Showing posts with label Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction). Show all posts
Showing posts with label Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction). Show all posts
Moonchild (Part 4)

Moonchild (Part 4)

Judul Cerpen Moonchild (Part 4)

“Taehyung,” suara lembut Zian mengalun seperti alunan piano, dan aku mencoba mengerakkan tubuhku namun karena luka di sekujurnya membuat usahaku sia-sia.
“Taehyung, ayok kita menuju kamar, kamu harus diobati.”
Lagi-lagi aku bermimpi Zian ada di sini, benar-benar malang nasibmu, Taehyung.
Lalu aku mendengar suara tangisan.
“Aku di sini, Taehyung, aku di sini,”
Aku mengangkat wajah dan mendapati gadis yang paling kusayangi di dunia setelah nenek dan ibu sedang menangis, dengan wajah sesenggukan dia menatapku.
“Zian, bagaimana kamu bisa di sini?”
“Syuutt, diamlah, yang harus kita lakukan saat ini adalah mengobatimu. Ayok, berdiri.”
Dia memapahku berdiri dan kami berjalan sangat pelan ke arah kamar tidur Jimin yang jauh ke arah timur, apertemen ini cukup besar dan memiliki 2 kamar tidur namun biasanya aku akan tidur bersama Jimin karena aku akan mengigau saat tidur dan itu membuat Jimin khawatir.

“Buka bajumu,” kata Zian setelah kembali dari menyiapkan kompres serta sekotak P3K.
“A-apa? Melepas baju?” wajahku memanas.
“Ya, karena yang lebih banyak terluka itu di daerah belakang dan perutmu.”
“Ta-tapi,”
“Sini aku bantu.”

Dengan cepat Zian bergerak ke arahku dan itu membuatku dengan cepat munduk ke belakang, ketika kepalaku menyambar dinding, Zian sudah berada diatas kasur dan dengan airmata dia menangis sejadi-jadinya.
“Eh-Eh, Zian, kenapa menangis?”
“Tolong aku, Taehyung. Tolong jangan seperti ini, aku terlalu takut kamu terluka makin parah karena aku. Tolong, Taehyung.”
“Baiklah. Tapi berhentilah menangis, airmatamu itu lebih menyakitkan daripada luka-luka ini.” Aku menghapus airmata yang membanjiri pipi Zian, berharap waktu untuk kami lebih banyak lagi dari ini, berharap hari ini tidak akan berakhir sampai kapanpun.
“Ka-kakakku, tidak menyukaimu, dia dari dulu telah menyiapkan jodoh untukku dan aku tidak suka itu. Dia terlalu memaksakan kehendakku, aku tidak ingin terlepas darimu, Taehyung. Bagaimana ini?” dia kembali menangis dengan sangat sedih bahkan ranjang milik Jimin sudah basah akibat airmata.
“Ya, mau bagaimana lagi, aku tidak ingin dipisahkan darimu tapi perkataan keluarga itu lebih baik didengar karena kamu hanya memiliki dia kan?”
“Siapa bilang? Aku masih memiliki kamu, Jimin-ssi juga.”
“Kami berbeda, Zian.”
“Ta-tapi, a-aku, benar-benar tidak bisa. A-aku su-dah begitu menci-cintai kamu.”
“Aku mencintai kamu, Taehyung.” Dia terlihat histeris dalam teriakan dan tangisan, aku meraih kepalanya membawa menuju pelukanku, memangkannya untuk saat ini bahwa kami sedang bersama dan tak perlu ada yang dibahas.
“A-ak-u lebi-h menci-taimu lagi. Sangat mencintaimu.”

Kami beradu pandang dalam waktu yang lama, dan menghabiskan malam dengan bercerita setelah selesai mengobati lukaku. Zian tertidur di sampingku hingga waktu yang kami butuhkan bahkan benar-benar berhenti disaat itu.
Kami telah melakukannya.
Ketakutan kami bahkan menyatu.
Airmata yang tidak bisa dibagi menjadi bagian yang satu.
Kami beradu dalam dunia keindahan dengan hamparan cinta yang mengila.
Waktu kami berhenti disini.



“APA?”
Taehyung berdiri di hadapanku dengan wajah berbinar, kami sedang melarikan diri diatap dan dia sedang memberitahukan sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut.
“Ka-kapan kalian—”
“Malam saat aku di apertemenmu.” Lagi-lagi dia berkata dengan penuh semangat, seakan sebelum itu tidak terjadi hal yang membahayakan nyawanya.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau XiuMin tahu? Kau bukan saja dipukuli tapi kau akan dihabisi dalam satu waktu.” Aku berteriak menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, sangat salah.
“Jimin-ssi, tolonglah mengerti, kami hanya membutuhkan bukti dari cinta kami.”
“Tidak, Taehyung. Tidak dengan cara seperti itu, itu salah. Ya Tuhan, Taehyung. Apa lagi ini? Kamu benar-benar akan membunuh nenekmu kalau sampai beliau tahu.”
“Jangan, Jimin. Tolong jangan beritahu mereka, aku janji akan mencari kerja begitu lulus sekolah, aku akan pergi ke Soul untuk mencari pekerjaan dan akan membawa serta Zian.”
Aku menggeleng histeris.
Barusan Taehyung memberitahu kalau Zian –? Aku tidak bermimpikan? Ya Tuhan, katakan sesuatu.
Kami terdiam dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya aku merelakan apa yang sudah terjadi dan memaafkan perbuatan gegabah Taehyung.
“Sudah tiga bulan ya?” aku menebak untuk diri sendiri dan membuat Taehyung bergumam sendiri.
“Ngomong-ngomong, kenapa Zian tidak masuk? Tadi aku mengecek kelasnya dan katanya dia tidak masuk.”
Taehyung melonjak kaget, sejurus kemudian aku ditinggal seorang diri.



