Judul Cerpen Speak Your Dream
“Ibu, ada apa dengan Ariel?” tanya Dalisha perlahan seraya menarik ujung baju Ibu. Tangan kanannya sibuk menunjuk-nunjuk Ariel yang menangis di sudut ruang tamu. Ayah segera memeluk Ariel, membuat Dalisha menghampiri mereka berdua.
“Biarkan, Dalish! Lelaki tak seharusnya belajar balet. Itu akan memalukan keluarga kita. Seharusnya, ia mulai belajar tentang ekonomi…”
“yang akan membuatnya tertekan,” sambung Ayah, membuat Ibu tersentak. Dalisha meraih lembut tangan saudara kembarnya, menggenggamnya kuat. Lalu berbisik pelan di telinganya.
“Genggam yang kuat, Ariel. Agar aku dapat merasakan apa yang sedang kamu rasakan,”
Ariel mengikuti perintah Dalisha. Belum semenit ia menggenggamnya, kepalanya sudah terkulai lemas di pelukan Ayah. Membuat Ayah panik dan Dalisha menangis terkejut. Ibu yang sudah mengemasi barangnya membuka pintu dan membanting pintu kasar.
Biarlah ia pergi. Toh, aku masih memiliki mereka, batin Ayah perih. Lalu mengecup kening Ariel lembut. Menatap wajah Ariel yang pucat.
—
Aku dimana? Tempat ini gelap, sunyi, dan … seperti laut yang sunyi. Hei, kemana suaraku? Kembalikan suaraku!
Dalisha! seru Ariel terbangun. Ia mengernyitkan dahi, lalu membuka mulutnya.
Ayah? Ayah, ada apa ini? Ariel panik. Seberapa kuat ia berteriak, suaranya tak terdengar. Ia menggenggam tangan Dalisha dan menepuk pundak Ayah yang tertidur di ranjangnya.
“Ariel!” seru Dalisha. Ia begitu girang Ariel sudah bangun. Ayah tersenyum lega. Tak dapat berkata-kata.
Ayah, Dalisha, Apa maksudnya ini? ucapnya. Ayah mengernyitkan dahi, lalu mendekati wajah Ariel.
“Ariel, kenapa? Coba panggil Ayah,” ujar Ayah pelan. Lalu melihat Ariel yang tak mengeluarkan suara sama sekali.
Dalisha terdiam. Mengingat kejadian tadi malam. Lantas membuatnya terpaku. Menatap Ariel yang tengah menangis kebingungan.
Suara Ariel hilang. Ibu membawanya pergi.
10 tahun kemudian …
“Ariel, Ayah, lihat gerakan ini!” seru Dalisha kegirangan. Ia memutar sebuah lagu, lalu mulai menari. Gerakannya lebih gemulai dibanding biasanya. Tubuhnya berputar, berjalan kesana kemari. Kalau saja Ariel masih menari, ia akan menarik Ariel dan mengajaknya menari bersama.
Ayah bertepuk tangan, diikuti Ariel yang juga bertepuk tangan. Dalisha menundukkan badannya, lalu terduduk di sofa.
Ariel, kapan lagi kamu bisa menari bersamaku?
Dalisha menghela napas. Ariel menderita sindrom, yang entah disebut apa, yang menyebabkan dirinya kehilangan suaranya sekaligus merebut paksa bakatnya.
Hanya satu impian Dalisha: mengembalikan suara Ariel dan semangat hidupnya untuk bercita-cita.
Dalisha percaya, suara Ariel akan kembali, dengan tarian fantatis darinya.
Pertunjukan balet kecil-kecilan ini dilakukan setiap minggunya, sekaligus untuk latihan. Dalam rangka yang sangat rahasia, yaitu membuat Ariel terpukau.
Ariel duduk di sebelah Dalisha. Dalisha yang menyadarinya, bersandar di bahunya. Sekarang, mereka telah berumur 16 tahun. Dalisha teringat dirinya 12 tahun yang lalu.
“Ayah, aku ingin menjadi balerina!”
Seruan seorang Dalisha kecil yang membuatnya menjadi penari balet sekarang. Dua tahun setelah kalimat itu terucapkan dan terwujudkan, Ariel berhenti menjadi penari balet.
Ibu mematahkan impian besar Ariel:
menari di panggung besar bersama Dalisha. Ibu, yang dulunya adalah balerina, membenci balet. Ayahnya meninggal setelah Ibu menggelar konser tunggalnya.
Setitik, dua titik air matanya membasahi pipinya. Mengalir lembut, jatuh tepat di lengan Ariel. Membuat Ariel meliriknya.
“Dalisha?” Ayah berlutut di hadapan Dalisha. Dalisha menyeka air matanya cepat-cepat, lalu menggeleng.
