Judul Cerpen Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 1
Di dunia yang kata beberapa penulis messy ini banyak kutemukan hal-hal menarik yang dapat kupastikan tidak akan banyak ditemukan oleh sahabat karibku, Aline. Ya, kenyataannya memang tidak pernah dia dapatkan. Misalnya pagi ini, bibi Jasmeen menyeduhkanku susu merk lama sama seperti yang kuminum ketika ibuku meninggal lengkap dengan sepiring paroki, cemilan kesukaan ayah yang dulunya selalu beliau makan bersama-sama dengan putri kecilnya.
Al, kau mungkin lebih senang kalau aku berhenti mempermasalahkan ini, ya kan? Tapi, sungguh bagiku ini penting. Jadi, jika mungkin sekarang kau melihatku entah di mana kau sedang berdiri, maaf ya?
“Hmm,” aku mendengus memberikan tanda bahwa tujuanku telah sampai. Aku berhenti, berlutut, tampak jelas segunduk tanah coklat yang baru saja kering beberapa minggu lalu bagiku menarik kembali ke ruangan itu.
Dadaku sesak, ribuan suara tidak jelas menyelubungi kamar dingin beraroma darah dari kedua gadis yang salah satu dari mereka nyaris sudah tak bernyawa. Aku dan Aline sangatlah dekat. Di antara kami, Aline lah kakak perempuan, tentu saja itu hanya sindiran. Kami lahir dari silsilah yang berbeda dengan rumah sakit dan dokter kandungan yang tidak sama. Usianya pun dua bulan lebih muda dariku tapi tingkahnya yang sok dewasa itu memberikanku dorongan kuat untuk memanggilnya Kak. Jika kau ingin membayangkan seperti apa Aline Brunella, sesuai namanya dia berambut coklat lurus dan panjang, alasan pertama mengapa aku iri padanya. Kedua kalinya adalah karena tinggi badannya 166 cm, ukuran yang cukup membuat badan seksinya kelihatan begitu sempurna, padahal di usia kami yang sama-sama masih 14 aku tidak cukup beruntung untuk dapat memiliki kelebihan-kelebihan pada diri Aline. Rambut hitam sebahu, bergelombang sedikit di bagian bawah, tinggi badan 163 cm, perawakan sedang dan kalau boleh menyombongkan diri sih, kulitku secara alami lebih putih dari Aline. Jika kau pernah menemukan gadis seperti itu, panggil saja orang seperti itu Chavali. Kemudian, mendekatlah dan aku akan memperkenalkan nama lengkapku Chavali Saralee. Hai!
Aku tersadar dari tidur panjangku, mendesah-desah tidak jelas. Aku melihat ke atas, ke samping kanan dan kiri, tapi tak bisa menengok ke bawah. Secara spontan, mulutku menjerit memanggil nama itu, “Aline? Ha…!” aku ketakutan setengah mati. Badanku menggigil, bibirku terasa keras dan kering, badanku rasanya terikat hebat oleh tiga buah sabuk hitam tebal membungkusku seperti ikan laut yang hendak dijual ke para pengepul. Kedua kakiku tidak lagi dapat kurasakan. Mungkin mereka telah hilang? Aku merasakan kehidupan di dada kiriku namun 90% dari berat tubuhku aku tidak lagi dapat merasakannya. Aku sadar, tahu dan takut. Tapi demi Tuhan, semua itu tidaklah penting. Aku hanya ingin menjangkau seseorang yang normal mungkin berada di ruangan itu untuk setidaknya memberitahuku bahwa Aline masih hidup.
“Aline.. Aline, di mana kau?” aku menjerit, menangis dan sesekali menggumam seperti bayi. Beberapa saat setelah usahaku sia-sia aku diam dan mulai ketakutan, memandangi tiga kelambu hijau terang tertutup rapat, menutupi segalanya yang ada di balik mereka. Tanpa Aline di sini, memang apa yang bisa kulakukan? Dengan nada sedikit ngawur aku mulai berprolog, “Mengapa perlu takut, aku kan sudah mati, lagipula sebentar lagi tidak akan bertemu Aline, tidak ada lagi bibi dan paman Saralee, film barbie dan makanan-makanan enak di sore hari yang harus susah payah kuperebutkan dari kekuasaan Aline.” “Sial!” air mata ini benar-benar mengganggu.
