Judul Cerpen I am Stupid?
“Felly kemana, Bi?!,” tanya Anjani saat ia hendak pergi ke kentor.
“Non Felly baru saja ke luar, Nyonya. Tadi, Non Felly membawa mobilnya sendiri dan menolak Pak Ridwan mentah-mentah saat Pak Ridwan hendak mengantarnya.”
“Pak Ridwan kemana? Dia akan sudah saya bilangin, jangan sampai Felly ke luar hari ini. Kalau begini, saya kan jadinya yang repot.”
“Maaf Nyonya, tadi saya sudah mencegah non Felly. Tapi Non Felly malah mengikat saya dan memaaksa untuk mengambil kunci mobilnya.”
“Kenapa bisa kamu diikat sama cewek?”
“Non Felly tadi berangkah saat subuh Nyonya. Dan saya bangun-bangunnya sudah mendapatkan tangan dan kakinya diikat. Non Felly juga meminta maaf karena mengikat saya sebelum pergi. Non Felly juga berpesan kepada saya untuk menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa ikut Nyonya ke kantor.”
Anjani menghembuskan nafas beratnya. Bagaimana tidak? Ia memiliki anak gadis tunggal. Tapi, bandelnya tidak ketulungan. Felly Anggi Wiraatmaja namanya. Anjani memberikan nama itu, agar Felly seperti dirinya dan Papanya. Reynaldy Harja Kusuma Wiraatmaja.
Tapi nyata, semua yang diharapkan tak sesuai dengan bayangannya. Felly selalu memberontak setiap Anjani, Mamanya mengajak Felly ke kantor untuk terjun lapangan dalam mengatasi management perusahaan. Mengingat, hanyalah Felly satu-satunya anak yang bisa diandalkan sebagai pewaris keluarga Wiraatmaja.
“Felly!!! Mama nggak akan segan-segan menyeret kamu untuk datang ke kantor hari ini!,” ucap Anjani dengan tekanan di setiap katanya.
“Ma, jangan paksa Felly. Dia memiliki kehidupan yang dia sukai. Kita sebegai orangtua hanya bisa mendukung. Sudahlah kemari! Ayo kita makan bersama-sama. Sini duduk!,” ucap Reynaldy menenangkan istrinya.
“Tapi, Pa. Felly keterlaluan ke supir kita! Masak Pak Ridwan diikat di pos satpam tadi? Mama nggak pernah mengajarkan Felly hal seperti itu, Pa!,” ucap Anjani dengan mematuhi perintah suaminya.
“Felly melakukan itu karena Mama terlalu menekannya. Biarlah dia berkembang daan belajar dengan seiring waktu. Dia akan memahami kewajibannya kelak jika dia sudah dewasa. Felly masih umur 17 tahun, Ma. Wajar kalau dia lebih mementingkan kepentingannya bersama dengan teman-temannya ketimbang memikirkan untuk menjadi pemimpin perusahaan kita. Papa yakin, Felly bisa mengatasi kedua perusahaan kita kelak nanti. Kita hanya cukup untuk menunggu dengan mengawasi perkembangannya.”
“Jika kita terlambat memberikan pendidikan kepada Felly, apa mungkin dia bisa mengatasi tanggung jawabnya sebesar itu? Apa Papa tidak berpikir, Felly adalah anak tunggal kita. Dia tidak punya saudara lagi. Mama melakukan ini semua karena Mama mau yang terbaik untuknya.”
Reynaldy hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian, ia mengajak Anjani berangkat. Karena jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ruangan studio sangat ramai dengan gurauan anak-anak Pro Techno. Mereka, terbagi menjadi dua kru. Satu kru untuk band yang terdiri dari empat anak termasuk Felly. Dan, satu krunya lagi, terdiri dari lima orang. Untuk kru kedua, mereka sema terpusat pada pembuatan film pendek yang dibintangi oleh Felly dan bandnya. Kemudian, ditambah dengan Leo dan Erika yang sering muncul. Sisanya, mereka semua berkerja di belakang layar.
