Showing posts with label Cerpen Patah Hati. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Patah Hati. Show all posts
Cintamu Bukan Untukmu

Cintamu Bukan Untukmu

Judul Cerpen Cintamu Bukan Untukmu

Sudah sangat lama sekali aku mengenal hamid. Dia adalah temanku sejak smp, dari dulu kami berdua memang sudah sangat dekat bahkan dia sudah sepetri saudaraku sendiri dan semanjak acara kelulusan sekolah aku dengan hamid tidak lagi bersama.

Kami meneruskan jalannya masing-masing akan tetapi komunikasi kami tidak pernah terputus, perhatian hamid yang selalu dia berikan ke aku pun tidak pernah putus, dia selalu mengingatkanku tentang hal apa saja setiap saat, dia selalu mensuportku tentang segala hal yang ingin aku capai, tapi sayangnya 1 hal yang dia tidak pernah setuju denganku kalau aku memiliki kekasih “kamu tuh harusnya inget sayang apa yang kamu impikan, apa yang kamu cita-citakan buatlah orangtuamu bangga dengan prestasi-prestasimu” itu yang selalu dia katakan

Hari berlalu begitu cepat, minggu pun telah berganti bulan, bulan telah berganti tahun perasaanku kepada hamid semakin kuat tanpa ku sadari bahwa aku telah mencintainya sejak aku smp, entah apa yang membuatku jatuh cinta pada hamid apa karena perhatian yang selalu ia berikan tapi entah aku pun tak tau banyak tentang cinta.

Di salah satu caffe yang bisa aku dan hamid makan tak sengaja aku ketemu dengan hamdi. Betapa habagianya aku bisa bertemu dengannya “aa” sapaku pada hamid “dede caktik, aa kangen banget sama kamu sayang” ucapnya memeluk tubuhku “aku juga a, kangen banget” aku membalas pelukannya dengan erat dan tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri kami “yank” panggil wanita itu kepada hamid, aku bingung kenapa wanita itu memanggil hamid ‘yank’ “ini siapa a?” tanya ku “ini pacar aa de, dia calon kakak ipar kamu, cantik kan? namanya devi” ucap hamid membuatku terkejut “devi” ucap devi mengulurkan tangannya. “pacar???” ucapku bingung “iya ini pacar aa sayang” jawab hamid “maaf aku harus pergi” ucapku, hatiku hancur seketika mendengar devi adalah pacarnya hamid, orang yang selama ini aku pikir memiliki perasaan yang sama ternyata dia diam-diam meiliki seorang kekasih.

“ade kamu kenapa yank?” tanya devi “aku juga gak tau, emm aku susul dia, kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?” ucap hamdi “iya udah nggak apa-apa” ucap devi. hamid pun mengejarku dengan sepeda motornya.

Tak ada pilihan lain bagiku salain ke danau dimana aku selalu meluapkan segala isi hatiku di danau itu “TUHANNN kau tak adil padaku hiks hiks hiks aku yang pertama kali bertemu dengannya, aku yang mengenalnya begitu dekat harus patah hati karenanya hiks hiks sedangkan dia, yang baru mengenalnya bisa memilikin dia hiks hiks ini nggak adil tuhan nggak adil” teriakku dan menangis sejadi-jadinya perasaanku hancur rasanya sudah tak ada lagi kehidupan di hidupku.

Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang memelukku dari belakag dan ikut menangis “maafin aa udah buat kamu nangis, kanapa nggak pernah bilang ke aa sayang” ucap hamid membalikan tubuhku sehingga aku dangannya berhadapan, aku pun hanya menundukan kepalaku “liat aa sayang, aa memang cinta sama kamu, aa sayang, aa perhatian sama kamu, tapi sebangai seorang kakak kepada adiknya” jelasnya “tapi aku cinta sama aa, aku nggak mau kehilanggan aa” ucapku “karena aa nggak mau kehilangan kamu, kalau aa jadiin kamu pacar kita nggak akan pernah tau sampai di mana hubungan itu, kita putus terus saling menjauh aa gak mau seperti itu. pacar itu pasti ada yang namanya mantan sedangkan adik, nggak ada yang namanya mantan adik” jelas hamid mencoba menjelaskan alasanya, aku pun memeluk tubuhnya dengan erat dan dia membalas pelukanku.

Di situlah aku sadar bahwa memang hubungan seperti inilah yang terbaik untukku dan hamid. Jika pacar ada mantan tapi tidak untuk adik.

Cerpen Karangan: Juniar Amalia
Blog / Facebook: Juniar Amalia putri karisma
Penghujung Senja

Penghujung Senja

Judul Cerpen Penghujung Senja

Adam berjalan menelusuri rel kereta api, sebuah ransel besar menggantung pada bahu kanannya. sesekali ia berhenti, memeriksa keadaan rel yang membentang pada sisi kiri dan kanannya. melihat pada baut-baut yang terpancang pada bantalan atau memeriksa letak bantalan yang terbenam, itulah pekerjaannya. adam pegawai baru yang bekerja pada perusahaan itu, ia salah seorang pelaksana di stasiun di desanya, dan baru delapan bulan ini ia secara resmi diangkat menjadi pegawai tetap, tentu saja hal ini merupakan babak baru dalam hidupnya.

Jauh di dalam hatinya, Adam merasa begitu bangga. sebab secara finansial, ia bisa mencukupi kebutuhannya. merencanakan masa depan dan mungkin bahkan untuk merencanakan memulai hidup berumah tangga dengan gadis yang ia cintai.
Itulah keinginan sederhana yang ada dalam hatinya ketika itu.

Namun begitulah, kadang kenyataan tak harus terjadi seperti apa yang diharapkan. begitupun harapannya, segala kebanggaan dan harapan itu seakan runtuh. layaknya sebuah bangunan yang dihempaskan badai. ketika suatu hari ia mendengar bahwa hafsah kekasihnya telah dengan senang hati menerima lamaran dari seorang pemuda bernama akil.

Adam tak pernah bisa mengerti, bagaimana mungkin hafsah tanpa perasaan tega menginjak-injak harga dirinya.

Sungguh adam ingin marah dan muak pada kenyataannya, namun apalah yang bisa ia lakukan. bukankah hafsah memiliki hak untuk memilih yang terbaik untuk dirinya?. yang mungkin tak bisa hafsah harapkan dari dirinya.

Hafsah meninggalkannya ketika ia masih menggenggam harapan terhadap gadis itu, Adam benar-benar merasa seperti seorang pecundang.

Bukan hanya ibunya, tetangganya bahkan seisi kampungnya akan mengasihaninya, dan mungkin sebagian lagi dari mereka akan tertawa sambil mengejek dan berkata “lihatlah pecundang ini…”.

Kebersamaan yang telah mereka lewati selama ini, janji dan harapan ternyata tak lebih dari sebuah omong kosong. Adam benar putus asa.

Adam menatap hampa pada cahaya jingga lembayung senja. tibalah ia pada bangunan tua yang menjadi pos tempat ia berjaga dan berkantor, pos itu terdiri dari dua lantai. di pos kecil itulah ia melewati hari-harinya selama ini, merangkai mimpi dan harapan terhadap gadis yang bernama hafsah.

Tak ada bangunan lain di sana, selain pos kecil dua lantai itu, yang dikelilingi oleh pematang yang luas dan dipenuhi rerumputan dan ilalang yang berwarna kuning kecoklatan. hingga bangunan itu nampak menyembul seakan tak ada tempat bagi Adam untuk sembunyi dari kenyataan tragis hidupnya.

Dari balik jendela bangunan itu, Adam terlihat meratapi nasibnya yang malang. di balik dinding-dinding gedung kebanggaannya selama ini, tempat mimpi-mimpi indah terangkai kini baginya telah berubah menjadi tempat yang tidak nyaman, ia benar-benar ingin pergi.

Waktu berlalu begitu lamban, Adam dengan susah payah membunuh jenuhnya senja itu. hingga waktupun berlalu, Adam berkemas sebab gilirannya berjaga di pos hari ini akan segera berakhir dan digantikan oleh petugas yang lain.

Ia menunggu beberapa saat hingga pegawai yang akan menggantikannya telah nampak dari kejauhan. seperti biasa, ketika pergantian petugas mereka akan mengisi sebuah buku yang telah dipersiapkan untuk pergantian.

Sebelum keduanya berpisah, rekan kerja yang menggantinya bernama mono itu memberitaukannya “selamat kawan, permohonan mutasimu dikabulkan. saya telah melihat suratnya dari kepala stasiun…” ucap mono.
“Benarkah..?!” ucap Adam singkat.
Mono hanya mengangkat bahunya. lalu keduanyapun saling berpelukan.
“Selamat jalan kawan… semoga sukses di tempat tugas yang baru.” mono berusaha membesarkan hatinya. sebab ia tau benar kemalangan yang terjadi atas diri rekannya itu.

Ya… perlakuan hafsah telah merubah segalanya. gadis belia itu telah menciptakan sebuah keadaan yang tidak sederhana. hingga Adam yang harus menyingkir dan mengalah pada kenyataan yang tidak berpihak padanya. ia memutuskan pergi, mencari dunia baru, suasana baru dan tentu saja bertemu dengan orang-orang yang baru.

Adam mengayunkan kakinya langkah demi langkah meninggalkan pos jaga di ujung stasiun. sementara di ufuk barat, matahari kian tergelincir ke larut senja menyisakan bias cahaya semakin merah merona. di tengah perjalanan, tiba-tiba adam menghentikan langkahnya. tangannya meraih sepasang cincin yang tersimpan di balik saku celananya yang dibelinya dua bulan yang lalu. cincin yang akan diberikannya kepada hafsah sebagai cincin pernikahan.

Adam teringat hari ketika ia membeli cincin itu di sebuah toko perhiasan. pemilik toko itu berkata: “ini salah satu cincin pernikahan terbaik yang kami punya. Apakah kau bermaksud memberikannya kepada pacarmu?”.
“ya… Aku mencintainya.” ucap adam tersenyum, ada rasa bangga di hatinya ketika membayangkan wajah hafsah kekasihnya.
“dia pasti gadis yang baik, dia memang pantas mendapat hadiah terbaik.” ucap pemilik toko perhiasan.

Adam terpaku mengenang hari itu, ia hanya tersenyum getir. seulas senyum yabg terlihat tidak mengenakkan dan terasa pahit sekali.

Segala harapan yang ia coba bangun kini sia-sia, ia bahkan belum sempat menunjukkan cincin itu kepada hafsah, dan kenyataan yang terjadi, bahwa hafsah kini telah di ijtibah oleh orang lain. tinggalah dirinya yang dipiatukan takdir.

Pada sawah yang membentang pada sisi rel kereta, dengan sekali kibas pada kekuatan penuh lengannya. melayanglah kedua cincin itu susul menyusul. lalu terkapar pada permukaan lumpur yang sayup, lalu perlahan tenggelam, terisap dan menjunam ke dasar tanah dalam kepekatan lumpur hitam.

“Selamat tinggal hafsah, engkaulah kisah terkelam dalam takdir hidupku” keluhnya dalam hati.

Cerpen Karangan: Shaheenshah
Blog: Shaheenshah.blogspot.com
Tasbih Cinta Ahnaf

Tasbih Cinta Ahnaf

Judul Cerpen Tasbih Cinta Ahnaf

Allah..
Aku telah melalaikan ridho yang menjadi ridho-Mu. Telah mengabaikannya untuk aku meniti setiap ruang kehidupan di jalan-Mu. Aku telah membuka hati ini begitu luas untuk sebuah perasaan duniawi yang tertuju untuknya.

Allah..
Kenapa kau memberikan rasa ini untuk manusia seperti aku? Saat hati ini menjelma menjadi jembatan yang terputus, sementara aku ada di atasnya, bagaimana aku harus memilih di antara dua jalan yang kelak akan bisa menyelamatkanku dan pula menjerumuskanku?

Allahu rabbi..
Sesungguhnya Kau telah menentukan pertemuan kami. Entah akan ada keajaiban apa di sepanjang alur skenario yang telah kau gerai dalam tema hidupku.

Allahu rabbi..
Izinkan aku menghargai cinta yang ada, karena-Mu. Sama seperti aku memuliakan untaian do’a dan keridhoan yang ada dalam genggaman-Mu. Izinkan aku menghalalkan cinta yang Kau simpan dalam jiwa kami. Walau entah dengan siapa Kau izinkan aku untuk mensucikan kasih dan sayang yang selama ini Kau rahasiakan.
Antara Aku dan jodohku..

Sudah hampir menginjak 3 bulan setelah Fariz, lelaki yang Ahnaf cintai sejak kelas 1 SMA itu datang ke rumahnya. Meminta restu kepada Ayah Ahnaf untuk meminang putrinya di langkah yang lebih serius. Jujur, setelah lima tahun lamanya menjalin hubungan dengan lelaki bersih itu, mungkin itulah saat yang paling ditunggu Ahnaf. Kedatangan Fariz dengan niatnya yang suci sebelum mengkhitbah gadis itu. Meyakinkan Ayah Ahnaf dengan bukti kesetiaan dan tanggungjawabnya dalam menjaga Ahnaf, serta tanggungjawabnya sebagai pria yang sudah memiliki pekerjaan tetap. Yang dengan keberaniannya menyatakan kesiapannya untuk menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam bagi anak gadis pertamanya. Langkah seperti itulah yang selalu Ahnaf tunggu. Meski memang harus ia akui, tidak mudah meyakinkan Ayahnya untuk sekali menerima dan membiarkan Fariz datang dengan setumpuk tujuannya bersama Ahnaf. Terutama dalam meraih ridho orangtua gadis berusia dua puluh tiga tahun itu. Berulang kali sang ayah menentang hubungan yang Ahnaf sendiri tahu bahwa hubungan itu sama sekali tidak diperkenankan dalam agamanya. Hubungan dengan istilah pacaran itu sama sekali tidak direstui oleh Tuhan-nya yang memberikan rasa. Menciptakan rasa itu sebagai wujud bahwa cinta adalah hal yang fitrah untuk mereka yang segera dihalalkan. Namun Ahnaf tetap optimis, ia tetap berharap bahwa segala penolakan yang secara terang-terangan ditunjukan ayahnya hanyalah bukti kecemasan pada dirinya. Karena jika hanya begitu, Ahnaf setidaknya merasa bersyukur. Meski ia telah mengungkapkan begitu serius perasaan yang telah diamanahkan Allah kepadanya, Ahnaf bersyukur ia mampu menjaga dirinya sendiri.