Taehyung tak lagi menelepon.
Aku berharap mobil ini bisa terbang sampai ke tempat dimana Taehyung berada namun aku tahu sampai kapanpun mobil ini tidak akan bisa terbang.

Aku ingat betul, setelah hari terakhir kami diatap itu, Taehyung menjadi serpihan debu, dia terus menangis dan bersembunyi di apertemenku, merapuh seperti kertas dan terus-terus menyalahkan dirinya sendiri.
XiuMin, kakak lelaki Zian berhasil mengetahui kalau Zian tengah hamil dan memaksa gadis malang itu mengugurkan kandungannya.
Setelah itu Taehyung dan Zian seperti boneka tak bernyawa dan tak berdarah, mereka tidak bersemangat, bahkan untuk makan. 1 bulan terakhir disekolah, Zian terus dikawali pengawal membuat mereka benar-benar tersakiti, dan membuat aku merasa sangat bersalah untuk apa yang mereka alami.
Setiap pulang sekolah, apertemenku adalah persingahan Taehyung. Kami menghabiskan waktu dalam diam, makan dalam tangisan, belajar dalam lamunan, tidur dalam kesunyian.

Sejak hari itu Taehyung berubah menjadi lebih pediam, hingga suatu hari dia pulang kerumah neneknya dan memutuskan untuk bangkit, melupakan apa yang menjadi bagian dari kesakitan dirinya, melupakan bahwa dia pernah memiliki darah dalam tubuh seorang wanita.
Setelah kelulusan Zian dibawa XiuMin meninggalkan kota kami, tidak memberikan sedikit waktu bagi Taehyung untuk meminta terima kasih karena sempat memberikan dia harapan meski akhirnya pupus, namun itu menjadi bagian terindah di dalam garis hidupnya, menjadi kisah yang sulit dihalau meski nanti dia menikah dan memiliki keluarga yang mampu memberikan kebahagiaan padanya.

Taehyung hanya ingin berterima kasih karena pernah menjadi wanitanya dan bahkan sampai saat ini masih menjadi wanitanya.
Ya, wanitanya.

Aku larut dalam ingatan masalalu, menangis seperti saat aku dan Taenhyung menghadapi masa-masa sulit. Kami benar-benar harus disembuhkan, luka di antara kami terlalu besar untuk bisa diobati.

Taman? Tempat yang dikunjungi Taehyung adalah Taman yang sudah tutup beberapa waktu lalu.
Aku keluar dari mobil dan berlari memasuki gerbang taman bermain itu, berharap langsung mendapati Taehyung disana, namun ternyata tak ada sahabatku itu.
Kuhubungi ponselnya namun ponsel itu tidak aktif.

Ketakutanku bertambah.
Dia ke mana lagi?
Ya Tuhan, jangan buat seorang Taehyung terluka lagi. Tolong.
Airmata itu terjatuh. Aku takut jika mereka menyakiti Taehyung lagi, kenapa dia begitu bodoh hingga ingin bertemu dengan Zian sendirian? Kenapa tidak mengajakku?
Aku berlari dalam tangisan yang memilu, mencari di mana sahabatku itu.
Jangan lagi. Dia sudah cukup merasakan kehilangan, jangan lagi saat ini Tuhan, jangan untuk Taehyung.



Jam 4 pas dan Jimin belum juga sampai.
Kemana dia? Apa dia tidak ingin mendengar ceritaku? Bagaimana aku membuat XiuMin menangis dengan perkataanku, bagaimana aku memukuli XiuMin dengan tanganku sendiri karena perkataannya yang pedas pada Zian, bagaimana akhirnya dia mengaku bahwa sebenarnya membenciku hanya karena aku berasal dari rakyat biasa yang tidak memiliki harta, hanya karena dia takut aku tidak bisa menghidupi saudara perempuannya.
Bagaimana itu membuat aku menangis seperti anak kecil dihadapan semua orang, dan bagaimana seorang bocah dari lelaki lain yang menikahi Zian datang dan memelukku memberikan kehangatan yang dulu tidak aku dapatkan dari anakku, yang-yang–

Ah, sial. Aku menangis lagi.
Nah, itu dia.
Jimin sedang berlari memasuki gerbang taman, dia terlihat lelah karena berlari, matanya dipenuhi airmata. Ah, maafkan aku, Sahabatmu yang selalu membuat kamu berada di posisi yang sulit.
Sesuatu terlintas di kepalaku, aku menyalakan ponsel dan mengaktifkan mode penerbangan.
Membuka notes dan menuliskan beberapa kata disana.
“4 O’Clock”

Lagu untuk Jimin.
Lagu untuk kami.
Lagu untuk Zian.
Lagu untuk Putra atau Putriku.

