lalui seperti biasanya, sesekali aku liat whatsapp nya untuk memastikan dia sedang sibuk atau tidak, baru dilihat ternyata, jam 9 malam saat itu. Sudah jam 9 malam namun tak kunjung ada pesan darinya, seharusnya dia sudah di rumah. Ah, bukan maksudku ingin dapat pesan dari dia, malah aku berharap dia tak pernah mengucapkan apapun. Aku yakin dia tahu itu aku meski aku tak menyebutkan namaku. Aku menyelipkan sebuah surat di kadonya, seperti ini:

“Dear Sehun,
sebelumnya aku minta maaf bukan bermaksud untuk lancang, aku hanya ingin melaksanakan niatku. Aku ingin kado ini sampai di orang yang bersangkutan. Fyi, aku sudah menyiapkan hadiah ini dari jauh-jauh hari bahkan jauh sebelum kakak mengubah status whatsapp kakak dari at work menjadi nama seorang ukhti. Aku hanya ingin kasih kado, just itu no more.
Waktu takkan mengulang masanya
diantara detik demi detik yang terus berdentang
segerakanlah shalatmu, pertanggung jawabkan hidupmu
jadikan dirimu penghuni syurga-Nya dan syurga bagi masa depanmu

“Selamat ulang tahun”

Agustus 2016
Regrads,

Park Shin Hye”

Kurang lebih seperti itu, aku pun menulis itu minta pendapat terlebih dahulu. Dan dear sehun itu usul dari Leni, yaa karena dia itu tahu kalau aku suka dengan Sehun dan di email yang dia balas pun dia mengatasnamakan Sehun. Dan Park Shin Hye itu, yaa waktu itu dia pernah bilang kalau dia suka aktris tersebut, daripada aku harus menyebut nama Stella Cornelia ex JKT48. Dini hari ketika hari sudah berganti tanggal dia mengirim pesan whatsaap, padahal aku terbangun saat itu namun aku tak berani untuk melihatnya. Paginya aku baca, dan itu adalah satu-satunya chat yang masih aku simpan, isinya seperti ini:

“Hai ade makasih yaa, udah sampai dan udah diterima paket atas nama aan nya.
Maaf ya pas kemaren kamu ulang tahun kakak gak ngasih apa-apa hehe
sekali lagi makasih yaa kado dan do’a nya”

Ucapin ulang tahun aja enggak, gumamku. Namun aku tak membalasnya, ketika kupikir ulang tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Namun semua yang aku lakukan itu adalah saran dari Leni, aku tak terlalu memikirkan bagaimana dia menganggapku nanti. Kalaupun sekarang aku menjawab “iya sama-sama” rasanya sudah tak penting lagi, sudah sebulan berlalu.

Dan ini, hal ini yang buat aku masih bertanya-tanya. Apakah kontakku diblock olehnya atau bagaimana. Sehari setelah dia ulang tahun, tiba-tiba saja kontak dia di whatsappku blank. Tak ada foto dan tak ada status. Setauku, dia memang pernah tak ada foto namun statusnya ada dan ketika aku menanyakan pun dia bilang memang sengaja tak pakai foto. Aku ingin chat dia namun ragu sampai akhirnya jam 11 malam aku lihat kontaknya lagi, dan telah berubah. Dia memperbaharui profilnya, terpajang foto seorang pria memegang kue digandeng seorang wanita yang tingginya sebahunya memegang balon berbentuk kue ulangtahun dengan latar belakang dinding dengan balon HBD 24 dengan beberapa balon berbentuk hati Aku mencoba mengerti, mungkin aku benar diblock olehnya dan saat itu dia sedang ada surprise. Dia takut aku mengacaukannya dengan pesan berantai atau semacamnya jadi dia memblock kontakku sementara. Namun selang beberapa hari kontak dia kembali blank, dan cukup bertahan lama, kurang lebih selama seminggu. Aku tak tahu apa alasannya namun mungkin itu untuk kebaikanku juga. Ada beberapa praduga saat itu, sebelum akhirnya aku yakin dia benar-benar block aku.
Pertama, dia logout akun dan login dengan nomor yang berbeda.
Kedua, dia memakai privasi hanya untuk kontak, sehingga yang tak ada di kontaknya tak dapat melihat, itu artinya nomorku tak disimpan.
Ketiga, dia menghapus akun.

Namun setelah aku mencoba menelaah, aku logout akun lama ku dan login dengan nomor yang lain, akun lamaku masih ada foto dan status yang sama seperti terakhir kali. Ketika Leni kirim pesan ke nomor lamaku pun masih bisa kuterima ketika aku login kembali. Nomorku yang lain ini pernah aku pakai di whatsapp laptop, setelah login kembali, statusku berubah seperti pertama kali membuat whatsapp. Sedangkan dia, ketika dia muncul kembali di kontak tanggal pembuatan status pun masih sama 2 Agustus 2016. Lalu aku coba Leni save nomor dia, dan ternyata kontaknya terlihat untuk publik, artinya nomorku pun tak dihapus. Ah tiba-tiba aku memikirkan iyong. Iyong itu kontaknya juga blank, aku tak pernah berpikir bahwa aku diblock olehnya, aku hanya berpikir dia logout. Namun ketika aku ingat, pesan terakhirku hanya ceklis satu, dan ketika kontaknya kembali terlihat, pesanku masih sama ceklis satu sedangkan Leni pernah mencoba ketika aku logout dia chat hanya ceklis satu dan ketika aku login terkirim padaku. Ah memikirkannya saja aku pusing. Sekarang aku yakin bahwa aku pernah diblock oleh dia.

Aku tak tahu untuk alasan apa dia melakukannya. Dan hal ini membuat aku seringkali bertanya-tanya pada diri sendiri. Aku enggan untuk bertanya padanya. Untuk kamu yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, mungkin setelah kamu membaca ini kamu bisa memberi aku jawaban sebenarnya. Dan mungkin dengan tulisan ini kamu pun jadi mengetahui jawaban atas pertanyaan yang kamu gumamkan dalam hati. Karena aku yakin, separuh dari pikiranmu ingin mengetahui darimana aku mengetahui alamat rumahmu dan entah apapun itu, dengan tulisan ini aku memperjelas apa-apa yang mungkin kamu duga. Kadang aku merasa bodoh telah bertindak sejauh itu. Hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki namun aku melakukannya. Temanku sampai ada yang berkata “Bodoh banget itu laki-laki kalau tahu gimana ada cewek yang sampe segitunya”. Seharusnya aku bersikap sewajarnya saja atau lebih baik mencintai diam-diam. Aku tak apa kamu tak meresponku, tetaplah bersikap seperti ini karena aku pun sudah bisa menerima dan terbiasa dengan keadaan sekarang. Kamu masih tetap jadi teman sekaligus kakakku, namun bedanya aku mencoba menjadi seorang teman dan adik yang lebih mandiri. Aku tak ingin lagi merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaanku, aku tak ingin lagi kamu menjadi tempat dimana aku berkeluh kesah. Aku menyadari, semua memang takkan sama seperti awal bahkan hal ini seharusnya terjadi sejak Desember lalu namun aku yang mencoba menahanmu, tetap menjadikanmu tempat yang tepat untuk aku menuju. Mungkin munafik jika aku bilang aku bahagia kamu sama dia, tapi aku memang bahagia, aku tak lagi khawatir tentang kebahagiaanmu bersama makhluk bernama perempuan. Perempuan itu memang pantas untuk kamu cintai sebagai perempuan. Dan aku akan selalu mendukungmu, dan mendoakanmu dengan siapapun sekarang atau nanti kamu bersama. Jika aku boleh meminta do’amu, doakanlah aku untuk beristiqomah setelah masa-masa yang sudah aku lewati demi makhluk benama laki-laki, do’akan aku untuk menjadi muslimah sejati dengan kesederhanaan jilbabnya

Regards, Nilam

Cerpen Karangan: Nilam
Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Home 100 Cerpen Terbaru Cerpen Pilihan Cerpen of The Month Top Authors Film Cerpenmu Kirim Cerpen Kontak Kami
Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 2)
Cerpen Karangan: Nilam
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 27 February 2017

Aku dekat dengan lelaki lain namun aku tak bisa memberi hatiku untuknya, niatku untuk melupakan malah aku mengecewakan orang lain. 11 April 2016, tepat hari dimana aku kehilangan kakak pertama bapakku. Display pictures BBMku terpampang wajah seorang lelaki yang sebaya denganku bahkan 6 bulan lebih muda dariku, lelaki yang kupanggil “Ian”. Siang itu tiba-tiba dia mengirim pesan di BBM setelah aku membuat status “Rest in Peace, kita sekeluarga InsyaAllah ikhlas :’)”. “siapa?” kata dia, maksudnya siapa yang meninggal. Aku chatting sama dia sampai akhirnya aku tak membalas. Aku canggung saat itu, terpampang foto lelaki lain padahal aku saja masih belum move on darinya dan Ian itu memang bukan siapa-siapa aku, aku memasang fotonya pun hanya untuk seru-seruan dan aku memang sedang dekat dengan dia meski tak lama setelah itu kami bertengkar hebat. Dan pada akhirnya aku sadar mencoba jatuh cinta pada orang yang salah itu move on yang gagal.