Fariz adalah lelaki yang meski usianya hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari Ahnaf, namun sikap dan cara berpikirnya sangat dewasa. Tak jarang ia selalu mengingatkan, menuntun dan bercerita dengan kalimat-kalimat khasnya yang lebih terkesan seperti pidato. Tak jarang ia juga selalu membicarakan tentang agama. Membuat Ahnaf malu karena sejujurnya Fariz lebih banyak tahu tentang hal-hal seperti itu dibanding dirinya. Dan yang lebih membuat bangga Ahnaf terhadap lelaki itu adalah, Fariz mampu menjaga kehormatannya. Ia tidak pernah berani menyentuh bagian termudah dari dirinya bahkan selama lima tahun mereka berpacaran. Keberhasilan Fariz dalam menjaga Ahnaf secara lahiriyah dan dalam mengukir prestasi menjadi harapan Ahnaf untuk Ayahnya meletakan kepercayaan kepada lelaki itu, meski hanya sedikit demi sedikit.

Namun saat ini justru rasa percaya diri itu seperti melenyap ditelan waktu. Fariz menghilang setelah kedatangannya beberapa bulan yang lalu. Ia tidak tahu apa saja yang telah dikatakan sang ayah kepada Fariz. Namun ketika Ahnaf bertanya kepada ayahnya sendiri, ayahnya itu hanya berkata bahwa Fariz harus memikirkan kembali keseriusannya dalam memilih Ahnaf untuk menjadi istrinya kelak. Berkali-kali Ahnaf bertanya perihal perbincangan mereka saat itu, dan berkali-kali pula Ayah Ahnaf memberikan jawaban yang sama. Kalau sudah begitu, ia tidak bisa menyangkal lagi. Ahnaf yakin bahwa ayahnya berkata jujur. Namun yang ia tidak habis pikir adalah, mengapa Fariz menghilang begitu saja ketika ayahnya hanya menyuruhnya untuk berpikir kembali? Apa sesuatu telah terjadi? Tidak. Terlalu ekstrim untuk berpikir ke arah seperti itu. Namun ia benar-benar tidak habis pikir. Segala jejak yang seharusnya bisa ia ikuti, sama sekali tidak menampakan diri. Nomor handphonenya sudah jelas tidak aktif. Media sosial yang biasa menjadi tempat ia menyebarkan dakwah dalam kalimat-kalimat sederhana sama sekali tidak memberi petunjuk. Tidak ada postingan yang tampak sekalipun. Berulang kali Ahnaf menghubungi beberapa teman dekat dari Fariz, namun mereka juga mengatakan tidak tahu. Entah benar atau tidak keadaannya, Ahnaf hanya bisa mempercayai apa yang ia dengar. Meski di dalam hatinya terbesit keraguan bahwa teman-teman Fariz memang mencoba menutupi keberadaan lelaki itu.

Minggu pertama setelah berbulan-bulan dalam kegalauan, Ahnaf mencoba untuk berhenti mengkhawatirkan keadaan Fariz dan sebab kemana ia menghilang setelah hari itu, serta alasan apa secara tiba-tiba lelaki itu meninggalkannya. Barangkali dengan seperti itu, Fariz akan datang memberi kejutan bersama kedua orangtuanya untuk segara melamar Ahnaf. Itulah harapan terbesarnya saat itu. Harapan yang mungkin memang lebih terkesan seperti khayalan. Dan saat ini hanya Pipit lah satu-satunya teman yang bisa ia andalkan, untuk menjadi tempat curahan hatinya. Saat ia benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa membantunya dengan memberikan rangkaian solusi. Karena selain itu, ia tidak bisa lagi mengharapkan solusi dari paman, adik-adik atau sang nenek, keluarga kecilnya di rumah.

Awalnya memang keluarga Ahnaf tidak begitu menyukai Fariz. Entah karena alasan apa mereka tidak setuju dengan pilihan Ahnaf. Namun semenjak kedatangan Fariz waktu itu, mereka mulai sedikit demi sedikit menerima kepribadian lelaki itu. Sopan dan santunnya yang dipandang baik oleh keluarga Ahnaf tentu membuat Ahnaf bahagia bukan main. Penerimaan itu seolah menjadi penghargaan atas apa yang selama ini Ahnaf lakukan untuk memperjuangkan Fariz, pria yang diyakini sebagai masa depannya. Tapi apalah daya, ketika sekuntum bunga mulai merekah, angin yang menerpa bagai menerjangkan setangkai bunga yang sedang kuncup itu. Mematahkan duri dan setiap kelopaknya. Tindakan Fariz yang seperti teroris meruntuhkan kembali dinding kepercayaan keluarga Ahnaf menjadi tumpukan bebatuan pada jurang yang semakin dalam dari sebelumnya. Karena itulah jika sesekali Ahnaf bercerita tentang keresahannya, mereka hanya mengungkapkan kepasrahan dengan apa adanya.

Sudahlah Naf, jangan terlalu dipikirkan.
Mungkin dia ingin sukses dulu. Baru nanti setelah mapan, dia akan datang ke sini.

Ya, mungkin dia hanya butuh waktu. Tapi bukan itulah yang membuat hatinya bimbang. Ada dua hal yang menggamang dalam pikirannya. Dua hal yang menjadi alasan Fariz memutuskan kontak dengannya. Kedua hal itu antara ekspektasi dan realita. Pertama, Fariz memilih pergi karena ia akan mengejar karirnya sementara sebelum ia kembali berniat mempersunting Ahnaf. Kedua, Fariz merasa pengorbanannya adalah hal yang sia-sia ketika Ayah Ahnaf memberikan penolakan secara tidak langsung, dan kemudian ia memilih untuk melepaskan Ahnaf dengan menghilang. Bisa jadi apa yang dilakukan Fariz adalah salah satu di antara dua kemungkinan yang merayap dalam benak Ahnaf. Atau jika tidak keduanya, Ahnaf tidak bisa membayangkan kemungkinan lain. Memikirkan dua hal itu saja sudah cukup membuat pikirannya terbebani. Jika Fariz memang benar-benar telah memutus hubungan di antara mereka, Ahnaf yakin ia merasa batinnya telah dipukul begitu keras. Penantian selama lima tahun yang mereka jalani seolah berjalan sia-sia. Bahkan pepatah yang mengatakan hasil dari kesabaran selalu berbuah manis yang selalu diyakininya kini menjadi entahlah. Semua hal yang telah dilakukannya menjadi bayangan-bayangan mengerikan bila Ahnaf berpikir sampai pada hal itu. Wallahu’alam.

Menjelang isya ketika Ahnaf sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia menghentikan bacaannya sebelum suara wanita yang dikenalinya itu mengucap salam. Ahnaf segera bergegas untuk membukakan pintu, masih dalam balutan mukenanya. Wanita yang datang itu adalah Pipit. Ahnaf sangat mengenali bagaimana suara sahabatnya itu. Dengan segera ia mempersilahkan Pipit masuk. Hari itu memang sedang tidak ada siapapun di rumah, kecuali dirinya. Namun entah ada ilham apa Pipit menyambangi rumahnya pada jam seperti ini, mengingat hari itu mereka belum juga bersapa lewat sms atau chat.

“Tumben Pit, kamu ke sini. Kenapa nggak telepon dulu?”
“Maaf Naf, aku ndak sempat pegang handphone tadi. Lagipula lebih baik mendadak seperti ini kan..” Kata Pipit sambil mengulas senyum.
“Kenapa lebih baik mendadak? Nggak biasanya lho buat surprise begini.”

Pipit hanya tersenyum simpul. Ia lalu terdiam. Matanya memandangi wajah Ahnaf dengan sendu. Namun seperti kosong. Tatapan itu seperti tidak ada makna selain hanya keraguan yang tersirat. Setelah memastikan keadaan Pipit yang sebenarnya, Ahnaf baru yakin bahwa ada yang tidak beres pada sahabatnya itu. Ia lalu meraih tangan Ahnaf, menyadarkannya perlahan.

“Pit, ada masalah apa?” Suaranya nyaris tak terdengar.
Pipit segera mengalihkan pandangan. Sebutir kristal bening tampak mengalir dari sudut matanya. Ahnaf semakin khawatir menyaksikan keanehan sahabatnya itu.
“Pit..”

Tak menghiraukan Ahnaf sama sekali, Pipit segera mengambil sebuah amplop dari tas tangannya. Kemudian mengembuskan nafasnya sejenak sebelum menjawab keheranan yang terpancar dari wajah Ahnaf.

“Naf, aku baru dapat kabar dan kiriman foto ini sore tadi dari kawan lamaku. Ternyata dia juga teman Fariz. Maaf sebelumnya, bukan aku ingin menyembunyikan hal ini. Tapi aku pun baru tahu yang sebenarnya hari ini..” Pipit menjelaskan dengan nada tertekan, sementara Ahnaf masih belum mengerti maksud sahabatnya itu. Dan entah kenapa jantungnya serasa berdetak lebih cepat. Ahnaf merasa seperti ada hawa panas yang menyergapnya tiba-tiba.

“Kamu akan tahu setelah membuka amplop ini Naf..” Disodorkannya amplop itu kepada Ahnaf. Air muka Pipit nampak lebih tenang dari sebelumnya.
“Baiklah, kalau begitu. Aku permisi dulu Naf, sudah malam.. Semoga ini memang yang terbaik untuk kamu.” Pipit beranjak dari kursinya untuk segera meninggalkan kediaman Ahnaf. Membiarkan Ahnaf bergumul dengan pikirannya sendiri.

Setelah mengantar Pipit sampai di teras rumah seraya membalas ucapan salamnya, ia segera memasuki rumah. Di atas sajadah yang masih terhampar di lantai kamarnya, cukup lama Ahnaf memandangi amplop yang diberikan Pipit. Pikirannya kembali mengatur gambar-gambar wajah Fariz dan segala hal yang mengusik memorinya selama ini. Lalu jari-jemarinya yang lentik perlahan membuka kepala amplop yang tidak begitu tertempel itu.

Hanya dalam hitungan detik, sebuah foto pernikahan yang bahagia terlukis di sana. Allah. Tidak. Apa yang baru saja dilihatnya? Laki-laki dengan pakaian adat khas Jawa Barat berdiri tersenyum di samping seorang wanita cantik yang juga mengenakan pakaian adat khas pengantin. Cantik. Begitu cantik dengan geraian jilbab putihnya yang tertata indah. Ya Allah. Seketika dada Ahnaf terasa sakit. Tenggorokannya serasa tercekat. Ada sesuatu yang berteriak dalam hatinya. Tangisannya seolah tertahan di dalam dada. Ia memang tidak bisa menjerit saat itu juga, namun hatinya begitu menjerit. Di atas sajadah yang terhampar itu, Ahnaf meluapkan buncahan-buncahan perasaan yang menghimpit dalam benaknya. Air mata deras mengalir. Ya Tuhan, inikah jawaban atas pertanyaan yang tak juga hamba temukan jawabnya selama ini? Inikah kejutan yang Kau sediakan untukku?

Ahnaf melongok kembali isi amplop tersebut. Tak ada apapun. Tak ada surat atau lipatan kertas di sana. Fariz mungkin telah bahagia dengan wanita pilihannya. Dan mungkin juga lelaki itu telah berhasil melupakan kehadiran Ahnaf sepanjang 1825 hari ia mengenalnya, sehingga tak tersisa satupun surat untuk sekadar memberi penjelasan pada gadis itu. Memberi setidaknya sedikit ketenangan untuk Ahnaf benar-benar bernafas. Ia hampir menggigit ujung mukenanya ketika menahan tangis. Beruntung tidak ada satupun salah satu dari keluarganya yang tinggal di rumah, sehingga ia bisa membiarkan rahasia itu menjadi rahasia yang hanya tercipta antara ia dan Tuhan-nya. Foto yang seolah menggambarkan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain itu tak henti-hentinya terlepas dari pandangan Ahnaf. Terkejut? Tentu. Tak menyangka? Tentu saja. Rupanya lelaki yang telah menghilang dan ia tunggu-tunggu itu melunturkan janji yang mereka bangun, dan membangun kembali ikatan janji suci dengan seorang wanita lain. Sakit memang mengetahui kenyataan yang tidak sejalan dengan harapannya. Namun yang lebih sakit adalah kenyataan untuk mengetahui bahwa wanita yang telah dipersunting lelaki itu adalah seseorang yang pernah dikenalnya dulu. Safina. Wanita yang Ahnaf tahu pernah menyukai Fariz ketika masa SMA dulu. Subhanallah. Ahnaf tidak mampu berkata-kata. Kedua matanya terus berkaca-kaca menumpahkan tetes demi tetes air ketulusan.

Dalam tangisan itu, ia menyadari banyak hal yang selalu ditepisnya selama ini. Cinta memang luar biasa. Dengan keberadaannya, seseorang bisa menjadi sosok di luar dugaan. Dengan keberadaannya pula, seseorang bisa menjadi sosok yang rapuh. Fariz mungkin pernah memberinya kebahagiaan, namun juga telah memberinya pelajaran dengan serangkaian teka-teki yang ia ciptakan. Teka-teki yang telah menjadikannya luruh bagai daun yang disapu angin. Lelaki itu telah membiarkannya memikul penderitaan selama berpuluh-puluh hari, bahkan lebih. Tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa ingin memberinya keputusan.

Rupanya Allah telah mengujinya. Membiarkan Ahnaf melepas seseorang yang bukan jodohnya. Dalam ketegasan itu, Ahnaf merasa sangat malu di hadapan Yang Kuasa. Selama ini ia terlalu membangga-banggakan orang yang belum pasti disuratkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Ia telah begitu terlena memperjuangkan cinta yang belum pasti dihalalkan untuknya.

Dan satu hal yang ia sadari saat itu.. Cinta memang menipu dan meniupkan perasaan yang tiada pernah mati.

Cerpen Karangan: Aina Awliya
Facebook: facebook.com/aina.auliya
Korban PHP

Korban PHP

Judul Cerpen Korban PHP

“Kringg.. kringg.. kringg”
“Ah berisik! gak tau apa orang lagi mimpiin doi nembak, sialan lo jam beker” keluhku.

Yaps. namaku Mega safitri, biasa dipanggil mega. masih 14 tahun sih tapi kebanyakan pada manggil kakak. Kan kamvret!
singkat cerita. Hari ini gue ada les di sekolah, males banget. padahal kan ini hari minggu.

“Megaaa.. nggak liat jam atau gimana? cepet bangun! Ada temen nungguin noh di depan” Teriak emak gue. “Siapa mak? tumben ada yang jemput?” ucapku langsung bangkit dari kamar. “Mandi aja dulu. baru nanya! udah cepet!”
“Ah emak, baru bangun udah diomelin. Segini anaknya cantik juga masih aja diomelin” gerutuku dalam hati.

