Kisah Masa Kecil

Baca Juga :
    Judul Cerpen Kisah Masa Kecil

    Sebut saja aku Vita, dan tiga teman perempuanku yang bernama Saras, Heni, Arina.
    Rian, dia adalah sosok laki-laki yang tampan pintar baik, wajarlah kalau dia diperebutkan bantak cewek begitu juga aku, tanpa pikir panjang kenapa aku bisa sedeket ini sama Rian. Kata emak-emak tukang gosip rumah Rian banyak hantunya, ya begitulah emak-emak kiranya karena ya memang rumahnya Rian di pinggir sungai sepi lagi huu… huu… mrinding. Disitupun Rian mulai ngurung diri di rumah karena tidak ada satu pun anak yang mau ia ajak bermain.

    Rian usianya 3 tahun lebih tua daripada aku. Aku yang dulu ngeyel banget pengen main sama dia, tapi ibuku yang melarang aku ke rumah dia, waktu makan pun aku ke rumahnya tetap aja aku dilarang sama ibu. Pada esok hari waktunya sekolah di SDN Sidomukti 0, aku satu sekolahan sama Rian, Rian kelas 5 aku baru kelas 1. Saat bel sekolah berbunyi waktunya pulang, horeee dan aku pun menghampiri Rian yang dari tadi jalan sambil nunduk. Hari itu hari dimana aku tidak dijemput oleh ibu karena ia sedang ada urusan ya aku jalan bareng deh sama Rian, betapa bahagianya diriku.

    Setelah sampai di rumah aku pun cepat-cepat ganti baju dan bawa roti untuk aku makan bersama Rian. Aku pun tidak mempedulikan apa kata emak-emak yang cerewet itu yang selalu berusaha melarang, Rian orangnya baik kok ramah lagi ya kan yang berteman aku bukan situ kan mak.

    Setiap hari saat pulang sekolah aku selalu ke rumahnya dan bermain bersama, lama kelamaan orangtuaku mengizinkan aku untuk bermain dan tak lama lagi teman-temanku juga ikut bermain bersama aku dan Rian. Di belakang rumah Rian terdapat tempat yang sejuk begitu juga dengan pemandangan sawah yang juga berda di belakang rumahku. Setiap hari selesai Shalat Dzuhur kami bermain dan membersihkan tempat itu dengan bergotong royong, dan nantinya tempat itu ingin kami jadikan tempat yang paling tak terlupakan. Lain halnya bermain di situ kami pun bermain di dalam rumah Rian, permainan yang paling sering kita mainkan yaitu Ingklek, tetek Boto, peta umpet, Betengan, rambatan, bersepeda, jamuran, maling-malingan, dan Sodoran itu bahasa kita bahasa Jawa Tengah Kota Pati.

    Saat kita bermain sodoran betapa Lebaynya Arina yang tiba-tiba menangis entah kenapa, merusak suasana banget kan! Dan esok hari juga begitu saat enak-enakan main tiba-tiba ia nangis, emang ya cengeng anak Mami tuh orang. Di esok hari saat aku di rumah Rian aku melihat Rian bersama kucingnya naik sepeda dan aku dipanggil Rian “Ta, sini peganggin kucingnya kamu aku boncengin” aku langsung terdiam diri sambil menatapnya aku diboncengi yang pertama kali, segera aku melangkah menuju Rian dan berkata “Oke” saat kukira aku diajak berkeliling di luar rumah eh ternyata keliling di dalam rumah saja.
    Pikiranku sempat buyar saat Rian menabrakkan ban sepeda depan di dinding, yaah kucingnya lari tuh, tapi aku masih aja ada di atas sepeda itu, dia tetap boncengin aku sambil bercerita-cerita.

    Esok hari pukul 9 pagi waktu itu hari Minggu, aku dan teman-teman sepakat untuk balap sepeda di belakang rumah Rian. Saat sudah kumpul tuh balap sepeda dimulai pesertanya Didik sama aku walaupun tidak ada hadiahnya. Apalah daya cowok sama cewek balapan, aku disaat itu hanya berfikir tapi saat si Riannya datang gayaku berubah menjadi sok pembalap padahal hati aku sama pikiran aku kemana-mana mikirin gimana kalau aku nanti jatuh, nabrak itu, ketendang atau gimana.

    Saat aba-aba mulai menurunkan tangan aku tanpa berfikir panjang langsung mangayuh sepedaku yang waktu itu sepedaku masih kecil ada ranjangnya di depan apa mungkin bisa menang? Tapi saat mau sampai ke finish Didik terjatuh dan dengan gayaku yang melewatinya dengan santai sambil bicara “makanya hati-hati seperti aku yang tak jatuh-jatuh hahaha” sambil gayanya aku mengangkat daguku, tak lama kemudian ban sepedaku terkena batu yang lumayan gede sampai-sampai akunya yang tak bisa kendalikan dan aku hanya berteriak karena aku takut dan tak lama aku terjatuh dan kembali ditertawakan oleh Didik, dalam hati aku berkata bodohnya aku tak melihat jalan dengan benar ah payah lu.

