Showing posts with label Cerpen Petualangan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Petualangan. Show all posts
Kau dan Pendakianku

Kau dan Pendakianku

Judul Cerpen Kau dan Pendakianku

Pagi ini aku sudah siap dengan semua peralatan, perlengkapan pribadi serta logistik di dalam ransel seberat 40 liter. Sepatu bertali serta jaket anti air pun tak lupa ku bawa. Hari yang kutunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Setelah sekian lama, menantikannya barulah sekarang akan kesampaian.

Ya, ini adalah pertama kalinya aku akan mendaki. Sebagai pendaki pemula, aku diarahkan oleh teman untuk memulainya dengan gunung yang pendek terlebih dahulu. Sebut saja ia Deon, lelaki bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, rame, dan berkali-kali memandu para pendaki yang ingin mencapai puncak gunung.

Tepat jam 9 pagi ia menjemputku, segera saja kami berangkat ke tempat dimana para pendaki pemula lainnya berada. Disanalah aku berjumpa dengan para kawan pendaki. Perjalanan menuju kaki gunung pun dilakukan. Setelah beberapa menit melewati berbagai rintangan di jalan, seperti hujan. Akhirnya kami sampai juga di salah satu basecamp para pendaki.

Pendakian tak langsung dilakukan, melainkan kita perlu istirahat terlebih dulu. Sembari menunggu cuaca gerimis hujan mereda. Tapi ternyata dugaan kami salah, hujan tak juga kunjung reda. Ditengah cuaca gerimis, Deon dan pemandu lain memutuskan untuk melakukan pendakian.

Para pendaki sudah berjalan di depanku lebih dulu. Sementara aku dan Deon, berada di barisan paling belakang. Aku tak pernah menyangka, kalau ternyata medan pendakian itu sangatlah berbeda. Tidak bisa disamakan dengan seperti ketika jalan kaki.
Begitu pula dalam pendakian ini, ada jalan yang landai, namun ada pula yang sangat terjal. Baru juga awal pendakian, namun napasku sudah terengah-engah. Rasanya seolah napasku seakan mau berhenti.
“Host… host… host…” aku terpaksa harus menghentikan langkah.
“Mia, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya kemudian ikut menghentikan langkah.
“Napasku nggak kuat Deon… rasanya sudah mau kehabisan napas saja,” sahutku sembari menyandarkan tubuhku pada sebatang pohon.
“Minumlah dulu!” suruhnya menyodorkan sebotol air mineral yang dibawanya. Aku langsung meneguknya tanpa pikir panjang.

Perjalanan pun kami lanjutkan lagi, sebab aku tak ingin ketinggalan jauh dari team. Sebab para pendaki terlihat berjarak beberapa meter didepan kami. “Yok jalan lagi!” seruku.
Deon bukannya berjalan di depanku, ia justru memilih di belakang. Selang beberapa puluh meter dari tempat sebelumnya. Lagi-lagi aku harus menghentikan langkahku. Kejadian itu pun sontak membuat Deon dan kedua temannya ikut berhenti. Melihat situasi itu, pikirku dipenuhi beragam pertanyaan. “Duh, aku jadi penghambat deh. Gara-gara aku, mereka harus terhenti,” kegelisahan muncul begitu saja dalam benakku.
Bagaimana tidak sementara pendaki yang lain tetap melanjutkan pendakiannya. Aku malah menyita waktu Deon dan temannya, untuk menemaniku beristirahat. Di tengah hutan dalam gunung ini, tak bIsa kupungkiri, rasa bersalah pun muncul dalam benakku. Aku takut, jika fisikku yang ternyata lemah ini, tak mampu melanjutkan perjalanan seperti yang lain. Melainkan butuh waktu berkali-kali untuk istirahat.

“Deon, kemarilah!” Deon lekas mendekatkan telinganya. “Pasti gara-gara aku ya? Mereka jadi ikut-ikutan berhenti. Dan bisa terlambat sampai puncak,” bisikku tepat didepan telinganya.
“Tenanglah. Tidak masalah… Di dalam gunung, kau tidak akan tau apa yang akan terjadi. Tapi ada banyak hal, yang akan kamu ketahui. Bahkan hal yang tidak pernah kamu duga sekalipun,” tukasnya. Menimbulkan sejuta pertanyaan di pikiranku, apa maksud ucapannya.
Tapi sudahlah, itu tidak penting sekarang. Aku kembali meneguk air mineral yang menggantung di ranselku. Kami bergegas melanjutkan perjalanan lagi. Ternyata benar ucapan Deon, selang beberapa menit kami berjalan. Rombongan kami yang jauh berada di depan, harus terhenti. Ada salah satu dari mereka yang tengah dikerumunin. Nampak raut muka teman-teman lain sangat cemas. Aku pun lekas mempercepat langkahku, disusul Deon.

“Ada apa ini?” celetukku.
“Itu kakinya kram!” sahut seorang cewek yang menopang tubuhnya.
Terlihat kaki gadis yang terbaring itu, tengah dipijat oleh kawan lainnya menggunakan balsem. “Lah, bagaimana sih? Kram kok malah dipijat?” gumamku. Sebab setauku, berdasarkan ilmu yang aku peroleh dalam pertolongan pertama bukanlah seperti itu. Terang saja, tanpa basa-basi. Aku mengambil alih, dan langsung menekan kakinya ke arah atas. Guna kembali melancarkan peredaran darahnya.
Sementara saat kami tengah sibuk melakukan pertolongan, dan kawan-kawan lainnya mengusapi tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Salah seorang cowok justru berteriak, “Jangan dimanja. Dia itu sebenarnya kuat! Jadi ayo bangun, kamu pasti bisa!” teriaknya.
“Apa-apaan sih orang ini!” geramku kesal. Mungkin maksudnya memberikan motivasi, tapi bukan begitu donk. Aku benar-benar kesal, melihat sikapnya yang sok mengatur. Namun aku tak mengindahkan ucapannya. Fokusku saat itu, hanyalah menstabilkan kembali kaki gadis itu.

Butuh waktu yang lumayan lama, hingga akhirnya kondisinya kembali normal. Meski tidak sama dengan ketika akan berangkat. Ya mau tidak mau, gadis itu harus beristirahat terlebih dahulu. Setelah perdebatan cukup lama, alhasil sebuah keputusan diambil. Gadis itu harus tinggal ditemani oleh kedua temannya. Sementara pendaki lainnya melanjutkan pendakian.

Lagi-lagi Deon memintaku untuk berjalan belakangan. Dan membiarkan yang lain jalan lebih dulu. Aku paham, maksud tindakannya. Hal itu dikarenakan fisikku yang tidak sekuat teman-teman lainnya. Kini Deon beralih jalan di depanku. Saat aku akan melangkah, mendadak sebuah uluran tangan melayang ke depan mataku. “Deon!” sentakku kaget.
“Iya, peganglah tanganku. Aku akan menarikmu. Sehingga kau tidak perlu khawatir,” ujarnya. Perasaanku sontak jadi bergumuk tidak karuan. Mengapa sikapnya dia berubah demikian. “Ayo! Atau kita akan ketinggalan rombongan!” celetuknya lagi.
Terang saja aku langsung meraih tangannya. Dan yang terjadi, perasaanku jadi berbeda terhadapnya. Aku melihat ketulusan hatinya, dari sikapnya yang memberikan tangannya untukku. Tidak hanya itu saja, aku juga jadi melihat kesabarannya, yang setia menemani perjalananku. Bahkan ia tidak mengeluh sekalipun. Ia justru membuatku yakin, bahwa aku mampu mencapai puncak. Meski dengan fisik seperti sekarang.

“Di dalam gunung, kau tidak akan tau apa yang akan terjadi. Tapi ada banyak hal, yang akan kamu ketahui. Bahkan hal yang tidak pernah kamu duga sekalipun,” tiba-tiba saja ucapan Deon menggema di telingaku.
“Apakah ini yang ia maksud?” gumamku berpikir. Memang benar, aku tidak pernah menduga jika Deon akan bersikap sebaik ini padaku. Sampai membuatku terbawa oleh perasaan yang berkecamuk. “Hemmtt… tapi aku kan nggak mungkin menanyakan hal ini padanya,” pikirku lagi menggumam. “Ahh… iya, sebaiknya aku tanyakan kejadian tadi saja!”
Deon masih terus menatap ke depan, sembari sesekali menatap tangan dan langkah kakiku. Memastikan apakah pijakanku benar atau tidak.

“Deon…” panggilku.
“Iya,” sahutnya menoleh.
“Kamu kan tadi bilang, kalau digunung akan ada banyak hal yang ku ketahui. Apakah maksudmu seperti kejadian barusan?”
“Iya Mia. Kau tau kan bagaimana situasinya tadi? Ada yang panik, ada yang bingung, namun ada pula yang tak sabar ingin melanjutkan perjalanan,” tuturnya.
“Iya juga ya… ehh.. kamu tau nggak? Aku tadi rada sebel tau sama tuh cowok! Suka ngatur banget! Udah tau temennya lagi kesakitan! Ehhh… dianya malah bersikap seperti itu!”
“Hahaha… jangan manyun begitu donk. Mukamu jelek lo,” godanya. Rasa kesal pun seakan mencair dengan candaannya. “Memang begitulah. Saat kita sedang berada di gunung apa saja bisa terjadi. Kita juga bisa mengetahui banyak hal. Termasuk karakter orang.”
“Maksud kamu?” celetukku penasaran.
“Iya, di dalam pendakian. Kamu akan mengetahui bagaimana karakter temanmu. Apakah dia tipikal setia kawan, pemarah, suka ngatur, penyabar, atau yang lainnya.”
“Ohh… jadi begitu ya?”
“Iya. Sekarang kamu mengerti bukan?” tanyanya. Aku pun mengangguk pelan. Perlahan ia mengelus kepalaku. Tentu saja, kejadian beberapa detik itu membuatku merinding. Melihatnya menggenggam tanganku saja, sudah membuat jantungku berdebar-debar. Ini ditambah mengusap rambut, lengkap sudah rasa campur aduk mengisi hatiku.
“Deon… apakah sikapmu ini juga termasuk salah satunya?” gumamku memandangi punggungnya.
“Mia, lihatlah jalan setapak ini! Jangan bengong!” gertaknya mengagetkanku.
“Iya.”
“Aku akan mencarikan jalan yang landai untukmu. Sebetulnya kalau ingin cepat, kita bisa pakai jalan yang terjal. Tapi untukmu, aku akan mencarikan jalan yang lebih landai,” jelasnya.
“Maaf ya, pasti aku jadi merepotkanmu deh. Andai saja fisikku seperti mereka, pasti kita tidak tertinggal jauh seperti sekarang,” ucapku cemas.
“Kamu ngomong apa sih? Udah! Perhatikan saja jalanmu, jangan ngomong yang bukan-bukan.”

Perjalanan yang tadinya terasa sulit kulalui, kini terasa sangat mudah. Dalam setiap perjalanan, Deon terus menggenggam tanganku. Ia bahkan tak membiarkan tanganku lepas dari tangannya. Pernah sekali tanganku terlepas, waktu aku terpeleset. Lantaran jalanan yang licin, akibat air hujan. Namun dengan sigap cowok tinggi semampai itu langsung meraih tanganku.
Bersama dia, pendakian ini pun membuatku merasa aman. Aku jadi lebih terjaga. Sebab Deon selalu siap menjagaku, dan tidak pernah melewatkan barang sedetik saja untuk memantau keadaanku. Dalam setiap istirahatku, ia juga tak lupa menyodorkan minuman yang dibawanya.

