Judul Cerpen Cerita Dibalik Hujan
Ardhi dan keluarganya baru pindah rumah. Awalnya, Ardhi tidak setuju untuk pindah rumah. Karena Kak Angga terus membujuknya, akhirnya ia menyetujui.
Dua langkah memasukki rumah itu saja, Ardhi sudah mengeluh. “Untuk apa, sih, Bunda, kita pindah rumah? Rumah kita yang dulu kan, masih bagus! Terus, rumah ini banyak de..” keluhan dan omelan Ardhi disergah Kak Angga, Kakaknya. “Sst! Jangan mengomel terus, Ardhi!” Omel Kak Angga.
Rumah tua sudah berdebu. Ya, inilah rumah baru Ardhi. “Nanti kamu juga tahu alasan kita pindah rumah ini, Ardhi,” kata Bunda. Aku hanya cemberut saja.
Selain berdebu dan jelek, rumah ini banyak sarang laba-labanya. Lalu, jarak antara rumah barunya ke sekolah, juga cukup jauh.
Suatu hari, Bunda dan Kak Angga mengajak Ardhi ke suatu tempat pemakaman. Terukir nama Ayah Ardhi di salah satu banyaknya batu nisan. Ardhi menangis tersedu-sedu.
“Ardhi, maafkan Bunda, ya. Bunda ingin kita pergi dari rumah dulu, untuk menghilangkan kenangan bersama Ayah,” kata Bunda sambil terisak.
Kini, Ardhi sudah mengerti.
Diam-diam, dari alam yang berbeda, Ayah Ardhi tersenyum mendengarnya.
Cerpen Karangan: Erliana
Facebook: Erliana Densyah
Ardhi dan keluarganya baru pindah rumah. Awalnya, Ardhi tidak setuju untuk pindah rumah. Karena Kak Angga terus membujuknya, akhirnya ia menyetujui.
Dua langkah memasukki rumah itu saja, Ardhi sudah mengeluh. “Untuk apa, sih, Bunda, kita pindah rumah? Rumah kita yang dulu kan, masih bagus! Terus, rumah ini banyak de..” keluhan dan omelan Ardhi disergah Kak Angga, Kakaknya. “Sst! Jangan mengomel terus, Ardhi!” Omel Kak Angga.
Rumah tua sudah berdebu. Ya, inilah rumah baru Ardhi. “Nanti kamu juga tahu alasan kita pindah rumah ini, Ardhi,” kata Bunda. Aku hanya cemberut saja.
Selain berdebu dan jelek, rumah ini banyak sarang laba-labanya. Lalu, jarak antara rumah barunya ke sekolah, juga cukup jauh.
Suatu hari, Bunda dan Kak Angga mengajak Ardhi ke suatu tempat pemakaman. Terukir nama Ayah Ardhi di salah satu banyaknya batu nisan. Ardhi menangis tersedu-sedu.
“Ardhi, maafkan Bunda, ya. Bunda ingin kita pergi dari rumah dulu, untuk menghilangkan kenangan bersama Ayah,” kata Bunda sambil terisak.
Kini, Ardhi sudah mengerti.
Diam-diam, dari alam yang berbeda, Ayah Ardhi tersenyum mendengarnya.
Cerpen Karangan: Erliana
Facebook: Erliana Densyah
Cerita Dibalik Hujan
4/
5
Oleh
Unknown
