Judul Cerpen Hujan Mempertemukanku Dengannya
Gemercik-gemercik air mulai membangunkanku dari mimpi tentangmu, sesaat kupandangi jendela yang dipenuhi embun di pagi ini. Musim hujan tahun ini mengingatkanku tentang dirinya.
Kembali teringat 1 tahun yang lalu ketika hujan mempertemukan diriku dan dirinya di tempat itu.
Ketika aku ke luar dari toko buku wajahku langsung berseri-seri mengapa tidak? Cuaca yang tadinya cerah kini sekarang hujan telah membasahi bumi Allah. Wah… betapa bahagianya.
Perlahan kuulurkan tanganku ke luar dan tetesan air menyentuhnya dengan lembut, kupejamkan mataku dan perlahan menikmati sentuhan air dan hembusan angin yang menerpa wajah mungilku.
Ya, aku menyukai hujan bahkan sangat menyukainya, kesejukan yang diberikan sangat membuatku tenang.
Ketika aku sedang menikmati terpaan-terpaan tiba-tiba suara asing di sampingku memasuki rongga telingaku.
“Kau menyukai hujan?” ya, dia adalah orang yang pertama menanyakan hal itu kepadaku. Aku lalu membuka mataku dan menoleh kepadanya
“Hmm…” jawabku mengagguk semangat sambil tersenyum.
Pemuda yang sekarang berdiri di sampingku dengan tatapan datar masih menatapku dengan intens. Wajah yang sangat teduh. Aku mendongak menatapnya wah dia tinggi, memperhatikan setiap inci wajahnya yang benar-benar membuatku terpesona. Tiba-tiba kesadaranku kembali, aku lalu menatap ke depan lagi.
Sepertinya dia masih menatapku dan itu membuatku tidak nyaman, aku lalu menoleh kepadanya masih dengan wajah yang tersenyum.
“Ada apa?”
Dia lalu tersenyum dan berkata “Tidak apa-apa. Kamu lucu” dia menatap ke depan lagi. Lagi-lagi aku terpesona melihat senyumnya. Aku hanya balas tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku lucu?” gumamku sambil menahan tawa.
Hening di antara kami, hanya suara hujan yang bergantian jatuh ke tanah dan perlahan meninggalkan bekas.
“Kenapa kau menyukainya?” tanyanya memecahkan keheningan
“Hmm..?”
“Mengapa kau menyukai hujan?” tanyanya lagi
“Apa menyukai sesuatu harus beralasan? Menurutku selama itu menenangkan hati kita berhak menyukainya. Dan lagi-lagi dia tersenyum sampai senyum itu menjadi tawa. Aku mengerutkan keningku bingung.
“Kau kenapa?”
“Kau sudah menjawabnya”
“Menjawab apa?” tanyaku lebih bingung
“Menjawab mengapa kau menyukai hujan. Karena hujan itu menenangkan hatimu. Menyukai, membenci dan mencintai semua butuh alasan, hidup di dunia ini pun mempunya alasan”
“Hehehe..” aku hanya menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
Semua yang dikatakannya benar, beginilah efek dari novel. Kehidupan novel kubawa ke kehidupan nyata.
“Kau pasti menyukai novel kan?”
“Kau tahu?”
“Karena kata-kata itu hanya ada dalam novel”
“Hehehehe.. kau benar”
Dan tanpa kami sadari ternyata hujan mulai reda, aku lalu pamit pergi.
“Sepertinya hujan sudah berhenti, aku pergi dulu terima kasih telah mengajakku berbicara. Assalamu alaikum”
“Iya, waalaikum salam”
Ya, itulah pertamuan pertamaku dengannya. Setelah pertemuan itu, aku sama sekali tidak memikirkannya dan berharap untuk bertemu lagi. Tapi, siapa yang sangka lagi-lagi takdir hujan mempertemukanku lagi.
Setelah melaksanakn shalat dhuhur aku lalu ke luar dari masjid dan ternyata hujan turun lagi, aku lalu duduk di teras masjid dan mengambil kamera, sesekali suara shutter terdengar.
“Kita bertemu lagi” suara itu kembali terdengar dan aku menoleh, benar tepat di sampingku pemuda itu duduk.
“Ya, kita bertemu lagi”
“Kau sedang apa?”
“Hanya mengambil beberapa gambar. Kau tinggal di daerah disini?”
