Showing posts with label Cerpen Perjuangan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Perjuangan. Show all posts
Demi Ayahku

Demi Ayahku

Judul Cerpen Demi Ayahku

Dinginnya pagi bersama terpaan embun yang menuntun langkahku untuk menuntut ilmu, sesuatu yang wajib kulakukan sebagai pelajar. Tidak seperti biasanya, pagi ini dinginnya udara sampai menembus pori pori kulitku dan merasuk ke dalam tulang. Waktu telah menunjukkan pukul 8 tepat. Lari adalah satu satunya hal yang dapat mengejar waktu keterlambatanku untuk sampai ke kampus. Setiap hari, aku selalu mendapat hinaan dan celaan dari semua temanku, lemparan kata kata kasar yang membuat hatiku lemas terkulai karenanya. Begitupun dengan guruku, bukan kasih sayang seorang guru yang kudapat melainkan cacian dan kemarahan yang terus menerus diucapkan padaku, karena sebuah kata terlambat.

Setiap sore saat pulang dari kampus hingga larut malam. Kegiatan rutinitas yang kulakukan adalah menjual sebuah pem pek sederhana yang hanya dibuat dari sebuah tepung kanji dan sepotong ketela pohon. Yang kujual dengan harga 2 ribu saja. Tidak seperti kebanyakan anak sekolah, yang bisa menyempatkan waktunya untuk belajar. Tidak bagiku, tidak ada sedikitpun waktu untuk kumanfaatkan membuka lembaran lembaran buku. Setiap selesai berjualan rasa kantuk menghinggapiku, itu alasan dari keterlambatan rutinku. Ini semua kulakukan untuk ayahku satu satunya yang masih hidup. Ayahku dahulu bekerja menjadi nelayan, karena kecelakaan yang terjadi 5 tahun silam menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki ayahku. Hal tragis itu membuat ayahku kehilangan pekerjaannya. Dan karena rasa ibaku pada ayah, aku rela menggantikan posisi ayahku sebagai kepala keluarga dengan berjualan, walau hanya sekedar pem pek.

Namaku Ardian Situmalarang, namaku sangat khas, nama itu diambil ketika ibuku masih hidup. Memang dahulu ibuku berasal dari Minangkabau, itu sebabnya namaku beraroma Padang. Ibukku meninggalkan kami ketika aku masih berusia 2 tahun. Sejak kematian ibukku, ayahku selalu meronta kesedihan. Aku kuliah di Universitas Gajah Putih, Maluku Utara. Pastilah, biaya perkuliahan sangatlah mahal, untunglah aku bisa mendapat beasiswa atas prestasi yang kudapat. Kurang 1 semester lagi, aku bisa membanggakan hati ayahku dikarenakan aku bisa meraih gelar sarjana. Aku tetap bertahan walau terpaan makian yang selalu aku dan ayah dapatkan dari orang orang yang membenciku, entah apa salahku dan ayahku.

6 bulan kemudian…
Harapan yang kutunggu tunggu telah terwujud. Akhirnya aku lulus dari perkuliahan selama 4 tahun silam. Hatiku selalu didera dengan kebahagiaan, atas kelulusan yang kucapai. Bangga, bangga, dan rasa bangga yang terus bergejolak sejak kelulusan itu. Tangisan kebahagiaan yang sedang kualami, rasa hati mengatakan tak sabar memberitahu pada ayahku akan semua ini. Lalu aku cepat berlari menuju rumah dan mengatakan hal ini pada ayah.

“Yah, ayah pasti senang dengan semua ini” girangku pada ayah.
“Ada apa Ardian anakku, hal apakah yang membuat dirimu tersenyum bahagia seperti ini?” kata ayahku heran melihat kegiranganku.
“Aku wisuda yah, aku sudah jadi sarjana.” jelasku dengan muka bahagia.
“Sungguh anakku!” kejut ayahku setelah mendengar kelulusanku.
“Ya.” kataku.
“Ayah bangga padamu nak, akhirnya impianmu terwujud juga. Selamat atas kemenanganmu nak! Tidak sia sia perjuanganmu selama ini Ardian.” takjub ayahku sambil memeluk tubuhku.
“Aku bahagia jika ayah ikut bahagia.” ucapku tersenyum manis pada ayah.

Perjuanganku selama 21 tahun, telah mencapai tahap akhir dari hidupku. Tahap akhir itu adalah jadi sarjana. Akhirnya aku bisa membangkitkan tawa dan senyuman ayahku, setelah 21 tahun larut dalam kepedihan.

Ini kisahku…

Selesai

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan
Karena Ranginang Unyil

Karena Ranginang Unyil

Judul Cerpen Karena Ranginang Unyil

Hening dan juga sepi.. tak ada suara musik ataupun suara dari televisi. Hanya ada suara Minyak panas dan kompor yang menyala. Hari itu aku sedang menggoreng ranginang buatanku. Ranginang yang berbeda dari ranginan biasanya, ukurannya lebih kecil. Berbicara soal ranginang, makanan yang satu itulah yang membuat aku bisa bertahan hidup di kota kembang Bandung tanpa bantuan dari orangtua di majalengka.

Setiap hari, aku menjual ranginang di kampus atau menitipkannya di kantin kampus dan juga menitipkannya di warung-warung dekat tempat kostku. Aku memberi nama ranginang itu dengan nama “Ranginang unyil” karena bulat kecil-kecil. Tidak seperti ranginang biasanya yang lebih besar. Ranginang unyil ini mempunyai beberapa varian rasa diantaranya, original, pedas balado, pedas, balado, jagung bakar dan juga rasa keju. Namun yang banyak digemari anak-anak kampus, adalah rasa pedas. Awal usahaku tak mudah, mulai dari gagal membuat dan juga jarangnya pembeli yang awalnya tak tahu kalau “ranginang unyil” itu enak, gurih dan renyah.

Karena waktu dan pengalaman, berkat kerja kerasku dalam mengembangkan ranginang unyil, usaha kecilku itu bisa berkembang di kalangan mahasiswa di universitas tempat aku kuliah. Dan alhamdulillah, berkat sukses mengembangkan usaha ranginang, aku bisa lulus kuliah di salah satu universitas di kota kembang Bandung. Aku masuk jurusan fisika pendidikan.

Aku ingat sekali, Hari-hari kulalui dengan sulit, kadang telat masuk kuliah karena harus menggoreng ranginang. Namun, usahaku tidak sia-sia. 3,5 tahun kuliah, akhirnya aku lulus. Bahkan aku ingat masa-masa sulit tiga setengah tahun, saat aku tak punya uang, hanya sedikit uang untuk beberapa hari dan modal pun menipis. jadi karena itu aku menjual handphoneku yang jadul. Kujual ke konter dekat tempat kostku, dengan laku seharga 170 ribu. aku mengatur sedemikian rupa agar uang 170 ribu itu bisa menambah modalku dalam usaha kecilku. Namun alhamdulillah, dengan menjual handphone, bisa menambah modal dengan menambah bahan yang berkualitas.

Karena aku menjual handphone, aku jadi tak bisa menghubungi ibu di majalengka. Sebelumnya, aku mencatat no ibu di buku kecil milikku. Namun dengan kebetulan buku itu hilang. masa-masa tersulit karena tak bisa menghubungi ibu, mau pulang ke majalengka pun uang tak ada. Hanya doa yang mengiringi hidupku di kota kembang yang penuh tantangan dan rintangan hidup seorang diri. Juga rangkaian doa selalu menggema di tempat aku shalat untuk ibu. jujur saja rasa khawatir setiap hati menyelimuti diriku, khawatir ibu sakit, atau khawatir hal-hal buruk terjadi pada ibu yang hanya tinggal berdua di Majalengka dengan adikku. Andaikan saja bapak masih ada, mungkin aku tak akan ada di posisi sesulit ini, kuliah di kota kembang bandung, dengan mencari uang sendiri untuk keperluan sehari-hari. Adapun beasiswa hanya untuk biaya kuliah, memang selama kuliah tak pernah sedikitpun aku mengeluarkan biaya kuliah karena beasiswa selalu kudapatkan setiap saat karena prestasiku.

Tiga tahun setengah masa sulitku, terbayar dengan satu hari terbaik dalam hidupku. Hari dimana aku diwisuda. Waktu itu keadaanku sudah lebih baik, mendapatkan kembali buku kecil miliku yang di dalamnya terdapat nomor ibuku tercinta juga dapat membeli handphone dari hasil usaha ranginang unyil. Ibu dan juga keluarga dari majalengka datang ke bandung, untuk melihat aku diwisuda. Walupun hanya ibu yang bisa masuk ke gedung melihat aku diwisuda secara resmi.

Wisuda berjalan lancar, bahkan sangat lancar. Tak kusangka ketika aku “Renita Melviany” yang menjadi lulusan terbaik dengan nilai cumlaude. Seorang gadis dari kota Majalengka yang berjualan ranginang setiap harinya menjadi lulusan terbaik dan nilai cumlaude. Senyuman tergores di wajah ibu, ketika anak cikalnya dipanggil ke depan menerima bunga penghargaan. Bukan hanya senyuman tangisan senang pun mengalir mulus di wajah tuanya.

Tak ada yang tidak mungkin, lulus kuliah tanpa membayar biaya juga memenuhi kebutuhan hidup tanpa membebankan ibu di majalengka. Dengan menjual ranginang yang aku beri nama “rangiang unyil” aku dapat menyelesaikan kuliah. Walau masa-masa sulit menghiasi hari-hari selama tiga tahun setengah namun terbayar sudah ketika bunga penghargaan berada di tangaku.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Go follow ig: renitamelviany_17
Sampai Akhir Menutup Mata

Sampai Akhir Menutup Mata

Judul Cerpen Sampai Akhir Menutup Mata

“Ben, kamu udah bersyukur belum hari ini?”, pertanyaan yang sering dilontarkan kawanku Andi setiap harinya yang membuatku tersadar betapa pentingnya bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Alasan Andi bertanya seperti itu kepadaku tak lain ia hanya ingin membuatku ingat akan perjuangan para pahlawan yang rela mati demi mengibarkan bendera merah putih yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sikap ramahnya membuatku semakin beruntung memiliki sahabat seperti Andi, mungkin tak banyak orang yang seperti Andi di dunia ini.

“Andi, kamu gak latihan hari ini?”, tanyaku kepada Andi yang sedang memainkan game di ponselnya. “Kayaknya hari ini aku gak bisa latihan, soalnya badanku kurang fit, Ben”, jawab Andi sambil menoleh ke arahku. Tidak biasanya Andi seperti itu, mungkin ia terlalu lelah karena kemarin telah berlatih renang dengan keras. Aku pun terpaksa harus berlatih renang tanpa Andi hari ini.

Aku dan Andi adalah atlet renang nasional yang tahun lalu ikut kejuaraan renang di Thailand, namun hasilnya kurang memuaskan. Kami gagal mempersembahkan medali emas bagi Indonesia. Dan tahun ini kami berharap bisa mengumandangkan lagu Indonesia Raya di negeri orang. Bulan depan aku dan Andi akan melewati masa karantina, maka dari itu kami harus mempersiapkannya dari sekarang untuk mengikuti kejuaraan renang di Singapura.

Masa karantina pun telah dimulai, semua atlet renang termasuk aku dan Andi sangat berlatih keras demi menampilkan yang terbaik di Singapura nanti. Semangat begitu terpancar di wajah Andi yang selalu melontarkan pertanyaan sakral kepadaku setiap harinya itu. “Ben, tahun ini kita harus bisa kibarkan bendera Indonesia dan kumandangkan Indonesia Raya di Singapura, bawa medali emas!”, ucap Andi kepadaku ketika sedang latihan.

Tak terasa, kami pun sudah berada di Singapura dengan semangat 45 yang berkobar. Kebetulan kejuaraan ini bertepatan dengan bulan Agustus, bulan dimmana Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Andi sangat berantusias untuk memberikan kado terindah bagi ulang tahun Indonesia yang hanya beberapa hari lagi.

Dua hari lagi aku akan bertanding melawan negara-negara lainnya yang akan memperebutkan medali lewat cabang renang gaya punggung putra. Sementara sehari setelahnya Andi akan berlaga di gaya bebas putra. Meskipun Andi adalah seorang kristiani, tetapi ia sering menngingatkanku akan berdoa atau solat terlebih dahulu sebelum bertanding.

Hari ini aku gagal mengumandangkan Indonesia Raya di Singapura walaupun pencapaianku hari ini lebih baik ketimbang tahun lalu karena di kejuaraan tahun ini aku berhasil mempersembahkan medali perak bagi Indonesia.

Keesokan harinya giliran Andi sahabat terbaikku yang akan berjuang di medan perang. Ketika bertanding Andi selalu menganggap semua lawannya seperti para penjajah di masa lampau yang banyak menyengsarakan rakyat Indonesia. Dengan begitu, Andi bisa lebih bersemangat dalam bertanding. Tahun lalu Andi hanya mendapatkan medali perak dan tahun ini ia menargetkan emas untuk dibawa pulang ke Indonesia.

Semalam sebelum bertanding, Andi menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan sangat lantang. Katanya, ia harus berlatih mengumandangkan lagu Indonesia Raya untuk besok karena ia sangat yakin besok bisa menjadi juara pertama di renang gaya bebas putra sehingga bisa mengumandangkan lagu ciptaan W.R Soepratman itu.

Hari yang ditunggu Andi pun telah tiba, ia sudah mempersiapkan segala-galanya. Dan tak lupa Andi kembali mengingatkanku lagi dengan pertanyaan sakralnya. Semua perlengkapan telah melekat di badan atletisnya itu. Tak lama setelah bel berbunyi tanda dimulainya lomba, Andi pun meluncur deras ke dalam kolam bak laut biru itu dan menyerahkan semua hasilnya pada Sang Maha Kuasa.

Andi harus menyelesaikan lomba ini dengan dua putaran. Pada putaran pertama Andi berhasil memimpin, namun ketika berputar balik kecepatannya terlihat menurun dan setelah itu tubuh Andi sekan tak terlihat lagi. Andi tak berhasil menyelesaikan perjuangannya, ia tak sadarkan diri ketika akan mendekati garis finish.

Andi telah berpulang di Singapura, semua rombongan timnas renang Indonesia termasuk aku sangat terpukul dengan kepergiannya terlebih Andi adalah sahabat terbaikku selama ini. Namun perjuangannya tidaklah sia-sia, impiannya untuk mengumandangkan lagu Indonesia Raya tidaklah sepenuhnya gagal. Untuk menghormati dan memberikan selamat jalan kepada Andi, lagu Indonesia Raya pun berkumandang di Singapura. Dan aku yakin, Andi pun pasti ikut bernyanyi bersama kami.