April, Mei, Juni, Juli, dan pada akhirnya Agustus telah datang. 29 hari mengumpulkan keberanian. Ya, awalnya aku kira di 29 hari yang tersisa aku dapat mengumpulkan keberanian dengan matang namun di hari pertama bulan Agustus pertahananku telah dihancurkannya. 13 Juli 2016, aku memesan jam tangan di olshop. Jam tersebut bukan untukku melainkan untuk dia, untuk ulang tahunnya nanti 30 Agustus. Aku juga tak tahu kenapa aku masih saja memikirkannya, aku ingin memberinya hadiah sekalipun aku tak tahu bagaimana cara memberinya. Moment ini yang mungkin akan jadi unfogettable moment, moment dimana karirku sebagai secret admirer kian menaikkan levelnya.

Di bawah langit Agustus, ini adalah kisahku selama satu bulan untuk melakukan misi terakhirku. Bulan dimana hatiku diuji, patah berkali-kali, dan aku yang dibasahi oleh air mata.

Satu Agustus 2016.
Hari senin yang menjadi MON-ster DAY, hari itu aku mengambil cuti kerja. Aku memainkan hp-ku dan membuka akun line. Aku membuat status “29 hari mengumpulkan keberanian, mungkin menjadi keberanian terakhirku mencintaimu setelah itu aku akan memberanikan diri untuk meninggalkanmu”, lalu aku membuka whatsapp, aku sedang lihat-lihat kontak dan aku seperti mendapat sambaran petir entah darimana asalnya. Mataku tertuju pada salah satu nama di kontakku, kontak yang selalu aku tunggu-tunggu pesannya meski untuk sekedar say hi. Sungguh betapa terkejutnya diriku hingga aku meneteskan air mata. Dia yang satu tahun ini aku sayangi dengan tulus, yang selalu aku rindukan, yang selalu menjadi doa yang aku aminkan, yang aku curhatkan di sepertiga terakhir malamku, yang aku yakinkan di shalat dhuha-ku, yang menjadi rutinitas doa di shalat fardhuku bahkan yang aku pilih di istikharahku. Untuk pertama kalinya dia menulis nama seorang ukhti di status whatsappnya. Aku kaget ketika aku lihat “Nisa’s” terpajang di statusnya. Saat itu aku merasa orang yang tersakiti namun tak dapat menyalahkan siapapun termasuk dia atau perempuan itu, menjadi haknya untuk dekat dengan siapapun karena aku hanyalah seseorang yang mengaguminya dari kejauhan, bahkan jauh dari hatinya.

Sewajarnya orang yang sedang patah hati, aku menangis terisak sampai akhirnya aku sadar, ini adalah salah satu jawaban Tuhan atas do’aku “Jika memang tidak berjodoh jauhkanlah aku dengannya, berikan aku kelapangan hati untuk mengikhlaskan”. Dan selang beberapa menit aku hapus status yang aku posting di line, aku takut dia membacanya walau kurasa dia sering membaca timelineku yang tak lain tentang dia. Dan aku kembali meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat nyata adanya atau mataku tak mulai rabun. Ternyata memang ini sudah jalannya, keberanianku lebih cepat dari yang aku kira, aku harus berani meninggalkannya di hari pertama setelah begitu lama aku menunda.

Hatiku patah berkali-kali, tahu kenapa? Dia mengganti statusnya 2 hari sebelum hari itu, dan kau tahu? 2 hari sebelumnya adalah hari dimana aku menemukan sajadah untuknya, sajadah yang harus kubeli hingga 2 kali. Niatku memberinya sajadah dan jam tangan. Mungkin di antara kalian sudah bisa menebak apa makna yang terkandung. Iya, aku ingin bagaimanapun kesibukannya, iya tak boleh lupa kepada yang menciptakannya. Perihal sajadah, aku berniat untuk mencari warna merah kombinasi hitam, warna yang sama seperti kemejanya dalam foto yang sempat menjadi home screen hp-ku.

Sabtu itu aku pergi di bawah langit yang cerah dan teriknya matahari, aku lelah. Mencari-cari sajadah yang aku cari tak kunjung datang, sajadah dengan bahan yang dapat dibawa kemana-kemana. Ah ketemu juga! Namun tak seperti yang aku inginkan, tak ada warna yang aku cari namun saking lelahnya diriku, aku membeli yang menurutku bagus saja yang penting bahannya sesuai. Aku mencoba mencari mukena. Niat awalku, aku ingin menghadiahkan adiknya mukena. Entah darimana keinginan itu. Namun aku urungkan, selain tidak dapat, aku juga bingung bagaimana memberinya, toh aku saja tak tahu bagaimana kado untuk kakaknya bisa sampai. Di saat aku mencoba mencari mukena, aku menemukan sajadah yang aku inginkan. Ah sial! Sajadah merah kombinasi hitam, dan apa yang terjadi? Iya, aku membelinya juga. Kadang aku suka terkekeh sendiri jika mengingatnya. Betapa niatnya diriku padahal dia bukan siapa-siapa. Refleksku yaitu aku membuat status di BBM “Mungkin ini caraMu cemburu padaku” ada juga kutulis kutipan dari novel Boy Chandra “Ketika aku tak lagi bisa mengumpulkan keberanian untuk mencintaimu, aku akan mengumpulkan keberanian untuk meninggalkanmu”. Aku tersadar, mungkin Allah sedang cemburu padaku karena aku lebih mencintainya daripada Dia, mungkin Allah sedang cemburu karena disetiap shalatku masih terbayang wajahnya. By the way, novel Boy Chandra yang berjudul Catatan Pendek Untuk Cerita yang Panjang itu novel pemberian Leni sebagai kado ulangtahun, dan tepat aku membuka novelnya di bagian judul “Mengumpulkan Keberanian”, aku kira maksudnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan namun ternyata sebagai pertanda bahwa aku memang harus berhenti menyayanginya.

Masih di tanggal satu Agustus, siang itu aku ke Indomaret untuk belanja bulanan dan aku tidak membawa handphone. Tibanya aku di rumah ada panggilan tidak terjawab dari kantor yang sudah kuduga pasti Leni. Sekitar pukul tiga sore, dia meneleponku lagi dan aku jawab. Dia menanyakan bagaimana keadaanku yang pasti dia tahu sedang tidak baik-baik saja. Dia mencoba menghiburku, dan yang buat aku geli ketika dia bilang “Mungkin aja Nisa itu singkatan Nilam sayang atau enggak Nilam Agus tapi s sama a nya kebalik”. Ya Tuhan…. bagaimana bisa dia berpikir seperti itu hahahahaha. Namun jika boleh jujur, aku saat itu memang rapuh namun sebagian diriku memaksaku tuk tegar, dan aku masih belum mempercayai bahwa dia sudah pacar, sampai hari itu dia masih jadi do’a ku. Hingga esoknya..

Dua Agustus 2016.
Tiba aku di kantor, Leni langsung bertanya bagaimana keadaanku. Ya, aku baik-baik saja, kali ini aku tak berbohong. Meskipun aku bingung bagaimana kado ini sampai di tangannya, apakah aku tak terkesan tak tahu diri bila masih ingin memberinya kado meski aku tahu kini dia punya perempuan yang disayanginya selain Mama dan Adiknya. Sebelumnya aku bertanya sama Leni “Ini kado mau digimanain, dia udah punya pacar, gua buang aja kali ya, gua gak mungkin simpen ini”, dan Leni menjawab “Ya gak gimana-gimana, kasih aja. Lo kan emang udah niat ngasih bukan dengan maksud setelah lo kasih ini dia bakal luluh hatinya kan”. Ah, aku bingung! Aku coba untuk melupakan masalah kado, yang terpenting saat itu adalah bagaimana aku menenangkan hatiku sendiri. Namun hatiku dibuat patah lagi olehnya, entah patah yang keberapa kali. Malam itu, sekitar jam 7 malam (seingatku) aku membuka whatsaap dan aku melihat-lihat kontak. Bukan, bukan aku yang memang kepo namun aku memang suka melihat-lihat apa yang ada di kontakku entah teman-temanku mengganti foto atau status. Terlihat ada yang berbeda di kontak dia “lagi”. Iya dia mengganti statusnya menjadi “AnnisaRossdiena”. Yang aku lakukan saat itu? Aku capture kontak dia dan aku kirim ke Leni dan Fifi, ya mereka dua sahabatku. Dan aku langsung buka twitter, aku cari akunnya hingga ketemu akun instagramnya dan aku lihat postingannya. Yang aku pikirkan saat itu? Aku lega, aku bersyukur. Aku bersyukur karena orang yang aku sayangi mendapatkan perempuan baik dan In sha Allah Sholehah. Aku sangat senang ketika aku mengetahui bahwa perempuan yang beruntung itu menggunakan hijab. Dan ketika aku lihat lagi foto lainnya, terlihat dia orang yang pintar dari captionnya. Alhamdulillah. Memang seperti itu perempuan yang seharusnya dia dapatkan. Aku banyak menemukan info-info tentang perempuan itu, ternyata mereka berdua satu almamater. Sama-sama bekerja di Jakarta meski beda tempat. Aku tak tahu ada apa dengan angka 2, aku melihat statusnya itu dibuat 2 jam lalu. Tanggal 2 di 2 jam lalu di umurku 20. Ah! Sungguh aku menyukai angka 2 namun kali ini aku dibuat gila dengan angka 2. Perihal yang aku cari akun itu benar perempuan itu atau tidak, aku sangat yakin itu dia. Ternyata memang benar dia. Setelah hari itu….