Deg! Kaget banget anjay. ternyata yang nungguin gue mantan gue sendiri.
“Loh Reno?”
“Eh iya meg, udah siap?” tanyanya
“Ssi.. siap? siap ke mana?” bales gue gugup. yaiyalah tumben banget dia ke sini.
“Ke sekolah lah. Ya sengaja gue ke sini mau bareng aja gitu berangkat sekolahnya bareng lo” simple. kaya nggak ada salah!
“Oh ya udah ayo berangkat”

Di perjalanan..
“Ren”
“Iya kenapa meg?”
“Kok lo tumben jemput gue? kan gue bisa berangkat sendiri”
“Emang kenapa? nggak boleh? sebenernya gue juga pengen ngomong sesuatu ke elo sih”
“Ngomong apaan?”
Batin gue deg degan ya ampun. kira kira dia mau ngomong apaan yah? masa iya dia ngajak balikan, tapi kalo dia ngajak balikan gue terima gak ya. haha

“Jadi gini..” ucap dia sambil markirin sepeda motornya.
“Gimana?”
“Sebenernya aku masih sayang sama kamu meg. cuma aku malu aja ngomongnya. kan aku yang sia siain kamu selama ini.” jelas dia
“Oh hehe. Gimana ya Ren. Ya sebenernya gue juga masih sayang sama lo” plak! kok bisa gue ngomong gitu
“Beneran? jadi lo mau ngulang semua dari awal?”
“Tapi maaf ya Ren, gue juga udah terlanjur cinta sama sahabat lo”
“Riyan?”
“Iya, oh ya. gue duluan yah. nanti gue telat. gue naik angkot aja deh. bye ren” pamitku. Mampus mampus mampus! lo gimana sih meg? kok nolak dia. kan riyan belum tentu nerima lo

Di kelas
“Meg. kantin yok” ajak shinta temen sebangku gue yang kebetulan dia tetangga Riyan. Gebetan gue.
“Nggak ah males”
“Oh ya udah”

“Eh shin. lu tau nggak kabar Riyan gimana?”
“Riyan tetangga gue?”
“Iya, dia ke mana? kok jarang sms gue yah”
“Riyan mah udah punya pacar kali”
“Hah serius lo? demi apa?” deg! hati gue serasa tersambar petir
“Yaelah. dia jadian sama anak IPA kelas sebelah udah 1 tahun kali” terangnya
“Oh ya udah shin makasih infonya”

Riyan kok tega ya? kenapa dia deketin gue kalo akhirnya dia cuma jadiin gue obat kesepian dia?

Di perpustakaan nggak sengaja ngelihat Riyan sama si Mawar anak IPA sebelah. Terpaksa gue samperin demi tau kebenaran
“Riyan?”
“Loh Mega? Hei apa kabar?” sapa dia. senyumnya ya allah manis. Manis banget.
“Baik. oh ya BTW dia siapa?” tanya gue pura pura nggak tau
“Ini Mawar, dia pacar gue meg”
“Hah pacar? kok lo nggak pernah cerita ke gue?”
“Gimana mau cerita? kan kamu selalu baper. mau cerita juga jatuhnya malah nggak tega. maaf yah meg” Ia pun berlalu.

Jujur ini sakit! sudah kesekian kalinya gue jadi korban php. harusnya tadi gue nerima si RENO. Ah ternyata penyesalan memang ada di akhir

Cerpen Karangan: Mega Safitri
Blog / Facebook: Mega Safitrii
Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Judul Cerpen Karena Sahabat Akan Selalu Ada

Sore itu kulihat seorang perempuan duduk di bangku taman sekolah, Namanya Rina dia adalah salah satu sahabatku yang bisa dibilang paling cantik dan banyak laki-laki yang suka padanya. Aku dan rina bersahabat sejak kami masuk sekolah menengah kejuruan, di sekolah, kami mempunyai geng yang kami beri nama D’Jonga (Jomblo Ngaga) nama itu kami pilih karena terinspirasi dari film putih abu-abu dimana salah satu pemerannya bernama Feby (Blink) Cuman bedannya dia mempunyai Geng yang di beri nama D’Joba (Jomblo bahagia).

Nama Geng kami bisa di bilang lucu dan unik tapi Geng kami juga termasuk Geng yang terkenal di sekolah bukan karena penampilannya yang cantik, atau apalah itu namanya. Kalau di bilang gaya, kami gak ada apa-apanya dari teman-teman yang lain tapi kalau dilihat dari bidang akademik bisa dibilang lumayan.

Geng kami terdiri dari empat orang yang pertama bernama Samsi, samsi itu orangnya pintar dan bisa dibilang dia menguasai banyak mata pelajaran karena rata-rata nilai yang dia dapatkan lebih tinggi dari yang lainnya.

Yang kedua Sariati, dia biasa di panggil tati orangnya cantik, baik, dan yang paling lucu di antara kami berempat, dia juga yang paling banyak makan, tapi yang saya heran sebanyak apapun dia makan berat badannya gak pernah naik, itulah hebatnya dia.

Nah yang ketiga ini, bernama rina yang saya ceritakan diawal cerita ini, Rina ini dia orangnya baik juga sih, cantik ya pasti, cuman sekian lama saya bersahabat sama dia sampai sekarang masih banyak sisi lain dari dirinya yang saya tidak ketahui, bisa dibilang dia misterius dan susah ditebak, mungkin kalau membahasa tentang sahabatku yang satu ini gak ada habisnya karena, aku paling banyak menghabiskan waktu bersamanya, bahkan kami juga pernah menyukai laki-laki yang sama, laki-laki itu bernama “Arif” dia salah satu senior kami di sekolah, orangnya baik, ganteng, pokoknya hari rina menghampiriku yang sedang duduk di teras depan ruang guru dan duduk di sebalahku lalu dia memulai pembicaraan yang membahas tentang “Arif” .

“Jul tadi malam arif sms aku loh”. Dengan heran aku hanya bisa menjawab “terus”, “iya dia sms aku sebenarnya sih sudah beberapa hari ini kami sering kontek-kontekan, dan yang gak nyangkanya lagi dia nembak aku”. “Lalu kamu terima dia?” jawabku lagi. “Iya lah aku terima coba deh bayangkan cewek mana sih yang gak suka dan kagum sama dia”.

Perasaan yang kurasakan saat itu sedih, nyesek, pengen mewek (nangis). Gak nyangka aja, sahabat sendiri tega nusuk dari belakang ee ralat deh bukan nusuk aku kan belum jadi pacarnya dia, tapi tega rebut gebetan sahabatnya sendiri. Namun aku selalu berpikir dewasa dalam menghadapi suatu masalah, selalu sabar menerima jika sesuatu yang kuinginkan tak ditakdirkan untuk kumiliki, dan jangan karena hanya seorang laki-laki yang baru kita kenal bisa ngerusak/ngehancurin hubungan persahabat yang jauh lebih lama kita bangun. aku sendiri berpendapat bahwa persahabat jauh lebih penting ketimbang hubungan pacaran, karena pacar bisa saja pergi dan memberikan suatu luka yang mendalam di hati namun seorang sahabat akan selalu mendampingi dikala susah maupun senang dan gak akan pernah ninggalin kita.

“Hari hari yang kujalani terasa berat semenjak mendengar pengakuan rina saat itu, namun aku tidak mau terlalu larut dalam kegalauan yang berkepanjangan, mencoba bangkit dan mencari kesibukan lain agar tak lagi mengingat hal yang menyakitkan itu. Dan benar saja tak butuh waktu lama untuk bisa bangkit dan melupakan hal yang memilukan dalam kisah percintaanku.

Cerpen Karangan: Reski Julianti
Blog / Facebook: Reski Julianti
Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Judul Cerpen Biarkan Mereka Bermain Main Dengan Mimpinya

Malam hadir dan segera menjemputku, mengusir mentari yang sedari tadi mengintip dari balik pepohonan rimbun di samping bangunan sejarah. Di sanalah kuurkir sejarah kebersamaan kita, pertama bertemu hingga pada akhirnya kita berpisah. Masih kuingat semua untaian cerita yang pernah engkau rangkaikan untukku, bagaimana hati yang lemah ini kau kuatkan kala kita bermain-main dengan pertengkaran. Senyuman yang selalu kau jadikan cara cepat untuk mengusir kesalku kala sering kali kusalahkan dirmu karena hal sepele. Yah bahkan rentetan seluruh cerita itu masih tersusun rapi dalam dalam rak di ruang itu.

Ruang yang biasanya kau berada di sana, duduk bercerita tentang masa depan denganku.
“ummi, bagaiman mungkin kutinggalkan dirimu, sedangkan engkau kan kan kujadikan ummi dari anak-anakku kelak”.
“lantas?, itu bukan alasan untuk dekat dengan siapapun bi”
“sudahlah, runtuhkan cemburumu itu, bukankah aku milikmu?
“Yah… untuk saat ini, lantas bagaimana dengan nanti, besok dan seterusnya?” hanya kuungkap di balik pendengaranmu, tak ingin lagi kuperdebatkan masalah yang selalu menjadi pokok pembahan dalam hubugan ini.

Cerita ini berjalan sesuai dengan yang kau rangkaikan, dan aku hanya menjadi tokoh yang berperan dalam alur yang telah engkau setting sebelumnya. Benar sering kali keegoisan kita tak berujung damai, hingga aku meminta maaf tersering kali untuk mengusai pertentangan itu. Tapi kerumitan yang seperti ini telah membuatku nyaman, dan tak bisa dengan ketiadaan. Selayaknya tokoh yang berperan sesuai naskah, aku pun demikian. Tersenyum kala kau butuh seuntai semangat, mendengarkan kala kau ingin bercerita, menemanimu kala kau letih dengan aktivitasmu sendiri, namun apa jua yang bisa kuperbuat kala kau tuliskan dalam naskah itu kepergianmu.

Rasanya pening saat kubaca pesanmu, ada rasa sakit yang perlahan menjalar ke setiap syaraf di otakku, sontak kaget aku waktu itu “ummi maafkan abi. Abi bukan orang yang baik, mungkin akan lebih baik agar hubungan kita sampai di sini.”
“beginikah akhir cerita yang kau tuliskan untukku bi?”
“maaf kan abi ummi, suatu saat engkau akan dapatkan orang yang tulus mencintaimu”

Ada gemuruh yang tak terkendali di hatiku, meratalah semua bangunan harapan itu di sana, tersampailah pesan dari otakku ke tempat itu, semakin dalam dan jauh luka ini. Mata pun mulai lembab dengan cairan yang entah datangnya dari mana, tak terkontrol sudah alasannya. Rasanya masih terlalu dini kisah kita namun aku pun tak pernah menyadari akan keseriusanku dalam menjalani hingga selepas kau pergi barulah ku tau ternyata teramat dalam sudah cinta ini teruntukmu.

Aku yang merindukanmu saat kau jauh di seberang, aku yan berada di sampingmu saat kesulitan mendatangimu, aku yang menguatkanmu saat keterpurukan menyapamu, dan aku yang kau minta menunggu saat kepulanganmu, lalu?

Belum sempat hati ini kau bahagiakan, bahkan belum kau sediakan waktu untuk sekedar bermuajah denganku selama kita bersama, dan ternyata orang lain yang bahagia dengan kepulanganmu, orang lain yang merasakan kehadiranmu, orang lain yan tersenyum untuk kebahagiaanmu, aku?

Aku yang terluka karena keputusanmu, aku yang kembali merindu sedang kau tak lagi berada jauh denganku, aku yang harus kembali sendiri walau kutau keberadaanmu, dan lagi-alagi aku yang harus terluka atas keputusanmu. Terlalu besar kiranya oleh-oleh yang kau berikan untukku hingga tak sepatah katapun mampu kuungakapkan untuk membalasmu.

Tiada alasan untuk bertahan, tapi aku masih tak ingin pergi dari kisah ini, kudiami sendiri pesaraanku, hingga ku tau ternyata dialah yang telah menggantikan namaku di hatimu. Saat itu aku ingin segera beranjak namun ternyata kenyataan itu terlau tajam dan dalam menggores hatiku hingga tiada lagi kukuatan untuk sekedar berdiri dari panantianku terlebih untuk beranjak dan pergi. Walau sering kali kau paksa diriku untuk segera menjauh, apa yang mampu kulakuakan aku terlalu lemah. Walau ternyata kau raih tangannya, dan mempersilahkan dia duduk di tempatku dan tepat di depan mataku. Semakin tiada kutemui lagi kekuatanku untuk pergi walau aku teramat ingin.

Malam ini semakin larut, mataku pun terasa mulai perih yang sedari tadi mencoba menghilangkan namamu melalui air mataku. Kesedihan ini terus mengalir hingga kutakut pipiku akan mulai tergores akan tajamnya. Aku benar-benar ingin menghilangkan semua yang pernah ada di hatiku, ingin kuhanyutkan sejauh mungkin dari hidupku, kupikir cukup sudah kesakitan ini, namun tanpa kusadrai malam semakin jauh, dan mata ini tak ingin terpejam walau telah kuperintah kan. Kubiarkan kalian mermain-main dengan mimpi dan biarkan aku menikmati keteduhan dan kejernihan aliran ini karena terkadang di sela-selanya masih kutemukan senyum di bibirku.

Rasa sakit ini mengajarkanku, untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap orang lain, cara tersenyum pada wajah yang sebenarnya jelas menyakitkan, cara bangkit dari keterpurukan walau tanpa penopang. Cukup aku, kisahku dan impianku. Satu hal yang ingin kusampikan,

“maafkan aku tak bisa turut bahagia untukmu, maafkan aku yang tak bisa lagi menjadi salah seorang tokoh dalam kisahmu, cukup aku dan kenangan kita yang bersamaku, walau aku tak mampu melupakan tapi aku tak punya alasan untuk mempertahankan”

Cerpen Karangan: Samiatul Ahyani
Blog / Facebook: Samiatul Ahyani
Takkan Pernah

Takkan Pernah

Judul Cerpen Takkan Pernah

Aku masih di sini hari ini, kemarin dan esok bahkan untuk selamanya jika itu mungkin tapi aku berharap itu takkan pernah terjadi karena yang membuatku aman, nyaman dan tentram hanyalah kampung halamanku, Lulus dan kembali ke rumah yang telah membesarkanku dan membahagiakan ayah dan ibuku itulah tujuanku datang ke kota pendidikan ini. Aku berjanji untuk fokus pada tujuanku saja karena aku ingin cepat-cepat mendapatkan gelar S.Kep Ners ku di kampus tercinta ini.

Singkat cerita, Semester satu kulalui dan berjalan dengan lancar jaya, mendapatkan nilai yang memuaskan dan dosen yang baik-baik, memang itulah yang aku inginkan. Aku bangga pada diriku sendiri tapi memasuki semester kedua aku merasakan hal yang berbeda, aku sering melamun, aku tidak lagi fokus pada tujuanku. Sebenarnya bukan masalah yang serius hanya saja ini sangat mengganggu konsentrasi belajarku. Aku sering memikirkan dia, aku juga sering memimpikan dia, apa dia begitu penting bagiku.

