Judul Cerpen Batang (Part 1)
Menurut Wikipedia, rok*k adalah silinder dari kertas yang panjangnya antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Itu sih menurut Wikipedia, lain lagi menurut kami. Bagi kami, rok*k adalah benda kecil yang biasa kami hisap saat kami sedang berkumpul ataupun saat sendiri, tidak ada yang bisa menandingi sensasi dari benda yang biasa kami bakar batang demi batang ini.
Seperti yang sudah Anda tebak, kami sangat terobsesi dengan rok*k, kami terbiasa menghisap satu atau dua batang rok*k sehabis bel pulang berbunyi, merelakan dahaga pun sering kami lakukan agar kami bisa melepas kepenatan dengan hembusan asap yang kata banyak orang “Berbahaya”, bahkan untuk beberapa kesempatan, kami rela meminjam uang untuk bisa membeli satu bungkus rok*k untuk dibagi bersama.
Apa kami akan berhenti? Banyak orang yang menyarankan kami untuk berhenti dari kegiatan yang mereka anggap buruk ini, terutama guru BK yang sangat sering menghimbau agar siswanya berhenti merok*k. Bahkan saat ini kami sedang di ruangan BK karena tertangkap basah membawa rok*k ke sekolah.
“Merok*k itu nggak baik, bukan cuma nggak baik buat tubuh kalian, tapi juga nggak baik buat orang-orang yang ada di sekitar kalian, terutama yang sama sekali tidak merok*k.” Ucap guru BK kami, Bu Sinta saat kami sedang berada di ruangannya untuk mendapatkan sedikit ceramah.
“Yang nggak merok*k harusnya hargai dong kami yang merok*k, Bu. Kalau emang nggak mau kena asap rok*k, ya tinggal pergi aja dari situ, simple kan?” Dimas terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan Bu Sinta tadi.
“Terbalik, Dimas! Harusnya kalian yang menghargai yang tidak merok*k.” Bu Sinta lantas berjalan menuju loker untuk membawa sesuatu, sepertinya ia akan membawa surat pernyataan yang harus kami tanda tangani. Seperti biasa, setiap anak yang memiliki kasus harus menandatangani surat pernyataan yang isinya menyatakan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari, aku sendiri sudah pernah menandatangani surat pernyataan ini saat aku terlibat kasus perkelahian di sekolah, namun aku tidak begitu menghiraukan isi dari surat pernyataan yang aku tandatangani itu, biarkan mataku yang lebam ini yang menjelaskan kenapa.
“Nah, sekarang kalian janji nggak akan merok*k lagi terus tanda tangan disini.” Bu Sinta menyodorkan pulpen dan surat pernyataan, aku hanya bisa tersenyum karena tebakanku benar.
“Jon, bener nih kita harus janji sama Bu Sinta?” Bisik Hari kepadaku
“Turutin aja dulu, Har” Kami pun mengucap janji lalu menandatangani surat pernyataan tadi, setelah selesai kami dipersilahkan ke luar dari ruangannya Bu Sinta.
Tidak bisa terpikirkan olehku, kami yang baru menggunakan celana putih abu-abu selama dua bulan sudah harus berurusan dengan BK, seharusnya kami sebagai siswa baru bersikap baik, mengingat status kami sebagai pelajar juga sebagai pendatang baru disini, tentunya sebagai penghuni baru kami harus menghargai penghuni lama, namun yang kami lakukan adalah sebaliknya.
Sebenarnya kami sudah sering terlibat dalam banyak kasus, namun baru kali ini kami bersama-sama dipanggil ke ruangan BK karena biasanya kami melakukan kasus secara individu, seperti aku yang berkelahi di sekolah, Dimas yang mencoba kabur saat upacara, Hari yang berkata tidak sopan kepada guru, dan Andrew yang kepergok memiliki video p*rno di dalam ponselnya.
“Haus juga dari tadi di ruang BK, guru juga kayanya belum masuk kelas, kita ke kantin saja, bagaimana?” Ajak Andrew.
“Boleh tuh, tapi lu traktir ya, Drew? Kan lu baru aja jual koleksi lu ke kelas sebelah.” Andrew mengangguk tanda ia setuju untuk mentraktir kami semua dan kami bersama-sama berjalan menuju kantin.