Enam Agustus 2016
Tepat malam minggu, sebelumnya ada perbincangan aku dengan Leni “Gue malam minggu mau main dong” kataku. “Kemana?” balasnya. “Ke rumah anggi nonton korea hahaha” kataku lagi. Dia menjawab “Iyalah orang mh kalo malem minggu berdua sama pacarnya” sindir dia. Aku mengerti maksudnya bukan ke aku tapi tentang “dia” dan “perempuan itu”. Yaa tapi benar kejadian. Malam itu aku ke rumah anggi, aku membawa handphone, dataku pun on namun aku jarang melihat handphone. Hanya sesekali membuka BBM dan merefresh recent updates dan scroll down sebentar. Sehabis pulang dari rumah Anggi, aku main handphone dan buka BBM, aku lihat ru. Entah hatiku patah atau apa, namun kuyakini aku tak sakit melihatnya. Aku melihat salah seorang dari kontakku mengganti foto dengan pacarnya yang memakai hijab pink, Ya orang itu “dia”, di ru paling atas setelah aku refresh. Aku spontan langsung like fotonya dan aku capture dan aku kirim ke Leni dan Fifi. Kata Leni “Ini persis kaya Mirda dulu, sakit gak lam?”, dan aku membalas “Enggak kok biasa aja, itu kan artinya gak ada hati yang lagi dia jaga selain cewek itu lagian udah gue bilang mungkin ini cara Allah jawab doa gue kalo emang gak jodoh jauhkan beri kelapangan hati untuk ikhlas”, dan mungkin emang iya, aku pun tak melihat wajahnya di istikharahku yang kulakukan 7 malam itu. Aku selalu sempatkan waktu di sepertiga malamku untuk solat, dan ketika idul fitri pun dia orang yang pertama kali aku ucapkan di waktu tahajudku. Saat idul fitri aku memposting di LINE, mungkin dia sadar kalau itu buat dia, malamnya dia kirim pesan ke aku mengucapkan selamat idul fitri, aku emang sengaja gak mau chat duluan. Dan seninnya dia mengganti foto whatsappnya dengan foto bersama perempuan itu dengan gaya yang berbeda.

Dua hari setelah itu, aku coba lihat lagi akun instagram cewek itu dan diprotect, entah sejak kapan, aku rasa karena aku like Display Picture dia dan dia suruh cewek itu protect akun, kemungkinan besar seperti itu. Hari-hariku selama Agustus berjalan tak ada yang istimewa, bulan yang awalnya aku tunggu-tunggu menjadi bulan yang sangat ingin aku cepatkan berlalu. Bahkan keinginanku untuk memberinya kado pun hilang gitu saja, tak ada hasrat namun Leni yang mengomporiku. Aku juga bingung bagaimana kasihnya. Bilang sama orangnya langsung pasti nolak, kirim ke rumahnya gak tau alamatnya, bahkan aku gak kenal sama sekali dengan temannya. Namun aku mencoba untuk mencari tahu lewat twitter adiknya karena twitter dia sekarang digembok, karena tahu aku suka stalking mungkin. Aku tak menemukan alamatnya namun aku menemukan petunjuk. Ada satu mention adiknya dengan seorang cowok yang kuingat dia adalah kakak kelasku ketika SMP “itu kan bocah RT 6 banyak hahaha”. Aku menyimpulkan alamatnya itu RT 6. Lalu aku stalking twitter teman adiknya itu, syukurlah ada postingannya yang upload foto SIM C, tertera RT 3/2. Aku menyimpulkan alamatnya RT 6/2. Setidaknya aku sudah lega mempunyai beberapa kemungkinan. Ketika aku pulang kerja, aku memastikan apa benar jalan yang pernah dia lewati itu benar RW 2 atau bukan, dan ternyata di gapura terpanjang tulisan RW 02, ah senangnya, semakin dekat dengan tujuan. Yang menjadi permasalahannya bagaimana mengetahui alamat pastinya. Sebenarnya aku ingat-ingat lupa, ketika aku jenguk dia di RS, aku sempat bertanya rumahnya di mana, Ah aku harus mengandalkan ingatanku setahun lalu. Dan aku takut salah dengar waktu itu. Yang aku ingat, dia tinggal di perumahan yang letaknya setelah kuburan dan sebelum rumah susun dan perumahannya bukan perumahan yang pernah aku tanyakan ke dia. Bahkan aku tak yakin apa benar yang aku dengar itu “perumahan”. Hingga saatnya aku benar-benar merasa secret admirer.

Cerpen Karangan: Nilam
Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Entah bagaimana aku harus memulai, sebagai seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai pengagum rahasia, sampai akhirnya saat itu tiba…

Jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama, membuat aku mengenal arti rindu yang tak semestinya. Mencintai makhluk ciptaan-Nya yang bernamakan laki-laki. Aku mengaguminya sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku mencintainya. Laki-laki yang mempunyai paras tak terlalu menawan namun membuat hatiku tertawan. Laki-laki yang bertingkah menyebalkan namun selalu mengesankan. Laki-laki yang kukira baik namun nyatanya lebih baik dari yang kukira. Iya, dia adalah laki-laki yang kucintai selama satu tahun ini.

Menjadi secret admirer bukan perihal yang mudah, sungguh aku tak berbohong. Tentang bagaimana seseorang menaruh hati namun tak bisa mengungkapkannya. Awalnya memperhatikan diam-diam namun hal tersebut telah menjadi kebiasaan. Tentang merindu yang tak terbalas yang kemudian menjadi hobby yang diprioritaskan. Hal yang lumrah terjadi, namun aku yakin tak sedikit diantara para secret admirer yang bertahan dengan statusnya. Akan ada fase dimana perasaan kagum berkembang menjadi rasa sayang terhadap lawan jenis. Akan tumbuh rasa cemburu meski dia bukan milikmu. Termasuk aku.
Aku mengaguminya, dia adalah seseorang yang aku kenal lewat media sosial. Ya, aku termasuk berkepribadian introvert.

Tiga tahun lalu aku mengenalnya, laki-laki yang saat itu sedang disibukkan dengan skripsinya dan aku yang tengah mempersiapkan Ujian Nasional tingkat SLTA. Dia adalah orang yang ramah dan sungguh tingkahnya yang menyebalkan itu sudah dia tunjukkan di awal perkenalan kami. Aku tak pernah mengira bahwa pada akhirnya aku menjatuhkan hati pada orang seperti dia. Saat itu aku tak terlalu melirik dia, aku hanya ingin menambah teman. Mungkin di antara kalian pernah mengalami hal sepertiku, belum pernah bertemu namun bisa bercerita panjang lebar seperti tak ada ragu meski baru mengenal. Ya, dia membuatku ketergantungan akan sosok yang menampung keluh kesahku.

Entah sebab dan alasan apa aku merasa nyaman untuk menceritakan apa yang membuat dada ini sesak padanya. Meski sesi cerita hanya terhubung oleh handphone. Saran demi saran dia lontarkan meski kerap kali aku mengajukan keberatan namun entah malaikat bersayap putih darimana yang membuat aku menerima tiap masukan darinya. Dia membuat aku nyaman, dia seperti sosok kakak yang selama ini aku rindukan. Sosok yang mampu menjadikanku adik yang meminta ditenangkan. Dan sosok yang mampu membuat aku kecewa pada akhirnya. Dan aku tak pernah menyesal telah mengenalnya meski keadaan tetap menginginkan hubungan kami hanya sebatas adik dan kakak.

Adik dan kakak, klise memang. Adik yang mencintai kakaknya dengan menaruh harapan yang tak sewajarnya. Ya, aku adalah adik kelasnya. Tak kusangka dia satu SMP denganku. Kami pernah menimba ilmu di tempat yang sama dengan rentan waktu empat tahun. Percakapan itu terjadi.
“Lah kakak rumahnya daerah situ, jangan-jangan SMPnya di 12 ya?”
“Iya kakak alumni 12 haha”
“Wah berarti pernah diajar sama mario bross ya yang kalau gak bisa jawab atau jawabannya salah disuruh skotjump hahaha”
“Iya hahahaha”
Singkat cerita, sejak saat itu aku tahu bahwa ternyata kami satu alumni dan tinggal di daerah yang berdekatan.