“Mungkin hanya kelilipan Ayah,” balas Dalisha seraya tertawa renyah. Ariel menghela napas lega. Ayah tersenyum simpul.
Ayah tahu, mengapa Dalisha menangis.
Karena hati Ayah juga merasakan perasaan yang sama. Yang pasti, selalu membuat hati keduanya perih.
Suara tepuk tangan menggemadi sekitar panggung. Para penari berjejer, bergandengan tangan. Lalu membungkukkan badannya. Tirai ditutup.
Di barisan para Wilis, berdiri seorang yang begitu dicintai Ariel. Ya, Dalisha yang sejak babak pertama melirik Ariel seraya tersenyum.
Dua babak pertunjukan balet Giselle selesai sudah. Dalisha yang langsung berganti pakaiannya dengan pakaian santai keluar dari panggung. Dilihatnya Anna yang terlihat telah menunggunya.
“Dalisha, tadi benar-benar bagus!” seru Anna seraya memeluk Dalisha. Dalisha tertawa kecil.
“Aku hanya dipilih untuk para Wilis, Anna,” sergahnya, merendah diri. Dalisha memandang gaun hitam elegan yang dipakai Anna.
“Aku langsung kesini setelah konser itu,” ucapnya santai. Dalisha tersenyum.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu, Anna.” Anna, sahabat kecil Dalisha dan Ariel sekaligus tetangganya. Seorang gadis yang terlahir dalam keluarga pemusik. Kakaknya, seorang violinis yang sedang naik daun. Ayahnya, seorang pianis dan Ibunya adalah violinis, sama seperti kakak laki-lakinya. Anna mengikuti Ayahnya, piano.
Terkadang, Dalisha iri dengan keluarga Anna yang begitu melengkapi dan harmonis.
“Ayo, kita temui Ariel!” seru Anna sambil menarik Dalisha. Dalisha tersenyum menatap rambut panjang Anna yang berkibar.
Terima kasih, Tuhan. Atas keluarga yang Engkau berikan kepadaku. Itu sudah cukup.
“Hai, Ariel!” sapa Anna. Ariel melirik, lalu tersenyum simpul. Melambaikan tangannya kepada Anna. Anna balik tersenyum.
“Oh, ada Anna. Apa kabar, Anna?” tanya Ayah. Anna menjawab kalau ia baik-baik saja. Lalu mengobrol sebentar bersama Ayah. Dalisha menghampiri Ariel.
“Ariel, bagaimana tarianku tadi?” tanya Dalisha. Ariel segera mengambil memo dan penanya.
Bagus. Aku suka.
Dalisha tersenyum. Ia tahu, tarian itu belum bisa membuat Ariel terpukau. Tarian itu belum bisa mengembalikan suara Ariel.
“Jangan sungkan-sungkan kalau ingin berkunjung ke rumah, Anna,” ucap Ayah. Anna tersenyum, lalu mengangguk tanpa bicara sepatah kata pun.
Hatinya selalu menolak bila kakinya menginjak di teras rumah mereka.
Bila ia masuk, hati itu akan luluh. Melihat wajah Ariel yang semakin lama meredup.
—
“Ariel, lihat ini!” pekik Dalisha begitu sampai di rumah. Ariel yang sedang melukis terkejut. Ia melirik selebaran yang telah lusuh digenggam Dalisha.
“Ini pemilihan pemeran utama untuk acara besar itu, Ariel!” pekiknya lagi. Ariel tersenyum, lalu meraih memonya.
Kamu harus ikut, Dalisha.
Tulis Ariel singkat. Dalisha mengangguk.
“Pertunjukan itu sekitar tiga bulan lagi.” Ucap Dalisha. Ariel tersenyum, lalu meraih tangan Dalisha.
Seakan berbicara, jadilah yang terbaik.
Dalisha terkejut. Ia tersenyum, lalu mengangguk. Dalam hati, ia berbatin, demi kamu, Ariel. Semoga saja dengan peran besar itu, suaramu akan kembali, beriringan dengan semangat hidupmu.
Satu bulan kemudian.
Dalisha terus berlatih, mengejar pemilihan itu.
Di antara itu semua, Ariel kerap menatap tarian Dalisha nanar. Menahan hatinya yang terus berkata, Dalisha membutuhkan tarian Ariel sekali lagi.
Dalisha menggerakkan tangannya,
melangkah kesana kemari. Sesekali dikoreksi oleh Miss Mella.
“Tanganmu harus lebih lembut, Dalish. Seperti ini,” kata Miss Mella, lalu mencontohkan. Dalisha menirunya, disambut pujian Miss Mella.
