Judul Cerpen Crumbs of Heart
Ina, Ira, Putri, Aya, dan Nadia. Merekalah sahabatku. Kami duduk di kelas XII.A Putri di SMAN Suka Makmur Jakarta Selatan. Kami tidak pernah berpisah semenjak duduk di bangku SMP. Kami sekelas bahkan satu kelompok, sejak duduk di bangku SMP. Merekalah yang selalu ada untukku saat suka maupun duka.
Sebenarnya, aku sedang menyukai Iqbal. Iqbal cowok yang sangat popular dikalangan sekolah kami. Ia duduk di kelas XII.A Putra. Ia termasuk siswa yang pintar. Ia merupakan Kapten Tim Bola Basket di sekolah kami. Ia juga sangat popular di kalangan siswa cewek, baik siswa seangkatan maupun di kalangan adik kelas. Yang membuat dia begitu popular di kalangan siswa cewek, dia memiliki senyuman yang begitu mempesona. Sudah baik, pintar, tidak sombong dan dia selalu tersenyum kepada orang yang ditemuinya dikalangan sekolah, baik guru maupun siswa dan siswi. Aku sendiri selalu saja mengaguminya.
Saat selesai jajan pada jam istirahat, aku memasuki ruang kelas dengan secercah senyuman yang mengembang pada wajahku.
“hmm, ada yang lagi bahagia nih nampaknya” kata Aya begitu aku mendarat di kursiku.
“iyaa nih, certain dong sama kami” sambung Ira yang seraya mengunyah permen karetnya.
“ciee, pada kepo yak? kasian dong kalian kalau aku certain. Yang ada nanti kalian iri” ejekku seraya bercanda.
“halaah, kamu berlebihan. Siapa yang iri coba? certain ajalah, sebentar lagi guru masuk” bantah Ira.
“aku hari ini ke kantin bareng Iqbal. Duh aku seneng banget deh pokoknya” jawabku.
“yaah, kirain kenapa. Kirain aja kamu baru ketemu sama pangeran di kayangan” kata Ira.
“sebenarnya, Iqbal itu memang pangeran kayangan yang jatuh dari langit, cuman ya, dia kesasar di bumi, trus ada?”
Putri yang dari tadi terdiam di kursinya menghentikan perkataanku “stop liza, kamu dari tadi ngawur aja. Capek aku dengarnya. Bicara yang penting-penting aja tau”
Aku mematung di kursiku. Tak lama setelah itu, Ina masuk ke ruang kelas dengan secercah senyuman di wajahnya. Belum sempat aku menanyakan makna senyumannya itu, bel tanda masuk berbunyi. Tak lama kemudian, Bu Yanti, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia memasuki ruang kelas kami. Pelajaran Bahasa Indonesia hari ini berlangsung selama tiga jam. Bu yanti hanya memberikan kami beberapa tugas. Karena pada perjumpaan sebelumnya, telah dijelaskan beberapa materi.
Tiga jam berlalu, tugas yang diberikan Bu Yanti selesai kukerjakan dengan baik. Aku menyerahkan tugasku kepada Bu Yanti. Lima menit berlalu, semua buku tugas milik siswa siswi dikembalikan, dan bel tanda sekolah berakhir hari ini, berbunyi. Semua siswa mengemaskan barang-barang miliknya ke dalam tas. Kami memberi salam kepada Bu Yanti dan berlalu pulang.
“yuk balik” kataku kepada semua temanku. Arah jalan pulang kami memang searah, sehingga kami bisa pulang bersama. Di pertengahan jalan pulang, aku mengangkat pembicaraan terlebih dahulu. Aku masih penasaran dengan kebahagiaan Ina.
“Ina, nampaknya lagi bahagia ya? Ada apa? Cerita dong” tanyaku kepada Ina
“ya biasa aja sih sebenarnya, cuma nanti malam keluarga aku dan keluarga Irfan ada acara ngumpul bareng gitu. Acaranya kebetulan di rumahku. Acara dinner gitu sih kata mama. Karena ada urusan papanya Irfan dengan papaku. Aku sih senang-senang aja karena bisa ketemu Irfan” jelas Ina dengan panjang lebar.
“kamu bercanda? Haha.. lucu yaa” ejek Nadia
“kok lucu sih? Aku gak ngelawak tuh? Irii yaa. Kasiaann” ejek Ina kepada Nadia.
“ya udah, kok malah jadi saling ngejek sih?” sela Ira.
“ya ampun, selamat bersenang-senang ya Ina. Semoga sampai ke pelaminan” candaku
“ah, nyerocos aja kamu. Ya gak lah, masa sampai ke pelaminan, kan cuma bisnis keluarga aja” balas Ina.
Lama kami berbincang-bincang, akhirnya kami sampai di persimpangan jalan, kami harus menyeberang jalan. Di seberang jalan aku meihat Iqbal yang akan menyeberang jalan dan berpisah dengan temannya. Iqbal menyeberang tanpa melihat kiri kanan dan tanpa hati-hati. Aku melihat sebuah truk yang akan menabraknya. Sontak aku sangat kaget, dan berlari ke arahnya. Aku berlari secepat yang aku bisa. Aku mendorongnya, mengerahkah seluruh tenagaku, sampai dia terjatuh di trotoar jalan. Truk yang tadi akan menabrak Iqbal, sekarang menabrakku. Laju truk yang begitu cepat, menghempaskanku sampai aku tekulai lemas di jalan yang sekarang telah berlumuran darahku. Aku dapat merasakan darah yang bercucuran dari kepalaku begitu cepat dan deras. Kelopak mataku sangat berat, dan penglihatanku buram. Aku mencoba melihat lebih jelas, tetapi tidak bisa. Sampai akhirnya aku tak bisa melihat apa-apa. Yang ada hanyalah ruang gelap. Sampai akhirnya, aku tidak merasakan apa-apa lagi.
30 menit berlalu…
Aku merasakan sakit yang sangat. Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat. Samar-samar aku mendengarkan suara berat seorang cowok yang kurasa sangat akrab di telingaku. Penglihatanku sekarang lebih jelas daripada sebelumnya walau terasa masih berat. Aku sangat mengenal rungan ini, apalagi jika bukan ruang Rumah Sakit.