Dan ternyata kami juga punya banyak kesamaan, dari yang sama-sama suka nonton Running Man (K-popers pasti tahu), pencinta jus alpukat (ini tahu dari hasil stalking twitter), dan sama-sama pernah berhubungan dengan seseorang yang beda keyakinan. Hal tersebut membuat aku semakin mudah mengeskplor percakapan kami, banyak yang dapat dijadikan bahan sharing. Meski kenyataannya aku yang lebih banyak nanya sehingga dia menyebutku “wartawan kejar setoran”. Walau aku telah nyaman, aku tak menaruh perasaan lebih padanya saat itu. Bahkan tahun kedua kami kenal pun tak pernah bertatap muka juga padahal rumah kami pun tak jauh. Sampai pada akhirnya…

Senin, 8 Juni 2015.
Itu menjadi pertemuan pertama kami. Dua hari sebelumnya dia memposting foto dengan terpasang alat infus. Aku lihat kolom komentarnya dia menyebutkan bahwa dia dirawat di RSSM Cibinong. Hari minggunya aku chat BBM dia.
“Kakak sakit?”
“Iya de”.
“Sakit apa kak?”.
“Awalnya tifus tapi pas hasil tesnya keluar ternyata DBD”.
“dirawat di mana kak?”.
“Di sentra de”.
“Sentra mana kak?”.
“Cibinong dek”.
“Ruang apa kak, aku mau jenguk haha”.
“Ruang anggrek kamar 312 (kalau tidak salah), ya udah ajak pacarmu sekalian de”.
“udah END, itu di lantai berapa kak?”
“Hahaha, di lantai 2”.
“Jam besuk kapan aja kak?”.
“Jam 5 sore sampai jam 7 malam”
“Oh ya udah”
“Besok aja de, sekarang kaka mau istirahat”
“Haha siapa juga yang mau sekarang, aku juga mau cari temen dulu”

Aku langsung BBM temenku semasa sekolah, Imeh. Aku bilang sama dia minta diantarkan jenguk teman. Sepulang kerja aku langsung jemput dia di kantornya dan kami langsung ke rumah sakit. Setiba di depan ruangan aku tidak langsung masuk, aku kebingungan. Aku akan bertemu pada seseorang yang sudah 2 tahun aku kenal, yang kubagikan cerita tentang kehidupanku. Di ruangan tersebut ada 4 tirai dengan 2 tirai yang tertutup, aku tak tahu dia di tirai yang mana. Kuputuskan untuk BBM dia tapi tak juga ada jawaban. Akhirnya aku tanya perawat, dia ada di tirai pojok kiri. Aku cerita sama Imeh bahwa aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dan ketika masuk pun, Imeh duluan bukan aku. Tapi syukurlah, dia mengenaliku. Mama dan kakaknya baik dan ramah, dia pun juga. Ada hal yang membuat aku terkekeh, ketika mamanya hendak menyuapi anggur dia enggan dan aku bilang seperti ini “Perlu aku suapin gak kak?” kami saling melihat dan mamanya seakan menyodorkan anggurnya ke aku tanda mengiyakan, dan aku refleks kaget dan bilang “enggak kok bu bercanda” ah malunya aku saat itu. Mamanya nanya sama aku “temen apa? Temen kuliah atau temen kantor?”, aku langsung menoleh ke dia “temen apa kak?”, dia jawab “temen ya temen”, kakaknya bersuara “temen BBM-an”. Itu awkward moment untukku.

Pada saat itu pun aku belum ada rasa bahkan mengagumi pun tidak. 27 Juli 2015, kami bertemu kembali di tempat yang sama. Sahabatku Fifi dirawat di rumah sakit yang sama, di ruangan yang sama dan kamarnya hanya berbeda satu kamar. Saat itu, aku dengannya janjian bertemu karena suatu hal. Aku baru tahu Fifi dirawat pun karena Leni, itu pun senin pagi. Aku berniat menjenguk Fifi, aku kabari pacarku Adit. Iya saat itu aku sedang berpacaran dengan mantanku semasa aku lulus SMP. Dia tak janji dapat menemaniku karena urusan kerjaan. Aku bilang sama Fifi bahwa aku akan menjenguknya bersama pacarku, dia, atau Leni. Sampai akhirnya pukul 15.30 aku PING!!! dia berkali-kali namun hanya ceklis. Sepuluh menit kemudian dia membalas.
“Eh iya sampe lupa de haha”
“Kaka sibuk gak?”.
“Enggak, kenapa emang?”.
“Temenin aku jenguk temen yuk di tempat kakak dirawat cuma beda satu kamar doang kok haha”.
“Oh ya udah”
“Ketemu di sana atau gimana kak?”.
“Ketemu di sana aja kali ya”
“Ya udah berarti aku langsung ya”
“Emang kamu darimana?”.
“Dari arah Citeureup”.
“Oh ya udah, kakak otw sekarang”

Aku senang bisa berjumpa dengannya lagi, namun sekali lagi saat itu aku belum ada rasa apapun. Sampai pada akhirnya 30 Agustus 2015. Aku terbangun dari tidurku karena mimpi. Mimpi yang kini baru kusadari menjadi mimpi terburukku. Andai saja aku tak membawa perasaanku pada mimpi tersebut, mungkin kini hatiku tak lagi patah. Disinilah awal diriku mengkukuhkan diriku sebagai secret admirer. Aneh memang, namun inilah kenyataannya. Aku bermimpi dia menyatakan perasaannya padaku. Percaya atau tidak, sejak hari itu aku mulai memperhatikannya diam-diam, rasa penasaranku macam api yang sedang membara. Biasanya aku selalu menceritakan padanya jika aku mimpi tentang dia, namun tidak untuk kali ini.

Minggu, 30 Agustus 2015.
Pertemuan ketiga aku dengannya dan sampai aku menulis ini aku belum pernah lagi melihatnya. Hari itu kami bertemu di gang rumahku tepat di jembatan sekitar jam 13.00. Aku memberinya hadiah atas timbal balik dia menghadiahiku jaket EXO, yang kini saat aku menulis ini jaket itu sering aku pakai, entah rindu atau apa aku hanya sedang ingin memakainya saja. Ah, itu sama sekali tak layak disebut hadiah. Aku bahkan tak membungkusnya, hanya berselimut plastik putih dimana aku membelinya. Sungguh dia begitu ramah dan baik. Tak heran bila dia sangat dekat dengan teman perempuannya.

Kini hanya tentang aku dan perasaanku. Perasaan yang tak bisa aku kendalikan. Perasaan yang tanpa mampu aku cegah, perasaan itu datang tanpa kata permisi. Hari-hariku dibaluti rasa ingin tahu yang begitu menggebu. Biasanya aku kuat untuk menahan perasaan semacam ini, namun tidak padanya. Aku terus berpikir bagaimana caraku berkomunikasi dengannya, dekat dengan dia tanpa harus menampakkan kecintaanku terhadapnya. Sampai akhirnya aku tak bisa lagi menahannya. Usiaku saat itu 19 tahun. Awalnya aku berpikir tuk bertahan dengan status secret admirer 1-2 tahun ke depan. Dia pernah berkata bahwa dekat dengan seseorang butuh waktu minimal satu tahun. Aku berpikir untuk mencoba satu tahun ke depan kalau memang tak ada respon masih ada tahun depannya. Toh aku berpikir jika aku menunggunya hingga 2 tahun, usiaku baru 21. Namun entah bisikan darimana, aku akan mengakhirinya.

Tekadku kuat, aku akan mengakhiri. Entah berakhir dengan bahagia atau kecewa yang aku dapat. Dengan menahan malu dan gengsi yang dulu kujunjung tinggi, aku mengatakan semua kepadanya. Tepat 27 Nopember 2015. Aku mengirim sebuah email untuknya, aku utarakan apa yang selama tiga bulan telah mengganggu pikiranku. Berusaha menetralisir guncangan demi guncangan yang terjadi dalam hati ini. Bahkan aku tak peduli dia akan cap aku perempuan seperti apa, bagiku itu berada di nomor sekian. Yang terpenting adalah aku lega, tak ada lagi beban yang kutopang demi melawan rindu. Meski apa yang aku terima pada akhirnya berujung kecewa.

Aku ingin bangkit, mencari celah cahaya untuk aku berdiri dengan tegak. Keputusanku tak semata-mata tanpa alasan. Beberapa hari itu aku mencoba mencari jawaban yang bisa kuterima dengan logika. Aku ingat sekali ketika aku bertanya apa salah jika seorang perempuan mengungkapkan perasaan terlebih dulu. Dia menjawab dengan enteng “kentut aja kalo ditahan sakit apalagi perasaan”. Dan ketika aku berkata “Tapi gak pernah komunikasi cuma bisa menceritakannya dengan Tuhan”, Lanjutnya “Gak pernah komunikasi tapi cerita sama Tuhan? Siapa tahu Tuhan denger terus gak sengaja ketemu di Alfamart beli teh pucuk terus bilang suka eh ternyata dia juga suka” ya ampun orang macam apa dia yang mudah mengatakan hal itu. Jawaban yang buat aku kesal namun membuat aku terkesan. Dia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan bahasa yang mudah untuk kumengerti dan dapat kuterima dengan logika.