Dia? Oke, kisah jatuh cintaku berawal dari pertemuan singkat di stadion futsal. Dimana pada saat itu kampusku mengadakan acara Dies Natalis jadi ada perlombaan antar kelas gitu mulai dari pertandingan futsal, football, badminton, cerdas tangkas, tenis meja, lomba Askep, Dance Cuci tangan dan sebagainya. Pada saat itu kelasku punya jadwal tanding futsal jadi aku mesti nonton, meskipun tidak tahu-menahu tentang futsal tapi setidaknya aku hadir sebagai seorang supporter.

Tiba saatnya pertandingan, tiba-tiba saja mataku hanya tertuju pada satu manusia yang kelihatannya jago lah dalam bermain, dia cekatan dalam menggiring bola. Aku semakin penasaran. “siapa dia?” batinku. Kata temanku dia kakak seniorku tapi sekalipun aku tidak pernah melihatnya. “mungkin karena kita beda jadwal, beda kurikulum, beda segalanya lah makanya kita tidak pernah bertemu” batinku lagi.

Aku masih ingat saat itu dia memakai celana bola warna merah dengan baju kaus berwarna biru. Mulai detik itu, aku mencari tahu segalanya tentang dia, aku berusaha menebak-nebak namanya, aku mencarinya di sosial media. Sungguh, aku tidak tahu apa aku jatuh cinta? mengingat aku selalu memikirkannya. Mulai detik itu juga, dia sudah ada dalam buku kehidupanku, dia salah satu bagian dalam ceritaku. Terkadang otakku tidak sejalan dengan hatiku, hati kecilku mengatakan aku jatuh cinta pada sosok manusia manis dan tinggi itu tapi otakku tidak menerimanya. Aku benci mencintai seseorang kalau pada akhirnya rasa yang sudah meluas menandingi luasnya samudera itu disia-siakan sama orang yang begitu tidak bertanggungjawab tapi tetap saja aku jatuh cinta. Sungguh kali ini aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan yang pertama.

Hingga suatu hari..
Aku menemukan media sosialnya (facebook), karena aku orangnya suka penasaran aku iseng-iseng melihat kronologinya. Dan ternyata dia “SUDAH PUNYA PACAR”.
Tanpa sadar handphoneku jatuh, air mataku juga ikut-ikutan jatuh, aku syok, tekanan darahku turun seketika, jantungku berhenti memompa, darahku berhenti mengalir, dunia berhenti berputar. Kecewa? tentu saja, Sakit hati? apalagi.
Aku merasakan hal yang sangat-sangat menjijikkan, aku menangis sepanjang hari, sepanjang malam, mengurung diri di dalam kamar. Sepertinya aku sudah gila, bagaimana tidak aku menyia-nyiakan air mataku hanya untuk orang yang sama sekali tidak mengenalku.

Meskipun aku sering bertemu dengannya, tapi untuk sekedar mengatakan “hi” saja tidak bisa, aku begitu kaku jika bertatapan dengannya. Sungguh aku bahkan susah bernapas dalam keadaan macam ini..
Mungkin selamanya aku hanya akan mencintai dia dalam diamku karena aku lebih nyaman seperti ini, aku takut merusak hubungan yang sudah terjalin indah itu. Biar aku saja yang menikmati rasaku ini. Tanpa kusadari rasa ini terus tumbuh secara lancang dan memalukan. Bagaimana tidak, aku masih saja menunggu dan mencintai meski berkali-kali jatuh dan terabaikan.

Hingga akhirnya, dia dinyatakan lulus. Aku Juga sempat berphoto dengannya untuk pertama kali dan mungkin terakhir kalinya saat hari kelulusannya itu, aku turut bahagia. Karena waktu itu aku tergabung dalam grup paduan suara wisuda jadi aku ada kesempatan untuk bertemu dengannya karena di kampus sangat jarang sekali melihat dia, karena memang kita beda tingkat, meskipun jarang tapi tetap saja aku mencintainya. Tidak lupa aku juga mengunggah hasil fotoku dengannya di facebookku dengan caption ucapan terima kasih dan ucapan selamat, aku juga berdoa untuknya. Seperti apapun kritik dari orang yang melihat itu, aku sama sekali tidak pedulikan aku memang gila, sungguh gila.

setelah hari kelulusan itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, aku mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya. Aku juga mulai sadar. Aku hanya bisa mengingat berulang-ulang kali akan sadarnya posisi. Karena jika diteruskan, aku bisa saja merusak kebahagiaan orang lain dan saya tidak suka itu, ya aku sudah terbiasa dengan itu semua. Aku berusaha untuk tidak mengingat-ngingat lagi kejadian-kejadian itu meski susah tapi percayalah aku tidak sedikitpun melupakannya karena dia sudah tercatat dalam buku kehidupanku. Akan kujadikan dia kenanganku dikota pendidikan ini.
Semogaa dia bahagia bersama pilihannya di sana, aku yakin dia memang yang terbaik untuknya. Aku Ikhlas

Ikhlaskan, tapi jangan sampai Merusak Kebahagian Orang lain yaa guyss
Percayalah, Tuhan sudah sediakan yang baik untukmu..

Cerpen Karangan: AnChe D Tamar
Blog / Facebook: AnChee DT
Sang Pengkhianat

Sang Pengkhianat

Kuingat semua yang terjadi, ingin kulupakan namun kejadian itu masih saja terbayang, kejadian dimana aku dan dia akan segera menikah, ketika aku dan dia akan menjadi sah tiba tiba terdengar teriakan seseorang dari pintu, sepertinya seseorang tidak rela bahwa dia akan menjadi milikku, hatiku seketika hancur ketika mendengar bahwa seseorang telah mengandung anak dia, anak dari calon suamiku. Dari situ aku lari aku tidak tau ke mana aku akan pergi, aku tidak peduli dia mengejarku, akhirnya aku sampai di suatu tempat, tempat dimana aku dan dia bertemu untuk pertama kalinya, tempat itu adalah danau, danau juga yang menjadi tempat dia menyatakan cintanya.

Kini ku memandangi tempat itu, walau sekarang aku masih menggunakan gaun pengantinku. Kini waktunya senja tapi aku enggan kembali. Kuingin semuanya benar benar terlupakan, ingatanku tentang hari ini itu membuatku ingin menangis, terbersit di otakku, aku ingin sekali hilang dari bumi ini.

“Rachelll…” terdengar suara teriakan itu, suara itu tidak asing lagi di telingaku, suara dari Reno calon suamiku yang telah berkhianat.
“Mau apa kamu ke sini, mau ngenalin dia ke aku HAH?” aku benar benar marah. Dia tidak menjawab apapun dia hanya memelukku, pelukannya memang membuat aku nyaman tapi hatiku masih tidak bisa terobati, aku hanya menangis dan ingin melepaskan pelukannya, tapi dia memelukku dengan erat.

“Lepasin aku lepasin…!!!” sambil berusaha melepaskan pelukan dia. Tetapi masih saja memelukku sepertinya dia enggan melepaskanku.
“Aku minta maaf” Ucapan dengan isak tangisnya.
“maaf?, percuma sekarang minta maaf, ah sudahlah aku enggan melihatmu lagi” Sambil melepaskan pelukannya
“hel aku benar benar tidak tau kalau dia mengandung anakku”
“tapi itu terjadi Ren, dia itu mengandung anak kamu, sekarang kamu harus menikah dengan dia” tangisanku pecah, suasananya memang benar benar sedih.
“Tapi aku tidak akan menikahinya, aku hanya ingin menikah denganmu saja” “kamu itu egois ren, EGOISSS…!!!”
“aku egois?”
“ya kamu itu egois dia itu butuh ayah buat anaknya, pokoknya kamu harus nikahi dia”
“enggak hel aku gak mau, yang aku mau sekarang kita lanjutin pernikahan kita”
“aku gak mau punya suami kaya kamu, mulai sekarang kita gak usah ketemu lagi” tangisanku semakin menjadi.
“tapi hel aku gak bisa hidup bersama dia”
“itu tanggung jawab kamu, aku mau sekarang kamu lanjutin pernikahan dengan dia bukan dengan aku” “Dulu aku gak ingat sama sekali dengan kejadian itu, aku ini dijebak, dijebak oleh teman sendiri” “kamu gak usah cari alesan, kamu ini sama saja dengan pengkhianat”
‘PLAKKK’ satu tamparan mengenai pipi kiriku
“Tega kamu!” rachel menangis sambil memegang pipi kiri
“hel maafin aku, aku gak maksud kaya gini”

“RENOOO…” Panggil seseorang
“Dea..?” kaget reno
“Renoo kamu harus tanggung jawab, aku gak mau nanggung beban sendirian”
“itu salah kamu bukan salah aku”
“kamu salahin aku gitu?”
“itu memang benar salah kamu”
“kamu gak ingat apa yang kamu lakukan ke aku?”
“itu semua kamu yang rencanain sama teman teman kamu”
“aku gak mungkin merencanakan hal sebodoh itu, ini dosa kita berdua” bentak Dea
“tapi aku gak mungkin nikahin kamu, aku juga gak mungkin ninggalin rachel”
“kita gak akan pernah bersatu Ren aku sudah kecewa sama kamu, mulai sekarang kita gak usah bertemu lagi” Rachel angkat bicara di tengah perselisihan
“tapi hel aku gak mau kehilangan kamu” lagi lagi Reno

Beberapa hari kemudian Reno sering meneleponku tapi tidak ada satu pun yang kuangkat, beberapa pesan kuterima tapi tidak ada yang kubalas. kadang kejadian itu sering terlintas di pikiranku, Kini kumenikmati kesendirian di bawah naungan pohon yang sering kunikmati bersamanya. Di pohon ini terdapat ukiran yang bertulis RloveR yang berarti RENO love RACHEL yang diukir oleh Reno ketika kami baru saja pacaran. Seketika hatiku sakit mendengar kabar Reno akan menikah dengan dea hatiku semakin sakit lagi setelah mendengar bahwa hari ini juga mereka akan menikah, mungkin saja sekarang saatnya aku harus melupakan dia, sang pengkhianat.

THE END

Cerpen Karangan: Salma Nuraulia
Facebook: Salma Nur Aulia
Hijrah Cinta

Hijrah Cinta

Judul Cerpen Hijrah Cinta

Lila tersadar dari lamunannya ketika Gia mencoba menepuk pundak kanannya. “Giaaaaa…” teriak Lila kesal.
“sorry deh sorry.. lagian dari tadi ngelamun aja, ngelamunin apa sih?” tanya Gia penasaran.
“mau tau?”. tawar Lila dengan wajah tersenyum.
“ya mau lah,” jawab Lila girang.
“kepo!!” jawab lila sembari meninggalkan Gia yang menunggu jawaban dari Lila.
Gia mendengus kesal. Dia tahu bahwa Lila mempunyai masalah yang membuatnya melamun berkepanjangan.

Kampus dan area masjid mulai sepi. Mereka meninggalkan kampus beberapa menit yang lalu. Maklum mereka dekat bagaikan saudara kandung, kemana-mana selalu berdua, sarapan berdua, tidur berdua. Pokoknya segala hal mereka lakukan berdua. termasuk kuliah pun satu kelas, satu universitas, satu kostan lagi.

Hari itu menjadi hari yang melelahkan untuk mereka berdua. disandarkannya badan mungil di atas dipan kesayangan berwarna ijo tosca. Melirik ke samping, terdapat pas photo ukuran 5 R bergambarkan seorang lelaki mengenakan kemeja putih. Berkacamata hitam. Dia Rahman. Seorang laki-laki yang menemani lila sampai saat ini. Dalam arti bukan sepasang suami istri melainkan sepasang kekasih yang romantis. 3 tahun lamanya kedekatan Lila dan Rahman menjadi sepasang kekasih. tak hanya mereka bahkan orangtua mereka pun telah merestui hubungan mereka.
Tapi, akhir-akhir ini komunikasi antara Lila dan Rahman sedikit renggang. Entah mengapa sms tak pernah dibalas, telepon jarang sekali diangkat. Itulah hal yang sedang Lila khawatirkan saat ini.

“gimana kabar Rahman lil?” tanya Gia mendekati Lila.
“masih tak ada kabar gi, aku udah lelah sama sikap Rahman yang seolah-olah membiarkanku seperti ini. Tak dianggap.” Lila mendengus menunjukan kekesalan.
“sabar ya lil, mungkin Rahman sibuk kali. Makannya dia jarang kontek kamu.” Jawab Lila bernada tenang.
“tapi kan sesibuk apapun dia pasti ada kabar.” Jawab lila.
“tunggu aja deh sampai ada kabar.. takutnya kamu suudzon loh.” Tangkis Gia bernada menyindir.
“iya iya…” jawab Lila kesal lagi.

Malam yang dingin ditemani semilir angin menembus kulit menusuk tulang. suara orkestra di pelataran taman hampir menembus dinding kostan Lila dan Gia. Malam ini terasa beku. Tak ada kabar sedikitpun dari Rahman. Bagi Lila ini adalah sebuah penantian yang panjang dan tak berujung, yang membuat Lila gundah dan gelisah, galau dan merana. Dini hari Lila melaksanakan ibadah yang menjadi rutinitasnya setiap hari. Apalagi kalau bukan solat tahajjud. Hal yang selalu membuatnya damai dan tenang.

Lila selalu meminta kepada-Nya tentang semua hal. Termasuk Rahman kekasihnya. Tak bosan-bosan Lila meminta yang terbaik untuk dirinya dan Rahman. meminta dilancarkan agar hubungannya tetap aman sampai waktu itu tiba. Tapi sekarang hubungan Lila malah tidak aman dan sering dilanda kekhawatiran. Selalu ada curiga yang berujung kepada suudzon tingkat tinggi. Tapi Alloh mengirimkan Gia, sahabat terbaik Lila sejak duduk di bangku SMP. Dia yang selalu mengingatkannya bahwa suudzon adalah hal yang tidak baik, dan hukumnya dosa.

7 hari berlalu begitu cepat. Tugas kuliah tingkat 4 semakin menumpuk, presentasi, makalah, penelitian dan tugas lainnya. Terkadang bisa membuat kepala pusing, tapi tak kalah pusingnya dengan Rahman, Rahman dan Rahman.

Di tujuh hari ini Lila sempat mendapatkan sms nyasar. Sms dengan rangkaian kalimat yang romantis, kalimat yang bisa meluluhkan hati banyak perempuan, kata-kata yang layaknya digunakan oleh kalangan dewasa. Lila hanya bisa tersenyum melihatnya, Lila teringat Rahman yang selalu mengirimnya sms romantis, tak kalah romantisnya dengan sms nyasar itu. Tapi itu dulu, ketika Lila selalu bersama Rahman. sekarang jarang malah tidak lagi. Lila hanya mendengus kesal jika pikirannya teringat kepada laki-laki itu. “laki-laki tidak punya tanggung jawab.” Ucap Lila.