“Cukup untuk hari ini, Dalish. Sampai ketemu besok lagi,” ucapnya, lalu pergi meninggalkan Dalisha. Dalisha melirik jam dinding, lalu menghela napas.
“Sekali lagi.”
Dalisha menari lagi. Sampai pada putaran 32 fouettes. Putaran paling sulit yang dalam tarian swan lake.
Deg.
Dalisha terduduk, lalu tersengal. Tangan kirinya mencengkeram dada kanannya. Ia mengeluh lirih, lalu tergeletak di lantai. Pandangannya semakin kabur. Lalu semuanya gelap.
Ariel tersentak. Kuasnya terjatuh tepat di lantai. Mengotori lantai. Ia segera mengambil kuasnya, dan mengelap cat yang hampir mengering. Ia menatap lukisannya. Entah kenapa, lukisan Dalisha yang sedang menari itu seakan gelap, tertutup cat hitam yang tak bisa dihapus.
Dalisha mengerjapkan matanya. Dilihatnya dokter klinik tempatnya belajar balet. Ia terbangun. Lalu dokter klinik menatapnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Dalisha. Dokter wanita itu menceritakan semuanya. Lalu bertanya pada Dalisha.
“Apakah kamu memiliki riwayat kelainan jantung?”
Dalisha tersentak. Wajahnya memucat, mengingat pernyataan Ibu 10 tahun yang lalu.
“Apakah kamu memiliki riwayat penyakit jantung?”
Dalisha terkejut. Ibu pernah bilang, bahwa jantungnya memiliki kelainan. Yaitu berada di sebelah kanan. Tapi, ia kembali teringat.
“Kamu memiliki jantung yang lemah, Dalish.”
Kalimat yang kembali terucap setelah 10 tahun menghilang dari hidup Dalisha. Ia menggeleng pelan. Tak percaya.
“Sebaiknya kamu memeriksakan pada dokter lain. Menurut pemeriksaan saya, sepertinya hidupmu takkan lebih lama, kecuali bila kamu bergantung pada obat-obatan.”
Tubuh Dalisha seperti disengat listrik jutaan volt. Takkan lebih lama.
Dalisha menangis. Ia tak ingin mengatakannya pada Ayah dan yang lainnya. Cukup ia yang mengetahui kenyataan pahit ini.
Dalisha begitu bersemangat. Hari ini pengumuman pemeran utama, setelah seleksi seminggu yang lalu.
Ia melupakan penyakitnya. Tak ingin bergantung pada obat. Toh, ia akan mati lebih cepat.
Dalisha melangkah memasuki ruang kelas di tempat lesnya. Ia segera meletakkan barang dan ke luar ruangan untuk melihat mading. Langkahnya berirama. Seraya memainkan tangannya, yang mulai merasakan kegugupan yang sama.
Dinding bertempelkan kertas itu mulai mendekat saat kakinya terus melangkah. Dadanya mulai berdentum ria. Membuatnya menjadi nyeri. Sangat nyeri. Rasa itu sangat tidak wajar. Tapi Dalisha sendiri tahu, apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Ia terus melangkah. Sampai sebuah kertas abu-abu yang telah tertempel itu sudah berada tepat di hadapannya.
Pandangannya yang kabur sangat bertolak belakang dengan semangatnya untuk tahu hasil dari pengumuman itu.
“Dalisha, selamat! Kamu berhak untuk melakukan gerakan 32 fouttes di atas panggung konser nanti,” suara seseorang mulai memecah konsentrasinya. Tanpa perantara, Dalisha mengerti apa yang dikatakan seseorang tadi. Ia segera menoleh, melihat Ilmi yang sudah menorehkan senyumannya. Dua lesung pipit itu juga ikut menghiasi senyum cerianya.
Seketika, semua rasa sakit tadi musnah dalam sekedip mata. Ia hanya mengangguk. Walaupun dalam benaknya, terpancar sebuah kebahagiaan.
Sesampainya di rumah …
“Ariel! Aku berhasil!” Dalisha menghempaskan tasnya sembarangan. Berari-lari di ruang tamu mencari Ariel.
“Ariel!” Dalisha langsung meluncur di sofa dimana Ariel berada disitu. “Aku berhasil! Aku berhasil untuk menjadi Odile untuk pentas nanti!” Dalisha berseru-seru kegirangan sambil memeluk Ariel. Ariel lalu menjawab dengan isyarat yang artinya: Selamat Dalisha. Aku akan terus mendukungmu.
“Doakan aku, Ariel. Aku ingin berhasil untuk pentas itu …” Dalisha menggumam dalam pelukannya dengan Ariel.
