Judul Cerpen Arti Hijabers Sejati
Aliya memandangi sosok yang kini ada di cermin kamarnya, persis berhadapan dengannya. Di sana, di cermin kamar kosnya, terbentuk sebuah siluet wanita yang amat anggun dengan balutan hijab rapat yang menutupi seluruh tubuhnya.
Sangat cantik, sungguh.
Yaah… itu adalah dirinya sendiri. Aliya anastasya Nadia dengan penampilannya yang baru.
Perasaannya campur aduk antara bahagia, haru, cemas, takut dan juga ragu. Ragu, apakah ia pantas mengenakan pakaian seperti ini setelah apa yang ia lakukan?
Aliya menggelengkan kepalanya kuat kuat, ia tak pantas dengan pakaian serapi ini. Tapi, kembali terngiang ucapan mbak Hana, senior sekaligus guru ngajinya saat ini “kamu tak perlu memantaskan diri dengan cara memperbaiki dulu prilakumu. Tapi perbaiki penampilan sekaligus prilakumu. Jangan menunggu diri merasa pantas untuk berhijab, tapi berhijablah dan jadikan dirimu pantas.” Tutur mbak Hana saat ia mengadukan masalah keraguannya untuk berhijab.
“Berhijab memang tidak membuatmu jadi baik, tapi sudah jelas membuatmu lebih baik. Berhijab juga tidak mengecualikanmu dari kesalahan, namun jelas menjadi salah satu jalan meniti kebaikan. Apa pendapat manusia tentang hijabmu tidak masalah, jika engkau sudah melabuhkannya karena Allah ta’ala” tutur mbak Hana panjang lebar.
Akhirnya, ia memantapkan diri dan perlahan berjalan ke arah pintu kosnya dan ke luar dari sana. Seketika, cahaya matahari menerpa tubuhnya yang kini terbalut pakaian muslimah super rapat. Ini adalah hari pertamanya mengenakan hijab. Ia tak tau harus berbuat seperti apa. Akhirnya ia hanya duduk dan berdiam diri sambil menunggu bus menuju kampusnya datang.
Beberapa menit kemudian, bus rute kampusnya datang, kini ia tidak bersikap grasak grusuk seperti biasanya, ia kini bersikap anggun, dan sabar layaknya seorang hijabers untuk mendapat giliran masuk ke dalam bus yang penuh sesak.
Setelah berada di dalam, ia memang tidak mendapat tempat duduk, sehingga ia harus sabar berdiri kurang lebih 15 menit kedepan hingga sampai di kampusnya. Kalau ia tidak ingat janjinya untuk mempertahankan hijabnya, ia pasti merasa sangat tersiksa. Bayangkan saja, berdiri di antara desakan orang orang, Dalam cuaca yang panas seperti sekarang, ditambah Dengan pakaian muslimah yang kini ia kenakan.
Sabar.. sabar.. Aliya mencoba menyemangati dan menguatkan hati dan diri dengan keadaan ini.
Ia menguatkan hati dan berpikir “mbak Hana aja yang tiap hari ngejalanin rutinitas kayak gini tampak baik baik aja, aku pun pasti bisa!!” tekadnya dalam hati.
Selama 15 menit perjalanan, Aliya terus menerus memikirkan akan seperti apa reaksi teman teman dan sahabat gengnya saat mereka melihat Aliya dengan pakaian seperti ini.
Setibanya di kampus, ia benar benar merasa nervous, ia sampai gemetar dan sempat ragu untuk melangkahkan kaki memasuki gerbang, hingga sebuah sapaan lembut membuyarkan lamunannya.
“Assalamu’alaikum ukhti… Aliya..? subhanallah.. anti cantik sekali..” tutur mbak Nana -sahabat mbak Hana di rohis- sambil menatapnya lekat lekat.
Aliya hanya tersenyum malu mendapat perkataan sarat kekaguman dalam nada bicara mbak Nana.
“Mari ukhti, kita masuk…” ajak mbak Nana sambil menggamit lengannya. Sehingga mau tak mau Aliya terbawa memasuki gerbang, dan benar saja, semua mata kini tertuju padanya.
“Tak usah hiraukan mereka ukhti.. jalan terus saja, tapi sekali kali tebarkan senyuman ramah.” Bisik mbak Nana di telinga Aliya.
Aliya mengikuti saran mbak Nana berpura pura cuek dengan keadaan sekitar.
Hingga..
“Eh buset dah.. Aliya, ni lo kan…? ya ampun.. lo kemasukan jin apaan..? tumben banget pake pakaian kayak gini.?” Teriak Arya -sahabat gengnya- sambil mendekatinya.