Hari ini ada mata kuliah bahasa inggris. Lila dan Gia yang mempunyai hoby yang sama selalu menyambut mata kuliah ini dengan penuh keceriaan. Karena bahasa inggris ini sudah menjadi makanan sehari-hari, saking piawaynya dalam bahasa inggris.

Sore itu pukul 16.00. Lila dan Gia pulang bersama-sama mengendarai motor milik Gia. Di perjalanan pulang tepatnya di pinggiran kota Bekasi ada sesuatu yang sangat mengganggu pandangan mata. Gia melihat seorang lelaki memakai kemeja biru dan seorang perempuan yang duduk di belakang motor milik si laki-laki. Gia berhenti tiba-tiba membuat badan Lila terdorong ke depan.
“hati-hati gi…!!!” ucap Lila dengan perasaan tekaget-kaget. “Rahman dan Airin? Kenapa mereka bisa barengan gitu sih?” tanya Gia di dalam hati dipenuhi dengan tanda tanya.
Gia merasa aneh dan curiga dengan Rahman. “apa Rahman…?”. pikir Gia panjang.
“Gia… ayo jalan lagi, kenapa berhenti? Ada apa?” tanya Lila penasaran.
“ehhh iya iya lil maaf, nggak ada apa-apa ko. Aku teringat bukuku ketinggalan di kampus”. Jawab Gia asal-asalan.
“makannya lain kali teliti dong..!!” ucap Lila.
“iya iya…” Gia melanjutkan perjalanannya dengan perasaan campur aduk antara aneh dan curiga.

Minggu selanjutnya masih seperti minggu yang lalu. Tak ada kabar dari Rahman. Lila sudah hampir lupa. Gia dan Lila masih bersama-sama. Tak ada yang berubah.

Serambi mesjid kampus Al-Azhar mulai ramai dengan para mahasiswa yang tengah melaksanakan solat ashar. Begitu juga dengan Lila dan Gia. Dua sejoli. Begitulah teman-teman memanggilnya karena kedekatannya dan tak pernah berpisah. Dilihatnya handphone Lila berwarna hitam berkilau, terdengar suara nada BBM seperti ada pemberitahuan masuk. Tiba-tiba Lila tercengang, mulut terbuka, matanya berkaca-kaca melihat kabar kekasihnya bersanding, berfoto bersama dengan temannya sendiri. Airin. Gia yang asyik membereskan mukena kini berpaling melihat sahabatnya menangis kesakitan. Lila berbalik arah memeluk sahabat karibnya, mencoba mencari sandaran untuk tetap kuat, dipeluknya Gia semakin erat. Gia yang hanya diam karena Gia lebih dulu mengetahui kebusukan Rahman di belakang Lila waktu di pinggiran kota Bekasi 2 minggu yang lalu. Sungguh ironi nasib Lila.

Lila dan Gia bergegas meninggalkan masjid yang mulai sepi. Pukul 17.00 mereka sampai di kostan lebih lambat dari biasanya. Lila hanya bisa menangis menyembunyikan guliran air mata di balik selimut tebal miliknya.
“sudah lil, pasrahkan saja kepada Alloh. Mungkin ini cara Alloh untuk menjauhkanmu dari Rahman. Alloh memberikan petunjuk bahwa Rahman bukan laki-laki yang baik. In syaa Alloh di luar sana masih banyak laki-laki yang Alloh siapkan untukmu.” Ucap Gia menyemangati.
“iya gi, aku faham. Pantas saja akhir-akhir ini Rahman lebih banyak menghindar dariku, ternyata dia punya yang baru.” Ucap Lila terisak.
“tenang lil, jangan merasa rendah seperti itu. In sya Alloh kamu lebih mulia di mata Alloh. Alloh pasti akan memberikan yang lebih kepadamu. Mulai sekarang lupakan Rahman, fokuskan niat awal kamu untuk tidak mengenal lagi yang namanya pacaran. Hijrah lil hijrah!!.” Ucap Gia menyemangati.
“iya gi, kejadian ini membuatku sadar. Kejadian ini memberikanku tamparan keras dan teguran bahwa pacaran itu hanya kesenangan sesaat. Tidak ada manfaatnya.” Ucap Lila sendu.
“alhamdulillaah.. aku seneng melihat Lila yang seperti ini, selalu ceria dan nggak putus asa. Sekarang hapus air matamu dengan berwudhu. Solat maghrib akan tiba lima menit lagi, kita berjama’ah yaa..!!.” tawar Gia.
“ia giii… seperti biasa.” Ucap Lila bernada tenang.

Malam itu hangat. Sehangat persahabatan Lila dan Gia. Lila yang selalu mendapatkan masukan dan saran dari Gia. Begitu juga dengan Gia. Hari selanjutnya mereka lewati dengan santai tapi serius. Di gerbang utama Universitas Al-Azhar mereka bertemu dengan Dinda. Teman sekelas Lila yang cerewet dan berisik datang menghampiri. Tiga orang perempuan itu berjalan bersama menuju kelas. Di sekitar kampus yang luas nan sejuk, Lila berpapasan dengan airin. Kekasih barunya Rahman.
“ohh ini yaa lil perempuan gatel yang membuat hubungan kamu jadi retak?.” Tanya Dinda dengan nada menyindir. “kamu nggak punya hati ya, bisa-bisanya ngerebut pacar orang. Dasar perempuan gatel..” sambung Dinda panjang lebar.
“udahlah din, aku udah ikhlas kok. Aku sedang menunggu laki-laki yang sedang alloh persiapkan, pastinya lebih baik.” Ucap Lila sembari tersenyum.
“duuhh.. untungnya kamu penyabar lil!!” ucap Dinda menghela nafas. Airin hanya terdiam kaku mendengar percakapan antara Dinda, Lila dan Gia. Malu dan merasa bersalah. Mereka pun berlalu meninggalkan airin tanpa reaksi apapun. Percuma saja marah-marah di depan airin hanya untuk mempermasalahkan Rahman. Laki-laki tak bertanggung jawab itu. Hanya membuang tenaga saja.

Beberapa menit berlalu begitu cepat. Waktu istirahat selalu dimanfaatkan Lila dan Gia untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, diskusi, curhat dan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Begitu juga dengan mahasiswa lainnya, memanfaatkan waktu istirahat dengan makan siang di kantin, bercanda, membaca buku dan aktifitas lainnya. Kampus ini luas dan nyaman, apalagi area masjid yang selalu ramai oleh warga kampus yang menunaikan solat.

Disela-sela asyiknya beraktifitas, seseorang datang menghampiri mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Rahman.
“hay Lila..!!” sapa Rahman begitu lembut.
“waa’alaikumsalam” jawab Lila tandas.
“eh iya aku lupa, maaf deh!!” tawar james seolah manja.
“mau ngapain lagi kamu ke sini, setelah sekian lama nggak ada kabar sama sekali. Asal kamu tau ya aku bukan perempuan bodoh seperti pacar baru kamu itu.” Jawab Lila mulai geram. Gia ikut berdiri mencoba menahan amarah sahabatnya itu.
“apa maksud kamu lil?”. Tanya Rahman terbelalak.
“jangan pura-pura dehh, aku udah tau semuanya mulai dari upload poto sama si airin, boncengan di jalan, sms romantis itu, dan serangkaian akal bulus kamu, aku tak sebodoh pacar baru kamu itu, jangan harap aku akan menerima kamu kembali. Aku sudah cape.” Tandas Lila panjang lebar dengan mata berkaca-kaca. Lila meluapkan seluruh kesakitannya kepada Rahman. Rahman hanya terdiam tanpa kata, tak mampu membalas ocehan Lila. Lila meninggalkan Rahman begitu saja tanpa menghiraukan Gia, sahabatnya. Gia yang hanya mendengarkan kini angkat bicara.
“udah ya Rahman jangan coba-coba mendekati Lila lagi, sudah cukup kamu menyakiti dia saperti ini. Lelaki macam apa kamu Rahman?”. Bisik Gia ke arah telinga Rahman, seolah menyindir tetapi memang kenyataan.
Gia berlalu meninggalkan Rahman. Lila yang hanya duduk terdiam di kursi, mencoba mencari ketenangan. Di peluknya erat Gia yang duduk di samping Lila.

“terimakasih ya gi kamu udah bantu aku.” Ucap Lila tersenyum.
“iya lil.. sudah seharusnya aku seperti itu kepada sahabatku sendiri.” Balas Gia tersenyum. Hari itu menjadi hari yang sangat menyedihkan, tapi ini juga cara yang terbaik dari Alloh untuk Lila. Berpisah dari orang yang belum tentu baik menurut Alloh. Tapi Lila bersyukur atas kejadian ini, Lila bisa menyadari bahwa pacaran itu memang tidak perlu dan hanya kesenangan sesaat..

TAMAT

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Facebook: Nurul
Dia Yang Tak Pernah Peka

Dia Yang Tak Pernah Peka

Judul Cerpen Dia Yang Tak Pernah Peka

Hai, namaku Sonia Angelina. Aku biasa dipanggil angel. Aku adalah seorang gadis berusia 15 tahun dan sedang mengenyam pendidikan di tingkat kelas 3 SMP atau sering disebut kelas 9. Pada waktu itu, banyak teman-teman seumuran denganku yang sudah mulai suka-sukaan dan mulai merasakan gejolak hati yang menggebu-gebu, termasuk aku sendiri.

Kelasku ada di paling ujung sekolah dekat dengan kantin. Di kelas aku merupakan salah satu murid yang Gampang bergaul dengan teman, baik cowok maupun cewek. Aku mempunyai tiga orang teman yang sangat dekat denganku, mereka adalah Tia, Dini dan Rina. Kita berempat menghabiskan waktu bersama hampir setiap hari.

Di kelasku terdiri dari 26 murid cewek dan cowok, dan salah satu diantara para cowok terdapat seseorang yang sangat kudambakan. Cowok itu namanya Marko. Dia orangnya pintar, tinggi, putih dan yang pasti ganteng. Aku sudah lama suka padanya, bahkan aku sempat bepikir untuk menyatakan perasaanku, tapi aku belum menemukan waktu pas.

Suatu pagi aku sedang menunggu angkutan umum yang menuju sekolah, tapi angkot itu belum datang juga dan matahari mulai menyinari dunia dengan terang. Waktu itu aku sempat khawatir takut kesiangan, dan saat itu pun datanglah Marko dengan mogenya.
“gel gak ada angkot ya, bareng yuk.” Ucap Marko
“Ayo” ucap angel tanpa berfikir panjang.

Mereka berdua tiba di sekolah.
“makasih yak ko”
“ya sama-sama” ucap Marko
“Gel ngomong-ngomong ntar sabtu loe ultah ya”
“kok loe tahu ko, tumben perhatian?”
“ya iyalah gue gitu loh, apa sih yang gak gue tahu?”
“by the way loe mau kado apa dari gue?”
“gue sih gak mau apa-apa, gue Cuma mau gue dan sahabat gue selalu bahagia.”
“OK kalo gitu, gue akan siapin yang akan buat loe bahagia dan akan menjadi hal yang akan selalu terkenang.”

Sejak hari itu, Marko jadi lebih perhatian pada Angel, dan otomatis angel pun senang. Angel mulai yakin bahwa Marko memiliki persaan yang sama seperti yang Angel rasakan. Angel pun semakin mantap untuk menyatakan perasaanya pada hari ulang tahunnya nanti.

Hari sabtu, tanggal 26 Januari merupakan hari ulang tahun Angel sekaligus hari paling sekaligus hari yang paling ditunggu-tunggu, karena pada hari itu ia akan menyatakan perasaannya pada Marko. Namun takdir berkata lain, hari itu bahkan menjadi hari yang paling buruk bagi Angel.

Semuanya berawal ketika bel pulang berbunyi, semua teman-teman angel keluar bergegas pulang, sementara Angel sibuk membereskan buku. Tak lama kemudian, datanglah Marko dan ketiga sahabat Angel membawa kue tar rasa coklat kesukaan Angel, sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Angel terharu melihat semua ini. Anggel pun berterima kasih kepada semuanya.

“Ko makasih ya, loe udah persiapin semua ini.” Ucap Angel
“Ini semua belum seberapa, gue udah janji kan sama loe kalau gue bakal kasih kado terindah.” Ucap Marko
“oh iya mana?” sahut Angel
Marko menarik tangan Rina
“gue sama Rina udah jadian, dan kabar ini adalah kadonya.” Ucap Marko
Angel langsung menjatuhkan kue yang sedang dipegangnya dan langsung lemah tak berdaya dan menangis.
“Angel kenapa namgis?” ucap Rina
“Diam loe!”, ucap Angel sambil mendorong Rina hingga jatuh.
Marko pun langsung sewot melihat Rina jatuh, “Apa-apaan sih gel?, kalau gak suka kadonya bilang dong, jangan maen dorong aja.”
“lagian kenapa harus nangis sih, ini kan kabar bahagia?”
“loe itu emang cowok gak punya perasaan, loe itu gak pernah peka, peka dong Ko peka!, gue itu suka sama loe.” ucap Angel sambil nangis.
Marko dan Rina pun langsung kaget mendengar pernyataan Angel.
“angel gue minta maaf ya, gue gak tahu kalau loe itu suka sama Marko.” Ucap Rina
“gak usah, gue tahu loe berdua seneng kan lihat gue kayak gini?” ucap Angel
“gak gitu gel.” Ucap Rina
“udah lah Rin gak ada gunanya kita minta maaf sama Angel, yuk kita pergi?” ucap Marko
Mereka berdua pun pergi.

“dasar php loe, gak pernah peka, gak punya perasaan loe.” Teriak Angel
Tia dan Dini pun menghampiri Angel dan menenangkannya.
Sejak saat itu Angel tidak pernah nanya ataupun tegur sapa sama Marko dan Rina.