“Liza.. bangunlah, aku mohon, maafkan aku Liza, ini semua salahku, bangunlah Llizaa…” ternyata suara berat itu adalah suara iqbal. Selain suara Iqbal, juga terdengar jelas suara isakan teman-temanku. Dan kurasa mamaku juga hadir di kerumunan mereka. Aku berusaha untuk duduk. Tetapi tidak berhasil. Yang terjadi hanyalah seluruh tubuhku yang terasa sakit.
“Liza… kamu udah sadar? Alhamdulillah. Kamu gak boleh banyak gerak dulu Liza” ujar Iqbal padaku.
“ka.. kamu kok disini Iqbal? Bukan.. bukankah kamu harus latihan ekstra untuk pertandingan? aku?” perkataanku terhenti ketika iqbal mendaratkan jari telunjuknya di bibirku.
“sstt… sudahlah Liza, beristirahatlah dengan nyaman disini, lekaslah sembuh untukku dan teman-temanmu. Maafkan aku Liza. Akulah yang membuatmu begini. Aku sangat menyesal. Maafkan aku Liza. Kami sangat menyayangimu” ujar iqbal padaku. Dia lalu tersenyum lembut padaku seraya meremas tanganku.
“aku harus kembali ke sekolah, banyak hal yang harus aku lakukan. Aku sayang kamu” bisiknya di telingaku. Aku lalu tersenyum padanya. Rasanya aku tak ingin jika dia harus pergi sekarang. Rasanya sangat nyaman ketika dia berada di sisiku.
“aku juga sangat menyayangimu” kataku pada Iqbal sambil tersenyum tulus. Dia melepaskan genggamannya dariku. Dan dia pergi menghilang dari balik pintu.
“Liza, kami juga harus pulang, orangtua kami nanti bisa khawatir. Maaf kami tidak bisa menemanimu disini. Semoga lekas sembuh yaa Liza” Nadia berpamitan padaku. Dia lalu meletakkan tas sekolahku yang dari tadi dijinjingnya, di pinggir ranjangku.
“maaf ya, sudah membuat kalian kerepotan karenaku” kataku pada semua teman-temanku.
“tidak masalah Liza. Kita kan sahabat. Sahabat itu akan membantu sesama dalam suka dan duka” Aya meyakinkanku.
“terimakasih teman-teman” kataku lirih.
“yaa, sama-sama Liza” jawab Putri.
Setelah semuanya telah meninggalkan ruangan, mama yang dari tadi hanya berdiri di dekat jendela, mendekatiku, dan menyodori aku sebuah benda. Benda itu sangat aku inginkan dalam beberapa minggu ini. Benda itu adalah sebuah novel keluaran baru yang tidak lagi asing di mata warga Indonesia. Novel itu berjudul 99 Cahaya Di langit Eropa.
“semoga kamu suka ya sayang, tadinya mama mau membuat sebuah kado dengan buku ini. Tetapi mama mendapatkan telepon dari temanmu kalau kamu kecelakaan” kata mama ketika telah memberikanku buku itu.
“aku sangat senang ma, gak dikadoin pun gak pa-pa, bisa miliki buku ini aja Liza udah seneng banget kok ma, makasih ya mama. Liza sayang mama” kataku pada mama dengan lirih. Mama lalu memelukku. Aku sangat mencintainya.
Ketika rembulan telah menggantikan posisi sang surya. Hari pun menjadi gelap di bawah penerangan rembulan. Malam itu Iqbal datang menjengukku. Di tangnanya ia menenteng sekeranjang penuh buah-buahan segar.
“assalamu’alaikum tante. Hai Liza” dia menyapa aku dan mama.
“wah, Iqbal datang ya, maaf telah merepotkan, terimakasih sudah datang menjenguk Liza” kata mama kepada Iqbal. Mataku dan matanya bertemu. Dia lalu tersenyum padaku. Aku juga membalas senyumannya, dengan senyumanku.
“iya tante, gak merepotkan kok tante. Hmmm.. tante, nampaknya sangat lelah, tante pulang saja dan istirahat. Iqbal yang temani Liza malam ini” kata Iqbal pada mamaku. Aku kurang yakin apa yang dikatakan iqbal barusan, atau aku salah dengar? Pangeran kayangan mau nemanin aku malam ini? Ah entahlah.
“wah, kamu baik sekali Iqbal. Baiklah kalau begitu, tante pulang saja mala mini. Tolong jaga Liza baik-baik yaa Iqbal. Kalau begitu tante permisi yaa nak iqbal” kata mama pada Iqbal. Perkataan mama kali ini meyakinkanku bahwa apa yang dikatakan Iqbal barusan, bukanlah angin lalu. Si pangeran kayangan akan menemaniku malam ini.
“iya tante. Percaya aja sama Iqbal tante, Liza bakalan baik-baik aja” jawab Iqbal pada mama. Mama pun menghilang di balik pintu kamarku. Dan sekarang hanya ada aku dan Iqbal.
Kami banyak berbincang tentang sekolah, basket, dan yang lainnya, sampai aku lelah dan terlelap. Aku sangat senang malam ini karena iqbal ada bersamaku. Ya. Si pangeran kayangan.
Satu minggu berlalu…
Hari ini aku mendapatkan izin dari dokter untuk meninggalkan rumah sakit dan kembali pulang ke rumah. Akhirnya aku bisa menghirup udara segar nan bebas kembali. Selama seminggu terbaring di RS, Iqbal selalu mampir sebelum berangkat sekolah, dan membawakanku setangkai bunga mawar yang sangat indah. Teman-temanku juga datang setiap sore ke RS untuk membantuku belajar, dan menyalin beberapa catatan dan tugas yang diberikan oleh guru, agar aku tidak tertinggal pelajaran. Aku sangat senang dan beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
Pada hari kedua aku masuk sekolah, aku menemukan sepucuk surat, yang terpampang di atas mejaku. Seseorang telah meletakkan surat itu di mejaku. Aku mengambil surat yang beramplop biru itu dan menyobeknya. Di dalam amplop itu menemukan selembar kertas yang bernuansa merah hati. Aku membuka lipatannya dan membaca isi surat tersebut.
Selesai membaca surat yang ternyata dikirimkan oleh Iqbal, aku lalu melipat kembali surat tersebut dan memasukkan kembali kedalam amplop. Lalu kumasukkan surat itu beserta amplopnya ke dalam tasku. Aku sangat penasaran apa yang akan dikatakan Iqbal kepadaku. Dan aku akan mengetahiunya malam ini.