Semoga kalian bahagia.

“Hey, Moonchild!!!” aku memanggil Jimin dengan senyuman sebari melambai padanya menyuruh dia segera menghampirku.
Jimin menangis, lagi-lagi.,
“Ya, dasar, kau sendiri Moonchild!!!”
Taman itu dipenuhi suara tawa dan tangis yang kian menghilang.
Mulai hari ini kami harus memaafkan masalalu dan melangkah menyambut masa depan, begitulah perkataan Jimin yang aku ingat sampai hari ini.

SELESAI

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Moonchild (Part 3)

Moonchild (Part 3)

Judul Cerpen Moonchild (Part 3)

Malam setelah kejadian dikeroyok

Desember 2012
Untung saja sudah tengah malam, kalau aku ketahuan memasuki apertemen elit dengan keadaan babak-belur begini aku pasti sudah dikirim ke kantor polisi. Beruntung sekali Jimin memiliki tempat tinggal ini, karena ini adalah impianku juga.

Aku memiliki kunci kamar Jimin karena sejak awal kami selalu bertukar barang-barang, dia juga memiliki kunci lemari pakaianku, aku membawa bagian lain dari Keyboardnya – aku membawa huruf J dan dia juga melepas huruf T, kami seperti saudara kandung ya? Dan hal-hal kecil lainya yang menjadi bumbu pelengkap persahabatan kami.

Lampu mati.
Aku juga tidak berusaha menyalakan.

Aku terjatuh di ubin dingin depan pintu masuk, karena kepala yang terus terasa sakit, sebaiknya aku memejamkan mata beberapa menit saja.
Maaf, Jimin-ah, aku harus menyusahkan kamu lagi.



3.40 AM
Ada polisi.
Sial!
Aku memperlambat laju mobil, dengan kecemasan yang kian menambah. Bagaimana kalau Taehyung tidak menungguku? Bagaimana kalau dia- dia terjun atau sesuatu yang lebih menyeramkan dari itu, la-lalu bagai-mana ka-kalau di-dia terl-uka lagi?

Bagaimana ini?
Polisi, sialan!

Sebentar. Kenapa GPS tidak berjalan otomatis? Apa tempat tujuanku baru saja dibuka makanya tidak masuk dalam peta ini?

Ah, suaranya hostnya berputar lagi. Mungkin karena kesalahan system suaranya jadi hilang, wanita itu kembali membacakan guide, dan aku menemukan dimana letak tempat yang dimaksud Taehyung.
Taehyung-ah, tunggu aku. Tolong jangan memutuskan hal gila sendirian. Tunggu, sahabatmu ini.



Nenek memberikan segelas jamu yang dia bawa dari Indonesia, aku mencoba meminumnya dengan melupakan bau dari jamu ini. Nenek bercerita banyak tentang perjalanannya, dia bahkan membawakan kain khas Indonesia, aku dipaksa memakai kain itu dan melepas baju dengan dada kosong aku memamerkan betapa cocoknya aku memakai kain itu.

“Hyung, ada telepon untukmu.” Jae berteriak dari ruang tamu sembari memainkan gangang telepon padaku, aku meminta izin pada nenek untuk menerima telepon.
“Jimin di sini,” belum lagi aku menyelesaikan perkataanku, suara seorang wanita menghalau lebih dulu.
“Jimin-ah, kamu tahu di mana Taehyung? Aku sudah mencari dirumahnya tapi nenek bilang dia tidak di sana, dan aku merasa khawatir karena dia belum juga menghubungiku.” Terdengar isak tangis diujung sana, wanita itu sepertinya sudah bergetar karena tangisan.
“Ada apa, Zian? Apa yang terjadi?”
Namun Zian hanya terdiam.
“Zian, katakan padaku, ada apa?”
“Nanti akan aku ceritakan, ceritanya panjang dan saat ini aku belum focus pada siapa pun dan apa pun, aku hanya ingin mengetahui di mana Taehyung.” Lagi-lagi dia menangis dengan isakan pilu yang membuatku ingin berlari pada Taehyung dan meminta penjelasan.
“Mungkin saja dia ada di apertmenku. Kamu ingat kan aku pernah mengajak kamu makan disana? Pergilah ke alamat itu, dia pasti disana.”
“Ya, ya, terima kasih, Jimin.”
“Zian-ssi, tolong jaga Taehyung. Tolong beri dia makan sebelum aku kembali kerumah, kamu tahukan kadang dia jadi begitu rapuh?” aku kembali mengingatkan Zian betapa Taehyung kami memiliki sisi gelap yang hanya diketahui kami.
“Ya, aku akan menjaganya. Kamu cepatlah selesaikan acaramu. Datang, dan aku akan menceritakan semuanya padamu. Sudah yaa, aku harus segera pergi.”
“Hati-hati, Zian.”

Aku meletakan gangang telepon dengan lemas, bertanya pada diri sendiri bahwa apa yang sedang terjadi pada mereka? Apa mereka putus? Tidak, aku rasa mereka tidak akan bisa putus.
“Taehyung kenapa kak?” Jae muncul dibelakangku dan bertanya dengan cara yang cool, aku hanya menggeleng meyakinkan diriku sendiri bahwa Taehyung baik-baik saja. Ya, sahabatku itu pasti bisa mengatasi masalah yang dia miliki.