Aku bangga memiliki sahabat seperti Andi yang berjuang habis-habisan di medan perang walaupun kondisinya tidak begitu baik hanya untuk bisa kibarkan merah putih dan kumandangkan Indonesia Raya sampai akhir hayatnya, sampai matanya benar-benar takkan pernah terbuka lagi.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
Perjuangan Meraih Mimpi

Perjuangan Meraih Mimpi

Judul Cerpen Perjuangan Meraih Mimpi

Sindi gadis cantik dan cerdas, ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya telah meninggal saat ia masih duduk di bangku SMP kelas 3. Sindi anak pertama dari tiga bersaudara, kini ia hanya tinggal bersama ibu dan kedua adiknya yang masih duduk di bangku SD. Pekerjaan ibunya sehari-hari sebagai buruh tani. Saat ini Sindi duduk di SMK Farmasi Bojonegoro, biaya sekolahnya cukup mahal. Sehingga membuat Sindi harus bekerja di sebuah Perumnas. Majikannya sangat baik hati semua biaya sekolah ditanggung olehnya. Sindi kini tinggal bersama majikannya untuk mengurus rumah sang majikan. Di sekolah Sindi terkenal siswa yang sangat tanggap dalam proses belajar.

Semua perhatian guru tertuju padanya, sehingga banyak siswa yang iri. Setiap harinya selalu mendapat ejekan dari teman sekolahnya. Tapi tidak semua temannya memperlakukannya seperti itu. Nadia teman yang selalu ada di sampingnya. Nadia berbeda dari Sindi yang hanya anak buruh tani. Nadia terlahir dari keluarga yang kaya tapi Nadia tak pernah menyombongkan diri. Kedekatan mereka sudah seperti saudara sendiri.

Jarum jam menunjukan pukul 03.00 pagi Sindi bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tahajud, diakhir sholat tidak lupa ia berdoa meminta keinginan yang sangat ingin dicapainya. Selesai berdoa ia ke dapur mengambil sepiring nasi dengan lauk tempe, dimakannya dengan lahap untuk sahur. Lalu ia mengambil buku pelajaran untuk dibacanya sambil menunggu sholat subuh. Kegiatan ini dilakukan setiap hari, Udara pagi begitu sejuk dan mentari dipagi hari selalu mendukung aktivitasnya. Setelah semua kegiatan telah terselesaikan ia berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda yang jarak dari rumah ke sekolah sekitar 2 km. Sampai di sekolah ia masuk dan mengikuti pelajaran yang akan segera dimulai.

Bel masuk berbunyi jam pertama dimulai tapi saat itu guru pengajarnya tidak hadir. Tiba-tiba tiga cewek datang menghampiri Sindi dan menariknya ke luar menuju kamar mandi. Sindi hanya terdiam tak berani membantah. Nadia yang tahu akan hal itu langsung mengikutinya dari belakang.
“Dasar cewek sialan!” bentak salah satu cewek dari ketiga cewek itu
“Apa salahku sampai kalian ngebuli aku terus?” tanya Sindi sambil menangis
“Eh… gembel. Kamu seharusnya tahu kalau yang dipuji-puji semua guru itu aku bukan kamu. Kamu itu gak pantas diperlakukan seperti itu.” Bentak cewek tadi
Sindi hanya terdiam dan tak bisa berkata apapun pada mereka. Nadia datang menghampiri mereka, Nadia pun menghentikan perkataan yang diucapkan oleh ketiga cewek itu, dan mereka bertiga pergi meninggalkan Nadia dan Sindi.
“Kamu tidak apa-apa kan Sin?” tanya Nadia
Sindi hanya menggelengkan kepalanya, Nadia pun memeluk Sindi dan membawanya kembali di kelas.

Hari-hari mereka lalui dengan penuh canda tawa dan suka cita bersama. Sampai tiba saatnya detik kelulusan sekolah, Hal itu membuat para siswa dalam tangisan bahagia dan duka. Sindi dan Nadia akhirnya lulus dan keduanya saling berpelukakan untuk perpisahan pertemuan mereka. Yang membuat bangga nilai ujian Sindi tertinggi nomor dua dari seluruh siswa di Indonesia. Sehingga ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke Universitas Gajah Mada impiannya selama ini. Tapi ia juga ingin sekali mencari pekerjaan yang lebih baik untuk ibu dan kedua adiknya.

Sindi tak bekerja lagi di rumah majikannya, sebelum pergi tak lupa ia menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan majikannya selama ini. Ia pun melamar pekerjaan di perusahaan “Kable Farma” sebagai detailer. Walau jarang orang bercita-cita menjadi detailer, tak mudah pula untuk memasukinya. Persyaratan menjadi tenaga pemasar farmasi sangat rumit seperti memiliki kepribadian yang menarik, fisik dan mental yang kuat, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, sehat jasmani dan rohani dengan melalui tes kesehatan maupun psikotest. Banyak saingan tidak membuat ia mundur begitu saja, tapi menambah semangat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Setelah berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai detailer selanjutnya ia menjalani serangkaian pelatihan yang terdiri medical knowledge, produk knowledge, selling skill, dan peraturan perusahaan. Bila sudah lulus pelatihan ia akan ditugaskan di berbagai kota dan daerah di seluruh Indonesia. Beruntungnya ia ditempatkan di daerah Yogyakarta dimana tempat ia kuliah. Pagi sampai sore ia kuliah dan sore sampai malam bekerja, itu dilakukan setiap harinya. Belum lagi tugas kuliah yang menumpuk, tetapi ia melakukannya dengan ikhlas dan senang hati. Ditengah kesehariannya ia juga mengunjungi panti asuhan untuk memberi bantuan dengan apa yang dimilikinya. Sindi meluangkan waktunya untuk bermain dan berbagi ilmu dengan anak-anak panti asuhan
Perhatian serta kasih sayangnya terhadap mereka sangat tulus dan begitu akrab. Wajah mereka seakan berubah saat Sindi pergi meninggalkan panti. Semangatnya seakan tenggelam dalam lautan.
“Adek-adek kakak pulang dulu ya, besok kalau ada waktu kakak pasti kesini.”
“Kok gitu sih kak, kami masih mau main dan belajar bersama kakak” kata salah satu anak panti tersebut.
“Nggak boleh sedih gitu dong, nanti kakak ikut sedih. Mana semangat kalian” kata Sindi.
“Iya kak kita gak sedih lagi, kakak hati-hati ya kalau pulang” jawab anak itu
Sindi pun menuju kost dan beristirahat sejenak untuk menghilangkan capek. Kebiasaan buruk selalu dilakukan kembali yaitu tidur sambil membaca, ia pun tertidur lelap.

Malam harinya ia berangkat bekerja dengan mengendarai motor dengan kecepatan 50 km/jam. Di tengah perjalanannya mulai terasa capek dan mengantuk. Braaaaak…!!! Tiba–tiba menabrak sebuah bus yang ada di depannya dari arah berlawanan ia terpental mengenai truk di belakangnya dan jatuh di jalan, darah segar keluar deras, matanya buram seakan tak bisa melihat apa yang telah dialami. Mobil ambulan segera datang dan membawa Sindi menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera. Setelah sampai ia pun dibawa di ruang UGD, dokter dan perawat bergegas menanganinya dengan cepat. Ibu Sindi mendapat kabar tersebut langsung pergi menuju rumah sakit dimana anaknya dirawat walaupun harus menempuh jarak jauh. Selesai ditangani dengan segera, dokter memberitahukan bahwa kaki kanan Sindi harus segera diamputasi. Karena lama menunggu, dokter menghubungi ibunya Sindi untuk meminta keputusan. Tak berpikir panjang sang ibu menyetujuinya. Kemudian operasi dilakukan dengan segera karena biaya operasi juga sudah ditanggung oleh perusahaan di mana Sindi bekerja. Beberapa jam kemudian operasi berhasil dilakukan. Sindi kemudian dipindahkan ke ruang perawatan. Ia berada di ruang perawatan seorang diri tanpa ada yang menemani karena sang ibu belum sampai di rumah sakit.

Pagi hari ibunya baru sampai rumah sakit karena keadaan jalan yang macet. Ibunya hanya bisa meneteskan air mata tak tega melihat sang putri kesayangannya berbaring lemah. Nadia yang tahu berita bahwa Sindi kecelakaan langsung menghampirinya di rumah sakit. Sampai di sana Nadia hanya bertemu dengan ibu Sindi, Sindi pun baru siuman dan ia kebingungan dengan keadaan ruangan yang ia tempati selain itu ada juga Nadia dan ibunya yang hadir di sebelahnya.
“Ibu, Nadia ada apa kok pada ngumpul, trus ini aku di mana?” tanya Sindi bingung
“Kamu ada di rumah sakit kemarin kamu kecelakaan” jawab Nadia
Sindi kaget kemudian ia mengingat kejadian kemarin saat ia mencoba menggerakkan anggota badannya. Di situlah ia merasakan keganjalan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada kaki kanannya. Ia pun membuka kakinya yang tertutup selimut. Setelah melihat apa yang terjadi ia menjerit shok dan menangis, ibunya memeluk dan Nadia berusaha menenangkannya.
“Sin, semua udah terlanjur aku yakin cobaan ini pasti ada hikmahnya, kamu harus tetap optimis kejar impianmu. Anggap saja ini ujian dibalik kesuksesanmu, percayalah Allah tidak akan menguji hambanya melampaui batas kemampuan umatnya” kata Nadia
“Terima kasih Nad kamu selalu ada buat aku dan selalu mengingatkanku” sahut Sindi.
“Sama-sama” jawab Nadia
Nadia memeluk Sindi dengan erat, beberapa hari setelah keadaan Sindi membaik ia diperbolehkan untuk pulang.

Setelah beberapa hari Sindi kembali bekerja lagi, tetapi atasannya tidak bisa menerimanya lagi karena fisiknya yang tak sempurna. Atasannya kurang yakin dengan kondisinya sekarang yang tak memungkinkan untuk bekerja kembali. Sindi terus memohon dan meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa ia layak untuk tetap bekerja walaupun dengan satu kaki. Akhirnya dengan begitu Sindi diterima kembali. Pekerjaannya dilakukan dengan tekun dan membuat atasannya merasa bangga kepadanya.

Hari pertama saat ia kembali bekerja cobaan selalu datang menghampirinya. Di kantornya ada salah satu teman yang tidak menyukainya kalau Sindi selalu dipuji atasnnya. Tiba saatnya Sindi difitnah bahwa ia mencuri uang perusahaan. Kemudian ia dibawa ke kantor polisi untuk ditindak lanjuti, di penjara Sindi tidak pernah berhenti berdoa dan sholat malam untuk memohon petunjuk. Selang beberapa hari telah terungkap kejadian yang sebenarnya. Kini dia merasa senang karena semua doanya terkabul, salah satu rekan kerja yang selalu dekat dengannya tahu kejadian yang sebenarnya dan melapor pada atasannya agar Sindi segera dibebaskan. Dan ia akhirnya bisa kembali bekerja dan belajar lagi.

Sindi mulai belajar mengendarai motor dengan satu kaki, dan akhirnya terbiasa. Sampai sekarang ia tetap kuat menjalaninya. Di sisi lain musibah datang berturut-turut bangunan yang telah dibelinya digusur oleh Negara karena tanah yang ditempati masih hak milik Negara. Ia telah kehilangan puluhan juta untuk membeli bangunan itu. Tawakal dan tabah selalu ia tanamkan dalam hati dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikannya. Walapun masalah datang silir berganti, tak membuatnya lelah dan menyerah terhadap masalah yang datang.

Setelah lama bekerja ia mengambil hari untuk cuti dan pulang ke halaman rumah menemui sang ibu untuk menghilangkan rasa kangennya. Di sana ia menghabiskan waktunya bersama adik dan ibunya. Dulu hidupnya tak seperti sekarang, untuk membeli secarik kain tak pernah ia dapatkan, tapi kini berbeda semua yang diinginkan adik-adiknya pasti dibelikan.

Setelah selesai berlibur Sindi kembali ke Yogyakarta. Memulai tugasnya sebagai mahasiswi dan pekerja. Kini ia sudah menempati semester ke 8 sebentar lagi pelaksanaan ujian kelulusan. Tiba saatnya Sindi terus berdoa dan belajar demi meraih kelulusan dan gelar sebagai apoteker. Setelah terlewati masa ujian kini hanya menunggu pengumuman kelulusan. Irama jantung bergetar cepat seakan ia dikejar seekor srigala, raut wajah gelisah, keringat dingin keluar deras. Sindi yang duduk di sebelah ibunya di aula memegang erat tangan sang ibu dan terus berdoa, tak henti kata solawat terucap di bibirnya.

Pengumuman dinyatakan lulus semua dan dibacakan yang akan mendapat nilai tertinggi, ternyata Sindi salah satu mahasiswi yang mendapat kemenangan. Ia mendapat banyak tawaran untuk bekerja. Tapi ia tetap setia bekerja sebagai detailer. Ibunya terus membujuknya agar berpindah pekerjaan karena ibunya tidak tega melihat sang anak kesulitan bekerja dengan satu kaki. Akhirnya ia menerima tawaran di rumah sakit sebagai apoteker. Setelah beberapa tahun, ia mendapat tawaran di Amerika. Ia pun mengambil tawaran itu dengan izin sang ibu.

Tiba saatnya berangkat ke Amerika ia menyiapkan segala yang akan dibawanya. dimana mimpinya kini terwujud. Kehidupannya kini berubah drastis. Setelah bekerja di Amerika. Ia bertempat tinggal di sana hanya sementara. Di Amerika ia bertemu dengan seorang pria tampan yang berprofesi sebagai dokter yang bernama Marcell. Kedekatan mereka mulai terlihat. Marcell mulai mendekati Sindi. Setelah lama saling mengenal dan tahu isi hati mereka akhirnya direncanakan hari pernikahan. Pernikahan akan dilaksanakan di Indonesia. Ibunya sangat bangga memiliki seorang putri yang selalu berjuang untuk meraih mimpi. Kini Sindi berhasil meraih cita dan cintanya yang selama ini ia impikan.
“Jadikan impianmu sebagai mimpi yang kenyataan, jangan hanya sekedar mimpi tapi tidak kau perjuangkan. Sekurang apapun diri kita jika kita memiliki semangat dan kemauan pasti akan terwujud segala mimpimu, berdoa, tirakat dan berusaha adalah salah satu kunci menuju sukses. cinta memang penting tapi ketahuilah bahwa cinta akan datang dengan sendirinya setelah kamu berhasil meraih cita-citamu.”

Cerpen Karangan: Muallifah
Facebook: Muallifah
Speak Your Dream

Speak Your Dream

Judul Cerpen Speak Your Dream

“Ibu, ada apa dengan Ariel?” tanya Dalisha perlahan seraya menarik ujung baju Ibu. Tangan kanannya sibuk menunjuk-nunjuk Ariel yang menangis di sudut ruang tamu. Ayah segera memeluk Ariel, membuat Dalisha menghampiri mereka berdua.