Waktu belumlah begitu larut, tapi jalanan pendakian sudah mulai terhalang oleh kabut. Terang saja pandangan mulai samar. Bahkan sulit untuk melihat para pendaki lainnya yang berada di depan.
“Berhati-hatilah Mi, kabut sudah mulai turun,” celetuk Deon.
“Iya,” sahutku mengangguk pelan.
“Deon, bisakah kita istirahat sebentar?”
“Tentu saja. Tapi sebaiknya kita naik sedikit lagi, di depan sudah sampai pos tiga.”
Mau tak mau, aku harus tetap memperkuat langkah dan napasku. Tak lama kemudian, tibalah di tempat yang dimaksud oleh Deon. Kami beristirahat sejenak.
“Deon, kabutnya sepertinya semakin tebal?” ocehku celingukan melihat sekitar penuh dengan kabut.
“Iya, memang beginilah kalau di gunung. Kita hampir mendekati puncak. Jadi pasti melihat kabut.”
“Ohh… begitu ya?”
“Minumlah dulu, biar nggak dehidrasi!” suruhnya menyodorkan sebotol air mineral. Aku segera mengambil dan meneguknya. “Gimana sudah enakan?”
“Iya!”
“Jadi bisa lanjut lagi donk?” ujarnya melebarkan senyum.
“Tentu!” sahutku sumringah.

Kami bergegas melanjutkan perjalanan lagi. Setelah beberapa menit berjalan, nampak awan mulai gelap. Jalanan pun jadi mulai tak terlihat. “Bagaimana ini?” gumamku kebingungan. Sementara Deon tetap saja menarik tanganku dan memintaku untuk mengikuti jejak langkahnya.
“Auwww…!!!” tiba-tiba saja aku terpeleset dalam lubang.
“Mia! Apa kamu baik-baik saja?” cemasnya sembari menopang tubuhku. “Apa kakimu terkilir?” lanjutnya.
“Hehehe… tidak kok. Aku nggak apa-apa,” sahutku nyengir.
“Dasar kamu ini! Malah ketawa!” celotehnya mengusap kepalaku. Entah apa yang dilakukannya, ia seperti tengah mencari sesuatu di dalam tas ranselnya.
“Cari apa?”
“Cari sesuatu…”
“Iya apa?” aku makin penasaran.
“Nah, akhirnya ketemu juga!” serunya kegirangan. Nampak ia mengeluarkan sebuah senter. “Yok, sekarang kita lanjut lagi. Aku akan membantumu berdiri.”

Kami berdua kembali melanjutkan pendakian. Tentunya bermodalkan penerangan dari senter milik Deon. Lelaki itu lagi-lagi tak membiarkanku jalan sendiri. Ia terus saja menggandeng tanganku. Macam sudah ada perekat, tangan kami selalu menempel.

Akhirnya pendakian kami berakhir juga. Ya, aku telah sampai puncak. Terlihat ada banyak tenda yang berdiri disana. Namun tak banyak kawan pendaki yang keluar tenda. Sebab cuaca sedang tidak mendukung. Entah ini gerimis, atau kabut yang berasal dari gunung. Akan tetapi puncak terlihat sangat gelap.
Perjalanan yang awalnya diprediksi akan sampai puncak dalam waktu 45 menit. Justru harus mundur hingga 2 jam. Bukannya mendapatkan senja, yang ada hanyalah kabut gelap.

“Mia, masuklah ke tenda yang lain dulu. Sementara itu aku akan mendirikan tenda!” suruh Deon menunjuk tenda milik kawan kami.

Cuaca malam ini memang benar-benar sangat dingin. Padahal baru saja lewat isya’, namun angin terasa menyayat kulit. Dinginnya merasuk hingga ke bagian dalam kulit. Guna mengatasi cuaca yang amat dingin, para kawan pendaki segera memasak air. Teh dan kopi pun siap dinikmati.

Baru akan meneguk secangkir teh, “Mia, kemarilah! Tendanya sudah jadi!” seru Deon memanggil. Gagal deh, aku harus segera menuju ke tenda yang dibuat oleh Deon.
“Masuklah!” serunya dari dalam. Terlihat ada para kawan pendaki lainnya. Sontak aku masuk kedalam tenda. “Kau pasti kedinginan kan?! Tenang saja, kita akan buat kopi!” imbuhnya kemudian.
Deon segera mengeluarkan kompor mini yang memang diperuntukkan bagi pendaki. Dengan sigap ia memasak air. Dibantu oleh Nana yang menuangkan air ke dalam panci. Sementara aku hanya menyaksikan mereka.
Tak lama kemudian air mendidih. Deon lekas menyiapkan dua gelas. Satu untuk segelas susu, satunya lagi untuk segelas kopi. Lagi-lagi aku hanya melihatnya saja.
“Nah, sekarang minumlah ini! Biar tubuhmu hangat!” ia menyodorkan segelas susu itu padaku. Aku langsung meneguknya secara pelan-pelan. Namun bukan untuk dihabiskan sendiri. Sebab ketika berada digunung, apapun yang menjadi milik kita, maka itu juga milik orang lain.
Ya, baik segelas susu maupun segelas kopi. Keduanya digunakan untuk share atau berbagi satu sama lain. Bahkan teman dari tenda lain pun juga boleh ikut menikmati.

“Beginilah kalau digunung!” celetukan Deon menggema di telingaku. Karena dialah aku mengerti hal lain lagi. Seperti berbagi kepada yang lain.
Celotehan Deon membuatku dan kawan lainnya yang berada dalam satu tenda tertawa terbahak-bahak. Kami tak bisa berhenti dibuatnya tertawa. Ya begitulah Deon, sedari dulu tidak ada yang berubah darinya. Ia memang suka sekali membuat candaan yang tak masuk akal. Sampai ujungnya siapapun yang diajaknya mengobrol pasti terpingkal-pingkal.
Usai bercanda tawa, aku tak bisa mengingkari diriku. Mataku sudah mulai mengantuk. Melihat hal ini, Deon lekas menyuruhku untuk tidur lebih dulu. “Tapi kamu gimana?” celetukku.
“Tenang saja! Kalau jam segini aku masih belom bisa tidur! Kamu tidurlah duluan,” tukasnya menyiapkan sleeping bed. “Pakailah ini!” ucapnya kemudian.
Terang saja aku langsung masuk ke dalam sleeping bed. Dibantu olehnya menutup resleting hingga bagian leher. Sehingga tubuhku aman dari cuaca dingin malam ini.

Entah apa yang terjadi, mendadak tubuhku menggigil kedinginan. Di luar terdengar suara angin kencang. Lampu emergency yang menggantung di atas tenda pun terus bergoyang. Aku semakin khawatir melihatnya. Sementara Deon tertidur nyenyak di sebelahku. Tapi aku tak bisa menahan kekhawatiranku. “Deon! Bangunlah!” seruku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia masih belum bangun, cuma menggeliat. “Deon! Ayo, bangunlah!” aku mengguncang tubuhnya makin kencang.
“Mia…” sahutnya sembari membuka matanya yang masih samar-samar. “Ada apa?”
“Itu lihatlah di luar!”
“Tenanglah, itu angin. Sudah biasa, kalau di gunung akan terjadi seperti itu,” sahutnya setengah sadar.
“Deon… tubuhku dingin sekali…” ucapku lirih. Sontak ia segera beranjak bangun, dan membuka resleting sleeping bed yang kukenakan. Lantas membantuku bangun.

Perlahan ia mengeluarkan kedua kakiku dari sleeping bed. “Benar! Kakimu dingin sekali!” kagetnya saat menyentuh kedua kakiku. Ia lekas melakukan pertolongan dengan mengusapkan kedua kakiku, dengan gesekan kedua tangannya. Nampak ia benar-benar cemas dan khawatir. Ia juga tidak lupa menggosok kedua tanganku, untuk membuatnya menjadi hangat. Sementara itu tidak ada yang dapat kulakukan selain diam dan memperhatikannya. Namun melihat tindakannya, membuatku merasakan sesuatu yang lain terhadapnya.
“Oke! Sekarang kau harus pakai ini!” tukasnya sambil mengenakan kaos kaki di kakiku. Tak lupa kaos tangan untuk kedua tanganku. Ia pun segera menutup kembali resleting sleeping bed yang ku kenakan. “Nah, sekarang tidurlah lagi,” lanjutnya sembari membantuku merebahkan tubuh di atas matras.

Usai menikmati keindahan gunung dan berfoto-foto selfie bersama. Akhirnya kami memutuskan untuk turun. Kami para pendaki telah membereskan barang-barang termasuk sampah yang ada di sekitar sana. Siang ini kami memutuskan untuk turun. Saat aku akan melangkahkan kakiku. “Sreekkk…” tiba-tiba saja, ada seseorang yang menarik tanganku. Sehingga langkahku harus tertunda.
“Deon!” sentakku saat menoleh dan menyadari kalau orang itu adalah Deon.
“Iya, kita jalan belakangan aja,” ujarnya.
Entah apa yang kupikirkan waktu itu. Rasanya aku tak mampu menolaknya. Jadi aku hanya menurut. Benar, Deon baru mengajakku berjalan, ketika kawan pendaki yang datang bersama kami jalan lebih dulu. Lagi-lagi dia berdiri di depanku, tangannya pun sudah melayang di hadapanku. Tanpa pikir panjang lagi, aku sudah tau maksudnya. Dia memintaku untuk memegang tangannya. Meskipun tanpa berucap apapun.
Jelas saja, aku meraih tangannya. Dia mulai menggenggam erat tanganku. Dapat kurasakan dari kekuatannya memegang tanganku. Ia terus menunjukkan jalan padaku. Kemana aku harus menapakkan kakiku, dialah yang menuntunnya.

Sepanjang perjalanan, aku terus berpikir. Aku tak pernah menyangka jika ia akan melakukan semua ini padaku. Bahkan sejak saat kita mulai pendakian, hingga sekarang akan turun. Dia selalu menjagaku dengan sangat baik.
“Deon, andai aku bisa mengucapkan banyak kata. Akan kukatakan semua gejolak hati ini padamu. Kau benar-benar membuatku selalu terjaga. Bahkan dalam pendakian pertamaku ini, aku tak perlu khawatir. Selama kau ada di sampingku,” gumamku sembari memperhatikannya dari belakang.
“Mia, apa kau lelah?” celetuknya.
“Tidak,” sahutku menggeleng.
“Bilang ya, kalau kau kelelahan. Nanti kita bisa istirahat dulu.” aku mengangguk.