Aliya hanya terdiam melihat reaksi dari Arya yang pastinya merasa kaget dengan perubahan style Aliya yang notabene seorang ketua geng motor di kampus mereka.
Tiba tiba sebuah tangan lainnya menarik Aliya dan membawanya ke gudang basecamp mereka dulu. Ternyata yang membawanya adalah Aurel -salah satu sahabatnya yang lain-.
Lalu ia didudukan di sebuah kursi, langsung saja mereka menanyakan alasan kemana saja Aliya selama beberapa minggu ini dan juga kenapa ia mengubah penampilannya.
Akhirnya mau tak mau Aliya menjelaskan alasan hijrahnya.
Flash back on
Aliya sedang berada di sebuah Padang rumput hang gersang dan panas, tak ada siapa siapa di sana. Aliya hanya sendiri. Tiba tiba dari kejauhan, ia melihat segerombolan makhluk mengerikan dan menjijikan berlari ke arahnya. Sepertinya mereka sangat bernafsu untuk segera memakan habis tubuhnya. Lalu datanglah seorang kakek tua di hadapannya dan menghadang langkah makhluk tersebut, lalu kakek tersebut berkata “Rubahlah kebiasaan burukmu sebelum kamu benar benar hancur dimakan oleh mereka” ucap kakek tersebut seraya menunjuk makhluk tersebut. Lalu kakek dan makhluk tersebut hilang.
Kini Aliya berada di sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat jurang amat dalam yang dipenuhi api yang berkobar begitu ganas. Di dalamnya, ia melihat banyak jenis manusia yang sedang mengalami siksa sangat dahsyat, ada yang digantung dengan rambutnya, ditusuk -maaf- kemaluan hingga menembus ke mulutnya, dan berbagai jenis siksaan lain yang sangat menyeramkan.
Dari arah depannya muncul kakek kakek tadi dan berkata “Ketahuilah, semua siksaan itu akan kau alami jika kau tak segera memperbaiki diri dan meninggalkan semua kebiasaan burukmu.” Ucap kakek tersebut.
“Kau mungkin tak tau, bahwa sebab prilaku bejatmu, ayah dan ibumu sengsara di kubur mereka.” Lanjut kakek tersebut tajam dan dalam.
Aliya terhenyak mendengar kenyataan itu, ia tidak akan tega membiarkan ayah dan ibunya menanggung kesalahnnya.
Sekilas, ia diperlihatkan siksaan yang sedang dialami orangtuanya, ia merasa sangat terpukul. Ia memanggil manggil ayah dan ibunya, tetapi mereka hanya sanggup memperlihatkan wajah memohon supaya Aliya berhenti dari segala kebiasaan buruknya.
Ia terbangun dari mimpi buruk tersebut dalam keadaan bercucuran keringat di seluruh tubuhnya.
Keesokan harinya, ia bertekad untuk berhijrah menuju jalan yang diridhoi Allah, ia tidak akan bisa membiarkan orangtuanya yang telah tiada menanggung siksa atas segala kebiasaan buruknya.
Siang harinya, ia mendatangi kos-an tempat tinggal mbak Hana, ketua rohis Putri di kampusnya. Ia mengeluarkan segala unek uneknya dan meminta masukan dari mbak Hana. Mbak Hana bilang “Niatmu sudah baik untuk memperbaiki diri kamu, menjadi muslimah yang baik memang tak mudah awalnya, apalagi bagi seseorang yang keseharianya penuh dengan hura hura. Tapi, tak ada kata tidak mungkin untuk berubah ke jalan yang lebih baik, walaupun sekarang kamu mungkin motivasimu berubah karena orangtuamu, percayalah, suatu saat nanti kau akan merasa bahwa kau berubah karena Allah semata, mbak akan dukung penuh pilihan hijrahmu.” ujar mbak Hana panjang lebar.
“Jadi begitu ceritanya, selama seminggu ini aku belajar memantapkan diri dan mengikuti berbagai seminar tentang hijrah dan memcoba memperkuat akidah dan keimananku, maaf kawan kawan, aku tidak akan pernah lagi melakukan hal hal seperti dulu, aku merasa nyaman dengan keadaan dan pilihan hidupku saat ini, walaupun aku belum baik. Tapi, dengan memakai hijab ini, aku merasa termotivasi untuk menjadi pribadi lebih baik.” tutur Aliya mengakhiri ceritanya.
Selama sesaat, teman temannya termenung, dan tak lama kemudian, mereka serentak menyatakan bahwa mereka akan mengikuti jejak hijrah yang telah dilalui oleh Aliya.