“Biarkan, Dalish! Lelaki tak seharusnya belajar balet. Itu akan memalukan keluarga kita. Seharusnya, ia mulai belajar tentang ekonomi…”

“yang akan membuatnya tertekan,” sambung Ayah, membuat Ibu tersentak. Dalisha meraih lembut tangan saudara kembarnya, menggenggamnya kuat. Lalu berbisik pelan di telinganya.

“Genggam yang kuat, Ariel. Agar aku dapat merasakan apa yang sedang kamu rasakan,”

Ariel mengikuti perintah Dalisha. Belum semenit ia menggenggamnya, kepalanya sudah terkulai lemas di pelukan Ayah. Membuat Ayah panik dan Dalisha menangis terkejut. Ibu yang sudah mengemasi barangnya membuka pintu dan membanting pintu kasar.

Biarlah ia pergi. Toh, aku masih memiliki mereka, batin Ayah perih. Lalu mengecup kening Ariel lembut. Menatap wajah Ariel yang pucat.



Aku dimana? Tempat ini gelap, sunyi, dan … seperti laut yang sunyi. Hei, kemana suaraku? Kembalikan suaraku!

Dalisha! seru Ariel terbangun. Ia mengernyitkan dahi, lalu membuka mulutnya.

Ayah? Ayah, ada apa ini? Ariel panik. Seberapa kuat ia berteriak, suaranya tak terdengar. Ia menggenggam tangan Dalisha dan menepuk pundak Ayah yang tertidur di ranjangnya.

“Ariel!” seru Dalisha. Ia begitu girang Ariel sudah bangun. Ayah tersenyum lega. Tak dapat berkata-kata.

Ayah, Dalisha, Apa maksudnya ini? ucapnya. Ayah mengernyitkan dahi, lalu mendekati wajah Ariel.

“Ariel, kenapa? Coba panggil Ayah,” ujar Ayah pelan. Lalu melihat Ariel yang tak mengeluarkan suara sama sekali.

Dalisha terdiam. Mengingat kejadian tadi malam. Lantas membuatnya terpaku. Menatap Ariel yang tengah menangis kebingungan.

Suara Ariel hilang. Ibu membawanya pergi.

10 tahun kemudian …

“Ariel, Ayah, lihat gerakan ini!” seru Dalisha kegirangan. Ia memutar sebuah lagu, lalu mulai menari. Gerakannya lebih gemulai dibanding biasanya. Tubuhnya berputar, berjalan kesana kemari. Kalau saja Ariel masih menari, ia akan menarik Ariel dan mengajaknya menari bersama.

Ayah bertepuk tangan, diikuti Ariel yang juga bertepuk tangan. Dalisha menundukkan badannya, lalu terduduk di sofa.

Ariel, kapan lagi kamu bisa menari bersamaku?

Dalisha menghela napas. Ariel menderita sindrom, yang entah disebut apa, yang menyebabkan dirinya kehilangan suaranya sekaligus merebut paksa bakatnya.

Hanya satu impian Dalisha: mengembalikan suara Ariel dan semangat hidupnya untuk bercita-cita.

Dalisha percaya, suara Ariel akan kembali, dengan tarian fantatis darinya.

Pertunjukan balet kecil-kecilan ini dilakukan setiap minggunya, sekaligus untuk latihan. Dalam rangka yang sangat rahasia, yaitu membuat Ariel terpukau.

Ariel duduk di sebelah Dalisha. Dalisha yang menyadarinya, bersandar di bahunya. Sekarang, mereka telah berumur 16 tahun. Dalisha teringat dirinya 12 tahun yang lalu.

“Ayah, aku ingin menjadi balerina!”

Seruan seorang Dalisha kecil yang membuatnya menjadi penari balet sekarang. Dua tahun setelah kalimat itu terucapkan dan terwujudkan, Ariel berhenti menjadi penari balet.

Ibu mematahkan impian besar Ariel:
menari di panggung besar bersama Dalisha. Ibu, yang dulunya adalah balerina, membenci balet. Ayahnya meninggal setelah Ibu menggelar konser tunggalnya.

Setitik, dua titik air matanya membasahi pipinya. Mengalir lembut, jatuh tepat di lengan Ariel. Membuat Ariel meliriknya.

“Dalisha?” Ayah berlutut di hadapan Dalisha. Dalisha menyeka air matanya cepat-cepat, lalu menggeleng.

“Mungkin hanya kelilipan Ayah,” balas Dalisha seraya tertawa renyah. Ariel menghela napas lega. Ayah tersenyum simpul.

Ayah tahu, mengapa Dalisha menangis.
Karena hati Ayah juga merasakan perasaan yang sama. Yang pasti, selalu membuat hati keduanya perih.

Suara tepuk tangan menggemadi sekitar panggung. Para penari berjejer, bergandengan tangan. Lalu membungkukkan badannya. Tirai ditutup.

Di barisan para Wilis, berdiri seorang yang begitu dicintai Ariel. Ya, Dalisha yang sejak babak pertama melirik Ariel seraya tersenyum.

Dua babak pertunjukan balet Giselle selesai sudah. Dalisha yang langsung berganti pakaiannya dengan pakaian santai keluar dari panggung. Dilihatnya Anna yang terlihat telah menunggunya.

“Dalisha, tadi benar-benar bagus!” seru Anna seraya memeluk Dalisha. Dalisha tertawa kecil.

“Aku hanya dipilih untuk para Wilis, Anna,” sergahnya, merendah diri. Dalisha memandang gaun hitam elegan yang dipakai Anna.

“Aku langsung kesini setelah konser itu,” ucapnya santai. Dalisha tersenyum.

“Jangan terlalu memaksakan dirimu, Anna.” Anna, sahabat kecil Dalisha dan Ariel sekaligus tetangganya. Seorang gadis yang terlahir dalam keluarga pemusik. Kakaknya, seorang violinis yang sedang naik daun. Ayahnya, seorang pianis dan Ibunya adalah violinis, sama seperti kakak laki-lakinya. Anna mengikuti Ayahnya, piano.

Terkadang, Dalisha iri dengan keluarga Anna yang begitu melengkapi dan harmonis.

“Ayo, kita temui Ariel!” seru Anna sambil menarik Dalisha. Dalisha tersenyum menatap rambut panjang Anna yang berkibar.

Terima kasih, Tuhan. Atas keluarga yang Engkau berikan kepadaku. Itu sudah cukup.

“Hai, Ariel!” sapa Anna. Ariel melirik, lalu tersenyum simpul. Melambaikan tangannya kepada Anna. Anna balik tersenyum.

“Oh, ada Anna. Apa kabar, Anna?” tanya Ayah. Anna menjawab kalau ia baik-baik saja. Lalu mengobrol sebentar bersama Ayah. Dalisha menghampiri Ariel.

“Ariel, bagaimana tarianku tadi?” tanya Dalisha. Ariel segera mengambil memo dan penanya.

Bagus. Aku suka.

Dalisha tersenyum. Ia tahu, tarian itu belum bisa membuat Ariel terpukau. Tarian itu belum bisa mengembalikan suara Ariel.

“Jangan sungkan-sungkan kalau ingin berkunjung ke rumah, Anna,” ucap Ayah. Anna tersenyum, lalu mengangguk tanpa bicara sepatah kata pun.

Hatinya selalu menolak bila kakinya menginjak di teras rumah mereka.

Bila ia masuk, hati itu akan luluh. Melihat wajah Ariel yang semakin lama meredup.



“Ariel, lihat ini!” pekik Dalisha begitu sampai di rumah. Ariel yang sedang melukis terkejut. Ia melirik selebaran yang telah lusuh digenggam Dalisha.

“Ini pemilihan pemeran utama untuk acara besar itu, Ariel!” pekiknya lagi. Ariel tersenyum, lalu meraih memonya.

Kamu harus ikut, Dalisha.

Tulis Ariel singkat. Dalisha mengangguk.

“Pertunjukan itu sekitar tiga bulan lagi.” Ucap Dalisha. Ariel tersenyum, lalu meraih tangan Dalisha.

Seakan berbicara, jadilah yang terbaik.

Dalisha terkejut. Ia tersenyum, lalu mengangguk. Dalam hati, ia berbatin, demi kamu, Ariel. Semoga saja dengan peran besar itu, suaramu akan kembali, beriringan dengan semangat hidupmu.

Satu bulan kemudian.

Dalisha terus berlatih, mengejar pemilihan itu.

Di antara itu semua, Ariel kerap menatap tarian Dalisha nanar. Menahan hatinya yang terus berkata, Dalisha membutuhkan tarian Ariel sekali lagi.
Dalisha menggerakkan tangannya,
melangkah kesana kemari. Sesekali dikoreksi oleh Miss Mella.

“Tanganmu harus lebih lembut, Dalish. Seperti ini,” kata Miss Mella, lalu mencontohkan. Dalisha menirunya, disambut pujian Miss Mella.

“Cukup untuk hari ini, Dalish. Sampai ketemu besok lagi,” ucapnya, lalu pergi meninggalkan Dalisha. Dalisha melirik jam dinding, lalu menghela napas.

“Sekali lagi.”

Dalisha menari lagi. Sampai pada putaran 32 fouettes. Putaran paling sulit yang dalam tarian swan lake.

Deg.

Dalisha terduduk, lalu tersengal. Tangan kirinya mencengkeram dada kanannya. Ia mengeluh lirih, lalu tergeletak di lantai. Pandangannya semakin kabur. Lalu semuanya gelap.

Ariel tersentak. Kuasnya terjatuh tepat di lantai. Mengotori lantai. Ia segera mengambil kuasnya, dan mengelap cat yang hampir mengering. Ia menatap lukisannya. Entah kenapa, lukisan Dalisha yang sedang menari itu seakan gelap, tertutup cat hitam yang tak bisa dihapus.

Dalisha mengerjapkan matanya. Dilihatnya dokter klinik tempatnya belajar balet. Ia terbangun. Lalu dokter klinik menatapnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Dalisha. Dokter wanita itu menceritakan semuanya. Lalu bertanya pada Dalisha.

“Apakah kamu memiliki riwayat kelainan jantung?”

Dalisha tersentak. Wajahnya memucat, mengingat pernyataan Ibu 10 tahun yang lalu.

“Apakah kamu memiliki riwayat penyakit jantung?”

Dalisha terkejut. Ibu pernah bilang, bahwa jantungnya memiliki kelainan. Yaitu berada di sebelah kanan. Tapi, ia kembali teringat.

“Kamu memiliki jantung yang lemah, Dalish.”

Kalimat yang kembali terucap setelah 10 tahun menghilang dari hidup Dalisha. Ia menggeleng pelan. Tak percaya.

“Sebaiknya kamu memeriksakan pada dokter lain. Menurut pemeriksaan saya, sepertinya hidupmu takkan lebih lama, kecuali bila kamu bergantung pada obat-obatan.”

Tubuh Dalisha seperti disengat listrik jutaan volt. Takkan lebih lama.
Dalisha menangis. Ia tak ingin mengatakannya pada Ayah dan yang lainnya. Cukup ia yang mengetahui kenyataan pahit ini.

Dalisha begitu bersemangat. Hari ini pengumuman pemeran utama, setelah seleksi seminggu yang lalu.

Ia melupakan penyakitnya. Tak ingin bergantung pada obat. Toh, ia akan mati lebih cepat.

Dalisha melangkah memasuki ruang kelas di tempat lesnya. Ia segera meletakkan barang dan ke luar ruangan untuk melihat mading. Langkahnya berirama. Seraya memainkan tangannya, yang mulai merasakan kegugupan yang sama.

Dinding bertempelkan kertas itu mulai mendekat saat kakinya terus melangkah. Dadanya mulai berdentum ria. Membuatnya menjadi nyeri. Sangat nyeri. Rasa itu sangat tidak wajar. Tapi Dalisha sendiri tahu, apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

Ia terus melangkah. Sampai sebuah kertas abu-abu yang telah tertempel itu sudah berada tepat di hadapannya.
Pandangannya yang kabur sangat bertolak belakang dengan semangatnya untuk tahu hasil dari pengumuman itu.

“Dalisha, selamat! Kamu berhak untuk melakukan gerakan 32 fouttes di atas panggung konser nanti,” suara seseorang mulai memecah konsentrasinya. Tanpa perantara, Dalisha mengerti apa yang dikatakan seseorang tadi. Ia segera menoleh, melihat Ilmi yang sudah menorehkan senyumannya. Dua lesung pipit itu juga ikut menghiasi senyum cerianya.

Seketika, semua rasa sakit tadi musnah dalam sekedip mata. Ia hanya mengangguk. Walaupun dalam benaknya, terpancar sebuah kebahagiaan.

Sesampainya di rumah …

“Ariel! Aku berhasil!” Dalisha menghempaskan tasnya sembarangan. Berari-lari di ruang tamu mencari Ariel.

“Ariel!” Dalisha langsung meluncur di sofa dimana Ariel berada disitu. “Aku berhasil! Aku berhasil untuk menjadi Odile untuk pentas nanti!” Dalisha berseru-seru kegirangan sambil memeluk Ariel. Ariel lalu menjawab dengan isyarat yang artinya: Selamat Dalisha. Aku akan terus mendukungmu.

“Doakan aku, Ariel. Aku ingin berhasil untuk pentas itu …” Dalisha menggumam dalam pelukannya dengan Ariel.

Untuk suaramu. Untuk suaramu yang sudah hilang ditelan masa lalu itu. Dalisha melanjutkan kalimatnya dalam
benaknya. Butiran itu nyaris menetes. Nyaris sekali mengalir di pipinya.

Dalisha, tolong kembalikan suaraku. Aku tidak akan meminta ibu untuk mengembalikan suaraku ini. Sekarang, hutang itu sudah kuanggap berpindah tangan. Di telapak tanganmu ada janji antara kita berdua. Kamu berhak untuk menggenggamnya disaat kamu mampu. Tolong aku, Dalisha. Benak Ariel mulai menari-nari. Merangkai impian indah yang tidak akan bisa ia capai seorang diri.

Sudah dua minggu dari pengumuman kemarin. Dalisha terus berlatih. Terkadang seorang diri, dan juga bersama para penari lain. Hari penting itu juga sudah ada di depan mata.
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu. Dalisha yang sudah dipoles make-up tipis itu sedang duduk di ruang tunggu belakang panggung. Menjaga tutunya yang mulai terasa risih. Pointe shoes miliknya sudah siap di kakinya. Ia menunggu para penari lain yang sedang dirias.
Tidak lama kemudian mereka sudah siap. Menunggu untuk giliran mereka tampil.

“Dan yang sudah kita tunggu-tunggu, inti dari acara ini. Kita sambut, penampilan balet Swan Lake dari para penari balet muda kita!” suara MC tersebut disusul dengan tepuk tangan meriah. Mereka segera siap di posisi.
Alunan melodi indah mulai mengiringi gerakan para penari. Dalisha terus menari. Ia melihat Ariel yang duduk tenang di bangkunya. Ayah sudah siap dengan handy cam-nya.