—
Siang ini nampaknya berbeda dengan siang-siang sebelumnya, karena sampai saat ini belum ada guru yang masuk ke dalam kelas, suasana kelas menjadi tidak terkendali, Dimas yang sudah tidak sabar ingin pulang, juga Andrew yang diam di pojok kelas bersama teman-teman lainnya. Aku belum pernah melihat keadaan kelas sampai sekacau ini, karena sepertinya baru pertama kalinya guru tidak masuk kelas.
“Pak Sunardi nggak ada!” Teriakan Ahmad membuat kelas yang semulanya ricuh menjadi hening.
“Yang benar?” Dimas tidak percaya dengan ucapan Ahmad
“Iya, tadi gue sendiri yang cek ke ruang guru.” Jawaban itu membuat kelas kembali ricuh disertai dengan teriakan “Yeee pulang…” dari Dimas. Memang di sekolah kami seperti itu, kalau guru mata pelajaran terakhir tidak masuk, maka siswa dipersilahkan untuk pulang.
“Batang?” Ajak Dimas saat di tempat parkir. Batang adalah kata yang kami gunakan untuk mengganti kata merok*k karena biasanya kami hanya membeli sebatang rok*k saat berkumpul meski kadang kami juga membeli satu bungkus.
“Loh, bukannya tadi sudah janji ke Bu Sinta gak akan merok*k lagi?” Cegah Hari yang teringat dengan janjinya tadi.
“Ah, didengar amat sih omongannya Bu Sinta. Ayo Dim, Drew, kita pergi ke warung, tinggalin aja si Hari mah.” Kunaiki motorku dan menyalakannya, Hari yang kebingungan langsung menumpang ke motorku untuk ikut ke warung.
Kali ini kami ingin nongkrong sedikit lebih lama di sana, maka dari itu kami patungan untuk membeli sebungkus rok*k. Di dalam sebungkus rok*k itu terdapat 12 batang rok*k, jadi setiap orang bisa mendapatkan 3 batang rok*k, itu jumlah yang cukup untuk nongkrong selama 2 jam.
“Nah, harusnya setiap hari tuh gini, jangan ada guru yang masuk ke kelas waktu jam pelajaran terakhir.” Hembusan asap Dimas seakan menutupi raut muka Dimas yang bahagia.
“Mau gitu mah jangan sekolah aja, simple kan?”
“Loh, rok*k gue satu lagi mana? Perasaan tadi dua lagi.” Andrew terkejut saat melihat sisa rok*knya yang tinggal satu batang lagi.
“Gue yang ambil” Ucapku tersenyum.
“G*blog lu! Kemarikan! Gue masih belum puas nih! Andrew menatapku dengan tajam.
“Lu bego atau apa sih? Itu di saku lu apa? Lain kali jangan simpan rok*k di saku, bahaya tuh kalau ketahuan bau nya.” Kami semua tertawa melihat muka polos Andrew saat melihat rok*k di sakunya.
Menyimpan rok*k di saku baju adalah hal terbodoh yang dilakukan, terlebih jika baju seragammu dicuci oleh orangtua dan orangtuamu tidak mengizinkanmu merok*k. Mereka sangat mudah menuduh anaknya merok*k ketika mencium bau rok*k di saku bajunya, apalagi sampai ada bubuk-bubuk yang menempel di dalam saku, amarah mereka adalah jawabannya, atau mungkin mereka akan memotong uang jajanmu supaya kamu tidak terpikir untuk merok*k karena kamu kehabisan uang.
Oleh karena itu, kami selalu mencari tempat yang jauh dari sekolah maupun dari rumah agar tidak ada guru ataupun keluarga yang memergoki kami merok*k. Jujur saja, selain orangtuanya Hari, semua orangtua kami tidak ingin kami merok*k, mereka terus memperingatkan kami agar tidak merok*k, namun kami tidak mendengarkannya.
“Udah jam 5 nih, gue pulang yah?” Aku berpamitan dengan mereka.
“Gue juga pulang ah, lagian rok*k gue udah habis.” Kami semua pun pulang bersama, kami diam disana 1 jam lebih lama dari rencana yang sebelumnya hanya sampai jam 4 meski kami tidak melakukan apa-apa disana, namun kami seakan berat untuk meninggalkan tempat itu sendirian
—
Kantin adalah tempat yang pas untuk menghabiskan waktu istirahat, kantin juga tempat dimana kita bisa melihat perempuan-perempuan cantik yang silih berganti membeli makanan ataupun minuman, termasuk Hana, perempuan yang sedang aku incar.