Sesuai dengan perkataan Iqbal di suratnya. Aku tiba di taman kota jam 19.20, aku melihat Iqbal yang sedang duduk di kursi taman. Tanpa tunggu lagi, aku menyapanya dan duduk di sampingnya.
“maaf, membuatmu menunggu” kataku sambil tersenyum.
“ah, tidak apa-apa” jawab Iqbal. Iqbal lalu meremas tanganku. Aku hanya bisa diam mematung, karena tidak tau ingin mengatakan apa. Dan juga aku menunggu hal penting yang dikatakannya padaku.
“Liza, aku akan mengatakan apa yang telah kukatakan padamu di suratku. Aku telah lama menyukaimu. Dan aku rasa, aku juga mencintaimu. Aku lelah memendam perasaanku, dan aku tidak berani menyampaikan perasaanku kepadamu. Dan sekarang aku merasa lega akhirnya bisa mengatakannya padamu” Iqbal berkata panjang lebar. Kesunyian malam menyelimuti kami.
“sebenarnya aku juga sepertimu. Aku sangat menyukaimu, tetapi tidak mempunyai nyali untuk mengatakannya padamu. Aku pun tidak menyangka kamu akan memiliki rasa yang sama seperti aku” perkataanku terhenti karena aku tak tau mengatakan apa lagi. Genggaman iqbal semakin erat.
“emm, kalau gitu, ma.. maukah jadi pacarku? Aku tidak memaksamu untuk menerimaku. Tetapi jawablah pertanyaanku ini, dan aku akan menerima apapun jawabanmu” kata Iqbal penuh harap. Si pangeran kayangan menembakku?. Aku tak pernah menyangka kalau dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Sejujurnya aku sangat senang, dan menurutku dia cowok yang baik. Oh tuhan, bagaimana ini? Kuterima atau tidak?
“aku senang kamu jujur pada perasaanmu. Dan aku mungkin?” perkataanku terhenti di tengah kalimat. Iqbal mengerutkan dahinya dan menatapku dalam-dalam. Dan tampak dalam matanya perasaan antara gelisah dan takut. Seolah-olah aku akan pergi darinya.
“dan mungkin tidak ada salahnya aku menerimamu. Aku sangat mencintaimu. Dan aku mau menjadi pacarmu” kataku pelan tapi pasti. Aku tersenyum kepadanya dan memandangnya. Ekspresinya tampak senang. Dia tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar menatapku. Dia meremas tanganku lebih kencang dengan meyakinkan tidak akan melepaskan genggamannya dariku.
“terimakasih Liza, aku berjanji akan berusaha membuatmu nyaman bersamaku. Percayalah padaku” katanya dengan bersemangat. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Kami beranjak dari kursi taman kota, dan Iqbal memutuskan untuk mengantarkanku pulang.
Sesampainya di depan pintu pagar rumahku, Iqbal melepaskan genggamannya dariku yang sedari tadi bertemu terus menggandeng tanganku.
“selamat malam tuan putri, tidur yang nyenyak yaa” kata iqbal padaku sambil tersenyum.
“ya tentu, selamat malam juga. Semoga mimpi indah yaa” ujarku pada Iqbal. Dan dia mendaratkan kecupan kecil di dahiku. Ah, senangnya. Si pangeran kayangan sekarang milikku. Dia berpamitan dan aku masuk ke dalam rumahku.
Hari ini adalah pertandingan basket antara sekolahku dan SMA N Cita Jaya. Akhir pertandingan memperoleh skor 6 3. Sekolah kami pemenangnya. Aku bangga pada Iqbal yang bekerja kompak bersama timnya ketika bermain tadi.
Hari berlalu begitu saja. Hubunganku dengan iqbal tampak baik-baik saja. Kurang lebih sudah tiga bulan aku berpacaran dengannya. Hari ini tampak cerah dan indah. Aku bangun dari tidurku, dan pergi ke kamar mama yang belum kelihatan sama sekali. Aku mengetuk pintu kamarnya tetapi tidak ada jawaban apapun yang terdengar. Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu kamar mama yang tidak terkunci. Aku sangat kaget, ketika mendapati mama yang pingsan lemah tak berdaya di atas lantai yang dingin. Wajahnya sangat pucat bagaikan mayat.
“a.. ayah,.. ayaaah..” jeritku. Ayah yang tengah memegang gelas, meletakkan gelasnya di meja makan. Dan ayah berlari ke kamar mama.
“astagfirullah, ada apa dengan mama?” Tanya ayah tanpa sabar.
“Liza juga gak tau ayah, sebaiknya kita bawa mama ke rumah sakit segera” cetusku pada ayah.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan mama. Setelah diperiksa, dokter memberi kabar bahwa tumor yang diderita mama sudah semakin parah. Dan satu-satunya jalan adalah operasi. Ayah menyetujui tindakan operasi itu, dan menandatangi surat izin operasi. Ayah mengambil uang biaya operasi dari gajinya yang dipotong dua bulan kedepan.
Operasi dilakukan jam 20:20. Sudah lima menit berjalannya operasi mama. Aku merasa sangat lapar karena belum ada apapun yang mengisi perutku sejak pagi tadi. Aku meminta izin kepada ayah untuk membeli sesuatu yang bisa mengisi perut.
Ketika aku melewati taman kota, aku melihat sosok yang rasanya sangat aku kenal. Dia bersama seorang cewek yang sama sekali tidak kukenal. Sekilas aku melihat lagi ke arah pasangan itu. Dan aku begitu tak percaya dan sangat kaget ketika melihat cowok itu adalah Iqbal. Dan cewek itu adalah salah satu siswa SMA N Cita Jaya. Dia salah satu cewek yang sangat popular diklangan sekolahnya. Aku sangat tidak percaya dengan penglihatanku. Aku terisak di tempat aku berdiri. Dan sialnya merek menyadari kehadiranku. Iqbal dan cewek itu menoleh ke arahku. Dan saat ini aku sedang tidak ingin berurusan dengan mereka. Aku berlari kembali ke arah RS secepat yang aku bisa. Iqbal mengejarku, langkahnya lebih lebar daripadaku, dan dia berhasil mencengkeram tanganku. Aku hanya bisa berdiri membelakanginya dan mendekap mulut dengan tanganku agar tidak terdengar isakan lagi.