Dalisha, kamu pasti bisa! Ubah masa lalu itu! Ayo, kita kembalikan suara Ariel.

Benaknya ikut menari-nari. Merangkai kata-kata pembangkit semangat itu.
Ia terus menari. Sampai gerakan 32 fouettes itu sudah menunggu di depan mata.

Kamu pasti bisa! Lakukan itu dengan semua kemampuanmu!

Alunan itu terasa makin cepat. Dalisha terus mengerahkan seluruh
kemampuannya. Sampai tirai mulai bergerak, menutup panggung dan menutup tarian mereka.

Bruk!

Saat tirai sempurna menutup, tubuh mungil itu terjatuh.

Perasaan apa ini? Segalanya terlihat monoton. Tolong aku, untuk keluar dari perasaan ini! Inilah yang Ariel rasakan. Saat segalanya terlihat monoton.

Sementara di belakang panggung, Dalisha dengan wajah pucatnya sudah terbaring lemas. Seruan-seruan itu terus memanggil. Meneriakkan namanya.

Ariel mulai menyadari, ada yang tidak beres dengan Dalisha. Tanpa perhitungan lagi, ia segera ke luar dari area bangku penonton, menerjang semua petugas, mencari ruangan balet.

Brak!

Ruangan itu terbuka, saat Ariel sudah terengah-engah di depan pintu. Miss Mella menatap Ariel nanar. Ariel adalah anak didiknya dulu.

“Dalish, Dalisha ada disana.” Miss Mella tidak kuasa untuk menjelaskan keadaan Dalisha kepada Ariel. Ia segera memasuki ruangan. Dalisha yang sedang dikelilingi teman-temannya langung ia hampiri. Wajah Dalisha pucat.

“A, Ariel,” Dalisha membuka bibir, menyebut satu kata itu, berkali-kali. Ariel tidak bisa berkata lagi walaupun ia sudah menunggu di sebelah Dalisha. Namun, Dalisha sudah menyadari, Ariel sudah menunggu di sebelahnya.

Dalisha, apa yang terjadi? Apa yang selama ini kamu sembunyikan dari kami?
Ariel mulai panik. Tiba-tiba, lengan Dalisha terulur, meraba tangan Ariel.

“Ariel,” Dalisha mengucapkannya sekali lagi. Wajahnya yang semakin pucat itu tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan untuk terukir.

“Tetaplah menari.” Satu kalimat itu menggetarkan hati Ariel. Dalisha yang tengah dipangku Ariel tersebut seperti menggulingkan kepalanya. Napas Dalisha berakhir disitu.

“Dalisha!” seruan itu sudah lama tak bersua. Pita suara Ariel telah mengatup, tepat saat Tuhan mengambil nyawa Dalisha.

Aku telah berhasil, Tuhan.

Mengembalikan suara Ariel dengan usahaku sendiri.

Cerpen Karangan: Talitha Nathania
Facebook: Talitha Nathania
Instagram: @yuuki.nathan
Wattpad: nayuuchan
Senyum di Puncak Lawu

Senyum di Puncak Lawu

Judul Cerpen Senyum di Puncak Lawu

Aku bisa merasakan bagaimana dinginnya tempat ini nanti malam. Mendung di sudut sore itu sudah mulai menebal, matahari pun sudah mulai bersembunyi. Padahal ini masih jam 2 siang.

Di ujung atas sana ada puncak yang akan aku datangi. Terkadang kelihatan, terkadang tertutup awan. Mungkin ini kesempatan terakhirku untuk melihatnya hari ini sebelum tertutup mendung yang akan mebawa hujan. Aku berniat mendakinya sendiri. Ya, melewati perjalanan yang begitu menyenangkan dengan suara-suara hewan yang tak pernah kudengar di kota. Dengan harum bunga edelweis yang tak mungkin kupetik dan kubawa pulang.

Jam tangan sudah menunjukan 2:30 dan aku sudah makan siang. aku berangkat.
Jarak antara Pos keberangkatan dengan pos satu tidaklah jauh. Hanya sedikit gelap karena masih banyak pohon yang tinggi di kanan kiri. Masyarakan juga masih banyak yang berlalu lalang mengunjungi perkebunan mereka.

Di pos satu sudah bertemu dengan beberapa pendaki yang turun. Beberapa pendaki meminta sedikit air minum padaku untuk menghilangkan dahaga mereka. Itu biasa karena memang di atas tidak ada sumber air. Ada sebenarnya, tetapi bagiku memang tidak terlalu bersih untuk dikonsumsi.

Sampai di pos dua aku mampir untuk istirahat sebentar, walau semangat masih menggebu, dan tenaga masih kuat. Tetapi istirahat tetap diperlukan untuk menjaga kekuatan dan semangat itu. Disana ada satu gadis yang juga sedang istirahat. Pakaiannya bukan khas pendaki, walau itu tidak memberitahukan kepadaku dia pendaki pemula atau memang sudah berpengalaman.

“Minum mbak?” Sapaku sambil menawarinya air minum.
“Makasih mas, masih ada kok.” Sambil dia juga menunjukan botol minumnya, yang entah kenapa aku tadi tidak melihatnya.
“Sudah turun dari atas mbak?”
“Baru mau naik ini mas. Hehe”
“Sendirian?” Dia istirahat sendiri karena memang kupikir dia sudah turun. Jadi bisa ditinggal teman temannya. Karena memang sudah dekat dengan perkampungan.
“Iya mas. Maunya sendiri, tapi karena mau hujan jadi saya pilih buat nunggu pendaki lain aja, cari barengan.”
“Oh.”
“Boleh barengan sama masnya saja?”
“Hah?” Aku tidak ada masalah sebenarnya, hanya saja niatku untuk menikmati pendakian sendiri jadi terhambat. “Boleh saja” lanjutku.

Berangkat dari pos dua berdua dengannya. Aku masih belum punya hasrat untuk mengajaknya kenalan. Hanya sesekali ngobrol sudah berapa banyak puncak yang didatangi? Sudah berapa perjalanan yang seru seru? Saling berbagi informasi di gunung semeru, dan dia membagi pengalamannya di gunung sumbing. Dan ternyata dia lebih banyak mencapai puncak dibandingkan aku.

Hutan sudah mulai berkurang. Tinggal tersisa pohon mati dan kering disana sini. Mendung semakin gelap walau seharusnya belum mulai gelap. Kami tetap berjalan dengan langkah yang pelan tetapi pasti, karena memang begitulah seharusnya. Tanjakan mulai curam. Dia di depan. Langkahnya mantap tanpa sedikitpun mengeluh. Sepertinya dia memang menikmati perjalanan ini.
Sedikit membuatku heran, jika memang dia berpengalaman mendaki, kenapa dia harus menunggu teman untuk melanjutkan perjalannnya? Bukankah dia sudah terbiasa sendiri. Tapi aku tak berniat menanyakannya. Mungkin karena memang dia takut dengan kemungkinan hujan malam ini.

Hujan mulai datang. Dia mengajak untuk berteduh dulu di pos terdekat. Secara kebetulan ada pos di dekat situ. Walau aku sendiri sudah lupa itu pos yang keberapa. Hujannya lebat. Beberapa pendaki yang tadi di depan kami untuk naik, dan ada beberapa pendaki yang baru turun juga ikut berteduh.

Di tengah tengah kami semua yang kedinginan termasuk dia, dengan cekatan dia mengumpulkan sampah sampah yang berserahkan. Terutama sampah plastik. Dikumpulkannya di satu tempat.
Ini hal yang tidak biasa buatku. Biasanya jika aku berniat untuk membawa sampah turun, aku akan mebersihkan sampah ketika aku turun dari puncak. Ketika naik, aku hanya mengamati, seberapa banyak sampah yang akan kubawah turun nanti? Atau dimana titik yang ada banyak sekali sampah.
Tapi ternyata dia tidak mengumpulkan sampah untuk dibawa turun. Dia mengumpulkannya di tengah para pendaki berteduh dan mulai membakarnya. “Untuk penghangat saja di tengah hujan. Plastik mudah terbakar, semoga tidak mati tertiup angin.” Itu yang dikatakannya pada semua, tetapi akhirnya menatap ke arahku.
Spontan aku pun mendekat, selain mencari penghangat juga agar apinya tidak mati tertiup angin. Obrolan mulai datang dari pendaki lain. Seputar puncak yang eksotis ketika pagi, dan tentu saja para pendaki yang turun selalu bilang bahwa puncak sudah tidak jauh lagi dari pos dimana kami istirahat. Padahal dari pengalamanku sebelumnya, Pos itu belum separuhnya perjalanan kami. Dan memang begitulah pendaki, seolah ada aturan tidak tertulis “jangan patahkan semangat pendaki yang baru naik.”.

Hujan yang turun sampai magrib tiba. Langit sudah mulai gelap hujan baru reda. Beberapa pendaki yang turun sudah bergegas. Dan untuk pendaki yang naik sudah mulai persiapan dengan mantel dan anti airnya jika sewaktu waktu hujan datang lagi setidaknya mereka bisa tetap kering sampai tempat berteduh berikutnya. Aku pun sama dan termasuk menyiapkan senter untuk penerang jalan.

Tiga puluh menit berjalan dari pos terkahir kami istirahat. Aku masih berjalan berdua dengan gadis itu. Hujan mulai turun lagi. Mantel segera kusiapkan setidaknya tas dan perlengkapanku tidak boleh basah. Dia pun melakukan hal yang sama. Tidak ada tempat berteduh, tidak ada pondok. Aku mencoba untuk tetap berjalan sambil mencari sedikit celah di tebing, mungkin bisa untuk berteduh walau sempit. Dan akhirnya dapat.

Kami masuk dengan tas dimasukan terbih dulu. Lalu mantel kami gelar bersama sebagai atap. Di cela tebing itu kami berdua. Seperti sedang berpelukan tapi sebenarnya tidak. saling berhimpit agar kedua badan kami bisa terlindungi dari hujan. Angin lebih kencang lagi, dan kami pun makin kencang memegang mantel yang jadi atap tadi. Makin lebat lagi hujan turun, dan kami semakin saling berhimpit. Karena memang basah dan dingin. Apalagi posisi sudah di ketinggian. Sebelum start naik, di cemoro sewu saja sudah dingin walau tidak hujan. Disini jauh lebih dingin lagi.
Kami saling memegang mantel dan saling berpelukan untuk menghangatkan tubuh masing masing. Saat ini aku tidak bisa berfikir apa apa. Antara aku mengenalnya atau tidak, yang pasti kami memang saling butuh untuk bertahan malam itu. Hingga hujan reda, tetapi angin masih berhembus kencang. Kami masih berhimpitan. Entah mengapa jadi semakin dingin.

“Kita tidak bisa lebih lama bertahan disini. Karena kita sama sama tidak ada tenda. Kita harus lebih cepat untuk bisa naik sampai pondok di puncak, dan berteduh menghangatkan diri disana. Ayo bergegas.” Ajakku dengan tegas.
Kami pun segera bersiap. Gerimis masih turun, kabut makin pekat, dan hujan masih bisa sewaktu waktu turun. Sebenarnya jika sendiri aku bisa saja bertahan dengan kondisi demikian, entah kenapa karena aku bersamanya, jadi aku tak bisa berdiam diri dalam kondisi seperti ini.

Sempat beberapa kali kami berhenti dan saling berpelukan, sambil menggosok punggung masing masing. Jaket tebal dan tas yang begitu berat tidak bisa melindungi kami dari dingin waktu itu. Kami berjalan perlahan tapi tidak berhenti kecuali sesaat. Kami harus secepatnya sampai pondok.

Sampai pada di suatu area yang datar, kami kehilangan arah. Tidak ada satu pun petunjuk kemana arah ke puncak.
Aku berputar putar mencari jalan ke puncak. Kabut tidak kunjung tipis, dingin masih menusuk. Masih belum ketemu dimana jalannya. Sedikit frustasi karena malam semakin dingin. Aku kembali ke gadis tadi, selain memastikan dia tidak apa apa juga karena tasku sengaja kutinggal bersamanya. Aku tak tahu mesti berbuat apa.

“Mas dimana arah jurang? Kalau tidak salah Jalan ke puncak deket jurang ke arah kiri.” Dia berkata sambil terengah-engah kedinginan ketika melihatku kembali.
“Sebentar, aku cek dulu” aku bergegas mencari jurang. Iya entah kenapa aku lupa jalan ke puncak. Kabut masih tebal sampai akhirnya kutemukan jalannya. Aku bergegas kembai dan mengajaknya segera jalan lagi. Jalan dari tempat kami ke arah puncak selain gelap dan berkabut, ternyata merupakan pematang, dimana kanan dan kiri kami adalah jurang. Aku tidak tau seberapa dalam jurang itu, karena memang lampu senter tidak mampu memberikan penerangan yang baik. Aku hanya mencari dimana kakiku bisa melangkan dengan benar.
Di jalan yang begitu berbahaya itu kami tetap bergandengan. Entahlah, tapi aku merasa takut dia terpisah dariku malam ini. Tangannya tetap kugenggam sampai kami tiba di pondok.

Gerimis masih turun, Kabut masih tebal dan dingin semakin menusuk. Di pondok ada orang lokal yang memang sengaja menjual makanan instan. Di pondok ini juga banyak ilalang yang sengaja ditaruh di sana sebagai lantai, agar bisa dijadikan alas untuk tidur dan beristirahat, tentunya agar bisa merasa hangat.

Kami berdua memesan air panas, lalu menyeduh coklat yang kubawa. menikmati hangatnya coklat sambil melihat senyumnya kali ini. ya, dengan senyumnya. karena sebelumnya aku sama sekali tak melihat bagaimana wajah dan ekspresinya. setidaknya aku tidak begitu mengamati.

Jam sudah menunjukan jam 11:30 malam. ini sudah larut, dan sudah terlalu dingin untuk tetap terjaga. aku mengajaknya untuk istirahat, agar esok bisa menikmati puncak sedari pagi.
Aku gelar sleeping bag, begitupun dia, kami tidur bersebelahan. hanya kutatap sejenak saja wajahnya sebelum aku tidur. senyum yang menghangatkan untuk dingin puncak lawu malam ini.

Sebelum subuh aku sudah terbangun. kulirik sebelah kananku ternyata dia sudah tidak ada. tiba tiba saja aku penasaran dan ingin mencarinya. Ternyata dia pergi ke belakang Pondok. Disana dia menunggu pagi terbit di ufuk timur. Sambil duduk di sebuah batu kecil dan segelas coklat yang sudah dingin ada di tangannya.

