Ternyata Dia

Baca Juga :
    Judul Cerpen Ternyata Dia

    Aku terbangun dengan keadaan yang sungguh tak bisa terdefinisikan. Rambut singa, mata sembab, dan ada bekas iler di baju tidurku. Ya, kemarin malam aku menangis sesenggukan. Aku menangisi seseorang yang paling terkutuk di dunia ini. Aku menangisi Deva, seorang pria tampan nan rupawan yang saat ini menyandang gelar sebagai “Pacarku”.

    Kemarin sore, saat aku dan teman-temanku yang kusebut “Geng Sebelas” sedang berjalan-jalan di Beachwalk Store, aku mendapati Deva sedang pergi berdua dengan seorang gadis dan kelihatannya mereka sangatlah mesra. Namun, aku tak dapat melihat siapa gadis itu dengan jelas karena dia berdiri membelakangi kami. Aku hanya tahu laki-laki yang sedang merangkul gadis itu dengan mesra adalah Deva, kekasihku tercinta.

    Aku sangat hafal semua tentang Deva. Bagaimana tidak? Kami sudah 3 tahun berpacaran sejak kami kelas 3 SMP. Aku hafal bagaimana wangi parfumnya, lekuk tubuhnya, bentuk rambutnya, bayangannya, makanan kesukaannya, dan masih banyak lagi. Satu hal lagi, aku sangat mencintainya.

    Setelah pulang dari Beachwalk, aku pun menelepon Deva. Awalnya aku bertanya apakah Deva sempat pergi ke Beachwalk tadi sore atau tidak. Dia pun mengelak dengan menjawab dia tidak pergi ke Beachwalk tadi sore dan dia mengelak lagi dengan mengatakan dirinya sibuk membuat tugas untuk Senin esok. Aku murka. Aku meluapkan amarahku sebesar-besarnya kepada Deva. Tahukah kau apa yang terjadi? Deva malah meminta untuk putus dariku. Dia mengatakan aku terlalu emosional dan selalu menyalahkan dirinya.

    Hatiku sakit sekali mendengarnya. Aku menangis semalaman, mengunci pintu kamarku, dan mengabaikan ajakan makan malam oleh ibuku dan adik kecilku, Meli. Bahkan, kemarin malam Meli hampir 2 jam berada di balik pintu kamarku, memanggil-manggil namaku untuk menyuruhku makan malam. Aku benar-benar merasa lelah seperti ini. Ini bukan pertama kalinya Deva meminta putus dariku. Alasan dia meminta putus selalu karena hal-hal sepele. Dan parahnya, aku selalu memohon kepadanya agar dia kembali padaku.

    Pagi hari ini, aku terbangun dengan perasaan sedih yang masih sama seperti kemarin malam. Aku pun memutuskan untuk ke luar kamar dan sarapan pagi. Perutku sangat lapar. Ibu, ayah, dan adikku kaget melihat keadaanku seperti ini. Ibuku yang kerap disapa Bu Sri oleh tetangga pun mulai angkat bicara.
    “Nindi, kenapa kamu semrawut begitu?” tanya ibu
    “Laper” jawabku sekedarnya
    Aku pun mengambil sepotong roti gandum dan mengolesinya dengan selai nutella. Ibuku menuangkan susu ke dalam gelas imutku. Aku pun melahap roti tersebut dengan nikmat. Tiba-tiba, bel berbunyi. Ayah pun ke depan untuk membuka pintu untuk tamu itu. Tetapi, ayah justru berbalik memanggilku dan mengatakan padaku bahwa ada kiriman untukku.

    Aku pun berlari ke depan. Aku terkejut melihat boneka beruang berwarna cokelat yang ukurannya bahkan lebih besar dari tubuhku telah berada di pelukan Mas Gojek. Tak ketinggalan juga sebuket bunga mawar biru kesukaanku di genggaman tangan Mas Gojek. Aku pun bertanya siapa pengirim semua barang-barang ini. Namun, Mas Gojek berkata si pengirim tidak ingin diberi tahu identitasnya. Aku pun tercengang.
    Apakah Deva si pengirimnya? Tapi, mengingat kelakuannya kemarin rasanya mustahil Deva adalah pengirim barang-barang berbau romantis ini. Aku pun menitipkan ucapan terimakasihku untuk si pengirim melalui Mas Gojek. Mas Gojek kemudian pergi dan melanjutkan pekerjaannya.