“Tambah cantik aja yah Hana.” Gumam Dimas saat melihat Hana di kantin, ucapan Dimas tidak sepenuhnya salah karena Hana adalah salah satu perempuan populer di sekolah, dengan rambut terurai, tinggi semampai, hidung mancung, dan gigi kelincinya tidak heran kalau banyak yang menyebut Hana itu sangat cantik.
“Bodynya itu.” Andrew melihat Hana dengan tatapan anehnya.
“Dasar otak p*rno!” Hari memukul Andrew untuk menyadarkannya dari pikiran jorok yang sepertinya sudah tertanam di dalam otaknya.
“Eh Jon, bukannya lu lagi PDKT sama dia? Jadiannya kapan nih?” Tanya Andrew
“Oh iya, rencananya gue mau ajak Hana main ke taman sepulang sekolah, sekalian juga gue mau tembak dia di sana.” Teringat dengan itu, aku lantas menghampiri Hana untuk mengingatkannya akan rencana untuk pergi ke taman bersama, Hana pun mengangguk dan berkata kalau dia akan menunggu di depan sekolah selepas bel berbunyi.
Akhirnya bel pulang berbunyi, aku yang sudah tidak sabar ingin menembak Hana langsung berlari ke tempat parkir agar bisa segera menemui Hana dan membawanya ke taman, aku tidak mempedulikan kawanku yang masih membersihkan kelas, aku merasa bersalah karena harus meninggalkan mereka, namun aku tidak ingin membuat Hana menunggu lama di depan sekolah.
“Mau langsung ke taman atau diam dulu disini?” Tanyaku kepada Hana saat kami berjumpa di depan sekolah.
“Langsung aja.” Aku memberikan helmku kepada Hana dan Hana pun memakainya lalu menaiki motorku. Sepanjang perjalanan aku melambatkan kecepatan dan berusaha mencari polisi tidur agar aku bisa mendapatkan ‘rasa’ yang kemarin Andrew ceritakan saat nongkrong.
Aku yang sudah lama tidak main ke taman cukup terkejut saat melihat taman yang sekarang, jika dulu disini hanya dilengkapi dua buah kursi dan satu ayunan, kini bahkan di taman ini dipasang wi-fi untuk pengunjung yang menginginkan akses internet gratis disana, juga dengan ditambahnya pepohonan membuat taman ini semakin sejuk saja.
Kami berjalan mengelilingi taman berdua, sepanjang perjalanan, kami hanya membicarakan betapa indahnya taman ini, kami tidak membicarakan hal lain saat itu, apalagi menyatakan perasaan, aku pikir ini bukan waktu yang tepat, aku harus mencari momen yang pas agar membuatnya semakin romantis. Kulihat langit berubah menjadi kelabu, namun aku tidak menghiraukannya karena aku sedang asyik berdua bersama Hana. Setelah sekian lama berkeliling, nampak Hana kelelahan dan mengajakku duduk, kami pun duduk disana.
“Han, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, nggak apa-apa kan?” Kupikir ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku kepada Hana, aku tidak boleh membuang kesempatan ini.
“Ngomong apa? Bukannya dari tadi udah ngomong?” Rintik hujan membasahi tubuh Hana, aku juga merasakan rintik yang sama membasahi tubuhku.
“Hujan nih, ayo lari ke halte yang ada disana.” Kami pun berlari menuju halte untuk berteduh.
“Hujan laknat! Kenapa sih turunnya waktu gue mau nembak Hana! Gue kutuk juga lu jadi jelek kaya Dimas!” Aku begitu kesal hingga berteriak sambil menujuk ke arah langit, mengapa hujan harus turun di saat seperti ini, padahal aku mengharapkan langit yang cerah agar kami bisa lebih lama bersama.
“Hah? Jadi kamu mau nembak aku?” Sepertinya Hana mendengar semua sumpah serapahku tadi, aku jadi malu sendiri.
“Hmm.. Iya. Jadi gimana, Han? Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Ucapku menahan malu, Hana pun tertunduk, ia seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat, atau mungkin dia tidak tahan melihat ketampananku. Kuraba saku celanaku dan aku mendapati sebatang rok*k, daripada mubazir, lebih baik aku hisap, apalagi merok*k itu akan lebih enak ketika hujan seperti ini.
