Khayalan Dalam Mimpi

Baca Juga :
    Judul Cerpen Khayalan Dalam Mimpi

    Aku masih ingat jelas saat aku pertama bertemu dengannya. Tatapannya masih terekam jelas di memoriku, senyumnya mengalihkan dunia.
    Edo, iya dia hanya adik kelas yang bisa membuatku jatuh dan mencinta. Aku ingat, kali pertama aku bertemu. Saat itu hari pertama dimana UAS dimulai, dan tak sengaja aku satu ruang dengan Edo.

    Hari pertama UAS, dia memandangku dengan kedua bola matanya, dan saat itu aku menghiraukannya. Hari kedua, aku bertemu lagi dengannya. Yah, namanya juga satu ruang. Semua tetap saja sama, dia menatapku kembali dengan senyum indahnya, dan saat itu bibirku mulai berbicara.
    “Hei, tidak bisakah kau melihatku seperti itu? Kau membuatku terganggu!” gumanku dengan nada sedikit kesal.
    Tetapi dia hanya sedikit tertawa dan tetap memandangku.

    Sepulang sekolah, aku mampir ke rumah temanku, Widia. Sudah terbiasa aku selalu ke sana untuk berbagi cerita sebentar.
    “Widia, I’m coming, Dear.” teriakku dari luar rumah Widia dan sedikit bercanda.
    “Hadduh biasa aja kali, heboh banget. Apa? Mau cerita?” tanya Widia.
    “Eh, iya aku mau cerita nih! Aku lagi kesel sama adik kelas yang kemaren aku ceritain ke kamu. Masa dia masih saja ngelihat aku, aku kan jadi risih ngelihatnya” jelasku sambil merengutkan dahi.
    “Oh, yang kamu ceritain kmaren itu? Lah, kan enak kalau dia ngelihatin kamu, kan kamu jadi ada yang ngeliatin. Apa jangan jangan…”
    “Jangan jangan apa?”
    “Dia suka sama kamu lagi! Hahaha” ujar Widia tertawa kuda.
    “Hi, apa an.. Lagi pula seorang Winda gak bakalan suka sama berondong. Tau ah aku mau pulang” jawabku sambil melangkahkan kaki.

    Hari ketiga. Lagi lagi aku ketemu dia. Oh Tuhan, apa apaan ini? Kapan UAS ini berakhir, aku tak mau melihat adik kelas itu, gumanku.
    Dia tetap saja sama menatapku, tapi yah sudahlah terserah dia. Aku terus melanjutkan mengerjakan soal.

    Bel pertama berbunyi, tanda mengerjakan soal selesai dan tanda istirahat tiba. Aku melangkahkan kakiku ke luar kelas, dan tanpa sengaja waktu aku di depan ruangan UAS, Edo ada di sampingku. Tapi, mungkin hanya sebuah kebetulan, gak mungkin banget dia ngikutin aku, pikirku. Dan aku mulai melangkahkan kakiku untuk beranjak pergi ke ruangan temanku di pojok belakang dan tanpa sengaja lagi dia juga mempunyai tujuan yang sama. Akhirnya kami pun jalan berdua. Saat di pertengahan jalan, dia mengajakku bergurau dengan dia menjegal kakiku. Aku merasa terhibur dan kami pun bergurau di perjalanan. Belum sampai tujuan, kami pun terpisah di koridor sekolah. Dan aku terus melangkahkan kakiku menuju ruangan temanku. Saat aku sampai di depan ruang temanku, ada suara dari jauh yang memanggilku.
    “Winda!”
    “Eh, itu dia. Ternyata kamu udah ke kantin duluan! Ya udah deh aku mau ke kantin” ujarku.
    “Mau aku temenin?” ajaknya.
    “Gak usah deh, kamu tunggu depan ruang BP aja!” sahutku meninggalkan mereka.

    Saat aku melangkahkan kakiku ke kantin, bel kedua berbunyi, tanda ulangan kedua segera dimulai. Dan tanpa makan sedikitpun akhirnya aku kembali ke ruanganku. Setelah usai ulangan, bel ketiga berbunyi, dan itu pertanda pulang!. Aku melangkahkan kakiku ke luar kelas menuju tempat parkir, menunggu temanku untuk pulang bareng. Saat menunggu temanku, dari sudut belakang ada yang memanggil dan menepuk pundakku.
    “Kak Panda!” sapa suara itu.
    Hh… siapa sih. Masih bagus nama Winda, malah diganti sama Panda, gumanku dalam hati.
    “Eh, kamu dek. Aku kira siapa. Oh iya namaku Winda bukan Panda, OK!”
    “Bagusan panda kali kak, lagipula nama panda cocok buat kakak. Panda kan lucu, sama kaya kakak” ujarnya tertawa kecil. “Oh iya kakak nunggu siapa?” lanjutnya.
    “Terserahlah. Nunggu teman dek. Itu temanku, ya udah dek aku duluan” jawabku meninggalkan Edo.