“Liza… aku?” lirihnya, dan aku memotong perkataanya sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya.
“aku ngerti kok. Aku rasa kamu merasa puas melihatku seperti ini Iqbal. Kamu tau? Aku sangat mencintaimu?” perkataanku terhenti karena isakan yang menyesakkan dadaku. Ketika aku terasa agak membaik, aku melanjutkan perkataanku.
“a.. aku sangat menyayangimu. Aku sangat mempercayaimu selama ini. Aku merasa sangat nyaman bersamamu. Aku mengagumimu Iqbal. Tapi sekarang apa? Kamu mengecewakanku. Rasanya sangat sakit melihat orang yang aku sayang berduaan bersama orang lain” kataku lirih. Iqbal mengerutkan dahinya, dan ekspresi wajahnya membentuk seulas rasa kecewa.
“ka.. kamu salah paham Liza. Kamu tau? Aku hanya mencintaimu. Tidakkah kamu percaya akan hal itu? Kumohon Liza, aku bisa menjelaskan semuanya” katanya lirih. Dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku terisak di pelukannya. Dekapannya yang membuatku merasa nyaman. Lalu aku melepaskan dekapannya.
“aku mau kembali. Aku tidak membutuhkan penjelasanmu. Sebaiknya kamu jumpain cewek itu, kasian dia sendirian” kataku pada Iqbal. Dan aku berlari ke arah RS. Iqbal hanya bisa menatapku dari kejauhan. Aku menghapus air mataku.
Setibanya di RS aku menghampiri ayah yang duduk. Aku mengambil posisi duduk di sampingnya. Belum lama aku duduk, dokter ke luar dari ruang operasi. Aku dan ayah menghampiri dokter.
“dok, mama saya gimana? Operasinya berjalan dengan lancar kan dok? Mama saya bisa sehat seperti dulu kan dok?” tanyaku pada dokter. Jantung berdegup kencang. Perasaan takut dan gelisah bercampur aduk menguasaiku.
“maafkan kami, hanya tuhan yang berkehendak. Kami telah mengerahkan segala usaha kami” kata dokter sambil menghela nafas panjang.
“mama.. mama sayang padaku. Tidak mungkin dia meninggalkanku. Ayaahh.. katakan padaku ini hanya lelucon saja” kataku sambil terisak.
“sayang, kita harus ikhlas” ayah meyakinkanku. Dia lalu mendekapku ke pelukannya. Aku terisak dalam dekapannya. Aku sangat sedih. Rasanya aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku sangat menyayangiya. Sekarang dia telah meninggalkanku.
Sang surya memancarkan sinarnya. Dunia kembali terang. Pemakaman telah berlangsung sejam yang lalu. Aku duduk bersama semua teman-temanku. Mereka selalu ada saat aku membutuhkan. Aku sangat menyayangi mereka. Mataku membengkak karena menangis
“Liza.. harus kuat ya. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. Kamu gak boleh sedih yaa. Harus tetap semangat seperti biasanya” kata Aya menyemangatiku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Walau hatiku masih menyimpan rasa duka yang dalam dan rasa benci mengingat kejadian semalam dengan Iqbal.
Saat sahabat-sahabatku berbincang-bincang, sebuah mobil bernuansakan silver, memasuki halaman rumahku. Dan aku mengenali mobil itu. Selesai memarkir mobilnya dengan benar, si pengemudi ke luar dari mobilnya dan berjalan menghampiri kami. Si pengemudi itu adalah Iqbal. Ira yang duduk di sebelahku memberi Iqbal peluang untuk duduk disampingku. Tanpa basa-basi lagi, Iqbal mengambil posisinya di sampingku. Dia menarik tanganku dan menggenggamnya dengan kuat. Lalu tanpa kusadari, air mata berlomba turun dari mata iqbal.
“Liza, jangan sedih yaa, a, aku tau ini berat bagimu. Kamu gak boleh sedih. Masih ada kami yang sayang padamu. Aku turut berduka atas kesedihanmu” ujar Iqbal padaku. Dia terisak dalam setiap kalimat yang dilontarkannya. Lalu tanpa sadar, air mataku mulai menerobos dari kelopak mataku. Aku juga menangis di hadapannya.
“makasih Iqbal. Kamu gak perlu nangis segala kali. Aku tau kalian adalah orang-orang yang menyayangiku. Sekarang, aku hanya memiliki ayahku dan kalian. Kalian harus berjanji padaku tidak akan meninggalkanku” kataku disela tangisan sambil berusaha tersenyum. Iqbal lalu menarikku dalam pelukannya. Dia mendaratkan kecupan kecil di dahiku. Aku terisak dalam pelukannya.
“maafkan aku Liza. Malam itu, tujuanku menemui Cika hanya untuk mengembalikan ponselnya yang terjatuh waktu pertandingan itu. Aku menghubungi nomor ponsel temannya yang ada di ponsel itu untuk mengatakan ponsel itu ada padaku. Aku tidak bermaksud lain. Dan aku hanya mencintaimu. Berhentilah menangis ya” bisik Iqbal padaku. Aku rasa, hanya aku dan dia yang bisa mendengarkan bisikan yang sangat halus itu.. Ternyata cewek yang menemui Iqbal malam itu bernama Cika. Aku telah salah paham padanya. Aku merasa bersalah padanya, karena telah menganggapnya yang tidak-tidak.
“maaf Iqbal, aku telah salah paham padamu. Malam itu mamaku sedang operasi. Perasaanku bercampur aduk saat itu. Maafkan aku Iqbal” bisikku di telinganya. Teman-temanku mulai heran apa yang aku bicarakan dengan Iqbal.
“Ya Allah, berikan ketenangan kepada mamaku di alam sana. Terimakasih Ya Allah, engkau telah mengkaruniai mereka yang menyayangiku. Aku merasa nyaman bersama mereka. Ya Allah, kumohon izinkan kami bersama selamanya. Aku tak ingin kehilangan siapapun di antara mereka” do’aku dalam hati. Hanya mereka dan ayahku yang kumiliki sekarang. Dan bodohnya aku telah mengira iqbal membagi kasihnya dengan orang lain selain aku. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak meninggalkan mereka yang bersamaku.