“Kamu perok*k?” Tanya Hana yang melihatku mulai memercikan korek ke arah rok*k.
“Iya, emang kenapa?” Aku menyimpan kembali korek ke dalam saku dan mulai menghisap rok*k di depan Hana.
“Kalau gitu aku nggak mau jadi pacar kamu, aku nggak mau punya pacar perok*k.” Jawaban Hana itu seakan membuat bibirku tidak merasakan kenikmatan rok*k yang aku hisap, aku ragu saat akan mengeluarkan asap rok*k di depan Hana, aku takut itu hanya akan membuatnya semakin benci kepadaku, maka dari itu aku menjauh dari Hana untuk menghembuskan asap rok*k ini.
Hujan pun reda, aku menawarkan tumpangan kepada Hana untuk mengantarnya pulang, meski Hana sempat menolak, namun aku tetap memaksa Hana karena itu sudah menjadi tanggung jawabku, aku yang membawanya ke taman, aku juga yang harus mengantarnya pulang ke rumah, aku harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab meski jawaban Hana sangat mengecewakanku.
Aku sangat mencintai Hana, hingga sepanjang perjalanan aku berpikir untuk berhenti merok*k agar bisa menjadi pacarnya Hana. Hatiku berkata kalau aku harus berhenti merok*k, selain untuk mendapatkan Hana, aku juga sedikit ngeri saat mendengar dampak negatif rok*k yang pernah dibacakan oleh Bu Sinta kepada kami, lain dengan hatiku, akalku berkata untuk apa berhenti merok*k kalau hanya ingin mendapatkan seorang wanita, masih banyak wanita di luar sana yang mungkin secantik atau lebih cantik dari Hana yang tidak masalah mempunyai pacar perok*k. Namun banyak orang bijak yang berkata ‘ikutilah kata hati’, oleh karena itu aku akan memutuskan untuk berhenti merok*k agar bisa mendapatkan Hana.
Cerpen Karangan: Tegar Nur Faiji
Facebook: Tegar Nur Faiji
Menurut Wikipedia, rok*k adalah silinder dari kertas yang panjangnya antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Itu sih menurut Wikipedia, lain lagi menurut kami. Bagi kami, rok*k adalah benda kecil yang biasa kami hisap saat kami sedang berkumpul ataupun saat sendiri, tidak ada yang bisa menandingi sensasi dari benda yang biasa kami bakar batang demi batang ini.
Seperti yang sudah Anda tebak, kami sangat terobsesi dengan rok*k, kami terbiasa menghisap satu atau dua batang rok*k sehabis bel pulang berbunyi, merelakan dahaga pun sering kami lakukan agar kami bisa melepas kepenatan dengan hembusan asap yang kata banyak orang “Berbahaya”, bahkan untuk beberapa kesempatan, kami rela meminjam uang untuk bisa membeli satu bungkus rok*k untuk dibagi bersama.
Apa kami akan berhenti? Banyak orang yang menyarankan kami untuk berhenti dari kegiatan yang mereka anggap buruk ini, terutama guru BK yang sangat sering menghimbau agar siswanya berhenti merok*k. Bahkan saat ini kami sedang di ruangan BK karena tertangkap basah membawa rok*k ke sekolah.
“Merok*k itu nggak baik, bukan cuma nggak baik buat tubuh kalian, tapi juga nggak baik buat orang-orang yang ada di sekitar kalian, terutama yang sama sekali tidak merok*k.” Ucap guru BK kami, Bu Sinta saat kami sedang berada di ruangannya untuk mendapatkan sedikit ceramah.
“Yang nggak merok*k harusnya hargai dong kami yang merok*k, Bu. Kalau emang nggak mau kena asap rok*k, ya tinggal pergi aja dari situ, simple kan?” Dimas terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan Bu Sinta tadi.
“Terbalik, Dimas! Harusnya kalian yang menghargai yang tidak merok*k.” Bu Sinta lantas berjalan menuju loker untuk membawa sesuatu, sepertinya ia akan membawa surat pernyataan yang harus kami tanda tangani. Seperti biasa, setiap anak yang memiliki kasus harus menandatangani surat pernyataan yang isinya menyatakan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari, aku sendiri sudah pernah menandatangani surat pernyataan ini saat aku terlibat kasus perkelahian di sekolah, namun aku tidak begitu menghiraukan isi dari surat pernyataan yang aku tandatangani itu, biarkan mataku yang lebam ini yang menjelaskan kenapa.