Jika kalian di posisiku mungkin kalian pun akan rentan untuk menyukai sosok dia. Yang tak jarang membuat kesal namun itulah sisi dia yang membuat diri selalu ingin berkomunikasi dengannya seakan tak ingin cepat berlalu. Sosok yang supel, ya itulah dia di mataku. Perihal aku mengungkapkan rasa, seperti aku bilang pada akhirnya aku menerima kekecewaan. Kisahku harus berakhir bahkan sebelum dimulai. Dia membalas e-mailku 2 hari kemudian, itu pun karena aku berkata “ah pasti kakak belum cek email”. Ketika aku berkata demikian, aku dengan ragu mengirimnya video dengan puisiku di dalamnya. Video yang menyebutkan diriku sebagai secet admirer dia. Tepat jam 9 malam aku mengirimnya melalui akun whatsapp namun sinyal tak berpihak padaku, akhirnya beberapa saat kemudian aku ulangi dan berhasil terkirim. Aku menunggu deg-degan hingga aku tertidur. Dini hari itu aku terbangun, aku lihat ada balasan dari dia, namun sungguh aku tak sanggup untuk membacanya. Pagi ketika aku berangkat kerja, aku cerita dengan temanku dan akhirnya temanku yang membacanya. Balasnya seperti ini “Videonya bagus, cek email ya” dengan emot senyum pipi merah diakhirnya.

Detak jantungku berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Aku membuka email dengan ragu. Dibalasnya dengan isi “kayaknya gak cukup dibaca aja yak, tapi jangan dibales lagi yak de hehe”. Hanya dengan kalimat seperti itu saja berhasil buat aku lunglai. Aku mengunduh file yang dia kirim, inti dari surat tersebut “maaf dan terima kasih”. Mungkin kalian sudah bisa menduga maksudnya. Ya, aku perempuan yang saat itu telah dipatahkan hatinya. Yang dibuatnya takut untuk jatuh cinta atau tepatnya tak siap untuk jatuh lagi.

Tentang Adit pacarku yang sekarang sudah menjadi mantanku “lagi”. Kami putus tepat di hari kemerdekaan Indonesia, disaat rakyat Indonesia suka cita menyambutnya, tidak untukku saat itu. Akhirnya dia memutuskanku setelah menggantungkan hubungan kami. Bukan karena kedekatanku dengan pria lain, bukan sama sekali. Jika aku boleh jujur, aku tak terlalu patah hati, bahkan tak ada separuh dari lukaku karena menjadi secret admirer. Ini lah yang aku sesali, aku kembali padanya bukan karena murni aku sayang dia, namun karena aku sendiri. Kesendirian yang membuatku berani menjalin kasih setelah 4 tahun kami berpisah. Aku sedang sendiri dan dia yang memang pernah hadir datang lagi, aku sudah tahu bagaimana sifat dan wataknya jadi aku tak harus mengenal dan memahaminya dari awal lagi, pikirku saat itu. Picik sekali otakku, dan aku sungguh minta maaf jika kamu membaca tulisan ini, Aditya Pratama Putra.

“Yang pisah aja bisa balik lagi apalagi cuma lari, suatu saat pasti kembali cuma Tuhan yang tahu” kataku di pesan terakhir sampai akhirnya dia cuma membaca pesan dariku. Pesan berantai yang membuat aku terkekeh sendiri, sahut-menyahut aku dan dia di whatsapp. Setelah moment tersebut, niatku memang move on namun niat hanyalah niat, aku dibuat gagal untuk bangkit olehnya sampai satu tahun telah berlalu. Dia tetap seperti dia yang dulu, dia yang selalu meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku entah tentang apapun itu, tidak ada rasa canggung. Aku tak menutup hati untuk siapapun namun memang belum ada seseorang yang tepat untuk mengukir cerita dengan aku dan dia yang lain menjadi tokoh utamanya.

Cerpen Karangan: Nilam
Olahraga Pagi

Olahraga Pagi

Judul Cerpen Olahraga Pagi

Pengalaman olahraga di pagi buta yang mengasyikkan. Iya!! pagi buta, saking butanya aku tidak bisa melihat telingaku sendiri hahaha.
Niatnya sih simple, pulang-nyampe-tidur. Ternyata perjalanan dari nganjuk city harus berhenti di tengah jalan karena motor kesayangan kehabisan tenaga. Detik-detik kehausan motorku sebenarnya sudah terasa dari nganjuk (rumah teman), tapi aku abaikan karena motornya itu irit, pikirku pasti cukuplah, lagi pula jam 2 pagi siapa yang jual bensin?
Ya udah akhirnya kesampaian juga deh olah raga di pagi buta, tidak hanya berjalan kaki atau sekadar lari namun juga mendorong motor kesayangan.
“Okay… Ini dekat aku bisa!! Pasti nyape rumah!!”

Setelah sepuluh langkah berjalan
“Ini sih jauh bahkan anyer sampai panarukan lebih jauh lagi apalagi dorong motor. Fuhh!!”

Langkah demi langkah kulalui, keringat menetes dengan rajin. Satu dua orang melaluiku tanpa sapaan. Uang berapapun tak berguna saat itu, bahkan jika aku harus memilih antara sekarung berlian atau bensin satu liter aku tetap pilih bensin (dorong motor aja kepayahan apalagi ditambah sekarung berlian?).

Ada lampu mobil menyorot dari belakang, berjalan pelan dan berhenti di sampingku.
“Mas mau taya, jalan ke kediri kota mana ya?”
“Oh blablablablblabla, gitu pak”
“Oh iya mas, terimakasih!”
Mobil tersebut langsung melaju meninggalkanku sendiri di sini tanpa ada seorang pun yang menemani. Oke, no whot whot. Kulanjutkan perjalanan ini sendiri.

Mushola mulai mengumandangkan imsak. Terlihat jauh di sana ada rumah yang jual bensin dan orang laki-laki menyapu halaman rumah.
“Pak, beli bensin.”
“Haduh habis mas”
Mak tratap. Langsung syedih, lemas, lesu, gatal-gatal, pusing, hidung tersumbat dan susah buang air besar.

Perjalanan berlanjut. Terlihat ada orang yang senasib mendorong motornya dari arah yang berlawanan.
“Mas, bocor?”
“Tidak pak, bensin habis, jenengan (kalau Anda)?”
“Bocor mas”
Kami berdua spontan tertawa terbahak-bahak bersama, istirahat bersama, cerita-cerita pengalaman hidup, sambil main gitar dan ngopi bersama. (gladur)

Aku dan bapak itu melanjutkan jalan masing-masing. Selang beberapa saat terdengar adzan shubuh. Toko-toko mulai mempersiapkan dagangannya.
“Bu, beli bensin satu liter.”
“Bentar mas, tak cari dulu kuncinya.”
“Iya bu.”

Beberapa saat kemudian
“Mas maaf kuncinya ketelesot”
“oh iya gak papa bu, aku rela kok jika harus melanjutkan olah raga pagi ini.”

Semakin haus, lapar, letih, ingin menyerah namun semangat lagi ketika melihat toko baru buka.
Hati kecil berbisik, jika ini gagal juga aku akan…
“Berapa mas?”
“Satu liter”
Mengambil bensin
Lanjut berkata dalam hati “Untung aja ada hehehe…”

Akhirnya nyampe rumah langsung beraktivitas seperti biasanya.
Seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa. Atau mungkin semalem hanyalah mimpi?
No whot whot dah..

Sekian

Cerpen Karangan: Moh. Tito Ragil Dianang
Facebook: Moh Tito Ragil Dianang
Pertemuan Tanpa Nama

Pertemuan Tanpa Nama

Judul Cerpen Pertemuan Tanpa Nama

Perkenalkan namaku adetia. Hobiku adalah menulis puisi. Aku tak suka dengan keramaian. Yang kadang membuat aku seperti terasingkan. Namun ku juga benci dengan kesepian. Yang membuatku selalu sendiri.

Aku sekolah di salah satu SMA favoritku. Dan sekarang ini adalah tahun ketiga ku sekolah di sana. Hari-hariku sangatlah membosankan. Tiap pagi harus bangun meskipun mata masih ngantuk. Berangkat ke sekolah, bertemu dengan teman-teman, lalu kembali lagi pulang. Hanya itu saja, sempat terpikirkan olehku, apakah aku harus merubah hidupku?

