Judul Cerpen Adik
Kenalkan, namaku Naura Citralia Azzahra. Aku biasa dipanggil Azzahra. Aku mempunyai adik tiri yang usianya jauh lebih muda dariku dan aku sangat membencinya. Namanya Lidya Fitriani. Aku biasa memanggilnya Fitri. Aku tak pernah menganggapnya sebagai adik. Hari itu, Fitri merengek meminta dibelikan boneka. Padahal, uang sakuku tinggal 50.000. Aku semakin kesal dengan rengekannya.
“Beli saja sendiri! Bukannya kamu punya uang yang baru saja diberi sama kakek?!” Bentakku keras. Orang disekitar mulai memperhatikanku. tapi, aku mengacuhkannya sambil meninggalkan Fitri yang masih saja merengek.
“Tapi, kak, aku pengin boneka itu.” Paksa Fitri.
“Huh! Mengemis sana!” Bentakku lagi.
“Tolong beliin dong, kak.” Rengek Fitri lagi. Tanganku mulai terangkat. PLAK! Sebuah tamparan mendarat telak di pipi adikku. Fitri terkejut bukan main. Ibuku saja tidak pernah menamparnya.
“Sana! Mengadu sama ibu! Dasar anak cengeng! Bisanya cuma minta ini itu!” Aku mendorongnya hingga jatuh ke belakang. Orang orang di sekitar mulai iba. Mereka lantas membantu Fitri berdiri.
“Kamu ini gimana sih? Masa anak nggak salah apa apa disiksa begini?” Tanya seorang ibu yang dari tadi memperhatikanku.
“Loh, suka suka aku lah!” Bentakku kembali sambil menarik keras tangan Fitri. Fitri hanya bisa diam, ia sedikit terisak karena perilaku kasarku padanya tadi.
“Udah! Jangan nangis! Kamu ini udah cengeng! Masih aja minta boneka itu!” Bentakku pada Fitri. Namun, aku tak sadar jika Fitri itu sayang padaku.
“Kakak! Awas!” Teriak Fitri. Aku mengacuhkan teriakannya, berharap adikku itu segera pergi.
Bruk! Kepalaku terbentur terotoar jalan. Ya, lumayan sakit juga.
Orang orang berkerumun disana. Aku penasaran juga ikut kesana.
“FITRI! KAMU KENAPA?! FITRI! BANGUN!” Aku mengguncang guncangkan badan Fitri. Tak terasa, air mataku mulai mengalir. Seorang ibu mencoba memegang denyut nadi Fitri. Namun, Fitri sudah tewas. Tewas dalam kejahatanku padanya. Aku sungguh menyesal.
“Fitri, maafin aku. Maafin kakak, Fitri. Kakak nyesel udah bentak bentak kamu kayak tadi,” isakku. Mata Fitri tetap terpejam. Aku berharap, agar Fitri kembali lagi kepadaku.
Aku berlari ke luar, lergi ketoko boneka. Aku melihat boneka itu masih tergantung disana. Kurelakan uang sakuku habis untuk boneka itu.
“Terima kasih!” Ujarku sambil membawa boneka itu pulang ke rumah. kutaruh boneka imut itu ke samping jasad Fitri yang sudah terbungkus kain kafan.
“Aku tahu kalo aku ini jahat, Fitri. Maklum jika kamu tak mau memaafkanku. Sudah dari awal, aku membencimu. Tapi, sebagai permintaan maafku, tolong terima boneka yang kamu inginkan tadi.” Ujarku. Air mataku kembali menetes.
Aku bersimpuh di sebuah gundukan tanah. Dengan ukiran batu nisan, LIDYA FITRIANI BINTI SASONO MULYADI. Kutaburkan bunga bunga sambil memanjatkan doa.
“Tunggu aku disana ya, dik. Aku sayang sama kamu, adikku.” ujarku sambil beranjak dari sana. Aku tak pernah tahu jika fitri sangat sayang sekali padaku. Pernah sekali, aku minta dibelikan buku menggambar. Dan, fitri lah yang membelikannya untukku. Tapi, aku justru merobek buku itu, lalu membakarnya hingga hangus. Melihat hal itu, Fitri marah. Tapi, dia masih tetap sayang padaku.
Pengorbananmu sungguh besar, Fit. Kamu korbankan nyawamu demi menyelamatkanku dari tabrakan bus itu. Terima kasih, Fitri. Aku akan ingat kamu selamanya.
