Judul Cerpen Karena Aku Buta
Hidup begitu kurang adil di mata orang lain. Sayang, aku harus bangga menyangkalnya. Ketika kamu melihat dunia ini gelap, artinya kamu ragu bahwa suatu saat akan ada waktu untuk terang.
“…melihat lebih jauh lagi. Selesai!” Seru Erma. Dia begitu kegirangannya mengusaikan cerita terbarunya. Selanjutnya adalah mengunjungi tempat itu. Erma menuju garasi dan mengeluarkan sepeda motor matic yang telah menjadi pengawal sehari-harinya itu, kemudian meninggalkan rumah dengan rona berseri-seri.
Hari ini tahun keduaku. Semuanya terlihat baik-baik saja, hingga seorang muda yang sepertinya sama dengannya menemaniku. Kami berkenalan kemudian bersama. Erma memang sedang tidak menunggu siapapun, tetapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia sebenarnya mengibaratkan sesuatu. Berimajinasi menjadi hobi terakhirnya. Dia akan setia dengan satu hal yang membuatnya bangga tersebut. Premis cerita selanjutnya yang akan ditulis Erma dicoretkannya di atas notebook berukuran A5 yang penuh kembang-kembang di sampulnya. Sambil sesekali menengok ke depan dimana danau hijau menyegarkan menyaksikannya, ia membayangkan hal-hal yang mungkin tepat untuk dijadikan isi dari ceritanya. Kali ini untuk Erma sendiri. Sesekali mempermisalkan diri sendiri juga sah bukan? “Hmm,” Erma tersenyum.
Gadis di akhir masa remajanya itu terlihat beruntung dengan dress putih tulang dan sepatu hitam, karena menjadi penghuni kedua setelah sepasang kekasih bersantai di bawah pohon rimbun di sebelah bangku yang lain di samping kanannya. Beruntungnya lagi, karena bangku ini masih tetap menjadi tempat setianya. Sekalipun belum pernah ia duduk di bangku yang lain. Erma pun selalu mengatur posisi duduknya di sebelah kiri. Ia senantiasa merasakan kehadiran Arief. Senyum ayu yang tak sengaja digambarnya itu ternyata tak hanya tercium oleh dirinya sendiri. Seseorang membelakanginya. Ia menudungkan kepala di belakang Erma yang sedang duduk menulis karangan. Karena merasakan beberapa helai rambutnya bergoyang ke udara, ia kemudian menoleh ke belakang, arah di mana dirinya yakin angin mungkin sedang menyapanya. Matanya sedikit tercengang dengan seseorang yang entah mengapa membuatnya tertegun kagum. Begitupun orang itu. Umurnya sekitar sama dengannya. Dia mengalihkan pandangan duluan sembari duduk di sebelah kiri Erma, tempat duduk di mana Arief terbiasa menyinggahkan diri bersamanya.
“Hai? Kamu siapa?” Tanya Erma dengan senyum hangat. Namun lelaki itu tak lantas menjawabnya. Ia mengulurkan tangan dan bersalaman. “Saya Ardhi.” Balasnya dengan senyum yang menarik.
“Kamu sudah biasa duduk di sini ya? Bersama siapa? Apa saya perlu mencari tempat duduk yang lain?”
“Oh, bukan. Saya dulu suka duduk di tempat ini, ya di sebelah kanan.”
Suara lelaki itu rasanya sangat mirip dengan Arief. Beberapa saat kemudian setelah perkenalan, Erma pun terang merasakan hirupan nafasnya yang juga sama dengan yang pernah ia ketahui dari Arief.
“Oh ya, kamu suka menulis juga?” Tanya Ardhi dengan kening menggerinyit.
“Juga? Oh em, sedikit. Baru memulainya setahun yang lalu. Kamu juga suka?”
“Kakakku terbiasa mendukungku untuk suka. Tapi ia harus tahu usahanya itu akan gagal sia-sia. Aku lebih menyenangi musik.”
Erma tersenyum sambil melanjutkan karangannya. Entah mengapa hari ini rasanya sedikit berbeda.