“masih terlalu gelap untuk menikmati sunrise.” sapaku.
“tak apa. sambil menikmati coklat hangat dan bintang dari jarak yang lebih dekat.”
Aku tersenyum saja, sambil menatap bintang bintang yang ada di langit timur puncak lawu.
Lama kami hanya terdiam saja, aku duduk di sebelahnya di batu yang kurang lebih sama, menghadap ke timur hanya saja aku tanpa coklat. hingga akhirnya, pemandangan yang begitu menakjubkan ada di timur.
Bintang nampak jelas di langit, dan di jalanan kota yang tampak dari puncak begitu kelap kelip dengan berbagai warna lampunya. dan kedua pemandangan itu dipisahkan oleh garis horizon sang fajar. begitu indah pemandangan kala itu.
“inilah yang kutunggu, sampai saat ini aku hanya menemuinya di puncak lawu.” suaranya memecah keheningan.
Aku masih terkagum menikmati pemandangan di depan mataku, dan juga masih tetap heran dengan perempuan di sampingku. Sesama indahnya untuk kutemui di puncak gunung yang sudah mati ini.
Dan senyum gadis itu, seolah membalas senyum sang fajar yang membelah antara langit dan bumi jauh di timur sana. Begitu hangat senyumnya, juga cahaya pagi kala itu, bahkan aku lupa dingin malam ini.

Pagi ini aku hanya menikmati dua pemandangan yang sebelumnya belum pernah kutemui itu. menikmati hangatnya suasana yang semalam telah hilang di perjalanan. Kami bahkan ke tugu puncak lawu hanya mengambil 1 foto saja dan kemudian langsung turun kembali. entahlah, aku juga merasa, setelah pagi yang menakjubkan tadi, aku tidak ingin berlama lama di puncak. bagiku tak ada yang lebih indah daripada pagi tadi.



Malam ini sudah seminggu setelah aku naik gunung lawu. masih tergambar jelas bagaimana kejadian malam itu. masih terekam dengan detil apa yang terjadi. Antara aku menyesal atau masih dengan egoku, aku belum berkenalan dengan gadis itu.
Aku membuka halaman google, dan aku sengaja browsing dengan kata kunci, “puncak lawu 30 Juli 2016” entah di halaman ke berapa dari pencarian google, dan entah ada hal apa yang membuat aku memilih link itu untuk kubuka. Ternyata link itu menuju ke sebuah blog memajang fotonya di puncak lawu. Foto itu aku yang mengambilnya dengan hapenya. WOW. ini kebetulan sekali. Di bawah foto itu ada tulisan yang membuatku tehenyak.

“Ia yang lengannya kecil namun menggenggamku dengan eratnya.
ia yang senyumnya dingin sedingin lawu kala itu.
ia yang tak pernah sebutkan nama dan bertanya nama.
ia-lah yang menemaniku hingga kepuncaknya.

di malam yang berkabut, dengan sikapnya ia jadi selimut.
dalam keadaan gelap, ia menjadi mata dimana kami kehilangan arah
aku menemukan tangan yang menuntunku, meski dengan ikatan yang tak pernah terikat

ia lelaki yang bersamaku menyongsong mentari.
seperti horizon fajar ia hadir
memisahkan antara keindahan malam kota dan bintang.
dan ia, memisahkan antara keberanianku sebagai pendaki, dan kelemahanku sebagai perempuan.”

Dan di balik dinding kamarku, aku bergetar membacanya.

Selesai.

Cerpen Karangan: Abdillahwahab
Facebook: fb.com/abdillahwahab
Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi

Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi

Judul Cerpen Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi

Seperti sebuah jantung dalam tubuh yang bertugas memompa darah dan mngalirkannya ke seluruh tubuh. Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan Jakarta saat ini. Sebuah kota metropolitan yang tak pernah tidur, Jakarta menjadi bagian terpenting dalam peradaban manusia Indonesia. Kota ini menjadi pusat perekonomian Negara ini. Kiblat semua industri, dari terkecil, menengah sampai keatas. Dari dunia religi sampai dunia hiburan. Jakarta, bagiku kau memiliki dua sisi. Wajahmu terlihat gagah nan perkasa dengan ribuan gedung-gedung menjulang tinggi yang menggelitik langit. Wajahmu seperti anak yatim nan kelaparan ketika kau perlihatkan pemukiman kumuh nan kotor. Tidakkah kau sadar wahai Jakarta yang agung?, kau menjadi besar karena kedatangan kaum urban.

Menjadi kaum urban atau tetap pada zona aman? Itulah pertanyaan yang terus menghantuiku. Setelah menyelesaikan studyku di Universitas Semarang, sekarang aku harus dihadapkan dengan dunia yang sesungguhnya. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakak aku sudah menikah dan punya anak satu. Dia juga lulusan sarjana ekonomi, tapi dia tidak mau menggunakan ijasahnya dalam berkarir. Meneruskan usaha ayah menjadi pilihan terbaik saat ini. Dengan omset yang tidak begitu tinggi dia hanya cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya sendiri. Dan kelangsungan hidup adik—adik aku kini ada di tanganku.

Setelah dua bulan mengganggur, akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dari sebuah terminal takdirku akan diproses. Sangkakala sudah dibunyikan pertanda perang akan dimulai. Perang antara manusia dan waktu. Perang antara manusia dengan kata sabar. Setelah 8 jam perjalanan aku tiba di terminal Cibitung-Bekasi. Rasa kantuk yang masih bersemayam di mataku membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Alhasil sebuah kardus yang berisi bekal dan dua buah celana untuk melamar pekerjaan tertinggal di bus yang tadi aku tumpangi. Ceroboh, bodoh itulah kalimat kutukan yang tepat. Aku hanya bisa bersedih dan merelakan kepergiannya. Ikhlas menjadi kata terakhir untuk bisa bangkit lagi.

Setelah cukup lama duduk di sudut terminal, kriiiing dering telepon berbunyi. Terlihat nama kakak sepupuku di layar handpondku, dengan nada yang masih pasrah aku pun menjawab telpon tersebut “hallo, mbak?” sahutku memulai percakapan. “alex, kamu sudah sampai mana?” tanyanya dengan nada yang agak panik. “sudah di terminal Cibitung mbak” jawabku. “ya sudah, tunggu disitu saja!” pintanya. Tak lama kemudian, sebuah motor supra berwarna hitam mendatangiku. Terlihat seorang pria dengan setelan jaket kulit dan celana jeans turun dari motor sambil membuka kaca helmnya dan memintaku “ayok naik! Sudah ditunggu mbak. Jannah di rumah”. Seperti kerbau dicocok hidung aku pun mengikuti perintahnya.

Kuda besi yang kami tumpangi melaju dengan kencang sampai mataku tak mampu lagi untuk melihat kedepan. Tamparan angin membuat pipiku sakit dan sesekali sambermata istilah jawa bagi binatang kecil yang sering ada di jalan menghantam mataku. Aku coba untuk mengintip depan sepeda motor, sekedar ingin tahu berapa kilometer per jam motor ini melaju. Aku kaget. Terpampang 100km/jam kecepatan motor ini. Mengetahui itu aku langsung berpegangan pada jaket kulit milik suami kakak sepupuku. Ketika memasuki tikungan terdengar ban berdecit keras. Jantungku rasanya mau copot. Aku hanya bisa merapal doa untuk keselamatan kami berdua.

Sesampainya di rumah, keramahan dan kehangatan keluarga ini mulai terasa. Mereka seperti para peri yang murah hati. “Berangkat jam berapa dari rumah?” Tanya kakakku sembari mengambil tas dan kardus dari tangan aku. “jam 8 kak” jawabku singkat. “kamu kenapa?” tanyanya dengan mata penuh curiga. Lalu aku pun menceritakan kejadian yang tadi aku alami. “ya sudah tidak apa-apa” bujuknya sambil menuntutku ke dalam rumah. Terlihat hidangan sudah tersedia di lantai yang telah dibentangkan karpet. Meskipun sederhana tapi ini begitu istimewa dan mengurangi rasa kecewaku karena telah kehilangan kardus tadi. Selesai menyantap hidangan, aku bergegas mencuci piring dan langsung bersiap-siap untuk istirahat karena besok aku harus dalam keadaan fit untuk mencari lilin harapan di sekitar kota ini.

Mentari yang ramah telah muncul dari persembunyiannya. Tapi aku tak bisa merasakan keramahan mentari pagi di kota ini bahkan merdunya kicauan burung kenari. Hanya ada kebisingan knalpot yang telah membanjiri jalanan kota bekasi. Mungkin karena inilah mentari disini tak seramah di kampung halaman. Asap pekat yang menyembur dari mulut knalpot oplet tua menjadi penyebab marahnya sang mentari. Udara pagi yang panas, pengap dan berasap.
Tiba-tiba sebuah angkutan umum mengagetkanku dengan suara klaksonnya yang cempreng. Biiibbb “ayo, naik bang!” terlihat seorang pria paruh baya dengan hidungnya yang agak miring ke kanan menawariku untuk naik ke angkotnya. Kulihat nomor seri yang ada di depan angkot, lalu aku pun masuk ke dalam angkot dan berkata “depan pasar ya bang”.

Sesampainya di pasar aku turun dan harus ganti angkot lagi dengan nomor 02. Tak berapa lama akhirnya angkot yang aku tunggu datang. Aku pun tidak sungkan-sungkan untuk langsung naik dan masuk ke dalam angkot tersebut. Sampai di perempatan aku harus turun lagi dan berganti angkot untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya aku sampai ke stasiun bekasi kota.

Antrian panjang sudah menjadi pemandangan umum. Setalah mengantri agak lama. Tiba giliranku untuk membeli tiket kereta yang sudah didesain canggih. Wajar kalau masyarakat lebih memilih untuk naik kereta karena tiket masuk yang sudah berbentuk kartu dan harganya pun murah. Tidak hanya itu, kereta yang sudah disediakan pemerintah saat ini sudah sangat bagus, aman dan nyaman meskipun harus berdiri dan bahkan berhimpitan dengan orang lain. Aku pandangi di sekelilingku, semua orang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Mereka asyik bermain sosmed sampai lupa nilai sosial yang sesungguhnya. Mereka yang mendapat tempat duduk tidak mau peduli dengan ibu yang sedangg hamil yang berdiri di depannya. “beginilah Jakarta” gumamku dalam hati.

Sesampainya di stasiun Jakarta kota, aku tampak seperti orang bodoh. Maklum pertama kali di Jakarta. Lalu aku berjalan ke luar dari stasiun. Sesampainya di luar, ada seorang gadis di seberang jalan yang melambai ke arahku. Aku perhatikan dengan seksama. Dia tampak cantik dengan balutan krudung warna merah yang dipadu dengan batik khas Pekalongan. Wajahnya Nampak tak asing buatku dan benar saja itu pacarku sendiri. Dia memang sudah lama tinggal di Jakarta. Berhubung aku tidak tahu arah jalan, jadi dialah yang menghampiriku. Dia benar-benar menepati janjinya untuk mengajakku mengelilingi kota ini.

Setelah berkeliling kota menggunakan busway. Aku tiba di sebuah tempat bernama mega kuningan. Aku hanya bisa melongo melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dan jalanan yang lebar. Aku kagum. Semoga saja gedung-gedung ini bukan menjadi sysmbol dari kesombongan kota ini. Perjalanan kami terhenti di sebuah gedung “the east” karena gedung inilah tempat kami akan melakukan test dan interview. Katro dan ndeso itulah ungkapan untuk kami saat ini. Yah, karena kami memang dari ndeso masuk ke lift aja tidak bisa dan harus dibantu oleh satpam. Agak malu si, tapi cuek ajalah.

Ting, bunyi lift menandakan sudah sampai ke lantai 15. Kami pun ke luar dan bersegera masuk ke sebuah ruangan yang ada di ujung lorong gedung. 2 resepsionis menyambut kami dengan tawa genit dari mulutnya yang tipis. Terasa gigitan semut di pinggangku karena cubitan dari pacarku. “ada yang bisa aku bantu?” tanyanya lembut penuh keramahan. “kami ada panggilan interview disini mbak”. Jawabku sambil menyerahkan cv kami berdua. Lalu kami duduk menunggu untuk bertemu dengan HRD.

Setengah jam menunggu, akhirnya kami mendapat kesempatan untuk interview. Sedikit grogi. HRD mulai bertanya ini dan itu. 10 menit berlalu akhirnya interview selesai. Tahapan selanjutnya adalah psikotes. Kami masuk ke dalam ruangan yang berisi penuh dengan komputer. Disitulah kami mengerjakan psikotes. 2 jam lamanya kami mengerjakan soal yang menerutku tidak begitu penting dan kini kami harus menunggu untuk dipanggil ulang apakah kami layak untuk bekerja atau tidak.

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus pulang. Di depan stasiun kami berpisah. Dia harus pulang naik angkutan umum dan aku harus naik krl dan masih berlanjut naik angkutan sebanyak 3 kali. Sungguh malang nasibku. Ketika sampai di pasar bantar gebang, aku tidak lagi menjumpai angkutan yang akan membawaku sampai depan perumahan. Aku harus berjalan kaki sepanjang 3 km sampai akhirnya aku menjumpai angkutan yang aku cari. Cukup lelah juga berjalan sejauh itu.

Berminggu-minggu pergi-pulang bekasi–Jakarta kota tapi belum juga mendapat pekerjaan yang aku inginkan. Aku jadi teringat akan lagu yang diciptakan iwan fals yang berjudul “sarjana muda” lagu yang menggambarkan seorang sarjana yang mencari pekerjaan untuk bisa menyenangkan hati ibunya. Hati ini sperti tersayat pisau. Sakit. Hanya bisa menahan agar sakit ini tidak terlihat dari luar.

Setalah genap 1 bulan, aku akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dan meminta maaf kepada ibu karena tidak bisa menjadi apa yang diharapkan. Aku putus asa. Jakarta tak seramah mentari pagi dan tak seindah kicauan kenari.

Cerpen Karangan: Amir Syamsudin
Facebook: Syamsudin.amir
Dibalik Gubuk Kecil

Dibalik Gubuk Kecil

Judul Cerpen Dibalik Gubuk Kecil

Senja sore tak menghalau badan kurus kecilnya, rintik anak hujanpun ia hiraukan, bahkan duri-duri putri malu yang mengenai kakinya pun tak ia rasakan. Sepatu yang dulunya putih perlahan-lahan menjadi coklat dan hitam, sudah aus pula bagian alasnya. Tak punya tas, hanyalah kresek hitam yang menjadi temannya. Baginya itu adalah sepersepuluh pahit getir dari kehidupannya. Ia adalah seperduapuluh dari anak bangsa yang hidup di pelosok di luar pulau jawa yang hanya tinggal di gubug kecil. semua itu tak menyurutkan semangat anak bangsa yang sangat luar biasa ini, keterbatasan? Tak ada hubungannya sama kesuksesan. Ia berpegang teguh bahwa semua orang bisa sukses dengan semangat yang pantang menyerah, semisal Chairul Tanjung, si anak singkong, dulu ia bagaimana? Sama seperti diriku, sekarang? Dia jadi orang yang sukses.