“Iya, kemarin aku dan keluargaku pindah ke sini”
“Owh…” aku hanya ber-oh-ria.
“Kamu sendiri tinggal di sini?”
“Iya, rumahku ada di depan sana. Oya, apa kau juga menyukai hujan?”
“Tidak, kenapa?”
“Tidak apa-apa. Kenapa kau tidak menyukainya?”
“Karena kebanyakan orang tidak menyukainya”
“Hanya itu?”
Dia hanya mengangguk. Ya, begitulah kebanyakan orang tidak menyukai hujan sebab hujan itu hanya menghambat aktivitas mereka. tiba-tiba saja pikiranku menjadi aneh aku lalu berkata.
“Mau berteman denganku? Maka kau akan menyukai hujan. Percayalah” dia hanya tersenyum menanggapi perkataanku itu. Aku kembali berkata
“Aku serius”
“Kamu yakin, aku bisa menyukai hujan jika aku berteman denganmu?”. Dengan percaya diri aku mengagguk tanda mengiyakan.
“Baiklah, kita berteman. Nama kamu siapa?”
“Namaku Mufidatul Azmi, kau bisa memanggilku Ami. Kamu sendiri?”
“Aku Aksa. Apa aku bisa memanggilmu Fida?”
“Hmm… boleh. Kalau begitu aku permisi dulu” jawabku buru-buru setelah melihat jam ternyata sudah pukul 02.30.
Dan hari ini hari pertama sekolah kembali setelah libur selama 2 minggu. Dan semakin dekat pula Ujian Nasional dan perpisahan dengan teman-teman.
Ya, begitulah, setiapa ada pertemuan pasti ada perpisahan saya percaya itu sebab di dunia ini semua mempunyai pasangan semuanya harus timbal balik.
“Hy, Rain.. bagaimana liburannya?”
“Hmm.. biasa saja. Wah, kau sedikit berubah Dini”
Ya, Andini Nurul Qalbi, sahabat yang paling cerewet dan paling tren di antara kami semua, dia tak pernah ketinggalan informasi termasuk hal yang sangat kecil, entah bagaimana cara dia mendapatkan informasi semua itu dan tak lupa dia sangat kepo terhadap sesuatu.
“Rain, kau tahu? Hari ini kita kedatangan siswa baru”
“Oya, kelas sini?”
“Iya, dan dia laki-laki” jawabnya girang
“Hehehe.. santai saja”
Aku lalu mengeluarkan buku pelajaran hari ini tapi tiba-tiba
“Rain, Dini apa kabar?”
“Baik, siapa?”
Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengenal suaranya, suaranya seperti…
“Haidir?” teriak Dini tak percaya
“Wah, kalian ini baru 2 minggu tidak bertemu sudah lupa dengan wajahku”
“Kau benar Haidir? Wow, ini benar-benar tak bisa dipercaya Ami”
“Kau benar Din, dia sangat berubah” aku benar-benar melongo tak percaya melihat perubahan Haidir.
Mengapa tidak? Penampilan yang dulunya acak-acakan, rambut gondrong sekarang benar-benar keren. Apa dia sudah insyaf? Haidir ini juga salah satu sahabatku, selama 3 tahun ini. Kompak aku dan Din mengacungkan jempol kepadanya.
Haidir kemudian menuju bangkunya tepat di belakang kami. Mata kami masih saja mengikuti setiap gerakan Haidir dengan tatapan tak percaya.
“Yak… apa kalian tidak akan berhenti menatapku seperti itu?” tanya Haidir mulai geram.
“Wah, Rain dia benar-benar Haidir, lihatlah ketika dia kesal”
“Kau benar”
Ketika kami masih serius menatap Haidir, ternyata wali kelas kami sudah datang, kami tak mengetahuinya sampai dia menegur kami.
“Andini, Mufida! Apa yang sedang kau lakukan?”
Sontak kami menghadap kedepan lagi dengan perasaan kaget.
“Siapa dia? Dia murid baru juga?”
Aku tidak mengubris perkataan wali aku hanya terdiam melihat siapa di dekat ibu Anti itu,
“Aksa?” gumamku tak percaya
“Dia masih kelas XII? Wow, ternyata aku seumuran dengannya” gumamku lagi
Aksa pun hanya melihatku saja, sama seperti aku melihatnya. Tiba-tiba suara Dini menghentikan tatapan kami
“Dia Haidir bu. Apa ibu juga tidak mengenalinya?”