    Saat sampai di kampung tercinta, aku bertemu dengan Widia dan aku segera menghampirinya.
    “Widia! Dari mana? Mau ke mana? Oh iya! Aku mau cerita nih,” ujarku bersemangat.
    “Apa? Cerita adik kelas kemaren lagi? Kenapa? Dilihatin lagi? Colok aja matanya biar dia gak lihatin kamu” ujar Widia tertawa ngejek.
    “Ih… apaan. Kali ini beda cerita. Mmmm…. kayaknya aku ada perasaan gimana gitu sama dia.” ucapku senyum senyum.
    “Oh ya? Gimana ceritanya? Cerita dong!” Widia pun penasaran.
    “Gini, tadi tuh waktu istirahat aku sama dia itu punya tujuan yang sama, akhirnya kami pun jalan berdua. Terus dia ngajak aku bercanda, rasanya aku terbang ke langit. Oh, indahnya jatuh cinta.” jelasku salah tingkah.
    “Cie.. cie.. Katanya kamu gak bakalan suka sama berondong, eh ternyata malah kepincut. Ya udah deh kalau kamu bahagia, aku juga turut merasakan kebahagiaanmu.”

    Waktu pun berlalu, dan UAS telah usai 1 minggu lalu. Kini saatnya menunggu hasil UAS dan menunggu hari libur tiba. Ketika pembagian raport, aku sempat ketemu dia sebelum hari sekolah usai. Dia menyapaku dengan bibir indahnya, responku hanya melihat lalu membuang muka. Aku senang dia menyapaku sebelum aku tak melihatnya selama hari libur nanti.

    2 minggu hari libur berlalu, perasaanku masih saja tetap sama padanya. Perasaan rindu yang menggebu-gebu selalu ingin bertemu dengannya. Kini aku hanya menghitung jam menunggu esok datang hingga bisa bertemu dia.
    “Winda! Ayo bangun! Kini saatnya kamu kembali sekolah! Jangan tidur terus! Buka matamu, Widia!” teriak suara Ibu dari dapur. Suaranya begitu keras bak sound hajatan.
    “Ya, bu. Aku udah mandi kok. Ibu tenang saja. Aku berangkat dulu ya, bu.” ucapku mencium kedua tangan Ibuku dan segera menuju ke sekolah.
    “Hah, kapan kamu bangun? Kapan kamu mandi? Gak biasanya kamu kyk gini. Ya udah hati-hati, nak” salam ibu.

    Sampainya di sekolah aku sudah tak sabar melihat Edo, aku begitu kangen sama dia. Iya meskipun kami baru kenal dan baru 2 minggu aku gak ketemu, tapi rasanya aku udah sayang banget sama dia.
    “Kak Panda! Apa kabar? Gimana hari liburnya? Liburan kemana aja nih?” tanya suara dari sudut belakangku.
    Dia? Oh ternyata Edo, Ya Tuhan akhirnya aku bisa ketemu Edo.
    “Oh, kamu dek? Ya beginilah, aku cuma di rumah aja. Kamu bagaimana?” tanyaku salah tingkah.
    “Aku mah cuma maen maen ke rumah nenek kak, lagi pula rumah nenekku sebelahan sama aku.” ujarnya. “Ya udah kak pan, aku duluan yah. Dah kak” lanjutnya.

    Waktu pun terus berlalu. Hingga 4 bulan kulewati, tetap saja perasaanku sama seperti apa yang aku rasakan. Aku tak bisa membohongi perasaanku, larut dalam hari aku makin saja menyayangi Edo. Tapi, Edo tak kunjung mengetahui perasaanku.

    Suatu ketika aku bertemu dengan Edo. Tapi, semua berbeda. Semua tak lagi sama. Edo berubah, ia tak lagi menyapaku dengan sebutan kak Panda. Dan ia tak menolehkan wajahnya padaku. Ada apa dengan Edo sebenarnya? Aku bingung kenapa dia menjadi seperti ini. Rasanya hati ini bagaikan tertusuk pedang yang sangat tajam. Edo telah lupa denganku, apa yang membuatnya seperti ini?

    6 bulan telah kulewati, dan pertanyaanpun masih sama. Ada apa dengan Edo yang tiba-tiba seperti tak mengenalku kembali? Kini aku hanya bisa menangis dan berharap Edo kembali seperti layaknya pertama kami bertemu.

    Delapan bulan pun telah usai. Edo masih saja sama, apa mungkin aku yang membuat Edo seperti ini? Apa selama 8 bulan ini aku pernah membuat hati Edo tergores, hingga ia layak benci padaku? Akhirnya pun saat pulang sekolah, aku turun tangan. Aku menanyakan pada Edo kenapa ia menjadi seperti ini, dan Edo tak ada respon. Ya Tuhan, rasanya aku ingin menangis di hadapannya, tapi tak mungkin. Ia tak mungkin merasakan dan mengetahui perasaanku, tanpa fikir panjang aku meninggalkannya dengan mata berkaca kaca. Saat telah sampai depan gerbang sekolah, mataku tersorot pada Edo. Aku melihat Edo berada di sebelah seorang perempuan, dan aku melihat Edo bahagia di sampingnya. Mungkin ini yang membuat Edo menjadi dingin, ternyata ada seseorang yang bisa membuat Edo lebih bahagia. Aku melihat kebahagiaan itu saat Edo tertawa lepas bersama perempuan itu. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata “AKU TURUT BAHAGIA MELIHATMU EDO”.

    Cerpen Karangan: Lailatul Badria

    Artikel Terkait

    Khayalan Dalam Mimpi
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email