08.00 PM
Jeju Island
“Wah, lihat ini, siapa yang berdiri disana?” suara berat itu mengudara dengan sangat lantang, beberapa pria bertato yang berdiri disamping lelaki itu terlihat menyerigai.
“Ya, sepertinya kalian sudah tahu aku akan datang. Bagaimana kabarmu kak?” aku mencoba ramah dan melupakan apa yang pernah dia lakukan padaku sebelumnya meskipun itu sangat sulit, karena sakit yang dulu tercetak masih saja terasa.
“Jangan biarkan Zian keluar.” Kakak lelaki Zian bebicara pada beberapa pengawal mereka menggunakan bahasa Mandarin. Dia akan berfikir bahwa aku mungkin belum mengerti bahasa mereka namun 4 tahun bukanlah waktu yang cepat bagiku untuk belajar bahasa mandarin dan aku tidak mau itu sia-sia belaka.
“Kenapa kau tersenyum?” XiuMin bertanya lagi, berdiri dari duduknya dan berjalan kecil kearahku.
“Jangan berfikir bahwa karena kamu public figure aku jadi segan untuk melukai wajahmu itu. Meskipun kalau boleh jujur, wajahmu ini lebih baik wajah yang dulu. Aku bisa menyaksikan wajahmu dulu yang kuhabisi dengan tanganku, ah, betapa malangnya kau, Taehyung.” Dia dengan menyerigai berdiri di hadapanku, tapi karena tinggiku yang melebihi dia membuat dia terlihat begitu kecil meski bodynya sangat kekar.
“Ah, kau bertambah tinggi. Siapa sangka kau akan datang kesini, Zian pasti akan senang melihatmu. Tapi, hey, dia sudah menikah dengan Choi Sinwoo, dan mereka sudah memiliki satu putri cantik. Ya, sekedar informasi untukmu.” XiuMin tertawa sembari berjalan meninggalkanku, ia kembali duduk dibangkunya.

Choi Sinwoo? Ah, anak kepala pengedar Narkoba? Aku tahu nama-nama gelap itu, mereka bahkan lebih terkenal dikalangan seleberitis dibandingkan kalangan pengusaha karena seleberitis membutuhkan obat namun berbeda denganku, aku mengetahui Sinwoo karena dia adalah lelaki yang dijodohkan XiuMin dengan Zian.
“Apa dia melanjutkan usaha ayahnya? Aku dengar-dengar ayahnya meninggal 2 bulan yang lalu. Apa itu bukan karena kamu?”
XiuMin membanting gelas kelantai dan berdiri dengan marah, dia menatapku seakan aku adalah kedelai malang yang siap disantapnya.
“Diam kau! Jangan berani-beraninya di daerah kekuasaanku.”
Aku tertawa.
Jimin-ssi, seadainya kamu di sini, kita akan menertawakan ekspresi bodoh lelaki sok jagoan ini.
“Ini boleh daerah kekuasaanmu, tapi kalau aku mengungah sesuatu di Internet maka kau akan tamat.”
XiuMin terdiam, kemudian tertawa lagi.
“Jangan bodoh, Taehyung. Kalau kau melakukan itu maka masalalumu akan diketahui semua orang, kau tidak akan memiliki pengemar lagi, tidak akan ada yang ingin mendukung dan melindungimu karena merasa dibodohi.”

Aku menggeleng keras. Kataku, “Tidak. Mereka tidak seperti kau, XiuMin. Pengemarku bahkan lebih setia dari siapa pun, Sahabat-sahabatku bahkan lebih baik darimu. Kau tidak perlu takut aku diasingkan, kau terlalu baik untuk melakukan itu.” Perkataanku membuat XiuMin kaget dan menyadari kesalahanya, dia lalu berbisik pada seorang pria dan orang itu masuk kedalam rumah. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik bagaimana bagian rumah ini tapi seperti inilah cara aku menjelaskannya.

Ruangan ini sunyi. Hanya diisi oleh ketukan sepatu yang makin nyaring seperti bergerak ke arah tempat kami berdebat
Kain pintu besar berwarna merah di hadapan kami terangkat dan menampilkan tubuh ramping Zian dibalut baju serba hitam dan kakinya memakai sepasang Heels berwarna senada, rambutnya dikuncir kuda dan wajahnya sedikit dipolesi bedak tipis, bibirnya sedikit berkilap mungkin karena dia memakai lipglos.

Kami sama-sama kaget dengan keberadaan masing-masing. Zian bahkan sedang gemetaran, kakinya tidak mampu lagi menahan tubuhnya, dia tersungkur di lantai dan buru-buru seorang pengawal ingin membantunya berdiri namun dia tolak.

“Kenapa Zian? Kamu masih mencintai Taehyung? Bahkan setelah kamu menikah dan memiliki anak?”
Betapa jahatnya XiuMin, menjebak adiknya dan memaksa menikah, sekarang dia melempar kata-kata yang pedas pada adiknya sendiri?
Aku bergerak cepat ke arah XiuMin dan langsung melayangkan sebuah tinju tepat pada hidungnya sebelum mereka menyadari aku tengah bergerak, Lelaki itu terjatuh menimpa kursi duduknya sendiri, sedang dua pengawal lalu berebutan menarik tanganku agar aku mundur.
“Wah, sudah jago kamu, Taehyung.”