Selesai
Cerpen Karangan: Syarifa Khamila
Facebook: Nurulaini Shinichi Nura Nani
Aliya memandangi sosok yang kini ada di cermin kamarnya, persis berhadapan dengannya. Di sana, di cermin kamar kosnya, terbentuk sebuah siluet wanita yang amat anggun dengan balutan hijab rapat yang menutupi seluruh tubuhnya.
Sangat cantik, sungguh.
Yaah… itu adalah dirinya sendiri. Aliya anastasya Nadia dengan penampilannya yang baru.
Perasaannya campur aduk antara bahagia, haru, cemas, takut dan juga ragu. Ragu, apakah ia pantas mengenakan pakaian seperti ini setelah apa yang ia lakukan?
Aliya menggelengkan kepalanya kuat kuat, ia tak pantas dengan pakaian serapi ini. Tapi, kembali terngiang ucapan mbak Hana, senior sekaligus guru ngajinya saat ini “kamu tak perlu memantaskan diri dengan cara memperbaiki dulu prilakumu. Tapi perbaiki penampilan sekaligus prilakumu. Jangan menunggu diri merasa pantas untuk berhijab, tapi berhijablah dan jadikan dirimu pantas.” Tutur mbak Hana saat ia mengadukan masalah keraguannya untuk berhijab.
“Berhijab memang tidak membuatmu jadi baik, tapi sudah jelas membuatmu lebih baik. Berhijab juga tidak mengecualikanmu dari kesalahan, namun jelas menjadi salah satu jalan meniti kebaikan. Apa pendapat manusia tentang hijabmu tidak masalah, jika engkau sudah melabuhkannya karena Allah ta’ala” tutur mbak Hana panjang lebar.
Akhirnya, ia memantapkan diri dan perlahan berjalan ke arah pintu kosnya dan ke luar dari sana. Seketika, cahaya matahari menerpa tubuhnya yang kini terbalut pakaian muslimah super rapat. Ini adalah hari pertamanya mengenakan hijab. Ia tak tau harus berbuat seperti apa. Akhirnya ia hanya duduk dan berdiam diri sambil menunggu bus menuju kampusnya datang.
Beberapa menit kemudian, bus rute kampusnya datang, kini ia tidak bersikap grasak grusuk seperti biasanya, ia kini bersikap anggun, dan sabar layaknya seorang hijabers untuk mendapat giliran masuk ke dalam bus yang penuh sesak.
Setelah berada di dalam, ia memang tidak mendapat tempat duduk, sehingga ia harus sabar berdiri kurang lebih 15 menit kedepan hingga sampai di kampusnya. Kalau ia tidak ingat janjinya untuk mempertahankan hijabnya, ia pasti merasa sangat tersiksa. Bayangkan saja, berdiri di antara desakan orang orang, Dalam cuaca yang panas seperti sekarang, ditambah Dengan pakaian muslimah yang kini ia kenakan.
Sabar.. sabar.. Aliya mencoba menyemangati dan menguatkan hati dan diri dengan keadaan ini.
Ia menguatkan hati dan berpikir “mbak Hana aja yang tiap hari ngejalanin rutinitas kayak gini tampak baik baik aja, aku pun pasti bisa!!” tekadnya dalam hati.
Selama 15 menit perjalanan, Aliya terus menerus memikirkan akan seperti apa reaksi teman teman dan sahabat gengnya saat mereka melihat Aliya dengan pakaian seperti ini.
Setibanya di kampus, ia benar benar merasa nervous, ia sampai gemetar dan sempat ragu untuk melangkahkan kaki memasuki gerbang, hingga sebuah sapaan lembut membuyarkan lamunannya.
“Assalamu’alaikum ukhti… Aliya..? subhanallah.. anti cantik sekali..” tutur mbak Nana -sahabat mbak Hana di rohis- sambil menatapnya lekat lekat.
Aliya hanya tersenyum malu mendapat perkataan sarat kekaguman dalam nada bicara mbak Nana.
“Mari ukhti, kita masuk…” ajak mbak Nana sambil menggamit lengannya. Sehingga mau tak mau Aliya terbawa memasuki gerbang, dan benar saja, semua mata kini tertuju padanya.
“Tak usah hiraukan mereka ukhti.. jalan terus saja, tapi sekali kali tebarkan senyuman ramah.” Bisik mbak Nana di telinga Aliya.
Aliya mengikuti saran mbak Nana berpura pura cuek dengan keadaan sekitar.
Hingga..
“Eh buset dah.. Aliya, ni lo kan…? ya ampun.. lo kemasukan jin apaan..? tumben banget pake pakaian kayak gini.?” Teriak Arya -sahabat gengnya- sambil mendekatinya.
Aliya hanya terdiam melihat reaksi dari Arya yang pastinya merasa kaget dengan perubahan style Aliya yang notabene seorang ketua geng motor di kampus mereka.