TAMAT
Cerpen Karangan: Nurulhaliza
Facebook: Nurulhaliza
Ina, Ira, Putri, Aya, dan Nadia. Merekalah sahabatku. Kami duduk di kelas XII.A Putri di SMAN Suka Makmur Jakarta Selatan. Kami tidak pernah berpisah semenjak duduk di bangku SMP. Kami sekelas bahkan satu kelompok, sejak duduk di bangku SMP. Merekalah yang selalu ada untukku saat suka maupun duka.
Sebenarnya, aku sedang menyukai Iqbal. Iqbal cowok yang sangat popular dikalangan sekolah kami. Ia duduk di kelas XII.A Putra. Ia termasuk siswa yang pintar. Ia merupakan Kapten Tim Bola Basket di sekolah kami. Ia juga sangat popular di kalangan siswa cewek, baik siswa seangkatan maupun di kalangan adik kelas. Yang membuat dia begitu popular di kalangan siswa cewek, dia memiliki senyuman yang begitu mempesona. Sudah baik, pintar, tidak sombong dan dia selalu tersenyum kepada orang yang ditemuinya dikalangan sekolah, baik guru maupun siswa dan siswi. Aku sendiri selalu saja mengaguminya.
Saat selesai jajan pada jam istirahat, aku memasuki ruang kelas dengan secercah senyuman yang mengembang pada wajahku.
“hmm, ada yang lagi bahagia nih nampaknya” kata Aya begitu aku mendarat di kursiku.
“iyaa nih, certain dong sama kami” sambung Ira yang seraya mengunyah permen karetnya.
“ciee, pada kepo yak? kasian dong kalian kalau aku certain. Yang ada nanti kalian iri” ejekku seraya bercanda.
“halaah, kamu berlebihan. Siapa yang iri coba? certain ajalah, sebentar lagi guru masuk” bantah Ira.
“aku hari ini ke kantin bareng Iqbal. Duh aku seneng banget deh pokoknya” jawabku.
“yaah, kirain kenapa. Kirain aja kamu baru ketemu sama pangeran di kayangan” kata Ira.
“sebenarnya, Iqbal itu memang pangeran kayangan yang jatuh dari langit, cuman ya, dia kesasar di bumi, trus ada?”
Putri yang dari tadi terdiam di kursinya menghentikan perkataanku “stop liza, kamu dari tadi ngawur aja. Capek aku dengarnya. Bicara yang penting-penting aja tau”
Aku mematung di kursiku. Tak lama setelah itu, Ina masuk ke ruang kelas dengan secercah senyuman di wajahnya. Belum sempat aku menanyakan makna senyumannya itu, bel tanda masuk berbunyi. Tak lama kemudian, Bu Yanti, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia memasuki ruang kelas kami. Pelajaran Bahasa Indonesia hari ini berlangsung selama tiga jam. Bu yanti hanya memberikan kami beberapa tugas. Karena pada perjumpaan sebelumnya, telah dijelaskan beberapa materi.
Tiga jam berlalu, tugas yang diberikan Bu Yanti selesai kukerjakan dengan baik. Aku menyerahkan tugasku kepada Bu Yanti. Lima menit berlalu, semua buku tugas milik siswa siswi dikembalikan, dan bel tanda sekolah berakhir hari ini, berbunyi. Semua siswa mengemaskan barang-barang miliknya ke dalam tas. Kami memberi salam kepada Bu Yanti dan berlalu pulang.
“yuk balik” kataku kepada semua temanku. Arah jalan pulang kami memang searah, sehingga kami bisa pulang bersama. Di pertengahan jalan pulang, aku mengangkat pembicaraan terlebih dahulu. Aku masih penasaran dengan kebahagiaan Ina.
“Ina, nampaknya lagi bahagia ya? Ada apa? Cerita dong” tanyaku kepada Ina
“ya biasa aja sih sebenarnya, cuma nanti malam keluarga aku dan keluarga Irfan ada acara ngumpul bareng gitu. Acaranya kebetulan di rumahku. Acara dinner gitu sih kata mama. Karena ada urusan papanya Irfan dengan papaku. Aku sih senang-senang aja karena bisa ketemu Irfan” jelas Ina dengan panjang lebar.
“kamu bercanda? Haha.. lucu yaa” ejek Nadia
“kok lucu sih? Aku gak ngelawak tuh? Irii yaa. Kasiaann” ejek Ina kepada Nadia.
“ya udah, kok malah jadi saling ngejek sih?” sela Ira.
“ya ampun, selamat bersenang-senang ya Ina. Semoga sampai ke pelaminan” candaku
“ah, nyerocos aja kamu. Ya gak lah, masa sampai ke pelaminan, kan cuma bisnis keluarga aja” balas Ina.
Lama kami berbincang-bincang, akhirnya kami sampai di persimpangan jalan, kami harus menyeberang jalan. Di seberang jalan aku meihat Iqbal yang akan menyeberang jalan dan berpisah dengan temannya. Iqbal menyeberang tanpa melihat kiri kanan dan tanpa hati-hati. Aku melihat sebuah truk yang akan menabraknya. Sontak aku sangat kaget, dan berlari ke arahnya. Aku berlari secepat yang aku bisa. Aku mendorongnya, mengerahkah seluruh tenagaku, sampai dia terjatuh di trotoar jalan. Truk yang tadi akan menabrak Iqbal, sekarang menabrakku. Laju truk yang begitu cepat, menghempaskanku sampai aku tekulai lemas di jalan yang sekarang telah berlumuran darahku. Aku dapat merasakan darah yang bercucuran dari kepalaku begitu cepat dan deras. Kelopak mataku sangat berat, dan penglihatanku buram. Aku mencoba melihat lebih jelas, tetapi tidak bisa. Sampai akhirnya aku tak bisa melihat apa-apa. Yang ada hanyalah ruang gelap. Sampai akhirnya, aku tidak merasakan apa-apa lagi.
30 menit berlalu…
Aku merasakan sakit yang sangat. Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat. Samar-samar aku mendengarkan suara berat seorang cowok yang kurasa sangat akrab di telingaku. Penglihatanku sekarang lebih jelas daripada sebelumnya walau terasa masih berat. Aku sangat mengenal rungan ini, apalagi jika bukan ruang Rumah Sakit.