Untuk suaramu. Untuk suaramu yang sudah hilang ditelan masa lalu itu. Dalisha melanjutkan kalimatnya dalam
benaknya. Butiran itu nyaris menetes. Nyaris sekali mengalir di pipinya.
Dalisha, tolong kembalikan suaraku. Aku tidak akan meminta ibu untuk mengembalikan suaraku ini. Sekarang, hutang itu sudah kuanggap berpindah tangan. Di telapak tanganmu ada janji antara kita berdua. Kamu berhak untuk menggenggamnya disaat kamu mampu. Tolong aku, Dalisha. Benak Ariel mulai menari-nari. Merangkai impian indah yang tidak akan bisa ia capai seorang diri.
Sudah dua minggu dari pengumuman kemarin. Dalisha terus berlatih. Terkadang seorang diri, dan juga bersama para penari lain. Hari penting itu juga sudah ada di depan mata.
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu. Dalisha yang sudah dipoles make-up tipis itu sedang duduk di ruang tunggu belakang panggung. Menjaga tutunya yang mulai terasa risih. Pointe shoes miliknya sudah siap di kakinya. Ia menunggu para penari lain yang sedang dirias.
Tidak lama kemudian mereka sudah siap. Menunggu untuk giliran mereka tampil.
“Dan yang sudah kita tunggu-tunggu, inti dari acara ini. Kita sambut, penampilan balet Swan Lake dari para penari balet muda kita!” suara MC tersebut disusul dengan tepuk tangan meriah. Mereka segera siap di posisi.
Alunan melodi indah mulai mengiringi gerakan para penari. Dalisha terus menari. Ia melihat Ariel yang duduk tenang di bangkunya. Ayah sudah siap dengan handy cam-nya.
Dalisha, kamu pasti bisa! Ubah masa lalu itu! Ayo, kita kembalikan suara Ariel.
Benaknya ikut menari-nari. Merangkai kata-kata pembangkit semangat itu.
Ia terus menari. Sampai gerakan 32 fouettes itu sudah menunggu di depan mata.
Kamu pasti bisa! Lakukan itu dengan semua kemampuanmu!
Alunan itu terasa makin cepat. Dalisha terus mengerahkan seluruh
kemampuannya. Sampai tirai mulai bergerak, menutup panggung dan menutup tarian mereka.
Bruk!
Saat tirai sempurna menutup, tubuh mungil itu terjatuh.
Perasaan apa ini? Segalanya terlihat monoton. Tolong aku, untuk keluar dari perasaan ini! Inilah yang Ariel rasakan. Saat segalanya terlihat monoton.
Sementara di belakang panggung, Dalisha dengan wajah pucatnya sudah terbaring lemas. Seruan-seruan itu terus memanggil. Meneriakkan namanya.
Ariel mulai menyadari, ada yang tidak beres dengan Dalisha. Tanpa perhitungan lagi, ia segera ke luar dari area bangku penonton, menerjang semua petugas, mencari ruangan balet.
Brak!
Ruangan itu terbuka, saat Ariel sudah terengah-engah di depan pintu. Miss Mella menatap Ariel nanar. Ariel adalah anak didiknya dulu.
“Dalish, Dalisha ada disana.” Miss Mella tidak kuasa untuk menjelaskan keadaan Dalisha kepada Ariel. Ia segera memasuki ruangan. Dalisha yang sedang dikelilingi teman-temannya langung ia hampiri. Wajah Dalisha pucat.
“A, Ariel,” Dalisha membuka bibir, menyebut satu kata itu, berkali-kali. Ariel tidak bisa berkata lagi walaupun ia sudah menunggu di sebelah Dalisha. Namun, Dalisha sudah menyadari, Ariel sudah menunggu di sebelahnya.
Dalisha, apa yang terjadi? Apa yang selama ini kamu sembunyikan dari kami?
Ariel mulai panik. Tiba-tiba, lengan Dalisha terulur, meraba tangan Ariel.
“Ariel,” Dalisha mengucapkannya sekali lagi. Wajahnya yang semakin pucat itu tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan untuk terukir.
“Tetaplah menari.” Satu kalimat itu menggetarkan hati Ariel. Dalisha yang tengah dipangku Ariel tersebut seperti menggulingkan kepalanya. Napas Dalisha berakhir disitu.
“Dalisha!” seruan itu sudah lama tak bersua. Pita suara Ariel telah mengatup, tepat saat Tuhan mengambil nyawa Dalisha.
Aku telah berhasil, Tuhan.
Mengembalikan suara Ariel dengan usahaku sendiri.