Tiba tiba sebuah tangan lainnya menarik Aliya dan membawanya ke gudang basecamp mereka dulu. Ternyata yang membawanya adalah Aurel -salah satu sahabatnya yang lain-.
Lalu ia didudukan di sebuah kursi, langsung saja mereka menanyakan alasan kemana saja Aliya selama beberapa minggu ini dan juga kenapa ia mengubah penampilannya.
Akhirnya mau tak mau Aliya menjelaskan alasan hijrahnya.
Flash back on
Aliya sedang berada di sebuah Padang rumput hang gersang dan panas, tak ada siapa siapa di sana. Aliya hanya sendiri. Tiba tiba dari kejauhan, ia melihat segerombolan makhluk mengerikan dan menjijikan berlari ke arahnya. Sepertinya mereka sangat bernafsu untuk segera memakan habis tubuhnya. Lalu datanglah seorang kakek tua di hadapannya dan menghadang langkah makhluk tersebut, lalu kakek tersebut berkata “Rubahlah kebiasaan burukmu sebelum kamu benar benar hancur dimakan oleh mereka” ucap kakek tersebut seraya menunjuk makhluk tersebut. Lalu kakek dan makhluk tersebut hilang.
Kini Aliya berada di sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat jurang amat dalam yang dipenuhi api yang berkobar begitu ganas. Di dalamnya, ia melihat banyak jenis manusia yang sedang mengalami siksa sangat dahsyat, ada yang digantung dengan rambutnya, ditusuk -maaf- kemaluan hingga menembus ke mulutnya, dan berbagai jenis siksaan lain yang sangat menyeramkan.
Dari arah depannya muncul kakek kakek tadi dan berkata “Ketahuilah, semua siksaan itu akan kau alami jika kau tak segera memperbaiki diri dan meninggalkan semua kebiasaan burukmu.” Ucap kakek tersebut.
“Kau mungkin tak tau, bahwa sebab prilaku bejatmu, ayah dan ibumu sengsara di kubur mereka.” Lanjut kakek tersebut tajam dan dalam.
Aliya terhenyak mendengar kenyataan itu, ia tidak akan tega membiarkan ayah dan ibunya menanggung kesalahnnya.
Sekilas, ia diperlihatkan siksaan yang sedang dialami orangtuanya, ia merasa sangat terpukul. Ia memanggil manggil ayah dan ibunya, tetapi mereka hanya sanggup memperlihatkan wajah memohon supaya Aliya berhenti dari segala kebiasaan buruknya.
Ia terbangun dari mimpi buruk tersebut dalam keadaan bercucuran keringat di seluruh tubuhnya.
Keesokan harinya, ia bertekad untuk berhijrah menuju jalan yang diridhoi Allah, ia tidak akan bisa membiarkan orangtuanya yang telah tiada menanggung siksa atas segala kebiasaan buruknya.
Siang harinya, ia mendatangi kos-an tempat tinggal mbak Hana, ketua rohis Putri di kampusnya. Ia mengeluarkan segala unek uneknya dan meminta masukan dari mbak Hana. Mbak Hana bilang “Niatmu sudah baik untuk memperbaiki diri kamu, menjadi muslimah yang baik memang tak mudah awalnya, apalagi bagi seseorang yang keseharianya penuh dengan hura hura. Tapi, tak ada kata tidak mungkin untuk berubah ke jalan yang lebih baik, walaupun sekarang kamu mungkin motivasimu berubah karena orangtuamu, percayalah, suatu saat nanti kau akan merasa bahwa kau berubah karena Allah semata, mbak akan dukung penuh pilihan hijrahmu.” ujar mbak Hana panjang lebar.
“Jadi begitu ceritanya, selama seminggu ini aku belajar memantapkan diri dan mengikuti berbagai seminar tentang hijrah dan memcoba memperkuat akidah dan keimananku, maaf kawan kawan, aku tidak akan pernah lagi melakukan hal hal seperti dulu, aku merasa nyaman dengan keadaan dan pilihan hidupku saat ini, walaupun aku belum baik. Tapi, dengan memakai hijab ini, aku merasa termotivasi untuk menjadi pribadi lebih baik.” tutur Aliya mengakhiri ceritanya.
Selama sesaat, teman temannya termenung, dan tak lama kemudian, mereka serentak menyatakan bahwa mereka akan mengikuti jejak hijrah yang telah dilalui oleh Aliya.
Selesai
Cerpen Karangan: Syarifa Khamila
Facebook: Nurulaini Shinichi Nura Nani
Arti Hijabers Sejati
4/
5
Oleh
Unknown