“Chavali? Masih nangis?” suara itu bukanlah suaraku. Prologku telah selesai, meskipun tidak ada yang menertawakan atau bahkan memberikan tepuk tangan, rasanya lebih hidup dari beberapa menit lalu. Disusul seorang dokter dan suster atau tepatnya asisten dokter itu sendiri menembus salah satu kelambu hijau terang. Keduanya memakai masker, lateks dan penutup kepala di mana aku hanya dapat melihat mata dan hidung mereka yang telanjang. Jujur saja aku sedikit tersinggung, pikirku mungkin aku ini kurang steril bagi mereka. Apa boleh buat? Dokter memeriksa detak jantungku kemudian melepaskan ikatan jelek itu, syukurlah benda itu sudah lepas dari tubuhku. Aku tidak ingin berlama-lama bersama benda yang tidak aku suka, warnanya buruk, bentuknya netral. Benar-benar bukan styleku.
Ya Tuhan, kedua kalinya kelambu di sisi kananku terbuka, aku kaget dan kembali histeris saat melihat raga gadis yang kukenal dekat terkapar lemah seperti itu. Aku tidak terima. Aku menjerit dan mulai berteriak dengan kata-kata yang tidak jelas dan mungkin jika kini kuingat-ingat kembali apa saja yang telah kulontarkan sepertinya sepuluh baris kalimat terakhir isinya hanyalah umpatan-umpatan. Dokter menahanku dan mencoba menenangkanku. Dia berbisik bahwa sesuatu telah terjadi tetapi malaikatmu baik-baik saja. Tangisanku perlahan mereda, dan beberapa perawat kemudian mendekatkan ranjang tidur kami sehingga jelas kurasakan bahwa jarak di antara kedua kepala kami hanyalah sepanjang sebuah bantal tempat kami sama-sama berbaring. Kepalaku menengok ke arahnya, tak satu pun kalimat kudapati darinya. “Kumohon katakan sesuatu, Al.”
“Ya ampun, masih nangis?” dia bicara. Dia benar-benar bicara. Tapi, mengapa kepalanya tak menoleh ke arahku sama seperti yang kulakukan? Aku ingin sekali turut bicara, dan ketika aku berani melakukannya, kata-kata pertama yang ingin kuucapkan adalah, “Apa kau ma..”
“Chav, aku tidak marah,” ujarnya memotong pertanyaanku. Seenaknya begitu dia menginterupsi pertanyaan yang panjangnya tak seberapa itu.
“Tidak sopan. Kau tidak sopan,” tanggapku. Aku berpura-pura jengkel padahal sebenarnya aku ini sedang sangat bahagia karena pada akhirnya saat kedua kali tersadar, aku mengerti kalau dia masih ‘hidup!’
“Apa yang ingin kaukatakan? Mau main ski lagi?”
“Tidak. Januari tahun depan, aku ingin kita pergi ke Topkapi Palace saja lah.”
“Lalu, apa yang akan kaulakukan di sana?” sambungnya singkat dan sinis.
“Aku… akan berdandan seperti Blair plus bando emas dengan sepatu balet. Dan.. dan kau tentu harus berdandan seperti Ashlyn yang sedikit cupu tapi kuakui gaun-gaun yang dia kenakan memang lebih bagus dari Blair,” entah mengapa aku menjawab pentanyaan sinis itu dalam bahasa yang terbata-bata. Mungkin, memang watakku yang tidak biasa berdebat dengan si cerdas Aline.
Sial, dia diam kembali. Apa dia tidur? Baru setelah lima detik kemudian, suara itu muncul kembali.
“Aku tidak bisa,” tuturnya singkat dengan nada yang kedengarannya tidak sedang bergurau.
“Apa?” hentakku protes.
“Blair adikku, kita sedang tidak lagi latihan dansa. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu saja.”
“Begitu? Dan kau tidak pernah mengecewakanku selama ini!” sanggahku dengan irama naik. Oh Tuhan, sebenarnya percakapan macam apa ini. Kami bicara tanpa bertatapan, tanpa diringi musik kesukaan kami ‘Terrible Things dari Mayday’ bahkan tanpa nonton acara favorit kami, Barbie.