“Jadi, cerita seperti apa yang ingin kaubuat selanjutnya?” tanyanya kembali, menekukkan bahu mendekati Erma. Erma yang sedikit gugup menyingsingkan helai rambutnya yang menghalangi pandangan Ardhi ke tulisannya.
“Aku suka yang imajinatif. Gaya yang seperti itu membuatku merasa lebih hidup dan membuka mata.” Ardhi hanya mengangguk-angguk.
“Jadi, kamu masih sering datang kemari juga ya. Di jam-jam segini? Heh,” pekik Ardhi tersenyum sambil menggelengkan kepala menghadap ke arah langit.
“Untung hari ini saya cuti kuliah dan bisa datang lebih awal. Melihat sesuatu di luar jangkauan kita memang menyenangkan bukan?” sambungnya. Erma kaget. Matanya menunjukkan paras heran. Kenangan itu masih sangat segar. Meskipun kini yang ditinggalkan Arief hanyalah setumpuk kenangan. Ia menggagap, “Kata-kata itu…” sembarinya menoleh ke Ardhi. Ardhi yang ikutan heran melihat ekspresi Erma menjedakan kedipan matanya. Menahan sejenak kedua kelopak matanya untuk fokus pada hanya sepasang mata di hadapannya.
“Maaf, aku hanya teringat sebuah hal..” tingkahnya gelagapan. Pun hanya demikian, ternyata mengubah seluruh moodnya di hari menjelang siang tersebut. Ardhi yang belum juga lekas berganti posisi, membuat Erma sedikit bertanya-tanya.
“Kakakku juga mengingatkanku sebuah hal yang akan kuingat sepanjang masa. Katanya aku harus memikirkan kebahagiaanku sendiri. Terkadang aneh juga karena kebahagiaanku saat itu, kupikir direbutnya. Meskipun demikian aku tak pernah membencinya.”
“Begitu ya? Ehm, Arief juga mengatakan hal yang sama dulunya…” sahut Erma mengusapi matanya yang sudah terlanjur basah. Suaranya ikut sedikit terseret-seret. “Ehm, maksudku… Arief, Arief kekasihku.”
“Syukurlah aku tidak pernah membencinya, karena kalau itu yang terjadi, maka aku akan menyesal untuk sepanjang hayatku. Aku hanya perlu terus hidup dan membawa harapannya untukku mendapatkan kebahagiaanku sendiri.”
“Kakakmu orang hebat.”
“Bukankah kekasihmu juga?”
“Iya, dia orang yang sangat tampan, jujur dan penyayang. Semua hal yang dilakukannya aku sangat menyukainya” ujarnya memaksakan senyum getir.
“Aku yakin demikian. Tetapi kecelakaan bus dua tahun yang lalu benar-benar membuatku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Tubuhnya hancur, rasanya bagian dari diriku telah lumpuh total!” jelas Ardhi dengan nada meluap-luap namun masih dalam kategori tenang. Erma menggeliat, terpikir olehnya di mana saat dia sedang menjalani operasi dan menanti-nanti kedatangan Arief menyambutnya di ruangan 006 di habis Maghrib. Empat puluh menit kemudian adalah waktu di mana Erma dan keluarganya berpikir bahwa mereka hanya hidup untuk hari itu. Saat itu, Arief masih di perjalanan. Ia mengabari Erma untuk jangan stress dan memikirkan dirinya karena sekitar tiga puluh menit kemudian ia sudah akan tiba di rumah sakit. “Hatiku berdegup sangat kencang karena dia adalah lelaki kedua setelah ayahku yang selamanya akan selalu kuikatkan janji karena rasa sayangku…” Erma terisak-isak, tak kuat menahan derasnya pahit yang menyatu dengan air matanya. “Dan dia mengalami kecelakaan. Supir bus itu…” tangisnya meluap-luap hingga tepi-tepi rambut yang melekat di sekitar pipinya menjadi kaku dan basah. Ardhi yang tak tega lagi melihat Erma berpaut dalam kesedihan pun perlahan mendekatinya dan meraih bahunya. Samar-samar pandangan Erma tertutup oleh kaos hitam dan jaket kelabu yang mendekapnya.