Saat mendekati kaki gunung, dan akan mengakhiri pendakian ini. Tiba-tiba saja ada masalah. “Auww…!” kakiku tidak dapat digerakkan.
“Kamu kenapa?” tanya Deon khawatir.
“Sepertinya kakiku kram!”
“Ayo duduk dulu,” tukasnya menyandarkan tubuhku pada sebuah pohon. Dengan sigap ia langsung menekan di arah kakiku yang mengalami kram. Sama seperti yang aku lakukan dengan pendaki sebelumnya.
“Auww…” aku berusaha menahan rasa sakitnya. Sementara Deon terus melakukan pertolongan.
“Coba sekarang digerakkan!”
“Oke! Sudah membaik,” sahutku lega.
“Syukurlah…” ucapnya dan menjatuhkan kepalanya di kepalaku.
“Eiissst… apa ini maksudnya?” gumamku kebingungan.
“Kau benar-benar selalu membuatku khawatir,” tukasnya kemudian mengangkat kepalanya, lalu mengusap rambutku.
Kejadian beberapa detik itu, tentu saja membuatku kebingungan. Aku harus berhadapan dengan hatiku yang bergejolak. Sikapnya secara tiba-tiba, sungguh membuat perasaanku tak karuan.
“Jangan lagi membuatku cemas. Aku sungguh khawatir padamu…” ucapnya lirih.
“Loh, kenapa harus khawatir? Selama ada kamu, pendakianku pasti aman. Kau pasti akan selalu menjagaku dengan baik!” seruku padanya melebarkan senyum.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Trap On Trip (Part 3)

Trap On Trip (Part 3)

Judul Cerpen Trap On Trip (Part 3)

Haaaahhh… Aku merebahkan diri pada hamparan pasir berbisik. Melihat sekitar yang masih tampak gelap gulita mengingatkanku pada sesuatu. Apa seperti ini ya padang mahsyar itu?
Akhirnya dengan kekecewaan yang teramat sangat, Aku harus mendorong motorku lagi di padang pasir yang belum terlihat ujungnya itu. ini sudah jam 4 pagi, sebentar lagi matahari akan terbit dan Aku tak ingin melewatkan itu, terlebih 3 orang temanku ini, pasti mereka juga tak ingin melewatkannya. Tapi, mendorong motor di lintasan berpasir ini sungguh berat sekali, seberat mendorong dua motor sekaligus, belum lagi kita harus melewati beberapa bekas aliran lahar dingin yang berpasir, susah sekali untuk menaikkan motorku ke atas. Aku mendorong motorku bersama Budi, Arip mengendarai motornya pelan-pelan mengiringi kami dan Toha berjalan sambil tetap mengenakan selimutnya itu.
Saat itu, kami seperti empat pemuda gelandangan tanpa tujuan. Kami tak tahu arah mana yang harus kami tuju, yang jadi patokan kami hanyalah kerlap-kerlip lampu di depan kami yang terus bergerak. Sepertinya dekat, dan tak terasa kami sudah berjalan kaki selama satu jam. Amazing…

Melelahkan sekali perjalanan ini hingga kami sampai pada kaki gunung, yang baru-baru ini kami baru tahu kalau itu adalah gunung penanjakan (Bromo view). Ini dia yang kita cari, Bromo! Dengan bersemangat kami mulai berkendara lagi karena motorku sepertinya sudah bisa menyala. Tapi, beberapa ratus meter dari kaki gunung kami merasakan hal aneh, kenapa orang-orang malah turun ya? Aku jadi curiga kalau gunung yang sedang kupijak ini bukan Gunung Bromo. Dengan sedikit rasa sungkan akhirnya Kuberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang yang sedang berjalan turun tersebut. “Maaf Mas, Gunung Bromo itu sebelah mana ya”. “Wah Nggak tahu Mas” ujarnya. “Lha Mas mau kemana ini kok turun?” Tanyaku lagi. “Nggak tahu juga, ikut orang-orang aja, mereka turun ya Aku ikut turun” Jelasnya. Waduh, sepertinya Aku bertanya pada orang yang salah. Selagi melihat jam pada ponselku, Aku baru sadar kalau disini sudah ada sinyal, cepat-cepat Aku menghubungi Soleh untuk menanyakan keberadaanya.

Aku: “Hallo. Heh setan, awakmu nandi?”
Soleh: “Lha awakmu dewe nandi, di enteni gak ketok-ketok.”
Aku: “Aku nang gunung iki, tapi mbuh gunung opo, Lha awakmu nang gunung sing model piye?”
Soleh: “Aku nang parkiran Gunung Bromo, sing enek kembang apine kuwi lhe, sing akeh wong antri, tak enteni mbek arek-arek nang kene, gagi, wis jam piro iki, ngko kari masi Sunrise malahan.”
Aku: “Oalah, iyo-iyo enteni Tan Setan”.

Ternyata, kita salah lokasi. Gunung Bromo sebenarnya Gunung yang barusan kita lewati tadi. Huahh… Ayo Rip, Bud, Ha. Gunung Bromo tu di sono no, yang banyak orang ngantri parkir. Sedikit agak jengkel sebenarnya, kita sudah di kawasan Bromo tapi tidak tahu mana Gunung Bromo.
Akhirnya, dengan kecepatan tinggi kami melajukan motor menuruni gunung dan beranjak ke lokasi teman-teman yang lain berada. Tanpa kesulitan akhirnya kita bertemu rombongan, meskipun pertemuan itu dibumbui sedikit pertengkaran, haha. Setelah memarkirkan motor, kami beranjak bersama-sama menuju Gunung Bromo, yee…

Awal kami mulai masuk gerbang Bromo, kami sudah di suguhi beberapa penjual souvenir khas Bromo oleh para pedagang. Ada topi, syal, bunga edelweis tiruan dan tak lupa ojek kuda. Sedikit agak kesal karena ternyata dari gerbang masuk hingga kaki gunung bromo kita harus jalan lagi dan itu lumayan jauh, padahal tadi sudah dorong motor, sekarang jalan lagi, hadehh…

20 menit kemudian akhirnya kita sampai juga di kaki gunung Bromo. Wow, ramai sekali ternyata sampai-sampai tangga untuk menaiki Gunung Bromo pun penuh dengan orang dan yang pasti kita tak bisa lewat tangga itu karena orang-orang sedang duduk di sana. So, kita harus naik dari sisi lain, alias tidak ada tangga, alias berpasir. Wow, amazing. mendaki gunung berpasir itu seperti jalan di tepat, ya di situ-situ aja. Kalau kita mendaki dengan cepat, kita akan cepat capek, tapi kalau santai ya capek juga. belum lagi saat Aku lihat seorang wanita bertubuh agak gemuk, kedua tangannya di tarik oleh dua teman prianya agar bisa sampai ke puncak, Aku kasihan, kasihan sama dua pria itu. mereka menarik petempuan itu dari bawah sampai ke atas, wah bagaimana rasanya ya. lagi pula sudah tahu badannya kelas berat kok nekat naik gunung, itu naik jet aja jetnya oleng kok.

Belum lagi senyum-senyum sinis dari pengunjung lain saat melihatku, ini kenapa lagi, ada apa denganku hingga mereka tertawa. Kuperhatikan bajuku, celanaku barangkali ada yang terlihat lucu. Ohh, mungkin celanaku yang kotor dengan tanah ini yang membuat mereka tertawa, maklum lah tadi kan habis masuk di kubangan. Sambil sedikit cekikikan Aku berkata pada Budi yang berjalan di belakangku “Ehh Bud, lihat deh orang-orang lagi ngetawain celanaku yang kotor ini, padahal ya cuma kotor biasa gini ya, ngapain coba di ketawain”. Lantas Budi menjawab dengan polosnya “Bukan kamu mungkin yang mereka ketawain, tapi ini” sambil menunjuk kedua kakinya yang dibungkus kantong kresek hitam. Astaghfirulloh hal adziimmm… Budiiii…

Aku mengelus dada, “Sejak kapan kakimu kamu bungkus kresek Bud” tanyaku keheranan. “Ya sejak dorong motor di gurun pasir tadi, lha dingin ee..” ujarnya. Ya memang sih Budi berangkat dari rumah tanpa persiapan, Dia cuma bawa sendal jepit. Arrrggghhh… rasanya pengen teriak-teriak, tapi ya sudahlah daripada Budi kedinginan, biarkan Ia bahagia dalam kedamaian…

Kita lupakan sejenak tentang kejadian tadi karena beberapa langkah lagi kita sampai di puncak Gunung Bromo. dan akhirnya, inilah dia. eng.. ing.. enggg… Puncak Gunung Bromo.
Jadi seperti ini pemandangan dari puncak Bromo, dan seperti biasa-biasanya, saat berada pada bagian terbaik dalam sebuah perjalanan, kurang afdol rasanya kalau kita belum menghirup Oksigen dan merasakan Atmosphere dari Spot terbaik saat itu. Jadi yang Kulakukan adalah memejamkan mata, merentangkan kedua tangan lebar-lebar dan menghirup udara sedalam-dalamnya, sambil berteriak dalam hati ‘Jaannccooookkk… Sepedahan rolas jam mok ngene tok…’. Lalu Aku membuka mata dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang stress sambil bilang ke teman-teman “Ehh, itu bagus ya, itu juga bagus” tunjuk-tunjuk nggak jelas, mau bagaimana lagi. Mau lihat Sunrise ehh ternyata mendung, mataharinya nggak kelihatan. Aku hanya bisa duduk di puncak Bromo sambil memikirkan bagaimana beratnya perjalanan pulang nanti, motor lagi rewel, badan juga capek. Hampir tak tampak keceriaan sedikitpun di raut wajahku ini. Kita hanya duduk-duduk sambil melihat sekitar. Tak kurang dari setengah jam kami memutuskan untuk turun dan beranjak pulang karena matahari sepertinya tak mau menampakkan diri karena tertutup mendung. Keren kan ya! Perjalanannya 12 jam dan menikmati bagian terbaiknya hanya setengah jam.

Di tempat kami memarkirkan motor, kami sedikit berunding untuk menentukan jalur mana yang paling mudah untuk kami pulang, karena tampaknya teman-teman sudah trauma dengan jalur yang kami gunakan saat berangkat. Akhirnya dipilihlah jalur lewat Pasuruan dan itu melewati sebuah gunung, tepatnya adalah tempat Bromo View berada yang kerap orang sebut sebagai Penanjakan. Namanya juga penanjakan, pasti banyak tanjakan bukan! Dan motorku mogok lagi. Gila! beberapa titik di jalanan ini mempunyai sudut kemiringan hampir 40 derajat. jangankan motorku, banyak Kulihat motor lain juga tak kuat menanjak dan mereka harus mendorong motornya.

