Kepergian Pertama

Baca Juga :
    Judul Cerpen Kepergian Pertama

    Air sisa hujan semalam masih tersisa di jalan membuat kolam-kolam kecil, menimbulkan percikan air ketika sepeda motor dan mobil melintas mengenai pejalan kaki di pinggir trotoar. Riana masih setia berjalan di trotoar ke arah sekolahnya yang dekat dari rumahnya sesekali ia menatap sepatunya yang sedikit kotor karena kena percikan genangan air di jalan akibat pengendara motor itu, dengan muka sedikit sebal ia terus berjalan dan hati-hati untuk tidak berjalan terlalu dekat dengan jalan menghindari percikan air lagi. Gerbang sekolah mulai terlihat beberapa murid mulai masuk ke dalamnya termasuk Riana yang berjalan santai di koridor kelasnya.

    “Riana” teriak seseorang.
    “ada apa? Biasa aja gak usah lari kehabisan nafas kan” Riani menatap ilham teman akrabnya
    “kehabisan nafas gak kenapa-kenapa asal kamu yang kasih nafas buatan untuk ilham hehehe”
    “gak usah gombal” Riani kembali berjalan meninggalkan ilham
    “aku mau lihat tugas mtk dong belum kerjain nih susah”
    “susah atau kamu sibuk jalan-jalan terus hunting”
    “ayolah nanti aku traktir deh di kantin” rayu Ilham “gak mau kerjain sendiri gampang”
    “menurut kamu gampang riani kamu pinter aku? Ayolah” Ilham terus merayu sampai mereka tiba di kelas dengan sedikit kesal riani meminjamkan buku tugasnya kepada sang kekasihnya.

    Suasana kantin terlihat ramai semua bangku terisi, untung saja Riani dan ilham dapat tempat biarpun di pojok kantin yang lumayan sempit.
    “mau pesen apa princess?” tawar ilham “gak usah manggil princess tempat umum ini” Riani sedikit kesal
    “iya maaf mau nasi goreng atau roti bakar?” “roti bakar aja deh rasa coklat ya ham”
    “okelah tunggu ya sayang” Ilham pergi dengan cepat di antara antrian kantin yang terlihat sumpek.
    Sementara Riani menatap ponselnya asik sibuk bermain game yang baru ia download dari handphonenya.
    “ri ini rotinya rasa coklat dan coklatnya yang banyak” Riani menatap roti itu dengan tatapan maut yang menandakan ia segara menghabiskan roti itu
    “makasih ya ilham” “sama-sama ri, oh ya nanti pas pulang kita gak bareng ya aku mau urusin kuliah di ruangan BP”
    “oke aku bisa pulang sendiri” mereka berdua hanyut dalam obrolan sibuk menghabiskan makanan dan bertukar pikiran satu sama lain sesekali ilham mengelurkan gombalnya membuat riani sedikit kesal tapi senang.

    Jam pulang sekolah sudah hampir setengah jam lalu, Riani masih berdiri di koridor sekolah menatap lapangan yang dibahasi hujan kali ini dia tak mau nekat pulang saat hujan takut sakit karena besok ada ujian matematika beberapa temannya memilih untuk hujan-hujanan dari pada pulang terlalu malam. Dari kejauhan di depan gerbang sekolah ia melihat seseorang mengendarai motor mendekati dirinya motor itu tak asing seperti motor kakaknya.
    “riani untung masih di sekolah” bisma menghampiri dirinya
    “iya kak ujan gak mau nekat pulang” “pakai jas hujannya nih” riani mengambil tas kecil itu yang berisi jas ujan
    “ilham kemana gak pulang bareng?” “dia lagi di ruang BP konsultasi kali”
    “oh ya sudah yuk pulang mama pasti nungguin” motor matic itu meninggalkan gedung sekolah dengan cepat menghilang di persimpangan jalan sekolah.