END
Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Facebook: Lila Azzahra
Kenalkan, namaku Naura Citralia Azzahra. Aku biasa dipanggil Azzahra. Aku mempunyai adik tiri yang usianya jauh lebih muda dariku dan aku sangat membencinya. Namanya Lidya Fitriani. Aku biasa memanggilnya Fitri. Aku tak pernah menganggapnya sebagai adik. Hari itu, Fitri merengek meminta dibelikan boneka. Padahal, uang sakuku tinggal 50.000. Aku semakin kesal dengan rengekannya.
“Beli saja sendiri! Bukannya kamu punya uang yang baru saja diberi sama kakek?!” Bentakku keras. Orang disekitar mulai memperhatikanku. tapi, aku mengacuhkannya sambil meninggalkan Fitri yang masih saja merengek.
“Tapi, kak, aku pengin boneka itu.” Paksa Fitri.
“Huh! Mengemis sana!” Bentakku lagi.
“Tolong beliin dong, kak.” Rengek Fitri lagi. Tanganku mulai terangkat. PLAK! Sebuah tamparan mendarat telak di pipi adikku. Fitri terkejut bukan main. Ibuku saja tidak pernah menamparnya.
“Sana! Mengadu sama ibu! Dasar anak cengeng! Bisanya cuma minta ini itu!” Aku mendorongnya hingga jatuh ke belakang. Orang orang di sekitar mulai iba. Mereka lantas membantu Fitri berdiri.
“Kamu ini gimana sih? Masa anak nggak salah apa apa disiksa begini?” Tanya seorang ibu yang dari tadi memperhatikanku.
“Loh, suka suka aku lah!” Bentakku kembali sambil menarik keras tangan Fitri. Fitri hanya bisa diam, ia sedikit terisak karena perilaku kasarku padanya tadi.
“Udah! Jangan nangis! Kamu ini udah cengeng! Masih aja minta boneka itu!” Bentakku pada Fitri. Namun, aku tak sadar jika Fitri itu sayang padaku.
“Kakak! Awas!” Teriak Fitri. Aku mengacuhkan teriakannya, berharap adikku itu segera pergi.
Bruk! Kepalaku terbentur terotoar jalan. Ya, lumayan sakit juga.
Orang orang berkerumun disana. Aku penasaran juga ikut kesana.
“FITRI! KAMU KENAPA?! FITRI! BANGUN!” Aku mengguncang guncangkan badan Fitri. Tak terasa, air mataku mulai mengalir. Seorang ibu mencoba memegang denyut nadi Fitri. Namun, Fitri sudah tewas. Tewas dalam kejahatanku padanya. Aku sungguh menyesal.
“Fitri, maafin aku. Maafin kakak, Fitri. Kakak nyesel udah bentak bentak kamu kayak tadi,” isakku. Mata Fitri tetap terpejam. Aku berharap, agar Fitri kembali lagi kepadaku.
Aku berlari ke luar, lergi ketoko boneka. Aku melihat boneka itu masih tergantung disana. Kurelakan uang sakuku habis untuk boneka itu.
“Terima kasih!” Ujarku sambil membawa boneka itu pulang ke rumah. kutaruh boneka imut itu ke samping jasad Fitri yang sudah terbungkus kain kafan.
“Aku tahu kalo aku ini jahat, Fitri. Maklum jika kamu tak mau memaafkanku. Sudah dari awal, aku membencimu. Tapi, sebagai permintaan maafku, tolong terima boneka yang kamu inginkan tadi.” Ujarku. Air mataku kembali menetes.
Aku bersimpuh di sebuah gundukan tanah. Dengan ukiran batu nisan, LIDYA FITRIANI BINTI SASONO MULYADI. Kutaburkan bunga bunga sambil memanjatkan doa.
“Tunggu aku disana ya, dik. Aku sayang sama kamu, adikku.” ujarku sambil beranjak dari sana. Aku tak pernah tahu jika fitri sangat sayang sekali padaku. Pernah sekali, aku minta dibelikan buku menggambar. Dan, fitri lah yang membelikannya untukku. Tapi, aku justru merobek buku itu, lalu membakarnya hingga hangus. Melihat hal itu, Fitri marah. Tapi, dia masih tetap sayang padaku.
Pengorbananmu sungguh besar, Fit. Kamu korbankan nyawamu demi menyelamatkanku dari tabrakan bus itu. Terima kasih, Fitri. Aku akan ingat kamu selamanya.
END
Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Facebook: Lila Azzahra
Adik
4/
5
Oleh
Unknown