Pagi itu seperti biasa ku berangkat ke sekolah diantar ayahku. Peraturan di sekolah yang melarang setiap siswa untuk membawa motor membuat ayahku harus mengantarku ke sekolah setiap paginya. Dengan keadaan cuaca yang sedang hujan. Terpaksa aku harus tetap berangkat sekolah dengan menggunakan jas hujanku. Sebenarnya aku sangat benci dengan hujan. Benci dengan setiap titik airnya. Karena itu mengingatkanku akan peristiwa 2 tahun yang lalu. Peristiwa yang kembali membuatku berurusan dengan cinta. Cinta yang masih tetap sama. Tak pernah bisa kuungkapkan dengan sejujurnya.

Di perjalanan hujan pun berhenti. Meninggalkan bekas genangan air di jalanan. Sesampainya di sekolah, kulepaskan jas hujanku dan kuberikan kepada ayahku sambil mencium tangannya. Setelah itu aku berjalan memasuki ruang kelasku.
“Ternyata masih sepi, udah jam segini apa aku yang terlalu pagi ya berangkatnya.” Kataku saat melihat keadaan kelas yang masih kosong.

Sambil menunggu yang lain datang. Kubuka tasku dan mengambil buku latihanku. Kulanjutkan PR yang belum selesai kukerjakan semalam. Hingga ku tak sadar ada temanku yang datang dan menegurku.
“Woi PR mulu, ngerjain PR mah di rumah bosen gue liatnya.” Kata temanku.
“Nggak usah diliat kalo bosen mah. Emangnya lu udah apa?” Balasku
“Yah lu tau gue kan.”
“Tau gue, lu kan biasanya belom selesai.”
“Nah tuh tau pake nanya.”
“Dasar males”

Akhirnya selesai juga. Tak terasa semua temanku telah datang dan bel sekolah pun berbunyi. Sebelum memulai pelajaran seperti biasa tadarus Al Qur’an dulu. Sudah menjadi kegiatan rutin di sekolahku sebelum memulai pelajaran. Setelah selesai tadarus barulah pelajaran dimulai. Semua pelajaran di sekolah kuikuti dengan baik dan lancar. Bel pulang pun berbunyi dan aku pun pulang ke rumah.

Karena rumahku yang lumayan jauh dari sekolah. Jadi aku harus 2 kali naik angkutan umum. Tapi itu semua tak jadi masalah. Semenjak pertemuanku dengan dia. Dia yang telah mencuri pandanganku di sepanjang perjalanan. Entah sampai saat ini aku tak mengenal namanya. Tapi hati ini seakan mengenali wajahnya. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi itu dimana aku pun tak tahu. Aku seperti seorang yang amnesia waktu itu. Setiap pulang ku selalu bertemu dengannya tapi tanpa pernah ku menyapanya. Apalagi untuk menanyakan namanya ku tak pernah bisa. Meskipun jalan pulangku dan dia searah. Tapi selama ku bersamanya ku tak pernah berani untuk menanyakannya. Sampai-sampai aku tak bisa lagi bertemu dengannya. Tak bisa lagi melihat dia di tempat biasa itu. Dan sampai kini mungkin namanya akan selalu menjadi misteri bersama jejak yang kujelajahi.

Cerpen Karangan: Adetia Saputra
Blog: www.sobatbankids.blogspot.com
Cinta Tak Tersampaikan

Cinta Tak Tersampaikan

Judul Cerpen Cinta Tak Tersampaikan

Cinta tak harus memiliki. Yups, inilah kisah cintaku yang ingin aku ceritakan.
Tapi aku sama sekali tak percaya pada kata-kata itu, karena menurutku yang namanya cinta itu harus memiliki. Oh ya, namaku Radit yang berumur 20 tahun dan aku sedang menyukai gadis bernama Nayla yang lebih tua 3 tahun dariku. Apa menurut kalian aku salah jika menyukai gadis yang lebih tua dariku?. Kalau menurutku, itu tidak salah karena selama ia mampu menerima aku apa adanya maka aku akan nyaman bersamanya.

Aku dan Nayla adalah teman sekantor dan kami mulai dekat pada tahun 2014 lalu. Waktu itu aku berjanji padanya kalau aku akan mengajaknya nonton di bioskop. Pada saat itu aku belum mempunyai rasa apa-apa dan aku tidak kepikiran bahwa aku akan mempunyai rasa padanya. Karena dari dulu aku tidak percaya diri dan sangat susah untuk jatuh cinta pada gadis-gadis yang pernah kutemui sebelumnya. Bahkan sampai teman-temanku mengira bahwa aku ini G*y.

Semenjak saat itu aku jadi semakin dekat dengannya, kita jadi sering keluar bareng dan semakin dekat. Hingga akhirnya aku pun mempunyai rasa padanya. Entah sejak kapan rasa ini muncul dan aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya pada siapapun. Yang jelas aku merasa sangat nyaman saat bersamanya, hari-hariku terasa lebih indah saat bersamanya. Seakan ingin kuhentikan waktu agar aku bisa terus bersamanya.

Aku pun berniat untuk mengutarakan perasaanku padanya dengan harapan semoga ia juga merasakan perasaan yang sama sepertiku. Tapi, pada malam itu ia malah bercerita tentang kisah cintanya yang lalu seakan-akan ia belum move on dari cintanya yang lama. Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk mengutarakan perasaanku. Aku berpikir bahwa mungkin ini memang belum waktunya dan masih ada hari esok.

Setelah itu hari-hari pun berlalu, aku dan dia masih tetap berhubungan seperti biasa. Tapi suatu saat ia mulai menceritakan bahwa ia sedang dekat dengan seorang pria. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya sambil menyimpan perasaan kecewa yang teramat dalam. Dan aku hanya bisa berharap ia tahu apa yang aku rasakan saat ini.

Namun semakin lama ia semakin dekat dengannya bahkan disaat ia sedang ke luar bersamaku hanya pria itu saja yang ia ceritakan sepanjang kita bersama. Aku pun mulai menjaga jarak darinya karena aku sadar ia lebih memilih pria itu daripada aku. Aku dan dia sudah jarang keluar bersama lagi, mungkin ia sudah bahagia bersama pria itu. Bahkan mungkin aku sudah tak dianggap lagi. Seakan-akan apa yang aku perjuangkan untuknya selama ini itu sia-sia.

Kini semua berakhir sudah, kisah cinta yang tak tersampaikan dan berakhir dengan memilukan. Aku pun kini hanya bisa menyendiri sambil berharap semoga perasaan ini cepat menghilang bersama senyumannya yang dulu terpancar untukku tapi kini telah menjadi milik orang lain.

Aku pun tersadar, bahwa untuk memiliki itu butuh dua hati yang saling cinta. Tak bisa hanya dengan satu hati.
Jika hanya dengan satu hati yang memperjuangkan maka lepaskanlah cinta itu. karena cinta itu tak bisa dipaksakan.
Cinta itu harus memiliki, karena cinta itu adalah dua hati yang saling memperjuangkan untuk satu kebersamaan.

Cerpen Karangan: Diki Wijaya
Facebook: Diki Wijaya
Buka Hingga Pejam

Buka Hingga Pejam

Judul Cerpen Buka Hingga Pejam

Pada hari awal mula dimulainya hitungan hari dalam satu minggu saya bangun pagi dan terlihat matahari belum kleuar dari persembunyiannya. Tepat pukul 05.00 alarm handphoneku berbunyi pertanda saya harus membuka mata dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Dingin terasa saat air bersentuhan dengan badan dan tidak lupa pula saya wudhu dan melaksanakan sholat shubuh. Setelah itu saya berdiri di depan kaca bagai seorang model majalah yang akan melakukan pemotretan, merapikan rambut serta memakai parfum yang wanginya melebihi wangi bunga satu taman.

Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 dan itu berarti waktunya untuk melaksanakan kewajiban demi mendapatkan rupiah. Di tempat ini saya bekerja. Di sebuah instansi pendidikan atau tepatnya dimana ada kegiatan guru yang mengajarkan pelajaran kepada para muridnya. Tapi saya bukanlah seorang guru, melainkan hanya seorang yang bekerja pada bagian tata usaha yang mengelola laboratorium IPA. Praktikum pada hari ini cukup padat dan banyak. Untuk itu perlu tenaga lebih dan sarapan yang banyak. Satu piring nasi goreng yang saya dapatkan dari kantin sekolah dengan menukarkan rupiah yang saya miliki. Saya bekerja dengan giat dan rajin. Seperti itulah seharusnya seseorang ketika melaksanakan pekerjaannya.

Saya hanya berharap semua yang saya lakukan mendapatkan berkah dari yang kuasa. Karena saya memiliki tanggung jawab kepada keluarga saya dan ilmu saya yang akan saya mulai pada sore setelah pulang kerja nanti. Saya adalah seorang anak pertama dari keluarga biasa yang berada jauh dari tempat saya bekerja saat ini. Sekian lama saya bekerja dan akhirnya saya mempunyai keinginan untuk melanjutkan belajar saya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan pada tahun ini baru impian saya dapat terpenuhi. Usia saya mungkin bisa dikatakan telat untuk melanjutkan pendidikan, tetapi bukanlah ilmu tidak mengenal usia. Karena hal itulah saya harus giat dan rajin dalam melaksanakan pekerjaan saya.