Yah.. wajar saja jika Pro Techno menjadi nama yang marak dan famous di kalangan remaja. Khalayak menyebutnya, kandang macan. Karena, di dalam nama Pro Techno, terdapat anak-anak dengan berbagai bakat. Meskipun, lebih menonjol untuk berada di depan kamera. Dari sekian banyak anak, hanya Felly dan Leo yang mendapatkan job untuk foto model. Yang lain, ada di racangan busana dan juga pengeditan film.
Di umur mereka yang asih remaja, muda dan sangat belia, mereka bisa menghasilkan produk dengan bakat yang bisa dibilang masih amatiran. Bahkan, mereka juga menentang orangtua yang melarang mereka untuk melakukan hal itu. Karena para orangtua menganggap hal itu bukanlah hal yang patut untuk dilakukan dan tak ada manfaatnya.
“Lo kabur lagi dari rumah?!,” tanya Bram.
“Yang alen kemana?,” tanya Felly balik.
“Anak-anak ke luar. Mereka beli makan pagi. Lo pasti belum makan, kan?!,” tanya Billy yang memiliki dugaan yang sama dengan Bram.
“Jawab dong, Fel. Kita pengen tahu nih pengorbanan, lo!,” kata Riska menggoda.
“Tch! Dasar lo! Iya! Gue emang kabur dari rumah. Kenapa emangnya?! Bilang aja deh, kalau kalian seneng saat gue kabur. Jadi, kita bisa latihan band, kan?”
“Tch! Nih anak! Tahu dah gue! Nih makan! Sorry, belum ada makanan. Cuma ada snack ringan,” jawab Billy dengan melemparkan makanan ringan ke arah Felly yang masih berdiri di samping Riska yang tengah bermain piano.
Felly tertawa dengan terbahak-bahak. Karena merasa perutnya mules, Felly pun berpamitan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, saat Felly keluar dari ruangan studio, kedua lengannya mendapatkan cengkeraman dengan kuat dari kedua laki-laki yang berbadan besar dan kuat. Felly terus berteriak dan memberontak. Karena merasa berisik, Riska, Billy, dan Bram yang ada di dalam ruangan ke luar dan menyaksikan kejadian itu.
“Ckckckckck! Pacar lo udah jemput, Fel?!,” ejek Bram.
“Diem lu! Tolongin gue, dong! Lepasin, bego!,” kata Felly menjawab sekaligus meminta untuk body guard keluarganya melepaskan kedua tangannya.
“Bawa aja, Pak! Rantai di gudang biar nggak kabur!,” balas Billy.
“Lu temen atau musuh sih?!,” tanya Felly kesal.
“Hahahaha! Udah, Fel. Terima takdir aja. Kalau lo udah dapet pelajaran dari Mama Anjani, datang lagi yeee ke sini! Udah Pak bawa aja Felly, kita nggak keberatan kok,” jawab Riska mendukung Billy dan Bram.
“Maafkan kami, Non. Kami hanya menjalankan perintah. Jadi ayo ikut kami,” ucap salah satu body guardnya dengan memaksa Felly untuk berjalan mengikuti mereka berdua.
Selama di perjalanan, Felly hanya bisa terdiam dengan muka cemberutnya. Bahkan, saat Felly diberikan coklat oleh kedua bodyguardnya, Felly menolaknya dengan amarahnya yang bukannya membuat kedua body guardnya marah melainkan malah tertawa melihat Felly marah. Dia begitu lucu dan terlihat begitu imut.
Sesampainya di kantor, Felly kembali dipaksa oleh kedua body guard itu untuk masuk ke ruangan Anjani. Namun, sebelum sampai di sana, ternyata Anjani sudah menunggu Felly di lobi. Anjani menjewer telinga Felly. Dan tak lama dari itu, Kakak Anjani datang dan tedengar suara para remaja kesakitan karena orangtuanya.
“Aku meminta padamu, tolong ajarkan putraku yang bandel ini agar dia tobat dan mau menurut padaku,” ucap Andra. Papa Rio. Kakak Anjani. Mama Felly.