“Haidir? Haidir yang itu?”
“Iya bu”
Dan ternyata ibu Anti juga tidak mengenali dirinya. Haidir hanya bisa diam dan memperhatikan semua yang terjadi karena ulahnya.
“Ah, sudahlah, dia memang aneh. Baiklah anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu”
“Perkenalkan nama saya Muhammad Aksa saya pindahan dari SMA Negeri 2 Makassar”
“Baik, silahkan kau duduk di dekat Haidir tapi hati-hati ketularan keanehannya”
Sontak kelas itu menjadi bising. Wali kelas kami memang seperti itu, sangat mudah bercanda dengan kita dan itu alasannya kami menyukainya. Aksa lalu menuju bangku Haidir. Ya, tepat di belakangku.
Dan sepertinya banyak teman wanitaku yang tertarik dengannya termasuk Andini sendiri.
“Hay, Aksa. Nama saya Andini Nurul Qalbi. Kau bisa memanggilku Dini.”
“Aksa” jawabnya sambil tersenyum.
Dini lalu menghadap ke depan lagi lalu mendekat kepadaku.
“Kau tidak ingin kenalan?”. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
Pelajara pertama pun dimulai.
—
“Rain, Dir ayo ke kantin” ajak Dini ketika istrahat
“Ayo, Aksa mau ikut?” tanya Haidir kepadanya
“Boleh”
Kami berempat pun lalu menuju kantin dan memesan 4 mangkok mie. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang-bincang mengenai banyak hal.
“Oya, kalian berduaka kan belum kenalan dari tadi” kata Dini
“Aku sudah mengenalnya” jawab Aksa langsung
“Benarkah Rain?”
“Hmm…” aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Dan ternyata kekepoan seorang Andini mulai lagi
“Dimana? Kapan? Apa sudah lama? Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Jawab mulai dari mana?” tanya Aksa
“Tidak usah dijawab, dia memang seperti itu”
“Benarkah?. Oya, kenapa kalian memanggilnya Rain? Padahal namanya Mufidatul Azmi”.
“Owh, begini…” Dia langsung menjelaskannya tanpa bernafas.
“Dia itu menyukai hujan. Bahkan sangat menyukai, ketika turun hujan semua yang sedang ia kerjakan langsung dia hentikan kecuali shalat. Semua yang ada di dekatnya dia anggap sebagai benda mati. Dia tidak akan mempedulikan kita. Dia hanya diam menikmati setiap suara tetesan-tetesan air hujan dan akhirnya kami berdua pun menyukai hujan.” Begitulah dia menjelaskannya sampai mienya sudah mengembang dingin.
“sudahlah, ayo makan. 5 menit lagi kita masuk”
“Astaga, mengapa kau baru mengatakannya… haish”
Setelah penjelasan Dini, Aksa lalu melihatku sekilas lalu melanjutkan makanannya. Sepertinya dia mulai percaya dengan perkataanku waktu itu.
Sepulang sekolah ternyata hujan mendatangi bumi lagi, setiap tetesan yang dia teteskan pada tanah ataupun atap rumah membuat hatiku tenang, apalagi ketika diselingi dengan hembusan angin yang membawa setiap masalahku pergi.
“Kau jangan ganggu dia” bisik Dir kepada Aksa tapi aku masih tetap mendengarnya. Aku menoleh kepada mereka berdua dan ternyata Aksa sedang menatapku sedangkan Dir sepertinya juga menikmati hujan saat ini.
Aku tersenyum lalu berkata “jangan lihat aku, lihat di depan sana, dan rasakan bagaimana perasaanmu”
Sebulan setelah aku berteman dengannya, sepertinya dia benar-benar telah menyukai hujan.
“Rain, kau benar-benar mudah mempengaruhi seseorang”
“Hahaha.. bagaimana? Kau telah menyukainya? Aku kan sudah bilang aku akan membuatmu menyukai hujan. Bahkan mungkin aku bisa membuatmu menyukaiku. Hahahaha…”
Sekali lagi aku katakan bahwa hujan itu adalah sebuah Anugerah, dan ketika hujan sedang turun disitulah Rahmat Allah sangat banyak. Dan salah satu waktu dikabulkannya do’a kita adalah saat turun hujan. maka mengapa banyak orang yang membenci hujan?
