Perbedaan Pembatas Cinta

Baca Juga :
    Judul Cerpen Perbedaan Pembatas Cinta

    Fajar pagi sudah menampakan diri dan aku mulai terbangun dari tidurku. Lagi dan lagi aku memimpikan seorang pangeran. Pangeran idaman semua cewek, tetapi setiap aku memimpikan pangeran itu wajahnya samar-samar. Entah sudah berapa kali aku memimpikan dia. Sudah lupakan hal ini dan aku pun segera mandi dan bersiap untuk bersekolah.

    Ujian Nasional kurang lebih lima bulan lagi. Aku akan mencoba mengikuti Simulasi Ujian Nasional atau Try Out di salah satu sekolah menengah atas di kotaku. Aku mengikuti dengan semangat. Sesampai aku di sekolah tersebut mataku tertuju ke arah sesosok pria berkacamata, entah ada perasaan aneh dengan senior cowok itu. Try Out pun selesai dan ketika aku mau pulang ada seorang cowok menghampiri aku dan ternyata cowok tersebut adalah cowok yang tadi.

    “helo adik, belum pulang juga” sapanya dengan senyum manis
    “belum kak.” Jawabku dengan cuek
    “Leonardi Ryan Andika, panggil saja Leon. Boleh aku antar pulang?” tawarnya
    “Tantri kak, maaf tidak usah repot-repot.” Tolakku
    Tetapi kak Leon tetap memaksa aku dan apa boleh buat aku pulang bersamanya padahal aku tidak pernah mengenalnya.

    Sesampai di rumah, kak Leon pun meminta nomorku dan pin BBMku, ya sudah aku berikan dan kami pun berpisah. Aku baru mengetahui bahwa rumah kita searah

    Setelah seminggu mengenalnya lebih dekat, dengan rasa beraninya kak Leon menyatakan perasaannya padaku. Dengan membawa mawar putih dan sebatang cokelat putih. Entah apa yang ada di pikiranku dengan spontan aku menerimanya. Aku tahu memang kita berbeda tetapi perbedaan itu yang menguatkan cinta kita. Perasaan tidak bisa ditebak oleh siapapun. Mulai hari inilah kita menjalin hubungan dan jalan sama-sama. Sungguh ku tak percaya aku bukan siapa-siapa hanya cewek biasa bisa menjalin hubungan dengan cowok tampan, cerdas dan aktif di sekolahnya. Curhat sedikit ya tentang pacar baru aku.

    Tepat hari ini aku menjalankan Ujian Nasional dengan perasaan khawatir dan cemas aku menjalaninya. Satu kata dari kak Leon yang memotivasiku “Kesuksesan bukan hanya karena percaya diri serta keyakinan melainkan kerja keras dan kemampuan”.

    Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan telah kulewati bersama “Koko Cadel” (nama panggilan kesayanganku dengan kak Leon). Nah aku baru ingat tentang semua mimpiku, yaps ternyata pengeran itu adalah Koko Cadelku yang sekarang menjadi pacarku, mungkin ini bertanda bahwa dia adalah cinta sejatiku. Dan sekarang aku telah menjadi seorang siswi SMA, tetapi aku tidak satu sekolah dengannya karena dia bersekolah di sekolah khusus cowok. Mana mungkin aku masuk disana.

    Satu tahun sudah aku berpacaran dengan Leon. Tepat hari jadi satu tahun, Leon mengajakku makan malam bersama mama dan papanya. Ya memang aku sudah kenal baik dengan mamanya karena aku sering main ke rumahnya. Beliau memang cantik dan masih terlihat muda, jadi aku juga sering curhat dengan beliau tentang masalahku dengan Leon (biasalah suatu hubungan pasti ada masalah). Acara makan malam pun berjalan dengan mulus. Sebelum pulang tiba-tiba Leo naik ke sebuah panggung kecil di restaoran tersebut. Dengan membawa gitar dia mulai bernyanyi

    “Aku untuk kamu, kamu untuk aku
    Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
    Tuhan memang satu, kita yang tak sama
    Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi” nyanyinya dengan penuh penghayatan.

    Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Antara perasaan senang dan sedih saat mendengarkan lagu itu. Akhirnya Leon turun panggung dan mengusap air mataku. Mama Leon pun memelukku dengan penuh perasaan. Mama Leon memang sudah tahu dari awal kalau aku dengan Leon memang berbeda tetapi beliau tetap mendukung karena ini adalah keputusan Leon dan Leon sudah besar.