“Rio! Lu kena juga?! Bego banget, sih lo! Tadi kan lo sama anak-anak pergi buat beli makan! Kenapa sampai kena?!”
“Alibi bokap gue ngikutin gue dodol! Lu juga, kalau gini kita nggak bisa latihan!,” ucap Rio.
“Kalian berdua udah salah masih aja bisa bertengkar! Kamu Rio, ikut Tante ke atas!,” kata Anjani dengan menjewer telinga Rio dan Felly secara bersamaan.
“Duh, Tante sakiiittt!,” kata Rio.
“Kalian kalau nggak dikasarin, makin melunjak!,” decah Anjani sambil berkicau sepanjang perjalanan menuju ruangannya. Felly dan Rio kesakitan setelah lama mendapatkan jeweran itu.
“Lo nggak pengen kabur, Ri?!,” tanya Felly kepada sepupunya.
“Kalian nggak akan bisa kabur! Sekarang, kalian harus belajar…”
“Ma, kita ngapain sih suruh belajar beginian? Mau Felly jadi penerus atau enggak, seharusnya, Mama nggak seharusnya maksa Felly demi kehendak Mama sendiri. Kita berdua juga punya kehidupan dan cita-cita yang ingin kita raih, Ma. Tolonglah, jangan hentikan kami berdua, Ma.”
“Lalu siapa yang akan meneruskan perusahaan Mama dan Papa, Fel. Kamu adalah harapan Mama dan Papa.”
“Tapi dengan cara seperti ini, membuat Felly semakin nggak tertarik dengan kehidupan bisnis, Ma.”
“Tante, Rio dan Felly mohon, jangan paksa kami untuk terjun dunia bisnis. Jika Tante memiliki kewajiban untuk menyukseskan anaknya, biarkanlah kami sukses dengan cara kami sendiri. Berikanlah kami waktu untuk menghabiskan masa remaja kami. Rio yakin, tante juga akan mengatakan hal yang sama jika tante ada di posisi Rio sekarang.”
Seketika suasana hening. Anjani tak menjawab atau sekedar menepis ucapan keponakannya. Ia hanya terdiam dan termangu dengan menghembuskan nafas beratnya.
“Felly, Rio. Kami melakukan ini semua karena kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Sejak Felly masuk ke dunia band dan perfilman, dia jadi sering pulang malam. Dia juga jarang mengabari tante seperti sebelumnya. Kamu pasti mengerti bagaimana perasaan tante meskipun Mama kamu sudah meninggal.”
“Rio juga sering pulang malam, tante. Karena kami..”
“Lu mau hidup gue hancur, bego?!,” ucap Felly berbisik setelah membungkam mulut Rio.
“Kalau nggak gini, nyokap lo nggak bakalan tahu, dodol!,” balas Rio.
“Tapi..”
“Karena kami akan ikut turnamen nasional dalam ajang budaya remaja modern yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan.”
“Felly, kamu kok nggak pernah ngomong sama Mama?”
“Karena Felly nggak mau Mama marah sama Felly. Kalau Mama marah, Felly takut Mama akan masuk rumah sakit seperti sebelumnya karena shock denger Felly ikutan turnamen. Di sisi lain, Mama juga punya hipertensi, kan. Felly cuma mau banggain Mama dengan hasil bakat alami Felly. Bukan mengecewakan Mama dengan bakat Felly.”
Seketika Anjani terdiam. Lagi-lagi, ia tak mampu menjawab ucapan putrinya. Tanpa berbicara, Anjani melangkahkan kakinya ke arah Felly dan Rio yang tengah terduduk di sofa seperti anak kecil yang kena marah Mamanya. Anjani memeluk Felly dan Rio. Di sana, ia meneteskan air matanya setelah mendengar penjelasan anaknya. Di situ ia sadar, putrinya sangat menyayanginya. Tapi anjani, justru menyiksa Felly dengan terus menekannya. Begitu juga dengan keponakannya Rio. Benar kata Reynaldy, remaja bukan untuk di tekan. Tapi dibebaskan untuk bereksplorasi serta berkreasi semau mereka selama hal itu positif.
Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
“Felly kemana, Bi?!,” tanya Anjani saat ia hendak pergi ke kentor.
“Non Felly baru saja ke luar, Nyonya. Tadi, Non Felly membawa mobilnya sendiri dan menolak Pak Ridwan mentah-mentah saat Pak Ridwan hendak mengantarnya.”
“Pak Ridwan kemana? Dia akan sudah saya bilangin, jangan sampai Felly ke luar hari ini. Kalau begini, saya kan jadinya yang repot.”
“Maaf Nyonya, tadi saya sudah mencegah non Felly. Tapi Non Felly malah mengikat saya dan memaaksa untuk mengambil kunci mobilnya.”
“Kenapa bisa kamu diikat sama cewek?”
“Non Felly tadi berangkah saat subuh Nyonya. Dan saya bangun-bangunnya sudah mendapatkan tangan dan kakinya diikat. Non Felly juga meminta maaf karena mengikat saya sebelum pergi. Non Felly juga berpesan kepada saya untuk menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa ikut Nyonya ke kantor.”
Anjani menghembuskan nafas beratnya. Bagaimana tidak? Ia memiliki anak gadis tunggal. Tapi, bandelnya tidak ketulungan. Felly Anggi Wiraatmaja namanya. Anjani memberikan nama itu, agar Felly seperti dirinya dan Papanya. Reynaldy Harja Kusuma Wiraatmaja.
Tapi nyata, semua yang diharapkan tak sesuai dengan bayangannya. Felly selalu memberontak setiap Anjani, Mamanya mengajak Felly ke kantor untuk terjun lapangan dalam mengatasi management perusahaan. Mengingat, hanyalah Felly satu-satunya anak yang bisa diandalkan sebagai pewaris keluarga Wiraatmaja.
“Felly!!! Mama nggak akan segan-segan menyeret kamu untuk datang ke kantor hari ini!,” ucap Anjani dengan tekanan di setiap katanya.
“Ma, jangan paksa Felly. Dia memiliki kehidupan yang dia sukai. Kita sebegai orangtua hanya bisa mendukung. Sudahlah kemari! Ayo kita makan bersama-sama. Sini duduk!,” ucap Reynaldy menenangkan istrinya.
“Tapi, Pa. Felly keterlaluan ke supir kita! Masak Pak Ridwan diikat di pos satpam tadi? Mama nggak pernah mengajarkan Felly hal seperti itu, Pa!,” ucap Anjani dengan mematuhi perintah suaminya.
“Felly melakukan itu karena Mama terlalu menekannya. Biarlah dia berkembang daan belajar dengan seiring waktu. Dia akan memahami kewajibannya kelak jika dia sudah dewasa. Felly masih umur 17 tahun, Ma. Wajar kalau dia lebih mementingkan kepentingannya bersama dengan teman-temannya ketimbang memikirkan untuk menjadi pemimpin perusahaan kita. Papa yakin, Felly bisa mengatasi kedua perusahaan kita kelak nanti. Kita hanya cukup untuk menunggu dengan mengawasi perkembangannya.”
“Jika kita terlambat memberikan pendidikan kepada Felly, apa mungkin dia bisa mengatasi tanggung jawabnya sebesar itu? Apa Papa tidak berpikir, Felly adalah anak tunggal kita. Dia tidak punya saudara lagi. Mama melakukan ini semua karena Mama mau yang terbaik untuknya.”
Reynaldy hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian, ia mengajak Anjani berangkat. Karena jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ruangan studio sangat ramai dengan gurauan anak-anak Pro Techno. Mereka, terbagi menjadi dua kru. Satu kru untuk band yang terdiri dari empat anak termasuk Felly. Dan, satu krunya lagi, terdiri dari lima orang. Untuk kru kedua, mereka sema terpusat pada pembuatan film pendek yang dibintangi oleh Felly dan bandnya. Kemudian, ditambah dengan Leo dan Erika yang sering muncul. Sisanya, mereka semua berkerja di belakang layar.