Cerpen Karangan: Talitha Nathania
Facebook: Talitha Nathania
Instagram: @yuuki.nathan
Wattpad: nayuuchan
“Ibu, ada apa dengan Ariel?” tanya Dalisha perlahan seraya menarik ujung baju Ibu. Tangan kanannya sibuk menunjuk-nunjuk Ariel yang menangis di sudut ruang tamu. Ayah segera memeluk Ariel, membuat Dalisha menghampiri mereka berdua.
“Biarkan, Dalish! Lelaki tak seharusnya belajar balet. Itu akan memalukan keluarga kita. Seharusnya, ia mulai belajar tentang ekonomi…”
“yang akan membuatnya tertekan,” sambung Ayah, membuat Ibu tersentak. Dalisha meraih lembut tangan saudara kembarnya, menggenggamnya kuat. Lalu berbisik pelan di telinganya.
“Genggam yang kuat, Ariel. Agar aku dapat merasakan apa yang sedang kamu rasakan,”
Ariel mengikuti perintah Dalisha. Belum semenit ia menggenggamnya, kepalanya sudah terkulai lemas di pelukan Ayah. Membuat Ayah panik dan Dalisha menangis terkejut. Ibu yang sudah mengemasi barangnya membuka pintu dan membanting pintu kasar.
Biarlah ia pergi. Toh, aku masih memiliki mereka, batin Ayah perih. Lalu mengecup kening Ariel lembut. Menatap wajah Ariel yang pucat.
—
Aku dimana? Tempat ini gelap, sunyi, dan … seperti laut yang sunyi. Hei, kemana suaraku? Kembalikan suaraku!
Dalisha! seru Ariel terbangun. Ia mengernyitkan dahi, lalu membuka mulutnya.
Ayah? Ayah, ada apa ini? Ariel panik. Seberapa kuat ia berteriak, suaranya tak terdengar. Ia menggenggam tangan Dalisha dan menepuk pundak Ayah yang tertidur di ranjangnya.
“Ariel!” seru Dalisha. Ia begitu girang Ariel sudah bangun. Ayah tersenyum lega. Tak dapat berkata-kata.
Ayah, Dalisha, Apa maksudnya ini? ucapnya. Ayah mengernyitkan dahi, lalu mendekati wajah Ariel.
“Ariel, kenapa? Coba panggil Ayah,” ujar Ayah pelan. Lalu melihat Ariel yang tak mengeluarkan suara sama sekali.
Dalisha terdiam. Mengingat kejadian tadi malam. Lantas membuatnya terpaku. Menatap Ariel yang tengah menangis kebingungan.
Suara Ariel hilang. Ibu membawanya pergi.
10 tahun kemudian …
“Ariel, Ayah, lihat gerakan ini!” seru Dalisha kegirangan. Ia memutar sebuah lagu, lalu mulai menari. Gerakannya lebih gemulai dibanding biasanya. Tubuhnya berputar, berjalan kesana kemari. Kalau saja Ariel masih menari, ia akan menarik Ariel dan mengajaknya menari bersama.
Ayah bertepuk tangan, diikuti Ariel yang juga bertepuk tangan. Dalisha menundukkan badannya, lalu terduduk di sofa.
Ariel, kapan lagi kamu bisa menari bersamaku?
Dalisha menghela napas. Ariel menderita sindrom, yang entah disebut apa, yang menyebabkan dirinya kehilangan suaranya sekaligus merebut paksa bakatnya.
Hanya satu impian Dalisha: mengembalikan suara Ariel dan semangat hidupnya untuk bercita-cita.
Dalisha percaya, suara Ariel akan kembali, dengan tarian fantatis darinya.
Pertunjukan balet kecil-kecilan ini dilakukan setiap minggunya, sekaligus untuk latihan. Dalam rangka yang sangat rahasia, yaitu membuat Ariel terpukau.
Ariel duduk di sebelah Dalisha. Dalisha yang menyadarinya, bersandar di bahunya. Sekarang, mereka telah berumur 16 tahun. Dalisha teringat dirinya 12 tahun yang lalu.
“Ayah, aku ingin menjadi balerina!”
Seruan seorang Dalisha kecil yang membuatnya menjadi penari balet sekarang. Dua tahun setelah kalimat itu terucapkan dan terwujudkan, Ariel berhenti menjadi penari balet.
Ibu mematahkan impian besar Ariel:
menari di panggung besar bersama Dalisha. Ibu, yang dulunya adalah balerina, membenci balet. Ayahnya meninggal setelah Ibu menggelar konser tunggalnya.
Setitik, dua titik air matanya membasahi pipinya. Mengalir lembut, jatuh tepat di lengan Ariel. Membuat Ariel meliriknya.
“Dalisha?” Ayah berlutut di hadapan Dalisha. Dalisha menyeka air matanya cepat-cepat, lalu menggeleng.
