Judul Cerpen Lantas, Salah Siapa?
Sudah 3 tahun aku berpacaran dengan dirinya. Kita selalu terbuka, jujur dan saling percaya, itulah fondasi awal hubungan kita dan kita jadikan itu komitmen hubungan kita, tanpa itu mungkin kita tak bisa melewati setiap cobaan yang menerpa dalam hubungan kita, ada pepatah “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa” banyak yang suka dan bahkan tidak suka dengan hubungan yang kita jalani ini, tapi kita enggan menoleh kiri kanan, tutup kuping dan flat saja menanggapinya. Banyak orang yang iri melihat hubungan kita, banyak yang bilang aku adalah wanita yang sangat beruntung mendapatkan lelaki seperti Doni.
Ohh… ya, perkenalkan namaku Olive. Balik lagi ke topik tadi, ya… aku memang wanita yang beruntung seperti apa yang selalu banyak orang bilang padaku, aku bahagia dalam rintikan air mata yang selalu aku teteskan, kamu tau artinya? aku bahagia dapat menangis karena hal itu cara satu-satunya aku untuk mengungkapkan kata yang tak sanggup aku ucapkan. Dalam senyuman aku menutupi semua kesedihanku, kamu tau artinya? aku sakit, inginku menangis dan menjerit namun aku lebih suka menyembunyikannya lewat fake smileku, aku tidak ingin kau tahu kalau aku tidak bahagia menjalin hubungan denganmu. Orang lain salah bilang aku adalah wanita yang paling beruntung, aku bukanlah wanita beruntung, aku adalah wanita yang sangat tertekan dalam hal bathiniah. Aku bingung harus dengan cara apa aku bertanya padanya sedangkan aku tak punya sebuah realita yang bisa menekan kamu agar akhirnya kamu berkata jujur. Tak henti aku berdoa agar selalu diberi kemudahan, kelancaran dan kesabaran agar bisa melewati fase ini.
Suatu hari, tuhan menjawab doa-doaku, tuhan memberi jalan dan kemudahan atas apa yang selalu membuat batinku tertekan. Namun tidak dengan kesabaranku, tuhan tidak mengizinkan aku untuk menguasai amarah keegoisanku, mungkin tuhan tahu dan mengerti betapa sakitnya menjadi diriku.
Hari minggu aku bertemu dengan Doni, kekasihku. Kita bertemu di tempat yang selalu menjadi favorit kita, serasa hambar aku bertemu Doni, serasa ada hal yang asing, berbeda dan entahlah… Aku tak bisa jelaskan apa yang ada di pikiran dan perasaanku saat ini.
Doni memegang tanganku, “Sayang, apa yang terjadi, akhir-akhir ini kamu berubah, kenapa?” Doni langsung memulai pembicaraannya setalah memesan makanan yang kami favoritkan
“A..aaa..ku…” belum selaesai aku berbicara.
“Liv, aku tau kamu, aku kenal kamu udah lama, aku hidup sama kamu udah lama. Kamu gak bisa bohongin kalau ada yang kamu sembunyiin dari aku”.
Aku menangis dalam diamku.
“Ada salah aku sama kamu liv? sekarang kamu berubah drastis”.
“Kamu tidak menyadari kesalahamu don?”
“Sadar? maksudmu apa sayang?”
“Kesalahan kamu don”. Sambil aku menangis terisak, mencoba melepaskan tanganku yang Doni genggam
“Kesalahan yang mana? selama ini kita menjalin hubungan selalu bertumpu pada komitmen yang kita buat”. Doni semakin erat menggenggam tanganku
Keadaan berubah menjadi genting, dengan terisak aku menceritakan semuanya, setelah aku menceritakan semuanya secara mendetail, aku kasih bukti apa selalu membuat aku merasa tersakiti aku tak mau lama berdiam diri terus dalam tangisanku, aku tak mau terus selalu menutupi kesedihan dengan senyum palsuku.
“Sayang… aku sangat mencintaimu, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi dirimu, kamu harus tau, aku serius denganmu. Maafkan aku”.
“Aku bisa merasakan hal itu, dan aku bisa memaafkan kesalahnmu, tapi tidak untuk melupakan caramu menyakitiku itu”. Semakin deras aku menangis, Doni pindah posisi duduk dan menempatkan kepalaku di dadanya yang bidang, Doni memelukku.