Cerpen Karangan: Adibah Y2R
Blog: catatanxyz.blogspot.com
Gemercik-gemercik air mulai membangunkanku dari mimpi tentangmu, sesaat kupandangi jendela yang dipenuhi embun di pagi ini. Musim hujan tahun ini mengingatkanku tentang dirinya.
Kembali teringat 1 tahun yang lalu ketika hujan mempertemukan diriku dan dirinya di tempat itu.
Ketika aku ke luar dari toko buku wajahku langsung berseri-seri mengapa tidak? Cuaca yang tadinya cerah kini sekarang hujan telah membasahi bumi Allah. Wah… betapa bahagianya.
Perlahan kuulurkan tanganku ke luar dan tetesan air menyentuhnya dengan lembut, kupejamkan mataku dan perlahan menikmati sentuhan air dan hembusan angin yang menerpa wajah mungilku.
Ya, aku menyukai hujan bahkan sangat menyukainya, kesejukan yang diberikan sangat membuatku tenang.
Ketika aku sedang menikmati terpaan-terpaan tiba-tiba suara asing di sampingku memasuki rongga telingaku.
“Kau menyukai hujan?” ya, dia adalah orang yang pertama menanyakan hal itu kepadaku. Aku lalu membuka mataku dan menoleh kepadanya
“Hmm…” jawabku mengagguk semangat sambil tersenyum.
Pemuda yang sekarang berdiri di sampingku dengan tatapan datar masih menatapku dengan intens. Wajah yang sangat teduh. Aku mendongak menatapnya wah dia tinggi, memperhatikan setiap inci wajahnya yang benar-benar membuatku terpesona. Tiba-tiba kesadaranku kembali, aku lalu menatap ke depan lagi.
Sepertinya dia masih menatapku dan itu membuatku tidak nyaman, aku lalu menoleh kepadanya masih dengan wajah yang tersenyum.
“Ada apa?”
Dia lalu tersenyum dan berkata “Tidak apa-apa. Kamu lucu” dia menatap ke depan lagi. Lagi-lagi aku terpesona melihat senyumnya. Aku hanya balas tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku lucu?” gumamku sambil menahan tawa.
Hening di antara kami, hanya suara hujan yang bergantian jatuh ke tanah dan perlahan meninggalkan bekas.
“Kenapa kau menyukainya?” tanyanya memecahkan keheningan
“Hmm..?”
“Mengapa kau menyukai hujan?” tanyanya lagi
“Apa menyukai sesuatu harus beralasan? Menurutku selama itu menenangkan hati kita berhak menyukainya. Dan lagi-lagi dia tersenyum sampai senyum itu menjadi tawa. Aku mengerutkan keningku bingung.
“Kau kenapa?”
“Kau sudah menjawabnya”
“Menjawab apa?” tanyaku lebih bingung
“Menjawab mengapa kau menyukai hujan. Karena hujan itu menenangkan hatimu. Menyukai, membenci dan mencintai semua butuh alasan, hidup di dunia ini pun mempunya alasan”
“Hehehe..” aku hanya menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
Semua yang dikatakannya benar, beginilah efek dari novel. Kehidupan novel kubawa ke kehidupan nyata.
“Kau pasti menyukai novel kan?”
“Kau tahu?”
“Karena kata-kata itu hanya ada dalam novel”
“Hehehehe.. kau benar”
Dan tanpa kami sadari ternyata hujan mulai reda, aku lalu pamit pergi.
“Sepertinya hujan sudah berhenti, aku pergi dulu terima kasih telah mengajakku berbicara. Assalamu alaikum”
“Iya, waalaikum salam”
Ya, itulah pertamuan pertamaku dengannya. Setelah pertemuan itu, aku sama sekali tidak memikirkannya dan berharap untuk bertemu lagi. Tapi, siapa yang sangka lagi-lagi takdir hujan mempertemukanku lagi.
Setelah melaksanakn shalat dhuhur aku lalu ke luar dari masjid dan ternyata hujan turun lagi, aku lalu duduk di teras masjid dan mengambil kamera, sesekali suara shutter terdengar.
“Kita bertemu lagi” suara itu kembali terdengar dan aku menoleh, benar tepat di sampingku pemuda itu duduk.
“Ya, kita bertemu lagi”
“Kau sedang apa?”
“Hanya mengambil beberapa gambar. Kau tinggal di daerah disini?”
“Iya, kemarin aku dan keluargaku pindah ke sini”
“Owh…” aku hanya ber-oh-ria.