“kukuruyuk..kuk.uk…” seperti biasanya ia dibangunkan oleh slamet, ayamnya. Maka diambillah air wudhu dari padasan belakang rumahnya. Bersama bapaknya ia sholat berjamaah shubuh di gubug miliknya. Hari ini hari Minggu, saatnya Rizka untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya, seperti mencuci baju, menyetrika dan lain lain.
“Rizka, cuci baju dulu nak, lalu bikin sejalar singkong rebus untuk kita makan, nak..” Pinta bapak dengan suaranya yang lembut.
“iya pak” Ia pun mengiyakan perintah sang bapak.
“bapak mau pergi ke kebun dulu untuk menyirami singkong, nak. Uhk.. uhk.. uhuk..”
“bapak masih sakit, tuh kan batuknya aja masih. Sudah bapak istirahat di rumah dulu aja, nanti Rizka yang nyiramin”
“nggak nak, bapak masih kuat kok”
“bapak tidak boleh sakit-sakitan terus, bapak harus sehat dengan istirahat dan minum obat-obatan tradisional, pak” kata Rizka sembari mencuci baju.

Bapaknya menderita sakit liver sejak ia masih bayi. Hanya 5 x 5 meter tanah untuk penghidupan mereka. Sudah bisa makan saja alhamdulillah. Tak ayal, Rizka tidak bisa membelikannya obat. “Syukirilah apa yang ada” itu adalah sekelumit kata yang sering ia ucapkan. Bersyukur ia masih ada bapaknya, karena mereka hanyalah tinggal berdua saja, jadi bagaimanapun ia harus mengurus bapaknya sendirian, ibunya? ya, ibunya telah meninggalkan mereka untuk pacarnya. Ternyata, serumit inikah hidupnya?.

Pagi itu ia berdiri di depan kaca dengan di pinggir-pinggirnya ada ukirannya mirip burung elang, peninggalan sang neneknya tercinta, dengan memakai baju putih abu-abu dengan kerudung putihnya yang agak lusuh. “Aku ini siapa?” aku hanyalah anak miskin yang tinggal di pelosok desa”, batinnya setelah ia melihat dirinya di depan kaca. Tapi, justru itulah yang membuat ia semakin semangat untuk meraih cita-citanya menjadi seorang diplomat.

Ia kini bersekolah di salah satu MAN favorit di kotanya. Setiap hari ia harus berjalan kaki sepanjang 10 km dari rumahnya. Di zaman sekarang jalan kaki 10 km untuk ke sekolah?, memang ia lakukan setiap harinya. Tak diragukan lagi kecerdasannya si Rizka itu. Ia selalu mendapatkan kejuaraan dalam lomba apapun, terutama lomba LCC. Dan ia selalu peringkat 1 paralel juga. Banyak yang tidak suka dengan dia, karena mereka sangat iri kepada Rizka. Mereka selalu mengejeknya, akan tetapi ia hanya diam saja, tak pernah ia balas dengan sepatah katapun. Di kelas, ia sangat aktif, ia ahli dalam berbagai bidang pelajaran. Rizka sekarang sudah ahli dalam 5 bahasa, yakni bahasa inggris, Jerman, Perancis, Mandarin, dan bahasa Belanda. Dan ia sekarang sudah lancar berbahasa Arab dengan fasih dan istimewanya lagi ia sudah hafal 20 juz. Maka dari itu, ia berkeinginan untuk menjadi seorang diplomat atau Hubungan Internsional dengan jalur beasiswa, tentunya.

“TENG.. TENG.. TENG”, bel sekolahnya pun telah berbunyi, bertanda jam untuk pulang. Sebelum mereka pulang, Bu Nur, guru Matematikanya mengumumkan bahwa “jangan lupa belajar untuk UN besok Senin, 2 hari lagi kita akan menjalani Ujian Nasional”. “Siap bu” jawab mereka (sekelas) dengan serentak. Memang, 2 hari lagi adalah Ujian Nasional. Rizka sudah memiliki banyak persiapan untuk menghadapi UN. Ia tidak bingung dengan UN, ia mungkin bisa mendapatkan nilai minimal 9, baginya itu adalah hal yang mudah, namun ia tak pernah menyepelekannya. Sekarang yang ia bingungkan adalah sepatunya sudah kusam, robek, yang dulunya berwarna putih, mungkin sekarang sudah agak kecoklat-coklatan, bagian bawahnya pun sudah menganga. Ia sedih karena itu, padahal UN harus memakai sepatu. “belikan lem sepatu saja” pikirnya. Rizka tak pernah menceritakan sepatunya yang sudah rusak itu. Maklumlah, sepatu itu dibeli waktu ia kelas X.

Ia pun berjalan dengan payah. Melewati pemukiman warga, sawah, sungai. Sungguh hiruk pikuk hidupnya. Sesampai di rumah, ia segera bergegas menuju kamar untuk berganti baju dan menunaikan shalat maghrib. Setiap hari memang begitu, berangkat pagi-pagi dan pulang-pulang awan sudah berwarna merah. Itulah sebagian kecil kisah perjuangan sang anak bangsa yang tinggal di gubug kecil.

Rizka pun bergegas menuju ke kamar yang biasanya untuk sholat. Ternyata ia melihat bapaknya sedang sujud, sholat qobliyah maghrib. Lama sekali bapaknya belum bangun, kira-kira sudah ada 15 menitan. Rizka sangat penasaran dengan bapaknya itu.
“Astaghfirulloh… bapak, bapak.. bangun pak” seketika itu luluhlah air matanya sampai menetes ke baju pink miliknya. ternyata.. ternyata.. innalillahi wa ina ilaihi rojiun. “bapak.. bangun pak.. Jangan tinggalin aku sendirian pak.. bapak nggak kenapa-napa kan?” sekeras-kersnya ia ngomong, tapi tetap saja sekeras suara badai beserta hujan yang turun di buminya.

Paginya, jenazah bapaknya telah dikebumikan di TPU yang jaraknya kurang lebih 4 km dari rumahnya. Ia terus-terusan menangis tiada hentinya. Ia sadar bahwa semua ini akan kembali kepada-Nya. Setelah ia sholat malam dan berdoa untuk bapaknya tercinta agar dibukakan pintu syurga, dan tiba-tiba ia teringat bahwa besok akan Ujian Nasional, “astaghfirulloh, aku lupa, besok aku ada Ujian Nasional, aku harus semangat, belajar keras, agar nilaiku sempurna, bapak doakan anakmu ini!”

Ketika ia akan melepas mukenanya, ia melihat secarik kertas di atas meja. Lalu, kertas itu pun ia buka perlahan-lahan dan ia sangat ingin tahu, apa sih sebenarnya isi dari kertas itu. Waktu itu angin berhembus sangat kencang. dibukalah perlahan-lahan olehnya, ser… ternyata suratnya.. isinya tentang masa depannya Rizka, yakni selama ia kuliah, dan ternyata ia akan dikuliahkan ke perguruan tinggi sesuka atau seminatnya Rizka, “nak, ada seorang dermawan yang ingin membiayai itu semua. Bapak pun langsung menerimanya” itulah kalimat di surat bapaknya paling akhir. subhanallah… dia spontan kaget, bingung, sedih, bahagia, pokoknya subhanallah, dan tak terasa ternyata pipinya telah basah. Dan itulah pesan terakhir dari bapaknya. Sampai sekarang pun dia tidak tahu siapa yang membiayai seluruh biaya kuliahnya kelak.

Paginya, ia berangkat ke sekolah untuk melaksanakan UN. Hari berganti hari… sampai tiba pengumuman kelulusan, ternyata dia menjadi siswa terbaik sekotanya, sungguh nilainya sangat sempurna. Berapa nilai rata-ratanya? Yak, nilai rata-ratanya adalah 96. Josss bukan? ternyata dibalik gubug kecil menyimpan sejuta kemanisan yang tak ternilai. Benarkan pepatah, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.

Tak disangka untuk kedua kalinya yaitu, Rizka masuk perguruan tinggi di Universits Oxford. Dia akhirnya ngambil jurusan Bahasa, yups, sesuai dengan minatnya juga. Diplomat, betul itulah cita-citanya. Sekali lagi, ia sangat sangat beruntung.

Cerpen Karangan: Sabah Ashfiya A.S.P.
Facebook: Sab’ah Ashfiya Adiratna
Keyakinan Adalah Kekuatan

Keyakinan Adalah Kekuatan

Judul Cerpen Keyakinan Adalah Kekuatan

Di sebuah rumah makan di pinggir jalan. Aku melangkahkan kakiku sambil membawa amplop berwarna coklat di tanganku. Amplop itu berisi surat lamaran kerja. Yah! Waktu itu usiaku baru 15 tahun. Seharusnya aku berada di sebuah ruang kelas. Belajar. Tapi, itu hanya mimpi. Karena saat itu aku harus berjuang keras untuk bisa melanjutkan hidup.

Sejak ibu memutuskan untuk menjadi TKW di Negeri Jiran, sejak saat itulah aku dan kedua saudaraku harus belajar hidup mandiri. Dalam hal ini bukan hanya sekedar mandi sendiri saja. Tapi juga mencari makan sendiri. Bisa dibayangkan anak seusiaku harus mencari makan sendiri. Lalu kemana sang ayah? Hm… Ayahku masih ada. Tapi beliau sama sekali tidak bisa diandalkan. Entah karena beliau tidak bekerja sehingga tak mempedulikan kami, atau karena memang sebenarnya beliau sudah tidak peduli. Yang jelas kami sama sekali tidak pernah mengharapkan apa-apa dari beliau. Tapi, biar begitu beliau tetap ayah kami. Orang yang harus kami hormati.

Selama ini kakakku yang pertama, sebut saja Alya, yang membiayai hidup kami. Namun sekarang dia telah menikah dan harus berhenti kerja sejak melahirkan. Sedangkan Amel, kakakku yang kedua, sudah 1 tahun sejak dia dinyatakan lulus dari sekolahnya, dia belum juga bekerja. Bukan karena tidak mau bekerja. Tapi belum ada biaya untuk menebus ijazahnya. So, mau melamar kerja pakai apa?

Beda denganku. Dengan memakai slogan Bonek. Bondo Nekat, aku memalsukan ijazah temanku. Aku pakai namanya untuk melamar kerja di salah satu rumah makan cepat saji tak jauh dari rumahku.
“Kebetulan kami membutuhkan pramusaji di sini. Jadi, adik saya terima kerja di sini”, begitulah kira-kira yang dikatakan kepala toko rumah makan itu padaku.
“Alhamdulillah… Jadi kapan saya bisa mulai kerja, Pak?”, tanyaku.
“Kalau adik siap, adik bisa mulai kerja hari ini”, kata kepala toko rumah makan HC yang ternyata bernama Heru.
“Baik, Pak! Saya siap bekerja hari ini”, kataku penuh semangat. Terbayang sudah di mataku, aku bisa melanjutkan sekolah. Tak apa kalau aku harus berhenti dulu selama setahun. Toh tak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Aku yakin tahun depan aku bisa melanjutkan sekolah. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

Aku segera menelepon kakakku Alya. Dia menangis ketika tahu aku benar-benar memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja di HC dengan penghasilan 400 ribu perbulan.
“Maafin kakak ya… Harusnya ini menjadi tanggung jawab kakak. Karena kakak sebagai pengganti orangtua kamu. Tapi kakak janji! Hanya setahun kamu berhenti sekolah. Tahun depan kamu pasti bisa sekolah lagi. Kakak janji. Tahun depan kamu akan kembali mendapatkan kehidupan kamu”, kata Kak Alya.
Aku berlinang air mata mendengar janji Kak Alya. Bagiku, dia adalah sosok malaikat yang dikirim Tuhan untuk menggantikan posisi ibu. “Iya, Kak! Nggak papa. Makasih!”.
Sejak saat itu aku yakin. Aku pasti bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Meski rasanya berat, mengingat tempat kerjaku sangat dekat dengan sekolah dimana teman-temanku belajar. Tapi aku yakin aku bisa menjalani ini semua.
“Bismillahirrahmanirrahiim… Beri aku kekuatan ya Rabb…”

Tak terasa satu bulan sudah aku bekerja di rumah makan HC. Saatnya menerima gaji. Hm… Ini adalah gaji pertamaku. Hasil dari keringatku. Bekerja dari pagi hingga malam. Meski jumlahnya tak banyak. Tapi aku tetap bersyukur. Karena setidaknya dengan uang ini aku bisa membantu Dhe Ya. Orang yang merawatku sejak ibu pergi.
Aku belikan kebutuhan dapur. Karena aku tahu gaji Dhe Ya yang hanya tukang cuci tidaklah seberapa. Apalagi dia harus memberi makan seluruh penghuni rumah. Aku, kak Amel, ayahku, dan anaknya yang bernama Silvi.
Belum lagi untuk biaya sekolah anaknya. Setidaknya dengan aku bekerja akan sedikit mengurangi bebannya. Tak lupa kusisihkan sebagian untuk menabung. Aku tahu meski biaya sekolah sangat mahal, dan tidak akan mungkin bisa aku dapatkan hanya dengan menyisihkan 50 ribu sebulan. Tapi aku yakin, Tuhan tidak akan menutup mata dengan semua usahaku.

Sudah hampir 10 bulan aku bekerja. Banyak hal yang terjadi selama aku bekerja. Bertemu dengan teman SMP saat aku menjadi kasir. Hampir saja rahasiaku terbongkar.
“Jadi, kamu pakai ijazah orang lain buat kerja disini?”, tanya Dewi. Customer sekaligus teman baikku waktu SMP.
Aku mengangguk. “Lain kali kalau mampir kesini jangan panggil aku Isa. Tapi, Rina”, kataku sambil menunjuk name tag yang menempel di dadaku.
Dewi tersenyum. “Kamu bener-bener gila. Tapi seru! Hidup kamu penuh warna, Sa! Eh, Rin! Hehehe…”, katanya di sela-sela obrolan kami. “Aku yakin kelak kamu akan jadi orang yang sukses!”
“Aamiin…”, jawabku seraya menyerahkan struk pembayaran kepadanya.

Tahun ajaran baru dimulai. Aku begitu semangat menyambutnya. Aku mulai mencari informasi dimana kira-kira sekolah yang cocok untukku. Cocok di sini maksudnya yang sesuai dengan kantong. Maklum tabunganku hanya terkumpul 700 ribu. Karena sudah mondar-mandir kesana kemari akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan ke sekolah eks Kak Amel dulu. Selain karena sudah kenal dengan beberapa gurunya, biayanya lebih murah dari sekolah swasta lainnya.