“Sekarang ceritakan padaku, apa yang kau lihat?” setengah menit aku mencoba mencerna pertanyaan konyol itu lalu kemudian menjawab.
“Aku melihat rivalku berubah. Dia tidak sopan, katanya tidak marah tapi matanya tak mau melihatku, dan dia menolak untuk berlibur denganku…”
“Lalu?” sambung Aline, mengisi kehampaan dua detik sampai aku sadar untuk yang ketiga kalinya, mataku ini? Mataku. Bukankah mereka seharusnya terluka? Aku ingat bagaimana cerobohnya diriku saat menghantam jalanan licin berselimut digin tebal dan aku tidak menggunakan akal sehatku saat itu bahwa di antara jalanan curam itu berdiri dua batang pohon dengan ranting-ranting menakutkannya mengkelakar seperti sengaja hendak menjeratku. Dengan kecepatan yang belum pernah kuestimasikan sebelumnya, beberapa ranting itu menancap dan membobol kedua mataku hingga hampir separuh wajahku terasa lepas saat itu. Entah bagaimana belum sempat kurasakan seperti apa rasa sakit yang seharusnya dihasilkan dari kejadian itu, seseorang dengan cepat menangkapku. Aku dapat jelas mendengar dia meloncat, berteriak memanggil namaku dan memelukku dengan gaya yang sudah sangat populer bagiku. Aline bagaikan bantalku ketika kesadaranku sedikit tersisa setelah dia meluncur hebat dan menghantam batu besar berdekorasikan es. Semua itu terjadi begitu saja.
Si Bodoh Aline tertawa atau tersenyum, entah harus kupanggil apa suara melengking itu. Untuk mengakhiri semua kegusaranku, perlahan aku bicara. “Al,” panggilku untuk membuat dia kembali mengakui keberadaanku. Dengan cepat Aline menjawab, “Ya?”
“Lehermu tak dapat menoleh, matamu terbalut perban, yang ingin kutanyakan adalah, ‘setidaknya apa kau juga mengetahui seperti apa bentukmu kini?’ huh?” tuntutku. Entah bagaimana pertanyaan ini kedengarannya bagi dia.
“Tahu!” jawabnya santai.
“Oh, kau tentu juga tahu bukan berapa banyak jahitan di tanganmu, dan tabung oksigen, kau pakai tabung oksigen tidak? Kakimu, apa kau bahkan sadar kakimu itu hampir seluruhnya digips? Apa, apa kau tahu semua itu?” tanyaku emosi.
“Tentu saja. Lalu apa lagi yang ingin kau tanyakan?” Aline lagi-lagi menjawabnya dengan keren sesuai gaya lamanya.
“Aline, pertama-tama pukul berapakah sekarang?”
“14.25 sore.” Sebenarnya aku juga tahu pukul berapa sekarang karena dokter di ruangan itu baru saja mengatakan pukul berapa saat ini setelah seorang dokter yang lain menghampiri dokter tersebut. Aku tidak tahu setan apa yang tengah merasukiku sehingga berani menanyakan hal-hal tolol semacam itu.
“Aline, aku ingin serius. Apa kau tahu bagaimana keadaanku?”
“Kau sehat, matamu… apa masih sakit?” jawab Aline.
“Haha… bodoh,” sahutku pura-pura tertawa sambil memulai atraksi handalku, menangis. “Maksudku, bagaimana kau mendiskripsikan posisiku saat ini, kakiku, maksudku keduanya, tanganku, bisakah kauhitung berapa banyak jumlah jahitanku?” Aku mulai mengeraskan suara tangisanku.
“Kau memar, bengkak, nyeri tapi kita selamat…”
“Bohong! Jawaban macam apa itu, huh? Kau bahkan sama sekali tak melihat apapun,” protesku histeris. Aku tak tahu lagi harus bagaimana menutupi rasa bersalahku ini. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Tapi sepertinya, semua terlambat. Chavali payah! Tak henti-hentinya aku menyalahkan diriku sendiri, meskipun tanpa suara yang kukeluarkan lewat mulutku.
“Chav, semua akan baik-baik saja. Percayalah, aku akan selalu melindungimu,” hibur Aline.