“Kamu sendiri tinggal di sini?”
“Iya, rumahku ada di depan sana. Oya, apa kau juga menyukai hujan?”
“Tidak, kenapa?”
“Tidak apa-apa. Kenapa kau tidak menyukainya?”
“Karena kebanyakan orang tidak menyukainya”
“Hanya itu?”
Dia hanya mengangguk. Ya, begitulah kebanyakan orang tidak menyukai hujan sebab hujan itu hanya menghambat aktivitas mereka. tiba-tiba saja pikiranku menjadi aneh aku lalu berkata.
“Mau berteman denganku? Maka kau akan menyukai hujan. Percayalah” dia hanya tersenyum menanggapi perkataanku itu. Aku kembali berkata
“Aku serius”
“Kamu yakin, aku bisa menyukai hujan jika aku berteman denganmu?”. Dengan percaya diri aku mengagguk tanda mengiyakan.
“Baiklah, kita berteman. Nama kamu siapa?”
“Namaku Mufidatul Azmi, kau bisa memanggilku Ami. Kamu sendiri?”
“Aku Aksa. Apa aku bisa memanggilmu Fida?”
“Hmm… boleh. Kalau begitu aku permisi dulu” jawabku buru-buru setelah melihat jam ternyata sudah pukul 02.30.
Dan hari ini hari pertama sekolah kembali setelah libur selama 2 minggu. Dan semakin dekat pula Ujian Nasional dan perpisahan dengan teman-teman.
Ya, begitulah, setiapa ada pertemuan pasti ada perpisahan saya percaya itu sebab di dunia ini semua mempunyai pasangan semuanya harus timbal balik.
“Hy, Rain.. bagaimana liburannya?”
“Hmm.. biasa saja. Wah, kau sedikit berubah Dini”
Ya, Andini Nurul Qalbi, sahabat yang paling cerewet dan paling tren di antara kami semua, dia tak pernah ketinggalan informasi termasuk hal yang sangat kecil, entah bagaimana cara dia mendapatkan informasi semua itu dan tak lupa dia sangat kepo terhadap sesuatu.
“Rain, kau tahu? Hari ini kita kedatangan siswa baru”
“Oya, kelas sini?”
“Iya, dan dia laki-laki” jawabnya girang
“Hehehe.. santai saja”
Aku lalu mengeluarkan buku pelajaran hari ini tapi tiba-tiba
“Rain, Dini apa kabar?”
“Baik, siapa?”
Aku tidak tau dia siapa tapi aku mengenal suaranya, suaranya seperti…
“Haidir?” teriak Dini tak percaya
“Wah, kalian ini baru 2 minggu tidak bertemu sudah lupa dengan wajahku”
“Kau benar Haidir? Wow, ini benar-benar tak bisa dipercaya Ami”
“Kau benar Din, dia sangat berubah” aku benar-benar melongo tak percaya melihat perubahan Haidir.
Mengapa tidak? Penampilan yang dulunya acak-acakan, rambut gondrong sekarang benar-benar keren. Apa dia sudah insyaf? Haidir ini juga salah satu sahabatku, selama 3 tahun ini. Kompak aku dan Din mengacungkan jempol kepadanya.
Haidir kemudian menuju bangkunya tepat di belakang kami. Mata kami masih saja mengikuti setiap gerakan Haidir dengan tatapan tak percaya.
“Yak… apa kalian tidak akan berhenti menatapku seperti itu?” tanya Haidir mulai geram.
“Wah, Rain dia benar-benar Haidir, lihatlah ketika dia kesal”
“Kau benar”
Ketika kami masih serius menatap Haidir, ternyata wali kelas kami sudah datang, kami tak mengetahuinya sampai dia menegur kami.
“Andini, Mufida! Apa yang sedang kau lakukan?”
Sontak kami menghadap kedepan lagi dengan perasaan kaget.
“Siapa dia? Dia murid baru juga?”
Aku tidak mengubris perkataan wali aku hanya terdiam melihat siapa di dekat ibu Anti itu,
“Aksa?” gumamku tak percaya
“Dia masih kelas XII? Wow, ternyata aku seumuran dengannya” gumamku lagi
Aksa pun hanya melihatku saja, sama seperti aku melihatnya. Tiba-tiba suara Dini menghentikan tatapan kami
“Dia Haidir bu. Apa ibu juga tidak mengenalinya?”
“Haidir? Haidir yang itu?”
