Filosofi

Baca Juga :
    Judul Cerpen Filosofi

    Ada sebuah perkumpulan di dekat rumah, yang mana aku adalah pembimbingnya. Perkumpulan itu berisikan orang-orang cacat fisik di kampung tempatku tinggal dan sekitarnya. Sejauh ini, anggotanya berjumlah sepuluh orang dengan beragam keterbatasan fisik.

    Usianya pun beragam. Kebanyakan dari masalah mereka sudah terdeteksi sejak dari lahir dan terlalu miskin untuk berobat. Ada yang sudah bertahun-tahun hidup tanpa tangan, tak mampu pasang tangan bionik, dia adalah seorang pelukis berharga murah yang harus melukis dengan kaki. Ada yang kepalanya sedikit besar, usianya masih sembilan tahun. Ada yang selama ini hidup dengan sebelah paru-paru.

    Di mata orang awam, aku adalah satu-satunya yang normal di antara mereka. Seorang dokter psikologi yang punya obsesi untuk membagi motivasi pada mereka yang diberikan kasih lebih oleh Tuhan.

    Di tempat ini, kami menangisi banyak hal lalu mentertawai kekurangan masing-masing. Menjadikannya bahan pembelajaran untuk lebih mampu memaknai hidup yang tersisa. Bisa satu hari kemudian, satu jam, satu menit, atau ketika kata berikutnya ditulis.

    Pagi ini aku kedatangan keluarga baru.

    Usianya mungkin masih sekitar dua belas. Laki-laki. Wajahnya murung tak terbendung. Kedua kakinya sudah hilang akibat kecelakaan lalu lintas. Ditabrak mobil orang kaya yang kemudian segera memutar balik mobilnya dan lari.

    Dulu mereka hidup di lingkungan yang masih cukup baik, namun segera jatuh miskin begitu si anak selesai operasi.
    Dia duduk tepat di hadapanku sambil memeluk tongkat kayu buatan ayahnya dengan erat, menunduk, tidak menghiraukan semua tawa yang dibuat untuk menyambutnya.

    “Nah, Bagas.” Aku memanggilnya. “Berhubung kamu baru datang, ada yang ingin kamu sampaikan pada kami semua? Sebuah cerita mungkin, atau pertanyaan?”

    Anak itu tidak langsung menjawab, bahkan mengangkat sedikit dagu yang tertanam di dada itu.

    “Pak Suryo lahir enam puluh empat tahun lalu tanpa tangan, beliau ahlinya di bidang ini,” lanjutku yang memancing tawa malu-malu dari Pak Suryo -orang paling jenaka di antara kami. “Mungkin ada yang ingin kamu tanyakan? Pertanyaan yang bisa membantu kamu kembali memaknai…”

    “Pertanyaan dan jawaban tidak akan mengubah apa-apa,” potong Bagas tiba-tiba, yang menjadi kalimat pertama keluar dari mulut mungil itu. Perlahan ia mengangkat pandangan matanya.

    “Maaf?” ucapku ragu pada apa yang baru saja kudengar.

    “Aku bertanya dan kau menjawab, lalu apa? Aku akan tetap cacat,” jawabnya sarkas. Dari sudut mata, kulihat perasaan terluka dari orang-orang di sekitar kami.

    “Kamu seharusnya tidak berkata begitu, Bagas, itu bukan kata-kata yang bijak. Tuhan bisa marah kalau kamu tidak bersyukur pada apa yang kamu dapat hari ini.”

    “Apa ini adalah sesuatu yang harus disyukuri? Apakah orang-orang yang berkumpul di sini menunjukan sebuah kebijaksaan? Tidak satu pun dari kita cukup bijak, karena di sini kita berkumpul untuk mencari teman, mencoba meyakinkan diri bahwa kita tidak cacat sendirian.”

    “Memang begitu.” Aku menyelanya. “Memang kita berkumpul untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada orang yang boleh sendirian.”

    “Kalau begitu sebenarnya kita semua sudah mengakui kalau kita takut! Kita malu! Kita depresi pada filosofi Tuhan Maha Adil yang selama ini kita paksa untuk percaya! Motto dan slogan dari tempat ini hanya sekedar bualan.” Ia berteriak.