“Liza.. bangunlah, aku mohon, maafkan aku Liza, ini semua salahku, bangunlah Llizaa…” ternyata suara berat itu adalah suara iqbal. Selain suara Iqbal, juga terdengar jelas suara isakan teman-temanku. Dan kurasa mamaku juga hadir di kerumunan mereka. Aku berusaha untuk duduk. Tetapi tidak berhasil. Yang terjadi hanyalah seluruh tubuhku yang terasa sakit.
“Liza… kamu udah sadar? Alhamdulillah. Kamu gak boleh banyak gerak dulu Liza” ujar Iqbal padaku.
“ka.. kamu kok disini Iqbal? Bukan.. bukankah kamu harus latihan ekstra untuk pertandingan? aku?” perkataanku terhenti ketika iqbal mendaratkan jari telunjuknya di bibirku.
“sstt… sudahlah Liza, beristirahatlah dengan nyaman disini, lekaslah sembuh untukku dan teman-temanmu. Maafkan aku Liza. Akulah yang membuatmu begini. Aku sangat menyesal. Maafkan aku Liza. Kami sangat menyayangimu” ujar iqbal padaku. Dia lalu tersenyum lembut padaku seraya meremas tanganku.
“aku harus kembali ke sekolah, banyak hal yang harus aku lakukan. Aku sayang kamu” bisiknya di telingaku. Aku lalu tersenyum padanya. Rasanya aku tak ingin jika dia harus pergi sekarang. Rasanya sangat nyaman ketika dia berada di sisiku.
“aku juga sangat menyayangimu” kataku pada Iqbal sambil tersenyum tulus. Dia melepaskan genggamannya dariku. Dan dia pergi menghilang dari balik pintu.
“Liza, kami juga harus pulang, orangtua kami nanti bisa khawatir. Maaf kami tidak bisa menemanimu disini. Semoga lekas sembuh yaa Liza” Nadia berpamitan padaku. Dia lalu meletakkan tas sekolahku yang dari tadi dijinjingnya, di pinggir ranjangku.
“maaf ya, sudah membuat kalian kerepotan karenaku” kataku pada semua teman-temanku.
“tidak masalah Liza. Kita kan sahabat. Sahabat itu akan membantu sesama dalam suka dan duka” Aya meyakinkanku.
“terimakasih teman-teman” kataku lirih.
“yaa, sama-sama Liza” jawab Putri.
Setelah semuanya telah meninggalkan ruangan, mama yang dari tadi hanya berdiri di dekat jendela, mendekatiku, dan menyodori aku sebuah benda. Benda itu sangat aku inginkan dalam beberapa minggu ini. Benda itu adalah sebuah novel keluaran baru yang tidak lagi asing di mata warga Indonesia. Novel itu berjudul 99 Cahaya Di langit Eropa.
“semoga kamu suka ya sayang, tadinya mama mau membuat sebuah kado dengan buku ini. Tetapi mama mendapatkan telepon dari temanmu kalau kamu kecelakaan” kata mama ketika telah memberikanku buku itu.
“aku sangat senang ma, gak dikadoin pun gak pa-pa, bisa miliki buku ini aja Liza udah seneng banget kok ma, makasih ya mama. Liza sayang mama” kataku pada mama dengan lirih. Mama lalu memelukku. Aku sangat mencintainya.
Ketika rembulan telah menggantikan posisi sang surya. Hari pun menjadi gelap di bawah penerangan rembulan. Malam itu Iqbal datang menjengukku. Di tangnanya ia menenteng sekeranjang penuh buah-buahan segar.
“assalamu’alaikum tante. Hai Liza” dia menyapa aku dan mama.
“wah, Iqbal datang ya, maaf telah merepotkan, terimakasih sudah datang menjenguk Liza” kata mama kepada Iqbal. Mataku dan matanya bertemu. Dia lalu tersenyum padaku. Aku juga membalas senyumannya, dengan senyumanku.
“iya tante, gak merepotkan kok tante. Hmmm.. tante, nampaknya sangat lelah, tante pulang saja dan istirahat. Iqbal yang temani Liza malam ini” kata Iqbal pada mamaku. Aku kurang yakin apa yang dikatakan iqbal barusan, atau aku salah dengar? Pangeran kayangan mau nemanin aku malam ini? Ah entahlah.
“wah, kamu baik sekali Iqbal. Baiklah kalau begitu, tante pulang saja mala mini. Tolong jaga Liza baik-baik yaa Iqbal. Kalau begitu tante permisi yaa nak iqbal” kata mama pada Iqbal. Perkataan mama kali ini meyakinkanku bahwa apa yang dikatakan Iqbal barusan, bukanlah angin lalu. Si pangeran kayangan akan menemaniku malam ini.
“iya tante. Percaya aja sama Iqbal tante, Liza bakalan baik-baik aja” jawab Iqbal pada mama. Mama pun menghilang di balik pintu kamarku. Dan sekarang hanya ada aku dan Iqbal.
Kami banyak berbincang tentang sekolah, basket, dan yang lainnya, sampai aku lelah dan terlelap. Aku sangat senang malam ini karena iqbal ada bersamaku. Ya. Si pangeran kayangan.
Satu minggu berlalu…
Hari ini aku mendapatkan izin dari dokter untuk meninggalkan rumah sakit dan kembali pulang ke rumah. Akhirnya aku bisa menghirup udara segar nan bebas kembali. Selama seminggu terbaring di RS, Iqbal selalu mampir sebelum berangkat sekolah, dan membawakanku setangkai bunga mawar yang sangat indah. Teman-temanku juga datang setiap sore ke RS untuk membantuku belajar, dan menyalin beberapa catatan dan tugas yang diberikan oleh guru, agar aku tidak tertinggal pelajaran. Aku sangat senang dan beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
Pada hari kedua aku masuk sekolah, aku menemukan sepucuk surat, yang terpampang di atas mejaku. Seseorang telah meletakkan surat itu di mejaku. Aku mengambil surat yang beramplop biru itu dan menyobeknya. Di dalam amplop itu menemukan selembar kertas yang bernuansa merah hati. Aku membuka lipatannya dan membaca isi surat tersebut.
Selesai membaca surat yang ternyata dikirimkan oleh Iqbal, aku lalu melipat kembali surat tersebut dan memasukkan kembali kedalam amplop. Lalu kumasukkan surat itu beserta amplopnya ke dalam tasku. Aku sangat penasaran apa yang akan dikatakan Iqbal kepadaku. Dan aku akan mengetahiunya malam ini.
