Dibalik Gubuk Kecil

Baca Juga :
    Judul Cerpen Dibalik Gubuk Kecil

    Senja sore tak menghalau badan kurus kecilnya, rintik anak hujanpun ia hiraukan, bahkan duri-duri putri malu yang mengenai kakinya pun tak ia rasakan. Sepatu yang dulunya putih perlahan-lahan menjadi coklat dan hitam, sudah aus pula bagian alasnya. Tak punya tas, hanyalah kresek hitam yang menjadi temannya. Baginya itu adalah sepersepuluh pahit getir dari kehidupannya. Ia adalah seperduapuluh dari anak bangsa yang hidup di pelosok di luar pulau jawa yang hanya tinggal di gubug kecil. semua itu tak menyurutkan semangat anak bangsa yang sangat luar biasa ini, keterbatasan? Tak ada hubungannya sama kesuksesan. Ia berpegang teguh bahwa semua orang bisa sukses dengan semangat yang pantang menyerah, semisal Chairul Tanjung, si anak singkong, dulu ia bagaimana? Sama seperti diriku, sekarang? Dia jadi orang yang sukses.

    “kukuruyuk..kuk.uk…” seperti biasanya ia dibangunkan oleh slamet, ayamnya. Maka diambillah air wudhu dari padasan belakang rumahnya. Bersama bapaknya ia sholat berjamaah shubuh di gubug miliknya. Hari ini hari Minggu, saatnya Rizka untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya, seperti mencuci baju, menyetrika dan lain lain.
    “Rizka, cuci baju dulu nak, lalu bikin sejalar singkong rebus untuk kita makan, nak..” Pinta bapak dengan suaranya yang lembut.
    “iya pak” Ia pun mengiyakan perintah sang bapak.
    “bapak mau pergi ke kebun dulu untuk menyirami singkong, nak. Uhk.. uhk.. uhuk..”
    “bapak masih sakit, tuh kan batuknya aja masih. Sudah bapak istirahat di rumah dulu aja, nanti Rizka yang nyiramin”
    “nggak nak, bapak masih kuat kok”
    “bapak tidak boleh sakit-sakitan terus, bapak harus sehat dengan istirahat dan minum obat-obatan tradisional, pak” kata Rizka sembari mencuci baju.

    Bapaknya menderita sakit liver sejak ia masih bayi. Hanya 5 x 5 meter tanah untuk penghidupan mereka. Sudah bisa makan saja alhamdulillah. Tak ayal, Rizka tidak bisa membelikannya obat. “Syukirilah apa yang ada” itu adalah sekelumit kata yang sering ia ucapkan. Bersyukur ia masih ada bapaknya, karena mereka hanyalah tinggal berdua saja, jadi bagaimanapun ia harus mengurus bapaknya sendirian, ibunya? ya, ibunya telah meninggalkan mereka untuk pacarnya. Ternyata, serumit inikah hidupnya?.

    Pagi itu ia berdiri di depan kaca dengan di pinggir-pinggirnya ada ukirannya mirip burung elang, peninggalan sang neneknya tercinta, dengan memakai baju putih abu-abu dengan kerudung putihnya yang agak lusuh. “Aku ini siapa?” aku hanyalah anak miskin yang tinggal di pelosok desa”, batinnya setelah ia melihat dirinya di depan kaca. Tapi, justru itulah yang membuat ia semakin semangat untuk meraih cita-citanya menjadi seorang diplomat.

    Ia kini bersekolah di salah satu MAN favorit di kotanya. Setiap hari ia harus berjalan kaki sepanjang 10 km dari rumahnya. Di zaman sekarang jalan kaki 10 km untuk ke sekolah?, memang ia lakukan setiap harinya. Tak diragukan lagi kecerdasannya si Rizka itu. Ia selalu mendapatkan kejuaraan dalam lomba apapun, terutama lomba LCC. Dan ia selalu peringkat 1 paralel juga. Banyak yang tidak suka dengan dia, karena mereka sangat iri kepada Rizka. Mereka selalu mengejeknya, akan tetapi ia hanya diam saja, tak pernah ia balas dengan sepatah katapun. Di kelas, ia sangat aktif, ia ahli dalam berbagai bidang pelajaran. Rizka sekarang sudah ahli dalam 5 bahasa, yakni bahasa inggris, Jerman, Perancis, Mandarin, dan bahasa Belanda. Dan ia sekarang sudah lancar berbahasa Arab dengan fasih dan istimewanya lagi ia sudah hafal 20 juz. Maka dari itu, ia berkeinginan untuk menjadi seorang diplomat atau Hubungan Internsional dengan jalur beasiswa, tentunya.