Formulir sudah di tangan. Tinggal melengkapi persyaratannya. Namun tiba-tiba Tuhan mengujiku lagi.
“Kontrakan rumah berakhir bulan ini?”, kataku histeris.
“Iya, Nduk… Kalau kita ndak bayar, kita bisa diusir. Bapakmu juga ndak bisa diharapkan. Padahal Bu Dhe udah ngasih tahu jauh-jauh hari”

Aku bingung. Lagi-lagi aku dihadapkan pada keputusan yang sulit. Membayar kontrakan rumah, atau membayar biaya pendaftaran sekolah? Oh Tuhan… Kenapa begitu berat cobaan yang harus aku hadapi di usia sedini ini? Tidak adakah jalan keluar yang lebih baik selain aku harus mengorbankan salah satu dari masalah ini?
Kak Alya mendengar kabar ini. Lagi-lagi dia yang harus berpikir bagaimana caranya agar aku bisa tetap sekolah dan kontrakan rumah bisa segera dibayar.
“Aku nggak mungkin menutup mata, melihat saudara-saudaraku terlantar di luar sana. Aku nggak mungkin menutup telinga, mendengar mereka menangisi nasib malang mereka. Izinkan aku kerja pa…”, ucapnya pada Kak Wisnu, suaminya.
“Baiklah! Aku mengijinkan kamu kerja. Asalkan kamu bisa membagi waktu”
Sungguh! Tuhan telah menjawab doa-doaku. Dia kirimkan lagi malaikat untukku. Dan lagi-lagi Kak Alya adalah malaikat itu. Dia diterima kerja sebagai Staff Accounting di salah satu perusahaan swasta. Dia menjanjikan aku bisa sekolah lagi tahun ini.
“Uang yang ada sekarang kamu pakai untuk biaya daftar ulang. Sisanya akan kakak lunasi setelah kakak gajian. Kalau soal rumah biar nanti kakak yang bilang ke pemilik rumahnya untuk bisa kasih tempo sampai gajian berikutnya”
Itulah yang dilakukan malaikat bernama Alya padaku. Dalam sekali hentakan dia bisa merobohkan dua pohon yang menghalangi langkahnya. Sesuai rencana, aku melanjutkan sekolah di eks sekolah Kak Amel. Kak Alya menemui pemilik rumah kontrakan untuk meminta tambahan waktu.
Semua ini adalah rencana Tuhan. Rencana yang tidak akan bisa ditebak oleh siapapun. Dan yakinlah bahwa janji Tuhan itu pasti.

Kini aku duduk di bangku kelas XI. Selain sekolah kegiatanku yang lain adalah bekerja part time. Sepulang sekolah aku langsung bekerja. Menjaga sebuah stand makanan dengan upah Rp. 250.000,-/bulan. Setidaknya itu cukup lumayan untuk menambah uang sakuku. Sekolah sambil bekerja memang tidak mudah. Alhasil aku jadi tidak begitu berprestasi di sekolah.

Tak apa! Bukankah kebanyakan orang-orang yang sukses di luar sana adalah orang yang tidak memiliki prestasi akademik? Besar nilai rapor bukan jaminan besar gaji kan? Bahkan Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group, salah satu pengusaha finansial dan real estate di Indonesia hanya lulusan SD. Tapi sekarang dia masuk dalam urutan orang terkaya No. 3 dari 10 orang kaya di Indonesia. Hebat kan!

Begitupun aku! Suatu saat aku akan tunjukkan pada dunia bahwa aku pasti bisa sukses! Aku yakin aku bisa. Karena hanya dengan keyakinan aku bisa ada di sini dan menuliskan kisahku.

Semoga kisahku ini menjadi inspirasi buat teman-temanku agar lebih menghargai waktu. Karena waktu yang terlewat tidak akan pernah kembali. Jangan pernah menyesali waktu kemarin, karena kita masih bisa berbuat lebih baik di waktu esok! Semangat!

Cerpen Karangan: Septi Aya MU
Facebook: Septi Aya Moment
Varamedic

Varamedic

Judul Cerpen Varamedic

Pagi dirumah sakit varamedic. Rumah sakit swasta yang terletak di pusat kota. Linkungannya yang bersih dengan tata bangunan yang rapi. Apalagi lihat perawat wanita dengan senyum manisnya, aduhai tergoda juga imanku.

Aku diberi nama Erald 20 tahun yang lalu oleh kedua orangtuaku. Tapi menurutku, nama yang kusandang terasa nanggung. Mengapa tidak Gerald saja biar sama dengan legenda hidup asal klub liverpool, yaitu Steven Gerald. Tim bertabur bintang, dengan motto klub ‘Your Never Walk Alone’.

Ngomong-ngomong soal bola rumah sakit ini erat sekali dengan serdadu lapangan hijau, meski hanya skala bintang nasional. Mungkin hampir tiap bulan rumah sakit varamedic menerima pemain profesional liga negeri ini. Entah itu akibat cedera di lapangan hijau atau sesuatu sebab yang lainnya. Sebab jarak rumah sakit dengan stadion dan dua markas tim di kota ini sangat dekat. Hanya menempuh jarak hitungan menit.

Dan aku yang kesekian kalinya, menjadi pemain yang menghuni rumah sakit ini. Ya, aku penyerang di kesebelasan Garuda raja fc. klub yang bercokol di peringkat atas klasemen sementara liga sepakbola nasional. Aku singgah di varamedic karena sebuah tragedi di laga sore tadi.

Saat itu tendangan pojok. Andai saja aku mampu menanduk bola dan menembus jaring gawang lawan, papan skor akan berubah menjadi 2-1. Namun cerita berbeda yang kuterima. Bola hasil tendangan sudut rekanku, melambung melewati beberapa pemain yang berusaha menyundul, namun tak satu pun tercapai oleh kepala mereka. Kiper pun terbang untuk menggapai bola, sebisa mungkin aku berusaha mendahului sang kiper. Namun naas bagiku, aku melopat dan kepalaku beradu dengan siku penjaga gawang hingga tak sadarkan diri.

Aku tersadar saat infus terpasang di lengan kiriku. Ditemani suster devi, begitu nama yang tertera di dadanya.

“Syukurlah kamu udah siuman” ucap perawat itu, aku mengangguk saja “kamu sudah seharian, gak sadarkan diri lho”
“Benarkah itu? Lalu Garuda raja fc versus Armada merah putih fc siapa yang menang?”
“Mmmh.. Soal itu saya gak tau”

Aku kembali lemas, jika Garuda raja kalah, tentu saja menurunkan posisi timku di nomor dua klasemen sementara. Itu berarti kesempatan menjadi juara liga akan berat menanti. Sebab poin garuda raja kalah besar dengan yang duduk di posisi satu klasemen saat ini.

“Maaf devi, kira-kira kapan saya bisa pulang?”
“Kalau kamu udah mendingan, kamu bisa pulang hari ini” ucapnya sambil membawa nampan dengan hidangan kepadaku “silahkan dimakan, saya permisi dulu”.

Selesai makan, pintu kamar pasien yang kutempati terbuka. Berjalanlah seseorang berkepala plontos dengan jas hitam yang ia kenakan.
Ternyata itu coach, dengan senyum formalnya ia menyapaku.

“Kamu udah bisa pulang hari ini. Administrasi udah saya tanggung”
“Baik! coach, partandingan kemarin apa kita menang?”
“Hmm.. kita kalah 1-3 oleh armada merah putih” ucap coach lesu “ok segera berkemas, dua hari lagi kita bakal lawan klub tetangga, ksatria Xl fc, musuh berat kita”

Hari berganti hari, aku mulai berlatih dengan rekan-rekan. Coach meminta kali ini kami serius berlatih. Passing-passing pendek harus kami tingkatkan, umpan jauh hanya boleh dilakukan jika ada kesempatan. Yang terpenting adalah rapatnya lini per lini antar pemain agar tim lawan susah masuk ke pertahanan kita.

Selesai latihan, aku dan rekan-rekan kembali ke mess dan bersiap untuk esok sore berhadapan dengan Ksatria Xl fc.

Malam ini kebetulan kapten tim tidur sekamar denganku. Rekan setim sangat antusias dan menghormatinya. Dikarenakan ia adalah pemain senior di garuda raja. Sempat pula menjadi pemain timnas meski dengan caps yang bisa dihitung jari.

Ia memintaku untuk lebih banyak bergerak meski tanpa mengarak si bola bundar. Aku harus siap karena kapan saja bola akan mengarah kepadaku setibanya di dekat gawang. Begitulah penyerang, harus punya insting yang baik untuk membobol gawang lawan.

“Kuberitau kau ya, garuda raja ada di posisi dua. Kemarin laskar trisula fc sedang hoki saja, mereka bisa naik ke puncak klasemen. Mereka dapat dua pinalti di menit terakhir” ucap kapten sambil menunjukan dua jarinya.
“apa wasitnya berat sebelah?” Tanyaku.
“Mungkin. kau taulah sepakbola di negeri ini. Dan yang pasti dua match tersisa kita harus menang, sebab partai terakhir kita bakal lawan tim yang lagi hoki itu”
“Oiya kapten, di posisi tiga ada siapa?”
“Huft.. ksatria Xl fc, lawan kita besok” ucapnya meakhiri.

Nampaknya 2 match tersisa adalah laga pertarungan harga diri 3 tim teratas. Semoga dewi fortuna ada di pihak tim yang aku huni.

Esoknya, big match akan dimulai. Ksatria Xl fc berhadapan dengan Garuda raja fc.
22 pemain masuk dari dua klub berbeda. Didampingi tiga wasit yang akan mengawal laga kali ini.

Ini derby sekota meski kami saling berbagi stadion. Tapi kali ini tuan rumah ada di pihak kami. Garuda raja memakai jersey home garis-garis merah hitam vertikal. yang merupakan jersey kebanggaan bagiku. Dengan lambang paruh runcing serta sorot tajam mata sang garuda dan satu cakarnya minginjak bola. Menggambarkan keberanian sejati, dibordir indah di dada.
Tim tamu yang merupakan tim tetangga menggenakan jersey putih dengan celana hijau. Lambang perisai segilima abu-abu bertuliskan Xl besar, dihiasi tulisan ksatria membentang di atas angka sebelas romawi tsb.

Oke, semua pemain saling berjabat tangan, termasuk kepada pengadil lapangan. Setelah lempar koin, kami mengambil foto tim yang akan dibidik lensa pers yang akan mengikuti match kali ini.

Atmosfer ketegangan sudah terasa, dan Kick off babak pertama dimulai “prittt” Suporter makin riuh, yel yel pun mulai bergema layaknya marching band karnaval.

Bola ada di kakiku, langsung kuumpan kepada rekanku di sayap kanan. Ia membagi bola ke belakang dan memainkannya dengan passing-passing pendek. Pemain ksatria sebelas terpancing keluar dari posisi mereka berdiri, walhasil lini tengah dan lini depan renggang garuda raja merangsek masuk ke pertahanan ksatria Xl. Bola berhasil kapten dapatkan. Ia membawa bola ke tengah, aku berlari mendahuluinya. Bola dibagi ke arahku, tapi dikejar bek lawan. Duel sprint kuperagakan, aku berhasil melewati, lalu kubagi bola dengan teknik umpan lambung berkelok menuju kotak pinalti. Si kulit bundar disambut sundulan rekanku yang jangkung, bola melesat.

Namun sayang kiper menepis dengan tinjuan. Kembali bola melayang di udara. kapten mengejar, bola jatuh tepat di kakinya yang bersiap menendang.

Dan tendangan frist time itu melesat ke arah gawang. Tapi lagi-lagi gawang ksatria Xl selamat, bola berhasil disundul ke luar kotak pinalti. Bola yang melambung coba kukejar, aku melompat dan berduel di udara. Aku dapatkan bola tepat di dada, kukontrol sesaat. Bola jatuh di kaki kanan, kaki kuayun bola kutendang. Melesat menuju sudut mistar gawang dan jebol. Gooool… 1-0 untuk garuda raja di pertengahan babak pertama.

Aku langsung berlari menuju sorot kamera, kucium mesra logo klub di dada. Sorak penonton membahana melantunkan nama Garuda raja. Tiupan terompet bersahutan, berpesta atas gol yang kuciptakan.

Ksatria berganti menyerang tapi serangan mereka lemah, bola dengan mudah disapu ke luar beberapa kali dari daerah pertahanan garuda raja. Counter attack hanya kami peragakan, tim garuda raja terus ditekan hingga habis babak pertama. Gol tunggal masih menghias di papan skor.

Menuju ruang ganti, kaki ini melangkah bersama dengan kaki-kaki pemain dan staf garuda raja lainnya.
Duduk di lantai, kaki kupanjangkan dan seteguk air mineral membasahi tenggorokan yang mengering. Sambil melepas penat, kunikmati instruksi pelatih yang memainkan spidol di atas papan berbentuk lapangan sepakbola.

Menurut coach, tim kami ternyata kendor di sisi sayap dan tengah, dimana transisi menyerang dan bertahan berada. Aku dan tim diistruksikan untuk tampil all out dengan pressing ketat bila lawan ganti menyerang. Lalu ditutup dengan doa bersama menuju babak kedua.

Suasana stadion mulai bergemuruh, apa lagi suporter di tribun selatan yang selalu menabuh drum dengan iringin yel yel semangat militansi. Ya, itu ultras Garuda, suporter fanatik kami.

“Prittt”

Babak kedua dimulai, ksatria Xl mulai menyerang, memperagakan umpan satu dua yang baik. Pergerakan bola selalu dimulai dari sayap kanan. Datang menyerang bertubi-tubi, memberi shock teraphy di lini belakang garuda raja. Namun bek timku ini masih mampu menghalau serangan demi serangan.

Akan tetapi Garuda raja masih terus diserang, begitupun dengan counter attack masih tumpul dan terkadang bola berhasil direbut lawan sebelum lewat kotak pinalti.
Setengah jam bermain, jebakan off side kami gagal. Seorang penyerang ksatria Xl mengejar bola sendirian meninggalkan seluruh bek garuda raja. Alhasil kiper maju melakukan duel mengejar bola dengan lawan. Bola berhasil dikuasai pemain tersebut. kiper terkecoh, bola meluncur deras di antara dua kaki kiper. bola masuk dan terdiam disudut kiri jaring gawang. Gol 1-1, ksatria Xl berhasil samakan kedudukan.

Akh.. kesalahan yang fatal. Kulihat rekan setimku saling menyalahkan. Raut muka seluruh staff nampak kecewa dengan ekspresi berbeda. coach serasa kebakaran jenggot, ia langsung berdiri hingga pinggir lapangan. membentak seluruh anak asuhnya termasuk aku.

Setelah terjadinya gol tadi. Garuda raja mulai bangkit, permainan dari kaki ke kaki coba diperagakan. Lini tengah mulai berani memainkan bola. Si bundar diover kepadaku, aku dribling. kapten membututi dan berlari mendahuluiku, tangannya seraya meminta bola. Umpan datar kuberi padanya. Bola lolos dari halangan kaki lawan. Kapten berlari dan berhenti sesaat. Aku masuk ke kotak pinalti. Bola diangkat kapten, terbang melawan gravitasi lalu jatuh, aku coba heading dan…

Tik.. tik.. tik.., suara itu memaksaku untuk membuka mata. Itu dari arah jam dinding yang berdetik. Kepalaku terasa berat, seperti ada luka. Begitu juga bahuku, seakan-akan tak terasa dan sulit kugerakan.