    Aku berlari dan membawa semua barang-barangku itu ke kamarku. Lalu, aku menelepon Ayu, sahabatku serta teman sebangkuku sejak SMA. Aku pun mencurahkan semuanya. Aku juga mengatakan bahwa aku berharap pengirim bunga dan boneka ini adalah Deva. Tapi, Ayu malah berkata…
    “Nindi, dengar ya. Kamu itu udah diputusin Deva. Jadi gak mungkin dia mengirim semua barang-barang seperti itu. Jangan menghayal deh kamu!”, kata Ayu.
    Aku tercengang mendengar kata-kata Ayu. Ada apa dengan Ayu? Dia tidak pernah berkata seperti itu kepadaku. Ah, mungkin Ayu sedang ada masalah, pikirku. Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatku yang lain. Aku bosan di rumah dengan keadaan seperti ini. Rumah Jyestha menjadi tujuan utamaku.

    Sesampainya di Rumah Jyestha, aku disambut dengan sambutan hangat oleh Jyestha dan ibunya. Ya, Jyestha adalah sahabatku dari baru lahir. Kedua orangtua kami telah bersahabat sejak SMP. Namun, nasib buruk menimpa keluarga Jyestha. Ayah Jyestha meninggal ketika Jyestha berumur 6 tahun.

    Seperti biasa, Jyestha selalu mengajakku pergi berjalan-jalan walau itu ke tempat murah sekalipun. Hari ini, Jyestha memilih Bedugul sebagai tempat tujuan kami. Sepanjang perjalanan, aku mencurahkan semua ceritaku mulai dari aku diputusi Deva dan ada pengirim bunga rahasia ke rumahku. Jyestha mendengarkanku sambil sesekali mengunyah Indomie Bite yang ia beli di Toko Beatrice. Leganya punya sahabat seperti Jyestha.

    Hari demi hari kulewati. Ajaibnya, aku sama sekali tidak memohon kepada Deva untuk kembali padaku seperti yang selalu aku lakukan dulu ketika dia meninggalkanku. Hingga suatu hari, aku bersama Jyestha sedang berjalan-jalan di Taman Kota dan melihat sesuatu yang sangat ingin kuketahui sebelumnya. Aku melihat Deva dan gadis itu lagi! Gadis yang sama persis saat kulihat mereka bermesraan di Beachwalk. Yang membuat aku tercengang, ketika gadis itu berbalik badan dan menampakkan wajahnya, ternyata gadis itu adalah Ayu!
    Hatiku benar-benar hancur. Ayu sahabatku sendiri dengan teganya mengkhianati aku sehina ini. Aku benar-benar membenci mereka berdua. Aku membenci Deva dan Ayu. Kali ini aku benar-benar yakin untuk sepenuhnya meninggalkan Deva. Buat apa bertahan jika dikhianati begini.

    Berbulan-bulan sudah aku melewati hari-hariku tanpa Deva. Perasaan sakitku sudah mulai lenyap. Namun, ada satu hal special. Setiap bulan tepatnya tanggal 20, si pengirim hadiah misterius itu terus mengirimkan hadiah-hadiahnya. Selama 8 bulan pengamatanku ini, setiap tanggal 20 pasti selalu ada Mas Gojek membawakan hadiah ke rumahku. Jenisnya beragam. Ada buket bunga, boneka, cup cake, pizza, dan masih banyak lagi. Hingga suatu hari, tepat tanggal 20 Januari dimana tanggal itu bertepatan dengan bulan ke-9 si pengirim hadiah misterius akan mengirimkan hadiahnya dan ulang tahunku yang ke 18 tahun, aku bertekad mencari tahu siapa sebenarnya si pengirim hadiah-hadiah itu.
    Tapi, aku bingung bagaimana caranya. Hmm… Aha!! Si pengirim hadiah selalu mengirimkan bunga, boneka, cupcake, pizza selama 9 bulan ini. Dan lebih bagusnya lagi, dia selalu membeli semua itu di toko yang sama. Ini akan mempermudah investigasiku.