“Kau tak bisa lagi Al, kau lemah, bahkan jemarimu tak lagi memelukku. Kau tega Al, musim dingin seharusnya dapat kita habiskan bersama, seharusnya aku tak mengajakmu bermain ski. Itu, adalah hal yang paling kusesali selama hidup,” kataku menerangkan. Aku memang patut menyesal untuk itu. Menciptakan kesulitan dan mengganggu kenyamanan Aline adalah hobiku, namun bukan begini caranya. Seorang Aline, yang bagiku adalah princess paling sempurna di antara kesekian kisah dalam Walt Disney, sekaligus Barbie terimut yang pernah beruntung dapat kusaksikan mana mungkin berpenampilan mumi menakutkan seperti itu. Aku menggigit sesekali bibir bawahku. Rahangku manggut-manggut. Segala gerakan kuwujudkan demi menahan tangisanku yang semakin memuncak. Bagaimana bisa dia mengatakan kami akan baik-baik saja? Sementara asma yang dideritanya semakin parah. Seharusnya dia mati setelah kecelakaan ini, dia tidak tahan berada di antara salju dan bila bukan karena ulahku yang memintanya keluar menemaniku belajar ski hanya selama seperempat jam saja, tak mungkin seluruh tubuhnya rusak seperti itu. Aku benar-benar payah! Di rumah nanti ketika pulang, mungkin aku masih dapat mengadu pada bibi dan paman, tapi dia? Sekaya apapun dia, tempatnya mengadu hanyalah padaku dan orang-orang perkebunan. Memang, semenjak orangtua Aline bercerai saat itu kami masih 3 tahun, ia benar-benar seorang princessyang memiliki kastil sendiri dengan puluhan pelayan pribadi. Namun, semua itu rupanya tidak pernah cukup baginya. Yang lebih dia butuhkan adalah kasih sayang, dan katanya kebutuhan itu ia dapatkan semenjak belajar untuk memelukku. Aku tak pernah bisa menahan tawa tiap kali dia mengulangi kata-kata tersebut hingga kini kami tumbuh remaja.
Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza
Di dunia yang kata beberapa penulis messy ini banyak kutemukan hal-hal menarik yang dapat kupastikan tidak akan banyak ditemukan oleh sahabat karibku, Aline. Ya, kenyataannya memang tidak pernah dia dapatkan. Misalnya pagi ini, bibi Jasmeen menyeduhkanku susu merk lama sama seperti yang kuminum ketika ibuku meninggal lengkap dengan sepiring paroki, cemilan kesukaan ayah yang dulunya selalu beliau makan bersama-sama dengan putri kecilnya.
Al, kau mungkin lebih senang kalau aku berhenti mempermasalahkan ini, ya kan? Tapi, sungguh bagiku ini penting. Jadi, jika mungkin sekarang kau melihatku entah di mana kau sedang berdiri, maaf ya?
“Hmm,” aku mendengus memberikan tanda bahwa tujuanku telah sampai. Aku berhenti, berlutut, tampak jelas segunduk tanah coklat yang baru saja kering beberapa minggu lalu bagiku menarik kembali ke ruangan itu.
Dadaku sesak, ribuan suara tidak jelas menyelubungi kamar dingin beraroma darah dari kedua gadis yang salah satu dari mereka nyaris sudah tak bernyawa. Aku dan Aline sangatlah dekat. Di antara kami, Aline lah kakak perempuan, tentu saja itu hanya sindiran. Kami lahir dari silsilah yang berbeda dengan rumah sakit dan dokter kandungan yang tidak sama. Usianya pun dua bulan lebih muda dariku tapi tingkahnya yang sok dewasa itu memberikanku dorongan kuat untuk memanggilnya Kak. Jika kau ingin membayangkan seperti apa Aline Brunella, sesuai namanya dia berambut coklat lurus dan panjang, alasan pertama mengapa aku iri padanya. Kedua kalinya adalah karena tinggi badannya 166 cm, ukuran yang cukup membuat badan seksinya kelihatan begitu sempurna, padahal di usia kami yang sama-sama masih 14 aku tidak cukup beruntung untuk dapat memiliki kelebihan-kelebihan pada diri Aline. Rambut hitam sebahu, bergelombang sedikit di bagian bawah, tinggi badan 163 cm, perawakan sedang dan kalau boleh menyombongkan diri sih, kulitku secara alami lebih putih dari Aline. Jika kau pernah menemukan gadis seperti itu, panggil saja orang seperti itu Chavali. Kemudian, mendekatlah dan aku akan memperkenalkan nama lengkapku Chavali Saralee. Hai!