“Erald, syukurlah kamu telah sadar. Kamu pingsan lagi, karena beradu kepala sama lawanmu” ucap si perawat yang sama di kasur yang sama tentunya di varamedic. Lagi-lagi aku mengalami benturan, untung saja aku masih mengenali diriku sendiri.
“Jangan banyak bergerak, luka di pelipis matamu belum kering”
“Siapa yang menang? Garuda raja lawan Ksatria Xl?”
“Hmm.. Pertandingan masih berlangsung, kamu baru saja tiba di ruangan ini” ucap Devi
“Cepat nyalakan tv” nadaku meninggi.
“baiklah” ucapnya dengan terpaksa.
Tv dinyalakan, devi langsung mencari siaran match kali ini.
“Nah yang ini” ucapku
“Ya permisa hasil seri ternyata akan terjadi jika saja Garuda raja tak mampu menggandakan kedudukan di kesempatan terakhir ini. Tentu ini sebuah kerugian besar, karena Garuda raja hanya meraih satu poin. Itu artinya, Ksatria Xl bisa saja menyalip sang tetangga garuda raja.” Komentator berujar dalam tv.
“Pritt.. pritt.. pritt” peluit itu nyaring di pendengaranku.
“Baiklah permisa, hasil imbang hanya mampu diraih dua kesebelasan. Kami kembali setelah comercial break berikut ini”

Akh.. kesal rasanya andai saja aku bisa menanduk si kulit bundar, buka kepala orang, pasti timku menang. Karena aku yakin itu akan berbuah gol

Esoknya aku diperkenankan pulang. Kembali ke mess pemain dengan rasa sakit dan kekecewaan. Rekan-rekanku menghampiri dan menyemangati diri ini. Oke hari ini aku hanya akan recovery dan match melawan laskar trisula fc entah akan diturunkan atau tidak.

Tiga hari berlalu, dan waktu match terakhir datang menghampiri segenap pemain dan staff kepelatihan. match terakhir yang menentukan gelar juara. Sebab, posisi kami di nomor dua dengan 45 poin. Di puncak ada laskar trisula dengan 46 poin. Namun Ksatria Xl dapat saja mencuri gelar jika mereka menang melawan armada merah putih di match terakhir, sebab point mereka sama dengan Garuda jaya. Mungkin sudah jodoh, kami sekota, satu stadion dan rumah sakit varamedic serta point dalam tabel klasemen sementara.

Aku menatap luar jendela kamar mess pemain. Dimana rekan-rekanku sudah menunggu bus, yang akan menghantarkan tim menuju stadion. Rasanya tenagaku takkan terpakai, saat laga nanti. Aku hanya akan mengurung diri di mess pemain untuk beristirahat.

“Hay erald kau tak berkemas” ucap sang kapten, kurasa ia menatapku sedang berputus asa.
“Aku cidera, pasti coach menyuruhku beristirahat”
“Oh ayolah bung, jika starting line up tak kau dapati. Supersubs bakal diberi. Pemain sejati asanya tak pernah mati! Paham kau” ucapnya memberi semangat.

Benar juga apa yang dikatakan kapten, aku belum tentu tidak diturunkan di match terakhir. Bahkan coach tidak membenarkan pernyataanku barusan. Itu artinya aku teteap berada di skuad Garuda raja. Kapten tersenyum melihatku mulai tersenyum.

Rombongan menaiki bus, menuju stadion kebanggan kami. Partai home terakhir ini sungguh mendebarkan. Para pemain garuda raja masing-masing terduduk pada bangku bus dengan headset di kepala dengan berbagai musik yang menghentak. Ini terapi agar pemain tidak memikirkan apa-apa atau tidak nerveous.

Sesampainya di stadion, seluruh pemain memakai jersey masing-masing namun aku harus menabah rompi hijau di tubuh ini untuk menandakan pemain cadangan.

match segera berlangsung. Bendera fair play masuk digiring 4 anak gawang. Lalu dibentangkan di tengah lapangan menghadap tribun VIP. Starting eleven kedua tim masuk dipimpin wasit yang melangkah membuntuti kelakuan si pembawa fair play tadi. Setelah bersalaman, rekan-rekanku di Garuda raja melakukan photo tim. Ini kali pertama, aku melewatkan jepretan lensa pers.

Kulihat dari bench cadangan, Dengan jersey garis merah hitam vertikal, kostum kebesaran tim yang kuhuni. Si kapten garuda raja melompat-lompat melakukan gerakan pemanasan di titik kick off. Sedangakan di pihak lawan terlihat tampang-tampang bengis berjersey serba putih dengan garis merah di bagian pinggang bakal menjadi lawan serius kali ini.

“Prittt”

Permainan dimulai, bola dikuasai penuh di lini tengah. Dua penyerang mulai berlari membuka pertahanan. Akan tetapi tim lawan bergerak cepat, mereka mulai mempress satu persatu penyerang garuda raja.

Laskar trisula memberikan perlawan nyata, dimana duel satu lawan satu selalu dimenangkan mereka. Serangan mereka bagai banteng mengamuk, menyeruduk lini tengah yang diisi empat pemain hingga jebol di setiap serangan menghampiri daerah pertahanan garuda raja. Tapi untunglah, empat matador bek timku ini selalu menyapu bersih setiap bola yang datang.

Namun laskar trisula tidak kehilangan akal. Mereka mencoba passing-passing pendek dan umpan satu dua di daerah sayap kiri. Ternyata hasilnya selalu tembus, mereka menyebar ancaman berkali-kali melalui umpan lambung ke kotak pinalti yang pastinya akan disusul dengan tandukan serdadu laskar trisula. Tetapi, tak satu pun bola menyenggol tiang gawang.
Keasikan menyerang, garuda raja mampu menggetirkan lutut-lutut pemain laskar trisula, melalui counter attack cepat kapten dan penyerang pengganti diriku menjadi duet maut yang membahayakan lini belakang lawan. Berulang kali mereka lolos dan menempatkan bola pada target namun berulang kali bola ditepis, ditip, atau ditinju penjaga gawang bahkan mengenai tiang. Dan berulangkali, aku beserta staff gigit jari, apalagi coach berulang kali kesal tak menentu memberi arahan di pinggir lapangan.

Prit.. prit.. prit.. skor kaca mata hadir dibabak pertama.

Muka-muka letih pamain kedua kesebelasan nampak jelas saat mereka berbarengan masuk ke lorong ganti
Emosional Coach tak terbendung, semua pemain dimaki habis-habisan di ruang ganti. Namun staff lain dapat menetralisir keadaan, mereka terus memotivasi kami.

“Prittt”
Babak kedua dimulai, garuda raja selalu menyerang, mengunci pertahanan laskar trisula. Namun press ketat kesebelasan lawan terlalu tangguh. Bola umpan lambung jadi andalan garuda raja tapi tak satu pun mencapai target. Kebanyakan melenceng dan mampu ditanggkap kiper lawan.

Dua puluh menit berlalu, kedua tim belum juga pecah telur, coach garuda raja masih ketar ketir melihat anak asuhnya masih buntu di depan.

“Erald kamu pemanasan cepat” ucap coach tanpa melirik. Sumringah aku mendengarnya
“Siap coach” ucapku.

Aku mengikuti perintah, aku berlari-lari kecil memutar lapangan. Menggerakan anggota badan dan melopat-lompat kecil. Meski bahu masih terasa sakit jika digerakan.
Kertas pergantian pemain diberi kepadaku, kuberikan kemeja panpel. di pinggir lapangan dengan kostum nomor 7 aku Erald bersiap diri. Papan pergantian pemain diangkat asisten wasit ketiga. Angka 7 berwan hijau masuk mengganti angka 20 berwarna merah.

Yap.. aku masuk ke garis putih lapangan hijau. Kini aku berada di medan laga, kembali dengan atmosfer yang kudambakan.

Bola meluncur kepadaku, kudribling menuju lini tengah lawan. dua pemain laskar trisula datang menghadang. Kapten berada di depanku, bola kuumpan datarkan. Dua pemain lawan beralih mengejar kapten. Aku bebas, langsung bergerak cepat menuju kotak penalti. Bola kembali disodorkan kepadaku, tanpa kontrol kaki kanan kuayunkan. Bola terbang rendah menuju gawang, namun dengan sigap ditangkap pemain terakhir laskar trisula ini.
Akh.. sial ungkapku dalam hati.

Si kulit bundar di permainkan di lini tengah. Para Gelandang saling berperang demi menjauhkan bola dari medan pertahanan. Kembali bola aku kuasai, di depan lawan menghalangi dengan sengaja kukolongi.

Bola liar memasuki kotak pinalti, aku coba mengejar tapi pergerakan lawan coba menghalangi. Aku bingung, gelandang sayap berlari di tepi garis berada di belakangku. Dengan cepat kusapu bola dengan tumit, aku bergerak masuk mendekati gawang.

Bola disodorkan kembali padaku melewati pemain lawan. Utak atik sedikit, lalu berhadapan dengan kiper, kiper bergerak mencegahku. bola kuumpan lambungkan menuju tiang jauh. kapten datang menanduk bola. Bola melesat menuju gawang yang benar-benar kosong dan gooool tercipta. Yeah.. aku kepalkan jari tinggi-tinggi.

Kapten lalu menuju sudut stadion, melakukan selebrasi meninju bendera corner kick. Diakhiri pelukan pemain garuda raja. Kedudukan 1-0, sepuluh menit lagi juara menanti ucapku dalam hati.

Laskar trisula datang menyerang, membabibuta pertahanan kami. Kemelut terjadi di depan gawang garuda raja. Bola berusaha dibuang center bek namun membentur rekan sendiri, bola liar berusaha dikejar lawan.

Bola dapat di ujung kaki yang terangkat oleh pemain laskar trisula, si bundar kembali melayang dan menukik tajam. kiper tak bisa menjangkau. Bola melesat menghujam tiang dalam. Membalik badan, kiper berusaha menepis. Oh tidak bola jatuh melewati garis gawang. Tangkapan tidak sempurna membuat bola mental ke gawang sendiri. Skor menjadi seri 1-1. Garuda raja tertunduk lesu.

Tenaga ekstra kami keluarkan di menit terakhir, selepas kick off bola menyisir sisi sayap kanan. Aku berlari menuju tengah kotak pinalti. Kapten pun berusaha mengejar bola yang sudah dilepaskan. kiper datang terbang menghadang, duel udara sengit terjadi. Bola ditepis kiper namun bola bergerak membelakangi keduanya menuju aku yang bebas tanpa kawalan, tanpa ampun frist time kulakukan. Bola melesat masuk jaring gawang. gooool skor berubah 2-1 untuk garuda raja.

Namun wasit menganulir gol kami, aku lemas dan kesal, ingin rasanya kuhabisi si pengadil yang tak bosan menggengam peluit. Beberapa rekanku mengejar sang wasit untuk memprotes. Tapi apalah daya, keputusannya sungguh mutlak.

Bola kembali bergulir menuju barisan depan kami. Namun dengan mudah dipatahkan lini tengah. Perebutan bola di udara menghasilkan sepakan lambung kapten dari lini tengah, bola melambung menuju kotak pinalti. Liar, si bundar tak ada yang mengejar, dengan sigap aku bergerak menyilang masuk ke lini tengah lawan. Lawan mulai berlari mengejarku. kiper pun datang menghadang. Bola sama-sama ditendang. Si bundar meuntal lagi di udara. Aku menyundul pasti, lawan loncat datang menghadang, tapi terlambat. Sikutnya datang menghantam kepalaku. Namun bola melesat tak tergapai kiper.

Akh.. aku tak bisa melihat, perih terasa. darah segar mengalir dari bekas luka, mengikuti pola wajah. Raga ini ambruk, tersujud. Akh.. ini semakin menyakitkan. Mungkinkah aku melewatkan lagi akhir laga? Sebab ini ketiga kalinya, tragedi yang sama terjadi. Mungkin aku akan terbangun dan menjumpai lagi devi? Aku tak tau, kini aku lunglai.

“Gooool..” sorak sorai penonton membahana. Ya, aku masih bisa mendengar mereka mengakbarkan kata gooool.
Rekan-rekanku datang memendekat, melihatku merukuk bersimbah darah. Kapten sampai tak tega melihatku berdarah hebat. Tim medis segera menemuiku. Dengan tandu seorang wanita muda mengajaku menuju pinggir luar garis lapangan. Dalam posisi tidur aku diberi perawatan.

“Prit.. prit.. prit..”

Kudengar supporter berteriak dengan kegirangan. Kembang api meletus duarr duarr. Bomb flare merah meletus di udara, begitu pula warna hitam, memperindah kemenangan di tribun selatan dimana ultras garuda memberi dukungan.

“Selamat atas kemenangannya, kutunggu kamu kembali di varamedic” ucap wanita itu lalu tersenyum saat mengakhiri perawatan. Tunggu dulu, varamedic? Siapa yang merawatku tadi? Perawat itu kah?

Para pemain garuda raja datang menghampiriku. Memeluk-meluk diriku, mengusap halus kepalaku dan kurasa mereka cukup hati-hati dengan pelipis berperban.

Mereka menggotonggku sambil mengarak mengitari stadion. Saksi bisu juara liga nasional kali ini. Yaitu Garuda raja, raja di kandang sendiri.

Beberapa hari kemudian
“Hari itu benar-benar berpesta, Kami berlari menunjukan piala pada ultras garuda di seluruh tribun. Sehabis dikalungi medali emas oleh menpora dan jajaran petinggi Asosiasi tentunya”
“Ultras garuda, maksudnya?”
“Itu nama supporter Garuda raja, vi”
“Oh.. hahaha, kukira apa”
“Oiya ngomong-ngomong raja nih, kamu mau gak jadi Ratu di hatiku” mukanya memerah. Ia memukul manja pundakku yang baru saja ia perban.
“Auuu… sakit, vi”
“Maaf” ia menutup mulut dengan sepuluh jari. Raut wajahnya menyesal.
“Sakitin lagi dong.. vi biar bisa terus kamu rawat” ucapku kembali mengoda.
“Ihh.. gombal deh” ujarnya seraya mencubit hidungku. Mungkin saat ini wajahku memerah.
“nanti aja jadi penyerangnya ya. Aku gak mau hatiku kamu bobol kalau kamu gak istirahat” cieee.. aku dapat gombalannya, tanpa menyesal ia melangkah pergi ke luar meninggalkanku dengan senyumnya tadi, yang melekat di ingatanku.

Kukira, ia sedang melakukan hal yang sama denganku. Ya, semoga saja begitu. Gelar juara didapati, cinta perawat pasti kuraih. Dalam pejaman Mata, senyum kuutarakan untukmu, Devi. perawat varamedic.

Cerpen Karangan: Yonanda Darmawilya
Facebook: Nand Darmawilya