“Menurutmu, apa dia sangat hebat?” Tanya Ardhi sambil mengelus Erma untuk menenangkan. Erma yang tak kuat lagi bicara hanya menganggukkan kepala. Ardhi merasakan anggukan Erma yang sangat lembut dan tersiksa.
“Kamu mengatakan dia hebat dan demikian, tapi mengapa kau tidak juga mengenaliku?”
“Arief?” tatih Erma mendengus-dengus. Ia kemudian memejamkan mata dan meraba wajah Ardhi yang kemudian Ardhi pun menutup matanya karena merasakan kebahagiaan yang mendekapinya. Erma semakin menemukan garis-garis milik Arief, sosok yang setengah mati ia rindukan selama jarum jam berdentang. Erma memaksakan kembali senyumnya dan lebih mengeraskan kembali tangisannya. Sosok Arief yang dikenalnya ada di hadapannya! Erma pun langsung menggapai Ardhi dan memeluknya. Dengan emosi yang meluap-luap Erma merekatkan belaiannya mengikat Ardhi. Dengan segala rindu yang ditahannya selama ratusan hari rasanya terbayar sudah oleh hari ini. “Kenapa kamu gak ngomong sih Rief… Aku kangen… aku kangen!” keluhnya menancapkan lebih dalam lagi tangisannya pada Ardhi. Ardhi yang sudah tak dapat lagi mengutarakan perasaannya pun balas memeluk Erma dengan seluruh rindu yang jauh lebih lama lagi ditahannya. “Er, aku… bukan Arief.”
Sekejap isak tangis Erma berhenti. “Bagaimana mungkin? Aku sangat mengenali wajahmu, aroma badanmu, caramu bernafas…” Erma berulah sedikit mengamuk karena mengira bahwa Ardhi yang bagi Erma adalah Arief mungkin sedang bercanda. Ardhi menggeleng-gelengkan kepala.
“Arief kakakku, kami kembar. Kau sendiri juga tahu, dia kecelakaan dua tahun yang lalu. Aku yang menemukanmu duluan di sebuah taman kolam ikan bersama ayahmu namun kamu hanya diam saja waktu itu. Aku kaget saat Arief mengatakan bahwa ia juga menyukaimu. Aku sangat menyayangi Arief lebih dari apapun. Karena itu, dengan sangat berat aku pun membiarkan ia yang mendekatimu.” Erma seperti setengah tidak sadar mendengar pernyataan Ardhi.
“Tidak mungkin! Tapi aku hanya menyukai Arief, bagaimana bisa kau sangat sama dengannya?” Gumamnya.
“Karena kami kembar. Dan, aku selalu berada di tempat ini saat kakakku berdua denganmu. Aku hanya menyaksikan kalian berdua, berharap aku pun juga akan mendapatkan kebahagiaanku sendiri suatu saat nanti seperti kakakku yang mempunyai dirimu. Hanya akhir-akhir ini saja karena sibuk kegiatan, aku jadi jarang datang kemari. Kau tidak mengunjungi tempat ini selama satu tahun setelah dia meninggal.” Erma masih belum juga percaya dan bingung karena hal seperti ini baginya terlalu mengejutkan.
“Erma, aku ingin mengenalmu lebih. Meskipun tidak bisa menggantikan posisi Arief, namun setidaknya, aku ingin bisa dekat denganmu.” Pinta Ardhi memegang kedua tangan Erma. Erma tersenyum.
“Tapi aku begitu heran. Mengapa saat kau melihatku, menatapku, bahkan sampai bercakap-cakap denganku, kau tak kunjung bingung karena aku sangat mirip dengan kekasihmu?”
Erma tertawa lirih sebelum akhirnya menjawab, “Aku belum pernah bertatapan langsung dengan Arief selama ini. Untuk itulah aku ingin dia datang ke rumah sakit malam itu secepatnya saat pembukaan perban mata. Karena aku buta. Aku ingin melihat wajahnya sebagai orang yang pertama kali kulihat setelah ayah dan ibuku. Terimakasih, berkatmu aku tahu seperti apa orang yang selama ini aku cintai.”
“Apa?” Ardhi terkesiap.
Selesai.
Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza
Hidup begitu kurang adil di mata orang lain. Sayang, aku harus bangga menyangkalnya. Ketika kamu melihat dunia ini gelap, artinya kamu ragu bahwa suatu saat akan ada waktu untuk terang.
“…melihat lebih jauh lagi. Selesai!” Seru Erma. Dia begitu kegirangannya mengusaikan cerita terbarunya. Selanjutnya adalah mengunjungi tempat itu. Erma menuju garasi dan mengeluarkan sepeda motor matic yang telah menjadi pengawal sehari-harinya itu, kemudian meninggalkan rumah dengan rona berseri-seri.
Hari ini tahun keduaku. Semuanya terlihat baik-baik saja, hingga seorang muda yang sepertinya sama dengannya menemaniku. Kami berkenalan kemudian bersama. Erma memang sedang tidak menunggu siapapun, tetapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia sebenarnya mengibaratkan sesuatu. Berimajinasi menjadi hobi terakhirnya. Dia akan setia dengan satu hal yang membuatnya bangga tersebut. Premis cerita selanjutnya yang akan ditulis Erma dicoretkannya di atas notebook berukuran A5 yang penuh kembang-kembang di sampulnya. Sambil sesekali menengok ke depan dimana danau hijau menyegarkan menyaksikannya, ia membayangkan hal-hal yang mungkin tepat untuk dijadikan isi dari ceritanya. Kali ini untuk Erma sendiri. Sesekali mempermisalkan diri sendiri juga sah bukan? “Hmm,” Erma tersenyum.
Gadis di akhir masa remajanya itu terlihat beruntung dengan dress putih tulang dan sepatu hitam, karena menjadi penghuni kedua setelah sepasang kekasih bersantai di bawah pohon rimbun di sebelah bangku yang lain di samping kanannya. Beruntungnya lagi, karena bangku ini masih tetap menjadi tempat setianya. Sekalipun belum pernah ia duduk di bangku yang lain. Erma pun selalu mengatur posisi duduknya di sebelah kiri. Ia senantiasa merasakan kehadiran Arief. Senyum ayu yang tak sengaja digambarnya itu ternyata tak hanya tercium oleh dirinya sendiri. Seseorang membelakanginya. Ia menudungkan kepala di belakang Erma yang sedang duduk menulis karangan. Karena merasakan beberapa helai rambutnya bergoyang ke udara, ia kemudian menoleh ke belakang, arah di mana dirinya yakin angin mungkin sedang menyapanya. Matanya sedikit tercengang dengan seseorang yang entah mengapa membuatnya tertegun kagum. Begitupun orang itu. Umurnya sekitar sama dengannya. Dia mengalihkan pandangan duluan sembari duduk di sebelah kiri Erma, tempat duduk di mana Arief terbiasa menyinggahkan diri bersamanya.
“Hai? Kamu siapa?” Tanya Erma dengan senyum hangat. Namun lelaki itu tak lantas menjawabnya. Ia mengulurkan tangan dan bersalaman. “Saya Ardhi.” Balasnya dengan senyum yang menarik.
“Kamu sudah biasa duduk di sini ya? Bersama siapa? Apa saya perlu mencari tempat duduk yang lain?”
“Oh, bukan. Saya dulu suka duduk di tempat ini, ya di sebelah kanan.”
Suara lelaki itu rasanya sangat mirip dengan Arief. Beberapa saat kemudian setelah perkenalan, Erma pun terang merasakan hirupan nafasnya yang juga sama dengan yang pernah ia ketahui dari Arief.
“Oh ya, kamu suka menulis juga?” Tanya Ardhi dengan kening menggerinyit.
“Juga? Oh em, sedikit. Baru memulainya setahun yang lalu. Kamu juga suka?”
“Kakakku terbiasa mendukungku untuk suka. Tapi ia harus tahu usahanya itu akan gagal sia-sia. Aku lebih menyenangi musik.”
Erma tersenyum sambil melanjutkan karangannya. Entah mengapa hari ini rasanya sedikit berbeda.