    Ilham menatap brosur di tangannya ia terus memperhatikan dengan detail nama universitas swasta itu perlahan ia pahami, tempat universitas itu jauh berbeda pulau ia sekali lagi menatap alamat kampus itu Palu Sulawesi tengah.
    “gimana ilham kamu yakin disini?” tanya pak rahmat
    “saya pasti ambil di daerah sulawesi pak”
    “kamu tunggu SNMPTN aja terus kalau dapat di ambil kalau gak ikut SBMPTN”
    “saya kalau gak dapat SNMPTN saya langsung ambil swasta pak kata ayah saya begitu”
    “kenapa memangnya? Negeri murah loh”
    “ayah saya udah berangkat kesana sama ibu saya tinggal saya sendiri disini sama bibi saya jadi ya harus pindah kesana cari tempat kuliah yang pasti” jelas ilham
    “oh ya sudah keputusan ada di tangan kamu pikirin baik-baik jangan sampai salah ambil keputusan”
    “iya pak terima kasih ya saya pamit pulang pak”
    “iya hati-hati ya masih hujan di luar”
    “baik pak” ilham meninggalkan ruang BP ada yang ia sembunyikan dari Riani. Rahasia yang cukup besar untuk kelanjutan hubungan mereka berdua.

    Rumah besar itu tampak terlihat sepi hanya pak imam berdiri di depan pos satpam yang selalu menatap ke depan gerbang rumah, Ilham semakin dekat dengan rumahnya ia menatap mobil berwarna silver terparkir di bawah guyuran hujan pak imam membuka pintu membukakan pintu untuknya.

    “ada bapak sama ibu den baru sampai sejam yang lalu” ilham hanya menatap dan pergi setelah mendengar informasi dari penjaga rumahnya.
    “Assalamualikum” ilham melangkah masuk kerumahnya
    “Walaikumsalam”
    “ibu mendadak banget ke sini gak bilang-bilang” ilham memeluk ibunya
    “ayahmu cuti dua minggu nanti abis kamu ujian negara kita kesana bareng ya”
    “ke palu? Terus sekolah aku gimana?”
    “nanti kan bisa minta tolong kalau ada informasi minta kasih tau temanmu” jelas ayah
    “tapi kan yah saya belum bilang ke riani”
    “cuma seminggu kamu di palu nanti balik lagi kesini, kamu kan harus cari tempat kuliah swasta cari informasi saja abis itu balik nanti pas pengumuman SNMPTN kalau keterima kamu balik urusin berkas kalau gak cari tempat swasta” jelas ayah
    “ya sudah baiklah” ilham melangkah kan kakinya memasuki kamarnya menjatuhkan badanya ke kasur menatap langit kamar berwarna putih perlahan matanya mulai tertutup hari ini ia lewati cukup lelah.

    4 hari menuju ujian nasional siswa kelas tiga disibukan dengan setumpuk buku pelajaran tak ada lagi jam kosong untuk bermain semuanya serius menentukan masa depan. Riani terus menatap buku tebal itu dengan tatapan kosong biologi membuat dirinya pusing nama-nama latin hewan dan tumbuhan memenuhi kepalanya, tak sadar hidungnya berdarah Ilham yang baru sampai kelas langsung menutup hidung kekasihnya dengan sapu tangan.
    “hidungmu berdarah, kamu terlalu diporsir belajarnya” ilham membantu riani membersihkan darah itu
    “terima kasih ya”
    “sama-sama jangan terlalu dipaksakan nanti kamu sakit kamu harus sehat sebentar lagi ujian besar”
    “iya aku tau terima kasih lagi ya kamu sudah ingatkan aku lagi”
    “itu tugas aku jangan sungkan ya, gimana kalau sekarang kita makan dulu di kantin bu rena gak masuk kita cuman dikasih soal-soal”
    “boleh aku juga lapar” mereka berdua meninggalkan kelas berjalan beriringan sambil berbincang hal-hal yang membuat perut riani dikocok.
    “kamu cantik deh kalau senyum kayak gitu” “gak usah puji gitu nanti aku terbang hehehe”
    “beneran tau semoga aku tetap bisa lihat senyum kamu ya”
    “tiap hari juga bisa lihat kok” mereka menatap satu lama lain dan melanjutkan perjalanan mereka ke kantin.