Yaaa… aku sangat merasa nyaman, aku sangat mencintai dan menyayanginya tapi kenapa dia menduakan cintaku? menodai cinta yang selama ini kita bina, menghapus semua kepercayaan yang sudah kuberi padanya, tega… tegaa…!!!
“Takkan pernah aku berpikir untuk menduakanmu, aku serius dengan dirimu liv. Kamu harus merasakannya” Doni terlihat menitikan air matanya
Tak pernah selama ini aku melihat Doni menitikan air matanya, baru kali ini aku melihatnya.
“Aku kecewa, aku tak tau apa yang harus aku lakukan dan katakan padamu don”.
Doni memelukku dengan erat dengan tangisan yang mulai membasahi kerudungku, dia pun mungkin tak tahu harus berucap dan berbuat apa. Tanganku tak luput dia pegang erat, aku tahu ini bukan kemauan Doni, Doni tak ingin kehilanganku. Aku hanya terdiam, dan mulai melap tetesan air mata yang sedari tadi membanjiri pipiku.
Aku mulai membuka pembicaraan “Don aku butuh waktu”.
Tak sepatah katapun Doni menjawab perkataanku.
“Don, aku menginginkan sebuah ketenangan, beri aku waktu untuk semua ini”
Lagi-lagi Doni tak menjawab perkataanku, dia terus menangis dalam pelukanku.
“Don aku harus lakuin ini supaya kamu tahu betapa aku sayang terhadapmu”.
Doni tak melepaskan dekapannya, malah lebih erat. terpaksa aku menepis tubuh Doni yang sedang memelukku itu. Aku pergi dan mulai dari saat itu aku anggap itu adalah komunikasi dan pertemuan terakhir kita.
Lima tahun berlalu, rasanya waktu itu sangat lama dan sangat berat bagiku, tapi aku mencoba melupakan masa laluku yang kuanggap itu sangat buruk. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku, dan alhasil aku berhasil sukses dalam karierku tapi tidak dengan asmara. Sudah banyak laki-laki yang mendekatiku, dari yang sekedar hanya untuk main-main saja sampai ada yang serius untuk menikahiku. Hatiku masih untuk orang yang sama, masih untuk Doni. Aku selalu merindukannya, aku masih selalu memikirkannya, dia yang selalu ada dalam pikiran dan hatiku, aku tidak bisa menerima kehadiran laki-laki lain di hidupku.
Suatu hari, seperti biasa aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor dimana tempatku bekerja dan menghabiskan waktuku. Di jalan ketika aku menyeberang, dan aku ingat sekali kejadian itu sebelum aku tak sadarkan diri ada mobil putih melaju sangat kencang dari arah kanan dan tiba-tiba Brrrruuukkk…!!! mobil putih itu menabrakku hingga aku tergeletak bersimbah darah tak sadarkan diri. Ketika beberapa lama aku tersadar, kepalaku dibalut dengan perban, ada seorang laki-laki yang aku rasa wajah itu tak asing lagi di hidupku. Yaa… Bukankah itu Doni? Kenapa Doni ada disini? Untuk apa dia menemaniku saat keadaanku seperti ini? terlintas banyak pertanyaan di dalam benakku.
Doni menyunggingkan bibirnya, dia terlihat sangat bahagia.
“Kamu sudah bangun liv? apa yang sakit? maafkan a…kk”.
Aku memotong pembicaraan Doni “Aku baik-baik saja, kenapa kamu bisa ada disini don?”
“Maafkan aku liv.. aku yang menabrakmu, dan aku yang membawamu kesini”.
Dengan nada lirih “Sakit ini gak seberapa kalau dibandingkan dengan sakit yang kamu beri waktu dulu kepadaku don”.
“Liv aku mohon, lupain masa lalu kita. Aku sudah berubah, selama ini aku menghilang untuk berubah dan membuktikan aku benar-benar mencintaimu”.
Tak banyak bicara Doni menggantikannya dengan tetesan air mata yang membaNjiri pipinya, dia memelukku saat aku terbaring lemah. Ternyata pelukan Doni masih sama seperti dahulu, begitupun dengan rasaku terhadap Doni, walaupun dia menyakitiku tetap rasa kecewa itu lebih besar dari rasa sayangku padanya, seberapapun dia membuat salah aku selalu memafkannya.