“Jadi, cerita seperti apa yang ingin kaubuat selanjutnya?” tanyanya kembali, menekukkan bahu mendekati Erma. Erma yang sedikit gugup menyingsingkan helai rambutnya yang menghalangi pandangan Ardhi ke tulisannya.
“Aku suka yang imajinatif. Gaya yang seperti itu membuatku merasa lebih hidup dan membuka mata.” Ardhi hanya mengangguk-angguk.
“Jadi, kamu masih sering datang kemari juga ya. Di jam-jam segini? Heh,” pekik Ardhi tersenyum sambil menggelengkan kepala menghadap ke arah langit.
“Untung hari ini saya cuti kuliah dan bisa datang lebih awal. Melihat sesuatu di luar jangkauan kita memang menyenangkan bukan?” sambungnya. Erma kaget. Matanya menunjukkan paras heran. Kenangan itu masih sangat segar. Meskipun kini yang ditinggalkan Arief hanyalah setumpuk kenangan. Ia menggagap, “Kata-kata itu…” sembarinya menoleh ke Ardhi. Ardhi yang ikutan heran melihat ekspresi Erma menjedakan kedipan matanya. Menahan sejenak kedua kelopak matanya untuk fokus pada hanya sepasang mata di hadapannya.
“Maaf, aku hanya teringat sebuah hal..” tingkahnya gelagapan. Pun hanya demikian, ternyata mengubah seluruh moodnya di hari menjelang siang tersebut. Ardhi yang belum juga lekas berganti posisi, membuat Erma sedikit bertanya-tanya.
“Kakakku juga mengingatkanku sebuah hal yang akan kuingat sepanjang masa. Katanya aku harus memikirkan kebahagiaanku sendiri. Terkadang aneh juga karena kebahagiaanku saat itu, kupikir direbutnya. Meskipun demikian aku tak pernah membencinya.”
“Begitu ya? Ehm, Arief juga mengatakan hal yang sama dulunya…” sahut Erma mengusapi matanya yang sudah terlanjur basah. Suaranya ikut sedikit terseret-seret. “Ehm, maksudku… Arief, Arief kekasihku.”
“Syukurlah aku tidak pernah membencinya, karena kalau itu yang terjadi, maka aku akan menyesal untuk sepanjang hayatku. Aku hanya perlu terus hidup dan membawa harapannya untukku mendapatkan kebahagiaanku sendiri.”
“Kakakmu orang hebat.”
“Bukankah kekasihmu juga?”
“Iya, dia orang yang sangat tampan, jujur dan penyayang. Semua hal yang dilakukannya aku sangat menyukainya” ujarnya memaksakan senyum getir.
“Aku yakin demikian. Tetapi kecelakaan bus dua tahun yang lalu benar-benar membuatku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Tubuhnya hancur, rasanya bagian dari diriku telah lumpuh total!” jelas Ardhi dengan nada meluap-luap namun masih dalam kategori tenang. Erma menggeliat, terpikir olehnya di mana saat dia sedang menjalani operasi dan menanti-nanti kedatangan Arief menyambutnya di ruangan 006 di habis Maghrib. Empat puluh menit kemudian adalah waktu di mana Erma dan keluarganya berpikir bahwa mereka hanya hidup untuk hari itu. Saat itu, Arief masih di perjalanan. Ia mengabari Erma untuk jangan stress dan memikirkan dirinya karena sekitar tiga puluh menit kemudian ia sudah akan tiba di rumah sakit. “Hatiku berdegup sangat kencang karena dia adalah lelaki kedua setelah ayahku yang selamanya akan selalu kuikatkan janji karena rasa sayangku…” Erma terisak-isak, tak kuat menahan derasnya pahit yang menyatu dengan air matanya. “Dan dia mengalami kecelakaan. Supir bus itu…” tangisnya meluap-luap hingga tepi-tepi rambut yang melekat di sekitar pipinya menjadi kaku dan basah. Ardhi yang tak tega lagi melihat Erma berpaut dalam kesedihan pun perlahan mendekatinya dan meraih bahunya. Samar-samar pandangan Erma tertutup oleh kaos hitam dan jaket kelabu yang mendekapnya.