“Mungkin hanya kelilipan Ayah,” balas Dalisha seraya tertawa renyah. Ariel menghela napas lega. Ayah tersenyum simpul.
Ayah tahu, mengapa Dalisha menangis.
Karena hati Ayah juga merasakan perasaan yang sama. Yang pasti, selalu membuat hati keduanya perih.
Suara tepuk tangan menggemadi sekitar panggung. Para penari berjejer, bergandengan tangan. Lalu membungkukkan badannya. Tirai ditutup.
Di barisan para Wilis, berdiri seorang yang begitu dicintai Ariel. Ya, Dalisha yang sejak babak pertama melirik Ariel seraya tersenyum.
Dua babak pertunjukan balet Giselle selesai sudah. Dalisha yang langsung berganti pakaiannya dengan pakaian santai keluar dari panggung. Dilihatnya Anna yang terlihat telah menunggunya.
“Dalisha, tadi benar-benar bagus!” seru Anna seraya memeluk Dalisha. Dalisha tertawa kecil.
“Aku hanya dipilih untuk para Wilis, Anna,” sergahnya, merendah diri. Dalisha memandang gaun hitam elegan yang dipakai Anna.
“Aku langsung kesini setelah konser itu,” ucapnya santai. Dalisha tersenyum.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu, Anna.” Anna, sahabat kecil Dalisha dan Ariel sekaligus tetangganya. Seorang gadis yang terlahir dalam keluarga pemusik. Kakaknya, seorang violinis yang sedang naik daun. Ayahnya, seorang pianis dan Ibunya adalah violinis, sama seperti kakak laki-lakinya. Anna mengikuti Ayahnya, piano.
Terkadang, Dalisha iri dengan keluarga Anna yang begitu melengkapi dan harmonis.
“Ayo, kita temui Ariel!” seru Anna sambil menarik Dalisha. Dalisha tersenyum menatap rambut panjang Anna yang berkibar.
Terima kasih, Tuhan. Atas keluarga yang Engkau berikan kepadaku. Itu sudah cukup.
“Hai, Ariel!” sapa Anna. Ariel melirik, lalu tersenyum simpul. Melambaikan tangannya kepada Anna. Anna balik tersenyum.
“Oh, ada Anna. Apa kabar, Anna?” tanya Ayah. Anna menjawab kalau ia baik-baik saja. Lalu mengobrol sebentar bersama Ayah. Dalisha menghampiri Ariel.
“Ariel, bagaimana tarianku tadi?” tanya Dalisha. Ariel segera mengambil memo dan penanya.
Bagus. Aku suka.
Dalisha tersenyum. Ia tahu, tarian itu belum bisa membuat Ariel terpukau. Tarian itu belum bisa mengembalikan suara Ariel.
“Jangan sungkan-sungkan kalau ingin berkunjung ke rumah, Anna,” ucap Ayah. Anna tersenyum, lalu mengangguk tanpa bicara sepatah kata pun.
Hatinya selalu menolak bila kakinya menginjak di teras rumah mereka.
Bila ia masuk, hati itu akan luluh. Melihat wajah Ariel yang semakin lama meredup.
—
“Ariel, lihat ini!” pekik Dalisha begitu sampai di rumah. Ariel yang sedang melukis terkejut. Ia melirik selebaran yang telah lusuh digenggam Dalisha.
“Ini pemilihan pemeran utama untuk acara besar itu, Ariel!” pekiknya lagi. Ariel tersenyum, lalu meraih memonya.
Kamu harus ikut, Dalisha.
Tulis Ariel singkat. Dalisha mengangguk.
“Pertunjukan itu sekitar tiga bulan lagi.” Ucap Dalisha. Ariel tersenyum, lalu meraih tangan Dalisha.
Seakan berbicara, jadilah yang terbaik.
Dalisha terkejut. Ia tersenyum, lalu mengangguk. Dalam hati, ia berbatin, demi kamu, Ariel. Semoga saja dengan peran besar itu, suaramu akan kembali, beriringan dengan semangat hidupmu.
Satu bulan kemudian.
Dalisha terus berlatih, mengejar pemilihan itu.
Di antara itu semua, Ariel kerap menatap tarian Dalisha nanar. Menahan hatinya yang terus berkata, Dalisha membutuhkan tarian Ariel sekali lagi.
Dalisha menggerakkan tangannya,
melangkah kesana kemari. Sesekali dikoreksi oleh Miss Mella.
“Tanganmu harus lebih lembut, Dalish. Seperti ini,” kata Miss Mella, lalu mencontohkan. Dalisha menirunya, disambut pujian Miss Mella.