    “Tuhan tidak berfilosofi, Nak. Tuhan tidak pernah sekali-kali pun memaksa kita untuk percaya sesuatu yang bersifat bualan, maka keadilan-Nya itu nyata.”

    “Kalau begitu dimana bisa kubeli keadilan itu?”

    “Dimanapun. Harganya adalah, iman. Kamu tidak akan bisa dapat apapun dari Tuhan tanpa harga tinggi. Harga itu adalah iman,” jawabku datar.

    Anak itu terdiam. Lama sekali sebelum akhirnya kembali menarik napas. “Tidakkah sadar bahwa kita sedang ditipu?” Ia bertanya, melebarkan tangannya seolah menantang pada hadirin yang sedang duduk melingkar bersamanya. “Tidakkah satu saja orang di tempat ini percaya bahwa tidak ada yang berubah kalau kita terus berada di sini? Bertanya dan berpura-pura kecacatan kita bukan sebuah masalah.”

    Para hadirin terdiam, begitu pun aku yang memberi kesempatan bagi orang-orang untuk mencerna kalimat anak laki-laki ini, yang dibalik kalimat besarnya lebih ketakutan dari yang ia bayangkan, lebih kehilangan arah dari pada orang-orang yang tersesat di hutan belantara bersama kegelapan.

    Aku memandang dalam pada orang-orang yang mulai menunduk. Wajah mereka berkerut bingung, tak percaya pada penghinaan besar terhadap mereka yang selama ini sudah lebih dulu percaya. Sudah lebih dulu tertipu, mungkin.

    “Kalau begitu jika kita berada di luar, maka keadaan akan berubah?” Seseorang bertanya. Ibu-ibu yang hanya punya satu mata dan jarinya tidak lengkap.

    “Apa kalau kita tidak percaya pada Tuhan, ada orang yang bisa menjamin kita?” timpal anak muda dengan satu paru-paru itu. Napasnya lemah namun suaranya tegar.

    “Kalau kita pergi dari sini dan hidup sendiri, apa kita akan sanggup melawan segalanya? Apa kita bisa yakin bahwa di luar kita tidak takut?” sambung Pak Suryo.

    “Terkadang berpura-pura itu lebih baik. Setidaknya kalau Tuhan memang tidak ada, kita masih bersama-sama. Masalahnya adalah, Tuhan itu memang ada dan dia menganugerahi keadilan bagi siapapun yang membayar dengan iman.”

    “Tidak,” selaku. “Keadilan Tuhan bukan hanya bagi mereka yang membayar. Tuhan tidak butuh iman kita. Kita yang butuh Tuhan.”

    Anak itu terdiam lagi. Sedetik demi sedetik melemparkan pandangannya pada sekelilingnya.

    “Kami tidak takut. Sekalipun kami memang takut, maka kami takut bersama-sama. Tidak sepertimu, kamu takut sendirian. Karena itu kau ada di sini. Karena itu kau bertanya. Karena itu kau meyakinkan semua orang bahwa kamu benar. Pada dasarnya kamu juga butuh teman. Kamu tidak ingin sendirian, kamu ingin keluarga seperti kami.”

    Dia menundukan kepalanya, membenamkannya pada dada.

    “Nama kamu Bagas, yang artinya sehat dan perkasa. Dunia luar dan tempat ini punya aturan yang berbeda. Pertama, semua orang itu normal. Kedua kita ini keluarga dan menghadapirnya bersama. Kalau ingin menangis, mari menangis bersama-sama, setelah itu kita bersama belajar menjadi tegar menghadapi hidup. Bukan lari. Hanya berusaha untuk tidak terpengaruh. Ketiga kita harus bersyukur. Untuk itu kau harus punya iman. Bagi orang awam mungkin kita semua cacat, namun kita masih bisa hidup karena besarnya rasa syukur, melebihi luas jagat raya, menyentuh dasar arsy.”

    Cerpen Karangan: Viara Noor

    Artikel Terkait

    Filosofi
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email