Semua berjalan kaki, tak terkecuali pengendara motor. Keren! Bagi pengendara motor bisa agak sedikit cepat karena bisa sesekali menaiki motornya. Di tanah yang datar, Aku, Ali, Soleh, dan Arip menunggu teman-teman lainnya sampai. Aku memanfaatkan saat itu untuk mencopot filter motorku dan membuang beberapa liter bensin dari tangki motor, karena Aku curiga saat mengisi bensin eceran tadi motorku di isi dengan bensin campuran. Tapi entahlah, semua cara juga akan kulakukan agar motorku tidak mogok lagi, Aku sudah sangat capek mendorong motor ini berulang kali, dan syukurlah sepertinya ada perubahan.
Di sisi lain, Aku dikagetkan oleh suara teriakan Toha saat sampai di tempat kami menunggu. Tiba-tiba saja Ia melompati sebuah bagunan berbentuk persegi disamping jalan yang dikelilingi oleh pagar, dengan santainya Dia melepas selimut yang Ia pakai dan membentangkannya diatas bangunan tersebut lalu tidur di atasnya sambil mendengarkan musik dari headset yang Ia kenakan. Aku teriak berkali-kali dari jauh tapi sepertinya Ia tak bisa mendengarkanku. Akhirnya, Ku hampiri Dia dan berteriak lebih keras lagi “Woooiii… ojo turu nok kuburannn…” Mendengar perkataanku, dengan gelagapan Ia melihat tempat yang tiduri dan seketika melompat keluar pagar dengan terkaget-kaget. Waaaa… Ia lari terbirit-birit. Banyak kuburan berada di sini ternyata. dan tak lama kemudian teman-teman sudah berkumpul semua, kami melanjutkan lagi perjalanan pulang karena sepertinya tak ada tanjakan exstreme lagi. Syukurlah…

Pukul 2 siang.
Kami sampai di kota Pasuruan, kami semua berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan beristirahat sejenak di tempat peristirahatan yang disediakan. Bisa dibayangkan ruangan sekecil itu kita masuki berdelapan, belum lagi barang bawaan kami dan gaya tidur teman-teman, ada yang kakinya kesana, ada yang kemari. hehe, dan Aku pun mencoba untuk tidur sejenak. Tapi, satu jam sudah Aku berusaha untuk tidur, masih juga tak Kudapati diriku terlelap. Kepalaku sangat pusing dan dadaku terasa sesak.
Aku membuka mata dan berharap masih ada temanku yang terjaga untuk Kumintai tolong membelikan obat, tapi mereka tertidur dengan sangat pulasnya, sepertinya mereka kelelahan dan Aku tak tega untuk membangunkan mereka. Sekuat tenaga Aku berusaha untuk berdiri untuk mengambil wudhu dan sholat. Jujur sakit saat itu belum pernah Kurasakan sebelumnya, yang ada di pikiranku hanyalah kalaupun Aku mati, Aku mati setelah sholat. Entahlah, saat itu pikiranku sedang kacau. Tapi, syukurlah seusai sholat ada perubahan sedikit dan Ku manfaatkan itu untuk membeli obat di seberang jalan. Aku mengunyah 3 butir bordex sekaligus dengan dua gelas kopi (Jangan ditiru), memang benar pusingku sembuh seketika itu juga tapi jantungku berdebar dengan sangat kencang. Dep dep dep dep dep dep… Kupegang dadaku dan merasakan detakannya, dari temponya bisa Kurasakan detak jantungku berdetak sekitar 200 bpm atau sekelas lagunya Dragon Force yang berjudul Through the Fire and Flames.

Setelah merasa agak tenang, Aku kembali ke tempat teman-teman beristirahat tadi. Tak Kuduga, Kulihat banyak orang tertidur di luar ruangan peristirahatan dengan posisi bersandar pada tembok, mereka sedang mengantri hingga tertidur. Astaga…
Tanpa pikir panjang Aku bangunkan semua teman-teman untuk segera beranjak melanjutkan perjalanan pulang. Lagi pula, kasihan orang-orang di luar itu, mereka pasti lelah sekali dan sangat ingin untuk berbaring.
Tepat jam setengah empat sore, kami melanjutkan perjalanan pulang, perjalanan kami lancar-lancar saja hingga sampai di rumah jam 9 malam.

Hehe… Kalau diingat-ingat lagi Aku sebenarnya bingung. kita ini mau bertamasya tapi kok cobaannya banyak sekali, kita harus naik turun gunung, melewati lembah, sungai, jurang, tebing berbatu, ini kita mau rekreasi apa jadi peserta Benteng Takeshi sih. Jebakannya kok banyak sekali. Belum lagi rute perjalanan yang kita ambil. Normalnya sih, kita berangkat dari rumah hingga gerbang masuk – sewa Hartop sampai Penanjakan – melihat Sunrise dari penanjakan – Turun Penanjakan lalu naik ke Gunung Bromo – dan turun ke Pasir berbisik lalu pulang. Lha kita enggak, kita kebalik malah. Kalau Teman-teman ada yang pernah melihat Sunrise di Penanjakan (Bromo view), teman-teman pasti akan melihat Gunung Batok, lalu Gunung Bromo, lalu Bukit Teletubbies, lalu Gunung yang nggak begitu kelihatan di sono, Na kita itu berangkat dari sono itu. Amazing deh pokoknya.

Tapi meskipun begitu. Jujur saja Ku akui, perjalanan menuju Bromo adalah perjalanan terbaik yang pernah Kulalui, bukan karena Keindahan puncak Bromo, Penanjakan, atau Gurun Pasir, berbisiknya karena Aku melewatkan itu semua. Tapi, karena ada teman-temanku disana, ada kebersamaan disana, ada suka-duka dan canda-tawa. Seperti halnya kesuksesan, bukan hanya puncak kejayaan yang akan kita nikmati, tapi tiap tangga yang kita pijak juga akan memberikan sebuah kenangan.

Cerpen Karangan: Al iz Kusuma
Facebook: www.facebook.com/aliz.kusuma
Trap On Trip (Part 2)

Trap On Trip (Part 2)

Judul Cerpen Trap On Trip (Part 2)

Dengan sigap kami sudah bersiap untuk melawan mahluk astral, Toha juga sudah mengeluarkan botol air mineral dari tasnya dan ternyata bayangan putih itu adalah manusia. ealahhh…
Orang itu malah menghampiri kami dan bertanya “kok berhenti disini mas, ada apa?”. ngeselin nggak? jadi orang itu sebenarnya usai mencari rumput, Ia memakai kaos putih dan melajukan motornya di jalan menurun dengan kecepatan tinggi tanpa menyalakan mesin motor, tanpa lampu juga. Karena gelap, orang itu seperti bayangan putih sedang terbang. Lagian, ngarit kok juga jam segini to paklek-paklek, bikin kaget orang aja. Lantas orang itu pergi dan kami melanjutkan perjalanan lagi.
5 km dari tempat kami berhenti tadi, kami mulai masuk kawasan hutan. Wow, tempat ini menyeramkan juga menurutku, jalannya terjal, berliku-liku, menanjak pula. tanpa sengaja Aku melihat 3 orang sedang berdiri di bawah pohon, Aku kira motor mereka mogok, dengan sedikit rasa sombong Aku berteriak “Mogok ya Mas, hehe…” pada 3 orang itu. Aku sendiri bingung kenapa Aku bilang begitu ya. 2 menit kemudian Aku mendapat karma dari perbuatanku itu tadi.

Blebb… blebb… blebbbbb beebbbebebbeb…
Wuaaaaaa… motorku mogok. Gimana ini gimana ini gimana ini, masa’ harus dorong motor di tempat seperti ini. Hiks.. saat itulah bayangan wajah 3 orang tadi seakan muncul di depan mataku. Ternyata karma cepat datangnya ya, dan sayup-sayup terdengar suara bising knalpot dari belakangku. Wennggg… weeennnggg… wwweennggg… Treeeettt… Tang.. tang.. tang.. tanggg…
Buset dah, ternyata rombongan Moto Trail. dan pengendaranya adalah? Tiga orang tadi. Hiks.. Aku kira motor mereka mogok tadi, ternyata mereka hanya sedang beristirahat, dan yang paling mengesalkan adalah: Mereka bertiga menggunakan Moto Trail Mini, meskipun motor mereka kecil tapi saat melintasi tikungan menanjak dengan sudut kemiringan 40 derajat, motor mereka tangguh sekali. Lalu Kubandingkan dengan motorku, motor sebesar ini kalah dengan motornya tuyul itu. Menjengkelkan…
Akhirnya, dengan berat hati Aku mendorong motorku dengan Budi, lantas beristirahat sejenak bersama teman-teman yang lain untuk mendinginkan mesin motor kami. Wah, capek juga ternyata ya.

10 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi karena motorku sepertinya sudah normal kembali dan kali ini dengan kawasan yang berbeda tentunya. Trek kali ini agak menakutkan, jalannya berupa tanah yang licin, kanan ada tebing, kiri ada jurang yang dalam. Kalau terperosok ke jurang itu ya siap-siap saja jadi sate karena di bawahnya penuh dengan pohon pinus. Saat sedang berkonsentrasi memilih jalan yang tidak licin dan menghindari jurang, Aku dikagetkan oleh teriakan Anggik di depanku yang sedang dibonceng oleh soleh

“Mid.. Mid…”. “Eiya, Vegetoz – Betapa Aku mencintaimu” sahutku. “Ehh, bukan tebak lagu lagi, itu ada rombongan yang hilang satu” Anggik menjelaskan. “Lah, masa’ sih?” tanyaku penasaran. Seketika itu juga kami berhenti dan Anggik mulai mengabsen untuk mencari siapa yang hilang:

Anggik: Al iz ada?
Al iz: Ada Pak.
Anggik: Ali ada?
Ali: Hadirrr…
Anggik: Soleh ada?
Soleh: Nek aku ra enek seng mbonceng koen sopo…
Anggik: Oiya, oke-oke… Rendy ada?
Rendy: Siap, ada gan.
Anggik: Budi ada?
Budi: Ada ada aja deh..
Anggik: Arip ada?
Arip: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Toha ada?
Toha: (TAK ADA JAWABAN)

Anggik: Oke, personil kita udah lengkap, mari kita lanjutkan perjalanan.
Teman-teman: WOOIIII… WOOOIII… WOOOIII… Arip dan Toha Tiada, eh tidak ada maksudnya, kok lanjut-lanjut aja gimana!
Anggik: Lah, Tu, wa, ga, pat, ma, nam, Waaa… Kurang dua orang, Arip dan Toha kemana? bukankah mereka harusnya bukan di urutan terakhir, kok bisa ketinggalan sih.
Soleh: Gimana kalau kita tunggu sebentar, kalau 5 menit nggak kelihatan baru kita putar balik mencari mereka.
Dan kita sepakat. Memang kondisi di tempat ini sangat rawan, hingga kita lupa dengan peraturan yang kita buat sendiri, mungkin karena kita ingin lekas keluar dari kawasan hutan ini, hutan ini sangat seram, terlebih sekarang jam 2 dini hari.

Untunglah. meskipun agak lama kita menunggu, Arip dan Toha akhirnya muncul juga. Mereka menuturkan kalau mereka berdua habis terpeleset dan jatuh berdua lantas terbelit dengan selimut yang mereka gunakan. Jadi begini: Arip dan Toha itu hanya menggunakan kaos dan celana pendek, entah siapa yang mempunyai ide membawa selimut, mereka berdua berbagi selimut yang sama dan melingkarkannya pada badan mereka saat berboncengan. Bisa dibayangkan kalau mereka jatuh, keduanya akan terlilit dan susah untuk terlepas. hehe…
Aku hanya membayangkan, Aku saja yang memakai 3 jaket sekaligus + jas hujan masih menggigil, apalagi mereka. Kuat sekali tubuh mereka itu…
Kami meminta maaf pada mereka, dan mulai melanjutkan perjalanan lagi dengan sedikit pelan, hingga kami semua berhenti karena persediaan bensin kami sudah mulai menipis.
Untung saja ada yang jual bensin disini, karena sedari tadi tidak kita jumpai satu rumahpun di kawasan ini. Sambil menyalakan rokok Aku sedikit berpikir, ini bawa bensinnya kemari bagaimana ya? Pasti perjuangan sekali ya. Sejenak kami menghangatkan diri dengan mendekat pada api unggun yang dibuat oleh penjual bensin tadi karena udara di daerah ini paling dingin menurutku, sampai-sampai mulut kita mengeluarkan asap saat berbicara.

