It’s Just A Dream (Part 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen It’s Just A Dream (Part 1)

    Tepat pukul 10 pagi, pesawat Garuda Airlines yang Aku tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Haluoleo, kendari Sulawesi Tenggara. Dengan sigap, Aku segera mengambil koperku dan menyeretnya ke luar Bandara. Sesaat kemudian handphone ku tiba-tiba berdering. Aku mengambilnya dari dalam tas dan kulihat

    +6281238665436
    From Mirdan.

    Oh ya. Kak Mirdan merupakan salah satu sahabat dari Mantan kekasihku bernama Ran. Ia bersahabat sejak SMA. Semenjak aku berpacaran dengan Ran, aku juga mulai dekat dengan Kak Mirdan. Bahkan kami sudah seperti seorang sahabat.
    Aku mengangkat panggilan masuk itu.

    “Ya kak?” sahutku lembut
    “Kau dimana?” tanya kak Mir padaku.
    “Aku masih di bagian pintu masuk. Apa kau sudah tiba di Bandara?” balasku.
    “Ya! Tunggu Aku. Aku menuju kesana sekarang.” ucapnya. Dan, telepon itu pun dimatikan.

    Tak lama kemudian, seorang pria berparas tampan, tinggi, dan berkulit hitam manis mengayunkan tangannya ke arahku. Yapss, dia Kak Mirdan. Orang yang Aku tunggu.

    “Maaf membuatmu menunggu lama, Ross” sahutnya sambil menyibak halus rambutku.

    Perkenalkan. Namaku Rossy Pertiwi. Tapi panggil saja Aku Ross. Oke!

    “Tidak, baweeel.. Aku juga baru tiba disini” sindirku sambil mengangkat sebelah alisku.
    “Hehehe.. baiklah. Btw, kemarikan kopermu dan Ikuti Aku.” balasnya.

    Kami pun mulai berjalan menuju ke tempat parkir. Dia memasukan koperku ke Bagasi mobilnya dan kami pun perlahan berangkat meninggalkan Bandara.

    “Ross?” sapa Kak Mir sambil mengendarai mobilnya.
    “Ada apa kak?”
    “Apa.. kau sudah siap bertemu dengan Ran?” tanyanya yang membuat raut wajahku seketika berubah tegang. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan sangat berat.
    “Kedatanganku kemari memang untuk bertemu dengannya. Entahlah, sampai saat ini perasaanku tentang dia belum mampu Aku hilangkan.” balasku.
    “Tapi. Tapi kau tahu bukan…” potongku sebelum ia menyelesaikan bicaranya “Apa? Masalah ia sudah mempunyai kekasih yang baru?” sambungku dan ia tak menjawabnya.
    “Aku tidak heran. Lelaki semua kan seperti itu. Memang gila seperti itu.” sindirku dengan nada sinis. Ia menoleh
    “what?? Semua? Enak aja! Gua gak kayak gitu kelees.” balasnya dan kami berdua pun tertawa terkekeh-kekeh.

    Hampir beberapa menit, kami bercanda tawa bersama di dalam mobil tersebut. Tiba-tiba handphone kak Mirdan berbunyi. Ia mengambilnya dari saku celananya. Saat melihat ke layar handphonenya, raut wajahnya sedikit terlihat membeku. Ia melirik ke arahku sebentar lalu mengangkat telepon itu.

    “Ya, Ran?”
    “….”
    “Aku lagi di jalan. Ada apa?”
    “…..”
    “Kapan?”
    “…..”
    “Ba..baiklah. Aku akan datang.”
    “….”
    “Tidak. Aku bersama seseorang kesana. Sampai jumpa sebentar malam.”
    Teet!
    Percakapan itu pun berakhir.

    Aku bertanya pada Kak Mirdan, apa yang tengah terjadi, dan ia menjelaskan semuanya. Ran menyuruh kak Mirdan untuk datang sebentar malam ke cafenya. Ia akan mentraktir Kak Mirdan disana, karena kekasihnya bernama Ayu tengah berulang tahun.