Sesuai dengan perkataan Iqbal di suratnya. Aku tiba di taman kota jam 19.20, aku melihat Iqbal yang sedang duduk di kursi taman. Tanpa tunggu lagi, aku menyapanya dan duduk di sampingnya.
“maaf, membuatmu menunggu” kataku sambil tersenyum.
“ah, tidak apa-apa” jawab Iqbal. Iqbal lalu meremas tanganku. Aku hanya bisa diam mematung, karena tidak tau ingin mengatakan apa. Dan juga aku menunggu hal penting yang dikatakannya padaku.
“Liza, aku akan mengatakan apa yang telah kukatakan padamu di suratku. Aku telah lama menyukaimu. Dan aku rasa, aku juga mencintaimu. Aku lelah memendam perasaanku, dan aku tidak berani menyampaikan perasaanku kepadamu. Dan sekarang aku merasa lega akhirnya bisa mengatakannya padamu” Iqbal berkata panjang lebar. Kesunyian malam menyelimuti kami.
“sebenarnya aku juga sepertimu. Aku sangat menyukaimu, tetapi tidak mempunyai nyali untuk mengatakannya padamu. Aku pun tidak menyangka kamu akan memiliki rasa yang sama seperti aku” perkataanku terhenti karena aku tak tau mengatakan apa lagi. Genggaman iqbal semakin erat.
“emm, kalau gitu, ma.. maukah jadi pacarku? Aku tidak memaksamu untuk menerimaku. Tetapi jawablah pertanyaanku ini, dan aku akan menerima apapun jawabanmu” kata Iqbal penuh harap. Si pangeran kayangan menembakku?. Aku tak pernah menyangka kalau dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Sejujurnya aku sangat senang, dan menurutku dia cowok yang baik. Oh tuhan, bagaimana ini? Kuterima atau tidak?
“aku senang kamu jujur pada perasaanmu. Dan aku mungkin?” perkataanku terhenti di tengah kalimat. Iqbal mengerutkan dahinya dan menatapku dalam-dalam. Dan tampak dalam matanya perasaan antara gelisah dan takut. Seolah-olah aku akan pergi darinya.
“dan mungkin tidak ada salahnya aku menerimamu. Aku sangat mencintaimu. Dan aku mau menjadi pacarmu” kataku pelan tapi pasti. Aku tersenyum kepadanya dan memandangnya. Ekspresinya tampak senang. Dia tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar menatapku. Dia meremas tanganku lebih kencang dengan meyakinkan tidak akan melepaskan genggamannya dariku.
“terimakasih Liza, aku berjanji akan berusaha membuatmu nyaman bersamaku. Percayalah padaku” katanya dengan bersemangat. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Kami beranjak dari kursi taman kota, dan Iqbal memutuskan untuk mengantarkanku pulang.
Sesampainya di depan pintu pagar rumahku, Iqbal melepaskan genggamannya dariku yang sedari tadi bertemu terus menggandeng tanganku.
“selamat malam tuan putri, tidur yang nyenyak yaa” kata iqbal padaku sambil tersenyum.
“ya tentu, selamat malam juga. Semoga mimpi indah yaa” ujarku pada Iqbal. Dan dia mendaratkan kecupan kecil di dahiku. Ah, senangnya. Si pangeran kayangan sekarang milikku. Dia berpamitan dan aku masuk ke dalam rumahku.
Hari ini adalah pertandingan basket antara sekolahku dan SMA N Cita Jaya. Akhir pertandingan memperoleh skor 6 3. Sekolah kami pemenangnya. Aku bangga pada Iqbal yang bekerja kompak bersama timnya ketika bermain tadi.
Hari berlalu begitu saja. Hubunganku dengan iqbal tampak baik-baik saja. Kurang lebih sudah tiga bulan aku berpacaran dengannya. Hari ini tampak cerah dan indah. Aku bangun dari tidurku, dan pergi ke kamar mama yang belum kelihatan sama sekali. Aku mengetuk pintu kamarnya tetapi tidak ada jawaban apapun yang terdengar. Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu kamar mama yang tidak terkunci. Aku sangat kaget, ketika mendapati mama yang pingsan lemah tak berdaya di atas lantai yang dingin. Wajahnya sangat pucat bagaikan mayat.
“a.. ayah,.. ayaaah..” jeritku. Ayah yang tengah memegang gelas, meletakkan gelasnya di meja makan. Dan ayah berlari ke kamar mama.
“astagfirullah, ada apa dengan mama?” Tanya ayah tanpa sabar.
“Liza juga gak tau ayah, sebaiknya kita bawa mama ke rumah sakit segera” cetusku pada ayah.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan mama. Setelah diperiksa, dokter memberi kabar bahwa tumor yang diderita mama sudah semakin parah. Dan satu-satunya jalan adalah operasi. Ayah menyetujui tindakan operasi itu, dan menandatangi surat izin operasi. Ayah mengambil uang biaya operasi dari gajinya yang dipotong dua bulan kedepan.
Operasi dilakukan jam 20:20. Sudah lima menit berjalannya operasi mama. Aku merasa sangat lapar karena belum ada apapun yang mengisi perutku sejak pagi tadi. Aku meminta izin kepada ayah untuk membeli sesuatu yang bisa mengisi perut.
Ketika aku melewati taman kota, aku melihat sosok yang rasanya sangat aku kenal. Dia bersama seorang cewek yang sama sekali tidak kukenal. Sekilas aku melihat lagi ke arah pasangan itu. Dan aku begitu tak percaya dan sangat kaget ketika melihat cowok itu adalah Iqbal. Dan cewek itu adalah salah satu siswa SMA N Cita Jaya. Dia salah satu cewek yang sangat popular diklangan sekolahnya. Aku sangat tidak percaya dengan penglihatanku. Aku terisak di tempat aku berdiri. Dan sialnya merek menyadari kehadiranku. Iqbal dan cewek itu menoleh ke arahku. Dan saat ini aku sedang tidak ingin berurusan dengan mereka. Aku berlari kembali ke arah RS secepat yang aku bisa. Iqbal mengejarku, langkahnya lebih lebar daripadaku, dan dia berhasil mencengkeram tanganku. Aku hanya bisa berdiri membelakanginya dan mendekap mulut dengan tanganku agar tidak terdengar isakan lagi.