Yah.. wajar saja jika Pro Techno menjadi nama yang marak dan famous di kalangan remaja. Khalayak menyebutnya, kandang macan. Karena, di dalam nama Pro Techno, terdapat anak-anak dengan berbagai bakat. Meskipun, lebih menonjol untuk berada di depan kamera. Dari sekian banyak anak, hanya Felly dan Leo yang mendapatkan job untuk foto model. Yang lain, ada di racangan busana dan juga pengeditan film.
Di umur mereka yang asih remaja, muda dan sangat belia, mereka bisa menghasilkan produk dengan bakat yang bisa dibilang masih amatiran. Bahkan, mereka juga menentang orangtua yang melarang mereka untuk melakukan hal itu. Karena para orangtua menganggap hal itu bukanlah hal yang patut untuk dilakukan dan tak ada manfaatnya.
“Lo kabur lagi dari rumah?!,” tanya Bram.
“Yang alen kemana?,” tanya Felly balik.
“Anak-anak ke luar. Mereka beli makan pagi. Lo pasti belum makan, kan?!,” tanya Billy yang memiliki dugaan yang sama dengan Bram.
“Jawab dong, Fel. Kita pengen tahu nih pengorbanan, lo!,” kata Riska menggoda.
“Tch! Dasar lo! Iya! Gue emang kabur dari rumah. Kenapa emangnya?! Bilang aja deh, kalau kalian seneng saat gue kabur. Jadi, kita bisa latihan band, kan?”
“Tch! Nih anak! Tahu dah gue! Nih makan! Sorry, belum ada makanan. Cuma ada snack ringan,” jawab Billy dengan melemparkan makanan ringan ke arah Felly yang masih berdiri di samping Riska yang tengah bermain piano.
Felly tertawa dengan terbahak-bahak. Karena merasa perutnya mules, Felly pun berpamitan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, saat Felly keluar dari ruangan studio, kedua lengannya mendapatkan cengkeraman dengan kuat dari kedua laki-laki yang berbadan besar dan kuat. Felly terus berteriak dan memberontak. Karena merasa berisik, Riska, Billy, dan Bram yang ada di dalam ruangan ke luar dan menyaksikan kejadian itu.
“Ckckckckck! Pacar lo udah jemput, Fel?!,” ejek Bram.
“Diem lu! Tolongin gue, dong! Lepasin, bego!,” kata Felly menjawab sekaligus meminta untuk body guard keluarganya melepaskan kedua tangannya.
“Bawa aja, Pak! Rantai di gudang biar nggak kabur!,” balas Billy.
“Lu temen atau musuh sih?!,” tanya Felly kesal.
“Hahahaha! Udah, Fel. Terima takdir aja. Kalau lo udah dapet pelajaran dari Mama Anjani, datang lagi yeee ke sini! Udah Pak bawa aja Felly, kita nggak keberatan kok,” jawab Riska mendukung Billy dan Bram.
“Maafkan kami, Non. Kami hanya menjalankan perintah. Jadi ayo ikut kami,” ucap salah satu body guardnya dengan memaksa Felly untuk berjalan mengikuti mereka berdua.
Selama di perjalanan, Felly hanya bisa terdiam dengan muka cemberutnya. Bahkan, saat Felly diberikan coklat oleh kedua bodyguardnya, Felly menolaknya dengan amarahnya yang bukannya membuat kedua body guardnya marah melainkan malah tertawa melihat Felly marah. Dia begitu lucu dan terlihat begitu imut.
Sesampainya di kantor, Felly kembali dipaksa oleh kedua body guard itu untuk masuk ke ruangan Anjani. Namun, sebelum sampai di sana, ternyata Anjani sudah menunggu Felly di lobi. Anjani menjewer telinga Felly. Dan tak lama dari itu, Kakak Anjani datang dan tedengar suara para remaja kesakitan karena orangtuanya.
“Aku meminta padamu, tolong ajarkan putraku yang bandel ini agar dia tobat dan mau menurut padaku,” ucap Andra. Papa Rio. Kakak Anjani. Mama Felly.
“Rio! Lu kena juga?! Bego banget, sih lo! Tadi kan lo sama anak-anak pergi buat beli makan! Kenapa sampai kena?!”