15 menit berselang kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Berjarak kurang dari 10 meter dari tempat kami berhenti tadi terdapat persimpangan jalan yang menghubungkan antara Malang, Bromo, dan Semeru. Banyak orang yang berhenti disana saat itu, seperti kami. Tampaknya mereka juga kebingungan harus mengambil jalur yang mana. Entahlah, Aku juga tak tahu arah mana yang seharusnya kita ambil, Aku hanya pasrah pada Anggik karena tugasku memandu perjalanan hanya sampai pada kota Batu, selebihnya Anggik yang lebih tahu. Kuperhatikan Anggik yang berada di posisi terdepan mengambil turunan arah kiri. Dan jalan itu menurutku sangat memperihatinkan.
Jalanan itu rusak parah, curam, berbatu serta licin, bahkan meskipun Aku menggunakan prosneling 1 di barengi dengan rem depan belakan motorku tetap saja melaju dengan kencang karena curamnya, belum lagi gaya Budi saat membonceng, Ia menumpukan beban tubuhnya pada tubuhku hingga Aku harus meluruskan dua pergelangan tanganku ini kuat-kuat dan menahnnya agar tak terdorong maju. Great, bisa dibayangkan beratnya seperti apa? Seperti sedang menggendong kebo. Berulang kali Aku memperingatkan Budi untuk mundur sedikit tapi Budi masih saja seperti itu. Dan setengah jam pertama sudah bisa Kurasakan leherku sakit karena terlalu lama berkendara dengan menunduk. Jalan ini sungguh Amazing, Aku takut terperosok sebenarnya karena laju motorku seperti sedang meluncur, tak bisa ditahan lagi.

1 jam berselang, tepatnya pukul 3 dini hari. Akhirnya kita sampai juga di kaki gunung yang barusan kita lewati tadi. Entahlah apa nama gunung itu, karena beberapa kali Aku mencari rute perjalanan kami ini di internet, youtube dan google maps tidak pernah ketemu. Mungkin ini jalur gaib kali ya, atau tercantum sebagai 20 jalur paling tidak recomended sedunia. Hihi…
Hiyaaa… Akhirnya ketemu tanah datar lagi, udah capek naik turun gunung sebenernya, Sambil terus melanjutkan perjalanan kita mencoba untuk berjalan sangat pelan karena kondisi waktu itu masih gelap gulita. Jalan yang bisa terlihat ya hanya jalan yang tersinari oleh lampu motor kami. Dan tiba-tiba Kuperhatikan semua motor teman-teman berhenti di depan. Ada apa, pikirku penasaran. Baru setelah Aku melihat apa yang teman-temanku lihat, lantas saja Aku turun dari motor, berdiri dan hanya diam, semua bengong saat itu dan hanya tolah-toleh seperti monyet sedang terkena amnesia.

“kok ada kali”. Hanya itu yang terbesit di pikiran kami, bagaimana bisa ada sungai di tempat seperti ini. memang semenjak berangkat dari rumah kita sudah kehujanan, mungkin ini aliran lahar dingin ya. Sungai itu lebarnya sekitar 5 meter membentang entah dimana ujungnya. Meskipun airnya berkubang alias tidak mengalir tapi panjangnya mungkin lebih dari 3 km, belum lagi keterbatasan jarak pandang kami waktu itu. Ini bagaimana cara melewatinya? Saat itu semua masih diam mematung di atas motornya masing-masing memikirkan cara yang bisa digunakan untuk melewati sungai itu karena tak ada apapun yang bisa digunakan sebagai jembatan. Diam-diam Aku berjalan sendirian menyusuri sungai itu meninggalkan teman-teman mencari bagian sungai yang tak terlalu lebar. Jauh sudah Aku berjalan mungkin sejauh 50 meter akhirnya Kutemukan apa yang aku cari. Lebar sungai ini cuma 2 meter, pasti agak dangkal ya. Perlahan Aku coba memasukkan kakiku kedalamnya berniat untuk menjejaki seberapa dalam bagian sungai ini, tapi kakiku sudah masuk selutut dan belum juga Kurasakan dasar sungainya, sedangkan sejauh mata memandang sungai itu masih tak terlihat ujungnya. Agak sedikit frustasi akhirnya Aku berteriak pada Soleh yang masih duduk di atas motornya. “Leh, coba jejaki daerah situ”. dengan maksud agar soleh memasukkan kakinya kedalam air juga, tapi tidak seperti dugaanku bahwa Soleh akan turun dari motornya dan memasukkan kakinya dalam sungai, Ia malah menyalakan motor dan melajukan motornya menyeberangi sungai itu. Tahu tidak suaranya seperti apa? yang terdengar adalah suara seperti ini:
‘cklekk.. grennggg… wooorr… wooorr… wooorrrr… wiuuuu… Byuurrrr… nggooonnggg… blukutuk… blukutuk… blukutukk… ngggoooonggg… blukutuk… blukutuk… blukutuk… ‘

Pertanyaannya adalah: Dari suara pada kejadian di atas, apakah yang terjadi pada Soleh?

a. Soleh berhasil melewati sungai dengan lancar, aman, terkendali serta barokah dan damai.
b. Soleh putar balik lantas pulang.
c. Soleh hanya bleyer-bleyer dan minum air sungai karena frustasi.
d. Soleh tercebur dalam sungai.
So, apa jawaban kalian? Kalau jawaban kalian D, maka kalian SALAH… karena jawaban yang benar adalah:

F. Soleh bersama anggik yang di boncengnya terjun bebas ke dalam sungai dan terjebak tak bisa naik dengan mesin yang masih meraung-raung dan dengan motor yang tenggelam hingga setinggi dada orang dewasa.

Kalau tadi kita sudah bengong seperti monyet amnesia ya, ini kita malah bengong seperti monyet lagi mainan ciduk cao, ndal ndul..
dan anehnya motor soleh itu tidak mati karena Ia terus menancapkan gasnya dalam-dalam agar air tidak masuk ke knalpot, lebih anehnya lagi kita semua cuma diam, agak susah dicerna otak sebenarnya. ‘Kok bisa, dicemplungin motornya’. Sudah 10 detik mereka di dalam air itu, kontan Anggik loncat dari motor dan menarik motor Soleh dari depan.

Haa.. sebenarnya kita sangat bingung waktu itu, itu mau di apain? apa kita harus nyebur juga membantu Soleh dengan udara seperti ini. Waa… akhirnya yang bisa kita lakukan untuk membantu soleh adalah dengan cara menyemangatinya. “Ayo Leh semangatt… semangat… gas teruss… tarik yang kenceng Nggik… terus gas polll Leh…” hadeh kejamnya dunia ini, eh kita maksudnya. Ya mau bagaimana lagi, udah tahu itu sungai kok diterjang, emang motornya bisa ngambang gitu?
Tapi untungnya motor Soleh bisa naik dan keluar dari sungai itu dengan kondisi masih menyala. Keren ya! udah tenggelam padahal, tapi air tidak masuk ke knalpot dan busi tidak mati. Ya eyalah motor baru geto.

Karena kita tidak seberani Soleh dan karena kita sedang tidak ingin berenang akhirnya kita menyuruh soleh untuk tetap menunggu disitu dan mencari jalan lain. Beberapa puluh meter menyusuri tepian sungai akhirnya kita menemukan ujung dari kubangan air itu, sebenarnya tidak jauh dari tempatku menjejakkan kaki tadi, kenapa tadi tidak berjalan agak jauh sedikit lagi ya!
Setelah bertemu Soleh, kita malah tertawa terbahak-bahak bersama menertawakan Soleh dan Anggik karena mereka basah kuyup dan kedinginan, untung saja motornya tidak mogok, kalau mogok mau nyari bengkel dimana, ini kan gurun pasir, apa mau di kubur saja motornya sama pasir.
Oiya.. Aku baru sadar kalau setelah melewati sungai tadi kita sudah berada di gurun pasir. Emm.. jadi ini yang namanya pasir berbisik itu, nama yang aneh, apanya yang berbisik coba. Karena penasaran Aku coba menempelkan telingaku pada pasir itu berharap bisa mendengar sesuatu yang unik, mungkin pasir ini bisa berbisik sungguhan siapa yang tahu kan ya, Aku coba untuk memejamkan mata, berkonsentrasi dan.. Jujur Aku tidak mendengar apa-apa. Udah, gitu aja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat ini. Tidak ada rombongan lain disini kecuali kita dan kondisi disini sangat gelap. Kita melanjutkan perjalanan dan entah karena terlalu lelah naik turun gunung, jalan rusak, curam, licin atau kejenuhan dalam perjalanan tadi, teman-teman seakan sangat kegirangan berkendara di jalan yang datar, luas dan berpasir, mereka kebut-kebutan dan berpencar sesuai keinginan mereka sendiri karena ini sudah memasuki kawasan Gunung Bromo bukan, jadi aman. Aku juga senang melihat mereka kejar-kejaran dari belakang, seperti melihat rally dakkar saja hingga motorku berbunyi ‘Ctassss… bleb.. bleb.. blebb.. blebbb…’ motorku mogok lagi.
Astaga… Secepat kilat Aku mencoba menyalakan motorku lagi dengan starter kaki berulang-ulang tapi sama sekali tidak membuahkan hasil, dan Kulihat teman-teman sudah jauh meninggalkanku. Celakalah Aku.. bagaimana ini, Apa Aku telfon saja mereka untuk menungguku atau menjemputku, tapi apa mereka akan dengar dering atau getar ponsel di saku mereka dengan kondisi mereka yang kebut-kebutan itu, pasti mereka tak akan dengar.

Tidak kehabisan akal, karena Aku dulu pernah kursus vokal dan belajar nada tinggi, akhirnya Aku turun dari motor, berdiri tegak, dan mengeluarkan suara tenor ‘Hooooiiii… Aku enteniiiii…’ dari kejauhan samar-samar terlihat Arip berhenti, syukurlah ada yang dengar, Aku tarik nafas dalam-dalam lagi dan berteriak ‘Rippp… sepedahku mogokkkk…’ “Tenang Bud, kita aman, ada Arip dan toha datang sebentar lagi.” Ujarku menenangkan Budi yang terlihat mulai kedinginan karena Ia tak membawa mantel dan hanya beralaskan sendal jepit.

Tak lama kemudian Arip pun datang bersama Toha yang diboncengnya. “Kenapa mas bro?” Tanya Arip. “Mogok lagi Rip, kayaknya terlalu panas deh mesinnya, apa butuh istirahat lagi ya” jelasku. “Ya udah istirahat aja dulu.” Arip menuturkan.

Cerpen Karangan: Al iz Kusuma
Facebook: www.facebook.com/aliz.kusuma
Trap On Trip (Part 1)

Trap On Trip (Part 1)

Judul Cerpen Trap On Trip (Part 1)

“Come on Leh, You can do it”

Teriakku pada Soleh sambil mengulurkan tanganku untuk membantunya mendaki gunung Semeru. “Ayo Rip kurang sedikit lagi” teriakku lagi pada Arip yang berada 5 langkah di bawah Soleh, namun tiba-tiba Arip berteriak dari bawah “Awas Mid, longsorr”. Belum sempat Aku melihat ke arah longsor itu, kepalaku tiba-tiba dihantam oleh sebuah batu besar. Jeduarrr… dan…?

Huah… huah… huah… Mana batunya tadi? Mana mana mana? Buset deh, cuma mimpi toh, tapi kok sakit juga ini kepala ya. Lantas Kulihat jam pada layar Handphoneku, Lah baru jam 2 pagi, tidur lagi aja deh, z z z z z z z z z …

Keesokan hari, Secara tidak sengaja, Aku bertemu teman-temanku di sebuah kedai kopi langganan kami. Sebenarnya, jarang sekali kami bisa berkumpul bersama, karena kesibukan kami masing-masing. Di sana ada Arif Al Ahmady (a.k.a. Arip), M Feri Aghni M (a.k.a. Anggik), Pengejar Illusi (a.k.a. Toha), Soleh, Hirruma (a.k.a. Budi) dan Alie Wy Do (a.k.a. Ali).