Aku tersadar dari tidur panjangku, mendesah-desah tidak jelas. Aku melihat ke atas, ke samping kanan dan kiri, tapi tak bisa menengok ke bawah. Secara spontan, mulutku menjerit memanggil nama itu, “Aline? Ha…!” aku ketakutan setengah mati. Badanku menggigil, bibirku terasa keras dan kering, badanku rasanya terikat hebat oleh tiga buah sabuk hitam tebal membungkusku seperti ikan laut yang hendak dijual ke para pengepul. Kedua kakiku tidak lagi dapat kurasakan. Mungkin mereka telah hilang? Aku merasakan kehidupan di dada kiriku namun 90% dari berat tubuhku aku tidak lagi dapat merasakannya. Aku sadar, tahu dan takut. Tapi demi Tuhan, semua itu tidaklah penting. Aku hanya ingin menjangkau seseorang yang normal mungkin berada di ruangan itu untuk setidaknya memberitahuku bahwa Aline masih hidup.
“Aline.. Aline, di mana kau?” aku menjerit, menangis dan sesekali menggumam seperti bayi. Beberapa saat setelah usahaku sia-sia aku diam dan mulai ketakutan, memandangi tiga kelambu hijau terang tertutup rapat, menutupi segalanya yang ada di balik mereka. Tanpa Aline di sini, memang apa yang bisa kulakukan? Dengan nada sedikit ngawur aku mulai berprolog, “Mengapa perlu takut, aku kan sudah mati, lagipula sebentar lagi tidak akan bertemu Aline, tidak ada lagi bibi dan paman Saralee, film barbie dan makanan-makanan enak di sore hari yang harus susah payah kuperebutkan dari kekuasaan Aline.” “Sial!” air mata ini benar-benar mengganggu.
“Chavali? Masih nangis?” suara itu bukanlah suaraku. Prologku telah selesai, meskipun tidak ada yang menertawakan atau bahkan memberikan tepuk tangan, rasanya lebih hidup dari beberapa menit lalu. Disusul seorang dokter dan suster atau tepatnya asisten dokter itu sendiri menembus salah satu kelambu hijau terang. Keduanya memakai masker, lateks dan penutup kepala di mana aku hanya dapat melihat mata dan hidung mereka yang telanjang. Jujur saja aku sedikit tersinggung, pikirku mungkin aku ini kurang steril bagi mereka. Apa boleh buat? Dokter memeriksa detak jantungku kemudian melepaskan ikatan jelek itu, syukurlah benda itu sudah lepas dari tubuhku. Aku tidak ingin berlama-lama bersama benda yang tidak aku suka, warnanya buruk, bentuknya netral. Benar-benar bukan styleku.
Ya Tuhan, kedua kalinya kelambu di sisi kananku terbuka, aku kaget dan kembali histeris saat melihat raga gadis yang kukenal dekat terkapar lemah seperti itu. Aku tidak terima. Aku menjerit dan mulai berteriak dengan kata-kata yang tidak jelas dan mungkin jika kini kuingat-ingat kembali apa saja yang telah kulontarkan sepertinya sepuluh baris kalimat terakhir isinya hanyalah umpatan-umpatan. Dokter menahanku dan mencoba menenangkanku. Dia berbisik bahwa sesuatu telah terjadi tetapi malaikatmu baik-baik saja. Tangisanku perlahan mereda, dan beberapa perawat kemudian mendekatkan ranjang tidur kami sehingga jelas kurasakan bahwa jarak di antara kedua kepala kami hanyalah sepanjang sebuah bantal tempat kami sama-sama berbaring. Kepalaku menengok ke arahnya, tak satu pun kalimat kudapati darinya. “Kumohon katakan sesuatu, Al.”