“Cukup untuk hari ini, Dalish. Sampai ketemu besok lagi,” ucapnya, lalu pergi meninggalkan Dalisha. Dalisha melirik jam dinding, lalu menghela napas.
“Sekali lagi.”
Dalisha menari lagi. Sampai pada putaran 32 fouettes. Putaran paling sulit yang dalam tarian swan lake.
Deg.
Dalisha terduduk, lalu tersengal. Tangan kirinya mencengkeram dada kanannya. Ia mengeluh lirih, lalu tergeletak di lantai. Pandangannya semakin kabur. Lalu semuanya gelap.
Ariel tersentak. Kuasnya terjatuh tepat di lantai. Mengotori lantai. Ia segera mengambil kuasnya, dan mengelap cat yang hampir mengering. Ia menatap lukisannya. Entah kenapa, lukisan Dalisha yang sedang menari itu seakan gelap, tertutup cat hitam yang tak bisa dihapus.
Dalisha mengerjapkan matanya. Dilihatnya dokter klinik tempatnya belajar balet. Ia terbangun. Lalu dokter klinik menatapnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Dalisha. Dokter wanita itu menceritakan semuanya. Lalu bertanya pada Dalisha.
“Apakah kamu memiliki riwayat kelainan jantung?”
Dalisha tersentak. Wajahnya memucat, mengingat pernyataan Ibu 10 tahun yang lalu.
“Apakah kamu memiliki riwayat penyakit jantung?”
Dalisha terkejut. Ibu pernah bilang, bahwa jantungnya memiliki kelainan. Yaitu berada di sebelah kanan. Tapi, ia kembali teringat.
“Kamu memiliki jantung yang lemah, Dalish.”
Kalimat yang kembali terucap setelah 10 tahun menghilang dari hidup Dalisha. Ia menggeleng pelan. Tak percaya.
“Sebaiknya kamu memeriksakan pada dokter lain. Menurut pemeriksaan saya, sepertinya hidupmu takkan lebih lama, kecuali bila kamu bergantung pada obat-obatan.”
Tubuh Dalisha seperti disengat listrik jutaan volt. Takkan lebih lama.
Dalisha menangis. Ia tak ingin mengatakannya pada Ayah dan yang lainnya. Cukup ia yang mengetahui kenyataan pahit ini.
Dalisha begitu bersemangat. Hari ini pengumuman pemeran utama, setelah seleksi seminggu yang lalu.
Ia melupakan penyakitnya. Tak ingin bergantung pada obat. Toh, ia akan mati lebih cepat.
Dalisha melangkah memasuki ruang kelas di tempat lesnya. Ia segera meletakkan barang dan ke luar ruangan untuk melihat mading. Langkahnya berirama. Seraya memainkan tangannya, yang mulai merasakan kegugupan yang sama.
Dinding bertempelkan kertas itu mulai mendekat saat kakinya terus melangkah. Dadanya mulai berdentum ria. Membuatnya menjadi nyeri. Sangat nyeri. Rasa itu sangat tidak wajar. Tapi Dalisha sendiri tahu, apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
Ia terus melangkah. Sampai sebuah kertas abu-abu yang telah tertempel itu sudah berada tepat di hadapannya.
Pandangannya yang kabur sangat bertolak belakang dengan semangatnya untuk tahu hasil dari pengumuman itu.
“Dalisha, selamat! Kamu berhak untuk melakukan gerakan 32 fouttes di atas panggung konser nanti,” suara seseorang mulai memecah konsentrasinya. Tanpa perantara, Dalisha mengerti apa yang dikatakan seseorang tadi. Ia segera menoleh, melihat Ilmi yang sudah menorehkan senyumannya. Dua lesung pipit itu juga ikut menghiasi senyum cerianya.
Seketika, semua rasa sakit tadi musnah dalam sekedip mata. Ia hanya mengangguk. Walaupun dalam benaknya, terpancar sebuah kebahagiaan.
Sesampainya di rumah …
“Ariel! Aku berhasil!” Dalisha menghempaskan tasnya sembarangan. Berari-lari di ruang tamu mencari Ariel.
“Ariel!” Dalisha langsung meluncur di sofa dimana Ariel berada disitu. “Aku berhasil! Aku berhasil untuk menjadi Odile untuk pentas nanti!” Dalisha berseru-seru kegirangan sambil memeluk Ariel. Ariel lalu menjawab dengan isyarat yang artinya: Selamat Dalisha. Aku akan terus mendukungmu.
“Doakan aku, Ariel. Aku ingin berhasil untuk pentas itu …” Dalisha menggumam dalam pelukannya dengan Ariel.