    Bagaikan petir di siang bolong, seusai Leon pergi dari rumahku Ibuku memarahiku dan menentang hubunganku dengan Leon. Ibuku ternyata sudah tahu bahwa Leon adalah seorang non muslim. Beliau tahu karena tidak sengaja melihat Leon sedang memegang erat rosario. Saat itu juga ibuku menyuruhku untuk memutuskan Leon. Aku menolaknya karena aku benar-benar sayang dia, dan sebaliknya. Dia juga yang paling memotivasi aku dalam segala hal. Baru kali ini aku tidak menuruti kemauan ibuku. Dengan derasnya air mata ini jatuh.

    Setelah ibuku tahu semuanya suasana menjadi sedikit berubah. Ibuku sering melarangku untuk pergi apa lagi pergi bersama Leon. Terkadang aku terus meyakinkan ibuku. Sampai kapan pun aku dan Leon terus memperjuangkan hubungan kita. Dan kita tidak akan bisa dipisahkan.

    Suatu ketika ibuku sudah kesal hampir beliau akan mengusirku dari rumah aku sendiri yang aku tempati sejak aku lahir. Tempat curhatku yang pertama adalah mama Leon, dengan kata-kata bijak dan kasih sayang beliau menenangkan hatiku. Tapi terkadang ada perasaan sedih ketika aku tidak menuruti kemauan ibuku.

    Dengan tekat yang kuat aku berusaha membuktikan bahwa Leon memberikan banyak hal posif, agar aku bisa membuktikan perbedaan bisa mengubah segalanya. Aku berusaha kerja keras agar nilai-nilaiku semakin meningkat. Leon membantuku belajar.

    “AD MAIOREM DEI GLORIAM” kata Leo dengan penuh harap. Entah apa itu artinya, aku pun tidak tahu. Hingga pada akhirnya ibuku sudah mulai mengalah dan capek menentangku.
    “Kekuatan cinta kamu dengan Leo sangat kuat” kata ibuku sambil memelukku.
    “Terima kasih bu.” Membalas pelukannya dan meneteskan air mata.

    Tidak terasa hubunganku sudah cukup lama dan tak terasa Leon yang kelas XII SMA akan menghadapi Ujian Nasional. Aku yakin bahwa Leon bisa dan menakhlukan soal-soal tersebut dan aku terus mendukung dia.
    Di cuaca yang tidak terlalu panas aku duduk di bangku taman sekolah SMA KOLESE KANISIUS. Ini adalah sekolah Leon, salah satu sekolah swasta favorit memang. Tujuanku disini ingin menunggu Leon yang sedang menjalani ujian, daripada aku tidak ada kerjaan di rumah ya sudah aku memutuskan untuk kesini. Terlihat dari kejauhan lapangan sepak bola dengan rumput hijau dan segar, di belakang lapangan tersebut terdapat tulisan “BE HONEST” yang artinya jujur. Katanya sekolah ini ketat akan peraturan kejujurannya. Sekolah ini tidak mentolerir jika siswanya melanggar peraturan tersebut.

    Sesosok bayangan datang menghampiriku dan aku melihat siapa itu, ternyata Leon.
    “Ko sudah selesai? Nyontek nggak” candaku membuka omongan
    “Kalau aku nyontek jelas lah aku sudah dikeluarin di sekolah ini” jawabnya ketus
    Tanpa kusadari aku dilihati oleh seluruh siswa yang ada disini, aku mulai tidak nyaman dan memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dengan menarik tangan Leon tanpa sepatah katapun. Sampai akhirnya aku dan Leon berada di tempat favorit kita.

    Seminggu kemudian kami saling menyibukkan diri masing-masing. Aku sibuk dengan urusan tugasku karena sebentar lagi sudah Ujian Kenaikkan Kelas dan Leon sibuk belajar untuk mengikuti test SBMPTN.
    Mimpi apa aku semalam, pada saat aku membuka handphone aku tidak menemukan kontak BBM Leon. Apa artinya, tanda penuh tanda tanya. Aku memutuskan setelah pulang sekolah untuk mampir ke rumah Leon.