Tidak terasa waktu berjalan dan sore pun akhirnya datang. Pukul 16.00 saya selesai melaksanakan tugas dan kewajiban saya sebagai pekerja. Kembali ke sebuah kamar yang masih dalam lingkungan sekolah. Dimana tempat itu adalah tempat saya melakukan kegiatan sehari-hari setelah bekerja. Karena rumah orangtua saya sangat jauh dari tempat saya bekerja maka di tempat itulah saya menginap. Mandi dan merapikan diri kembali dengan tujuan yang berbeda. Untuk sore ini saya akan memulai tugas baru saya sebagai seorang yang sering orang lain sebut sebagai mahasiswa.

Saya berangkat dengan penuh semangat dan harapan yang tinggi semoga ilmu yang akan saya tempuh bermanfaat bagi saya dan lingkungan saya. Pukul 17.00 saya memulai aktivitas saya sebagai seorang mahasiswa. Kegiatan yang biasa saya lihat di tempat bekerja kini saya merasakannya. Hanya saja lebih berbeda karena status saya sebagai mahasiswa.

Pukul 21.00 saya selesai menuntut ilmu dan kembali menuju tempat istirahat yang berada pada lingkungan sekolah. Memakai baju yang lebih santai dan kembali ke tempat bekerja. Bukan untuk bekerja melainkan melaksanakan tugas tambahan sebagai ganti saya menginap di tempat saya bekerja. Membersihkan dan merapikan kantor. Setelah selesai badan terasa lelah dan tidak kuat untuk memejamkan mata yang sudah sedikit memerah. dan kemudian saya pun merebahkan badan dan menuju mimpi.

Begitulah kegiatan saya dalam sehari dari membuka mata hingga memejamkan mata. Dari seorang pekerja laboratorium instansi pendidikan, berubah menjadi mahasiswa dan menjadi office boy pada malam harinya. Semoga lelahku ini menjadi berkah dan bermanfaat.

Cerpen Karangan: Ikhsan Wardana
Facebook: New Daplun Bangsawan
Pramuka itu Asyik

Pramuka itu Asyik

Judul Cerpen Pramuka itu Asyik

Teman, kalian tahu kan kalau dalam kurikulum 2013 pendidikan kepramukaan itu ditetapkan sebagai program ekstrakulikuler wajib di sekolah. Nah, begitu juga dengan sekolahku di SMA N 7 TEGAL setiap tahun ajaran baru SMA N 7 TEGAL selalu mengadakan Perkemahan Tunas Muda (PTM). Dan pada tahun ini, aku sebagai salah satu peserta didik baru di SMA N 7 Tegal wajib mengikuti PTM yang ke XXVIII.

PTM Ini dilaksanakan selama 3 hari 2 malam yaitu tanggal 23-25 Agustus 2016. Tepatnya di bumi perkemahan Martoloyo, Desa Suniarsih, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Kami berangkat dari Tegal hari Selasa pukul 08.00 pagi, dengan mengendarai truk besar. Dari dalam truk, kami bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Bumper yang akan kami kunjungi terletak di atas bukit, jadi pemandangannya sangat menakjubkan.

Setelah sampai bumper, kami pun disuruh mendirikan tenda sendiri. ini menunjukkan bahwa pramuka SMA N 7 Tegal mengajarkan hidup mandiri. Setelah tenda para peserta sudah terpasang, kami pun diberi waktu untuk beristirahat.
Begitu pula denganku, aku merasa lelah setelah perjalanan selama 2 jam. Disini kita dibagi menjadi beberapa regu. Dan aku masuk dalam regu Cempaka.

“cape yah kawan” ucap salah satu anggota regu cempaka namanya Sofia.

Setelah istirahat 30 menit, tiba-tiba terdengar suara peluit dibunyikan, tandanya apel pagi akan segera dimulai. Kami pun bergegas meninggalkan tenda dan berlari menuju lapangan.

“dek, dipercepat jalannya” suruh Salah seorang kakak kelas yang menjadi bantara. Jadi dalam kepramukaan SMA ada tingkatannya yaitu Bantara, Laksana, dan Baladewa.
“huh, bisanya Cuma ngegertak doang” ucap kesal Sofia yang berada di sampingku. aku hanya bisa terdiam dan menuruti perintah ka bantara. Disini juga diajarkan hidup disiplin. Pemimpin apel yaitu kak Bantara.
“Nik, liat deh yang jadi pemimpin kak iqbal. Ganteng yah” ujar sofia padaku saat kita dalam barisan. Aku pun penasaran seganteng apakah kak iqbal, aku pun menengok. Ternyata benar apa yang dikatakan temanku sofia. Apel pun berlangsung selama 1 jam. Setelah itu kita kembali ke tenda masing-masing.

Tak lama kemudian terdengarlah pengumuman “bagi semua peserta ptm harap berdiri di depan tenda sekarang juga walaupun dalam keadaan apapun”
Putri, teman sereguku yang sedang asyik makan pun seketika itu langsung berhenti. Amel juga yang sedang berdandan ikut terkejut. Sedangkan aku sedang membereskan tasku. Kami semua keluar dari tenda secepatnya. Dan berbaris rapi. Entah apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba beberapa Kak Laksana datang dan langsung menggeledah semua perlengkapan yang kami bawa. Karena ada peraturan tidak boleh membawa barang apapun selain perlengkapan yang ditentukan. Misalnya, tidak boleh membawa HP, alat make up, dan lain lain.
Salah seorang kak laksana menemukan beberapa HP di salah satu regu. Kemudian
“dek, apa ini? Kenapa ada yang bawa Handphone. Di perkap gak ada Handphone. Siapa yang bawa lagi selain ini?” ucap dengan tegas ka pradana putri. Semua diam. Mereka terkejut dan merasa takut.
“ini apa lagi? Kenapa ada make up. Disini kalian kemah bukan untuk menjeng tau” ucap salah seorang kak laksana. Semua kakak laksana merasa kesal sekali. Karena PTM kali ini banyak yang melanggar peraturan daripada PTM tahun lalu.
Ada yang membawa jajan terlalu banyak, membawa selimut, membawa make up.
Sofia yang berada di sampingku merasa gelisah, karena ia membawa pembersih muka. Untung saja aku tak membawa barang selain perkap. Setelah semua selesai. Kami pun boleh melaksanakan tugas lainnya. Di dalam tenda banyak yang membicarakan kejadian yang tadi. Mereka menganggap pramuka itu kejam padahal pramuka itu tegas. Mereka tidak mengerti arti dari semua ini.
Hari ini kami sudah melaksanakan kegiatan dengan lancar.

Keesokan harinya…
Hari kedua kami disuruh bangun awal karena harus melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Regu ku bangun lebih awal daripada regu lainnya, semua teman reguku banyak yang tidak bisa tidur karena udaranya sangat dingin sekali yaitu 16 derajat celcius. Mereka biasanya tidur di atas kasur, kini mereka harus tidur beralaskan tikar. Tapi tidak juga denganku, malah aku tidur nyaman sepanjang malam. Tapi begitu bangun badanku terasa sangat dingin sekali. Setelah sholat shubuh, kemudian semua peserta harus mengikuti senam pagi. Kali ini dipimpin oleh beberapa kak laksana. Setalah cukup berkeringat semua peserta istirahat.

Acara selanjutnya adalah wide game. wide game kali ini kami menaiki bukit, mengelilingi hutan. Subhanaallah Sungguh indah sekali ciptaan Allah SWT. Kami bernyanyi berasama saat di perjalanan. Wide game ini terdiri dari 6 pos. Setiap pos jaraknya jauh-jauh sekali. Dan setiap pos pasti ada tantangan bisa berupa PBB, soal-soal tentang kepramukaan dan lain lain.

Setelah kegiatan wide game selesai, kami pun melaksanakan ISHOMA. Acara selanjutnya adalah out bond. Seru sekali. Ada lomba lari memakai sarung, meniup bola dan lain lain. Semua regu bersemangat menyuport perwakilan regunya.
Panitia dalam outbond ini adalah ka bantara sendiri yang bernama kak mauli dan kak iqbal. Aku merasa kagum terhadap kak mauli. Dia begitu cantik, tegas, sangat percaya diri. Begitu pula dengan kak iqbal, entah ada sesuatu yang aneh saat aku melihat kak iqbal yang sedang memimpin lomba. Rasa yang belum aku rasakan selama ini. Senyumnya sangat indah. Dengan segera aku mengalihkan pandanganku dari kak iqbal. Mungkin aku ngefans sama kak iqbal. Setelah 2 jam kemudian, outbondpun selesai juga.