Untuk suaramu. Untuk suaramu yang sudah hilang ditelan masa lalu itu. Dalisha melanjutkan kalimatnya dalam
benaknya. Butiran itu nyaris menetes. Nyaris sekali mengalir di pipinya.
Dalisha, tolong kembalikan suaraku. Aku tidak akan meminta ibu untuk mengembalikan suaraku ini. Sekarang, hutang itu sudah kuanggap berpindah tangan. Di telapak tanganmu ada janji antara kita berdua. Kamu berhak untuk menggenggamnya disaat kamu mampu. Tolong aku, Dalisha. Benak Ariel mulai menari-nari. Merangkai impian indah yang tidak akan bisa ia capai seorang diri.
Sudah dua minggu dari pengumuman kemarin. Dalisha terus berlatih. Terkadang seorang diri, dan juga bersama para penari lain. Hari penting itu juga sudah ada di depan mata.
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu. Dalisha yang sudah dipoles make-up tipis itu sedang duduk di ruang tunggu belakang panggung. Menjaga tutunya yang mulai terasa risih. Pointe shoes miliknya sudah siap di kakinya. Ia menunggu para penari lain yang sedang dirias.
Tidak lama kemudian mereka sudah siap. Menunggu untuk giliran mereka tampil.
“Dan yang sudah kita tunggu-tunggu, inti dari acara ini. Kita sambut, penampilan balet Swan Lake dari para penari balet muda kita!” suara MC tersebut disusul dengan tepuk tangan meriah. Mereka segera siap di posisi.
Alunan melodi indah mulai mengiringi gerakan para penari. Dalisha terus menari. Ia melihat Ariel yang duduk tenang di bangkunya. Ayah sudah siap dengan handy cam-nya.
Dalisha, kamu pasti bisa! Ubah masa lalu itu! Ayo, kita kembalikan suara Ariel.
Benaknya ikut menari-nari. Merangkai kata-kata pembangkit semangat itu.
Ia terus menari. Sampai gerakan 32 fouettes itu sudah menunggu di depan mata.
Kamu pasti bisa! Lakukan itu dengan semua kemampuanmu!
Alunan itu terasa makin cepat. Dalisha terus mengerahkan seluruh
kemampuannya. Sampai tirai mulai bergerak, menutup panggung dan menutup tarian mereka.
Bruk!
Saat tirai sempurna menutup, tubuh mungil itu terjatuh.
Perasaan apa ini? Segalanya terlihat monoton. Tolong aku, untuk keluar dari perasaan ini! Inilah yang Ariel rasakan. Saat segalanya terlihat monoton.
Sementara di belakang panggung, Dalisha dengan wajah pucatnya sudah terbaring lemas. Seruan-seruan itu terus memanggil. Meneriakkan namanya.
Ariel mulai menyadari, ada yang tidak beres dengan Dalisha. Tanpa perhitungan lagi, ia segera ke luar dari area bangku penonton, menerjang semua petugas, mencari ruangan balet.
Brak!
Ruangan itu terbuka, saat Ariel sudah terengah-engah di depan pintu. Miss Mella menatap Ariel nanar. Ariel adalah anak didiknya dulu.
“Dalish, Dalisha ada disana.” Miss Mella tidak kuasa untuk menjelaskan keadaan Dalisha kepada Ariel. Ia segera memasuki ruangan. Dalisha yang sedang dikelilingi teman-temannya langung ia hampiri. Wajah Dalisha pucat.
“A, Ariel,” Dalisha membuka bibir, menyebut satu kata itu, berkali-kali. Ariel tidak bisa berkata lagi walaupun ia sudah menunggu di sebelah Dalisha. Namun, Dalisha sudah menyadari, Ariel sudah menunggu di sebelahnya.
Dalisha, apa yang terjadi? Apa yang selama ini kamu sembunyikan dari kami?
Ariel mulai panik. Tiba-tiba, lengan Dalisha terulur, meraba tangan Ariel.
“Ariel,” Dalisha mengucapkannya sekali lagi. Wajahnya yang semakin pucat itu tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan untuk terukir.
“Tetaplah menari.” Satu kalimat itu menggetarkan hati Ariel. Dalisha yang tengah dipangku Ariel tersebut seperti menggulingkan kepalanya. Napas Dalisha berakhir disitu.
“Dalisha!” seruan itu sudah lama tak bersua. Pita suara Ariel telah mengatup, tepat saat Tuhan mengambil nyawa Dalisha.
Aku telah berhasil, Tuhan.
Mengembalikan suara Ariel dengan usahaku sendiri.
Cerpen Karangan: Talitha Nathania
Facebook: Talitha Nathania
Instagram: @yuuki.nathan
Wattpad: nayuuchan
Speak Your Dream
4/
5
Oleh
Unknown