    Sontak dengan perasaan cemas dan kebingungan setelah berada di depan rumah Leon. Rumahnya sepi sekali dan tampak tidak ada orang sama sekali di rumah tersebut. Tiba-tiba ada seseorang memanggilku
    “Tantri” panggil orang tersebut
    “Kok, kok rumahmu sepi” dengan spontan aku tanya seperti aku mengira itu Leon, ternyata itu bukan Leon tetapi Arthur salah satu sahabat Leon.
    “Aku Arthur tan. Kamu belum tahu ya?”
    “Eh sorry kak, belum tahu apa? Leon kemana?” tanyaku.
    “Leon dan keluarganya pindah ke luar negeri. Sebenarnya sudah cita-cita dia untuk kuliah di luar negeri, doanya terkabul dia mendapatkan beasiswa 80 persen alhasil orangtuanya ikut kesana tau sendiri kan mamanya seperti apa. Sebelum Leon pergi dia nitipin surat ini untuk kamu” cerita kak Arthur panjang lebar dan memberikan suratnya.
    Reflek aku meneteskan air mata. Lalu aku mengusap air mataku agar kak Arthur tidak melihatku menangis.
    “Terima kasih ya kak, aku pulang dulu” pamitku dengan wajah sayu.

    Sampai di rumah aku langsung menuju ke kamar dan mengunci pintu kamar. Mulailah aku membaca surat Leon.
    Mungkin kamu membaca surat ini aku sudah berada di negara tujuanku. Maaf aku tidak pernah menceritakan ini semua padamu. Aku tidak ingin kamu bersedih karena perpisahan kita.
    Yang tersayang aku sudah menjadi anak kuliahan, aku mendapatkan beasiswa di Waseda University, Jepang. Memang aku ingin membuktikan kesuksesanku. Seperti apa yang kamu tahu aku selalu berprinsip “Right is right even if no one is doing it, wrong is wrong even if everybody’s doing it’ ”
    Cinta yang hakiki adalah cinta yang tidak mengenal batas (usia, status, ras, suku, agama) begitu pun dengan cinta kita. Sebenarnya Tuhan memang satu, cuma kita berbeda memanggilnya. Bukan salah Tuhan kita terjebak dalam suasana cinta seperti ini, bukan juga salah kita. Maaf sudah membuat kamu menangis selama ini. I always love you. Kekuatan cinta kita yang akan mempertemukan kita kembali.
    Love Leo

    Antara perasaan sedih dan bangga setelah membaca surat ini. Kenapa teganya meninggalkanku dengan cara seperti ini.
    Masih terlintas di pikiranku kenangan-kenangan manis itu, bubur ayam favorit di depan Gereja St. Anna, taman favorit ketika jogging, cafe tongkrongan, aku yang menemani Leon untuk membeli kado Natal, Leno yang menemaniku ngabuburit, dan masih banyak lagi. Entah sampai kapan aku memikirkan Leon.

    “Tan jalan yuk” ajak Shilla membuyarkan lamuanku
    “Males banget ah, jalan sendiri aja shil” tolakku
    “Masih galau ya miirin si Leon? Sadar shil Leon disana kuliah gak macem-macem. Sudah jangan terus-terusan mikirin dia” mencoba memotivasi aku.
    “Gimana gak mikirin aku sama sekali tidak berkomunikasi dengannya” wajahku mulai sedih lagi
    “Sudah ayo cari hiburan, biar gak galau terus” ajak Shilla
    “Baiklah” dengan sedikit terpaksa

    Shilla adalah sahabatku dari SD, aku sudah mengenalnya sudah lama tentunya ketika aku masih kecil dan polosnya.
    Ini yang namanya benar-benar cinta aku tidak bisa melupakannya. Sampai kapan pun aku tetap cinta Leon. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya tetapi tidak bisa, beberapa sosial medianya sudah tidak aktif lagi. Aku benar-benar hilang kontak dengannya. Leon bagaikan ditelan bumi. Satu kata dari Leon sampai sekarang selalu ku ingat “Jangan pernah bermain-main dengan masa depan”.

    Perbedaan bukan untuk disatukan tetapi untuk saling melengkapi. Gelap tidak akan bisa menjadi terang. Cinta itu indah. Agama dan kasih Tuhan juga indah. Keindahan hanya akan bersatu dengan sesamanya. Kenapa harus ada perpisahan karena agama? Yang aku yakini, Tuhan yang disebut dengan berbagai nama, Tuhan seluruh umat manusia, telah memberikan potensi cinta pada siapa saja tanpa memandang agamanya apa. Kita hanya perlu menjaga pijarnya, agar jadi terang bagi sesama.

    Cerpen Karangan: Suci W
    Blog: icedofvanillalatte.blogspot.com
    Facebook: facebook.com/suciwl02
    Twitter: twitter.com/Icus02_

    Artikel Terkait

    Perbedaan Pembatas Cinta
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email