    Dag.. dig.. dug.
    Jantungku. Oh tuhan, ini benar-benar sakit.

    “O..oh ya.” balasku dengan suara terdengar lemah. “Apa kau ingin ikut denganku kesana? Sebaiknya…”
    “Tidak! Aku akan tetap ikut denganmu. Aku rindu melihat wajahnya. Dan aku penasaran orang seperti apa kekasihnya.” sambungku. Dan kak Mir pun menyetujuinya.

    Malam harinya, kak Mirdan menjemputku di sebuah rumah yang tak lain merupakan rumah dari sahabatku, Rima. Yah.. untuk sementara waktu, Aku akan tinggal di rumah sahabatku ini. Hanya beberapa minggu saja, sebelum Aku kembali ke kampung halamanku di Bima, Nusa Tenggara Barat.

    Ia menjemputku dengan mobilnya dan kami berdua pun segera bergegas pergi ke tempat Ran berada. Sepanjang jalan, jantungku berdegup tidak karuan. Aku merasa senang, tapi marah dan aku juga sedikit sedih.
    Argggh… perasaan macam apa ini?!!

    “Ini, minumlah. Sudah kuduga kau akan gugup seperti ini.” ucap Kak Mirdan sambil menyodorkan sebuah aqua gelas padaku. Aku mengambilnya dan segera menghabiskan air minum itu. Ia memperhatikanku.
    “Jangan takut. Apapun yang terjadi aku akan melindungimu disana.” ucapannya mengelus rambutku. Aku sedikit luluh. Ucapannya sedikit memberikan aku kekuatan.

    Tibalah kami di depan sebuah cafe yang bertuliskan A&E cafe. Yaps.. nama cafe itu. Aku dan kak Mirdan ke luar dari dalam mobil. Tak lama kemudian, kami berdua pun segera masuk ke dalam cafe tersebut.

    Suara alunan musik dari lagu All about the best (Meghan Trainor) mengalun indah di ruangan ini. Itu lagu kesukaanku, dan aku sering menyanyikan lagu ini saat masih berpacaran dengan Ran.
    Di sebuah Bar, tepat di hadapan kami berdua. Aku melihat seorang wanita duduk di salah satu kursi dekat bar itu. Wanita itu cantik, kulitnya putih, dan rambutnya lurus. Selang beberapa detik, seorang lelaki datang menghampiri wanita itu. Ia mengelus rambut wanita itu sambil tersenyum.

    Dug… dug..

    Ran!!
    I..itu. Itu Ran.
    Wajahnya tak pernah berubah. Masih babyface. Badannya berisi, Tinggi, kulitnya putih bersih dan senyumnya sangat manis dengan kedua mata sayupnya. Ia menoleh ke arah Kak Mirdan. Aku gugup, spontan tubuh mungilku kusembunyikan di balik tubuh kak Mirdan yang lebih besar dan tinggi dariku.

    “Hey.. lama banget nyampenya bro.” ujar Ran menghampiri Kak Mirdan dan menepuk pundaknya. Ran melirik ke arahku, wanita yang wajahnya tersembunyi di balik tubuh sahabatnya Mirdan.
    “Cewekmu?” tanya Ran pada Mirdan. Mirdan hanya tersenyum lirih. Ia pun langsung memanggil wanita cantik yang duduk di Bar tadi untuk datang bergabung dengan kami. Entahlah. Apa mungkin wanita itu Ayu? Kekasihnya?

    Ayu datang dan langsung menyalimi Mirdan. Sesekali ia melirik ke arahku tapi tak bicara.

    “Oh ya, yu. Kenalkan ini Ross. Di..dia. Dia pacarku.” sahut Mirdan lalu berbalik ke arahku.

    Aku terkejut mendengarnya.

    Ran pun terkejut melihatku.

    To be Continued

    TERIMA KASIH TELAH MEMBACA.
    Ada Komentar?

    Cerpen Karangan: Rossy Pertiwi
    Facebook: Ross
    Ig: Ross8039
    Id Line: Ochin28

    Artikel Terkait

    It’s Just A Dream (Part 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email