Bagi yang belum kenal mereka, mereka itu adalah teman baikku, bahkan sudah seperti saudara bagiku. Perkenalanku dengan mereka juga bisa dibilang gokil abis dan tidak layak untuk diceritakan secara keseluruhan, tapi akan Aku ceritakan sedikit saja sebagai perkenalan awal, hehe…

Semisal saja Arip, awal Aku bertemu dengannya adalah saat Aku mulai rutin pergi ke kedai kopi dekat rumahku, Aku bertemu dengannya di sana, berkenalan lantas berteman dan akhirnya kita kuliah di Universitas yang sama, kita berangkat kuliah bersama. Dia orangnya baik, terbuka, jujur dan apa adanya. pokoknya Do’i low profile banget deh, best friend pokoknya.

Lalu Anggik. Kalau yang ini sudah pada tahu semua kan ya, Dia saudara sepupuku. Kita sekolah di sekolahan yang sama saat SMA. Do’i orangnya ramah, mudah bergaul dengan siapa saja, murah senyum, asik, dan yang paling penting, Anggik itu negosiator yang handal. Jadi kalau ketemu orang agak mbulet, itu bagiannya. Pasti beres.

Lanjut ke Toha. Wah kalau Toha sih orangnya baik (Tempramen, tukang pukul, menguasai 75 teknik bela diri, keras kepala, suka marah-marah). Udah, gitu aja.

Next, Soleh. Wah bicara orang satu ini Aku jadi langsung teringat dengan aspal jalan. Gimana enggak, Do’i itu anak motor, tiga-perempat dari hidupnya Ia habiskan di jalan, keren nggak. Touring melulu kerjaannya tuh. Pagi di bojonegoro, siang di pandaan, sore di pacet, malem di telaga sarangan. Rumahnya Cepu tapi kalau ngopi di Babat, tiap hari lagi. Aku akui deh kalau Do’i itu orangnya lincah, tahan banting, Dewasa melebihi teman-teman sebayanya. Do’i itu masih ada hubungan keluarga dengan Arip seingatku. Karena sering Touring, jadi Do’i punya daftar tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Anggap saja Do’i sebagai Google Maps versi manusia. hehe…

Ini dia orang yang paling gokil, Budi. Gimana ya? Wah pokoknya Do’i tu baik banget deh pokoknya, hatinya masih murni, suci, tak tersentuh oleh debu, polos, lugu, ringan tangan, tulus. Do’i itu dari kecil tinggal di luar jawa, saat SMA Do’i pindah ke sini dan jadi tetanggaku, aslinya sih kelahiran sini juga. tapi ada hal unik lain yang dimiliki Budi, mungkin kebiasaan dari daerah tempat tinggalnya dulu, Ia selalu membalas saat seseorang menepuk pundaknya, mungkin di daerahnya dulu banyak terjadi aksi gendam ya. jadi kalau ingin mengerjai Budi itu gampang, tepuk saja pudaknya dan larilah sekencang mungkin, secapek apapun dia, dia pasti akan tetap mengejarmu untuk menepuk pundakmu juga. hehe…

Dan yang terakhir adalah Ali, masih satu desa dengan Arip dan Soleh, Do’i itu punya sifat keras tapi tetap baik hati, dermawan dan jago menggabungkan potongan besi. Jadi, kalau ingin pesan pagar rumah dsb, ke Do’i saja deh.

So, Waktu itu kami hanya duduk-duduk saja, sekedar makan dan menikmati secangkir kopi karena hari ini memang semua sedang libur dari aktifitasnya masing-masing. Kita hanya bercanda dan menikmati hari beranjak menuju sore, kalau anak jaman sekarang bilang sih Quality Time. Tiba-tiba Soleh (yang mendadak suka bicara bahasa inggris karena pacarnya kerja di luar negeri) bertanya pada kami “Ehh, tahun baru kemana kita nih?”. Dan Aku baru sadar kalau sekarang tanggal 31 Desember, wah.. iya ya, besok kan tahun baru masa’ kita di rumah aja. Jalan-jalan yuk kemana gitu. “Bagaimana kalau ke laut” ujar Soleh. “Wah kan baru kemarin kita ke laut masa’ ke laut lagi” jawab Arip. “Bagaimana kalau ke itu saja, ke pantai” timpal Ali. “Lah, laut apanya pantai” sahut Budi.
“Tadi malam Aku mimpi ke gunung” gumamku. “Apa’an? Ke gunung?” sahut Soleh penasaran. “Oiya gimana kalau kita ke gunung aja, kita kan belum pernah ke gunung rame-rame” timpal Anggik. Setelah sedikit berunding, akhirnya kita memutuskan untuk berlibur ke Gunung Bromo.

Tanpa pikir panjang, akhirnya tepat jam 6 sore kami berkumpul di rumah arip sambil memasangi stiker berbahan fosfor di setiap bagian belakang helm kami dan membagi urutan siapa yang nanti dalam perjalanan berada paling depan dan paling belakang, itu kami butuhkan agar tak ada seorangpun yang tertinggal dan mempermudah pengawasan, jadi tugas pengendara paling depan adalah memandu perjalanan dengan berkendara dengan kecepatan konstan dan memberikan isyarat lampu sein bila akan berbelok, mendahului serta isyarat kedip lampu rem jika ada sesuatu yang membahayakan di depan, dan tugas pengendara paling belakang adalah tetap berada pada posisi paling belakang hingga tempat tujuan serta memberi tahu pengendara paling depan bila ada salah seorang dari rombongan yang motornya mogok atau ada yang ingin berhenti. Saat pengendara paling depan berhenti, semua akan ikut berhenti. itu yang membuat kami bisa melakukan perjalanan dengan cepat, tak ada yang terpisah dari rombongan, dan semoga perjalanan menuju Gunung Bromo lancar-lancar saja.

Selepas sholat magrib kami pun memulai perjalanan dengan harapan nanti jam 10 malam kami bisa beristirahat dahulu di rumah kontrakan Anggik yang berada di Malang, sambil menjemput seorang temannya yang katanya ingin ikut juga. Berjarak 5 km dari rumah kita berhenti sejenak di pom bensin sambil mengenakan mantel karena tampaknya gerimis sudah mulai membasahi kaca helm kami. Diam-diam Aku juga mengganjal panel lampu sorot motorku dengan paku kecil agar bisa menerangi jalan kawan-kawan di belakang karena Aku yang berada di posisi paling depan dan rute ke Malang lewat jombang, melintasi ngimbang, pujon serta ngantang, benar-benar tak ada lampu penerangan jalan disana kalau malam.

Wusshh.. wusshh.. wusshh…
Sebenarnya, semenjak beranjak dari pom bensin Aku sudah merasakan atmosphere MotoGP dari gelagat reman-teman di belakang. Mereka melajukan motornya kencang sekali. Mereka ingin mendahuluiku tapi ingin tetap pada aturan yang di sepakati bersama. Alhasil, motor mereka dekat sekali dengan motorku (antri) sambil bleyer-bleyer woorr… worrr… kurang banter. Tapi ini demi keselamatan kita bersama bukan jadi Aku tetap berkendara slow di kecepatan 100 km/jam.

Dari Babat hingga Kalen, perjalanan lancar-lancar saja kelihatannya, hingga kami memasuki kecamatan Modo. Kok ada yang aneh ya, perasaan makin gelap aja, padahal masih ada lampu penerangan jalan. Saat itulah tubuhku tiba-tiba saja merinding dan Aku seperti mendengar bisikan gaib. Bisikan itu sayup-sayup terdengar seperti berkata “Mas mas, lampumu mati”. Cettaarrr… Aku coba perhatikan, memang lampu motorku mati. Waaaaa… kok bisa sih, mati di tempat seperti ini. Secara reflek Aku menyalakan lampu sein dan mengedipkan lampu rem sebagai isyarat tanda bahaya sambil mengurangi kecepatan lantas berhenti di tepi jalan. Teman-teman pun turut berhenti, dengan wajah sedikit penasaran, raut muka mereka seakan menanyakan kenapa kita tiba-tiba berhenti disini, padahal perjalanan baru saja dimulai. “Ehh, gimana ini, lampuku mati, yang nyala tinggal lampu kota aja” ujarku. “Waduh, perjalanan masih jauh, malam makin gelap, hujan lagi. tanpa lampu, kamu nggak mungkin bisa sampai malang dengan selamat deh” jawab Ali. “Kita cari bengkel dulu” imbuhnya. Akhirnya kami mencari bengkel motor terdekat.
Perjalanan kan baru 25 km. Apa gara-gara Aku mengganjal panel lampu sorotnya ya sampai lampunya putus. dan malangnya setiap bengkel terdekat yang kami kunjungi sedang tutup. Ini kan malam tahun baru ya, pasti lagi malam tahun baruan semua ini, waduh-waduh.

Karena tak mau membuang waktu hanya karena mengurusi motorku saja, Aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari bengkel atau toko sparepart di daerah berikutnya yaitu daerah Ploso. Sebenarnya takut teman-teman kecewa saja. Oke, gimana? kita lanjut? perjalanan masih jauh, jangan sampai kita kelewatan menyaksikan Sunrise di Bromo yang katanya aduhai gitu, “Leh gantian kamu yang di depan ya, Aku di belakangmu aja biar bisa lihat jalan dari lampu motormu, oke?” Permintaanku pada Soleh yang mengendarai motor Satrio fuh yang baru Ia beli seminggu lalu. “Woke..” jawab Soleh. dan apakah yang terjadi? Three.. two.. one.. Goooooo… Worr.. worrr… teeetttttt… Buju buneng, belum juga Aku pake helm udah ilang aja tu Soleh (Maklum, motor baru). Lantas saja kami melanjutkan perjalanan. ini niatnya mau jalan-jalan malah jadi seperti balap liar, semua ikut kebut-kebutan.

Sesampainya di Ploso kami berhenti sejenak untuk membeli lampu motorku dan menggantinya sendiri. untung saja ada Soleh dan Ali yang membantu. fyuh, sudah jam 9 malam. Sepertinya, perkiraan sampai kota malang bakalan molor nih. “Mid, udah nyala nih lampunya” ujar Soleh. “Wah, thanks mas bro. ayo kita langsung lanjut aja gimana. ini udah jam 9 malem e, takutnya nanti jam 12 malam kita belum sampai malang bisa terjebak macet di kota Batu” ujarku.

Akhirnya, kami bergerak kembali melanjutkan perjalanan dengan Aku yang berada di posisi terdepan lagi, biar nggak kebut-kebutan lagi maksudnya. Ngantang hingga Pujon semua tampak lancar saja meskipun di Kota Batu memang macet karena jalanan sudah dipadati muda-mudi yang sedang menanti malam pergantian tahun, kami mencari jalur alternatif lain menuju kontrakan Anggik untuk menjemput Rendi. dan sebuah insiden terjadi lagi, saat kami melewati jalur alternatif menuju Kota Batu yang terkenal dengan jalan yang sangat curam itu, dari kaca spion Ku perhatikan Ali yang berada tepat di belakangku membuat jarak yang terlalu dekat, entah karena lampu motornya yang kurang terang atau memang gaya berkendaranya seperti itu. Sudah beberapa kali Aku memperlebar jarak namun Ia masih saja membuntutiku, lantas tiba-tiba Aku dikagetkan oleh jalan yang berlubang besar di depan, kontan Kubanting stir motorku menghindarinya, namun sayang Ali tidak menyadari akan hal itu dan Ia bersama Budi yang diboncengnya terpelanting hingga terperosok ke semak-semak.