TO BE CONTINUE

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Moonchild (Part 2)

Moonchild (Part 2)

Judul Cerpen Moonchild (Part 2)

“Yess!!!”
Taehyung berteriak histeris, untungnya kami berada di atap sekolah jadi tidak ada yang mendengar teriakannya selain hanya aku.
“Ada apa, Taehyung-ah?”
Aku menariknya duduk, setelah itu dia merebahkan punggungnya di lantai atap dan merebah seperti anak kecil.
“Kencan pertama kami!”
“APA?”
“Hahaha, aku tahu kamu akan sangat terkejut.”
Taehyung memulai ceritanya.

Taehyung POV
Kami bertemu di koridor Loker ketika aku hendak berjalan keluar, Zian sedang memasang sepatunya dengan buru-buru namun terlihat sepasang sepatu itu bahkan enggan memasuki kakinya.
“Boleh aku bantu?” tawarku, sial! Tuhan, jangan kau buat aku salah berkata lagi.
“Apa? Ah- Taehyung-ssi? Bolehkah?” setelah dia mengangkat wajah dan mendapati aku yang berdiri di hadapanya, dia kembali mengudarakan senyum.
“Tentu saja. Turunkan kakimu.” Aku menyuruhnya menurunkan kaki.
Jujur saja, kedua tanganku saat ini sedang gemetaran.
“Pelan-pelan saja.” Gumamku menenangkan diri sendiri.
“Apa? Haha, Taehyung-ssi. Taehyung-ssi, Taehyung-ssi, Taehyung,” akhirnya waktu berakhir dengan hanya mendengarkan suaranya menyanyikan namaku, bahkan aku membandingkan suara dia menanyikan namaku dengan suara nyanyian Jimin, bedanya Jimin menyanyikan “Taehyung-ah” sedang Zian “Taehyung-ssi”
“Selesai.”
“Gomawo. Wah, bagus sekali ikatan tali sepatu kamu, Taehyung.” Kedua mata Zian terlihat berbinar senang bahkan dia berlompat-lompat kecil.
“Karena nyanyian kamu yang begitu bagus, aku sampai lupa rasa gugupku.” Ucapanku yang sangat tiba-tiba membuat Zian berhenti melompat, dia menatapku lama dan akhirnya menangis di sana.

Aku hampir kena serangan jantung karenanya.
Wajahnya yang disembuyikan di balik telapak tanganya adalah hal terindah yang pernah aku lihat. Selain Jimin, seperti aku akan membunuh seseorang jika mereka berani merampas gadis ini dariku, ya, Mereka berdua.
“Lari, Yuk.” Aku menarik tangannya tanpa memerlukan persetujuannya lagi, kami meninggalkan ruangan loker dan berlari menuju taman samping kolam renang.
“Sudah, ah. Aku capai.” Zian melepas tangan kami dan membungkuk memengang lututnya sembari menarik nafas mengumpulkan mereka karena telah pergi beberapa menit yang lalu.

Aku tertawa.
Dia tertawa.
Kami tertawa.

“Kamu tadi sedang sedih?”
“Karena kamu.” Jawabnya dengan malu-malu, dia sedikit menunduk, membuat helaian rambutnya berhamburan menutupi wajahnya.

“Tunggu aku. Sebentar saja.”
Dia menatapku heran, namun tetap membiarkan aku pergi.

“Ta-da!!”
Aku memetik bunga di halaman taman dan memberikannya pada Zian. Gadis itu melonjak senang, dan hampir saja memelukku, kami tertawa karena malu.
“Mau ke luar?” aku bertanya agar suasana tak jadi sepi lagi.
“Kita sudah di luar.”
“Ah, benar juga. Maksudku, keluar seperti pergi ke Zona X, Atau pameran, atau MOX Bioskop, atau apapun, yang penting,”
Buru-buru dia memotong ucapanku. “Kencan?” lalu dia menutup mulutnya karena merasa terkejut.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Kenapa gadis ini mengambil alih bagianku?
“Besok, Jam 8 pas, aku tunggu di Depan stasiun kereta Jkioek.”



Namjoon Hyung menatap kami bergantian, wajahnya dipenuhi dengan kecemasan yang amat menyakiti kami. Begitupun dengan Yoongi Hyung, Hoseok Hyung, Seokjin Hyung dan Jungkook, mereka duduk dalam diam namun mata mereka sudah cukup mengambarkan kegelisahan mereka.
Di sana aku hanya merasa sebagai orang yang benar-benar tak pantas ada disana, berada dalam zona nyaman sementara membiarkan Taehyung seorang diri mendapatkan luka lama yang tidak pernah ia bisa sembuhkan. Akulah yang menyebabkan semua ini. Aku – YA! KAMU JIMIN!