    “TENG.. TENG.. TENG”, bel sekolahnya pun telah berbunyi, bertanda jam untuk pulang. Sebelum mereka pulang, Bu Nur, guru Matematikanya mengumumkan bahwa “jangan lupa belajar untuk UN besok Senin, 2 hari lagi kita akan menjalani Ujian Nasional”. “Siap bu” jawab mereka (sekelas) dengan serentak. Memang, 2 hari lagi adalah Ujian Nasional. Rizka sudah memiliki banyak persiapan untuk menghadapi UN. Ia tidak bingung dengan UN, ia mungkin bisa mendapatkan nilai minimal 9, baginya itu adalah hal yang mudah, namun ia tak pernah menyepelekannya. Sekarang yang ia bingungkan adalah sepatunya sudah kusam, robek, yang dulunya berwarna putih, mungkin sekarang sudah agak kecoklat-coklatan, bagian bawahnya pun sudah menganga. Ia sedih karena itu, padahal UN harus memakai sepatu. “belikan lem sepatu saja” pikirnya. Rizka tak pernah menceritakan sepatunya yang sudah rusak itu. Maklumlah, sepatu itu dibeli waktu ia kelas X.

    Ia pun berjalan dengan payah. Melewati pemukiman warga, sawah, sungai. Sungguh hiruk pikuk hidupnya. Sesampai di rumah, ia segera bergegas menuju kamar untuk berganti baju dan menunaikan shalat maghrib. Setiap hari memang begitu, berangkat pagi-pagi dan pulang-pulang awan sudah berwarna merah. Itulah sebagian kecil kisah perjuangan sang anak bangsa yang tinggal di gubug kecil.

    Rizka pun bergegas menuju ke kamar yang biasanya untuk sholat. Ternyata ia melihat bapaknya sedang sujud, sholat qobliyah maghrib. Lama sekali bapaknya belum bangun, kira-kira sudah ada 15 menitan. Rizka sangat penasaran dengan bapaknya itu.
    “Astaghfirulloh… bapak, bapak.. bangun pak” seketika itu luluhlah air matanya sampai menetes ke baju pink miliknya. ternyata.. ternyata.. innalillahi wa ina ilaihi rojiun. “bapak.. bangun pak.. Jangan tinggalin aku sendirian pak.. bapak nggak kenapa-napa kan?” sekeras-kersnya ia ngomong, tapi tetap saja sekeras suara badai beserta hujan yang turun di buminya.

    Paginya, jenazah bapaknya telah dikebumikan di TPU yang jaraknya kurang lebih 4 km dari rumahnya. Ia terus-terusan menangis tiada hentinya. Ia sadar bahwa semua ini akan kembali kepada-Nya. Setelah ia sholat malam dan berdoa untuk bapaknya tercinta agar dibukakan pintu syurga, dan tiba-tiba ia teringat bahwa besok akan Ujian Nasional, “astaghfirulloh, aku lupa, besok aku ada Ujian Nasional, aku harus semangat, belajar keras, agar nilaiku sempurna, bapak doakan anakmu ini!”

    Ketika ia akan melepas mukenanya, ia melihat secarik kertas di atas meja. Lalu, kertas itu pun ia buka perlahan-lahan dan ia sangat ingin tahu, apa sih sebenarnya isi dari kertas itu. Waktu itu angin berhembus sangat kencang. dibukalah perlahan-lahan olehnya, ser… ternyata suratnya.. isinya tentang masa depannya Rizka, yakni selama ia kuliah, dan ternyata ia akan dikuliahkan ke perguruan tinggi sesuka atau seminatnya Rizka, “nak, ada seorang dermawan yang ingin membiayai itu semua. Bapak pun langsung menerimanya” itulah kalimat di surat bapaknya paling akhir. subhanallah… dia spontan kaget, bingung, sedih, bahagia, pokoknya subhanallah, dan tak terasa ternyata pipinya telah basah. Dan itulah pesan terakhir dari bapaknya. Sampai sekarang pun dia tidak tahu siapa yang membiayai seluruh biaya kuliahnya kelak.

    Paginya, ia berangkat ke sekolah untuk melaksanakan UN. Hari berganti hari… sampai tiba pengumuman kelulusan, ternyata dia menjadi siswa terbaik sekotanya, sungguh nilainya sangat sempurna. Berapa nilai rata-ratanya? Yak, nilai rata-ratanya adalah 96. Josss bukan? ternyata dibalik gubug kecil menyimpan sejuta kemanisan yang tak ternilai. Benarkan pepatah, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.

    Tak disangka untuk kedua kalinya yaitu, Rizka masuk perguruan tinggi di Universits Oxford. Dia akhirnya ngambil jurusan Bahasa, yups, sesuai dengan minatnya juga. Diplomat, betul itulah cita-citanya. Sekali lagi, ia sangat sangat beruntung.

    Cerpen Karangan: Sabah Ashfiya A.S.P.
    Facebook: Sab’ah Ashfiya Adiratna

    Artikel Terkait

    Dibalik Gubuk Kecil
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email