“Nah, sekarang kalian janji nggak akan merok*k lagi terus tanda tangan disini.” Bu Sinta menyodorkan pulpen dan surat pernyataan, aku hanya bisa tersenyum karena tebakanku benar.
“Jon, bener nih kita harus janji sama Bu Sinta?” Bisik Hari kepadaku
“Turutin aja dulu, Har” Kami pun mengucap janji lalu menandatangani surat pernyataan tadi, setelah selesai kami dipersilahkan ke luar dari ruangannya Bu Sinta.
Tidak bisa terpikirkan olehku, kami yang baru menggunakan celana putih abu-abu selama dua bulan sudah harus berurusan dengan BK, seharusnya kami sebagai siswa baru bersikap baik, mengingat status kami sebagai pelajar juga sebagai pendatang baru disini, tentunya sebagai penghuni baru kami harus menghargai penghuni lama, namun yang kami lakukan adalah sebaliknya.
Sebenarnya kami sudah sering terlibat dalam banyak kasus, namun baru kali ini kami bersama-sama dipanggil ke ruangan BK karena biasanya kami melakukan kasus secara individu, seperti aku yang berkelahi di sekolah, Dimas yang mencoba kabur saat upacara, Hari yang berkata tidak sopan kepada guru, dan Andrew yang kepergok memiliki video p*rno di dalam ponselnya.
“Haus juga dari tadi di ruang BK, guru juga kayanya belum masuk kelas, kita ke kantin saja, bagaimana?” Ajak Andrew.
“Boleh tuh, tapi lu traktir ya, Drew? Kan lu baru aja jual koleksi lu ke kelas sebelah.” Andrew mengangguk tanda ia setuju untuk mentraktir kami semua dan kami bersama-sama berjalan menuju kantin.
—
Siang ini nampaknya berbeda dengan siang-siang sebelumnya, karena sampai saat ini belum ada guru yang masuk ke dalam kelas, suasana kelas menjadi tidak terkendali, Dimas yang sudah tidak sabar ingin pulang, juga Andrew yang diam di pojok kelas bersama teman-teman lainnya. Aku belum pernah melihat keadaan kelas sampai sekacau ini, karena sepertinya baru pertama kalinya guru tidak masuk kelas.
“Pak Sunardi nggak ada!” Teriakan Ahmad membuat kelas yang semulanya ricuh menjadi hening.
“Yang benar?” Dimas tidak percaya dengan ucapan Ahmad
“Iya, tadi gue sendiri yang cek ke ruang guru.” Jawaban itu membuat kelas kembali ricuh disertai dengan teriakan “Yeee pulang…” dari Dimas. Memang di sekolah kami seperti itu, kalau guru mata pelajaran terakhir tidak masuk, maka siswa dipersilahkan untuk pulang.
“Batang?” Ajak Dimas saat di tempat parkir. Batang adalah kata yang kami gunakan untuk mengganti kata merok*k karena biasanya kami hanya membeli sebatang rok*k saat berkumpul meski kadang kami juga membeli satu bungkus.
“Loh, bukannya tadi sudah janji ke Bu Sinta gak akan merok*k lagi?” Cegah Hari yang teringat dengan janjinya tadi.
“Ah, didengar amat sih omongannya Bu Sinta. Ayo Dim, Drew, kita pergi ke warung, tinggalin aja si Hari mah.” Kunaiki motorku dan menyalakannya, Hari yang kebingungan langsung menumpang ke motorku untuk ikut ke warung.
Kali ini kami ingin nongkrong sedikit lebih lama di sana, maka dari itu kami patungan untuk membeli sebungkus rok*k. Di dalam sebungkus rok*k itu terdapat 12 batang rok*k, jadi setiap orang bisa mendapatkan 3 batang rok*k, itu jumlah yang cukup untuk nongkrong selama 2 jam.
“Nah, harusnya setiap hari tuh gini, jangan ada guru yang masuk ke kelas waktu jam pelajaran terakhir.” Hembusan asap Dimas seakan menutupi raut muka Dimas yang bahagia.
