Senja di Pantai Gandoriah

Baca Juga :
    Judul Cerpen Senja di Pantai Gandoriah

    Aku memang mengagumi salah satu belahan dari Pulau Sumatera ini. Sumatera Barat. Beruntung Bibiku (adik ibu) bersuamikan orang Minang. Dan secara otomatis Bibiku pun ikut tinggal di kampung halaman Paman. Ini liburan pertamaku di Pulau Andalas. Setelah satu semester berkutat dengan tugas kuliah, kemudian mati-matian merayu Ibu agar mengizinkan aku berlibur kemari. Jarak antara Yogyakarta dengan Sumatera Barat memang tidak bisa dikatakan dekat. Wajar saja jika Ibu sulit mengizinkanku, terlebih Ayah.

    “Kak, mau jalan-jalan ke pantai? Riri temanin yuk!”

    Aku meletakkan novel yang belum tandas kubaca. Riri adalah anak pertama Bibi, gadis kelas dua SMA ini memang sudah menganggapku seperti Kakak kandungnya sendiri. Riri dan Dio adiknya bersikeras memanggilku dengan sebutan Kakak bukan Mbak, meski dalam tubuh mereka juga mengalir darah kejawen. Barangkali karena mereka lahir dan besar di Ranah Minang. Logat kejawennya sama sekali tak terlihat dari kedua adik sepupuku ini.

    “Malas, Ri. Mau ngapain sih?”
    “Kak, Sunset di Pantai Gandoriah tak akan mengecewakan.”
    Belum juga aku menjawa, ia sudah menarik lenganku. Tempat tinggal Bibiku memang tak jauh dari pesisir pantai. Bahkan saat malam tiba, debur ombak pun terdengar.

    Gandoriah, salah satu tempat yang memang ingin aku kunjungi setelah berada di sini. Dan sore ini aku sudah menapakkan kaki di sini. Aku duduk beralas pasir, menanti senja. Kulihat Riri tengah bercakap dengan seorang pemuda. Barangkali temannya pikirku.

    “Kak,” aku terlalu asik menanti senja, hingga tak sadar Riri sudah berdiri di sampingku bersama pemuda itu. “Kenalin ini Bang Ferdy. Dia ini udah Riri anggep jadi jadi Abang Riri sendiri. Bang ini Kakak Riri yang sering Riri ceritain itu loh.” Riri tersenyum riang.

    “Ferdy.” Pemuda di hadapanku ini mengulurkan tangannya.
    “Rindu.” Aku menjabat tangan pemuda yang mengaku bernama Ferdy itu.

    “Kak, Riri mau cari minum dulu ya?”
    “Ri, aku ikut.” Aku lekas ingin beranjak. Enggan jika harus ditinggal berdua dengan orang yang namanya saja baru aku tahu beberapa menit yang lalu.
    “Udah nggak usah. Kakak di sini aja. Bang Ferdy mau kan temanin Kak Rindu sebentar?” Sepertinya Riri sengaja. Kulihat Ferdy mengacungkan dua ibu jarinya.

    Selepas Riri beranjak, yang ada hanya hening. Tidak ada sepatah katapun baik dariku maupun dari Ferdy.

    “Kau suka senja?” Aku tahu Ferdy tengah menatapku. Aku hanya mengangguk. Masih menatap senja dengan semburat merahnya.
    “Kau?” Aku memberanikan diri untuk menolehnya.
    Ia tersenyum, “Seperti aku menyukaimu.”

    Gila! Pikirku. Bisa-bisanya dia berkata demikian. Sedang kami baru saja bertemu dan berkenalan beberapa menit yang lalu.

    “Mungkin kau berpikir ini terlalu cepat, atau mungkin kau berpikir aku gila. Pemain wanita bahkan mungkin. Tapi tidak. Kau memang baru saja menemuiku. Tapi aku sudah lama menemuimu. Dari foto-fotomu.” Dia berkata seperti tepat sekali dapat membaca pikiranku.
    “Fotoku?” Aku mengerutkan kening.
    “Riri.” Jawabnya.
    Aku mengedarkan pandangan. Mencari sosok adik sepupuku. Senja sudah tenggelam, tak lama lagi waktu Maghrib tiba. Aku berpamitan pada Ferdy, kemudian menghampri Riri yang tengah berbincang dengan temannya. Mengajaknya segerap pulang.

    Barangkali ini yang disebut sebagai jatuh cinta pada pandang pertama. Harus kuakui juga, aku jatuh cinta pada Ferdy seperti dia jatuh cinta padaku. Setelah beberapa senja kami lewati bersama. Ferdy sudah seringkali menyatakan perasaannya padaku di saat kami menatap senja bersama. Bahkan memintaku menjadi kekasihnya.

    Aku juga memiliki rasa yang sama. Tapi aku mencoba membunuh rasa itu. Aku takut, jika nanti tak lagi dapat kembali kemari dan tak lagi menjumpainya. Lantas harus kubawa kemana hubungan kami? Sedang aku di sini hanya mengisi waktu liburku.

    Ini adalah senjaku yang terakhir di sini. Ferdy ingin bertemu. Dan memang ini adalah pertemuan kami yang terakhir.

    “Tolong beri aku jawaban sebelum kau pergi, Rin. Bari aku tempat di hatimu.”

    Gandoriah begitu dingin di senja kali ini. Hingga kurasakan hatiku membeku. Dan perlahan gerimis luruh dari dua sudut netraku.

    “Maafkan aku, Fer. Satu hal yang perlu kau tahu perihal hatiku. Hatiku sejatuh cinta hatimu.” Aku mencoba bicara disela isakku.
    “Lantas apa yang membuatmu ragu?”
    “Aku takut tak dapat menjumpaimu lagi. Kau tahu bukan, aku di sini hanya sekadar mengisi liburku. Fer, biarkan cinta ini ada di hati kita. Biarkan waktu yang menyatukannya. Biarkan senja yang akan kembali mempertemukan kita.” Hujan di langit mataku semakin menderas, menganak sungai di pipiku, mencipta banjir di sana.

    Biarlah senja di Gandoriah jadi bagian dari ceritaku denganmu. Seseorang yang kucinta namun tak sempat menjadi milikku.

    Cerpen Karangan: Novi Aprillia
    Facebook: Novi Aprillia

    Artikel Terkait

    Senja di Pantai Gandoriah
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email