“Menurutmu, apa dia sangat hebat?” Tanya Ardhi sambil mengelus Erma untuk menenangkan. Erma yang tak kuat lagi bicara hanya menganggukkan kepala. Ardhi merasakan anggukan Erma yang sangat lembut dan tersiksa.
“Kamu mengatakan dia hebat dan demikian, tapi mengapa kau tidak juga mengenaliku?”
“Arief?” tatih Erma mendengus-dengus. Ia kemudian memejamkan mata dan meraba wajah Ardhi yang kemudian Ardhi pun menutup matanya karena merasakan kebahagiaan yang mendekapinya. Erma semakin menemukan garis-garis milik Arief, sosok yang setengah mati ia rindukan selama jarum jam berdentang. Erma memaksakan kembali senyumnya dan lebih mengeraskan kembali tangisannya. Sosok Arief yang dikenalnya ada di hadapannya! Erma pun langsung menggapai Ardhi dan memeluknya. Dengan emosi yang meluap-luap Erma merekatkan belaiannya mengikat Ardhi. Dengan segala rindu yang ditahannya selama ratusan hari rasanya terbayar sudah oleh hari ini. “Kenapa kamu gak ngomong sih Rief… Aku kangen… aku kangen!” keluhnya menancapkan lebih dalam lagi tangisannya pada Ardhi. Ardhi yang sudah tak dapat lagi mengutarakan perasaannya pun balas memeluk Erma dengan seluruh rindu yang jauh lebih lama lagi ditahannya. “Er, aku… bukan Arief.”
Sekejap isak tangis Erma berhenti. “Bagaimana mungkin? Aku sangat mengenali wajahmu, aroma badanmu, caramu bernafas…” Erma berulah sedikit mengamuk karena mengira bahwa Ardhi yang bagi Erma adalah Arief mungkin sedang bercanda. Ardhi menggeleng-gelengkan kepala.
“Arief kakakku, kami kembar. Kau sendiri juga tahu, dia kecelakaan dua tahun yang lalu. Aku yang menemukanmu duluan di sebuah taman kolam ikan bersama ayahmu namun kamu hanya diam saja waktu itu. Aku kaget saat Arief mengatakan bahwa ia juga menyukaimu. Aku sangat menyayangi Arief lebih dari apapun. Karena itu, dengan sangat berat aku pun membiarkan ia yang mendekatimu.” Erma seperti setengah tidak sadar mendengar pernyataan Ardhi.
“Tidak mungkin! Tapi aku hanya menyukai Arief, bagaimana bisa kau sangat sama dengannya?” Gumamnya.
“Karena kami kembar. Dan, aku selalu berada di tempat ini saat kakakku berdua denganmu. Aku hanya menyaksikan kalian berdua, berharap aku pun juga akan mendapatkan kebahagiaanku sendiri suatu saat nanti seperti kakakku yang mempunyai dirimu. Hanya akhir-akhir ini saja karena sibuk kegiatan, aku jadi jarang datang kemari. Kau tidak mengunjungi tempat ini selama satu tahun setelah dia meninggal.” Erma masih belum juga percaya dan bingung karena hal seperti ini baginya terlalu mengejutkan.
“Erma, aku ingin mengenalmu lebih. Meskipun tidak bisa menggantikan posisi Arief, namun setidaknya, aku ingin bisa dekat denganmu.” Pinta Ardhi memegang kedua tangan Erma. Erma tersenyum.
“Tapi aku begitu heran. Mengapa saat kau melihatku, menatapku, bahkan sampai bercakap-cakap denganku, kau tak kunjung bingung karena aku sangat mirip dengan kekasihmu?”
Erma tertawa lirih sebelum akhirnya menjawab, “Aku belum pernah bertatapan langsung dengan Arief selama ini. Untuk itulah aku ingin dia datang ke rumah sakit malam itu secepatnya saat pembukaan perban mata. Karena aku buta. Aku ingin melihat wajahnya sebagai orang yang pertama kali kulihat setelah ayah dan ibuku. Terimakasih, berkatmu aku tahu seperti apa orang yang selama ini aku cintai.”
“Apa?” Ardhi terkesiap.
Selesai.
Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza
Karena Aku Buta
4/
5
Oleh
Unknown