    Saat itu sepedaku lumayan rusak, selain balapan kita juga bermain di situ saat semua pulang dengan masing-masing dan cukup panas untuk berjalan kaki, aku melihat dari kejauhan kalau Heni sama Arina pengen nebeng di sepedanya Rian, ya udah aku biarkan mereka mendekati Rian akunya yang sekarang sibuk mikirin luka ini dan tak lama aku lewat di depan Rian, Rian memanggilku dan menghampiriku, Heni dan Arina tak mau kalah dia langsung membututi Rian, “Hey Vita, ayo aku boncengin, kaki kamu kan lagi sakit susah kan buat jalan panas pula” kata Rian tak lama Arina langsung berbicara “ah Rian aku boncengin dong capek tau, rumahku kan lebih jauh dari pada Vita”. “Iya bener tuh ya, Aku boncengin juga dong Yan, rumahku juga jauh” kata si Heni. Aku hanya terdiam dan melanjutkan perjalanan karena aku tak peduli. Rian selalu memanggilku dan menarik tanganku lalu memyuruh aku duduk. Waktu itu sepeda yang Rian gunakan sepeda gunug jadi, yah aku duduknya di depan. Si Heni dan Arina pun marah lalu dia berjalan berdua. Setelah sampai di depan rumahku, teman-temanku dari tadi sudah menunggu kita. “Wihh Vita diboncengin Rian” kata Saras lalu aku hanya rersenyum malu karena aku berada pas di depan Rian.

    Sore harinya aku duduk di depan teras rumahku dari kejauhan terdengar langkah kaki, seseorang dan itu Rian. Rian langsung duduk di dekatku, saat kita berbincang-bincang, keluarlah Heni yang berada di dalam rumahnya lalu duduk di teras rumahnya, rumah Heni tepat berada di depan rumahku, tak lama kemudian Arina dan Saras muncul lalu duduk di dekat Heni. Sekejap aku memperhatikan mereka, mereka lalu berbisik bisik sambil melirik tajam kepadaku. Aku pun langsung mengerti, apa mungkin mereka tidak suka denganku karena aku selelu dekat sama Rian, tak lama aku pun berbicara pada Rian “Rian jangan deket-deket sama aku ada yang tidak suka!”. “hem.. kenapa? Siapa yang tidak suka? ” Kata Rian, Rian pun lalu mengangguk-anggukkan kepalanya “oh aku mengerti” kata Rian. Aku hanya terdiam, dan aku bergeser ke kanan agar tidak berdekatan sama Rian, eh Rian malah mepet sama gua sambil bicara gitu, “aku lihat si Three bau ikan Teri ini” lalu melotot dan amarahnya mulai keluar lalu Arina dan Saras langsung masuk ke dalam rumah itu, tanpa disadari si Heni yang badannya Bulat, lalu terjatuh karena dia duduk di paling pucuk kursi panjang. Tak lama aku tertawa melihat ekspresi Heni saat jatuh kesakitan.

    Tak lama kemudian aku dipanggil ayahku untuk memberi makan si imut kelinciku, dan ayahku menyuruh aku mengajak Rian untuk memberi makan kelinci juga, kami pun bercanda, sekitar 15 menit Si Three bau ikan teri ini nyamperin kita, kukira dia mau marah, tapi ternyata mereka mau meminta maaf pada kita atas apa yang mereka perbuat. Dan uluran tangan mereka bertiga menunjukkan bukti bahwa mereka benar-benar ingin minta maaf, tanpa basa basi aku memaafkan mereka bertiga.

    Saat lulus dari SD Rian melanjutkan sekolah di SMP, saat aku ke rumahnya dia sering tidak ada di rumah atau pergi. Jarak antara aku dan Rian semakin jauh dan akhirnya kita menemukan kekasih masing-masing. Aku yang dulu belum pernah mengungkapkan perasaan dan begitu juga dengan dia. Tapi kini kita sudah terlanjur jauh dan akhirnya kita memendam rasa yang waktu kecil sungguh indah.

    Kini aku berada di kelas 9 dan dia sudah lulus SMK, dia sekarang bukan Rian yang dulu, Rian yang sekarang playboy, ngerok*k, sering ke luar malam, dan pergaulannya yang bebas itu makin membuat aku sudah tak lagi bisa mencintainya lagi, walaupun dia Cinta Pertamaku.

    Maafkan aku jika suatu saat nanti aku lupa dengan kenangan kita yang lebih indah dari ini, walaupun kau tak pernah bercerita betapa indahnya kenangan kita saat kecil tapi aku akan tetap mengingat karena kau yang pertama membuat aku mengerti apa itu cinta, dan apa itu sebuah pertemanan.

    Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca kisah waktu kecil, dan janganlah engkau melupakan kenangan yang indah walaupun dia sudah melupakannya!!
    Siapa yang tak ingat Cinta Pertamanya yang kini tergantikan oleh Kekasih kita sekarang.

    Sekian dan Terimakasih.

    Cerpen Karangan: Yuliana Novitasari
    Facebook: Yuliana Novitasari

    Artikel Terkait

    Kisah Masa Kecil
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email