Cerpen Karangan: Fitri Rusmiati
Facebook: Fitri Rusmiati
Korban PHP

Korban PHP

Judul Cerpen Korban PHP

Gue baru aja duduk setelah meletakkan tas di atas meja gue, saat terdengar suara khas temen sebangku gue dari arah pintu kelas XA yang suaranya mirip petasan udah bisa saingan tu suara sama suara mpok Nori komedian betawi yang terkenal itu. Mana nama dia sama juga Nori titisan mpok Nori kali, kalaw nggak waktu ibunya hamil Nori ngidam pengen ketemu mpok Nori ya. Halah ngaco deh gue.
“Apaan?” Ujarku
“Mir loe masih nongkrong di kelas padahal anak-anak satu sekolah sudah heboh kumpul di aula”
“Gue baru aja datang Ri. Lagian loe nggak usah berlebihan gitu deh, loe bilang satu sekolah yang bener aja. Di kelas kita aja selain gue masih banyak Ri.”
“Ya, terserah loe deh. Asal loe tau Mir yang anak-anak heboh di Aula itu gara-gara mereka pada mau lihat kak Bagas nembak kak Ayu anak XII IPA yang cantik itu.”
“Apa loe bilang Ri, kak Bagas?” ujar Mira terkejut. “Tapi kak Bagas mana?”
“Iya kak Bagas, ketua OSIS baru anak XI IPA. Loe kira nama Bagas di sekolah ini ada berapa?”
“Dug” dada gue tiba-tiba sesak, nyeri sakit yang gue rasa. Bukan karena sakit asma, lebih tepatnya sih asmara. Gue berusaha keras mengatur detak jantung gue, yang dari tadi frekuensi detaknya sudah tak menentu. Ekspresi gue harus baik-baik aja di hadapan Nori. Gue nggak mau dia tau yang sebenarnya gimana hati gue.

Kak apa gue pernah buat salah ke kakak? Gue nggak pernah telat balas chat dari kakak setiap kali kakak chat ke gue. Kadang gue yang merasa sebel, kakak yang justru lama balas chat gue. Semua cerita kakak selalu gue dengerin, walaupun kadang gue suka bingung kalau kakak minta solusi ke gue kayak tempo hari.

“Mir, kalau nembak cewek biar romantis itu gimana ya?”
“Haha kakak ini lucu deh, kakak kan cowok seharusnya hal kayak gitu kecil. Lagi pula ini kan bukan pertama kalinya kakak nyatain cinta, bukannya mantan kakak sudah banyak? Seharusnya kakak lebih berpengalaman.” Ujarku di telepon sambil tertawa.
“Tapi kali ini lebih spesial Mir, dia beda. Dan gue mau acara penembakan gue itu berkesan, nggak terlupakan Mir. Jadi loe bisa kan kasih ide buat gue?”
“Menurut gue, cewek itu identik suka bunga jadi yang jelas kakak harus bawa bunga terserah deh mau setangkai, serumpun atau sekalian sama tukang bunganya. Lalu kakak nyatain perasaan kakak di hadapan orang banyak biar dia semakin yakin kalau kakak benar-benar serius ke dia. Itu pendapat gue kak, mau diterima atau nggak terserah kakak.”
“Oke Mir, thanks ya”

Gue sudah nggak tahan lagi, gue memang cengeng. Tapi perasaan gue ke kak Bagas nggak bisa dipungkiri lagi.

“Ri, antar gue ketemu guru piket ya?”
“Loh buat apa Mir?” Tanya Nori dengan mimik penuh tanda tanya.
“Gue mau izin pulang.”
“Loe sakit Mir?”
“Kepala gue pusing, kayak nya gue nggak enak badan deh.”
“Ya udah, ayo! Ntar kalau ada tugas PR atau apa dari guru gue bakal kasih tau loe Mir” ujar Nori seraya berjalan menuju ruang TU.
“Iya, makasih Ri”

Gue izin pulang dengan alasan sakit, yang pada kenyataannya gue patah hati. Gue mau nenangin diri gue, walaupun harus nangis. Gue kekanak-kanakan, nggak peduli. Rasanya gue nggak terima aja, penantian gue selama tiga bulan ini. Sejak kak Bagas ajak gue kenalan waktu gue baru aja jadi siswi baru di SMA ini, kak Bagas senior gue waktu MOS (masa orintasi siswa).
Gue fikir perhatian kakak ke gue selama ini karena kakak tertarik sama gue. Tempo hari yang kakak bilang mau nembak cewek spesial itu.
Yang ternyata kak Ayu yang beruntung dan gue salah, gue cuma kepedean. Kak Bagas loe tega seperti penjahat, dan gue korbannya korban PHP.

Cerpen Karangan: Eki Widiyawati
Facebook: eki widiyawati
Tentang Kamu

Tentang Kamu

Judul Cerpen Tentang Kamu

Kamu adalah pelangi yang terlihat setelah derasnya hujan, seperti mentari yang muncul setelah gelapnya malam, kamu ciptaan Tuhan yang terindah, matamu sebening Kristal, wajahmu berbinar seperti bintang, senyummu seperti cahaya yang menggantikan seramnya petir.

Aku Isa Putri Azhalia, aku seorang siswi di sekolah menengah atau SMA aku siswi baru di kelas X MIA 2, aku kerap disapa Isa, aku memiliki gigi yaeba atau gingsul, yah mereka mengejekku vampire atau apalah itu tentang gingsulku, awalnya aku merasa malu dan ingin segera mengenkana kawat gigi. Namun semua berubah ketika aku bertemu seorang anak laki laki yang membuat hidupku lebih berwarna, dia adalah Diaz Putra, sering dipanggil Diaz, dia cowok yang jutek, judes, dan sok kegantengan (emang ganteng sih kalo diliat liat) dia punya fans cewek cewek cantik yang selalu siap kapan aja buat jadi pacarnya, tapi dia tetep jomblo, namun dia suka php (dateng, buat baper, terus pergi) walaupun gitu dia tetep jadi idola.

“Isaaa!! Cepet bangun ini senin upacara!” kata seorang wanita cantik namun judes warbyassaaah (hehehe) dia adalah ibu, satu kata yang penuh makna dan indah ini kupersembahkan kepada wanita yang telah melahirkanku, dan merawatku penuh kasih (tapi kadang juga sering marah marah) “Iya ibu aku bangun sekarang” jawabku malas. Ku langsung segera bersiap siap agar tidak terlambat.

Di sekolah ketua kelasku tidak masuk sedangkan wakilnya suaranya serak dan tidak bisa memimpin jadi akulah yang menggantikan sebagai ketua kelas (bangga sih tapi grogi juga kale hahaha). Pak kepala sekolah menyampaikan banyak sekali omongannya yang tidak kupahami (bagaimana mau paham dengar saja tidak) aku melihat sekelilingku banyak siswa yang mengobrol, aku terhanyut dalam lamunanku sampai kulihat seorang laki laki yang menjadi ketua kelas di kelas X MIA 4, yapp dia Diaz, cowok sok cool yang banyak fans anehnya dia gak pake pomade biar rambutnya licin sampe burung aja kepleset seperti cowok cowok pada umumnya, dia malah biarkan rambut naturalnya yang behamburan itu. “Apa lo liat liat?!” bentak Diaz dengan wajah sinisnya, oke dia jutek sekarang aku harus bilang apa? Kuperas otakku sampai kutemukan jawaban “hah? Siapa juga yang liat lo? Gak usah ke gr an gitu please” jawabku dengan seledepan khasku.

Upacara selesai aku kembali ke kelas dengan pelajaran membosankan dan guru killer, kringg saatnya pulang.
“Aku pulang” teriakku sambil membuka pintu, dan langsung ke kamar tidurku, ibu menghampiriku “Isa ibu sama ayah udah daftarin kamu les, hari senin sampai kamis” “jam berapa bu?” “jam setengah 7 sampai jam 8” okelah daripada gak ada kerjaan di rumah juga.

Di tempat les, aku terlambat 15 menit dan kudapati kelas sudah dimulai, kuketok dan buka pintunya lalu kulihat seorang laki laki dengan baju hitam dan celana pendek selutut, dia adalah orang yang jutek dan membentakku tadi “elo?!” bentaknya lagi dengan menunjukkan jari telunjuk ke arahku, oh tidak bisa mati aku, kucepat pergi meninggalkannya dan berpura pura tidak tahu apa apa. “oke guys, saatnya istirahat ya” kata guru pengajar. Ibu guru keluar dari ruangan dan si judes Diaz pun menghampiriku, belum sempat dia berbicara apa apa ada seseorang memanggilnya, hyuh syukurlah.

Hari ini adalah hari sabtu hari dimana semua mata pelajaran yang gampang dan pulang lebih awal “Weekend!” kata gadis berponi yang duduk di sebelahku, namanya Kirana, dia adalah sahabatku dari SMP, “weekend membosankan ala orang jomblo ewh” kata seorang laki lakai bernama Mahardika, yang selalu mengejekku si gadis gingsulan dan aku mengejeknya si pria berkacamata, “gini gini juga banyak yang mau macarin kok ihh” jawab Kirana sinis, aku dan Mahardika hanya bisa tertawa.

Hari ini sangat indah dan cerah (apa karena aku bangun kesiangan ya? hahaha) minggu ini aku akan pergi ke rumah Kirana karena hari ini akan jadi our girls day out hahaha, belum kuberanjak dari tempat tidurku, kubuka ponselku dan kudapati nontification di BBM ku “1 new invited” kubuka dan aku terkejut melihat namanya yapp dia adalah si cowok jutek, Diaz putra, aku tidak tahu harus merasa bagaimana, haruskah ku bahagia atau malah takut dia akan memarahiku karena semua kelakuanku ahh tidak tidak.

“Diaz ngeinvite elo?! Serius? Diaz anam MIA 4 itu kan?” Tanya Kirana dengan nada tidak percaya “Ya Diaz Putra, emang kenapa kalo dia invite gue?” balasku dengan nada yang biasa biasa saja “Isa, denger ya Diaz itu cowok yang udah terkenal karena dia cakep dan tukang php” jawab Kirana “lah terus gue target php nya dia selanjutnya gitu?” Kirana hanya menggelengkan kepala dan berbaring di sampingku, dan aku hanya seperti orang bego yang tidak bisa menemukan pilihan. “Oke, Kirana gue bakal nerima invitation Diaz” kubulatkan tekatku dan yah aku menerimanya, Kirana hanya bengong dan menganga tidak jelas.

Aku tidak akan menemukan sebuah cahaya jika aku tidak membuka mata, aku tidak akan mendengar alunan nada jika aku menunutup telinga, dan aku tidak akan mencintai seseorang jika aku menyembunyikan jati diriku. “bbm nontification” kucepatkan membuka handphoneku dan omgodd apa ini mimpi atau keajaiban? Diaz mengirimkan pesan untukku aaaaa mungkin kali ini aku akan terbang bersama mimpi dan menggapai para bintang

Massage from : Diaz
“Heh, cewek ngeselin lo punya gingsul ternyata yah haahha”

Kuberbisik di dalam hatiku, yah awas kau

Massage to : Diaz
“Paan si dasar tukang php lol”

Massage from: Diaz
“Setidaknya gue php karena gue cakep, lah elu? lol”

Aku terus berbalasan ejekan dengannya hingga larut malam, kusadari dia memang manis dan sangat humoris, dan aku tak tau mengapa aku memikirkannya disetiap tidurku, memimpikan dirinya disetiap peraduanku, mendoakannya disetiap sujudku oh Tuhan apakah ini cinta? Tapi aku belum pernah merasakannya, Tuhan bantulah aku hingga kudapati jawaban disetiap pertanyaanku.

“Gingsul!” panggil seorang laki laki dari atas tangga kulihat wajahnya yang berseri, kutatap matanya yang tajam dan senyum yang terindah yang pernah kulihat dari seseorang, yapp Diaz “Kenapa?” tanyaku dengan senyuman “Gak kenapa, cuman mau manggil aja” sautnya dengan nada jail “gak jelas banget si lo” jawabku dengan nada meledek, dia hanya tertawa.
“Gaes, liat deh ada yang punya gebetan baru nih hahhaha” kata Kirana sambil menatapku. Hah gebetan? Iya kali aku bisa jadi gebetan cowok cakep tukang php, mana maulah dia “Gue sama Diaz cuman temen biasa kok” jawabku sinis “Tuh kan belum aja disebutin namanya dia udah ngerasa, berarti benar kan? hahhaha” sahut Kirana. “Gingsul” Panggil Diaz yang mengagetkanku dari belakang “pulang sama siapa?” tanyanya “Sama sepupu kenapa?” “gak cuman mau bilang hati hati di jalan ya” God apa ini? Apa aku terlalu berperasaan tapi aku menyukainya dan kini dia jalan di sampingku Tuhan aku bahagia, apa aku egois untuk ingin menghentikan waktu sekarang tapi itulah yang kuinginkan saat ini, aku ingin Diaz, aku ingin dirinya menjadi milikku, aku ingin dia berada di sisiku, Tuhan aku mohon.

Sudah sebulan ini aku dekat dengan Diaz, saling tertawa, berbicara dan curhat, hampir setiap malam kami saling berbalasan pesan dan saling komen di sosmed dan itu membuatku seperti terbang bersama awan, melayang di udara, bersama kupu kupu yang indah. Aku tidak tahu kenapa aku hanya merasa aku selalu ingin di dekatnya, mendengar suaranya, dan memandang wajahnya hingga aku terlelap.

“Diaz!” panggil seorang perempuan cantik, dia mengenakan seragam sekolah lain dan namanya Shizuana gadis yang keturunan jepang, yah dia cantik. Mereka berbincang bincang hingga ada suatu yang mengganjal di dadaku, aku merasa sesak dan bendungan di mataku pecah sehingga membuat air mengalir seperti sungai di pipiku, dari tetes ke tetes air mataku hanya ada rasa sakit, pedih yang tak bisa kudefinisikan, seperti orang yang putus asa aku hanya terdiam melihat mereka berpelukan, Diaz yang selalu membuatku terbang kini membuatku terjatuh, seperti dihempaskan di bebatuan yang tajam, terjatuh di duri duri tumbuhan liar, tidak diinginkan itukah aku? Apa ini hanya harapan yang palsu? Apakah ini sebuah perasaan yang telah dimainkan? Tuhan mengapa? Ini terlalu sakit untuk kurasakan, terlalu pedih untuk kulakukan, pergi? Itukah yang harus kulakukan?.

Massage from : Diaz (17.43)
Hey gingsul, tadi aku tunggu kamu di depan sekolah kok gak nongol nongol? Kemana aja? Aku nyariin gak ketemu ketemu loh, jadi aku tinggal aja deh

Massage from : Diaz (19.08)
Hello? Apa ada orang? Kok kacang sih? Lu masih hidup gak sih?

Massage from : Diaz (20.00)
Sibuk ya? Udah makan kan? Kalo udah gak sibuk bales ya

Massage from : Diaz (22.00)
Serius lo kenapa? Lo baik baik aja kan? Sumpah gue khawatir, bales dong gue mau tau keadaan lo

Massage from : Diaz (22.18)
Gue ke rumah lo sekarang ya

Massage to : Diaz (22.19)
Eee gue baik baik aja

Jujur aku sangat kesal kepadanya karena kemarin dan aku akan menjauh darinya. “Gingsul!” Panggil Diaz “Aku mau ngomong” katanya sambil menarik tanganku ke taman sekolah, “Gua suka sama lo, dari awal gua liat lo waktu upacara sampe sekarang, kalo gue boleh jujur, gue gak pernah suka sama cewek, gue suka karena mau php in doang tapi perasaan gue ke lo beda” jelasnya, aku tidak tahu harus apa namun aku merasa aku sudah jatuh terlalu dalam di dasar laut, aku merasa dingin, aku merasa kecewa, sakit dan aku merasa patah dan hancur hingga berkeping “Maaf Diaz, gue gak bisa” sahutku dan berjalan menjauhi Diaz yang penuh kekecewaan.