“Mian. Ini semua karena aku.”
Mereka menatapku dengan kening berkerut, mereka memang sudah tahu wanita itu tapi mereka belum tahu cerita lengkapnya, bagaimana Taehyung dan Zian bertemu, asal-muasal masalah, sampai puncak masalah, dan luka yang selamanya tidak akan terobati yang diderita Taehyung.

Dan aku memulai cerita masalalu kami. Semuanya. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ya, memang seharusnya tidak.



Taehyung meletakan sekotak bekal di atas meja belajarku, hari ini merupakan hari ke 5 selama kami menduduki kelas 11 dan Taehyung masih saja menghabiskan waktunya untuk bermain-main, terutama Karena tengah dimabuk cinta. Ya, mereka sudah 2 tahun berpacaran dan aku rasa ini adalah puncak dari puncak yang setiap hari mereka bangun, mereka jadi selalu terlihat menghabiskan waktu yang dulu adalah milikku. Gadis itu, Zian, dia semakin menempel pada Taehyung selain karena sahabatku itu memiliki banyak pengemar perempuan – kebanyakan adalah kakak tingkat kami, karena sepertinya Zian memiliki masalah yang tidak dia bagi pada Taehyung, menurutku masalah itu menyangkut hubungan mereka.
Dan itu benar. Bahkan Taehyung sendiri belum menyadari hal itu.

“Zian memberikan ini untuk kamu, Jimin-ssi. Kau tidak ingin ikut kami ke cafĂ©?”
Taehyung menarik kursi didepanku dan mendudukinya, dia mengambil roti dari tanganku dan memakannya.
“Tidak, Taehyung-ah. Aku ada pertemuan keluarga, kebetulan nenekku pulang dari Indonesia dan aku harus menjeput dibandara. Kalian pergi saja, lain kali aku akan ikut.”
“Nenek? Wah, salam yaa, aku kangen sekali. Nanti aku pergi yaa, tolong bilang pada nenekmu untuk memasakan ramen terbaiknya.”
Aku dan Taehyung larut dalam obrolan tentang nenekku, sampai ramen dan percakapan konyol lainnya. Kami benar-benar menghabiskan waktu yang terasa sangat singkat.



“APA?”
Mereka berteriak lantang dengan wajah mengambarkan kekagetan tak terkira. Aku hanya bisa menunduk, menyesali sesuatu yang besar baru saja aku ceritakan pada mereka, rahasia terbesar yang aku dan Taehyung miliki tentang seorang wanita.
Aku menganguk lemah. Dengan wajah tertunduk lesu.
“Astaga.” Namjoon Hyung menahan ucapannya dengan jemari yang menutupi mulutnya.
Jungkook sudah menangis, merasakan penderitaan Taehyung saat itu dan kesakitanku menjadi satu-satunya orang yang tahu masalah Taehyung bahkan nenek Taehyung sendiri tidak mengetahui ini.
“Kita harus menolongnya.” Seru Hoseok Hyung sambil berdiri menengaskan seruannya.
Aku mengeleng.
“Tidak mungkin.”
“Ya Tuhan,” Yoongi hyung terlihat putus asa dan kalau boleh jujur itu adalah wajah putus asa pertama yang aku lihat dari dirinya.
“Ta-Tapi, Tae hyung akan baik-baik saja kan?”
Mendengar pertanyaan Jungkook, membuat aku menunduk dalam gelisah yang kusembunyikan, sebenarnya aku juga sangat takut harus menerima kenyataan masalalu yang terulang kembali, aku bahkan lebih takut sahabatku itu terluka lebih dalam lagi.
“Ya, dia akan baik-baik saja. Kita tahu bahwa Taehyung adalah orang yang kuat.” Ujar Seokjin Hyung sembari menjatuhkan telapaknya pada bahuku, menegaskan bahwa aku tidak perlu berlarut dalam penyesalan.
“Ya!”
“Siapa pun yang nanti akan dihubungi Taehyung, tolong, agar memanggil yang lain karena kita semua butuh kabar dari dia.” Begitulah keputusan final kami.
Kami berlalu dan masuk kedalam kamar masing-masing.

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Moonchild (Part 1)

Moonchild (Part 1)

Judul Cerpen Moonchild (Part 1)

Bahu kekar Taehyung seperti remuk dalam pelukanku, bahu itu bergetar diikuti tangisan tak tertahankan. Sedari sore tadi dia hanya menyembunyikan diri didalam kamarnya, dan tak ingin satu orang pun menganggunya. Aku pulang dan mendapati sahabatku ini sedang menangis di dalam kamar mandi pribadiku, aku menyeretnya keluar dan langsung memeluknya agar menenangkannya.

Ternyata dia sudah menungguku sedari tadi, merasakan dingin ubin kamarku dengan merebah seperti seekor keledai. Aku merasa khawatir karena apa yang menjadi perkara dalam kepalanya itu bisa membuatnya merapuh seperti kertas.

Dia terus menangis seperti airmatanya bahkan belum habis sejak siang ketika pulang dari Sajeun Park, taman bermain khusus untuk orang dewasa di daerah Haejin, bahkan dihari pertama taman bermain itu buka Taehyung telah memiliki kenangan buruk di sana. Aku ragu bahwa besok dia akan bersemangat ketika kami memiliki pekerjaan di segala jenis taman.