“Mau gitu mah jangan sekolah aja, simple kan?”
“Loh, rok*k gue satu lagi mana? Perasaan tadi dua lagi.” Andrew terkejut saat melihat sisa rok*knya yang tinggal satu batang lagi.
“Gue yang ambil” Ucapku tersenyum.
“G*blog lu! Kemarikan! Gue masih belum puas nih! Andrew menatapku dengan tajam.
“Lu bego atau apa sih? Itu di saku lu apa? Lain kali jangan simpan rok*k di saku, bahaya tuh kalau ketahuan bau nya.” Kami semua tertawa melihat muka polos Andrew saat melihat rok*k di sakunya.
Menyimpan rok*k di saku baju adalah hal terbodoh yang dilakukan, terlebih jika baju seragammu dicuci oleh orangtua dan orangtuamu tidak mengizinkanmu merok*k. Mereka sangat mudah menuduh anaknya merok*k ketika mencium bau rok*k di saku bajunya, apalagi sampai ada bubuk-bubuk yang menempel di dalam saku, amarah mereka adalah jawabannya, atau mungkin mereka akan memotong uang jajanmu supaya kamu tidak terpikir untuk merok*k karena kamu kehabisan uang.
Oleh karena itu, kami selalu mencari tempat yang jauh dari sekolah maupun dari rumah agar tidak ada guru ataupun keluarga yang memergoki kami merok*k. Jujur saja, selain orangtuanya Hari, semua orangtua kami tidak ingin kami merok*k, mereka terus memperingatkan kami agar tidak merok*k, namun kami tidak mendengarkannya.
“Udah jam 5 nih, gue pulang yah?” Aku berpamitan dengan mereka.
“Gue juga pulang ah, lagian rok*k gue udah habis.” Kami semua pun pulang bersama, kami diam disana 1 jam lebih lama dari rencana yang sebelumnya hanya sampai jam 4 meski kami tidak melakukan apa-apa disana, namun kami seakan berat untuk meninggalkan tempat itu sendirian
—
Kantin adalah tempat yang pas untuk menghabiskan waktu istirahat, kantin juga tempat dimana kita bisa melihat perempuan-perempuan cantik yang silih berganti membeli makanan ataupun minuman, termasuk Hana, perempuan yang sedang aku incar.
“Tambah cantik aja yah Hana.” Gumam Dimas saat melihat Hana di kantin, ucapan Dimas tidak sepenuhnya salah karena Hana adalah salah satu perempuan populer di sekolah, dengan rambut terurai, tinggi semampai, hidung mancung, dan gigi kelincinya tidak heran kalau banyak yang menyebut Hana itu sangat cantik.
“Bodynya itu.” Andrew melihat Hana dengan tatapan anehnya.
“Dasar otak p*rno!” Hari memukul Andrew untuk menyadarkannya dari pikiran jorok yang sepertinya sudah tertanam di dalam otaknya.
“Eh Jon, bukannya lu lagi PDKT sama dia? Jadiannya kapan nih?” Tanya Andrew
“Oh iya, rencananya gue mau ajak Hana main ke taman sepulang sekolah, sekalian juga gue mau tembak dia di sana.” Teringat dengan itu, aku lantas menghampiri Hana untuk mengingatkannya akan rencana untuk pergi ke taman bersama, Hana pun mengangguk dan berkata kalau dia akan menunggu di depan sekolah selepas bel berbunyi.
Akhirnya bel pulang berbunyi, aku yang sudah tidak sabar ingin menembak Hana langsung berlari ke tempat parkir agar bisa segera menemui Hana dan membawanya ke taman, aku tidak mempedulikan kawanku yang masih membersihkan kelas, aku merasa bersalah karena harus meninggalkan mereka, namun aku tidak ingin membuat Hana menunggu lama di depan sekolah.
“Mau langsung ke taman atau diam dulu disini?” Tanyaku kepada Hana saat kami berjumpa di depan sekolah.
“Langsung aja.” Aku memberikan helmku kepada Hana dan Hana pun memakainya lalu menaiki motorku. Sepanjang perjalanan aku melambatkan kecepatan dan berusaha mencari polisi tidur agar aku bisa mendapatkan ‘rasa’ yang kemarin Andrew ceritakan saat nongkrong.
