Memories

Baca Juga :
    Judul Cerpen Memories

    PULANG. Tidakkah terdengar sangat indah? kata sederhana yang mampu mengubah siapapun. Seorang pemalas jadi super rajin. Seorang penggerutu berubah ceria. Seorang pendiam jadi sibuk mengoceh. Semua orang selalu punya rumah, bukan? Tepat dimana mereka lahir, tumbuh menjadi kanak-kanak, dan dewasa. Ada yang sanggup bertahan di rumah asal, ada juga yang merantau jauh.
    Pada akhirnya akan selalu sama. kita harus pulang. Banyak alasan mendasar bagiku untuk kembali. Meskipun cuma sementara, tak masalah.

    Bertahun-tahun lalu, aku melangkah maju ke depan. Meninggalkan semua tempat yang penuh masa kecil. Impian. Harapan. Cita-cita, adalah hal yang kuperjuangkan hingga detik ini.
    “Saya masih penasaran.” kataku nyaris tak bersuara. “ada di mana dia sekarang?”
    Widy mengerutkan kening tak paham. “siapa?”
    “Khaleev. Saya penasaran seperti apa dia sekarang.” jawabku menerawang. sekilas, wajah anak itu terlukis dalam ingatanku. samar-samar, namun masih dapat dibayangkan.
    “oh.. manusia itu hilang kabar. Terakhir, dia jadi pekerja bangunan.”
    “semoga dia masih hidup..” sahutku lemah. widy tertawa kecil mendengar lelucon ringan dariku. Gadis itu adalah saksi hidup dan perjalananku. sahabat sejak kecil. sejak pindah meneruskan SMP ke luar Makassar. kami masih menjalin hubungan dengan baik. Kadang kalau sempat, saling mengirim surat. maklum, jaman dulu handphone barang langka.

    Rasanya waktu bergulir begitu cepat. Padahal baru kemarin, kami bermain di tengah sawah. Bermain sepeda hingga medekati Adzhan Maghrib. Makan jambu di rumah orang. Berangkat mengaji bersama-sama. Masa-masa indah penuh kepolosan.
    Terkadang aku merindukan semua itu. Berharap salah satu dari kegiatan tersebut dapat terulang.

    Dulu, aku percaya tentang persahabatan kami. Seakan hanya maut yang dapat memisahkan. Tetapi lihat sekarang. Masing-masing dari kami telah menemukan jalan tersendiri. Saling memisahkan diri untuk waktu yang cukup lama.
    Ada yang masih di kampung, dan sebagian di tempat lain. Hm, aku merindukan mereka. kata Widy, kita harus membuat sebuah acara reuni khusus angkatanku. Ide bagus. Masalahnya cuma satu: cara mewujudkan keinginan mulia sahabatku.
    “KAK FREYA!” panggil Nanda, adik sepupuku. “Anterin Nanda ngaji, sekarang!” kata gadis kecil itu. Dia sudah siap, berpakaian muslim yang kontras berwarna merah muda-putih. Satu lagi, ada gambar Frozen.
    “Lho, Kok, malah kak freya, sih? Suruh aja Puput yang antar Nanda.” sahutku malas. Nanda menggerutkan wajah imutnya.
    Bagaikan burung berbaju gamis, dia terbang bergelantungan padaku. Artinya, tak ada opsi lain.
    “NGGAK MAU!! PUPUT GALAK!” tolak adikku sambil menghentak-entak kaki tak karuan. Widy nyengir mendengar celotehan Nanda. Aku mendesah panjang plus berat. Setelah berpamitan, kami segera menaiki motor.
    Nada menunjukkan arah tempat mengajinya. Tak seperti diriku sewaktu kecil. Aku mengaji di Rumah Nek Salma, dekat sekolah. sementara adik-adikku mengaji di Nek Fatimah. Lokasinya berada di gang kecil samping puskesmas. Aku ingat dulu sering diajak mandi ke kali di ujung gang tersebut.

    Rumah-rumah panggung mulai tergusur oleh rumah batu. Menyisakan sebagian pemandangan masa lalu. Jalan masuk gang tak begitu mulus. Masih berupa tanah merah, bukan aspal seperti di luar. Alhasil, kami melonjak-lonjak melewati jalanan yang tak rata.
    Nada berlari masuk melewati pagar besi berwarna perunggu. Sebuah rumah bercat kuning adalah tujuan utamanya. Beberapa pasang sandal anak-anak berjejer rapi di depan pintu garasi mobil. Dengan agak terpaksa, sekali lagi. Aku harus menunggu anak itu sampai pulang.