“Jimin-ah, aku tidak peduli jika kau sudah mendengar ini dari yang lain tapi aku ingin memberitahu sekali lagi,” sambil terisak Taehyung terus berkata sambil menarik ingusnya, sebenarnya aku sudah tidak bisa membedakan rasa ingin tertawa dan menagis, kadang sahabatku ini bisa sangat melankolis dan juga bisa berperilaku aneh dalam waktu yang sama, itu membuatku sudah begitu nyaman.
“Ya, aku ingin mendengarkan lagi, Bicaralah.”

Taehyung melepaskan diri dan meringkuk di ranjangku, menarik selimut dengan sembarangan dan menutupi sebagian wajahnya.
Aku duduk di samping ranjang, memperhatikan Taehyung sebaik mungkin agar tidak melewatkan apapun, karena jika kulewatkan maka aku akan kehilangan moment berharga bersama sahabatku yang selalu terlihat ceria ini.

“Aku melihat mereka,” dia menahannya dan sedikit terdengar isakan, lalu dia menarik nafas lagi. “Mereka terlihat bahagia, aku bahkan melihat bocah perempuan sedang merengek dibelikan Permen. Lalu mereka membawa bocah itu pergi menghampiri gerobak Kembang Gula, dan membelikan banyak sekali untuk bocah itu.” Dia melanjutkan lagi kali ini sambil mengarahkan padangan padaku, kedua matanya kembali dipenuhi airmata.

“Mereka memiliki kembali kebahagiaan mereka, dan aku? Aku hanya serpihan debu, Ya, Jimin-ah?” dia terisak semakin mengila.
Aku hanya terdiam, mengerti bahwa ini yang terbaik untuk dia saat ini. Di mana dia bisa lagi meluapkan semua kesedihan yang dia pendam sendiri selama ini? Aku. Ya, hanya aku. Meski kenyataannya banyak yang bisa dia ajak bicara tapi yang tahu pasti tentang Taehyung dimasa lalu hanyalah aku.

Taehyung terdiam, menarik nafas, menutup wajahnya dengan bagian selimut lain yang masih terlihat kering akhirnya basah karena sekaan airmatanya. Terdengar tawa serak dan teriakan kecil, Taehyung membuka kembali selimut yang menutupi wajahnya dan tersenyum padaku.

Melihat Taehyung yang begitu rapuh membuat aku kembali pada bayangan tentang masa lalu, ketika kami berada di bangku SMA.



Gadis itu selesai menganyam rambutnya, dia terlihat sangat suka dengan kegiatannya sendiri. Sedang Aku dan Taehyung mencoba mencuri padangan padanya, menyisahkan sedikit waktu agar Taehyung bisa melihat wajah gadis itu lebih lama.

Sudah sebulan ini, setelah upacara penerimaan siswa baru, kami menempati kelas yang sama dan ikut serta memuja gadis yang sedang kami lihat, sebenarnya hanya Taehyung saja, aku sekedar menemaninya.

“Aku memberinya sekotak tisu basah waktu itu. Kamu tahu? Dia dipenuhi coklat akibat sunbaemin yang jahil menumpahkan seember coklat padanya, ya, aku tahu sih, untuk sekotak tisu basah tidak terlalu membantu tapi setidaknya itu penolongan pertama yang paling baik.”
Aku mengingat lagi ketika pertama dikagetkan oleh ucapan Taehyung kalau dia Naksir berat cewek itu, cewek yang bahkan tidak kami ketahui namanya.

“Taehyung-ah, sampai kapan kita seperti ini? Bagaimana kalau kamu membantu mengikat rambutnya?” dengan paksa aku mendorong badannya, membuat Taehyung berteriak tertahan seperti didalam perpustakaan ini hanya ada kami berdua.

Gadis itu mengangkat wajah. Menatap kami. Mengerutkan kening. Lalu tertawa.
“Sedang apa, Taehyung-ah, Jimin-ah?” terdengar suaranya yang lembut memanggil namaku, jujur saja aku hampir terkelabui karena suara lembut itu.

Aku mengirimkan code pada Taehyung agar menghampiri Gadis itu, setidaknya kami tahu siapa namanya.

“Kau tahu nama kami?” aku mengambil inisiatif menyapa lebih dulu karena saat ini Taehyung sedang berdiri kaku di tempat dengan posisi kaki sebelah terangkat dan kaki sebelah masih berada di lantai, dia seperti kena sihir hitam penyihir jahat.
“Tentu saja. Kamu pernah gagal pentas karena tiba-tiba lupa teks, kamu mendapat nilai 100 untuk seni, kamu juga menjadi peringkat pertama karena gambar yang sangat bagus, lalu kalian berdua sangat keren saat bernyanyi di kantin kemarin.” Gadis itu berbicara panjang lebar dan membuatku kagum, bagaimana bisa kami seterkenal itu hingga dia tahu segala yang buruk?
“Taehyung-ah, pernah memberiku tisu basah. Haha, kenangan terburuk karena disiram seember coklat. Gila banget! Untung ada kamu, Taehyung.” Terdengar gelak tawa. Taehyung merespon, tubuhnya berputar dan akhirnya berlari ke arahku.