“Liv, aku sangat mencintaimu, aku pulang kesini untuk melamarmu” Sembari Doni memperlihatkan sepasang cincin yang sangat indah
“Don… kamu lupa waktu dulu bagaimana cara kamu menyakitiku? dan semudah ini kamu ingin kembali padaku?” Dengan terpaksa aku menutupi kebahagiaanku karena akan dilamar Doni, karena tidak ingin begitu saja aku memberi kesempatan kepada Doni tanpa Doni berjuang, maafkan aku untuk soal hati aku munafik terhadapmu
“Aku tau aku yang salah, semua salahku. Aku membuat kamu seperti ini karena ulahku sendiri, dan harus kamu ketahui sayang, dalam hati kecil sanubariku aku sangat menyayangimu, tak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku”.
Aku tak banyak bicara, yang aku rasakan saat ini adalah kebahagiaan dan kesakitan pada kepalaku ini. Kebahagiaan ketika Doni berbicara seperti itu, itu hal yang selalu aku rindukan dalam hidupku ini, aku bisa menyentuh Doni dalam nyataku, aku bisa berbicara dengan Doni dalam nyataku, bukan dalam bayangan lagi. Dan sakit yang aku rasa di kepala itu karena efek benturan ke aspal tadi dan ternyata otakku mengalami pendarahan yang sangat fatal.
“Don, aakk…uuuu”. Belum sempat aku berbicara aku ternyata tak sadarkan diri lagi, aku koma, dan akhirnya aku meninggal dunia, Belum sempat aku berbicara bahwa aku telah memaafkan dan mencintai Doni, aku meninggalkan Doni dengan hatiku yang masih bermunafik tentang perasaan. Begitupun dengan Doni yang selalu menangisi kepergianku, kepergian orang yang sangat mencintainya. Aku pergi pertama kali karena ulahnya, dan sekarang aku benar-benar pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya pun karena kesalahannya. Sekarang aku mengerti seberapapun orang itu mengecewakan dan menyakiti akan selalu ada kata maaf, karena rasa sayang itu mengalahkan segalanya.
Cerpen Karangan: Amelia Rosalina Dewi
Blog: www.ameliarosalinad.blogspot.com
Sudah 3 tahun aku berpacaran dengan dirinya. Kita selalu terbuka, jujur dan saling percaya, itulah fondasi awal hubungan kita dan kita jadikan itu komitmen hubungan kita, tanpa itu mungkin kita tak bisa melewati setiap cobaan yang menerpa dalam hubungan kita, ada pepatah “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa” banyak yang suka dan bahkan tidak suka dengan hubungan yang kita jalani ini, tapi kita enggan menoleh kiri kanan, tutup kuping dan flat saja menanggapinya. Banyak orang yang iri melihat hubungan kita, banyak yang bilang aku adalah wanita yang sangat beruntung mendapatkan lelaki seperti Doni.
Ohh… ya, perkenalkan namaku Olive. Balik lagi ke topik tadi, ya… aku memang wanita yang beruntung seperti apa yang selalu banyak orang bilang padaku, aku bahagia dalam rintikan air mata yang selalu aku teteskan, kamu tau artinya? aku bahagia dapat menangis karena hal itu cara satu-satunya aku untuk mengungkapkan kata yang tak sanggup aku ucapkan. Dalam senyuman aku menutupi semua kesedihanku, kamu tau artinya? aku sakit, inginku menangis dan menjerit namun aku lebih suka menyembunyikannya lewat fake smileku, aku tidak ingin kau tahu kalau aku tidak bahagia menjalin hubungan denganmu. Orang lain salah bilang aku adalah wanita yang paling beruntung, aku bukanlah wanita beruntung, aku adalah wanita yang sangat tertekan dalam hal bathiniah. Aku bingung harus dengan cara apa aku bertanya padanya sedangkan aku tak punya sebuah realita yang bisa menekan kamu agar akhirnya kamu berkata jujur. Tak henti aku berdoa agar selalu diberi kemudahan, kelancaran dan kesabaran agar bisa melewati fase ini.
Suatu hari, tuhan menjawab doa-doaku, tuhan memberi jalan dan kemudahan atas apa yang selalu membuat batinku tertekan. Namun tidak dengan kesabaranku, tuhan tidak mengizinkan aku untuk menguasai amarah keegoisanku, mungkin tuhan tahu dan mengerti betapa sakitnya menjadi diriku.