Malam pun tiba. Malam ini terasa dingin sekali. Seperti es batu. Dan kegiatan malam ini adalh api unggun. Kami semua menikmati kegiatan tersebut. Karena dibarengi dengan acara pentas seni. Tapi tak denganku, aku hanya menunduk diam. Aku merasa masih kedinginan dan ngantuk sekali. Begitu juga dengan sofia yang duduk di sebelahku.
Di belakangku ternyata ada kak iqbal yang sedang berdiri,
Dia memperhatikan aku dan sofia “dek kamu sakit?” tanya kak iqbal. Aku pun menengok ke belakang, sepertinya dia memperhatikanku. Aku tak langsung menjawab. Aku hanya bisa menggeleng. “gak papa kak, Cuma kedinginan” jawab sofia. Entah aku pun bingung, pertanyaan kak iqbal untuk aku ataupun Sofia. Entahlah, ada rasa tidak senang dalam hatiku.
Semua peserta menikmati api unggun dengan gembira. Sampai api mulai padam, kami pun kembali ke tenda masing-masing.
Kami istirahat malam Cuma 1 jam saja, karena ada kegiatan Jalan-jalan Malam pada jam 12 malam. Huh semua reguku merasa kesal. Karena kurang waktu tidur.

Acara JJM pun dimulai. Kami harus melewati hutan dengan sendirian tanpa memakai senter. Semua merasa takut. JJM selesai sampai jam 4 pagi.
Setelah selesai, kami pun melaksanakan ISHOMA dan di lanjutkan jalan pagi mengelilingi perkampungan terdekat.

Saat jalan pagi kami melewati lapangan, perkebunan, hutan. pokoknya seru lah. Suasana yang masih alami sekali. Jarang kita menikmati suasana seperti ini di Kota tempat kita tinggal. Kami jalan berdua beriringan. Aku berjalan dengan sofia. Saat di perjalanan tiba-tiba ada kak iqbal yang sedang berjalan di sampingku. Kemudian aku menengok sedikit. Lalu ia tersenyum. Aneh menurutku. Dia tersenyum dengan siapa. Lalu kak iqbal melangkahkan kakinya kembali dan melewatiku. Dia sedang membawa kamera. Lalu ia memanfaatkan moment ini untuk dokumentasi. Ia sibuk menekan tombol di kameranya saat aku melewatinya. Huh aku gak suka di foto. Tapi mau gimana lagi. Lalu kak iqbal pergi…
Sungguh aneh..

“yey, ini hari ketiga, sebentar lagi kita akan pulang” kata dinda teman sereguku yang sekarang berada di belakangku.
Karena kami asyik melihat pemandangan. Langkah kami terasa cepat. Dan tak terasa kami sudah kembali di bumi perkemahan.

Kegiatan selanjutnya adalah senam pagi.
Seperti biasa, senam kali ini dipimpin oleh kak laksana dan kak bantara.
Semua mengikuti senam dengan gembira. Huh, setelah senam selesai. Kami diberi waktu untuk istirahat karena sebentar lagi ada acara pelantikan kami. Karena kami masih Pramuka Penggalang yang akan dilantik menjadi Tamu Pramuka Penegak. Yey sebentar lagi kita akan memakai baju baru.

Acara pelantikan pun dimulai. Kami berbaris rapi.
“dengan sejumlah 294 peserta yang akan siap dilantik menjadi tamu penegak. Jika diterima maju 1 langkah, jika ditolak mundur satu langkah” ucap sang pembina upacara
“Ditolak” ucap tegas sang pradana putra
Huh, kami semua menghela nafas. Kemudian kami balik kanan, dan membetulkan semua perlengkapan yang kami bawa. Karena syarat diterima semua peserta harus kompak dan berbaris rapi.

Setelah beberapa menit kami pun ditolak kembali. Banyangkan sampe 10 kali kita ditolak. Bagaimana perasaan kami waktu itu. Tentunya kesal, sampai akhirnya kata-kata yang kita inginkan pun terucap
“diterima” yey semua peserta merasa senang. upacara pun dilanjutkan.
Sedangkan aku juga ikut senang. coba kalau badan aku tinggi pasti bisa baris di paling depan dan melihat upacara dengan jelas. Huh kenapa aku harus paling belakang karena tubuh kan kecil. Karena dalam pramuka siapa yang paling tinggi di antara yang lain dialah yang berbaris didepan. Acara pelantikan berjalan dengan sempurna.

Kegiatan selanjutnya adalah mandi air suci. Suci dari mananya? Air kotor kali. Huh, kita harus merangkak di atas tanah dan diguyur air yang tercampur tanah. Kotor sekali. Setelah itu kita boleh mandi dan berganti pakaian menjadi pramuka penegak.
“gila, ini kotor banget. Hih” ucap sofia.
“sabar, perjuangan kita untuk memakai seragam pramuka penegak hampir selesai.” Kataku
Setelah mengenakan seragam pramuka penegak kami pun disindir oleh kakak bantara,
“cie.. yang udah jadi penegak. Seragam baru niye” betapa malunya diriku saat disindir kak iqbal. Aku hanya bisa tersenyum pasrah.

Yey akhirnya sebentar lagi kami akan pulang ke Kota Tegal.
Kami pulang pukul 14.00. cuaca sangat mendung. Hujan turun rintik-rintik. Akhirnya kami kehujanan. Kami sampai tegal pukul 16.00
Huh, sungguh pengalaman yang menyenangkan. Semua menyangka pramuka itu kejam, galak, setelah kami mengerti bahwa Pramuka itu mendidik kita untuk disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan jujur. Kami mendapat banyak Pengalaman dari PTM Ke XXVIII ini. Semoga PTM selanjutnya lebih baik dari pada PTM Ini. Sukses Untuk PTM Smaga…

Cerpen Karangan: Ni’ Matur Rizqi
Facebook: Ni Matur Rizqi
Email : nimaturrizqi9d22@gmail.com
Bbm : D27DC978
BK (Bosan Di Kelas)

BK (Bosan Di Kelas)

Judul Cerpen BK (Bosan Di Kelas)

Hai gan! Kenalin nama gue Dinda Mutiara Az Zahra. Gue biasa dipanggil Dinda. Gue itu paling beda dari yang lain. Kebanyakan temen gue tuh paling seneng dengan JamKos *Gak kebanyakan sih, tapi semua temen gue!*.

Saat itu lagi JamKos bahasa inggris. Gak jamkos sih, tap dikasih tugas. Karena guru bahasa inggris gue sibuk ngajar kelas 9 yang mau ujian nih, jadi deh kelas 7 dilupakan *hihihi sedih banget ya*. Guru Bahasa Inggris gue ngasih tugas yang itu-itu terus *mboseni banget to!*. Padahal 3 hari yang lalu juga ditinggal dengan tugas yang sama. Karena gue anak rajin *hahaha lagak banget* tapi bener kok gue di sekolah dicap sebaga anak rajin dan alim. Gue udah ngerjain waktu guru gue ngasih tugas pertama kali. Sekarang dikasih tugas yang sama, padahal tugasnya udah gue kerjain. Di kelas gue mau ngapain?

Biasanya sih gue mainan slime, tapi ratu slime lagi gak masuk. Biasanya juga gue baca buku pelajaran kalau gak buku ilmiah, tapi gue gak bawa buku ilmiahnya, pas itu gue moodnya lagi buku ilmiah bukan pelajaran. Ya udah karena di kelas gue lagi banyak yang bawa laptop *tapi gue gak. Biasalah laptop oplosan. hahaha* jadi temen-temen gue nonton film semua tanpa ada 1 pun yang ngerjain tugas Bahasa Inggris *kelas yang malas ya. Pantesan gue gampang dan cepet dicap anak rajin. Padahal SD gak dicap sama sekali*.

Karena tugas gue udah gue selesain di rumah, gue jadi ikut-ikutan nonton film. Meskipun gak tau filmnya apa. 40 menit gue nonton dengan penuh ling lung *gak tau filmnya ngisahin tentang apa. Lagian temen gue lihat film korea. Bahasanya bahasa Korea tapi ada subtitle bahasa inggrisnya. Mana tau gue bahasa inggris*. Kan pelajaran bahasa inggris 80 menit. Gue bingung yang 40 menit sisanya buat apa?

Akhirnya gue nonton film lain tapi tetep aja tuh gak tau filmnya apa *katrok banget gue*. Gue kan bosen tuh ya udah gue buat cerpen ini, yang ngisahin keboringan gue di kelas. Meskipun cerpennya gak mutu sih. Tapi gue udah nyiptain 8 cerpen. Bisa dibilang mutu bisa dibilang gak. Ya udah keseharian gue di kelas kalau ada tugas ya ngerjain kalau gak ada gue baca buku atau bikin cerpen gak jelas tapi bermutu. Jujur aja gue gak suka ngerumpi bareng temen-temen. Gue malah lebih suka ngisi keseharian gue dengan belajar dan karya tulis ilmiah demi bekal gue kelak. Bye

Cerpen Karangan: Dinda Mutiara Az Zahra
Facebook: endang setyowati