    Aku pun meminta bantuan kepada Sari, Sita, Ratih, Riska dan Friska untuk membantu investigasiku. Awalnya mereka ragu, tetapi akhirnya mereka menyetujuinya. Pukul 09.30, mereka telah tiba di rumahku untuk berkumpul bersama. Rencananya, kami akan mengunjungi toko-toko tempat si pengirim hadiah membeli hadiahnya. Bahkan kami sudah menyusun rencana. Aku dan Friska akan berbelanja di Toko Bunga Aris, toko dimana si pengirim hadiah misterius membelikanku bunga. Sari dan Ratih mengawasi Aufcake’s dan Istana Boneka, sedangkan Sita dan Riska akan mengawasi Pizza Hut Monang-maning yang merupakan pizza hut terdekat dari rumahku.

    Setelah aku usai berdandan, pukul 10.00 pun kami memutuskan untuk berangkat. Tiba-tiba, bel berbunyi. Karena ayah dan ibuku sedang keluar kota, aku bersama teman-temanku akan membuka pintu. Dalam hati, aku curiga yang memencet bel adalah si pengirim hadiah misterius. Ketika pintu terbuka, ternyata…
    “Jyestha?”
    “Iya, ini aku.” kata Jyestha
    “Astaga, jangan bilang kamu…”
    “Apa? Pengirim hadiah misterius itu? Ckckckc, iya memang aku orangnya. Nih, hadiah misterius buat kamu” kata Jyestha sambil menyerahkan buket bunga matahari, coklat berbentuk jantung, dan boneka stitch ukuran sedang
    Aku sangat terkejut. Ternyata dia adalah… Jyestha? Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dalam hati, aku bertanya-tanya untuk apa dia mengirimkan semua hadiah-hadiah itu? Untuk apa dia mengirimkannya hanya di tanggal 20 saja? Dan kenapa hari ini bukan Mas Gojek yang mengantarnya?
    “Aku mengirimkan semua hadiah ini, hanya untuk membuatmu senang. Aku tidak mau kamu selalu disakiti Deva. Ohya, kenapa tanggal 20? Karena aku ingin membuatmu selalu penasaran akan hadiah-hadiah ini… hmm lebih tepatnya merindukan hadiah-hadiah ini, apalagi kamu juga berulang tahun tanggal 20. Oh ya, kenapa bukan Mas Gojek? Mau tahu?” kata Jyestha tanpa ditanya.
    Hatiku berdegup kencang. Aku dibuat semakin penasaran. Ada rasa detak-detak yang tak bisa kuungkapkan. Dan saat mendengar jawabannya, aku benar-benar merasa dunia berhenti berputar.
    “Karena aku ingin menjadikanmu kekasihku dan ingin membahagiakanmu dengan caraku.” kata Jyestha tulus.
    Ya Tuhan! Apakah aku bermimpi? Jyesta menyatakan cinta padaku? Bagaimana ini? Tapi, aku juga merasakan hal yang sama terhadap Jyestha. Semenjak ia menemani hari-hariku tanpa Deva, aku mulai menganggapnya sebagai bukan sahabat, melainkan sebagai seorang laki-laki.

    Setelah melalui beberapa proses mencekam, akhirnya aku dan Jyestha resmi berpacaran. Sorak riuh dari teman-temanku tak bisa dielakkan. Kali ini, rasa yang kurasakan terhadap Deva sangat berbeda dengan rasa yang kurasakan terhadap Jyestha. Bersama Deva aku selalu tertekan, baru kali ini aku merasa bebas dan bahagia seperti ini.

    Cerpen Karangan: Dila Paramita
    Ig: dilaparamita

    Artikel Terkait

    Ternyata Dia
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email