“Alibi bokap gue ngikutin gue dodol! Lu juga, kalau gini kita nggak bisa latihan!,” ucap Rio.
“Kalian berdua udah salah masih aja bisa bertengkar! Kamu Rio, ikut Tante ke atas!,” kata Anjani dengan menjewer telinga Rio dan Felly secara bersamaan.
“Duh, Tante sakiiittt!,” kata Rio.
“Kalian kalau nggak dikasarin, makin melunjak!,” decah Anjani sambil berkicau sepanjang perjalanan menuju ruangannya. Felly dan Rio kesakitan setelah lama mendapatkan jeweran itu.
“Lo nggak pengen kabur, Ri?!,” tanya Felly kepada sepupunya.
“Kalian nggak akan bisa kabur! Sekarang, kalian harus belajar…”
“Ma, kita ngapain sih suruh belajar beginian? Mau Felly jadi penerus atau enggak, seharusnya, Mama nggak seharusnya maksa Felly demi kehendak Mama sendiri. Kita berdua juga punya kehidupan dan cita-cita yang ingin kita raih, Ma. Tolonglah, jangan hentikan kami berdua, Ma.”
“Lalu siapa yang akan meneruskan perusahaan Mama dan Papa, Fel. Kamu adalah harapan Mama dan Papa.”
“Tapi dengan cara seperti ini, membuat Felly semakin nggak tertarik dengan kehidupan bisnis, Ma.”
“Tante, Rio dan Felly mohon, jangan paksa kami untuk terjun dunia bisnis. Jika Tante memiliki kewajiban untuk menyukseskan anaknya, biarkanlah kami sukses dengan cara kami sendiri. Berikanlah kami waktu untuk menghabiskan masa remaja kami. Rio yakin, tante juga akan mengatakan hal yang sama jika tante ada di posisi Rio sekarang.”
Seketika suasana hening. Anjani tak menjawab atau sekedar menepis ucapan keponakannya. Ia hanya terdiam dan termangu dengan menghembuskan nafas beratnya.
“Felly, Rio. Kami melakukan ini semua karena kami hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Sejak Felly masuk ke dunia band dan perfilman, dia jadi sering pulang malam. Dia juga jarang mengabari tante seperti sebelumnya. Kamu pasti mengerti bagaimana perasaan tante meskipun Mama kamu sudah meninggal.”
“Rio juga sering pulang malam, tante. Karena kami..”
“Lu mau hidup gue hancur, bego?!,” ucap Felly berbisik setelah membungkam mulut Rio.
“Kalau nggak gini, nyokap lo nggak bakalan tahu, dodol!,” balas Rio.
“Tapi..”
“Karena kami akan ikut turnamen nasional dalam ajang budaya remaja modern yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan.”
“Felly, kamu kok nggak pernah ngomong sama Mama?”
“Karena Felly nggak mau Mama marah sama Felly. Kalau Mama marah, Felly takut Mama akan masuk rumah sakit seperti sebelumnya karena shock denger Felly ikutan turnamen. Di sisi lain, Mama juga punya hipertensi, kan. Felly cuma mau banggain Mama dengan hasil bakat alami Felly. Bukan mengecewakan Mama dengan bakat Felly.”
Seketika Anjani terdiam. Lagi-lagi, ia tak mampu menjawab ucapan putrinya. Tanpa berbicara, Anjani melangkahkan kakinya ke arah Felly dan Rio yang tengah terduduk di sofa seperti anak kecil yang kena marah Mamanya. Anjani memeluk Felly dan Rio. Di sana, ia meneteskan air matanya setelah mendengar penjelasan anaknya. Di situ ia sadar, putrinya sangat menyayanginya. Tapi anjani, justru menyiksa Felly dengan terus menekannya. Begitu juga dengan keponakannya Rio. Benar kata Reynaldy, remaja bukan untuk di tekan. Tapi dibebaskan untuk bereksplorasi serta berkreasi semau mereka selama hal itu positif.
Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
I am Stupid?
4/
5
Oleh
Unknown