Aku merasa bersalah kepadanya maka aku membuat surat dan aku ingin mengatakan bahwa aku juga menyukainya disaat pertama kali melihatnya.

Aku berlari menuju ke kelas Diaz dan di sana aku terluka lagi, rasa itu sangat menyakitkan ketika aku melihatnya lagi bersama seorang wanita dia Tika, Tuhan apa yang aku lakukan, apa aku terlambat? Tidak bisakah aku memilikinya walau hanya sedetik saja. Kumenangis dan bersembunyi dibalik tembok ketika mereka ingin pergi ke kantin untuk belanja, dan usahaku gagal Diaz menyadari keberadaanku “Isa? Kamu kenapa? kok nangis?” Tanyanya, aku hanya berlari menjauhi mereka dan aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa hari ini aku harus bangkit dalam keterpurukanku dan aku berjanji namanya tidak akan menjadi alasan bagi tangisku.

1 Tahun kemudian
Kini aku sudah bangkit dari keterpurukanku dan aku hanya bisa berdiri di bawah tanah yang sama dengannya dan hanya menjadi teman yang selalu ada untuknya dan akan selalu tersenyum untuknya karena kebahagiannya merupakan kebahagiaanku juga walau itu membuatku mersa pedih. “Hai, aku Teta kamu Isa kan?” Tanya seorang gadis cantik dan baik ini “iya ada apa?” sahutku, dan dia menceritakan semua tentang Diaz, dahulu dia juga pernah berada di posisiku dan tersakiti sepertiku, dan kami berdua pun menjadi teman yang akrab.

Kini kutahu bahwa cinta itu menyakitkan namun cinta juga membuat hidupku yang sepi menjadi lebih berwarna, satu hal yang aku ingat dari Diaz adalah –Kamu cantik, dan senyummu yang indah itu akan selalu kukenang dan Gingsulmu adalah salah satu titik ketertarikanku padamu- . Kini semua telah berlalu aku akan selalu menghembuskan nafasku dan selalu berkata disetiap senyumku “Aku pantas untuk bahagia”. Dan satu kata untuk orang yang patah hati di luar sana
“Jangan pernah sia sia kan air matamu untuk orang yang tidak menangis untukmu juga karena kamu adalah alasan untuk seseorang tersenyum.”

Cerpen Karangan: Aqilla Listunisa
Facebook: Aqila listu
Pengorbanan Yang Tak Seharusnya

Pengorbanan Yang Tak Seharusnya

Judul Cerpen Pengorbanan Yang Tak Seharusnya

“Ditha? Kau mau gak jadi pacarku?”
Kalimat itu langsung terlontar dari mulutnya saat bel istirahat telah berbunyi, kalimat yang membuat hatiku bingung tak karuan. Ardi, anak laki-laki yang akhir-akhir ini mencari perhatianku. Dia selalu mencoba menarik ulur hatiku, tapi aku selalu mencoba lari dari hal itu. Mengapa demikian? Aku bukan tipe perempuan yang disukainya, aku tomboy, pemarah, suka mukul orang dan benar-benar tidak feminin. Sedangkan dari yang kutau oleh kawannya, yang Ardi suka ialah perempuan yang baik, lembut dan feminin. Dan aku benar-benar tidak menyangka Ardi akan mengatakan kalimat itu padaku.

“Ardi, kan aku bukan tipe cewek yang kau suka?” jawabku menantang
“Tapi aku suka kok samamu” katanya memohon
Karena aku mendengar kata-kata Ardi aku pun mencoba membuka hati padanya.
“Aku bakal nerima kau, tapi izinkan aku untuk berubah jadi yang kau mau ya?”
“Buat apa Dith?”
“Biar aku bisa jadi yang lebih baik buatmu”
“Oke lah, Ditha. Aku terima keputusanmu. Aku janji buat nunggu kau”

Selama berhari-hari aku mencoba menjadi yang terbaik untuknya, aku belajar untuk jadi feminin, aku mencoba agar tidak kasar, aku berhenti jadi tomboy.
Aku pun berniat menemui Ardi saat kurasa aku sudah cukup jadi yang terbaik, tiba-tiba beberapa orang perempuan menghampiri aku saatku masih di dalam kelasku.

“Hey, kau Ditha kan? Yang cari-cari perhatian sama Ardi!” bentak seseorang
“Aku gak cari perhatian kok, dia yang cari perhatian malah dia nembak aku” kucoba menjawab lembut seperti yang kupelajari selama ini
“Yang jelas, sekarang aku resmi jadi pacar Ardi ngerti kan?” kata yang satunya lagi menantangku
“Pokoknya jangan lagi kau dekat sama Ardi, dia udah jadi pacar kawanku!” kata yang satu lagi sambil mendorongku ke dinding kelas. Aku menangis, dan mereka pun meninggalkanku.

Lalu Ardi tiba-tiba datang untuk melihatku
“Dith, aku di sini karena kata kawanku tadi, orang Ayu ngelabrak kau ya?”
Aku menghapus air mataku dan mencoba tegar di hadapannya
“Oh, yang tadi itu namanya Ayu? Pacar barumu kan?”
“Dith, aku gak berniat untuk nyakitin hatimu”
“Tapi udah terlanjur sakit hatiku, Di”
“Kau kok gak ngelawan Ditha? Kau kan harusnya bisa ngelawan!” katanya
“Aku gak bisa, Di. Aku dah terlanjur berubah. Aku udah berubah, demi kau, tapi ini balasanmu. Harusnya kudengar kata hatiku saat pertama ketemu kau, untuk gak ngebuka hatiku untukmu. Tapi mana janjimu? Sekarang aku minta kau pergi, pergi dari hidupku!”

Ardi pun meninggalkanku dengan rasa bersalah yang teramat dalam setelah memegang erat tanganku. Jika kupikir-pikir lagi, mengapa aku bisa sebodoh ini untuk membuka hati pada orang yang salah. Yang benar-benar salah.

Selesai

Cerpen Karangan: Mery Kristian Agustina Hutagalung
Facebook: Mery Kristianagustinaa
Cinta Tak Tersampaikan

Cinta Tak Tersampaikan

Judul Cerpen Cinta Tak Tersampaikan

Cinta tak harus memiliki. Yups, inilah kisah cintaku yang ingin aku ceritakan.
Tapi aku sama sekali tak percaya pada kata-kata itu, karena menurutku yang namanya cinta itu harus memiliki. Oh ya, namaku Radit yang berumur 20 tahun dan aku sedang menyukai gadis bernama Nayla yang lebih tua 3 tahun dariku. Apa menurut kalian aku salah jika menyukai gadis yang lebih tua dariku?. Kalau menurutku, itu tidak salah karena selama ia mampu menerima aku apa adanya maka aku akan nyaman bersamanya.

Aku dan Nayla adalah teman sekantor dan kami mulai dekat pada tahun 2014 lalu. Waktu itu aku berjanji padanya kalau aku akan mengajaknya nonton di bioskop. Pada saat itu aku belum mempunyai rasa apa-apa dan aku tidak kepikiran bahwa aku akan mempunyai rasa padanya. Karena dari dulu aku tidak percaya diri dan sangat susah untuk jatuh cinta pada gadis-gadis yang pernah kutemui sebelumnya. Bahkan sampai teman-temanku mengira bahwa aku ini G*y.

Semenjak saat itu aku jadi semakin dekat dengannya, kita jadi sering keluar bareng dan semakin dekat. Hingga akhirnya aku pun mempunyai rasa padanya. Entah sejak kapan rasa ini muncul dan aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya pada siapapun. Yang jelas aku merasa sangat nyaman saat bersamanya, hari-hariku terasa lebih indah saat bersamanya. Seakan ingin kuhentikan waktu agar aku bisa terus bersamanya.

Aku pun berniat untuk mengutarakan perasaanku padanya dengan harapan semoga ia juga merasakan perasaan yang sama sepertiku. Tapi, pada malam itu ia malah bercerita tentang kisah cintanya yang lalu seakan-akan ia belum move on dari cintanya yang lama. Akhirnya aku mengurungkan niatku untuk mengutarakan perasaanku. Aku berpikir bahwa mungkin ini memang belum waktunya dan masih ada hari esok.

Setelah itu hari-hari pun berlalu, aku dan dia masih tetap berhubungan seperti biasa. Tapi suatu saat ia mulai menceritakan bahwa ia sedang dekat dengan seorang pria. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya sambil menyimpan perasaan kecewa yang teramat dalam. Dan aku hanya bisa berharap ia tahu apa yang aku rasakan saat ini.

Namun semakin lama ia semakin dekat dengannya bahkan disaat ia sedang ke luar bersamaku hanya pria itu saja yang ia ceritakan sepanjang kita bersama. Aku pun mulai menjaga jarak darinya karena aku sadar ia lebih memilih pria itu daripada aku. Aku dan dia sudah jarang keluar bersama lagi, mungkin ia sudah bahagia bersama pria itu. Bahkan mungkin aku sudah tak dianggap lagi. Seakan-akan apa yang aku perjuangkan untuknya selama ini itu sia-sia.

Kini semua berakhir sudah, kisah cinta yang tak tersampaikan dan berakhir dengan memilukan. Aku pun kini hanya bisa menyendiri sambil berharap semoga perasaan ini cepat menghilang bersama senyumannya yang dulu terpancar untukku tapi kini telah menjadi milik orang lain.

Aku pun tersadar, bahwa untuk memiliki itu butuh dua hati yang saling cinta. Tak bisa hanya dengan satu hati.
Jika hanya dengan satu hati yang memperjuangkan maka lepaskanlah cinta itu. karena cinta itu tak bisa dipaksakan.
Cinta itu harus memiliki, karena cinta itu adalah dua hati yang saling memperjuangkan untuk satu kebersamaan.

Cerpen Karangan: Diki Wijaya
Facebook: Diki Wijaya
Cinta Pertama Yang Menyakitkan

Cinta Pertama Yang Menyakitkan

Judul Cerpen Cinta Pertama Yang Menyakitkan

Hai, Namaku Ariana Putri. Biasa dipanggil Putri. Aku berumur 15 tahun dan aku duduk di kelas 10, aku bersekolah di salah satu SMA di Jakarta. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku.

Saat pertama kali MOS di salah satu SMA, aku dipandu oleh kakak kelasku, ya sekitar ada 4 orang, 2 perempuan dan 2 laki laki. Tetapi, entah mengapa aku sangat kagum dengan kakak kelas yang memanduku. Ya tuhan, jangan sampai rasa kagum ini berubah jadi cinta. Rasanya tidak mungkin kakak kelas jatuh cinta sama adik kelasnya.

3 Hari kemudian, aku sudah selesai MOS dan resmi menjadi murid di SMA ku. Aaaa, rasanya senang sekali. Aku memakai seragam putih abu abu dan siap untuk menjadi dewasa.

Hari demi hari kulewati, aku bertemu dengan teman baruku, ya! Aku sudah menganggap dia sahabatku. Namanya Deana, dipanggil Dea.

“Dea… ke kantin yuk!” Ucapku menganjak Dea yang tengah sibuk memainkan ponselnya
“Mbbbb.. ayuk ayukk put” Balasnya yang langsung menaru ponselnya di saku baju

“Lo mau pesen apa put? Biar sekalian gue pesenin”
“Bakso sama es teh manis deh ya.”
“Oke!”

Sembari aku menunggu Dea memesan makanan untuk kita berdua, aku pun memainkan ponselku. Tak lama Dea datang dengan membawa makanan dan minuman yang aku pesan. Kami pun menikmati menu itu.

Tak lama kakak kelas yang aku kagumi pun datang bersama teman temanya, 5 orang. Aku pun terpana melihatnya

‘Astagaa.. ganteng banget lo kaak!!’ Dalam hati aku berkata sambil terus memandangnya
“Eh put, makan dong! Kok malah ngeliatin kak Revan sih?”
“Hah? Revan? Namanya Revan? Kok lo bisa tau sih namanya?” Kaget aku kepada Dea
“Ya taulah PUTRI, lo liat dong di bajunya pojok kiri kan ada namanya”
Aku hanya bisa cengengesan melihat Dea. Ya kenapa aku sampai bisa lupa ya tuhan.. Padahal cuma tinggal liat namanya di bajunya, hhhh.. mungkin karena aku terlalu kagum kali yaa sampai bisa lupa.

Aku sedang membaca buku di perpustakaan, tetapi tidak sama Dea. Soalnya hari ini ia tak masuk, katanya sakit. Lagi asik membaca, tiba tiba ada yang meletakan tanganya di atas bahuku. Sontak aku terkejut dan menghadap belakang. Dan ternyataaa
“Mbbb.. sorry, gue bisa pinjem bukunya gak? Soalnya dikit lagi gue ada ulangan kimia. Dan itu juga bukunya buat kelas 11, bukanya lo masih kelas 10 ya?” Dan ternyata kak Revan!!
“Mbb.. iya kak boleh nih” Aku memberi buku kimia yang tadi aku baca ke kak Revan. Aku juga membaca buku kelas 11 karena aku ingin tau pelajaran pelajaran kelas 11.
“Thanks” Ucap kak Revan tersenyum kepadaku dan mengambil bukunya dari tanganku.
Sontak jantungku berdebar kencang, rasanya ingin copot saja. Bagaimana tidak, kakak kelas yang aku kagumi tersenyum kepadaku. Ahh rasanya gembira sekali melihat senyuman kak Revan.



“Ya, gue mau curhat sama lo boleh gak?” Ucapku pada Dea yang ingin berusaha jujur pada Dea kalau sebenarnya aku sudah mulai cinta sama kak Revan. Dea hanya mengangguk dengan apa yang aku ucapkan tadi
“Sebenernyaa… gue itu mulai suka sama kak Revan, ya.”
“Yaa, awalnya sih gue cuma kagum pas dia mandu waktu gue mos. Tapi lama lama gue mulai cinta sama dia ya.”
Mendengar perkataanku barusan, Dea hanya terengah tak berkedip. Aku pun melambaikan tanganku tepat di depan wajah Dea.

“Ya ampun Putri. Ternyata lo suka sama kak Revan.”
Aku pun mengangguk. Dan tepat saat Dea bicara, kak Revan tiba tiba lewat di depan kita berdua, dia tersenyum kepada aku dan Dea.
Ya tuhannn, sontak mataku melotot tak karuan, jantungku berdebar dan wajahku seperti orang ketakutan. Ya! Aku takut kak Revan mengetahuinya. Ya tuhan.. semoga saja dia tak tau apa yang barusan aku dan Dea ucapkan.