“Ayo, kita pergi.” Taehyung menarik tanganku dan hendak menyeretku pergi namun terlihat tangan kecil milik gadis itu menahan ujung seragam Taehyung.
“Kenapa pergi? Ah, maaf ya, membicarakan keburukan kalian.”
Aku lalu melepas tangan Taehyung dengan paksa, mendapatkan pandangan menerkam dari Taehyung namun aku mengabaikan itu semua dan kembali memfokuskan diri pada gadis itu.
“Tidak kok, kamu hanya menyebutkan kejelekanku, tidak untuk Taehyung tapi itu tidak masalah. Kenalkan, aku Jimin, P A R K J I M I N.”

Dia tertawa dan menyambut uluran tanganku.
“Xian Xu Lee, kalian bisa memanggilku Zian.”
“Xian? Atau Zian? Atau Jian?” aku menggulang kembali ejaan namanya yang benar agar kami tidak salah memanggilnya nanti jika berpas-pasan di kantin.

“Z-I-A-N, Zulu, India, Alfa, November.”

Taehyung tertawa.

Aku dan Zian menatapnya, heran.
Lalu kami menertawakan dia.



Ya, aku yang harus disalahkan di sini.
Karena jika aku tidak mendorongnya dan dia tidak berteriak seperti hari itu pasti mereka tidak akan pernah berkenalan, dan tidak akan pernah ada kisah penuh kesedihan seperti ini.

“Jimin-ssi?” kudengar Taehyung memanggil.
“Kamu menangis? Kenapa?”

Apakah aku ketahuan sedang menangis?
Aku menghapus airmataku dan beranjak dari dudukku, merasakan panas pada kedua mataku.
“Taehyung, tolong aku, jangan terus bersedih seperti ini. Aku akan terus merasa bersalah, kamu, kamu harus bangkit Taehyung, harus!” aku merasa gelisah dan mondar-mandir di dekat ranjang, begitu terus sampai akhirnya lelah dan memutuskan duduk melantai menyandarkan kepala pada kusen pintu.
Taehyung bangun dan menghampirku.
“Gomampda, Jimin-ssi. Kau terbaik yang pernah aku miliki.”
Kami melakukan hight five sebelum akhirnya Dia berlalu di balik pintu kamarku.

“Aku sudah membaik jadi jangan terus-terus menyalahkan dirimu. Dalam hal ini, hanya aku satu-satunya manusia yang harus disalahkan.”

Itu kalimat terakhir Taehyung, setelah itu aku tidak lagi bertemu dengannya, dia tidak muncul di dorm dan membuat kami bersembunyi di balik layar. Berlari dari kejaran wartawan yang menanyakan perihal menghilangnya Taehyung, meski pihak kami telah mengatakan kalau Taehyung sedang berlibur ke Bali dan tidak ingin diganggu privasinya namun para wartawan itu tidak juga puas. Mereka mendatangi studio kami, tidur di jalanan menuju dorm, dan bahkan menganggu jam makan siang kami.

Dan yang benar-benar terjadi adalah TAEHYUNG MENEMUI ZIAN.
Untuk beberapa alasan aku merasa sangat khawatir pada Taehyung. Ya, sangat!

TO BE CONTINUE

Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: rianarahayaan.blogspot.co.id
Kristal Sang Bidadari

Kristal Sang Bidadari

Judul Cerpen Kristal Sang Bidadari

Sabrina anak yang rajin membantu orangtuanya.
Pada hari minggu sabrina pergi ke sungai Nglerep untuk mencuci pakaian. Setelah semua pakaian yang dibawanya telah bersih semua Sabrina segera pulang ke rumahnya.

Saat di tepi sungai tiba tiba ia terpeleset, sehingga semua pakaian yang dibawanya jatuh ke tanah. Saat berdiri ia menemukan sebuah kristal di bawah kakinya. Tiba tiba “Tolong keluarkan aku dari sini, siapapun di sana tolonglah aku” terdengar suara dari kristal itu. Sabrina sangat kaget karena bagaimana bisa kristal itu mengeluarkan suara, saat Sabrina kebingungan tanah tiba tiba bergetar karena ada buaya yang sudah mengepung Sabrina. Saat itu pula kristal yang dipegangnya bersinar dan mengeluarkan seorang bidadari. Buaya yang telah mengepung Sabrina pun takluk terhadap bidadari dan kembali masuk ke arah sungai.

“Terima kasih Sabrina kau telah mengeluarkanku dari kristal itu. Sebagai imbalannya aku akan mengabulkan 3 permintaan yang kau inginkan dan aku sekaligus akan memberikan kristal itu kepadamu.” Ucap bidadari.
“Oh aku senang dapat membantumu, tapi bukannya aku yang menyelamatkanmu tapi kau yang menyelamatkanku. aku ingin meminta agar kau dapat kembali dengan selamat, aku ingin hidup bahagia dengan keluargaku, dan aku ingin cita citaku dimasa depan bisa digapai.” Ucap Sabrina.
“Baiklah kalau begitu aku akan mengabulkannya tapi baru kali ini aku melihat orang sebaik dirimu, dan sampai jumpa.” Kata bidadari.

Sabrina pun segera mencuci kembali pakaian yang dibawanya dan segera pulang ke rumahnya.

Cerpen Karangan: Intania Kharisma Larasati