“Mid.. mid.. mid..” Teriak Anggik sambil menepuk pundakku berkali-kali. “Iya, Inka christie – Gambaran cinta” jawabku. “Ehh.. bukan tebak lagu, itu ada yang jatuh di belakang” ujar Anggik sedikit panik. Aku menoleh ke belakang dan memang benar teman-teman sudah berhenti semua membantu Ali serta Budi. ini untuk putar balik juga susah sekali karena jalanan sangat curam. Usai membantu mereka berdua untuk berdiri, Kuperhatikan mereka. Kaca lampu motor Ali pecah dan celana mereka berdua sobek-sobek bercampur tanah. “Aduh pren, kita jaga jarak semua ya, jalannya terlalu curam nih, kira-kira setengah jam lagi kita sudah sampai kontrakan Anggik, kita bisa istirahat sebentar disana dan mengobati luka Ali dan Budi” kataku. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi dengan meroling penumpang yang tadinya Budi dibonceng Ali, sekarang Aku yang memboncengnya. Hebatnya Budi hanya memakai helm, jaket, celana jeans dan sendal, tanpa sepatu, tanpa jas hujan dan tanpa tas perbekalan. Amazing deh pokoknya Budi itu.

Pukul 23.00 wib
Akhirnya kami sampai juga di kontrakan Anggik. Wah, lelah sekali tubuh ini karena sejak dari rumah kita sampai disini kami kehujanan dan nampaknya belum akan reda juga. Di sana kami bertemu Rendi, teman Anggik yang katanya ingin sekali ikut ke Gunung Bromo. Kami beristirahat sejenak untuk sekedar makan, mendinginkan motor, membersihkan pakaian dan mengobati luka dua teman kami tadi. Lucunya, celana Budi itu kotor sekali dengan tanah, tapi Ia tidak membawa pakaian ganti, jadi mau tidak mau Ia akan melanjutkan perjalanan dengan celana kumal plus bolong-bolong itu, hadeehh Budi budi…

01.00 W.I.B
Kami melanjutkan perjalanan dari Kota Batu menuju Gunung Bromo. Entahlah rute mana ini yang akan dilalui Anggik, Aku tak sebegitu tahu arah ke Gunung Bromo, yang pasti Anggik pernah bilang Malang-Tumpang-Bromo, di sekitaran itulah rute yang kami ambil, Aku cari di peta pun tidak kelihatan rute itu. Dan entah di daerah mana ini, kami sudah mulai memasuki kawasan pemukiman dengan jalan yang menanjak. Dari roman-romannya sepertinya pemukiman ini pemukiman masyarakat tengger (kalau Aku tidak salah sih). Beberapa ratus meter pemukiman tadi telah kita lewati dan kita sekarang sedang berada di kawasan kebun kopi. Wow, sudah hujan, dingin, nggak ada rumah, jalannya menanjak, nggak ada lampu jalan, gelap gulita dan… tanpa dikomando tiba-tiba rombongan berhenti. Kita berhenti karena dari arah berlawanan tampak ada sosok bayangan putih sedang terbang menuju arah kami, kita saling pandang satu sama lain, yang ada di benak kami saat itu adalah ada pocong sedang terbang. Tapi, pocong kan loncat-loncat ya, yang terbang itu kan… Waaaa… kuntilanak…

Cerpen Karangan: Al iz Kusuma
Facebook: www.facebook.com/aliz.kusuma
Backyard’s Trapped (Part 1)

Backyard’s Trapped (Part 1)

Judul Cerpen Backyard’s Trapped (Part 1)

Rio mengejarku. Aku lebih senang bermain kejar-kejaran daripada bermain gulat dengannya. Aku selalu berhasil mencapai finish duluan. Meski umur kami sudah 5 bulan, tapi kami tak pernah sekalipun terpikirkan untuk berpisah. Ibu selalu berkata, “Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Dunia sudah semakin kejam”.

Hingga suatu hari ibu datang dengan ikan pindang di mulutnya dan tubuh penuh luka. Ini pasti ulah manusia jahat. Kata ibu manusia ada yang baik dan jahat. Manusia jahat lebih buruk daripada domba-domba jahat yang kabur dari tuannya, begitu yang aku dengar dari ibu. Aku tak mengerti maksudnya. Ada pula di antara mereka yang alergi dengan kami. Ada-ada saja.

Kembali ke topik. Makanan datang tapi ibu pergi. Pergi untuk selamanya. Ibu pergi saat aku dan Rio belum pernah mencari makan sendiri. Kalau aku boleh berdoa, aku lebih menginginkan ibu daripada ikan pindang di mulutnya!

Sejak saat itu, aku dan Rio sepakat untuk bermain-main hanya di atas atap rumah-rumah saja. Kami takut nasib kami berakhir seperti nasib ibu. Hanya sesekali turun ke daratan untuk mencari makan di tempat sampah atau di jalan yang penuh dengan sampah berserakan. Beruntung sekali kami ketika manusia penyapu jalan tidak segera membersihkan sampah-sampah jalanan itu. Tapi harus kuakui manusia kini semakin pelit. Tempat sampah saja ditutup dengan benda berat di atasnya. Mereka bilang itu tutup-tempat-sampah or whatever. Kucing-kucing liar seperti kami sering menyerah dengan tempat sampah semacam ini. Di antara kami ada yang bersikeras mengenyahkan penutup menyebalkan itu dengan menyeruduk tampat sampah. Itu pun dilakukan tengah malam. Tentunya kami tak ingin berakhir lapar dan penuh luka akibat pukulan sapu manusia.

Namun aku dan Rio sering melupakan rasa lapar dengan bermain kejar-kejaran. Tentunya tetap di atas atap. Beberapa atap sudah kulompati. Rio masih mengejar di belakangku. Satu dua genteng terkadang bergeser dari tempatnya. Menghasilkan suara keretak yang kusukai. Manusia di dalam rumah marah-marah. Aku tidak peduli. Hap. Aku melompat sekuat tenagaku. Kurasa kali ini aku salah perhitungan.

Aku terjatuh di daratan beralaskan keramik kasar. Sepertinya keramik ini berumur tua karena terdapat banyak bintik-bintik hitam di sudut maupun bagian tengahnya. Kalian dapat membayangkannya? Kuhaturkan rasa syukur kepada Maha Pencipta karena aku terlahir sebagai kucing. Lihatlah! Aku terjatuh tapi aku masih sempat memikirkan tentang keramik-keramik tak penting itu. Aku tak terluka meski terjatuh dari atap yang tinggi! Kalian bertanya tentang tulang-tulangku? Tetap berada pada posisi mereka. Itu semua karena jenis kami punya posisi siap-sedia otomatis sebelum mendarat.

“Vio! Kau tak apa?”
“I’m okay Bro. Tapi aku tak bisa naik ke atas lagi. Semuanya dikelilingi dinding dan tak ada pohon disini”.
Rio terdiam. Aku melihatnya sedang duduk di pojokan atap. Diam tak bergeming.
“Hai Rio! Sedang apa kau? Lekas bantu aku!”
“Hush. Aku ya sedang berfikir ini”.
Dia mengangkat kakinya sebelah. Sepertinya aku mengenal posisinya ini. Dia menyemprotkan air seninya ke arah dinding rumah sebelah. Sudah kuduga.
“Hehe. Aku sedang berfikir apakah kutandai daerah ini sebagai wilayahku atau tidak. Habis enak sih disini. Pemandangannya lumayan bagus” Rio mengatakannya sambil nyengar-nyengir sendiri. Mendadak aku menjadi jijik melihatnya. Dasar jantan. Mau seberapa banyak lagi wilayah yang akan dia tandai sebagai wilayahnya.
“Cepat cari cara agar aku bisa ke luar dari tempat ini!”
“Apa kau tak lihat? Di belakangmu sepertinya ada jalan”.
“Iyakah?”

Terdengar pintu terbuka. Suara sandal mengarah ke arahku tepat ketika aku baru sempat melihat jalan yang dimaksud Rio. Badanku menggigil. Manusia! Aku harus waspada.
“Di sebelah kirimu! Ada lubang. Masuklah kesana!”
Aku segera menuruti perkataan Rio, yang mungkin saja terdengar seperti meongan tak jelas di telinga manusia.

Untung saja. Sekarang aku sudah berada di dalam sebuah ruangan sempit. Aku berada di jalan buntu! Aku mulai panik. Bagaimana jika manusia itu menemukanku. Ah, mereka pasti bisa menemukanku. Manusia kan punya otak pintar.

Suara langkah sandal itu mendekat. Aku semakin menggigil di belakang pintu yang bagian atas dan bawahnya berlubang. Di ruangan ini tak ada tempat yang dapat digunakan untuk bersembunyi. Benar-benar kosong dan sempit dengan langit-langit atap yang tinggi. Kuintip manusia bersandal dari kolong bawah pintu –lubang yang aku bilang tadi.
“Puss”.
Ya Tuhan. Dia memanggilku. Manusia itu memanggilku! Namaku Vio bukan Puss. Tapi aku suka dengan bunyi kata itu. Waspada Vio! Dia hanya mencoba menggodamu. Aku semakin beringsut. Mundur sampai menempel pada dinding di belakangku. Oh Tuhan, nasibku sebentar lagi akan sama dengan ibuku.

“Puss”.
Ada sesuatu yang manusia itu lempar masuk ke kolongan bawah pintu. Benda itu menggelinding ke arahku. Apakah itu bom? Sepertinya aku terlalu parno dengan apa yang mereka sebut bom, benda yang katanya dapat meledak seketika. Gara-gara sering mendengar berita-berita bom dari benda kotak keras milik manusia. Apakah itu bom?

To be continued

Cerpen Karangan: Asny RR
Facebook: https://www.facebook.com/ariny.sabilarrusyda
Black Bright (Part 1)

Black Bright (Part 1)

Judul Cerpen Black Bright (Part 1)

Langit semakin cerah tapi, tak sesuai dengan apa yang dikatakan Deana, Seorang gadis SMA yang selalu bermain dengan kucing kesayangannya. Saat di jalan menuju pulang ia selalu berkata “Semua gelap dan tidak ada yang cerah. Semua hitam bermusuhan dengan putih. Huh aku tidak menyukai semua kecerahan, kontras, eksposur yang ada di dunia”

Sesampainya di rumah, ia membuka pintu tanpa mengucapkan salam. Karena di rumahnya sering tidak ada orang selain dirinya. Ia hanya masuk dan terus melamunkan akan keindahan dari kegelapan. Kucingnya langsung datang ke arahnya. Tapi, untuk kali ini Dea menepis pelukan Daisy, kucing kesayangannya itu. Lalu, dia duduk di sofa dan termenung dengan penampilan yang sangat acak acakkan.