Hari minggu aku bertemu dengan Doni, kekasihku. Kita bertemu di tempat yang selalu menjadi favorit kita, serasa hambar aku bertemu Doni, serasa ada hal yang asing, berbeda dan entahlah… Aku tak bisa jelaskan apa yang ada di pikiran dan perasaanku saat ini.
Doni memegang tanganku, “Sayang, apa yang terjadi, akhir-akhir ini kamu berubah, kenapa?” Doni langsung memulai pembicaraannya setalah memesan makanan yang kami favoritkan
“A..aaa..ku…” belum selaesai aku berbicara.
“Liv, aku tau kamu, aku kenal kamu udah lama, aku hidup sama kamu udah lama. Kamu gak bisa bohongin kalau ada yang kamu sembunyiin dari aku”.
Aku menangis dalam diamku.
“Ada salah aku sama kamu liv? sekarang kamu berubah drastis”.
“Kamu tidak menyadari kesalahamu don?”
“Sadar? maksudmu apa sayang?”
“Kesalahan kamu don”. Sambil aku menangis terisak, mencoba melepaskan tanganku yang Doni genggam
“Kesalahan yang mana? selama ini kita menjalin hubungan selalu bertumpu pada komitmen yang kita buat”. Doni semakin erat menggenggam tanganku
Keadaan berubah menjadi genting, dengan terisak aku menceritakan semuanya, setelah aku menceritakan semuanya secara mendetail, aku kasih bukti apa selalu membuat aku merasa tersakiti aku tak mau lama berdiam diri terus dalam tangisanku, aku tak mau terus selalu menutupi kesedihan dengan senyum palsuku.
“Sayang… aku sangat mencintaimu, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi dirimu, kamu harus tau, aku serius denganmu. Maafkan aku”.
“Aku bisa merasakan hal itu, dan aku bisa memaafkan kesalahnmu, tapi tidak untuk melupakan caramu menyakitiku itu”. Semakin deras aku menangis, Doni pindah posisi duduk dan menempatkan kepalaku di dadanya yang bidang, Doni memelukku.
Yaaa… aku sangat merasa nyaman, aku sangat mencintai dan menyayanginya tapi kenapa dia menduakan cintaku? menodai cinta yang selama ini kita bina, menghapus semua kepercayaan yang sudah kuberi padanya, tega… tegaa…!!!
“Takkan pernah aku berpikir untuk menduakanmu, aku serius dengan dirimu liv. Kamu harus merasakannya” Doni terlihat menitikan air matanya
Tak pernah selama ini aku melihat Doni menitikan air matanya, baru kali ini aku melihatnya.
“Aku kecewa, aku tak tau apa yang harus aku lakukan dan katakan padamu don”.
Doni memelukku dengan erat dengan tangisan yang mulai membasahi kerudungku, dia pun mungkin tak tahu harus berucap dan berbuat apa. Tanganku tak luput dia pegang erat, aku tahu ini bukan kemauan Doni, Doni tak ingin kehilanganku. Aku hanya terdiam, dan mulai melap tetesan air mata yang sedari tadi membanjiri pipiku.
Aku mulai membuka pembicaraan “Don aku butuh waktu”.
Tak sepatah katapun Doni menjawab perkataanku.
“Don, aku menginginkan sebuah ketenangan, beri aku waktu untuk semua ini”
Lagi-lagi Doni tak menjawab perkataanku, dia terus menangis dalam pelukanku.
“Don aku harus lakuin ini supaya kamu tahu betapa aku sayang terhadapmu”.
Doni tak melepaskan dekapannya, malah lebih erat. terpaksa aku menepis tubuh Doni yang sedang memelukku itu. Aku pergi dan mulai dari saat itu aku anggap itu adalah komunikasi dan pertemuan terakhir kita.
Lima tahun berlalu, rasanya waktu itu sangat lama dan sangat berat bagiku, tapi aku mencoba melupakan masa laluku yang kuanggap itu sangat buruk. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku, dan alhasil aku berhasil sukses dalam karierku tapi tidak dengan asmara. Sudah banyak laki-laki yang mendekatiku, dari yang sekedar hanya untuk main-main saja sampai ada yang serius untuk menikahiku. Hatiku masih untuk orang yang sama, masih untuk Doni. Aku selalu merindukannya, aku masih selalu memikirkannya, dia yang selalu ada dalam pikiran dan hatiku, aku tidak bisa menerima kehadiran laki-laki lain di hidupku.