“Ya ampun, masih nangis?” dia bicara. Dia benar-benar bicara. Tapi, mengapa kepalanya tak menoleh ke arahku sama seperti yang kulakukan? Aku ingin sekali turut bicara, dan ketika aku berani melakukannya, kata-kata pertama yang ingin kuucapkan adalah, “Apa kau ma..”
“Chav, aku tidak marah,” ujarnya memotong pertanyaanku. Seenaknya begitu dia menginterupsi pertanyaan yang panjangnya tak seberapa itu.
“Tidak sopan. Kau tidak sopan,” tanggapku. Aku berpura-pura jengkel padahal sebenarnya aku ini sedang sangat bahagia karena pada akhirnya saat kedua kali tersadar, aku mengerti kalau dia masih ‘hidup!’
“Apa yang ingin kaukatakan? Mau main ski lagi?”
“Tidak. Januari tahun depan, aku ingin kita pergi ke Topkapi Palace saja lah.”
“Lalu, apa yang akan kaulakukan di sana?” sambungnya singkat dan sinis.
“Aku… akan berdandan seperti Blair plus bando emas dengan sepatu balet. Dan.. dan kau tentu harus berdandan seperti Ashlyn yang sedikit cupu tapi kuakui gaun-gaun yang dia kenakan memang lebih bagus dari Blair,” entah mengapa aku menjawab pentanyaan sinis itu dalam bahasa yang terbata-bata. Mungkin, memang watakku yang tidak biasa berdebat dengan si cerdas Aline.
Sial, dia diam kembali. Apa dia tidur? Baru setelah lima detik kemudian, suara itu muncul kembali.
“Aku tidak bisa,” tuturnya singkat dengan nada yang kedengarannya tidak sedang bergurau.
“Apa?” hentakku protes.
“Blair adikku, kita sedang tidak lagi latihan dansa. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu saja.”
“Begitu? Dan kau tidak pernah mengecewakanku selama ini!” sanggahku dengan irama naik. Oh Tuhan, sebenarnya percakapan macam apa ini. Kami bicara tanpa bertatapan, tanpa diringi musik kesukaan kami ‘Terrible Things dari Mayday’ bahkan tanpa nonton acara favorit kami, Barbie.
“Sekarang ceritakan padaku, apa yang kau lihat?” setengah menit aku mencoba mencerna pertanyaan konyol itu lalu kemudian menjawab.
“Aku melihat rivalku berubah. Dia tidak sopan, katanya tidak marah tapi matanya tak mau melihatku, dan dia menolak untuk berlibur denganku…”
“Lalu?” sambung Aline, mengisi kehampaan dua detik sampai aku sadar untuk yang ketiga kalinya, mataku ini? Mataku. Bukankah mereka seharusnya terluka? Aku ingat bagaimana cerobohnya diriku saat menghantam jalanan licin berselimut digin tebal dan aku tidak menggunakan akal sehatku saat itu bahwa di antara jalanan curam itu berdiri dua batang pohon dengan ranting-ranting menakutkannya mengkelakar seperti sengaja hendak menjeratku. Dengan kecepatan yang belum pernah kuestimasikan sebelumnya, beberapa ranting itu menancap dan membobol kedua mataku hingga hampir separuh wajahku terasa lepas saat itu. Entah bagaimana belum sempat kurasakan seperti apa rasa sakit yang seharusnya dihasilkan dari kejadian itu, seseorang dengan cepat menangkapku. Aku dapat jelas mendengar dia meloncat, berteriak memanggil namaku dan memelukku dengan gaya yang sudah sangat populer bagiku. Aline bagaikan bantalku ketika kesadaranku sedikit tersisa setelah dia meluncur hebat dan menghantam batu besar berdekorasikan es. Semua itu terjadi begitu saja.
Si Bodoh Aline tertawa atau tersenyum, entah harus kupanggil apa suara melengking itu. Untuk mengakhiri semua kegusaranku, perlahan aku bicara. “Al,” panggilku untuk membuat dia kembali mengakui keberadaanku. Dengan cepat Aline menjawab, “Ya?”
“Lehermu tak dapat menoleh, matamu terbalut perban, yang ingin kutanyakan adalah, ‘setidaknya apa kau juga mengetahui seperti apa bentukmu kini?’ huh?” tuntutku. Entah bagaimana pertanyaan ini kedengarannya bagi dia.