    Aku bersenandung pelan, mengawasi jalan setapak di hadapanku. Beberapa tahun lalu, aku pernah melihat anak itu di sini. Ketika sehabis mandi di sungai. Kami semua satu rombongan menaiki mobil pick-up. Entah muncul dari mana, Khaleev mengenjot sepeda penuh semangat. Aku terdiam, menahan godaan untuk melihatnya. Beberapa hari kemudian, barulah aku tau, Khaleev tinggal di sekitar situ.

    Kami tak punya hubungan spesial. Hanya sebatas kakak-adik kelas sewaktu SD. Khaleev senang menganggu ketentramanku, setiap hari. Terkadang sudah stand-by depan kelas, menunggu kedatanganku. Padahal kami beda kelas, beda angkatan, dan beda usia.
    Ujung-ujungnya aku dijodohkan, oleh teman-teman kelasku. Memangnya aku bisa apa? menentang keputusan sakral mereka? Jadi, aku hanya menjawab ya, ya, ya saja. Waktu berbicara menjelaskan semua. Aku menyukai anak itu, apa adanya.
    Tak peduli Khaleev berpakaian acak-kadul. Berseragam baju putih-kekuningan, dipadukan sandal jepit hijau merek Swallow. Mengintipku bermain petak umpet dari balik jendela kelasnya. Aku suka semua itu. Tetapi setiap kisah selalu ada akhir.
    Mama memanggilku pindah. Meninggalkan setiap kenangan indah di desaku. Yang kuingat, Khaleev ada di sana. Sabar menanti di depan kelas, sementara aku cuma bisa melihat dari kaca mobil.
    Mungkinkah aku masih bisa menemukan bocah berkepala plontos itu? Entahlah, aku sendiri ragu. Mataku menangkap sosok pemuda di atas rumah panggung. Ia sibuk menguap lebar, sembari merentangkan kedua tangan ke atas. Ia menggaruk kepala malas. Aku memperhatikan dengan datar.
    Tatapan kami saling bertemu. Aku memalingkan wajah, lalu merasakan sesuatu. Ada yang lain. Ia masih di sana, menatap ke arahku tanpa berkedip. Berkali-kali aku memaksa untuk menjauh dari tatapan asing itu. Berkali-kali pula aku menyerah. Aku kenal cara tatapan khas itu.
    Pemuda itu melangkah maju, membiarkan cahaya pagi menerangi bayang-bayang wajahnya. Nafasku tertahan sejenak. Mengapa wajah Khaleev ada di sana? Mungkinkah itu dia? Masihkah dia mengingat wajahku? Berbagai pertanyaan menusuk batinku.
    Aku tak mau berharap lebih. Jangan sampai, aku salah menebak orang. Samar-samar wajah Khaleev kecil tergiang di kepalaku. Tentu saja, Khaleev pasti sudah dewasa. Karena dia lebih tua satu atau dua tahun. Tuhan, kumohon, semoga bukan Khaleev.

    Mungkin beginilah cinta monyet. Sebelumnya berharap untuk dipertemukan. Ketika berjumpa malah saling bungkam mulut. Aku takut, menerima kenyataan lain. Khaleev yang menikah.. Khaleev yang kuliah.. Khaleev yang…
    “Kak.. Kakak kenapa?” Tanya Nanda mengagetkanku.
    “Nggak. Nanda sudah selesai?”
    “Udah. ayo, pulang.” ajak Nanda naik ke jok belakang.

    Aku menelan ludah susah payah. Tatapan orang itu membuatku serba salah. Aku mengangkat kepala perlahan, menatap ke arah pemuda itu. Dia masih di sana. Diam. Seolah ingin mengajakku bicara. Sulit menebak ekspresinya.
    Nanda menepuk punggung ku, “Ayo! kok malah bengong, sih! Nanda lapar…” rengek Nanda merontah tak tenang. Aku memutar motor jauh lebih lambat. Tanpa perlu diminta, aku memutar kepala.
    Pemuda itu mengangkat sebelah tangan. Aku tak tau harus memberikan respon apa. Dengan cepat aku membawa motor pergi. Memang inilah keinginanku, bertemu Khaleev. Aku selalu mencari kabar tentangnya. Sebaliknya, begitu aku tak mencari dirinya. Kami malah dipertemukan kembali.

    Menjelang kepulangan kembali ke Bandung. Aku berdiri di dermaga pare-pare. Di sana, aku mencoba mengingat semua yang telah terlewat. Perlahan namun pasti. Wajah Khaleev menghilang dalam ingatanku. Menyisakan memori lain yang tak kupahami.

    THE END

    Cerpen Karangan: Nurliah Apryanti
    Facebook: nurliah apryanti

    Artikel Terkait

    Memories
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email