    Jam menunjukan pukul tiga sore, bel pulang sekolah baru saja berbunyi semua murid sudah meninggalkan kelas termasuk riani dan ilham mereka sudah di parkiran.
    “gimana kalau kita jalan-jalan dulu ri?” tanya ilham
    “kemana emangnya? Aku cape mau istirahat” riani memasang wajah lelah
    “yah gimana kalau abis ujian aja kita jalan-jalan ke anyer?”
    “boleh deh sekarang pulang yuk” ilham melajukan motornya meninggalkan gedung sekolah yang berdiri kokoh. Di sepanjang perjalanan pulang riani dan ilham tak berbicara sama sekali riani bersandar ke pundak ilham sesekali ia melihat sekilas wajah ilham ia baru sadar ada darah di jaket kekasihnya riani memegang tangannya hidungnya kembali mimisan dengan cepat ia membersihkannya.
    “sudah sampai di rumah kamu ri”
    “terima kasih ya ilham hati-hati di jalan”
    “iya kamu istirahat ya aku pamit bye”
    “bye ilham” riani memasuki rumahnya langkahnya terlalu kecil kali ini ia jatuh sakit perlahan ia mendekati kakaknya yang duduk di sofa depan tv. Riani menjatuhkan badannya tepat di samping kakaknya.
    “ri bikin kaget aja si”
    “kak mama mana? Aku gak kuat nih” dimas menatap riani wajahnya pucat
    “sebentar ya kakak panggil mama kita ke dokter ya” dimas meninggalkan riani.

    Cahaya matahari mulai muncul dengan berani, Riani sudah siap dengan seragam sekolahnya keadaanya sedikit membaik ia harus pergi sekolah hari ini karena hari terakhir kegiatan belajar untuk kelas tiga, langkah kakinya semakin mendekat ke meja makan sudah ada kakak dan mama yang sedang memasak.
    “loh kamu gak istirahat aja ri?” tanya dimas
    “aku mau sekolah kak ini terakhir kumpul di kelas”
    “kondisi kamu gimana? Baru baikan nanti pas ujian takut makin parah”
    “riani kamu janji sama ibu besok kamu istirahat full tanpa belajar ya” mama menghampiri mereka berdua
    “iya ma besok riani tidur deh seharian”
    “dimas anterin adik kamu pakai mobil ya gak mungkin pakai motor kena angin takut tambah parah”
    “baik ma” sarapan pagi itu terlewati dengan lancar.

    Gerbang sekolah mulai ramai oleh siswa beberapa dari mereka membawa kendaraan sendiri atau naik kendaraan umum yang melewati sekolah. Riani menatap ke luar jendela setelah ia menaruh tasnya di kursi sesekali ia memperhatikan wajah teman-teman seangkatannya yang terlihat pucat dan lesu mungkin mereka belajar siang malam untuk hari senin esok yang amat sangkat dinantikan setelah tiga tahun belajar.

    “riani” tiba-tiba saja ilham muncul di hadapannya
    “kaget tau” riani menekuk wajahnya
    “aku masuk ya, aku bawa sesuatu buat kamu” ilham dengan cepat masuk ke kelas dan duduk di samping riani
    “bawa apa? Makanan? Aku udah sarapan tadi di rumah”
    “siapa bilang sarapan ini kado buat kamu” ilham menyerahkan kotak kecil berwarna merah maruun itu
    “terima kasih ilham, tapi aku lagi gak ulang tahun loh”
    “aku mau kasih aja tapi dibukannya nanti ya tunggu perintah dari aku” ilham menatap riani
    “kok gitu si?” “biar jadi kejutan sayang”
    “okelah kalau begitu jangan lama-lama tapi”
    “sabar dong penasaran banget ya” riani mengangguk