“Liza… aku?” lirihnya, dan aku memotong perkataanya sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya.
“aku ngerti kok. Aku rasa kamu merasa puas melihatku seperti ini Iqbal. Kamu tau? Aku sangat mencintaimu?” perkataanku terhenti karena isakan yang menyesakkan dadaku. Ketika aku terasa agak membaik, aku melanjutkan perkataanku.
“a.. aku sangat menyayangimu. Aku sangat mempercayaimu selama ini. Aku merasa sangat nyaman bersamamu. Aku mengagumimu Iqbal. Tapi sekarang apa? Kamu mengecewakanku. Rasanya sangat sakit melihat orang yang aku sayang berduaan bersama orang lain” kataku lirih. Iqbal mengerutkan dahinya, dan ekspresi wajahnya membentuk seulas rasa kecewa.
“ka.. kamu salah paham Liza. Kamu tau? Aku hanya mencintaimu. Tidakkah kamu percaya akan hal itu? Kumohon Liza, aku bisa menjelaskan semuanya” katanya lirih. Dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku terisak di pelukannya. Dekapannya yang membuatku merasa nyaman. Lalu aku melepaskan dekapannya.
“aku mau kembali. Aku tidak membutuhkan penjelasanmu. Sebaiknya kamu jumpain cewek itu, kasian dia sendirian” kataku pada Iqbal. Dan aku berlari ke arah RS. Iqbal hanya bisa menatapku dari kejauhan. Aku menghapus air mataku.
Setibanya di RS aku menghampiri ayah yang duduk. Aku mengambil posisi duduk di sampingnya. Belum lama aku duduk, dokter ke luar dari ruang operasi. Aku dan ayah menghampiri dokter.
“dok, mama saya gimana? Operasinya berjalan dengan lancar kan dok? Mama saya bisa sehat seperti dulu kan dok?” tanyaku pada dokter. Jantung berdegup kencang. Perasaan takut dan gelisah bercampur aduk menguasaiku.
“maafkan kami, hanya tuhan yang berkehendak. Kami telah mengerahkan segala usaha kami” kata dokter sambil menghela nafas panjang.
“mama.. mama sayang padaku. Tidak mungkin dia meninggalkanku. Ayaahh.. katakan padaku ini hanya lelucon saja” kataku sambil terisak.
“sayang, kita harus ikhlas” ayah meyakinkanku. Dia lalu mendekapku ke pelukannya. Aku terisak dalam dekapannya. Aku sangat sedih. Rasanya aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku sangat menyayangiya. Sekarang dia telah meninggalkanku.
Sang surya memancarkan sinarnya. Dunia kembali terang. Pemakaman telah berlangsung sejam yang lalu. Aku duduk bersama semua teman-temanku. Mereka selalu ada saat aku membutuhkan. Aku sangat menyayangi mereka. Mataku membengkak karena menangis
“Liza.. harus kuat ya. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. Kamu gak boleh sedih yaa. Harus tetap semangat seperti biasanya” kata Aya menyemangatiku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Walau hatiku masih menyimpan rasa duka yang dalam dan rasa benci mengingat kejadian semalam dengan Iqbal.
Saat sahabat-sahabatku berbincang-bincang, sebuah mobil bernuansakan silver, memasuki halaman rumahku. Dan aku mengenali mobil itu. Selesai memarkir mobilnya dengan benar, si pengemudi ke luar dari mobilnya dan berjalan menghampiri kami. Si pengemudi itu adalah Iqbal. Ira yang duduk di sebelahku memberi Iqbal peluang untuk duduk disampingku. Tanpa basa-basi lagi, Iqbal mengambil posisinya di sampingku. Dia menarik tanganku dan menggenggamnya dengan kuat. Lalu tanpa kusadari, air mata berlomba turun dari mata iqbal.
“Liza, jangan sedih yaa, a, aku tau ini berat bagimu. Kamu gak boleh sedih. Masih ada kami yang sayang padamu. Aku turut berduka atas kesedihanmu” ujar Iqbal padaku. Dia terisak dalam setiap kalimat yang dilontarkannya. Lalu tanpa sadar, air mataku mulai menerobos dari kelopak mataku. Aku juga menangis di hadapannya.
“makasih Iqbal. Kamu gak perlu nangis segala kali. Aku tau kalian adalah orang-orang yang menyayangiku. Sekarang, aku hanya memiliki ayahku dan kalian. Kalian harus berjanji padaku tidak akan meninggalkanku” kataku disela tangisan sambil berusaha tersenyum. Iqbal lalu menarikku dalam pelukannya. Dia mendaratkan kecupan kecil di dahiku. Aku terisak dalam pelukannya.
“maafkan aku Liza. Malam itu, tujuanku menemui Cika hanya untuk mengembalikan ponselnya yang terjatuh waktu pertandingan itu. Aku menghubungi nomor ponsel temannya yang ada di ponsel itu untuk mengatakan ponsel itu ada padaku. Aku tidak bermaksud lain. Dan aku hanya mencintaimu. Berhentilah menangis ya” bisik Iqbal padaku. Aku rasa, hanya aku dan dia yang bisa mendengarkan bisikan yang sangat halus itu.. Ternyata cewek yang menemui Iqbal malam itu bernama Cika. Aku telah salah paham padanya. Aku merasa bersalah padanya, karena telah menganggapnya yang tidak-tidak.
“maaf Iqbal, aku telah salah paham padamu. Malam itu mamaku sedang operasi. Perasaanku bercampur aduk saat itu. Maafkan aku Iqbal” bisikku di telinganya. Teman-temanku mulai heran apa yang aku bicarakan dengan Iqbal.
“Ya Allah, berikan ketenangan kepada mamaku di alam sana. Terimakasih Ya Allah, engkau telah mengkaruniai mereka yang menyayangiku. Aku merasa nyaman bersama mereka. Ya Allah, kumohon izinkan kami bersama selamanya. Aku tak ingin kehilangan siapapun di antara mereka” do’aku dalam hati. Hanya mereka dan ayahku yang kumiliki sekarang. Dan bodohnya aku telah mengira iqbal membagi kasihnya dengan orang lain selain aku. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak meninggalkan mereka yang bersamaku.
TAMAT
Cerpen Karangan: Nurulhaliza
Facebook: Nurulhaliza
Crumbs of Heart
4/
5
Oleh
Unknown