“Meow.. Meow..” Suara Daisy sambil menarik narik baju Dea
“Daisy! Aku tidak suka cahaya aku benci cerah kenapa aku hanya menyukai hitam dan kegelapan?!” Guman Dea dengan raut wajah benar benar marah

Seketika, ponsel Dea berbunyi.
“Papa Called” tertera dalam layar ponselnya tersebut.
Dea hanya merenungi ponsel itu tanpa menyentuhnya. Ia menatap dengan sangat tajam. Namun, akhirnya ia tersadar dengan apa yang ia lakukan setelah beberapa detik ia langsung mengangkat ponselnya tersebut
“Halo, Papa?”
“Dea, Papa akan pergi ke luar kota sama mama untuk beberapa hari. Kamu baik baik ya disana. Ingat semua yang harus kamu lakukan dari pagi hingga malam hingga pagi lagi. Doa’kan kami semoga kami lancar di perjalanan ya Dea sayang”
“Kenapa secepat ini pa? Dea kan takut sendirian. Kenapa mama harus ikut? Kenapa pa?”
“Hanya untuk sementara nanti kami akan kembali lagi sayang”
“Baiklah pa, kalo begitu.”
“Jaga diri baik baik ya sayang kamu kan sudah besar ya daah”
Segera saja telepon itu ditutup oleh papa Dea. Dea semakin malas untuk bangkit dari Sofa, mengganti baju, dan melakukan hal lain.

Akhirnya ia merasa frustasi karena setelah dua jam ia hanya melamun. Tiba-tiba ada Ketukan pintu langsung saja ia tersadar dan membukanya. Saat membuka, ia sangat terhenyak kaget. Rasanya ingin menjerembabkan diri pada sumur setelah melihat Rei di depan pintunya.
“Eh Rei? Kenapa kesini Hehe maaf ya aku sedang capek jadi, aku belum merapikan diriku”
“Lah, kamu pikir aku peduli hal itu? Aku hanya diamanati untuk menjagamu beberapa hari. Jadi lakukan apa yang biasanya kamu lakukan ketika disini ada orangtuamu.”
“Kalau begitu sebaiknya menjauhlah! Kalau kau peduli hanya karena diamanati. Karena ini sama saja seperti seseorang yang dipekerjakan rodi. Sana!” Bentak Dea sambil menyingkirkan bahu Rei di hadapannya.
“Baiklah aku hanya akan memonitoringmu dari sini sambil menghafal jadi, kau juga jangan menggangguku!” Bentak Rei Sambil membawa semua peralatannya pada sofa.
Kemudian Daisy sepertinya ingin mencakar wajah Rei. Namun, Dea mencegahnya dan membawa Daisy ke kamarnya.

Rei adalah teman kecil Dea yang semasa kecil mereka selalu bersama. Namun, Kedua orangtua Rei Sudah tiada. Tinggalah orangtua Dea yang berbaik hati mau mengurusnya. Mereka Bersahabat sangat baik sampai suatu hari Dea pernah merasakan bahwa Rei tidak pantas untuk menjadi sahabatnya. Ia selalu mencela Rei ketika di sekolah. Namun, ketika berada di sekitar lingkungannya dia baik sekali pada Rei. Namun, Rei tidak pernah menggubris apa yang dilakukan Dea padanya ia hanya membalas dengan sikap yang sangat dingin pada Dea. Kecerdasan Emosional Rei sangat baik namun tidak pada intelektual sedangkan Kecerdasan Intelektual Dea sangat baik namun tidak pada emosionalnya. Jadi sebenarnya mereka saling membutuhkan.

Dea menjatuhkan buku diarynya secara tidak sengaja, karena buku diarynya itu tebal ketika terjatuh dari rak buku pasti suaranya sangat kencang. Rei sangat khawatir dan dia segera saja berlari ke kamar Dea. Dea yang mengetahui suara langkah Rei langsung saja berakting pingsan. Daisy hanya bersuara meow dengan volume yang kecil.
“Dea…? Tolong jawablah aku ini pasti hanya sementara kan? Kamu tidak apa apa? Haduh aku tidak ingin orangtuamu cemas. Tapi aku tidak tahu oh iya aku telepon saja rumah sakit.”
Kemudian sambil memegang kepala Dea, tangan kirinya mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Segera saja ia menulis nomor darurat itu namun ketika dia akan menekan tombol call, segera saja Dea Menjatuhkan HP Rei, Dea langsung menjauh dari Rei. Rei yang sebenarnya kesal saat menyadari HPnya jatuh dan Dea hanya berpura-pura, ia segera ke luar kamar tanpa menatap Dea lagi.

“Dia pikir dia itu putri kerajaan yang kemana mana harus dikawal lalu, ketika bersalah aku harus merubah kenyataan dia bahwa dia benar itu. Bahkan putri sekalipun ketika melakukan kesalahan harus dihukum” Pikir Rei sambil mengepal tangannya dan menatap tajam ruangan itu.

“Haduh, Apa yang aku lakukan? Aku kan tidak pintar berakting. Dan bodohnya untuk apa juga aku melakukan hal tidak berguna itu. Pasti Rei akan berpikir macam macam padaku. Dia akan menceritakan pada papa dan mama? Lalu, mereka marah dan mereka akan lebih menyayangi Rei daripada aku?” Guman Dea dengan keringat dingin dan perasaan cemas.

Rei yang sedang berada dalam ruang tamu itu mengacuhkan lagi tentang Dea. Berbeda dengan Dea yang di kamarnya sangat cemas dengan banyak pikiran negatifnya. Karena merasa lusuh Dea mengganti pakainnya dengan kaos hitam berlengan panjang dan celana denim. Kemudian, karena ia merasa terganggu dengan pikiran itu dia membawa handphone, dan alat alat seperti tali, karung, dan barang barang lain tak lupa dia membawa perlengkapan untuk daisy dan dirinya. Setelah itu, dia menyimpan tas itu di luar jendelanya. Daisy pun menurut untuk diam di luar dan menjaga tas itu.

Rei yang sedang membaca buku dan mendengarkan headphone tak tahu jika Dea ke luar melewati belakang dirinya yang dimana posisi Rei membelakangi pintu. Namun, Rei tak dapat dibodohi begitu saja di depannya terdapat lemari kaca besar tempat menyimpan pernak pernik dan kebetulan Rei melihat ke arah kaca lemari dan dia berkata “Mau kemana pembohong?” Dea yang kaget campur kesal menampar Rei dari belakang “Apa maksudmu pembohong? Aku tidak bohong aku hanya berpura pura tadi itu. Kamu mau membuatku rendah di hadapan orang orang karena hal itu? Sudahlah abaikan aku. Aku bukan anak yang paling disayangi. Jadilah anak yang baik agar disayangi kedua orangtuaku.” Dan Dea pun berlari ke luar dan segera mengambil tasnya dan berlari jauh dan daisy pun ikut berlari.

Rei yang kaget dengan apa yang dikatakan Dea, masih termenung dan memegang pipinya yang ditampar tadi. Hari itu masih normal saja cuacanya. Rei masih diam di tempat itu karena kaget entah apa yang dipikirkannya hingga hampir setengah menit dia berusaha mengejar Dea karena baru tersadar. Lupa menutup pintu ia kembali lagi menutup pintu dan berlari kembali walaupun sebenarnya dia sudah kehilangan jejak Dea. Dea terus berlari dengan Daisy. Kemudian ada sebuah Bus dia segera menaiki bus tersebut tanpa melihat jurusannya. Setelah naik, dia melihat sekitarnya awalnya ia biasa saja dengan keadaan bus yang tak terlalu bersih seperti Bus biasanya. Namun, Dea merasa lelah dan dia tertidur. Berbeda dengan Daisy yang berada dalam pangkuannya melihat keadaan sekitar. Daisy pun menarik narik rambut Dea yang sudah diikat satu itu dan terbangun kemudian arah pandangannya pun tertuju ke depan. Dan ternyata saat ia sadar ada tulisan Bandung – Sumatera. Dea pun kaget namun, tak bisa mengelak ternyata saat terbangun busnya sudah berada dalam kapal. Ia tertidur cukup lama. Dan Rei Pun ternyata sudah berhasil menaiki bus itu namun ia berada pada kursi paling depan. Saat dea tertidur Rei ternyata tak menyadari keberadaan Dea di bus itu. Saat di tengah jalan Dea hanya berharap ia bisa pulang namun sinyal HPnya pun semakin hilang begitu juga Rei. Namun, Dea merasa resah tapi terjaga.

Ia berlari menuju supir dan saat menuju supir Rei terbangun dan membuka matanya kemudian ia langsung menarik Dea. Dea yang kaget dan seisi bus itu menyangka Rei adalah copet ia langsung digebuki dan Supir yang berada di depannya pun kaget dan langsung menarik Dea. Dea tak terpikirkan kalau itu Rei jadi dia masih merasa pusing akibat kaget saat bangun tidur. Kemudian, tanpa pikir panjang lagi. Dea langsung menanyakan dimana keberadaannya dan bagaimana bisa tidak ada yang menagihnya untuk membayar bus ini.

“Eh, neng ini sudah berada di selat yang menuju Sumatera. Dan soal pembayaran biasanya kami tagih di akhir perjalanan memangnya neng mau membayarnya sekarang?” Tanya Pak Supir.
“Tapi pak, saya ini tidak ada tujuan untuk datang kesini dan tolong saya pak saya mau pulang lagi ke tempat tinggal saya”
“Aduh neng ini bagaimana bapak tidak bisa bantu soalnya ini sebentar lagi sampai”

Di sisi lain, Rei yang masih disangka Penjahat itu langsung didatangi Deana dan Deana membelanya, Mungkin Rei sedikit bahagia namun Deana sungguh sangat kesal karena Rei membuntutinya. Dengan rasa kesal pada Rei deana tetap bersikeras menjelaskan bahwa rei bukan penjahat dan akhirnya para penumpang kembali duduk dan berguman kesal pada Rei.

“Dea makasih ya” Dengan wajah tersenyum pada Dea
“Diamlah kamu tak memiliki attitude yang benar pada wanita!”
“Maksudmu apa? Aku menjagamu agar kau tak hilang begitu saja orangtuamu mengkhawatirkanmu, mungkin saja kamu tak suka jika dijaga tapi sekarang itu adalah tanggung jawabku”
“Hentikan! Sekarang aku ingin pulang Cepatlah jika kau memiliki tanggung jawab menjagaku sekarang, Aku ingin pulang dan jaga aku!” Jawab Dea dengan nada penuh kesal
Rei kemudian menarik Dea dan duduk di sebelahnya. Dea menatap Rei namun, Daisy segera mencairkan suasana tiba tiba dia bersuara “Meong.. Meong..” sambil meraih bahu Dea.
“Tunggulah koneksi disini buruk jadi aku butuh tempat yang menjangkau jaringan lebih baik tak apalah uangku kuhabiskan untuk membawamu pulang. Tapi ini semua juga terjadi karena kamu!”
“Oh”

Setelah sampai di terminal Rei kemudian membayar ongkosnya itu dan segera menemui Dea yang langsung duduk di warung nasi dekat terminal. Kemudian Dea menatap Rei tajam dan telunjuknya mengarahkan pada makanan.
“Tak perlu memberi peringatan aneh aku juga lapar, kau punya uang tidak?”
Dea membuka tasnya dan mengambil dompetnya kemudian dia menunjukkan ATM pada Rei. Rei pun paham maksud dari Deana dan segera mengantarnya ke ATM terdekat karena dari kejauhan ATM tersebut sudah terpampang jelas kemudian mereka berlari ke arah sana. Namun Tiba tiba Daisy…

Bersambung…

Cerpen Karangan: Fitri Nurul Falah
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100008233307491