“Tahu!” jawabnya santai.
“Oh, kau tentu juga tahu bukan berapa banyak jahitan di tanganmu, dan tabung oksigen, kau pakai tabung oksigen tidak? Kakimu, apa kau bahkan sadar kakimu itu hampir seluruhnya digips? Apa, apa kau tahu semua itu?” tanyaku emosi.
“Tentu saja. Lalu apa lagi yang ingin kau tanyakan?” Aline lagi-lagi menjawabnya dengan keren sesuai gaya lamanya.
“Aline, pertama-tama pukul berapakah sekarang?”
“14.25 sore.” Sebenarnya aku juga tahu pukul berapa sekarang karena dokter di ruangan itu baru saja mengatakan pukul berapa saat ini setelah seorang dokter yang lain menghampiri dokter tersebut. Aku tidak tahu setan apa yang tengah merasukiku sehingga berani menanyakan hal-hal tolol semacam itu.
“Aline, aku ingin serius. Apa kau tahu bagaimana keadaanku?”
“Kau sehat, matamu… apa masih sakit?” jawab Aline.
“Haha… bodoh,” sahutku pura-pura tertawa sambil memulai atraksi handalku, menangis. “Maksudku, bagaimana kau mendiskripsikan posisiku saat ini, kakiku, maksudku keduanya, tanganku, bisakah kauhitung berapa banyak jumlah jahitanku?” Aku mulai mengeraskan suara tangisanku.
“Kau memar, bengkak, nyeri tapi kita selamat…”
“Bohong! Jawaban macam apa itu, huh? Kau bahkan sama sekali tak melihat apapun,” protesku histeris. Aku tak tahu lagi harus bagaimana menutupi rasa bersalahku ini. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Tapi sepertinya, semua terlambat. Chavali payah! Tak henti-hentinya aku menyalahkan diriku sendiri, meskipun tanpa suara yang kukeluarkan lewat mulutku.
“Chav, semua akan baik-baik saja. Percayalah, aku akan selalu melindungimu,” hibur Aline.
“Kau tak bisa lagi Al, kau lemah, bahkan jemarimu tak lagi memelukku. Kau tega Al, musim dingin seharusnya dapat kita habiskan bersama, seharusnya aku tak mengajakmu bermain ski. Itu, adalah hal yang paling kusesali selama hidup,” kataku menerangkan. Aku memang patut menyesal untuk itu. Menciptakan kesulitan dan mengganggu kenyamanan Aline adalah hobiku, namun bukan begini caranya. Seorang Aline, yang bagiku adalah princess paling sempurna di antara kesekian kisah dalam Walt Disney, sekaligus Barbie terimut yang pernah beruntung dapat kusaksikan mana mungkin berpenampilan mumi menakutkan seperti itu. Aku menggigit sesekali bibir bawahku. Rahangku manggut-manggut. Segala gerakan kuwujudkan demi menahan tangisanku yang semakin memuncak. Bagaimana bisa dia mengatakan kami akan baik-baik saja? Sementara asma yang dideritanya semakin parah. Seharusnya dia mati setelah kecelakaan ini, dia tidak tahan berada di antara salju dan bila bukan karena ulahku yang memintanya keluar menemaniku belajar ski hanya selama seperempat jam saja, tak mungkin seluruh tubuhnya rusak seperti itu. Aku benar-benar payah! Di rumah nanti ketika pulang, mungkin aku masih dapat mengadu pada bibi dan paman, tapi dia? Sekaya apapun dia, tempatnya mengadu hanyalah padaku dan orang-orang perkebunan. Memang, semenjak orangtua Aline bercerai saat itu kami masih 3 tahun, ia benar-benar seorang princessyang memiliki kastil sendiri dengan puluhan pelayan pribadi. Namun, semua itu rupanya tidak pernah cukup baginya. Yang lebih dia butuhkan adalah kasih sayang, dan katanya kebutuhan itu ia dapatkan semenjak belajar untuk memelukku. Aku tak pernah bisa menahan tawa tiap kali dia mengulangi kata-kata tersebut hingga kini kami tumbuh remaja.
Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza
Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 1
4/
5
Oleh
Unknown