Suatu hari, seperti biasa aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor dimana tempatku bekerja dan menghabiskan waktuku. Di jalan ketika aku menyeberang, dan aku ingat sekali kejadian itu sebelum aku tak sadarkan diri ada mobil putih melaju sangat kencang dari arah kanan dan tiba-tiba Brrrruuukkk…!!! mobil putih itu menabrakku hingga aku tergeletak bersimbah darah tak sadarkan diri. Ketika beberapa lama aku tersadar, kepalaku dibalut dengan perban, ada seorang laki-laki yang aku rasa wajah itu tak asing lagi di hidupku. Yaa… Bukankah itu Doni? Kenapa Doni ada disini? Untuk apa dia menemaniku saat keadaanku seperti ini? terlintas banyak pertanyaan di dalam benakku.
Doni menyunggingkan bibirnya, dia terlihat sangat bahagia.
“Kamu sudah bangun liv? apa yang sakit? maafkan a…kk”.
Aku memotong pembicaraan Doni “Aku baik-baik saja, kenapa kamu bisa ada disini don?”
“Maafkan aku liv.. aku yang menabrakmu, dan aku yang membawamu kesini”.
Dengan nada lirih “Sakit ini gak seberapa kalau dibandingkan dengan sakit yang kamu beri waktu dulu kepadaku don”.
“Liv aku mohon, lupain masa lalu kita. Aku sudah berubah, selama ini aku menghilang untuk berubah dan membuktikan aku benar-benar mencintaimu”.
Tak banyak bicara Doni menggantikannya dengan tetesan air mata yang membaNjiri pipinya, dia memelukku saat aku terbaring lemah. Ternyata pelukan Doni masih sama seperti dahulu, begitupun dengan rasaku terhadap Doni, walaupun dia menyakitiku tetap rasa kecewa itu lebih besar dari rasa sayangku padanya, seberapapun dia membuat salah aku selalu memafkannya.
“Liv, aku sangat mencintaimu, aku pulang kesini untuk melamarmu” Sembari Doni memperlihatkan sepasang cincin yang sangat indah
“Don… kamu lupa waktu dulu bagaimana cara kamu menyakitiku? dan semudah ini kamu ingin kembali padaku?” Dengan terpaksa aku menutupi kebahagiaanku karena akan dilamar Doni, karena tidak ingin begitu saja aku memberi kesempatan kepada Doni tanpa Doni berjuang, maafkan aku untuk soal hati aku munafik terhadapmu
“Aku tau aku yang salah, semua salahku. Aku membuat kamu seperti ini karena ulahku sendiri, dan harus kamu ketahui sayang, dalam hati kecil sanubariku aku sangat menyayangimu, tak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku”.
Aku tak banyak bicara, yang aku rasakan saat ini adalah kebahagiaan dan kesakitan pada kepalaku ini. Kebahagiaan ketika Doni berbicara seperti itu, itu hal yang selalu aku rindukan dalam hidupku ini, aku bisa menyentuh Doni dalam nyataku, aku bisa berbicara dengan Doni dalam nyataku, bukan dalam bayangan lagi. Dan sakit yang aku rasa di kepala itu karena efek benturan ke aspal tadi dan ternyata otakku mengalami pendarahan yang sangat fatal.
“Don, aakk…uuuu”. Belum sempat aku berbicara aku ternyata tak sadarkan diri lagi, aku koma, dan akhirnya aku meninggal dunia, Belum sempat aku berbicara bahwa aku telah memaafkan dan mencintai Doni, aku meninggalkan Doni dengan hatiku yang masih bermunafik tentang perasaan. Begitupun dengan Doni yang selalu menangisi kepergianku, kepergian orang yang sangat mencintainya. Aku pergi pertama kali karena ulahnya, dan sekarang aku benar-benar pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya pun karena kesalahannya. Sekarang aku mengerti seberapapun orang itu mengecewakan dan menyakiti akan selalu ada kata maaf, karena rasa sayang itu mengalahkan segalanya.
Cerpen Karangan: Amelia Rosalina Dewi
Blog: www.ameliarosalinad.blogspot.com
Lantas, Salah Siapa?
4/
5
Oleh
Unknown