    Sepulang sekolah riani dan ilham mampir ke toko bunga yang jaraknya lumayan jauh seperti biasa ilham membelikan riani setangkai mawar merah dan satu buket bunga krisan untuk di ruang tamu rumah riani.
    “mba semuanya berapa?” ilham menanyakan harga ke kasir
    “tujuhpuluh ribu mas” ilham menyerahkan uang seratusribuan
    “ini kembaliannya mas terima kasih telah datang ke toko kami” ilham hanya memberikan senyumnya ke penjaga kasir itu
    “mel kamu tau gak? Cowok yang tadi itu setiap minggu kesini tau rajin banget beliin mawar sama krisan buat pacarnya” teman penjaga kasir itu sedikit memberitahu teman barunya yang menjadi karyawan
    “romatis banget kalau kayak gitu ya mau dong aku dikasih bunga juga”
    “makanya cari pacar” mereka berdua menatap ilham dan riani yang menghilang di persimpangan dekat toko bunga itu

    Hari pertama ujian nasional
    Ilham menatap kartu ujiannya dengan serius memperhatikannya dengan tatapan yang kosong seperti ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang pagi ini.
    “waktunya semakin dekat riani bersabarlah dengan waktu sayang” batin ilham
    Sekali lagi ia menatap kartu ujiannya sebelum di masukan ke dalam tas. Ilham berlari menuruni anak tangga menatap ayah dan ibunya yang sudah siap untuk sarapan bersama.
    “kamu kapan bilang sama riani kamu kepalu?”
    “belum bu saya takut dia kecewa”
    “gimana kalau kamu bilang ke palu mau berkunjung ke rumah nenek” saran ayah
    “betul kata ayah tiga tahun kamu belum kesana kan nanti balik lagi kesini”
    “saya coba semoga dia paham” sarapan itu berlangsung cepat ilham sudah meninggalkan rumahnya dengan motor sportnya berwarna merah.

    Parkiran terlihat ramai siswa kelas tiga memenuhi koridor sekolah beberapa ada yang membawa buku dan berbicang dengan temannya agar rasa gelisah sedikit berkurang karena efek ujian nasional ini. Riani baru sampai sekolah pandanganya tertuju pada motor sport merah di parkiran pikirnya mungkin ilham sudah datang lebih awal.
    “hey tumben udah datang pagi-pagi gini” riani menepuk pundak kekasihnya
    “iya dong gak mau kesiangan ini kan hari yang spesial”
    “baguslah kalau gitu”
    “udah bel masuk ruangan yuk aku anterin ke ruangan kamu”
    “gak usah kita kan sebelah doang gak bakalan nyasar”
    “ya sudah semangat ya berdoa” “iya kamu juga berdoa ya” riani tersenyum simpul saat ilham memberinya kedipan mata.

    Tiga hari berlalu dengan cepat ujian nasional terlah berlalu semua murid kelas duabelas menyambutnya dengan gembira wajah mereka bersinar seperti tak ada beban lagi yang menghampirin mereka. Riani menatap kado dari ilham yang belum ia buka sama sekali masih menunggu perintah dari kekasihnya. Hari ini ilham pamit untuk berangkat ke palu dari pesan singkat ia hanya pergi dua minggu saja semoga tak lebih dari perkiraan.
    “aku mau take off, kamu sudah boleh buka kadonya” riani menatap ponselnya pesan singkat dari kekasihnya tanpa membalasnya riani membuka bungkus kado itu. Jam tangan bertali warna merah dan cincin itu membuat dirinya sedikit terkegut.
    “hai sayang, saat kamu buka kotak ini aku dalam perjalanan pulang ke tanah kelahiran aku. Aku titip jam ini ya agar kamu ingat terus tentang waktu yang membawa aku pergi sebentar jaga baik-baik ya dan cincin itu kamu pakai jangan pernah dilepas ya. Coba kamu pakai, bagus pasti keliatan indah di tanganmu itu jaga keduanya baik-baik ya aku pergi sebentar nanti aku balik love you” surat itu membuat sedikit hatinya tidak tenang baru kali ini ilham meninggalkannya dalam jangka waktu yang cukup lama.

    Cerpen Karangan: Daswara Bumi Ayu
    Facebook: Daswara Bumi Ayu

    Artikel Terkait

    Kepergian Pertama
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email