“Deaaaaa!!! Lo kalo ngomong pelan pelan dongg!! Tar kalo kak Revan tau gue suka sama dia gimana ya?” Panik aku pada Dea, tetapi Dea hanya menjawab santai dan berkata
“Tenang aja put, dia gak denger kok.” Balasnya. Tetapi aku tidak percaya begitu saja, aku juga harus meyakinkan ke kak Revan kalau seandainya ia menanya.

Pagi yang cerah menyinari dunia, matahari sontak langsung memperlihatkan cahayanya, alarmku pun berdering pertanda aku harus bangkit dari tempat tidurku.
Dengan wajah lemas aku pun langsung bangkit dari tempat tidurku kemudian langsung menuju kamar mandi. Setelah 15 menit kemudian akupun keluar dari kamar mandi kemudian menuju ruang makan untuk sarapan.

Sesampai di sekolah akupun menuju ruang koridor dengan penuh ceria, ceria? Ya! Ceria karena ingin melihat wajah kak Revan yang tampan itu. Sehari tak masuk sekolah saja sudah rindu sama wajah tampanya kak Revan.
Begitu aku jalan dengan santainya aku terkejut ada yang memanggilku. “Putriiiii”
Aku pun sontak melihat ke arah yang memanggilku tadi. Dann ternyaataaa… “Ka revan?”
Yaa!! kak revan lah yang memanggilku.
‘Kok kak revan tau nama aku yaa?’ Dalam hatiku bertanya tanya. kak revan pun menghampiriku dengan sedikit lari. Sontak jantungku berdebar tak karuan.
“Putriii” Ucap kak revan sedikit terngosan
“Iyaaa kak.. Kok kakak tau nama aku?”
“Dea cerita sama gue kalo lo kagum sama gue.. emang bener yaa?” Ucap kak revan dengan nada sedikit pd juga tersenyum tipis kepadaku. Sontak aku terkejut dia bertanya begitu, huhh.. Dea pasti cerita apa apa tentang aku sama kak Revan. Awas aja lo ya!! Dengan menutupi maluku, aku pun menjawab pertanyaan kak Revan dengan santai “Mbbbb…mbbbbb iyaaa aku kagum ajaaa sama kakak, kakak tuh wibawa banget pas mos-in aku duluu, hehe emang gak boleh kalo aku kagum sama kakak kelasku sendiri?” Ucap aku membela diri
“Mbbb.. Iyaa si gak papa, oh iya lo tar malem ada acara gak?”
“Nggak.. emang kenapa kak?”
“Tar malem ikut gue yuk ke birthday party sepupu guee.. Lo mau ikut gak?”
“Mbbb… boleh deh kak”
“Okeyy, nih no telepon gue.. Tar lo sms yaa alamat rumah lo, tar gue jemput jam 19.00 byee” Ucap kak Revan sembari memberiku kertas sedikit dan bertuliskan nomor telepon dia, dia pun langsung meninggalkanku begitu saja.. Ohh tuhannn!!! Rasanyaa senang sekali nanti malam aku pergi berdua sama kak Revan.. aaaaaaaa

Jam menunjukan pukul 18.00 aku pun bergegas memilih baju, sepatu, dan tas untuk pergi nanti. Setelah memilih, aku pun langsung bersih bersih dan make up. Pokoknyaa aku harus tampil cantik malam ini dengan memakai dress merah atas lutut high heels hitam dan juga tas hitam rambut yang digerai. Aku rasa aku sudah tampil cantik. Aku pun menunggu kak Revan menjemputku.

10 menit kemudian kak Revan sudah tepat di depan rumah ku dengan mobil warna hitamnya, aku pun langsung menaiki mobol kak Revan
“Lo cantik banget putttt!!!”
“Makasihh kak..”
Jantungku ingin copot saja ya tuhannn!!! Bagaimana tidak? Saat ini aku tepat duduk di samping orang yang aku suka dan jalan berdua denganya, ditambah dipuji kecantikanku.. aaaaaaa senang sekali rasanyaa.

Sesampai di Birthday Party sepupu kak Revan, aku dan kak Revan pun langsung masuk. Tak lama kemudian kak Revan pun mengajaku untuk menyantap makanan dan minuman di dekat kolam renang, aku pun mengikuti kemauan kak Revan. Dan saat ini aku dan kak Revan tengah memakan cupcakes dan segelas sirup.

“Puttt..”
“Mbbb”
“Kamu udah punya pacar?”
“Kamu?”
“Mbb.. Iyaa sekarang aku mau manggil aku-kamu aja.. Daripada lo-gue kayak gak pantes aja sesama adek-kakak kelas” Ucap kak Revan
“Mbb.. Kakak mau ngambil cupcakesnya lagi gak? enak tau” Jawabku mengalihkan pembicaraan. Sebab aku pun bingung ingin menjawab apa dengan kak Revan, aku sih memang belum mempunyai pacar, tapi aku bingung saja mengapa kak Revan nanya seperti itu
“Jawab dulu pertanyaan yang tadi!”
“Mbbb… Belum kak aku belum punya pacar.” Jawabku
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
Aku pun terkejut mendengar perkataan kak Revan. Jantungku mulai berdetak tak karuan, keringkat dinginku mulai mengucur. Aku terengah tepat di wajah kak Revan tak berkedip. Tapi ah mana mungkin kak Revan menembakku beneran, apa yang dia suka dari diriku? aku biasa biasa saja kan? Aku pun mencoba tenang menjawab pertanyaan kak revan
“Ahhh kakak bercanda kalii” Kataku sambil tertawa sedikit mengalihkan keadaan
“Aku gak bercanda sama sekali put.. jujur dari pertama kamu mos aku mulai tertarik dengan kamu, aku mencoba mencari tau nama kamu lewat sahabatmu, Dea sampai akhirnya ini ngedate kita yang pertama dan aku menyatakan perasaanku. apa itu salah?”
Aku pun terdiam saat kak Revan berkata itu
“Mbb… Iyaa kak aku juga suka sama kakak. Aku mau jadi pacar kakak.. tapi aku baru pertama kali pacaran kak, maaf kalo aku masih gugup ketemu sama kakak, dan please jangan buat aku sakit hati karena aku belum merasakan sakit karena cinta.”
“Iyaaa putri kakak gak akan sakitin kamu, kakak akan jaga kamu baik baik. Kakak sayang banget sama kamu, makasih udah nerima kakak..” Ucap kak Revan tersenyum aku pun ikut tersenyum.

Saat sesampai di sekolah, aku pun risih karena teman temanku menatapku tajam, aku tidak tau apa yang terjadi, begitu aku hampir sampai di kelas Dea pun menghampiriku
“Cieeee yang taken sama kak Revan!! longlast yeee.. Eh lo gaktau yaa kak revan tuh ngeshare foto lo di akun sosmednya dia pake caption yang romantis gitu makanya anak anak pada ngeliatin lo karena dia tau kalo lo sekarang takenya kak revann..”
“Wkwk iyaaa makasihh Dea lo juga kan yang ngebantu gue buat deket sama kak Revan.. makasih yaa ya. Gue juga gak nyangka bisa jadian sama kak Revan.”
“Iyaaa Putriii sama sama!!”

Sekejap aku menatap mata Dea yang seperti orang habis nangis. Aku pun bertanya kepadanya tetapi ia malah menjawab “gak papa”. Entah apa yang sedang Dea alami, seperti ada masalah tetapi ia tak mau berkata jujur kepadaku
“Haiiii sayangg…” Ucap kak Revan menghampiriku
“Mbbb iyaa kak..”
“Putri gue tinggal yaaa!” Ucap Dea langsung pergi meninggalkanku

Aneh sekali dengan tingkah Dea selama aku pacaran dengan kak Revan, dulu ia selalu menemaniku dan sekarang ia lebih memilih menyendiri dan sering tidak masuk sekolah

Hubunganku sama kak Revan sudah semakin jauh, semakin aku mencintai kak Revan dan selama 9 bulan kita pacaran kak Revan sama sekali tidak pernah menyakiti aku sampai sampai saat saat ingin ke 10 bulan hubunganku dengan kak Revan mulai renggang, dia sering menolak ketika aku ajak jalan padahal dulu ia selalu siap siaga dan senang, alasan kak Revan dia sibuk lah, apa lah sampai akhirnya aku mulai curiga dengan kak Revan.

Sampai akhirnya aku mengikuti kak Revan dengan motorku. Dan ternyata kak Revan berhenti di sebuah restoran besar dan dia pun masuk ke dalam, aku pun sangat curiga saat itu, aku pun mengikuti kak Revan sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan dan perempuan itu ternyata “DEA” yaaa aku sangat heran, mengapa kak Revan dan Dea berudaan di situ? Bermesraan segala, tetapi aku masih berpikir postif sama Dea karena ia sahabatku. Tapi kenapa kak Revan menggenggam tangan Dea dan memberi Dea seikat bunga? sontak hatiku sakit bertubi tubi, aku mulai meneteskan air mataku satu per satu dan pipiku mulai basah, mataku mulai merah, hatiku mulai sakit melihat kak Revan dan Dea seperti itu. Aku pun mendengar sedikit mereka bicara dan ternyata dia Dea dan kak Revan menjalin hubungan 1 bulan sebelumnya. Dan Dea meminta kak Revan memutuskanku, kak Revan pun mengabuli permintaan Dea, aku pun langsung pergi begitu saja dengan lari yang cukup kencang, seperti tertusuk tusuk jarum rasanya melihat berkhianatnya sahabatku sendiri, juga kak Revan, aku sangat kecewa terhadapnya, Padahal kak Revan pernah berjanji dulu untuk tidak menyakitiku. Tapi apa? begini caranya? Aku tidak terima. Aku pun bergegas pergi dari tempat itu bersama motorku, aku pun mengebut kencang sembari meneteskan air mata dan entah mengapa aku kehilangan konsentrasi, lalu aku pun menabrak truk tepat di depanku, kecelakaan itu pun terjadi.

Aku pun dibawa banyak orang untuk dibawa ke rumah sakit, sesampai di rumah sakit, keluargaku pun ditelepon untuk mengabari bahwa anaknya yang bernama ARIANA PUTRI kini tengah terbaring di rumah sakit.

Dengan koma yang cukup lama 15 hari karena aku pendarahan di otak, aku pun tersadar dari tidurku, tampak aku melihat seorang kak Revan yang menemaniku di rumah sakit. Aku pun mulai meneteskan air mata lagi, mengingat kejadian waktu itu. kak Revan pun tersadar kemudian melihatku yang sudah terbangun, namun aku membuang muka terhadap kak Revan.

“Putri kamu udah sadar? Kakak khawatir banget sama kamu… Kamu kenapa nangis put?”
Aku pun hanya terdiam dan akupun mengecek handphoneku dan ada email dari kak Revan, 15 hari yang lalu dengan isi
“putri, maaf aku gak bisa lagi sama kamu, maaf aku mau sampai di sini aja hubungan kita, maaf banget aku gak bisa lanjutin lagi, maaf ya put”

Aku pun membaca dan kemudian menunjukan kepada kak Revan, ia pun membaca dan kak Revan ingin menjelaskan namun aku pun menaruh telunjukku tepat di bibirnya

“Ka revan.. Aku tau semuanya. kak Revan sudah jalin hubungan kan sama Dea sahabat aku satu bulan sebelumnya? Aku tau kak, terus Dea yang menyuruh kak Revan untuk mutusin aku, terus kak revan mau gitu aja.. Kakak bayangin gimana aku gak sakit hati.. Kakak pacaran sama Dea tapi masih ada hubungan sama aku.. Kakak itu laki atau bukan? kakak itu gak gentle kakak gak bisa jaga perasaan aku. Aku ini sakit hati kak. Coba kakak bayangin, kalo kakak udah gak mau jalanin hubungan sama aku, kakak putusin aku bisa kan baik baik? gak kayak gini kak caranya! aku tuh sakit hati banget kakak duain aku kayak gini, dan sekarang kakak ngapain nemenin aku di rumah sakit? Toh kakak udah gak peduli kan sama aku?”
Ucap aku masih dengan suara merintih diderangi air mata yang sangat amat mengalir, begitupun dengan kak revan

“Maafinn aku sayangg.. Dulu emang iya aku diam diam suka sama Dea, aku tuh suka sama Dea tapi aku sayang sama kamu, dan saat ini aku tau ternyata Dea itu gak sebaik kamu sayang.. Dea itu jahat sama kamu!! Dia ngebuat kakak suka sama dia, dia itu jahat sama kamu Dia tuh gak kaya kamu, dia itu ngebuat kakak suka sama dia. Kakak baru sadar kalo jangan pernah tinggalin orang yang kakak sayang demi orang yang kakak suka. Kakak baru sadar sayang.. maafin kakak!!”

Flashback on
“Ya, gue mau curhat sama lo boleh gak?”
Ucapku pada Dea yang ingin berusaha jujur pada Dea kalau sebenarnya aku sudah mulai cinta sama kak Revan. Dea hanya mengangguk dengan apa yang aku ucapkan tadi
“Sebenernyaa… gue itu mulai suka sama kak Revan, ya.”
“Yaa, awalnya sih gue cuma kagum pas dia mandu waktu gue mos. Tapi lama lama gue mulai cinta sama dia ya.”
‘Maafin guee ya putri, gue harus perjuangin cinta gue sama kak Revan, gue sebenernya juga suka sama kak Revan dari pertama kak Revan mos-in kita, ya gue pura-pura aja sama lo, gue pura pura dukung lo kalo lo sama kak revan, maafin guee yaa puttt.. Gue harus perjuangin cinta gue ke kak Revan!’ Ucap Dea dalam hati.
Flashback Off

“Maaf kak, aku gabisa nerima kakak lagi. Maaf, mending sekarang kakak pergi deh. Aku gak mau liat muka kakak lagi di sini. jujur aku sudah memaafkan kakak tapi untuk menjalin hubungan lagi aku gak bisa kak. Aku udah terlalu sakit. Maaf kak”

Dengan beriringnya waktu, aku pun menginjak kelas 11. Aku meminta kepada orangtuaku untuk pindah sekolah dan aku pun pindah di Surabaya karena sekarang papaku bisnis di sana. Perlahan lahan aku melupakan kak Revan, berat rasanya melupakan cinta pertama, tapi aku harus bisa.

“Maafin kakak putri, kakak udah nyakitin hati kamu, kakak menyesal. Kakak sayang banget sama kamu putri.. Maafin kakak putri.. Kakak udah ninggalin orang yang kakak sayang demi orang yang kakak suka, karena suka hanya sementara. Maafin kakak”

Cerpen Karangan: Devi Avrilya Saputri
Facebook: Devi Avrilya Saputri