Aku yang sudah lama tidak main ke taman cukup terkejut saat melihat taman yang sekarang, jika dulu disini hanya dilengkapi dua buah kursi dan satu ayunan, kini bahkan di taman ini dipasang wi-fi untuk pengunjung yang menginginkan akses internet gratis disana, juga dengan ditambahnya pepohonan membuat taman ini semakin sejuk saja.
Kami berjalan mengelilingi taman berdua, sepanjang perjalanan, kami hanya membicarakan betapa indahnya taman ini, kami tidak membicarakan hal lain saat itu, apalagi menyatakan perasaan, aku pikir ini bukan waktu yang tepat, aku harus mencari momen yang pas agar membuatnya semakin romantis. Kulihat langit berubah menjadi kelabu, namun aku tidak menghiraukannya karena aku sedang asyik berdua bersama Hana. Setelah sekian lama berkeliling, nampak Hana kelelahan dan mengajakku duduk, kami pun duduk disana.
“Han, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, nggak apa-apa kan?” Kupikir ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaanku kepada Hana, aku tidak boleh membuang kesempatan ini.
“Ngomong apa? Bukannya dari tadi udah ngomong?” Rintik hujan membasahi tubuh Hana, aku juga merasakan rintik yang sama membasahi tubuhku.
“Hujan nih, ayo lari ke halte yang ada disana.” Kami pun berlari menuju halte untuk berteduh.
“Hujan laknat! Kenapa sih turunnya waktu gue mau nembak Hana! Gue kutuk juga lu jadi jelek kaya Dimas!” Aku begitu kesal hingga berteriak sambil menujuk ke arah langit, mengapa hujan harus turun di saat seperti ini, padahal aku mengharapkan langit yang cerah agar kami bisa lebih lama bersama.
“Hah? Jadi kamu mau nembak aku?” Sepertinya Hana mendengar semua sumpah serapahku tadi, aku jadi malu sendiri.
“Hmm.. Iya. Jadi gimana, Han? Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Ucapku menahan malu, Hana pun tertunduk, ia seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat, atau mungkin dia tidak tahan melihat ketampananku. Kuraba saku celanaku dan aku mendapati sebatang rok*k, daripada mubazir, lebih baik aku hisap, apalagi merok*k itu akan lebih enak ketika hujan seperti ini.
“Kamu perok*k?” Tanya Hana yang melihatku mulai memercikan korek ke arah rok*k.
“Iya, emang kenapa?” Aku menyimpan kembali korek ke dalam saku dan mulai menghisap rok*k di depan Hana.
“Kalau gitu aku nggak mau jadi pacar kamu, aku nggak mau punya pacar perok*k.” Jawaban Hana itu seakan membuat bibirku tidak merasakan kenikmatan rok*k yang aku hisap, aku ragu saat akan mengeluarkan asap rok*k di depan Hana, aku takut itu hanya akan membuatnya semakin benci kepadaku, maka dari itu aku menjauh dari Hana untuk menghembuskan asap rok*k ini.
Hujan pun reda, aku menawarkan tumpangan kepada Hana untuk mengantarnya pulang, meski Hana sempat menolak, namun aku tetap memaksa Hana karena itu sudah menjadi tanggung jawabku, aku yang membawanya ke taman, aku juga yang harus mengantarnya pulang ke rumah, aku harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab meski jawaban Hana sangat mengecewakanku.
Aku sangat mencintai Hana, hingga sepanjang perjalanan aku berpikir untuk berhenti merok*k agar bisa menjadi pacarnya Hana. Hatiku berkata kalau aku harus berhenti merok*k, selain untuk mendapatkan Hana, aku juga sedikit ngeri saat mendengar dampak negatif rok*k yang pernah dibacakan oleh Bu Sinta kepada kami, lain dengan hatiku, akalku berkata untuk apa berhenti merok*k kalau hanya ingin mendapatkan seorang wanita, masih banyak wanita di luar sana yang mungkin secantik atau lebih cantik dari Hana yang tidak masalah mempunyai pacar perok*k. Namun banyak orang bijak yang berkata ‘ikutilah kata hati’, oleh karena itu aku akan memutuskan untuk berhenti merok*k agar bisa mendapatkan Hana.
Cerpen Karangan: Tegar Nur Faiji
Facebook: Tegar Nur Faiji
Batang (Part 1)
4/
5
Oleh
Unknown