“Iya bu”
Dan ternyata ibu Anti juga tidak mengenali dirinya. Haidir hanya bisa diam dan memperhatikan semua yang terjadi karena ulahnya.
“Ah, sudahlah, dia memang aneh. Baiklah anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu”
“Perkenalkan nama saya Muhammad Aksa saya pindahan dari SMA Negeri 2 Makassar”
“Baik, silahkan kau duduk di dekat Haidir tapi hati-hati ketularan keanehannya”
Sontak kelas itu menjadi bising. Wali kelas kami memang seperti itu, sangat mudah bercanda dengan kita dan itu alasannya kami menyukainya. Aksa lalu menuju bangku Haidir. Ya, tepat di belakangku.
Dan sepertinya banyak teman wanitaku yang tertarik dengannya termasuk Andini sendiri.
“Hay, Aksa. Nama saya Andini Nurul Qalbi. Kau bisa memanggilku Dini.”
“Aksa” jawabnya sambil tersenyum.
Dini lalu menghadap ke depan lagi lalu mendekat kepadaku.
“Kau tidak ingin kenalan?”. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
Pelajara pertama pun dimulai.
—
“Rain, Dir ayo ke kantin” ajak Dini ketika istrahat
“Ayo, Aksa mau ikut?” tanya Haidir kepadanya
“Boleh”
Kami berempat pun lalu menuju kantin dan memesan 4 mangkok mie. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang-bincang mengenai banyak hal.
“Oya, kalian berduaka kan belum kenalan dari tadi” kata Dini
“Aku sudah mengenalnya” jawab Aksa langsung
“Benarkah Rain?”
“Hmm…” aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Dan ternyata kekepoan seorang Andini mulai lagi
“Dimana? Kapan? Apa sudah lama? Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Jawab mulai dari mana?” tanya Aksa
“Tidak usah dijawab, dia memang seperti itu”
“Benarkah?. Oya, kenapa kalian memanggilnya Rain? Padahal namanya Mufidatul Azmi”.
“Owh, begini…” Dia langsung menjelaskannya tanpa bernafas.
“Dia itu menyukai hujan. Bahkan sangat menyukai, ketika turun hujan semua yang sedang ia kerjakan langsung dia hentikan kecuali shalat. Semua yang ada di dekatnya dia anggap sebagai benda mati. Dia tidak akan mempedulikan kita. Dia hanya diam menikmati setiap suara tetesan-tetesan air hujan dan akhirnya kami berdua pun menyukai hujan.” Begitulah dia menjelaskannya sampai mienya sudah mengembang dingin.
“sudahlah, ayo makan. 5 menit lagi kita masuk”
“Astaga, mengapa kau baru mengatakannya… haish”
Setelah penjelasan Dini, Aksa lalu melihatku sekilas lalu melanjutkan makanannya. Sepertinya dia mulai percaya dengan perkataanku waktu itu.
Sepulang sekolah ternyata hujan mendatangi bumi lagi, setiap tetesan yang dia teteskan pada tanah ataupun atap rumah membuat hatiku tenang, apalagi ketika diselingi dengan hembusan angin yang membawa setiap masalahku pergi.
“Kau jangan ganggu dia” bisik Dir kepada Aksa tapi aku masih tetap mendengarnya. Aku menoleh kepada mereka berdua dan ternyata Aksa sedang menatapku sedangkan Dir sepertinya juga menikmati hujan saat ini.
Aku tersenyum lalu berkata “jangan lihat aku, lihat di depan sana, dan rasakan bagaimana perasaanmu”
Sebulan setelah aku berteman dengannya, sepertinya dia benar-benar telah menyukai hujan.
“Rain, kau benar-benar mudah mempengaruhi seseorang”
“Hahaha.. bagaimana? Kau telah menyukainya? Aku kan sudah bilang aku akan membuatmu menyukai hujan. Bahkan mungkin aku bisa membuatmu menyukaiku. Hahahaha…”
Sekali lagi aku katakan bahwa hujan itu adalah sebuah Anugerah, dan ketika hujan sedang turun disitulah Rahmat Allah sangat banyak. Dan salah satu waktu dikabulkannya do’a kita adalah saat turun hujan. maka mengapa banyak orang yang membenci hujan?
Cerpen Karangan: Adibah Y2R
Blog: catatanxyz.blogspot.com
Hujan Mempertemukanku Dengannya
4/
5
Oleh
Unknown
