Saat Terakhirku

Baca Juga :
    Judul Cerpen Saat Terakhirku

    Diagnosa dokter membuat Silvi menjadi bersedih dan takut akan kematian sebab ia didiagnosa menderita sakit kanker otak stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi.
    Silvi menerima cobaan dan kenyataan ini dengan lapang dada meski dalam hatinya bersedih, akan tetapi orangtua dan saudara-saudara Silvi selalu berusaha untuk membuatnya semangat dan tegar dalam melawan penyakit yang dideritanya.
    Silvi mencoba bersemangat dalam menjalani hidupnya dan berusaha menjadi orang yang berguna bagi orang lain serta berusaha untuk tidak menyakiti orang lain di akhir sisa hidupnya. Dirinya berusaha untuk selalu kuat dalam menghadapi cobaan tersebut. Bahkan ia meminta maaf kepada orangtuanya apabila mempunyai salah sebelum ia pergi untuk selamanya.

    “Yah, bu, Silvi meminta maaf apabila memiliki salah.” ucap Silvi sambil mencium tangan ibundanya. “Ya nak, ibu dan ayah sudah memaafkan tapi kamu harus yakin bahwa bisa sembuh dari penyakit ini.” ujar ibunda Silvi sambil menumpahkan tetesan air mata.

    Orangtua Silvi tak menyangka apabila anaknya menerima cobaan seberat ini. Orangtua Silvi hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan anaknya dan hanya bisa berharap agar anaknya berumur panjang.

    Silvi yang terbaring lemah di rumah sakit mengungkapkan permintaan kepada kedua orangtuanya dan permintaan tersebut diungkapkannya dengan kondisi sangat lemah serta dengan wajah yang sangat pucat.
    “Yah, Silvi ingin berwisata ke jogja untuk terakhir kalinya.” ucap Silvi yang terbaring lemah di rumah sakit.
    “Nanti kalau Silvi sembuh kita akan berwisata kesana nak.” jawab Ayah Silvi sambil mengusap rambut Silvi.

    Orangtua Silvi memilih menolak permintaan anaknya sebab memikirkan keadaan anaknya yang masih terbaring lemah dan sulit untuk berjalan. Meskipun dalam hati orangtua Silvi sedikit kecewa sebab menolak permintaan anaknya tersebut. Orangtua Silvi merasa bahwa permintaan tersebut ialah permintaan terakhir dari anaknya.
    Silvi merasa menyesal sebab permintaan sederhananya tidak bisa dikabulkan oleh orangtuanya, akan tetapi ia berusaha menerimanya.

    Tak lama kemudian, teman satu sekolahannya datang untuk menjenguknya di rumah sakit. Teman-teman Silvi berusaha menghiburnya supaya Silvi bersemangat dalam menjalani hidup. Pada malam hari, teman-teman Silvi berpamitan pulang dan Silvi merasa kesepian sebab hanya ada orangtuanya yang menunggu dirinya.
    Dirinya kemudian memejamkan mata untuk tidur sambil kedua tanganya memegang erat tangan orangtuanya seperti mau pergi untuk selamanya. Saat Silvi tidur, ibunya meneteskan air mata sebab tak ingin kehilangan anak yang begitu disayangi tetapi ayah Silvi berusaha menenangkan ibu Silvi.

    “Aku tidak mau kehilangan anak kita untuk selamanya yah.” ujar ibunya Silvi sambil meneteskan air mata.
    “Kita harus berusaha ikhlas bu apabila anak kita pergi untuk selamanya.” jawab ayahnya Silvi.
    “Iya yah.” ujar Ibu Silvi.

    Akhirnya orangtua Silvi mencoba ikhlas apabila anaknya pergi untuk selamanya dan mereka selalu menjaga anaknya disaat sakit di rumah sakit hingga pagi hari. Saat pagi hari, Silvi bangun dari tidurnya dan berpesan kepada orangtuanya.
    “Jika Silvi pergi, ayah dan ibu harus ikhlas menerimanya ya.” ucap Silvi sambil memegang tangan orangtuanya
    “Baik nak, ibu dan ayah sudah ikhlas kok.” jawab ibunya Silvi sambil mengusap rambut Silvi dan meneteskan air mata.
    “Iya bu.” ucap Silvi sambil terbaring lemah.
    Silvi kemudian mencium kening kedua orangtuanya seperti akan pergi jauh dan tak akan kembali.

    Ketika siang hari, Silvi merasa sangat pusing hingga memegang kepalanya dan tiba-tiba memejamkan mata serta detak jantung berhenti. Orangtua Silvi kemudian berlari untuk memanggil dokter sebab panik akan anaknya yang semakin parah. Setelah diperiksa, dokter mengungkapkan bahwa Silvi telah memejamkan mata untuk selama-lamanya. Keadaan berubah menjadi haru.

    “Silvi… bangun nak, jangan tinggalkan ibu disini.” ucap ibu Silvi sambil berlinang air mata saat melihat jenazah Silvi.
    “Udah bu, kita harus ikhlas akan hal ini.” ujar Ayah Silvi sambil menenangkan Ibu Silvi.
    Orangtua Silvi merasa kehilangan anak semata wayangnya tersebut dan membuat mereka tak henti-hentinya menumpahkan tetesan air mata akan tetapi orangtua Silvi berusaha ikhlas serta berusaha tabah akan hal ini agar anaknya tidur dengan tenang di alam sana.
    “Selamat jalan nak, tenanglah di alam sana dan ayah hanya bisa mendoakanmu dari sini.” ucap Ayah Silvi sambil mencium kening jenazah Silvi untuk terakhir kalinya.

    Penyesalan yang amat dalam berada di benak kedua orangtua Silvi sebab menolak permintaan terakhir Silvi sebelum memejamkan mata untuk selamanya. Mereka menginginkan waktu dapat diputar kembali agar bisa menuruti permintaan anaknya tersebut akan tetapi nasi sudah menjadi bubur dan Silvi kini hanyalah menjadi sebuah kenangan sebab namanya telah tertulis di batu nisan yang tertancap di tanah. Namun, kenangan Silvi semasa hidup akan terkenang abadi di dalam hati kedua orangtuanya dan teman-temannya.

    Cerpen Karangan: Naufal Luthfi Afif Habibullah
    Facebook: Nau

    Artikel Terkait

    Saat Terakhirku
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email